SAMARINDA — Dalam upaya memajukan visi besar Hidayatullah sebagai organisasi yang memiliki mainstream gerakan pendidikan dan dakwah, Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda menggelar Rapat Kerja Yayasan (Rakeryas) 2024 di Hotel Harris, Samarinda, pada 6-7 Jumadil Akhir 1446 (7-8/12/2024).
Agenda ini merupakan tindak lanjut dari hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah 2024 yang digelar empat hari sebelumnya di Kota Bandung.
Rakeryas tersebut dirangkai dengan Seminar Kebangsaan bertemakan kolaborasi dan wawasan kebangsaan, bekerja sama dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kalimantan Timur.
Tema besar Rakernas 2024, yaitu Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Standarisasi dan Integrasi Sistemik, menjadi landasan strategis bagi jejaring Hidayatullah di seluruh Indonesia.
Di Samarinda, hal ini diterjemahkan melalui seminar yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk mengadirkan narasumber perwakilan Kesbangpol Eko Susanto, Ketua Fraksi PDIP DPRD Kaltim H. Samsun, dan Ust. Drs. H. Nursyamsa Hadis dari Badan Pembina Hidayatullah Samarinda.
Seminar ini dihadiri oleh para guru Yayasan Pesantren Hidayatullah Samarinda, yang mendapatkan materi tentang merawat kebhinekaan, menjaga kesetaraan sosial, dan menghadapi tantangan globalisasi tanpa kehilangan pijakan pada nilai-nilai ideologis bangsa, yaitu Pancasila dan UUD 1945.
Dalam paparannya, H. Samsun menekankan bahwa kolaborasi antara organisasi dan komunitas termasuk pesantren dan pemerintah adalah kemitraan strategis dalam menjaga keutuhan bangsa.
Menurut Samsun, dalam era kecerdasan buatan (AI) yang berkembang pesat, penyaringan informasi menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga moralitas generasi muda. Pesantren, sebagai entitas sosial yang kokoh, berperan strategis sebagai “swaka generasi” dalam menghadapi tantangan itu.
Melalui disiplin nilai-nilai luhur dan aturan yang membangun, pesantren menciptakan kesadaran mendalam bagi santri terhadap eksistensi mereka sebagai manusia yang berintegritas.
Dengan landasan agama dan pendidikan karakter, imbuh Samsun, pesantren menawarkan solusi konkret untuk menghadapi tantangan moral yang muncul akibat paparan informasi yang tidak terfilter.
“Pesantren adalah benteng moral di tengah arus deras informasi digital yang sering melupakan nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya.
Sementara itu, Nursyamsa Hadis menggarisbawahi bahwa keberagaman harus dilihat sebagai kekuatan, bukan ancaman. Ia menambahkan, pesantren bukan hanya institusi pendidikan, tetapi juga center of excellence dalam membangun karakter bangsa.
“Dengan pijakan nilai Islam yang washatiyah sebagaimana dalam jatidiri Hidayatullah, kita dapat memadukan wawasan nilai-nilai kejuangan Negara Republik Indonesia dan ajaran Islam secara harmonis,” katanya.
Sementara itu, Eko Susanto menguraikan bahwa di tengah derasnya arus informasi akibat perkembangan teknologi, peran lembaga pendidikan menjadi krusial dalam membentengi bangsa dari ancaman disintegrasi. Pesantren, sebagai salah satu lembaga pendidikan berbasis tradisi Islam, memiliki potensi besar untuk menjawab tantangan global ini.
Dengan mengedepankan pendekatan pendidikan berbasis nilai dan moral, jelas Eko, pesantren menjadi benteng dalam membentuk karakter generasi yang tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga memiliki integritas dan wawasan kebangsaan yang kuat. Model pendidikan seperti ini diharapkan mampu menjaga kohesi sosial, mempererat persatuan, dan memberikan kontribusi positif dalam mewujudkan cita-cita bangsa.
“Pendidikan yang berbasis nilai adalah pondasi kokoh untuk menjawab tantangan global dan menjaga identitas bangsa di tengah era digital,” tandasnya.*/Farid Ma’ruf
SUKABUMI (Hidayatullah.or.id) — Hujan deras selama dua hari berturut-turut telah menyebabkan banjir bandang di Sukabumi pada 4 Desember 2024. Salah satu wilayah terdampak terparah adalah Desa Curugluhur, Kecamatan Sagaranten, di mana ratusan rumah warga rusak, akses jalan terputus, dan jembatan utama hancur. Kondisi ini menyulitkan distribusi bantuan kepada warga yang membutuhkan.
Merespon bencana ini, SAR Hidayatullah, dengan dukungan penuh dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), segera bergerak menuju lokasi pada Sabtu, 7 Desember 2024.
Posko utama didirikan di Desa Curugluhur sebagai pusat koordinasi bantuan. Dalam kolaborasi dengan Mako Brimob, tim gabungan ini berfokus pada evakuasi warga, distribusi logistik, serta penanganan darurat lainnya.
“Kami harus menggunakan motor untuk menjangkau desa-desa terpencil karena jalan yang rusak parah,” ujar M. Fajar, Koordinator Lapangan tim tersebut, seperti dalam keterangannya diterima media ini, Senin, 7 Jumadil Akhir 1446 (9/12/2024).
Meskipun tantangan medan sangat berat, semangat para relawan tidak surut. Mereka terus berupaya menyalurkan bantuan kepada warga yang masih terisolasi.
Laznas BMH memainkan peran yang sangat strategis dalam situasi seperti ini. Tidak hanya sebagai penyalur bantuan logistik, lembaga ini juga menyediakan dukungan psikososial bagi penyintas bencana.
Dalam jangka panjang, BMH berkomitmen memberikan pemberdayaan ekonomi untuk membantu para korban bangkit dari keterpurukan. Keberhasilan ini dicapai berkat pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang profesional dan transparan, sehingga bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran dan memberikan dampak optimal.
“Semoga dengan bantuan ini, warga dapat segera bangkit dan memulihkan kehidupan mereka,” kata Fajar, seraya menambahkan kolaborasi ini merupakan cerminan dari pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menangani bencana alam.
