Beranda blog Halaman 111

Ramadhan Hidayatullah Sebar 1000 Dai Perluas Jangkauan Dakwah Islam

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah melalui Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) dan Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) bersama Laznas BMH gelar Upgrading Nasional Dai dan Penugasan 1000 Dai Ramadhan 1446 jelang memasuki bulan suci Ramadhan, Rabu, 29 Syaban 1446 (26/2/2025).

Acara ini berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan dakwah Islam menjelang bulan suci Ramadhan.

Dengan mengusung pendekatan yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi para dai serta memperkuat peran mereka dalam membimbing umat menuju kehidupan yang lebih bermakna sesuai ajaran Islam.

Pelaksanaan upgrading ini dilakukan secara hybrid, memadukan kehadiran fisik dan partisipasi virtual untuk menjangkau lebih banyak dai dari berbagai wilayah di Indonesia.

Sebanyak 50 peserta hadir secara langsung di Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, sementara 950 lainnya bergabung secara daring dari berbagai penjuru Nusantara, termasuk Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Papua, Maluku, NTT, dan NTB.

Direktur KMH Pusat, Ust. Iwan Abdullah, M.Si., menyampaikan acara yang digelar secara hibrida ini tidak hanya mencerminkan efisiensi dalam pelaksanaan, tetapi juga menunjukkan komitmen untuk membiasakan para dai dengan teknologi sebagai alat dakwah modern.

“Kami gelar secara hybrid agar kedekatan dengan teknologi juga menjadi habit para dai. Sehingga lebih efisien dalam upgrading dan semangat dakwah berbasis ilmu,” kata Iwan.

Iwan menekankan pentingnya adaptasi teknologi dalam dunia dakwah sebagai sebuah langkah strategis untuk memastikan bahwa pesan Islam dapat disampaikan secara lebih luas dan relevan dengan dinamika zaman. Dengan jaringan yang begitu luas, Iwan menegaskan bahwa dakwah Islam diharapkan dapat semakin merata dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat, terutama pada momentum Ramadhan 1446 H tahun ini.

Upgrading Nasional dan Penugasan 1000 Dai Ramadhan ini dirancang dengan agenda yang komprehensif dan bermakna, bertujuan untuk meningkatkan kapasitas serta profesionalisme para dai.

Acara ini diawali dengan simbolisasi penugasan Dai Tangguh Ramadhan oleh Direktur BMH Pusat, sebuah langkah yang menjadi pengukuhan atas peran strategis para dai dalam menyampaikan risalah Islam.

Direktur Utama BMH, Supendi, menyampaikan apresiasi mendalam kepada para dai yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menjalankan tugas mulia tersebut.

“Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan bahwa para dai memiliki kapasitas. Juga profesionalisme yang mumpuni sehingga dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat selama bulan Ramadhan,” kata Supendi.

Dia juga menambahkan bahwa keberadaan dai tangguh sangat penting dalam membimbing umat agar semakin dekat kepada Allah SWT di bulan penuh berkah ini.

Pihaknya pun berkomitmen untuk terus meneguhkan peran para dai sebagai garda terdepan dalam membangun kesadaran spiritual masyarakat, khususnya di tengah tantangan modernitas yang kian kompleks.*/Fuad Azzam

Panen Perdana Kebun Pisang Cavendish, Wakaf Produktif Kolaborasi Baitul Wakaf

KLATEN (Hidayatullah.or.id) – Program Kebun Wakaf Produktif Pisang Cavendish telah mencapai tonggak penting dengan panen perdana pada akhir Februari 2025 lalu. Terletak di Dusun Satu, Jetis, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, kebun ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Baitul Wakaf, Yayasan Badan Wakaf Indonesia (BWI), Wakaf MES, dan Lembaga Kenazhiran (LK) BWI.

Program ini juga difasilitasi oleh Satu Wakaf Market Place, yang berperan dalam menghubungkan sumber daya untuk mendukung pertumbuhan sektor wakaf produktif.

Panen perdana ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, diantaranya Julyriadin selaku Chief Officer Program Baitul Wakaf, Arief Rohman sebagai Komisioner BWI, serta perwakilan dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Trensains dan Tebar Salam Farm selaku pengelola.

Keberhasilan ini merupakan hasil dari proses pembibitan dan penanaman yang dimulai sejak akhir Februari 2024, diikuti dengan perawatan intensif hingga akhirnya dapat menghasilkan panen pada akhir Februari 2025.

Menurut Arief Rohman dari Badan Wakaf Indonesia, program ini membuktikan bahwa wakaf produktif dapat memainkan peran strategis dalam memajukan sektor pertanian Indonesia.

“Sebuah kesyukuran bagi kita insan dan penggerak wakaf produktif, program kebun produktif ini sudah bisa panen, tentunya setelah melalui proses penanaman, perawatan, pemupukan, hingga bisa berbuah dan panen,” ujarnya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Senin, 3 Ramadhan 1446 (3/3/2025).

Dia menekankan bahwa pengelolaan yang baik dan profesional, dikombinasikan dengan kemampuan mendatangkan investor dan pengembangan aset wakaf, merupakan kunci keberhasilan program ini.

Julyriadin juga menambahkan bahwa wakaf ketahanan pangan adalah program unggulan Baitul Wakaf yang bertujuan untuk memastikan aset wakaf dapat memberikan manfaat berkelanjutan.

