Beranda blog Halaman 13

Mengapa Banyak Berpuasa Tapi Tak Tenang? Ini Jawaban Al-Qur’an

0

BETAPA banyak orang berpuasa, tapi mereka tidak memperoleh selain lapar dan dahaga. Hadits Nabi Muhammad SAW itu mengajak kita memiliki kemampuan berpikir secara tajam dan dalam, bahwa Ramadhan bukan “festival” tidak makan dan tidak minum. Lebih jauh, Ramadhan adalah momentum yang Allah siapkan agar kita bisa meraih ketenangan hidup.

Ketenangan hidup bukan tentang tidak ada masalah, juga bukan soal tentang fasilitas yang serba ada. Semua itu adalah imajinasi orang-orang yang dangkal secara pemikiran dan tandus secara ruhani.

Orang yang mau berpikir akan sampai pada ketenangan hidup atau ketenangan batin, mana kala hatinya terus ia upayakan terhubung kepada Allah, ia senantiasa ingat kepada Allah.

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْب

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram” (QS. Ar Ra’d: 28)

“Ingat” dalam hal ini berbeda dengan sebatas seseorang pernah melintas di sebuah jalan atau berkunjung ke satu lokasi. Ingat pada konteks ini adalah ia memurnikan tahid dalam hati, kemudian komitmen untuk taat kepada Allah SWT secara pikiran, lisan dan perbuatan. Demikian penjelasan dalam tafsir Al-Muyassar.

Kedalaman dalam Memahami Tawakal

Orang yang beriman dan terus mengasah ketajaman berpikirnya insya Allah akan memiliki kegemaran berinteraksi dengan Al-Qur’an, hingga ia bisa sampai pada kedalaman dalam memahami Al-Qur’an.

Problem utama manusia dalam kehidupan ini adalah soal takut, terutama takut kehilangan, takut tidak kebagian (yang sifatnya duniawi) dan takut dengan bayang-bayang kalau kemiskinan datang.

Islam tidak menafikan ketakutan yang seperit itu, tetapi kita mesti paham bahwa ada cara memaknai hidup dengan kandungan Al-Qur’an. Yang mana itu akan membuat kita lebih relevan dalam menempatkan rasa takut.

Kita boleh takut, khawatir, tapi jangan lepas dari yang namanya tawakal. Satu konsep hidup dari Al-Qur’an yang mendorong kita untuk senantiasa berharap kepada Allah setelah berupaya dengan semakismal yang bisa kita lakukan. Kalau seseorang tidak tawakkal, maka ia akan mengalami stres dan gangguan jiwa, baik level ringan hingga akut.

Imam Abu Qasim Al-Qusyairi menerangkan bahwa tawakal adalah memasrahkan setiap perkara kepada Allah. Ia yakin bahwa Allah yang akan menetapkan dan memutuskan hasil dari setiap perkara yang kita hadapi.

Praktik dari tawakal itu pun terang. Sahal bin Abdullah memberikan ilustrasi yang sangat konkret. “Awal dari derajat tawakal adalah ketika seorang hamba merasakan kepasrahan kepada Allah bagaikan seonggok jenazah di depan orang yang memandikannya yang dapat dibolak-balik dengan mudah sesuai keinginan orang yang memandikannya.”

Fastabiqul Khairat

Meski demikian pentingnya tawakal, kita jangan sampai salah paham. Menempatkan tawakal sebagai benteng pembenaran bahwa umat Islam itu boleh usaha sedikit, asal-asalan, lalu tawakal. Atau malah terlalu serius dalam hal manajemen, sehingga terus menunda kebaikan, karena begitu yakin usahanya akan menentukan hasil.

Islam adalah ajaran yang mendorong kita segera dalam melakukan kebaikan, bahkan mesti berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Kita bisa menemukan konsep fastabiqul khairat itu langsung dari Al-Qur’an, yakni pada Surah Al-Baqarah ayat ke-148 dan Al-Maidah ayat ke-48.

Artinya Islam mendorong “kompetisi” tapi dalam kebaikan menolong agama Allah, bukan dalam hal bermegah-megahan dalam kehidupan dunia dengan harta kekayaan.

Abu Bakar ra langsung menyerahkan selruuh hartanya untuk kepentingan Islam kala Rasulullah meminta sedekah untuk kebutuhan kaum Muslimin. Rasulullah SAW pun bertanya, “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?” Ayah dari Ummul Mukminin, Aisyah ra itu menjawab, “Allah dan Rasul-Nya.”

Betapa luar biasa usaha Abu Bakar ra dalam berlomba dalam kebaikan. Kita mungkin sulit untuk sampai pada level seperti itu, tapi komitmen Abu Bakar dalam kebaikan penting kita jadikan inspirasi dan teladan.

Dalam sisi yang lain, dengan konsep fastabiqul khairat, Islam mendorong umat ini untuk segera menjadi pelaku, turun ke gelanggang menjadi pemain, jangan diam dan menjadi penonton belaka.

Kalau kita sibuk bermain (beramal), maka kita akan fokus berlatih. Tapi kalau banyak menonton, kita akan sibuk berkomentar. Nah, ketenangan hidup ada pada orang yang hari-harinya penuh dengan kelelahan karena taat kepada Allah, lalu ia mengharap hasil terbaik dari sisi-Nya.

Orang yang seperti ini dalam Ramadhan akan semakin kuat keyakinannya kepada Allah. Ia akan tenang dan mampu menenangkan sesama yang dalam keguncangan jiwa.[]

Mas Imam Nawawi

Menjaga Wibawa, Menahan Amarah

GAYA komunikasi dan interaksi sosial seorang mukmin sejatinya telah digambarkan dengan sangat indah dalam Al-Qur’an melalui apa yang disebut Tuhan sebagai profil ‘Ibadurrahman’. Allah Ta’ala berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menghina, mereka mengucapkan: ‘Salam.’” (QS. Al-Furqan: 63).

Ayat ini menghadirkan dua karakter utama dalam interaksi sosial Ibadurrahman: tawadhu dan al-hilm.

