Beranda blog Halaman 112

Baznas Ingatkan Pentingnya Zakat dan Sedekah yang Tepat Sasaran

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bulan Ramadhan merupakan momen istimewa yang selalu diwarnai dengan meningkatnya semangat berbagi. Umat Islam berlomba-lomba dalam menyalurkan zakat, infak, dan sedekah sebagai bentuk kepedulian sosial.

Namun, di tengah gelombang filantropi ini, muncul fenomena pengemis musiman, yakni individu yang memanfaatkan momen Ramadhan untuk mengumpulkan dana dari masyarakat tanpa benar-benar mengalami kesulitan ekonomi.

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mengingatkan bahwa tidak semua pengemis yang terlihat di jalanan adalah orang yang benar-benar membutuhkan bantuan.

Ketua Baznas RI, Prof. KH Noor Achmad, dalam doorstop interview usai acara Public Expose 2025 bertema Bahagia dengan Berbagi yang diselenggarakan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) di Jakarta, Selasa, 26 Syaban 1446 (25/2/2025), menyatakan bahwa ada dua kategori pengemis: mereka yang mengemis karena kebutuhan dan mereka yang menjadikan mengemis sebagai mata pencaharian.

Noor Achmad menegaskan bahwa perbedaan utama antara kedua kategori ini terletak pada motif di balik aktivitas mengemis. Pengemis sejati adalah mereka yang terdorong oleh kebutuhan mendesak dan keterbatasan ekonomi yang nyata. Mereka tidak memiliki sumber penghasilan lain dan mengandalkan belas kasihan masyarakat untuk bertahan hidup.

Sebaliknya, pengemis musiman sering kali merupakan individu yang tidak benar-benar miskin, tetapi memanfaatkan kemurahan hati masyarakat di bulan Ramadhan untuk mendapatkan keuntungan finansial.

“Karena pengemis musiman belum tentu pengemis, bisa jadi dia orang kaya,” ujar Prof. Noor Achmad kepada wartawan.

Dia menjelaskan, mengemis dapat berubah menjadi sebuah “profesi” bagi sebagian orang. Jika mengemis dipandang sebagai pekerjaan, maka hal ini tidak hanya menciptakan ketergantungan sosial, tetapi juga mengurangi insentif bagi individu untuk mencari mata pencaharian yang lebih produktif.

Noor Achmad menekankan bahwa mengemis seharusnya tidak menjadi pekerjaan, melainkan solusi darurat bagi mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan.

“Jangan sampai menyalurkan zakat, infak, dan sedekah kepada orang yang mengemis tetapi menjadikannya sebagai pekerjaan,” tambahnya. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk membedakan antara mereka yang membutuhkan dan mereka yang hanya mengeksploitasi belas kasihan publik.

Salah satu solusi yang diusulkan oleh Baznas adalah memastikan bahwa zakat, infak, dan sedekah disalurkan melalui lembaga amil zakat resmi dan terpercaya.

Lembaga-lembaga ini memiliki sistem verifikasi yang ketat dalam menyalurkan bantuan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan. Dengan demikian, risiko dana filantropi jatuh ke tangan yang tidak berhak dapat diminimalkan.

“Sedekah, infak, atau zakat salurkanlah kepada lembaga-lembaga yang tepat, sehingga mereka akan memberikan kepada orang yang tepat,” ujar Noor Achmad.

Dengan menyalurkan bantuan melalui lembaga yang kredibel, masyarakat dapat memastikan bahwa dana mereka digunakan secara efektif untuk memberdayakan kelompok rentan dan bukan untuk mendukung praktik eksploitasi sosial. (ybh/hidayatullah.or.id)

Public Expose Laznas BMH 2025, Menteri Agama Sampaikan Pesan Ramadhan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menjelang bulan suci Ramadhan 1446 H, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar acara Public Expose 2025 sekaligus meluncurkan tema program Ramadhan bertajuk “Bahagia dengan Berbagi” di Jakarta, Selasa, 26 Syaban 1446 (25/2/2025).

Menteri Agama (Menag) Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., yang berhalangan hadir secara langsung karena masih dalam pemulihan pasca menjalani operasi kecil, menyampaikan sambutannya dalam bentuk rekaman video pada acara yang berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah ini.

Dalam sambutannya, Menag RI membuka pidato dengan doa, “Allahumma bariklana fi Rajaba wa Sya’bana wa balighna Ramadhan,” seraya berharap agar Allah melimpahkan keberkahan di penghujung Sya’ban serta memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk bertemu dengan bulan Ramadhan.

Menurutnya, Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan oleh umat Islam, bahkan sejak dua bulan sebelumnya, tepatnya sejak bulan Rajab.

“Ramadhan bulan yang sangat dinanti nantikan oleh umat Islam, bahkan kerinduan Ramadhan sudah terasa sejak dua bulan sebelumnya yakni sejak bulan Rajab. Sehingga, doa doa yang sudah dipanjatkan, agar kita bisa bertemu dengan Ramadhan,” ujar Menag.

