DUNIA tak pernah statis. Sejarah dan realitas kekinian menunjukkan bahwa peradaban manusia selalu datang silih berganti. Peristiwa perang Iran memunculkan spekulasi bahwa tatanan dunia baru akan segera terbentuk, terlepas dari siapa yang unggul.
Dalam konteks tersebut, pandangan Ibn Khaldun tentang siklus peradaban terasa semakin relevan, terutama jika dibandingkan dengan tesis Francis Fukuyama yang menyatakan bahwa peradaban Barat merupakan akhir sejarah manusia melalui bukunya, “The End of History and the Last Man”.
Pertanyaan berikutnya, mungkinkah Amerika Serikat akan tetap dominan dalam konflik ini?
Jika melihat dinamika yang berkembang, muncul indikasi bahwa Iran memiliki daya tahan militer dan kesiapan konflik yang cukup tinggi. Kemampuan Iran merespons serangan menunjukkan bahwa konflik ini tidak berjalan satu arah.
Di sisi lain, jika dilihat dari aspek politik domestik, publik global melihat bahwa Trump menghadapi tantangan dalam membangun konsensus politik domestik. Pada saat yang sama pemimpin Iran tidak mengalami tekanan semacam itu.
Isu penolakan opsi perang terhadap Iran selain menjadi aspirasi sebagian besar warga negara AS, keputusan perang itu sendiri tak melalui mekanisme yang seharusnya melibatkan persetujuan kongres. Dalam kata yang lain secara internal Trump lebih problematik daripada pemimpin Iran, terutama secara politik domestik.
Pada saat yang sama, dinamika di tingkat aliansi juga menunjukkan gejala yang menarik. Spanyol, sebagai sekutu AS di Eropa, mengambil posisi berbeda dengan Trump.
Alhasil, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menolak keinginan Trump menjadikan pangkalan militer Spanyol, yaitu Pangkalan Angkatan Laut Rota dan Pangkalan Angkatan Udara Morón, sebagai basis dalam operasi militer melawan Iran. “Not to war,” tegas Sanchez.
Sikap Sanchez ini seakan menjadi tanda bahwa pengaruh AS bahkan di kalangan sekutunya, mulai kendur dan bahkan pudar. Jika ini gagal diatasi, maka perpecahan aliansi penting ini sudah sampai pada ajalnya.
Jika Amerika Serikat mengalami pelemahan dalam konflik ini, maka dampaknya tidak hanya bersifat militer, tetapi juga ekonomi dan geopolitik. Spekulasi dominasi Barat memudar pun akan semakin kuat. Setidaknya bermula dari dua hal. Pertama, sisi ekonomi.
Sangat mungkin mata uang dunia akan bergeser dari Dollar ke Yuan. Kondisi seperti itu tentu akan melemahkan kekuatan AS sendiri dalam banyak aspek kehidupan.
Kedua, dunia akan memandang bahwa kalahnya AS adalah babak baru munculnya dominasi baru di tingkat global. Pertanyaannya nilai apa yang akan mendominasi itu? Apakah otomatis Iran akan menjadi super power baru?
Peradaban Baru
Dalam konstalasi peradaban besar, dunia hari ini memandang setidaknya ada tiga, yaitu Islam, Barat dan Komunis. Kalau kita cermati, komunis sudah lama tumbang, meski masih menyisakan residu.
Sedangkan Barat, sepertinya sedang dalam kondisi “sakaratul maut”. Tinggal satu lagi, yaitu Islam. Peradaban Islam terakhir kali runtuh kala Khilafah Utsmaniyah jatuh pada 1924. Kini telah memasuki masa 100 tahun berlalu dan Islam belum tampil sebagai peradaban yang dominan.
Jika konflik ini benar-benar melemahkan dominasi Barat, pertanyaan berikutnya bukan hanya siapa yang menang, tetapi nilai dan peradaban apa yang siap mengisi ruang yang kosong. Apakah Islam akan kembali tampil sebagai peradaban yang mewarnai dunia?
Peradaban Islam akan tampil kembali jika ada pemimpin dan masyarakat yng memiliki kecintaan kepada ilmu pengetahuan dengan tulus dan jujur. Kalau meminjam pandangan Malik Bin Nabi, peradaban itu akan bangkit kalau ada kepemimpinan ruh.
Hanya dengan kepemimpinan ruh sebuah peradaban akan terhindar dari noda-noda moral. Kemudian yang mengembangkan nilai dan pengaruh peradaban itu sendiri adalah akal.
Jika syarat kebangkitan peradaban adalah ruh dan akal, maka pertanyaan praktisnya: siapa yang mulai menyiapkannya dari sekarang?
Tentu kita tidak perlu terburu-buru mencari jawaban, bangsa dan negara mana dari umat Islam yang telah sampai pada kekuatan ruh dan akal itu. Akan tetapi, itulah dua syarat yang harus segera umat Islam miliki, jika ingin peradaban Islam kembali memimpin dunia.
Namanya memimpin, tentu saja mesti ada keunggulan, ruh dan akal. Itulah yang harus diasah terus menerus sampai lahir generasi yang kompeten, mumpuni, dan siap mewujudkan peradaban Islam dalam kehidupan nyata.
Dalam konteks Indonesia, apakah negara mampu melakukan ini? Atau, inilah kesempatan gerakan Islam untuk segera siaga menyiapkan diri?
Napas Panjang
Menyadari penjelasan tersebut, perjalanan munculnya peradaban baru masih memerlukan napas panjang. Tidak ada istilah otomatis apalagi cepat dalam hal jatuhnya satu peradaban yang disusul atau digantikan oleh peradaban lainnya.
Oleh karena itu, perang Iran ini harus menjadi alarm bagi segenap umat Islam untuk melakukan konsolidasi secara intens dan berkelanjutan.
Dalam konteks peradaban, sebuah bangsa atau negara perlu mengorkestrasi keunggulan pada semua sisi. Tidak cukup hanya politik dan militer, tetapi juga spiritual dan ilmu pengetahuan, sebagaimana pandangan Malik Bin Nabi. Pertanyaan yang lebih dalam, bagaimana dengan umat Islam di Indonesia?
