Beranda blog Halaman 105

[KHUTBAH JUM’AT] Mensyukuri dan Menindaklanjuti Ibadah Bulan Ramadhan

0

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Marilah kita bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang sangat banyak kepada kita, dimana kebanyakan dari kita manusia tak mampu mensyukurinya.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabiyullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, para istri, keturunan dan pengikutnya yang setia menjalankan sunnah-sunnahnya. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, dengan takwa yang sebenar-benarnya.

Di penghujung akhir Ramadhan 1446 H/2025 M kali ini, bulan istimewa ini, mari kita meningkatkan ibadah semaksimal mungkin, sebagaimana sabda Nabi:

إِذا دَخَلَ العَشْرُ الأَوَاخِرُ مِنْ رمَضَانَ، أَحْيا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَه، وجَدَّ وَشَدَّ المِئزرَ. متفقٌ عَلَيهِ

“Jika telah masuk 10 hari akhir bulan Ramadhan, maka Rasulullah Saw, menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya dan mengikat eratkan sarungnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di 10 hari akhir Ramadhan, Rasulullah SAW beserta seluruh keluarga dan sahabatnya, fokus memperbanyak amal shalih dan menghidupkan malam-malamnya dalam rangka meraih berkah malam Lailatul Qodr.

Untuk meneladani Rasulullah tersebut, hendaknya kita lebih serius dan fokus taqarrub ilallah di akhir Ramadhan ini. Harus diingat, belum tentu tahun depan kita bisa bertemu Ramadhan lagi.

Meskipun kita selalu mengharapkan panjang umur dan sehat walafiat untuk bertemu Ramadhan kembali, namun ajal adalah rahasia dan sepenuhnya di tangan Allah SWT. Berhentilah berbuat dosa, berbuat sia-sia, berbuat mubadzir dan berfoya-foya dengan kehidupan dunia.

Oleh karena itu, sesaat menyepilah, merenunglah, berkomtemplasilah, lakukan evaluasi diri, mohonlah ampun dan mohonlah petunjuk Allah SWT, di sisa hidup yang pendek ini, untuk sukses menghadapi peluang dan tantangan kehidupan ini.

Jamaah Jum’ah rahimakumullah,

Marilah kita semua memanfaatkan dengan sungguh sungguh beberapa hari akhir Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. Jalankanlah shalat fardhu secara berjamaah di masjid di awal waktu. Ketika adzan dikumandangkan segera hentikan semua aktifitas dunia, segera berwudhu, dan menuju masjid untuk shalat fardhu berjamaah.

Dalam perjalanan ke masjid lantunkan doa dan dzikir kepada Allah SWT. Jalankanlah shalat sunnah sebanyak mungkin. Terutama shslat tarawih dan shalat tahajjud. Bayarlah zakat maal dan zakat fitrah segera. Perbanyak infak dan shadaqah.

Jadilah murah hati, dermawan, dan cinta kaum miskin, anak yatim dan kaum dhuafa’. Pastikan di bulan Ramadhan kali ini kita wujudkan sebaik mungkin semampu kekuatan kita.

Terkait keutamaan shalat fardhu di awal waktu Rasulullah bersabda:

أي العمل أحب إلى الله؟ قال: الصلاة على وقتها.سألت النبي – صلى الله عليه وسلم: أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إِلَى اللهِ تَعَالَى؟ Kata: «الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا»، قُلْتُ: ثُمَّ أي؟ Kata: «بِرُّ الوَالِدَيْنِ»، قُلْتُ: ثُمَّ أيٌّ؟ Contoh: «الجِهَادُ في سبيلِ الله». مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

“Amal apa yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala?; Beliau menjawab, yaitu shalat tepat waktunya. Lalu apa lagi ? Beliau pun menjawab,“Berbakti kepada kedua orang tua.” ‘Kemudian apa lagi ? Maka beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah Ta’ala” (Muttafaq ‘alaih)

Terkait keutamaan shalat fardhu berjamaah Rasulullah bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً. اخرجه مسلم

“Shalat berjama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian.” (H.R Muslim)

Jadi, seutama-utama hak Allah SWT, yang wajib dijalankan hamba-Nya, setelah mentauhidkan-Nya adalah shalat fardhu berjamaah di masjid di awal waktu. Karena itu, shalat menjadi amal yang paling dicintai Allah jika dilaksanakan di awal waktu secara berjamaah di masjid.

Selanjutnya, shalat tahajjud di tengah malam hingga menjelang shubuh harus betul-betul dijalankan dengan sebaik mungkin, karena keutamaannya telah disebutkan Rasulullah saw, sebagaiana dalam hadis:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، يَقُولُ: «مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Allah SWT, turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan shalat tahajjud (shalat lail) adalah shalat sunnah yang paling utama, maka harus selalu dikerjakan setiap malam oleh seluruh muslimin dan muslimat, sebagaimana sabda Nabi:

أفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل. أخرجه مسلم

“Shalat yang paling baik (paling utama) setelah shalat wajib, adalah shalat malam (shalat tahajjud)” (H.R. Muslim)

Jamaah Jum’at Rahimakumullah,

Amal shaleh berikutnya yang harus dimaksimalkan adalah membaca Al-Qur’an. Bahwa penawar dan penyembuh hati dan fikiran manusia adalah Al Qur’an. Allah SWT, berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَاۤءࣱ وَرَحۡمَةࣱ لِّلۡمُؤۡمِنِینَ وَلَا یَزِیدُ ٱلظَّـٰلِمِینَ إِلَّا خَسَارࣰا

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Quran itu) hanya akan menambah kerugian.” (Surat Al-Isra’: 82).

Allah SWT memerintahkan kita agar Al Qur’an dibaca secara tartil:

وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِیلًا

“Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan (tartil).” (Surat Al-Muzzammil : 4)

Al Qur’an pun harus kita tadabburi maknanya:

أَفَلَا یَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَۚ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَیۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُوا۟ فِیهِ ٱخۡتِلَـٰفࣰا كَثِیرࣰا

“Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Alquran? Sekiranya (Alquran) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (Surat An-Nisa’: 82)

Allah SWT tidak senang kepada kaum muslimin yang tidak mentadabburi Al Qur’an dengan firman-Nya:

أَفَلَا یَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَاۤ

“Maka tidakkah mereka menghayati Alquran, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (Surat Muhammad : 24)

Marilah kita mempelajari dan memahami Al Qur’an dimudahkan Allah SWT. Sesuai firman-Nya yang luar biasa, diulang empat kali dengan redaksi yang sama, dalam satu surah Al-Qomar:

وَلَقَدۡ یَسَّرۡنَا ٱلۡقُرۡءَانَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِرࣲ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Alquran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (Surat Al-Qamar : 17, 22, 32, 50)

Rasulullah Muhammad Saw, bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرآنَ وَعَلَّمَهُ. رواه البخار

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Qur’an dan m ngajarkannya” (HR Bukhari)

Oleh itu, kesimpulannya, bahwa, satu-satunya jalan untuk selamat dan bahagia di dunia dan akhirat bagi setiap mukmin/muslim adalah dengan membaca, memahami, menjalankan dan mengajarkan Al Qur’an dengan sebaik-baiknya, sesuai kemampuan masing-masing.

Jika diri kita, keluarga kita, kantor kita, organisasi kita, lingkungan kita dan negeri kita ini, semua orang Islam senang membaca Al Qur’an, senang mempelajari dan senang mengamalkan Al Qur’an, maka, insya Allah, rahmat dan berkah Allah SWT akan selalu tercurah-limpahkan kepada mereka.

Jama’ah Jum’at rahimakumullah,

Amalan berikutnya yang harus dilakukan secara maksimal adalah Dzikrullah (mengingat Allah SWT). Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk mengingat-Nya sebanyak-banyaknya dengan firman-Nya:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱذۡكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكۡرࣰا كَثِیرࣰا. وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةࣰ وَأَصِیلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang” (Surat Al-Ahzab: 41-42)

Bahwa untuk bisa berdzikir dengan baik dan konsisten, mesti mohon pertolongan Allah SWT. Rasulullah Muhammad Saw, bersabda:

قال النبى : يَا مُعَاذُ، وَاللهِ إنِّي لأُحِبُّكَ. فَقَالَ: «أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ في دُبُرِ كُلِّ صَلاَة تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ». رواه أَبُو داود بإسناد صحيح

“Dari Mu’az bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi saw, bersabda: “Aku wasiatkan engkau Wahai Mu’adz, jangan sekali-kali kamu meninggalkan setiap selesai shalat lima waktu : ‘Ya Allah tolonglah aku agar senantiasa berdzikir mengingat-Mu, serta senantiasa bersyukur kepada Engkau dan senantiasa memperbaiki amal ibadahku kepada Engkau.” (H.R Imam Abu Dawud)

Jamaah Jum’at yang berbahagia,

Amalan selanjutnya untuk dimaksimalkan adalah berpuasa (Shiyam). Shiyam Ramadhan mesti kita tuntaskan dengan sebaik mungkin kualitasnya.

Maka selanjutnya nanti, setelah Ramadhan, kita mesti mebiasakan menjalankan puasa sunnah, antara lain Puasa Syawal, Senin-Kamis, Yaumul Bidh, Puasa Dawud, dan lainnya, yang telah dicontohkan oleh Nabiyullah Muhammad SAW.

Oleh itu, kita harus berlatih berpuasa sunnah sesuai kemampuan masing-masing sebagai ibadah sunnah yang sangat penting.

Jamaah rahimakumullah,

Amalan sholih berikutnya yang harus dimaksimalkan dan diteruskan setelah Ramadhan yakni infaq fii sabiilillaah. Allah SWT berfirman bahwa berinfak adalah wujud berjuang di jalan Allah SWT dan sebagai sumber kemenangan.

ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَ ٰ⁠لِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ أَعۡظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡفَاۤىِٕزُونَ

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (Surat At-Taubah: 20)

Sebagai kemuliaan, berinfak di jalan Allah SWT mesti terus dijalankan secara konsisten, dalam kondisi ringan (mudah) maupun berat (sulit):

ٱنفِرُوا۟ خِفَافࣰا وَثِقَالࣰا وَجَـٰهِدُوا۟ بِأَمۡوَ ٰ⁠لِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِۚ ذَ ٰ⁠لِكُمۡ خَیۡرࣱ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Surat At-Taubah: 41)

Allah SWT akan mengganti harta yang diingatkan dengan lebih baik, berfirman-Nya:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang terbaik” [Saba’/34 : 39]

Sabda Nabi saw, dalam hadits qudsi, terkait kemuliaan dan keutamaan infaq atau shadaqah :

أنفق يا ابن آدم ينفق عليك

“Berinfaklah wahai anak adam, niscaya Aku (Allah SWT) akan menafkahimu.” (HR Bukhari, Ahmad & Ibnu Majah).

Nabi saw, bersabda:

أَنْفِقُ يَا بِلاَلُ! وَلاَ تَخْشَ مِنْ ذِى الْعَرْشِ إِقْلاَلاَ

“Berinfaklah wahai Bilal ! Jangan takut dipersedikit (hartamu) oleh Dzat Yang memiliki Arsy” (Al Baihaqi)

Harta yang diinfakkan akan diganti Allah SWT. Sabda Nabi saw:

مَا مِنْ يَوْمِ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفَا وَيَقُوْلُ الآْخَر
اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفَا

“Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menginfakkan hartanya”, sedangkan yang satunya lagi berkata; “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil, tidak berinfak)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,

Semoga di akhir Ramadhan kita meraih kualitas takwa dan kembali kepada fitrah kesucian diri. Untuk memeliharanya, setelah Ramadhan, tugas kita adalah meng-istiqamahkan (konsisten) menjalankan ibadah-ibadah kepada Allah swt, diantara yang utama antara lain:

  1. Sholat fardhu berjamaah di masjid di awal waktu dan shalat tahajjud setiap malam.
  2. Membaca, mempelajari, memahami dan menjalankan Al-Qur’an sesuai kemampuan.
  3. Memperbanyak berdzikir dan berdoa kepada Allah swt.
  4. Menjalankan puasa Sunnah Syawal, Senin-Kamis dll.
  5. Memperbanyak infak dan shadaqah sesuai kemampuan dalam keadaan apapun.

Marilah kita ajak keluarga kita, teman di tempat kerja kita, masyarakat, Bangsa dan Negara kita tercinta ini untuk menjalankannya. Kiranya akan terlimpah hidayah, Rahmat, dan barokah Allah SWT. Aaamiin

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Jangan Lupakan Palestina Kita dan Persatuan Umat

اَللهُ أَكْبَرْ، اَللهُ أَكْبَرْ، اَ للهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ وَحْدَهُ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ

اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى حَبِيْبِنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيْلِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدَهُ فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كَتَابِهِ الْكَرِيْمِ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Segala puji hanya milik Allah, Dzat yang telah memperjalankan kita melewati bulan suci Ramadhan. Dengan kasih sayang-Nya, kita diberi kesempatan untuk merasakan nikmat ibadah, memperbanyak amal saleh, dan menyucikan diri dari dosa-dosa.

Namun kini, Ramadhan telah pergi, meninggalkan kita dalam rindu yang mendalam. Adakah amal kita diterima? Adakah dosa-dosa kita benar-benar diampuni? Hanya kepada-Nya kita berharap dan berdoa.

Shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada Rasulullah Muhammad ﷺ, yang telah membimbing kita dengan cahaya Islam, mengajarkan kita makna ketulusan, pengorbanan, dan kasih sayang. Melalui teladannya, kita diajarkan arti kebersamaan dan persatuan, sebagaimana kaum Muhajirin dan Anshar bersatu dalam ikatan persaudaraan Islam yang kokoh.

Pada kesempatan yang mulia ini, kita berkumpul dalam keadaan penuh harapan dan syukur, merayakan Idul Fitri sebagai kemenangan setelah sebulan penuh beribadah di bulan Ramadhan. Sebuah bulan yang seharusnya memberikan kita kekuatan baru, pemahaman yang lebih dalam, dan semangat untuk melanjutkan perjuangan dalam kehidupan.

Namun, di balik kebahagiaan yang kita rasakan pada hari ini, mari kita tidak melupakan saudara-saudara kita yang sedang dilanda kesulitan. Di Palestina, di tanah yang suci, umat Muslim masih merasakan penderitaan yang tak terhingga.

Rakyat Palestina, yang tengah berpuasa, harus bertahan hidup di bawah penjajahan yang tak kunjung selesai. Mereka tinggal di tenda-tenda pengungsian yang rapuh, dikepung oleh kekerasan, terus berada di bawah bayang bayang serbuan senjata genosida, dan pembantaian tanpa ampun.

Tidak jarang kita mendengar tentang rumah-rumah mereka yang dibakar, anak-anak mereka yang terbunuh, dan keluarga yang hancur berantakan. Di tengah puasa mereka, nyawa mereka selalu terancam, dan hak mereka untuk hidup damai telah lama dirampas.

فَمَنِ ٱعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَٱعْتَدُوا۟ عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا ٱعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

“Barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa”

Firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 194 ini menegaskan betapa jelasnya ayat ini mengingatkan kita untuk tidak menyerah dalam memperjuangkan keadilan, baik di Palestina maupun di tanah air kita sendiri.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd
Kaum Muslimin dan Muslimat Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah

Kita berada di sebuah masa yang penuh tantangan. Dalam kehidupan sehari-hari kita, banyak masalah sosial, ekonomi, dan hukum yang menuntut perhatian kita. Di negara kita, Indonesia, masalah kemiskinan, ketidakadilan, dan kesenjangan sosial masih menjadi beban yang berat bagi banyak orang.

Di mana-mana kita mendengar tentang ketidakadilan yang merajalela, tentang rakyat yang tertindas, dan tentang orang-orang yang terpinggirkan hanya karena ketidakmampuan mereka untuk melawan sistem yang telah menjerat mereka dalam kesulitan. Para pekerja yang terpinggirkan, anak-anak yang putus sekolah, dan keluarga miskin yang tidak memiliki akses ke layanan dasar—semuanya adalah bagian dari kenyataan yang harus kita hadapi bersama.

Tapi, lebih dari itu, masalah kita sebagai bangsa juga terletak pada mentalitas yang seringkali tidak selaras dengan nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, dan solidaritas. Mentalitas individualisme dan apatisme semakin berkembang di tengah-tengah kita. Banyak yang lebih peduli dengan kehidupan pribadi, lebih fokus pada kepentingan diri sendiri, dan kurang memikirkan nasib sesama.

Padahal, Islam mengajarkan kita bahwa kebahagiaan tidak akan pernah sempurna jika hanya mengedepankan kepentingan pribadi. Dalam Surah Al-Ma’un, Allah SWT berfirman,

اَرَءَيۡتَ الَّذِىۡ يُكَذِّبُ بِالدِّيۡنِؕ‏ ١ فَذٰلِكَ الَّذِىۡ يَدُعُّ الۡيَتِيۡمَۙ‏ ٢ وَ لَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الۡمِسۡكِيۡنِؕ‏

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”

Firman Allah dalam ayat ini dengan tegas mengingatkan kita tentang pentingnya peduli terhadap sesama, terutama yang lemah dan membutuhkan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd
Kaum Muslimin dan Muslimat Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah

Idul Fitri adalah saat yang tepat untuk merenung, untuk introspeksi diri, dan untuk memperbaiki segala kekurangan. Ramadhan yang telah kita jalani sebulan penuh adalah sebuah kesempatan emas untuk melakukan perubahan dalam hidup kita.

Sejatinya ibadah puasa yang kita jalani bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, Ramadhan adalah bulan untuk mengasah ketakwaan dan pengendalian diri. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

Ibadah puasa mengajarkan kita untuk tidak hanya menahan diri dari hal-hal yang sifatnya fisik, tetapi juga mengendalikan emosi, hawa nafsu, dan segala bentuk keinginan yang tidak sejalan dengan ajaran Allah SWT.

Di saat yang sama, Ramadhan juga mengingatkan kita akan pentingnya berbagi, memberi, dan peduli terhadap sesama. Ini adalah nilai utama yang harus kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tidak hanya untuk diri kita sendiri, tetapi untuk bangsa kita. Jika kita ingin melihat bangsa ini maju, sejahtera, dan adil, maka kita harus mulai dengan membangun kesadaran sosial yang tinggi. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَايَحْقِرُهُ

“Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain”

Pesan persatuan dari Rasulullah ini adalah panggilan bagi kita untuk berdiri bersama, melawan ketidakadilan, dan memperjuangkan hak-hak setiap individu, terutama mereka yang lemah dan terpinggirkan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd
Kaum Muslimin dan Muslimat Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah

Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk menjaga ukhuwah Islamiyah, saling membantu, dan saling melindungi. Melihat ketertindasan di Palestina, di negara kita, dan di berbagai belahan dunia, kita harus bertanya pada diri kita: “Apa yang sudah kita lakukan?”

Sudahkah kita benar-benar memahami bahwa Ramadhan yang kita jalani bukan hanya soal ibadah individu, tetapi juga tentang kebangkitan kolektif umat? Sudahkah kita membangkitkan semangat persatuan dalam menghadapi segala tantangan ini?

Marilah kita jadikan Ramadhan yang telah kita jalani sebulan penuh kemarin ini sebagai titik balik, bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk bangsa kita.

Mari kita bangun Indonesia yang lebih peduli, lebih berkeadilan, dan lebih berempati. Mari kita jadikan setiap tindakan kita sebagai wujud nyata dari ketakwaan yang telah kita capai selama Ramadhan.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Di hari yang penuh kemenangan ini, mari kita perbaharui niat dan semangat kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih berkontribusi bagi masyarakat.

Kita adalah khalifah Allah di muka bumi ini. Kita memiliki tanggung jawab untuk membawa kebaikan, menyebarkan kedamaian, dan memperjuangkan hak-hak mereka yang tertindas.

Sebagaimana kita menahan diri dari hawa nafsu selama Ramadhan, mari kita terus menjaga pengendalian diri dan ketakwaan ini dalam setiap langkah kehidupan kita, baik di dunia maya maupun dunia nyata.

Semoga kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih bermanfaat bagi umat ini di belahan bumi manapun.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Semangat Membara Meraih Keberkahan di Penghujung Hari hari Ramadhan

0

BULAN Ramadhan hadir sebagai anugerah yang dinantikan oleh jutaan, bahkan miliaran umat Islam di seluruh penjuru dunia. Kehadirannya bukan sekadar peristiwa musiman, melainkan sebuah momen suci yang mengundang harapan, doa, dan kerinduan mendalam.

Banyak di antara umat Islam yang memanjatkan munajat kepada Allah SWT agar diberi kesempatan untuk kembali bertemu dengan Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Harapan ini bukanlah angan kosong, melainkan didasari oleh kesadaran akan keistimewaan dan kemuliaan yang tersemat dalam bulan penuh berkah ini.

Ramadhan menawarkan hidangan spiritual yang luar biasa: ampunan atas segala dosa, keberkahan yang melimpah, serta pahala kebaikan yang berlipat ganda. Inilah yang menjadikan Ramadhan sebagai cita-cita tertinggi bagi setiap muslim yang ingin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Keistimewaan Ramadhan tidak hanya terletak pada janji-janji Ilahi, tetapi juga pada transformasi nyata yang terlihat dalam kehidupan umat Islam saat bulan ini tiba. Di mana-mana, kita saksikan semangat ibadah yang membuncah. Orang-orang berlomba-lomba mengisi waktu mereka dengan amal saleh, seolah tak ingin ada detik yang terlewat tanpa kebaikan.

Shalat, tilawah Al-Qur’an, sedekah, dan berbagai bentuk ibadah lainnya menjadi pemandangan yang kian akrab. Bahkan, jauh sebelum Ramadhan tiba, banyak yang telah mempersiapkan diri secara maksimal—baik dari segi fisik, kebutuhan penunjang ibadah, maupun materi. Harta dan kekayaan dikelola dengan penuh kesadaran untuk mengundang lebih banyak keberkahan, menunjukkan betapa Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memurnikan jiwa dan memperkaya amal.

Semangat semacam ini juga tercermin dalam berbagai inisiatif kebaikan yang dilakukan oleh individu maupun kelompok. Sebagai contoh, keluarga Vanilla Hijab bersama Baitul Maal Hidayatullah (BMH) secara rutin mengisi hari-hari Ramadhan dengan aksi nyata yang menyebarkan kebahagiaan. Ribuan santri, dai, guru ngaji, pengemudi ojek online, komunitas muallaf di kampung Baduy, hingga jamaah i’tikaf merasakan sentuhan kebaikan dari upaya ini.

Program-program tersebut bukan sekadar inisiatif filantropi, melainkan bukti nyata bahwa pemahaman mendalam tentang keistimewaan Ramadhan mendorong umat Islam untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Mereka yang menyadari hakikat bulan ini memilih untuk memperbanyak ibadah dan amal saleh, menjadikan Ramadhan sebagai ladang subur untuk menanam benih kebaikan yang akan dipanen di akhirat kelak.

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا۟ لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Demikianlah landasan semangat itu diperkuat oleh firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, khususnya pada Surah Al-Baqarah ayat 110:

“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini menjadi penegasan yang kuat bahwa setiap upaya kebaikan—terutama di bulan Ramadhan—tidak akan sia-sia. Allah SWT menjanjikan balasan yang setimpal, bahkan lebih, atas segala amal yang dilakukan dengan ikhlas.

Pesan Qur’ani membawa optimisme luar biasa: bahwa setiap langkah kecil menuju kebaikan, setiap tetes keringat dalam ibadah, dan setiap niat tulus untuk berbagi, dicatat dengan sempurna oleh Allah Yang Maha Melihat.

Lebih jauh lagi, Ramadhan mengajarkan kita bahwa kebaikan bukanlah sekadar transaksi akhirat, tetapi juga investasi duniawi yang mempererat tali kemanusiaan.

Ketika kita melihat bagaimana kebaikan menyebar—dari santri yang berseri-seri wajahnya hingga komunitas muallaf yang merasakan kehangatan solidaritas—kita diingatkan bahwa Ramadhan adalah momentum untuk membangun peradaban yang lebih mulia.

Allah SWT menegaskan bahwa tidak ada satu pun amal saleh yang luput dari perhatian-Nya. Apalagi jika kebaikan itu dilakukan di bulan yang penuh kemuliaan ini, ganjarannya menjadi berlipat, membawa harapan bagi setiap individu untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Dengan demikian, Ramadhan bukan hanya tentang kerinduan untuk bertemu dengannya, tetapi juga tentang bagaimana kita mengisinya dengan makna. Persiapan yang matang, ibadah yang sungguh-sungguh, dan kebaikan yang konsisten adalah wujud nyata dari penghayatan akan keistimewaan bulan ini.

Kini kita sudah berada di penghujung. Mari kita maksimalkan Ramadhan yang tersisa ini dengan hati yang lapang dan semangat yang membara, karena di dalamnya terdapat peluang emas untuk meraih ampunan, keberkahan, dan kebahagiaan abadi.[]

*) Adam Sukiman, penulis Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta dan Koordinator Rumah Qur’an (RQ) Hidayatullah Jakarta

[Khutbah Idulfitri 1446 H] Istiqamah Beramal Saleh dan Menebar Manfaat Bagi Umat

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللهُ أَكْبَرْ، اَللهُ أَكْبَرْ، اَ للهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ وَحْدَهُ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ

اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى حَبِيْبِنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيْلِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدَهُ فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كَتَابِهِ الْكَرِيْمِ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd

Kaum Muslimin dan Muslimat Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah

Segala puji bagi Allah atas segala anugerah kenikmatan lahir dan batin sebagai wujud kasih sayang-Nya kepada kita semua. Alhamdulillah, di hari raya Idul Fitri yang penuh kebahagiaan ini, kita rayakan kemenangan. Kesuksesan mengendalikan hawa nafsu serta keberhasilan menghiasi diri dengan takwa, iman dan amal saleh. Bulan Ramadhan yang penuh kebaikan dan keberkahan telah pergi. Hari-hari dan malam-malamnya yang indah telah berlalu.

Setelah kita merasakan kebahagiaan berpuasa, kenikmatan salat tarawih dan tahajjud, ketenangan hati dengan dzikir, baca Qur’an dan munajat doa. Saat ini datanglah hari raya dengan kemegahan dan keindahannya, kegembiraan dan kebahagiaannya. Kita sambut dengan mengumandangkan takbir untuk membesarkan Allah, tahlil sebagai pengakuan terhadap keesaan Allah, serta tahmid sebagai ungkapan syukur atas nikmat-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ﴾ [البقرة: 185] 

“Dan sempurnakanlah jumlah hari-hari puasa dan agungkanlah Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, dan semoga kalian bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)

Hari ini ibarat momen pengumuman hasil ujian Ramadhan dan pembagian hadiah. Orang-orang yang rajin dan berusaha keras dengan penuh semangat akan bersuka cita karena berhasil meraih kemenangan, sedangkan yang malas dan lalai akan menyesal dan kecewa. Pada bulan Ramadhan kemarin ada yang meraih keberuntungan, dan ada pula yang kehilangan kesempatan.

Berbahagialah bagi yang telah mendapatkan karunia rahmat dan ampunan Allah usai menjalani ibadah Ramadhan.

﴿قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ هُوَ خَيۡرٌ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ﴾ [يونس: 58] 

Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan Rahmat-Nya, hendaklah mereka bergembira, itu lebih baik dari pada apa yang mereka kumpulkan.”  (QS. Yunus: 58)

Sungguh hadiah Ilahi dan karunia Rabbani yang dibagikan hari ini, hanyalah sebagian kecil dari berbagai hadiah besar, karunia dan anugerah agung yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang berpuasa. Rasulullah ﷺ bersabda:

«لِلصَّائِمِ ‌فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ»

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka, dan kebahagiaan saat bertemu dengan Rabb-Nya.” (HR. Muslim, no. 1151)

Bayangkan diri kita ketika berdiri di hadapan Rabb Yang Maha Penguasa pada hari kiamat. Ketika catatan amal diperlihatkan pada hari perhitungan, tanpa meninggalkan sedikit pun, semua tercatat rapi, yang kecil maupun besar. Setiap jiwa akan mendapati catatan itu penuh dengan gunung-gunung pahala sebagai balasan atas semua ibadah dan amal salehnya.

Pada saat yang sama, ada rasa takut yang mencemaskan hati ini dengan dosa dan maksiat. Ada rasa khawatir jika amal ibadah dan kebajikan terkikis habis. Lalu tiba-tiba puasa dan bacaan al Qur’an muncul sebagai pemberi syafa’at, memohon kepada Tuhan Yang Maha Pengampun untuk mengampuni dan menghapuskan dosa-dosa kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa dan al Qur’an akan memberi syafaat kepada seorang hamba. Puasa berkata: “Ya Tuhanku, aku telah mencegahnya dari makanan dan minuman di siang hari, maka berikanlah syafaat untuknya.” Dan al Qur’an berkata: “Ya Tuhanku, aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, maka berikanlah syafaatnya, keduanya akan memberi syafaat.” (HR. Ahmad)

Akhirnya Allah menerima syafaat keduanya, kemudian Dia memberikan karunia terbesar dan teragung, yaitu pembebasan dari api neraka dan kemenangan meraih surga, sebagai balasan atas kebaikan hamba-Nya.

Kaum Muslimin dan Muslimat rahimakumullah

Ramadhan telah kita jalani dengan berbagai bentuk ibadah dan ketaatan, kenikmatan spiritual telah kita rasakan. Jangan sampai setelah Ramadhan berlalu, kita kembali malas, lalai dan berbuat dosa. Jangan biarkan setan merusak keadaan yang sudah baik. Sebagai titik tolak kembali ke fitrah sejati, bahwa di awal Syawal ini kita bangun komitmen ketaatan seumur hidup, sebagaimana ketaatan selama Ramadhan. Allah berfirman:

﴿وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّتِي نَقَضَتۡ غَزۡلَهَا مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثًا﴾ [النحل: 92] 

“Dan janganlah kamu seperti seorang Perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (QS. An Nahl:92)

Berusahalah dengan sungguh-sungguh dalam melakukan amal saleh dan teruslah menjalankannya. Jangan berhenti dari kebiasaan baik yang telah dilakukan, misalnya shalat jamaah, shalat malam, baca Qur’an dan sedekah. Betapa indahnya kebaikan yang diikuti dengan kebaikan, dan betapa buruknya kemaksiatan setelah melakukan kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا ‌مِنْ ‌شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ» رواه مسلم

Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah dia telah berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim, no. 1164)

Kaum Muslimin dan Muslimat rahimakumullah

Berbagai kerusakan dan musibah yang menimpa manusia, baik yang bersifat umum maupun khusus, individu atau pun kolektif, adalah akibat perbuatan manusia sendiri. Mulai dari perbuatan syirik, bid’ah, perzinaan, perjudian, miras dan narkoba, korupsi, praktik riba, penyelewengan jabatan, hingga berbagai macam bentuk kemaksiatan. Semuanya itu menjadi penyebab terjadinya kerusakan di muka bumi ini. Sebagai contoh, tindakan korupsi oleh oknum pejabat di negeri ini mengakibatkan kerugian negara dan kesengsaraan rakyat.  Allah Ta’ala berfirman:

﴿ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ﴾[الروم: 41] 

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena apa yang telah dilakukan oleh tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Rum: 41)

Demi menyelamatkan Indonesia, negeri yang mayoritas muslim ini, maka sebagai alumni madrasah Ramadhan yang telah menjalani tarbiyah intensif, hendaknya kita semua terpanggil untuk melakukan gerakan perbaikan (ishlah). Jadilah orang baik (shalih) sekaligus pembawa misi perbaikan (mushlih). Karena perbaikan adalah perlindungan dari turunnya musibah terhadap bangsa dan masyarakat. Sebagaimana firman Allah:

﴿وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهۡلِكَ ٱلۡقُرَىٰ بِظُلۡمٍ وَأَهۡلُهَا مُصۡلِحُونَ﴾ [هود: 117] 

“Dan Tuhanmu tidak akan mengazab negeri-negeri secara zalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang melakukan perbaikan.” (QS. Hud: 117)

Upaya perbaikan tidak cukup hanya dengan perbaikan diri sendiri, tetapi harus terlibat melakukan perbaikan terhadap umat dan bangsa. Orang beriman harus tampil sebagai pejuang kebenaran, penegak keadilan dan pembangun peradaban. Seseorang pernah bertanya kepada Nabi ﷺ:

“Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan padahal di tengah kami ada orang-orang yang saleh? Beliau menjawab: “Ya, apabila kejahatan sudah merajalela.” (HR. Ahmad)

Oleh karena itu, gerakan perbaikan yang mendasar di setiap zaman adalah dakwah amar ma’ruf nahi munkar, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dari gerakan dakwah inilah peradaban Islam yang agung akan terbangun, keindahan ajaran Islam akan dirasakan sebagai rahmat bagi seluruh alam. 

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah

Spirit Ramadhan juga mengantarkan kita menjadi orang saleh secara ritual dan sosial. Tekun menjalin hubungan vertikal dengan Allah dan progresif menebar manfaat bagi umat manusia dan lingkungan. Termasuk berbuat baik kepada golongan lemah dari kalangan fakir dan miskin. Bantu dan kasihanilah mereka agar menjadi salah satu sebab kebaikan besar bagi diri, keluarga, masyarakat dan bangsa. Rasulullah ﷺ bersabda:

»أَبْغُونِي ضُعَفَاءَكُمْ، فَإِنَّكُمْ ‌إِنَّمَا ‌تُرْزَقُونَ ‌وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ«

“Carilah orang-orang yang lemah, karena kalian diberikan rezeki dan ditolong karena orang-orang yang lemah di antara kalian.” (HR. Ahmad)

Jangan lupakan fakir miskin, mereka adalah saudara kita. Masukkan kebahagiaan dan kegembiraan pada diri mereka. Bantulah mereka dengan rezeki yang Allah anugerahkan kepada kita.

Suatu ketika ada seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling dicintai Allah? Dan amal apa yang paling dicintai Allah?” Rasulullah ﷺ menjawab:

“Orang yang paling dicintai  Allah adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Dan amal yang paling dicintai Allah adalah menyenangkan hati seorang Muslim, atau menghilangkan kesusahannya, atau membayar utangnya, atau menghilangkan rasa lapar darinya. Dan aku lebih suka berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya daripada beriktikaf di masjid ini, yaitu masjid di Madinah, selama sebulan.” (HR. Thabrani)

Demikianlah pernyataan tegas Rasulullah ﷺ, bahwa adakalanya ibadah sosial justru lebih utama dari pada ibadah ritual. Membantu dan memberi manfaat kepada orang lain, lebih utama dari pada mengejar pahala melalui ibadah ritual. Karenanya di momen penuh kebahagiaan ini, bahagiakanlah anak-anak yatim, golongan dhu’afa hingga orang-orang yang sedang sakit. Ajaklah mereka merasakan kegembiraan pada hari raya ini, besuk dan kunjungilah mereka, ucapkan tahniah dan doa, sampaikan nasihat dan motivasi agar senantiasa bersabar menghadapi segala bentuk ujian dari Allah SWT.

Kaum Muslimin dan Muslimat rahimakumullah

Memberi manfaat kepada orang lain merupakan karakter orang beriman. Yakni selalu terpanggil untuk menolong saudaranya, menyelesaikan problem orang lain serta memiliki jiwa kepedulian sosial. Itulah di antara indikator kesalehan seorang muslim. Rasulullah ﷺ telah menegaskan bahwa orang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Oleh sebab itu, setelah membangun misi ibadah kepada Allah, seorang muslim hendaknya memproses diri menjadi orang saleh, selanjutnya mengorientasikan diri untuk melakukan perbaikan, menjadi agen perubahan demi memberikan manfaat dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa. Tidak boleh bersikap egois, mementingkan diri sendiri, hanya ingin menjadi orang saleh secara pribadi, tanpa peduli dengan kelalaian dan penderitaan orang lain.

Betapa banyak orang miskin di sekitar kita, karena rasa malu dan demi menjaga kehormatan, mereka rela menyembunyikan kebutuhannya. Tidak sedikit pula orang yang tidak sabar, akhirnya menampakkan kemiskinannya. Kepedulian terhadap fakir miskin akan menjadi salah satu sebab limpahan rezeki dari Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

«‌مَنْ ‌كَانَ ‌فِي ‌حَاجَةِ ‌أَخِيهِ ‌كَانَ ‌اللهُ ‌فِي ‌حَاجَتِهِ»  رواه مسلم

“Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah membantu kebutuhannya.” (HR. Muslim, no. 2580)

Seseorang yang membantu dan menolong orang lain, maka dia akan ditolong oleh Allah di dunia maupun di akhirat. Dengan memberi manfaat kepada orang lain, niscaya Allah akan memberi kemudahan baginya dalam urusan di dunia, maupun di akhirat kelak. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan menyelesaikan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang mengalami kesulitan, niscaya Allah akan mudahkan baginya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim, no.2699)

Orang mukmin hendaknya selalu terpanggil menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Ketika menjadi guru, ia serius mendidik dan mencurahkan ilmunya demi melahirkan murid yang beriman dan berilmu, cerdas dan beradab. Ketika menjadi pebisnis atau pedagang, dia berlaku jujur, zakatnya ditunaikan, sebagian keuntungannya diinfakkan di jalan Allah dan membantu golongan lemah. Ketika menjadi pegawai dan karyawan atau profesional, dia disiplin bekerja dengan penuh tanggung jawab, gemar membantu dan melayani orang lain. Ketika menjadi pejabat, dia bersikap adil untuk semua golongan, peduli dan empati terhadap nasib rakyatnya, berkhidmat melayani kebutuhan masyarakat, bahkan rela berkorban demi kepentingan negara dan bangsa.

Secara lahiriah, memberi manfaat kepada orang lain, membantu dan menolong mereka tampak sebagai tindakan yang mengorbankan waktu, pikiran dan tenaga, bahkan mengurangi harta. Namun ketika berbuat baik dan memberi manfaat kepada orang lain, pada hakikatnya kita menanam kebaikan untuk diri kita sendiri. Allah berfirman:

﴿إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡۖ ﴾ )الإسراء:7(  

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian.” (QS. Al Isra: 7)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd

Kaum Muslimin dan Muslimat rahimakumullah

Di era disrupsi saat sekarang ini, di mana perubahan begitu cepat terjadi akibat transformasi teknologi, kita menghadapi banyak tantangan dan ancaman yang dapat merusak akidah dan moral masyarakat. Oleh karena itu, kita membutuhkan persatuan dan kesatuan, kerja sama dan kolaborasi di antara semua elemen umat dan bangsa. Hanya dengan persatuan dan sinergi yang terorganisir dengan baik, gerakan perbaikan dapat diwujudkan demi menyelamatkan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara dari berbagai ancaman kerusakan.  

Selanjutnya, di akhir khutbah ini perlu ditegaskan bahwa bukti kesuksesan kita menjalani ibadah Ramadhan adalah ketika berhasil melakukan perubahan dan peningkatan kualitas diri. Keyakinan makin kuat, ibadah makin tekun, akhlak makin sempurna, tanggung jawab sosial makin meningkat. Pribadi seperti itulah yang akan mendapat ampunan dan rahmat, memperoleh janji syurga di akhirat kelak. Semoga kita termasuk di dalamnya, amin  

Untuk itu marilah kita berdoa:

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف المرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين برحمتك يا أرحم الراحمين

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتَضَرُّعَنَا وجَمِيْعَ أَعْمَالِنَا. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمَ كَمَا رَبَّونَا صِغَارًا

اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي اْلأُمُوْرِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ. اللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبۡحَٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلۡعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ  وَسَلَٰمٌ عَلَى ٱلۡمُرۡسَلِينَ  وَٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

DOWNLOAD NASKAH, KLIK DI SINI

Kabinet Merah Putih dan Spirit Lailatul Qadr untuk Penyucian Jiwa Bangsa

0

RAMADHAN adalah bulan penuh keberkahan, rahmat, dan ampunan. Di penghujung sepuluh hari terakhir ini, umat Islam diajak untuk semakin mendekat kepada Allah SWT, mencari malam Lailatul Qadr yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Spirit Lailatul Qadr membawa pesan mendalam tentang transformasi, kebangkitan, dan penyucian jiwa—baik secara pribadi maupun kolektif sebagai bangsa.

Dalam konteks Indonesia saat ini, Kabinet Merah Putih yang tepat 6 bulan ini dilantik menjadi simbol harapan baru untuk mengarahkan bangsa menuju keadilan, kemakmuran, dan keberkahan. Momentum Ramadhan, khususnya Lailatul Qadr, dapat menjadi cermin bagi kita untuk merefleksikan upaya kolektif menyucikan jiwa bangsa di tengah berbagai tantangan kebangsaan yang masih membelenggu.

Kabinet Merah Putih, dengan nama yang mengandung makna nasionalisme dan kesucian, hadir di tengah harapan rakyat akan perubahan. Merah melambangkan keberanian dan semangat juang, sementara putih mencerminkan kesucian dan kejujuran. Nama ini seolah menjadi pengingat bahwa kepemimpinan bangsa harus berpijak pada nilai-nilai luhur, sebagaimana spirit Lailatul Qadr menyerukan kita untuk kembali pada fitrah yang suci.

Malam Lailatul Qadr, yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai malam penuh kedamaian hingga terbit fajar (QS. Al-Qadr: 5), adalah waktu di mana malaikat turun membawa rahmat dan keberkahan. Dalam konteks kebangsaan, ini bisa diartikan sebagai seruan untuk membawa perbaikan dalam tatanan sosial, politik, dan ekonomi yang selama ini tercabik oleh berbagai problem seperti korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), ketimpangan sosial, kemiskinan, supremasi hukum yang rapuh, hingga ketidakadilan yang masih terasa di berbagai lapisan masyarakat.

Tantangan kebangsaan yang kita hadapi hari ini bukanlah hal baru. Korupsi, misalnya, telah menjadi penyakit kronis yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan bernegara. Data Transparency International menunjukkan bahwa indeks persepsi korupsi Indonesia masih jauh dari harapan, mencerminkan betapa sulitnya memberantas praktik ini.

Kolusi dan nepotisme turut memperparah situasi, menciptakan lingkaran setan yang hanya menguntungkan segelintir elit, sementara rakyat kecil terus terpinggirkan.

Masih meluasnya ketimpangan sosial dan kemiskinan juga menjadi bukti bahwa keadilan ekonomi belum sepenuhnya tercapai. Di sisi lain, supremasi hukum yang lemah dan ketidakadilan dalam penegakan hukum membuat kepercayaan rakyat terhadap institusi negara kian terkikis.

Di tengah semua itu, Ramadhan hadir sebagai momentum untuk “menyucikan” jiwa bangsa, sebagaimana Lailatul Qadr menjadi puncak penyucian jiwa individu.

Spirit Lailatul Qadr mengajarkan kita tentang kekuatan doa, ikhtiar, dan tawakal. Dalam Al-Qur’an, malam ini adalah waktu di mana segala urusan ditetapkan oleh Allah SWT (QS. Al-Dukhan: 4).

Perbaikan Tatanan Kehidupan Bernegara

Bagi bangsa Indonesia, Lailatul Qadr ini bisa menjadi metafora bahwa di penghujung Ramadhan, kita perlu menetapkan langkah baru untuk memperbaiki tatanan kehidupan bernegara. Kabinet Merah Putih, sebagai representasi kepemimpinan nasional, memiliki tanggung jawab besar untuk mewujudkan visi tersebut.

Penyucian jiwa bangsa tidak akan tercapai hanya dengan retorika, tetapi melalui aksi nyata: memberantas korupsi dengan tegas, memutus rantai kolusi dan nepotisme, menegakkan hukum secara adil, serta mengentaskan kemiskinan dan ketimpangan sosial dengan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

Ramadhan adalah bulan refleksi dan perbaikan. Puasa yang kita jalani bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kesabaran, empati, dan kepekaan sosial. Ketika seorang pemimpin atau anggota Kabinet Merah Putih menjalani Ramadhan dengan penuh kesadaran, ia akan memahami penderitaan rakyat yang kelaparan, yang tidak memiliki akses terhadap kebutuhan dasar, atau yang terzalimi oleh ketidakadilan.

Spirit ini selaras dengan pesan dalam Lailatul Qadr: kembali kepada Allah SWT dengan hati yang bersih, meninggalkan segala bentuk kezaliman, dan berkomitmen untuk membawa kebaikan bagi sesama. Jika setiap elemen bangsa—dari pemimpin hingga rakyat—menjadikan Ramadhan sebagai titik balik untuk memperbaiki diri, maka penyucian jiwa bangsa bukan lagi utopia, melainkan sebuah keniscayaan.

Namun, “penyucian jiwa bangsa” tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah atau Kabinet Merah Putih semata. Rakyat juga memiliki peran penting. Lailatul Qadr mengajarkan kita untuk aktif berikhtiar, bukan pasif menunggu keajaiban.

Dalam konteks kebangsaan, ini berarti rakyat harus turut mengawasi, mengkritik, dan mendukung kebijakan yang membawa keadilan. Melawan korupsi, misalnya, tidak hanya tugas penegak hukum, tetapi juga tanggung jawab kolektif untuk menolak budaya suap dan menanamkan integritas dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu pula dengan ketimpangan sosial: solidaritas rakyat dalam membantu sesama, terutama di bulan Ramadhan, adalah wujud nyata dari spirit Lailatul Qadr yang penuh rahmat.

Di penghujung Ramadhan ini, mari kita jadikan Kabinet Merah Putih sebagai simbol harapan yang tidak hanya berhenti pada nama, tetapi terwujud dalam tindakan. Sebagaimana Lailatul Qadr membawa kedamaian hingga fajar menyingsing, semoga kepemimpinan baru ini mampu membawa “fajar” kebangsaan yang lebih cerah. Sebuah tatanan negara di mana korupsi diberantas, hukum ditegakkan, dan keadilan sosial menjadi nafas kehidupan.

Penyucian jiwa bangsa adalah perjalanan panjang, tetapi Ramadhan memberi kita kekuatan spiritual untuk memulainya. Dengan ikhtiar bersama antara pemimpin dan rakyat, didasari niat tulus untuk kebaikan, kita bisa mengatasi tantangan kebangsaan yang ada.

Kita panjatkan doa agar Ramadhan kali ini benar-benar mengantarkan Indonesia menjadi negeri yang berkah, adil, makmur, dan sentosa. Sebagaimana janji Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” (QS. Saba’: 15)—sebuah negeri yang baik lagi indah dengan Tuhan yang Maha Pengampun—semoga cita-cita itu tercapai.

Dan kepada kita semua, Ramadhan ini adalah panggilan untuk menyucikan hati, memperbaiki diri, dan bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik. Selamat menjemput Lailatul Qadr, semoga rahmat dan ampunan Allah SWT senantiasa menyertai langkah kita menuju negeri yang diridhai-Nya.

*) Suhardi Sukiman, penulis Sekretaris Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta, Pembina Pondok Pesantren Tahfidz Global Jayakarta Ciracas

Kampung Wakaf Ciracas Serahkan Dana Wakaf Tunai Melalui Baitul Wakaf

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Para Srikandi yang tergabung dalam Kampung Wakaf RW 007 Ciracas, Jakarta Timur selama 1 tahun berhasil menghimpun dana wakaf sebanyak Rp 8.781.000 untuk wakaf tunai.

Kampung Wakaf adalah program kemandirian berbasis RW dan Desa untuk pembangunan berkelanjutan melalui wakaf untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program ini di inisiasi Founder Sedekah Ngider Indonesia dan Baitul Wakaf serta menjadikan RW 007 Ciracas, Jakarta Timur sebagai portofolio perdana.

Komunitas Sedekah Ngider yang beranggotakn 35.356 orang dan puluhan srikandi ini telah tersebar di 33 Kampung Sedekah dengan mewujudkan kolaborasi Kampung Wakaf ini diharapkan bisa mendorong kesadaran dan life style tidak hanya sedekah tapi juga berwakaf di tengah masyarakat.

Penyerahan donasi wakaf ini dilakukan disela kegiatan ngabuburit Yayasan Kampung Sedekah bersama para srikandi dari berbagai wilayah, anak yatim, dan pejabat perangkat desa yang wilayahnya menjadi tempat para srikandi beraktifitas, kegiatan ini dilakukan di komplek Masjid Al Muhtadun Cibubur, Jakarta, pada Jumat (14/03) dan ditulis media ini Sabtu, 22 Ramadhan 1446 (22/3/2025).

Ketua Yayasan Kampung Sedekah Indonesia (YSNI) yang juga pendiri Sedekah Ngider Indonesia, Taufik Ary, menceritakan bahwa dana wakaf uang ini dihimpun dari masyarakat yang berdikari menjadi pengusaha sebagian keuntungannya disisihkan untuk wakaf.

Dengan adanya kampung wakaf di RW 007 ini, terang Taufik, Ciracas menjadi contoh bagi kampung lain dimana Kampung Wakaf adalah dari masyarakat, untuk masyarakat, dan kembali ke masyarakat

“Hari ini secara simbolis dana wakaf dari Kampung Wakaf kami serahkan kepada baitul Wakaf, ini pastiya akan jadi amal jariah bagi warga RW 007 Ciracas, Jakarta Timur,“ tutur Ari.

Sementara itu, Chief Partnership Officer (CPO) Baitul Wakaf Tian Gusti menyampaikan rasa terima kasih atas amanah yang dititipkan kepada Baitul Wakaf. Melalui sambutan singkatnya, Tian bercerita tentang kisah sahabat Usman bin Affan yang ribuan tahun lalu berwakaf kini manfaat dari wakaf tersebut masih bisa dirasakan oleh umat sampai sekarang.

”Semoga sinergitas yang terjalin ini senantiasa diberikan kemudahan dan dana yang akan dikelola melalui instrumen wakaf ini hasil masnfaatnya bisa dirasakan untuk masyarakat RW 007 dan lebih lagi untuk seluruh warga Kecamatan Ciracas,” ucapnya

Dalam kegiatan penyerahan simbolisasi donasi wakaf juga dilakukan kegiatan lain seperti buka puasa bersama, santunan anak yatim, dongeng islami, tausyiah dan doa bersama.*/

Kebahagiaan Ramadan 312 Mualaf Baduy Terima Paket dari BMH

0

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Di Desa Cibungur, Kecamatan Leuwi Damar, Banten, 312 mualaf Baduy menerima paket Ramadan dari BMH. Mata mereka berbinar, senyum merekah, saat bantuan diserahkan dengan penuh kehangatan.

“Ini wujud kepedulian umat,” ujar Dhiyauddin, Koordinator Program BMH.

“Mualaf adalah saudara kita yang juga berhak menerima zakat,” imbuhnya.

Teh Wati, salah satu penerima manfaat, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya.

“Terima kasih atas bantuannya, ini sangat berarti bagi kami,” katanya lirih.

Teh Nini pun menimpali, “Alhamdulillah, semoga Allah membalas kebaikan para donatur.”

Sementara itu, anak-anak mualaf terlihat ceria bermain bersama tim BMH. Mereka tertawa gembira saat diajak naik mobil dobel cabin andalan BMH, kendaraan yang selalu setia melintasi jalan berlubang dan berlumpur demi membawa kebahagiaan bagi masyarakat pedalaman.

Di balik setiap bingkisan, ada harapan baru. Ada senyuman yang lahir dari ketulusan berbagi. Semoga kebahagiaan ini terus tumbuh, menguatkan iman dan kehidupan mualaf Baduy.*/Herim

Membangun Akhlak Qur’ani, Dakwah Bil-hal sebagai Cahaya Perubahan

0

AKHLAK secara etimologi berasal dari kata bahasa Arab, yaitu al-khuluq, dengan bentuk jamak al-akhlaq, yang berarti budi pekerti, perangai, kebiasaan, tingkah laku, atau perbuatan baik yang terpuji maupun yang tercela.

Secara terminologi, akhlak adalah tingkah laku seseorang yang melekat pada jiwa dan melahirkan perbuatan. Dalam konteks sosiologis di Indonesia, akhlak dimaknai sebagai perangai dan tingkah laku yang terpuji.

Menurut Ibnu Maskawaih, seorang cendekiawan Muslim yang fokus pada filsafat akhlak (lahir di Iran pada tahun 330 H/932 M), dalam bukunya Tahdzibul Akhlaq wa Tathirul A’raq, akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pertimbangan terlebih dahulu.

Imam Al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai sifat yang tertanam dalam jiwa yang memunculkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan pikiran sebelumnya. Sementara itu, Imam Al-Qurtubi menyatakan bahwa akhlak adalah sifat-sifat seseorang yang memungkinkannya berhubungan dengan orang lain.

Karena akhlak merupakan keadaan yang melekat pada jiwa, suatu perbuatan baru disebut akhlak jika memenuhi dua syarat: dilakukan secara berulang-ulang dan muncul dengan mudah tanpa dipikirkan terlebih dahulu sehingga benar-benar menjadi kebiasaan.

Dengan demikian, berakhlak Qur’ani dapat dimaknai sebagai perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dan muncul dengan mudah tanpa dipikirkan terlebih dahulu, sehingga menjadi kebiasaan yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.

Hakikat akhlak Qur’ani atau Islamiyah adalah keyakinan terhadap kebenaran wahyu Allah, menjauhi larangan-Nya, dan menjalankan perintah-Nya sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an dan hadis. Ajaran akhlak Qur’ani mencakup semua dimensi kehidupan manusia, berlandaskan asas kebaikan dan jauh dari keburukan.

Kedudukan Akhlak dalam Islam

Kedudukan akhlak dalam Islam sangat tinggi. Ketika Nabi Muhammad SAW ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau bersabda:

تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ
“Bertaqwa kepada Allah dan berakhlak dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad, Bukhari)

Rasulullah SAW juga menegaskan:

إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling mulia akhlaknya.” (HR. Bukhari: 6035, Muslim: 2321, Ahmad: 6505)

Dalam hadis lain, beliau bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi: 1162)

Contoh Akhlak yang Disyariatkan dalam Islam

Berikut adalah beberapa akhlak yang disyariatkan dalam Islam, sebagaimana dinukil dari kitab Pelajaran-Pelajaran Penting untuk Segenap Umat karya Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah, yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Abdurrazaq bin Abdil Muhsin, dosen Pascasarjana Islamic University of Madinah:

Jujur

Jujur adalah salah satu akhlak paling agung dalam Islam. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian bersama dengan orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah [9]: 119)

Rasulullah SAW bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ، وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ، حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا
“Hendaklah kalian selalu jujur, karena kejujuran menghantarkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan mengantarkan kepada surga. Seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur hingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur.” (HR. Bukhari)

Kejujuran tertinggi adalah kejujuran kepada Allah SWT. Allah berfirman:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ
“Di antara orang-orang beriman ada orang-orang yang jujur melaksanakan apa yang mereka janjikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Ahzab [33]: 23)

Nabi SAW juga bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ
“Tidaklah seorang menyaksikan bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah dengan jujur dari hatinya, kecuali Allah mengharamkan atasnya neraka.” (HR. Bukhari)

Jujur berarti kesesuaian antara ucapan dan isi hati. Jika berbeda, itu adalah kemunafikan. Nabi SAW bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda-tanda kemunafikan ada tiga: jika ia berbicara ia berdusta, jika ia berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari, Muslim)

Amanah

Amanah memiliki kedudukan sangat tinggi dalam Islam. Allah SWT berfirman:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab [33]: 72)

Allah juga berfirman:

لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab [33]: 73)

Amanah mencakup seluruh perkara agama, termasuk menjaga hak-hak hamba Allah, menepati janji, serta menjaga panca indra, harta, dan anak. Allah berfirman:

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua akan ditanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ ۝ وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa harta dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal [8]: 27-28)

Menjaga Kesucian

Menjaga kesucian berarti meninggalkan yang haram dan menjaga diri dari dosa serta maksiat. Allah berfirman:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
“Hendaklah menjaga diri orang-orang yang belum mampu untuk menikah sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia kepadanya.” (QS. An-Nur [24]: 33)

Rasulullah SAW bersabda:

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ
“Barang siapa yang menjaga kesuciannya, maka Allah akan mensucikannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Malu

Malu adalah akhlak yang agung dan mulia. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya di antara perkataan nubuwwah yang didapatkan oleh manusia adalah: Jika engkau tidak malu, maka kerjakan apa saja yang engkau inginkan.” (HR. Bukhari)

Malu yang tertinggi adalah malu kepada Allah SWT. Nabi SAW bersabda:

وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَتَحْفَظَ الْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَتَتَذَكَّرَ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا
“Sungguhnya malu yang benar kepada Allah adalah engkau menjaga kepala dan apa yang ada dalam isi kepala tersebut, menjaga perut dan apa yang ada dalam isi perut tersebut, mengingat kematian, dan barang siapa yang mengharapkan akhirat, ia meninggalkan perhiasan dunia.” (HR. Ahmad, Tirmidzi)

Berani

Berani dalam konteks yang benar adalah kemuliaan. Nabi SAW bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Bukan orang kuat itu yang kuat dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hubungan dengan Dakwah Bil-hal

Dakwah bil-hal atau dakwah bil-qudwah adalah dakwah praktis dengan menampilkan akhlak karimah, sebagaimana dijelaskan oleh Anwar Masy’ari dalam bukunya Butir-Butir Problematika Dakwah Islamiyah.

Buya Hamka juga menyebutkan bahwa akhlak adalah alat dakwah, yaitu budi pekerti luhur yang dapat dilihat orang, bukan sekadar ucapan manis atau tulisan memikat (Prinsip dan Kebijakan Dakwah Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1981).

Fahmi Zubir Zakaria, Imam Masjid IMAAM Centre di Maryland, dalam wawancara di Suara Hidayatullah Edisi II/XXXVI Ramadhan 1446/Maret 2025, menyatakan bahwa dakwah dilakukan dengan mencerminkan akhlak yang baik.

Ia mencontohkan, muslimah yang berhijab menjadi sorotan di mana pun mereka berada. Dengan sikap ramah, senyum, membantu orang tua, dan peka terhadap kebersihan, mereka membalikkan stigma negatif tentang Islam.

Ia juga menceritakan kisah seorang Muslim yang tidak marah meski parkiran rumahnya dipenuhi mobil tetangga, bahkan menyapa dan memberi makanan, hingga akhirnya tetangga tersebut malu dan memindahkan mobilnya sendiri.

Akhlak Qur’ani seperti ramah, senyum, membantu, dan sabar memiliki efek dahsyat dalam mengubah pandangan non-Muslim terhadap Islam. Perilaku ini harus lahir dari motivasi ilahi, seperti “anta maqsudi wa ridhoka mathlubi” atau “innasholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil ‘alamin,” bukan untuk imbalan duniawi.

Transformasi Akhlak

Transformator akhlak Qur’ani adalah orang tua di rumah, masyarakat di lingkungan, serta guru atau dosen di sekolah, madrasah, atau kampus.

Guru sebagai agen perubahan harus menjadi teladan. Santri tidak akan menjadi tokoh perubahan jika para pendidiknya tidak konsisten, seperti absen salat berjamaah, tidak mengaji dengan baik, atau tidak menjalankan wirid.

Pembangunan akhlak Qur’ani memerlukan penegakan aturan dan sanksi yang tidak bertentangan dengan nilai akhlak itu sendiri.

Dalam peringatan Nuzulul Qur’an ini, penulis mendukung kebijakan manajemen untuk menerapkan sanksi tegas bagi masyarakat Kampus Ummul Qura (KU) Hidayatullah yang abai terhadap pembangunan akhlak Qur’ani.

Bagi guru, kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial harus terlaksana dengan baik. Untuk meningkatkan kompetensi ini, diperlukan in-house training dengan narasumber yang terlibat dalam kebijakan pendidikan nasional dan aktif melakukan riset pendidikan.

Dengan demikian, akhlak Qur’ani tidak hanya berupa hafalan Al-Qur’an, tetapi juga pemahaman hingga menjadi pemicu lahirnya manusia pencipta. Ini akan menjadi brand image Hidayatullah Depok yang menonjol, dengan kampus asri, penguasaan keilmuan yang baik, dan akhlak Qur’ani yang alami, sehingga menarik lebih banyak orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sana.

Penutup

Semoga momentum Nuzulul Qur’an ini menjadi deklarasi perubahan nyata. Penulis menutup dengan pesan hikmah: “Kalau ada jarum yang patah, jangan simpan di laci. Kalau ada kata yang salah, sudilah tuan dan puan memaafkan beta.” Memaafkan adalah wujud akhlak Qur’ani, sekaligus tanda tercapainya tujuan materi ini. Selamat menunaikan ibadah puasa.

*) Nursyamsa Hadis, penulis Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat DPP Hidayatullah, naskah ini merupakan makalah penulis saat menjadi narasumber dalam acara Silaturrahim Keluarga Besar Hidayatullah Depok & Talkshow Nuzulul Qur’an di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Depok, 18 Ramadhan 1446/18 Maret 2025

[KHUTBAH JUM’AT] Menjemput Lailatul Qadr pada 10 Terakhir Ramadhan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, atas iradat-Nya kita masih dipertemukan kembali Ramadhan hari ini, bulan mulia pernuh berkah.

Shalawat dan salam kepada baginda Rasulullah SAW, utusan Allah Ta’ala yang membawa cahaya dan kebenaran Islam, membawa manusia dari alam kegelapan menuju peradaban Islam yang agung.

Kita berdo’a di bulan Rajab dan bulan Sya’ban untuk bisa bertemu bulan ini. Kita menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Mengapa? Karena Ramadhan adalah bulan berkah, bulan ziyadatun khair, bertambahnya kebaikan yang tidak bisa dicapai dibulan-bulan lainnya.

Kita juga bergembira karena Allah SWT menjanjikan ampunan atas segala khilaf dan dosa, dan puncaknya, Allah Ta’ala menjanjikan predikat muttaqin bagi yang benar puasanya.

Tidak terasa kita telah menjalani dua pertiga Ramadhan. Semoga kita tetap semangat dan bersabar menjalankan ibadah puasa, tetap istiqamah membaca al Qur’an, tetap antusias mendatangi masjid-masjid untuk shalat tarawih.

Alhamdulillah, nilai-nilai yang kita raih selama Ramadhan ini, in syaa Allah telah membawa batin kita dalam suasana tenang dan bahagia, dan itu pertanda hawa nafsu kita sudah mulai terkendali.

Imam Abu Hamid al-Ghazali pernah mengatakan dalam kitab Ihyâ’ ‘Ûlûmiddîn:

السَّعَادَةُ كُلُّهَا فِي أَنْ يَمْلِكَ الرَّجُلُ نَفْسَهُ وَالشَّــقَــاوَةُ فِي أَنْ تَمْـلِـكَـــهُ نَفْـسُــــهُ

“Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu menguasai nafsunya. Kesengsaraan adalah saat seseorang dikuasai nafsunya.”

Demikianlah esensi dan ekspresi hati manusia. Ketika nafsu mampu dikendalikan, maka dari sana akan tersingkap fitrah yang suci, dan mulai dari situlah iman tumbuh dan menggerakkan diri ke jalan yang benar.

Manusia yang sebelumnya suka berdusta, menipu, berbuat buruk, akan berubah menjadi orang yang jujur, suka membantu dan mengekspresikan kebaikan kebaikan. Inilah yang disebut hati tenang, hidup dengan akhlak yang baik.

Jama’ah Jum’at yang Berbahagia,

Selanjutnya, pada 10 terkahir Ramadhan ini, Allah Ta’ala menjanjikan hadiah istimewa, yang hanya terjadi 1 kali dalam setahun, yaitu malam lailatul qadr.

Orang-orang yang sedang berpuasa menanti momen tersebut untuk mendapatkan pahala yang nilainya lebih 1000 tahun. Allah Ta’ala berfirman:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ(1) وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ (3) تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ (4) سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ࣖ (5)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada lailatul qadr. Tahukah kamu apakah lailatul qadr itu? Lailatul qadr lebih baik daripada 1000 bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.”

Berkaitan dengan ini, Imam Malik dalam al-Muwattha meriwayatkan satu hadits,

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ أُرِيَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ أَوْ مَا شَاءَ اللهُ مِنْ ذَلِكَ فَكَأَنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ أَنْ لَا يَبْلُغُوْا مِنَ الْعَمَلِ مِثْلَ الَّذِيْ بَلَغَ غَيْرُهُمْ فَيْ طُوْلِ الْعُمْرِ، فَأَعْطَاهُ اللهُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ خَيْرًا مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Sesungguhnya Rasulullah diperlihatkan umur-umur manusia sebelumnya (yang relatif panjang) sesuai dengan kehendak Allah, sampai (akhirnya) usia-usia umatnya semakin pendek (sehingga) mereka tidak bisa beramal lebih lama sebagaimana umat-umat sebelum mereka karena panjangnya usia mereka, maka Allah memberikan Rasulullah Lailatul Qadr yang lebih baik dari seribu bulan“. (Imam Malik, al-Muwattha: juz I, h. 321)

Datangnya lailatul qadr tidak dapat ditentukan secara pasti waktunya oleh manusia, kepastian itu di sisi Allah Ta’ala. Malam tersebut dapat dicari di akhir Ramadan, terutama pada malam tanggal ganjil dalam kalender qamariah.

Rasulullah hanya memberikan isyarat mengenai datangnya malam penuh kemuliaan itu di malam ganjil 10 hari terakhir Ramadhan. Peluang hadirnya lailatul qadr ada di malam 21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan.

Untuk menjemput malam yang mulia itu, maka Rasulullah SAW di 10 hari terakhir Ramadhan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya.

Beliau tak hanya menjalani sendiri, tapi juga mengajak keluarganya untuk turut merasakan kekhusyukan dan keberkahan waktu mulia ini. Dalam hadits riwayat Al-Bukhari disebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Dari Aisyah ra, ia berkata: “Ketika Nabi saw memasuki 10 hari terakhir (Ramadhan), beliau mengencangkan ikat pinggangnya (untuk lebih giat beribadah), menghidupkan malamnya (dengan ibadah), dan membangunkan keluarganya (untuk beribadah).” (HR Al-Bukhari).

Jama’ah Jum’at yang Berbahagia

Intensitas ibadah yang dilakukan Rasulullah SAW dan diikuti sahabat-sahabat beliau konsentrasikan dengan berdiam diri atau i’tikaf di masjid. Kegiatan i’tikaf merupakan salah satu bentuk ibadah yang memberikan kesempatan yang cukup untuk berkomunikasi lebih intens dengan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Jika selama ini kita kurang khusyu’ ketika shalat, jika kita sering merasa lalai dari mengingat Allah, lisan kita kering dari dzikir dan sedikit sekali beristighfar, atau jika selama ini kita jarang mengadukan keluh kesah dan masalah kita kepada Allah, maka di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini adalah kesempatan emas untuk memperbaiki semua hal tersebut.

I’tikaf adalah waktu yang tepat untuk kita menebus kelalaian kita selama setahun yang lalu karena disibukkan dengan urusan dunia dan segala problematika yang menyertainya.

Sungguh akan terasa nikmat apabila kita dapat khusyu’ bermunajat kepada Allah, sejenak meninggalkan urusan dunia dan fokus untuk Allah , bermesraan dengan Allah, Zat Yang Maha Pemilik dan Menguasai segala urusan.

Semua bentuk ibadah di 10 akhir Ramadhan diharapkan dapat lebih mensucikan hati, merasakan lezatnya iman, dan hadirnya kekuatan ruhiyah dalam menghadapi berbagai persoalan.

Karena itulah, selain dzikir, istigfar, dan do’a-do’a musjabat, juga sangat ditekankan untuk memperbanyak tilawah dan tadabbur al Qur’an.

Memperbanyak tilawah dan tadabbur al Qur’an akan mendapatkan kekuatan khusus dari Allah Ta’ala, sebagaimana dalam al Qur’an Surah As Syura: 52:

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَاۗ مَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِيْمَانُ وَلٰكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَاۗ وَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۙ

“Demikianlah Kami mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) rūh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya (Al-Qur’an) cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Sesungguhnya engkau benar-benar membimbing (manusia) ke jalan yang lurus.”

Ketika menafsirkan ayat ini, Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Ini adalah (fungsi) al-Qur-an yang mulia, Allah menyebutnya sebagai ruh karena ruh yang menjadikan tubuh manusia hidup. (Demikian) pula al-Qur-an yang menjadikan hati dan jiwa manusia hidup, sehingga hiduplah (terwujudlah) dengan al-Qur-an semua kebaikan (dalam urusan) dunia dan agama, karena di dalamnya banyak kebaikan dan ilmu yang luas”. (Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan”/hal. 762).

Pencerahan nilai-nilai al Qur’an bisa dilakukan kapan saja yang memungkinkan, namun secara khusus akan lebih kuat saat membacanya di malam hari.

Ketika Allah Ta’ala memerintahkan secara khusus membaca al Qur’an di malam hari, karena bacaan al Qur’an saat malam hari akan menukik ke petala jiwa yang paling dalam, sebagaimana dalam ayat:

اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـًٔا وَّاَقْوَمُ قِيْلًاۗ

“Sesungguhnya bangun malam itu (baca al Qur’an) lebih kuat (pengaruhnya terhadap jiwa) dan lebih mantap ucapannya”. (Q.S. Al Muzammil : 6)

Allah Ta’ala memberi pilihan-pilihan untuk bisa lebih dekat kepada-Nya. Di antara kita tentu ada yang tidak bisa i’tikaf seperti Rasulullah, karena kesibukan.

Namun, tetap harus berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan ibadah, seperti memperbanyak istigfar, munajat dan tilawah al Qur’an dan qiyamu Ramadhan melebihi hari-hari sebelumnya.

Seperti pada hadits yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa Rasulullah SAW membangunkan keluarganya pada 10 akhir Ramadhan, demikian juga sahabat-sahabat beliau.

Tujuannya adalah untuk menghidupkan malam-malam mereka dengan taqarrub kepada Allah Ta’ala. Kekhususan diisi dengan dzikir, istigfar, tilawah dan do’a yang khusyu.

Dan secara khusus, terdapat satu ibadah yang di dalamnya ada dzikir, istigfar, dan tilawah al Qur’an, yaitu shalat tahajjud, yang di bulan ini disebut qiyamu Ramadhan.

Ketika kita bisa bangun tahajjud berjama’ah 1 juz 1 malam bersama imam yang tartil bacaan qur’annya, in syaa Allah peluang mendapatkan lailatul qadr akan lebih terbuka.

Saat seseorang mendapati lailatul qadr, maka orang itu berada di malam ampunan, malam penganugerahan derajat kemuliaan, dan berada dalam kebaikan untuk tahun yang akan dijalaninya.

Untuk itu, mari kita kembali mengingat do’a yang diucapkan Rasulullah SAW saat berjumpa dengan malam mulia tersebut, sebagaimana hadits dari yang diriwatkan Aisyah radiallahu ‘anha berikut:

وَعَنْ عائشة رضي الله عنها: قالت: «قلت: يا رسولَ الله إِنْ وَافَقْتُ ليلةَ القَدْرِ ، ما أَدْعُو به؟ قال: قُولي: اللهم إنك عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُ الْعَفْوَ فاعْفُ عَنِّي» أخرجه الترمذي

“Dari sayyidah Aisyah (radiallahu ‘anha), ia bercerita, ia pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, jika aku kedapatan menjumpai lailatul qadr, bagaimana doa yang harus kubaca?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Bacalah, ‘Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī,”” (HR At-Tirmidzi)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Momen Berkah Ramadhan, Hidayatullah Depok Gelar Silaturrahim dan Talkshow Nuzulul Qur’an

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Dalam suasana Ramadhan yang penuh berkah, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok menggelar acara Silaturrahim Keluarga Besar Hidayatullah Depok & Talkshow Nuzulul Qur’an. Acara yang berlangsung pada 18 Ramadhan 1446 H ini menjadi momentum penting dalam mempererat ukhuwah Islamiyah serta memperdalam pemahaman tentang Al-Qur’an.

Hadir sebagai keynote speaker, Ir. K.H. Abu A’la Abdullah, M.H, Ketua Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Depok, yang menekankan pentingnya Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam kehidupan umat Islam.

Talkshow ini juga mengundang pembicara Dr. K.H. Abdul Aziz Kahar Mudzakkar, M.Si (Dewan Pertimbangan Hidayatullah, berhalangan), Dr. K.H. Tasyrif Amin, M.Pd.I (Ketua Dewan Murobbi Pusat Hidayatullah), serta Drs. K.H. Nursyamsa Hadits (Ketua Bidang Dakwah dan Yanmat DPP Hidayatullah). Acara dipandu oleh Ust. Hafid Bahar, M.M, Ketua Departemen Tarbiyah dan Dakwah YPPH Depok.

Pembicara mengajak para hadirin untuk merefleksikan bagaimana Al-Qur’an turun sebagai wahyu yang menjadi pemandu kehidupan. Ditekankan bahwa Nuzulul Qur’an bukan hanya peristiwa historis, tetapi peringatan abadi bahwa Allah telah memberikan petunjuk terbaik bagi manusia.

Narasumber juga menyoroti pentingnya membangun generasi Qur’ani di tengah tantangan zaman modern. Jika umat Islam ingin melihat kebangkitannya maka kembalilah kepada Al-Qur’an dengan memahami, menghafal, dan mengamalkannya. Forum pula menggarisbawahi bahwa ukhuwah Islamiyah yang kuat harus didasarkan pada nilai-nilai Qur’ani.

Acara ini juga disiarkan secara daring melalui berbagai platform media sosial Hidayatullah Depok. Saksikan di sini atau klik di sini.

(Laporan naskah dan foto oleh Mercyvano Ihsan, santri kelas IX peserta kelompok Program Lifeskill Jurnalistik Sekolah Integral Hidayatullah Depok)