Beranda blog Halaman 112

Hidayatullah dan Imigrasi Nunukan Sinergi Penguatan Karakter Generasi Muda di Wilayah Perbatasan

0

NUNUKAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya mempererat hubungan antarinstansi dan mendukung pendidikan di wilayah perbatasan, Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Nunukan, Adrian Soetrisno, menyambut hangat kunjungan perwakilan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Nunukan di ruang kerjanya, Selasa, 21 Rajab 1446 (21/1/2025).

Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk membahas peluang kerja sama yang berfokus pada pengembangan karakter generasi muda dan penguatan wawasan kebangsaan.

Dalam sambutannya, Adrian Soetrisno menegaskan komitmen Kantor Imigrasi untuk mendukung segala bentuk kegiatan yang berkontribusi pada pembangunan karakter generasi muda, terutama di wilayah perbatasan seperti Kabupaten Nunukan.

“Kami sangat mendukung segala bentuk kegiatan yang dapat membangun karakter generasi muda, terutama di wilayah perbatasan seperti Kabupaten Nunukan. Kantor Imigrasi selalu siap bekerja sama dalam lingkup yang mendukung peningkatan pendidikan dan wawasan kebangsaan,” ujar Adrian.

Kawasan perbatasan, seperti Kabupaten Nunukan, kerap menghadapi tantangan unik dalam mengembangkan sumber daya manusia. Dalam hal ini, peran lembaga pendidikan dan instansi pemerintah menjadi sangat penting.

Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, yang aktif dalam mendidik generasi muda, melihat potensi besar dalam berkolaborasi dengan Kantor Imigrasi untuk memberikan edukasi terkait keimigrasian kepada para santri.

Perwakilan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Nunukan yang dipimpin Ust. Dzikrullah menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan oleh Adrian Soetrisno dan timnya. Dalam pertemuan tersebut, mereka mengusulkan pelaksanaan program penyuluhan keimigrasian bagi para santri.

Langkah ini dinilai penting, mengingat posisi strategis Kabupaten Nunukan sebagai wilayah perbatasan yang membutuhkan pemahaman mendalam tentang pentingnya dokumen keimigrasian.

Adrian Soetrisno merespons positif usulan tersebut. Ia menekankan bahwa pemahaman terkait keimigrasian bukan hanya penting bagi kelancaran administrasi, tetapi juga menjadi bagian integral dalam membangun wawasan kebangsaan generasi muda.

“Kami siap hadir untuk memberikan sosialisasi dan informasi, sehingga para santri memiliki pemahaman yang baik tentang keimigrasian. Edukasi ini juga akan membantu mereka menjadi warga negara yang lebih sadar akan pentingnya mematuhi aturan keimigrasian di daerah perbatasan,” jelas Adrian.

Kantor Imigrasi Nunukan sendiri telah menunjukkan komitmen tinggi dalam mendukung pendidikan masyarakat. Melalui berbagai program sosialisasi, instansi ini berupaya memberikan edukasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Salah satu fokus utamanya adalah memperkuat wawasan kebangsaan, yang menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan globalisasi, terutama di daerah perbatasan yang rawan dengan isu lintas batas.

Wilayah perbatasan sering kali menjadi titik rawan yang menghadapi berbagai isu kompleks, mulai dari perdagangan manusia hingga imigrasi ilegal. Oleh karena itu, Adrian menegaskan pentingnya membangun karakter generasi muda yang kuat dan berwawasan kebangsaan.

“Edukasi sejak dini, termasuk melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren, adalah langkah strategis untuk memastikan generasi muda kita memiliki fondasi yang kokoh dalam menghadapi tantangan masa depan,” tambahnya.

Selain itu, Adrian juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung program-program edukatif di daerah perbatasan. Kerja sama antara Kantor Imigrasi dan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah diharapkan dapat menjadi model sinergi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dalam waktu dekat, rencana penyuluhan keimigrasian akan segera dirancang secara lebih terperinci untuk memberikan dampak maksimal bagi para santri.*/

MoU Pesantren Tahfidz Darul Hijrah Deli Serdang untuk Dakwah ke Pedalaman

0

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Langkah penting diambil oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Sumatera Utara dan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Deli Serdang melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) untuk Program Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Darul Hijrah Deli Serdang pada tanggal 21 Rajab 1446/ 21 Januari 2025.

Bertempat di Kantor BMH di Jl. Karya Wisata No. 20D, Medan Johor, Kota Medan, kolaborasi ini diharapkan mampu membawa angin segar bagi dakwah dan pendidikan Islam di Sumatera Utara.

Acara ini dihadiri Ketua DPD Hidayatullah Deli Serdang, Ustaz Samsul Bahri; Ketua Yayasan Darul Hijrah Deli Serdang, Ustaz Pathun Nur; Ketua Perwakilan BMH Sumut, Muhammad Nuh; serta Kepala Divisi Operasional BMH Sumut, Muhamad Arif Firdaus.

Dalam sambutannya, Ustaz Samsul Bahri menyampaikan harapan besar terhadap program ini. Ia menekankan pentingnya mempersiapkan generasi penghafal Al-Qur’an yang memiliki misi dakwah kuat, khususnya untuk menjangkau wilayah-wilayah pelosok.

“Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut dan menghasilkan para tahfidz yang siap diterjunkan ke pelosok, membawa misi dakwah ke pedalaman. Ini adalah tugas besar yang memerlukan komitmen dan dukungan bersama,” ujar Ustaz Samsul.

Harapan ini sejalan dengan visi besar pesantren untuk menjadi pusat pendidikan Islam yang tidak hanya mencetak generasi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga pemimpin yang siap mengemban tugas dakwah di berbagai medan, termasuk daerah terpencil yang masih minim akses pendidikan Islam.

Pesantren Sebagai Model Percontohan

Muhammad Nuh, Kepala Perwakilan BMH Sumut, menggarisbawahi bahwa Pesantren Tahfidz Darul Hijrah memiliki potensi besar untuk menjadi model bagi pesantren tahfidz lainnya di masa depan. Ia menyebut pesantren ini sebagai “pilot project” yang dapat menginspirasi pengembangan lembaga serupa di berbagai daerah.

“Kami ingin pesantren ini menjadi model percontohan untuk pengembangan pesantren tahfidz lainnya. Dengan sinergi yang baik, kami berharap dapat melahirkan generasi cerdas spiritual yang memiliki visi dakwah untuk menjangkau lebih banyak wilayah di Sumatera Utara,” ungkap Muhammad Nuh.

Melalui kerja sama ini, BMH dan Hidayatullah menargetkan penyediaan fasilitas pendidikan yang memadai, sistem pengajaran yang terstruktur, serta pembinaan yang berorientasi pada pembentukan karakter para santri. Dukungan masyarakat luas juga diharapkan menjadi salah satu kunci kesuksesan program ini.

Pesantren Tahfidz Darul Hijrah didirikan untuk menjawab kebutuhan mendesak akan kader-kader dakwah yang mampu menjangkau wilayah pedalaman. Banyak daerah di Sumatera Utara yang hingga kini belum mendapatkan akses yang memadai terhadap pendidikan Islam. Kehadiran para tahfidz yang juga berperan sebagai dai diharapkan mampu mengisi kekosongan tersebut.

“Kami yakin, dengan sinergi yang terjalin melalui program ini, akan lahir generasi yang tidak hanya hafal Al-Qur’an tetapi juga mampu membawa perubahan di tengah masyarakat. Misi ini mulia, dan kami mohon doa serta dukungan dari seluruh masyarakat agar dapat berjalan lancar,” ujar Muhammad Nuh menutup sambutannya.

Melalui kerja sama ini, langkah menuju terwujudnya generasi tahfidz yang berdaya dakwah semakin dekat. Kini, masyarakat Sumatera Utara menantikan realisasi dari misi besar ini, sebuah upaya nyata untuk membangun peradaban berbasis nilai-nilai Islam yang kokoh dan berkelanjutan.*/Herim

Guru dan Transformasi Pendidikan Islam

0

PADA Selasa, 21 Januari 2025 lalu, sebuah pesan jalur pribadi (japri) via WhatsApp dari seorang kawan tiba, isinya singkat namun sarat makna:

“Guru yang baik dan metode pembelajaran yang baik niscaya mereka akan menjadikan murid yang unggul dan berprestasi. Pemimpin negara yang baik akan menciptakan guru-guru yang baik, dan sistem pendidikan yang baik akan menciptakan generasi yang cerdas dan berakhlak.”

Pesan ini menggelitik pikiran saya, seolah menjadi pintu untuk merenungkan kembali peran vital guru dalam pendidikan Islam, sebagaimana dirumuskan oleh Asmaji Muchtar, dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.

Menurut Asmaji Muchtar, tujuan pendidikan Islam adalah membentuk pribadi peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, sekaligus sehat, berilmu, dan cakap. Namun, bagaimana ini tercapai jika bukan melalui guru?

Sebagai perwujudan nilai-nilai Islam, pendidikan harus menjadi proses transformasi kebudayaan, nilai, dan ilmu pengetahuan. Guru berada di pusat dari transformasi ini, membimbing siswa menuju kesempurnaan (insan kamil), yaitu individu yang sadar akan dirinya dan lingkungannya.

Pelajaran dari Sejarah

Kisah yang sering dikutip tentang Kaisar Hirohito dari Jepang memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah bangsa yang hancur dapat bangkit melalui pendidikan.

Setelah Jepang menyerah pada Perang Dunia II, Kaisar Hirohito meminta para jenderal dan menterinya untuk mencatat berapa banyak guru yang masih hidup.

Kaisar Hirohito menyatakan, “Kita kalah total dalam perang ini, karena kita lebih bodoh daripada mereka. Untuk itu, kita memerlukan guru-guru yang berpengalaman, berdedikasi, cerdas, dan fokus untuk membangun sumber daya manusia Jepang.”

Langkah sang Kaisar ini menunjukkan pemahamannya bahwa pembangunan bangsa dimulai dari pendidikan, dan guru adalah kunci utamanya. Dalam 25 tahun, Jepang berhasil menjadi salah satu negara paling maju di dunia.

Dalam perspektif Islam, peran guru jauh lebih luas daripada sekadar pengajar. Al-Ghazali dalam Minhajul Abidin, sebagaimana dikutip oleh Asmaji Muchtar, menekankan bahwa kedudukan seorang guru ada tiga, yaitu; pembuka (al-fatih), pemberi kemudahan (as-saahil) dan pengantar menuju sukses (at-tahshil).

Al-fatih bermakna pembuka akal dan cakrawala berfikir anak didik dari tidak tahu menjadi tahu. As-saahil merupakan kemudahan yang diberikan seorang guru bagaimana cara yang tepat dan cepat memahami suatu masalah (ilmu) kepada siswa.

Kemudian At-tahshiil, adalah pendidik yang berhasil mengantarkan siswanya mencapai keberhasilan dalam mempelajari ilmu pengetahuan hingga terjadi perubahan cara pandang, cara berfikir, dan cara mengambil keputusan terhadap suatu persoalan.

Ketiga peran ini menunjukkan betapa strategisnya posisi guru dalam pendidikan Islam. Mereka adalah penghubung antara peserta didik dan nilai-nilai Islami, membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga matang secara spiritual.

Dengan peran strategis ini, seorang guru dalam pendidikan Islam tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga bertanggung jawab mengubah cara berpikir siswa, memfasilitasi aktualisasi potensi, dan membimbing mereka menuju akhlak mulia.

Namun, bagaimana memastikan guru mampu menjalankan peran ini? Pesan japri dari kawan tadi yang menyebutkan “Pemimpin negara yang baik akan menciptakan guru-guru yang baik” memberi jawaban sederhana namun sangat mengena. Kualitas guru bergantung pada sistem pendidikan yang mendukung pengembangan kompetensi mereka, baik secara profesional maupun personal.

Seorang guru yang kompeten, berdedikasi, dan mampu berkomunikasi dengan baik akan menciptakan lingkungan belajar yang positif. Lingkungan ini tidak hanya memotivasi siswa untuk belajar, tetapi juga membentuk karakter mereka. Dalam konteks ini, pembinaan dan pengembangan kompetensi pedagogik guru menjadi hal yang tidak dapat ditawar.

Negara memiliki peran besar dalam menciptakan sistem pendidikan yang menempatkan guru di pusatnya. Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan tanpa memperhatikan kesejahteraan dan pengembangan profesional guru adalah ibarat membangun rumah di atas pondasi yang rapuh.

Titik Sentral Pada Guru

Guru berada pada titik sentral setiap usaha perbaikan pendidikan. Perubahan dan perbaikan dalam kurikulum, metode, dan sarana pendidikan tidak akan bermakna jika tidak melibatkan guru yang profesional dan berkualitas.

Secara keseluruhan, kualitas guru sangat berpengaruh terhadap kualitas murid, dan upaya untuk meningkatkan kualitas guru adalah langkah penting dalam mencapai pendidikan yang lebih baik.

Dalam pendidikan Islam, tujuan mulia untuk mencetak insan kamil tidak akan tercapai tanpa peran sentral guru. Sebagai agen perubahan, guru tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menjadi teladan, motivator, dan fasilitator. Sistem pendidikan yang baik harus memberikan dukungan penuh bagi guru untuk menjalankan tugas mereka.

Negara yang abai memperhatikan pengembangan kualitas dan kesejahteraan gurunya, sama saja menebar bibit ketertinggalan dalam berbagai bidang kehidupan bagi bangsanya.[]

*) Nursyamsa Hadis, penulis adalah pegiat pendidikan

Dokter Kemala Intan Soroti Peran Generasi Muda dan Urgensi Pendidikan Masa Kini

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Markas Hidayatullah Al-Quran Learning Centre (HALC) di Kota Medan siang hari itu menjadi terasa istimewa dengan kehadiran kunjungan dari seorang akademisi, dr. Tengku Kemala Intan, M.Pd., M.Biomed., Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU), Sabtu, 18 Rajab 1446 (18/1/2025).

Kadatangan dr. Tengku Kemala Intan, M.Pd., M.Biomed diterima langsung oleh Pengasuh Markas Hidayatullah Al-Quran Learning Centre Medan Ust. Khoirul Anam serta sejumlah pengurus dan jajaran.

Pada kesempatan tersebut dr. Intan menyampaikan kunjungan ini bertujuan mempererat silaturahmi sekaligus menjalin kerja sama di bidang pendidikan dan pembinaan masyarakat.

Dalam kesempatan obrolan di studio Hidayatullah Al-Quran Learning Centre Medan, dr. Intan sampaikan sejumlah pandangan tentang urgensi pendidikan sebagai pilar utama keberlanjutan suatu negara.

Dokter Intan, demikian sapaan akrabnya, merupakan figur yang tidak hanya ahli di bidang kedokteran, tetapi juga pendidikan dan biomedik. Dengan gelar doktor dalam Ilmu Kedokteran, ia terus menunjukkan semangat belajar yang luar biasa, bahkan di usianya yang ke-63. Saat ini, ia juga menempuh pendidikan pembelajaran Al Qur’an di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran (STIQ) As Shiddiq Hidayatullah Medan.

Di luar perannya sebagai dosen, dr. Intan adalah pendiri Yayasan Pendidikan Graha Kirana yang mengelola SMP, SMA, dan perguruan tinggi yang segera akan berstatus universitas, serta Yayasan Pendidikan Salsabila yang fokus pada pendidikan dasar. Dedikasinya terhadap pengembangan pendidikan menjadikannya tokoh sentral dalam diskusi tentang kualitas dan moralitas bangsa.

Pendidikan sebagai Prioritas Utama

Dalam diskusinya bersama tim HALC, dr. Intan menegaskan bahwa pendidikan adalah prioritas utama dalam menjaga keberadaan dan kekuatan suatu negara.

“Pendidikan merupakan hal yang sangat prioritas dalam menjaga keberadaan dan kekuatan suatu negara. Tidak ada negara yang bisa mempertahankan eksistensinya jika tidak memprioritaskan pendidikan generasi mudanya,” ujarnya.

Menurutnya, kualitas pendidikan sebuah negara sangat bergantung pada pola pendidikan di tingkat keluarga. Rumah tangga sebagai unit terkecil masyarakat memiliki peran vital dalam membentuk karakter generasi penerus. Dari keluarga yang kuat akan lahir masyarakat yang solid, dan pada akhirnya membangun negara yang kokoh.

Ketika ditanya tentang kemunduran tingkat religiusitas umat Islam di Indonesia, dr. Intan memberikan analisis yang tajam. Ia menjelaskan bahwa religiusitas tidak hanya dilihat dari aspek ritual, tetapi juga nilai yang diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari.