Kita tentu saja harus memandang dengan optimisme dan melakukan berbagai persiapan moral dan intelektual secara sungguh-sungguh. Umat Islam di Indonesia mesti menyiapkan konsep, gagasan, bahkan roadmap untuk masa depan dunia ke depan.
Sejauh hasil dari semua itu memang ilmiah dan bisa diterima secara universal dengan basis data dan argumen yang kokoh, dunia akan menerima. Bahkan boleh jadi dunia sudah lama menantikan itu.
Apakah yang dimaksud itu? Itu bisa bermakna ekonomi yang berkeadilan, politik yang berkadaban, serta kekuasaan yang berhati nurani.
Itulah yang harus jadi kesadaran dan konsentrasi kita ke depan. Agar ketika perang usai, nilai baru telah siap kita susun dan tawarkan.[]
MENGAPA umat Islam sibuk tapi tidak menentukan? Salah satu penyebabnya adalah lemahnya tradisi berpikir peradaban di kalangan umat Islam.
Berpikir peradaban adalah upaya membangun tradisi intelektual untuk mewujudkan sistem nilai Islam dalam kehidupan sosial secara konkret.
Tujuannya, bukan untuk nostalgia, melainkan untuk menjawab krisis global kontemporer, baik dalam aspek moral, lingkungan, maupun kemanusiaan.
Dalam konteks geopolitik global saat ini, konflik antarnegara sering kali tidak menawarkan solusi peradaban. Perlahan mari berpikir sejenak, apa yang akan Amerika tawarkan kepada dunia andaikata Iran kalah.
Bagaimana juga Iran akan memberikan tawaran solusi bagi dunia kalau pun negeri para mullah itu menang. Publik menilai bahwa konflik antara Amerika, Iran, dan Israel menunjukkan keterbatasan pendekatan militer dalam menyelesaikan problem global.
Oleh karena itu, merespon situasi yang berkembang tersebut, mesti ada sebagin dari umat ini yang bergerak sesuai visi, kapasitas dan peluang kontribusi konkretnya kepada dunia benar-benar diupayakan.
Artinya, sekarang ini, diperlukan aktor-aktor intelektual dalam umat Islam yang mampu menawarkan solusi berbasis nilai, bukan kekuatan militer.
Nah, dalam konteks gerakan Islam kontemporer, organisasi seperti Hidayatullah memiliki peluang strategis.
Hidayatullah dengan visi membangun peradaban Islam, sudah semestinya segera melakukan rekonsiliasi bagaimana eksistensinya memberi manfaat bagi bangsa dan dunia dengan menawarkan nilai-nilai peradaban yang diusung selama ini.
Cara Berpikir Ibn Khaldun
Salah satu rujukan penting dalam membangun tradisi berpikir peradaban adalah Ibn Khaldun. Sekarang mari kita perhatikan, mengapa orang merasa perlu membuka pemikiran Ibnu Khaldun, seorang ilmuwan dan pemikir besar abad ke-14 M. Hal itu karena dia dikenal luas dengan kontribusinya dalam bidang sejarah, sosiologi, ekonomi, dan politik.
Dalam karya monumentalnya, Muqaddimah, ia mengemukakan teori peradaban yang mengintegrasikan konsep-konsep kekuasaan, ekonomi, moralitas, dan solidaritas sosial (‘asabiyyah), yang memberikan pemahaman mendalam tentang dinamika masyarakat dan peradaban.
Kalau kita mau meminjam pemikiran Ibn Khaldun, maka sebagai sebuah usulan menjaga peradaban dunia tetap eksis dengan nilai yang seharusnya. Idealnya ada dari umat ini yang menawarkan pendekatan berbasis nilai, bukan dominasi kekuatan (baca militer).
Soal Amerika, Israel dan Iran sudah terlanjur basah dalam arena peperangan, itu hal lain. Akan tetapi sebagai kontribusi pemikiran, langkah ini penting. Sebab perang akan berlalu. Kalau dunia terkuras fokusnya pada perang, maka kita harus menyiapkan fokus pada tatanan nilai peradaban yang menjawab krisis besar ini.
Dalam kata yang lain berpikir peradaban artinya kita punya fokus pada apa yang substansi, bukan pada apa yang sedang menjadi tren dan sensasi. Prinsip ini sejalan dengan konsep Al-Qur’an yang mengharuskan kita fokus pada yang esensial.
“Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (QS. Ar-Ra’d: 17).
Implementasikan Iqra’ Bismirabbik
Dalam kerangka epistemologi Islam, Hidayatullah mengenal surah Al-‘Alaq sebagai basis membangun kesadaran Muslim. Ayat pertama isinya sangat tegas; Iqra’ bismirabbik!.
Perintah itu semestinya menjadi agenda implementasi paling mendasar dalam kelangsungan kiprah kader dan jamaah. Pertanyaannya bagaimana caranya?
Pertama, mulai membangun tradisi membaca dan menulis secara intens. Langkah ini penting agar ada yang namanya ketangguhan berpikir.
Dalam konteks Iran melawan AS dan Israel, kita dapat mengkap apa yang namanya resiliensi intelektual. Kita tahu Iran adalah negara yang memiliki tradisi berpikir filsafat sangat baik. Bahkan kini mampu menjawab tantangan militer dari Amerika sekalipun.
Kedua, membangun forum-forum ilmiah yang merangsang kesadaran akan visi segenap kader dan jamaah semakin kokoh dalam memahami manhaj gerakan. Dengan begitu akan lahir satu superioritas yang kuat dalam hal visi dan nilai.
Penulis peradaban dari Hidayatullah, Suharsono Darbi, sering memberikan ilustrasi bahwa masyarakat yang superior akan memberi warna kepada masyarakat yang inferior. Begitu pun dalam hal peradaban. Dan dalam perspektif sosiologi peradaban, masyarakat yang memiliki keunggulan intelektual cenderung mendominasi yang lain.
Membuktikan hal itu, bisa kita cek sejarah Indonesia. Ketika Belanda datang ke Indonesia dengan kemajuan teknologi dan militer, maka bangsa ini menjadi inferior. Bukan karena secara ideologi bangsa ini kalah unggul secara nilai, tapi karena memang belum memiliki kesataraan intelektual dalam hal militer, teknologi, bahkan peradaban itu sendiri.
