BATAM (Hidayatullah.or.id) — Dalam momentum akademik tahunan, Sidang Senat Terbuka Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam Tahun Akademik 2024/2025 menghadirkan orasi ilmiah penuh refleksi dari Ketua Kaportais Wilayah XII Riau dan Kepri, Prof. Dr. Hj. Leny Nofianti, S.E., M.Si., M.Ak., CA.
Prof Leny Nofianti membuka pidato ilmiahnya dengan satu kata kuat: “Luar biasa!”
Ungkapan ini ia tujukan sebagai apresiasi atas komitmen IAI Hidayatullah Batam dalam membangun generasi pembelajar di tengah arus besar teknologi.
Dengan mengusung tema “Pendidik sebagai Perancang Peradaban di Tengah Gelombang Teknologi,” Prof Leny menyampaikan orasi yang tidak hanya menyentuh sisi intelektual, tetapi juga spiritual dan kultural.
Ia memulai pidatonya dengan menukil Surah Al-Mujadilah ayat 11, yang menekankan pengangkatan derajat bagi mereka yang berilmu, serta hadis Nabi Muhammad SAW: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah SWT akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim).
Lebih lanjut, Prof Leny memaparkan sejarah pendidikan sebagai fondasi peradaban. Ia menelusuri dinamika pendidikan dari tradisi lisan dan pengamatan alam di era Nusantara, yang banyak berpusat di surau, langgar, dan pesantren.
Lembaga-lembaga ini, menurutnya, memainkan peran penting dalam integrasi ilmu agama dengan praktik kehidupan sehari-hari.
Pada masa kolonial, sistem pendidikan mengalami perubahan besar dengan masuknya pendidikan formal ala Barat. Namun, sistem ini acapkali menciptakan dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama.
“Pasca kemerdekaan menjadi titik awal penyatuan dua kutub pendidikan ini,” jelasnya. Proses ini terus berkembang, terlebih dengan munculnya revolusi industri 4.0 dan kemajuan teknologi mutakhir seperti Generative Artificial Intelligence (AI).
Dalam pandangan Islam, lanjut Prof Leny, pendidikan merupakan pilar utama peradaban. Ia mengutip Surah Az-Zumar ayat 9, sebagai pengingat bahwa orang-orang berilmu memiliki posisi istimewa dalam pandangan Allah.
Oleh karena itu, terangnya, pendidikan Islam harus melahirkan murobbi, yakni pendidik yang bukan sekadar pengajar, tetapi juga pembina jiwa dan akhlak.
Prof Leny menekankan bahwa kemunculan AI membawa tantangan sekaligus peluang besar. “Kunci keberhasilan dari seluruh permasalahan pendidikan di era ini,” jelasnya, “terletak pada bagaimana kita mengintegrasikan teknologi secara cerdas.”
Rektor UIN Sultan Syarif Kasim Riau ini menekankan bahwa integrasi teknologi harus berbasis pada tujuan pembelajaran, bukan semata-mata tren.
Teknologi, lanjutnya, harus berorientasi pada nilai akhlak, kejujuran, empati, serta memperkuat relasi manusiawi antara pendidik dan peserta didik, bukan malah menjauhkannya.*/
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Institut Agama Islam Hidayatullah (IAIH) Batam kembali mencetak lulusan sarjana kader dakwah dan pendidikan.
Melalui Sidang Senat Terbuka yang digelar di Convention Center Harmoni One, Kota Batam, Kepulauan Riau, pada Sabtu, 9 Muharram 1447 (5/7/2025), sebanyak 96 wisudawan mengikuti prosesi wisuda sarjana Strata-1 yang dirangkaikan dengan penugasan 32 Sarjana Kader ke berbagai daerah pengabdian.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, hadir langsung memberikan sambutan sekaligus arahan strategis kepada para lulusan.
Dalam pidatonya, Nashirul menekankan pentingnya misi tarbiyah dan dakwah yang melekat pada ruh perjuangan Rasulullah.
“Tarbiyah dan dakwah adalah misi agung Rasulullah Saw yang harus kita warisi,” ujarnya membuka pidato di hadapan para wisudawan.
Ia menambahkan, pendidikan di Hidayatullah bertujuan melahirkan generasi robbani, yakni generasi yang memadukan kekuatan iman, ilmu, dan amal sebagai bekal pengabdian kepada umat dan bangsa.
“Institut Agama Islam Hidayatullah berorientasi melahirkan generasi robbani yang memadukan iman, ilmu dan amal. Ilmu yang dilandasi iman melahirkan karya amal saleh yang bermanfaat bagi agama, umat dan bangsa,” jelasnya.
Lebih jauh, Nashirul juga menegaskan bahwa Hidayatullah tidak memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum. Ia menjelaskan pentingnya memahami struktur ilmu dalam Islam, yang membedakan antara fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.
“Yang ada adalah ilmu fardhu ain yang menjadi kewajiban setiap pribadi seperti akidah, ibadah dan akhlak. Adapun ilmu fardhu kifayah yang menjadi kewajiban sebagian umat muslim, misal ilmu kedokteran, teknologi dan sejenisnya,” lanjutnya.
Sebagai Ketua Pembina Yayasan Hidayatullah Batam, Nashirul juga memberikan pesan penting terkait peran strategis para alumni di tengah masyarakat.
Ia menyampaikan bahwa para sarjana Hidayatullah harus hadir dengan tiga peran utama: sebagai murobbi (pendidik), da’i (pendakwah), dan khadimul ummah (pelayan umat).
“Sarjana Institut Agama Islam Hidayatullah diharapkan hadir di tengah masyarakat dengan 3 peran yaitu sebagai Murobbi, Da’i dan Khadimul ummah,” pesannya.
Lebih lanjut, ia menguraikan peran murobbi sebagai fungsi yang holistik dalam mendidik umat.
“Sebagai Murobbi, seorang sarjana harus berperan secara utuh, selain sebagai pengajar, juga sebagai orang tua, sahabat, pemimpin dan pembimbing,” papar Nashirul menutup arahannya.
Di akhir acara Wisuda yang dirangkai dengan penugasan 32 sarjana kader ke berbagai daerah tersebut diisi orasi ilmiah oleh Koordinator Kopertais Wilayah 12 Riau-Kepri sekaligus Rektor UIN SUSKA Prof. Dr Leny Novianti, S.E, M.E, M.Si.*/
SOREANG (Hidayatullah.or.id) — Dalam suasana sejuk pegunungan Bandung Barat, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah gabungan Bandung Raya dan Garut (Braga) menggelar Muharram Family Camp sebagai refleksi Tahun Baru Islam Hijriyah, Sabtu, 10 Muharram 1447 (5/7/2025).
Mengusung tema “Berani Hijrah, Berani Berubah, Berani Istiqamah”, kegiatan ini menjadi penguat pesan hijrah sebagai transformasi spiritual, sosial, dan ekologis.
Acara yang dipusatkan di Kampus Pondok Qur’an Hidayatullah Soreang, Bandung Barat, ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi keluarga besar Hidayatullah Braga, tetapi juga bagian dari semarak menyambut Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah.
Dengan lokasi pesantren yang berada di ketinggian serta berlatar udara segar, momentum ini membalut spiritualitas Hijriyah dalam nuansa alami yang kental.
Gerakan Menanam sebagai Simbol Hijrah Ekologis
Kegiatan ini dirangkai dengan aksi Gerakan Menanam Pohon, bekerja sama dengan komunitas motor dan komunitas kebudayaan Sunda.
Puluhan bibit pohon produktif ditanam termasuk beberapa diantaranya di Kampus II Hidayatullah Soreang, sebagai bentuk kontribusi nyata menjaga lingkungan.
Pembina Rayon Hidayatullah Bandung Raya Ustadz Naufal Abdullah, menegaskan, bahwa nilai-nilai ajaran Islam yang mengakar dalam komunitas Hidayatullah juga menyentuh ranah ekologi secara substantif.
“Menjaga lingkungan, salah satunya dengan menanam pohon, merupakan upaya penting dalam menjaga kelangsungan kehidupan yang sehat dan layak,” ujar Naufal Abdullah, dalam keterangannya kepada media ini.
Penanaman simbolis dilakukan oleh tokoh-tokoh dari komunitas kolaborator. Di antaranya, Komunitas Hijau Walagri, komunitas kebudayaan Sunda peduli lingkungan yang dipimpin oleh Kang Igun Weishaguna, BBMC (Bikers Brotherhood Motorcycle Club) for Ecology and Conservation yang diwakili oleh Kang Aep Karman, serta komunitas motor Respect One Brother (ROB) yang diwakili oleh Teh Eliyah Rahmawati.
Kegiatan kolaboratif ini menandai titik temu antara nilai religius, tradisi lokal, dan gaya hidup modern dalam semangat hijrah yang lebih luas: berpindah dari pasif terhadap lingkungan menjadi aktif menjaga dan merawat bumi.
Mengaja Lingkungan Amanah Agama
Dalam keterangannya, Ustadz Naufal Abdullah menyinggung akar sejarah Hidayatullah sebagai komunitas yang sejak awal memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan.
“Kehadiran Hidayatullah yang berawal dari Balikpapan tidak bisa dilepaskan dari akar sejarahnya sebagai komunitas penjaga lingkungan,” ungkapnya.
Hal ini pun sejalan dengan pandangan KH Abdurrahman Muhammad, Pemimpin Umum Hidayatullah, yang dalam taujih nasionalnya beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa menjaga lingkungan adalah amanah syariat.
Dengan mengutip pandangan tersebut, jelas Noval, kegiatan Muharram Family Camp ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi mengandung pesan teologis yang mendalam bahwa membangun kesadaran ekologis sebagai bagian integral dari pengamalan syariat Islam.
Naufal menjelaskan, melalui integrasi antara refleksi spiritual, aksi ekologis, dan kolaborasi komunitas lintas budaya, Muharram Family Camp Hidayatullah Braga berupaya menghadirkan model dakwah yang membumi dan adaptif.
“Kami berharap kegiatan ini semakin meneguhkan pesan-pesan kebaikan Hidayatullah di bidang lingkungan dalam rangka membangun kesadaran ekologis anak-anak bangsa,” tukas Ustadz Naufal.
