Beranda blog Halaman 125

Khitan Berkah Nusantara Membawa Kebahagiaan di Tengah Liburan Sekolah

0

PURWOREJO (Hidayatullah.or.id) — Keceriaan menyelimuti Dusun Demangan, Kelurahan Banyu Urip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada Selasa, 22 Jumadil Akhir tahun 1446 (24/12/2024).

Sebanyak 45 anak dari keluarga kurang mampu, berusia 7 hingga 12 tahun, mengikuti program Khitan Berkah Nusantara yang diinisiasi oleh Unit Layanan Zakat (ULZ) Kebumen, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Program ini tidak hanya memberikan layanan khitan secara gratis, tetapi juga menjadi solusi bagi keluarga yang mengalami kesulitan finansial, terutama di tengah masa liburan sekolah.

Koordinator BMH ULZ Kebumen, Ismoyo, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk meringankan beban orang tua yang anak-anaknya sudah siap dikhitan namun terkendala biaya.

“Program ini kami laksanakan untuk membantu orang tua yang memiliki keterbatasan dana, tetapi anaknya sudah saatnya dikhitan,” ungkap Ismoyo.

Bagi keluarga dhuafa, biaya khitan yang tidak murah sering menjadi beban besar. Program tahunan yang digagas BMH ini menjadi solusi yang sangat dinantikan, memberikan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan.

Camat Kabupaten Purworejo, Galuh Bakti Pertiwi, S.STP, M.M, melalui Sekretaris Camat, memberi apresiasi tinggi kepada BMH atas terselenggaranya program yang sangat bermanfaat ini.

Galuh menekankan bahwa program ini tidak hanya membantu secara finansial, tetapi juga menyasar kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan, terutama saat liburan sekolah.

Salah satu peserta program, Yusuf, ayah dari tiga anak yang mengikuti khitan massal, mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya.

“Kalau harus khitan tiga anak sekaligus tanpa program ini, tentu berat bagi kami. Alhamdulillah, ini sangat membantu,” tutur Yusuf dengan penuh haru.

Ia juga mendoakan para donatur, panitia, dan seluruh pihak yang terlibat agar mendapatkan keberkahan, kelancaran rezeki, dan pahala di dunia serta akhirat.

Kebahagiaan Peserta

Kebahagiaan anak-anak peserta kian terasa lengkap dengan bingkisan berupa sarung, baju, peci, dan uang saku yang diberikan setelah proses khitan selesai. Senyum ceria dan tawa mereka menjadi bukti nyata bahwa BMH tidak hanya menjalankan amanah zakat, tetapi juga menyebarkan kebahagiaan.

Dalam menjalankan program ini, BMH bekerja sama dengan dr. H. Arif dari Happy Sunat Purworejo, seorang dokter ahli khitan yang telah berpengalaman. Kolaborasi ini memastikan proses khitan dilakukan secara profesional dan aman, memberikan rasa tenang bagi orang tua peserta.

Program Khitan Berkah Nusantara merupakan salah satu bentuk nyata komitmen BMH dalam memberikan manfaat bagi masyarakat. Tidak hanya sekadar menyalurkan zakat, BMH juga hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat melalui program-program yang inovatif dan tepat sasaran.

Melalui program ini, Ismoyo menambahkan, BMH kembali menegaskan bahwa kebahagiaan dan harapan adalah hak semua orang, termasuk mereka yang berada dalam keterbatasan.

“Dengan semangat berbagi dan kolaborasi yang kuat, program ini diharapkan terus berlanjut dan memberikan keberkahan hingga pelosok negeri dan meluaskan manfaat yang lebih luas di masa mendatang,” tandas dia.*/Herim

[KHUTBAH JUM’AT] Pergantian Tahun dan Muhasabah untuk Hari Esok

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji bagi Allah, Rabb yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, yang mencurahkan kasih sayang-Nya tanpa batas kepada hamba-hamba-Nya.

Dia yang membentangkan jalan taubat bagi hati yang terluka dan jiwa yang penuh dosa. Kepada-Nya kita memohon ampun, dan hanya kepada-Nya kita menyerahkan segala keluh dan kesah.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan sepanjang masa, yang membawa cahaya keimanan menerangi kegelapan, yang mengajarkan kita untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah.

Hari ini, mari kita merenung sejenak, mengajak hati untuk berbicara, mengupas lembaran-lembaran kehidupan kita. Betapa sering kaki ini melangkah jauh dari jalan kebenaran.

Betapa banyak dosa kita yang terlupa, tersimpan di sudut-sudut gelap jiwa. Namun Allah, dengan rahmat-Nya yang luas, membuka pintu muhasabah, mengizinkan kita untuk menimbang dan memperbaiki diri.

Muhasabah adalah cahaya yang menyingkap kegelapan dosa, pengingat bahwa setiap langkah keliru masih memiliki jalan kembali. Mari kita hiasi hidup ini dengan tangis keinsafan, dengan doa yang tulus dari hati yang rindu ampunan.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Ketika waktu melaju tanpa henti, tak terasa kita berdiri di ambang tahun baru 2025. Hari-hari berlalu, meninggalkan jejak amal dan dosa, membawa kita semakin dekat kepada akhir perjalanan yang sejati.

Tahun 2024 hampir berakhir, dan inilah saatnya untuk merenung, bermuhasabah, sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Allah SWT memanggil kita, orang-orang beriman, untuk bertakwa dan merenungi perjalanan hidup. Apa yang telah kita lakukan? Apa yang telah kita siapkan untuk hari esok? Hari esok bukan sekadar bergantinya malam kepada pagi, tetapi akhirat yang kekal, tempat setiap amal dipertanggungjawabkan.

Amirul Mu’minin Umar bin Khattab RA mengingatkan kita:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ

“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang, dan bersiaplah untuk hari besar ketika amal diperlihatkan” (HR. At Tirmidzi)

Muhasabah adalah panggilan untuk mengubah arah hidup. Sebuah refleksi untuk memperbaharui niat dan orientasi kita sebagai ‘abdullah (hamba Allah) dan khalifatullah (pemimpin di bumi). Dunia ini bukan tempat tinggal, melainkan tempat persinggahan. Kita semua adalah pengembara, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ [وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُوْرِ]

“Jadilah di dunia ini layaknya orang asing atau pengembara [dan persiapkan dirimu termasuk orang yang akan menjadi penghuni kubur]” (HR. Al-Bukhari).

