Beranda blog Halaman 113

DMU Hidayatullah Sulbar Menyiapkan Generasi Cerdas dan Militan

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Di penghujung Mei 2025, suasana hangat pengkaderan kembali terasa di bumi Manakarra. Pengurus DPW Hidayatullah Sulawesi Barat menyelenggarakan Daurah Marhalah Ula (DMU) tingkat SMU se-Sulawesi Barat bertempat di Binaan Khusus (Bianpus) Madya Hidayatullah Mamuju, pada 2-4 Dzulhijah 1446 (29–31/5/2025).

Meski jumlah peserta tak mencapai ratusan, semangat yang dibawa oleh setiap individu dalam daurah ini menegaskan bahwa kaderisasi bukan sekadar soal kuantitas, melainkan kualitas kesungguhan.

Najamuddin, M.Pd., Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulbar yang juga menjadi ketua panitia kegiatan ini, menjelaskan adanya kendala teknis sehingga beberapa siswa tidak dapat hadir.

“Peserta asal SMU Hidayatullah Polman tidak hadir di sini mengingat mereka sedang belajar di SDH Hidayatullah Parepare dan persiapan mengikuti kegiatan yang sama di Parepare,” ungkapnya.

Dengan mengusung tema Menjadi Kader Hidayatullah yang Cerdas dan Militan, daurah ini menjadi refleksi strategis arah gerakan pengkaderan ke depan. Para peserta tidak hanya menerima materi dasar tentang keislaman, tetapi juga diperkenalkan pada esensi gerakan dakwah Hidayatullah yang bercirikan tarbiyah dan transformasi sosial.

Di antara pemateri utama, Drs. H. Mardhatillah menyampaikan materi Komitmen Bersyahadat dan Makna serta Konsekuensinya. Dalam uraiannya, ia menekankan bahwa syahadat bukan hanya pengakuan lisan, tetapi juga ikrar perubahan total dalam hidup.

Drs. Muhammad Naim Tahir, Ketua DMW Hidayatullah Sulbar, membawakan materi Tarbiyah Ruhiyah, menekankan pentingnya penguatan spiritual sebagai fondasi dari militansi dakwah.

Sedangkan Abdurrahman Hasan, S.Pd.I., anggota DMW, menyampaikan materi Transformasi Masyarakat, memperlihatkan kait erat antara dakwah dan perubahan sosial.

Pengenalan organisasi dibawakan oleh Muhammad Bashori, S.Pd.I., selaku Ketua Departemen Organisasi dan SDI, sementara Najamuddin menyampaikan materi Proses Lahirnya Syahadat, mengajak peserta merenungi ulang akar kesadaran berislam mereka dalam bingkai gerakan Hidayatullah.

Menurut Najamuddin, target utama dari kegiatan ini adalah agar peserta lebih memahami lembaga tempat mereka menimba ilmu—bukan semata sebagai sekolah, tetapi sebagai institusi kaderisasi yang membawa misi besar.

*“Kami berharap peserta mengenal organisasi Hidayatullah, memahami visi, misi, serta gerakan utamanya yang bertumpu pada tarbiyah dan dakwah,” jelasnya.

Kegiatan ini bagian dari upaya pembentukan karakter dan peradaban. Hasil dari daurah ini diharapkan melahirkan pribadi muslim yang taat, sekaligus kader cerdas dan militan yang siap mengambil peran strategis dalam membangun umat, bangsa, dan agama.*/

[KHUTBAH JUM’AT] Awal Dzulhijjah Banyak Panggilan Kebaikan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Kita telah tiba di ambang waktu yang istimewa. Waktu yang mungkin tak berbunyi, tak berpamer cahaya, tak gegap gempita. Tapi langit mengenalnya, bumi menyambutnya, dan malaikat menunduk khidmat padanya. Itulah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Betapa waktu yang kita kira biasa ternyata menyimpan karunia yang luar biasa. Hari-hari ini adalah undangan dari Allah, undangan kepada siapa saja yang masih memiliki sisa iman, secuil tekad, dan secercah rindu untuk kembali kepada-Nya.

Dzulhijah bukan bulan biasa, tanggalnya bukan sekadar deret hari dalam kalender. Ada banyak panggilan kebaikan untuk kita beramal sholeh.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Rasulullah menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah melalui hadits Ibnu ‘Abbas,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

Ada sabda Rasulullah ﷺ yang mungkin pernah kita dengar, pernah mampir di telinga, pernah lewat di beranda media sosial kita, atau singgah sejenak di grup WhatsApp keluarga:

“Tidak ada satu amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shalih yang dilakukan pada hari-hari ini — yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”

Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi menjawab, “Tidak pula jihad, kecuali seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali sedikit pun darinya.” (HR. Bukhari)

Sebuah sabda yang dalam. Sunyi, tapi tajam.
Ia seperti suara yang tidak menggelegar, tapi menggetarkan.
Ia tidak berteriak—tapi menembus dinding hati orang-orang yang masih bisa merasa dengan bibit-bibit keimanannya.