Dengan semakin dekatnya Munas VI Hidayatullah, kegiatan semacam ini, bagi Naufal, menegaskan bahwa Hidayatullah bukan hanya fokus pada pembinaan ruhani dan pendidikan umat, melainkan juga berperan aktif dalam membangun masa depan bangsa yang berkeadaban dan berkelanjutan.*/
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam menggelar Sidang Senat Terbuka Tahun Akademik 2024/2025 bertempat di Aula Lantai 6 Hotel Harmoni One, Batam, pada Sabtu, 9 Muharram 1447 (5/7/2025).
Acara dimulai pukul 07.30 WIB dan dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Senat, Dr. Khairul Amri, M.Pd.
Dalam pidato pembukaannya, Dr. Khairul Amri menyampaikan rasa bangga dan syukur atas terselenggaranya wisuda sarjana strata satu tahun ini.
Khairul menegaskan bahwa Yayasan Kampus Utama Hidayatullah Batam sebagai penyelenggara dan pengelola institusi ini turut berbahagia atas pencapaian para lulusan.
“Selain wisuda sarjana, yang mengikuti perhelatan ini juga ada 7 wisudawan dan 29 wisudawati yang mendapat tugas pengabdian sebagai sarjana dai ke seluruh penjuru nusantara. Ini menjadi karakteristik khusus kampus ini dalam program mahasiswa takhasus pada prosesnya,” ujar doktoral dari UIN Suska Riau tersebut.
Menurutnya, para lulusan ini ditugaskan tidak hanya sebagai dai di pedalaman dan pulau-pulau terluar, tetapi juga sebagai profesional seperti lawyer, tenaga keuangan syariah, dan lainnya.
“Dengan bekal ilmu dan semangat yang mereka miliki, mereka akan menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi bangsa dan negara,” lanjutnya.
Sementara itu, Ketua IAI Hidayatullah Batam, Dr. Muhammad Sidik, dalam sambutannya menegaskan komitmen kampus dalam mencetak lulusan yang islami, berkemajuan, dan berdaya saing.
“Mencetak lulusan sarjana yang islami, berkemajuan, dan berdaya saing melalui peningkatan mutu pengajaran dan pelayanan,” ungkapnya.
Sidang senat terbuka ini diawali dengan prosesi pembukaan resmi, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan serta penganugerahan kepada mahasiswa terbaik dari sisi akademik, non-akademik, serta lulusan terbaik.
Sambutan juga disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq, Lc, MA.
Orasi ilmiah dalam acara ini disampaikan oleh Prof. Dr. Dr. Hj. Leny Nofianti MS, S.E, M.Si, Ak, CA, usai prosesi penetapan dan pengukuhan sarjana strata satu oleh Ketua Senat.
Para wisudawan tahun ini berasal dari berbagai fakultas dan program studi. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan mencakup Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), dan Bimbingan Konseling Islam (BKI).
Dari Fakultas Ekonomi Syariah, terdapat Prodi Manajemen Bisnis Syariah dan Akuntansi Syariah. Sedangkan Fakultas Syariah (Hukum) meluluskan mahasiswa dari Prodi Ahwal Al Syakhsiyah (Hukum Keluarga Islam) dan Jinayah (Hukum Pidana Islam).
Acara kian khidmat dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh salah satu wisudawan dan doa yang dipimpin oleh Ustaz Rahmat Ihali Hadits, S.Pd.I, sebagai penutup rangkaian kegiatan akademik bergengsi ini.*/
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Training of Trainers (ToT) Excellent School 2025, sebagai bagian dari kontribusi konkret membangun kualitas pendidikan berbasis nilai untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Kegiatan strategis ini berlangsung selama tiga hari, 3–5 Juli 2025, di Aula Hidayatullah Depok, Jawa Barat, dan diikuti oleh 26 fasilitator utusan Kampus Induk Hidayatullah Balikpapan dan Kampus-kampus Utama Hidayatullah se-Indonesia.
ToT ini merupakan bagian dari program nasional Tim Sekolah Integral Unggul Hidayatullah yang sebelumnya telah dirintis melalui sesi hybrid daring, dan kini dilanjutkan secara tatap muka dengan pendekatan teoritis dan praktis.
Agenda ini menjadi perwujudan dua poin utama dari sepuluh butir rekomendasi Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Hidayatullah yang digelar sebelumnya di Timika, Papua Tengah.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Depok, Muhammad Lalu Mabrul, dalam sambutan pembukaan menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada kampusnya sebagai tuan rumah.
“Alhamdulillah, Kampus Utama Hidayatullah Depok mendapat kehormatan untuk menjadi bagian dari lahirnya Sekolah Integral Unggul Hidayatullah sebagai pusat pendidikan dan pengkaderan generasi muda pelanjut perjuangan Islam,” ujarnya pada Kamis, 8 Muharram 1447 (3/7/2025).
Sementara itu, Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah, KH. Ir. Abu A’la Abdullah, menekankan urgensi revitalisasi pendidikan dalam konteks kehidupan modern yang paradoksal.
“Pendidikan kita berada di persimpangan jalan. Ia maju secara teknologi tetapi mengalami krisis moral dan karakter. Aspek intelektual terus dipacu namun seakan mengabaikan dimensi lainnya yang juga dibutuhkan oleh pendidikan,” tuturnya.
Sebagai solusi atas krisis multidimensi tersebut, Abu A’la menegaskan pentingnya pendekatan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) yang selama ini dikembangkan oleh Hidayatullah.
Model pendidikan ini tegasnya mengintegrasikan dimensi intelektual, spiritual, moral, dan keterampilan dalam satu kesatuan utuh untuk membentuk insan paripurna.