Dengan muhasabah, kita menyadari bahwa hidup adalah ladang tempat menanam amal. Apa yang kita tuai di akhirat adalah hasil dari apa yang kita tanam di dunia. Allah SWT bertanya dalam firman-Nya:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُون

“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian dengan sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menggambarkan setidaknya lima bentuk penyesalan manusia di akhirat dengan ungkapan penuh luka. Mereka berkata dengan kalimat “layta” yang melambangkan angan-angan tak mungkin tercapai.

Pertama, menyesal karena tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِى ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَٰلَيْتَنَآ أَطَعْنَا ٱللَّهَ وَأَطَعْنَا ٱلرَّسُولَا۠

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya andaikan kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.'” (QS. Al-Ahzab: 66)

Kedua, menyesal karena menerima catatan amal yang buruk:

وَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ بِشِمَالِهِۦ فَيَقُولُ يَٰلَيْتَنِى لَمْ أُوتَ كِتَٰبِيَهْ

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, ‘Duhai, alangkah baiknya andaikan tidak diberikan kepadaku kitabku (ini)” (QS. Al-Haqqah: 25)

يَٰلَيْتَهَا كَانَتِ ٱلْقَاضِيَةَ

“Duhai, andaikan kematian itu menyelesaikan segala sesuatu” (QS. Al-Haqqah: 27).

Ketiga, menyesal, berharap menjadi tanah:

إِنَّآ أَنذَرْنَٰكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنظُرُ ٱلْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ ٱلْكَافِرُ يَٰلَيْتَنِى كُنتُ تُرَٰبًۢا

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (wahai orang kafir) tentang siksa yang dekat, pada hari manusia melihat segala hal yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya andaikan dahulu aku hanyalah tanah.'” (QS. An-Naba: 40).

Keempat, menyesal karena salah memilih teman:

يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

“Kecelakaan besarlah bagiku; andaikan aku (dahulu) tidak menjadikan si dia itu teman akrab-(ku)” (QS. Al-Furqan: 28).

Kelima, menyesal karena salah memilih pemimpin:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِى ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَٰلَيْتَنَآ أَطَعْنَا ٱللَّهَ وَأَطَعْنَا ٱلرَّسُولَا۠. وَقَالُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّآ أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِيلَا۠

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul’. Dan mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).'” (QS. Al-Ahzab: 66-67).

Penyesalan ini tak berguna, karena waktu tak bisa diputar kembali. Tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Namun, hari ini, kita masih memiliki waktu. Mari berbenah sebelum terlambat.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Di penghujung tahun ini, mari kita merenung. Apa yang telah kita lakukan selama perjalanan selama setahun ini? Sudahkah kita memanfaatkan waktu, kesehatan, dan kesempatan hidup yang Allah berikan?

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jika engkau berada pada waktu sore maka jangan menunggu hingga pagi, dan jika engkau berada pada waktu pagi maka jangan menunggu hingga sore. Manfaatkan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu. Manfaatkan masa hidupmu sebelum datang kematianmu” (HR. Al-Bukhari).

Pergiliran waktu bukan sekadar pergantian angka, tetapi momen untuk memperbaharui tekad. Mari kita teguhkan niat, tanamkan kebaikan, dan jadikan setiap langkah kita berarti. Ingatlah, dunia ini tempat menanam, akhirat tempat menuai.

Allah SWT Maha Penyayang, selalu membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang bertaubat. Sebelum waktu habis, mari kita gunakan kesempatan ini untuk kembali kepada-Nya.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang selalu bermuhasabah, memperbaiki diri, dan meraih ridha-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Simpul Sinergi Lahirkan Generasi Masa Depan dengan Rumah Qur’an di Pulau Maratua

0

BERAU (Hidayatullah.or.id) — Harapan baru bagi lahirnya generasi Qur’ani masa depan di pulau terluar Indonesia kini terwujud. Rumah Qur’an (RQ) Al-Bahri, satu-satunya di Pulau Maratua, resmi berdiri di Kampung Bohe Silian, Kecamatan Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Ahad, 21 Jumadil Akhir 1446 (22/12/2024).

Diinisiasi bersama oleh Hidayatullah Berau bersama Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kalimantan Timur, RQ Al-Bahri didirikan untuk memfasilitasi anak-anak di pedalaman pulau Maratua dalam belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an.

Kehadiran RQ Al-Bahri ini menjadi bukti nyata bahwa kebaikan yang sinergis mampu menembus batas geografis, menerangi wilayah terpencil dengan cahaya Al-Qur’an.

Meskipun berada di pelosok, mimpi untuk melahirkan hafidz dan hafidzah tetap menyala. Lebih dari itu, RQ Al-Bahri juga menjadi sarana dakwah, memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memperdalam ilmu agama dan Al-Qur’an.

“Alhamdulillah, satu-satunya Rumah Quran di Pulau Terluar Maratua telah diresmikan. Kami ucapkan terima kasih kepada para donatur BMH dan seluruh mitra pendukung,” ungkap Sabliansyah, Koordinator BMH Gerai Berau.

Berdirinya RQ Al-Bahri tak lepas dari dukungan simpul sinergi berbagai pihak, termasuk aparat Pemerintah Bohe Silian, PAMA, RQ Hidayatullah, Solo Swa, PT Ice, Green Nirvana Resort, Masaya Cottage, dan IWSS Kabupaten Berau.

Rasa syukur dan harapan diungkapkan oleh Sekcam Pulau Maratua, Sahri. “Suatu kesyukuran bagi masyarakat Kampung Bohe Silian karena kini memiliki Rumah Qur’an,” katanya.

Pihaknya berharap ke depannya bukan hanya di kampung ini saja, tapi juga berlanjut di kampung sekitarnya, seperti Kampung Payung-payung dan Teluk Harapan.

“Semoga mereka turut mendapatkan fasilitas rumah quran dari BMH agar bisa mencetak generasi Qur’ani yang berakhlak mulia dan berilmu,” ungkapnya.

Sabliansyah mengimbuhkan, kehadiran RQ Al-Bahri di Pulau Maratua ini meneguhkan inisiatif bersama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui syiar Islam dan mencetak generasi Qur’ani hingga ke pelosok negeri.

