Beranda blog Halaman 130

Kebijaksanaan Rasulullah Menimbang Saran dengan Hati Terbuka

0

DALAM kajian psikologi sosial dan budaya, sifat manusia untuk menerima atau menolak saran adalah fenomena yang kompleks. Secara umum, sulit menemukan individu yang sepenuhnya menolak saran. Namun, kecenderungan untuk bersikap defensif atau merasa diri lebih unggul dibandingkan orang lain tetap merupakan sifat yang sering muncul dalam interaksi sosial.

Menurut perspektif psikologi, sifat ini berakar pada ego manusia yang cenderung mempertahankan harga diri dan identitas diri. Carl Rogers, salah satu tokoh penting dalam psikologi humanistik, mengemukakan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk mempertahankan konsep dirinya. Dalam situasi di mana saran dianggap sebagai ancaman terhadap konsep diri, respons defensif seperti penolakan saran menjadi mekanisme perlindungan.

Fenomena semacam ini juga dapat dilihat dalam konteks sosial. Dalam masyarakat yang semakin individualistik, penghargaan terhadap opini pribadi sering kali menjadi prioritas, bahkan melebihi nilai-nilai kolaborasi. Seseorang yang merasa dirinya “lebih” dibandingkan orang lain cenderung menunjukkan sikap superioritas untuk menutupi rasa tidak aman yang mendasarinya.

Kendati demikian, dalam era keterbukaan informasi saat ini, kebanyakan individu semakin menyadari pentingnya menerima perspektif yang beragam. Hal ini sejalan dengan penelitian-penelitian yang menunjukkan bahwa kemampuan untuk menerima saran dan kritik konstruktif berkorelasi positif dengan perkembangan pribadi dan profesional. Di sisi lain, penolakan terhadap saran sering kali membatasi peluang untuk tumbuh dan beradaptasi.

Kebijaksanaan

Nabi kita, Rasulullah Muhammad SAW telah banyak memberikan teladan yang menakjubkan dalam bagaimana menerima masukan dengan bijaksana. Diantaranya, dalam Kisah Perang Badar yang menjadi salah satu contoh nyata yang mencerminkan sifat terbuka beliau terhadap saran strategis.

Ketika Rasulullah SAW mengusulkan strategi menguasai sumur Badar, seorang sahabat, Khabab ibn Mundzir ra, dengan penuh hormat bertanya, “Apakah ide ini berasal dari wahyu atau strategi perang semata?”

Setelah dijelaskan bahwa itu adalah strategi, Khabab lantas memberikan masukan agar markas dipindah lebih dekat ke posisi musuh dengan taktik penutupan sumur untuk memonopoli air.

Menariknya, Rasulullah SAW tidak merasa terhina. Beliau bahkan memuji saran itu, “Pendapatmu sungguh baik.” Masukan tersebut kemudian dilaksanakan, dan kaum Muslimin meraih kemenangan besar. Peristiwa ini mencerminkan sikap kepemimpinan yang tidak egois, melainkan mengedepankan rasionalitas dan manfaat kolektif.

Ilusi Superioritas

Sayangnya, sikap seperti Rasulullah SAW ini semakin jarang ditemui. Banyak individu atau pemimpin yang terjebak dalam cognitive bias atau ilusi superioritas. Mereka cenderung melebih-lebihkan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki, sehingga menutup diri terhadap masukan dari pihak lain.

Bias ini dapat berujung pada sikap arogan, reaktif, dan menolak gagasan tanpa mempertimbangkan relevansi atau validitasnya. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga dalam komunitas atau organisasi, di mana hierarki sering kali menjadi penghambat pertukaran ide. Pendapat atasan atau pemimpin cenderung lebih dihargai, meskipun tidak selalu berdasarkan fakta atau keahlian.

Hal ini menjadi pengingat penting bahwa kesuksesan sebuah organisasi tidak bergantung pada satu individu, melainkan kolaborasi seluruh elemen yang mampu mendengar, berpikir kritis, dan memberikan solusi inovatif.

Sikap terbuka terhadap saran adalah langkah awal menuju perbaikan dan inovasi. Seperti yang dikatakan Albert Einstein, “The more I learn, the more I realize how much I don’t know”. Kutipan ini menekankan pentingnya kerendahan hati intelektual dalam menerima kritik dan memperluas wawasan.

Adam Grant dalam bukunya “Think Again” juga menyoroti perlunya berpikir seperti ilmuwan—mempertanyakan asumsi, menerima masukan sebagai data, dan terus memperbarui pemahaman. Sikap ini mengejawantah kecerdasan sejati dan kemampuan adaptasi yang menjadi kunci keberhasilan di dunia yang terus berubah.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa tidak ada ide yang sempurna tanpa diskusi. Dengan mendengar saran, bahkan dari pihak yang dianggap “lebih rendah” dalam hierarki, kita dapat menciptakan keputusan yang lebih bijaksana dan hasil yang lebih optimal.

Sarana Musyawarah

Pada akhirnya, penting untuk membangun budaya diskusi dan musyawarah sebagai sarana penting untuk memupuk keterbukaan pikiran. Bahkan, saran yang kurang relevan sekalipun harus dilihat sebagai peluang untuk memberikan bimbingan dan memperkaya perspektif.

Daripada menolak mentah-mentah, para pemimpin dan pakar sebaiknya memanfaatkan momen tersebut untuk menciptakan ruang pembelajaran bagi semua pihak.

Kisah Rasulullah SAW di Perang Badar memberikan pelajaran mendalam bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang mendengar, menghargai, dan melibatkan orang lain dalam proses pengambilan keputusan. Jika beliau dapat menerima kritik dengan senyuman, lalu mengapa kita harus merasa terhina?

Di masa kini, di mana dinamika perubahan sangat cepat, sikap keterbukaan terhadap saran menjadi kebutuhan mendesak. Membangun budaya diskusi yang sehat bukan hanya memperkuat hubungan interpersonal tetapi juga menciptakan komunitas yang hidup, penuh gairah, dan inovatif.

