Beranda blog Halaman 112

Revitalisasi Jatidiri Hidayatullah, AQM Sampaikan Refleksi Memasuki 50 Tahun Kedua

0

PALANGKARAYA (Hidayatullah.or.id) — Dalam suasana yang khidmat dan penuh semangat, ratusan kader Hidayatullah perwakilan dari berbagai penjuru Kalimantan Tengah berkumpul di Aula SMH Hidayatullah Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng), 3-4 Dzulhijah 1446 (30–31/5/2025).

Mereka datang tidak hanya sebagai peserta, tetapi sebagai bagian dari ikhtiar besar: menyambut 50 tahun kedua perjuangan Hidayatullah dengan kesadaran ideologis yang diperbarui.

Acara yang bertajuk “Temu Kader dan Upgrading Kader Ulaa-Wustha Hidayatullah Kalimantan Tengah” ini menghadirkan spektrum kader dari berbagai tingkatan mulai pengurus DPD, kader basis, serta organisasi otonom seperti Muslimat Hidayatullah (Mushida) dan Pemuda Hidayatullah. Lebih dari sekadar pertemuan rutin, forum ini dirancang sebagai ruang refleksi, konsolidasi, dan penajaman jati diri gerakan.

Kisman Maku, Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Kalimantan Tengah, membuka kegiatan dengan penegasan tujuan strategisnya.

Kata dia, penguatan militansi kader bukanlah proyek jangka pendek, melainkan fondasi kelangsungan gerakan Islam dalam lanskap kebangsaan yang terus berubah.

“Kegiatan ini kami rancang untuk memperkuat semangat juang kader Hidayatullah Kalteng,” katanya.

Refleksi Memasuki 50 Tahun Kedua Hidayatullah

Puncak kegiatan ini ditandai dengan kehadiran dan paparan anggota Dewan Pertimbangan Pusat Hidayatullah, Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakakkar atau karib disapa AQM.

Sebagai mantan anggota MPR RI tiga periode (1999–2014) dan kader tulen gerakan dakwah, Dr. Aziz membawa kredibilitas intelektual dan spiritual yang menyatu.

Dalam penyampaian reflektifnya, ia menguraikan empat warisan ideologis dari pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, yang penting untuk dijaga dan dikembangkan. Keempat warisan ini menjadi jantung pemikiran gerakan.

Pertama, sistematika wahyu sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah. Artinya, jelas dia, alur pendidikan dan penyadaran umat tidak boleh berpijak pada filsafat Barat ataupun pragmatisme dakwah belaka, tetapi harus berakar pada pola nuzul wahyu yang otentik.

“Wahyu bukan sekadar sumber hukum, melainkan struktur epistemologi yang membentuk cara pandang dan cara hidup,” terangnya.

Kedua, konsep kepemimpinan yang disebut imamah jamaah. Kepemimpinan dalam Hidayatullah, jelasnya, bukan sekadar struktur administratif, melainkan penggerak ruh kolektif yang bertumpu pada ketaatan, keteladanan, dan keberpihakan pada nilai-nilai Islam.

Ketiga, lembaga perjuangan yang dirumuskan sebagai Al Harakah Al Jihadiyah Al Islamiyyah. Dalam pengertian ini, terang Aziz, jihad bukan dalam makna sempit yang sering disalahpahami, tetapi sebagai totalitas perjuangan untuk menegakkan Islam dalam kehidupan—mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga sosial-politik.

Keempat, sistem berkampus sebagai ruang konkret peragaan ajaran Islam. Kampus dalam perspektif Hidayatullah bukan sekadar tempat belajar, tetapi miniatur masyarakat Islam yang ideal.

Terkait pilar kampus ini, Aziz mengutip pernyataan Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad: “Kampus Hidayatullah harus memiliki empat pilar, yaitu aktivitas ruhiyah (spiritual), aktivitas keilmuan, etika dan estetika, serta kepemimpinan dan manajemen.”

Kampus sebagai wadah aktivitas ruhiyah berarti seluruh warga kampus harus memakmurkan masjid dan menjadikan spiritualitas sebagai atmosfer utama.

Kedua, aktivitas keilmuan meliputi kajian keislaman yang terstruktur, termasuk program tahsin dan pembelajaran Al-Qur’an sebagai minimum wajib.

Berikutnya, kampus dengan pilar etika dan estetika, yakni menjadikan kampus sebagai ruang yang bersih, rapi, dan mencerminkan adab. Dan, terakhir, pilar kepemimpinan dan manajemen.

Dalam hal ini, Aziz menegaskan pentingnya struktur organisasi yang efektif dan efisien, demi terjaminnya gerakan yang terukur.

Sebagai penutup, Aziz menegaskan tiga prinsip jati diri Hidayatullah yang harus selalu menjadi identitas kolektif yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Jama’atun minal Muslimin, dan Al-Wasathiyah.

Ketiga identitas ini, tegas Aziz, bukan label semata, melainkan orientasi manhajiyah dan harakiyah dalam menjawab tantangan zaman.

Melalui Temu Kader ini, Hidayatullah Kalimantan Tengah membuktikan bahwa revitalisasi perjuangan bukanlah romantisme sejarah, tetapi tindakan sadar dan terstruktur.

Di tengah arus disrupsi nilai, Aziz berpesan, Hidayatullah perlu terus meneguhkan dirinya sebagai gerakan yang tak sekadar bertahan, melainkan terus bertumbuh dengan akar ideologi yang dalam dan sayap perjuangan yang luas dalam rangka berkhidmat untuk kemajuan agama, bangsa, dan negara.

Keterbatasan Tak Halangi Semangat Mengaji di Rumah Quran Al-Mutmainnah Kadia

0

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Di sebuah sudut Kota Kendari, tepatnya di Rumah Quran Al-Mutmainnah yang berlokasi di Jl. Laremba, Lr. SCTV, Kelurahan Kadia, Kecamatan Kadia, ada secercah kebahagiaan yang baru saja merekah.

Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kembali menorehkan jejak kebaikan. Mereka hadir membawa harapan, dalam bentuk lembaran-lembaran suci Al-Qur’an dan buku Iqro, untuk anak-anak pelosok yang haus akan ilmu agama.

Ini bukan kali pertama BMH melakukannya. Program penyaluran ini adalah bagian dari komitmen mereka yang tak pernah putus: mendukung pendidikan Al-Qur’an di daerah-daerah terpencil, tempat di mana fasilitas seringkali menjadi tantangan.

Kali ini, sebanyak 10 mushaf Al-Qur’an dan 10 Iqro diserahkan, bukan sekadar buku, melainkan gerbang menuju cahaya bagi para santri cilik.

Semangat Mengaji yang Tak Padam Meski Keterbatasan

Armin, Kepala Perwakilan BMH wilayah Sulawesi Tenggara, berbagi cerita. Ia melihat langsung bagaimana di pelosok-pelosok sana, semangat mengaji anak-anak begitu membara, namun terbentur pada ketersediaan mushaf yang sangat terbatas.

“Banyak anak-anak yang semangat belajar mengaji, tetapi mereka harus berbagi mushaf yang jumlahnya sangat terbatas,” ujarnya seperti dalam keterangan diterima media ini, Senin, 6 Dzulhijjah 1446 (2/6/2025).

“Alhamdulillah, dengan bantuan ini, mereka bisa lebih mudah belajar dan menghafal Al-Qur’an,” lanjutnya.

Bayangkan, tangan-tangan mungil itu tak lagi harus berebut satu mushaf. Kini, mereka bisa memegang Al-Qur’an sendiri, menelusuri setiap hurufnya dengan lebih leluasa, dan menghafal setiap ayat dengan lebih tenang.

Sebuah kemudahan yang bagi sebagian besar dari kita mungkin terasa biasa, namun bagi mereka, itu adalah anugerah tak ternilai.

Ucapan Syukur dari Hati yang Tulus

Kegiatan penyaluran ini disambut dengan antusiasme yang luar biasa. Para ustadz dan pengurus TPA di Rumah Quran Al-Mutmainnah tak bisa menyembunyikan rasa syukur mereka.

“Terima kasih kepada para donatur dan BMH,” ucap salah satu pengajar dengan senyum merekah.

“Bantuan ini sangat berarti bagi kami, semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.”

Sebuah doa tulus, mengalir dari hati yang merasakan langsung manfaat dari uluran tangan para dermawan.

BMH tak berhenti sampai di sini. Mereka terus mengajak kita semua untuk menjadi bagian dari cerita kebaikan ini.

Setiap donasi Al-Qur’an dan Iqro yang kita berikan, bukan hanya membantu anak-anak belajar mengaji.

Lebih dari itu, kita sedang ikut menanam benih-benih cinta Al-Qur’an di hati generasi muda, membangun masa depan yang berlandaskan iman dan ilmu.

“Sebuah investasi akhirat yang takkan pernah merugi,” tutup Armin.*/

Asrama Santri Hidayatullah Diresmikan di Jantung Nagari Sungai Jaring

0

AGAM (Hidayatullah.or.id) — Bukan dongeng, bukan pula sekadar impian di siang bolong. Di jantung Nagari Sungai Jaring yang syahdu, tepatnya di Jorong V, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, sebuah keajaiban nyata baru saja berdiri kokoh.

Inilah Asrama Santri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, sebuah bukti bisu dari tetesan keringat, linangan doa, dan kedermawanan luar biasa yang kini menjelma jadi rumah bagi ratusan asa.