Pertama, tawadhu atau rendah hati. Dalam Tafsir Al-Munir, Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan berjalan di atas bumi dengan rendah hati bukanlah berjalan dengan lemah, lunglai, atau dibuat-buat agar tampak saleh. Makna “memijak bumi dengan lembut” adalah metafora tentang kondisi batin yang tenang dan bersih dari kesombongan.

Allah juga mengingatkan dalam firman-Nya:

وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18).

Lembut di sini mencakup tiga dimensi. Pertama, tidak ada kesombongan. Ia tidak berjalan dengan dada membusung karena jabatan, harta, atau status sosial. Kedua, menghadirkan sakinah dan waqar, ketenangan dan kewibawaan.

Langkahnya terarah, tidak tergesa-gesa tanpa tujuan, tetapi juga tidak dibuat-buat lamban. Ketiga, kehadirannya tidak menjadi ancaman bagi lingkungan. Ia membawa rasa aman, bukan tekanan.

Konsep “tidak menginginkan ketinggian” yang disebutkan para mufassir merujuk pada larangan memiliki ambisi negatif untuk merasa lebih tinggi dari orang lain. Allah berfirman:

لْكَ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِيْنَ لَا يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِى الْاَرْضِ وَلَا فَسَادًاۗ

“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qasas: 83).

Ini bukan larangan menjadi pemimpin. Islam tidak melarang jabatan atau kekuasaan. Yang dilarang adalah hasrat batin untuk diagungkan, dipuja, dan ditakuti. Jika kekuasaan datang, ia memandangnya sebagai amanah, bukan alat penindasan.

Menariknya, Rasulullah ﷺ justru digambarkan berjalan dengan penuh tenaga dan ketegasan, seakan-akan sedang turun dari tempat tinggi. Ini menunjukkan bahwa tawadhu tidak berarti lemah. Ia adalah perpaduan antara al-‘izzah dan at-tawadhu: berwibawa di hadapan manusia karena iman, dan tunduk sepenuhnya di hadapan Allah karena iman.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah menegur seorang pemuda yang berjalan terlalu lunglai seolah-olah menunjukkan kesalehan. Umar bertanya apakah ia sakit. Ketika dijawab tidak, beliau memerintahkannya berjalan dengan kuat. Pesannya jelas: tawadhu ada di hati, sedangkan fisik tetap menunjukkan kekuatan dan harga diri.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا ثُوِّبَ لِلصَّلَاةِ ( يعني : أقيمت ) فَلَا تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ ، وَأْتُوهَا وَعَلَيْكُمْ السَّكِينَةُ ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا ، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا ؛ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا كَانَ يَعْمِدُ إِلَى الصَّلَاةِ ، فَهُوَ فِي صَلَاةٍ 

“Kalau shalat akan ditunaikan (iqamah), maka jangan mendatanginya dalam kondisi tergesa-gesa. Datangilah sementara anda dalam kondisi tenang. Apa yang anda dapatkan, maka shalatlah dan apa yang anda lewatkan, sempurnakanlah. Karena salah satu diantara kamu semua jika sengaja ke tempat shalat, maka dia dalam shalat. (HR. Bukhari no. 636 dan Muslim no. 602).

Ketenangan adalah ciri mukmin. Bahkan dalam bergegas menuju ibadah, ia tetap menjaga sakinah.

Allah kembali menegaskan:

وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلً

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37).

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia, sekuat apa pun, tetaplah kecil di hadapan ciptaan Allah.

Karakter kedua adalah al-hilm, kesantunan dan kemampuan menahan emosi. Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an surah Al-Furqan ayat 63 seperti dinukil di awal, bahwa:

“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka dengan kata-kata yang menghina, mereka mengucapkan ‘salam’”

Makna “qalu salama” bukan sekadar mengucapkan salam penghormatan, tetapi memilih ucapan yang menyelamatkan, menenangkan, atau bahkan melepaskan diri dari perdebatan yang tidak bermanfaat. Ini adalah cara elegan untuk tidak terjerumus dalam dosa lisan.

Allah juga berfirman:

وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya.” (QS. Al-Qashash: 55).

Sikap ini menuntut ketahanan mental. Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang seseorang yang membalas cacian dengan ucapan damai. Beliau menjelaskan bahwa ada malaikat yang membela orang yang sabar dan tidak membalas hinaan dengan hinaan (HR. Abu Dawud).

Demikian pula dalam ibadah puasa, Rasulullah ﷺ bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa adalah perisai. Maka janganlah berucap kotor dan janganlah bertindak bodoh. Jika ada orang yang mengajaknya bertengkar atau mencacinya, hendaklah ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah mentalitas Ibadurrahman. Mereka tidak membalas api dengan api. Mereka menjaga lisan bahkan ketika tertekan. Mereka memilih kedamaian daripada kemenangan sesaat.

Profil ini mengajarkan bahwa kekuatan seorang mukmin bukan terletak pada kerasnya suara atau tingginya posisi, tetapi pada ketenangan jiwa dan kemuliaan akhlaknya. Tawadhu dalam sikap, izzah dalam prinsip, dan hilm dalam komunikasi.

Di tengah dunia yang kini mudah tersulut emosi, karakter Ibadurrahman adalah oase. Ia menenangkan ruang, menyejukkan percakapan, dan menghadirkan wibawa tanpa kesombongan.[]

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis Anggota Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sumatera Utara, alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, pengasuh kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

Spiritual Endurance, Ramadhan sebagai Maraton Jiwa

DALAM dunia lari jarak jauh, ada satu kualitas yang lebih menentukan daripada kecepatan: endurance. Bukan siapa yang paling cepat di kilometer pertama yang menang, tetapi siapa yang mampu menjaga ritme hingga garis akhir.

Maraton bukan perlombaan eksplosif; ia adalah ujian daya tahan fisik, mental, dan strategi energi. Ramadhan pun bekerja dengan prinsip yang sama. Ia bukan sprint spiritual, melainkan maraton jiwa yang menguji spiritual endurance, ketahanan iman dalam ritme yang panjang dan konsisten.