Lalu, pertanyaan bagi kita:

Ketika sabda itu sampai pada kita, apa yang terjadi di dalam dada ini?
Apakah ia hanya sekadar info? Seperti kabar cuaca atau jadwal kereta api?
Apakah ia sekadar lalu? Seperti angin yang hanya menyapa sebentar daun pintu?

Ataukah ia sempat mengetuk sesuatu di dalam jiwa kita yang paling dalam?
Karena, jamaah sekalian, sabda itu bukan hanya kalimat.
Ia adalah panggilan.

Panggilan untuk mendekat.
Panggilan untuk kembali.
Panggilan untuk bangkit dari kealpaan yang panjang.

Namun tidak semua bisa mendengarnya.
Atau lebih tepatnya: tidak semua ingin benar-benar mendengarkannya.
Karena mendengar seruan kebaikan menuntut sesuatu yang besar: iman dan kemauan.
Dan iman tidak selalu berjalan bersama kenyamanan.

Terkadang, iman harus memilih sunyi ketika dunia memilih gemerlap.
Terkadang, iman meminta kita beranjak dari zona aman. Dari alasan-alasan yang kita bangun sendiri.

“Saya belum siap.”
“Saya masih banyak urusan.”
“Nanti, ada waktunya.”

Padahal siapa yang menjamin ada “nanti”?
Siapa yang bisa mengembalikan waktu yang lewat tanpa pamit?

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Ibnu Rajab al-Hanbali, dalam kitabnya, Latho’if al-Ma’arif, menyampaikan pemikiran yang indah:

“Amalan yang biasa, jika dilakukan pada waktu yang utama—seperti sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah—akan lebih utama daripada amalan yang lebih besar tetapi dilakukan di luar waktunya.”

Seperti benih yang sama, tapi ditanam di tanah yang subur dan pada musim yang tepat, maka ia tumbuh lebih cepat, lebih kuat, lebih ranum.
Demikian pula amalan kita.

Barangkali hanya shalat sunnah dua rakaat.
Barangkali hanya selembar sedekah.
Barangkali hanya beberapa bait tilawah.

Tapi ketika dilakukan di sepuluh hari ini—di musim yang Allah muliakan—maka ia bernilai lebih dari yang bisa kita bayangkan.
Karena ini bukan soal besar kecilnya amalan. Ini soal kapan dan dengan hati seperti apa kita melakukannya.

Apakah hati ini ingin mendekat?
Apakah kita, yang sedang berjalan dalam labirin rutinitas dan kesibukan dunia, masih mau berhenti sejenak, menengok langit, dan menjawab panggilan-Nya?

Maka, Jamaah Jumat sekalian,

Mari kita tidak menunda.
Mari kita hidupkan hari-hari ini.
Mari kita jaga, bukan hanya amal-amal besar, tapi juga detik-detik kecil yang bisa kita isi dengan zikir, doa, istighfar, dan sujud.
Karena bisa jadi, sepuluh hari ini adalah sepuluh kesempatan yang tidak datang dua kali.

Amal-amal shalih yang kita lakukan di hari-hari ini tidak saja bernilai lebih—tapi dicintai oleh Allah. Dan apa lagi yang lebih kita harapkan dari hidup ini selain menjadi yang dicintai oleh-Nya?

Maka perbanyaklah dzikir. Ucapkan banyak takbir dengan hati yang tergetar. Lafalkan tahmid dengan jiwa yang penuh syukur. Tahlil dan tasbih, sebagai puisi-puisi kecil kepada Sang Pencipta.

Berpuasalah, terutama pada hari Arafah, 9 Dzulhijjah, hari di mana langit terbuka dan pengampunan-Nya turun laksana hujan musim semi. Hari yang bisa menghapus dosa—bukan satu, tapi dua tahun—untuk siapa yang ikhlas menahan lapar demi cinta kepada-Nya.

Tegakkan shalat-shalat sunnah, minimal ditambah atau dirutinkan di bulan Dzulhijah ini untuk shalat sunnah rawatib, shalat lail, shalat Dhuha.
Memperbanyak tilawah al-Qur’an, diamlah bersama Al-Qur’an seperti dua sahabat lama yang saling rindu.

Memperbanyak infak atau shadaqah. Ringankan tanganmu untuk bersedekah, karena siapa tahu, harta kecil yang kita sisihkan menjadi jembatan besar menuju rahmat-Nya.

Bagi yang mampu, berangkatlah haji. Di sana, jejak para Nabi masih hangat di atas pasir, dan doa-doa mengalir dari bibir jutaan jiwa yang menangis rindu kepada Tuhan.

Bagi yang belum mampu, terus menjaga optimisme keyakinan dengan doa dan ikhtiar suatu saat nanti bisa menunaikan rukun Islam kelima ini yaitu haji ke Baitullah.

Bersiaplah berkurban. Sebab setiap tetes darah yang mengalir dari hewan kurban adalah kisah tentang cinta: cinta Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan anaknya demi Allah, dan cinta Nabi Ismail yang berserah atas nama taat.

Jamaah sekalian,

Hari-hari ini bukan milik orang-orang yang sempurna. Ia adalah milik mereka yang mau mencoba. Milik mereka yang meski terjatuh berkali-kali, masih ingin berdiri. Milik mereka yang diam-diam menyesal, dan diam-diam berharap. Dan Allah Maha Tahu.

Maka jangan biarkan sepuluh hari ini berlalu seperti angin. Tanpa jejak, tanpa makna. Mari kita isi dengan zikir, dengan doa yang jujur, dengan sujud yang lama, dengan hati yang pulang.

Semoga Allah menerima amal kita, memaafkan kekurangan kita, dan menuliskan kita di antara hamba-hamba yang dicintai-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Amil Pemegang Amanah Umat dengan Konsekuensi Dunia dan Akhirat

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Para amil Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) mengikuti sesi pembinaan bertajuk ‘Menjadi Amil Tangguh dan Excellent’ di Aula Abdullah Said, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Selasa, 29 Dzulqa’dah 1446 (27/5/2025).

Sesi ini diisi oleh Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Pd.I., Pengawas Syariah BMH Pusat, yang hadir membekali para peserta dengan prinsip-prinsip dasar dalam menjalankan peran strategis sebagai pengelola zakat.

“Amil itu bukan posisi yang mudah. Kita berdiri di tengah, memegang amanah dari muzakki, dan menyampaikan kepada mustahik,” kata Ghofar.

Menurutnya, posisi amil bukan hanya pekerjaan administratif, melainkan posisi yang sarat amanah, dengan konsekuensi dunia dan akhirat. Ia menegaskan bahwa inti dari kekuatan seorang amil terletak pada keimanan.

“Tanpa iman, sulit untuk bisa amanah. Apalagi jika yang dikelola adalah dana umat. Itu butuh kesungguhan dan integritas tinggi,” ujarnya.

Dia menegaskan, ieimanan menjadi fondasi utama agar amil tidak tergelincir dalam pengelolaan dana publik yang sangat sensitif.

Dalam paparannya, Ghofar mengutip pandangan Syaikh Sayyid Sabiq Muhammad At-Tihamiy, ulama fiqh klasik, bahwa amil pada awalnya adalah pemungut zakat yang diangkat oleh otoritas negara atau pemimpin umat.

Namun, dalam konteks lembaga zakat modern, peran amil tidak hanya mengumpulkan, tetapi juga mengelola, menyalurkan, dan mempertanggungjawabkan dana zakat dengan baik dan profesional.

Karena itu, dia membeberkan, amil masa kini harus memiliki setidaknya empat kompetensi utama. Pertama, kompetensi spiritual.

Ia menjelaskan, seorang amil harus dekat dengan Allah, menjaga keikhlasan, dan konsisten dalam ibadah. “Aneh kalau ada amil yang jauh dari perintah Allah,” ujar Ghofar dengan nada menohok.

Kedua, amil harus memiliki kompetensi syariah. Ia menekankan pentingnya penguasaan fiqh zakat, ibadah, dan muamalah agar pengelolaan dan penyaluran dana zakat sesuai dengan tuntunan syariah yang benar.

Ketiga, kompetensi profesional. Menurut Ghofar, keterampilan kerja di bidang masing-masing sangat penting. “Dana umat tidak boleh dikelola secara asal-asalan. Harus dengan kompetensi yang sesuai,” tambahnya.

Dan, Keempat, kompetensi organisasi. Seorang amil perlu memahami visi, misi, sejarah, dan dinamika lembaga tempatnya berkhidmat. “Ini juga tentang kesiapan hidup terorganisir dan berjiwa pemimpin,” jelasnya.

Pada sesi ini Ghofar membangkitkan kesadaran akan nilai luhur profesi amil. “Menjadi amil bukan sekadar menghimpun. Ini perjuangan. Ini ladang pahala. Maka, jangan setengah hati,” tegas Ghofar di akhir sesi.

Dengan pembinaan seperti ini, Laznas BMH menargetkan terwujudnya amil-amil yang tidak hanya tangguh dalam kerja, tetapi juga unggul dalam iman, ilmu, dan integritas.*/

Upgrading Dakwah dan Pembinaan untuk Penguatan Khidmat Para Dai Wilayah DIY-Jateng

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DIY-Jateng menyelenggarakan pembinaan intensif bagi 75 dai dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah bagian selatan.

Kegiatan ini dilangsungkan selama dua hari, pada 24–25 Mei, di kompleks Yayasan As-Sakinah Yogyakarta. Program ini merupakan bagian dari upaya strategis dan sinergis dalam memperkuat kapasitas dan khidmat para dai di lapangan, khususnya dalam mendukung gerakan dakwah berbasis masyarakat.

Ketua DPW Hidayatullah DIY-Jateng Bagian Selatan, Ust. H. Abdullah Munir, menjelaskan, pembinaan tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun ketangguhan dai secara intelektual, spiritual, dan sosial.

Menurutnya, di tengah tantangan dakwah yang kian kompleks, pelatihan dan penguatan seperti ini menjadi krusial agar para dai dapat tampil relevan dan solutif dalam menjawab kebutuhan umat, baik di bidang pendidikan, sosial, maupun penguatan nilai-nilai keislaman di masyarakat akar rumput.

Secara umum, kegiatan ini menandai konsistensi pembinaan dan mendampingi dai-dai tangguh di wilayah strategis. Langkah ini memperkuat posisi dai sebagai ujung tombak pembinaan umat, sekaligus memperkuat jaringan dakwah yang lebih adaptif dan berdampak.

Salah satu peserta, Muhammad Arifin dari Magelang, menyampaikan agenda upgrading dai semacam ini sangat bermanfaat sekali bagi dirinya dan rekan rekan sejawat.

“Berkumpulnya para dai menjadi sarana memompa semangat saya dan juga untuk menggali inspirasi yang akan saya aplikasikan di lapangan,” kata Arifin.

Didukung Laznas BMH

Kegiatan ini turut didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Muhammad Nashir, Kepala Divisi Program BMH Yogyakarta, mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung, khususnya para donatur BMH.

“Alhamdulillah, dengan dukungan berbagai pihak terutama para donatur BMH, pembinaan dai ini berjalan lancar dan sukses. Tujuannya adalah memperkuat para dai tangguh agar semakin bermanfaat di tengah masyarakat,” ujar Muhammad Nashir.

Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi forum peningkatan kapasitas, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi dan motivasi antar-dai yang selama ini menjalankan dakwah di wilayah dengan tantangan tersendiri.

Para peserta berasal dari berbagai daerah di DIY dan Jawa Tengah bagian selatan, wilayah yang memiliki ragam karakter sosial dan geografis, menuntut kesiapan personal dan spiritual yang tinggi dari para dai.*/

Menyembelih dengan Ilmu, DQM Gandeng LSH Hidayatullah Gelar Pelatihan Manajemen Qurban

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Qurban bukan sekadar penyembelihan hewan. Ia adalah ibadah dengan dimensi spiritual, sosial, dan teknikal yang menuntut pemahaman mendalam atas syariat dan praktik lapangan.

Demikian pesan utama yang digaungkan dalam Pelatihan Manajemen Qurban & Sembelihan Halal yang diselenggarakan Darul Quran Mulia (DQM) Bogor, bekerja sama dengan Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah, pada Senin, 28 Dzulqa’dah 1446 (26/5/2025).

Acara ini menghadirkan pakar sembelihan halal nasional, H. Nanang Hanani, S.Pd.I., MA., Ketua LSH Hidayatullah Pusat.

Dalam pemaparannya, Nanang menekankan bahwa praktik penyembelihan halal bukan hanya persoalan keterampilan teknis, tapi juga integritas spiritual dan kepatuhan syariah.

“Qurban bukan hanya soal memotong hewan, tapi mengelola amanah dengan prinsip ASUH: Aman, Sehat, Utuh, Halal,” ujar Nanang dalam sesi pelatihan. “Jika prinsip ini dijaga, maka daging qurban menjadi berkah, bukan sekadar daging.”

Nanang tidak hadir sendiri. Ia didampingi oleh Ust. H. Muhammad Syarif, S.Pd.I., unsur Pengurus Pusat LSH Hidayatullah, yang turut menguatkan sisi fiqih dan tata laksana ibadah qurban dalam bingkai pendidikan masyarakat muslim.

Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari seluruh elemen civitas DQM. Ketua Panitia Qurban DQM, Ustadz Asep Roni Hermansyah, M.Si., menyatakan bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari program pendidikan karakter dan kompetensi keagamaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Kami ingin para santri dan guru tidak hanya paham fiqih qurban secara teoritis, tapi juga mampu mengelolanya secara profesional di masyarakat,” terang Asep.

Para peserta yang terdiri dari guru, karyawan, mahasiswa STIU, serta santri SMP dan SMA DQM, mendapatkan materi berjenjang mulai dari fiqih Udhiyah, manajemen qurban berbasis konsep ASUH, hingga kesejahteraan dan kesehatan hewan. Salah satu bagian yang paling antusias disambut adalah praktik merebahkan dan menyembelih 2 ekor domba secara syar’i.

Turut hadir pula Ustadz Musthofa, alumni Pelatihan LSH Hidayatullah angkatan pertama, yang kini menjadi edukator sembelihan halal di lingkungan pesantren.

“Pelatihan ini memberi daya hidup baru dalam tradisi qurban kita. Bukan sekadar warisan budaya, tapi ibadah yang terus ditumbuhkan dengan ilmu,” ujarnya.

Kegiatan ditutup dengan sesi praktik penyembelihan unggas di lapangan, di mana peserta dilatih langsung oleh para instruktur bersertifikat. Sebagai bentuk apresiasi, seluruh peserta memperoleh sertifikat penghargaan dari LSH Hidayatullah.

Melalui kegiatan ini, DQM menegaskan posisinya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga menyebarkan praktik keislaman yang profesional, etis, dan bertanggung jawab.*/

Evaluasi Kompetensi dan Karakter, Lomba PAI SD Tunjukkan Indikator Pembinaan

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) Kecamatan Tamalanrea menyelenggarakan Lomba Keterampilan Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat Sekolah Dasar di Kompleks SD Integral Al Bayan, Pondok Pesantren Hidayatullah Makassar, Sabtu, 26 Dzulqa’dah 1446 (24/5/2025).

Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam Kemenag Kota Makassar, Dr. H. Syaifullah Rusmin, Lc., M.Th.I., yang menekankan bahwa kegiatan ini berfungsi ganda yang bukan hanya mengukur kemampuan siswa, tetapi juga menjadi indikator pembinaan yang dilakukan para guru.

“Lomba ini menjadi indikator sejauh mana pembinaan yang dilakukan guru terhadap siswanya, baik dalam aspek akademik maupun nilai-nilai keagamaan,” ujar Syaifullah dalam sambutannya.

Lomba PAI yang sudah memasuki tahun ketiga ini memperebutkan Piala Bergilir KKG PAI Tamalanrea.

Kompetisi ini melibatkan berbagai sekolah dasar dari lingkungan Kecamatan Tamalanrea, dengan partisipasi kepala sekolah negeri maupun swasta, serta pengurus KKG PAI tingkat Kota Makassar.

Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Tamalanrea, Arifuddin, S.Pd., M.Pd., hadir dalam kegiatan tersebut dan menyampaikan harapannya agar lomba ini bisa berlanjut pada skala yang lebih luas.

“Saya berharap ke depan kegiatan seperti ini bisa berjenjang sampai ke tingkat kota, agar memberi ruang lebih luas untuk siswa berprestasi,” ucap Arifuddin.

Ketua Yayasan Hidayatullah Makassar Ust. H. Suwito Fattah, turut hadir dan menyatakan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan di lingkungan kampus Al Bayan, yang menjadi tuan rumah tahun ini. Kegiatan ini memperlihatkan dukungan aktif dari berbagai elemen pendidikan di wilayah tersebut.

Dalam kompetisi tahun ini, SD Inpres Tamalanrea 6 Blok F BTP berhasil keluar sebagai juara umum dan berhak membawa pulang Piala Bergilir KKG PAI Tamalanrea.

Penutupan acara dilakukan oleh Ketua Pokjawas PAI Kota Makassar, Sahid, S.Ag., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa nilai utama dari lomba bukanlah pada simbol piala, melainkan pada proses pembentukan motivasi dan semangat siswa.

“Piala bisa dibeli, harganya murah. Tapi semangat juang dan motivasi anak-anak kita dalam lomba ini tidak bisa dibeli. Itulah yang paling berharga,” tegas Sahid.

Kegiatan ini mencerminkan sinergi antara pendidik, lembaga, dan pemerintah dalam mendukung pendidikan agama Islam yang tidak hanya akademik, namun juga membentuk karakter dan nilai.*/

Hidayatullah Farm Desa Gunung Binjai Model Kemandirian Ekonomi Pesantren Era Baru

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Kemandirian pesantren bukan lagi sekadar cita-cita. Di Balikpapan, langkah nyata mulai terwujud lewat kolaborasi antara Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kalimantan Timur dan Pesantren Tahfidz Ahlussuffah.

Dengan menjadikan Hidayatullah Farm, yang berlokasi di Desa Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, sebagai pusat kegiatan, program pemberdayaan ekonomi ini mendorong para santri dan ustadz untuk terlibat langsung dalam usaha peternakan sapi dan domba. Di sinilah titik temu antara nilai-nilai keagamaan dan semangat kewirausahaan mulai terbangun.

Beberapa waktu lalu, tim Laznas BMH melakukan peninjauan langsung ke lokasi. Di sana tampak geliat baru berupa lahan yang sebelumnya hanya menjadi tempat belajar kini hidup sebagai sentra ekonomi produktif. Energi para santri dan pembimbingnya terasa mengalir dari semangat baru: kemandirian yang tumbuh dari kerja nyata.

“Program ini tidak hanya tentang hasil ternak. Tapi lebih jauh, kami ingin menjadikan peternakan sebagai sumber penghasilan bagi pesantren. Sekaligus tempat belajar kewirausahaan bagi para santri,” ujar Achmad Rifai, Kepala Divisi Pemberdayaan BMH Kaltim, seperti dalam keterangannya diterima media ini, Senin, 28 Dzulqa’dah 1446 (26/5/2025).

Program ini tidak hanya bersifat pragmatis, tetapi juga transformatif. Tujuannya bukan sekadar memenuhi kebutuhan daging, terutama menjelang Idul Adha, melainkan menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemandirian. Santri dilibatkan dari hulu ke hilir dari merawat hewan ternak hingga memahami dinamika pasar dan manajemen usaha.

Ustadz Najib, Kepala Peternakan Hidayatullah Farm, menambahkan semangat positif terhadap keberlangsungan program ini.

“Kami sangat bersyukur atas dukungan BMH. Ini membuka sumber ekonomi baru bagi pesantren dan menjadi sarana belajar yang nyata bagi santri. Semoga bisa terus berkembang dan menjadi program berkelanjutan,” katanya.

Lokasi peternakan yang berada dalam kompleks pesantren dinilai strategis, baik secara lingkungan maupun secara sosial. Kedekatannya dengan para pelaku utama—santri dan guru—membuat proses pembelajaran berlangsung organik dan berkelanjutan.

Di sisi lain, komitmen kuat dari pengelola menjadi modal penting dalam memastikan kesinambungan usaha ini.

Lebih dari sekadar aktivitas ekonomi, inisiatif ini merupakan bukti bahwa pesantren tidak hanya tempat mencetak hafidz Qur’an, tetapi juga calon pemimpin yang tangguh secara spiritual dan mandiri secara ekonomi.

Dengan pendekatan holistik ini, diharapkan pesantren bukan hanya menjawab tantangan zaman, tetapi juga memberi arah baru bagi pemberdayaan umat secara berkelanjutan.*/

Khidmat Pembinaan Umat Upaya Bersama Menghapus Buta Aksara Al-Qur’an di Pedalaman

HALMAHERA (Hidayatullah.or.id) — Dalam lanskap geografis Indonesia yang luas dan beragam, tantangan pemerataan pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang kompleks. Terutama di wilayah-wilayah terpencil seperti pedalaman Halmahera, akses terhadap pendidikan dasar keislaman, termasuk pembelajaran Al-Qur’an, sangat terbatas.

Di tengah realitas ini, program khidmat pembinaan umat Hidayatullah yang didukung oleh Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Maluku Utara kembali menegaskan perannya sebagai agen perubahan dengan menyelenggarakan program pembagian buku Iqro kepada anak-anak Muslim di pelosok Halmahera.

Kegiatan mulia ini berlangsung pada 19 hingga 22 Mei 2025, menandai upaya konkret untuk menghadirkan “cahaya ilmu di tengah keterbatasan”.

Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Maluku Utara, Nurhadi, mengatakan program distribusi buku Iqro oleh ini dilakukan dengan menempuh medan berat, menyusuri desa-desa terpencil yang terputus dari arus utama pembangunan.

Di wilayah seperti ini, buku mengaji menjadi barang langka—suatu fakta yang memprihatinkan dan sekaligus memotivasi.

“Dengan menempuh medan yang tidak mudah, tim menyusuri desa-desa terpencil di Halmahera, membawa harapan dalam bentuk buku Iqro sebagai alat utama pembelajaran membaca Al-Qur’an,” kata Nurhadi seperti dalam keterangan diterima media ini, Senin, 28 Dzulqa’dah 1446 (26/5/2025).

Jelas bahwa buku Iqro, dalam konteks ini, bukan sekadar alat bantu baca, melainkan simbol harapan dan kesempatan bagi generasi muda Muslim.

“Penyaluran buku Iqro yang dibarengi dengan pembinaan rutin membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah—sebuah masa depan di mana anak-anak dari pedalaman pun memiliki peluang yang setara untuk menjadi insan berilmu dan berakhlak mulia,” harap Nurhadi penuh optimisme.

Keceriaan pun memancar dari anak-anak yang menerima buku Iqro tersebut. Antusiasme itu menjadi refleksi sederhana namun menyentuh bahwa akses terhadap pendidikan dasar dapat membangkitkan semangat belajar yang luar biasa, meskipun dalam kondisi serba terbatas.

“Anak-anak sangat bahagia. Mereka langsung membuka dan membaca Iqro yang baru saja mereka terima,” ujar Wahid Hanif, Kadiv Prodaya dari BMH Maluku Utara yang turut serta dalam distribusi.

Program ini tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari dukungan para donatur dan dermawan yang meyakini pentingnya pendidikan Al-Qur’an sebagai fondasi moral dan intelektual anak bangsa.

“Program ini merupakan hasil dari kepedulian para donatur dan orang-orang baik yang percaya pada pentingnya pendidikan Al-Qur’an bagi masa depan generasi penerus bangsa. Tanpa dukungan mereka, langkah-langkah kecil namun bermakna ini tidak akan mungkin terwujud,” jelasnya.

BMH terang dia secara konsisten berupaya menjadi garda terdepan dalam mendukung penanggulangan buta aksara Al-Qur’an di pedalaman pelosok Nusantara.

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas setiap kebaikan yang telah diberikan oleh para donatur dan relawan dengan ganjaran yang berlipat ganda. Dan semoga langkah BMH terus mengiringi perjalanan cahaya Al-Qur’an hingga ke ujung negeri,” tutup Wahid Hanif.

Ketua Umum Hidayatullah Sampaikan Komitmen Bersama Pemerintah Membangun Peradaban Bangsa

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Peresmian Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok pada Sabtu, 26 Dzulqaidah 1446 (24/5/2025), menjadi momentum strategis yang tidak hanya ditandai oleh aspek simbolik bangunan fisik, tetapi juga sebagai manifestasi konkret sinergi antara institusi keagamaan dan negara.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. Romo Muhammad Syafi’i, SH., MH., hadir secara langsung untuk meresmikan masjid dan meletakkan batu pertama pembangunan gedung Taman Kanak-Kanak (TK) Ya Bunayya dan Sekolah Dasar Integral.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ust. H. Dr. Nashirul Haq, MA., menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam atas kehadiran Wamenag.

“Kehadiran Wamenag sebuah kebahagiaan bagi Hidayatullah karena sejak lama kenal dan sering komunikasi dengan Menteri Agama. Tetapi Pak Wamen ini yang baru pertama kali ke Hidayatullah, itulah suatu kebahagiaan tersendiri bagi kami,” ujar Nashirul.

Momentum ini semakin semarak dengan pelaksanaan khitanan massal gratis bagi 2000 anak. Sedikitnya 40 orang dokter terlibat dalam kegiatan ini, dan Wamenag Romo Syafi’i juga menyempatkan diri meninjau langsung proses khitanan ini.

Dalam sambutannya, Nashirul mennyampaikan komitmen Hidayatullah terus menguatkan kolaborasi bersama pemerintah dalam rangka membangun peradaban bangsa serta menegaskan posisi Hidayatullah sebagai ormas keagamaan dan pendidikan yang bernaung di bawah Kementerian Agama, serta sebagian berkoordinasi dengan Kemendikbud.

“Semua itu menjadi jalan kebaikan untuk saling kolaborasi dan sinergi dengan pendidikan Hidayatullah seluruh Indonesia,” katanya, seraya menekankan pentingnya integrasi kelembagaan sebagai fondasi penguatan pendidikan Islam yang modern dan intergral.

Lebih jauh, Nashirul pada kesempatan itu melaporkan bahwa Hidayatullah akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-VI di Jakarta pada November mendatang. Ia menyampaikan komitmen untuk terus menjalin kolaborasi dengan pemerintah baru di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

“Sinergi dan kolaborasi Hidayatullah dan segenap elemen pemerintah selalu kita jalin dan kami akan mengundang semua pemerintahan Pak Prabowo untuk hadir dan bersinergi dan kolaborasi dengan Hidayatullah,” katanya.

Pada aspek ideologis, Nashirul menegaskan nilai utama dari misi besar Hidayatullah yang tidak berhenti pada aspek spiritual semata, tetapi menjangkau dimensi sosial-ekonomi sebagai sarana pembumian nilai-nilai Islam.

“Perpaduan iman, ilmu, dan amal shaleh dengan membentuk komunitas dalam bentuk pesantren, pengajian, serta halaqah dalam keluarga untuk membangun peradaban Islam yang ditopang dengan kegiatan sosial dan ekonomi,” katanya.

Hidayatullah juga berkiprah dalam pengelolaan pendidikan secara profesional, serta aktif di berbagai bidang seperti sosial, kesehatan, ekonomi, dan pengembangan masyarakat, termasuk melalui keberadaan para dai di pelosok negeri.

Disamping itu, Hidayatullah juga terus berinovasi dan senantiasa melakukan adaptasi pemikiran agar Islam tetap kontekstual.

“Hidayatullah berperan secara aktif dalam melaksanakan proses pembaharuan atau tajdid di bidang pemikiran Islam yang relevan dengan kebutuhan zaman, inilah upaya Hidayatullah hadir untuk mengaktualisasikan apa yang dicontohkan Nabi Muhammad,” katanya.

Menutup sambutannya, Nashirul kembali menekankan pentingnya kerja sama lintas elemen umat dan bangsa.

Ia pun menegaskan posisi Hidayatullah sebagai pelaku strategis dalam pembangunan bangsa berbasis nilai-nilai keislaman universal.

“Hidayatullah terbuka untuk semua itu. Hidayatullah tidak bisa berjalan sendirian, sehingga kita semua harus bersama-sama. Semua ini wujud Hidayatullah untuk membangun kultur dan membangun peradaban Islam yang kaffatan linnas rahmatan lil ‘alamiin,” tandasnya.*/

Wakil Menteri Agama Resmikan Masjid Ummul Quraa Hidayatullah Depok, Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Sekolah dan Tinjau Khitan Massal 2000 Anak

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok menegaskan peran strategisnya dalam pembangunan bangsa melalui peresmian Masjid Ummul Quraa yang dirangkai dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung Taman Kanak-Kanak (TK) Ya Bunayya dan Sekolah Dasar Integral.

Kegiatan monumental ini dilaksanakan di Kampus Hidayatullah Depok, Jalan Raya Kalimulya, Cilodong, dengan dihadiri langsung oleh Wakil Menteri Agama (Wamenag) Republik Indonesia, Dr. Romo Muhammad Syafi’i, SH., MH, Sabtu, 26 Dzulqaidah 1446 (24/5/2025).

Tak hanya peresmian masjid dan seremoni peletakan batu pertama proyek pembangunan gedung, acara juga dirangkai dengan kegiatan sosial berupa khitanan massal gratis yang diikuti oleh 2.000 anak.

Wamenag Romo Syafi’i juga meluangkan waktu meninjau langsung kegiatan khitanan massal yang digelar Pondok Pesantren Hidayatullah Depok ini.

Dalam sambutannya, Romo Syafi’i menyampaikan apresiasi terhadap kiprah Hidayatullah dalam sistem pendidikan nasional yang uga menegaskan peran historisnya dalam membentuk karakter bangsa.

“Hidayatullah sebagai mitra strategis bangsa dalam membangun Indonesia yang beradab dan sejahtera untuk Indonesia Emas 2045,” katanya.

Dalam konteks pemerintahan saat ini, Romo Syafi’i menegaskan arah baru kebijakan nasional di bawah Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam bidang pendidikan.

Salah satu terobosan signifikan adalah pemisahan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menjadi tiga lembaga berbeda: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek), serta Kementerian Kebudayaan. Restrukturisasi ini diharapkan mampu memberikan perhatian yang lebih terfokus dan terukur pada tiap jenjang pendidikan.

Tidak berhenti di situ, kata Wamenag, pemerintah juga menargetkan pembangunan satu sekolah unggulan di setiap kabupaten/kota dengan mendirikan 200 Sekolah Rakyat melalui Kementerian Sosial.

“Ini merupakan bentuk keberpihakan terhadap masyarakat lapis bawah dan komitmen pemerataan akses pendidikan berkualitas,” katanya.

Pada sektor strategis lainnya, seperti pertanian dan energi, pemerintah mengambil langkah-langkah besar. Di antaranya adalah pencapaian surplus pangan nasional serta target pengurangan impor minyak sebesar satu juta barel per hari melalui pembangunan kilang baru dan peningkatan produksi dalam negeri.

Semua ini, terang Wamenag, bertujuan memperkuat ketahanan nasional dan kemandirian bangsa dalam jangka panjang. Romo Syafi’i juga menyentuh isu global dan posisi Indonesia dalam dunia Islam.

“Presiden bersungguh-sungguh dalam tugasnya, termasuk dalam isu utama keislaman dan Palestina, agar Indonesia dihormati di tingkat internasional,” tegasnya.

Apresiasi terhadap peran Hidayatullah tidak hanya terbatas pada sektor pendidikan, tetapi juga pada pembangunan karakter bangsa. “Kita membutuhkan tenaga-tenaga terampil. Apa yang Hidayatullah siapkan itu sangat berguna dan membantu pemerintah serta menjadi tonggak peradaban melalui pendidikan,” tambahnya.

Menanggapi stigma lama yang menyudutkan pesantren, Wamenag meluruskan persepsi yang keliru. Ia merujuk pada peran historis pesantren dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, termasuk melalui Resolusi Jihad yang dicetuskan para ulama.

“Jangan mudah memberikan label teroris, karena pesantren yang mendidik dan menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk bangsa. Hidayatullah hadir untuk itu,” katanya tegas.

Dengan gaya setengah berseloroh, namun serius maknanya, Romo Syafi’i menutup sambutannya dengan menyatakan, “Apa saja yang Hidayatullah butuhkan, saya langsung tanda tangan. Tidak perlu lobi sana sini, keluar uang. Tinggal telepon saya. Saya langsung tanda tangan sekarang juga”.

Pada kesempatan tersebut hadir Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. Nashirul Haq, Lc., MA, Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Depok, Ust. Lalu Mabrul, M.Pd.I, Habib Ali bin Abdurrahman As-Segaf, Bunda Aisah selaku Pengawas Vanilla Hijab, dan H. Susilo, penasehat sekaligus salah satu penyokong setia perjuangan pesantren.*/