Dan, kalau merujuk pada pemikiran Ibn Khaldun, maka tugas kita sekarang adalah bagaimana memiliki pemahaman mendalam dan utuh tentang konsep-konsep kekuasaan, ekonomi, moralitas, dan solidaritas sosial (‘asabiyyah).
Dengan cara seperti itu, kita tidak sekadar menonton perang yang terjadi, tapi kita juga menyiapkan roadmap kesadaran berpikir bangsa Indonesia bahkan masyarakat dunia dengan tradisi berpikir peradaban yang kita perjuangkan. Tanpa tradisi berpikir peradaban, umat hanya akan menjadi penonton dalam dinamika global.[]
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Pembinaan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Iwan Abdullah, M.Si, secara resmi menutup Program Dakwah Pedaalaman Ramadhan 1447 Hijriah pada Jum’at (20/3/2026). Penutupan ini dilaksanakan bertepatan dengan berakhirnya seluruh rangkaian agenda pengabdian dai di berbagai penjuru nusantara selama bulan suci.
Dalam keterangannya, Iwan Abdullah memaparkan laporan jangkauan dakwah dalam membina umat selama bulan suci melalui sinergi Hidayatullah antarwilayah.
Berdasarkan data yang dihimpun secara nasional dari berbagai titik pengabdian, total layanan dakwah yang telah terealisasi mencapai angka 9541 aktivitas. Capaian ini mencakup berbagai instrumen pembinaan ibadah dan literasi keagamaan yang tersebar secara merata dari wilayah barat hingga timur Indonesia.
Tercatat bahwa para dai telah menyelenggarakan 1234 sesi kultum subuh dan 4132 sesi kultum tarawih di masjid-masjid pelayanan yang menjadi basis pembinaan jamaah. Selain itu, peran aktif para kader dalam memimpin ibadah terlihat dari partisipasi 3665 imam tarawih yang bertugas secara konsisten sepanjang bulan Ramadhan.
“Keberhasilan akumulatif sebanyak 9541 layanan yang terdata ini merupakan indikator empiris atas efektivitas mobilisasi dai Hidayatullah dalam merespons kebutuhan spiritual publik yang sangat tinggi selama bulan suci,” kata Iwan.
Peningkatan frekuensi kultum tarawih hingga mencapai angka 4132 sesi merefleksikan bahwa penetrasi nilai-nilai keislaman telah mencapai titik jangkauan yang luas dan inklusif di berbagai lapisan demografis masyarakat.
Secara substansial, kata dia, fenomena ini menjadi basis fundamental bagi Departemen Pembinaan DPP Hidayatullah untuk memformulasikan stratifikasi program dakwah berkelanjutan pasca Ramadhan agar kualitas spiritualitas umat dapat terakomodasi secara sistemik dan institusional.
Lebih lanjut, laporan tersebut menonjolkan beberapa wilayah dengan aktivitas dakwah yang sangat dinamis. Kalimantan Timur tercatat sebagai wilayah dengan partisipasi tertinggi, yang menyumbangkan 438 kultum subuh serta 1889 sesi kultum tarawih. Di wilayah lain, Sumatera Utara melaporkan pelaksanaan 53 sesi kultum tarawih yang didukung oleh 53 imam tarawih untuk melayani jamaah setempat.
Di wilayah timur Indonesia, Papua Tengah turut berkontribusi secara stabil dengan menyelenggarakan 12 sesi kultum tarawih dan melibatkan 12 imam tarawih dalam pelayanan mereka. Sementara itu, Sulawesi Tenggara mencatat aktivitas yang cukup masif dengan 231 sesi kultum tarawih.
Iwan Abdullah juga mengapresiasi kesiapan para dai dalam menyambut hari kemenangan, di mana sebanyak 472 khatib Idul Fitri telah disiapkan untuk melayani masyarakat di berbagai lapangan dan masjid.
Mengakhiri keterangannya, Iwan menekankan bahwa data layanan selama Ramadhan yang sempat tercatat ini tidaklah seberapa dibanding dengan besarnya kebutuhan umat dan luasnya tantangan sebaran wilayah yang ada.
Sehingga, dia mendorong penguatan komitmen dalam melakukan pembinaan umat yang berkelanjutan, terukur, dan berdampak luas bagi kemaslahatan bangsa. Program ini diharapkan dia menjadi modalitas sosial dan spiritual bagi pembangunan masyarakat di masa depan.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan Pesan Akhir Ramadhan dan 1 Syawal Idulfitri 1447 Hijriah pada Jum’at, 20 Maret 2026. Dalam pesannya, ia menegaskan pentingnya menjadikan Ramadhan sebagai medium penyucian jiwa tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi kehidupan bangsa secara kolosal.
Naspi Arsyad menyatakan bahwa Ramadhan menghadirkan proses pembinaan spiritual yang terstruktur melalui ibadah puasa, zakat, dan peningkatan amal sosial, yang secara sistemik membentuk karakter masyarakat yang lebih disiplin, empatik, dan bertanggung jawab.
“Ramadhan yang telah kita lalui harus dimaknai sebagai momentum penyucian jiwa bangsa, bukan hanya pengalaman ritual pribadi kita secara individu, tetapi fondasi moral bagi kehidupan bernegara,” ujarnya dalam keterangannya kepada media ini di Jakarta.
Ia menekankan bahwa nilai-nilai yang dilatih selama Ramadhan seperti pengendalian diri, kepedulian sosial, dan kejujuran, memiliki relevansi langsung dengan pembangunan kehidupan nasional. Dalam ranah sosial, internalisasi nilai tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat kohesi sosial dan stabilitas bangsa di tengah tantangan ekonomi, politik, dan kemanusiaan yang terus berkembang.
Selain itu, Naspi menyerukan pentingnya memperkuat persatuan bangsa sebagai agenda utama pasca-Ramadhan. Menurutnya, perbedaan sosial, politik, maupun latar belakang tidak boleh menjadi faktor pemecah, melainkan harus dikelola dalam kerangka kebangsaan yang inklusif.
“Idulfitri adalah momentum rekonsiliasi sosial. Kita harus memperkuat persatuan bangsa dengan menjadikan nilai-nilai ukhuwah sebagai dasar kehidupan bersama,” ungkapnya.
Dalam kerangka pembangunan peradaban, Naspi Arsyad juga menegaskan pentingnya menegakkan nilai-nilai peradaban Islam dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam penyelenggaraan pemerintahan. Ia menyebut bahwa prinsip keadilan, amanah, dan keberpihakan kepada kemaslahatan umat merupakan bagian integral dari tata kelola pemerintahan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
“Peradaban Islam menempatkan keadilan dan kepedulian sebagai inti. Pemerintahan harus berpihak kepada kemaslahatan umat dan hadir sebagai pelayan masyarakat,” ujarnya.
Pesan tersebut juga mencakup doa dan solidaritas bagi masyarakat Indonesia yang tengah menghadapi berbagai bencana alam. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah wilayah di Indonesia mengalami banjir dan tanah longsor yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian material. Naspi mengajak seluruh elemen bangsa untuk menunjukkan empati dan kepedulian terhadap para penyintas.
“Kami mendoakan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah agar diberi kekuatan dan segera pulih, serta mengajak seluruh masyarakat untuk turut membantu meringankan beban mereka,” katanya.
Lebih lanjut, Naspi Arsyad menegaskan bahwa perhatian terhadap isu kemanusiaan global, khususnya Palestina, harus tetap menjadi bagian dari kesadaran kolektif umat Islam dan bangsa Indonesia. Ia menyebut bahwa kondisi Palestina yang masih berada dalam tekanan pendudukan berkepanjangan memerlukan dukungan moral dan politik yang konsisten dari komunitas internasional.
“Pembelaan terhadap Palestina adalah bagian dari komitmen kemanusiaan. Kita tidak boleh abai terhadap penderitaan yang masih dialami rakyat Palestina,” ujarnya.
Naspi menegaskan, seruan untuk terus membersamai Palestina sejalan dengan prinsip-prinsip kemerdekaan dan keadilan yang diakui dalam berbagai forum internasional serta mencerminkan posisi Indonesia yang secara konsisten mendukung kemerdekaan Palestina sejak era para pendiri bangsa (founding father).
Rais ‘Aam Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad (Foto: Bilal Tadzkir/ hidayatullah.or.id)
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Rais ‘Aam Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, menyampaikan bahwa ada standar protokol tetap (protap) yang hendaknya diperhatikan dalam interaksi dengan Al Qur’an. Hal itu disampaikan dia dalam acara yang bertajuk Refleksi Akhir Ramadhan dan Bekal Perjuangan di Kampus Ummulquraa Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan dan disiarkan secara daring melalui kanal Youtube Ummulqura Hidayatullah pada Kamis, 29 Ramadhan 1447 (19/3/2026).
KH Abdurrahman Muhammad menegaskan bahwa keberhasilan sebuah perjuangan sangat bergantung pada bagaimana seorang mukmin memosisikan kitab suci Al Qur’an sebagai media komunikasi sakral dengan Sang Pencipta.
Ia memaparkan filosofi waktu dan perjalanan hidup manusia. Menurutnya, hidup adalah rangkaian gerak dari detik ke detik dan dari tahun ke tahun yang penuh dengan ketidakpastian. Dalam dinamika tersebut, Allah SWT memberikan ruang khusus berupa bulan Ramadhan sebagai titik henti sementara bagi manusia. Beliau mengibaratkan Ramadhan sebagai sebuah terminal kehidupan yang strategis.
Di terminal inilah, terangnya, setiap individu memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak guna mengumpulkan bekal sebelum melanjutkan perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan berat di masa depan.
Urgensi komunikasi dengan Allah menjadi inti dari refleksi yang disampaikan oleh Rais Aam Hidayatullah dalam forum yang digelar secara hibrida tersebut. Ia menekankan bahwa membaca Al Quran pada hakikatnya adalah sebuah dialog antara hamba dengan Tuhannya.
Mengutip sebuah kaidah, beliau menyatakan, Barang siapa yang ingin bercakap-cakap dengan Tuhannya, baca Quran. Namun, beliau memberikan catatan kritis bahwa percakapan ini tidak boleh dilakukan dengan sembarangan karena terdapat protokol tetap atau protap yang menyertainya.
Ia mengambil tamsil dari tradisi kebudayaan di Yogyakarta, khususnya mengenai kehidupan abdi dalem saat hendak menghadap Sultan di Keraton.
Dia menjelaskan, jika untuk menghadap raja di dunia saja seseorang harus mengikuti aturan protokoler yang sangat ketat agar tidak mendapatkan hukuman, maka sudah sepatutnya seorang mukmin memiliki adab yang jauh lebih tinggi saat menghadap Penguasa Semesta melalui Al Quran.
Adab Berinteraksi dengan Al Qur’an
Oleh karena itu, masih dalam taushiyahnya, Rais Aam Hidayatullah menekankan pentingnya membangun sikap mental yang tepat sebelum menyentuh dan membaca kitab suci. “Ini Quran bukan hal biasa biasa, sehingga kita harus berwudu, kita harus istighfar, kita harus beradab,” tegasnya.
Beliau menyebutkan bahwa pembahasan mengenai adab terhadap Al Quran sering kali dianggap sederhana, padahal cakupannya sangat luas dan belum tuntas untuk digali. Tanpa wasilah atau perantara berupa adab dan sikap mental yang benar, Al Quran tidak akan memberikan pengaruh mukjizat atau ilham pada diri pembacanya.
Menurut pandangannya, hubungan antara Al Quran, takwa, dan iman adalah satu kesatuan asasi yang tidak dapat dipisahkan. Ia mengingatkan bahwa tanpa landasan iman yang kokoh, ilmu tentang Al Quran tidak akan pernah dicapai secara hakiki maupun zahiri.
Disamping itu, kesungguhan dalam berinteraksi dengan Al Quran juga memerlukan refleksi atas sejarah perjuangan para nabi dan sahabat terdahulu. KH Abdurrahman Muhammad mengingatkan mengenai betapa mahalnya nilai keimanan yang mereka pegang saat ini. Ia merujuk pada penderitaan nabi-nabi Bani Israil yang dibelah kepalanya, hingga penyiksaan fisik yang dialami oleh Bilal bin Rabah serta keluarga Yasir demi mempertahankan prinsip tauhid.
