Beranda blog Halaman 120

Fathun Qarib Abdullah Said: “Musyawarah adalah Bagian dari Keindahan Berjamaah”

BERAU (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah adalah napas keindahan berjamaah di lingkungan Hidayatullah. Pesan ini disampaikan dengan penuh hikmah oleh Ketua Pembina Yayasan Pondok Pesantren Al Ihsan Hidayatullah Berau, Ust. H. Fathun Qarib Abdullah Said, dalam penutupan musyawarah lembaga yang berlangsung pada Kamis, 23 Rajab 1446 (23/1/2025).

Setelah serangkaian diskusi yang intens sejak pagi hingga malam, agenda yang direncanakan dua hari berhasil dirampungkan dalam satu hari penuh. Sebuah pencapaian yang mencerminkan dedikasi dan komitmen semua peserta.

Dalam sambutannya, Ust. Fathun Qarib menegaskan pentingnya sikap dewasa dalam berjamaah, terutama ketika menerima hasil musyawarah.

“Musyawarah adalah bagian dari keindahan berjamaah di Hidayatullah. Dalam forum ini, kita hadir dengan tanggung jawab yang dilandasi niat tulus demi kemaslahatan bersama,” ungkapnya.

Dia menekankan bahwa keputusan yang dihasilkan melalui musyawarah harus diterima dengan lapang dada, tanpa terbawa perasaan.

Menurutnya, musyawarah di Hidayatullah merupakan fondasi yang menopang prinsip kerja lembaga. Fathun pun menyebut tiga pilar utama menjadi panduan, yaitu Musyawarah, Mujahadah, dan Munajat.

Musyawarah dilakukan untuk menggali keputusan terbaik melalui diskusi kolektif, Mujahadah adalah bentuk kesungguhan dalam melaksanakan keputusan yang telah diambil, dan Munajat merupakan doa untuk memohon keberkahan kepada Allah dalam setiap langkah yang diambil.

Menurut Fathun, setiap tugas yang diemban di lembaga ini harus dipandang sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia memberikan contoh sederhana, yaitu peran sekretaris yang terlihat teknis namun esensial dalam menjaga ritme organisasi.

Sekretaris memiliki tanggung jawab untuk mengingatkan ketua tentang agenda rutin, seperti rapat triwulanan dan kegiatan lainnya. Hal ini kata dia menunjukkan bahwa setiap peran, sekecil apa pun, memiliki kontribusi yang signifikan dalam keberlangsungan organisasi.

Lebih jauh,ia juga mengingatkan pentingnya mempersiapkan Sumber Daya Insani (SDI) sejak dini untuk memastikan kesinambungan amanah di masa depan.

“Kita harus mulai memetakan siapa yang akan diberi tanggung jawab berikutnya. Ini adalah langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan amanah di lembaga ini,” tutur anak kelima pendiri Hidayatullah Ustadz Abdullah Said ini.

Meski waktu kepengurusan yang ada tinggal beberapa bulan, ia mengajak seluruh pengurus untuk memaksimalkan masa jabatan dengan bekerja secara optimal.

“Apa yang kita tanam hari ini adalah fondasi bagi pengurus baru di masa depan. Tanamkan prinsip dasar yang kokoh agar bisa diteruskan dengan baik oleh penerus kita,” pesannya.

Acara musyawarah ditutup dengan doa bersama, sebuah momen sakral yang mempertegas pentingnya munajat sebagai bagian dari proses berjamaah.*/Muhammad Anzar

Ketahanan Keluarga sebagai Fondasi Peradaban Islam dan Bangsa

0

SORONG (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya membangun peradaban Islam, keluarga memiliki posisi strategis sebagai pondasi utama. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Si, dalam pengajian bertema “Dari Keluarga Bahagia Menuju Surga” di Pesantren Hidayatullah Sorong, Papua Barat Daya, beberapa waktu lalu dan ditulis pada Rabu, 24 Rajab 1446 (24/1/2025).

Bertempat di Masjid Ahlus Suffah komplek Pesantren Hidayatullah Sorong, acara ini dihadiri oleh ayah, ibu, pengasuh, dan dewan guru yang antusias mengikuti dari awal hingga akhir.

Menurut Abdul Ghofar, ketahanan keluarga adalah pilar utama ketahanan bangsa. “Negara menempatkan keluarga sebagai pondasi, sebab ketahanan sebuah bangsa sangat tergantung pada ketahanan keluarganya,” ungkapnya sambil menegaskan pentingnya memperkokoh institusi keluarga sebagai bagian integral dari pembangunan peradaban.

Abdul Ghofar menyoroti realitas sosial Indonesia yang diwarnai oleh meningkatnya angka perceraian setiap tahun. “Banyak orang melalaikan pembinaan keluarga. Tiba-tiba bermasalah, dan akhirnya pisah. Dampaknya luar biasa, terutama pada generasi anak-anak mereka,” jelasnya. Fenomena ini, lanjut dia, seolah membuat kawin cerai menjadi hal biasa, meski dampaknya mengancam masa depan bangsa.

Sebagai kepala rumah tangga, suami memegang peran vital dalam menciptakan ketahanan keluarga. Seorang suami tidak bisa menjalankan tugasnya dengan sukses tanpa dukungan penuh dari istri. “Apalagi seorang guru, yang harus tuntas urusan keluarganya sebelum mendidik murid-muridnya,” tambahnya.

Indikator Rumahku Surgaku

Lebih jauh Abdul Ghofar, peraih gelar doktor konsentrasi bidang Hukum Keluarga (Al Ahwal Al Syakhshiyyah) Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau ini, memaparkan empat indikator dalam menggapai cita bayti jannati atau rumahku surgaku.

Indikator pertama, terang dia, adalah dari sisi fisik dimana rumah yang bersih, rapi, dan teratur mencerminkan nilai-nilai surga. Kebersihan rumah, meski hanya rumah dinas atau kontrakan, harus dijaga agar menciptakan kenyamanan. “Surga itu indah, bersih, dan rapi. Rumah yang berantakan dapat memengaruhi pikiran dan perasaan penghuninya,” ujarnya.

Kedua, indikator psikologis, yang ditandai dengan rumah yang nyaman dan aman dimana anggota keluarga merasa betah. Tidak adanya kekerasan verbal maupun fisik menjadi indikator utama.

“Sering kali anak-anak nakal karena mereka jarang di rumah. Mereka tidak betah karena rumah tidak nyaman atau penuh dengan bentakan,” kata Abdul Ghofar.