“Dengan dukungan zakat, infak, dan sedekah, BMH terus berupaya menjangkau mereka yang membutuhkan, memberikan akses pendidikan agama, dan menebar cahaya Islam di seluruh penjuru Indonesia,” tutup Sabliansyah.*/Herim

Paradigma Ilmiah dan Etos Akademik Membumikan Pemikiran Menuju Gerakan

0

SUBHANALLAH ada begitu banyak tulisan bagus dalam rangka menyambut Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan. Baru kemarin tulisan Ustadz Irfan Yahya disuguhkan dengan menarik. Hari-hari ini ada suguhan lain. Ada tulisan Ustadz Dr. Nasrullah Sappa, begitu pula tulisan ustadz dengan nama pena Cakdul.

Tulisan para ustadz tersebut berpijak pada paradigma khas masing-masing. Ustadz Irfan Yahya lebih berpijak pada nilai-nilai historitas dan kerangka teori sosiologis, Ustadz Dr. Nasrullah Sappa pada nilai-nilai historitas dengan sedikit komparasi dengan teoritisasi barat, sementara Cakdul pada dalil-dalil naqli. Betapa sesungguhnya ketiga pendekatan ini bisa saling melengkapi dan menguatkan.

Persoalan yang kemudian sering dihadapi di lapangan praktis adalah implementasi. Bagaimana pemikiran-pemikiran dari para pemikir dapat diekstrasi menjadi langkah-langkah implementasi praktis, kurang lebih demikian pertanyaannya. Tulisan ini berusaha memberikan sedikit masukan.

Jika memotret keilmuan Islam, satu sistematika ilmiah dapat ditemukan. Paling tidak dari pembukaan kitab fikih berjudul Al-Yaqut An-Nafis, ada sepuluh poin yang perlu dipenuhi agar sebuah cabang ilmu menjadi kokoh.

Kesepuluhnya sebagai berikut. Definisi, Topik, Manfaat, Pokok persoalan, Nama cabang ilmu, Sumber cabang ilmu, Hukum syara’ terhadap cabang ilmu, Penisbatan cabang ilmu kepada ilmu-ilmu lain, Keutamaan cabang ilmu, dan Pelopor/tokoh di cabang ilmu.

Dari kesepuluh poin ini dapat dipahami mengapa sebagian kitab karya ulama bisa berjilid-jilid. Rasanya sulit mencari orang yang bisa membacanya secara utuh, dari muqaddimah sampai khatimah. Sebagian besar pembaca membaca di bagian yang dibutuhkan saja.

Oleh karena itu lahirlah mukhtashar, kitab ringkasan. Ini ditujukan kepada kaum muslimin kebanyakan. Istilahnya awam atau muqallid.

Di sisi lain sebuah kitab kadang mengalami elaborasi. Wujudnya kitab syarh (penjelasan). Ada banyak kitab dari berbagai cabang ilmu yang di-syarh.

Kepentingan kitab syarh adalah menjelaskan pengertian-pengertian yang dikandung oleh kitab induk. Cakupannya pada diksi, juga pada isi. Redaksinya diulas, kontennya dibahas. Luar biasa, masya Allah.

Sementara itu, jika memotret keilmuan barat, satu sistematika ilmiah dapat ditemukan. Bahwa sebuah teori harus menjalani tahap-tahap tertentu sebelum diimplementasi. Sehingga kemudian ada kekokohan yang baik atas teori tersebut. Usianya relatif panjang.

Tahapan-tahapan tersebut ada bukunya masing-masing. Sehingga pembaca bisa membaca sesuai kepentingannya. Disilakan juga seorang pembaca untuk membaca keseluruhannya.

Tahapan-tahapan yang dimaksud sebagai berikut. Filosofi, Teori dan eksperimen, Implementasi, dan Evaluasi

Akhir-akhir ini ditemukan penyederhanaan. Buku filosofi, teori, dan eksperimen cenderung disatukan. Kemungkinan besar karena kepentingan akademik. Agar para pengkaji bisa memiliki satu sumber untuk melakukan dua kajian sekaligus.

Nah, dua arus ilmiah tersebut memberikan gambaran betapa etos ilmiah diperlukan. Selain tekun, minimal dua karakteristik lain hadir, yakni komprehensivitas dan akuntabilitas.

Komprehensivitas berarti keutuhan penjelasan. Sang ilmuwan mampu menjelaskan secara utuh koneksi di internal cabang ilmu ataupun antarcabang ilmu. Sementara akuntabilitas mengarah kepada pertanggungjawaban yang bisa diterima banyak pihak. Tidak ada plagiasi, juga tidak ada kedustaan.

Etos ilmiah ini juga perlu hadir dalam ekstraksi pemikiran menjadi kebijakan, program, arah gerak, atau apapun istilahnya. Sehingga implementasi lebih mudah dilakukan, begitu pula pengembangannya. Problemnya tidak mudah mencari sosok sedemikian tekun, komprehensif, dan akuntabel.

Di sisi lain budaya instan menghambat lahirnya sosok ini. Runtutan bicara yang dimulai dari teoritisasi dianggap menggurui. Lingkungan lebih ingin langsung praktik, ada format administratifnya. Istilahnya sat set.

Padahal begitu banyak program dan pendekatan gagal dilaksanakan. Problemnya itu tadi, ketidaksabaran dalam mengekstraksi teori menuju implementasi. Lebih parah, sosok tekun nan akademis dihabisi karakternya. Dianggap tidak kompeten, hanya bisa bicara.

Inilah lingkaran setan yang dihadapi banyak komunitas semisal organisasi. Jika ini tidak segera disadari, kemungkinan besar nasib sebagai pengekor akan menimpa.

Nahasnya, jarak antara ekor dengan kepala semakin hari semakin jauh. Kebingungan semakin menjadi. Seperti semut hitam di malam hari, di tengah laut dengan ombak tinggi dan hujan lebat. Kegelapan di atas kegelapan. Na’udzubillah. Wallah a’lam.[]

*) Fu’ad Fahrudin, penulis alumni Leadership Training Hidayatullah Institute Batch 10

Rakerwil Jawa Barat Didorong Optimalkan Potensi Daerah dan Pengembangan Jaringan

0

GARUT (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat (Jabar) menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) ke-V Tahun 2025 yang berlangsung di Al Hambra Granada Internasional Resort, Kabupaten Garut,yang dibuka pada Senin, 21 Jumadil Akhir 1446 (23/12/2024).

Rakerwil dihadiri oleh Ketua Departemen Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Samsudin, MM, sebagai pendamping, Dewan Pengurus Wilayah (DPW), Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Dewan Pengurus Daerah (DPD), unsur Organisasi Pendukung (Orpen), amal usaha dan badan usaha.

Kegiatan digelar intensif selama 2 hari yang mengusung tema “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik” ini juga dihadiri pula tokoh tokoh dan pengusaha Kabupaten Garut, seperti H. Fadil Suharto, H. Iwan, dan Aan Hudri, dan lainnya.

Rapat Kerja Wilayah ke-V Tahun 2024 Hidayatullah Jawa Barat ini menjadi momen penting bagi organisasi untuk merefleksikan perjalanan selama periode ini. Samsudin dalam sambutannya, menegaskan pentingnya konsolidasi dalam menghadapi Musyawarah Nasional (Munas) mendatang.

Tema yang diusung pada Rakerwil kali ini, terang dia, setarikan dengan urgensi memperkuat struktur dan strategi organisasi, sebagaimana termaktub dalam Surah al-Insyirah [94] ayat 7: “Maka apabila engkau telah selesai (dari satu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).”

Sebagai organisasi yang memiliki visi besar, jelas Samsudin, Hidayatullah dituntut untuk tidak hanya menyelesaikan program secara formalitas, tetapi juga memastikan keberlanjutannya melalui evaluasi menyeluruh.

“Evaluasi ini melibatkan identifikasi kekurangan, penguatan kelebihan, serta penyusunan solusi yang strategis. Dengan demikian, setiap tahapan kerja menjadi batu loncatan menuju capaian yang lebih besar,” katanya.

Samsudin menegaskan bahwa program kerja di tingkat wilayah harus selaras dengan hasil keputusan rapat tingkat pusat dan rekomendasi Rakernas. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi tidak dapat berjalan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi yang terukur antara berbagai tingkatan.

“Disusun sesuai dengan kemampuan dan rekomendasi Rakernas,” ujarnya, seraya menegaskan pentingnya keselarasan arah dalam menjalankan visi kolektif.

Salah satu poin penting yang diangkat adalah potensi Jawa Barat sebagai wilayah dengan populasi terbesar di Indonesia, yaitu hampir 50 juta jiwa. Namun, Samsudin mencatat bahwa masih ada kabupaten/kota yang belum terisi oleh Hidayatullah.

Hal ini, lanjut Samsudin, menunjukkan adanya peluang besar sekaligus tantangan yang harus dihadapi organisasi. Untuk itu, diperlukan optimalisasi potensi daerah melalui peningkatan kegiatan silaturahim, standarisasi halaqah, dan keterlibatan aktif pemuda serta tokoh masyarakat.

“Penduduk Jawa Barat itu terbesar di Indonesia, hampir 50 juta jiwa. Wilayahnya luas, masih ada kabupaten kota yang belum terisi Hidayatullah,” ungkapnya.

Menurut Samsudin, pendekatan silaturahim dan standarisasi halaqah menjadi elemen kunci dalam memperkuat struktur organisasi di daerah. Halaqah yang terstandarisasi tidak hanya berfungsi sebagai wadah pembinaan, tetapi juga sebagai sarana konsolidasi yang efektif.

Di sisi lain, melibatkan pemuda, cendekiawan, dan tokoh masyarakat menciptakan ruang kolaborasi lintas generasi, yang pada akhirnya memperkuat daya saing organisasi di era modern.

Oleh karena itu, Samsudin berharap momentum Rakerwil ini harus dimanfaatkan dengan baik untuk memastikan kesinambungan program kerja dan mengembangkan potensi lokal secara maksimal.

Ia menegaskan, konsistensi dalam bekerja keras sebagaimana yang diamanatkan oleh Surah al-Insyirah menjadi pedoman moral yang relevan bagi setiap anggota organisasi.

“Dengan sinergi yang kuat, evaluasi yang matang, dan optimalisasi potensi daerah, Hidayatullah dapat menjawab tantangan zaman dan melangkah menuju Munas dengan visi yang lebih terang,” imbuhnya.

Sebagai penutup, Samsudin menekankan bahwa semangat kerja keras yang dilandasi keikhlasan dan orientasi pada keberlanjutan program harus menjadi nafas setiap aktivitas organisasi.

“Inilah yang akan memastikan bahwa Hidayatullah tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang menjadi organisasi yang memberikan manfaat nyata bagi umat dan bangsa,” tandasnya.*/Dadang Kusmayadi

Merawat Optimisme dan Kesungguhan Diiringi Pengharapan kepada Allah

0

SIANG itu, selepas menunaikan salat dzuhur, ponsel yang tersimpan di saku celana tiba-tiba berdering. Suara seorang teman dari ujung telepon terdengar akrab.

Teman saya ini, yang baru saja pindah ke Jakarta, memulai pembicaraan dengan keluhan dan kekhawatiran tentang kehidupan di ibu kota yang terkenal dengan biaya hidupnya yang tinggi.

Sejenak saya teringat perjalanannya. Selepas menyelesaikan pendidikan menengah di kampung halaman, dia melanjutkan studi di Makassar. Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, sebelum akhirnya meniti karir di Jakarta.

Kini, kabar bahagia tentang rencana pernikahannya dengan seorang dosen di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) disertai kegelisahan mengenai masa depan kehidupan rumah tangga di Jakarta.

Mendengar keluhannya, saya menyampaikan sebuah nasihat yang terinspirasi dari Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah: “Tuhan yang di Makassar itu juga Tuhan yang di Jakarta.”

Ungkapan Ustadz Abdullah Said ini sering betul diulas dalam banyak kesempatan sebagai sebuah pengingat mendalam tentang kebesaran Allah yang melampaui batas geografis. Firman Allah dalam Al-Qur’an mempertegas keyakinan ini:

وَلِلَّهِ ٱلْمَشْرِقُ وَٱلْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا۟ فَثَمَّ وَجْهُ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Surah Al-Baqarah ayat 115 ini mengingatkan bahwa Allah “hadir” di mana saja. Tidak ada ruang atau tempat yang dapat membatasi-Nya. Hal yang diperlukan dari seorang hamba adalah iman yang kokoh dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita, bahkan di tengah tantangan sebesar apa pun.

Hadirkan Ketenangan

Dalam menghadapi tantangan hidup, termasuk tingginya biaya hidup di Jakarta yang dicemaskan kawan tadi, ulama berpesan bahwa iman adalah obatnya. Keimanan kepada Allah menciptakan ketenangan batin yang memungkinkan seseorang untuk tidak larut dalam kecemasan. Sebagaimana firman Allah:

لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)

Ayat ini memberikan pemahaman yang sangat tegas bahwa rezeki adalah tanggung jawab Allah, bukan urusan manusia. Namun, ini bukan berarti manusia bisa berpangku tangan.

Justru, ayat ini mengajarkan bahwa dengan ketakwaan dan kesungguhan, seseorang akan mendapatkan keberkahan rezeki yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Selain iman, usaha maksimal adalah bentuk nyata dari keimanan dan syukur kepada Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bekerja keras mencari karunia-Nya di muka bumi:

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Lafaz Al Qur’an ayat kesepuluh dari surah Al Jumu’ah di atas ini menjadi pedoman bahwa setelah menyelesaikan kewajiban kepada Allah, manusia diperintahkan untuk menjemput karunia-Nya dengan usaha yang maksimal.

Fan tasyiruu fil ardh!

Hamparan bumi adalah tempat manusia untuk mencari rezeki dan meraih keberhasilan. Namun, kerja keras ini harus diiringi dengan zikir dan ingatan kepada Allah agar usaha tersebut menjadi berkah.

Pepatah Arab “Man jadda wajada” (Barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil) menjadi cerminan prinsip ini. Kesungguhan dan ketekunan dalam usaha, dengan tetap bersandar pada Allah, adalah kunci kebahagiaan. Dan, kebahagiaan itulah sejatinya kesuksesan.

Selalu Optimis

Tingginya biaya hidup di kota besar seperti Jakarta seringkali menimbulkan kekhawatiran. Namun, iman kepada Allah memberikan keyakinan bahwa setiap masalah memiliki solusi. Allah telah menjamin rezeki bagi setiap makhluk-Nya. Rasulullah SAW bersabda:

لَو أَنَّكُمْ تَوكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرزُقُ الطَّيرَ ، تَغدُو خِماصاً ، وتَروحُ بِطَاناً

“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pagi hari dalam keadaan lapar, lalu pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Hadis dengan sanad yang kuat dan perawi yang tsiqqah ini mengajarkan bahwa Allah tidak hanya memberikan janji, tetapi juga solusi. Burung, yang tidak memiliki gudang atau tempat penyimpanan, tetap mendapatkan rezeki setiap hari.

Maka, manusia sebagai makhluk yang diberikan akal dan kemampuan lebih, tentu memiliki peluang yang lebih besar jika mau berusaha.

Kesungguhan usaha diiringi keimanan kepada Allah menjadi kombinasi yang tak terkalahkan. Dalam Islam, kerja keras bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga sebentuk ibadah. Setiap langkah dalam mencari rezeki, jika diniatkan karena Allah, akan bernilai pahala.

Kuncinya terletak pada kesungguhan dan ketakwaan. Sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur’an:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2-3)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa membimbing kita untuk selalu menjadikan iman sebagai landasan, kerja keras sebagai jalan ikhtiar, dan doa sebagai penguat, niscaya Allah akan mencurahkan rahmat-Nya tanpa batas, Aaamiiin.[]

*) Adam Sukiman, penulis founder komunitas Emas Jakarta dan dan Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta

Menakar Masa Depan dan Regenerasi Terencana Berbasis Nilai

0

KATA “transisi” sering kali memicu ketegangan, terutama di kalangan generasi senior yang khawatir akan keberlanjutan estafet dakwah. Kekhawatiran ini wajar, terutama ketika melihat dinamika di mana kelompok muda mulai menerima amanah besar dalam organisasi.

Namun, seperti yang tercermin dalam kisah Nabi Ya’kub yang bertanya kepada anak-anaknya, “Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?” fokus kekhawatiran seharusnya bukan pada hal teknis, melainkan pada orientasi nilai dan tujuan.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah generasi penerus masih memiliki komitmen terhadap nilai dan prinsip-prinsip dasar yang telah menjadi pilar organisasi?

Menurut data dari penelitian oleh Harvard Business Review (2007), 70% organisasi yang gagal dalam transisi kepemimpinan disebabkan kurangnya persiapan regenerasi yang matang. Angka ini menunjukkan bahwa transisi bukan hanya tentang mengganti pemimpin lama dengan yang baru, tetapi juga tentang memastikan kesinambungan nilai, visi, dan tujuan organisasi.

Gejala ini juga sudah dipikirkan oleh orang-orang senior, seperti yang dijelaskan dalam buku Nilai Kepemimpinan AR Fachrudin karya Muhammad Ikhwan Ahada, yang menyodorkan beberapa kriteria tentang kapasitas yang wajib dimiliki kaum muda yang layak memimpin Muhammadiyah, yaitu menjaga maksud dan tujuan organisasi, memiliki kepribadian Muhammadiyah, menjaga keutuhan organisasi, mencintai ilmu dan amal, berani amar ma’ruf nahi munkar, serta suka berderma.

Kriteria dari AR Fachrudin ini menegaskan bahwa regenerasi bukan hanya tentang usia muda, tetapi juga kesiapan intelektual, spiritual, dan sosial. Dengan demikian, pertanyaan penting berikutnya bukanlah apakah generasi muda siap menerima amanah besar ini, melainkan apakah organisasi telah melakukan upaya yang cukup untuk menyiapkan mereka?

Kunci Sukses Regenerasi

Sejarah telah membuktikan bahwa regenerasi yang sukses selalu bergantung pada persiapan yang matang. Sayyidina Ali pernah berkata, “Jika kamu ingin melihat masa depan sebuah negara, lihatlah pemuda-pemudinya hari ini.”

Pesan Ali ini menjadi panduan strategis yang telah dipraktikkan sejak awal oleh Rasulullah SAW. Usamah bin Zaid, yang berusia 18 tahun, memimpin pasukan besar umat Islam yang beranggotakan tokoh-tokoh senior seperti Abu Bakar dan Umar.

Contoh lain adalah Al-Arqam bin Abil Arqam, yang pada usia 16 tahun telah menawarkan rumahnya sebagai markas dakwah Nabi Muhammad SAW.

Mempersiapkan generasi muda tidak bisa dilakukan secara spontan tapi hal ini amat mendasar untuk dilakukan. Karena, kita menyadari bahwa dengan program regenerasi formal, tingkat keberhasilan transisi kepemimpinan lebih tinggi dibandingkan jika tidak memiliki program serupa.

Persiapan adalah investasi yang sangat penting. Organisasi harus mulai memberikan ruang bagi pemuda untuk belajar, berproses, dan berkembang dalam berbagai aspek, seperti kepemimpinan, pengelolaan organisasi, dan penguatan spiritual.

Penting untuk memastikan bahwa calon pemimpin muda tidak hanya memahami visi dan misi organisasi, tetapi juga memiliki keterampilan teknis, seperti administrasi, komunikasi, dan pengelolaan sumber daya.

Lebih jauh, mereka juga harus dilatih untuk menghadapi dinamika sosial, menjaga harmoni dalam organisasi, dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan pemicu konflik.

Belajar dari Sejarah

Sejarah Islam mencatat banyak pemimpin muda yang berhasil membawa perubahan besar karena persiapan yang matang sejak dini. Salah satu contohnya adalah Abdurrahman Al-Nasir, cucu Abdurrahman Al-Dakhil.

Abdurrahman Al-Nasir dikenal sebagai salah satu pemimpin besar di Andalusia yang memadukan kepemimpinan visioner dengan komitmen pada nilai-nilai Islam.

Pada usia muda, ia telah menguasai seni kepemimpinan, administrasi, dan ilmu pengetahuan, serta terlatih dalam seni keprajuritan.

Kisah sosok Abdurrahman Al-Nasir ini memberikan pelajaran penting bahwa regenerasi yang sukses membutuhkan proses panjang yang dimulai sejak dini. Pemimpin muda yang sukses bukanlah hasil dari seleksi instan, tetapi dari pembinaan berkelanjutan yang melibatkan pendidikan, pengalaman, dan keteladanan.

Dalam kerangka organisasi modern, proses panjang ini juga mempertimbangkan aspek lainnya mengenai perlunya program pelatihan kepemimpinan, mentoring, dan pembekalan yang terintegrasi.

Regenerasi sering kali diiringi oleh kekhawatiran dan keraguan, terutama dari generasi senior yang mungkin merasa sulit melepas kontrol. Namun, seperti yang telah dikemukakan, fokus seharusnya bukan pada mempertanyakan kemampuan generasi muda, tetapi pada mempersiapkan mereka dengan baik.

Rasulullah SAW telah memberikan contoh nyata bagaimana membangun kapasitas pemuda dengan memberikan mereka ruang dan kepercayaan untuk berkembang.

Oleh karena itu, organisasi perlu mengubah paradigma dari “meragukan kemampuan” menjadi “membangun kapasitas”. Seperti halnya sistem operasi Android di HP kita yang terus diperbarui, organisasi juga harus terus memperbarui program pembinaan kader muda.

Langkah-langkah seperti pelatihan kepemimpinan berbasis nilai, pembekalan teknis, dan peningkatan keterampilan komunikasi adalah bagian dari upaya ini.

Regenerasi bukan tentang siapa yang memimpin, tetapi bagaimana memastikan bahwa pemimpin berikutnya adalah individu yang tepat, dengan visi dan kapasitas yang sesuai. Dengan persiapan yang matang, transisi akan menjadi proses yang mulus, dan organisasi dapat terus bergerak maju dengan keyakinan, bukan keraguan.

Singkatnya, regenerasi adalah keniscayaan dalam setiap organisasi, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada bagaimana persiapan dilakukan. Dan, perlu diingat, regenerasi bukanlah proses instan.

Oleh karena itu, sekali lagi, organisasi harus berinvestasi dalam program pembinaan yang komprehensif untuk memastikan bahwa generasi muda tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga memiliki komitmen terhadap nilai dan tujuan organisasi.

Sebagai generasi senior, tugas kita bukanlah mempertanyakan, tetapi membimbing, mendukung, dan mempercayakan estafet perjuangan kepada mereka yang telah kita siapkan.[]

*) Imam Nawawi, penulis Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Mujahid Dakwah Ismail Ali Meninggal Saat Mengunjungi Suku Taa Wana

0
Almarhum Ust Ismail Ali (baju merah) besama Ketua Posdai Ust Abdul Muin (Foto: istimewa/ hidayatullah.or.id)

MORAWALI UTARA (Hidayatullah.or.id) — Innalillahi wa innailaihi rojiun. Telah meninggal dunia mujahid dakwah, Ust Ismail Ali, saat mendampingi tim PosDai Hidayatullah mengunjungi suku pedalaman Taa Wana, Sulawesi Tengah, pada Senin, 21 Jumadil Akhir 1446/ 23 Desember 2024 sekitar pukul 15.00.

Ust Ismail Ali sebenarnya sudah lama ingin mengunjungi dan terlibat dalam dakwah di suku Taa Wana. Namun, kesempatan itu belum juga datang, hingga Kamis malam (19/12/2024), ketika tim PsDai berencana mengantarkan sejumlah bantuan ke suku Taa Wana, Ust Ismail Ali menawarkan diri untuk ikut.

“Kami sangat senang Ust Ismail bisa ikut karena memang sudah lama beliau ingin terlibat dalam dakwah di Suku Wana,” jelas Ketua PosDai Pusat, Abdul Muin yang memimpin langsung perjalanan ke Suku Wana.

Perjalanan dari Palu menuju Toili dan terus ke Desa Salubiro ditempuh dengan mobil. Namun, hujan deras turun dan terpaksa perjalanan dilanjutkan berjalan kaki setelah hujan reda.

Setelah berjalan selama empat jam, tim tiba di pinggir Sungai Bongka. Perkampungan Watu Marando, tempat Suku Wana yang dibina oleh PosDai Hidayatullah menetap, berada di seberang sungai. Perjalanan sedikit lagi sampai.

Ust Ismail sempat memberi semangat kepada tim dengan berteriak, “Kita ini lelah, tapi tetap semangat karena lillah.” Namun, beberapa saat kemudian, beliau roboh.

Tubuh beliau sempat dibawa ke anjungan terdekat. Namun, Allah Ta’ala berkehendak memangil beliau. Sang Mujahid Dakwah itu pergi menghadap Sang Khaliq dalam perjalanan dakwah yang indah.

Semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati beliau serta memasukkan beliau ke Surga Firdaus bersama para Nabi, syuhada, dan orang-orang saleh. Semoga keluarga yang ditinggalkan ikhlas menerima takdir ini. Aamiiin.*/Mahladi

Kejujuran dan Selalu Ada Jalan untuk Bangkit dari Kesalahan Masa Lalu

0

SETIAP orang tentu tidak ingin melakukan kesalahan, apalagi harus menanggung kesalahan yang diperbuat oleh orang lain. Meski demikian, dalam kenyataan hidup, kesalahan tidak dapat dihindari.

Kesalahan sering kali meninggalkan dampak psikologis yang mendalam, seperti rasa malu, tidak tenang, berkurangnya kepercayaan diri, hingga stres akibat tekanan mental yang berat. Namun, apakah berbuat salah adalah sesuatu yang sepenuhnya buruk dan harus dihindari?

Kesalahan adalah bagian dari kehidupan manusia. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَهُوَ ٱلَّذِى يَقْبَلُ ٱلتَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِۦ وَيَعْفُوا۟ عَنِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan Dia menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Asy-Syura: 25).

Ayat ini menegaskan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan untuk melakukan kesalahan, namun Allah Maha Penerima Taubat dan Pengampun.

Oleh karena itu, alih-alih memandang kesalahan sebagai sesuatu yang harus diratapi belaka, kita dapat memanfaatkannya sebagai peluang untuk belajar dan bertumbuh.

Dengan bekal ilmu dan pengalaman, kita dapat menganalisis dan merenungkan tindakan kita agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Mutiara Berharga

Bagi mereka yang berkomitmen untuk terus tumbuh, kesalahan tidak selalu berdampak negatif. Kesalahan dapat menjadi “mutiara berharga” yang membimbing kita menjadi pribadi yang lebih baik dengan dibarengi taubatan nasuha.

Dalam setiap kesalahan terdapat pelajaran yang dapat dijadikan acuan untuk perbaikan. Dengan evaluasi yang mendalam, kita dapat memahami kelemahan dan mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasinya.

Ilmuan Steven Brown pernah menyatakan begini, “Pada dasarnya ada dua tindakan dalam hidup; perbuatan dan dalih. Buatlah suatu keputusan seperti halnya yang Anda terima dari diri Anda sendiri”. Pandangan Brown ini menggambarkan pentingnya bertindak berdasarkan kejujuran, tanpa dalih atau alasan yang memperburuk situasi.

Mengakui kesalahan adalah langkah awal menuju perbaikan. Sebaliknya, bersembunyi di balik dalih hanya akan menggerus kepercayaan orang lain. Ketika seseorang dengan jujur mengakui kesalahan, mereka menunjukkan integritas dan tanggung jawab. Hal ini selaras dengan hadis Nabi Muhammad SAW:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Setiap anak Adam adalah pendosa, dan sebaik-baik pendosa adalah mereka yang bertaubat” (HR. Tirmidzi)

Mengakui kesalahan juga membuka pintu menuju produktivitas yang lebih tinggi. Dengan menghindari pola pikir defensif, seseorang dapat lebih fokus pada solusi daripada menyalahkan keadaan atau orang lain. Sebagai hasilnya, kita tidak hanya memperbaiki diri tetapi juga membangun kredibilitas yang kokoh di mata orang lain.

Kejujuran

Kejujuran adalah nilai utama yang mendasari integritas. Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan manusia untuk selalu jujur:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah, dan ucapkanlah perkataan yang benar” (QS. Al-Ahzab: 70).

Kejujuran membawa berbagai manfaat, baik secara individu maupun sosial. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang jujur cenderung memiliki hubungan yang lebih harmonis, tingkat stres yang lebih rendah, dan kesehatan mental yang lebih baik.

Sebaliknya, berbohong atau berkelit dapat menyebabkan perasaan bersalah, kecemasan, dan rusaknya kepercayaan dalam hubungan.

Manfaat kejujuran juga dirasakan dalam konteks profesional. Individu yang jujur dan transparan lebih dihargai dan dipercaya oleh rekan kerja maupun atasan. Mereka dianggap sebagai orang yang dapat diandalkan dan berintegritas, sehingga peluang karier mereka lebih besar.

Dalam pada itu, kesalahan adalah bagian tak terpisahkan dari proses belajar. Ketika kita menerima kesalahan sebagai bagian dari perjalanan menuju kesuksesan (baca: kebahagiaan), kita dapat membangun kebiasaan baik seperti introspeksi, evaluasi, dan perbaikan diri.

Penting kiranya untuk melakukan evaluasi diri saat kita sadar telah melakukan kesalahan. Setelah melakukan kesalahan, luangkan waktu untuk merenungkan apa yang salah dan bagaimana hal itu dapat diperbaiki.

Di waktu yang sama, kita perlu menepikan ego dan melapangkan hati membuka diri untuk belajar dari orang lain, terutama mengamati bagaimana orang lain menghadapi tantangan serupa dan kita belajar dari pengalaman mereka.

Komitmen untuk perubahan harus juga didukung dengan rencana konkret untuk menghindari kesalahan yang sama di masa depan.

Bahkan, tak perlu malu, jika kesalahan kita merugikan orang lain, untuk segera minta maaf dan berupaya memperbaiki kerugian tersebut.

Dalam Islam, kejujuran dan berbuat baik sangat dianjurkan. Allah berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan” (QS. An-Nahl: 90).

Selain itu, berbagai penelitian menunjukkan manfaat luar biasa dari berbuat baik. Studi di bidang psikologi sosial menemukan bahwa berbuat baik meningkatkan hormon kebahagiaan seperti serotonin dan dopamin. Tindakan ini juga mempromosikan kesehatan fisik dengan mengurangi tekanan darah dan meningkatkan sistem imun.

Kejujuran, yang menjadi inti dari berbuat baik, memiliki efek jangka panjang yang positif. Sebuah studi dari University of Notre Dame menemukan bahwa orang yang hidup dengan jujur cenderung lebih sehat secara fisik dan emosional.

Peneliti menyimpulkan bahwa kejujuran mengurangi stres akibat kebohongan dan meningkatkan kualitas hubungan interpersonal.

Kesalahan adalah bagian dari kehidupan, tetapi cara kita meresponsnya menentukan siapa kita sebenarnya. Dengan mengakui kesalahan, berkomitmen untuk belajar, dan berpegang pada nilai kejujuran, kita dapat mengubah kesalahan menjadi langkah titik balik untuk menjadi lebih baik lagi.