“Nilai itu hanya bisa terlihat dalam perbuatan, dan perbuatan itu memiliki banyak variabel. Oleh karena itu, pendidikan menjadi kunci dalam menanamkan nilai-nilai religius,” terangnya.

Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan yang ada saat ini. “Kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah ada yang salah dalam metodologi pendidikan kita? Apakah cara kita menyampaikan nilai-nilai ajaran Islam sudah efektif?” tanyanya.

dr. Intan juga mencatat bahwa penurunan religiusitas tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di berbagai belahan dunia. Di negara-negara Barat, misalnya, fenomena agnostisisme semakin meningkat di kalangan generasi muda. Menurutnya, ini adalah tantangan global yang memerlukan pendekatan baru dalam pendidikan nilai.

Membangun Ketahanan Nilai di Rumah Tangga

Dalam pandangannya, keluarga memainkan peran sentral dalam menjaga nilai-nilai religius dan moralitas. Ia menekankan pentingnya visi dan misi keluarga yang kuat.

“Orang tua harus memiliki persiapan untuk menghadapi berbagai tantangan zaman. Tidak cukup hanya melarang anak-anak, tetapi perlu menyediakan fasilitas dan ruang yang dapat membantu mereka menyalurkan kreativitas dengan cara yang positif,” jelasnya.

Intan juga menggarisbawahi perlunya konsistensi pola pendidikan di lingkungan masyarakat. Ia menyoroti tantangan yang dihadapi orang tua dalam menghadapi berbagai pengaruh dari luar, seperti gaya hidup dan teknologi.

“Kita perlu memastikan bahwa lingkungan mendukung pendidikan nilai, baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat luas,” tambahnya.

Peran Pemerintah dan Komunitas

Ketika ditanya tentang siapa yang paling bertanggung jawab dalam menjaga generasi, dr. Intan menjawab bahwa peran utama ada pada keluarga. Namun, ia juga menekankan pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah.

“Permasalahan ini harus diurai dari bawah ke atas. Informasi paling akurat tentang kondisi masyarakat ada di tingkat bawah. Oleh karena itu, para pemimpin di berbagai tingkatan harus memiliki visi yang jelas untuk mendukung pendidikan,” katanya.

dr. Intan mengkritik minimnya fasilitas pendidikan yang terjangkau bagi masyarakat luas. Ia mencontohkan kurangnya sarana seperti warnet yang terkontrol dan mendukung kreativitas anak-anak di lingkungan sekolah.

“Hanya sekolah tertentu yang memiliki fasilitas ini, dan harganya tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat. Ini adalah dilema yang harus kita pecahkan bersama,” ujarnya.

Mengakhiri diskusi, dr. Intan mengajak semua pihak untuk berkomitmen terhadap transformasi pendidikan yang holistik. Ia percaya bahwa perubahan harus dimulai dari pola pikir setiap individu.

“Kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan institusi pendidikan untuk membangun masa depan yang lebih baik,” tutupnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Rakerwil V Hidayatullah Jatim Ditutup, Ketua DPW Apresiasi Pelayanan Tuan Rumah

0

Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) V Hidayatullah Jawa Timur resmi ditutup pada hari Ahad, 19 Januari 2024, di Situbondo. Dalam acara penutupan ini, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowi, yang dalam sambutannya menekankan semangat kolaborasi dan tanggung jawab bersama yang tercermin selama acara berlangsung.

Amun Rowi memulai sambutannya dengan rasa syukur atas pelaksanaan Rakerwil yang telah berlangsung selama tiga hari. “Alhamdulillah pada siang hari ini kita melaksanakan acara penutupan Rakerwil V tahun 2025. Selama tiga hari ini, kami mendapatkan banyak manfaat dari acara yang telah terlaksana dengan baik,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Amun Rowi juga mengucapkan terima kasih kepada panitia dan seluruh pihak yang terlibat, khususnya kepada DPD Hidayatullah Situbondo yang telah menyambut para peserta dengan sepenuh hati.

“Saya berterima kasih kepada panitia dan teman-teman Tapalkuda, terkhusus DPD Hidayatullah Situbondo, yang telah menyambut kami dengan sepenuh hati. Ini sangat kami rasakan dan membuat kami merasa diterima dengan sangat baik,” tambahnya.

Amun Rowi juga memberikan apresiasi atas keramahtamahan tuan rumah yang terlihat jelas dalam setiap pelayanan yang diberikan. “Saya melihat teman-teman tuan rumah sangat senang dan bertanggung jawab dalam menyambut tamu-tamunya, mereka menganggap kami sahabat dengan menyambut sepenuh hati,” ungkap Amun.

Rakerwil kali ini dipilih untuk diselenggarakan di Situbondo bukan tanpa alasan. Amun Rowi menjelaskan bahwa kampus Hidayatullah Situbondo menjadi pilihan karena merupakan kampus yang paling bersih dan rapi di Jawa Timur.

“Kenapa Rakerwil ini dilakukan di Situbondo? Karena kampus ini adalah kampus Hidayatullah di Jawa Timur yang paling bersih dan rapi. Mudah-mudahan ini bisa ditangkap oleh teman-teman dan bisa dibawa pulang untuk diterapkan di kampus masing-masing,” harap Amun.

Penutupan Rakerwil V ini diharapkan dapat semakin mempererat kolaborasi antar pengurus dan anggota Hidayatullah di seluruh Jawa Timur serta memberikan inspirasi dan motivasi untuk lebih maju dalam membangun umat, khususnya dalam pendidikan dan pengelolaan organisasi.

DPW Hidayatullah Jatim Berikan Penghargaan Umrah Kepada 18 Kader Da’i dalam “Hidayatullah Jatim Awards 2025″

0

Sebanyak 18 da’i dan pengurus Hidayatullah Jawa Timur mendapatkan penghargaan berupa umrah dalam “Hidayatullah Jatim Awards 2025”. Penghargaan ini diberikan pada acara penutupan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) V Hidayatullah Jatim di Situbondo, Ahad (19/01/2024).

Apresiasi umrah ini diberikan kepada kader Hidayatullah yang dinilai memiliki peran luar biasa dalam dakwah dan pengelolaan organisasi. Penghargaan ini terbagi dalam tiga kategori, yakni Da’i Tangguh, Da’i Khusus, dan DPD Berprestasi.

Sekretaris DPW Hidayatullah Jawa Timur, Muh Idris, menjelaskan bahwa pemberian penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi organisasi terhadap kinerja pengurus dan kader dalam menjalankan program-program dakwah dan organisasi.

“Hidayatullah Jatim Award adalah upaya organisasi untuk memberikan penghargaan atas kinerja pengurus dan kader dalam melaksanakan program-program organisasi,” ujarnya.

Dalam kategori Da’i Tangguh, penghargaan diberikan kepada kader yang telah lama mengabdi dan berdakwah di masyarakat. Da’i Khusus diperuntukkan bagi mereka yang memiliki spesialisasi dalam berdakwah di wilayah yang lebih sulit, seperti daerah pelosok, dengan segala tantangan yang dihadapi.

Sedangkan DPD Berprestasi diberikan kepada Dewan Pengurus Daerah (DPD) yang dinilai berhasil meraih hasil evaluasi terbaik dalam menjalankan program dan kegiatan dakwah.

PosDai Didorong Terus Hadirkan Inovasi Menjawab Tantangan Dakwah Era Digital

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) sebagai gerakan swadaya dalam usaha pengembangan kapasitas dan kuantitas dai didodong untuk terus menghadirkan inovasi dalam menjawab tantangan kekinian. Demikian ditekankan Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Drs. Nursyamsa Hadis, saat menyampaikan arahan pada pembukaan Rapat Kerja Yayasan Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) yang digelar di Jakarta, Sabtu, 18 Rajab 1446 (18/1/2025).

Nursyamsa menyoroti berbagai tantangan dakwah Islam di era modern sekaligus menggarisbawahi pentingnya strategi inovatif untuk menghadapi perubahan zaman.

“Dakwah Islam saat ini menghadapi arus tantangan yang semakin kompleks. Di antaranya, digitalisasi, materialisme, sekularisme, serta pluralitas budaya dan agama. Semua ini menuntut pendekatan dakwah yang lebih strategis, inovatif, dan kontekstual,” ungkap Nursyamsa.

Digitalisasi dan maraknya penggunaan media sosial menjadi sorotan utama. Menurut Nursyamsa, meskipun media sosial memberikan peluang besar untuk menyebarkan nilai-nilai Islam, platform ini juga membawa risiko besar. Penyebaran informasi yang salah atau tidak akurat tentang Islam sering kali memengaruhi persepsi masyarakat.

“Di tengah derasnya arus informasi, pesan dakwah sering tenggelam di antara konten-konten lain yang tidak relevan. Tantangan kita adalah bagaimana memastikan pesan Islam yang autentik mampu menjangkau audiens yang lebih luas,” katanya, seperti dikutip dari laman posdai.or.id.

Nursyamsa menambahkan, generasi muda yang akrab dengan teknologi membutuhkan jawaban cepat dan relevan dengan kehidupan mereka. Hal ini memerlukan metode dakwah yang lebih inovatif dan dinamis. “Para dai harus mendidik diri mereka sendiri untuk memanfaatkan teknologi secara bijak dan efektif,” ujarnya tegas.

Sekularisme dan Materialisme

Selain digitalisasi, Nursyamsa juga menyinggung ancaman sekularisme dan materialisme yang semakin merasuki kehidupan masyarakat. Nilai-nilai ini kerap kali bertentangan dengan ajaran Islam yang menekankan spiritualitas dan moralitas.

“Masyarakat kita mulai mengadopsi nilai-nilai yang memprioritaskan kebendaan dan mengesampingkan aspek-aspek spiritual. Karena itu, dakwah Islam harus berfungsi sebagai pengingat, bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya terletak pada materi tetapi juga pada hubungan dengan Sang Pencipta,” jelasnya.

Konteks pluralitas dan multikulturalisme Indonesia juga menjadi tantangan tersendiri dalam dakwah Islam. Menurut Nursyamsa, penyampaian dakwah harus dapat menyesuaikan diri dengan konteks lokal tanpa kehilangan esensi ajaran Islam.

“Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Artinya, nilai-nilai Islam harus mampu merangkul semua kalangan, tanpa memandang latar belakang budaya atau agama. Namun, ini bukan tugas yang mudah. Para dai harus memahami konteks masyarakat mereka dengan baik,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya melawan stereotip negatif tentang Islam yang sering kali dikaitkan dengan radikalisme. “Tindakan radikal yang dikaitkan dengan Islam hanya memperburuk citra agama kita ini. Kita harus mengedukasi masyarakat tentang Islam yang memiliki jatidiri al wasathiyah,” tegasnya.

Nursyamsa juga mengingatkan bahwa dakwah yang efektif dimulai dari diri sendiri. Banyak umat Islam, menurutnya, yang masih belum memahami ajaran agama secara mendalam. Hal ini dapat menjadi hambatan besar dalam menyampaikan pesan Islam yang autentik.

“Pemahaman mendalam tentang Islam adalah kunci. Kita para para dai harus terus belajar, mengasah kemampuan, dan memperkaya ilmu agar mampu memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi umat,” tuturnya.

Langkah Strategis PosDai

Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, Nursyamsa menguraikan beberapa langkah strategis yang harus dilakukan PosDai dan para dai. Diantaranya dia mendorong adanya pemanfaatan teknologi secara bijak.

“Para dai harus dibekali dengan keterampilan memanfaatkan teknologi, sehingga pesan dakwah dapat menjangkau lebih banyak orang dan tetap nyambung di era digital,” katanya, seraya menekankan pentingnya penguasaan ilmu agama yang berkualitas.

Menurutnya, pendidikan agama harus dirancang untuk menghasilkan dai yang tidak hanya kompeten, tetapi juga mampu memahami konteks sosial-budaya masyarakat.

“Metode dakwah harus fleksibel dan kontekstual, sesuai dengan karakteristik audiens yang beragam. Hal ini penting untuk memastikan pesan Islam dapat diterima dengan baik oleh semua kalangan,” ujarnya.

Berikutnya, Nursyamsa melihat pentingnya kolaborasi dengan berbagai Komunitas. Dia menegaskan bahwa kolaborasi dengan berbagai komunitas dan kelompok masyarakat merupakan cara efektif untuk membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang Islam.

Di penghujung sambutannya, Nursyamsa menyerukan pentingnya semangat kolaborasi dan pembaruan di kalangan para dai.

“Kita semua adalah bagian dari perjuangan dakwah Islam. Mari terus bergerak bersama untuk membangun peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” imbuhnya sambil mendorong agar Rapat Kerja Yayasan Persaudaraan Dai Indonesia semakin memantapkan arah dakwah Islam di masa depan dan mampu menjadi motor penggerak dakwah yang inklusif dan relevan di tengah dinamika zaman. (ybh/hidayatullah.or.id)

Dihadiri Tokoh Lintas Sektor, Rakerwil Hidayatullah Papua Barat Usung Semangat Bersinergi

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) – Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat ke-V berlangsung meriah yang pembukaannya digelar di Aula Hotel Valdos, Manokwari, Sabtu, 18 Rajab 1446 (18/1/2025).

Acara ini dihadiri oleh berbagai pejabat tinggi provinsi, tokoh agama, dan organisasi masyarakat Islam se-Papua Barat, menandai pentingnya sinergi antara organisasi keagamaan dan pemerintah dalam membangun Papua Barat.

Rakerwil kali ini menarik antusiasme luar biasa, terlihat dari penuhnya Aula Valdos oleh peserta dan undangan. Di antara tamu yang hadir adalah Gubernur Papua Barat terpilih, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si; Penjabat Gubernur Papua Barat Drs. Ali Baham Temongmere yang diwakili oleh Kepala Dinas Kesehatan, dr. Alwan Rimosan; serta Anggota DPD RI Lamek Dwansiba, A.Md.

Hadir pula Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua Barat KH Ahmad Nausrau dan jajaran, wakil Pangdam XVIII Kasuari dan Kapolda, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Papua Barat Luksen Jems Mayor, Ketua Baznas Papua Barat Ali Mustofa, serta para alim ulama dan pimpinan organisasi masyarakat.

Kehadiran para peserta internal dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, perwakilan lima pengurus Dewan Pengurus Daerah (DPD), serta berbagai unsur pendukung Hidayatullah turut menyemarakkan acara.

Wakil Sekretaris Jenderal I DPP Hidayatullah, Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.S.I, sebagai pendamping dari pusat memberikan arahan strategis, menegaskan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah dan swasta untuk menjalankan agenda-agenda keumatan.

Abdul Ghofar menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, tantangan keumatan di Papua Barat memerlukan kerja sama antara pemerintah, swasta, dan organisasi masyarakat.

“Potensi dakwah dan pendidikan di Papua Barat ini luar biasa. Masih banyak ruang kosong untuk berkarya dan memberikan yang terbaik kepada masyarakat. Namun, keberhasilan tidak mungkin dicapai sendirian. Sinergi dengan berbagai pihak adalah kunci,” ujar Ghofar.

Ia juga mengapresiasi DPW Hidayatullah Papua Barat yang tetap konsisten menjalankan program meskipun menghadapi tantangan, seperti pemekaran wilayah dan keterbatasan sumber daya manusia.

“Pemekaran DPW Papua Barat Daya memang memberikan tantangan tersendiri, tetapi Hidayatullah Papua Barat mampu menjaga stabilitas program-programnya. Ini adalah bukti komitmen untuk terus berkontribusi kepada masyarakat,” tambahnya.

Apresiasi dan Harapan dari Pemerintah Papua Barat

Pj. Gubernur Papua Barat, melalui sambutan tertulis yang dibacakan oleh dr. Alwan Rimosan, menyampaikan apresiasi terhadap kiprah Hidayatullah di Papua Barat. Menurutnya, Hidayatullah telah memberikan kontribusi signifikan dalam pendidikan, dakwah, dan pembangunan sosial.

“Kami berharap Hidayatullah terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun sumber daya manusia (SDM) Papua Barat yang unggul dan berdaya saing. Selain itu, Hidayatullah juga dapat menjadi benteng moral bagi generasi muda dari ancaman narkoba, radikalisme, LGBT, dan perilaku menyimpang lainnya,” ujar dr. Alwan.

Lebih lanjut, Alwan mengapresiasi keberhasilan Hidayatullah dalam mengelola pesantren dari jenjang pendidikan usia dini hingga SMA/MA, serta membangun Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) yang berperan penting dalam membantu anak-anak kurang mampu agar mendapatkan pembinaan dan pendidikan yang layak.

“Pembangunan asrama putri yang dibantu oleh Dinas Pekerjaan Umum Pusat menjadi salah satu bukti nyata dukungan kami terhadap program-program Hidayatullah. Kami berharap hasil Rakerwil ini dapat disampaikan kepada pemerintah agar kerja sama yang lebih baik bisa terwujud,” tambahnya.

Rakerwil ini juga menjadi momentum untuk menggarisbawahi peran strategis generasi muda dalam pembangunan Papua Barat. Alwan Rimosan menyebutkan bahwa generasi muda harus dilindungi dari ancaman sosial yang kian kompleks.

“Hidayatullah dapat menjadi benteng moral yang melindungi anak-anak muda dari pengaruh negatif, seperti narkoba dan radikalisme. Ini adalah tugas mulia yang harus terus dilakukan secara berkelanjutan,” tegasnya.

Selain itu, pembangunan SDM unggul melalui pendidikan berbasis pesantren yang dikelola Hidayatullah mendapat pujian khusus. Menurut Alwan, pesantren tersebut tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga mencetak individu-individu yang mampu bersaing secara global.

Acara pembukaan Rakerwil ditutup dengan harapan besar dari seluruh peserta agar Hidayatullah Papua Barat terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam menciptakan perubahan positif.

Gubernur Papua Barat terpilih, Dominggus Mandacan, juga memberikan dorongan agar hasil Rakerwil ini dapat diimplementasikan secara nyata untuk kemaslahatan masyarakat Papua Barat.*/Miftahuddin

Rakerwil Hidayatullah Bali Momen Apresiasi untuk Dai yang Berjuang di Pelosok

0

DENPASAR (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Bali mengadakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang diwarnai dengan sebuah momen pemberian apresiasi kepada lima Dai Tangguh terbaik di Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Denpasar, Jl. Raya Pemogan Gang Taman, Sakah, Desa Pemogan , Kecamatan Denpasar Selatan, Sabtu, 18 Rajab 1446 (18/1/2025).

Acara yang digelar dengan semangat kolaborasi ini menjadi panggung untuk mengapresiasi para da’i yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam tugas mereka di berbagai daerah di Provinsi Bali.

Sekretaris DPW Hidayatullah Bali, Pungki Humardani, menyampaikan apresiasi Mitra Kolaborator Kebaikan BMH Perwakilan Bali dengan kategori Dai Tangguh ini diberikan kepada dai yang loyal dan istiqamah menjalankan tugas di pelosok daerah Bali.

Penyerahan penghargaan tersebut dilakukan secara simbolis oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali KH. Mahrusun Hadyono, M.Pd.I,, Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Drs. Wahyu Rahman, M.M., Ketua DPW Hidayatullah Bali Abdullah Salim, Lc, Ketua Dewan Masjid Indonesia Provinsi Bali, H. Bambang Santoso, M.A, serta Ketua Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Bali, Ustaz Ahmad Wandoyo.

Para dai yang menerima penghargaan telah menunjukkan keteguhan dalam menyampaikan pesan kebaikan dan membangun masyarakat di wilayah yang penuh tantangan.

Salah satu penerima apresiasi, Ustaz Amrozi, yang bertugas di Kabupaten Jembrana, mengungkapkan rasa syukurnya. “Alhamdulillah, semoga berkah dan bermanfaat. Terima kasih kepada BMH dan DPW,” tuturnya.

Penghargaan ini tidak hanya menjadi bentuk pengakuan atas kerja keras para dai, tetapi juga motivasi untuk terus berkontribusi dalam menyebarkan nilai-nilai Islam dan membangun masyarakat yang lebih baik.

“Semoga penghargaan ini memberikan semangat baru bagi da’i lain untuk berlomba-lomba dalam menjalankan amanah lembaga,” tambah Pungki Humardani.

Sinergi dan Dedikasi di Tengah Tantangan

Sebagai salah satu amal usaha Hidayatullah, BMH memiliki peran penting dalam mendukung para da’i. Ketua BMH Perwakilan Bali, Ahmad Wandoyo, menjelaskan bahwa program ini adalah bagian dari komitmen untuk memberdayakan dan mendukung para da’i yang bekerja di garis depan.

“Kami ingin memberikan apresiasi yang tidak hanya berbentuk materi, tetapi juga menunjukkan bahwa perjuangan mereka dihargai dan mendapat dukungan penuh dari kami,” jelasnya.

Dr. H. Mahrusun, Ketua MUI Provinsi Bali, yang turut hadir dalam acara tersebut, juga memberikan apresiasi kepada BMH dan DPW Hidayatullah Bali atas inisiatif ini.

“Dalam Islam, penghargaan kepada mereka yang berjasa adalah bentuk penghormatan yang dianjurkan. Apa yang dilakukan BMH ini adalah contoh nyata dari implementasi ajaran tersebut,” ungkap KH Mahrusun.

Rakerwil DPW Hidayatullah Bali tahun ini mengusung semangat kolaborasi lintas sektor untuk mencapai visi besar organisasi. Drs. Wahyu Rahman yang mewakili DPP Hidayatullah, menekankan pentingnya sinergi dalam menjalankan misi dakwah.

“Keberhasilan program-program dakwah sangat bergantung pada kolaborasi yang solid antara berbagai elemen organisasi. Apresiasi ini adalah salah satu bentuk dari kolaborasi itu,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Masjid Indonesia Provinsi Bali, H. Bambang Santoso, M.A, menyampaikan harapannya agar penghargaan ini menjadi pemacu semangat para da’i dalam menghadapi tantangan dakwah di lapangan.

“Tugas da’i tidaklah mudah, terutama di daerah yang membutuhkan perhatian khusus. Namun, dengan dukungan yang terus mengalir, kami optimis para da’i dapat menjalankan tugas mereka dengan baik,” ujarnya.

Dai memiliki peran strategis sebagai ujung tombak dakwah Islam di berbagai wilayah, termasuk di daerah-daerah yang minim fasilitas. Wahyu Rahman mengataka, loyalitas dan konsistensi mereka dalam menyampaikan pesan agama serta membangun komunitas yang harmonis menjadi kekuatan utama yang patut diapresiasi.

“Peran da’i tidak hanya terbatas pada ceramah, tetapi juga membina umat dalam berbagai aspek kehidupan,” kata Wahyu Rahman.

Wahyu menerangkan penghargaan yang diberikan dalam Rakerwil ini mengirimkan pesan yang kuat kepada generasi muda untuk terlibat aktif dalam dakwah sebagai sebuah gerakan yang berfokus pada pembinaan umat.

“Apa yang kita lakukan hari ini adalah langkah kecil yang akan berdampak besar di masa depan. Mari kita jadikan momentum ini sebagai inspirasi untuk terus bergerak maju meneguhkan dakwah membangun umat,” tutupnya. (ybh/hio)

Rakerwil Hidayatullah Bali Perekat Kerukunan dan Kolaborasi Dakwah Berkelanjutan

0

DENPASAR (Hidayatullah.or.id) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali memberikan apresiasi kepada Hidayatullah atas perannya yang signifikan dalam mempererat kerukunan umat beragama dan membangun harmoni sosial di Pulau Dewata.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua MUI Bali, KH. Mahrusun Hadyono, M.Pd.I, dalam acara Pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) dirangkai Seminar Peradaban di Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Denpasar, Jl. Raya Pemogan Gang Taman, Sakah, Desa Pemogan , Kecamatan Denpasar Selatan, Sabtu, 18 Rajab 1446 (18/1/2025).

“Hidayatullah turut serta menjaga kerukunan di Bali dan berkontribusi dalam dakwah dan sosial. Seperti Laznas BMH (Baitul Maal Hidayatullah) yang konsisten dalam program-program keummatan kepada masyarakat,” ujar KH. Mahrusun Hadyono.

Dalam seminar bertema Mewujudkan Peradaban Madani dengan Manhaj Nabawi, Hidayatullah menghadirkan sejumlah narasumber yaitu Dr. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si, dari Dewan Pertimbangan Hidayatullah Pusat, serta Drs. Muhammad Nur Fuad, M.A., anggota Dewan Murabbi Pusat. Ketua Dewan Masjid Indonesia Provinsi Bali, H. Bambang Santoso, M.A., turut memberikan kontribusi pemikiran. Ketiga narasumber menyampaikan pandangan mereka secara bergantian selama 20 menit, diikuti sesi diskusi interaktif yang melibatkan para peserta.

Seminar ini menggarisbawahi pentingnya menerapkan manhaj nabawi atau metode kenabian sebagai dasar pembangunan peradaban yang berkeadilan, bermoral, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

“Kolaborasi yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan organisasi seperti Hidayatullah sangat penting dalam mewujudkan harmoni sosial,” ungkap Bambang Santoso, salah satu narasumber.

Evaluasi dan Visi Masa Depan

Ketua DPW Hidayatullah Bali, H. Abdullah Salim, M.Pd.I, dalam sambutannya menjelaskan bahwa Rakerwil ini merupakan momen strategis untuk mengevaluasi kinerja selama setahun terakhir dan merancang program kerja untuk tahun mendatang.

Pembukaan acara ini dihadiri juga oleh Ketua Ormas Islam se-Bali, Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas) Kemenag Provinsi Bali Dr. Drs. Abu Siri, S.Ag., M.Pd.I, serta tokoh masyarakat Kampung Islam Kepaon.

“Kami menyampaikan terima kasih atas kehadiran para tamu undangan yang telah mendukung misi kami selama ini,” ujar Abdullah Salim. Ia juga menekankan pentingnya sinergi dalam mengatasi berbagai tantangan dakwah dan sosial di Bali.

Lebih lanjut Abdullah Salim menyampaikan dengan komitmen yang terus diperbarui melalui Rakerwil ini, Hidayatullah Bali berkomitmen untuk terus membuktikan perannya sebagai perekat kerukunan di tengah keberagaman Pulau Dewata.

“Harmoni sosial adalah fondasi utama untuk membangun peradaban yang berkeadilan. Hidayatullah akan terus menjadi garda terdepan dalam mewujudkan hal ini,” tutup Abdullah Salim.

Dukungan terhadap Pemerintahan dan Kritik Konstruktif

Dalam arahannya, Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah, Drs. Wahyu Rahman, menekankan perlunya kolaborasi erat antara Hidayatullah dan pemerintah untuk mendukung pembangunan nasional. Ia juga menyatakan komitmen Hidayatullah dalam memberikan masukan dan kritik konstruktif kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Hidayatullah siap berkontribusi dalam hal gagasan dan pemikiran yang dibutuhkan negara. Kami juga akan memberikan kritik jika pelaksanaan pemerintah tidak sejalan dengan Pancasila dan UUD 1945,” tegas Wahyu Rahman.

Setelah sesi pembukaan dan seminar, Rakerwil dilanjutkan di Hotel Kayfa, Denpasar, selama tiga hari ke depan. Acara ini diikuti oleh seluruh pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dari sembilan kabupaten dan satu kota madya di Bali, serta perwakilan dari badan usaha dan organisasi pendukung seperti Muslimat Hidayatullah dan Pemuda Hidayatullah. Sebanyak 50 peserta berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan ini.*/Pungki Hurmadani