Sikap Rasulullah SAW yang menghargai masukan orang lain adalah cerminan visi kepemimpinan yang abadi. Dengan meneladani prinsip ini, kita dapat membangun kehidupan yang lebih baik, baik dalam lingkup individu, komunitas, maupun organisasi.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita siap untuk mengikuti jejak Rasulullah SAW dalam merangkul saran dengan hati yang terbuka?

*) Adam Sukiman, penulis adalah intern researcher di Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) dan Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta. Diserap dari serak risalah pengajian pekanan Prospect pada Sabtu, 23 November 2024.

Kolaborasi SAR Hidayatullah dan Perguruan Tinggi dalam Membangun Generasi Berdaya Saing

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Search and Rescue (SAR) Hidayatullah, sebagai badan pendukung ormas Hidayatullah, terus menunjukkan komitmennya dalam tanggap darurat bencana, mitigasi, kewaspadaan dini, dan rehabilitasi pasca-bencana.

Kini, SAR Hidayatullah memperluas dampaknya melalui kolaborasi strategis dengan Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) untuk mendukung proses pengkaderan mahasiswa.

Kerjasama ini diwujudkan melalui program Training Center 40 Hari (TC-40H), yang bertujuan membentuk karakter mahasiswa sekaligus meningkatkan potensi kerelawanan mereka.

Nota kesepahaman kerjasama antara SAR Hidayatullah dan Departemen Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Dikti Litbang) Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah resmi ditandatangani pada Rapat Koordinasi Nasional Perguruan Tinggi Hidayatullah (Rakornas PTH) 2025, di Bandung, Jawa Barat, Rabu, 4 Jumadil Akhir 1446 (5/12/2024).

Ketua Umum SAR Hidayatullah, Irwan Harun, menekankan pentingnya keseimbangan antara hard skill dan soft skill dalam menjawab tantangan era modern yang kompleks.

Dia menjelaskan, hard skill merupakan elemen esensial dalam membangun kompetensi teknis yang mumpuni. Keterampilan ini melibatkan keahlian spesifik yang sering kali dapat diukur secara kuantitatif, seperti kemampuan analisis data, penguasaan perangkat lunak, atau keahlian teknis lainnya.

Idealnya, kata dia, mahasiswa dibekali dengan hard skill yang solid untuk menghadapi tantangan dunia profesional. Namun, realitas menunjukkan bahwa hard skill saja tidak cukup untuk memastikan keberhasilan di dunia kerja atau dalam kehidupan bermasyarakat.

Soft skill, yang mencakup kemampuan interpersonal, komunikasi, kepemimpinan, dan pemecahan masalah, menjadi elemen penting yang melengkapi hard skill.

“Maka, bekal soft skill berupa kemampuan non-teknis menjadi bagian kepribadian mahasiswa agar dapat memimpin dengan efektif dan menyelesaikan masalah tanpa menciptakan masalah baru,” ujarnya.

Menurut Irwan, integrasi penguasaan hard skill dan soft skill merefleksikan pendekatan kepemimpinan holistik yang relevan dengan tantangan abad ke-21 dewasa ini.

Dia menambahkan, kemampuan untuk memahami dan beradaptasi terhadap situasi yang kompleks menjadi indikator keberhasilan mahasiswa di masa depan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi ahli dalam disiplin ilmu tertentu, tetapi juga pemimpin yang bijak, visioner, dan berempati.

Lebih jauh Harun menjelaskan, pendekatan TC-40H tidak hanya melibatkan penguasaan teknis, tetapi juga membangun kesadaran mahasiswa tentang urgensi manajemen waktu dan keberanian mengambil keputusan.

Program ini diharapkan dia melahirkan mahasiswa dengan kemampuan apresiatif, yakni mereka yang dapat menghargai setiap pencapaian meskipun itu bukan tujuan utama.

Sebelumnya, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidyatullah sebagai leading sektor gagasan TC-40H ini telah menyelenggarakan program selama 2 tahun terakhir ini yang dilaksanakan sebanyak 2 kali yaitu untuk mahasiswa baru dan mahasiswa calon sarjana yang akan dilepas di bursa kerja. “Terima kasih kepada STIEHidayatullah yang telah memberikan ruang terhadap pelaksanaan program ini dengan baik,” kata harun.

Ketua Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam, Dr. Muhammad Siddiq, M.Pd, menyebut TC-40H sebagai inisiatif yang sangat relevan dan dibutuhkan untuk mendukung proses pengkaderan di perguruan tinggi. “Ini adalah program yang sangat dinantikan, terutama untuk memperkuat proses pembentukan karakter di masing-masing PTH,” ujarnya.

Dukungan serupa disampaikan oleh Sumarno, M.Pd.I, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Mumtaz Karimun Kepulauan Riau, yang melihat program ini sebagai elemen penting dalam proses akreditasi institusi.

Sementara itu, Moh. Idris, M.Pd.I, Ketua STAI Lukman Al Hakim Surabaya, berharap TC-40H dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Ketua Departemen Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Dikti Litbang) Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Drs. Miftakhuddin, M.Si, juga memberikan apresiasi terhadap kerjasama ini.

“Jika program ini berhasil mencapai 30 persen targetnya saja, maka pendidikan dan pengkaderan di PTH sudah berada di jalur yang sangat baik,” ujarnya.

Melalui kolaborasi ini, dia berharap, dapat semakin mengoptimalkan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan akademik sekaligus menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

“Dengan perpaduan pendidikan, kerelawanan, dan karakter, mahasiswa PTH diharapkan menjadi generasi unggul yang mampu memberikan dampak positif di berbagai bidang,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Nenek Atikah, Mujahidah Daiyah Hidayatullah Berpulang ke Rahmatullah

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Keluarga besar Hidayatullah berduka. Salah satu kader putri seniornya, Ustadzah Atikah, berpulang ke Rahmatullah pada hari ini, Kamis, 3 Jumadil Akhir 1446/ 05 Desember 2024, di Rumah Sakit Umum Daerah Aji Batara Agung Dewa Sakti, Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, setelah menjalani perawatan intensif.

Nenek Tika, begitu ia biasanya disapa, merupakan mujahidah daiyah Hidayatullah yang telah banyak menjalani tugas dakwah mendampingi sang suami, Ustadz Amin Bahrun, di berbagai daerah di Tanah Air.

Dari Gunung Tembak Balikpapan, tempat awal perjalanan dakwah mereka dimulai, hingga ke pelosok Berau, bahkan ke ujung Papua, Nenek Tika selalu berada di sisi suaminya. Bukan sekadar mendampingi, beliau juga menjadi pilar kokoh yang menopang setiap langkah dakwah dan menjadi penghibur hati di tengah segala ujian dan rintangan.

Ketika akhirnya mereka kembali ke Balikpapan, kota yang telah menjadi saksi awal perjuangan mereka, takdir Allah menentukan bahwa itulah tempat peristirahatan terakhirnya. Beliau wafat dengan meninggalkan jejak cinta, pengorbanan, dan keteladanan yang akan terus hidup dalam hati keluarga besar Hidayatullah.

Nenek Tika bukan sekadar nama di hati keluarga besar Hidayatullah; ia adalah lambang cinta dan dedikasi yang tiada tara.

Kesetiaan beliau tidak hanya tercermin dalam perjalanannya mendampingi sang suami, tetapi juga dalam pelayanannya kepada umat. Nenek Tika adalah sosok ibu yang hangat, nenek yang penuh cinta, dan sahabat yang tulus bagi siapa saja yang mengenalnya. Senyum ramah dan tutur kata lembutnya mampu menenangkan hati, bahkan di saat-saat sulit.

Sebagai upaya mengenang jasa dan menyerap spirit keteladanan yang telah ia tunjukkan dalam berkhidmat di jalan dakwah khususnya di Papua, pada tanggal 29 Januari 2022 diresmikan rumah susun santri Ponpes Hidayatullah Manokwari, Jl. Trikora Arfai II Kelurahan Anday Distrik Manokwari Selatan Kabupaten Manokwari Papua Barat yang diresmikan oleh Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si.

Ketua Dewan Murobbi Wilayah Sultan, S.Pd.I sebagai moderator dalam acara peresmian ini menjelaskan rusun tersebut dinamai rusun “Ummu Atikah”. Dia menjelaskan, nama ini didedikasikan untuk istri dari pendiri Ponpes Hidayatullah Manokwari Ust Amin Bahrun almarhum.

“Kita berikan nama rusun ini dengan nama rusun ‘Ummu Atikah’ ini kami dedikasikan untuk ibu Atikah istri dari almarhum Ust Amin Bahrun,” kata Sultan.

Sultan menambahkan, sebelumnya Aula pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari kami namai “Aula Amin Bahrun”. Menurut dia, nama-nama ini merupakan hasil musyawarah para pengurus untuk mengenang jasa pendiri yang tidak bisa dibalas dengan apapun.

“Kami pengurus sudah sepakat untum memberikan nama-nama ini untuk mengenang kebaikan-kebaikan pendiri dan menjadi inspirasi bagi generasi muda,” ungkap Sultan.

Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa almarhumah, melipatgandakan pahala atas semua amal kebaikannya, dan menempatkan beliau di surga-Nya yang terbaik, bersanding kembali dengan suaminya tercinta.*/Muhammad Anzar

Hidayatullah Sampaikan Selamat Tanwir dan Milad ke-112 Muhammadiyah

0

KUPANG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah melalui Ketua Bidang Tarbiyah, Ir. H.M. Abu A’la Abdullah, MHI, menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas terselenggaranya peringatan Milad ke-112 Muhammadiyah dan pelaksanaan Sidang Tanwir di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berlangsung pada 4-6 Desember 2024.

Abu A’la Abdullah menegaskan pentingnya peran Muhammadiyah sebagai salah satu pilar utama umat Islam di Indonesia yang telah memberikan kontribusi besar dalam perjalanan bangsa.

“Semoga Muhammadiyah dan Hidayatullah bersama ormas Islam lainnya terus mengawal dan menjaga arah Bangsa dan NKRI,” kata Abu A’la Abdullah kepada media ini, Kamis, 3 Jumadil Akhir 1446 (5/12/2024).

Sejak didirikan pada tahun 1912, Muhammadiyah telah menjadi organisasi keagamaan terbesar yang memberi perhatian besar pada pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.

Langkah konkret Muhammadiyah terlihat dari pendirian ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, hingga panti asuhan yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. “Semua itu dibangun atas semangat pengabdian kepada Allah SWT dan untuk memajukan kehidupan bangsa yang menginspirasi kita semua,” katanya.

Abu A’la Abdullah mengapresiasi khusus pada upaya Muhammadiyah yang tetap konsisten menjaga arah pendidikan nasional melalui pendekatan holistik yang bukan sekadar proses transfer ilmu tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter yang relevan untuk mendorong Indonesia menjadi bangsa unggul dan mampu bersaing dalam dunia modern tanpa kehilangan identitas keislamannya.

“Pendidikan integral berbasis Tauhid, sebagaimana ditekankan Hidayatullah, adalah konsep yang menyatukan dimensi spiritual, intelektual, dan sosial dalam membangun manusia yang berakhlak mulia. Pendekatan ini tidak hanya relevan dalam memperkuat jati diri bangsa, tetapi juga menjadi landasan kokoh bagi kemajuan yang berperadaban,” kata Abu A’la Abdullah.

Lebih jauh Abu A’la mengemukakan bahwa kolaborasi Muhammadiyah, Hidayatullah, dan organisasi Islam lainnya menjadi kekuatan yang strategis untuk mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Abu A’la Abdullah menekankan pentingnya sinergi ini dalam menghadapi tantangan globalisasi yang kerap menggoyahkan nilai-nilai kebangsaan.

“Pendidikan bermakna adalah kunci untuk menghasilkan generasi unggul yang mampu mengemban amanah dalam membangun bangsa yang maju dan jaya,” katanya.

Dia berharap semoga semangat kolaborasi ini terus menguat, sehingga umat Islam dapat terus menguatkan perannya menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Dengan menjadikan Tauhid sebagai pijakan utama, Muhammadiyah dan ormas Islam lainnya diharapkan dapat terus membawa Indonesia menuju peradaban yang mulia dan menjadi bangsa teladan di dunia internasional.

“Selamat dan sukses untuk Muhammadiyah di usianya yang ke-112. Semoga senantiasa menjadi cahaya pembaruan dan pengabdian bagi umat dan bangsa,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Rakernas BMH 2025 Kukuhkan Inovasi untuk Transparansi dan Akuntabilitas

0

BANTEN (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Tahun 2025 selama 2 hari yang mengusung tema “Inovasi Layanan Berbasis Data untuk Mewujudkan Transparansi & Akuntabilitas” di Banten dibuka pada Rabu, 4 Jumadil Akhir 1446 (5/12/2024).

Dalam sambutannya, Bati Andalo, Ketua Panitia sekaligus Kepala Perwakilan BMH Banten, menegaskan makna strategis penyelenggaraan Rakernas yang kali ini digelar di Banten.

“Dipilihnya Banten sebagai tuan rumah menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar,” ungkapnya, seraya mengajak peserta memanfaatkan momentum ini untuk mendukung program strategis BMH ke depan.

Ketua Pengurus BMH Pusat, Firmanza, menyoroti esensi inovasi berbasis data dalam meningkatkan kepercayaan publik. “2025 adalah momentum untuk menjadikan BMH sebagai Laznas terdepan dalam transparansi dan akuntabilitas,” ujarnya penuh tekad.

Dia menekankan, transparansi selalu menjadi kebutuhan utama untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Karena itu, Rakernas 2025 menjadi langkah awal dalam menghadapi tantangan baru, mempertegas komitmen BMH sebagai Laznas unggul yang amanah dan profesional.

Senada dengan itu, Nashirul Haq, Ketua Pembina BMH, menekankan pentingnya perpaduan profesionalisme dan spiritualitas dalam kinerja amil. “Amil harus amanah, kerja tuntas, dan rutin qiyamullail. Kita harus jadi Laznas yang berbeda,” pesannya.

Dengan dihadiri perwakilan BMH dari seluruh Indonesia, Rakernas ini dirancang untuk memperkuat sinergi dan inovasi pengelolaan dana umat berbasis teknologi.*/Herim

[KHUTBAH JUM’AT] Amanah Jabatan Menuju Masyarakat Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Puji sanjung senantiasa tercurah kepada Allah Rabbul a’lamin atas berbagai nikmat dan Taufiq-Nya yang mengantarkan kita menunaikan amanah sebagai Abdillah (hamba Allah) yang ditandai dengan ketaatan kita terhadap titah perintah yang tertuang dalam syariat-Nya.

Salam dan shalawat senantiasa tercurah kepada Nabiullah Muhammad ﷺ,

Harapan besar kita dengan senantiasa bershalawat kepada
Nabi Muhammad ﷺ, semoga pada yaumil akhir kelak mendapatkan syafa’at Beliau.

Dan dengan syafa’at Beliau menjadi asbab Allah berkenan memberikan perlindungan pada saat tidak ada lagi yang dapat memberikan perlindungan selain perlindungan Allah A’zza wajalla.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Pilpres dan Pileg telah usai, kini kita telah mempunyai presiden yang baru beserta kabinet barunya, baik wajah lama demikian wajah baru dengan berbagai gebrakan program barunya.

Anggota legislatif yang baru, dari tingkat pusat, provinsi, daerah kota/kabupaten ada wajah lama, ada pula wajah baru, berharap semoga kehadirannya benar-benar merepresentasikan dan mewakili harapan rakyat yang diwakilinya.

Penyelenggaraan Pilkada serentak secara nasional ditingkat provinsi dan Kota/Kabupaten pun juga baru saja selesai penyelenggaraannya.

Sudah tergambar profil gubernur dan Walikota/Bupati periode lima tahun mendatang, kendati secara resmi menyusul akan diumumkan oleh institusi terkait.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Kebanyakan orang percaya bahwa seseorang dapat menemukan kebahagiaan ketika mendapatkan penghormatan dari orang lain, salah satunya melalui jabatan.

Berbagai cara dilakukan untuk mengejar dan mendapatkan jabatan itu, namun patut dicamkan bahwa jabatan tidak selalu berarti kehormatan.

Sangat tergantung bagaimana ia menunaikan amanah jabatan, sebagai wujud pengabdiannya dan tanggung jawab yang tentunya akan dipertanggung jawabkan kelak pada pengadilan Allah di yaumil akhir.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Ketika jabatan berada di tangan orang yang tepat.

Suatu hari menjelang kematiannya, Umar bin Abdul Aziz Khalifah Bani Umayya, bertanya kepada pembantunya,

“Bagaimana keadaan masyarakat kita?” Dijawab oleh pembantunya bahwa, “Semua sudah sejahtera wahai Amirul Mu’minin, kecuali engkau saya (sebagai pembantumu) dan kuda kita.”

Pada riwayat ini, menggambarkan profil ideal seorang pemimpin yang sangat memperhatikan dan mendahulukan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya daripada dirinya, keluarga dan kroninya.

Riwayat ini jika akan dikonversi pada era masa ini, sesuatu yang bersifat “utopis”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bersifat utopis memiliki makna seseorang yang memimpikan sebuah tatanan di dalam politik dan masyarakat sehingga bagus di dalam gambaran.

Mungkin tidak persis sama dalam terapannya, namun setidaknya nilai-nilai keteladanan pada riwayat ini bisa menjadi rujukan dalam memaknai sebuah jabatan.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Allah berfirman pada QS. Al-A’raf Ayat 96:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَ خَذْنٰهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”

Pada ayat ini Allah ‘Azza wajalla memberikan jaminan, jika sekiranya suatu kaum, kampung, kawasan, daerah, kota, provinsi, bangsa atau negara penduduknya beriman dan bertaqwa, Allah ‘Azza wajalla memberikan jaminan akan melimpahkan kepada mereka berkah yang datangnya dari langit dan berkah dari bumi.

Menurut pendapat Imam Nawawi, asal makna berkah atau ialah kebaikan yang banyak dan abadi.

Sementara para ulama pun menjelaskan bahwa berkah adalah: “segala sesuatu yang banyak dan melimpah, mencakup berkah secara material dan spiritual, keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, dan sebagainya.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Dan, untuk mengantarkan penduduk atau masyarakat yang beriman dan bertaqwa diawali dari pemimpin yang beriman dan bertaqwa.

Di dalam Alqur’an, Allah menceritakan orang-orang yang bermartabat tinggi.

Dan, dalam salah satu do’a, mereka meminta agar diangkat menjadi seorang pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa:

وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا

“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: Ayat 74)

Menjadi pemimpin berarti telah memikul sebuah amanah dan beban yang sangat berat dan kelak pasti akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah di akhirat.

Kendatipun demikian, ternyata banyak orang saat ini mempunyai keinginan kuat dan berjuang keras untuk merebut kursi dan menduduki jabatan sebagai seorang pemimpin.

Padahal, memimpin diri sendiri dan keluarga saja bukan hal yang mudah, apalagi jika harus memimpin sekian banyak manusia dari latar belakang yang beragam suku dan golongan yang berbeda strata sosialnya, pendidikan, sikap, dan kebiasaan dan karakternya.

Namun dalam realitasnya, justru yang kerap kita rasakan dan saksikan di tengah masyarakat, praktek kepemimpinan yang jauh dari nilai kebenaran, melanggar norma, hukum dan aturan agama.

Demikian pula masyarakatnya banyak yang mendustakan ayat-ayat Allah.

Akibatnya, Allah kemudian menurunkan adzab atau siksa sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan, dengan berbagai bentuknya.

Bisa dalam bentuk masyarakat dihadapkan dengan problematika yang tak kunjung ada solusinya.

Problematika ekonomi, pendidikan, sosial, kemiskinan, kebrutalan masyarakat, jauh dari nilai-nilai moral, jauh dari nilai-nilai agama dan lain-lainnya.

Bukankah negara kita ini adalah negara yang mempunyai sumber daya alam yang berlimpah, mulai dari aneka hasil tambang, hasil pertanian, hasil hutan, hasil laut, lantas pertanyaannya, mengapa negara ini dihadapkan dengan problematika kesejahteraan sosial dan kemiskinan?

Bisa jadi ini juga bagian dari adzab Allah, akibat pemimpin demikian pula penduduknya, masyarakatnya, dalam realitasnya masih banyak praktek mendustakan ayat-ayat Allah.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Untuk itulah, sesungguhnya Addinul Islam ini hadir menyelamatkan dan mengantarkan umat manusia mendapatkan kebahagiaan, kesejahteraan dan keberkahan dunia akhirat.

Semoga para pemimpin kita yang telah mendapatkan amanah kepemimpinan.

Demikian pula para calon-calon pemimpin yang akan beranjak menuju tampuk kepemimpinan.

Allah A’zza wajalla memberikan Taufiq-Nya agar dalam memangku amanah sebagai pemimpin senantiasa tetap berada pada koridor iman dan taqwa sehingga terwujudlah masyarakat baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur, “(Negeri yang baik mendapatkan ampunan Rabb yang maha pengampun)”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Inisiatif Strategis Perkuat Akidah dan Pendidikan dalam Keberagaman di Tobelo

0

MALUT (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Ragaiyah Hidayatullah Tobelo Barat, Maluku Utara, terus menguatkan posisinya sebagai pusat pembelajaran Islam di wilayah ini. Melalui program pembangunan asrama santri yang baru diluncurkan, pesantren ini menegaskan komitmennya untuk memperkuat akidah umat Islam.

Program ini mendapat dukungan penuh dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), yang berperan dalam penggalangan sumber daya dan dukungan masyarakat.

Menurut Ketua Pondok Pesantren Ragaiyah, Ust. Nasrullah, pembangunan asrama ini didesain untuk memberikan fasilitas memadai bagi puluhan santri.

“Asrama ini bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga ruang pembinaan karakter dan penguatan akidah,” ujarnya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Selasa, 2 Jumadil Akhir 1446 (3/11/2024).

Dengan kapasitas yang lebih besar dan fasilitas yang lebih baik, pesantren ini mampu menjawab tantangan keterbatasan sebelumnya.

Asrama ini diharapkan menjadi ruang strategis untuk mendidik generasi muda Muslim di lingkungan yang heterogen.

“Pondok ini menjaga identitas keislaman di lingkungan heterogen. Kami berkomitmen mendukung dakwah dan pendidikan Islam,” kata Nasrullah.

Kepala Laznas BMH Maluku Utara, Nurhadi, menambahkan, komitmen ini semakin penting mengingat posisi pesantren sebagai inspirasi dan motivasi bagi masyarakat Muslim di Tobelo.

Program ini juga mendapat sambutan hangat dari masyarakat sekitar. Kesadaran akan peran pesantren sebagai benteng akidah Islam mendorong dukungan luas, baik secara material maupun moral.*/Herim

Harga Mati Rejuvenasi

0

SAAT ini, organisasi Islam dihadapkan pada tantangan besar untuk terus berkembang dan beradaptasi dengan dunia yang semakin berubah. Di tengah kemajuan teknologi yang pesat dan dinamika sosial global yang semakin kompleks, organisasi Islam harus bisa jadi lebih dari sekadar tempat berkumpul atau wadah kegiatan rutin.

Organisasi Islam seharusnya jadi pendorong perubahan yang bisa membangun peradaban Islam yang relevan dengan zaman. Untuk bisa mencapai itu, rejuvenasi atau peremajaan organisasi adalah sebuah keharusan. Ini bukan pilihan lagi, tetapi harga mati!

Namun, realitasnya menunjukkan bahwa banyak organisasi Islam yang masih gamang dan terjebak dalam rutinitas lama, terfokus pada aspek-aspek yang sudah usang, dan hanya terhenti pada wacana serta retorika, tanpa implementasi nyata.

Sebagian besar masih menikmati dan berada dalam zona nyaman, bergulat dengan persoalan internal yang tidak segera diselesaikan, dan minim dalam merumuskan visi jangka panjang yang mampu merespons perubahan zaman.

Oleh karena itu, peremajaan organisasi Islam menjadi keharusan yang tidak bisa ditunda lagi. Harga mati bagi organisasi Islam yang ingin tetap relevan dan berperan dalam membangun peradaban umat di abad 21. Sebab, peremajaan ini bukan hanya soal memperbarui wajah atau menyegarkan program, tetapi merupakan langkah fundamental dalam memperkuat eksistensi organisasi untuk masa depan.

Mengapa Rejuvenasi Itu Penting?

Di tengah arus globalisasi dan era disrupsi yang semakin cepat, organisasi Islam tidak bisa terus menerus bergantung pada model-model lama yang pernah sukses di masa lalu.

Rejuvenasi bukan sekadar mengganti generasi tua dengan yang muda. Ini adalah proses merubah mindset, serta perubahan menyeluruh untuk menyegarkan kembali organisasi, baik dari segi leadership, visi dan misi, struktur, kemandirian, relevansi terhadap jaman, hingga program kerja. Sehingga, rejuvenasi organisasi Islam bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan.

Mengingat peran strategis yang mereka emban dalam membangun peradaban Islam, maka peremajaan organisasi, menjadi langkah penting untuk memastikan eksistensi, keberlanjutan dan relevansi organisasi tersebut di tengah perubahan zaman.

Organisasi yang tidak mau melakukan peremajaan, pada akhirnya akan mudah tersingkir oleh waktu dan tantangan yang semakin kompleks. Rejuvenasi diperlukan agar organisasi Islam dapat beradaptasi, tidak hanya dengan perubahan dalam lingkup sosial dan politik, tetapi juga dalam konteks perkembangan teknologi  yang sangat mempengaruhi pola kehidupan dan budaya masyarakat sehari-hari.

Ada beberapa alasan penting mengapa rejuvenasi ini sangat krusial:

Pertama, Kepemimpinan yang Visioner dan Adaptif: Salah satu aspek utama dalam rejuvenasi organisasi Islam adalah regenerasi kepemimpinan yang visioner dan adaptif terhadap perubahan. Kepemimpinan bukan sekadar soal mengarahkan organisasi, tetapi juga tentang kemampuan untuk menginspirasi, membimbing, dan mengelola perubahan.

Dalam hal ini, pemimpin harus mampu mengatasi resistensi terhadap perubahan, membuka ruang bagi generasi muda untuk ikut terlibat, serta menciptakan kesinambungan kepemimpinan yang berbasis pada kompetensi dan spiritualitas. Kepemimpinan yang stagnan atau terjebak dalam pola lama akan menyebabkan organisasi kehilangan arah dan tujuan.

Kedua, Model Gerakan yang Dinamis: Model gerakan organisasi Islam harus dirancang ulang agar lebih responsif dan dinamis terhadap tantangan zaman. Model yang kaku, terbatas pada kegiatan keagamaan saja, atau tidak fleksibel dalam menanggapi isu-isu sosial dan politik, lingkungan, teknologi, budaya, dlsb, akan kehilangan daya tarik bagi generasi muda.

Oleh karena itu, organisasi Islam perlu mengembangkan model gerakan yang lebih inklusif, kreatif, inofatif dan terhubung dengan kebutuhan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat yang semakin kompleks.

Ketiga, Penyesuaian Visi dan Misi: Visi dan misi organisasi adalah kompas yang mengarahkan segala kegiatan dan program. Oleh karena itu, organisasi Islam perlu melakukan evaluasi dan penyesuaian terhadap visi dan misi mereka, agar tetap relevan dengan realitas yang berkembang.

Penyesuaian ini berup visi antara sebagai tahapan untuk mewujudkan visi utama yang telah ditetapkan. Sehingga visi yang rumuskan harus didasarkan pada pemahaman terhadap tantangan global dan lokal, serta harapan umat Islam di masa depan. Visi yang terlalu umum dan tidak spesifik dan tidak implementatif serta tidak terukuir, hanya akan menambah kebingungan dan menjauhkan organisasi dari pencapaian tujuan yang jelas.

Keempat, Struktur Organisasi yang Efisien dan Dinamis: Organisasi Islam sering kali terjebak dalam struktur yang kaku dan birokratis, yang justru menghambat efisiensi dan kreativitas. Oleh karena itu, penting untuk merancang ulang struktur organisasi agar lebih efisien dan dinamis, mampu merespons kebutuhan umat dengan cepat, dan memberikan ruang bagi anggota untuk berinovasi.

Struktur yang terlalu hierarkis atau rumit seringkali membuat proses pengambilan keputusan menjadi lambat dan tidak responsif terhadap kebutuhan mendesak. Sehingga perlu ada tafsir ulang terhadap konsep syura yang merupakan model struktur Islam yang baku dan sinergikan  dengan konteks kekinian.

Kelima, Diversifikasi Program dan Lingkup Kerja: Salah satu aspek yang harus diperbarui dalam proses rejuvenasi adalah program dan lingkup kerja organisasi. Organisasi Islam tidak bisa lagi hanya fokus pada kegiatan keagamaan atau dakwah semata.

Program-program sosial, ekonomi, pendidikan, dan pemberdayaan umat harus menjadi bagian integral dari agenda organisasi. Dalam konteks ini, diversifikasi program menjadi sangat penting untuk menjawab tantangan dunia modern, di mana masalah sosial, ekonomi, dan politik saling terkait dan memerlukan solusi yang holistik.

Keenam, Kemandirian Organisasi: Kemandirian organisasi dalam berbagai aspek—baik finansial, sumber daya manusia, maupun operasional—merupakan faktor penting dalam keberlanjutan organisasi Islam. Organisasi yang terlalu bergantung pada bantuan luar, baik itu dana maupun sumber daya, akan mengalami ketergantungan yang berpotensi merugikan di masa depan.

Untuk itu, perlu ada upaya serius dalam membangun kemandirian melalui pengelolaan sumber daya yang lebih efisien, pengembangan ekonomi umat dan ekonomi kelembagaan serta penguatan sistem pendanaan yang berkelanjutan.

Keenam, Pemanfaatan Teknologi dan Inovasi: Di era digital, teknologi menjadi faktor yang sangat menentukan dalam efektivitas organisasi. Organisasi Islam perlu mengintegrasikan teknologi dalam setiap aspek operasionalnya, dari komunikasi hingga pelaksanaan program.

Penggunaan teknologi yang tepat dapat memperluas jangkauan dakwah, meningkatkan kualitas pendidikan, dan mempercepat implementasi program-program sosial. Selain itu, organisasi juga perlu mengembangkan inovasi dalam cara-cara mereka berinteraksi dengan generasi muda, menggunakan platform digital yang sudah akrab dengan kehidupan mereka.

Ketujuh, Keterlibatan Generasi Muda: Tidak ada masa depan bagi organisasi Islam tanpa melibatkan generasi muda dalam proses rejuvenasi ini. Generasi muda memiliki peran strategis dalam membawa organisasi ini ke masa depan.

Namun, keterlibatan mereka harus difasilitasi melalui pendidikan dan pelatihan yang tepat, serta pemberian ruang untuk berinovasi. Proses regenerasi ini harus berjalan secara sistematik, dengan menciptakan jalur yang jelas bagi pemuda untuk mengembangkan kapasitas dan kapabilitas mereka.

Tantangan dalam Proses Rejuvenasi

Meskipun rejuvenasi adalah hal yang sangat penting, namun proses rejuvenasi organisasi Islam tidaklah mudah. Tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan dalam mewujudkannya, Beberapa tantangan yang sering dihadapi antara lain:

Pertama, Resistensi dari Senior: Seperti halnya dalam banyak organisasi lainnya, resistensi terhadap perubahan sering kali datang dari kalangan senior. Mereka yang telah lama berkecimpung dalam organisasi sering merasa nyaman dengan cara-cara lama dan takut jika perubahan akan mengancam posisi mereka. Proses rejuvenasi membutuhkan kebijaksanaan dalam melibatkan mereka tanpa mengabaikan kebutuhan akan pembaruan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Kedua, Kapasitas dan Kapabilitas Generasi Muda: Seringkali, generasi muda yang diharapkan menjadi penerus organisasi belum memiliki kapasitas dan pengalaman yang cukup untuk memimpin organisasi yang besar dan kompleks. Oleh karena itu, regenerasi kepemimpinan harus dilakukan dengan hati-hati, melalui program pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan agar mereka siap menghadapi tantangan masa depan.

Ketiga, Zona Nyaman: Organisasi yang sudah berjalan lama dan memiliki amal usaha yang mandiri dan berkembang, seringkali terjebak dalam zona nyaman, merasa tidak perlu berinovasi atau melakukan perubahan besar. Bukan beberati amal usaha yang tumbuh dan berkembang tidak openting namun jika “hanya” disibukkan urusan di amal usaha itu saja, akan bias dari visi organisasi itu sendiri. Sebab, sejatinya zona nyaman ini justru bisa menjadi ancaman bagi keberlanjutan organisasi. Untuk itu, harus ada keberanian untuk keluar dari zona tersebut dan menghadapi tantangan baru.

Keempat, Keterbatasan Sumber Daya: Keterbatasan sumber daya, baik finansial maupun manusia, sering menjadi hambatan besar dalam proses rejuvenasi. Namun, hal ini dapat diatasi dengan pendekatan yang lebih kreatif, seperti membangun kemitraan dengan lembaga lain, mengoptimalkan sumber daya yang ada, dan menggunakan teknologi untuk meningkatkan efisiensi.

Kelima, Manajemen Perubahan yang Lemah: Perubahan yang dilakukan tanpa perencanaan yang matang dan manajemen perubahan yang kuat sering kali berakhir dengan kebingungan dan konflik. Bahkan bisa menjadikan disorientasi atas rejuvenasi itu sendiri. Oleh karena itu, organisasi Islam harus memiliki strategi perubahan yang jelas dan terencana, yang melibatkan seluruh anggota dan pihak terkait.

Keenam, Ketiadaan Target yang Terukur: Salah satu alasan mengapa proses rejuvenasi sering gagal adalah karena kurangnya target yang jelas dan terukur. Setiap perubahan harus dilandasi dengan tujuan yang konkret dan dapat dipantau perkembangannya. Oleh karena itu, penting bagi organisasi Islam untuk memiliki roadmap atau blueprint yang jelas, yang memuat langkah-langkah strategis dan indikator keberhasilan yang terukur.

Menjadi Pelopor Peradaban Islam yang Relevan

Rejuvenasi bukanlah tugas mudah. Ia menuntut keberanian, kesungguhan, dan pengorbanan. Namun, jika organisasi Islam benar-benar ingin menjadi mercusuar peradaban, tidak ada jalan lain selain berkomitmen pada rejuvenasi sebagai harga mati.

Sebagaimana Rasulullah SAW mempersiapkan generasi sahabat yang tangguh untuk melanjutkan perjuangan Islam, demikian pula organisasi Islam harus mempersiapkan generasi baru yang siap menjadi pelanjut estafet perjuangan.

Dengan demikian maka, organisasi Islam memiliki peran besar dalam membangun peradaban yang lebih baik, lebih inklusif, dan lebih progresif. Untuk itu, proses rejuvenasi ini bukan hanya tentang memperbarui struktur atau program kerja, tetapi lebih kepada bagaimana organisasi Islam dapat menjadi pelopor dalam menciptakan perubahan positif dalam kehidupan umat manusia.

Dengan melakukan rejuvenasi yang sistematis dan terukur, organisasi Islam dapat memainkan peran kunci dalam membentuk masa depan peradaban Islam yang lebih cemerlang.

Maka dari itu, rejuvenasi bukan sekadar pilihan, tetapi harga mati bagi setiap organisasi Islam yang ingin tetap relevan dan berperan sebagai agen perubahan.

Organisasi Islam mampu beradaptasi dan merespons tantangan zaman dengan bijak dan relevan. Jangan biarkan organisasi besar ini menjadi fosil sejarah—bertransformasilah menjadi cahaya peradaban! Wallahu a’lam.

*) ASIH SUBAGYO, penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sambil berbaring karena kendala kesehatan

Membangun Harapan dan Perjuangan Membawa Cahaya Islam ke Desa Atue-Malili

0

LUWU TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Di desa terpencil di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, terdapat lakon inspiratif tentang dedikasi dan semangat pengabdian sepenuh jiwa. Abu Hurairah, seorang ustadz muda, dengan tekad kuat mengabdikan hidupnya untuk membangun pondasi agama di Desa Atue-Malili.

Di sebuah rumah panggung sederhana di desa itu, ia membina 50 santri, mengajarkan Al-Quran, serta memimpin majelis taklim dengan penuh kesungguhan.

Namun, perjuangannya tidak berhenti pada pendidikan semata. Bersama para santri dan masyarakat desa, ia bercita-cita membangun sebuah masjid yang akan menjadi pusat ibadah dan pendidikan bagi komunitas lokal.

Dengan gotong royong, mereka memulai proses pembangunan—mulai dari menimbun tanah hingga membangun pondasi. Meski masih dalam tahap awal, tekad yang kuat mendorong mereka untuk terus melangkah maju.

“Masjid ini juga bisa menjadi tempat beribadah untuk para musafir yang melintas,” ungkap Abu Hurairah.

Masjid ini memiliki arti penting bagi masyarakat sekitar, kata Abu, terutama para petani dan nelayan yang sebelumnya harus menempuh perjalanan jauh ke kampung sebelah demi menunaikan salat Jumat.

Selain memudahkan akses ibadah, keberadaan masjid ini juga diharapkan menjadi pusat pembelajaran agama yang lebih terstruktur.

“Dengan inisiatif ini, desa ini akan memiliki tempat ibadah yang representatif dan tempat yang dapat memperkuat ukhuwah Islamiyah dan mencetak generasi penerus yang berakhlak mulia,” tandasnya.

Basori Sobirin, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Sulsel, mengatakan upaya pembangunan masjid ini menginspirasi untuk melihat bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil.

“Mari kita dukung membangun rumah ibadah di desa terpencil ini. Harapannya, semakin meningkat layanan pendidikan untuk masyarakat setempat,” tuturnya.

Dia pun mengapresiasi Abu Hurairah yang mengabdi dengan keikhlasan, kerja keras, dan sinergi mampu menciptakan dampak yang bermakna bagi masyarakat.

“Semoga semangat ini terus menjadi teladan dan menggerakkan hati kita untuk ikut berkontribusi dalam setiap langkah kebaikan,” imbuhnya menandaskan.*/Herim

Halaqah Dai Hidayatullah Pulau Sebatik Teguhkan Dakwah di Tapal Batas

0

NUNUKAN (Hidayatullah.or.id) — Dakwah di wilayah perbatasan memiliki tantangan yang kompleks, terutama di daerah seperti Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara. Menyikapi kondisi ini, Hidayatullah Nunukan menginisiasi kegiatan halaqah dai di Desa Balansiku, bertempat di Masjid Al-Ikhsan. Acara berlangsung selama dua hari, dari 30 November hingga 1 Desember 2024, dengan dihadiri oleh 20 dai dari Nunukan dan Sebatik.

Koordinator dai tangguh Nunukan, Ust. Zakaria Murdodo, menekankan bahwa kegiatan ini merupakan wadah penting dalam penguatan kapasitas dai.

Menurutnya, dakwah di wilayah tapal batas negara memegang peranan penting dalam memperkuat integrasi bangsa dan menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Wilayah perbatasan, seperti di Pulau Sebatik, sering kali menghadapi tantangan khusus, termasuk keragaman budaya, keterbatasan akses pendidikan, dan masih minimnya fasilitas keagamaan.

“Kegiatan seperti ini harus terus dibangun agar peran dai di masyarakat semakin baik,” ujarnya. Zakaria juga menekankan pentingnya pengendalian diri serta pendalaman ilmu sebagai bekal menghadapi tantangan dakwah di daerah perbatasan.

Dakwah di tapal batas terang dia mengejawantah komitmen bersama untuk membangun peradaban yang kokoh berbasis nilai-nilai Islam dan wawasan nusantara.

Melalui khidmat dakwah di kawasan ini, tegas Zakaria, wilayah perbatasan menjadi bagian integral dari NKRI serta menjadi pusat kekuatan keagamaan, budaya, dan ekonomi bangsa.

Semangat gotong royong yang melandasi amanah dakwah ini menjadi kekuatan kolaboratif yang memberikan dampak signifikan, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses seperti Sebatik.

“Melalui halaqah ini, para dai diharapkan semakin tangguh dalam menghadapi tantangan tahun 2025, menjadikan dakwah sebagai kekuatan transformasi masyarakat perbatasan,” imbuh Zakaria.

Dai di wilayah tapal juga terlibat dalam pemberdayaan sosial dan ekonomi. Hal ini membantu masyarakat perbatasan meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga keutuhan wilayah NKRI melalui kerja sama yang harmonis.

Dengan program yang terarah dan kolaborasi yang kuat, lanjut dia, kegiatan halaqah ini menjadi langkah strategis dalam membangun umat di pesisir berbasis nilai-nilai keislaman di daerah tapal batas.

Salah satu peserta, Ust. Amin dari Desa Aji Kuning, mengungkapkan rasa syukurnya atas terlaksananya kegiatan ini.

“Alhamdulillah, spirit dakwah kembali tercahaya. Kami sangat membutuhkan kegiatan seperti ini, terutama di perbatasan negeri yang sulit,” ujarnya.

Amin melihat beragamnya tantangan di daerah perbatasan, termasuk perbedaan budaya masyarakat setempat yang sebagian berasal dari negara tetangga, Malaysia.

Karena itu, Amin mengatakan halaqah ini tidak hanya menjadi media peningkatan spiritualitas dan kapasitas, tetapi juga pembentukan karakter dai yang lebih tangguh. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk memperkuat dakwah.

“Semoga dukungan ini terus menguatkan dakwah kita,” imbuhnya.

Dukungan aktif dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (BMH) menjadi salah satu faktor keberhasilan acara ini.

Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Kaltara, M. Noer Komara, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini membawa dampak positif yang berkelanjutan. “Kami berharap para dai lebih siap dengan perbaikan diri dan peningkatan iman,” ujarnya.

Acara halaqah dai menguatkan sinergi antara BMH dan Hidayatullah dalam mendukung peran dai di wilayah terpencil. Komara menegaskan komitmen bersama untuk menghadirkan perubahan positif di Pulau Sebatik melalui pendekatan dakwah yang hikmah. */Herim