Nilai mahal dari iman inilah yang menurutnya seharusnya menjadi pendorong bagi setiap individu untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada Al Quran melalui pembacaan yang benar atau haqqa tilawati. Beliau menegaskan bahwa program utama di Ummulqura haruslah dimulai dengan mengilmui iman terhadap kitab suci tersebut.
Menyeimbangkan Kuanitas dan Tadabbur
Masih dalam kesempatan yang sama, Rais Aam Hidayatullah ini juga memberikan kritik terhadap kecenderungan membaca Al Quran secara terburu-buru demi mengejar target kuantitas tanpa kualitas tadabbur yang memadai.
Ia berpendapat bahwa jika menggunakan standar yang benar, membaca satu juz Al Quran memerlukan waktu lebih dari satu jam karena tuntutan untuk merenungi setiap ayat. Beliau memperingatkan adanya ancaman berupa hati yang terkunci bagi mereka yang enggan melakukan tadabbur.
“Interaksi yang ideal dengan Al Quran adalah ketika bacaan tersebut mampu menyampaikan hati seseorang hingga seolah-olah melihat realitas surga dan neraka,” katanya.
Abdurrahman menekankan bahwa meletakkan jejak iman terhadap Al Quran adalah pekerjaan besar yang membutuhkan mujahadah atau kesungguhan luar biasa, karena tanpa hal tersebut, semangat jihad tidak akan pernah lahir secara otentik.
Lebih lanjut, KH Abdurrahman Muhammad mengarahkan perhatian pada pentingnya penguatan akidah melalui perenungan terhadap surat-surat terakhir dalam Al Quran, yakni Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
Surat-surat tersebut menurutnya merupakan sandaran akidah yang mengajarkan tentang keesaan Allah serta memberikan perlindungan dari penyakit hati seperti hasad atau dengki yang dapat menghancurkan amal manusia.
Beliau menegaskan bahwa penataan tauhid, baik itu tauhid mulkiah, ibadah, maupun rububiyah, harus diperbaiki secara menyeluruh. Segala bentuk ibadah, termasuk salat, akan terasa hambar dan berlalu begitu saja jika seseorang tidak merasakan kehadiran Allah dalam setiap prosesinya.
Memperbaiki Interaksi dengan Qur’an
Rais Aam Hidayatullah mengajak untuk membangun satu sistem kesadaran bahwa Al Quran adalah wasilah utama untuk menghindarkan diri dari neraka dan meraih surga.
Ia berharap agar setiap kader Hidayatullah memiliki komitmen kuat dalam memperbaiki interaksi mereka dengan Al Quran, dimulai dari penataan adab hingga pendalaman makna melalui tadabbur yang berkelanjutan.
Bekal perjuangan yang paling hakiki dalam pandangannya bukanlah pada kekuatan fisik atau materi semata, melainkan pada kedalaman spiritualitas yang bersumber dari dialog intensif dengan Allah SWT melalui kitab suci-Nya.
Dengan demikian, refleksi akhir Ramadhan ini diharapkan mampu melahirkan semangat baru dalam menjalankan amanah perjuangan dakwah di masa depan.[]
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Rais ‘Aam Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad sampaikan pandangan terkait dinamika penentuan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Dalam acara taushiyah bertajuk Refleksi Akhir Ramadhan dan Bekal Perjuangan yang berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026, beliau menekankan pentingnya menyikapi potensi perbedaan tanggal lebaran dengan basis keilmuan yang kokoh serta ketenangan spiritual yang tinggi.
KH Abdurrahman Muhammad mengajak umat untuk tetap fokus pada esensi ibadah tanpa harus terganggu oleh ketidakpastian mengenai waktu hari raya. Ia menegaskan bahwa kepastian waktu lebaran bukanlah sebuah persoalan yang harus memicu keresahan sosial.
Menurutnya, jika memang penetapan 1 Syawal belum diputuskan untuk esok hari, maka tugas seorang mukmin adalah melanjutkan rangkaian ibadah dengan penuh ketekunan.
“Kira-kira kira-kira besok lebaran, kah? Ndak masalah kita lebaran atau belum lebaran ya. Kalau belum lebaran, ya kita salat lagi. Salat malamnya disambung lagi. Kalau belum lebaran besok, masih tarawih kita karena masih Ramadan. Dan tidak ada salat tarawih setelah Ramadan,” katanya.
Lebih lanjut, dalam tinjauan teologis, Rais Aam memberikan ulasan mengenai legalitas perbedaan metode ijtihad dalam Islam. Ia menyitir kaidah kenabian yang menyatakan bahwa umat Islam tidak akan bersepakat dalam sebuah kesesatan selama keputusan tersebut didasarkan pada landasan metodologi yang ilmiah.
Dalam pandangannya, baik metode Hisab yang sering diterapkan oleh Muhammadiyah maupun metode Rukyah yang diikuti oleh pemerintah dan organisasi Islam lainnya termasuk Nahdlatul Ulama (NU), keduanya memiliki basis argumentasi yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i maupun rasional.
“Semua berdiri di atas ilmu. Muhammadiyah berdiri di atas ilmu dan rukyah berdiri di atas ilmu. Jadi ndak ada masalah, gak usah disalahkan, gak usah dicaci maki,” katanya.
Sikap yang paling bijaksana dalam menghadapi keragaman ini, menurut KH Abdurrahman Muhammad, adalah mengambil jalan tawaqquf atau menahan diri. Beliau menginstruksikan agar umat Islam tidak perlu melontarkan komentar negatif atau terlibat dalam aksi saling merendahkan.
Ia mengingatkan bahwa segala perbedaan pendapat dalam urusan fikih penanggalan pada akhirnya akan diadili oleh Allah SWT di akhirat kelak. Oleh karena itu, energi umat seharusnya dialokasikan untuk peningkatan kualitas ketakwaan daripada perselisihan.
“Sudah, tawaqquf saja. Ndak usah komentar. Itu urusan Allah dan Allah selalu mengulang-ulang di Quran (bahwa) nanti di akhirat kamu diadili semua tentang perbedaan-perbedaan itu,” katanya, seraya menyampaikan keyakinan optimisnya bahwa Allah SWT akan memberikan ampunan terhadap perbedaan ijtihadiyah semacam ini.
Dalam analisis sejarah dan sosiologi agama di Indonesia, KH Abdurrahman Muhammad mencatat adanya harmoni fundamental yang mengikat ormas-ormas besar di tanah air. Beliau mengamati bahwa meskipun terdapat perbedaan gaya institusional dan metodologi, akar akidah yang dianut tetap bersumber pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Ia memberikan catatan sejarah mengenai perkembangan pemikiran modernis yang dibawa oleh tokoh seperti Syekh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang kemudian memengaruhi model pendidikan Muhammadiyah melalui inspirasi dari Taman Siswa.
Di sisi lain, beliau menghormati konsistensi KH Hasyim Asy’ari dalam menjaga tradisi pesantren. Meskipun terdapat evolusi dalam pola pikir dan strategi perjuangan, ia melihat bahwa pada akhirnya umat ini tetap menyatu dalam esensi ajaran yang sama.
Sebagai penutup, KH Abdurrahman Muhammad menegaskan bahwa keberadaan perbedaan pandangan justru merupakan bukti dari keunggulan intelektual para ulama.
Menurutnya, kapasitas untuk menghasilkan pemikiran yang beragam namun tetap berpijak pada disiplin ilmu yang ketat adalah sebuah kekayaan bagi peradaban Islam.
Ia berpesan agar umat mampu melihat perbedaan bukan sebagai titik lemah, melainkan sebagai manifestasi dari luasnya cakrawala keilmuan Islam. “Ada perbedaan dan itulah keunggulan karena ulama berpikir itu punya ilmu untuk berbeda seperti yang lain. Ada ilmunya,” tandasnya.
Refleksi Akhir Ramadan yang digelar Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, ini diharapkan menjadi seruan bagi kader termasuk seluruh elemen umat untuk mengedepankan ukhuwah, menghargai ijtihad, dan menjaga kehormatan sesama muslim dalam menyongsong Idulfitri 1447 Hijriah.
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kepulauan Riau menyalurkan zakat fitrah kepada masyarakat di Pulau Air, Batam, pada Kamis, 19 Maret 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari penyaluran zakat menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Sebanyak 40 orang tercatat sebagai penerima manfaat dalam kegiatan tersebut. Penyaluran dilakukan secara langsung kepada warga yang berada di wilayah Pulau Air.
Pulau Air merupakan salah satu wilayah kepulauan di Batam. Kondisi geografis wilayah kepulauan mempengaruhi akses distribusi kebutuhan pokok bagi masyarakat setempat.
Amil BMH Kepulauan Riau, Jepriansyah, menyampaikan bahwa penyaluran zakat fitrah telah diterima oleh masyarakat. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para donatur yang menyalurkan zakat melalui BMH Kepulauan Riau.
“Alhamdulillah, manfaatnya sudah dirasakan oleh masyarakat. Kami mengucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu yang telah menitipkan zakat fitrah melalui BMH Kepri,” ujar Jepriansyah.
Zakat fitrah merupakan kewajiban bagi umat Islam yang ditunaikan menjelang Idul Fitri. Penyaluran zakat fitrah ditujukan kepada penerima yang berhak, termasuk masyarakat yang membutuhkan.
Kegiatan penyaluran zakat fitrah di Pulau Air ini menjadi bagian dari program distribusi zakat yang dilakukan oleh BMH Kepulauan Riau di wilayah kepulauan.
Selain memenuhi kebutuhan menjelang Idul Fitri, penyaluran zakat fitrah juga merupakan bagian dari pelaksanaan kewajiban keagamaan yang dilakukan oleh umat Islam.
Penyaluran ini melibatkan partisipasi para donatur yang menyalurkan zakat melalui lembaga amil zakat. BMH Kepulauan Riau berperan sebagai perantara dalam proses penghimpunan dan pendistribusian zakat kepada masyarakat penerima.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian program Ramadhan yang berlangsung hingga menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah.
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, Ust. H. Dr. Ir. Abdul Aziz Qahhar Muzakkar, M.Si., menyampaikan bahwa menjelang berakhirnya Ramadhan terdapat satu perasaan yang hampir dirasakan banyak orang, yakni adanya kekurangan dalam amal yang telah dilakukan sepanjang bulan suci.
“Selalu ada yang kita rasa kurang setiap Ramadhan akan berakhir,” ujarnya dalam sesi Refleksi Ramadhan di Masjid Ummul Qura, Pesantren Hidayatullah Depok, pada Kamis, 29 Ramadhan 1447 (19/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa perasaan tersebut tidak menunjukkan kelemahan iman, melainkan mencerminkan keterbatasan manusia dalam menjalankan ibadah. “Ini bukan tanda iman yang kurang. Ini tanda bahwa kita sebagai manusia memang tidak sempurna dalam beramal,” lanjutnya.
Kegiatan refleksi yang berlangsung menjelang akhir Ramadhan 1447 Hijriah itu menghadirkan suasana yang kondusif untuk perenungan atas ibadah yang telah dijalankan. Dalam forum tersebut, Aziz mengajak bersama memahami dimensi ruhani dari praktik ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadhan.
Ia menekankan pada pentingnya memaknai pengalaman ibadah secara lebih mendalam, bukan sekadar menjalankannya sebagai rutinitas tahunan.
Abdul Aziz Qahhar Muzakkar menegaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum untuk merasakan kedalaman spiritual melalui ibadah, salah satunya shalat malam. Ia menyebutkan bahwa pengalaman menikmati shalat lail menjadi bagian penting dari proses pembinaan ruhani.
“Menikmati shalat lail dan tadabbur Al-Qur’an ini yang harus bisa kita rasakan,” tuturnya.
Ia mengungkapkan bahwa praktik shalat malam telah menjadi tradisi yang dijaga dalam lingkungan gerakan Hidayatullah selama lebih dari satu dekade. Tradisi tersebut, menurutnya, bukan semata rutinitas ibadah, tetapi juga menjadi sumber pengalaman spiritual yang bernilai. “Shalat lail kita sangat syukuri. Ini benar-benar kenikmatan yang sangat besar,” ujarnya.
Dalam penjelasannya, ia juga mengangkat contoh teladan dari Rasulullah dan juga bagaimana pendiri Hidayatullah Ust. Abdullah Said yang dikenal menempatkan penghayatan sebagai aspek utama dalam ibadah. Ia menggambarkan bahwa dalam pelaksanaan shalat, aspek kekhusyukan menjadi perhatian utama.