Senada, Ketua Dikdasmen DPP Hidayatullah Dr. Nanang Noerpatria menguraikan konteks pelaksanaan ToT sebagai bagian dari realisasi konkret hasil Rakornas.
“Kegiatan kita ini adalah merelealisasikan dua poin pertama dari sepuluh poin rekomendasi yang dihasilkan pada Rakornas lalu,” terangnya.
Pantauan langsung media memperlihatkan bahwa rangkaian pelatihan ini tidak hanya bersifat konseptual, melainkan juga interaktif.
Metode yang digunakan meliputi praktik lapangan dan simulasi nyata yang memperkaya kompetensi fasilitator dalam mendampingi sekolah-sekolah unggul Hidayatullah di berbagai daerah.
Nanang menyampaikan harapannya terhadap para peserta pelatihan.
“Harapannya, kita ingin lulusan ToT Excellent School keluar dari ruangan ini menjadi kupu-kupu yang indah dan memikat semua orang. Bukan jadi ulat atau kepompong,” ungkapnya.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama para peserta dengan jajaran pimpinan DPP Hidayatullah dan YPPH Depok, sembari menyerukan kesiapan untuk menyemarakkan dan menyukseskan Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah ke-6 tahun 2025.*/
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Murobbi Pusat dan Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah menggelar acara Pencerahan Murobbi Nasional pada Jumat, 9 Muharram 1447 (4/7/2025). Acara yang diselenggarakan secara online melalui zoom ini mengambil tema “Istiqamah Dalam Manhaj dan Kepemimpinan Hidayatullah.”
Sejumlah murobbi nasional bergantian memberikan materi pencerahan, di antaranya Ust Hamim Thohari, Ust Abdul Aziz Qahhar, Ust Abdur Rahman, Ust Tasyrif Amin, Ust Fathul Adhim, dan Ust Nashirul Haq. Sedangkan peserta yang hadir adalah seluruh alumni Perguruan Tinggi Hidayatullah yang telah lulus dalam 4 tahun terakhir ini.
“Acara pencerahan ini sengaja kami buat untuk menyapa para alumni agar tetap istiqomah berada di dalam barisan Hidayatullah,” jelas Sekretaris Dewan Murobbi Pusat, Ust Zainuddin Musadad, kepada Hidorid beberapa saat usai acara.
Para alumni ini, jelas Zainuddin lagi, ada yang mengabdi di jaringan Hidayatullah, namun tak sedikit pula yang tidak beraktivitas di jaringan Hidayatullah. Mereka perlu disapa agar tidak merasa lepas setelah selesai mengikuti kuliah.
Zainuddin merasa senang karena antusias peserta cukup bagus untuk mengikuti acara ini. Ratusan peserta hadir dari sejumlah perguruan tinggi Hidayatullah seperti Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok (Jawa Barat), Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STID) Balikpapan (Kalimantan Timur), Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIL) Lukmanul Hakim Surbaya (Jawa Timur), dan tak ketinggalam organisasi Pemuda Hidayatullah.
Zainuddin menjelaskan bahwa acara ini rencananya akan dilangsungkan secara berkala. Apalagi di era digital seperti sekarang, tak sulit menyelenggarakan acara seperti ini.
“Yang penting ada kemauan untuk terus bersama-sama. Insya Allah kita akan pertahankan terus kebersamaan ini lewat pencerahan-pencerahan seperti ini,” ungkap Zainuddin.
Sementara itu pada waktu yang hampir bersamaan, digelar pula acara Pencerahan Murobbi Nasional untuk para murobbi marhalah wustho. Acara yang juga diselengarakan secara daring ini diisi oleh dua pemateri, yakni Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust Hamim Thohari, dan Ketua Dewan Murobbi Pusat Ust Tasrif Amin, serta dipandu oleh Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah Dr. Sholeh Usman.
Dalam pemaparannya, Ust Hamim mengingatkan pentingnya para murobbi untuk senantiasa memupuk semangat berjuang, memperbesar kesabaran, dan menguatkan ketaatan para mutarobbi. Apalagi di era digital sekarang ini, godaan begitu besar. Jika tak kuat, bisa tergelincir, bahkan terpental dari jalan perjuangan.
Sementara Ust Tasyrif mengingatkan agar semua kader Hidayatullah memegang teguh manhaj dalam berjuang. Sebab, manhaj ini merupakan jati diri Hidayatullah.*/
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Komunitas perempuan Indonesia dari berbagai lintas sektor dan latar belakang berkumpul dalam sebuah forum pernyataan bersama bertajuk ‘One Million Women for Gaza’ di Jakarta, Kamis, 7 Muharram 1447 (3/7/2025).
Konferensi pers nasional ini menjadi bagian dari gerakan solidaritas yang diprakarsai sayap perempuan Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARIBP) berkolaborasi dengan Pimpinan Pusat (PP) Wanita Islam.
Inisiatif ini juga turut didukung berbagai organisasi perempuan termasuk Muslimat Hidayatullah (Mushida), Salimah, Gerakan Ibu Negeri (GIN), Matakin Konghuchu, Asosiasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (Aspirasi), Alumni 212, komunitas keagamaan, akademisi, pelajar, ibu rumah tangga, hingga pelaku UMKM, dan banyak lainnya.
Pernyataan sikap ini menjadi penanda dimulainya aksi damai ‘One Million Women for Gaza’, yang dijadwalkan berlangsung pada Ahad, 6 Juli 2025, pukul 06.00–10.00 WIB, berlokasi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat.
Boikot Produk Terafiliasi ‘Israel’
Gerakan ini menjadi wadah berhimpunnya perempuan dari berbagai agama, suku, profesi, dan usia yang terpanggil oleh tragedi kemanusiaan di Palestina.
Ketua Umum sayap perempuan ARI-BP, Sabriati Aziz, dalam keterangannya kepada media menjelaskan deklarasi nasional mengenai boikot terhadap produk-produk yang terafiliasi dengan ‘Israel’.
“Kejahatan dan penjajahan Isra*l harus dihentikan salah satunya dengan cara memboikotnya secara ekonomi. Komunitas internasional pun telah mendesak Uni Eropa untuk memboikot ‘Israel’ yang dianggap telah gagal memenuhi persyaratan HAM,” ujar Sabriati.
Deklarasi yang dibacakan memuat lima komitmen utama. Pertama, memboikot produk yang memiliki keterkaitan dengan entitas pro-‘Israel’. Kedua, mengampanyekan gerakan #GantiProduk dan edukasi konsumen.
Ketiga, memperkuat jaringan solidaritas ekonomi di kalangan perempuan. Keempat, menyuarakan keadilan Palestina di ruang-ruang publik. Dan kelima, mendorong pemerintah Indonesia untuk mengambil sikap tegas dalam mendukung kemerdekaan Palestina.
“Boikot produk adalah yang paling mungkin kita lakukan dalam rangka mendesak agar genosida di Palestina segera dihentikan,” tegas Sabriati.
One Million Women for Gaza
Dalam konferensi pers ini dinyatakan bahwa gerakan One Million Women for Gaza ini tidak hanya menegaskan komitmen moral terhadap perjuangan rakyat Palestina, tetapi juga menggambarkan bahwa tekanan sipil dapat diekspresikan melalui jalur ekonomi. Konsumsi, dalam konteks ini, menjadi instrumen politis.
Gerakan ini disebut tak semata mengajak untuk menghentikan pembelian terhadap produk tertentu. Lebih jauh, ia mendorong masyarakat mendukung ekonomi nasional dengan memilih produk lokal, halal, dan UMKM perempuan sebagai alternatif etis.
Dalam forum tersebut, ditegaskan bahwa agresi militer dan pendudukan Israel adalah pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Oleh sebab itu, mereka menolak segala bentuk normalisasi hubungan maupun dukungan terhadap entitas yang mendukung penjajahan.
Desak Evaluasi Kerjasama Ekonomi
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, di kesempatan yang sama melontarkan peringatan mengenai dunia keuangan internasional yang tidak netral dalam menyikapi penderitaan Palestina.
Ia secara gamblang menyebut keterlibatan korporasi raksasa dalam aliran dana yang diduga menopang infrastruktur penjajahan dan agresi bersenjata. Laporan resmi PBB, menurutnya, sudah cukup menjadi landasan moral dan politik bagi negara-negara anggota, termasuk Indonesia, untuk bersikap.
“Maka saya menyerukan agar pemerintah, khususnya Presiden dan Kementerian Luar Negeri, mengevaluasi ulang setiap bentuk kerja sama ekonomi dengan lembaga yang terafiliasi pada kekerasan sistemik terhadap rakyat Palestina,” ujarnya.
Sudarnoto tidak hanya menyoroti aspek ekonomi, tetapi juga dimensi etika dalam diplomasi. Baginya, kemitraan yang tidak disertai komitmen terhadap keadilan hanya akan melanggengkan struktur penindasan global. Ia mengajak Indonesia untuk berdiri tegak pada prinsip bahwa keuntungan tidak boleh dibeli dengan darah warga sipil yang tak berdosa.*/
“Maka, ketahuilah, sesungguhanya tidak ada ilah (yang haqq) selain Allah, dan mintalah pengampunan atas dosa-dosamu dan kaum mukminin serta mukminat. Allah Maha Mengetahui tempatmu berusaha dan tempatmu tinggal.” (QS Muhammad [47] : 19)
Pentingnya Ilmu
Sejak awal Islam telah menimbulkan suatu revolusi terhadap konsep “agama” dan maknanya bagi manusia.
Berbeda dengan agama lain, Islam menghubungkan agama dengan sains, agama dengan politik, ibadah dengan muamalah, dunia dengan akhirat, “bumi” dengan “langit”; semua hal-hal yang biasanya dilihat secara terpisah.
Oleh karenanya, memahami konsep agama dalam perspektif Islam adalah sebuah kepentingan yang tidak bisa dilepaskan dari proses pembangunan kepribadian Islami (syakhshiyyah islamiyah).
Islam adalah konsep komprehensif atas segenap aspek kehidupan, bukan semata-mata berisi ritual dan doa-doa. Islam adalah ad-dien, bukan sekedar religion atau agama.
Dengan selesainya masa pewahyuan, maka Islam telah memiliki konsep yang khas, komprehensif (syamil) dan lengkap (kamil) tentang dirinya, manusia, kehidupan, dan bagaimana menghubungkan semua itu dalam satu kesatuan (tawhid), demi mewujudkan pengabdian tunggal kepada Allah.
Kita tidak bisa memakai frame-work Barat atau tradisi-tradisi agama pagan dalam memaknai Islam, terutama dalam kaitannya dengan kehidupan.
Diantara sekian banyak isu mendasar dalam peradaban umat manusia yang direvolusi oleh Islam adalah konsep ilmu.
Dalam Islam, ilmu dilepaskan dari segala unsur mitos, magis, ateisme, prasangka tak berdasar, dan hal-hal yang bersifat pseudo-science (sains semu) lainnya. Contoh sains-semu adalah astrologi.
Selain mengakui pencapaian ilmu melalui upaya-upaya eksperimental dan empiris, Islam juga meneguhkan bahwa ada sumber otoritas mutlak dalam ilmu, yakni wahyu dan kenabian.
Sejak wahyu pertama turun, perintah pertama adalah iqra’, yang memiliki makna dasar darasa (mengkaji), faqiha (memahami), jama’a (mengumpulkan), dan hafizha (menghafal).
Para ulama generasi terdahulu pun telah mengisyaratkan pentingnya ilmu dalam karya-karya mereka. Imam al-Bukhari memulai kitab al-Jami’ ash-Shahih dengan kitab Bad’il Wahyi (awal mula turunnya wahyu), yang mengisyaratkan pengakuan terhadap otoritas tertinggi wahyu sebagai sumber ilmu.
Maklum, wahyu pertama adalah surah al-‘Alaq ayat 1-5, dimana di dalamnya Allah berfirman “alladzi ‘allama bil qalam, ‘allamal insana ma lam ya’lam” (Dialah Allah yang mengajar dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya).
Hampir seluruh tafsir akan mencantumkan riwayat detail dan panjang tentang al-qalam (pena) dan peran sentralnya dalam peradaban. Bahwa, al-qalam adalah ramz al-‘ilmi wa at-ta’lim (simbol ilmu dan pengajaran).
Ilmu adalah ruh Islam. Tanpanya, Islam akan mati. Demikian pulalah, ayat yang kita kutip di awal kajian ini memproklamirkan bahwa kewajiban pertama seorang muslim adalah mengenal Allah dengan ilmu, bukan dogma dan mitologi.
Kitab al-‘Ilmi ditempatkan oleh Imam al-Bukhari sebagai bab ke-3, setelah Kitab Bad’il Wahyi dan Kitab al-Iman. Jadi, dalam konsep beliau, ada semacam keterkaitan antara wahyu, iman, dan ilmu.
Bahkan, di dalamnya ada bab yang berjudul Bab al-‘Ilmi qablal Qaul wal ‘Amal (pasal tentang ilmu sebelum berbicara dan berbuat), yang merupakan pasal ke-10 dalam Kitab al-‘Ilmi.
Imam al-Ghazali memulai kitab Ihya’ ‘Ulumiddin-nya dengan Bab al-‘Ilm. Dalam kitab at-Targhib wa at-Tarhib, Imam al-Mundziry menempatkan Kitabul ‘Ilmi : at-Targhib fil ‘Ilmi wa Thalabihi wa Ta’allumihi wa Ta’limihi wa ma Jaa’a fi Fadhlil ‘Ulama’ wal Muta’allimin (Bab tentang Ilmu : Motivasi tentang Ilmu, Mencari Ilmu, Mempelajari dan Mengajarkannya, serta Riwayat lain tentang Keutamaan Ulama’ dan Pelajar), sebelum bab-bab ibadah seperti bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, dan bahkan jihad fi sabilillah.
Para Sahabat Menuntut Ilmu
Tak mudah menggambarkan semangat para Sahabat menuntut ilmu. Bukan karena sedikitnya data, namun karena melimpah-ruahnya riwayat tentang hal itu sehingga mustahil dirangkum dalam artikel seringkas ini.
Sebagai bukti adalah terawatnya al-Qur’an serta ribuan hadits Rasulullah dalam berbagai kitab yang shahih dan mu’tabar (kredibel).
Jika tidak ada tradisi ilmu yang sangat kuat di tengah-tengah mereka, tentu kita di zaman ini akan bernasib sama dengan kaum Nasrani dan Yahudi, dimana agama mereka telah kehilangan otentisitas karena sumber-sumber aslinya tidak terawat dan tidak mungkin ditelusuri kembali.
Banyak diantara Sahabat yang kemudian dikenal sebagai para “Raja Perawi Hadits”, yang menghafal dan mentransmisikan kembali ribuan hadits Nabi secara lisan dari ingatan mereka.
Pada generasi berikutnya, rekor ini dipecahkan dengan lebih spektakuler lagi. Menurut sebuah catatan, Imam al-Bukhari menghafal sekitar 100.000 hadits shahih, dan kurang lebih 200.000 hadits lainnya dari berbagai tingkatan.
Adalah mengherankan, bahwa para Sahabat sangat teliti memperhatikan “peragaan” Rasulullah dalam segala hal. Bahkan, banyak diantaranya yang sangat sepele. Riwayat tentang rambut, jumlah uban, bentuk wajah, postur tubuh, gigi, cara berjalan, dan lain-lain diingat dengan baik.
Ada riwayat yang melimpah tentang cara menyisir rambut, memakai alas kaki, masuk kamar kecil, cara berpakaian, dsb. Sebagian kecil mereka ada yang mencatat, dan mayoritas menghafalnya di luar kepala.
