Beranda blog Halaman 116

Menapaki 50 Tahun Kedua Hidayatullah dan Semangat Rejuvenasi Perjuangan

0

PALOPO (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust. H. Drs Hamim Tohari, M.Si, menyampaikan tausyiah subuh pada ajang Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) V Hidayatullah Sulawesi Selatan (Sulsel) di Palopo, Kamis, 24 Jumadil Akhir 1446 (26/12/2024).

Berikut petikan tausyiah Deputi Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah ini yang disarikan oleh Ketua DPD Hidayatullah Sidrap Ust Sarmadani Karani, dilansir laman Portalamanah.com:


Alhamdulillah, saya bersyukur baru bisa kali ini sampai di Palopo. Sesuatu yang patut untuk kita syukuri.

Rakerwil dan rapat-rapat di Hidayatullah adalah sebuah rangkaian acara yang sangat penting.

Sejak almarhum Abdullah Said, beliau memberikan penekanan yang luar biasa. Beliau menyarankan, jika perlu, hingga asset lembaga yang dimiliki perlu dikeluarkan untuk menghadiri acara-acara pertemuan di Hidayatullah.

Jika perlu jual asset, jual motor, jual tanah. Untuk menghadiri acara pertemuan tersebut.

Yang berharga dari pertemuan itu adalah penguatan ukhuwah, membangun persaudaraan dalam perjuangan itu, jauh lebih penting di atas materi-materi yang kita kumpulkan.

Kawan-kawan di Papua waktu itu, betapa berat nya untuk sampai ke Silatnas, tetapi semua tetap bisa hadir. Semua anggota syuro waktu itu nyaris tidak ada yang absen.

Di organisasi lain, mungkin syuro ini bisa dihadiri hanya sebagian, 50+1 itu sudah cukup. Tapi di Hidayatullah, tidak hadir satu itu dicari. Cacat itu sebuah syuro jika satu saja tidak hadir.

Kenapa demikian, karena kepemimpinan Hidayatullah adalah kepemimpinan syuro. Dan kepemimpinan syuro di Hidayatullah itu diperkuat saat beralih kepemimpinan dari Ustadz Abdullah Said ke Ustadz Abdurrahman Muhammad.

Ustadz Abdurrahman tidak pernah memerintahkan sesuatu apapun kecuali dari rapat syuro. Dan syuro tertinggi di Hidayatullah adalah Musyawarah Majelis Syuro (MMS).

MMS yang berjumlah 30 ini, yang membuat keputusan-keputusan di Hidayatullah.

Adalah aneh dan menyalahi aturan, jika di DPD, di DPW tidak gemar melakukan syuro. Wa amruhum syụro bainahum.

Adalah sebuah salah besar, jika oknum-oknum, pemimpin Hidayatullah yang mengambil keputusan dilakukan sendiri tanpa syuro.

Hasil bicara dengan isteri di kamar, keluar dari kamar, hasil bicara itu jadi keputusan. Ada yang begitu. Dan itu tidak dibenarkan. Karena di Hidayatullah adalah keputusan syuro.

Di Hidayatullah tidak ada dinasti, tidak ada firkah-firkah.

30 orang MS di Hidayatullah utuh bekerja dengan efektif. Tapi dalam 2 tahun terakhir ini, Hidayatullah mengalami suatu massa, dimana 6 orang dari 30 penentu Hidayatullah itu absen, karena telah dipanggil Allah SWT.

Periode ini, di penghujung 50 tahun terakhir, kita mengalami masa tahun duka cita. Kenapa? 20% anggota syuro telah pergi duluan.

Dimulai Ustadz Mannan, disusul Ustadz Abdullah Ihsan, Ustadz Hasan Ibrahim, Ustadz Khairil Baits, dan terakhir Ustadz Asih Subagyo, semua telah mendahului kita.

Mereka telah tunai tugasnya. Kondisi ini sangat menyedihkan. Kesedihan mirip ketika istri rasulullah meninggal, terus pamannya, ditambah lagi saat beliau hijrah ke Thaif, beliau harus dapat lemparan batu. Itu berita dukanya.

Namun kemudian, berita baiknya, Allah ganti berita duka itu dengan isra’ mi’raj.

Kita yakin, di 50 tahun kedua nanti, ada kebaikan, ada ‘isra’ mi-raj’. Dibalik semua ini Allah akan menghadirkan kemudahan.

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ يُجَاهِدُونَ وَيَعْلَمَ الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ شُهَدَاءَ ۚ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan demikianlah hari-hari (kekuasaan dan kejadian) yang Kami gilirkan di antara manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa-siapa yang berjuang (dengan sungguh-sungguh) di antara kamu, dan supaya Allah mengetahui pula orang-orang yang sabar. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali ‘Imran: 140)

Ini peristiwa yang perlu kita catat, 50 tahun pertama menuju 50 tahun kedua. Perlu dicatat baik-baik, sejarah Hidayatullah bergeser, dari generasi awal, kepada generasi pelanjut. Di sinilah perlunya Rejuvinasi.

Dua tahun menjelang kepergian Abdullah Said, para petinggi Hidayatullah gelisah. Sudah ada tanda-tanda.

Saya diminta menyampaikan ke Ustad Abdullah Said, SW waktu itu konsep yang masih berada di pemikiran beliau. Disitu lah saatnya ada alih konsepsi.

Saat ini pun demikian, mau tidak mau, rela atau terpaksa, kita butuh alih generasi. Dan tentu juga alih konsepsi.

Meskipun saya, dan ustad Majid sudah tua, tidak ada istilah pensiun. Hanya memang sudah harus sadar diri, sudah waktunya undur diri. Bahwa kita sudah udzur.

Saya kadang menyampaikan ke kawan-kawan yang seusia. Ayo kita belajar ke Burung Elang. Burung yang paling panjang usianya. Bisa sampai 70 tahun.

Ketika Elang itu memasuki massa 30 tahun, bulu-bulunya sudah mulai rontok. Paruhnya sudah panjang, dia kesulitan untuk mencari mangsa.

Dalam keadaan seperti ada 2 pilihan. Apakah dia berani melakukan rejuvinasi, atau mati.

Kekuatan burung Elang itu, perlu disatukan dengan Kekuatan singa-singa yang ada.

Alhamdulillah, Allah berkehendak kepada saya, untuk melalui proses-proses ini. Bersama kawan-kawan yang lain, kita mencoba merumuskan Hidayatullah, dan Alhamdulillah, bisa berjalan dan berkembang.

Grand design Hidayatullah juga telah kita rumuskan, buku sejarah 50 tahun Hidayatullah telah saya buat.

Kita jangan hanya jadi pembaca, tapi hendaknya jadi pelaku sejarah. Kita diberi kesempatan untuk membuat sejarah 50 tahun akan datang.

Pada rakerwil ini, perlu mencanangkan hal hal yang besar, karena di tempat ini ada wajah wajah yang prospektif. Saya yakin, Hidayatullah di Sulsel ini bisa terus berkembang.

Di Hidayatullah, saya selalu optimis, selalu tersenyum. Di Hidayatullah ini, kita sudah pada jalur yang benar. On the track. Kita hanya perlu memperbaiki kecepatan, akselerasi.

Lima puluh tahun kedua nanti, landasan itu sudah kuat, jati diri sudah kokoh, sehingga perlu ada percepatan.

Juara itu selain tepat, juga harus cepat. Tepat di tujuan dan cepat sampai. Disitulah perlombaan. Fastabiqul khairat.

Lima puluh tahun kedua ini harus ada semangat Al Adiyat. Sampai sampai lari nya itu, di kakinya mengeluarkan api.

Ayo kita buka diri, kuntum khaira ummah, uhrijatlinnas. Ayo kita keluar. Jangan jadi katak dalam rempurung. Keluar, cari tantangan baru. Jangan cepat merasa puas.

Mari kita ubah mindset berfikir kita, jangan hanya diri kita masuk surga, ajak orang lain, secara bersama masuk surga.

Ayo, kita lakukan alih generasi, alih pemikiran, untuk Hidayatullah kedepan, dan inilah yang namanya Transformasi.[]

23 Tahun Mengabdi, BMH Teguhkan Komitmen Wujudkan Peradaban Mulia untuk Indonesia dan Dunia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Tepat hari ini Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) merayakan milad ke-23 di Kantor BMH, Grand Depok City, Kota Depok, Jawa Barat, Jumat, 25 Jumadil Akhir 1446 (27/12/2024).

Selama lebih dari dua dekade, BMH telah berkiprah, menebar kebaikan, dan menjadi jembatan harapan bagi masyarakat Indonesia, bahkan hingga ke dunia Islam.

Momen bersejarah ini menjadi penegasan komitmen BMH untuk terus berkontribusi dalam mewujudkan peradaban mulia.

Sekretaris Lembaga BMH, Tri Winarno, dalam sambutannya, menekankan pentingnya milad ini sebagai momentum untuk meningkatkan semangat dan memperkuat dedikasi.

“Kehadiran BMH dan juga amil merupakan satu kesatuan gerakan dari organisasi Hidayatullah. Kita memiliki satu cita-cita, satu visi besar, yaitu membangun peradaban Islam. Dalam perspektif ini, sebagai amil yang bergerak di lembaga zakat, kita harus mengorientasikan semua cita-cita kehidupan kita agar selaras dengan misi organisasi tersebut,” tegasnya.

Lebih lanjut, Tri Winarno menyatakan bahwa milad ke-23 ini menjadi panggilan untuk seluruh elemen BMH agar semakin solid dan bersemangat dalam mewujudkan cita-cita luhur tersebut.

Selama 23 tahun berkiprah, BMH telah membuktikan diri sebagai lembaga yang amanah, profesional, dan inklusif, menjangkau berbagai lapisan masyarakat melalui program-program yang menyentuh langsung kebutuhan umat.

Dengan semangat baru di usia ke-23, BMH berkomitmen untuk terus berinovasi, meningkatkan kualitas layanan, dan memperluas jangkauan manfaat, demi terwujudnya peradaban Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam, baik di Indonesia maupun di kancah global.

Perjalanan panjang BMH selama ini menjadi bukti nyata bahwa kebaikan, yang disalurkan melalui zakat, infak, dan sedekah, mampu menghadirkan perubahan positif dan membangun peradaban yang lebih bermartabat.*/Herim

Keutamaan Shadaqah Shubuh Membuka Pintu Berkah Setiap Hari

0

MASYARAKAT Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara paling dermawan di dunia dalam World Giving Index 2021. Pada tahun sebelumnya, Indonesia juga menempati peringkat pertama dari 140 negara dalam ajang yang sama. Entah bagaimana penelitian, penilaian, dan indikatornya, namun yang jelas sebagian besar masyarakat muslim terkenal sejak dulu suka berbagi.

Saat haji atau umroh, jamaah dari Indonesia paling disenangi karena ramah, sopan, dan suka berbagi dengan jamaah yang lain. Tentu ini menjadi karakter yang baik, harus senantiasa dijaga dan diwariskan kepada generasi pelanjut.

Shadaqah shubuh juga menjadi trending di masyarakat Indonesia, dengan banyaknya penggiat, komunitas dan gerakan melaksanakan shadaqah shubuh. Sebagian melalui masjid-masjid, sebagian di jalan-jalan, ada yang mengantarkan ke pesantren, panti asuhan dan tempat-tempat orang yang membutuhkan.

Rasulullah SAW berulang kali mengungkapkan kepada umat Islam manfaat sedekah dan beliau terkenal sebagai orang yang paling dermawan. Bukan sekedar berwacana dan memotivasi tapi memberikan teladan dalam giat bershadaqah.

Di antara manfaat itu yakni dapat menolak bencana, memadamkan murka Allah, dan mencegah dari kematian yang buruk. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ

Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan mencegah dari keadaan mati yang jelek.” (HR Tirmidzi).

Maksud hadist di atas, menurut penjelasan para ulama adalah bahwa sedekah itu merupakan benteng yang kokoh dan kuat atau pencegah dari datangnya musibah (bala’). Musibah tidak akan dapat menerjangnya bagi orang-orang yang gemar bershadaqah.

Imam Jalaludin As Suyuthi menyebutkan begitu banyaknya faedah shadaqah, di antaranya menjadi salah satu pintu dari pintu-pintu surga karena sebagai sebaik-baik amal shaleh, menghindarkan dari dari adzab neraka, memadamkan kemurkaan Allah dan panasnya kubur.

Shadaqah satu penyucian harta dan jiwa dapat menggandakan kebaikan dan menjadikan wajahnya bercahaya di hari kiamat.

Dalam masalah sedekah, Nabi SAW juga bersabda,

أَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سرورٌ تُدخِلُه على مسلمٍ ، تَكشِفُ عنه كُربةً ، أو تقضِي عنه دَيْنًا ، أو تَطرُدُ عنه جوعًا ، ولأَنْ أمشيَ مع أخٍ في حاجةٍ ؛ أَحَبُّ إليَّ من أن اعتكِفَ في هذا المسجدِ يعني مسجدَ المدينةِ شهرًا

Amal perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberi kebahagiaan kepada sesama Muslim dan menghiburnya saat dia dilanda kesusahan, atau meringankannya saat dia dililit utang, atau memberinya makanan saat dia merasakan lapar. Karena, aku lebih menyukai berjalan bersama seorang Muslim yang berbagi dengan orang yang sedang membutuhkan, daripada melakukan iktikaf di masjid selama satu bulan penuh.” (HR Ath Thabrani).

Shadaqah adalah perwujudan tauhid, keyakinan terhadap janji-janji Allah dan Rasulullah, percaya adanya pahala dan surga dan memberikan ketenangan yang luar biasa bisa berbagi dengan orang lain. Secara sosial, shadaqah menjadi solusi atau jembatan hubungan kesenjangan antara orang-orang kaya dan kalangan miskin papa.

Kiat Kiat

Shadaqah shubuh merupakan amalan mulia yang membawa keberkahan luar biasa dalam hidup. Dengan berbagi di waktu subuh, kita memulai hari dengan niat baik, membuka pintu rezeki, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Namun, melakukannya secara konsisten bisa menjadi tantangan tersendiri di tengah kesibukan dan godaan sehari-hari. Bagaimana agar kita mampu menjadikan shadaqah shubuh sebagai kebiasaan yang tak terputus?

Berikut beberapa tips praktis untuk dapat melaksanakan shadaqah shubuh dengan konsisten, sehingga manfaatnya bisa dirasakan, baik di dunia maupun di akhirat.

Pertama, menumbuhkan niat kuat untuk konsisten shadaqah shubuh dengan membaca buku, tulisan, kisah-kisah tentang fadhilah shadaqah. Banyak orang yang sudah membuktikan keutamaan dari shadaqah shubuh ini.

Kedua, malam hari atau sebelum shubuh sudah menyiapkan uang, kalau orang dulu uangnya diselipkan di songkok hitamnya, kalau ibu-ibu di dompet kecilnya. Setelah menunaikan salat subuh di masjid, bisa mengisi kotak amal yang tersedia. Berapa pun sedekah diberikan, akan sangat berarti dan memberi manfaat bagi mereka yang membutuhkan.

Ketiga, cara yang lebih praktis zaman sekarang tidak dengan uang cas tapi dengan Qris tahu transfer mobile banking. Asal ada saldo dan alamat rekeningnya maka mudah untuk bershadaqah.

Keempat, menyiapkan sarapan bersama bagi jamaah masjid setelah shalat shubuh. Atau setelah shalat shubuh, mengantarkan sumbangan berupa bantuan kepada mereka yang membutuhkannya. Bisa kepada tetangga, panti asuhan, atau pondok pesantren selepas shalat shubuh. Waktunya sangatlah tepat karena untuk sarapan pagi yang sebagian orang membutuhkan makan.

Kelima, menabung koin atau uang recehan di tabungan-tabungan kotak kecil setiap subuh kemudian jika dirasa sudah cukup banyak, maka bisa menyalurkannya di saat shubuh. Meski dipandang sepele seperti ini akan sangat besar artinya jika melakukannya secara ikhlas dan konsisten.

Sudahkan kita bersedekah shubuh hari ini?

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Indonesia sebagai Darul Dakwah dan Darul Tarbiyah Menuju Bangsa Berdaya Saing

0

PALOPO (Hidayatullah.or.id) — Pada pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) V Hidayatullah Sulawesi Selatan, berlangsung seminar peradaban bertema “Urgensi Membangun Masyarakat Religius di Era Disrupsi Digital”, Rabu, 23 Jumadil Akhir 1446 (25/12/2024).

Acara ini diselenggarakan di Aula Rumah Jabatan Walikota Palopo dan menghadirkan Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah, Drs. H. Hamim Thohari, M.Si.

Turut pula bersamanya sebagai narasumber yaitu mantan Rektor IAIN Palopo, Prof Dr Abdul Pirol MAg, dan Ketua Departemen Kepesantrenan (Kadeptren) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Muhammad Syakir Syafi’i.

Dalam paparannya yang bertajuk Pembangunan Sumber Daya Insani Berbasis Imtaq dan Iptek, Hamim Thohari menekankan pentingnya integrasi iman dan takwa (imtaq) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sebagai landasan membangun masyarakat di tengah tantangan masa kini.

Hamim menekankan posisi strategis Hidayatullah dalam mengartikulasikan visi Indonesia sebagai darul dakwah dan darul tarbiyah. Perspektif ini menggambarkan Indonesia sebagai negeri yang menjadi ladang dakwah sekaligus pusat pembelajaran.

Ia menegaskan, bagi Hidayatullah, Indonesia adalah darul dakwah dan darul tarbiyah seraya menggarisbawahi visi Hidayatullah tentang peran strategis Indonesia sebagai medan dakwah dan pendidikan untuk mencetak generasi unggul.

Menurut Hamim, semangat religiusitas telah menjadi bagian integral dari sejarah Indonesia, sebagaimana digariskan oleh para pendiri bangsa yang berasal dari kalangan nasionalis dan agamis.

“Salah satu dari empat tujuan pendirian bangsa adalah mencerdaskan kehidupan bangsa,” jelasnya.

Visi mencerdaskan bangsa, sambungnya, bukan hanya soal peningkatan intelektualitas, tetapi juga melibatkan transformasi nilai-nilai moral dan spiritual. Hal ini relevan dalam konteks pendidikan saat ini, di mana perkembangan teknologi informasi menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru.

Hamim mengidentifikasi salah satu isu utama yang dihadapi bangsa, yakni fenomena generasi muda yang ia sebut sebagai generasi strawberry. Generasi ini digambarkan sebagai kelompok yang tampak mengesankan di luar, tetapi rentan menghadapi tekanan.

“Sayangnya, sekarang ini generasi muda bisa dikatakan generasi strawberry yang dianggap tidak kuat menerima tantangan,” ujar Hamim Thohari.

Namun, di tengah pandangan kritis tersebut, Hamim menyuarakan optimisme terhadap kader Hidayatullah. “Insya Allah, generasi Hidayatullah tidak seperti itu. Mereka adalah generasi tahan banting,” tegasnya. Optimisme ini didasarkan pada pendekatan unik Hidayatullah yang mengintegrasikan iman dan takwa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Insya Allah generasi Hidayatullah tidak seperti itu. Generasi Hidayatullah harus selalu melek dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki iman dan ketakwaan,” tegasnya optimis.

Keseimbangan antara imtaq dan iptek menjadi isu sentral dalam paparan Hamim Thohari. Ia menekankan bahwa dalam membangun masyarakat religius, iman dan takwa harus menjadi pondasi yang kokoh, sementara ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi alat untuk mencapai kemajuan.

Hal ini tegas dia sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi pendidikan dan pengetahuan sebagai jalan menuju kemaslahatan umat.

Disamping itu, dia menilai kebutuhan akan keseimbangan ini semakin relevan di era disrupsi digital, di mana kemajuan teknologi kerapkali membawa tantangan yang tak sederhana. Misalnya, akses tanpa batas ke informasi digital dapat menjadi pisau bermata dua.

Di satu sisi, teknologi memudahkan umat manusia dalam mencari ilmu. Namun di sisi lain, tanpa landasan iman yang kuat, teknologi juga dapat menjadi sumber distraksi dan kerusakan moral.

Di era ini, transformasi sosial dan budaya terjadi dengan sangat cepat, memengaruhi cara berpikir, bertindak, dan berinteraksi generasi muda. Istilah “generasi strawberry” mencerminkan fenomena di mana generasi muda terlihat mengilap di permukaan tetapi mudah hancur ketika menghadapi tekanan.

Hamim Thohari menilai bahwa solusi untuk mengatasi tantangan ini adalah dengan membangun generasi yang kuat secara spiritual dan intelektual.

Ia menekankan bahwa generasi Hidayatullah harus mampu bersaing di berbagai bidang tanpa kehilangan jati diri sebagai insan muslim. “Generasi Hidayatullah harus tahan banting,” tegasnya.*/Ian Kassa

Momen Rakerwil Sulsel Komitmen Perteguh Sinergi Atasi Tantangan Sosial

0

PALOPO (Hidayatullah.or.id) — Pj Wali Kota Palopo, Firmanza, SH, M.Si, secara resmi membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) V Hidayatullah Sulawesi Selatan di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Palopo pada Rabu, 23 Jumadil Akhir 1446 (25/12/2024).

Dalam sambutannya, Firmanza menyampaikan apresiasi dan harapan besar terhadap peran Hidayatullah dalam mendukung pembangunan sosial di kawasan terutama di kota idaman itu.

“Kita tahu kiprah Hidayatullah ini merupakan organisasi pelayanan umat di bidang pendidikan dan dakwah. Ketika disampaikan niat menjadikan Palopo sebagai tuan rumah, tentu langsung saya apresiasi,” ujar Firmanza di hadapan ratusan peserta, yang terdiri dari elemen masyarakat, organisasi Islam, dan kelompok pemuda.

Firmanza melihat Hidayatullah sebagai organisasi yang memiliki akar kuat dalam pendidikan dan dakwah, memiliki potensi besar untuk mendukung agenda sosial pemerintah.

Apresiasi Firmanza juga membuka peluang kolaborasi strategis dalam menangani berbagai isu krusial di Kota Palopo, seperti penyalahgunaan narkotika dan judi online.

Dalam pidatonya, Firmanza menyoroti dua masalah sosial utama yang tengah meresahkan masyarakat Palopo yakni penyalahgunaan narkotika dan maraknya judi online.

“Sekarang ini di Kota Palopo marak penyalahgunaan narkotika. Demikian juga dengan maraknya judi online. Gara-gara judi online ini, uang rakyat kecil mengalir ke luar dari negara kita sekitar seribu triliun. Dan itu uang rakyat kecil karena pemainnya masyarakat menengah ke bawah,” tegasnya, dilansir laman Portal Amanah.

Pemerintah terangnya memiliki kepedulian terhadap dampak destruktif dari dua isu tersebut. Narkotika merusak generasi muda, sementara judi online menguras sumber daya ekonomi masyarakat kecil.

Sebagai organisasi berbasis keumatan, Hidayatullah memiliki peluang besar untuk menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengedukasi masyarakat tentang bahaya kedua isu ini.

Firmanza secara eksplisit mengundang Hidayatullah untuk bekerjasama dengan pemerintah Kota Palopo dalam mengatasi permasalahan sosial.

“Kepada teman-teman Hidayatullah, ayo kita bekerjasama,” ujarnya, seraya menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat dalam menangani isu-isu yang kompleks.

Pemerintah, dengan otoritas dan sumber daya yang dimilikinya, dapat menjadi fasilitator kebijakan. Di sisi lain, Hidayatullah, dengan pendekatan dakwahnya, mampu menyentuh masyarakat secara langsung melalui pendidikan dan penyadaran. Kombinasi ini berpotensi menciptakan solusi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Hidayatullah menurutnya telah lama dikenal sebagai organisasi yang fokus pada pendidikan dan dakwah. Di tengah tantangan globalisasi, peran organisasi semacam ini menjadi semakin relevan. Sebagai bagian dari masyarakat sipil, Hidayatullah tidak hanya menyampaikan ajaran agama, tetapi juga membangun kesadaran sosial yang kritis.

Di akhir sambutannya, Firmanza mengungkapkan kedekatannya dengan Hidayatullah. Sebagai mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palopo, ia menyebutkan bahwa dirinya bukanlah orang baru di lingkungan Hidayatullah.

“Saya ini bukan orang baru di Hidayatullah. Dulu, kalau pikiran lagi kurang tenang atau pusing-pusing, saya itu ke Hidayatullah,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ust Nasri Bohari, dalam keterangannya menyampaikan Rakerwil V Hidayatullah Sulsel ini bukan sekadar agenda rutin organisasi. Lebih dari itu, terang dia, acara ini menjadi momentum penting untuk merumuskan langkah-langkah strategis dalam menghadapi tantangan sosial.

“Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan organisasi masyarakat seperti Hidayatullah, harapan untuk membangun wilayah khususnya Palopo yang lebih baik menjadi semakin nyata,” katanya.

Nasri menegaskan, kolaborasi adalah kunci. Masalah narkotika dan judi online seperti dikemukakan Pj Wali Kota membutuhkan pendekatan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Dalam kerangka itu, dia menjelaskan, Hidayatullah dapat menjadi motor penggerak untuk menciptakan perubahan yang positif.

“Dengan komitmen bersama, Palopo dan Sulsel secara umum dapat menjadi contoh keberhasilan kolaborasi antara pemerintah dan organisasi keumatan dalam membangun masyarakat yang lebih berdaya dan bermartabat,” tandasnya.*/Ian Kassa

Khitan Berkah Nusantara Membawa Kebahagiaan di Tengah Liburan Sekolah

0

PURWOREJO (Hidayatullah.or.id) — Keceriaan menyelimuti Dusun Demangan, Kelurahan Banyu Urip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada Selasa, 22 Jumadil Akhir tahun 1446 (24/12/2024).

Sebanyak 45 anak dari keluarga kurang mampu, berusia 7 hingga 12 tahun, mengikuti program Khitan Berkah Nusantara yang diinisiasi oleh Unit Layanan Zakat (ULZ) Kebumen, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Program ini tidak hanya memberikan layanan khitan secara gratis, tetapi juga menjadi solusi bagi keluarga yang mengalami kesulitan finansial, terutama di tengah masa liburan sekolah.

Koordinator BMH ULZ Kebumen, Ismoyo, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk meringankan beban orang tua yang anak-anaknya sudah siap dikhitan namun terkendala biaya.

“Program ini kami laksanakan untuk membantu orang tua yang memiliki keterbatasan dana, tetapi anaknya sudah saatnya dikhitan,” ungkap Ismoyo.

Bagi keluarga dhuafa, biaya khitan yang tidak murah sering menjadi beban besar. Program tahunan yang digagas BMH ini menjadi solusi yang sangat dinantikan, memberikan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan.

Camat Kabupaten Purworejo, Galuh Bakti Pertiwi, S.STP, M.M, melalui Sekretaris Camat, memberi apresiasi tinggi kepada BMH atas terselenggaranya program yang sangat bermanfaat ini.

Galuh menekankan bahwa program ini tidak hanya membantu secara finansial, tetapi juga menyasar kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan, terutama saat liburan sekolah.

Salah satu peserta program, Yusuf, ayah dari tiga anak yang mengikuti khitan massal, mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya.

“Kalau harus khitan tiga anak sekaligus tanpa program ini, tentu berat bagi kami. Alhamdulillah, ini sangat membantu,” tutur Yusuf dengan penuh haru.

Ia juga mendoakan para donatur, panitia, dan seluruh pihak yang terlibat agar mendapatkan keberkahan, kelancaran rezeki, dan pahala di dunia serta akhirat.

Kebahagiaan Peserta

Kebahagiaan anak-anak peserta kian terasa lengkap dengan bingkisan berupa sarung, baju, peci, dan uang saku yang diberikan setelah proses khitan selesai. Senyum ceria dan tawa mereka menjadi bukti nyata bahwa BMH tidak hanya menjalankan amanah zakat, tetapi juga menyebarkan kebahagiaan.

Dalam menjalankan program ini, BMH bekerja sama dengan dr. H. Arif dari Happy Sunat Purworejo, seorang dokter ahli khitan yang telah berpengalaman. Kolaborasi ini memastikan proses khitan dilakukan secara profesional dan aman, memberikan rasa tenang bagi orang tua peserta.

Program Khitan Berkah Nusantara merupakan salah satu bentuk nyata komitmen BMH dalam memberikan manfaat bagi masyarakat. Tidak hanya sekadar menyalurkan zakat, BMH juga hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat melalui program-program yang inovatif dan tepat sasaran.

Melalui program ini, Ismoyo menambahkan, BMH kembali menegaskan bahwa kebahagiaan dan harapan adalah hak semua orang, termasuk mereka yang berada dalam keterbatasan.

“Dengan semangat berbagi dan kolaborasi yang kuat, program ini diharapkan terus berlanjut dan memberikan keberkahan hingga pelosok negeri dan meluaskan manfaat yang lebih luas di masa mendatang,” tandas dia.*/Herim

[KHUTBAH JUM’AT] Pergantian Tahun dan Muhasabah untuk Hari Esok

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji bagi Allah, Rabb yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, yang mencurahkan kasih sayang-Nya tanpa batas kepada hamba-hamba-Nya.

Dia yang membentangkan jalan taubat bagi hati yang terluka dan jiwa yang penuh dosa. Kepada-Nya kita memohon ampun, dan hanya kepada-Nya kita menyerahkan segala keluh dan kesah.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan sepanjang masa, yang membawa cahaya keimanan menerangi kegelapan, yang mengajarkan kita untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah.

Hari ini, mari kita merenung sejenak, mengajak hati untuk berbicara, mengupas lembaran-lembaran kehidupan kita. Betapa sering kaki ini melangkah jauh dari jalan kebenaran.

Betapa banyak dosa kita yang terlupa, tersimpan di sudut-sudut gelap jiwa. Namun Allah, dengan rahmat-Nya yang luas, membuka pintu muhasabah, mengizinkan kita untuk menimbang dan memperbaiki diri.

Muhasabah adalah cahaya yang menyingkap kegelapan dosa, pengingat bahwa setiap langkah keliru masih memiliki jalan kembali. Mari kita hiasi hidup ini dengan tangis keinsafan, dengan doa yang tulus dari hati yang rindu ampunan.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Ketika waktu melaju tanpa henti, tak terasa kita berdiri di ambang tahun baru 2025. Hari-hari berlalu, meninggalkan jejak amal dan dosa, membawa kita semakin dekat kepada akhir perjalanan yang sejati.

Tahun 2024 hampir berakhir, dan inilah saatnya untuk merenung, bermuhasabah, sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Allah SWT memanggil kita, orang-orang beriman, untuk bertakwa dan merenungi perjalanan hidup. Apa yang telah kita lakukan? Apa yang telah kita siapkan untuk hari esok? Hari esok bukan sekadar bergantinya malam kepada pagi, tetapi akhirat yang kekal, tempat setiap amal dipertanggungjawabkan.

Amirul Mu’minin Umar bin Khattab RA mengingatkan kita:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ

“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang, dan bersiaplah untuk hari besar ketika amal diperlihatkan” (HR. At Tirmidzi)

Muhasabah adalah panggilan untuk mengubah arah hidup. Sebuah refleksi untuk memperbaharui niat dan orientasi kita sebagai ‘abdullah (hamba Allah) dan khalifatullah (pemimpin di bumi). Dunia ini bukan tempat tinggal, melainkan tempat persinggahan. Kita semua adalah pengembara, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ [وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُوْرِ]

“Jadilah di dunia ini layaknya orang asing atau pengembara [dan persiapkan dirimu termasuk orang yang akan menjadi penghuni kubur]” (HR. Al-Bukhari).

Dengan muhasabah, kita menyadari bahwa hidup adalah ladang tempat menanam amal. Apa yang kita tuai di akhirat adalah hasil dari apa yang kita tanam di dunia. Allah SWT bertanya dalam firman-Nya:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُون

“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian dengan sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menggambarkan setidaknya lima bentuk penyesalan manusia di akhirat dengan ungkapan penuh luka. Mereka berkata dengan kalimat “layta” yang melambangkan angan-angan tak mungkin tercapai.

Pertama, menyesal karena tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِى ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَٰلَيْتَنَآ أَطَعْنَا ٱللَّهَ وَأَطَعْنَا ٱلرَّسُولَا۠

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya andaikan kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.'” (QS. Al-Ahzab: 66)

Kedua, menyesal karena menerima catatan amal yang buruk:

وَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ بِشِمَالِهِۦ فَيَقُولُ يَٰلَيْتَنِى لَمْ أُوتَ كِتَٰبِيَهْ

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, ‘Duhai, alangkah baiknya andaikan tidak diberikan kepadaku kitabku (ini)” (QS. Al-Haqqah: 25)

يَٰلَيْتَهَا كَانَتِ ٱلْقَاضِيَةَ

“Duhai, andaikan kematian itu menyelesaikan segala sesuatu” (QS. Al-Haqqah: 27).

Ketiga, menyesal, berharap menjadi tanah:

إِنَّآ أَنذَرْنَٰكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنظُرُ ٱلْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ ٱلْكَافِرُ يَٰلَيْتَنِى كُنتُ تُرَٰبًۢا

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (wahai orang kafir) tentang siksa yang dekat, pada hari manusia melihat segala hal yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya andaikan dahulu aku hanyalah tanah.'” (QS. An-Naba: 40).

Keempat, menyesal karena salah memilih teman:

يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

“Kecelakaan besarlah bagiku; andaikan aku (dahulu) tidak menjadikan si dia itu teman akrab-(ku)” (QS. Al-Furqan: 28).

Kelima, menyesal karena salah memilih pemimpin:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِى ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَٰلَيْتَنَآ أَطَعْنَا ٱللَّهَ وَأَطَعْنَا ٱلرَّسُولَا۠. وَقَالُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّآ أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِيلَا۠

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul’. Dan mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).'” (QS. Al-Ahzab: 66-67).

Penyesalan ini tak berguna, karena waktu tak bisa diputar kembali. Tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Namun, hari ini, kita masih memiliki waktu. Mari berbenah sebelum terlambat.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Di penghujung tahun ini, mari kita merenung. Apa yang telah kita lakukan selama perjalanan selama setahun ini? Sudahkah kita memanfaatkan waktu, kesehatan, dan kesempatan hidup yang Allah berikan?

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jika engkau berada pada waktu sore maka jangan menunggu hingga pagi, dan jika engkau berada pada waktu pagi maka jangan menunggu hingga sore. Manfaatkan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu. Manfaatkan masa hidupmu sebelum datang kematianmu” (HR. Al-Bukhari).

Pergiliran waktu bukan sekadar pergantian angka, tetapi momen untuk memperbaharui tekad. Mari kita teguhkan niat, tanamkan kebaikan, dan jadikan setiap langkah kita berarti. Ingatlah, dunia ini tempat menanam, akhirat tempat menuai.

Allah SWT Maha Penyayang, selalu membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang bertaubat. Sebelum waktu habis, mari kita gunakan kesempatan ini untuk kembali kepada-Nya.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang selalu bermuhasabah, memperbaiki diri, dan meraih ridha-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Simpul Sinergi Lahirkan Generasi Masa Depan dengan Rumah Qur’an di Pulau Maratua

0

BERAU (Hidayatullah.or.id) — Harapan baru bagi lahirnya generasi Qur’ani masa depan di pulau terluar Indonesia kini terwujud. Rumah Qur’an (RQ) Al-Bahri, satu-satunya di Pulau Maratua, resmi berdiri di Kampung Bohe Silian, Kecamatan Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Ahad, 21 Jumadil Akhir 1446 (22/12/2024).

Diinisiasi bersama oleh Hidayatullah Berau bersama Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kalimantan Timur, RQ Al-Bahri didirikan untuk memfasilitasi anak-anak di pedalaman pulau Maratua dalam belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an.

Kehadiran RQ Al-Bahri ini menjadi bukti nyata bahwa kebaikan yang sinergis mampu menembus batas geografis, menerangi wilayah terpencil dengan cahaya Al-Qur’an.

Meskipun berada di pelosok, mimpi untuk melahirkan hafidz dan hafidzah tetap menyala. Lebih dari itu, RQ Al-Bahri juga menjadi sarana dakwah, memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memperdalam ilmu agama dan Al-Qur’an.

“Alhamdulillah, satu-satunya Rumah Quran di Pulau Terluar Maratua telah diresmikan. Kami ucapkan terima kasih kepada para donatur BMH dan seluruh mitra pendukung,” ungkap Sabliansyah, Koordinator BMH Gerai Berau.

Berdirinya RQ Al-Bahri tak lepas dari dukungan simpul sinergi berbagai pihak, termasuk aparat Pemerintah Bohe Silian, PAMA, RQ Hidayatullah, Solo Swa, PT Ice, Green Nirvana Resort, Masaya Cottage, dan IWSS Kabupaten Berau.

Rasa syukur dan harapan diungkapkan oleh Sekcam Pulau Maratua, Sahri. “Suatu kesyukuran bagi masyarakat Kampung Bohe Silian karena kini memiliki Rumah Qur’an,” katanya.

Pihaknya berharap ke depannya bukan hanya di kampung ini saja, tapi juga berlanjut di kampung sekitarnya, seperti Kampung Payung-payung dan Teluk Harapan.

“Semoga mereka turut mendapatkan fasilitas rumah quran dari BMH agar bisa mencetak generasi Qur’ani yang berakhlak mulia dan berilmu,” ungkapnya.

Sabliansyah mengimbuhkan, kehadiran RQ Al-Bahri di Pulau Maratua ini meneguhkan inisiatif bersama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui syiar Islam dan mencetak generasi Qur’ani hingga ke pelosok negeri.

“Dengan dukungan zakat, infak, dan sedekah, BMH terus berupaya menjangkau mereka yang membutuhkan, memberikan akses pendidikan agama, dan menebar cahaya Islam di seluruh penjuru Indonesia,” tutup Sabliansyah.*/Herim

Paradigma Ilmiah dan Etos Akademik Membumikan Pemikiran Menuju Gerakan

0

SUBHANALLAH ada begitu banyak tulisan bagus dalam rangka menyambut Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan. Baru kemarin tulisan Ustadz Irfan Yahya disuguhkan dengan menarik. Hari-hari ini ada suguhan lain. Ada tulisan Ustadz Dr. Nasrullah Sappa, begitu pula tulisan ustadz dengan nama pena Cakdul.

Tulisan para ustadz tersebut berpijak pada paradigma khas masing-masing. Ustadz Irfan Yahya lebih berpijak pada nilai-nilai historitas dan kerangka teori sosiologis, Ustadz Dr. Nasrullah Sappa pada nilai-nilai historitas dengan sedikit komparasi dengan teoritisasi barat, sementara Cakdul pada dalil-dalil naqli. Betapa sesungguhnya ketiga pendekatan ini bisa saling melengkapi dan menguatkan.

Persoalan yang kemudian sering dihadapi di lapangan praktis adalah implementasi. Bagaimana pemikiran-pemikiran dari para pemikir dapat diekstrasi menjadi langkah-langkah implementasi praktis, kurang lebih demikian pertanyaannya. Tulisan ini berusaha memberikan sedikit masukan.

Jika memotret keilmuan Islam, satu sistematika ilmiah dapat ditemukan. Paling tidak dari pembukaan kitab fikih berjudul Al-Yaqut An-Nafis, ada sepuluh poin yang perlu dipenuhi agar sebuah cabang ilmu menjadi kokoh.

Kesepuluhnya sebagai berikut. Definisi, Topik, Manfaat, Pokok persoalan, Nama cabang ilmu, Sumber cabang ilmu, Hukum syara’ terhadap cabang ilmu, Penisbatan cabang ilmu kepada ilmu-ilmu lain, Keutamaan cabang ilmu, dan Pelopor/tokoh di cabang ilmu.

Dari kesepuluh poin ini dapat dipahami mengapa sebagian kitab karya ulama bisa berjilid-jilid. Rasanya sulit mencari orang yang bisa membacanya secara utuh, dari muqaddimah sampai khatimah. Sebagian besar pembaca membaca di bagian yang dibutuhkan saja.

Oleh karena itu lahirlah mukhtashar, kitab ringkasan. Ini ditujukan kepada kaum muslimin kebanyakan. Istilahnya awam atau muqallid.

Di sisi lain sebuah kitab kadang mengalami elaborasi. Wujudnya kitab syarh (penjelasan). Ada banyak kitab dari berbagai cabang ilmu yang di-syarh.

Kepentingan kitab syarh adalah menjelaskan pengertian-pengertian yang dikandung oleh kitab induk. Cakupannya pada diksi, juga pada isi. Redaksinya diulas, kontennya dibahas. Luar biasa, masya Allah.

Sementara itu, jika memotret keilmuan barat, satu sistematika ilmiah dapat ditemukan. Bahwa sebuah teori harus menjalani tahap-tahap tertentu sebelum diimplementasi. Sehingga kemudian ada kekokohan yang baik atas teori tersebut. Usianya relatif panjang.

Tahapan-tahapan tersebut ada bukunya masing-masing. Sehingga pembaca bisa membaca sesuai kepentingannya. Disilakan juga seorang pembaca untuk membaca keseluruhannya.

Tahapan-tahapan yang dimaksud sebagai berikut. Filosofi, Teori dan eksperimen, Implementasi, dan Evaluasi

Akhir-akhir ini ditemukan penyederhanaan. Buku filosofi, teori, dan eksperimen cenderung disatukan. Kemungkinan besar karena kepentingan akademik. Agar para pengkaji bisa memiliki satu sumber untuk melakukan dua kajian sekaligus.

Nah, dua arus ilmiah tersebut memberikan gambaran betapa etos ilmiah diperlukan. Selain tekun, minimal dua karakteristik lain hadir, yakni komprehensivitas dan akuntabilitas.

Komprehensivitas berarti keutuhan penjelasan. Sang ilmuwan mampu menjelaskan secara utuh koneksi di internal cabang ilmu ataupun antarcabang ilmu. Sementara akuntabilitas mengarah kepada pertanggungjawaban yang bisa diterima banyak pihak. Tidak ada plagiasi, juga tidak ada kedustaan.