Lebih lanjut, Menag menyampaikan apresiasi atas inisiatif Laznas BMH dalam menggelar Public Expose dan peluncuran program Ramadhan.

Baginya, kegiatan ini adalah bentuk tarhib Ramadhan, sebuah ekspresi kebahagiaan atas datangnya bulan suci serta harapan untuk meraih berbagai kebaikan di dalamnya.

“Ini mengingatkan kita semua pada salah satu pesan Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal,” kata Menag RI, seraya mengutip hadis:

“Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah (Ramadhan), diwajibkan kepada kalian ibadah puasa, dibukakan pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barang siapa yang tidak mendapatkan kebaikannya berarti ia telah benar-benar terhalang atau terjauhkan dari kebaikan”.

Dalam kerangka inilah, Menag RI menekankan bahwa tema “Bahagia dengan Berbagi” yang diusung oleh BMH memiliki makna yang menghunjam. Tema ini menurutnya juga pengingat bahwa kepedulian sosial adalah bagian penting dari ibadah di bulan Ramadhan.

“Saya mengapresiasi tema program Ramadhan BMH tahun ini, yaitu Ramadhan 1446 Hijriyah, ‘Bahagia dengan Berbagi’. Tema ini memberikan pesan tentang pentingnya kepedulian. Berbagi adalah keutamaan, wujud nyata dari ketakwaan,” ungkapnya.

Menurut Menag, Ramadhan bukan hanya tentang kesalehan personal, tetapi juga kesalehan sosial. Momentum ini seharusnya dijadikan ajang untuk meningkatkan kepedulian terhadap sesama, membantu mereka yang membutuhkan, dan menciptakan harmoni sosial yang lebih baik.

“Semoga di Ramadhan tahun ini kita dapat menebar kebaikan dan kemaslahatan sehingga terwujud masyarakat Indonesia yang berlimpah berkah, makmur, dan sejahtera. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin,” tutupnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

PKAUD Godok Penguatan Strategi Ketahanan Keluarga dan Pendidikan Anak Usia Dini

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pendidikan Keluarga dan Anak Usia Dini (PKAUD) Hidayatullah menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah pada Selasa, 26 Syaban 1446 (25/02/2025).

Rakor ini bertujuan untuk membangun strategi pendidikan keluarga yang lebih sistematis dan berbasis nilai-nilai Islam guna menghadapi dinamika sosial yang semakin kompleks. Forum juga menggodok penguatan strategi ketahanan keluarga dan pendidikan anak usia dini.

Dalam sambutannya, Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ir. M. Abu A’la Abdullah, M.HI, menegaskan pentingnya rakor ini dalam merumuskan kebijakan yang akan memperkuat pendidikan keluarga di lingkungan Hidayatullah.

“Raker PKAUD ini diharapkan menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang dibutuhkan oleh kader Hidayatullah di mana pun berada,” ujarnya.

Meskipun perumusan strategi ini dianggap terlambat, Abu A’la menekankan bahwa langkah ini tetap harus dilakukan secara mendasar dan terencana.

“Hidayatullah tetap harus membuat program yang mendasar seraya membuat strategi yang mampu mengejar atau mengimbangi dinamika rumah tangga yang sangat dinamis, baik di internal keluarga Hidayatullah maupun di tengah-tengah masyarakat umum,” lanjutnya.

Sebagai bagian dari penguatan pendidikan keluarga, PKAUD Hidayatullah diharapkan dapat segera melahirkan instruktur yang mumpuni dalam bidang pembinaan pasangan suami istri (pasutri) serta pendidikan anak usia dini (parenting).

“Semoga Departemen PKAUD Pusat segera melahirkan para instruktur, baik untuk pembinaan pasangan suami istri maupun pendidikan anak usia dini,” tambah Abu A’la.

Memanfaatkan Teknologi dan Agenda Rakor

Dalam era digital yang berkembang pesat, pemanfaatan teknologi menjadi faktor krusial dalam penyebaran konsep pendidikan keluarga. Oleh karena itu, PKAUD Hidayatullah didorong untuk lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.

“PKAUD juga harus mampu memaksimalkan perkembangan teknologi dalam mengembangkan atau mensosialisasikan program atau konsep yang disusun, bisa itu dalam bentuk podcast, konten YouTube, atau materi edukasi tentang rumah tangga dan anak di TikTok atau sejenisnya,” jelas Abu A’la.

Dalam rakor ini, beberapa agenda utama yang dibahas meliputi konsep parenting berbasis Sistematika Wahyu, strategi membangun komunikasi yang sehat dan efektif dalam rumah tangga guna menciptakan hubungan yang harmonis, konsep pra-nikah berisi persiapan mental, spiritual, dan emosional bagi calon pasangan suami istri agar memiliki fondasi yang kuat dalam membangun keluarga.

Selain itu juga dibahas materi TOT (Training of Trainers) Instruktur Parenting dan Konsultan Pernikahan yakni pelatihan bagi calon instruktur yang akan membimbing keluarga-keluarga dalam penerapan konsep parenting dan pernikahan Islami.