“Rukuk dan sujudnya lama, karena yang diutamakan adalah penghayatan dalam shalat,” ungkapnya, menggambarkan praktik ibadah yang dilakukan dengan kesungguhan.
Berdampak dalam Kehidupan
Selain shalat malam, Aziz pada kesempatan itu juga menyoroti pentingnya tadabbur Al-Qur’an sebagai bagian dari pengalaman Ramadhan. Ia menyampaikan bahwa interaksi dengan Al-Qur’an tidak cukup hanya melalui tilawah, tetapi perlu disertai dengan upaya memahami maknanya. “Nikmat Ramadhan juga tentang tadabbur, bukan hanya tilawah,” ujarnya.
Menurutnya, pemahaman terhadap kandungan Al-Qur’an memberikan pengaruh yang lebih luas terhadap kehidupan. Ia menekankan bahwa tadabbur berfungsi sebagai penguatan spiritual yang berdampak pada kondisi batin. “Tadabbur itu memberi nutrisi bagi hati. Jangan sampai hati kita terkunci,” tegasnya.
Aziz juga menyampaikan praktik yang ia lakukan dalam memahami Al-Qur’an, yaitu dengan membaca terjemahan dan tafsirnya untuk memperdalam pemahaman terhadap ayat-ayat yang belum sepenuhnya dipahami. “Saya tadarus sekaligus membaca terjemahannya, khususnya pada ayat yang belum saya tangkap maknanya,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa proses tersebut memberikan tambahan wawasan dan memperkuat semangat dalam menjalani kehidupan.
Dengan pendekatan tersebut, ia menekankan, interaksi dengan Al-Qur’an tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga menjadi bagian dari proses refleksi yang berkelanjutan.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang istiqamah dalam kebaikan.
Ramadhan selalu hadir sebagai bulan penuh cahaya, bulan yang membuka pintu-pintu rahmat dan mengalirkan keberkahan ke dalam hati setiap hamba.
Di hari Jum’at penghujung Ramadhan ini, kita seakan diajak untuk menengok kembali perjalanan spiritual yang telah ditempuh: dari menahan lapar dan dahaga, melatih kesabaran hingga dzikir dan interaksi dengan Al Qur’an.
Semua itu bukan sekadar ritual, melainkan proses membersihkan dan menguatkan hati, karena dari sanalah hadirnya iman dan ketaqwaan.
Masih beberapa jam ke depan Ramadhan bersama kita. Jangan abaikan waktu-waktu yang mustajab untuk melengkapi ibadah dan amalan-amalan kita. Kita yakin dengan ayat Allah Ta’ala,walal akhiratu khairullaka minal ula, bahwa saat injuritime, detik-detik terakhir datang ampunan dan pertolongan Allah swt.
Melepas Ramadhan bukan berarti melepas semangat ibadah. Justru, ia adalah titik awal untuk membuktikan apakah pelajaran yang kita dapat selama sebulan penuh benar-benar meresap ke dalam jiwa. Taqwa bukan sekadar label, melainkan kondisi hati yang senantiasa sadar akan kehadiran Allah, dalam suka maupun duka, dalam terang maupun gelap.
Maka, detik-detik melepas Ramadhan seharusnya diisi dengan rasa syukur yang mendalam. Syukur karena diberi kesempatan menjalani bulan penuh berkah, syukur karena masih bisa berdoa, berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan berbagi dengan sesama. Syukur itu kemudian diwujudkan dalam tekad: menjaga semangat Ramadhan sepanjang tahun, hingga bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya.
Artinya, merawat hati adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak berhenti hanya di bulan Ramadhan. Hati yang bersih akan menjadi sumber kekuatan iman, sementara hati yang kotor karena dosa dan cinta dunia akan melemahkan iman dan menutup jalan menuju taqwa.
Oleh karena itu, menjaga kebersihan hati adalah kewajiban yang harus terus dilakukan, agar kita tidak terjebak dalam kelalaian yang membuat hidup kehilangan arah spiritualnya.
Setelah Ramadhan, godaan dunia kembali terasa lebih kuat. Di sinilah pentingnya istighfar, dzikir, doa, dan tilawah – tadabbur Al-Qur’an sebagai benteng penjaga hati.
Dengan istighfar, kita membersihkan noda dosa; dengan dzikir, kita menghidupkan kesadaran akan Allah; dengan doa, kita menyambungkan hati kepada Sang Pencipta; dan dengan tilawah, kita meneguhkan petunjuk hidup. Semua amalan ini adalah cara agar hati tetap lembut, tidak keras, dan selalu terarah kepada kebaikan.
Kesungguhan dalam merawat hati akan melahirkan iman yang kokoh dan taqwa yang tumbuh subur. Hati yang terjaga akan memancarkan ketenangan, menjauhkan dari cinta dunia berlebihan, serta menguatkan langkah menuju ridha Allah.
Maka, kita jangan pernah lengah, karena hati adalah pusat kehidupan spiritual kita. Bila hati terawat, seluruh amal akan menjadi indah, dan jalan menuju taqwa akan terbuka lebar.
Jama’ah Jum’at yang Berbahagia
Kita sangat sadar bahwa kualitas ibadah kita di bulan Ramadhan tidak akan bisa dipertahankan secara penuh, karena memang sebagian perintahnya beda dengan bulan-bulan lainnya. Namun, ibadah-ibadah umum seyogyanya kita bisa istiqamah menjaganya. Rasulullah juga sangat faham kondisi umatnya, sehingga beliau bersabda:
“Dari Aisyah RA, dia berkata, Rasulullah Saw bersabda: ‘Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang berterusan walaupun jumlahnya sedikit.’” (HR. Bukhari no. 6465)
Istiqamah yang sedikitpun itu perkara berat kalau menjalankan sendiri-sendiri. Misalnya belajar perlu ada guru, shalat menghadiri jama’ah, dan intinya ketika lalai harus ada orang sekitar yang menasihati. Karena pentingnya hidup bersama dan berjama’ah, sampai Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran Surat Ali ‘Imran ayat 103:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam Islam, kebersamaan bukan sekadar kebutuhan duniawi, tetapi juga bagian dari ibadah dan jalan menuju ridha Allah.