Setiap awal Ramadhan, kita seperti pelari yang berdiri di garis start dengan semangat tinggi. Target besar ditetapkan, tilawah dilipatgandakan, doa diperpanjang, sedekah diperbanyak.

Secara psikologis, ini adalah fase motivasi intrinsik yang kuat. Namun dalam psikologi kebiasaan, motivasi bukanlah fondasi utama perubahan jangka panjang. Kebiasaan terbentuk bukan oleh lonjakan energi sesaat, melainkan oleh repetisi stabil yang diulang dalam waktu yang cukup lama.

Seorang pelari maraton yang berlari terlalu cepat di awal justru berisiko “kehabisan napas” sebelum separuh jarak. Demikian pula Ramadhan yang dijalani tanpa pengaturan ritme sering kali berakhir dengan kelelahan spiritual di pertengahan bulan.

Spiritual endurance bukan sekadar kemampuan menahan lapar dan haus, tetapi kemampuan menjaga kualitas ibadah dalam konsistensi. Dalam ilmu olahraga, pelari menjaga pace-kecepatan yang stabil dan terukur. Mereka memahami bahwa tubuh memiliki sistem energi aerobik yang dirancang untuk ketahanan, bukan ledakan.

Ramadhan melatih sistem ruhani yang serupa. Puasa harian membentuk pola disiplin yang berulang: sahur sebagai persiapan energi, puasa sebagai kontrol diri, berbuka sebagai pemulihan, tarawih sebagai penguatan. Siklus ini bukan kebetulan, melainkan desain pembentukan daya tahan jiwa melalui struktur yang konsisten.

Dari perspektif psikologi kebiasaan, Ramadhan menyediakan cue–routine–reward loop. Adzan menjadi isyarat, ibadah menjadi rutinitas, dan ketenangan batin menjadi ganjaran. Ketika pola ini dijaga dengan stabil, identitas baru mulai terbentuk. Inilah inti komunikasi perubahan: perubahan yang bertahan bukan sekadar perubahan perilaku, tetapi perubahan identitas.

Seorang pelari maraton tidak lagi sekadar “berlari”, ia melihat dirinya sebagai “pelari”. Begitu pula Ramadhan. Jika seseorang hanya “meningkatkan ibadah selama sebulan”, maka perubahan itu temporer. Tetapi jika ia memaknai dirinya sebagai pribadi yang disiplin, sabar, dan konsisten, maka spiritual endurance mulai tertanam sebagai bagian dari dirinya.

Menariknya, maraton memiliki tiga fase: adaptasi, stabilisasi, dan akselerasi akhir. Ramadhan pun demikian. Hari-hari awal adalah fase adaptasi tubuh dan emosi. Pertengahan bulan adalah fase stabilisasi, ketika semangat awal telah mereda dan konsistensi diuji. Sepuluh malam terakhir adalah fase akselerasi, di mana energi yang tersisa difokuskan pada pencapaian puncak.

Lailatul Qadar ibarat garis akhir yang tidak diberi tanda pasti; ia tersembunyi agar pelari tetap berlari penuh kesadaran hingga akhir.

Dalam teori komunikasi perubahan, keberhasilan transformasi sangat dipengaruhi oleh narasi internal. Jika seseorang memandang Ramadhan sebagai “ujian berat yang harus ditaklukkan di awal”, maka ia cenderung memaksakan intensitas tinggi tanpa perhitungan. Tetapi, jika ia membingkainya sebagai “proses pembentukan endurance”, maka ia akan lebih fokus pada stabilitas daripada spektakel. Narasi ini menentukan kualitas pengalaman spiritual.

Ilmu olahraga juga menunjukkan bahwa ketahanan dibangun melalui akumulasi kecil yang konsisten. Tubuh menjadi kuat bukan karena satu sesi latihan ekstrem, tetapi karena latihan rutin yang terstruktur. Begitu pula jiwa. Satu halaman Al-Qur’an setiap hari yang terjaga lebih membentuk karakter daripada puluhan halaman yang dibaca hanya di awal. Satu sedekah rutin membangun kebiasaan empati lebih kokoh daripada satu kebaikan besar yang lahir dari emosi sesaat.

Spiritual endurance tumbuh dari repetisi yang sabar. Ramadhan, dengan demikian, adalah laboratorium pembentukan daya tahan ruhani. Ia melatih kontrol diri, memperkuat regulasi emosi, dan membangun identitas spiritual melalui pola yang berulang. Ia mengajarkan bahwa perubahan tidak selalu dramatis; sering kali ia sunyi dan bertahap. Seperti pelari maraton yang menjaga napasnya dalam kesenyapan kilometer panjang, seorang mukmin menjaga niat dan ritme ibadahnya dalam konsistensi harian.

Pada akhirnya, keberhasilan Ramadhan tidak diukur dari kecepatan start, tetapi dari kualitas finish. Seorang pelari mungkin memulai perlombaan dengan cepat, tetapi jika ia tidak memiliki endurance, ia akan berhenti sebelum garis akhir. Begitu pula Ramadhan. Spiritualitas yang sejati bukanlah letupan sesaat, melainkan kemampuan menjaga iman dalam perjalanan panjang kehidupan.

Spiritual endurance berarti keluar dari Ramadhan dengan karakter yang lebih stabil, emosi yang lebih terkendali, disiplin yang lebih kuat, dan identitas yang lebih matang. Karena kehidupan setelah Ramadhan jauh lebih panjang daripada tiga puluh hari itu sendiri. Ramadhan hanyalah lintasan latihan. Dan maraton jiwa yang sesungguhnya berlangsung sepanjang hidup.

*) Muh Syahri Sauma, penulis komunikolog dan running enthusiast, dosen, Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Jawa Timur Periode 2020-2023

KH Naspi Arsyad Maknai Bulan Ramadhan sebagai Instrumen Penyatu Idealisme Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, memberi makna di balik bulan suci Ramadhan khususnya pada tradisi buka puasa bersama. Ia menekankan bahwa kegiatan ini mengandung dimensi ruhani yang sangat kuat yang mampu melampaui batas-batas formalitas.

KH Naspi Arsyad menyebut buka puasa sebagai sebuah instrumen penyatu bagi idealisme umat yang terkadang terfragmentasi oleh realitas politik harian.

“Buka bersama adalah merupakan simbol spiritual yang berfungsi menyatukan hati dan idealisme umat Islam secara umum dan tokoh Islam secara khusus dan itu terlihat dari kebersamaan, keakraban, dan suasana yang cair dalam acara buka bersama yang dilakukan oleh kedutaan besar Arab Saudi,” katanya kepada media ini usai mengadiri undangan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Republik Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste di Hotel St. Regis, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Selasa, 6 Ramadhan 1447 (24/2/2026).

Salah satu poin yang ditekankan oleh KH Naspi adalah kemampuan momentum spiritual ini dalam mencairkan residu ketegangan politik. Mengingat Indonesia baru saja melewati perhelatan demokrasi yang besar, kehadiran para tokoh nasional dalam satu meja makan menjadi simbol rekonsiliasi yang nyata.

Ia mengamati bahwa perbedaan pilihan politik di masa lalu seakan kehilangan relevansinya ketika dihadapkan pada ikatan persaudaraan yang lebih tinggi, yaitu ukhuwah imaniah.

“Tentu saja keakraban dan cairnya suasana ini meski boleh saja ketika Pilpres kemarin ada perbedaan atau dalam helatan pesta demokrasi berseberangan. Tapi di acara berbuka puasa bersama tadi semua seakan sirna dan kita dipersatukan dalam satu tali yang sangat kuat, solid, yaitu tali persaudaraan karena iman,” ungkap KH Naspi Arsyad.

KH Naspi memberikan apresiasi yang tinggi kepada pihak penyelenggara. Ia menilai bahwa inisiatif dari Kedutaan Besar Arab Saudi ini bukan sekadar agenda rutin diplomatik, melainkan sebuah momentum krusial bagi konsolidasi pemikiran dan hati para tokoh di Indonesia.

“Yang pertama atas nama DPP Hidayatullah mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Kedutaan Besar Arab Saudi atas helatan buka bersama pada malam hari ini dengan kehadiran atau yang juga dihadiri oleh beberapa tokoh nasional Indonesia serta beberapa duta besar yang ada di Indonesia,” ujar KH Naspi Arsyad.

Naspi memiliki harapan besar agar harmoni yang tercipta dalam acara buka puasa tersebut dapat terus membingkai setiap interaksi antar-pemimpin bangsa di masa depan. Menurutnya, stabilitas nasional dan kemajuan negara sangat bergantung pada bagaimana para tokoh nasional mengelola komunikasi dan hubungan personal mereka.

KH Naspi meyakini bahwa Indonesia saat ini sedang berada pada persimpangan jalan menuju cita-cita besar yang sering digaungkan sebagai “Indonesia Emas”. Namun, beliau memberikan catatan kritis bahwa visi Indonesia Emas, Indonesia yang tangguh, serta bermartabat hanya dapat dicapai apabila seluruh elemen bangsa, terutama para pemegang kebijakan dan tokoh masyarakat, bergerak dalam jalur yang benar on the track. Jalur tersebut, menurut dia, harus didasari oleh fondasi persaudaraan yang kokoh.

“Kita berharap agar suasana seperti ini membingkai semua interaksi para tokoh nasional, tokoh-tokoh bangsa sehingga Indonesia dapat bermetamorfosa atau melangkah dalam jalur yang benar on the track menuju Indonesia emas, Indonesia tangguh, Indonesia bermartabat yang kita yakini tidak akan bisa terwujud kecuali dengan ikatan persaudaraan dan keakraban di antara stakeholder bangsa ini seperti yang dicerminkan dari acara buka puasa bersama tadi,” katanya.

KH Naspi Arsyad menegaskan kembali posisi Hidayatullah sebagai organisasi yang senantiasa mendorong persatuan bangsa. Baginya, pertemuan tokoh seperti ini merupakan mikrokosmos dari Indonesia yang dicita-citakan, yakni sebuah bangsa yang mampu mengesampingkan perbedaan demi kepentingan kolektif yang lebih besar, dipandu oleh nilai-nilai Islam yang luhur.

Ia berharap esensi dari kebersamaan malam itu dapat ditransformasikan ke dalam kebijakan-kebijakan strategis yang membawa kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia menuju masa depan yang lebih bermartabat.

KHUTBAH JUM’AT Mengetuk Pintu Qolbu yang Lalai

0

الحمد لله الحمد لله الذي خلق القلوب وجعل فيها النور لمن أطاعه، والظلمة لمن عصاه…
أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Di dalam dada kita ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh kehidupan kita. Jika ia rusak, maka rusaklah arah hidup kita. Itulah qolbu.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

يَوۡمَ لَا يَنۡفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوۡنَۙ‏ اِلَّا مَنۡ اَتَى اللّٰهَ بِقَلۡبٍ سَلِيۡمٍؕ‏

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)

Betapa sering kita membersihkan wajah, pakaian, dan rumah kita. Namun kapan terakhir kita membersihkan hati kita?

Hati yang dahulu lembut kini menjadi keras. Hati yang dahulu mudah menangis karena ayat-ayat Allah, kini sulit tersentuh.
Dahulu kita takut berbuat dosa, kini dosa terasa biasa.

Ma’asyiral Muslimin,

Hati menjadi keras bukan karena kurangnya harta, bukan karena kurangnya jabatan. Hati menjadi keras karena terlalu sering bermaksiat dan terlalu jarang berdzikir.

Allah ﷻ berfirman:

اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid: 16)

Ayat ini seperti teguran langsung kepada kita.
Belumkah datang waktunya kita berubah?
Belumkah datang waktunya kita berhenti menunda taubat?

Kita sering berkata, “Nanti kalau sudah tua.”
Padahal tidak ada yang tahu apakah kita sampai pada usia tua.

Kematian tidak menunggu kesiapan kita.
Kubur tidak menunggu taubat kita.
Dan Allah tidak pernah lalai dari apa yang kita lakukan.

Ma’asyiral Muslimin,

Ciri hati yang hidup adalah:

  • Mudah tersentuh dengan ayat Al-Qur’an
  • Takut ketika disebut nama Allah
  • Malu ketika berbuat dosa
  • Rindu untuk sujud dan berdoa

Sedangkan hati yang mati:

  • Berat untuk shalat
  • Ringan untuk maksiat
  • Tidak peduli halal dan haram
  • Tidak merasa bersalah ketika menyakiti sesama

Maka hari ini, sebelum kita pulang ke rumah masing-masing, mari kita bertanya pada diri kita:
Bagaimana keadaan hati kita?

Jika hati kita keras, masih ada harapan.
Jika hati kita gelap, masih ada cahaya.
Selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu taubat masih terbuka.

Khutbah Kedua

….الحمد لله رب العالمين

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Jangan pernah merasa terlambat untuk kembali kepada Allah. Bahkan jika dosa kita setinggi langit, rahmat Allah lebih tinggi lagi.

Ingatlah kisah para pendosa yang Allah ampuni karena satu taubat yang tulus.

Ingatlah bahwa Allah lebih bahagia menerima taubat hamba-Nya daripada seorang musafir yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.

Maka mulai hari ini:

Perbaiki shalat kita.
Perbanyak istighfar kita.
Lembutkan hati dengan membaca Al-Qur’an.
Hapus dendam, hilangkan iri, perbaiki hubungan dengan sesama.

Karena yang akan menemani kita di alam kubur bukan jabatan, bukan harta, bukan popularitas — tetapi hati yang bersih dan amal yang ikhlas.

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك
اللهم طهر قلوبنا من النفاق والرياء والحسد
اللهم اختم لنا بخاتمة حسنة

عباد الله….، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى

Aqimish shalah!

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Mu’awiyah dan Kekuatan Visi

0

MU’AWIYAH adalah salah satu sahabat Nabi SAW yang mendapat amanah sebagai penulis Al-Qur’an. Namun ia bukan saja pribadi religius, tapi juga sosok Muslim yang cerdas dan visioner.

Terlepas dari sisi kontroversinya, kita tetap dapat mengambil pelajaran dari putra Abu Sofyan itu. Utamanya kala berbicara tentang kekuatan visi.

Ketika menjadi Gubernur Syam pada era Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra, Mua’wiyah memang sosok yang ingin menjadikan kekuatan Islam unggul dari Bizantium. Salah satu sisi lemah umat Islam di Syam kala itu adalah armada laut. Umat Islam belum mengenal soal laut apalagi angkatan laut.

Sadar akan posisinya yang harus mentaati Amirul Mukminin, Mu’awiyah mengkonsultasikan idenya itu dengan penuh semangat. Namun Umar bin Khattab ra memberikan pertimbangan berbeda. Al-Faruq itu khawatir umat Islam akan kalah, karena memang belum memiliki pengalaman perang di laut.

Singkat cerita, Umar wafat, kemudian masuk era kepemimpinan Utsman bin Affan ra. Sebagai sahabat Umar, Utsman tidak ingin mengambil kebijakan yang berbeda dengan Umar. Sahabat dan menantu Rasulullah SAW itu meminta Mu’awiyah menahan diri.

Mu’awiyah pun menaati dua pemimpinnya itu. Hingga tiba masa, ia menjadi pemimpin umat Islam sebagai khalifah, Mu’awiyah baru merealisasikan idenya itu, membangun armada laut. Ia bahkan sampai pada level mampu mengembangkan angkatan laut dengan mendirikan pabrik pembuatan kapal di Iskandariyah dan Akka (Maroko sekarang).

Sadar akan keterbatasan SDM, Mu’awiyah pun bergerilya merekut tenaga-tenaga terampil yang memahami seluk-beluk dunia maritim.

Melihat Masa Depan

Sekarang mari kita bedah, mengapa Mu’awiyah konsisten dengan ide dan visinya itu?

Pertama, jelas karena Mu’awiyah langsung head to head dengan peradaban lain, yaitu Bizantium. Mu’awiyah langsung merasakan hawa pertempuran jangka panjang. Ia berpikir kalau umat Islam kalah secara armada laut, maka pengembangan Islam ke wilayah lain akan terhambat.

Kedua, Mu’awiyah memandang bahwa demi dakwah yang lebih luas, maka langkah-langkah relevan pada masa itu mendesak untuk dilakukan. Ia tidak bisa menggunakan cara berpikir kala masih di Makkah atau Madinah dalam memandang kemajuan dakwah.

Ini memberikan ibrah kepada kita bahwa cara berpikir harus semakin progresif. Meski demikian sistem nilai dalam kepemimpinan Islam tetap kita junjung tinggi.

Kemajuan

Hasil dari visi Mu’awiyah akhirnya membuahkan kemenangan. Umat Islam bisa melakukan futuhan ke Mediterania, seperti Siprus, Arwad, hingga Rhodes. Kota-kota itu kemudian menjadi benteng pertahanan maritim umat Islam dalam menghadapi ancaman angkatan laut Bizantium.

Fakta sejarah ini penting menjadi inspirasi bagi kaum muda Islam hari ini untuk memiliki visi yang menjawab tantangan dakwah dan kemajuan umat.

Jangan takut memiliki visi, jangan lelah mengawal visi dan terus kobarkan semangat mewujudkannya. Jika Mu’awiyah bisa pada masanya, maka sebenarnya dengan izin Allah siapapun dari umat ini bisa untuk melakukannya. Hanya memang butuh kekuatan sistem kesadaran Islam pada dada dan pikirannya.*

Mas Imam Nawawi

Ketua Umum DPP Hidayatullah Hadiri Undangan Buka Puasa Bersama Kedutaan Besar Arab Saudi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, menghadiri undangan acara buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Republik Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste di Hotel St. Regis, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Selasa, 6 Ramadhan 1447 (24/2/2026).

Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Syaikh Faisal bin Abdullah Amodi, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Founding Day atau Hari Berdirinya Arab Saudi yang diperingati setiap 22 Februari.

“Selain mengadakan iftar bersama, kegiatan ini juga merupakan rangkaian dari Founding Day atau hari berdirinya Arab Saudi yang diperingati pada 22 Februari,” kata Syaikh Faisal.

Dalam kesempatan itu, Faisal turut menyampaikan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa kepada umat Islam di Indonesia.

“Dalam bulan suci ini beliau menyampaikan selamat menunaikan ibadah puasa kepada umat Islam di Indonesia. Semoga kita semua dalam keadaan sehat walafiat dan dapat menjalankan ibadah puasa dengan lancar dan aman,” ujarnya.

KH Naspi Arsyad memberi apresiasi kepada pihak penyelenggara. Ia menilai bahwa inisiatif dari Kedutaan Besar Arab Saudi ini bukan sekadar agenda rutin diplomatik, melainkan sebuah momentum krusial bagi konsolidasi pemikiran dan hati para tokoh di Indonesia.

“Yang pertama atas nama DPP Hidayatullah mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Kedutaan Besar Arab Saudi atas helatan buka bersama pada malam hari ini dengan kehadiran atau yang juga dihadiri oleh beberapa tokoh nasional Indonesia serta beberapa duta besar yang ada di Indonesia,” ujar KH Naspi Arsyad kepada media ini.

Lebih lanjut, KH Naspi menekankan bahwa kegiatan ini mengandung dimensi spiritual yang sangat kuat yang mampu melampaui batas-batas formalitas. Beliau menyebut buka puasa sebagai sebuah instrumen penyatu bagi idealisme umat yang terkadang terfragmentasi oleh realitas politik harian.

“Buka bersama adalah merupakan simbol spiritual yang berfungsi menyatukan hati dan idealisme umat Islam secara umum dan tokoh Islam secara khusus dan itu terlihat dari kebersamaan, keakraban, dan suasana yang cair dalam acara buka bersama yang dilakukan oleh kedutaan besar Arab Saudi,” jelasnya.

Baginya, pertemuan di Hotel St. Regis tersebut merupakan mikrokosmos dari Indonesia yang dicita-citakan, yakni sebuah bangsa yang mampu mengesampingkan perbedaan demi kepentingan kolektif yang lebih besar, dipandu oleh nilai-nilai spiritualitas yang luhur.

Ia berharap esensi dari kebersamaan malam itu dapat ditransformasikan ke dalam kebijakan-kebijakan strategis yang membawa kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia menuju masa depan yang lebih bermartabat.

Membangun Sistem Kesadaran dalam Ramadhan

0

RAMADHAN telah datang berulang kali dalam kehidupan sebagian besar umat Islam. Jika urusan Ramadhan sebatas ibadah mahdhah, maka target Ramadhan dari Allah SWT, agar kita menjadi orang bertakwa bisa jadi akan sulit kita capai. Wajar jika kemudian Majalah Hidayatullah pernah mengangkat tema “Idul Fitri Jangan Ternodai” (lihat edisi Mei 2020/Ramadhan 1441 H).

Dalam kata lain, banyak orang yang lulus Ramadhan kehilangan arah dan orientasi hidup. Dan, tulisan kali ini hadir untuk kita lebih bertenaga dalam Ramadhan, utamanya untuk membangun sistem kesadaran.

Secara sederhana sistem kesadaran bisa kita maknai sebagai struktur internal dalam diri seseorang. Struktur itu kemudian mengatur cara seseorang memahami realitas, menilai benar-salah, dan mengambil keputusan berdasarkan ilmu dan iman. Jadi, ia hidup apalagi dalam Ramadhan bukan sekadar tahu yang benar. Sistem kesadaran adalah cara berpikir yang terorganisir sehingga kebenaran menjadi pola tetap, bukan kebetulan.

Untuk memahami lebih lanjut ada ilustrasi yang bisa kita jadikan jembatan. Bayangkan dua orang sama-sama tahu bahwa korupsi itu salah. Yang satu tetap korupsi ketika ada kesempatan. Yang satu tidak. Bedanya bukan pada pengetahuan. Bedanya pada sistem kesadaran. Pada yang kedua, nilai kebenaran sudah terintegrasi dalam struktur batinnya. Ia otomatis aktif saat diuji.

Dalam makna yang lain, jika masalah bangsa ini adalah korupsi yang belum teratasi, sementara sebagian pejabatnya beragama Islam, maka Islam sebagai way of life belum menjelma sebagai sistem kesadaran dalam diri mereka. Dan, ini adalah tantangan tidak ringan bagi umat Islam.

Hamba dan Ramadhan

Dalam Al-Qur’an, Surah Adz-Dzariyat ayat ke-56 Allah menegaskan bahwa tujuan manusia dihadirkan ke muka bumi ini untuk beribadah. “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”

Ibadah jangan kita maknai secara sempit, sebagai amalan ritual berupa shalat semata. Ibadah adalah ruang kita mendedikasikan diri untuk mendapat ridha Allah. Dan, ini adalah aspek ontologis bagi umat Islam untuk menyadari siapa sebenarnya jati dirinya, untuk apa manusia hadir dalam kehidupan dunia ini.

Nah, dalam Ramadhan kita berada pada momentum paling baik untuk menguatkan kesadaran sebagai makhluk yang harus totalitas beribadah kepada Allah SWT. Secara situasi dan kondisi Ramadhan memungkinkan siapapun untuk mudah beribadah. Dan, karena ibadah tidak bermakna sempit, maka berpikir, merenung, juga bagian dari ibadah yang penting kita lakukan. Supaya kita bisa memiliki sistem kesadaran lebih kokoh.

Kemudian interaksi dengan Al-Qur’an, Ramadhan sangat mudah kita upayakan. Namun, idealnya setiap Muslim bisa membaca Al-Qur’an sekaligus membaca ayat-ayat Allah dalam wujud alam semesta ini, sehingga kita bisa sampai pada level Ulul Albab. Ulul Albab ini adalah bentuk konkret dari Muslim yang telah kokoh dalam hal sistem kesadaran.

Punya Arah dan Komitmen

Berbicara sistem kesadaran Islam memiliki banyak figur yang bisa kita jadikan teladan. Contoh paling populer, Umar bin Khattab ra. Ketika ia memimpin umat Islam, Al-Faruq itu memilih hidup sangat sederhana. Ia bahkan memilih tidur di bawah pohon kurma. Itu bukan untuk pencitraan, tapi itu buah dari sistem kesadaran dalam dirinya yang memang Umar ingin seutuhnya meneladani Nabi Muhammad SAW.

Suatu waktu Umar memang mendapati Nabi tidur beralaskan pelepah daun kurma. Karena itu ketika bangun, pada punggung Nabi SAW terdapat bekas pelepah daun kurma itu. Menyaksikan itu Umar menangis. Namun Nabi SAW memberikan satu sistem nilai kepada Umar, bahwa tidak perlu sedih kalau akhir dari semua itu adalah ridha Allah.

Alhasil dalam memimpin Umar tidak mau kemewahan melekat pada pikirannya apalagi pada tubuhnya. Ia bahkan melarang Abdullah, putranya untuk memanfaatkan celah sekecil apapun untuk mengambil manfaat duniawi karena selama ia memimpin.

Pernah suatu hari Umar melihat unta-unta yang besar dan gemuk di dekat pasar. Umar pun menyelidiki, punya siapa itu. Ternyata itu milik putranya Abdullah. Mendengar itu, Umar langsung memanggil Abdullah, menyuruh untuk segera menjual unta-unta itu lalu ambil modalnya, selebihnya kembalikan ke Baitul Maal negara.

Mengapa Umar bisa komitmen dan konsisten dalam menegakkan nilai-nilai Islam, jawabannya adalah sistem kesadaran dalam dirinya memang telah tumbuh dan kokoh atas nilai, cahaya dan nafas Al-Qur’an.

Dalam kata yang lain, kalau hari ini masih banyak umat Islam yang enggan beribadah, malas berbuat baik, masih egois dan tidak mau mendekati Al-Qur’an untuk menjadi lebih baik keimanannya dan amal shalehnya, maka yang harus segera kita lakukan adalah membangun sistem kesadaran sebagai Muslim yang bervisi peradaban. Peluang itu sangat terbuka selama Ramadhan ini. Maka, berjuanglah!*

Mas Imam Nawawi

Regenerasi Juru Dakwah, Hidayatullah Sumut Berangkatkan Da’i Muda ke Desa Terpencil

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sumatera Utara, Syukron Khoiri Nasution, menyampaikan bahwa tujuan penugasan da’i muda secara garis besar adalah melakukan regenerasi juru dakwah, menyebarkan nilai-nilai Islam serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan dalam prosesi pelepasan 21 Da’i Muda Membangun yang diberangkatkan untuk menjalankan tugas dakwah Ramadhan di wilayah Kabupaten Deli Serdang di depan Masjid Agung Al-Akbar Pondok Pesantren Hidayatullah Medan pada Senin, 5 Ramadhan 1447 (23/2/2026).

Sementara itu, Syukron Khoiri Nasution menegaskan orientasi besar dari program ini dalam kerangka kaderisasi dakwah.

“Tujuan penugasan da’i muda secara garis besar adalah untuk melakukan regenerasi juru dakwah, menyebarkan nilai-nilai Islam yang wasathiyah, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, khususnya di era digital,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa para da’i muda dilatih untuk menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar melalui pendekatan yang santun dan penuh hikmah. Menurutnya, para da’i muda diharapkan mampu menjadi teladan akhlak mulia, terutama bagi kalangan remaja dalam dinamika pergaulan modern.

Menurutnya, program pengiriman 21 Da’i Muda Membangun ini menjadi bagian dari agenda dakwah Ramadhan untuk memperluas jangkauan pembinaan keagamaan di wilayah yang membutuhkan. Penempatan di sepuluh masjid di Kabupaten Deli Serdang dilakukan untuk memastikan distribusi pembinaan yang merata di desa-desa yang relatif jauh dari pusat kota.

Kegiatan ini menandai keberlanjutan komitmen Hidayatullah Sumatera Utara dalam membina generasi muda melalui pengalaman langsung di tengah masyarakat. Melalui program tersebut, para siswa tidak hanya menjalankan peran dakwah, tetapi juga mendapatkan pengalaman sosial yang menjadi bagian dari proses pembentukan kepemimpinan dan karakter.

Para da’i muda yang diberangkatkan merupakan siswa Madrasah Aliyah Hidayatullah Tanjung Morawa. Mereka akan ditempatkan di 10 masjid berbeda yang tersebar di wilayah Kabupaten Deli Serdang dan akan menetap di masjid-masjid tersebut selama bulan Ramadhan.

Penugasan para da’i muda ini meliputi tugas sebagai imam shalat tarawih dan shalat subuh, penyampaian kultum tarawih, serta pengajaran Al-Qur’an bagi anak-anak TPA dan TPQ di masing-masing lokasi penempatan.

Program ini dilaksanakan untuk memenuhi permintaan masyarakat desa-desa pelosok yang membutuhkan pembinaan keagamaan selama Ramadhan. Kehadiran para da’i muda diharapkan dapat menghidupkan suasana ibadah di wilayah yang relatif jauh dari pusat aktivitas dakwah.

Kegiatan pelepasan tersebut dilakukan oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Isa Abdul Barri. Dalam sambutannya, Ustadz Isa Abdul Barri menyampaikan pesan pembinaan kepada para da’i muda.

“Penugasan ini adalah sebagai ajang latihan kalian untuk menjadi pemimpin masa depan. Oleh karena itu nikmati tugas ini dan laksanakan dengan sebaik-baiknya. Pesan saya, jagalah akhlaq kalian, bersikaplah tawadhu’, dan sering-sering bersilaturrahmi kepada para orangtua dan tokoh masyarakat yang ada di sana,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa selain menjalankan tugas sesuai tanggung jawab, para da’i muda perlu belajar bermasyarakat dan bersosialisasi karena kelak akan hidup di tengah masyarakat.

Ngabuburit Bareng Gen Alpha

0

DIAM DIAM sebuah generasi mulai membesar populasinya. Ya, itulah Gen Alpha. Sebagaimana diketahui, generasi ini lahir antara tahun 2011 sampai 2025 kemarin. Gen Alpha tertua berusia sekitar 15-16 tahun. Sementara termudanya adalah bayi dengan kisaran usia 0-1 tahun.

Gen Alpha sudah mulai banyak dibahas. Memang bahasannya belum sebanyak Gen Z. Akan tetapi lambat laun bahasan Gen Alpha bisa melesat jauh, meninggalkan aneka topik seputar Gen Z. Karena sebentar lagi Gen Alpha memasuki usia produktif kerja. Estimasinya 5 tahun lagi.

Oleh karena itu generasi senior, apapun tingkatannya, sudah perlu untuk benar-benar memperhatikan Gen Alpha. Karakteristik, potensi kebaikan, dan sisi lemah mereka merupakan tiga hal penting yang mesti dikuasai mendalam oleh generasi senior. Agar potensi kebaikan mereka tumbuh, di saat bersamaan sisi lemah mereka bisa dikuatkan bersama.

Pertama, Gen Alpha lahir di saat teknologi digital sudah matang. Dari sini sudah gampang ditebak bahwa perilaku kebanyakan mereka tidak bisa lepas dari piranti digital, software plus hardware-nya. Sehingga generasi senior diharap maklum, betapa handphone sudah jadi bagian melekat untuk Gen Alpha. Berikutnya sinyal jadi kebutuhan pokok mereka, hampir mengalahkan nasi.

Kedua, Gen Alpha tentu tidak seperti generasi senior menyangkut kedekatan dengan alam. Gen Alpha lebih suka di ruangan dengan gawainya. Hampir tidak ada di handbook Gen Alpha itu main di sungai atau panas-panasan mengejar layangan. Sehingga wajar jika beberapa penyakit mudah menyerang.

Ketiga, karena kurang terlatih akrab dengan alam, Gen Alpha memiliki emosi yang relatif lebih lemah ketimbang generasi senior. Mereka mudah cemas. Akhirnya sulit bagi mereka berkolaborasi satu sama lain. Setelah lama bergaul, mungkin kolaborasi baru bisa terbangun.

Keempat, Gen Alpha lahir di saat makanan sudah saling silang secara global. Di saat bersamaan makanan lokal mulai meredup. Di sisi lain generasi senior juga mulai tergoda untuk setia pada makanan luar. Akhirnya bisa ditebak, Gen Alpha lebih banyak memilih makanan luar. Persoalannya kadang makanan luar sudah dimodifikasi gizinya. Dengan alasan ekonomis, bahan-bahan aslinya yang bergizi tinggi diganti dengan bahan-bahan lain bergizi rendah namun jauh lebih murah.

Nah, dari keempat ulasan tersebut, tergambarlah ngabuburit model apa yang cocok untuk Gen Alpha.

Kenapa ngabuburit? Simpel, karena ngabuburit itu momen yang menyenangkan bagi kebanyakan orang berpuasa. Buka puasa terasa sangat dekat. Hidangan dan keseruannya sudah terasa menggoda.

Nah di momen menyenangkan ini bolehlah orangtua, sebagai generasi senior yang paling dekat dengan Gen Alpha, merancang kegiatan-kegiatan yang bermanfaat buat Gen Alpha.

Aktivitas1: Keluar

Sangat disarankan untuk Gen Alpha keluar rumah. Mungkin mereka diajak mencari takjil, atau dimintai tolong ke warung/toko untuk membeli kebutuhan rumah. Alternatif lainnya adalah mengantarkan takjil ke tetangga sebelah, semoga jadi jalan sosialisasi.

Aktivitas2: Memasak

Gen Alpha bagus untuk diajak memasak bersama. Bahan-bahan makanan dikenalkan, semoga jadi jalan pengetahuan tentang real food. Berikutnya nutrisi dibincangkan. Catatan kepada generasi senior, tolong tidak panjang lebar menceramahi Gen Alpha. Cukup mereka dipancing dengan kata-kata, “Coba aja searching di handphone…”

Aktivitas3: Tadarus

Satu ide yang perlu dipertimbangkan adalah tadarus online bersama teman sekelas, semoga jadi jalan kolaborasi kebaikan.

Aktivitas4: Ditugasi

Generasi senior pura-pura minta tolong kepada Gen Alpha tentang gawai, semisal mencari teks hadits di internet. Ini ikhtiar agar mereka belajar secara tidak langsung.

Aktivitas5: Bukber

Dalam hal ini boleh antarorangtua bersinergi agar terselenggara bukber aman dan inspiratif. Orangtua mengawasi dari jauh saja. Apabila orangtua ikut duduk campur Gen Alpha, bisa ditebak akhir kisah bukbernya.

Di atas segalanya, doa dan kesabaran orangtua jadi kunci utama untuk Gen Alpha bertumbuh optimal. Kedekatan orangtua dengan Allah ta’ala terus dijalin. Komunikasi dua arah antara orangtua dengan anak juga dibangun.

Ngabuburit jadi asyik, inspiratif, dan edukatif buat Gen Alpha. Puasa dan ibadah-ibadah lainnya senantiasa mereka rindukan, selangkah lagi menuju kerinduan hakiki kepada Allah Sang Pencipta.

Wallah a’lam.

*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah