Beranda blog Halaman 13

Hidayatullah Institute Cetak Pemimpin Berkarakter untuk Mengakselerasi Visi 2030

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah Institute menggelar Pelatihan Kepemimpinan DPD se-Indonesia Basic Batch 21 dengan mengusung tema “Kepemimpinan Manhaji: Visioner dan Progresif”. Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah, Dr. Dudung Amadung Abdullah, S.H., M.H.

Pelatihan ini menjadi bagian dari ikhtiar Hidayatullah dalam menyiapkan pemimpin tingkat daerah yang memiliki kapasitas manajerial, keteguhan manhaj, serta kemampuan membaca perubahan zaman.

Dalam arahannya, Dudung menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan organisasi dakwah. Menurutnya, visi besar organisasi tidak akan terwujud apabila tidak ditopang oleh pemimpin yang visioner, manhaji, dan mampu menggerakkan sumber daya secara efektif.

“Jika pemimpinnya tidak mempunyai visi yang bagus, tidak visioner, dan tidak manhaji, maka visi itu hanya akan tercatat di tembok-tembok dan tidak bisa diwujudkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa DPD memiliki posisi strategis karena menjadi struktur organisasi yang berhadapan langsung dengan jamaah dan masyarakat. Karena itu, peningkatan kapasitas kepemimpinan di tingkat DPD menjadi kebutuhan penting dalam memperkuat gerakan dakwah Hidayatullah di berbagai daerah.

Dudung juga menekankan perbedaan antara anggota, kader, dan leader. Anggota, kata dia, adalah mereka yang menerima visi dan misi organisasi. Sementara kader adalah mereka yang aktif mengikuti pembinaan dan memiliki kesiapan untuk bergerak, berkorban, serta menyelesaikan tantangan di lapangan.

Menurutnya, seorang kader harus memiliki sejumlah karakter utama, di antaranya kreatif, lincah, dedikatif, efektif, dan mampu menghadirkan kegiatan yang berdampak luas bagi organisasi maupun masyarakat.

“Kader itu ketika diberikan tantangan akan mencari solusi. Ciri kader adalah kreatif,” katanya.

Ia menambahkan, pelatihan ini menjadi ruang penting bagi para peserta untuk naik kelas dari kader menjadi pemimpin. Pemimpin, lanjutnya, tidak cukup hanya dilahirkan, tetapi juga harus disiapkan melalui proses pembinaan, penguatan kapasitas, dan pemahaman terhadap tantangan zaman.

Dalam konteks perubahan digital, Dudung mengingatkan bahwa pola dakwah, pengelolaan organisasi, hingga penguatan ekonomi umat harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Menurutnya, para pemimpin Hidayatullah perlu memahami tata kelola modern, membangun tim yang solid, mengelola konflik, serta mampu mengambil keputusan strategis.

“Pemimpin yang hebat bukan hanya hebat sendiri, tetapi mampu membuat orang-orang di sekelilingnya menjadi lebih hebat daripada dirinya,” ujarnya.

Ia juga menegaskan arah Hidayatullah lima tahun ke depan sebagai organisasi yang mandiri dan berpengaruh. Kemandirian tersebut mencakup aspek keuangan, kebijakan, dan pengambilan keputusan organisasi. Sementara berpengaruh berarti Hidayatullah mampu menjadi rujukan, inspirasi, dan mitra strategis bagi masyarakat maupun pemerintah.

Dudung mendorong para peserta untuk tidak lagi hanya bergerak pada ruang-ruang kesedihan dalam membangun dukungan umat, tetapi juga menampilkan ruang-ruang kesuksesan, prestasi, dan capaian nyata lembaga.

Menurutnya, masyarakat akan semakin tertarik kepada lembaga yang mampu menunjukkan keberhasilan, prestasi santri, kemandirian ekonomi, serta kontribusi nyata dalam kehidupan sosial.

Pelatihan selama lima hari ini diharapkan menjadi bekal penting bagi para peserta untuk memperkuat kepemimpinan, menjaga kemuliaan manhaj, memperkuat jamaah, mengembangkan amal usaha, serta mengakselerasi pencapaian visi Hidayatullah menuju organisasi yang mandiri dan berpengaruh pada 2030.

Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, Dudung secara resmi membuka Pelatihan Kepemimpinan DPD Hidayatullah se-Indonesia Basic Batch 21. Ia berharap forum tersebut melahirkan pemimpin-pemimpin yang mampu membawa gerakan dakwah semakin kuat, relevan, dan memberi manfaat luas bagi umat.

Dari Gubuk ke Panggung Prestasi: 20 Generasi Qur’ani Hidayatullah Diwisuda, DPRD NTT Berikan Apresiasi

0

KUPANG (Hidayatullah.or.id) — Islamic Leadership School Rumah Qur’an Hidayatullah (iLEADS-RQH) melalui RA dan MI Pemimpin Rumah Qur’an Hidayatullah Kota Kupang menggelar Haflah Akhirussanah, Pelepasan Kelulusan, serta Wisuda Tahfidz Al-Qur’an dan Hadits Arba’in Tahun Pelajaran 2025/2026, Kamis (11/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh haru tersebut menjadi momentum syukur atas lahirnya generasi Qur’ani yang dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan umat, bangsa, dan daerah.

Acara dihadiri berbagai tokoh dari unsur pemerintah, legislatif, aparat keamanan, dan organisasi kemasyarakatan Islam. Hadir di antaranya Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur sekaligus Ketua LPTQ NTT, Ir. H. Muhammad Ansor, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kupang yang diwakili Kepala Seksi Pendidikan Islam Syamsudin Ridwan, M.Pd., Kabid Pendidikan Islam Kanwil Kemenag NTT, Sekretaris Umum MUI NTT, Sekretaris DPW Hidayatullah NTT, Ketua DPD Hidayatullah Kota Kupang, Ketua MUI Kota Kupang, Ketua PCNU Kota Kupang, Ketua PD Muhammadiyah Kota Kupang, Ketua DDII NTT, Ketua Wahdah Islamiyah NTT, Ketua Fosimata Kota Kupang, Ketua Hananiyah, para imam masjid, pengurus yayasan, tokoh pendidikan dan masyarakat.

Turut hadir pula unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Kelapa Lima, yakni Kapolsek Kelapa Lima, Koramil Kelapa Lima, Camat Kelapa Lima, dan Lurah Kelapa Lima.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kupang melalui Kasi Pendidikan Islam, Syamsudin Ridwan, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi terhadap model pendidikan yang dikembangkan Hidayatullah yang memadukan pembelajaran Al-Qur’an, Hadits, pembentukan karakter, dan kepemimpinan.

Menurutnya, pendekatan pendidikan tersebut layak menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan Islam lainnya di Nusa Tenggara Timur.

“Model pembelajaran Al-Qur’an, Hadits, dan leadership yang dikembangkan Hidayatullah sangat baik dan berpotensi menjadi contoh bagi madrasah maupun sekolah Islam lainnya di NTT,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua LPTQ NTT, Muhammad Ansor, memberikan apresiasi terhadap kontribusi iLEADS Rumah Qur’an Hidayatullah dalam mencetak generasi Qur’ani. Sebagai bentuk dukungan, ia menyerahkan bantuan pembinaan kepada lembaga dan membuka peluang kerja sama dalam pengembangan program tahfidz serta Academy Qur’an di tingkat provinsi.

Pada Haflah Akhirussanah tahun ini, sekolah melepas 10 lulusan RA Pemimpin Rumah Qur’an Angkatan XIII dan 10 lulusan MI Pemimpin Rumah Qur’an Angkatan II. Selain itu, sebanyak 77 siswa kelas I hingga kelas V MI Pemimpin mengikuti Wisuda Tahfidz Al-Qur’an dan Hadits Arba’in sebagai bentuk apresiasi atas capaian hafalan yang telah mereka raih selama mengikuti proses pendidikan.

Sejumlah siswa juga memperoleh penghargaan atas prestasi hafalan terbaik. Ananda Arjuna Hunaifi meraih capaian tertinggi dengan hafalan 5 juz Al-Qur’an, 42 Hadits Arba’in, dan 36 Hadits Pilihan. Posisi kedua diraih Ananda Balqis Puspita Sari Mahmud dengan hafalan 4 juz Al-Qur’an, 30 Hadits Arba’in, dan 36 Hadits Pilihan. Adapun posisi ketiga diraih Ananda Muhammad Syafa Rabbani dengan hafalan 3 juz Al-Qur’an, 42 Hadits Arba’in, dan 36 Hadits Pilihan.

Sementara itu, penghargaan Lulusan Terbaik MI Pemimpin Angkatan II diraih oleh Muhammad Syafa Rabbani, disusul Arjuna Hunaifi dan Syailendra Akhtar Timora berdasarkan akumulasi penilaian aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Pada jenjang RA, penghargaan siswa terbaik diberikan kepada Ananda Hania sebagai Terbaik I, Ananda Haikal sebagai Terbaik II, dan Ananda Ubaidillah Tory sebagai Terbaik III.

Direktur iLEADS Rumah Qur’an Hidayatullah, Ust. Syaiful Bahri, S.Ag., M.H., dalam sambutannya mengisahkan perjalanan lembaga yang bermula dari sebuah gubuk sederhana pada 2010. Perjalanan tersebut kemudian berkembang menjadi RA Pemimpin Rumah Qur’an pada 2014 dan MI Pemimpin Rumah Qur’an pada 2019.

Dengan visi “Menyiapkan Generasi Qur’ani Berjiwa Pemimpin”, lembaga tersebut terus mengembangkan sistem pendidikan yang mengintegrasikan iman, ilmu, adab, dan kepemimpinan dalam proses pembelajaran.

Tahun 2026 juga menjadi periode yang membanggakan bagi lembaga tersebut. RA dan MI Pemimpin Rumah Qur’an berhasil meraih Akreditasi B pada akreditasi perdana serta menorehkan sejumlah prestasi di tingkat kota.

Prestasi tersebut antara lain Juara Umum I Academy Qur’an V, Juara I Tahfidz Qur’an MTQ Tingkat Kota Kupang, Juara II Olimpiade Pendidikan Agama Islam, Juara II Olimpiade Matematika Tingkat Kota Kupang, serta Juara III Tahfidz Qur’an Pentas PAI.

Sementara itu, siswa RA Pemimpin Rumah Qur’an berhasil meraih Juara I Pildacil, Juara I Hafalan Surah Pendek, Juara I Hafalan Doa Pendek, Juara III Hafalan Hadits Pendek pada Academy Qur’an V tingkat Kota dan Kabupaten Kupang, serta Harapan I Lomba Mewarnai Tingkat Kota Kupang.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan Direktur Pascasarjana Universitas Nusa Cendana, Dr. Hamza H. Wulakada, yang menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Generasi Qur’ani di Era Disrupsi”.

Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa tantangan masa depan tidak cukup dijawab dengan kecerdasan akademik semata, melainkan membutuhkan generasi yang memiliki karakter kuat, nilai-nilai Qur’ani, dan kemampuan kepemimpinan yang baik.

Melalui Haflah Akhirussanah dan Wisuda Tahfidz ini, RA dan MI Pemimpin Rumah Qur’an Hidayatullah Kota Kupang kembali menegaskan komitmennya untuk melahirkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, berprestasi, serta berjiwa pemimpin sebagai bekal menghadapi tantangan zaman dan berkontribusi bagi kemajuan umat, bangsa, dan daerah.

Antara Begadang dan Qiyamul Lail

0

Fenomena menjamurnya manusia malam kini bukan sekadar tren musiman. Berbeda dengan masa lalu di mana orang begadang karena tuntutan ronda atau keadaan darurat, hari ini jutaan orang justru sengaja menolak tidur demi berbagai kesibukan malam.

Begadang kini bukan lagi sekadar pelarian saat insomnia, melainkan sudah menjadi gaya hidup baru. Sederhananya, begadang adalah kebiasaan terjaga hingga larut malam, bahkan sampai adzan subuh berkumandang. Alasannya klasik: mulai dari dikejar deadline tugas dari bos, kerja lembur, maraton film, nonton bola, main gim, atau sekadar rebahan tak bisa tidur.

Baca juga:Kader Dakwah dan Tantangan Relevansi di Era Modern

Namun sadar atau tidak, hari ini sebenarnya sedang dijajah untuk tetap melek. Setidaknya ada tiga alasan mengapa “manusia malam” tumbuh subur di masyarakat.

Pertama, candu dopamin. Banyak orang terjebak begadang karena sistem digital yang manipulatif. Sadar atau tidak, aplikasi media sosial, platform streaming film, hingga gim daring sengaja dirancang oleh para ahli psikologi perilaku untuk merampok perhatian orang selama mungkin. Malam adalah waktu yang panjang untuk berlama-lama beraktivitas.

Fitur-fitur ini memicu letupan dopamin instan di otak. Akibatnya, jempol dan jari-jari terus menggulirkan layar (scrolling) tanpa bisa direm hingga dini hari.

Kedua, kota yang menolak tidur 24 jam. Secara sosiologis, lingkungan urban modern sangat memanjakan para pemburu malam. Kota-kota besar telah bertransformasi menjadi 24-hour city atau kota yang menolak tidur.

Lihat saja bagaimana kafe-kafe estetik menjamur di setiap sudut jalan. Mereka memikat kaum nokturnal dengan racikan kopi khas, fasilitas Wi-Fi super kencang, hingga agenda nonton bareng (nobar) bola dan hiburan musik. Malam hari justru berubah menjadi panggung sosial yang baru.

Ketiga, kebisingan digital. Ironisnya, malam hari justru menjadi waktu di mana dunia digital sedang bising-bisingnya. Mulai dari obrolan grup WhatsApp yang tak ada habisnya, gosip yang sedang trending di X (Twitter), hingga live streaming para kreator konten, semuanya memuncak saat tengah malam hingga menjelang fajar.

Hal inilah yang menjebak banyak pekerja kreatif dan mahasiswa dalam glorifikasi semu. Mereka merasa bangga melabeli diri sebagai night owl (si burung hantu) dengan dalih bahwa otak mereka baru bisa berpikir jernih dan kreatif saat dunia sekitar sedang terlelap. Padahal, sering kali itu hanyalah ilusi produktivitas belaka.

Baca juga:Tradisi Membaca sebagai Penguat Halaqoh

“Menabung Penyakit”: Dampak Ngeri Begadang yang Jarang Disadari

Kalau cuma sesekali, begadang mungkin cuma bikin menguap beberapa kali di pagi hari. Tapi kalau sudah jadi ritual setiap malam? Bersiaplah, karena mereka sedang merusak fisik dan mental secara perlahan dari dalam.

Malam hari sebenarnya adalah waktu sakral bagi tubuh untuk melakukan servis total, mulai dari regenerasi sel hingga memperkuat sistem imun. Ketika nekat melek, jam biologis (ritme sirkadian) tubuh akan kacau berat. Akibatnya, kualitas tidur anjlok, dan tubuh otomatis membuka pintu lebar-lebar untuk berbagai penyakit.

Secara mental dan fisik, berikut adalah biaya mahal yang harus dibayar akibat hobi begadang:

1. Otak lemot dan emosi labil

Kurang tidur adalah musuh utama otak. Jangan heran kalau keesokan harinya orang begadang susah fokus, produktivitas drop, dan mengalami brain fog (linglung). Secara psikologis, kurang tidur juga mengacaukan regulasi emosi. Efeknya? Sensitif jadi senggol bacok alias gampang marah, cemas, dan sulit berpikir jernih.

2. Hormon pengacau timbangan dan rusaknya penampilan

Pernah menyadari kenapa kalau begadang, bawaannya ingin makan mi instan atau camilan manis? Itu karena begadang merusak keseimbangan hormon pengatur rasa lapar. Akibatnya, nafsu makan melonjak tak terkendali dan berujung pada obesitas.

Bukan cuma timbangan yang menderita, cermin kaca pun akan protes. Kulit wajah akan langsung menunjukkan protesnya lewat jerawat yang meradang, kantung mata hitam mirip panda, dan wajah yang tampak kusam berlipat ganda.

3. Ancaman penyakit mematikan jangka panjang

Menurut laporan World Health Organization (WHO), tidur kurang dari 6–7 jam sehari dalam jangka panjang adalah tiket VIP menuju penyakit tidak menular yang mematikan. Mulai dari diabetes, hipertensi (darah tinggi), hingga serangan jantung siap mengintai pelaku hobi begadang di masa depan.

Jebakan “bom waktu” celakanya, sementara mayoritas penikmat begadang malam tidak sadar sedang berjalan menuju jurang ini. Kenapa? Karena dampaknya tidak instan. Tubuhnya tidak langsung ambruk esok harinya, melainkan menumpuk kerusakan kecil setiap malam seperti bom waktu.

Baca juga:Tiga Penyakit Serius Kepemimpinan Organisasi

Analisis Health Belief Model (HBM) ini memperlihatkan realitas yang mengerikan: manusia modern bukan tidak tahu kalau begadang itu merusak raga, mereka hanya memilih untuk abai.

Mereka terjebak dalam delusi psikologis yang menganggap maut dan penyakit masih berjalan jauh di belakang mereka, padahal setiap malam yang dihabiskan untuk begadang adalah satu langkah kaki yang semakin dekat menuju jurang tersebut.

Sepertiga Malam Terakhir: Sebuah “Undangan Cinta”

Allah menjadikan malam bukan sekadar waktu untuk mengistirahatkan raga. Di dalamnya, ada satu waktu yang luar biasa istimewa: sepertiga malam terakhir.

Ini bukan sembarang waktu. Ia adalah momen yang dipilih langsung oleh Allah untuk “mendekat” kepada hamba-Nya. Di saat dunia terlelap, sunyi, dan tak ada mata manusia yang memandang, Allah justru menyeru:

“Apakah ada yang berdoa, agar Aku kabulkan? Apakah ada yang meminta, agar Aku beri? Apakah ada yang memohon ampun, agar Aku ampuni?”

Pertanyaan-pertanyaan di atas lahir dari sebuah hadis autentik yang sangat menakjubkan, yang artinya:

“Allah turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)

Coba diresapi. Selama ini, kita sering merasa yang selalu mencari, memohon, mengetuk pintu, dan berharap kepada-Nya. Namun, hadis ini membalikkan cara pandang itu 180 derajat: Allah-lah yang terlebih dahulu mendatangi hamba-hamba-Nya.

Bayangkan, Penguasa Semesta Alam yang tidak butuh sedikit pun pada ibadah hamba, justru “mengunjungi” langit dunia setiap malam. Allah mengundang dan menunggu doa-doa tulus dari hati yang khusyuk. Ini adalah bentuk cinta yang tak terhingga, cinta yang tidak pernah bosan menanti, bahkan ketika hamba berkali-kali lalai dan menjauh.

Ujian Cinta di Atas Kasur yang Empuk

Sepertiga malam adalah waktu di mana gravitasi kasur terasa paling kuat. Tubuh sedang nyaman-nyamannya beristirahat, mata enggan terbuka, mimpi masih indah-indahnya dan pikiran masih ingin lepas dari beban dunia.

Maka, siapa saja yang mampu memutus kelezatan tidur itu hanya demi mengambil air wudhu dan bersujud, ia telah lulus ujian cinta. Keberhasilannya bangun adalah stempel bahwa hatinya telah jujur dalam mencintai Tuhannya.

Meninggalkan tempat tidur untuk shalat malam (qiyamul lail) memang bukan perkara ringan. Namun, justru karena berat itulah, nilai ibadah di waktu ini melambung tinggi. Ia menjadi bukti kesungguhan yang tak bisa dimanipulasi.

Persis seperti yang Allah abadikan dalam Alquran mengenai ciri-ciri penduduk surga, yang artinya:

“Dan mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan kepada Allah.” (QS. Az-Zariyat: 17–18)

Baca juga:Menjaga Kesucian Pesantren: Ketika Syahwat Berkedok Agama

Duel Manusia Malam

Modernitas hari ini telah berhasil mengaburkan batas antara siang dan malam. Sayangnya, adaptasi budaya urban ini berjalan berlawanan arah dengan biologi manusia. Banyak orang memaksa diri menjadi “makhluk malam”, padahal anatomi tubuh manusia sejak ribuan tahun lalu sudah dirancang untuk beristirahat total begitu matahari tenggelam.

Di sinilah anomali tajam itu terjadi. Begadang modern adalah sebuah ritual melelahkan jiwa dan raga yang dibungkus dengan label gaya hidup. Sebaliknya, qiyamul lail adalah terapi medis dan psikologis tingkat tinggi yang dikemas dalam bentuk ibadah.

Sama-sama membuka mata di keheningan malam, namun keduanya menuju takdir yang berbeda: “Menabung Kehancuran vs Menjemput Keberkahan.”

Para penikmat begadang sedang menabung kehancuran mental secara perlahan. Mereka menguras energi otak demi kesenangan semu yang merusak jiwa.

Sementara itu, pelaku qiyamul lail sedang menginvestasikan ketenangan otak untuk meregenerasi mental. Mereka menjemput kesehatan jiwa yang paripurna justru di saat organ tubuh lainnya sedang detoksifikasi sehingga menjadi lebih berkah.

Banyak orang begadang karena terjebak imajinasi semu dan tak bisa lepas dari gawai. Mereka adalah “korban” dari arus malam.

Namun, menyingkirkan selimut hangat, melawan gravitasi kasur yang empuk, lalu membasuh wajah dengan air wudhu yang dingin adalah bentuk kemenangan mental tertinggi. Hanya manusia dengan willpower (kekuatan kehendak) luar biasa yang sanggup melakukannya. Para pelaku qiyamul lail inilah “penguasa” sejati atas malam dan atas ego diri mereka sendiri.

Tengoklah anak muda yang nongkrong di kafe-kafe 24 jam. Mereka tertawa keras atau sibuk berselancar di media sosial yang riuh oleh miliaran manusia. Namun secara psikologis, di balik keriuhan itu, ada rasa sepi yang akut (existential dread). Mereka terjaga di malam hari justru untuk melarikan diri dari ruang kosong di dalam diri mereka sendiri.

Baca juga:Urgensi Halaqoh Bagi Pejuang Dakwah: Fondasi Karakter dan Militansi Kader

Bandingkan dengan seorang hamba yang tegak berdiri sendirian di dalam kamar yang gelap dan sunyi. Tidak ada musik, tidak ada teman obrolan. Namun secara mental dan spiritual, jiwanya merasa sangat penuh, didengar, dan terkoneksi langsung dengan Dzat yang “menggenggam” semesta. Di dalam kesunyian fisik itulah, jiwanya sedang menikmati percakapan paling intim.

Pada akhirnya, malam hari menyajikan dua pilihan ekstrem. Kita bisa memilih menjadi bagian dari keriuhan semu yang menguras waras, atau memilih bersimpuh dalam kesunyian yang justru mengutuhkan jiwa. Pilihan ada di tangan masing-masing: ingin hanyut digulung malam, atau bangkit menjadi penguasa malam?

Menyambut 1448 Hijriah, Hidayatullah Banten Dorong Semangat Pembaruan untuk Bangsa

0

SERANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Banten, Dadan Abdul Fattah, didampingi Sekretaris Wilayah Muhammad Irwan dan Bendahara Wilayah Gunawan Muhammad, menyampaikan ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah yang jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.

Momentum pergantian tahun hijriah tersebut, menurutnya, tidak semata menjadi penanda perubahan kalender, melainkan panggilan untuk melakukan pembaruan diri secara berkelanjutan dalam seluruh dimensi kehidupan.

Dadan menegaskan bahwa Muharram memiliki makna historis dan spiritual yang sangat kuat dalam tradisi Islam. Peristiwa hijrah yang menjadi dasar penanggalan Islam merupakan simbol transformasi, keberanian melakukan perubahan, dan komitmen membangun peradaban yang lebih baik.

“Tahun Baru Islam harus kita maknai sebagai momentum reflektif untuk terus melakukan perubahan diri menuju perbaikan yang berkesinambungan, baik dalam konteks pribadi, keluarga, komunitas, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Dadan Abdul Fattah.

Ia menjelaskan bahwa tantangan kehidupan modern menuntut umat Islam untuk tidak terjebak dalam rutinitas tanpa arah. Pergantian tahun hijriah harus menjadi ruang evaluasi terhadap kualitas keimanan, produktivitas sosial, serta kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat. Menurutnya, perubahan yang diharapkan Islam bukan sekadar perubahan simbolik, tetapi perubahan substantif yang melahirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Dadan menambahkan bahwa bagi Hidayatullah, pergantian kalender hijriah harus dimaknai sebagai momentum revitalisasi dan pembaruan cara pandang dalam menjalankan dakwah. Dakwah tidak cukup dipahami sebagai aktivitas penyampaian pesan keagamaan semata, melainkan harus menjadi jalan menghadirkan kebahagiaan, harapan, dan solusi bagi berbagai persoalan umat.

“Dakwah harus menjadi jalan kebahagiaan. Dakwah yang hidup adalah dakwah yang menghadirkan manfaat nyata, membangun optimisme, dan memperkuat semangat perkhidmatan kepada umat. Karena itu, pembaruan mindset menjadi sangat penting agar dakwah selalu relevan dengan kebutuhan zaman,” katanya.

Menurut Dadan, semangat perkhidmatan tersebut harus diwujudkan melalui pembangunan institusi-institusi yang mampu menghadirkan kemaslahatan publik. Dalam konteks itulah Hidayatullah Banten terus mengembangkan berbagai pusat dakwah, Rumah Qur’an, serta lembaga pendidikan dan sosial yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.

Salah satu bentuk nyata dari komitmen tersebut adalah kehadiran Yayasan Al Firdaus yang selama ini menjadi pusat pendidikan dan pembinaan bagi anak-anak Indonesia, khususnya dari kalangan yatim dan dhuafa. Melalui pendekatan pendidikan yang terintegrasi, lembaga tersebut berupaya memperluas akses pembelajaran sekaligus membangun karakter generasi muda yang berakhlak dan berdaya saing.

Dadan menegaskan bahwa pembangunan peradaban tidak lahir secara instan, tetapi melalui proses panjang yang dimulai dari pembinaan manusia. Karena itu, investasi terbesar umat sesungguhnya terletak pada pendidikan, penguatan keluarga, dan pembentukan karakter generasi penerus.

“Muharram mengajarkan bahwa perubahan besar selalu diawali oleh kesadaran untuk memperbaiki diri. Ketika individu berubah menjadi lebih baik, keluarga akan menguat. Ketika keluarga menguat, masyarakat akan bertumbuh. Dan ketika masyarakat bertumbuh dengan nilai-nilai kebaikan, bangsa akan memiliki fondasi peradaban yang kokoh,” ujar Dadan.

Menutup pesannya, Dadan Abdul Fattah mengajak seluruh umat Islam menjadikan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sebagai titik awal memperkuat iman, memperluas manfaat, dan memperteguh komitmen pengabdian bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Ketua Umum DPP Hidayatullah: Tahun Baru Islam 1448 Hijriah Momentum Perkuat Peran Umat bagi Bangsa

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, mengajak umat Islam menjadikan momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sebagai sarana merekonstruksi semangat keberagamaan, perjuangan, tarbiyah, dan dakwah demi menghadirkan kontribusi yang lebih besar bagi bangsa dan negara.

Menurutnya, pergantian tahun dalam kalender Hijriah bukan sekadar penanda perubahan waktu, melainkan momentum refleksi dan evaluasi untuk memperkuat kualitas keimanan serta meningkatkan peran umat Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Momentum Muharram harus menjadi siklus tahunan yang dimanfaatkan untuk merekonstruksi spirit beragama, spirit perjuangan, spirit tarbiyah, dan dakwah, baik bagi umat Islam secara umum maupun bagi lembaga-lembaga dakwah secara khusus,” ujar Kyai. Naspi dalam pesannya menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Senin (15/06/2026)

Kyai Naspi menegaskan, Muharram tahun ini perlu menjadi stimulus besar bagi umat Islam untuk mengambil peran konstruktif yang lebih signifikan dalam mengatasi berbagai kondisi yang dihadapi bangsa dan negara. Menurutnya, tantangan kehidupan yang semakin kompleks membutuhkan kehadiran umat Islam yang aktif, solutif, dan mampu memberikan kontribusi nyata.

Karena itu, Kyai Naspi mendorong terbangunnya sinergi yang lebih kuat di kalangan umat Islam, baik melalui penguatan struktur organisasi maupun gerakan dakwah yang terarah dan berkelanjutan.

“Umat Islam perlu membangun konsolidasi dan sinergi yang lebih kuat. Dengan kebersamaan dan kolaborasi yang baik, potensi besar umat dapat diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi bangsa dan negara,” katanya.

Ia menjelaskan, dengan terbangunnya konsolidasi dan sinergi, kontribusi umat Islam dalam memajukan bangsa dan negara akan semakin signifikan dan terasa di tengah kehidupan berbangsa. Menurutnya, dakwah tidak hanya berorientasi pada pembinaan individu, tetapi juga harus melahirkan dampak sosial yang positif dan konstruktif.

Lebih lanjut, Kyai Naspi mengingatkan bahwa posisi bulan Muharram dalam kalender Hijriah memiliki makna yang sangat penting karena datang setelah bulan Dzulhijjah, bulan pelaksanaan ibadah haji. Oleh sebab itu, ia berharap para jamaah haji yang baru menunaikan ibadah di Tanah Suci dapat membawa pulang semangat keimanan dan ketakwaan yang berdampak pada kehidupan umat secara luas.

“Spirit iman dan ibadah yang diperoleh selama pelaksanaan haji diharapkan tidak berhenti pada diri pribadi para jamaah, tetapi mampu memberikan pengaruh konstruktif bagi penguatan keimanan, spiritualitas, dan kehidupan sosial umat Islam di Indonesia,” ujarnya.

Menutup pesannya, Kyai Naspi mengajak seluruh komponen umat Islam menjadikan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sebagai momentum kebangkitan untuk memperkuat persatuan, meningkatkan kualitas dakwah, serta menghadirkan kontribusi terbaik bagi kemajuan bangsa dan peradaban.

Hidayatullah Tangsel Terima Kunjungan Akademik Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta

0

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Mahasiswa peneliti dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melakukan kunjungan ke Yayasan Al-Firdaus Pondok Pesantren Hidayatullah Tangerang Selatan, Banten, pada Sabtu, 27 Dzulhijah 1447 (13/6/2026). Anjangsana akademik ini berfokus pada pengenalan sistem pendidikan dan manajemen kelembagaan.

Kegiatan yang berlangsung tersebut diisi dengan observasi lapangan dan wawancara mendalam mengenai tata kelola yayasan serta praktik penyelenggaraan pendidikan yang diterapkan di lingkungan pesantren.

Rombongan mahasiswa diterima langsung oleh Ketua Yayasan Al-Firdaus, Mohammad Irwan. Dalam pertemuan tersebut, berbagai aspek pengelolaan lembaga dibahas, mulai dari sistem pendidikan hingga mekanisme pengembangan organisasi yang dijalankan oleh yayasan.

Mohammad Irwan menyampaikan apresiasi atas inisiatif dan komitmen yang ditunjukkan oleh para mahasiswa dalam membangun hubungan yang konstruktif dengan lembaga pendidikan masyarakat. Menurutnya, interaksi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan sosial-keagamaan membuka ruang bagi pertukaran gagasan yang dapat mendukung pengembangan institusi.

“Kami sangat bersyukur dan mengapresiasi komitmen dari rekan-rekan UNJ yang siap bersinergi dan membantu pengembangan Yayasan Al-Firdaus ke depannya,” ujarnya.

Irwan menyambut gembira kolaborasi yang dibangun melalui kunjungan akademik tersebut. Baginya, kehadiran mahasiswa tidak hanya menjadi bagian dari proses pembelajaran di kampus, tetapi juga menghadirkan ruang dialog yang memungkinkan pertukaran pengalaman dan pengetahuan antara dunia akademik dan lembaga pendidikan masyarakat.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana silaturahim dan menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi yang lebih luas antara dunia akademik dan lembaga pendidikan dalam rangka pengembangan kapasitas serta penguatan peran pendidikan di tengah masyarakat.

IAI Hidayatullah Batam Gelar Bimtek OJS untuk Dongkrak Reputasi Akademik

BATAM — Rektor Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam, Dr. M. Sidik, M.Pd.I, menegaskan bahwa dampak penguatan “Bimbingan Teknis Akselerasi Kesiapan Akreditasi Jurnal Melalui Optimalisasi dan Standarisasi Website OJS (Open Journal System) IAI Hidayatullah Batam” menjadi motivasi bagi para pengelola jurnal dan Tenaga Kependidikan, khususnya Tim IT IAI Hidayatullah Batam dalam menghadapi akreditasi maupun reakreditasi Jurnal ke depannya serta dalam menyempurnakan pengelolaan website kampus maupun tampilan jurnal berbasis Open Journal System (OJS). Ia menyampaikan bahwa reputasi institusi akademik pada era pendidikan tinggi modern sangat ditentukan oleh tampilan website dan tampilan jurnal yang dihasilkan.

“Dampak terhadap reputasi institusi diharapkan dari maksimalnya pengelolaan jurnal dalam menghadapi akreditasi jurnal nasional nantinya serta dalam pengeloaan website institusi” ujarnya saat membuka Bimbingan Teknis Akselerasi Kesiapan Akreditasi Jurnal Melalui Optimalisasi dan Standarisasi Website Open Journal System (OJS) IAI Hidayatullah Batam yang digelar di Kampus Institut Agama Islam Hidayatullah Batam, Kepri, pada Kamis, 20 Dzulhijjah 1447 H (11/6/2026).

Kata Sidik, kegiatan ini menjadi agenda strategis institusi dalam meningkatkan reputasi akademik melalui penguatan dalam pengelolaan website institusi dan akselerasi kesiapan akreditasi maupun re-akreditasi jurnal. Bimbingan teknis ini diwajibkan bagi seluruh Pengelola Jurnal IAI Hidayatullah Batam serta Tenaga Kependidikan, khususnya Tim IT IAI Hidayatullah Batam sebagai bagian dari peningkatan kompetensi Tenaga Kependidikan, khususnya TIM IT IAI Hidayatullah Batam.

Menurut Sidik, kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan setelah kegiatan pertama yang telah diselenggarakan secara online di bulan Ramadhan lalu. Kehadiran fisik peserta dan narasumber kali ini membuat diskusi lanjutan berlangsung lebih intensif setelah pemaparan materi narasumber. Pendekatan ini dinilai mampu mempercepat identifikasi hambatan administratif maupun substansi dalam proses kemajuan institusi.

Lebih lanjut, Sidik menjelaskan bahwa bimbingan teknis tidak lagi diarahkan pada pengenalan teori dasar Pengelolaan Website maupun OJS, melainkan memasuki tahap praktek Pengelolaan Website maupun OJS secara mendalam. Ia menyebut pendekatan ini sebagai proses bedah kendala yang bertujuan memperbagus tampilan website kampus maupun tampilan OJS.

Muthma’innah, selaku ketua LPPM IAI Hidayatullah Batam berharap kegiatan ini menjadi motivasi dan pencerah bagi seluruh pengelola jurnal dan Tim IT IAI Hidayatullah Batam dalam memajukan Jurnal kampus yang dikelola hingga bisa seluruhnya terakreditasi Nasional serta mampu menembus tingkat akreditasi internasional DOAJ maupun Scopus.

Sebagai narasumber utama, institusi menghadirkan Fauji Nurdin St. Mudo, seorang Crossref Ambassador, pakar IT yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan Jurnal Terakreditasi Nasional maupun Internasional, Pengelolaan Website dan Kostumisasi Tampilan OJS. Fauji mengatakan tampilan website ibarat halaman depan rumah institusi kita, begitupun tampilan OJS ibarat halaman depan rumah jurnal suatu institusi. Akselerasi kesiapan Akreditasi Jurnal IAI Hidayatullah Batam yang termanage dengan baik akan mampu menghasilkan Jurnal yang terakreditasi baik Nasional maupun Internasional, terindeks Sinta maupun DOAJ.

Menariknya, meskipun kegiatan ini diadakan di siang hingga menjelang maghrib, namun antusiasme peserta yang terdiri dari para pengelola jurnal OJS IAI Hidayatullah Batam, beberapa tenaga kependidikan baik operator dan TIM IT kampus, serta pengelola perpustakaan tenaga kependidikan IAI Hidayatullah Batam sangat luar biasa. Hal ini terlihat semakin sore semakin banyak pertanyaan dan umpan balik sebagai respon dari peserta terhadap kegiatan bimbingan teknis tersebut.

KH Naspi Arsyad Dorong Lahirnya Konselor Keluarga yang Unggul, Profetik, dan Profesional

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., membuka kegiatan Training Konselor Keluarga Hidayatullah 2026 yang digelar secara daring melalui Zoom. Sabtu, 13 Juni 2026 M bertepatan dengan 27 Dzulhijjah 1447 H.

Dalam arahannya, KH. Naspi menegaskan bahwa menjadi konselor keluarga bukan hanya soal kemampuan menyelesaikan masalah, tetapi juga tentang menghadirkan ketenangan, penguatan, dan arahan yang berpijak pada nilai-nilai Al-Qur’an.

Menurutnya, Al-Qur’an merupakan panduan utama dalam membangun karakter konselor yang unggul, profetik, dan profesional. Ia menyebut Al-Qur’an sebagai sumber rujukan utama dalam membimbing umat, termasuk dalam persoalan keluarga.

“Panduan menjadi konselor yang profetik dan profesional itu sudah sangat dekat dengan kita, yaitu Al-Qur’an,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.

KH. Naspi menjelaskan, seorang konselor tidak harus menjadi pribadi yang sempurna dan bebas dari masalah. Namun, konselor dituntut memiliki kemampuan untuk mengelola diri, menyelesaikan persoalan pribadi, serta menjaga wibawa di hadapan umat.

Ia mengingatkan agar para konselor tidak mudah menumpahkan persoalan pribadi ke ruang publik, terutama media sosial. Menurutnya, hal tersebut dapat menurunkan kepercayaan masyarakat kepada sosok yang diharapkan mampu menjadi tempat curhat dan meminta nasihat.

“Menjadi konselor itu harus percaya diri. Konselor tidak harus sempurna, tetapi harus mampu melakukan recovery dengan cepat,” pesannya.

Selain kepercayaan diri, KH. Naspi juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas keilmuan. Para peserta diminta terus membaca, mempelajari literatur konseling, jurnal, serta memperluas wawasan psikologi dan keluarga agar layanan konseling semakin berkualitas.

Ia juga menegaskan bahwa bagi Hidayatullah, kekuatan spiritual menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tugas konselor. Spiritualitas, menurutnya, menjadi fondasi utama dalam memberikan bimbingan yang menenangkan dan mencerahkan.

“Konselor dengan kekuatan spiritual itu menyatu. Tidak bisa dipisahkan,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, KH. Naspi turut menyoroti pentingnya kemampuan komunikasi bagi seorang konselor. Ia menyebut raut wajah, gestur tubuh, tatapan mata, cara menyimak, hingga pemilihan diksi sangat menentukan keberhasilan proses konseling.

Menurutnya, konselor harus mampu menghadirkan komunikasi yang simpatik, tidak mudah memotong pembicaraan, tidak menghakimi, serta mampu memberikan energi positif kepada orang yang datang berkonsultasi.

Training Konselor Keluarga Hidayatullah 2026 ini diharapkan menjadi sarana penguatan kapasitas para kader dan pengurus dalam mendampingi persoalan keluarga umat secara lebih bijak, ilmiah, spiritual, dan profesional.

Melalui kegiatan ini, Hidayatullah terus mendorong lahirnya konselor keluarga yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keteladanan, empati, dan kemampuan komunikasi yang baik dalam membina keluarga muslim yang kokoh dan beradab.

Haflah Takrim Mahasantri, Apresiasi Perjuangan Penghafal Al-Qur’an dari 10 hingga 30 Juz

0
Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: image-1.png

BATU (Hidayatullah.or.id) — Suasana penuh haru dan syukur mewarnai pelaksanaan Haflah Takrim atau Parade Tasmi’ Al-Qur’an yang digelar di Kampus Hidayatullah Batu (MAHABA), Kota Batu, Jawa Timur, bertepatan dengan 14 Dzulqa’dah 1447 H. Kegiatan tersebut menjadi momentum istimewa untuk memberikan apresiasi kepada para mahasantri putra dan putri yang telah menyelesaikan tasmi’ hafalan Al-Qur’an pada berbagai tingkatan.

Sejak awal acara, nuansa khidmat dan kebahagiaan terasa menyelimuti seluruh rangkaian kegiatan. Para mahasantri, asatidz dan asatidzah, serta tamu undangan hadir dengan semangat yang sama, yakni merayakan capaian para penghafal Al-Qur’an sekaligus meneguhkan komitmen untuk terus menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Haflah Takrim tidak sekadar menjadi ajang menampilkan kemampuan hafalan, tetapi juga menjadi ruang penghargaan atas proses panjang yang telah dilalui para mahasantri. Melalui kegiatan ini, Kampus Hidayatullah Batu berupaya menanamkan semangat mencintai Al-Qur’an sekaligus mendorong lahirnya generasi Qurani yang mampu menjaga, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Para peserta yang mengikuti Haflah Takrim berasal dari berbagai tingkatan hafalan, mulai kategori 10 juz, 15 juz, hingga 30 juz. Masing-masing menampilkan kemampuan terbaiknya dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan tartil, fasih, dan penuh penghayatan.