Di tengah bencana yang melanda Sukabumi, kehadiran para relawan menjadi harapan bagi para korban. Kehadiran mereka memberikan pesan kuat bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada peluang untuk bangkit dan melanjutkan hidup. Upaya kolektif ini, Fajar menambahkan, tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga semangat untuk bertahan dalam menghadapi ujian kehidupan.*/Herim
SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Walikota Samarinda Dr H Andi Harun meluangkan waktu hadir sebagai narasumber dalam forum Ngopi (Ngobrolin Peradaban Islam) yang digelar disela Rapat Kerja Yayasan (Rakeryas) Pondok Pesantren Hidayatullah Samarinda di Terrace Cafe, Hotel Harris, Sabtu, 6 Jumadil Akhir 1446 (07/12/2024) malam.
Dalam obrolan serius namun santai tersebut Walikota Andi memaparkan ide kepemimpinannya di Kota Samarinda dengan tagline Samarinda Beradab.
Menurutnya, visi Samarinda Beradab merepresentasikan pendekatan pembangunan kota yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga menekankan pentingnya keberlanjutan serta kesejahteraan masyarakat secara holistik.
“Konsep ini mengintegrasikan berbagai dimensi pembangunan, mulai dari sosial, ekonomi, hingga lingkungan, dan tentu saja aspek spiritual, sebagai satu kesatuan yang saling mendukung,” katanya.
Dalam pada itu, Andi juga melihat isu perubahan iklim sebagai salah satu perhatian utama. Sebagai kota yang memiliki tantangan ekosistem khas, jelas Andi, Samarinda dituntut untuk mengadopsi strategi pembangunan yang ramah lingkungan dan adaptif terhadap dampak perubahan iklim yang bertujuan lestarikan lingkungan dan menjaga kualitas hidup generasi mendatang.
Selain itu, aspek geopolitik dan geoekonomi turut menjadi pertimbangan dalam visi ini. Sebagai bagian dari rantai ekonomi global, Samarinda diharapkan mampu mengoptimalkan posisinya melalui pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana serta penguatan konektivitas perdagangan.
Dengan landasan nilai beradab, dia menegaskan, Samarinda mengusung cita-cita sebagai kota yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga berkarakter, berwawasan keberlanjutan, dan peduli terhadap dinamika global maupun lokal.
“Isu perubahan iklim, geopolitik, dan geoekonomi, menjadi tantangan kedepan yang juga harus dipersiapkan oleh teman-teman di Hidayatullah,” ungkap walikota petahana yang kembali terpilih dengan raihan suara mayoritas ini.
Andi Harun menyebut acara ini selain mempererat silaturahmi juga mendiskusikan sinergi untuk membangun masa depan Kota Samarinda, terutama melalui peran strategis pondok pesantren.
Ia menegaskan bahwa pondok pesantren memiliki kontribusi signifikan dalam pembentukan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, berbudaya, dan berdaya saing. Hal ini, menurutnya, sejalan dengan misi pembangunan Kota Samarinda ke depan.
“Pesantren adalah salah satu kawah candradimuka lembaga pendidikan kita. Selain fokus pada pendidikan agama, pesantren juga harus memperkuat literasi dalam bidang bahasa serta produktivitas di sektor ekonomi dan sosial. Tantangan pembangunan ke depan melingkupi semua aspek tersebut,” ujar Andi Harun.
Andi Harun menambahkan, santri yang memiliki dasar agama yang kuat sekaligus cakap dalam urusan sosial dan ekonomi akan menjadi generasi yang diidamkan. Generasi tersebut tidak hanya ahli dalam ibadah, tetapi juga mampu bersaing secara global.
“Kita semua tentu berharap agar apa yang kita cita-citakan bersama, yaitu mencetak generasi unggul yang berbudaya dan berdaya saing, bisa terwujud melalui peran pesantren,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Andi Harun menyoroti pentingnya penguasaan bahasa bagi generasi muda, terutama para santri. Menurutnya, di era globalisasi, kemampuan bahasa asing seperti Inggris, Arab, dan bahkan Mandarin, sangat penting.
Andi Harun menjelaskan bahwa kemajuan Tiongkok sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar dunia tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, ia menganjurkan agar generasi muda Samarinda, termasuk para santri, dapat mempelajari bahasa Mandarin untuk memperluas wawasan dan memperkuat daya saing global.
Di kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Kampus Utama Hidayatullah Samarinda, KH Hizbullah Abdullah Said, menyampaikan visi pembangunan kota yang diinisiasi pemerintah relevan dengan kebutuhan zaman dan menjadi irisan strategi visi besar Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam yang luhur.
Pihaknya pun menyambut baik harapan pemerintah kota yang mendorong Hidayatullah untuk terus memainkan perannya dalam mencetak generasi unggul dan berpengaruh dengan memiliki basis iman, taqwa, dan memiliki kompetensi ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kunci menjadi pemenang di masa yang akan datang.
Forum Ngopi ini turut dihadiri Ust. Drs. Nursyamsa Hadis sekalu Badan Pembina Hidayatullah Samarinda yang juga Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Hadir pula unsur organisasi pendukung Pemuda Hidayatullah serta badan dan amal usaha Hidayatullah Samarinda.*/Farid Ma’ruf
SETELAH melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid, meluangkan waktu sejenak untuk duduk dan membaca Al-Qur’an adalah aktivitas yang mulia dan penuh keberkahan.
Meski sederhana, amalan ini sering kali diabaikan karena berbagai alasan seperti rasa kantuk, persiapan berangkat kerja, kewajiban membangunkan anak, atau membantu urusan rumah tangga. Semua hal tersebut tentu dapat dimaklumi, namun dapat me-manage beragam tantangan ini memberikan nilai tambah yang besar.
Membaca Al-Qur’an di pagi hari tidak hanya sebagai gerbang mendatangkan ketenangan jiwa, tetapi juga menjadi langkah awal yang baik untuk mengawali hari dengan penuh keberkahan dan semangat yang lebih terarah.
Keutamaan dan kemuliaan memang seringkali berbanding lurus dengan godaan dan beratnya dalam prosesnya. Karena mengatasi godaan dan menjalani proses adalah bagian dari nilai kemulian yang mengantar kepada kenikmatan.
Amalan yang mudah dan ringan biasanya cenderung dapat dilakukan oleh banyak orang, karena tidak membutuhkan usaha besar untuk melaksanakannya. Namun, keutamaan amalan semacam itu tidak sebanding dengan amalan yang memerlukan perjuangan lebih. Salah satu contohnya adalah membaca al-Qur’an di pagi hari.
Aktivitas ini menuntut ketekunan dan komitmen, terutama di tengah godaan rasa malas atau kesibukan pagi. Justru, inilah yang membuat amalan tersebut memiliki nilai lebih tinggi, karena menguji kesungguhan seseorang dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian, kesulitan yang dihadapi menjadi ladang pahala dan pembuktian ketulusan iman.
Mengawali hari dengan membaca Al-Qur’an merupakan langkah luar biasa untuk memulai kehidupan baru setiap pagi. Aktivitas ini tidak hanya mendatangkan ketenangan jiwa tetapi juga menjadi amalan yang mulia, karena dipersaksikan oleh para malaikat. Selain menyaksikan, para malaikat juga mencatat dan melaporkan kebaikan tersebut kepada Allah SWT.
Setiap huruf yang dibaca bernilai pahala yang akan menjadi tabungan amal di akhirat kelak. Membaca Al-Qur’an di awal hari adalah bentuk kesadaran akan pentingnya menjadikan waktu pagi sebagai momen terbaik untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Membaca Al-Qur’an di pagi hari merupakan bentuk kesungguhan pengutamaan kitab suci ini di atas berbagai bacaan atau aktivitas lain. Dalam dinamika kehidupan modern, banyak orang lebih sering teralihkan oleh scrolling media sosial atau berbincang tanpa tujuan yang jelas.
Pilihan kegiatan di pagi hari memang beragam, namun memulai hari dengan membaca Al-Qur’an menjadi praktik yang jarang dilakukan meski memiliki nilai keagungan yang tinggi, tenangkan batin, dan sarat inspirasi untuk menjalani hari.
Hikmah terbesar yang membuat hari penuh berkah adalah dengan memulainya dengan al-Qur’an. Jika serius dan konsisten membaca al-Qur’an setiap pagi maka keberkahan dengan sendirinya dinikmati. Maka penting memulai aktivitas di pagi hari dengan membaca al-Qur’an.
Membaca al-Qur’an yang terbaik adalah di waktu shubuh sebagaimana Allah firmankan dalam surat al -Isra’ ayat 78:
“Laksanakanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula shalat) subuh. Sungguh, shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” (QS al-Isra: 78)
Ketika ada terlintas dalam hati di pagi hari ingin membaca al-Qur’an maka segera ambil mushaf, karena itu nikmat yang luar biasa yang tidak diberikan kepada semua hamba.
Atau, ketika muncul rasa penasaran ingin tahu arti atau tafsir suatu ayat, maka segera buka terjemah atau tafsir al-Qur’an karena itu anugerah dari Allah yang tidak diberikan kepada semua orang. Atau tiba-tiba ada keinginan untuk menghafal al-Qur’an maka segera duduk tenang dan jangan ditunda karena itu pemberian Allah.
Jika terpaksa di pagi hari tidak sempat membuka mushaf atau membaca al-Qur’an maka harus berusaha di siang, sore, atau malam hari untuk meluangkan waktu. Tidak melewatkan waktu seharipun tanpa membaca Al-Qur’an.
Ahlul Qur’an itu orang yang mencintai dan senantiasa berinteraksi dengan al-Qur’an. Memprioritaskan al-Qur’an menjadi yang utama dalam kehidupan sehari-hari, terutama pagi hari sebelum melaksanakan aktivitas yang lain.
Mencintai al-Qur’an berarti mendapatkan salah satu tanda dicintai oleh Allah dan Rasulullah. Tidak banyak dan tidak mudah untuk bisa mencintai al-Qur’an dengan berusaha belajar dan interaksi bersama al-Qur’an.
Menyibukkan diri dengan al-Qur’an menjadikan waktunya penuh makna dan umurnya menjadi berkah. Tujuan membaca al-Qur’an bukan hanya membaca tapi untuk mendapatkan petunjuk dari Allah.
Banyak yang merasa kesibukan sehari-hari menghalangi mereka untuk membaca al-Qur’an. Ironisnya, di tengah kesibukan tersebut, waktu untuk berbincang santai, menonton, bermain gim, atau memperbarui media sosial tetap tersedia. Hal ini menandai adanya persepsi keliru bahwa membaca al-Qur’an membutuhkan waktu yang berlebihan.
Padahal, mengawali hari dengan membaca al-Qur’an tidak hanya mendatangkan ketenangan jiwa, tetapi juga menghadirkan keberkahan waktu sepanjang hari untuk memperoleh rahmat Allah SWT.
Tips Betah dan Istiqomah Membaca Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an adalah amalan mulia yang mendekatkan kita kepada Allah SWT, namun menjaga konsistensi dan kenyamanan dalam melakukannya sering kali menjadi tantangan.
Agar aktivitas ini tetap menjadi rutinitas yang penuh keberkahan dan terasa menyenangkan, diperlukan strategi khusus untuk membantu kita betah dan istiqomah membaca Al-Qur’an setiap hari. Beikut beberapa tips agar bisa istiqomah untuk senantiasa membaca al-Qur’an.
Pertama, ketika hendak membaca al-Qur’an, tidak langsung membacanya tapi berusahalah untuk sejenak memandangi mushaf al-Qur’an sambil berniat dengan berharap kepada Allah. “Yaa Allah saya membaca al-Qur’an ini berharap bisa melihat wajah-Mu ya Allah, meminta ridho-Mu dan syafaat al-Qur’an. Dari setiap huruf dan ayat al-Qur’an yang aku baca menjadi pahala, keberkahan hidup, buanglah semua penyakit hati, penyakit jasad yang membuat aku lemah.”
Kedua, membaca al-Qur’an dengan niat yang disengaja artinya sengaja meluangkan waktu untuk menjadwalkan atau memprioritaskannya. Membaca penuh keyakinan akan menjadi energi dan gairah yang luar biasa. Jika sudah dekat dengan al-Qur’an maka insya Allah terjaga dari keburukan.
Ketiga, mempertebal keyakinan al-Qur’an dengan senantiasa membaca hadist-hadist, kisah-kisah ahlul Qur’an, mendengar ceramah atau tausyiah tentang al-Qur’an. Sejarah dan hikmah dari para sahabat, tabiin, sholihin dalam interaksi bersama al-Qur’an menjadi spirit tersendiri. Banyak kisah-kisah para pecinta al-Qur’an yang luar biasa dan memberikan inspirasi dan motivasi bagi generasi akhir zaman.
Keempat, jika merasa belum lancar atau masih terbata-bata dalam membaca al-Qur’an maka harus menghilangkan rasa malu, gengsi atau takut untuk belajar al-Qur’an kepada orang yang berkompetan dalam memperbaiki al-Qur’an. Meskipun sudah umur tua, dewasa, berkedudukan atau terhormat kedudukannya.
Kelima, dengan mujahadah dan ikhtiar yang kuat, maka al-Qur’an terasa nikmat jika dibaca, dipahami, ditadabburi, berusaha dicintai dan diamalkan.[]
*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi,penulis Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dua hari setelah Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Daerah Khusus Jakarta (DKJ) mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah pada 31 November 2024 – 2 Desember 2024 di Bandung, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta (DKJ) langsung gerak cepat dengan melaksanakan rapat persiapan pelaksanaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil).
Sebagaimana himbauan Rakernas Hidayatullah di Bandung, bahwa pelaksanaan Rakerwil DPW Hidayatullah se Indonesia tenggang akhir waktu pelaksanaannya pada pertengahan Januari 2025.
DPW Hidayatullah DKJ melalui rapat persiapan Rakerwil (5/12/2024), menetapkan beberapa persiapan. Pertama, Rakerwil ke-V dijadwalkan pada tanggal 4-6 Januari 2025.
Ketua DPW Hidayatullah DKJ, Muhammad Isnaeni, mengatakan bahwa ada beberapa kegiatan dalam rangka menuju Rakerwil. Diantaranya, dia menyebutkan, pihaknya akan melaksanakan kegiatan Forum Harmonisasi dan Integrasi (FHI) dengan semua elemen Hidayatullah yang ada di DKJ.
Isnaini menyebutkan, helatan FHH akan melibatkan semua unsur tingkat wilayah yaitu Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah se-DKJ, Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Islamic Medical Servis (IMS), Lembaga Pemeriksa Halal Hidayatullah (LPH), Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), PosDai, Pemuda Hidayatullah, dan Muslimat Hidayatullah.
Selain itu, juga ada SAR Hidayatullah, Majalah Suara Hidayatullah (Sahid), Sahabat Anak Indonesia (SAI), Ponpes Tahfidz Global DKJ (PPTG), Rumah Qur’an Jayakarta (RQJ), dan lainnya.
“Dengan demikian kita punya harapan satu tahun terakhir masa kepengurusan kita di DPW Hidayatullah DKJ bisa memberi capain program yang membanggakan sebagai wujud pengabdian Hidayatullah kepada umat di daerah khusus Jakarta,” kata Isnaini, dalam keterangan tertulis diterima media ini, Ahad, 6 Jumadil Akhir 1446 (8/12/2024).
Dengan adanya kegiatan tersebut, lanjut dia, DPW Hidayatullah dalam penyusunan program kerja tahun 2025 mendapatkan berbagai saran dan masukan dari semua elemen Hidayatullah tingkat wilayah.
“Sekaligus merajut pesan bahwa program yang nanti dicanangkan oleh DPW Hidayatullah 2025 sejatinya adalah program bersama yang kita wajib saling berkolaborasi,” terang pria enerjik ini.
Dia mengatakan, Rakerwil Hidayatullah DKJ akan mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan”. Hal ini, terang dia, merupakan tema yang diharapkan menjadi modal dasar yang semakin membangun budaya kepada semua pengurus Hidayatullah dalam memajukan organisasi di masa yang akan datang.
Sementara untuk Kepanitiaan Rakerwil DPW Hidayatullah DKJ akan diemban oleh DPD Hidayatullah DKJ sebagai bagian dalam melakukan transformasi sekaligus transmisi kepada semua tingkatan di organisasi.
“Di pembukaan Rakerwil, diharapkan semua pengurus dan kader serta guru-guru Rumah Qur’an Hidayatullah bisa ikut serta sebagai bagian dari eksistensi Hidayatullah di DKJ. ini penting dilakukan agar semua bisa merasakan semarak dan semangat pergerakan organisasi Hidayatullah di DKJ,” imbuhnya.
Rakerwil V Hidayatullah DKJ juga secara internal akan dihadiri unsur Dewan Pengurus Pusat (DPP) sebagai pendamping, Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Majelis Murabbiyah Wilayah (MMW), Pengurus Harian Dewan Pengurus Daerah (DPD) se-DKJ, Pengurus Harian Organisasi Pendukung Hidayatullah (Pemuda Hidayatullah, Muslimat Hidayatullah), serta undangan amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah.
Tidak kalah pentingnya, kata Isnaini, panitia juga akan mengundang kehadiran berbagai narasumber eksternal baik dari kalangan pejabat daerah dan kalangan profesional dalam rangkaian acara Rakerwil ini sebagai bentuk keinginan Hidayatullah Jakarta untuk berinteraksi langsung serta berharap mendapatkan kontribusi moral dan pemikiran dari parah tokoh.
“Kami berharap mulai dari pejabat di tingkat provinsi, seperti DPR, pejabat pemerintah, serta lembaga keagamaan MUI, DMI, dan ormas Islam lainnya berkenan hadir untuk kita menyerap pemikiran dari parah tokoh yang hadir untuk kita menjalankan program satu tahu ke depan,” katanya, seraya menambahkan bahwa Rakerwil ini akan menjadi momentum yang sangat baik untuk semua pihak bisa bersilaturahim serta mengenal lebih dekat dengan Hidayatullah. (ybh/hidayatullah.or.id)
DR. MUHAMMAD Imarah, seorang pemikir Islam kontemporer, dalam karyanya, Perang Terminologi Islam versus Barat (Ma’rakatul Musthalahat bainal Gharbi wal Islami), menggarisbawahi perbedaan fundamental antara pemahaman Islam dan Barat tentang agama.
Di dunia Barat, agama sering kali diterjemahkan sebagai faith, yakni keyakinan pribadi yang bersifat individual dan terbatas pada aspek spiritualitas serta ritual keagamaan. Pemahaman ini telah memengaruhi bagaimana Islam didefinisikan dan diterima, bahkan di negara-negara Muslim sendiri.
Namun, Islam bukan sekadar faith. Islam adalah diin—sebuah sistem hidup yang mencakup semua dimensi termasuk spiritual, sosial, politik, dan ekonomi. Berbeda dari agama-agama dalam konsep Barat, Islam mencakup keseluruhan aspek kehidupan, menjadikannya tidak sekadar urusan pribadi, tetapi juga bagian integral dari tatanan sosial.
Sayangnya, reduksi Islam menjadi sekadar agama dalam pengertian Barat telah menjadi dasar berkembangnya stigma terhadap Islam, yang kini kita kenal sebagai Islamofobia.
Kolonialisasi Terminologi
Dalam situasi global, narasi Islamofobia tampak tidak hanya mencerminkan ketakutan terhadap Islam, tetapi juga upaya sistematis untuk membatasi peran Islam dalam kehidupan publik.
Ketika umat Islam mencoba menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan bernegara atau bermasyarakat, mereka sering dicap sebagai fundamentalis, radikalis, bahkan disebut teroris. Narasi ini diperkuat oleh banyak negara, termasuk negara-negara berpenduduk Muslim, yang mengadopsi bias Barat ini.
Pemahaman yang salah akibat kolonialisasi terminologi ini tidak hanya menghambat penerapan nilai-nilai Islam, tetapi juga menciptakan rasa takut kolektif terhadap komunitas Muslim.
Data terbaru dari Pew Research Center (2024) menunjukkan bahwa 73% warga di negara-negara Barat menganggap Islam sebagai ancaman potensial, sementara 68% mengaitkannya dengan ekstremisme. Angka ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Islamofobia di dunia saat ini.
Di tengah gelombang Islamofobia global, komunitas internasional mulai mengambil langkah konkret untuk menanggulangi fenomena ini.
Salah satu upaya signifikan adalah keputusan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengadopsi resolusi yang disponsori oleh 60 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada tahun 2022. Resolusi ini menetapkan tanggal 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia.
Tanggal ini dipilih untuk memperingati serangan masjid Christchurch di Selandia Baru pada 15 Maret 2019, yang menewaskan 51 Muslim. Peringatan ini tidak hanya bertujuan untuk mengenang korban, tetapi juga untuk menggalang solidaritas global dalam melawan segala bentuk diskriminasi terhadap umat Islam.
Resolusi tersebut menunjukkan bahwa Islamofobia tidak hanya masalah agama tertentu, tetapi pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal.
Ilmu dan Arah Baru
Dr. Imarah dengan tegas menyatakan bahwa pembenahan terminologi Islam dan penyelesaian masalah Islamofobia hanya dapat dilakukan melalui ilmu pengetahuan. Pendidikan yang tepat memainkan peran kunci dalam meluruskan pemahaman Islam sebagai diin.
Sayangnya, narasi Islamofobia sering kali diperkuat melalui media dan kurikulum pendidikan yang bias. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk memasukkan kajian Islam yang komprehensif dalam sistem pendidikan, baik di dunia Muslim maupun Barat.
Selain itu, penguatan pemahaman internal di kalangan Muslim sendiri sangat penting. Muslim perlu memahami bahwa Islam bukan sekadar agama dalam pengertian Barat, tetapi sebuah sistem yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Pemahaman ini dapat menjadi dasar bagi komunitas Muslim untuk lebih percaya diri dalam menghadapi berbagai stigma yang tidak berdasar.
Resolusi internasional untuk memerangi Islamofobia memberikan angin segar bagi upaya komunitas Muslim untuk membangun citra positif Islam di mata dunia. Namun, langkah ini harus diiringi dengan upaya internal untuk memperkuat pendidikan, meneguhkan nilai-nilai Islam, dan menggalang solidaritas lintas agama.
Seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an, umat Islam adalah khaira ummah (umat terbaik), yang ditugaskan untuk menegakkan keadilan dan menyampaikan kebenaran. Dengan memegang prinsip ini, umat Islam semakin meneguhkan eksistensinya untuk berperan aktif dalam menciptakan dunia yang lebih beradab dan adil, bebas dari prasangka dan diskriminasi.
Langkah ini menegaskan bahwa Islam bukan sekadar keyakinan pribadi, melainkan sistem universal yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan global. Sebuah diin yang tidak hanya memberikan makna, tetapi juga solusi bagi kehidupan umat manusia.[]
*) Adam Sukiman,penulis intern researcher di Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) dan Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta.
SINTANG (Hidayatullah.or.id) — Sejak 2011, Ustadz Arif Subagyo, seorang dai asal Jawa Tengah, mengabdikan hidupnya untuk berdakwah di pedalaman Kalimantan Barat. Ia menetap di Dusun Jemelak Hulu, Desa Kebong, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang—sebuah wilayah dengan penduduk Muslim sebagai minoritas.
Meskipun penuh tantangan, Ustadz Arif terus berjuang memperjuangkan nilai-nilai Islam dan pendidikan bagi masyarakat setempat.
Pada 2015, Ustadz Arif mendirikan Panti Asuhan Insan Jemelak, yang saat ini menjadi rumah bagi 41 santri, termasuk anak-anak yatim piatu dan mualaf. Tempat ini juga berfungsi sebagai pusat kegiatan dakwah dan pendidikan agama.
“Alhamdulillah, keberadaan kami sudah diterima warga sekitar yang non-Muslim,” kata Ustadz Arif dengan syukur, meskipun tantangan besar masih membayangi.
Perjalanan menuju panti asuhan yang terletak di wilayah terpencil ini tidak mudah. Dari Pontianak, dibutuhkan waktu 8–10 jam perjalanan darat, dengan kondisi jalan yang cukup berat. Situasi geografis yang sulit kerap diperparah oleh ancaman banjir.
“Air hujan turun ke daerah rendah karena adanya peninggian jalan utama,” jelas Ustadz Arif seperti dalam keterangan diterima media ini, Sabtu, 5 Jumadil Akhir 1446 (7/12/2024), menggambarkan salah satu tantangan infrastruktur di wilayah tersebut.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Ustadz Arif terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari panti asuhan. Ia bahkan bekerja sampingan sebagai loper koran untuk mencukupi pengeluaran harian.
Panti Asuhan Insan Jemelak yang dia jalankan menjadi wadah pendidikan harapan di tengah keterbatasan. Anak-anak yang diasuh di sana mendapatkan pendidikan agama dan bimbingan moral yang kuat, meskipun fasilitas masih sangat sederhana.
Dengan upaya keras, Ustadz Arif dan istrinya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak-anak, sambil terus memperkuat ikatan sosial dengan masyarakat sekitar yang sebagian besar non-Muslim.
Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kalimantan Barat turut mendukung dakwah Ustadz Arif. “Kami rutin memberikan bantuan sembako, Al-Qur’an, dan hewan kurban setiap tahunnya,” ujar Anton Trimaryanto, Kadiv Prodaya BMH Kalbar.
Anton mengatakan, keteladanan Ustadz Arif dalam pengabdiannya untuk pembinaan masyarakat menggambarkan bahwa dakwah memerlukan pendekatan yang inklusif dan adaptif.
Kesuksesan Arif dalam membangun harmoni dengan warga non-Muslim menjadi pelajaran penting bahwa toleransi adalah fondasi utama dalam membangun masyarakat multikultural.
Namun, perjalanan ini masih jauh dari kata selesai. Dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk memperbaiki fasilitas panti asuhan, mengatasi banjir yang sering terjadi, serta menyediakan akses pendidikan yang lebih baik bagi santri.
“Perjuangan beliau menjadi inspirasi untuk terus menghidupkan cahaya Islam di pelosok negeri, membawa harapan bagi generasi muda yang menjadi tumpuan masa depan,” kata Anton memungkasi.*/Herim
SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar pelatihan menulis berita yang bertujuan meningkatkan kemampuan amil dalam menyampaikan informasi terkait kegiatan dan penyaluran zakat, infak, serta sedekah. Kegiatan ini berlangsung di kantor BMH di Tusam Timur Raya, Pedalangan, Banyumanik, Semarang, pada Jum’at, 5 Jumadil Akhir 1446 (6/12/2024).
Pelatihan ini dipimpin oleh Imam Nawawi, Kepala Humas BMH Pusat. Dalam paparannya, Imam Nawawi menekankan bahwa kecepatan dan akurasi dalam menyampaikan berita merupakan kebutuhan mendesak di era digital.
“Masyarakat menginginkan informasi yang mudah diakses melalui internet,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya adaptasi lembaga filantropi terhadap ekspektasi publik yang kian menuntut transparansi.
Urgensi pelatihan ini terlihat jelas dalam konteks peran berita sebagai media membangun kepercayaan umat terhadap Laznas BMH. Imam Nawawi menjelaskan, berita adalah salah satu instrumen untuk membangun kepercayaan (trust). Hal ini merujuk pada fungsi berita sebagai sarana untuk menunjukkan akuntabilitas lembaga. Dengan transparansi yang disampaikan melalui laporan kegiatan, masyarakat dapat mengetahui bagaimana dana zakat, infak, dan sedekah dikelola dan disalurkan.
Pada sesi diskusi, seorang amil bernama Zulfan bertanya tentang cara efektif menarik minat donatur. Menjawab pertanyaan ini, Imam menegaskan bahwa kepercayaan adalah fondasi yang harus dibangun terlebih dahulu. Ia menyatakan bahwa penyampaian berita yang kredibel dan relevan akan menjadi katalis utama dalam menarik dan mempertahankan dukungan masyarakat.
Kegiatan pelatihan ini dirancang untuk mempersiapkan amil menjadi komunikator yang andal dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Tengah, Yusran Yauma, menegaskan bahwa pelatihan ini bertujuan agar para amil mampu menyampaikan informasi secara efektif dan membangun kepercayaan umat.
Menurut Yusran, penyajian informasi yang jelas dan terstruktur tidak hanya membantu dalam pelaporan kegiatan, tetapi juga memperkuat citra profesional lembaga.
Pelatihan ini kata dia adalah langkah awal yang signifikan untuk memastikan bahwa seluruh amil BMH memiliki keterampilan dasar jurnalistik.
“Langkah berikutnya adalah memastikan implementasi dari keterampilan ini melalui pengawasan berkala terhadap berita yang diterbitkan. Transparansi dan konsistensi informasi adalah faktor kunci dalam menjaga kepercayaan publik,” katanya.*/Herim
AMALAN pagi selanjutnya setelah shalat shubuh berjamaah adalah membaca al-Qur’an. Kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk umatnya sebagai petunjuk dan mukjizat hingga akhir zaman. Alangkah bahagia bagi orang-orang yang telah menikmati pagi hari dengan bacaan al-Qur’an.
Ada ulama Saudi menceritakan tentang anak muda mengadu kepada seorang syaikh, bahwa hidupnya selalu dirundung masalah. Tidak selesai-selesai masalah hidupnya, dari satu masalah selesai ke masalah yang lain, terus begitu.
Anak muda itu bertanya kepada syaikh, “Apa saran Syaikh untuk masalah yang saya hadapi?”
“Baca al-Qur’an, jangan lewati satu hari-pun kecuali membaca al-Qur’an,” jawab syaikh singkat dan jelas.
“Iya Syaikh, saya butuh bantuan Anda untuk menyelesaikan masalah saya, kok, hanya disuruh membaca al-Qur’an,” kata anak muda itu.
Dia menganggap membaca al-Qur’an tidak penting dan bukan prioritas.
“Coba ikuti saran saya, silahkan pulang membaca beberapa ayat saja Al-Qur’an dan rutinkan setiap hari. Setelah sepekan, silahkan hubungi saya lagi,” kata Syaikh, tidak mau panjang lebar memberi saran.
Akhirnya anak muda itu pulang, ia mencoba mengikuti saran syaikh tersebut. Dia membatin, tidak ada salahnya mencoba dan mempraktikan saran dari syaikh.
Satu pekan berikutnya, dia menghubungi syaikh.
“Saya merasa hati saya plong, perasaan saya tenang dan masalah menjadi kecil hanya dengan membaca al-Qur’an beberapa ayat setiap hari,” katanya dengan wajah ceria dan bahagia.
Pelajaran dari kisah di atas untuk tidak sekalipun meninggalkan dalam sehari untuk membaca al-Qur’an. Sebab, orang yang tidak membaca al-Qur’an akan lemah hatinya, rapuh jiwanya, tidak menentu perasaan dan pikirannya.
Keutamaan Membaca Al-Qur’an
Bacaan terbaik bagi orang beriman adalah al-Qur’an. Tidak ada satu pun buku di dunia ini, meski best seller internasional yang bisa mengalahkan best seller-nya al-Qur’an.
Ia dicetak ratusan jutaan kali, dihafalkan, dan dipelajari oleh jutaan orang, dibeli jutaan manusia, dibaca milyaran kali, disebarkan ke seluruh pelosok dunia, terjaga orisinalitasnya sepanjang masa.
Al-Qur’an bukan bacaan biasa, tujuan diturunkan untuk menjadi petunjuk manusia. Di dalamnya ada 30 juz, 114 surat, 6236 ayat itu kurikulum hidup orang berirman. Dari urusan mau tidur hingga tidur kembali, urusan dunia hingga akherat, semua ada dalam al-Qur’an.
Al-Qur’an atas ijin Allah di hari Kiamat akan memberikan syafaat bagi para pembacanya. Bagi orang yang mencintai atau suka tadarus, tilawah al-Qur’an. Ini belum menghafal, mentadabburi, dan mengamalkannya. Rasulullah memberikan kabar gembira tersebut dalam hadist:
عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ
“Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya” (HR. Muslim).
Membaca al-Qur’an juga dijanjikan pahala yang melimpah bagi setiap hurufnya, entah paham atau belum memahami maknanya. Sebagaimana Rasulullah sabdakan:
“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469).
Hanya amal membaca kitab al-Qur’an yang pahalanya melimpah setiap hurufnya. Maka rugi sekali bagi orang-orang yang melewatkan kesempatan untuk membaca al-Qur’an. Sebenarnya yang Rasulullah harapkan dari umatnya adalah untuk mencintai al Qur’an dengan terus membaca dan membaca al-Qur’an, apapun kondisi dan keadaannya.
Bagi orang yang belum bisa lancar membaca al Qur’an, selalu ada kesempatan mendapatkan kemuliaan al-Qur’an. Bahkan mendapatkan dua pahala atas bacaan dan mujahadah dalam kesulitan membaca al-Qur’an. Sebagaimana Sabda Rasulullah:
عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ »
“Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).
Paradok Kondisi Umat Islam di Indonesia
Sejak tahun 1990-an sudah mulai marak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di hampir seluruh kampung dengan ditemukan metode Iqra’. Apalagi beberapa tahun terakhir ini semakin banyak methode cara cepat membaca al-Qur’an dengan aneka ragam caranya.
Pondok pesantren khusus penghafal al-Qur’an juga tumbuh berkembang di mana-mana dengan jumlah santri ada yang ratusan dan ribuan santrinya. Rumah Qur’an, Majelis Qur’an juga banyak berdiri di berbagai tempat.
Sekolah-sekolah umum dan instansi kantor juga memiliki program wajib membaca al-Qu’an. Beasiswa kuliah gratis juga dibuka di beberapa perguruan tinggi negeri.
Hampir setiap tahun ada wisuda ribuan penghafal al-Qur’an dan acara tasmi’ khataman al-Qur’an juga hampir setiap akhir pekan dilaksanakan secara online dan offline dengan peserta yang banyak.
Lomba-lomba membaca, menghafal, tafsir, cerdas cermat al-Qur’an hampir setiap tahun dilaksanakan di tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga nasional.
Namun, ternyata, belum banyak berpengaruh terhadap program pemberantasan buta huruf al-Qur’an sebagai upaya mencerdaskan dan menguatkan bangsa. Sebagaimana disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Komjen Pol (Purn) Syafruddin mengingatkan sebanyak 65 persen umat Islam di Tanah Air tidak bisa membaca Al-Qu’ran.
Jadi, kalau 223 juta itu penduduk Indonesia adalah beragama Islam, maka sebanyak 145 juta umat Islam Indonesia tidak bisa membaca Al-Qu’ran dan buta secara umum.
Inilah kondisi yang masih paradok di Indonesia sebagai negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Artinya masih banyak Pekerjaan Rumah (PR) bagi umat Islam untuk bisa belajar dan mengajarkan al-Qur’an. Lahan dakwah untuk mengajarkan al-Qur’an masih terbuka luas.
Beberapa tantangan umat Islam dalam mempelajari al-Qur’an. Pertama, terhantui stigma sulit membaca al-Qur’an karena bahasa dan huruf Arab. Kedua, malu atau gengsi jika sudah terlanjur remaja, dewasa atau tua untuk baru mulai belajar al-Qur’an dari nol atau huruf per huruf.
Lalu, Ketiga, sibuk atau tidak ada waktu luang untuk belajar karena mungkin pekerjaan atau aktivitas yang menyita waktunya. Keempat, bagi yang belajar al-Qur’an maindsetnya harus diluruskan bukan hanya untuk diri sendiri, mengejar kenikmatan pribadi tapi harus ada motivasi untuk mengajarkan kepada orang lain dan orang banyak tentang al-Qur’an.[]
*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah
WAHYU pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah yang sekilas mungkin terkesan sederhana namun sebenarnya memiliki makna mendalam: “Iqra’ Bismirabbik”—”Bacalah dengan nama Tuhanmu”.
Di tengah gemerlap peradaban Romawi yang mencapai puncak kejayaannya, Islam hadir bukan sekadar sebagai agama, tetapi sebagai sistem peradaban yang menempatkan pembangunan manusia sebagai inti kemajuan.
Bismirabbik menjadi pembeda dari cara-cara membaca konvensional, yang hanya mengutamakan aspek rasio tanpa bimbingan wahyu.
Membaca konvensional hanya mendorong manusia mengedepankan untung rugi secara materi, lalu melucuti kemanusiaannya sendiri.
Membaca dengan konsep Iqra’ Bismirabbik memajukan manusia untuk bisa berpikir bagiamana memberikan terang bagi alam, bagi seluruh umat manusia.
Islam punya metode yang sangat mendalam dan menyeluruh perihal membaca. Membaca yang tak mudah terkooptasi pretensi (hawa nafsu).
Momentum Transformasi Peradaban
Saat wahyu itu turun, dunia menyaksikan ketimpangan sosial yang mencolok. Peradaban besar seperti Romawi dan Persia memang maju dalam teknologi dan ilmu pengetahuan, namun banyak masyarakatnya terjebak dalam praktik ketidakadilan dan eksploitasi.
Islam datang sebagai koreksi sosial, menyelaraskan kembali settingan yang salah dalam tatanan masyarakat. Tujuannya jelas: membangun sumber daya manusia yang berkualitas, yang tidak hanya berilmu tetapi juga berakhlak mulia.
Jika kemudian lahir sosok seperti Ibn Mas’ud yang pakar dalam hal Alquran, maka itu bagian dari buah Iqra’ Bismirabbik.
Termasuk sosok yang begitu populer dalam hal ekonomi, Abdurrahman bin Auf. Ia mendapat tawaran kenikmatan materi luar biasa dari persaudaraan yang ditetapkan Nabi. Namun ia hanya meminta diberi tahu, pasar ada dimana.
Abdurrahman tampak sangat memahami bahwa dengan menjadi Muslim yang taat, dengan bekal Iqra’ Bismirabbik, dirinya akan memperoleh kejayaan yang mendorong dirinya bermanfaat bagi perjuangan umat.
Jangan lupa ada pula sosok muda bernama Zaid bin Tsabit. Dalam 14 hari ia berhasil menguasai bahasa Yahudi. Kemudian dalam tempo 28 hari ia menjadi ahli dalam bahasa Suryani. Betapa kesadaran Iqra’ Bismirabbik mampu melahirkan revolusi belajar yang sangat kuat, meski saat itu belum dikenal alat penerjemah bahasa seperti sekarang apalagi AI.
Membangun Sumber Daya Manusia
Dalam sejarah peradaban Islam, manusia menjadi fokus utama pembangunan kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Demikianlah yang tercermin dalam wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad, “iqra’ bismirabbik” itu, yang menjadi landasan epistemologis dan spiritual bagi umat Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
Peradaban Islam memahami ilmu sebagai anugerah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab. Di sini, pengetahuan bukan sekadar alat eksplorasi dunia materi, tetapi juga sarana mencapai kesadaran ilahi dan keseimbangan sosial.
Prinsip tersebut memastikan bahwa ilmu tidak hanya menciptakan kecerdasan teknis, tetapi juga membentuk manusia yang bermartabat dan beretika.
Sebagai contoh, era keemasan Islam pada abad ke-8 hingga ke-13 menunjukkan integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai agama. Para pemikir seperti Al-Farabi, Ibn Sina, dan Al-Ghazali menggambarkan bagaimana ilmu filsafat, kedokteran, dan teologi dapat berkembang berdampingan, menjawab kebutuhan spiritual dan praktis masyarakat.
Dengan demikian, spirit wahyu “iqra’ bismirabbik” tidak sekadar menjadi penanda dalam memahami tanda-tanda alam, merenungi ciptaan Tuhan, dan menggali hikmah di balik setiap peristiwa, tetapi sebuah panduan abadi bagi umat Islam untuk terus membangun peradaban yang menghormati hakikat kemanusiaan melalui ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat.
Integrasi antara ilmu, moralitas, dan spiritualitas inilah yang menjadi keunikan serta kekuatan utama peradaban Islam. Saat Rasulullah SAW mendapat tawanan pasca perang Badar. Sebagian dari mereka ada yang ahli membaca dan menulis.
Maka, Nabi SAW memberi syarat pembebasan kepada tawanan itu dengan syarat, mampu mendidik anak-anak muda di Madinah membaca dan menulis. Dengan demikian, manusia diharapkan mampu berpikir kritis, visioner, dan bertanggung jawab sebagai khalifah di bumi.
Menegakkan Keadilan dan Kebenaran
Telaah makna iqra’ bismirabbik sejatinya juga menawarkan refleksi yang tajam mengenai ketimpangan sosial dan ketidakadilan yang menjadi tantangan universal sepanjang sejarah manusia.
Islam, dengan visi keadilan yang inheren, hadir sebagai respons progresif terhadap realitas ini. Salah satu instrumen utamanya adalah konsep zakat, infak, dan sedekah, yang berfungsi sebagai mekanisme distribusi kekayaan yang berkeadilan.
Zakat, dalam kerangka Islam, bukan semata kewajiban ritual, melainkan sebuah sistem sosial yang dirancang untuk mengurangi kesenjangan antara kaya dan miskin. Dengan membebankan tanggung jawab kepada mereka yang memiliki kelebihan harta, zakat memastikan bahwa kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.
Disinilah makna mendalam Iqra’ Bismirabbik merefleksikan pentingnya ilmu yang diaplikasikan untuk kebaikan. Dalam konteks zakat, ilmu tentang keuangan dan sosial diterjemahkan menjadi aksi nyata untuk menciptakan kesejahteraan kolektif.
Dengan mengintegrasikan prinsip keadilan sosial ini, Islam menawarkan paradigma yang relevan untuk mengatasi ketimpangan global di era modern.
Demikian pula dalam aspek pendidikan, dimana hal ini merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban yang berkelanjutan dan progresif.
Dengan pendekatan yang terintegrasi, pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai etika dan moral yang esensial untuk melahirkan individu yang cerdas secara intelektual sekaligus tangguh secara spiritual, siap menghadapi kompleksitas tantangan zaman.
Sebagai investasi strategis, pendidikan memberikan dampak jangka panjang yang signifikan pada kemajuan sosial dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Iqra’ Bismirabbik Solusi Global
Di tengah kompleksitas tantangan global seperti ketimpangan sosial, krisis moral, dan degradasi lingkungan, kembali pada semangat Iqra’ Bismirabbik—membaca dengan kesadaran ilahiah—adalah langkah esensial. Dengan memahami realitas melalui perspektif keimanan, solusi yang menyentuh akar masalah dapat ditemukan.
Konflik Ukraina-Rusia, misalnya, dapat diakhiri jika pemimpin dunia melampaui pretensi rasional dan membaca situasi dengan mendalam. Demikian pula, keadilan untuk Palestina tidak akan menjadi utopia jika dunia membaca dengan hati nurani yang bebas dari kebencian historis.
Pertanyaan yang mendesak sekarang adalah, siapa yang siap memimpin penerapan Iqra’ Bismirabbik untuk membawa umat manusia menuju harmoni yang penuh kasih sayang? Sebuah panggilan untuk pemimpin sejati yang berkomitmen pada solusi holistik.[]
*) Imam Nawawi, penulisadalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)