“Kolaborasi ini adalah wujud nyata bagaimana upaya memproduktifkan aset wakaf dilakukan. Kita mulai dari 1 hektare dengan 2.000 pohon pisang yang dirawat dengan baik, Insya Allah hasilnya akan baik dan yang terpenting, imbal hasil yang diperoleh akan disalurkan kepada mauquf alaih, dalam hal ini santri penghafal Al-Qur’an di Solo dan sekitarnya,” jelasnya.

Panen perdana ini bukanlah puncak dari program, melainkan awal dari perencanaan yang lebih besar. Panen raya selanjutnya telah dijadwalkan pada 15 Ramadhan, bertepatan dengan meningkatnya permintaan pasar terhadap pisang Cavendish.

Arief menyebutkan bahwa hasil panen akan langsung diserap oleh Trensains Muhammadiyah untuk memenuhi pasokan rumah sakit. Saat ini, kebutuhan pisang Cavendish per pekan mencapai 10 hingga 30 ton, namun suplai masih terbatas.

“Semoga pengembangan aset wakaf produktif untuk pertanian ini menginspirasi dan bisa direplikasi di berbagai daerah lainnya,” ujarnya.

Program ini juga menguatkan sinergi antara wakaf dan ketahanan pangan sebagai solusi dalam mengatasi tantangan sosial-ekonomi, terutama bagi petani dan kelompok penerima manfaat.

Dengan mengoptimalkan lahan wakaf, sektor pertanian dapat berkembang secara berkelanjutan, tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga dalam pengentasan kemiskinan berbasis wakaf produktif.

Model pertanian berbasis wakaf ini dinilai dapat menjadi solusi inovatif dalam mengembangkan sektor pertanian yang inklusif, berkelanjutan, serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi lebih banyak pihak untuk mengadopsi pendekatan serupa guna memperkuat ketahanan pangan nasional.

Selain sektor perkebunan, Baitul Wakaf juga mengembangkan wakaf produktif di sektor peternakan, perikanan, dan sawah produktif. Julyriadin menegaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum terbaik untuk meningkatkan amal yang memberikan manfaat berkelanjutan.

“Wakaf ketahanan pangan menjadi amalan terbaik, mulai tanam di bulan Ramadhan karena manfaatnya bisa dipanen secara berkelanjutan. Kuatkan Ramadhan dengan wakaf ketahanan pangan untuk manfaat yang berkelanjutan,” pungkasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Menyatukan Akal dan Hati dalam Penyampaian Pesan Dakwah Islamiyah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dakwah menuntut kreativitas dalam berpikir agar pesan yang disampaikan tetap relevan dengan perkembangan zaman. Demikian ditegaskan Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah KH. Drs. Ahmad Yani, yang menegaskan pentingnya berpikir kreatif dalam dakwah.

“Dai bukan hanya mau berpikir tapi ada kreativitas berpikir. Dengan berpikir kreatif, materi dakwah selalu terasa baru walaupun bukan sesuatu yang baru,” kata Ahmad Yani saat mengisi acara Upgrading Nasional dan Penugasan 1000 Dai Ramadhan 1446 Hijriyah yang digelar secara hybrid dari Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, beberapa waktu lalu ditulis Senin, 3 Ramadhan 1446 (3/3/2025).

Ahmad Yani menegaskan, berfikir kreatif menunjukkan bahwa esensi dakwah tidak berubah, tetapi pendekatan dan penyampaiannya harus mampu menyesuaikan diri dengan dinamika masyarakat.

Dalam kerangka ini, Ahmad menjelaskan, kreativitas berpikir berarti menemukan cara-cara inovatif untuk menyampaikan pesan dakwah sehingga tetap menarik dan menyentuh audiens.

Misalnya, lanjutnua, penggunaan media sosial, pendekatan storytelling, serta pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi sarana efektif dalam menjangkau masyarakat luas.

“Dengan kreativitas, dakwah dapat menjadi lebih inspiratif dan membangun kedekatan emosional dengan pendengar,” katanya.

Selain kreativitas, perumusan materi dakwah juga membutuhkan ketajaman dalam memahami dan mendalami isi Al-Qur’an. Anggota Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini memberikan kiat yang sederhana tetapi mendalam dalam merumuskan materi dakwah.

“Merumuskan materi dakwah, kiatnya yang mudah, salah satunya bahas saja satu ayat. Tapi dalami dulu setiap ayat tersebut,” katanya.

Dia mengimbuhkan, keberhasilan dakwah tidak ditentukan oleh banyaknya ayat yang dikutip, melainkan oleh sejauh mana seorang dai mampu menghayati dan menjelaskan satu ayat dengan mendalam.

Dalam era di mana informasi begitu mudah diakses, menurut Ahmad pendalaman terhadap ayat menjadi semakin penting agar tidak terjadi pemahaman yang dangkal dan terfragmentasi.

Pendekatan dakwah semacam ini juga mengajarkan bahwa seorang dai harus mengutamakan kualitas dalam penyampaian pesan keagamaan.

Dengan memahami satu ayat secara mendalam, seorang dai dapat menghubungkannya dengan realitas sosial dan kehidupan sehari-hari umat. Ini akan menjadikan dakwah lebih kontekstual dan mampu memberikan solusi nyata bagi tantangan yang dihadapi oleh masyarakat.

Lebih lanjut, dakwah yang efektif harus mampu menyentuh baik akal maupun hati audiens. Ahmad menyoroti keseimbangan antara rasionalitas dan emosionalitas dalam dakwah.

Menurutnya, dakwah yang hanya berorientasi pada akal cenderung bersifat intelektual tetapi kurang menyentuh aspek spiritual, sementara dakwah yang hanya berorientasi pada emosi dapat kehilangan kedalaman rasionalitasnya.

“Dakwah harus menyentuh akal dan hati,” tegasnya, seraya menjelaskan menyentuh akal berarti menyajikan argumentasi yang logis dan berbasis pada dalil yang kuat, sehingga audiens dapat memahami pesan dakwah dengan nalar yang jernih.

Di sisi lain, menyentuh hati berarti menghadirkan dakwah yang menggugah perasaan, memberikan inspirasi, serta mengajak kepada perubahan yang lebih baik.

Oleh karena itu, lanjut Ahmad, seorang dai harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik, empati terhadap audiens, serta kepekaan dalam memahami kebutuhan spiritual masyarakat.

Dalam era digital seperti sekarang, tantangan dakwah semakin kompleks. Informasi yang beredar di media sosial sering kali bersifat cepat, singkat, dan terkadang dangkal.

Karenannya, Ahmad menambahkan, para dai dituntut untuk tidak hanya memahami ilmu agama dengan baik, tetapi juga menguasai strategi komunikasi yang efektif agar dakwah mereka dapat diterima dengan baik oleh masyarakat luas. (ybh/hidayatullah.or.id)

Menjadi Umat Terbaik dengan Mengajak Kebaikan dan Cegah Kemungkaran

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat (Dakwah Yanmat) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Nursyamsa Hadis, mengatakan dalam perjalanan hidup, ada panggilan suci yang tidak bisa diabaikan, yaitu dakwah.

Sebagai sebuah amanah dari Allah, dakwah merupakan bagian dari keimanan yang melekat dalam jiwa seorang muslim. Dia menegaskan bahwa peran dai merupakan manifestasi dari firman Allah dalam Al-Qur’an, Surah Ali ‘Imran ayat 110.

“Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-naasi ta’murụna bil-ma’ruufi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu’minuuna billaah,” kutipnya, saat mengisi acara Upgrading Nasional dan Penugasan 1000 Dai Ramadhan 1446 Hijriyah yang digelar secara hybrid dari Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, beberapa waktu lalu ditulis Senin, 3 Ramadhan 1446 (3/3/2025).

Ayat ini, jelas dia, menegaskan bahwa umat Islam adalah yang terbaik, dengan syarat mereka menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Namun, lanjutnya, keutamaan ini bukanlah hak yang diberikan tanpa usaha, melainkan harus diwujudkan melalui dakwah yang konsisten dan penuh determinasi.

Dakwah Manifestasi Keimanan

Lebih jauh Nursyamsa memaparkan, seorang dai tidak hanya membutuhkan kecerdasan atau kefasihan berbicara, tetapi yang lebih utama adalah memiliki keimanan yang kuat.

Keimanan ini menjadi pondasi yang memastikan dakwah dilakukan bukan karena kepentingan duniawi, melainkan sebagai wujud kecintaan kepada Allah dan tanggung jawab sebagai seorang muslim.

“Seorang dai harus punya determinasi, di antara kriteria terpenting dai adalah harus punya keimanan. Artinya, dia menjalani dakwah karena iman yang hadir secara jiwa,” katanya.

Nursyamsa menjelaskan, keimanan yang kokoh menjadi sumber daya utama bagi seorang dai dalam menghadapi berbagai tantangan. Hal ini sejalan dengan mahfuzhat Ibn Qayyim al-Jauziyah yang menekankan bahwa keimanan harus tercermin dalam amal perbuatan.

“Dakwah yang dilakukan dengan ketulusan dan keyakinan akan lebih menyentuh hati dan memberikan dampak yang lebih besar bagi masyarakat,” imbuhnya.

Dia menekankan bahwa dakwah bukanlah jalan yang selalu mudah. Tantangan dan ujian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan seorang dai.

Menurut Nursyamsa, ujian dalam berdakwah bisa datang dalam berbagai bentuk, baik dalam bentuk penolakan, tekanan sosial, maupun hambatan lainnya. Namun, seorang dai sejati tidak boleh surut karena rintangan tersebut.

“Tidak mungkin ada dakwah yang tidak ada tantangannya. Maka, jangan pernah menolak untuk memenuhi panggilan dakwah,” katanya.

Lebih jauh lagi, ia menegaskan bahwa dakwah seharusnya tidak didorong oleh kepentingan materi. Ia mengingatkan bahwa ilmu dan dakwah harus dilakukan dengan penuh keikhlasan.

“Jangan termotivasi dengan amplop. Dakwah hanya menuntut kita untuk berusaha dan bergerak sesuai dengan kapasitas kita masing-masing,” katanya.

Sukses dalam hidup seringkali diukur dengan pencapaian materi dan status sosial. Namun, tegas Nursyamsa, bagi seorang dai, keberhasilan bukanlah sekadar pengakuan atau penghargaan duniawi, melainkan kebahagiaan dalam menjalankan tugas yang diamanahkan Allah.

“Sukses itu adalah ketika berbahagia menjalani peran-peran kita dalam kehidupan, termasuk melakoni tugas sebagai dai di jalan Allah, daiyan ilallah,” katanya mengingatkan.

Kebahagiaan sejati dalam hidup, menurut Nursyamsa Hadis, terletak pada ketenangan hati dalam menjalankan peran yang diberikan oleh Allah.

Dalam pada itu, seorang dai tidak boleh terbebani oleh hasil dakwahnya, karena hidayah adalah hak prerogatif Allah. Seorang dai hanya berkewajiban untuk menyampaikan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.

“Hidup ini indah, indah bagi orang-orang beriman, karena kita tinggal menjalani, hasilnya kita serahkan kepada Allah Ta’ala,” tandasnya seraya membuka acara hibrida yang diikuti peserta dari berbagai titik di Indonesia itu. (ybh/hidayatullah.or.id)

Tebar Berkah Ramadhan, Berbuka Puasa Bersama 450 Santri Tahfidz

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga momentum untuk meneguhkan kembali nilai-nilai sosial yang menjadi inti dari kehidupan bermasyarakat. Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kalimantan Timur memahami hal ini dengan baik. Sejak hari pertama puasa, Sabtu, 1 Ramadhan 1446 H, BMH telah bergerak cepat menyalurkan kebaikan dan mengoptimalkan setiap kesempatan yang ada.

Dengan semangat yang membara, BMH menggelar acara Buka Puasa Bersama yang dihadiri oleh 450 santri penghafal Al-Qur’an dari berbagai daerah di Kalimantan Timur.

Bukan sekadar berbagi makanan, acara ini menjadi wujud nyata syiar Islam serta bentuk apresiasi terhadap para santri yang tengah berjuang menghafal kitab suci.

Dalam konteks yang lebih luas, para santri bukan sekadar individu yang menekuni hafalan ayat-ayat suci, tetapi juga bagian dari generasi yang akan membawa peradaban Islam ke masa depan.

Memberikan perhatian kepada mereka berarti berinvestasi pada lahirnya generasi yang memiliki kecerdasan spiritual dan moral. Dengan menyelenggarakan buka puasa bersama, BMH tidak hanya memberikan asupan fisik, tetapi juga meneguhkan semangat kebersamaan dan solidaritas di antara para santri.

Acara yang berlangsung di Pantai Seraya, Balikpapan Selatan, ini juga digelar serentak di berbagai pondok tahfidz binaan BMH di Kalimantan Timur. Kehadiran para santri dalam jumlah besar menambah nuansa khidmat, memperkuat rasa kebersamaan, dan menghadirkan atmosfer Ramadhan yang penuh keberkahan.

Lebih dari Sekadar Makan Bersama

Dalam setiap suapan hidangan berbuka, terselip makna yang lebih dalam. Para santri mendapatkan menu berbuka yang bergizi, terdiri dari makanan utama, takjil, dan minuman sehat.

Lebih dari itu, mereka juga menerima paket khusus dari BMH sebagai bentuk dukungan dalam perjalanan mereka menghafal Al-Qur’an. Ini bukan hanya soal memberi, tetapi juga membangun rasa kepedulian dan tanggung jawab sosial.

Kadiv Prodaya BMH Kaltim, Achmad Rifai, S.Pdi, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya agenda sesaat, tetapi akan berjalan setiap hari sepanjang bulan Ramadhan.

“Alhamdulillah, kita bisa merasakan indahnya berbagi dengan para santri. Terima kasih kepada seluruh donatur dan relawan yang telah mendukung. Mari terus berbagi dan menebar manfaat bersama BMH,” ungkapnya, yang menekankan bahwa program ini tidak hanya membantu meringankan beban para santri, tetapi juga membuka ladang pahala bagi banyak pihak yang terlibat.

Dalam menjalankan amanah donatur, BMH berkomitmen untuk menyalurkan bantuan secara transparan dan tepat sasaran. Kepercayaan publik adalah fondasi utama dalam lembaga filantropi, dan BMH memahami bahwa setiap rupiah yang disumbangkan adalah bentuk kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan dengan baik.*/Herim

Mukena dan Makna Kebaikan Menyapa Ramadhan di Halmahera Timur

0

MABA (Hidayatullah.or.id) — Memasuki bulan suci Ramadhan, atmosfer kepedulian kian terasa. Ramadhan momentum berbagi yang mempererat solidaritas sosial. Di tengah semangat ini, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Maluku Utara, bekerja sama dengan Pondok Pesantren Hidayatullah Maba, melaksanakan sebuah aksi membagikan mukena untuk Muslimah di pedalaman Halmahera Timur.

Namun, kisah ini bukan sekadar tentang distribusi bantuan. Lebih dari itu, ini adalah perjalanan menembus batas geografis dan tantangan alam demi membawa secercah cahaya bagi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dalam banyak kasus, akses menjadi hambatan utama bagi masyarakat pedalaman untuk mendapatkan sarana ibadah yang layak. Dari tanggal 21 hingga 25 Februari 2025, tim BMH Maluku Utara menghadapi medan yang tidak mudah.

Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut membuat sungai meluap, menutup jalur transportasi yang biasa dilalui. Tanpa jembatan yang memadai, satu-satunya cara mencapai desa-desa yang menjadi target distribusi adalah dengan berjalan kaki melewati jalur basah dan licin.

Tantangan ini mengungkap sebuah realitas yang sering kali terlupakan: infrastruktur yang terbatas bukan hanya berdampak pada perekonomian, tetapi juga pada akses spiritual masyarakat.

Di banyak daerah terpencil, beribadah dengan layak masih menjadi kemewahan. Mukena, yang bagi sebagian orang hanya selembar kain untuk salat, bagi mereka adalah simbol perhatian dan dorongan moral untuk terus menghidupkan nilai-nilai keislaman.

Saat mukena diberikan, bukan hanya materi yang berpindah tangan, tetapi juga sebuah pesan kepedulian.

“Kami merasa sangat bahagia bisa berbagi mukena kepada saudari-saudari Muslimah di pedalaman, terutama para mualaf. Ini adalah bentuk kepedulian kami agar mereka semakin semangat dalam menjalankan ibadah,” ungkap Nurhadi, Kepala BMH Maluku Utara.

Mukena yang diterima oleh para Muslimah di pedalaman ini menjadi representasi dari kehangatan sosial dan dukungan moral bagi mereka yang berada di wilayah terisolasi.

Salah satu penerima manfaat, Ma’wa (55), mengungkapkan rasa harunya, “Alhamdulillah, kami sangat senang bisa mendapatkan cipu (mukena) baru untuk Ramadhan kali ini. Semoga berkah untuk semua yang telah membantu.”

Aksi ini bukanlah yang pertama dan tentu bukan yang terakhir. BMH Maluku Utara terus berkomitmen dalam mendukung saudara-saudara Muslim di daerah terpencil, terutama para mualaf, agar semakin mantap dalam keislaman mereka.

Di balik upaya ini, ada sebuah harapan yang lebih besar: semangat berbagi yang tidak hanya berhenti di satu momentum, tetapi menjadi budaya yang terus berlanjut. “Semangat berbagi ini diharapkan membawa keberkahan bagi semua pihak yang terlibat,” tutup Nurhadi.*/Herim

Menyemai Cahaya Islam dan Lima Bekal Dai Profesional

0
Ust Nursyamsa Hadis (Foto: Canva/ hidayatullah.or.id)

DI BAWAH langit yang terus berubah, tanggung jawab berdakwah bagaikan benih yang wajib ditanam oleh setiap muslim. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk menegakkan kebajikan dan menjauhkan manusia dari kemunkaran” (QS. Ali Imran: 110).

Sabda Rasulullah SAW pun menguatkan perintah ini, “Siapa yang melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya; jika tidak mampu, maka (tolaklah) dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).

Namun, di tengah arus globalisasi dan perubahan zaman, jalan dakwah tak pernah sepi dari rintangan. Tantangan itu bahkan kini berlipat ganda: globalisasi, migrasi, revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi, hingga isu kesetaraan gender serta interaksi antar keyakinan.

Bagaimana seorang da’i dapat menjawab tantangan ini dengan bijak dan tetap menjadi pelita bagi umat? Menurut Dr. Hj. Norma Sari, S.H., M.Hum., dalam sebuah kajian bertajuk “Indahnya Cahaya Islam,” dunia dakwah menghadapi kompleksitas yang belum pernah ada sebelumnya.

Beragam tantangan itu mulai dari eksplorasi alam semesta hingga kajian evolusi genetika, semua menuntut pendekatan yang lebih cerdas dan adaptif. Di sinilah peran da’i profesional menjadi sangat krusial.

Dai sejatinya bukan sekadar penyampai pesan, tetapi juga penyelamat jiwa yang membawa pencerahan di tengah kegelapan. Namun, menjadi da’i profesional bukanlah perkara sederhana.

Dr. Juhari Hasan, M.Si., dosen UIN Ar-Raniry, dalam risetnya menguraikan lima indikator kompetensi yang harus dimiliki seorang da’i, yaitu keimanan, keilmuan, akhlak mulia, keterampilan, dan penampilan yang memikat. Berikut kami coba uraikan.

Pertama, seorang da’i harus memiliki keyakinan yang kokoh kepada Allah dan Rasul-Nya. Seperti dijelaskan Jum’ah Amin dalam bukunya Fiqh Dakwah, keimanan yang mendalam bukanlah ilusi atau pengakuan kosong, melainkan buah dari ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Da’i dengan iman yang teguh akan memiliki komitmen tinggi untuk membela Islam, selalu peka terhadap permasalahan umat, dan tidak mudah goyah di tengah badai fitnah.

Kedua, keilmuan merupakan pilar utama kesuksesan dakwah. Sa’id al-Qahthani, seorang dosen dari Universitas Islam Ibnu Saud, menegaskan bahwa ilmu adalah prasyarat sebelum seorang da’i berbicara. Tanpa ilmu, dakwah hanyalah kata-kata kosong yang tak mampu menembus hati.

Dengan ilmu, seorang da’i dapat memetakan permasalahan umat—seperti kemiskinan, kebodohan, atau perpecahan—dan menemukan solusi yang tepat. Ilmu yang dipadukan dengan amal akan melahirkan dampak nyata, bukan sekadar wacana yang menguap di udara.

Ketiga, akhlak mulia hendaknya menjadi cermin jiwa seorang da’i. Akhlak bukanlah topeng yang dipakai sesaat, melainkan gambaran batin yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Seorang da’i yang berakhlak baik akan memancarkan kelembutan dan keteladanan, sehingga pesannya lebih mudah diterima. Sebaliknya, akhlak buruk hanya akan menjauhkan umat dari kebenaran yang ingin disampaikan.

Keempat, keterampilan menjadi senjata penting di era modern. Seorang da’i harus mampu memanfaatkan teknologi dan fasilitas yang ada untuk memperluas jangkauan dakwahnya.

Dai bukan hanya mahir berbicara di atas mimbar, tetapi juga mau belajar agar cakap menggunakan media sosial, membuat konten digital, atau berkomunikasi lintas budaya. Keterampilan ini memungkinkan dakwah tetap relevan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

Kelima, penampilan yang menarik turut memengaruhi efektivitas dakwah. Secara psikologis, penampilan yang elegan dan berwibawa mampu membangun rasa hormat di kalangan audiens.

Seorang da’i yang memperhatikan penampilannya tidak hanya menunjukkan profesionalisme, tetapi juga memberikan kesan pertama yang positif, sehingga pesannya lebih mudah diterima.

Menguasai kelima kompetensi ini bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

Seorang da’i profesional diharapkan mampu menjalankan amanah dakwah dengan optimal, menjadi pelita di tengah kegelapan, dan membawa umat kembali kepada jalan kebenaran.

Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, dakwah bukan lagi sekadar seruan lisan, tetapi juga perjuangan intelektual, spiritual, dan sosial yang membutuhkan dedikasi penuh.[]

*) Nursyamsa Hadis, ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah

[KHUTBAH JUM’AT] Marhaban ya Ramadhan, Selamat Datang Tamu Agung

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Puji sanjung senantiasa tercurah kepada Allah Rabbul a’lamin atas berbagai nikmat dan Taufiq-Nya, yang mengantarkan kita menunaikan amanah sebagai Abdillah (hamba Allah) yang ditandai dengan ketaatan terhadap titah perintah yang tertuang dalam syariat-Nya.

Salam dan shalawat senantiasa tercurah kepada Nabiullah Muhammad ﷺ,

Harapan besar kita dengan senantiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, semoga pada yaumil akhir kelak mendapatkan syafa’at Beliau.

Dan dengan syafa’at Beliau, menjadi asbab Allah berkenan memberikan perlindungan pada saat tidak ada lagi yang dapat memberikan perlindungan selain perlindungan Allah A’zza wajalla.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Selangkah lagi in syaa Allah kita akan memasuki pintu gerbang bulan suci Ramadhan tahun 1446 H.

Selamat Datang Tamu Agung.

Rasulullah ﷺ berpesan agar kita menyambut kedatangan bulan Ramadhan.

Dalam salah satu haditsnya, Beliau bersabda:

اتَاكُمْ رَمَضَانُ سَيِّدُ الشُّهُوْرِ فَمَرْحَبًابِهِ وَ أَهْلاً، جَاءَ شَهْرُالصِّيَامِ بِاْلبَرَكَاتِ فَأَكْرِمْ بِهِ مِنْزَائِرِ هُوَ اَتِ
(رواه الطبرانى)

“Telah datang bulan Ramadhan kepadamu, penghulu segala bulan, maka sambutlah kedatangannya. Telah datang bulan shiyam (puasa) membawa segala keberkahan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.”
(HR. At-Thabrani)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Kata “Tarhib” merupakan masdar (kata dasar) dari “rahhiba” yang bermakna “menyambut” atau “penyambutan”.

Kalau dipasangkan dengan kata “Ramadhan”, sehingga menjadi “Tarhib Ramadhan”.

Mengandung makna, “menyambut atau penyambutan bulan suci Ramadhan”.

Secara etimologi, kata tarhib berasal dari bahasa Arab yang berarti menyambut, menerima dengan penuh kelapangan dan keterbukaan hati.

Dengan demikian, tarhib Ramadhan adalah upaya memantaskan diri menyambut bulan suci Ramadhan.

Maka dapat disimpulkan bahwa tarhib Ramadhan adalah menyambut bulan Ramadhan dengan senang hati, dengan tangan terbuka, dengan penuh kebahagiaan baik jiwa dan raga dengan upaya meningkatkan kualitas ibadah selama bulan Ramadhan.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Rasulullah ﷺ mengibaratkan Ramadhan sebagai tamu.

Ketika orang kedatangan tamu, apalagi tamu yang akan datang adalah orang istimewa, tentu ia akan menyiapkan segala sesuatunya dalam menyambut kehadiran tamu istimewa tersebut.

Dan berusaha memberikan pelayanan agar tamunya merasa mendapatkan perlakuan terbaik dari tuan rumah.

Maka kedatangan bulan Ramadhan dengan membawa segala keberkahan sebagai tamu agung, seyogyanya kita pun “menyambut kedatangannya dan memuliakannya”.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Al-Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan keterangan Mu’alla bin Al-Fadhl – ulama tabi’ tabiin – Beliau mengatakan:

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdo’a agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdo’a agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Menurut penjelasan para ulama, kata “Ramadhan”, berasal dari kata “Ramadha”, tambah “alif” dan “nun” di ujungnya.

“Ramadha” artinya “panas terik membakar”.

Sedang tambahan huruf “alif” dan “nun” di ujungnya bermakna sampai-sampai membakar hangus dan debunya tak nampak.

Sehingga para ulama menyimpulkan “Ramadhan” bermakna pada bulan ini seluruh dosa-dosa yang pernah kita kerjakan dibakar hangus, sampai debunya tak nampak lagi. Sejak baligh hingga dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Ramadhan adalah Momentum Perubahan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman pada QS. Al-Baqarah ayat 183:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

Pendidikan Ramadhan

Sebelum Ramadhan –> Input –> Iman

Selama Ramadhan –> Proses –> Puasa

Sesudah Ramadhan –> Output –> Taqwa

Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Puasa menghapus dosa yang telah lalu

Dari Abu Hurairah Ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

منْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap ridho Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim No. 860)

Celaka orang yang tidak mendapatkan ampunan

Dalam salah satu hadits Rasulullah ﷺ

رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ – أَوْ بَعُدَ – دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni” (HR. Ahmad).

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Ramadhan adalah Bulan Muhasabah (Evaluasi)

Kesibukan hidup kadang membuat kita kehilangan kejernihan.

Ketika nafsu ditundukkan, jiwa akan lebih tenang. Pada kondisi seperti ini kita akan lebih jelas dalam memandang persoalan hidup.

Sebelas bulan kita cenderung lalai, kini saatnya menata kembali orientasi hidup kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang pandai adalah yang mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT”.
(HR. Imam Tirmidzi)

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Ramadhan adalah Bulan Taubat

Bulan Ramadhan adalah bulan syetan dibelenggu, hawa nafsu dikendalikan dengan puasa, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat kondusif untuk bertaubat dan memulai hidup yang lebih baik.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman pada QS. Huud ayat 3:

وَّاَنِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْۤا اِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَّتَا عًا حَسَنًا اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى وَّ يُؤْتِ كُلَّ ذِيْ فَضْلٍ فَضْلَهٗ ۗ وَاِ نْ تَوَلَّوْا فَاِ نِّيْۤ اَخَا فُ عَلَيْكُمْ عَذَا بَ يَوْمٍ كَبِيْرٍ

“dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berbuat baik. Dan jika kamu berpaling, maka sungguh aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (Kiamat).”

Kita sadar dalam perjalanan hidup ini, sepanjang umur yang telah diberikan oleh Allah, tentu amat banyak perbuatan maksiat dan dosa yang pernah kita lakukan.

Maka hadirnya bulan suci Ramadhan adalah momentum strategis, peluang yang baik, kesempatan yang tepat untuk mendapatkan maghfirah (ampunan) Allah A’zza wajalla.

Semoga Allah berkenan menyampaikan umur kita pada bulan Ramadhan tahun ini.

Dan selanjutnya berkenan memberikan hidayah dan Taufiq-Nya kepada kita sebagai hamba-Nya untuk optimal memanfaatkan dan mengisi bulan Ramadhan hingga mendapatkan sekian banyak keutamaan yang ada di dalamnya.

Teriring do’a, dari Thalhah bin ‘Ubaidillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat hilal, beliau mengucapkan:

اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ رَبِّى وَرَبُّكَ اللَّهُ

Ya Allah, tampakkanlah bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Praktisi Kesehatan Luruskan Mindset Konsumsi Manis di Bulan Ramadhan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bulan Ramadhan adalah momen refleksi spiritual sekaligus kesempatan untuk meningkatkan kesehatan fisik. Sayangnya, kebiasaan berbuka puasa yang berkembang di masyarakat justru sering kali bertentangan dengan tujuan tersebut.

Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap pola konsumsi yang kurang sehat adalah iklan yang menyarankan, “Berbukalah dengan yang manis.”

Slogan ini telah mengakar kuat di benak masyarakat, seakan-akan menjadi bagian dari ajaran agama yang tak terbantahkan. Padahal, pemahaman ini perlu dikaji ulang secara proporsional karena membawa implikasi kesehatan yang serius bagi masyarakat Indonesia.

Praktisi yang juga Sarjana Sains Terapan bidang kesehatan, Febi Sukma, S.ST., M.Keb., menggarisbawahi bahwa kebiasaan konsumsi termasuk dalam berbuka dengan makanan dan minuman manis berlebih telah menyebabkan peningkatan kasus diabetes di Indonesia.

Dia menyebutkan, menurut data Diabetes Federation, pada tahun 2022 Indonesia menempati peringkat pertama di ASEAN untuk jumlah penderita diabetes tipe 1. Ini merupakan alarm bahaya yang tidak bisa diabaikan.

“Dampak lebih lanjut dari kebiasaan konsumsi manis yang berlebihan juga terlihat dalam meningkatnya kasus gagal ginjal pada anak-anak,” kata Febi.

Hal itu dipaparkan Febi saat menjadi pembicara dalam forum Halaqah Gabungan & Tarhib Ramadhan yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah (PD) Muslimat Hidayatullah Depok dan Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah Jawa Barat, Ahad lalu, 24 Syaban 1446 (23/2/2025).

Diketahui fenomena pasien anak-anak yang harus menjalani cuci darah di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) semakin meningkat.

Kondisi ini, kata Febi, menegaskan bahwa pola makan yang tidak sehat sejak dini dapat membawa konsekuensi serius bagi generasi mendatang.

Lebih jauh, Master Ilmu Kebidanan Universitas Padjajaran ini memaparkan, secara teologis memang ada hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ berbuka dengan kurma atau air. Sebagaimana riwayat dari Anas bin Malik:

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr, beliau meminum seteguk air.” (H.R Abu Dawud)

Namun, Febi menjelaskan, perlu dipahami bahwa anjuran ini tidak bisa diartikan secara mutlak sebagai dorongan untuk mengonsumsi segala jenis makanan atau minuman manis dalam jumlah besar.

Kurma, yang menjadi kebiasaan Rasulullah ﷺ, mengandung serat dan nutrisi penting yang berbeda dari gula olahan yang sering kali dikonsumsi dalam bentuk sirup, minuman kemasan, atau kue manis saat berbuka.

Puasa dan Makna Menahan Diri

Lebih jauh, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan diri dari segala hal yang berlebihan. Sayangnya, realitas yang terjadi justru sebaliknya.

Febi menukilkan bahwa data tahun 2023 menunjukkan bahwa Indonesia termasuk salah satu penyumbang sampah makanan terbesar di dunia. Hal ini menurutnya menjadi ironi mengingat ajaran Islam menekankan prinsip la mubazzirin (tidak boros) dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam hal makanan.

“Puasa artinya menahan, bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari hal-hal yang berlebihan yang tentunya menjadi mubazir dan tidak disukai oleh Allah,” ungkap Febi Sukma dalam kajian tersebut.

Untuk itu, penting bagi masyarakat untuk mulai menerapkan kebiasaan berbuka yang lebih sehat, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga untuk lingkungan.

Febi pun membagikan beberapa langkah tips praktis yang dapat diterapkan untuk menjaga kesehatan selama Ramadhan, diantaranya mengurangi konsumsi gula berlebih, khususnya dari minuman manis kemasan atau makanan olahan tinggi gula.

Langkah berikutnya adalah meningkatkan asupan air putih minimal 8 gelas per hari untuk menjaga hidrasi tubuh saat ketika sahur atau berbuka dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang seperti protein, serat, dan lemak sehat agar energi tetap stabil selama puasa.

Tips selanjutnya dari Febi adalah menghindari makanan berlebihan agar tidak berujung pada pemborosan dan peningkatan limbah makanan dan menjaga pola tidur yang cukup agar tubuh tetap bugar dalam menjalankan ibadah.

Febi menambahkan, peran ibu dalam keluarga sangatlah penting. Ibu adalah manajer keluarga yang dapat membuat perencanaan terbaik agar anggota keluarganya menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari khususnya di bulan suci. Oleh karena itu, ibu yang sehat dan teredukasi akan membawa dampak positif bagi generasi mendatang.*/Arsyis Musyadahah, Parentnial

Tarhib Hidayatullah Bangkalan Sambut Bulan Suci dengan Semangat Perubahan

0

BANGKALAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1446 H, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Bangkalan menyelenggarakan kegiatan Tarhib Ramadhan pada Sabtu, 23 Syaban 1446 (22/2/2025).

Bertempat di Pesantren Hidayatullah Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, acara ini mengusung tema “Jadikan Bulan Ramadhan sebagai Sarana Meningkatkan Ibadah, Integritas, dan Profesionalitas”. Kegiatan ini menjadi ajang persiapan spiritual dan intelektual bagi para jamaah dalam menghadapi bulan yang penuh berkah.

Salah satu sesi utama dalam acara ini adalah tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Damanhuri, M.Pd, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim (STAIL) Surabaya. Dalam pemaparannya, ia menekankan urgensi menjadikan Ramadhan sebagai titik tolak perubahan diri.

Damanhuri mengatakan, sebagai agen perubahan, seorang da’i harus menjadikan Bulan Ramadhan sebagai momentum untuk meningkatkan ibadah, integritas, dan profesionalitas.

Oleh karenanya, sambungnya, target yang ingin dicapai perlu ditulis dan dijadikan sebagai prinsip target-target besar yang akan dicapai pada Bulan Ramadhan.

“Sehingga, nampak perubahan positif dari sebelum Ramadhan dan sesudah Ramadhan,” ujar Ustadz Damanhuri.

Dia menekankan, bulan Ramadhan peluang untuk memperbaiki diri secara spiritual dan profesional. Perubahan yang diharapkan tidak hanya bersifat individual, tetapi juga secara kolektif, sehingga dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.

Dia mengimbuhkan, kegiatan Tarhib Ramadhan ini dapat menjadi langkah awal dalam membangun generasi Rabbani yang memiliki semangat tinggi dalam beribadah dan berdakwah.

Dengan persiapan yang matang, diharapkan setiap individu mampu menginternalisasi nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata dalam membangun peradaban Islam.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi juga sarana untuk memperbaiki kualitas diri.

Dengan meningkatnya ibadah, integritas, dan profesionalitas, umat Islam dapat menjadi agen perubahan yang membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Kegiatan Tarhib Ramadhan ini mendapat sambutan luar biasa dari warga dan jamaah Hidayatullah Bangkalan. Suasana penuh semangat dan kekhusyukan terasa sepanjang acara.

Setelah sesi tausiyah, acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Jufriyanto, Pembina Hidayatullah Bangkalan.

Tak hanya itu, kebersamaan semakin terasa dalam acara makan bersama yang digelar setelah doa. Meskipun dengan menu sederhana, momen kebersamaan seperti ini menjadi ajang silaturahmi dan mempererat ukhuwah Islamiyah.

“Kebersamaan dalam suasana penuh kehangatan ini menambah nilai spiritual acara, memperkuat hubungan sosial, dan mempererat persaudaraan di antara sesama muslim,” kata Jufriyanto.*/Adib Nursyahid