Seluruh “peragaan” itu kemudian dikenal sebagai as-Sunnah, yang mencakup ucapan, tindakan, keputusan, dan gambaran sifat Rasulullah SAW.
Mengapa ilmu sedemikian penting bagi para Sahabat dan generasi terdahulu dari umat ini?
Ilmu adalah Landasan Taqwa
Dalam kitab Ta’limul Muta’allim, Syekh az-Zarnuji menulis, “Kemuliaan ilmu semata-mata karena ia merupakan perantara menuju taqwa, dimana dengannya manusia memperoleh kemuliaan di sisi Allah dan kebahagiaan abadi.”
Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Dasar takwa adalah hendaknya hamba mengetahui yang harus dijaga kemudian dia menjaga diri.”
Beliau juga berkata, “Barangsiapa menempuh suatu jalan yang dikiranya jalan ke Surga tanpa dasar ilmu, maka benar-benar telah menempuh jalan yang paling sukar dan paling berat, dan tidak menyampaikan kepada tujuan dengan kesukaran dan beratnya itu.”
Seorang ulama’ salaf yang lain berkata, “Bagaimana akan menjadi muttaqin, orang yang tidak mengerti apa yang harus dijaga?”
Imam asy-Syafii dalam kitab ar-Risalah berkata, “Adalah haqq bagi bagi seorang pencari ilmu untuk mencapai puncak kesungguhannya dalam memperbanyak ilmu, bersabar menghadapi rintangan yang menjauhkannya dari mencari ilmu, mengikhlaskan niat kepada Allah dalam mendapatkan ilmu baik secara tekstual (hafalan) maupun dengan menyimpulkan (analisa), serta berharap kepada pertolongan Allah di dalamnya karena tidak ada yang memperoleh kebaikan kecuali dengan pertolongan-Nya.”
Beliau juga berkata, “Sesungguhnya seseorang yang memperoleh ilmu tentang hukum-hukum Allah dalam Kitab-Nya, baik secara tekstual (hafalan) atau dengan cara mencari dalil (istidlal), maka Allah akan memberinya taufiq untuk berbicara dan berbuat sesuai apa yang diketahuinya tersebut, beruntung dengan karunia dalam agama dan dunianya, terhindar dari keraguan, bersinar terang hikmah dalam hatinya, dan berhak untuk mendapat kedudukan sebagai imam (pemimpin) dalam agamanya.”
Hidayah adalah Buah Ilmu
Dalam muqaddimah kitab Bidayatul Hidayah, al-Ghazali menyatakan bahwa hidayah adalah tsamratul ‘ilmi (buah dari ilmu). Dengan kata lain, hidayah tidak akan tercapai tanpa landasan ilmu, dan niat mencari ilmu haruslah demi meraih hidayah Allah.
Menurut beliau, dalam menuntut ilmu, manusia terbagi menjadi 3 golongan: satu selamat, satu berada dalam bahaya, dan satu lagi pasti binasa.
Pertama, kelompok yang akan selamat, yakni orang yang mencari ilmu sebagai bekal menghadap Allah, tidak menghendaki selain ridha-Nya dan kebahagiaan ukhrawi.
Kedua, kelompok yang berada dalam bahaya besar, yakni orang yang mencari ilmu demi tujuan pragmatis, seperti status sosial, pangkat, dan harta.
Jika ia meninggal sebelum bertaubat, boleh jadi ia mati su’ul khatimah. Urusan dirinya pun berada di tepi jurang, tergantung kehendak Allah; entah diampuni atau disiksa.
Jika ia mendapat taufiq untuk bertaubat, lalu menyatukan ilmunya dengan amal, sekaligus berusaha menggenapi segala yang pernah terlewatkan, maka ia akan menyusul kelompok beruntung diatas.
Ketiga, orang yang dikendalikan oleh syetan, yakni terus mencari ilmu namun hanya sebagai sarana menumpuk harta, mengejar pangkat dan berbangga diri dengan banyaknya pengikut.
Ia memanfaatkan ilmunya untuk memasuki segala celah demi meraih dunia dan semua keinginan hawa nafsunya. Dia merasa mulia di sisi Allah, karena ia mengenakan simbol-simbol para ulama’, baik dalam berpakaian maupun berbicara.
Ironisnya, semua itu disertai kegesitan untuk meraup keuntungan duniawi. Inilah orang dungu yang tertipu dan terputus harapan darinya untuk bertaubat, sebab ia menyangka dirinya termasuk orang-orang yang berbuat baik (muhsinin).
Mereka inilah para ulama’ as-suu’ (orang pintar yang jahat), yakni orang-orang yang keberadaannya lebih dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW dibanding Dajjal sekalipun.
Mereka hanya ingin menyesatkan manusia, memalingkan mereka pada harta dan kenikmatan duniawi, baik dengan kata-kata maupun perbuatan.
Merekalah penyebab semakin beraninya orang-orang awam untuk berpaling kepada dunia. Sebab, orang awam takkan berani mengharapkan dunia kecuali para ulama’-nya telah berbuat demikian terlebih dahulu. Na’udzu billah. Wallahu ‘alam bish-shawab.[]
*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh Yayasan Pendidikan Integral (YPI) Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu, Malang, Jawa Timur
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Tahun baru Hijriyah adalah momen refleksi spiritual dan historis yang menyimpan makna transformatif. Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah bukan semata perpindahan geografis, tetapi lebih dari itu, merupakan titik tolak bagi perubahan sistemik dalam peradaban Islam.
Perpindahan dari tekanan menuju pembebasan, dari keterasingan menuju kekuatan kolektif, dari keterbatasan menuju visi besar kenabian.
Maka pertanyaannya kini, bagaimana makna hijrah itu kita aktualisasikan hari ini, di zaman yang tidak selalu menuntut kita berpindah tempat?
Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd, menjelaskan, hijrah, pada esensinya, adalah proses keluar dari kondisi lama menuju keadaan yang lebih baik, baik secara ruhani, intelektual, maupun sosial.
Tasyrif memaknai ‘hijrah’ masa kini sebagai dinamika yang menuntut progresivitas, iman yang bertambah, akhlak yang melekat dalam keseharian, sampai kontribusi yang semakin nyata dalam masyarakat.
“Maka, orang yang tidak berpindah tempat pun dapat menjadi ‘muhajir’ sejati selama hidupnya dipenuhi peningkatan, perubahan, dan komitmen kepada kebaikan,” katanya dalam pengajian pekanan digelar Halaqah Ibnu Mas’ud di Depok, Rabu malam, 6 Muharram 1447 (2/7/2025).
Dalam hal ini, Tasyrif mengajak meneladani setidaknya dua sosok besar yang lekat dengan perjalanan hijrah Rasulullah yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Keduanya bukan hanya sahabat yang setia, tetapi juga teladan progresif dalam iman dan peran sosial.
Abu Bakar adalah figur kejujuran, keteguhan, dan pengorbanan. Ia bukan hanya ikut hijrah secara fisik, tapi seluruh eksistensinya hijrah menuju pengabdian total. Sementara Umar bin Khattab dikenal dengan keberanian dan ketegasannya, adalah potret perubahan total.
Keteladanan dua sahabat ini menunjukkan bahwa hijrah sejati adalah kontinuitas perubahan ke arah yang lebih luhur. Mereka tidak stagnan. Keimanan mereka tidak beku. Akhlaknya terpuji kiprahnya membumi. Peran mereka tidak membosankan.
“Dalam setiap fase hidup Rasulullah, mereka hadir sebagai pelengkap misi profetik, sebagai aktor sejarah yang tidak puas hanya menjadi pengikut pasif, tapi sebagai penopang dan penjaga risalah,” katanya.
Hari ini, jelas Tasyrif, kita tidak dituntut meninggalkan kota tempat tinggal, tetapi ditantang untuk meninggalkan kebiasaan lama yang merusak, menanggalkan pola pikir yang membelenggu, dan meninggalkan zona nyaman yang meninabobokan.
Karena itu, lanjutnya, momentum 1 Muharram mestinya menjadi refleksi tahunan atas sejauh mana kita mengalami peningkatan positif dengan memaknai hijrah sebagai metode transformasi, jalan hidup menuju Allah.
“Maka penting sekali untuk selalu menanamkan ruh hijrah dalam kesadaran kolektif, baik dalam orientasi pribadi maupun organisasi. Berhijrah dengan gerak hati, akal, dan amal. Tanpa henti, sampai kelak kita kembali kepada Allah Ta’ala dalam keadaan terbaik,” pungkasnya.*/
KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Ratusan kader Hidayatullah berkumpul dalam sebuah momentum strategis bertajuk Gema Muharram di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin, 5 Muharram 1447 (1/7/2025).
Selain sebagai kegiatan ritual awal tahun Hijriyah, kegiatan ini juag menjadi agenda penguatan jati diri kader menjelang Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah 2025.
Mengusung tema “Penguatan Jati Diri Kader Menuju Sukses Munas Hidayatullah 2025”, forum ini menjadi medan konsolidasi yang menyatukan semangat kader dari berbagai wilayah Sultra—dari Konawe hingga Wakatobi. Kegiatan ini dibingkai oleh nilai hijrah sebagai transformasi intelektual dan spiritual.
“Momentum Muharram ini harus kita jadikan titik balik. Hijrah bukan hanya soal waktu, tapi juga komitmen untuk terus memperbaiki diri, amal, dan arah perjuangan,” tegas Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara Achmad Syahroni dalam sambutannya.
Dalam narasi kolektif ini, hijrah dipahami bukan sebagai peristiwa historis, melainkan prinsip kerja dakwah yang menuntut keteguhan, perbaikan, dan arah baru.
Doa-doa dilantunkan bukan dalam suasana hening belaka, melainkan dengan kesadaran penuh akan tugas besar yang menanti: suksesnya Munas 2025.
Para peserta hadir bukan hanya untuk meramaikan, melainkan membawa satu tujuan: soliditas. Kebersamaan mereka menandai kesatuan langkah, menunjukkan kesiapan Hidayatullah Sulawesi Tenggara sebagai kekuatan strategis dakwah.
Gema Muharram menjadi medium refleksi dan mobilisasi. Di tengah kebersamaan, para kader saling menguatkan visi, memperteguh loyalitas, dan menyatukan gerak menuju sukses bersama. Karena bagi mereka, Munas 2025 dimulai dari kebulatan tekad hari ini.*/