Ketiga, indikaor spiritual, yang menjadikan rumah sebagai wahana bersama dalam menikmati ibadah. Seorang ayah perlu mencontohkan nilai-nilai spiritual dengan membaca Al-Qur’an atau melaksanakan shalat sunnah di rumah.

“Keteladanan ayah dalam beribadah adalah tarbiyah yang berharga bagi anak-anak,” tambahnya. Halaqah keluarga, tempat berbagi nasihat dan doa bersama, juga menjadi penanda rumah yang diberkahi.

Dan, Keempat, indikator materi, dimana pemenuhan kebutuhan dasar keluarga harus tercukupi melalui jalan yang halal. Suami tidak perlu menyediakan nafkah melimpah, cukup memastikan kebutuhan primer terpenuhi.

“Nafkah yang cukup, walau tidak melimpah, akan menghadirkan ketenangan dalam keluarga,” jelasnya.

Abdul Ghofar menutup materinya dengan menyebutkan janji Allah dalam Al-Qur’an Surat Ath Thuur ayat 21:

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

Ia mengingatkan bahwa suasana surga yang diciptakan di dunia akan menjadi jalan untuk berkumpul kembali di surga akhirat. Dia menambahkan, penting bagi setiap keluarga muslim menjadikan keluarga sebagai pusat peradaban.

“Dengan keluarga yang kokoh, bangsa akan menjadi kuat. Dan dengan nilai-nilai Islam yang terinternalisasi dalam rumah, surga dunia dan akhirat bukan lagi impian semata,” katanya.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah ini pun mengapresiasi keberadaan Pondok Pesantren Hidayatullah Sorong sebagai miniatur peragaan peradaban Islam dalam semangat kebersamaan yang penuh harmoni.

Kampus yang berlokasi di Jalan Suriyadi SP 3 Makbusun, Kecamatan Mayamuk, Kabupateng Sorong, Provinsi Papua Barat Daya ini telah memiliki lembaga pendidikan unggulan yang telah mencatat banyak prestasi, termasuk mewakili kompetisi Bahasa Arab tingkat nasional di Jakarta.

Pesantren ini juga dilengkapi fasilitas modern seperti asrama, sekolah, koperasi, dan masjid yang menjadi pusat kegiatan santri dan masyarakat. Menurut Ustadz Syarif, Ketua Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah Sorong, keberhasilan pendidikan di pesantren ini tidak terlepas dari soliditas para pengurus, guru, warga, dan masyarakat.*/

[KHUTBAH JUM’AT] Empat Pesan untuk Bersiap Songsong Bulan Suci Ramadhan

0

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَناَ أَنْ نُصْلِحَ مَعِيْشَتَنَا لِنَيْلِ الرِّضَا وَالسَّعَادَةِ، وَنَقُوْمَ بِالْوَاجِبَاتِ فِيْ عِبَادَتِهِ وَتَقْوَاهْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ الله، اُوْصِيْنِي نَفْسِي بِتَقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم، أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الّذين آمنوا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang telah melimpahkan nikmat-Nya kepada kita tanpa batas, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Dialah yang telah memberikan kehidupan, rezeki, serta hidayah kepada kita untuk senantiasa berjalan di atas jalan ketaatan.

Kita memuji-Nya dengan pujian yang tak henti-hentinya, seraya memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Hanya kepada-Nya kita bertawakal, dan hanya kepada-Nya kita berserah diri.

Shalawat serta salam marilah kita senantiasa haturkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pembawa risalah suci, yang dengan perjuangan dan pengorbanannya kita dapat merasakan cahaya Islam.

Beliaulah suri teladan terbaik bagi umat manusia, penyelamat umat dari kegelapan menuju cahaya, yang telah menyampaikan seluruh ajaran Allah tanpa tersisa.

Marilah kita terus menerus memperbaiki perilaku ketakwaan kita dengan berikhtiar menjalankan segala perintah Allah SWT dengan kesadaran yang kita miliki. Dan, meninggalkan larangan-larangan-Nya dengan kesabaran yang kita miliki. Jalan ketakwaan adalah wasilah untuk dibersamai oleh Allah SWT dalam menjalani fluktuasi kehidupan infiradi dan jama’i.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Tidak terasa, perguliran hari, pekan, bulan dan tahun demikian cepat. Dan kurang sebulan plus sepekan, kita akan kedatangan tamu agung bulan suci Ramadhan. Perputaran waktu adalah bentuk tasliyah (hiburan) dari Allah SWT agar kita menatap masa depan dengan kaca mata positif.

وَتِلۡكَ ٱلۡأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيۡنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمۡ شُهَدَآءَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS. Ali ‘Imran: 140)

Lanyas, sudahkah kita melakukan persiapan untuk menyambut tamu agung ini? Barangsiapa yang tidak melakukan persiapan sama dengan menyiapkan kegagalan. Jangan sampai terjadi setiap datang Ramadhan untuk kesekian kalinya hanya sebatas rutinitas tanpa makna. Wal ‘iyadzu billah.

Setiap tamu datang biasanya membawa rezeki untuk tuan rumah dan ketika pulang membawa dosa-dosa penghuninya untuk dibuang ke laut, meminjam istilah Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah.

الّلهُمَّ بَارِك لنا في رَجب وَشَعْبان وبَلِّغنا رَمَضانَ وحَصِّل مَقاصِدَنا وَاغْفِر لَنا ذُنُوبَنا

“Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah (usia) kami pada bulan Ramadhan dan wujudkanlah harapan-harapan kami serta ampunilah dosa-dosa kami”

Ramadhan adalah momen penting untuk menetapkan resolusi dan harapan baru. Kehadiran Ramadhan sepatutnya sebagai momentum untuk memulai hal baru dengan menjadikan Ramadhan 1445 H yang berlalu sebagai hikmah, pelajaran dan bekal untuk meniti Ramadhan 1446 H yang akan datang.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Berkenaan dengan tekad itu, maka tepat rasanya, kita mengingat empat pesan yang disampaikan Rasulullah kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari, sebagaimana termaktub dalam kitab Nashaihul ‘Ibad yang disusun oleh Syekh Muhammad bin Umar Nawawi al-Bantani (Imam Nawawi).