Dalam setiap perjalanan yang gelap tertutup awan dosa dan kesalahan yang berkelindan, selalu ada peluang untuk bangkit menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bijak, dan lebih bermanfaat bagi sesama.[]

*) Adam Sukiman, penulis adalah khatib dan guru ngaji. Saat ini diamanahi sebagai Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta

Keutamaan Shadaqah Shubuh, Bukti Keimanan dan Jalan Menuju Keberkahan Hidup

0

AMALAN pagi utama berikutnya setelah shalat shubuh berjamaah di masjid dan wirid pagi adalah shadaqah shubuh. Dua amalan yang mulia, shadaqahnya mulia dan waktu shubuhnya berkah.

Shadaqah adalah salah satu amalan yang dicintai oleh Allah karena berdimensi dua yaitu bernilai di sisi Allah dan bermanfaat bagi orang lain. Biasanya amal yang dicintai Allah, pelaksanaannya berat karena berhadapan dengan nafsu yang biasanya menghalanginya.

Menurut terminologi, shadaqah berasal dari kata “shidqoh” yang artinya “benar”. Menurut penjelasan para ulama, orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya.

Jadi, shadaqah adalah perwujudan pembenaran sekaligus bukti keimanan seseorang. Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadist:

الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ

“Sedekah itu adalah bukti (iman) yang nyata…” (HR. Muslim)

Shadaqah juga bisa diartikan sebagai pembelanjaan yang dilakukan di jalan Allah. Shadaqah juga dapat bermakna infak, zakat, dan kebaikan non-materi. seperti tersenyum, berbagi ilmu, membantu menyelesaikan masalah orang lain, bahkan shalat sunnah.

Sebenarnya shadaqah bisa kapan saja dan semuanya baik. Tapi ada waktu yang khusus disebutkan oleh Rasulullah yaitu shadaqah di waktu shubuh, artinya ada pengkhususan yang istimewa di waktu shubuh untuk bershadaqah.

Shadaqah shubuh termasuk amalan agung dan dahsyat pahala yang disiapkan oleh Allah.

Salah satu keistimewaan shadaqah di waktu shubuh karena ada malaikat yang ditugaskan secara khusus setiap shubuh. Sebagaimana Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)

Subhanallah, siapa yang tidak mau didoakan oleh malaikat, mahluk yang paling taat dengan perintah dan tentu dekat dengan Allah maka doanya tentu mustajab.

Semua orang ingin hajat dan keinginannya bisa terkabul maka shadaqah yang diiringi dengan doa bisa menjadi jalan untuk memudahkan urusannya.

Kedua, apa tidak takut didoakan malaikat dengan bagi orang yang tidak bershadaqah didoakan untuk mendapatkan musibah, malapetaka atau kebangkrutan. Bukankah semua orang mengharapkan keuntungan, keselamatan dan kesuksesan di dunia dan akherat.

Hadist di atas, bagi orang beriman tidak ada pilihan kecuali harus bershadaqah setiap shubuh untuk mendapatkan kebaikan dan menghindarkan dari kebangkrutan. Berusaha memprioritaskan secara konsisten untuk bershadaqah setiap shubuh.

Selama ini, mungkin kita sudah sering berdoa dan minta doa dari orang lain sebagai bentuk ikhtiar dan wujud kehambaan kepada Allah. Bahkan sebagian orang pergi ke sana ke mari, dari ustadz satu ke ustadz lain untuk minta doa. Ada juga yang menyimpang dengan meminta doa kepada kuburan orang-orang sholeh atau mereka sudah wafat.

Doa adalah kebutuhan bagi seorang hamba atas segala hajat atau menghindarkan dari segala bahaya yang mengancamnya, mengurai berbagai kesulitan hidup yang dihadapinya.

Doa bukan masalah diijabah atau tidaknya oleh Allah tapi tentang keyakinan bahwa menjadi hamba itu lemah dan Allah Maha Kuasa.

Urgensi doa, sehingga Allah memberikan kesempatan manusia didoakan oleh malaikat. Mahluk yang tidak pernah berdosa, tidak memiliki inters, tidak punya nafsu, sehingga doa memiliki kedudukan tersendiri di hadapan Allah.

Pagi hari dari mulai shubuh memulai dengan kebaikan, salah satunya dengan kebaikan shadaqah. Jika awal sudah baik, insya Allah sepanjang hari akan diberikan banyak kebaikan dan keberkahan.

Shadaqah di waktu shubuh artinya memulai hari dengan mindset dan orientasi beramal kebaikan untuk meringankan beban orang lain. Ada keyakinan terhadap janji Allah terhadap dua doa malaikat di setiap shubuh.

Alhamdulillah saat ini mulai marak gerakan shadaqah shubuh dari banyak kalangan, masjid, majelis taklim, sekolah, pesantren. Geliat ini karena meningkatnya dakwah dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya shadaqah shubuh.

Ada yang terang-terangan dengan memilih shubuh Jumat, ada berbagi makanan setiap shubuh kepada orang-orang tidak mampu di sepanjang jalan. Ada juga yang diam-diam dengan transfer setiap shubuh ke rekening masjid, pesantren, panti asuhan, atau lembaga amil zakat.

Dalam Al Quran, disebutkan bahwa manusia yang sudah wafat, mereka memohon agar hidup lagi supaya bisa bersedekah. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS. Al Munafiqun: 10)

Mengapa pada ayat tersebut disebutkan manusia ingin hidup lagi dan beramal shadaqah secara khusus, bukan amal-amal lainnya? Mengapa mereka tidak menyebut ingin hidup lagi untuk shalat, puasa, umroh, haji atau ibadah-ibadah yang lain? Ini pertanyaan-pertanyaan yang menarik untuk dikaji dan dipahami.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa shadaqah merupakan salah satu amal yang pahalanya mengalir tanpa terputus atau mengalir. Meskipun telah meninggal dunia, tapi pahala shadaqah akan terus mengalir pahalanya bagi orang yang telah bershadaqah.

Maka, sebelum Allah memanggil, semoga kita diberi kemampuan selalu bersegera untuk shadaqah terutama shadaqah secara konsisten setiap shubuh yang sangat jelas keutamaannya. Jika tidak memiliki cukup uang untuk bershadaqah, maka sebarkan tulisan, quote, cerita-cerita tentang keutamaan shadaqah.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah