JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, bekerja sama dengan Hidayatullah Institute (HI), menggelar Pelatihan Kepemimpinan Kepala Sekolah Hidayatullah se-Indonesia selama 5 hari yang dibuka pada Kamis malam, 21 Syaban 1446 (20/2/2025).
Acara yang mengusung tema “Kepemimpinan Manhaji, Visioner, dan Progresif” ini dibuka secara resmi oleh Ketua Bidang Tarbiyah DPP Hidayatullah, Ir. H.M. Abu A’la Abdullah, M.HI.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali para kepala sekolah dengan kompetensi kepemimpinan yang berorientasi pada nilai-nilai manhaji (metodis), visi jauh ke depan, dan langkah progresif guna mendukung misi besar Hidayatullah dalam pembangunan peradaban.
Abu A’la menekankan urgensi pelatihan ini sebagai fondasi penting dalam mencetak pemimpin pendidikan yang kompeten juga memiliki dampak luas bagi umat, bangsa, dan negara.
“Ini dalam rangka melahirkan pemimpin dan penyelenggara pendidikan yang manhaji, visioner, dan progresif demi mendukung visi Hidayatullah dalam membangun peradaban serta dapat berkontribusi luar biasa dalam memajukan umat, bangsa, dan negara,” katanya.
Dia menegaskan, visi strategis Hidayatullah menjadikan pendidikan sebagai pilar utama transformasi sosial yang berkelanjutan.
Diterangkan dia, kepemimpinan manhaji merujuk pada pendekatan yang sistematis dan berbasis prinsip Islam, sedangkan aspek visioner menuntut kemampuan untuk merancang strategi jangka panjang yang inovatif.
Sementara itu, progresif mengacu pada semangat untuk terus bergerak maju dengan langkah konkret yang adaptif terhadap tantangan zaman.
Ketiga elemen ini, menurut Abu A’la, menjadi kunci bagi kepala sekolah Hidayatullah dalam menjalankan amanah pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kontribusi sosial.
Pelatihan ini dihadiri oleh para kepala sekolah dari berbagai wilayah di Indonesia, yang diharapkan dapat mengimplementasikan hasil pelatihan dalam pengelolaan lembaga pendidikan mereka.
Sementara itu, Ketua Departemen Dikdasmen DPP Hidayatullah, Dr. Nanang Nurpatria, dalam kesempatan terpisah menjelaskan kegiatan ini wujud komitmen Hidayatullah untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Kolaborasi yang dijalin termasuk dengan mengadirkan narasumber dari beragam pengalaman kepemimpinan menegaskan pendekatan terpadu dalam pengembangan kepemimpinan, dengan memadukan teori, praktik, dan nilai-nilai keislaman.
Lebih jauh, terang Nanang, pelatihan ini tidak sekadar menjadi ajang pembinaan teknis, tetapi juga ruang refleksi bagi para pemimpin pendidikan untuk menyelaraskan visi pribadi dengan misi organisasi.
“Inisiatif ini sejalan dengan upaya Hidayatullah untuk berkontribusi pada pembangunan peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin,” terangnya.
Nanang menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang harus dikelola oleh pemimpin yang mampu membaca dinamika zaman sekaligus senantiasa meneguhkan identitas keislaman.
Dengan berakhirnya sesi pembukaan, pelatihan ini akan berlangsung selama beberapa hari ke depan, menggabungkan sesi diskusi, lokakarya, dan studi kasus, dengan harapan peserta pulang dengan wawasan baru dan strategi praktis untuk memajukan sekolah-sekolah di bawah naungan Hidayatullah.*/Darwiwing
BITUNG (Hidayatullah.or.id) – Satuan Tugas (Satgas) Tentara Nasional Indonesia (TNI) Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-123 Kodim 1310/Bitung tengah mempercepat proses rehabilitasi lantai dua tiga ruang kelas di Pondok Pesantren Hidayatullah, yang berlokasi di Wangurer Barat, Kecamatan Madidir, Kota Bitung, Sulawesi Utara.
Kegiatan ini berlangsung pada Jumat, 22 Syaban 1446 (21/2/2025), sebagai bagian dari upaya TNI mendukung pembangunan infrastruktur pendidikan di wilayah tersebut.
Proses pengecoran dak lantai menjadi fokus utama dalam rehabilitasi ini. Segala persiapan, termasuk penyediaan material seperti semen, pasir, dan peralatan lainnya, telah disiapkan secara matang oleh Satgas TMMD untuk memastikan pelaksanaan berjalan lancar.
Menurut Kopda Frangky Darui, salah satu personel Satgas, rehabilitasi ini mencakup sejumlah tahapan teknis yang sistematis.
“Jadi pertama torang plester terlebih dahulu, setelah itu dilanjutkan dengan pengacian dan di-Nodrop-kan agar tidak mudah retak dan untuk menghindari kebocoran,” jelas Kopda Frangky.
Ia menambahkan bahwa perbaikan juga meliputi pintu dan jendela yang telah rusak, sehingga ruang kelas dapat kembali fungsional secara optimal.
Kepala Yayasan Hidayatullah, Muhammad Taufikurrahman, menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif TNI melalui program TMMD ini. Ia mengungkapkan bahwa kehadiran TNI dalam kegiatan ini memberikan bukti nyata komitmen mereka terhadap kebutuhan masyarakat.
“Sangat mengapresiasi program ini, karena dengan TMMD, TNI bisa terjun langsung di tengah masyarakat dalam rangka membantu warga, baik pembangunan fisik maupun non-fisik,” ujar Taufik. Ia juga menyoroti dampak positif rehabilitasi ini terhadap proses pembelajaran di pesantren yang ia pimpin.
Taufik menjelaskan bahwa sebelumnya, kondisi ruang kelas di lantai dua kerap menjadi kendala saat musim hujan tiba.
“Kelas yang berada di lantai dua kalau hujan bocor, kegiatan belajar jadi terganggu. Alhamdulillah, sekarang bisa direhabilitasi melalui program TMMD tahun ini,” tuturnya dengan nada penuh syukur.
Ia berharap perbaikan fasilitas ini dapat meningkatkan semangat belajar para santri, sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih kondusif.
Program TMMD ke-123 ini tidak hanya menunjukkan sinergi antara TNI dan masyarakat, tetapi juga menjadi wujud nyata pendekatan pembangunan berbasis kebutuhan lokal.
Rehabilitasi infrastruktur pendidikan seperti yang dilakukan di Pondok Pesantren Hidayatullah diharapkan menjadi model bagi upaya serupa di wilayah lain.
Dengan penyelesaian tahap pengecoran dan perbaikan fasilitas, tiga ruang kelas tersebut kini siap mendukung proses pendidikan yang lebih berkualitas. (esn/hidayatullah.or.id)
Pengurus dan santri awal Hidayatullah Fakfak di depan papan nama tahun 1988 (Dokumentasi Pribadi/ Ichra Diyono)
TANAH bagi kader Hidayatullah seperti kekayaan emas berlian, sehingga ketika ada informasi orang yang ingin mewakafkan tanah untuk pesantren, maka biasanya langsung didatangi. Apalagi di daerah-daerah yang belum tersentuh oleh dakwah Islamiyah.
Demikian itulah yang terjadi, Ustadz Soewardhany Soekarno ketika mendengar ada seseorang yaitu pa Lasia mantan atlit bulutangkis lokal di Fakfak ingin mewakafkan tanahnya untuk pesantren maka beliau langsung mendatanginya. Padahal beliau sedang atau baru saja merintis Pesantren Hidayatullah di Jayapura.
Namun ternyata informasi itu tidak sepenuhnya benar, ketika datang ke Fakfak tidak bertemu dengan orang tersebut dan tidak ada juga tanahnya. Sebagai kader dakwah Hidayatullah tidak ada istilah kecewa, pulang atau mundur dari medan dakwah sebelum berhasil merintis dan mendirikan pesantren.
Ustadz Soewardhany Soekarno bersama istri dan tiga anak kecilnya tetap bertahan di Fakfak dengan kontrak rumah di kota. Saat itu Fakfak kabupaten yang belum terlalu berkembang dan ukuran kotanya masih sangat sederhana fasilitasnya.
Saat di rumah kontrakan tersebut, beliau bergerilya dari rumah-rumah dan kantor-kantor. Disebut gerilya karena menyisir satu persatu rumah tokoh dan kantor satu ke kantor yang lain. Tujuannya silaturahim mengenalkan diri dan mengutarakan niat untuk mendirikan Pesantren Hidayatullah di Fakfak.
Hasil dari gerilya tersebut bertemu dengan Bapak Muhammad Husein Serkanasa. Beliau PNS di Kesbangpol orang asli Irian Jaya namun sempat belajar lama di Jawa dan pemikiran sudah sangat terbuka untuk membangun tanah Irian Jaya.
Perkenalan dengan Bapak Muhammad Husein Serkanasa ini yang memberi dukungan besar dengan menghibahkan tanah seluas satu hektar. Lokasinya di kampung sekru Jl. Yos Sudarso, Distrik Pariwari.
Bertemu juga dengan Bapak Imam Tete Palembang yang meminjamkan rumahnya untuk tempat tinggal Ustadz Soewardhany Soekarno sekeluarga. Lokasinya di pinggir pantai dan dekat masjid kecil yang memudahkan untuk ibadah dan dakwah.
Tahun 1990 atau satu tahun berikutnya datang tiga tenaga muda yang masih bujang. Yaitu Pak Iskandar, Pak Noor Mawardi (Alm.), dan Pak Ichra Diyono Sukeni biasa dipanggil Ustadz Yoyon. Mereka didatangkan untuk memperkuat dakwah di Fakfak. Untuk sementara tinggal sama-sama di rumah pinjaman.
Tampak yang ditandai nomor (1) Noor Mawardi, (2) Ichra Diyono, dan (3) Iskandar, bersama anak santri awal Hidayatullah Fakfak (Dokumentasi Pribadi/ Ichra Diyono)
Ustadz Suwardhani Sukarno membagi tugas ketiga tenaga muda tersebut. Pak Iskandar ditugaskan untuk membina komunitas masyarakat Bugis di kota dengan membina anak-anak mengajar ngaji. Sambil tetap mengenalkan dan dakwah mengenalkan Hidayatullah kepada orang tua santri dan masyarakat sekitarnya.
Pak Noor Mawardi ditugaskan sebagai kepala kampus dan arsitektur bangunan, karena memang beliau memiliki bakat keterampilan pertukangan juga bagian dari pembuat masjid Hidayatullah kampus induk. (Anak buah pa ustad Sugiono Alm dan Ust Jamal DM).
Meskipun tanah yang dihibahkan baru ada pondasi saja dan masih belum ada bangunan apapun. Namun tetap ditugaskan ke lahan kosong tersebut membuat gerakan dengan membersihkan rumput-rumput atau lainnya.
Pak Ichra Diyono diberikan tugas membuat proposal dan mengedarkannya ke tokoh dan pejabat. Ustadz Soewardhany Soekarno dengan tekun mengajari mengetik satu persatu hingga bisa cepat dan rapi, diulang-ulang sampai tidak ada kesalahan. Meletakkan karbon beberapa lapis untuk melipatgandakannya.
Mesin ketik adalah perlengkapan yang wajib dibawa oleh petugas dakwah Hidayatullah. Kemampuan mengetik menjadi wajib dimiliki untuk bisa membuat surat dan proposal kepada pemerintah dan tokoh masyarakat.
Ketika surat dan proposal sudah jadi, tugas berikutnya mengantarkannya ke kota dengan jalan kaki. Naik dan turun gunung dengan jarak yang cukup jauh lokasi kota. Hampir setiap hari jalan kaki dari kampung lokasi pesantren ke kota.
Beberapa bulan berikutnya, ketika sudah mulai banyak simpatisan yang dikenal maka disampaikan kepada mereka bahwa akan membangun pesantren. Maka orang-orang kampung bergotong royong, ada yang membawa makanan, bensin untuk alat senso membelah kayu susu (pohon besar getahnya warna putih, orang sana menyebutnya kayu susu) dibuat papan, balok dst.
Tidak terlalu lama, berdiri satu bangunan rumah dengan tiang-tiang yang cukup kokoh dan papan-papan untuk alas dan sebagian dinding yang rapi. Namun belum ada atapnya, tapi Ustadz Soewardhany Soekarno memerintahkan kepada ketiga kader muda untuk segera pindah dan tinggal di bangunan tersebut.
Ternyata malamnya hujan, mereka basah kuyup karena memang rumah itu belum ada atapnya. Mereka menikmati saja sambil senyum-senyum meski kedinginan di malam hari. Hikmahnya besok paginya datang simpatisan dari kota dan melihat kondisi bangunan dan mereka bertiga basah-basah, akhirnya langsung membelikan atap seng, triplek dan memasangnya hari itu juga.
Alhamdulillah bangunan rumah pertama jadi dan bisa ditempati dengan nyaman. Selanjutnya membuat bangunan rumah kedua untuk tempat tinggal Ustadz Soewardhany Soekarno juga dengan gotong royong masyarakat dan simpatisan.
Pola gerilya silaturahim, kerja keras dan ibadah adalah perpaduan kerja yang senantiasa dilakukan Ustadz Soewardhani Soekarno. Inilah yang mempercepat pembangunan, pendirian koperasi, mengurus perizinan, membuat panti asuhan dan lain sebagainya.
Pola perkaderan Ustadz Soewardhani Soekarno kepada ketiga kader muda tersebut luar biasa. Mendampingi, memotivasi, mengajari dari hal-hal yang kecil dan memberikan teladan yang baik dalam ibadah, bekerja serta berkomunikasi.
Menjaga shalat wajib berjamaah dan shalat lail terkadang berjamaah. Kalau kelihatan lelah, letih dan capek atau ada pekerjaan lembur malam maka ketiga tenaga muda disuruh shalat witir setelah isya’. Ada briefing atau nasehat setiap bakda Shubuh, Ashar atau waktu-waktu tertentu sambil cerita-cerita dan makan-makan di bawah pohon besar di lokasi pesantren.
“Tanamkan cita-cita besar untuk mengukir sejarah, kalian harus menjadi pelaku sejarah. Jangan gentar, jangan takut sebab semua yang kita lakukan disaksikan oleh Allah dan dicatat oleh Malaikat sebagai amal ibadah. Pekerjaan ini adalah tugas ilahiyah untuk mendidik umat dan memperjuangkan Allah” Itu beberapa pesan motivasi Ustadz Soewardhani Soekarno untuk memotivasi tiga kader muda.
Pak Noor Mawardi yang diberikan amanah kepala lampus biasanya tidak bisa tidur kalau belum selesai pekerjaannya. Memikirkan dan merenungkan caranya untuk bisa cepat selesai sebagai bentuk tanggung jawabnya. Pekerjaan senantiasa rapi, hemat dan tuntas.
Pak Ichra Diyono yang biasa dipanggil Pak Yoyon, selain tugas membuat surat proposal, cari donatur, edarkan majalah di kota, terkadang juga belanja ke pasar. Pernah suatu ketika disuruh belanja ke pasar dengan uang 15 ribu tapi catatan belanjanya sangat banyak, kalau dihitung mungkin hampir 100 ribu.
Awalnya bingung bagaimana caranya tapi segan juga untuk bertanya atau minta tambahan uang ke Ustadz Soewardhani Soekarno. “Saya nggak mau tahu Yon, yang penting beli semua barang dalam catatan itu”.
Bismillah tawakal taat, Pak Yoyon berangkat ke pasar. Di perjalanan ada ide, belanja sambil mengenalkan ke penjual-penjual bahwa ini belanja untuk kebutuhan anak-anak yatim piatu di panti asuhan, mereka perlu makanan, lauk dan sayur-sayuran.
Akhirnya, banyak penjual yang tidak mau dibayar bahkan suruh ambil saja yang dibutuhkan Pak Yoyon. Hanya beberapa saja yang harus dibayar, pulang ke pesantren dengan terbawa semua catatan pesanan belanjaan bahkan uang masih sisa 5 ribu.
Ustadz Soewardhani Soekarno heran kok bisa uangnya masih sisa uangnya, padahal seharusnya kurang banyak. Pak Yoyon cerita yang dilakukan di pasar. “Alhamdulillah, berarti kamu Yon sudah bisa menjadi kader” kata beliau.
Berfoto bersama di depan kantor awal Hidayatullah Fakfak (Dokumentasi Pribadi/ Ichra Diyono)
Pak Iskandar yang tugas di kota bukan hanya mengajar anak-anak mengaji, tapi juga harus membantu mendekati orang tuanya. Mereka rata-rata nelayan, maka sering Pak Iskandar membawa ikan dari kota ke pesantren, termasuk mengajak kerja bakti ke pesantren jika hari ahad atau hari libur.
Kalau tanggal muda atau datang majalah suara Hidayatullah maka ketiga kader muda turun semua ke kota untuk mengedarkannya ke kantor-kantor atau rumah besar. Bukan hanya majalah tapi juga membawa surat dan proposal. Ustadz Soewardhani Soekarno menanamkan pesan, “Saat memberikan majalah dan surat, sampaikan kepada orang-orang kaya tersebut bahwa ini surat undangan menuju Surga”
Mungkin terdengar aneh dan bergetar bagi orang-orang yang tersentuh hatinya. Karena memang programnya mengajak berinfak, shadaqah untuk membangun pesantren, menyantuni anak-anak yatim, membeli al-Qur’an, mengajar mengaji. Semuanya itu insya Allah mengantarkan untuk masuk surga jika dilakukan dengan ikhlas karena Allah.
Ada rahasia lagi yang menjadi kunci untuk bisa mendapatkan dukungan tokoh dan pejabat yaitu membawakan buku 20 Tahun Hidayatullah Balikpapan. Dalam buku tersebut dituliskan perkembangan Hidayatullah yang mendapatkan penghargaan Kalpataru, didatangi menteri, panglima TNI, pejabat-pejabat nasional.
Biasa para pejabat langsung respek dan kagum maka disitulah disampaikan maksud kedatangannya Ustadz Soewardhani, “Kami datang ke sini untuk bisa membuat pendidikan sebagaimana di Pesantren Hidayatullah Balikpapan.”
Sebagian mereka yang tersentuh ada yang langsung merespon, “Ini anugerah Allah, ini berkah yang luar biasa, kalian jauh-jauh datang dan tidak kami kenal tapi kalian punya keinginan, pemikiran dan cita-cita untuk memajukan daerah kami, mengajarkan anak-anak kami” Akhirnya mereka menerima dan mendukung dakwah Hidayatullah.
Sistem gerilya dalam silaturahim di mulai dari pejabat tingkat bawah dan meminta surat dukungan yang bertanda tangan dan stempel. Mulai dari kepala desa, camat baru kepada koramil, kapolres dan bupati. Ternyata pola silaturahim dari bawah itu strategis karena mempermudah komunikasi dan dukungan dari pejabat tingkat atas.
Kemudian tips yang diberikan Ustadz Soewardhani Soekarno untuk menarik anak-anak betah mengaji adalah dengan memberikan permen. Jika ada yang bisa mengajak teman-temannya untuk mengaji akan diberikan tambahan permen. Metode ini cukup praktis dan menjadikan pesantren ramai anak-anak mengaji setiap sore.
Adapun untuk menarik simpati orang tua santri dan orang-orang kampung adalah dengan memberikan sembako, beras, minyak dan sarung. Meskipun berasnya kualitas dolog tapi mereka sangat senang sekali karena jarang makan nasi, lebih sering makan sagu.
Hal yang fenemonal adalah ketika Idul Adha, saat itu belum ada orang yang berkorban kambing, domba apalagi sapi. Ustadz Soewardhani Soekarno menjelang Idul Adha mengutus tiga kader muda untuk silaturahim ke kota dan menyampaikan kepada orang-orang kaya untuk bisa berkorban.
Alhamdulillah akhirnya terkumpul dana dari simpatisan yang mereka patungan. Tidak mudah menjelaskan keutamaan berkorban dan mengajak mereka mau berkorban. Ketika sudah cukup maka membeli sapi korban di kota.
Saat itu belum ada mobil pick up yang mau mengangkut hewan apalagi sapi. Terpaksa dituntun jalan kaki dari dari kota ke pesantren dengan naik turun gunung. Luar biasa perjalanannya, terutama saat naik gunung sambil mendorong sapi.
Pasca shalat Idul Adha, hewan korban disembelih dan dibagikan kepada masyarakat sekitar. Luar biasa senangnya mereka mendapatkan daging hewan korban yang belum pernah didapatkan sebelumnya. Semakin banyak masyarakat yang simpati dengan Pesantren Hidayatullah Fakfak.
Pekerjaan lain sederhana tapi menarik adalah mengumpulkan anak-anak kecil pedalaman untuk diajak ke pesantren. Sebagian mereka tidak memiliki orang tua sehingga tidak ada yang merawatnya, jarang atau mungkin tidak pernah mandi dan ganti baju.
Kerja bakti merintis di Pondok Pesantren Hidayatullah Fakfak (Dokumentasi Pribadi/ Ichra Diyono)
Sebelumnya mereka dibawa ke pasar, disampaikan kepada penjual baju bahwa anak-anak ini sebagian tidak punya orang tua. Ini mau diasuh pesantren dan perlu perlengkapan dan pakaian. Para penjual langsung merespon, ada yang memberi sabun, sampho, gunting dan pakaian-pakaian baru.
Mereka satu persatu dimandikan di sungai agar mudah, memakai serabut kelapa untuk menggosok daki yang lengket dikulitnya kemudian digosok sabun. Tidak ketinggalan rambutnya juga dikeramasi dan dicukur sebelumnya kalau terlalu panjang.
Anak-anak menjadi berbinar wajahnya dan senyum merekah senyumnya. Sambil memandangi kulit dan pakaian barunya. Apalagi diberikan makan hingga kenyang dan bingkisan ala kadarnya. Mendapatkan perhatian dari pesantren yang tidak dikenal sebelumnya dan tidak ada hubungan sanak kerabat.
Suatu saat Ustadz Soewardhany Soekarno mendengar bahwa Wakil Gubernur Irian Jaya 1989 —1993 yaitu Mayor Jenderal TNI Soedardjat Nataatmadja akan meresmikan kilang minyak di desa Werba dan di lokasi tersebut melewati kampung Sekru di mana pesantren Hidayatullah berada. Kebetulan Ustadz Soewardhani Soekarno sempat ketemu dan kenal Mayjend Soedardjat Nataatmadja saat tugas di Hidayatullah Jayapura.
Ternyata saat melewati pesantren dan melihat anak-anak berbaris melambaikan tangan, rombongan wakil gubernur berhenti dan turun dari mobil. Termasuk rombongan bupati, Kapolres, Dandim, ketua DPRD dan pejabat lainnya.
Datang menyalami anak-anak dan pengurus pesantren. Disitulah kaget Mayjend Soedardjat Nataatmadja bertemu kembali dengan Ustadz Soewardhani Soekarno.
“Saya sekarang tugas di sini Pak,” kata Ustadz Soewardhani Soekarno
“Oh iya, bagus-bagus,” kata Wakil Gubernur sambil salaman dan menepuk pundak Ustadz Soewardhani. Tidak lama setelah berfoto bersama di plang papan nama pesantren Hidayatullah, beliau langsung meneruskan perjalanannya.
Beberapa hari berikutnya, datang surat panggilan pengurus pesantren ke Kapolres. Pak Iskandar dan Pak Noor Mawardi yang mewakili masuk ke kantor Kapolres tapi dipimpong, tidak jelas alasannya dipanggil. Ternyata ujungnya, mereka merasa tersinggung dan kecolongan ketika wakil gubernur menyapa anak-anak pesantren.
Tidak lama setelah itu, datang polisi ke pesantren dan langsung mencabut papan nama pesantren dan membawanya ke kantor polisi. Sempat ramai masyarakat membicarakannya, tapi pengurus pesantren tidak mau ribut dan tidak menghalanginya.
Pesantren mengambil solusi dengan mengirim surat pengaduan kepada Wakil Gubernur Irian Jaya tentang pencabutan papan nama pesantren. Alhamdulillah, masalah selesai dengan damai dan papan nama dikembalikan ke pesantren.
Sebenarnya tidak ada tantangan yang berat untuk dakwah di tanah Papua dan mungkin di mana saja bumi Allah. Kalau disebut ada tantangan, mungkin hanya di awal saja itupun sebentar dan sebagai bumbu untuk lebih gigih dalam bermunajat dan bersilaturahim.
Jika dikatanya nyamuk malaria itu berbahaya, namun ketika sudah akrab dengan sakit malaria maka biasa saja. Mungkin ada menganggap orang-orang asli menakutkan tapi ketika sudah mengenalnya dengan baik maka bisa akrab dan bisa kerja sama. Atau medan dakwah yang sulit karena alam dan transportasi terbatas, semua bisa dijalani sesuai kondisi.
*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sebagai tajuk “Laporan Perjalanan” di sela sela kunjungannya ke Papua beberapa waktu lalu. Hasil wawancara dengan Ustadz Ichra Diyono (salah satu kader Ustadz Soewardhani Soekarno)
BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Suasana penuh kebersamaan terasa di Pesantren Hiswah Bilabong, Jalan Raya Bilabong Permai, Cimanggis, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Tokoh publik Dik Doank hadir dalam aksi berbagi buka puasa bersama santri, sebagai bagian dari implementasi program yang akan terus bergulir, hingga tiba Ramadhan.
Program ini mendapat sambutan antusias dari santri. Di antara para santri, Irsyad Zona Rizky (16), santri asal Jakarta, memiliki cerita istimewa. Desember 2024, ia tuntas menghafal 30 juz Al-Qur’an, menjadikan Ramadhan kali ini sebagai pengalaman pertama sebagai seorang hafidz Qur’an.
“Alhamdulillah, buka puasa dan beras santri ini semoga menjadi penyemangat bagi kami untuk menjaga dan mengamalkan Al-Qur’an,” ungkap Irsyad penuh syukur, seperti dalam keterangan diterima media ini, Kamis, 21 Syaban 1446 (20/2/2025).
Dalam kesempatan ini, BMH menyalurkan 200 kg beras untuk 32 santri penghafal Qur’an. Bantuan ini diharapkan dapat mendukung kebutuhan pangan para santri selama bulan suci.
Melihat betapa program ini sangat penting bagi santri, Dik Doank yang memilik nama lengkap Raden Rizki Mulyawan Kartanegara Hayang Denda Kusuma ini mengajak masyarakat untuk berbagi kebahagiaan bersama para santri.
“Sahabat, yang ingin berbagi buka puasa khususnya di bulan Ramadhan, bisa langsung melalui BMH. InsyaAllah, akan disalurkan tepat sasaran, salah satunya untuk santri penghafal Qur’an,” pesan aktifis dan aktor ini.
Dengan semangat Ramadhan, aksi ini bukan sekadar berbagi makanan, tetapi juga mendukung generasi Qur’ani agar terus berjuang menjaga hafalan mereka.*/Herim
TANGSEL (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) semakin menunjukkan komitmennya terhadap kelestarian lingkungan dengan meluncurkan program bertajuk Pesantren Iklim.
Program baru BMH di Pilar Lingkungan “Bumi Negeri Lestari” ini dirancang untuk membentuk pesantren yang peduli terhadap lingkungan melalui edukasi dan praktik pengelolaan limbah yang berkelanjutan.
Dalam rangka memperdalam konsep dan merancang implementasi yang lebih efektif, Direktur Program & Pendayagunaan BMH, Syamsuddin, bersama tim dari Departemen Kreator Program, melakukan kunjungan studi banding ke Kertabumi Recycling Center di Tangerang Selatan, Banten.
Kunjungan ini bertujuan untuk menggali wawasan mendalam tentang model pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan dapat diterapkan di lingkungan pesantren.
Rombongan BMH disambut oleh Farid, petugas Kertabumi Recycling Center, yang memaparkan berbagai aspek pengelolaan limbah, mulai dari urgensi pengelolaan sampah, proses bisnis yang berkelanjutan, hingga tantangan dalam mengolah limbah plastik yang kian mengkhawatirkan.
Diskusi ini juga menelaah berbagaio aspek penting dalam mengidentifikasi langkah-langkah strategis yang dapat diterapkan dalam Pesantren Iklim.
“Alhamdulillah, hari ini kami belajar banyak dari Kertabumi tentang pengelolaan limbah plastik. Ini sangat berharga bagi BMH dalam menginisiasi program lingkungan seperti Pesantren Iklim,” kata Syamsuddin, seperti dalam keterangan diterima media ini, Kamis, 21 Syaban 1446 (20/2/2025).
Pada akhirnya, ujar Syamsuddin, zakat, infak, dan sedekah tidak hanya bertujuan mencerdaskan, tetapi juga berperan dalam merawat lingkungan.
Dia menjelaskan, Pesantren Iklim hadir sebagai solusi nyata dalam mengurangi dampak lingkungan dengan melibatkan para santri sebagai agen perubahan.
Program terang dia ini tidak hanya mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan dan mengelola limbah dengan baik, tetapi juga menanamkan kesadaran ekologi kepada santri dan masyarakat sekitar.
Dengan pendekatan yang mengintegrasikan edukasi dan praktik langsung, BMH optimis bahwa pesantren-pesantren di Indonesia dapat menjadi model komunitas yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Syamsuddin mengatakan, Pesantren Iklim akan menitikberatkan pada pengelolaan limbah berbasis komunitas, pemberdayaan santri dalam inovasi lingkungan, serta sinergi dengan berbagai pihak guna menciptakan sistem keberlanjutan yang nyata.
“Dengan kolaborasi yang tepat, program ini diharapkan dapat memberikan dampak luas dalam menciptakan kesadaran ekologis yang lebih tinggi di tengah masyarakat,” katanya.
Sebagai bagian dari pilar lingkungan Bumi Negeri Lestari, BMH akan terus mengembangkan berbagai program yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan.
Ke depan, dia berharap, Pesantren Iklim diharapkan menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lainnya dalam menerapkan pola hidup ramah lingkungan yang berkelanjutan.*/Herim
USTADZ Mahlan Husain bergabung dengan Hidayatullah Gunung Tembak sejak muda. Orang tuanya merupakan pendukung utama Hidayatullah sejak awal di Balikpapan Seberang, yang kini menjadi Penajam Paser Utara. Saudara-saudaranya juga menjadi santri di Gunung Tembak.
Semasa menjadi santri, anak muda ini pernah mendapatkan tugas ke Jakarta pada tahun 1988 untuk menemani Ustadz Abdul Manan Al-Kindi. Banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang didapatkan selama tugas di Jakarta, karena sering diajak bersilaturahim dan bertemu dengan para pejabat serta tokoh masyarakat.
Pada tahun 1990, beliau kembali ke Gunung Tembak, lalu ditugaskan ke tanah Papua, tepatnya di Sorong, untuk menemani Ustadz Abdul Majid yang merintis Hidayatullah di sana. Setelah beberapa tahun di Sorong, beliau sempat dimutasi ke Hidayatullah Fakfak.
Akhirnya, pada tahun 1994, beliau dipanggil kembali ke Hidayatullah Gunung Tembak untuk mengikuti pernikahan massal, yang kini disebut sebagai pernikahan mubarakah.
Pernikahan ini berlangsung pada hari Ahad, 29 Mei 1994, diikuti oleh 61 pasang santri dan santriwati. Sebagian peserta berasal dari Pesantren Hidayatullah Makassar, Depok, Irian Jaya, dan beberapa daerah lainnya.
Mungkin ini adalah pernikahan massal terbesar yang pernah diadakan saat itu. Acara ini turut dihadiri oleh Menteri Riset dan Teknologi B.J. Habibie serta rombongan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat.
Ustadz Mahlan Yani Husain dinikahkan dengan seorang santri putri bernama Ustadzah Nurmailah Sulaiman. Seperti pasangan lainnya, mereka tidak saling mengenal sebelumnya, tetapi memiliki niat yang sama untuk beribadah dan berdakwah melalui Hidayatullah. Tidak ada keraguan bahwa jodoh adalah ketentuan Allah yang terwujud melalui ikhtiar dan doa para ustadz.
Satu pekan pasca pernikahan, sempat muncul kegelisahan karena belum ada kejelasan mengenai tempat tugas (santri-santri awal sering merasa gelisah jika tidak segera mendapatkan SK tugas). Akhirnya, beliau menghadap Ustadz Abdullah Said di Karangbugis. Instruksi yang diberikan adalah bahwa Ustadz Mahlan bersama istrinya mendapatkan SK tugas ke Nabire (Provinsi Irian Jaya saat itu).
Sebagai pengantin baru, hal ini tidak menyurutkan langkah mereka untuk segera berangkat. Beliau menempuh perjalanan dengan kapal selama kurang lebih dua pekan.
Bagi pengantin baru yang memiliki cukup dana, mungkin perjalanan dengan kapal bisa menjadi bulan madu yang menyenangkan di kamar kapal. Namun, Ustadz Mahlan harus naik kapal kelas ekonomi, tidur di dek terbuka, bahkan di bawah tangga.
Tidak ada rasa menyesal atau merasa menderita. Semua perjalanan dinikmati sebagai bagian dari ibadah. Meskipun perjalanan laut selama dua pekan terasa membosankan dan melelahkan bagi kebanyakan orang, tujuan dakwah menjadikannya terasa indah.
Karena tidak ada kapal yang langsung ke Nabire, beliau harus transit di Biak dan singgah di Hidayatullah cabang Biak selama kurang lebih dua bulan.
Saat itu, pimpinan Hidayatullah Biak adalah Ustadz Baharuddin. Di sana, beliau bertemu dengan Ustadz Suwardhani Sukarno, Ketua Koordinator Wilayah Hidayatullah Irian Jaya saat itu (belum berbentuk ormas atau DPW). Ustadz Suwardhani langsung berkata,
“Mahlan, antum tugas ke Kaimana saja.”
Ustadz Mahlan pun menjawab, “Tapi SK saya ke Nabire, Ustadz?”
“Nanti saya sampaikan ke Ustadz Abdullah Said untuk mengubah SK antum, karena ada seseorang yang ingin mewakafkan tanahnya di Kaimana. Namanya Bapak Aziz. Sementara di Nabire, lokasi masih belum jelas,” jelas Ustadz Suwardhani.
Tanpa ragu, Ustadz Mahlan menjawab, “Insya Allah, siap Ustadz.”
Perubahan SK tugas terkadang harus dilakukan karena kondisi tertentu. Hikmahnya, beliau mendapatkan tiket pesawat gratis dari Biak ke Kaimana, berkat bantuan Bapak Sumargono, Kepala Bandara Biak. Ini adalah karunia luar biasa bagi seorang pengantin baru—sebagai ganti dari perjalanan kapal selama dua pekan dengan fasilitas ekonomi.
Namun, ketika tiba di Kaimana, ternyata alamat Bapak Aziz tidak jelas. Setelah bertanya ke beberapa orang, tidak ada yang mengenalnya. Ini menjadi pelajaran bahwa dalam berdakwah, jangan terlalu bergantung pada seseorang.
Akhirnya, seorang sopir taksi mengantar beliau ke perumahan penginapan (rumah kontrakan yang biasa dipakai pengusaha gaharu). Mungkin karena penampilan Ustadz Mahlan yang rapi, ia dikira sebagai pengusaha gaharu yang kaya.
Awalnya, beliau merasa khawatir karena tidak memiliki cukup bekal jika harus membayar kontrakan. Namun, setelah menjelaskan bahwa ia adalah petugas dakwah dari Hidayatullah Balikpapan untuk membuka pesantren di Kaimana, pemilik rumah, seorang mantan pejuang kemerdekaan bernama Bapak Kadir Kilkussa, justru mendukung niat beliau.
Bapak Kadir Kilkussa, seorang pegawai kesehatan TNI yang berasal dari Tual, memberikan penginapan serta konsumsi gratis selama Ustadz Mahlan tinggal di sana.
Namun, sebagai kader Hidayatullah, Ustadz Mahlan tidak ingin terlena dengan fasilitas yang nyaman. Diam-diam, di sela-sela waktu, beliau mencari tanah untuk mendirikan pesantren.
Singkat cerita, beliau bertemu dengan Raja H. Imam Ahmad, seorang keturunan Portugis, yang kemudian mempertemukan beliau dengan Bapak Husain Wertefe, seorang Papua asli yang bersedia membantu urusan tanah untuk pesantren.
Setelah proses panjang, lokasi pesantren akhirnya ditemukan di Jalan Utarom, Kampung Coa, Distrik Kaimana (yang saat itu masih berstatus kecamatan sebelum pemekaran). Ketika diukur oleh Badan Pertanahan Negara, luas tanah tersebut mencapai 1 hektar.
Pembangunan pesantren dimulai dengan gotong royong masyarakat. Pada awalnya, kondisi gubuk masih darurat. Tiangnya terbuat dari kayu hutan, alasnya dari daun nipah, dan dindingnya masih tertutup kain sarung. Meski begitu, semangat dakwah tetap berkobar.
Selama kurang lebih empat tahun di Kaimana, Ustadz Mahlan bersama masyarakat berhasil mendirikan aula, rumah guru, serta mengurus legalitas pesantren. Bantuan listrik pun akhirnya diperoleh atas dukungan Camat Jhames Nahuway.
Menjelang kepindahan tugas ke Bitung, Allah mempertemukan Ustadz Mahlan dengan Bapak Aziz, yang ternyata memang memantau kesungguhannya dalam membangun pesantren.
Rahasia kesuksesan dakwah beliau adalah dukungan penuh dari istrinya. Sebagai sesama kader, mereka memiliki pemahaman dan cita-cita yang sama. Setelah kurang lebih empat tahun bertugas di Kaimana, Allah mengaruniai mereka tiga orang anak.
Akhirnya, Ustadz Mahlan dipindahkan ke Bitung pada tahun 1999, menggantikan Ustadz Mustafa Sakka yang bertugas di Jakarta. Adapun di Kaimana, tugas beliau dilanjutkan oleh Ustadz Ichra Diyono Sukeni.
*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi,penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sebagai tajuk “Laporan Perjalanan” di sela sela kunjungannya ke Papua beberapa waktu lalu.Disusun berdasarkan hasil wawancara dengan Ustadz Mahlan Yani Husain.
SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) -– Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda menggelar acara Tarhib Ramadhan belum lama ini dan ditulis Selasa, 20 Syaban 1446 (19/2/2025).
Bertempat di Kampus Sempaja, kegiatan ini mengusung tema “Meraih Cinta Allah Lewat Ramadhan” dan dihadiri para pengurus, warga, dan jamaah serta sejumlah tokoh.
Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara Pesantren Hidayatullah dengan Dewan Pimpinan Daerah Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (DPD KKSS) serta DPD Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) Kota Samarinda.
Beberapa tokoh yang hadir antara lain Sekretaris DPD KKSS Sabirin Ibrahim, SH, Ketua IWSS Kota Samarinda Hjh Sulastri, Camat Kecamatan Samarinda Utara, serta orang tua santri dan Muslimat Hidayatullah.
Adapun penceramah utama dalam acara ini adalah Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat (Dakwah Yanmat) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Drs. Nursyamsa Hadis, yang menyampaikan pesan-pesan penting terkait persiapan menyambut bulan suci.
Dalam ceramahnya, Nursyamsa Hadis menegaskan pentingnya memahami esensi ibadah puasa, sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 bahwa diwajibkan atas orang beriman untuk berpuasa seperti diwajibkannya syariat ini terhadap orang-orang terdahulu agar bertakwa.
Menurutnya, para mufassir menjelaskan bahwa ibadah puasa memiliki tujuan utama, yaitu mendidik jiwa, mengendalikan syahwat, serta menyadarkan manusia akan perbedaan hakiki antara dirinya dan makhluk lain.
“Dengan berpuasa, seorang Muslim diharapkan mampu mencapai derajat takwa, yakni melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Oleh sebab itu, persiapan menjelang Ramadhan ini menjadi aspek mendasar yang tidak bisa diabaikan,” katanya.
Beberapa Persiapan Penting
Lebih jauh ia menguraikan, agar dapat memaksimalkan ibadah di bulan suci, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan, di antaranya seorang Muslim dianjurkan memasuki Ramadhan dengan hati yang suci, jauh dari dendam dan iri hati. Anjuran ini sebagaimana ditekankan oleh Tuhan dalam dalam Al-Qur’an pada Surah Al-Hijr ayat 45-47.
“Ayat ini mengisyaratkan bahwa orang-orang bertakwa tidak hanya beribadah secara fisik, tetapi juga membersihkan hati mereka dari segala penyakit batin, agar ibadah yang dilakukan dapat diterima oleh Allah,” terang Ketua Pembina Kampus Utama Pesantren Hidayatullah Samarinda ini.
Berikutnya, anjuran memasuki Ramadhan dengan membulatkan niat dan kesungguhan. Nursyamsa menjelaskan, niat yang tulus dan kesungguhan dalam beribadah merupakan faktor utama dalam meraih keberkahan Ramadhan.
Ia menekankan bahwa niat yang benar akan menjadi sebab datangnya taufiq dari Allah, yang akan memudahkan seseorang dalam menjalankan berbagai amalan Ramadhan.
Yang tidak kalah penting, lanjut dia, adalah persiapan kebugaran dengan menjaga kesehatan fisik. Dia menegaskan, ibadah di bulan Ramadhan membutuhkan kesiapan fisik yang optimal.
“Dengan tubuh yang sehat, seseorang dapat menjalankan shalat tarawih, membaca Al-Qur’an, serta melaksanakan ibadah lainnya dengan maksimal. Oleh karena itu, menjaga kesehatan sejak sebelum Ramadhan menjadi bagian dari persiapan spiritual yang tidak boleh dikesampingkan,” terangnya.
Nursyamsa menguraikan, Ramadhan bukan sekadar bulan untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momen istimewa untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan persiapan yang baik dan kesungguhan dalam beribadah, kita dapat meraih cinta Allah, yang salah satu bentuknya adalah kemudahan dalam berbuat kebajikan. “
“Setiap orang memperoleh tingkatan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah menyempurnakan balasan amal mereka serta mereka tidak dizalimi,” terangnya, yang menukil bait Al Qur’an.
Dia menjelaskan, ayat pada Surah Al-Ahqaf ayat 19 ini mengindikasikan bahwa setiap amal perbuatan seseorang akan mendapat balasan yang setimpal.
“Para ulama menafsirkan bahwa Allah memberikan tingkatan berbeda kepada manusia di surga maupun di neraka, sesuai dengan amal yang mereka lakukan di dunia,” imbuhnya.
Oleh karena itu, lanjutnya menambahkan, Ramadhan menjadi kesempatan besar untuk meningkatkan kualitas amal ibadah dan mengukuhkan kedekatan dengan-Nya.*/Adam Sukiman
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) -– Departemen Dakwah Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Dakwah 2025 di Gedung Dakwah dan Informasi Hidayatullah, Surabaya, Selasa, 19 Syaban 1446 (18/2/2025).
Dengan mengusung tema “Jempol Berdakwah, Hati Bertakwa,” kegiatan ini menyoroti urgensi pemanfaatan teknologi digital dalam memperluas jangkauan dakwah.
Acara yang berlangsung intensif sehari sejak pukul 08.00 hingga 17.00 WIB ini diawali dengan sambutan dari Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Jawa Timur, Hebni Syarif.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa dakwah harus terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Rakorwil ini secara resmi dibuka oleh Bendahara DPW Hidayatullah Jawa Timur, Muhammad Ali. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya mempercepat transformasi dakwah melalui platform digital.
“Sudah saatnya kita melakukan percepatan dakwah lewat digital.Terlalu banyak potensi di daerah yang layak untuk disebarluaskan dan menjadi inspirasi dakwah,” ujarnya. Ia kemudian mengucapkan basmalah sebagai tanda resmi dimulainya Rakorwil Dakwah Jawa Timur 2025.
Sebagai forum koordinasi dan penguatan strategi dakwah, acara ini menghadirkan berbagai sesi pelatihan dan diskusi.
Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Shohibul Anwar, membawakan materi tentang tantangan dakwah di Indonesia.
Selain itu, Mustainul Haq memberikan pelatihan desain intensif guna mendukung kreativitas dalam penyebaran dakwah. Sementara Akbar Muzakki menyampaikan pelatihan penulisan dan keredaksian untuk tingkatkan kualitas konten dakwah berbasis digital.
Rakorwil Dakwah ini diharapkan mampu mendorong dai dan pegiat dakwah untuk lebih aktif dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana penyebaran nilai-nilai Islam yang lebih luas, efektif, dan inspiratif.*/Muhammad Hidayat
Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pendidikan Hidayatullah di Komplek Wisma dan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta Senin, 19 Februari 2025 (Foto: Faisal Annurdin/ Hidayatullah.or.id)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka meningkatkan kualitas dan standardisasi pendidikan, Hidayatullah menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pendidikan yang berlangsung selama tiga hari digelar di Komplek Wisma dan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta yang dibuka pada Senin, 20 Syaban 1446 (19/2/2025).
Acara ini mengusung tema “Standardisasi Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) Nasional Mewujudkan Pendidikan yang Unggul” dan dihadiri oleh perwakilan jajaran inti para pemangku amanah lembaga pendidikan dari seluruh Indonesia.
Ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Nanang Nurpatria, menegaskan pentingnya Rakornas sebagai langkah strategis dalam membangun sistem pendidikan yang terstruktur, terstandarisasi, dan berorientasi pada nilai-nilai tauhid.
Nanang Nurpatria menekankan bahwa pendidikan merupakan pilar utama dalam membangun peradaban Islam. Menurutnya, pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga mencakup dimensi tauhid, merupakan kunci keberhasilan dalam melahirkan generasi yang unggul.
“Kita tidak hanya berbicara tentang output pendidikan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam. Standarisasi Pendidikan Integral Berbasis Tauhid adalah jawaban atas tantangan zaman,” ujar Dr. Nanang saat ditemui media ini di lokasi acara.
Dia menjelaskan, pendekatan pendidikan integral ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Anfal ayat 60 yang menegaskan pentingnya persiapan menyeluruh, termasuk dalam bidang pendidikan. Dalam kerangka ini, terang Nanang, Hidayatullah melihat pendidikan sebagai bentuk jihad intelektual yang harus dirancang secara sistematis dan profesional.
Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pendidikan Hidayatullah di Komplek Wisma dan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta Senin, 19 Februari 2025 (Foto: Faisal Annurdin/ Hidayatullah.or.id)
Problematika dan Tantangan Pendidikan
Lebih jauh Nanang mengutarakan, salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh lembaga pendidikan Hidayatullah adalah keterbatasan sumber daya insani (SDI), baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Di sisi lain ketersediaan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi dalam bidang akademik dan pemahaman terhadap nilai-nilai tauhid menjadi perhatian utama.
Oleh karena itu, jelas dia, Rakornas ini bertujuan untuk mengoordinasikan program kerja yang lebih efektif, melakukan evaluasi terhadap sistem pendidikan yang telah berjalan, serta merancang strategi peningkatan kompetensi tenaga pendidik.
Nanang menekankan bahwa upaya standarisasi pendidikan harus bersifat berkelanjutan dan terencana dengan baik.
“Pendidikan yang berkualitas tidak bisa dibangun dalam satu malam. Diperlukan perencanaan jangka panjang, peningkatan kapasitas tenaga pendidik, serta komitmen yang kuat dari seluruh elemen pendidikan,” paparnya.
Rakornas ini tidak hanya menjadi ajang evaluasi, tetapi juga merumuskan langkah-langkah konkret dalam implementasi Pendidikan Integral Berbasis Tauhid.
Nanang menyebutkan, beberapa solusi strategis yang diusulkan antara lain konsolidasi program kerja dalam rangka penyamaan visi dan misi dalam setiap unit pendidikan Hidayatullah di seluruh Indonesia.
Rakornas juga akan merumuskan langkah peningkatan kompetensi pendidik agar mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip PIBT secara efektif, penerapan sistem penjaminan mutu guna mengembangkan standar mutu yang dapat diterapkan di seluruh sekolah/madrasah Hidayatullah serta menelaah solusi dalam ekspansi dan penguatan jaringan pendidikan PIBT serta memperkuat sinergi antar-lembaga pendidikan.
Rakornas ini juga menyoroti pentingnya peran pemimpin pendidikan dalam mewujudkan sistem pendidikan yang unggul dan berupaya memastikan pendidikan yang berkualitas dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Dengan adanya Rakornas ini, terang Nanang, diharapkan seluruh peserta dapat memahami dan mengimplementasikan program kerja Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah Hidayatullah tahun 2025.
“Lebih dari itu, kegiatan ini bertujuan membangun komitmen bersama dalam menghadirkan pendidikan yang lebih baik dan berdaya saing,” imbuhnya.
Dia mengajak seluruh elemen pendidikan Hidayatullah untuk terus berbenah dan berinovasi dalam rangka memastikan bahwa pendidikan yang dibangun hari ini akan menjadi fondasi kuat bagi generasi mendatang.
“Dengan sistem yang kokoh dan berbasis tauhid, kita optimis dapat melahirkan insan-insan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan berkontribusi bagi umat dan bangsa,” pungkasnya.
Pembukaan Rakornas Pendididikan Hidayatullah 2025 ini dirangkai dengan acara Seminar Pendidikan Nasioanal yang membahas topik “Pendidikan Islam Melahirkan Generasi Unggul” dengan pembicara Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA dan Prof. Dr. Biyanto, M.Ag,. selaku Staff Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementrian Dikdasmen RI.