Rasullulah berpesan kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari yaitu,

يَا أَبَا ذَرٍّ، جَدِّدِ السَّفِيْنَةَ فَإِنَّ اْلبَحْرَ عَمِيْقٌ، وَخُذِ الزَّادَ كَامِلاً فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيْدٌ، وَخَفِّفِ اْلحِمْلَ فَإِنَّ العَقَبَةُ كَئُوْدٌ، وَأَخْلِصِ اْلعَمَلَ فَإِنَّ النَاقَدَ بَصِيْرٌ

“Wahai Abu Dzar, perbaharuilah kapalmu karena laut itu dalam. Ambillah bekal yang sempurna karena perjalanannya jauh. Ringankan beban bawaan karena lereng bukit sulit dilalui, dan ikhlaslah beramal karena Allah Maha Teliti.”

Empat pesan ini sangat cocok direnungkan untuk mengawali Ramadhan sebagai bekal untuk melanjutkan nilai-nilai Ramadhan pada satu tahun kedepan.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Pesan Pertama Rasulullah kepada Abu Dzar Al-Ghifari adalah perbaharuilah kapalmu karena laut Itu dalam (جَدِّدِ السَّفِيْنَةَ فَإِنَّ اْلبَحْرَ عَمِيْقٌ). Tentu pesan Rasulullah ini merupakan kiasan (kalam ‘ibarah). Memperbaharui kapal bisa diartikan memperbaharui niat, maksud dan tujuan.

Sedangkan laut yang dalam itu bisa diartikan bahwa perjalanan di dunia atau perjalanan satu tahun ke depan disamping menjanjikan peluang sekaligus pula tantangan yang mengiringinya.

Sebagai mukmin, memperbaharui niat adalah hal yang amat penting, bahkan setiap kita didorong untuk memperbaharui niat setiap saat. Karena dengan memperbaharui motivasi internal, kita bisa meluruskan kembali arah hidup yang terseok ombak ke kiri dan ke kanan. Dan agar tidak pula terjadi mabuk laut.

Dengan memperbaharui niat di awal Ramadhan tahun ini, apa-apa yang diniatkan dan diharapkan akan terwujud sebagaimana sabda Rasulullah tersebut.

Pesan Kedua yang bisa direnungkan dari pesan Rasulullah kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari adalah, ambillah bekal yang sempurna karena perjalanannya jauh (وَخُذِ الزَّادَ كَامِلاً فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيْدٌ). Mulusnya perjalanan berbanding lurus dengan perbekalan yang disiapkan.

Jarak tempuh bepergian seharusnya sebanding dengan bekal yang disiapkan. Jika bepergian sepekan, membawa bekal untuk sepekan. Jika bepergian sebulan memerlukan bekal untuk sebulan. Jika bepergian setahun membutuhkan bekal setahun. Demikianlah pula perjalanan kita di dunia ini.

Di sini Rasulullah mengingatkan kita untuk mempersiapkan bekal yang cukup. Bekal di sini meliputi ilmu, iman, amal, dan kesabaran. Jarak tempuh yang jauh dalam pesan ini menggambarkan perjalanan hidup hingga akhirat.

Bekal yang cukup memastikan perjalanan hidup berjalan mulus. Sebagaimana orang yang bepergian membutuhkan bekal yang sesuai dengan panjang perjalanan, kita juga membutuhkan bekal amal dan ketakwaan untuk menghadapi kehidupan dunia dan akhirat. Tanpa bekal, perjalanan hidup akan penuh kesulitan.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 197:

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Pesan Ketiga Rasullulah adalah perintah untuk meringankan beban bawaan karena terjal dan berlikunya lereng gunung yang dilintasi (وَخَفِّفِ اْلحِمْلَ فَإِنَّ العَقَبَةُ كَئُوْدٌ)

Beban di sini meliputi dosa, kesombongan, dan ketergantungan pada dunia. Rasulullah mengajarkan kita untuk tidak terlalu terpukau oleh harta, tahta, dan kekuasaan, karena hal itu hanya akan memperberat perjalanan kita menuju Allah SWT.

Merenungi hal ini, kita perlu bermuhasabah. Apakah harta, jabatan, atau kekuasaan yang kita miliki menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah, atau malah menjadi penghalang? Jika hal-hal duniawi tersebut menjauhkan kita dari nikmat ibadah, maka itulah tanda kenikmatan dunia telah dicabut dari hidup kita.

Pesan Keempat, atau yang terakhir, adalah وَأَخْلِصِ اْلعَمَلَ فَإِنَّ النَاقَدَ بَصِيْرٌ, ikhlaslah beramal karena Allah Maha Teliti. Amal yang dilakukan hanya untuk mencari ridha Allah akan mendatangkan keberkahan. Sebaliknya, amal yang disertai riya atau keinginan dipuji manusia akan sia-sia di sisi-Nya.

Ikhlas adalah kunci utama dalam setiap aktivitas. Dengan ikhlas, hati kita akan tenang dan segala amal ibadah menjadi lebih bermakna. Allah berfirman dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

“Padahal mereka hanya diperintahkan untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama.”

Empat pesan Rasulullah kepada Abu Dzar Al-Ghifari adalah panduan hidup yang relevan untuk kita renungkan selalu, terutama menjelang Ramadhan.

Dengan memperbaharui niat, mempersiapkan bekal, meringankan beban, dan beramal dengan ikhlas, kita dapat menjalani bulan suci ini dengan penuh keberkahan.

Semoga Allah SWT memudahkan kita menjalani Ramadhan tahun ini dengan amal ibadah yang lebih baik dari sebelumnya. Amin ya Rabbal Alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Pesona Dakwah di Manokwari Selatan dan Perjalanan Membangun Harapan

0

SETIAP kali melangkah di jalan setapak menuju pesantren yang kala itu hanya berupa hutan belantara, Ustadz Maghfuri selalu berhenti sejenak di atas jembatan kayu sederhana.

Dengan pandangan yang menembus lebatnya hutan, ia menggumamkan doa di dalam hati, “Suatu saat nanti, insya Allah, saya akan memperbaiki jalan ini agar masyarakat lebih mudah melaluinya.”

Harapan itu sederhana, namun penuh harapan. Jalan kecil itu tidak hanya menjadi akses menuju tanah pesantren, tetapi juga simbol harapan Ustadz Maghfuri untuk mempermudah masyarakat setempat.

Saat itu, jarang ada yang melewati jalan tersebut. Sunyi, terpencil, dan hanya beberapa rumah yang berdiri di sekitar. Namun, bagi Maghfuri, jalan itu adalah jalur penghubung mimpi besar yang ingin ia wujudkan.

Setiap kali melintasi jembatan kayu itu, doa serupa terucap tanpa henti. Meski tidak ada modal atau dukungan besar, Ustadz Maghfuri percaya bahwa Allah Maha Mendengar. “Doa itu proposal terbaik kepada Allah,” ucapnya dengan keyakinan penuh.

Namun, doa tidak berdiri sendiri. Ustadz Maghfuri mulai berikhtiar. Ia menyusun proposal pembangunan jalan dan mengajukannya kepada seorang pejabat setempat. Sayangnya, sebelum rencana itu terwujud, pejabat tersebut dipindah tugaskan ke daerah lain. Harapan sempat meredup, tetapi doa-doa Ustadz Maghfuri terus dipanjatkan.

Lalu, tanpa diduga, pertolongan Allah datang dengan cara yang tak terbayangkan. Pemerintah mengumumkan program semenisasi dan pengaspalan jalan hingga ke depan lokasi pesantren. Bahkan, sisa material dari proyek tersebut digunakan untuk memperbaiki gang-gang kecil di sekitar.

“Seperti mimpi di siang bolong,” kata Maghfuri mengenang. Sebelumnya, ia hanya membayangkan jalan aspal mungkin baru akan hadir sepuluh atau dua puluh tahun ke depan.

Hari ini, jalan itu menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat. Anak-anak bermain, remaja berkumpul, dan orang tua bersantai di sore hari. Jalan yang dulunya sunyi kini penuh kehidupan.

Awal Perjalanan di Manokwari Selatan

Pada awal tahun 2021, Ustadz Maghfuri mendapatkan tugas dari Hidayatullah untuk merintis pesantren di Manokwari Selatan. Tugas itu tidak mudah. Sudah beberapa kali dai dikirim ke sana, tetapi tantangan yang berat membuat upaya tersebut belum membuahkan hasil.

Selama tiga bulan pertama, Ustadz Maghfuri, bersama istri dan anak-anaknya, tinggal di sebuah kontrakan sederhana. Tanah wakaf yang menjadi lokasi pesantren masih berupa hutan belantara tanpa bangunan satu pun.

Setiap hari, Maghfuri bolak-balik membabat hutan, mendirikan bangunan semi permanen dari kayu, dan berusaha menciptakan tanda-tanda kehidupan di tanah tersebut.

“Kami hanya punya keyakinan bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang berusaha,” ujarnya. Keyakinan itu menjadi bahan bakar semangatnya untuk terus maju.

Selain bekerja keras secara fisik, Ustadz Maghfuri juga rajin bersilaturahmi. Ia menemui pejabat, tokoh masyarakat, dan warga sekitar untuk memperkenalkan dirinya dan menyampaikan tujuan mulia dari keberadaan pesantren tersebut.

Dalam salah satu pertemuan di masjid setempat, ia bertemu dengan seseorang yang kemudian membantu memperluas tanah wakaf dengan membeli tanah yang bersebelahan.

“Kami ini hanya perantara,” ucapnya dengan rendah hati. “Allah yang menggerakkan hati manusia untuk saling membantu.”

Dari Hutan Menjadi Pesantren

Perlahan, lokasi pesantren mulai berubah. Tanah yang dulunya lebat dengan pepohonan kini menjadi tempat tinggal dan kegiatan belajar. Masyarakat pun mulai bersimpati.

Mereka membantu membangun fasilitas seperti dua rumah dinas, musala, dan kamar mandi untuk santri. Suasana pesantren semakin hidup dengan suara anak-anak yang belajar mengaji setiap sore.

“Mendengar suara mereka mengaji itu seperti alunan musik terindah,” kata Ustadz Maghfuri. “Dulu, tempat ini hanya sunyi. Kini, setiap hari ada tawa dan semangat belajar.”

Pada pertengahan tahun ini, pesantren berencana membuka program pendidikan Taman Kanak-Kanak. Bangunan untuk sekolah tersebut sudah berdiri, siap untuk digunakan. Namun, masih banyak pekerjaan besar yang menanti, termasuk pembangunan masjid yang representatif untuk menunjang kegiatan ibadah dan dakwah.

“Masjid adalah pusat kehidupan di pesantren,” ungkapnya. “Kami berharap masjid ini nanti menjadi tempat berkumpulnya masyarakat, tempat belajar, dan pusat dakwah di Manokwari Selatan.”

Perjalanan ini belum berakhir. Masih banyak harapan yang menunggu untuk diwujudkan, dan Ustadz Maghfuri percaya bahwa pertolongan Allah akan selalu datang di waktu yang tepat.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sebagai tajuk “Laporan Perjalanan” di sela sela kunjungannya ke Papua beberapa waktu lalu.

Dari Manokwari ke Enam Provinsi, Geliat Perjuangan Dakwah di Papua

0

AWAL tahun 1988, seorang pria dengan semangat membara bernama Ustadz Amin Bahrun tiba di Manokwari, Provinsi Irian Jaya.

Ia datang bukan sebagai turis, melainkan membawa amanah besar dari Ustadz Abdullah Said: mendirikan cabang Hidayatullah di tanah yang sekarang namanya menjadi Papua itu.

Langkah awalnya penuh tantangan. Gaya dakwah Hidayatullah adalah mendirikan pesantren dengan terlebih dahulu mencari tanah. Meski Papua memiliki hamparan tanah luas, memperoleh tanah tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu ketekunan, semangat, dan doa yang tak henti-hentinya.

Ustadz Amin Bahrun berjuang dengan bermunajat kepada Allah dan menjalin silaturahim dengan tokoh-tokoh setempat. Usaha itu membuahkan hasil: seorang muhsinin, atau dermawan, mewakafkan tanahnya untuk pesantren.

Dari Satu Pesantren ke Enam Provinsi

Perjalanan dakwah Hidayatullah di Papua terus berkembang. Ketika Papua dimekarkan menjadi dua provinsi, Hidayatullah menyesuaikan diri dengan membentuk dua Dewan Pengurus Wilayah (DPW): Papua dan Papua Barat.

Ketika wilayah tersebut kembali dimekarkan menjadi enam provinsi, Hidayatullah mengikuti jejak pemekaran itu. Kini, terdapat enam DPW yang menaungi kegiatan dakwah Hidayatullah: DPW Papua, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Pegunungan, Papua Barat, dan Papua Barat Daya.

Di DPW Papua Barat, misalnya, Ustadz Asdar Hambal sebagai ketua wilayah menyampaikan bahwa perkembangan dakwah di sana cukup menggembirakan. “Kami melihat peluang besar untuk dakwah yang lebih masif,” ujarnya.

DPW Papua Barat memiliki jaringan di semua kabupaten/kota, seperti Manokwari, Manokwari Selatan, Teluk Bintuni, Fak-Fak, dan Kaimana. Setiap daerah tersebut memiliki tanah wakaf atau hibah untuk pesantren.

Namun, Ustadz Asdar juga menyoroti kendala yang dihadapi. Salah satunya adalah kurangnya Sumber Daya Insani (SDI). “Setiap tahun memang ada kader baru yang ditugaskan, tetapi tidak semuanya bisa bertahan lama,” katanya.

Tantangan dakwah di Papua memang tidak mudah. Kondisi masyarakat, lingkungan alam, hingga geografis membutuhkan nyali besar dan daya tahan fisik yang kuat.

Pusat Pendidikan

Pesantren Hidayatullah di Manokwari menjadi salah satu pusat pendidikan yang memberikan warna tersendiri. Sekolah tingkat dasarnya bahkan menjadi favorit, dengan ratusan murid yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk anak-anak pejabat, tentara, dan polisi. “Kami mempercayakan pendidikan anak-anak kami di sini karena kualitasnya,” ungkap seorang wali murid.

Setiap pagi, suasana sekitar pesantren hidup dengan lalu lalang para orang tua yang mengantar anak-anaknya. Bahkan, pihak kepolisian Satlantas turut membantu mengatur lalu lintas demi kelancaran aktivitas sekolah.

Saat ini, pesantren tengah membangun sekolah program khusus untuk tingkat Aliyah. Program ini bertujuan mencetak generasi dai muda yang dibekali ilmu agama, penguasaan bahasa Arab, dan hafalan Al-Qur’an.

Tidak hanya fokus pada pendidikan formal, Hidayatullah juga berperan aktif dalam dakwah ke masyarakat. Setiap Jumat, para dai Hidayatullah mengisi khutbah di berbagai masjid di Manokwari. Mereka juga rutin mengadakan majelis taklim, memperingati hari besar Islam, serta menjalin komunikasi yang baik dengan pemerintah dan ormas lain.

Kolaborasi dengan Pemerintah dan Masyarakat

Dalam urusan eksternal, Hidayatullah membangun hubungan yang harmonis dengan pemerintah. Miftahuddin, sekretaris DPW Papua Barat, menyampaikan bahwa komunikasi dengan pihak eksekutif dan legislatif berjalan baik. “Kami aktif di MUI, berkolaborasi dengan ormas Islam lain, dan dekat dengan pejabat pemerintah,” ungkapnya.

Bantuan dari pemerintah daerah pun mengalir ke pesantren. Berbagai fasilitas pendidikan berdiri atas dukungan pemerintah, seperti gedung sekolah dan asrama. “Kerja sama ini menjadi bukti bahwa dakwah yang sinergis bisa memberikan manfaat besar bagi umat,” kata Miftahuddin.

Hidayatullah juga menggeliat di bidang ekonomi dengan memanfaatkan lahan-lahan produktif. Mereka mengembangkan peternakan, perikanan, dan perkebunan untuk menopang kebutuhan pesantren. Selain itu, koperasi turut didirikan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi santri dan masyarakat sekitar.

Perjalanan dakwah di tanah Papua memang penuh liku, tetapi juga penuh harapan. Dari tanah Manokwari hingga tersebarnya enam DPW, semangat Hidayatullah untuk menerangi Papua dengan cahaya Islam terus berkobar.

Semoga langkah-langkah kecil ini membawa keberkahan besar bagi masyarakat Papua dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkontribusi bagi agama dan bangsa.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sebagai tajuk “Laporan Perjalanan” di sela sela kunjungannya ke Papua beberapa waktu lalu.

Hidayatullah dan Imigrasi Nunukan Sinergi Penguatan Karakter Generasi Muda di Wilayah Perbatasan

0

NUNUKAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya mempererat hubungan antarinstansi dan mendukung pendidikan di wilayah perbatasan, Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Nunukan, Adrian Soetrisno, menyambut hangat kunjungan perwakilan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Nunukan di ruang kerjanya, Selasa, 21 Rajab 1446 (21/1/2025).

Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk membahas peluang kerja sama yang berfokus pada pengembangan karakter generasi muda dan penguatan wawasan kebangsaan.

Dalam sambutannya, Adrian Soetrisno menegaskan komitmen Kantor Imigrasi untuk mendukung segala bentuk kegiatan yang berkontribusi pada pembangunan karakter generasi muda, terutama di wilayah perbatasan seperti Kabupaten Nunukan.

“Kami sangat mendukung segala bentuk kegiatan yang dapat membangun karakter generasi muda, terutama di wilayah perbatasan seperti Kabupaten Nunukan. Kantor Imigrasi selalu siap bekerja sama dalam lingkup yang mendukung peningkatan pendidikan dan wawasan kebangsaan,” ujar Adrian.

Kawasan perbatasan, seperti Kabupaten Nunukan, kerap menghadapi tantangan unik dalam mengembangkan sumber daya manusia. Dalam hal ini, peran lembaga pendidikan dan instansi pemerintah menjadi sangat penting.

Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, yang aktif dalam mendidik generasi muda, melihat potensi besar dalam berkolaborasi dengan Kantor Imigrasi untuk memberikan edukasi terkait keimigrasian kepada para santri.

Perwakilan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Nunukan yang dipimpin Ust. Dzikrullah menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan oleh Adrian Soetrisno dan timnya. Dalam pertemuan tersebut, mereka mengusulkan pelaksanaan program penyuluhan keimigrasian bagi para santri.

Langkah ini dinilai penting, mengingat posisi strategis Kabupaten Nunukan sebagai wilayah perbatasan yang membutuhkan pemahaman mendalam tentang pentingnya dokumen keimigrasian.

Adrian Soetrisno merespons positif usulan tersebut. Ia menekankan bahwa pemahaman terkait keimigrasian bukan hanya penting bagi kelancaran administrasi, tetapi juga menjadi bagian integral dalam membangun wawasan kebangsaan generasi muda.

“Kami siap hadir untuk memberikan sosialisasi dan informasi, sehingga para santri memiliki pemahaman yang baik tentang keimigrasian. Edukasi ini juga akan membantu mereka menjadi warga negara yang lebih sadar akan pentingnya mematuhi aturan keimigrasian di daerah perbatasan,” jelas Adrian.

Kantor Imigrasi Nunukan sendiri telah menunjukkan komitmen tinggi dalam mendukung pendidikan masyarakat. Melalui berbagai program sosialisasi, instansi ini berupaya memberikan edukasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Salah satu fokus utamanya adalah memperkuat wawasan kebangsaan, yang menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan globalisasi, terutama di daerah perbatasan yang rawan dengan isu lintas batas.

Wilayah perbatasan sering kali menjadi titik rawan yang menghadapi berbagai isu kompleks, mulai dari perdagangan manusia hingga imigrasi ilegal. Oleh karena itu, Adrian menegaskan pentingnya membangun karakter generasi muda yang kuat dan berwawasan kebangsaan.

“Edukasi sejak dini, termasuk melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren, adalah langkah strategis untuk memastikan generasi muda kita memiliki fondasi yang kokoh dalam menghadapi tantangan masa depan,” tambahnya.

Selain itu, Adrian juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung program-program edukatif di daerah perbatasan. Kerja sama antara Kantor Imigrasi dan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah diharapkan dapat menjadi model sinergi yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dalam waktu dekat, rencana penyuluhan keimigrasian akan segera dirancang secara lebih terperinci untuk memberikan dampak maksimal bagi para santri.*/

MoU Pesantren Tahfidz Darul Hijrah Deli Serdang untuk Dakwah ke Pedalaman

0

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Langkah penting diambil oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Sumatera Utara dan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Deli Serdang melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) untuk Program Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Darul Hijrah Deli Serdang pada tanggal 21 Rajab 1446/ 21 Januari 2025.

Bertempat di Kantor BMH di Jl. Karya Wisata No. 20D, Medan Johor, Kota Medan, kolaborasi ini diharapkan mampu membawa angin segar bagi dakwah dan pendidikan Islam di Sumatera Utara.

Acara ini dihadiri Ketua DPD Hidayatullah Deli Serdang, Ustaz Samsul Bahri; Ketua Yayasan Darul Hijrah Deli Serdang, Ustaz Pathun Nur; Ketua Perwakilan BMH Sumut, Muhammad Nuh; serta Kepala Divisi Operasional BMH Sumut, Muhamad Arif Firdaus.

Dalam sambutannya, Ustaz Samsul Bahri menyampaikan harapan besar terhadap program ini. Ia menekankan pentingnya mempersiapkan generasi penghafal Al-Qur’an yang memiliki misi dakwah kuat, khususnya untuk menjangkau wilayah-wilayah pelosok.

“Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut dan menghasilkan para tahfidz yang siap diterjunkan ke pelosok, membawa misi dakwah ke pedalaman. Ini adalah tugas besar yang memerlukan komitmen dan dukungan bersama,” ujar Ustaz Samsul.

Harapan ini sejalan dengan visi besar pesantren untuk menjadi pusat pendidikan Islam yang tidak hanya mencetak generasi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga pemimpin yang siap mengemban tugas dakwah di berbagai medan, termasuk daerah terpencil yang masih minim akses pendidikan Islam.

Pesantren Sebagai Model Percontohan

Muhammad Nuh, Kepala Perwakilan BMH Sumut, menggarisbawahi bahwa Pesantren Tahfidz Darul Hijrah memiliki potensi besar untuk menjadi model bagi pesantren tahfidz lainnya di masa depan. Ia menyebut pesantren ini sebagai “pilot project” yang dapat menginspirasi pengembangan lembaga serupa di berbagai daerah.

“Kami ingin pesantren ini menjadi model percontohan untuk pengembangan pesantren tahfidz lainnya. Dengan sinergi yang baik, kami berharap dapat melahirkan generasi cerdas spiritual yang memiliki visi dakwah untuk menjangkau lebih banyak wilayah di Sumatera Utara,” ungkap Muhammad Nuh.

Melalui kerja sama ini, BMH dan Hidayatullah menargetkan penyediaan fasilitas pendidikan yang memadai, sistem pengajaran yang terstruktur, serta pembinaan yang berorientasi pada pembentukan karakter para santri. Dukungan masyarakat luas juga diharapkan menjadi salah satu kunci kesuksesan program ini.

Pesantren Tahfidz Darul Hijrah didirikan untuk menjawab kebutuhan mendesak akan kader-kader dakwah yang mampu menjangkau wilayah pedalaman. Banyak daerah di Sumatera Utara yang hingga kini belum mendapatkan akses yang memadai terhadap pendidikan Islam. Kehadiran para tahfidz yang juga berperan sebagai dai diharapkan mampu mengisi kekosongan tersebut.

“Kami yakin, dengan sinergi yang terjalin melalui program ini, akan lahir generasi yang tidak hanya hafal Al-Qur’an tetapi juga mampu membawa perubahan di tengah masyarakat. Misi ini mulia, dan kami mohon doa serta dukungan dari seluruh masyarakat agar dapat berjalan lancar,” ujar Muhammad Nuh menutup sambutannya.

Melalui kerja sama ini, langkah menuju terwujudnya generasi tahfidz yang berdaya dakwah semakin dekat. Kini, masyarakat Sumatera Utara menantikan realisasi dari misi besar ini, sebuah upaya nyata untuk membangun peradaban berbasis nilai-nilai Islam yang kokoh dan berkelanjutan.*/Herim

Guru dan Transformasi Pendidikan Islam

0

PADA Selasa, 21 Januari 2025 lalu, sebuah pesan jalur pribadi (japri) via WhatsApp dari seorang kawan tiba, isinya singkat namun sarat makna:

“Guru yang baik dan metode pembelajaran yang baik niscaya mereka akan menjadikan murid yang unggul dan berprestasi. Pemimpin negara yang baik akan menciptakan guru-guru yang baik, dan sistem pendidikan yang baik akan menciptakan generasi yang cerdas dan berakhlak.”

Pesan ini menggelitik pikiran saya, seolah menjadi pintu untuk merenungkan kembali peran vital guru dalam pendidikan Islam, sebagaimana dirumuskan oleh Asmaji Muchtar, dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.

Menurut Asmaji Muchtar, tujuan pendidikan Islam adalah membentuk pribadi peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, sekaligus sehat, berilmu, dan cakap. Namun, bagaimana ini tercapai jika bukan melalui guru?

Sebagai perwujudan nilai-nilai Islam, pendidikan harus menjadi proses transformasi kebudayaan, nilai, dan ilmu pengetahuan. Guru berada di pusat dari transformasi ini, membimbing siswa menuju kesempurnaan (insan kamil), yaitu individu yang sadar akan dirinya dan lingkungannya.

Pelajaran dari Sejarah

Kisah yang sering dikutip tentang Kaisar Hirohito dari Jepang memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah bangsa yang hancur dapat bangkit melalui pendidikan.