Etos ilmiah ini juga perlu hadir dalam ekstraksi pemikiran menjadi kebijakan, program, arah gerak, atau apapun istilahnya. Sehingga implementasi lebih mudah dilakukan, begitu pula pengembangannya. Problemnya tidak mudah mencari sosok sedemikian tekun, komprehensif, dan akuntabel.

Di sisi lain budaya instan menghambat lahirnya sosok ini. Runtutan bicara yang dimulai dari teoritisasi dianggap menggurui. Lingkungan lebih ingin langsung praktik, ada format administratifnya. Istilahnya sat set.

Padahal begitu banyak program dan pendekatan gagal dilaksanakan. Problemnya itu tadi, ketidaksabaran dalam mengekstraksi teori menuju implementasi. Lebih parah, sosok tekun nan akademis dihabisi karakternya. Dianggap tidak kompeten, hanya bisa bicara.

Inilah lingkaran setan yang dihadapi banyak komunitas semisal organisasi. Jika ini tidak segera disadari, kemungkinan besar nasib sebagai pengekor akan menimpa.

Nahasnya, jarak antara ekor dengan kepala semakin hari semakin jauh. Kebingungan semakin menjadi. Seperti semut hitam di malam hari, di tengah laut dengan ombak tinggi dan hujan lebat. Kegelapan di atas kegelapan. Na’udzubillah. Wallah a’lam.[]

*) Fu’ad Fahrudin, penulis alumni Leadership Training Hidayatullah Institute Batch 10

Rakerwil Jawa Barat Didorong Optimalkan Potensi Daerah dan Pengembangan Jaringan

0

GARUT (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat (Jabar) menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) ke-V Tahun 2025 yang berlangsung di Al Hambra Granada Internasional Resort, Kabupaten Garut,yang dibuka pada Senin, 21 Jumadil Akhir 1446 (23/12/2024).

Rakerwil dihadiri oleh Ketua Departemen Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Samsudin, MM, sebagai pendamping, Dewan Pengurus Wilayah (DPW), Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Dewan Pengurus Daerah (DPD), unsur Organisasi Pendukung (Orpen), amal usaha dan badan usaha.

Kegiatan digelar intensif selama 2 hari yang mengusung tema “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik” ini juga dihadiri pula tokoh tokoh dan pengusaha Kabupaten Garut, seperti H. Fadil Suharto, H. Iwan, dan Aan Hudri, dan lainnya.

Rapat Kerja Wilayah ke-V Tahun 2024 Hidayatullah Jawa Barat ini menjadi momen penting bagi organisasi untuk merefleksikan perjalanan selama periode ini. Samsudin dalam sambutannya, menegaskan pentingnya konsolidasi dalam menghadapi Musyawarah Nasional (Munas) mendatang.

Tema yang diusung pada Rakerwil kali ini, terang dia, setarikan dengan urgensi memperkuat struktur dan strategi organisasi, sebagaimana termaktub dalam Surah al-Insyirah [94] ayat 7: “Maka apabila engkau telah selesai (dari satu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).”

Sebagai organisasi yang memiliki visi besar, jelas Samsudin, Hidayatullah dituntut untuk tidak hanya menyelesaikan program secara formalitas, tetapi juga memastikan keberlanjutannya melalui evaluasi menyeluruh.

“Evaluasi ini melibatkan identifikasi kekurangan, penguatan kelebihan, serta penyusunan solusi yang strategis. Dengan demikian, setiap tahapan kerja menjadi batu loncatan menuju capaian yang lebih besar,” katanya.

Samsudin menegaskan bahwa program kerja di tingkat wilayah harus selaras dengan hasil keputusan rapat tingkat pusat dan rekomendasi Rakernas. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi tidak dapat berjalan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi yang terukur antara berbagai tingkatan.

“Disusun sesuai dengan kemampuan dan rekomendasi Rakernas,” ujarnya, seraya menegaskan pentingnya keselarasan arah dalam menjalankan visi kolektif.

Salah satu poin penting yang diangkat adalah potensi Jawa Barat sebagai wilayah dengan populasi terbesar di Indonesia, yaitu hampir 50 juta jiwa. Namun, Samsudin mencatat bahwa masih ada kabupaten/kota yang belum terisi oleh Hidayatullah.

Hal ini, lanjut Samsudin, menunjukkan adanya peluang besar sekaligus tantangan yang harus dihadapi organisasi. Untuk itu, diperlukan optimalisasi potensi daerah melalui peningkatan kegiatan silaturahim, standarisasi halaqah, dan keterlibatan aktif pemuda serta tokoh masyarakat.

“Penduduk Jawa Barat itu terbesar di Indonesia, hampir 50 juta jiwa. Wilayahnya luas, masih ada kabupaten kota yang belum terisi Hidayatullah,” ungkapnya.

Menurut Samsudin, pendekatan silaturahim dan standarisasi halaqah menjadi elemen kunci dalam memperkuat struktur organisasi di daerah. Halaqah yang terstandarisasi tidak hanya berfungsi sebagai wadah pembinaan, tetapi juga sebagai sarana konsolidasi yang efektif.

Di sisi lain, melibatkan pemuda, cendekiawan, dan tokoh masyarakat menciptakan ruang kolaborasi lintas generasi, yang pada akhirnya memperkuat daya saing organisasi di era modern.

Oleh karena itu, Samsudin berharap momentum Rakerwil ini harus dimanfaatkan dengan baik untuk memastikan kesinambungan program kerja dan mengembangkan potensi lokal secara maksimal.

Ia menegaskan, konsistensi dalam bekerja keras sebagaimana yang diamanatkan oleh Surah al-Insyirah menjadi pedoman moral yang relevan bagi setiap anggota organisasi.

“Dengan sinergi yang kuat, evaluasi yang matang, dan optimalisasi potensi daerah, Hidayatullah dapat menjawab tantangan zaman dan melangkah menuju Munas dengan visi yang lebih terang,” imbuhnya.

Sebagai penutup, Samsudin menekankan bahwa semangat kerja keras yang dilandasi keikhlasan dan orientasi pada keberlanjutan program harus menjadi nafas setiap aktivitas organisasi.

“Inilah yang akan memastikan bahwa Hidayatullah tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang menjadi organisasi yang memberikan manfaat nyata bagi umat dan bangsa,” tandasnya.*/Dadang Kusmayadi