Acara ini turut didukung oleh Laznas BMH, Lentera Global Corp, Mentarı, Penerbit Erlangga, Jaya Madina, Quamus, dan Hidayatullah.com.*/
Santri awal Hidayatullah Manokwari (Dokumentasi Pribadi/ Syarif Bastian)
DALAM rangka membuka cabang Pesantren Hidayatullah di wilayah Indonesia Bagian Timur (IBT), Ustadz Abdullah Said menyebarkan para kader ke berbagai daerah di Sulawesi, Maluku, dan Papua. Penugasan ke wilayah IBT ini memiliki tantangan yang relatif lebih berat dibandingkan wilayah lain.
Tantangan utama adalah letak geografis yang sulit dijangkau, sarana transportasi yang terbatas, sebagian penduduknya non-Muslim, serta tingkat pertumbuhan ekonomi yang relatif rendah. Tantangan lain meliputi risiko nyamuk malaria dan gangguan keamanan dari kelompok separatis.
Ungkapan guyon bahwa di Papua “nyamuknya sebesar anak ayam” menggambarkan betapa besar dan ganasnya penyakit malaria di Irian Jaya waktu itu. Ini bukanlah sekadar berita bombastis, melainkan realitas di mana hampir tidak ada seorang pun yang bertugas di sana yang luput dari gigitan nyamuk malaria.
Pada tahun 1987, Ustadz Karim Bonggo diundang oleh komunitas Makassar di Manokwari untuk mengisi acara Isra’ Mi’raj. Namun, beliau hanya tinggal beberapa hari dan belum ada tugas untuk mendirikan cabang di sana.
Setahun kemudian, pada 1988, Ustadz Abdullah Said mengirimkan dua ustadz senior untuk membuka cabang Hidayatullah di Papua. Ustadz Suwardhani Sukarno bersama istrinya ditugaskan ke Jayapura, ditemani dua santri bujang, Dzulkhair dan Dadang.
Sementara itu, Ustadz Amin Bahrun bersama istrinya, Ustadzah Atika, serta dua anak mereka, Abu dan Fatahuddin, berangkat ke Manokwari. Setahun kemudian, putra beliau, Syarif Bastian, menyusul ke Manokwari.
Berbekal informasi dari Ustadz Karim Bonggo bahwa ada komunitas Muslim Makassar di sebuah kompleks perumahan, Ustadz Amin Bahrun langsung menuju ke sana.
Kedatangannya disambut dengan antusias karena dakwah dan pembinaan masih sangat jarang saat itu. Beliau diberikan fasilitas rumah untuk tempat tinggal serta dipenuhi kebutuhan sehari-hari. Tugasnya meliputi menjadi imam salat dan memakmurkan masjid dengan kajian-kajian keislaman.
Program pertama yang dijalankan oleh Ustadz Amin Bahrun adalah mencari orang-orang yang bisa dijadikan kader atau setidaknya mendukung pendirian pesantren. Metodenya adalah dengan mengisi pengajian di beberapa masjid kompleks perumahan serta mengadakan kajian mahasiswa di Universitas Cenderawasih.
Sebagai seorang dai berlatar belakang guru, penyampaian Ustadz Amin Bahrun sangat disenangi masyarakat. Beliau lulusan Sekolah Guru Bahasa (SGB), dikenal sebagai kutu buku yang gemar membaca dan menghafal, terutama tentang sejarah.
Bahkan, buku komik pun dibacanya dengan lahap, yang ternyata bermanfaat dalam berdakwah, karena beliau sering menyelipkan cerita sejarah maupun kisah dari komik dalam ceramahnya.
Keahlian lain yang jarang dimiliki orang lain adalah kemampuan mengetik 12 jari tanpa melihat. Saat khutbah atau pengajian, beliau sering menulis sendiri materi dakwahnya menggunakan mesin ketik yang selalu dibawanya (seolah seperti laptop pada zaman sekarang).
Dalam berdakwah, beliau menyesuaikan metode penyampaiannya dengan audiens. Jika berbicara di depan mahasiswa atau pegawai terpelajar, beliau menggunakan papan tulis serta diskusi mendalam dengan istilah-istilah ilmiah, layaknya seorang dosen mengajar.
Untuk jamaah masjid yang terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu, beliau menggunakan metode pengajian biasa, diselingi cerita dan humor agar mudah dicerna. Saat membina pejabat, pengusaha, atau militer, beliau menggunakan bahasa formal dan analogi yang logis. Dakwahnya mudah dipahami dan diterima oleh berbagai kalangan.
Selain pengajian rutin, beliau juga sering diundang mengisi pengajian insidental, terutama dalam Peringatan Hari Besar Islam seperti Isra’ Mi’raj dan Maulid Nabi Muhammad.
Setelah kurang lebih satu tahun tinggal di kompleks Muslim Makassar, semakin banyak jamaah binaan yang loyal. Akhirnya, beliau menyampaikan maksud dan tujuan tugasnya di Manokwari, yaitu mendirikan cabang Pesantren Hidayatullah.
Salah satu jamaah binaannya, H. Irsal, langsung mewakafkan kurang lebih satu hektar tanah untuk mendirikan pesantren. Saat itu, tanah tersebut masih berupa gunung, rawa-rawa, dan hutan, serta jauh dari kota sehingga dianggap kurang strategis.
Setelah mendapatkan tanah wakaf, Ustadz Amin Bahrun memutuskan meninggalkan kompleks Muslim Makassar dan tinggal di tanah tersebut, meskipun jauh dari permukiman.
Keputusannya tersebut mengundang keheranan banyak orang, mengingat beliau bisa tinggal lebih nyaman di kompleks yang memiliki fasilitas lengkap. Namun, dengan keyakinan dan tekad yang kuat, beliau tetap memilih tinggal di tanah wakaf tersebut.
Ustadz Amin Bahrun bersama sang istri, Atikah, serta kedua anaknya, Salman Alfarisi dan Abu Umamah (Dokumentasi Pribadi/ Syarif Bastian)
Ketika mendengar rencana pendirian pesantren, hampir semua jamaah turut membantu. Haji Ape, seorang pengusaha kayu, menyumbangkan alat senso untuk menebang kayu.
Tak mau ketinggalan, jamaah lainnya mengumpulkan bahan bangunan seperti kayu, paku, dan seng untuk membangun asrama, mushola, serta aula. Tenaga kerja pun disediakan, dengan beberapa jamaah mengadakan kerja bakti pada hari libur demi mempercepat pembangunan.
Pembuatan sumur juga menjadi prioritas agar tersedia air bersih bagi santri. Ustadz Amin Bahrun ingin memastikan fasilitas dasar tersedia sehingga santri tidak kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dalam waktu yang relatif singkat, berdirilah asrama santri berukuran 8×15 meter, aula sederhana berukuran 10×15 meter, dan mushola berukuran 8×10 meter, serta fasilitas MCK. Dengan fasilitas yang semakin representatif, santri mulai berdatangan dan kegiatan pembelajaran berjalan baik di kelas maupun masjid.
Pada tahun 1991, Ustadz Amin Bahrun berangkat menghadiri Silaturahim Syawal di Hidayatullah Gunung Tembak dan tidak kembali lagi ke Manokwari. Meski banyak karya dan prestasinya selama di Manokwari, beliau kemudian ditugaskan untuk berdakwah di wilayah lain.
*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sebagai tajuk “Laporan Perjalanan” di sela sela kunjungannya ke Papua beberapa waktu lalu. Disusun berdasarkan hasil wawancara dengan Ustadz Syarif Bastian.