Pentingnya Peran Ayah dalam Keluarga

Salah satu pemateri dalam rakor ini, Dra. Hj. Irawati Istadi, menekankan pentingnya komunikasi dalam keluarga sebagai elemen kunci dalam membangun keluarga yang sehat.

“Pola komunikasi keluarga harus menjadi concern utama PKAUD Hidayatullah sebagai salah satu kunci utama dalam membangun keluarga yang sehat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Irawati juga menyoroti peran sentral ayah dalam kehidupan anak. Ia menegaskan bahwa kehadiran figur ayah sangatlah krusial dalam pembentukan karakter anak.

“Hadirnya figur ayah dalam kehidupan anak adalah kebutuhan yang sangat pokok. Olehnya itu, panduan menjadi ayah teladan harus menjadi program pertama yang harus dituntaskan oleh tim PKAUD Hidayatullah,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Irawati juga menguraikan beberapa manfaat dari keterlibatan ayah dalam perkembangan anak, seperti peningkatan rasa percaya diri, kestabilan emosional, serta perkembangan sosial yang lebih baik pada anak.*/Naspi Arsyad

KH Anwari: Pendidikan Berkaitan dengan Keselamatan Dunia-Akhirat

0
KH Anwari Hambali dalam salah satu kesempatan mengisi kajian [Foto: SKR/Media Ramadhan/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Berbagai dinamika perubahan kurikulum pendidikan hendaknya tak mengubah visi dasar pendidikan dalam membangun peradaban Islam. Pendidikan adalah realisasi dari keyakinan dan keimanan seseorang.

Inilah peran strategis seorang pendidik sebagai figur terdepan sekaligus punya tanggung jawab besar dalam merealisasikan visi tersebut. Mendidik murid untuk memiliki orientasi peradaban Islam.

Uraian mendalam itu disampaikan oleh KH Anwari Hambali, Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan, khususnya yang membidangi Pendidikan dan Pengkaderan.

“Peradaban itu manifestasi keimanan. Semua aspek pendidikan-pengkaderan adalah satu kesatuan dengan keimanan seseorang. Mulai dari tujuan, proses, hingga ruh seorang guru adalah cermin keunggulan imannya,” ungkapnya, beberapa waktu lalu seperti dikutip dari laman Ummulqurahidayatullah.id, Senin, 25 Syaban 1446 (24/2/2025).

“Ada istilah, ath-thariqatu ahammu minal maddah, dan puncaknya adalah wa ruhul mudarris ahammu min kulli syai,” ucapnya menerangkan ungkapan populer tersebut.

Bahwa proses pembelajaran itu lebih penting dari materi pendidikan. Namun tetap saja yang paling pokok ialah kekuatan jiwa seorang guru, sebagai modal utama dalam menginspirasi dan mencerahkan sekaligus memberi keteladanan kepada murid-muridnya.

Lebih jauh, Kiai Anwari menjelaskan tentang hubungan antara ketetapan Allah (tauqifi) dan kreativitas manusia (ijtihadi).

Keduanya disebut saling berkaitan dalam kehidupan manusia, termasuk pada persoalan pendidikan.

Ketentuan Allah, lanjut Kiai Anwari, bersifat universal dan mencakup semua aspek. Tak hanya berupa firman Allah, tetapi juga yang berbentuk ciptaan-Nya.

“(Pendidikan) ini berkaitan dengan keselamatan dunia-akhirat. Saya membayangkan tanggung jawab guru ini besar sekali. Sangat penting dan tidak main-main,” ucapnya lugas.

Hukum Tauqifi

Sebagai contoh sederhana, kiai yang dijuluki pakar Sistematika Wahyu itu lalu memberi ilustrasi kacamata yang disebutnya sebagai ijtihad manusia.

“Kacamata itu ijtihadi. Kenapa desain gagang kacamata di atas telinga, itulah yang disebut kreativitas manusia tetap tunduk terhadap gaya tarik bumi (hukum tauqifi). Jadilah kacamata bermanfaat, itulah amal shaleh,” terangnya.

“Mengapa Nabi begitu tegas dalam kasus perempuan yang mencuri dari Bani Makhzum? Karena di hadapan hukum tauqifi tidak ada perbedaan, antara Nabi dan kita semua,” tambah pria asal Purbalingga ini.

Terakhir, Kiai Anwari mengingatkan tentang manhaj Sistematika Wahyu sebagai pola dasar pendidikan dan pengkaderan. Urutan turunnya wahyu tersebut, menurutnya bagian dari hukum tauqifi.

“Ini adalah manhaj tarbiyah dan manhaj dakwah. Karena tauqifi, pilihannya cuma sami’na wa atha’na. Ini tidak main-main,” pungkasnya dengan nada tetap penuh semangat.*/Abu Jaulah

Ketua Umum Ajak Songsong Ramadhan dengan Tekad dan Keikhlasan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Memasuki bulan suci Ramadhan yang tinggal menghitung hari, persiapan menjadi hal yang sangat penting untuk meraih keberkahan maksimal.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, MA., menegaskan bahwa niat yang tulus akan mengarahkan seseorang pada ibadah yang khusyuk, tekad yang kuat akan menuntun kepada konsistensi dalam beribadah, dan fisik yang prima akan mendukung pelaksanaan ibadah secara optimal.

“Bekal penting menghadapi Ramadhan adalah niat, tekad, dan fisik,” katanya saat menyampaikan tausiyah dalam acara Tarhib Ramadhan bertajuk “Ramadhan sebagai Momentum Penyucian Jiwa Bangsa” di Masjid Baitul Karim, Komplek Wisma dan Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Cipinang Cempedak, Polonia, Otista, Jatinegara, pada Sabtu, 23 Syaban 1446 (22 Februari 2025).

Sebagai bulan yang penuh berkah, Ramadhan memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk mendapatkan kebaikan yang terus mengalir.

“Bulan Ramadhan adalah bulan keberkahan yakni kebaikan yang terus menerus mengalir tanpa henti,” katanya. Keberkahan tersebut hadir dalam berbagai bentuk, baik dalam aspek spiritual, sosial, maupun intelektual. Oleh karena itu, penting untuk memahami esensi dari keberkahan ini dengan persiapan yang matang.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan, kenapa Ramadhan disebut bulan barokah karena ada berbagai keutamaan di dalamnya. Keutamaan tersebut meliputi peluang dikabulkannya doa, pahala ibadah yang dilipatgandakan, serta kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.

“Doa itu diterima jika orang berusaha meninggalkan dosa dan banyak berdoa. Kita maksimalkan melakukan itu di bulan Ramadhan,” katanya. Oleh karena itu, lanjutnya, bulan ini harus dimanfaatkan untuk memperbanyak istighfar, taubat, serta memohon ampunan kepada Allah dengan penuh keikhlasan.

Dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, keikhlasan menjadi faktor utama. KH. Nashirul Haq mengingatkan bahwa lawan ikhlas adalah riya’ dan syirik.

“Kalau kita beribadah tapi kurang ikhlas itu namanya menyelingkuhi Allah. Wa maa umiruu illaa liya’budullaaha mukhliṣiina lahud-diina ḥunafaa`a,” imbuhnya, menekankan ibadah yang tidak didasari keikhlasan akan kehilangan esensi spiritualnya, sehingga harus dijauhkan dari sifat riya’ atau keinginan pamer.

Kesimbangan Ibadah Ritual dan Sosial

Lebih jauh Nashirul menjelaskan, Ramadhan juga mengajarkan keseimbangan antara ibadah ritual dan sosial.

Dakwah dan aksi sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam menjalani bulan Ramadhan, karena Islam tidak hanya mengajarkan ibadah vertikal kepada Allah, tetapi juga kepedulian terhadap sesama.

“Ramadhan itu mengajarkan keseimbangan ibadah sosial dan ibadah ritual. Jangan meninggalkan tugas-tugas sosial, bahkan para dai harus menghidupkan dakwah,” ujarnya.

Persiapan menyambut Ramadhan tidak hanya sekadar niat, tetapi juga perencanaan matang. Dengan perencanaan yang baik, kita dapat menjalani Ramadhan secara optimal, baik dari segi ibadah, pemahaman Al-Qur’an, maupun kontribusi sosial.

“Menjalani Ramadhan perlu perencanaan yang dibarengi dengan tekad yang kuat, target-target yang maksimal, dan terus meneguhkan tugas-tugas keumatan. Tekad ini harus dibiasakan sejak kecil dengan motivasi yang kuat dari orangtua atau pendidik tak terkecuali di lingkungan pendidikan Hidayatullah,” katanya.

Salah satu aspek penting dalam bulan Ramadhan adalah memperbanyak tadabbur Al-Qur’an. Dia menekankan, tadabbur tidak sekadar membaca, tetapi juga memahami, merenungi, serta mengimplementasikan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita harus berusaha mentadabburi Al-Qur’an,” tegasnya, seraya mengimbuhkan keberhasilan dalam menjalani Ramadhan dengan baik memerlukan tekad dan usaha yang sungguh-sungguh.

Dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut, KH. Nashirul Haq menukil pepatah Arab yang artinya, “Kalau jiwa sudah punya obsesi yang kuat, maka fisik jasmani akan berlelah-lelah untuk mewujudkannya.”

Beliau juga memberikan panduan tentang bagaimana mewujudkan persiapan optimal dalam menyambut Ramadhan melalui empat konsep utama. Pertama Mu’ahadah (komitmen), yakni memperbarui janji kepada Allah untuk menjalani Ramadhan dengan penuh kesungguhan.

Kedua, mujahadah (kesungguhan usaha), yakni bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah dan menjauhi hal-hal yang bisa mengurangi pahala Ramadhan.

Ketiga, muroqabah (evaluasi), yakni mengintrospeksi diri dalam menjalani ibadah agar tetap berada di jalur yang benar. Dan, Keempat, muaqobah (menghukum diri), artinya memberikan konsekuensi bagi diri sendiri jika lalai dalam menjalankan ibadah. (ybh/hidayatullah.or.id)

Bulan Ramadhan sebagai Momentum Penyucian Jiwa Bangsa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Panitia Tarhib Ramadhan Gabungan Jakarta, Suhardi Sukiman, menyampaikan bahwa bulan Ramadhan sejatinya menghadirkan kesempatan bagi suatu bangsa untuk mengalami penyucian jiwa secara kolektif.

“Ramadhan bukan semata pengendalian diri secara pribadi, melainkan juga perbaikan moral sosial yang selaras dengan prinsip perubahan yang ditekankan dalam Al-Qur’an,” kata Suhardi ketika ditemui media ini disela acara Tarhib Ramadhan Hidayatullah Jakarta, Jawa Barat, dan Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.

Acara yang bertajuk “Ramadhan sebagai Momentum Penyucian Jiwa Bangsa” ini berlangsung di Masjid Baitul Karim, Komplek Wisma dan Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Cipinang Cempedak, Polonia, Otista, Jatinegara, pada Sabtu, 23 Syaban 1446 (22 Februari 2025).

Suhardi menjelaskan, dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11, Allah SWT telah mengingatkan bahwa tidak akan berubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Demikian pula dalam Surah Al-Anfal ayat 53 dimana manusia didorong untuk berupaya dengan sungguh sungguh menjadi lebih baik karena Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.

“Dua ayat ini menegaskan bahwa transformasi suatu bangsa harus dimulai dari perubahan individu yang menjadi bagian dari masyarakat tersebut,” terang Sekretaris Wilayah DPW Hidatyatullah Daerah Khusus Jakarta ini.

Dia menjelaskan, Ramadhan menanamkan nilai-nilai yang menuntun pada transformasi sosial. Puasa mengajarkan seseorang untuk merasakan kesusahan yang dialami oleh mereka yang kurang beruntung.

Begitu pula dalam menahan lapar dan dahaga, umat Muslim diingatkan akan penderitaan kaum papa yang kerap bergulat dengan kemiskinan.

Dalam kondisi tersebut, terang Suhardi, hal ini membangun empati yang pada gilirannya mendorong kesadaran kolektif untuk berbagi dan membantu sesama.

“Spirit Ramadhan mengarahkan individu dan masyarakat pada kepedulian sosial yang konkret, seperti berbagi makanan melalui zakat dan sedekah, yang tidak hanya meringankan beban ekonomi kelompok rentan, tetapi juga menyeimbangkan distribusi kesejahteraan,” jelasnya.

Lebih jauh, Suhardi menerangkan, nilai-nilai Ramadhan juga memiliki implikasi terhadap kehidupan ekonomi bangsa. Tradisi berbagi yang meningkat selama bulan suci ini mempercepat sirkulasi ekonomi, baik melalui konsumsi rumah tangga maupun donasi sosial.

Ramadhan mendorong aktivitas ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan pribadi, tetapi juga membawa manfaat bagi komunitas luas. Peningkatan kegiatan amal, belanja kebutuhan pokok, serta distribusi zakat dan infak menciptakan perputaran ekonomi yang berorientasi pada keadilan sosial.

“Dengan demikian, Ramadhan menjadi instrumen penyatu bagaimana nilai-nilai spiritual dapat bersinergi dengan aspek material dalam membangun kesejahteraan nasional,” imbuhnya.

Namun, dia menegaskan, perubahan fundamental tidak akan terwujud hanya dalam bentuk kegiatan seremonial belaka. Ramadhan bukan sekadar momen tahunan yang berlalu tanpa jejak, tetapi harus menjadi titik tolak transformasi yang lebih fundamental.

Masyarakat yang telah melalui pendidikan moral dan spiritual selama bulan ini seharusnya mampu membawa nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari, bahkan setelah Ramadhan berakhir.

“Jika setiap individu yang telah disucikan oleh Ramadhan mampu mempertahankan semangat kesalehan sosialnya, maka jiwa bangsa pun akan turut terangkat ke arah perbaikan yang berkelanjutan,” katanya.

Dengan jiwa umat yang telah tersirami oleh keutamaan Ramadhan, diharapkan transformasi sosial yang diidamkan dapat tercapai.

Jika nilai-nilai Ramadhan dapat diinternalisasi dalam keseharian dan mengakar dalam struktur sosial bangsa, tambah Suhardi, maka negeri ini dapat menuju cita-cita menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—sebuah bangsa yang makmur, sejahtera, dan mendapat ampunan serta ridha dari Allah SWT.*/Puji Asmoro

SAR Hidayatullah Gelar Rapimnas, Bahas Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Gempa Megathrust

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Ancaman gempa megathrust menjadi isu strategis dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) SAR Hidayatullah yang digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, yang dibuka pada Sabtu, 23 Syaban 1446 (22/2/2025).

Acara Rapimnas ini dibuka dengan seminar kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa besar. Seminar ini menghadirkan Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si, pakar geologi sekaligus dosen Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), sebagai pembicara utama.

Dalam paparannya, Dr. Amien Widodo menjelaskan bahwa Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), yang menjadikannya salah satu negara dengan risiko gempa bumi dan tsunami tertinggi di dunia.

Amien menyebutkan, salah satu ancaman terbesar adalah potensi gempa megathrust yang dapat mencapai magnitudo lebih dari 8,5 skala Richter dan memicu tsunami besar.

“Indonesia berada di kawasan yang sangat rawan terhadap gempa dan tsunami. Oleh karena itu, kesiapsiagaan berbasis edukasi dan koordinasi menjadi kunci dalam menghadapi ancaman Megathrust,” tegasnya.

Amien menyoroti bahwa strategi mitigasi harus berbasis komunitas dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.

“Pemahaman terhadap risiko bencana harus ditanamkan sejak dini, baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan berbasis komunitas,” katanya. Dengan cara ini, kita bisa membangun ketahanan masyarakat yang lebih baik,” tambahnya.

Seminar ini turut dihadiri oleh Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur Amun Rowie, Ketua SAR Nasional Hidayatullah Irwan Harun, Ketua Departemen Sosial DPW Hidayatullah Jatim Abdul Halim, serta perwakilan dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Jawa Timur.

Para peserta yang merupakan perwakilan SAR Hidayatullah dari berbagai daerah juga terlihat aktif berdiskusi mengenai langkah-langkah konkret yang bisa diterapkan dalam mitigasi bencana.

Tingkatkan Kapasitas Relawan

Ketua SAR Nasional Hidayatullah, Irwan Harun, dalam sambutannya menegaskan komitmen lembaganya dalam meningkatkan kapasitas relawan serta memperkuat sinergi dengan berbagai pihak dalam menghadapi potensi bencana.

“SAR Hidayatullah terus berupaya membangun sistem tanggap darurat yang lebih baik serta menanamkan budaya kesiapsiagaan di setiap lini masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Irwan menekankan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan peran aktif masyarakat dan organisasi kemanusiaan.

Oleh karena itu, SAR Hidayatullah berencana memperluas jaringan pelatihan kebencanaan bagi relawan di berbagai daerah serta menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga terkait dalam rangka memperkuat sistem mitigasi bencana nasional.

Dengan adanya forum ini, Irwan menambahkan, diharapkan semakin banyak komunitas yang memiliki pemahaman lebih baik tentang risiko bencana serta langkah-langkah mitigasi yang harus dilakukan.

“Langkah strategis yang dirumuskan dalam Rapimnas ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman Megathrust serta berbagai potensi bencana lainnya di masa depan,” imbuhnya.

Rapimnas ini lanjutnya menjadi momentum penting bagi SAR Hidayatullah untuk menyusun strategi konkret dalam peningkatan kapasitas relawan dan penguatan jejaring koordinasi dengan lembaga kebencanaan lainnya.

Para peserta seminar secara aktif berbagi pengalaman dan membahas langkah-langkah preventif yang dapat diterapkan di daerah masing-masing guna menghadapi potensi gempa megathrust.*/Muhammad Hidayat

Wakil Gubernur Papua Barat Daya Kunjungi Pusat Dakwah Hidayatullah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Wakil Gubernur Papua Barat Daya, H. Ahmad Nausrau, S.Pd.I., MM, meluangkan waktu untuk berkunjung ke Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta dalam rangka menghadiri acara Tarhib Ramadhan.

Acara yang bertajuk “Ramadhan sebagai Momentum Penyucian Jiwa Bangsa” ini merupakan gabungan dari Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jakarta, DPW Hidayatullah Jawa Barat, dan Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.

Kegiatan ini berlangsung di Masjid Baitul Karim, Komplek Wisma dan Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Cipinang Cempedak, Polonia, Otista, Jatinegara, pada Sabtu, 23 Syaban 1446 (22 Februari 2025).

Dalam kunjungan ini, Ahmad Nausrau didampingi oleh Ketua Dewan Murabbi Hidayatullah Papua Barat Daya, Ust. H. Muhammad Sultan. Kehadirannya disambut langsung oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, MA.

Dalam sambutannya, pria kelahiran Koiway, Kabupaten Kaimana ini menyapa jamaah Masjid Baitul Karim dengan penuh kehangatan.

Ia mengungkapkan bahwa meskipun ini adalah kunjungan pertamanya ke Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, hubungan dirinya dengan Hidayatullah sudah sangat erat.

“Saya memang baru pertama kali ke sini (Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta), tetapi hubungan saya dengan Hidayatullah itu sudah seperti satu keluarga,” ujarnya dalam bahasa Arab yang fasih.

Ahmad Nausrau juga meminta doa dan dukungan dari jamaah agar dirinya senantiasa diberikan kekuatan serta istiqamah dalam menjalankan tugasnya, baik di jalur politik maupun dakwah.

“Saya berharap doa dan dukungan agar selalu berada di jalan dakwah membangun umat dan bangsa,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Nashirul Haq menilai dengan latar belakangnya sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua Barat, Ahmad Nausrau memiliki visi untuk mengembangkan nilai-nilai keislaman dan membangun harmoni di tengah masyarakat.

“Terimasih atas kehadirannya dan menyapa hadirin Tarhib Ramadhan Hidayatullah Jakarta, Jabar, dan Depok,” kata Nashirul, seraya mendoakan semoga amanah yang diemban Ahmad Nausrau semakin menyatukan peran politik dan dakwah demi kemajuan umat dan bangsa.

Sebagaimana diketahui, Ahmad Nausrau baru saja dilantik sebagai Wakil Gubernur Papua Barat Daya mendampingi Gubernur Elisa Kambu, S.Sos.

Pelantikan dilakukan secara serentak oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis, 20 Februari 2025. Bersama dengan kepala daerah lainnya, mereka resmi menjabat untuk periode 2025-2030.

Pelantikan para gubernur dan wakil gubernur tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres RI) yang dibacakan oleh Deputi Bidang Administrasi Aparatur Kementerian Sekretariat Negara, Nanik Purwanti. Keputusan yang dibacakan meliputi Keppres RI Nomor 15/P Tahun 2025 dan Nomor 24/P Tahun 2025 tentang pengesahan pengangkatan gubernur dan wakil gubernur masa jabatan 2025-2030.

Sebelumnya, pasangan Elisa Kambu dan Ahmad Nausrau ditetapkan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Barat Daya dalam rapat pleno yang dipimpin oleh Ketua KPU Papua Barat Daya, Andarias Daniel Kambu, pada Kamis, 6 Februari 2025 di Vega Hotel.

Keputusan tersebut berdasarkan hasil rekapitulasi suara di tingkat provinsi yang tertuang dalam formulir MODEL D.HASIL PROV-KWK, serta merujuk pada Pasal 56 dan Pasal 57 Peraturan KPU Nomor 18 Tahun 2024.

Proses penetapan ini juga mempertimbangkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 276/PHPU.GUB-XXIII/2025 yang mengesahkan hasil perolehan suara tanpa adanya sengketa. (ybh/hidayatullah.or.id)

Tarhib Ramadan Gabungan Hidayatullah Jakarta, Jawa Barat dan Depok

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -– Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jakarta, Jawa Barat, dan Kampus Hidayatullah Depok menggelar acara Tarhib Ramadhan gabungan bertajuk “Ramadhan sebagai Momentum Penyucian Jiwa Bangsa” di Masjid Baitul Karim, Komplek Wisma dan Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Cipinang Cempedak, Polonia, Otista, Jatinegara, pada Sabtu, 23 Syaban 1446 (22/2/2025).

Acara ini menjadi ajang refleksi spiritual menjelang bulan suci dengan menghadirkan Anggota Dewan Murabbi Hidayatullah Jakarta yang membahas pentingnya menyambut Ramadhan dengan kesiapan jiwa dan pemurnian hati.

Menghidupkan Ramadhan dengan Al-Qur’an

Dalam ceramahnya, Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta, Ust. H. Muhammad Dirlis Karyadi menekankan bahwa keberislaman yang sejati tidak bisa dilepaskan dari kedekatan dengan Al-Qur’an.

Ia menguraikan lima tahap yang seharusnya dijalani seorang Muslim dalam berinteraksi dengan kitab suci tersebut: membaca (tilawah), memperbaiki bacaan (tahsin), menghafal (hifzhan), memahami isi (tafahhum), serta mendakwahkan (tabligh).

“Kalau seseorang benar-benar membaca Al-Qur’an dengan baik, maka ia tidak akan berani membacanya dengan guyonan atau tanpa kesungguhan,”* ujarnya.

Karyadi pun mengajak peserta untuk merenungkan bagaimana puasa Ramadhan mereka di tahun-tahun sebelumnya agar dapat menyambut bulan suci ini dengan semangat yang lebih besar.

Gelombang Spiritual Ramadhan

Penyampai taujih lainnya Anggota Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta Ust. H. Asdar Majhari Petta Ewang, S.Ag, menguraikan bagaimana Ramadhan menghadirkan dinamika spiritual yang berbeda dari hari-hari biasa.

Dia mengingatkan bahwa tanpa persiapan yang matang, seseorang bisa kehilangan momentum karena semangat awal yang cepat redup.

“Jangan sampai ketika memasuki Ramadhan, kita bersemangat di awal tapi kemudian melemah karena kurangnya kesiapan,”* tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahaya kesombongan spiritual, di mana seseorang bisa saja menggunakan ibadah sebagai ajang pamer kesalehan.

“Jangan karena status sosial kita, kita menjadi angkuh di hadapan Allah. Bahkan mungkin kita sengaja menanyakan berapa kali orang lain khatam Al-Qur’an di bulan Ramadhan hanya untuk pamer jumlah khatam kita sendiri,” tambahnya.

Menurutnya, Ramadhan adalah waktu untuk muhasabah diri, meninggalkan berhala-berhala kecil dalam kehidupan yang bisa menghambat ketakwaan. “Tidaklah kebaikan dibalas oleh Allah kecuali dengan kebaikan pula,” ujarnya.

Dia menambahkan, panaroma spiritual Ramadhan itu berbeda dengan hari hari lainnya yang hendaknya membuat gejolak di hati kita dengan gelombang besar.

“Maka, ketika memasuki Ramadhan tanpa persiapan maka bisa terguncang yang diawal penuh semangat berapi-api tapi kemudian segera melemah,” tandasnya.

Puasa sebagai Sarana Pengendalian Diri

Pemateri lainnya, KH. Mahmud Effendi dalam ceramahnya menegaskan bahwa esensi Ramadhan adalah ibadah puasa itu sendiri. Mengutip kitab Tanwirul Qulub fi Muamalati Allamil Ghuyub yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi, ia menyatakan bahwa menolak kewajiban puasa adalah bentuk kekafiran.

Ia menjelaskan bahwa puasa memiliki syarat dan rukun yang harus dipenuhi. “Puasa itu seperti bermain sepak bola, ada formasi dan ada aturannya. Syarat wajibnya ada empat, syarat sahnya ada empat, dan rukun utamanya ada dua, yakni niat dan menjaga diri dari pembatal puasa,”* ujarnya.

Ustaz Mahmud juga menyoroti pentingnya doa di bulan Ramadhan. Dia menganalogikan berdoa di bulan Ramadhan seperti mau memetik mangga yang sudah matang dan kelihatan di depan mata, maka doa itu adalah galah atau bambu kita untuk dipakai memetik.

“Maka galah harus kuat dan panjang agar bisa memetik buah tersebut. Di bulan Ramadhan ini Allah telah menjanjikan banyak keutamaan, itulah “buah mangga” yang tinggal kita galah dengan sekuat kuatnya dan dengan galah yang panjang,” tandasnya.

Ia pun mengingatkan agar umat Islam tidak ragu-ragu dalam meraih keberkahan bulan suci ini. “Ramadhan adalah bulan cinta, bulan Mahabbah. Jangan sia-siakan kesempatan ini,” pesannya.

Dengan semakin dekatnya bulan suci, diharapkan umat Islam dapat memanfaatkan waktu yang tersisa untuk memperkuat ibadah dan introspeksi diri agar dapat menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih dan jiwa yang penuh ketakwaan. (adm/hidayatullah.or.id)

Dr. Nashirul Haq dalam Tarhib Ramadhan: “Jauhi Dosa, Perbanyak Ibadah, dan Berdoalah”

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1446 H, Dr. Nashirul Haq, Lc, MA menyampaikan pesan inspiratif dalam acara Tarhib Ramadhan yang berlangsung di Masjid Baitul Karim, Jakarta Timur.

Beliau menekankan bahwa Ramadhan adalah momentum untuk menjauhi dosa, memperbanyak ibadah, dan memperkuat doa.

“Jika kita menjauhi dosa dan memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan, maka doa-doa yang kita panjatkan pasti akan dikabulkan,” ujarnya dalam acara Tarhib Ramadhan bertajuk “Ramadhan sebagai Momentum Penyucian Jiwa Bangsa” di Masjid Baitul Karim, Komplek Wisma dan Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Cipinang Cempedak, Polonia, Otista, Jatinegara, pada Sabtu, 23 Syaban 1446 (22 Februari 2025).

Dalam paparannya, Dr. Nashirul Haq mengajak umat Islam untuk memotivasi diri dalam berbuat kebaikan. Ia menekankan bahwa bagi pemula, penting untuk menumbuhkan semangat ibadah terlebih dahulu, tanpa terlalu menekankan tema keikhlasan.

Namun, bagi mereka yang sudah terbiasa beribadah, maka keikhlasan harus menjadi perhatian utama.

“Amalan yang terbaik menurut para ulama adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar. Ikhlas berarti hanya berorientasi kepada Allah SWT, sementara lawannya adalah riya’ dan syirik,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh umat Islam untuk meningkatkan semua ibadah dan kebaikan selama Ramadhan, karena di akhir bulan suci ini terdapat kemuliaan yang lebih luas.

Dr. Nashirul Haq juga menegaskan bahwa setiap Muslim perlu memiliki target yang jelas dalam Ramadhan, dengan semangat dan motivasi yang tinggi.

“Jangan hanya berniat, tapi manifestasikan dalam bentuk rencana yang benar-benar ingin direalisasikan,” tutupnya dengan penuh semangat.

Pesan ini diharapkan dapat menjadi dorongan bagi umat Islam untuk mengoptimalkan ibadah di bulan suci, meraih keberkahan, dan menanamkan kebiasaan baik yang berkelanjutan.*/Herim