Setelah Jepang menyerah pada Perang Dunia II, Kaisar Hirohito meminta para jenderal dan menterinya untuk mencatat berapa banyak guru yang masih hidup.

Kaisar Hirohito menyatakan, “Kita kalah total dalam perang ini, karena kita lebih bodoh daripada mereka. Untuk itu, kita memerlukan guru-guru yang berpengalaman, berdedikasi, cerdas, dan fokus untuk membangun sumber daya manusia Jepang.”

Langkah sang Kaisar ini menunjukkan pemahamannya bahwa pembangunan bangsa dimulai dari pendidikan, dan guru adalah kunci utamanya. Dalam 25 tahun, Jepang berhasil menjadi salah satu negara paling maju di dunia.

Dalam perspektif Islam, peran guru jauh lebih luas daripada sekadar pengajar. Al-Ghazali dalam Minhajul Abidin, sebagaimana dikutip oleh Asmaji Muchtar, menekankan bahwa kedudukan seorang guru ada tiga, yaitu; pembuka (al-fatih), pemberi kemudahan (as-saahil) dan pengantar menuju sukses (at-tahshil).

Al-fatih bermakna pembuka akal dan cakrawala berfikir anak didik dari tidak tahu menjadi tahu. As-saahil merupakan kemudahan yang diberikan seorang guru bagaimana cara yang tepat dan cepat memahami suatu masalah (ilmu) kepada siswa.

Kemudian At-tahshiil, adalah pendidik yang berhasil mengantarkan siswanya mencapai keberhasilan dalam mempelajari ilmu pengetahuan hingga terjadi perubahan cara pandang, cara berfikir, dan cara mengambil keputusan terhadap suatu persoalan.

Ketiga peran ini menunjukkan betapa strategisnya posisi guru dalam pendidikan Islam. Mereka adalah penghubung antara peserta didik dan nilai-nilai Islami, membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga matang secara spiritual.

Dengan peran strategis ini, seorang guru dalam pendidikan Islam tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga bertanggung jawab mengubah cara berpikir siswa, memfasilitasi aktualisasi potensi, dan membimbing mereka menuju akhlak mulia.

Namun, bagaimana memastikan guru mampu menjalankan peran ini? Pesan japri dari kawan tadi yang menyebutkan “Pemimpin negara yang baik akan menciptakan guru-guru yang baik” memberi jawaban sederhana namun sangat mengena. Kualitas guru bergantung pada sistem pendidikan yang mendukung pengembangan kompetensi mereka, baik secara profesional maupun personal.

Seorang guru yang kompeten, berdedikasi, dan mampu berkomunikasi dengan baik akan menciptakan lingkungan belajar yang positif. Lingkungan ini tidak hanya memotivasi siswa untuk belajar, tetapi juga membentuk karakter mereka. Dalam konteks ini, pembinaan dan pengembangan kompetensi pedagogik guru menjadi hal yang tidak dapat ditawar.

Negara memiliki peran besar dalam menciptakan sistem pendidikan yang menempatkan guru di pusatnya. Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan tanpa memperhatikan kesejahteraan dan pengembangan profesional guru adalah ibarat membangun rumah di atas pondasi yang rapuh.

Titik Sentral Pada Guru

Guru berada pada titik sentral setiap usaha perbaikan pendidikan. Perubahan dan perbaikan dalam kurikulum, metode, dan sarana pendidikan tidak akan bermakna jika tidak melibatkan guru yang profesional dan berkualitas.

Secara keseluruhan, kualitas guru sangat berpengaruh terhadap kualitas murid, dan upaya untuk meningkatkan kualitas guru adalah langkah penting dalam mencapai pendidikan yang lebih baik.

Dalam pendidikan Islam, tujuan mulia untuk mencetak insan kamil tidak akan tercapai tanpa peran sentral guru. Sebagai agen perubahan, guru tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga menjadi teladan, motivator, dan fasilitator. Sistem pendidikan yang baik harus memberikan dukungan penuh bagi guru untuk menjalankan tugas mereka.

Negara yang abai memperhatikan pengembangan kualitas dan kesejahteraan gurunya, sama saja menebar bibit ketertinggalan dalam berbagai bidang kehidupan bagi bangsanya.[]

*) Nursyamsa Hadis, penulis adalah pegiat pendidikan

Dokter Kemala Intan Soroti Peran Generasi Muda dan Urgensi Pendidikan Masa Kini

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Markas Hidayatullah Al-Quran Learning Centre (HALC) di Kota Medan siang hari itu menjadi terasa istimewa dengan kehadiran kunjungan dari seorang akademisi, dr. Tengku Kemala Intan, M.Pd., M.Biomed., Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU), Sabtu, 18 Rajab 1446 (18/1/2025).

Kadatangan dr. Tengku Kemala Intan, M.Pd., M.Biomed diterima langsung oleh Pengasuh Markas Hidayatullah Al-Quran Learning Centre Medan Ust. Khoirul Anam serta sejumlah pengurus dan jajaran.

Pada kesempatan tersebut dr. Intan menyampaikan kunjungan ini bertujuan mempererat silaturahmi sekaligus menjalin kerja sama di bidang pendidikan dan pembinaan masyarakat.

Dalam kesempatan obrolan di studio Hidayatullah Al-Quran Learning Centre Medan, dr. Intan sampaikan sejumlah pandangan tentang urgensi pendidikan sebagai pilar utama keberlanjutan suatu negara.

Dokter Intan, demikian sapaan akrabnya, merupakan figur yang tidak hanya ahli di bidang kedokteran, tetapi juga pendidikan dan biomedik. Dengan gelar doktor dalam Ilmu Kedokteran, ia terus menunjukkan semangat belajar yang luar biasa, bahkan di usianya yang ke-63. Saat ini, ia juga menempuh pendidikan pembelajaran Al Qur’an di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran (STIQ) As Shiddiq Hidayatullah Medan.

Di luar perannya sebagai dosen, dr. Intan adalah pendiri Yayasan Pendidikan Graha Kirana yang mengelola SMP, SMA, dan perguruan tinggi yang segera akan berstatus universitas, serta Yayasan Pendidikan Salsabila yang fokus pada pendidikan dasar. Dedikasinya terhadap pengembangan pendidikan menjadikannya tokoh sentral dalam diskusi tentang kualitas dan moralitas bangsa.

Pendidikan sebagai Prioritas Utama

Dalam diskusinya bersama tim HALC, dr. Intan menegaskan bahwa pendidikan adalah prioritas utama dalam menjaga keberadaan dan kekuatan suatu negara.

“Pendidikan merupakan hal yang sangat prioritas dalam menjaga keberadaan dan kekuatan suatu negara. Tidak ada negara yang bisa mempertahankan eksistensinya jika tidak memprioritaskan pendidikan generasi mudanya,” ujarnya.

Menurutnya, kualitas pendidikan sebuah negara sangat bergantung pada pola pendidikan di tingkat keluarga. Rumah tangga sebagai unit terkecil masyarakat memiliki peran vital dalam membentuk karakter generasi penerus. Dari keluarga yang kuat akan lahir masyarakat yang solid, dan pada akhirnya membangun negara yang kokoh.

Ketika ditanya tentang kemunduran tingkat religiusitas umat Islam di Indonesia, dr. Intan memberikan analisis yang tajam. Ia menjelaskan bahwa religiusitas tidak hanya dilihat dari aspek ritual, tetapi juga nilai yang diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari.

“Nilai itu hanya bisa terlihat dalam perbuatan, dan perbuatan itu memiliki banyak variabel. Oleh karena itu, pendidikan menjadi kunci dalam menanamkan nilai-nilai religius,” terangnya.

Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan yang ada saat ini. “Kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah ada yang salah dalam metodologi pendidikan kita? Apakah cara kita menyampaikan nilai-nilai ajaran Islam sudah efektif?” tanyanya.

dr. Intan juga mencatat bahwa penurunan religiusitas tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di berbagai belahan dunia. Di negara-negara Barat, misalnya, fenomena agnostisisme semakin meningkat di kalangan generasi muda. Menurutnya, ini adalah tantangan global yang memerlukan pendekatan baru dalam pendidikan nilai.

Membangun Ketahanan Nilai di Rumah Tangga

Dalam pandangannya, keluarga memainkan peran sentral dalam menjaga nilai-nilai religius dan moralitas. Ia menekankan pentingnya visi dan misi keluarga yang kuat.

“Orang tua harus memiliki persiapan untuk menghadapi berbagai tantangan zaman. Tidak cukup hanya melarang anak-anak, tetapi perlu menyediakan fasilitas dan ruang yang dapat membantu mereka menyalurkan kreativitas dengan cara yang positif,” jelasnya.

Intan juga menggarisbawahi perlunya konsistensi pola pendidikan di lingkungan masyarakat. Ia menyoroti tantangan yang dihadapi orang tua dalam menghadapi berbagai pengaruh dari luar, seperti gaya hidup dan teknologi.

“Kita perlu memastikan bahwa lingkungan mendukung pendidikan nilai, baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat luas,” tambahnya.

Peran Pemerintah dan Komunitas

Ketika ditanya tentang siapa yang paling bertanggung jawab dalam menjaga generasi, dr. Intan menjawab bahwa peran utama ada pada keluarga. Namun, ia juga menekankan pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah.

“Permasalahan ini harus diurai dari bawah ke atas. Informasi paling akurat tentang kondisi masyarakat ada di tingkat bawah. Oleh karena itu, para pemimpin di berbagai tingkatan harus memiliki visi yang jelas untuk mendukung pendidikan,” katanya.

dr. Intan mengkritik minimnya fasilitas pendidikan yang terjangkau bagi masyarakat luas. Ia mencontohkan kurangnya sarana seperti warnet yang terkontrol dan mendukung kreativitas anak-anak di lingkungan sekolah.

“Hanya sekolah tertentu yang memiliki fasilitas ini, dan harganya tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat. Ini adalah dilema yang harus kita pecahkan bersama,” ujarnya.

Mengakhiri diskusi, dr. Intan mengajak semua pihak untuk berkomitmen terhadap transformasi pendidikan yang holistik. Ia percaya bahwa perubahan harus dimulai dari pola pikir setiap individu.

“Kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan institusi pendidikan untuk membangun masa depan yang lebih baik,” tutupnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Rakerwil V Hidayatullah Jatim Ditutup, Ketua DPW Apresiasi Pelayanan Tuan Rumah

0

Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) V Hidayatullah Jawa Timur resmi ditutup pada hari Ahad, 19 Januari 2024, di Situbondo. Dalam acara penutupan ini, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowi, yang dalam sambutannya menekankan semangat kolaborasi dan tanggung jawab bersama yang tercermin selama acara berlangsung.

Amun Rowi memulai sambutannya dengan rasa syukur atas pelaksanaan Rakerwil yang telah berlangsung selama tiga hari. “Alhamdulillah pada siang hari ini kita melaksanakan acara penutupan Rakerwil V tahun 2025. Selama tiga hari ini, kami mendapatkan banyak manfaat dari acara yang telah terlaksana dengan baik,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Amun Rowi juga mengucapkan terima kasih kepada panitia dan seluruh pihak yang terlibat, khususnya kepada DPD Hidayatullah Situbondo yang telah menyambut para peserta dengan sepenuh hati.

“Saya berterima kasih kepada panitia dan teman-teman Tapalkuda, terkhusus DPD Hidayatullah Situbondo, yang telah menyambut kami dengan sepenuh hati. Ini sangat kami rasakan dan membuat kami merasa diterima dengan sangat baik,” tambahnya.

Amun Rowi juga memberikan apresiasi atas keramahtamahan tuan rumah yang terlihat jelas dalam setiap pelayanan yang diberikan. “Saya melihat teman-teman tuan rumah sangat senang dan bertanggung jawab dalam menyambut tamu-tamunya, mereka menganggap kami sahabat dengan menyambut sepenuh hati,” ungkap Amun.

Rakerwil kali ini dipilih untuk diselenggarakan di Situbondo bukan tanpa alasan. Amun Rowi menjelaskan bahwa kampus Hidayatullah Situbondo menjadi pilihan karena merupakan kampus yang paling bersih dan rapi di Jawa Timur.

“Kenapa Rakerwil ini dilakukan di Situbondo? Karena kampus ini adalah kampus Hidayatullah di Jawa Timur yang paling bersih dan rapi. Mudah-mudahan ini bisa ditangkap oleh teman-teman dan bisa dibawa pulang untuk diterapkan di kampus masing-masing,” harap Amun.

Penutupan Rakerwil V ini diharapkan dapat semakin mempererat kolaborasi antar pengurus dan anggota Hidayatullah di seluruh Jawa Timur serta memberikan inspirasi dan motivasi untuk lebih maju dalam membangun umat, khususnya dalam pendidikan dan pengelolaan organisasi.