Capaian tersebut menjadi bukti dari proses pembinaan tahfiz yang berlangsung secara berkesinambungan. Kesungguhan para mahasantri dalam menjaga hafalan, disertai bimbingan intensif para asatidz dan asatidzah, menjadi faktor penting dalam keberhasilan mereka menuntaskan target hafalan sesuai jenjang masing-masing.

Salah satu momen yang paling berkesan dalam kegiatan ini adalah prosesi naik ke panggung kehormatan bagi para mahasantri yang telah menyelesaikan tasmi’. Prosesi tersebut menjadi simbol penghargaan atas perjuangan panjang yang telah mereka lalui dalam mempersiapkan hafalan dan mengikuti rangkaian tasmi’ Al-Qur’an.

Dengan wajah penuh haru dan rasa syukur, para mahasantri melangkah ke atas panggung disambut tepuk tangan seluruh hadirin. Suasana emosional pun tak terelakkan ketika para peserta menerima penghargaan atas capaian yang diraih melalui kerja keras, kedisiplinan, dan ketekunan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Selama pelaksanaan kegiatan, seluruh rangkaian acara berlangsung tertib dan lancar. Keberhasilan penyelenggaraan Haflah Takrim tidak terlepas dari kerja sama panitia, dukungan berbagai pihak, serta partisipasi aktif seluruh peserta yang mengikuti kegiatan dengan penuh tanggung jawab dan disiplin.

Lebih dari sekadar seremoni, Haflah Takrim menjadi bagian dari proses pembinaan karakter dan spiritualitas mahasantri. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi motivasi bagi seluruh peserta didik untuk terus meningkatkan kualitas hafalan, memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an, serta menjadikannya sebagai sumber inspirasi dalam menapaki perjalanan kehidupan.

Melalui kegiatan tersebut, semangat menghafal, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an diharapkan terus tumbuh dan mengakar di lingkungan Kampus Hidayatullah Batu. Dengan demikian, para mahasantri tidak hanya menjadi penjaga hafalan, tetapi juga menjadi generasi yang mampu menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat.

Semoga capaian yang telah diraih para mahasantri menjadi keberkahan sekaligus langkah awal menuju lahirnya generasi Qurani yang berilmu, berakhlak, dan memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan peradaban.

Halaqah Gabungan DKI Jakarta Didorong Menjadi Ruang Pembinaan Keteladanan bagi Bangsa

0

JAKARTA – Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah DKI Jakarta, K.H. Asdar Majhari, S.Ag, menegaskan bahwa gerakan halaqah harus menjadi gerakan keteladanan (qudwah) yang mampu menjadi mercusuar bagi perjalanan dakwah di berbagai daerah. Melalui halaqah, kader diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas diri, tetapi juga menghadirkan cahaya yang menerangi jalan perjuangan dakwah hingga ke pelosok negeri.

Pernyataan tersebut disampaikan KH. Asdar Majhari saat memberikan sambutan pada kegiatan Halaqah Gabungan dan Lailatul Ijtima yang diselenggarakan DPW dan DMW Hidayatullah DKI Jakarta. (Jum’at, 13 Juni 2026)

Menurut Asdar, halaqah memiliki peran strategis dalam menjaga semangat perjuangan dan kesinambungan dakwah. Ia menilai, halaqah bukan sekadar forum pertemuan rutin, melainkan ruang pembinaan yang mampu melahirkan keteladanan bagi Bangsa.

“Halaqah harus menjadi gerakan qudwah, menjadi mercusuar yang memberikan arah dan cahaya bagi perjalanan dakwah, terutama di berbagai wilayah yang masih membutuhkan penguatan pembinaan,” ujarnya.

Asdar mengatakan, perjalanan dakwah yang panjang memerlukan kader-kader yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga memiliki komitmen untuk saling menguatkan. Karena itu, Halaqah Gabungan menjadi momentum penting untuk mempererat ukhuwah sekaligus berbagi harapan dan pengalaman dalam mengemban amanah dakwah.

Menurut dia, forum tersebut merupakan wadah yang mempertemukan para kader untuk saling menguatkan, bertukar gagasan, serta memperkokoh tekad dalam menghadapi berbagai tantangan dakwah yang terus berkembang.

“Halaqah Gabungan harus menjadi tempat berbagi asa dan saling menguatkan. Dari sinilah energi perjuangan terus diperbarui dan semangat dakwah tetap terjaga,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Asdar juga mengingatkan bahwa seluruh proses pembinaan dan perjuangan organisasi pada akhirnya bermuara pada lahirnya khazanah perjuangan yang bernilai bagi umat. Setiap langkah dakwah, kata dia, merupakan bagian dari ikhtiar panjang yang akan menjadi warisan bagi generasi berikutnya.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh peserta untuk mensyukuri perkembangan dakwah dan pembinaan yang terus berlangsung hingga saat ini. Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari doa dan perjuangan para pendahulu yang telah meletakkan fondasi gerakan sejak awal.

“Kita tidak punya banyak pilihan ketika doa-doa para senior kita dikabulkan oleh Allah SWT. Tugas kita adalah melanjutkan amanah itu dengan kesungguhan, menjaga spirit perjuangan, dan memastikan estafet dakwah terus berjalan,” ujarnya.

Asdar berharap kegiatan halaqah terus menjadi budaya organisasi yang hidup di seluruh tingkatan. Dengan penguatan pembinaan yang berkelanjutan, ia optimistis dakwah Hidayatullah akan semakin memberikan manfaat bagi masyarakat dan melahirkan kader-kader yang mampu menjadi penerang bagi umat di berbagai penjuru negeri.