Hari yang cerah itu, seolah semesta turut merayakan, menjadi momen bersejarah peresmian sebuah impian yang kini menggenggam masa depan.

Ini bukan upacara biasa. Ini adalah simbol dari perjuangan yang tak kenal lelah, kolaborasi kebaikan yang menghangatkan hati, dan bukti nyata betapa kuatnya kekuatan sedekah.

Asrama ini adalah hadiah dari hati-hati tulus para dermawan yang merelakan sebagian rezekinya demi masa depan generasi penerus.

Doa dan Air Mata Haru Mengiringi Mimpi yang Terwujud

Suara-suara polos itu, lantunan doa yang khusyuk dari para santri cilik, menggema di setiap sudut bangunan baru.

Mereka memohon agar asrama ini, rumah baru mereka, menjadi ladang ilmu, iman, dan amal shalih.

Di wajah-wajah bening itu, terpancar semangat baru, seolah beban berat yang tadinya menghimpit kini terangkat oleh kehadiran bangunan sederhana namun penuh makna ini.

Harapan-harapan yang dulu hanya berani mereka impikan, kini mulai bersemi, menunggu untuk mekar.

Ketika tumpeng dipotong dan simbolis penyerahan dilakukan, suasana haru tak dapat dibendung.

Para pengurus pondok, tokoh masyarakat, dan perwakilan BMH berpegangan tangan dalam rasa syukur yang meluap.

Setiap detik dalam acara ini menegaskan satu hal: kebaikan takkan pernah berujung sia-sia. Zakat, infak, dan sedekah yang dipercayakan kepada BMH, kini benar-benar telah menjadi mercusuar harapan bagi anak-anak bangsa yang seringkali terabaikan.

Pelukan Kebaikan dari Hati yang Tulus

“Kami tak bisa berkata-kata, kecuali ribuan terima kasih yang terdalam kepada para sahabat kebaikan, para donatur, dan semua pihak yang telah menorehkan jejak kebaikan dalam pembangunan ini,” ujar Ustadz Muhammad Irsyad Istoyo, Ketua DPW Sumatera Barat, dengan suara bergetar.

“Doa kami takkan pernah putus, semoga kebaikan dan keberkahan senantiasa menyelimuti hidup kalian semua.”

Ustadz Irsyad menambahkan, “Semoga Allah SWT melipatgandakan pahala, melimpahkan kesehatan, menganugerahkan keluarga yang sakinah, dan tak henti-hentinya menuangkan rezeki yang berlimpah. Dan yang terpenting, semoga setiap amal jariyah ini terus mengalir, bahkan ketika kaki tak lagi menapak di bumi.”

Prawira Dijaya, Kepala Perwakilan BMH Sumatera Barat, dengan bangga menutup, “Asrama ini bukan sekadar kumpulan bata dan semen. Ia adalah saksi bisu dari cinta yang tak terlihat, dari tangan-tangan yang memberi dalam diam, dari hati-hati yang bergetar ingin melihat generasi Islam tumbuh dengan pendidikan yang layak.”

Asrama ini adalah permulaan. Sebuah babak baru bagi santri-santri di Sungai Jaring. Sebuah bukti bahwa ketika hati-hati mulia bersatu, keajaiban dapat terjadi.

“Siapa tahu, dari sinilah, dari asrama sederhana ini, akan lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang membawa berkah bagi bangsa dan agama,” tutup Prawira.*/

Wisuda Angkatan II Sekolah Dai Bolmongsel Langkah Awal Para Penebar Cahaya Al-Qur’an

0

BOLMONGSEL (Hidayatullah.or.id) — 4 Dzulhijjah 1446 Hijriah, atau tepatnya 31 Mei 2025, akan selalu dikenang sebagai hari bersejarah di Kampus Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Biniha Timur, Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara.

Di tengah lanskap perbukitan yang hijau dan gemericik air sungai yang tak henti mengalir di samping pondok, sebuah momen sakral terukir: Wisuda Angkatan ke-2 Sekolah Dai Hidayatullah.

Ini bukan sekadar wisuda biasa; ini adalah bagian dari sejarah yang ditulis di kampus peradaban yang berlandaskan nilai Islamiyah, Ilmiyah, dan Alamiah, sebuah buah karya dari Amal Usaha DPP Hidayatullah.

Suasana pagi itu terasa begitu syahdu. Semilir angin seolah ikut merayakan, mengiringi setiap langkah para wisudawan menuju panggung.

Prosesi berlangsung khidmat, dipenuhi rasa syukur dan harapan. Ustaz Musliadi, Kepala Departemen Sosial DPP Hidayatullah, turut hadir membersamai, berbagi wejangan yang begitu mendalam.

“Kita punya tanggung jawab berbuat untuk umat, mengajari mereka dengan Al-Qur’an,” tegasnya.

Sebuah nasihat yang bukan hanya menyentuh kalbu, tapi juga membakar semangat untuk terus menebar kebaikan.

Empat Saudara, Seribu Asa untuk Umat

Mungkin hanya empat nama yang diwisuda hari itu, tapi dampaknya? Insya Allah tak terhingga.

“Mereka adalah Saudara Abdul Rozak yang siap mendedikasikan dirinya di Gorontalo Utara; Saudara Andre yang akan menguatkan dakwah di Hidayatullah Adow Bolsel; Saudara Irfan yang mengemban tugas tetap mengabdi di almamaternya, Sekolah Dai Hidayatullah Biniha Timur Bolsel; dan Saudara Faqih Muhtar Arifin yang akan melanjutkan perjuangan dengan tugas belajar ke Surabaya,” terang Murdianto Kadep Perkaderan DPW Hidayatullah Sulawesi Utara merinci.

Ada satu pesan yang begitu menghangatkan hati dari Saudara Faqih Muhtar. Ia merasa sangat terhormat bisa menjadi bagian dan mengambil peran di masyarakat, utamanya dalam membumikan Al-Qur’an.

Dengan penuh harap, ia juga memohon doa dari kita semua agar dapat istiqamah dalam menjalankan tugas yang mulia ini. Betapa besar semangat dan ketulusan hati mereka.

Empat orang ini mungkin terasa sedikit jika dihitung dengan angka, tapi mereka adalah empat pilar harapan yang akan berdiri tegak, siap menyebarkan ilmu dan cahaya Al-Qur’an di berbagai penjuru.

Kisah mereka adalah pengingat bahwa sekecil apa pun langkah yang kita ambil untuk kebaikan, jika dilandasi keikhlasan dan niat tulus, akan menjadi gelombang inspirasi yang tak terhingga.

“Semoga Allah Swt. senantiasa memberkahi perjalanan mereka dan menjadikan kita semua pribadi-pribadi yang terus termotivasi untuk berbuat kebaikan,” ungkap Kepala BMH Sulawesi Utara, Abdul Wahid Mokodompit.*/

Sinergi Kuatkan Peran Guru PAUD Membentuk Kepribadian Generasi Penerus

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di balik riuhnya Jakarta, sebuah momentum kepedulian hadir menyapa mereka yang kerap terlewat dari sorotan: para guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Di PAUD Nurul Fikri Assyakira Rawadas, Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, sebuah kegiatan hangat berlangsung. Vanilla Hijab, brand fashion yang dikenal luas di kalangan muslimah, berkolaborasi dengan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH), menyalurkan puluhan paket sembako kepada para guru PAUD.

Sebanyak 20 guru menerima langsung bantuan tersebut. Mereka adalah pendidik-pendidik yang dengan kesabaran dan ketekunan, membentuk karakter anak-anak sejak dini.

Profesi guru anak usia dini ini seringkali dipandang sebelah mata, namun di sinilah letak awal pembentukan kualitas manusia Indonesia. Dan kali ini, mereka menerima perhatian yang tulus.

Amelia, seorang ibu salah satu penerima manfaat, mengungkapkan rasa terima kasih yang dalam.

“Jazakallah Khoiron katsiron kepada BMH yang menjadi washilah rezeki kami guru-guru PAUD. Semoga berkah dan sehat selalu,” ujarnya dengan suara bergetar. Ungkapan tersebut menyiratkan lebih dari sekadar rasa syukur: ia adalah pengakuan atas eksistensi dan perjuangan mereka.

Menurut Imam Nawawi, Kepala Humas BMH Pusat, program ini merupakan hasil keselarasan visi antara BMH dan Vanilla Hijab.

“Vanilla Hijab memandang strategisnya guru-guru PAUD dalam membentuk generasi bangsa. BMH pun demikian,” tegasnya, seraya menekankan bahwa bantuan yang diberikan juga sebagai penghargaan atas peran fundamental yang dimainkan para guru PAUD.

Lebih jauh dari sisi logistik, kegiatan ini menyampaikan pesan kemanusiaan. Dalam satu gerakan, kolaborasi ini menghadirkan pengakuan sosial terhadap kerja sunyi para pendidik anak usia dini. Mereka yang setiap hari membentuk dasar kepribadian generasi penerus, kini disapa oleh tangan-tangan yang peduli.

Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa sinergi antara sektor usaha dan lembaga sosial mampu menjangkau ruang-ruang yang jarang tersentuh. Dari sembako yang dibagikan, muncul makna kolektif bahwa bangsa ini masih memiliki jiwa gotong royong. Bahwa pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Butuh kolaborasi, butuh dukungan, dan butuh apresiasi yang konsisten.

Imam Nawawi menutup kegiatan ini dengan harapan semoga kebaikan ini terus mengalir, menginspirasi lebih banyak lagi tangan-tangan dermawan untuk ikut serta menyemai benih kebaikan di seluruh penjuru negeri.

Apa yang dilakukan Vanilla Hijab dan BMH bukan hanya kegiatan amal, tetapi juga sebuah pernyataan sosial. Mereka yang kerap disebut “pahlawan tanpa tanda jasa”, kini diberi ruang untuk menerima, dihargai, dan diakui. Tidak lebih, tapi juga tidak kurang dari yang seharusnya mereka terima sejak awal: perhatian dan penghormatan.*/

Herim Achmad

Sumur ke-201 Mengalirkan Harapan untuk 235 Santri Pondok Pesantren Al-Falah

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah dinamika kehidupan masyarakat dan isu-isu sosial yang kian kompleks, hadir secercah kabar baik dari Pondok Pesantren Al-Falah, Turen, Kabupaten Malang.

Sebuah sumur bor yang dibangun atas inisiatif Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) telah menjadi titik balik penting bagi 235 santri yang menetap dan menuntut ilmu di pesantren tersebut.

Sebelumnya, para santri harus bertahan dengan kondisi air yang tidak layak. Sumur gali manual yang digunakan kerap keruh dan bahkan mengering di musim kemarau.

Kebutuhan dasar seperti mandi, mencuci, memasak, hingga berwudhu menjadi tantangan harian. Namun kini, situasi itu berubah drastis. Berkat sumur bor ke-201 yang diwujudkan BMH, para santri dapat menikmati akses air bersih yang stabil dan layak.

“Dulu airnya sering keruh dan kadang nggak keluar kalau siang. Sekarang alhamdulillah lancar. Jadi makin semangat menghafal karena nggak harus antre lama untuk mandi atau wudhu,” ungkap Irwan, salah satu santri kelas tahfidz yang telah menghafal delapan juz.

Kesaksiannya adalah potret nyata bagaimana infrastruktur dasar seperti air bersih mampu meningkatkan kualitas kehidupan sekaligus pendidikan di lingkungan pesantren.

Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Jawa Timur, Imam Muslim, menegaskan bahwa penyediaan air bukan sekadar program fasilitas, melainkan bagian dari strategi peningkatan mutu kehidupan para santri.

“Sumur bor ini bukan sekadar fasilitas, tapi fondasi bagi semangat belajar dan beribadah para santri,” jelasnya, menegaskan bahwa pembangunan sumur bor bukanlah proyek temporer, melainkan investasi jangka panjang dalam pendidikan dan kesehatan generasi muda.

Proyek sumur bor ini merupakan bagian dari ikhtiar berkelanjutan BMH dalam menghadirkan infrastruktur dasar ke berbagai pelosok negeri, terutama bagi lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Dengan dukungan para donatur yang konsisten, BMH terus menebar kebermanfaatan di titik-titik yang selama ini terpinggirkan dari perhatian publik.

Kisah dari Pondok Pesantren Al-Falah menjadi penanda bahwa kerja-kerja sosial yang terencana dan terukur dapat menghadirkan perubahan nyata.

Ia juga menjadi pengingat akan pentingnya kolaborasi antara lembaga zakat dan masyarakat luas dalam membangun sistem pendukung yang menopang pendidikan, kesehatan, dan kehidupan yang lebih layak.

Tak semua perubahan besar datang dari hal yang rumit. Terkadang, sebuah sumur yang mengalirkan air bersih adalah awal dari gelombang optimisme yang merambat jauh: membasuh kesulitan, menumbuhkan harapan, dan memperkuat tekad untuk terus belajar dan beribadah. BMH membuktikan bahwa gerakan kebaikan tidak pernah sia-sia—ia mengakar dalam kenyataan, dan tumbuh dalam kehidupan.

Undang Undang Jaminan Produk Halal Harus Dilaksanakan Serius di Daerah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kasus Ayam Goreng Widuran, sebuah usaha kuliner yang telah beroperasi puluhan tahun tanpa sertifikat halal dan akhirnya menuai protes masyarakat, menjadi cermin penting bagi seluruh pemangku kepentingan di Indonesia.

Menyikapi hal ini, ormas Islam Hidayatullah mengajak seluruh Pemerintah Daerah untuk segera melakukan asesmen menyeluruh terhadap implementasi Jaminan Produk Halal (JPH) dan harus dilaksanakan di wilayah masing-masing.

Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Abu A’la Abdullah, M.HI, menegaskan bahwa asesmen JPH adalah langkah mendesak dan wajib, sejalan dengan amanat Undang-Undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.

Kasus yang belakangan viral ini bukan sekadar persoalan administratif, melainkan pertanda bahwa pengawasan dan kesadaran atas kehalalan produk masih harus diperkuat.

Menurutnya, negara telah memiliki landasan hukum yang kuat, dan kini saatnya seluruh elemen menjalankan fungsinya.

“Undang-undang ini menegaskan bahwa produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di Indonesia harus bersertifikat halal. UU ini mewajibkan semua produk makanan dan minuman yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di Indonesia untuk memiliki sertifikat halal,” katanya dalam obrolan dengan media ini, Jum’at, 3 Dzulhijah 1446 (30/5/2025).

Ia menjelaskan bahwa UU tersebut mengatur hak dan kewajiban pelaku usaha, dengan memberikan pengecualian hanya kepada produk yang berbahan haram berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah. Namun, produk semacam itu wajib mencantumkan secara tegas keterangan tidak halal.

“Keterangan tersebut harus tercantum pada kemasan Produk atau pada bagian tertentu dari Produk yang mudah dilihat, dibaca, tidak mudah terhapus, dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Produk. Hal ini dalam rangka memberikan pelayanan publik. Pemerintah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan UU JPH ini,” ujarnya.

Seruan Hidayatullah ini, terang dia, menjadi bagian dari dorongan masyarakat sipil agar hukum berjalan, konsumen terlindungi, dan pelaku usaha menjalankan tanggung jawab moral dan legal mereka di tengah masyarakat mayoritas muslim.

Abu A’la mengingatkan para pelaku usaha agar bersikap jujur dalam menyampaikan informasi produknya. Kejujuran, menurutnya, bukan hanya bagian dari etika usaha, melainkan juga bentuk ibadah yang dapat membawa maslahat.

“Semoga para pelaku usaha segera menjamin halal produknya. Jangan menyembunyikan informasi produk. Lebih baik jujur sejak awal. Masyarakat muslim yang jumlah mayoritas di pulau Jawa, bahkan di Indonesia sangat senang dan mencari produk halal, sehat dan berkualitas,” katanya.

Keuntungan ekonomi, menurutnya, tidak harus dicapai dengan mengabaikan prinsip. Pelaku usaha yang berkomitmen pada produk halal juga berkontribusi pada pembangunan bangsa dalam aspek sumber daya manusia.

“Dengan demikian, para pelaku usaha disamping mendapat keuntungan, juga membangun sumber daya insani yang berkualitas untuk Indonesia emas,” terang dia.

Lebih jauh, ia juga menyampaikan bahwa menjalankan usaha halal bisa menjadi bagian dari ibadah yang mendatangkan pahala. Khususnya bagi pengusaha muslim, semangat menjalankan syariat dalam aktivitas ekonomi harus terus dibangun.

“Semoga para pengusaha, khususnya pengusaha muslim juga mendapat pahala di sisi Allah dengan meniatkan berwirausaha adalah ibadah, dengan memproduksi dan menjual produk yang halal, sehat dan berkualitas,” katanya.

Ia pun berharap agar masyarakat muslim terus meningkatkan kesadaran dalam memilih produk halal serta memberikan dukungan terhadap produk-produk yang terjamin kehalalannya.

“Semoga ummat Islam makin jeli dan cerdas dalam memilih produk halal. Kita support produk halal dan kita jauhi produk haram. Yaa Allah, ihdinashshiroothol mustaqiim,” tandasnya.

Belajar dari Kasus Ayam Goreng Kandung Bahan Haram, Hidayatullah Serukan Transparansi dan Asesmen Produk

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Ir. Abu A’la Abdullah, M.HI., menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus tidak adanya transparansi dan sertifikat halal pada salah satu warung makan legendaris di Kota Solo, Ayam Goreng Widuran.

Warung makan yang telah berdiri sejak 1973 dan dikenal luas masyarakat ini diketahui baru mengumumkan dan meminta maaf secara terbuka setelah diprotes publik terkait ketidakhadiran sertifikasi halal pada produknya.

“Hidayatullah sebagai komponen umat Islam Indonesia sangat menyayangkan Ayam Goreng Widuran yang telah beroperasi sejak 1973 ini, telah beroperasi selama 52 tahun, baru mengumumkan dan meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat setelah diketahui tidak memiliki sertifikat halal dan diprotes masyarakat,” katanya dalam obrolan dengan media ini, Jum’at, 3 Dzulhijah 1446 (30/9/2025).

Ia menegaskan, permintaan maaf tersebut haruslah disampaikan dengan sungguh-sungguh, tanpa menyembunyikan fakta-fakta penting yang menyangkut kepercayaan umat.

“Permintaan maaf dan perbaikan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Jangan ada yang disembunyikan lagi yang akan menipu umat Islam khususnya. Hal ini adalah kasus yang sangat disayangkan, tidak boleh terulang lagi,” tegasnya.

Kekecawaan Dirasakan Masyarakat

Sebagaimana diwarta media, kekecewaan mendalam dirasakan masyarakat, terutama warga Solo dan sekitarnya yang telah lama menjadi pelanggan.

Menyikapi reaksi publik yang cukup keras, Abu A’la mengimbau masyarakat agar tidak melakukan demonstrasi besar-besaran, tetapi menempuh jalur hukum.

“Bagi elemen masyarakat yang belum puas dengan permintaan maaf yang dilakukan, tidak perlu demo ramai-ramai, lebih efektif dan lebih baik mengadukan ke polisi agar diproses secara adil dan tuntas di pengadilan,” sarannya.

Dalam pandangan Islam, lanjutnya, persoalan makanan halal tidak dapat dianggap sepele. Ia menyampaikan bahwa konsumsi makanan haram memiliki implikasi spiritual yang serius.

“Beroperasi selama 52 tahun adalah waktu yang sangat panjang. Sangat banyak umat Islam yang mengonsumsi Ayam Goreng Widuran ini. Padahal produknya tidak halal. Tentu mereka sangat kecewa. Karena dalam Islam makanan halal adalah sangat penting,” ungkapnya.

Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 168:

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Tak hanya itu, ia juga menukil ayat lainnya dari surah Al-Ma’idah ayat 88:

“Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”

Konsumsi Makanan Haram Berdampak Dunia Akhirat

Lebih jauh Abu A’la menjelaskan, dampak dari konsumsi makanan haram bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

“Makanan yang haram dalam Islam berdampak di akhirat dengan siksaan neraka. Sangat berat,” imbuhnya,

Ia lantas mengutip hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi: “Setiap daging yang tumbuh dari yang tidak halal, maka neraka yang lebih utama baginya.”

Sebagai bentuk tanggung jawab bersama, Abu A’la menghimbau Pemerintah Daerah Surakarta agar segera melakukan asesmen terhadap seluruh produk konsumsi yang beredar di Kota Solo.

“Semoga dengan penerapan jaminan produk halal di Solo, maka para wisatawan muslim makin senang berwisata ke Solo. Sehingga kita berharap Solo makin maju dan mendapat berkah Allah SWT,” pungkasnya.*/

Ketahanan Pangan Pesantren dan Kolaborasi Umat Menumbuhkan Pendidikan Qurani

BEKASI (Hidyatullah.or.id) — Pesantren Tahfidzul Quran Hidayatullah Pebayuran kembali menorehkan capaian penting dalam perjalanan kemandirian pendidikannya. Bertempat di Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, pesantren ini sukses melaksanakan panen padi ke-14, dengan hasil mencapai 5 ton. Bukan sekadar angka panen, tetapi cermin dari ikhtiar besar membangun fondasi pendidikan berbasis ketahanan pangan.

Program Lumbung Pangan Santri ini bukanlah inovasi biasa, melainkan solusi strategis yang menjawab persoalan mendasar bagaimana mencukupi kebutuhan dasar tanpa membebani anggaran operasional pesantren.

Sebelum program ini berjalan, pesantren mesti merogoh kocek sekitar Rp6–7 juta setiap bulan hanya untuk membeli beras. Kini, cukup dengan biaya Rp13 juta untuk satu kali panen, seluruh kebutuhan konsumsi santri bisa tercukupi hingga panen berikutnya.

“Kami bersyukur dengan adanya program ini. Selain memastikan kebutuhan pangan santri tercukupi, kami juga bisa lebih fokus pada peningkatan kualitas pendidikan,” ujar Direktur Prodaya BMH Pusat, Syamsuddin, dalam sambutannya pada acara panen, Selasa, 29 Dzulqa’dah 1446 (27/5/2025).

Ia menegaskan, upaya penyediaan kebutuhan primer semacam ini membuka ruang untuk kerja-kerja intelektual dan spiritual yang lebih serius.

Keberhasilan ini bukan berdiri sendiri. Ada sinergi umat di baliknya. Baitul Maal Hidayatullah (BMH), sebagai penggerak utama, mampu menjalin kolaborasi produktif dengan para donatur, institusi keuangan, hingga perusahaan nasional.

Dukungan mereka menjadi pilar keberlangsungan program. Syamsuddin pun mengungkapkan rasa syukur yang mendalam, “Terima kasih kepada para donatur yang telah mendukung program ini. Semoga dari setiap butir beras yang dimakan oleh para santri, kita semua mendapatkan keberkahan.”

Lebih dari itu, jelas Syamsuddin, panen kali ini menjadi lebih efisien dan produktif berkat penggunaan combine harvester, mesin panen kombinasi yang mempercepat kerja di lapangan dan menjaga kualitas hasil panen. Teknologi bukan lagi asing di pesantren; ia menjadi mitra dalam perjuangan kemandirian.

Dampak lanjutan dari program ini sudah mulai terlihat. Dengan kebutuhan pangan yang stabil, pesantren mulai mengalokasikan perhatian pada peningkatan sarana belajar serta pemberian beasiswa bagi santri yang ingin melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.

Program Lumbung Pangan Santri adalah bukti konkret bahwa ketika umat bersinergi, hasilnya bukan hanya panen padi, tetapi panen kebaikan dan keberdayaan. Kemandirian pesantren bukan utopia, ia sedang tumbuh, butir demi butir, di antara sawah-sawah yang dikelola dengan iman dan ilmu.

Dia menegaskan, BMH pun berkomitmen membawa model ini ke lebih banyak pesantren di seluruh Indonesia. Visinya jelas, yakni menjadikan pesantren sebagai pusat pembelajaran yang mandiri, sejahtera, dan unggul.

“Sekarang, kami tidak lagi khawatir soal konsumsi santri. Fokus utama kami adalah bagaimana membuat mereka lebih berkonsentrasi dalam belajar dan menghafal Al-Qur’an,” tambah Syamsuddin.

DMU Hidayatullah Sulbar Menyiapkan Generasi Cerdas dan Militan

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Di penghujung Mei 2025, suasana hangat pengkaderan kembali terasa di bumi Manakarra. Pengurus DPW Hidayatullah Sulawesi Barat menyelenggarakan Daurah Marhalah Ula (DMU) tingkat SMU se-Sulawesi Barat bertempat di Binaan Khusus (Bianpus) Madya Hidayatullah Mamuju, pada 2-4 Dzulhijah 1446 (29–31/5/2025).

Meski jumlah peserta tak mencapai ratusan, semangat yang dibawa oleh setiap individu dalam daurah ini menegaskan bahwa kaderisasi bukan sekadar soal kuantitas, melainkan kualitas kesungguhan.

Najamuddin, M.Pd., Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulbar yang juga menjadi ketua panitia kegiatan ini, menjelaskan adanya kendala teknis sehingga beberapa siswa tidak dapat hadir.

“Peserta asal SMU Hidayatullah Polman tidak hadir di sini mengingat mereka sedang belajar di SDH Hidayatullah Parepare dan persiapan mengikuti kegiatan yang sama di Parepare,” ungkapnya.

Dengan mengusung tema Menjadi Kader Hidayatullah yang Cerdas dan Militan, daurah ini menjadi refleksi strategis arah gerakan pengkaderan ke depan. Para peserta tidak hanya menerima materi dasar tentang keislaman, tetapi juga diperkenalkan pada esensi gerakan dakwah Hidayatullah yang bercirikan tarbiyah dan transformasi sosial.

Di antara pemateri utama, Drs. H. Mardhatillah menyampaikan materi Komitmen Bersyahadat dan Makna serta Konsekuensinya. Dalam uraiannya, ia menekankan bahwa syahadat bukan hanya pengakuan lisan, tetapi juga ikrar perubahan total dalam hidup.

Drs. Muhammad Naim Tahir, Ketua DMW Hidayatullah Sulbar, membawakan materi Tarbiyah Ruhiyah, menekankan pentingnya penguatan spiritual sebagai fondasi dari militansi dakwah.

Sedangkan Abdurrahman Hasan, S.Pd.I., anggota DMW, menyampaikan materi Transformasi Masyarakat, memperlihatkan kait erat antara dakwah dan perubahan sosial.

Pengenalan organisasi dibawakan oleh Muhammad Bashori, S.Pd.I., selaku Ketua Departemen Organisasi dan SDI, sementara Najamuddin menyampaikan materi Proses Lahirnya Syahadat, mengajak peserta merenungi ulang akar kesadaran berislam mereka dalam bingkai gerakan Hidayatullah.

Menurut Najamuddin, target utama dari kegiatan ini adalah agar peserta lebih memahami lembaga tempat mereka menimba ilmu—bukan semata sebagai sekolah, tetapi sebagai institusi kaderisasi yang membawa misi besar.

*“Kami berharap peserta mengenal organisasi Hidayatullah, memahami visi, misi, serta gerakan utamanya yang bertumpu pada tarbiyah dan dakwah,” jelasnya.

Kegiatan ini bagian dari upaya pembentukan karakter dan peradaban. Hasil dari daurah ini diharapkan melahirkan pribadi muslim yang taat, sekaligus kader cerdas dan militan yang siap mengambil peran strategis dalam membangun umat, bangsa, dan agama.*/