Tidak ada seorang pun yang mampu merawat keislamannya secara mandiri tanpa dukungan lingkungan, majelis ilmu, shalat berjama’ah, dan kepemimpinan yang menuntun. Suasana kebersamaan yang kita rasakan di bulan Ramadhan adalah contoh nyata bagaimana umat Islam dapat saling menguatkan dalam iman, amal, dan ukhuwah.
Rasulullah saw tidak membiarkan umatnya kalah dalam mempertahankan nilai keislaman dan tersesat dari arus menuju visi keagungan Islam. Sehingga meskipun dalam perjalanan dan hanya berjumlah tiga orang tetap wajib berjama’ah, sebagaimana dalam hadits yang masyhur:
Jika tiga orang berada dalam suatu perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.(HR Abu Dawud).
Pesan inti dari hadits ini adalah tetap bersatu dan saling menasihati. Persatuan yang dibingkai dengan nasihat, yaitu amar makruf nahi munkar adalah cara terbaik menjaga nilai-nilai keislaman.
Sungguh banyak kelompok atau negara kuat sumber daya alam, manusianya cerdas-cerdas, tetapi karena tidak bersatu dan tidak membawa misi amar makruf nahi munkar akhirnya dilanda krisis moral berkepanjangan.
Kebiasaan di bulan Ramadhan mendatangi majelis-majelis ilmu hendaknya bisa dilanjutkan. Selain semua ibadah dan mu’amalat harus dengan ilmu yang benar, juga dengan ilmu, manusia bisa mencapai peradaban yang tinggi. Tanpa ilmu, ibadah bisa kehilangan arah dan makna. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.“(HR. Muslim)
Syi’ar yang identik dengan bulan Ramadhan adalah shalat berjama’ah di masjid, baik shalat wajib lima waktu ataupun dengan tarawih. Tentu saja suasana ini akan turun drastis seiring lepasnya bulan Ramadhan. Mari kita tetap menghidupkannya karena shalat jama’ah adalah gambaran visi hidup, simbol persatuan dan kepemimpinan.
Dari arah manapun jama’ah datang, menghadapnya sama di dalam masjid, ini adalah proses membangun visi, yaitu menuju Allah swt. Semua bacaan dan gerakan sama, komando hanya satu, yaitu dari imam selaku pemimpin.
Secara tidak sadar, peserta shalat jama’ah sedang membangun shaff dan sistem hidup yang solid. Dan ketika tetap dilakukan di setiap waktu shalat lambat laun akan merefleksi dalam wujud kepemimpinan di tengah masyarakat.
Selain itu, shalat berjama’ah mencerminkan nilai kepemimpinan yang kuat. Imam berdiri di depan, memandu gerakan dan bacaan, sementara makmum mengikuti dengan penuh disiplin. Hal ini mengajarkan bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar posisi, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab.
Makmum pun belajar untuk taat, sabar, dan menjaga kesatuan barisan, sehingga tercipta harmoni antara pemimpin dan pengikut.
Sidang jama’ah Jum’ah yang Berbahagia
Ramadhan adalah bulan penuh berkah yang tidak hanya mengajarkan umat Islam untuk beribadah secara ritual, tetapi juga mendidik mereka dalam aspek moral dan sosial. Selama sebulan penuh, manusia dilatih untuk menahan hawa nafsu, menjaga kejujuran, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Nilai-nilai ini seharusnya tidak berhenti ketika Ramadhan usai, melainkan menjadi fondasi dalam membangun sistem sosial yang lebih sehat dan beradab. Khutbah ini akan menguraikan tiga esensi bagaimana refleksi Ramadhan dapat memengaruhi kehidupan sosial, mulai dari kesabaran, kejujuran, hingga solidaritas.
Pertama,kesabaran dan pengendalian diri. Puasa di bulan Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesabaran dan pengendalian diri. Apa yang setiap hari menjadi santapan enak lezat, meski halal, dia harus ditinggalkan.
Ada orang mengajak bertengkar atau kelahi, dijawab, No! Saya puasa!. Kemampuan menahan nafsu dan amarah adalah kekuatan dahsyat, sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa pengendalian diri adalah bentuk kekuatan sejati. Masyarakat yang terbiasa bersabar akan lebih mampu menahan emosi, sehingga perbedaan tidak berujung pada pertikaian. Kesabaran melahirkan sikap bijak, yang menjadi kunci dalam menyelesaikan masalah dengan cara damai.
Hasil dari latihan kesabaran di bulan Ramadhan dapat menjadi energi sosial yang menekan potensi konflik dan memperkuat persatuan. Dengan terbiasa menahan diri, umat Islam akan lebih mudah menumbuhkan rasa empati, tenggang rasa, dan solidaritas. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ: “Puasa adalah perisai” (HR. Bukhari dan Muslim), yakni pelindung dari perbuatan buruk dan pertikaian.
Maka, Ramadhan bukan hanya membentuk pribadi yang sabar, tetapi juga menciptakan masyarakat yang harmonis, damai, dan penuh persaudaraan.
Kedua,kejujuran sebagai fondasi sosial. Ramadhan juga menekankan pentingnya kejujuran. Dalam ibadah, kejujuran diuji melalui niat dan konsistensi menjalankan puasa.
Dalam kehidupan sosial, kejujuran menjadi modal utama untuk membangun kepercayaan. Masyarakat yang jujur akan lebih kokoh, bebas dari praktik manipulasi dan korupsi.
Kejujuran yang lahir dari refleksi Ramadhan dapat memperkuat integritas sosial, sehingga sistem sosial berjalan dengan lebih adil dan transparan.
Dengan demikian, Ramadhan berfungsi sebagai pengingat bahwa kejujuran bukan sekadar nilai pribadi, melainkan fondasi kehidupan bersama.
Kejujuran termasuk dalam mengungkap kebenaran akan membawa pelakunya pada kebaikan, dan itulan jalan menuju syurga. Rasulullah saw bersabda:
Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).
Ketiga,kepedulian dan solidaritas sosial. Ramadhan identik dengan zakat, infak, dan sedekah. Nilai ini menumbuhkan rasa empati terhadap sesama, terutama mereka yang kurang beruntung.
Kepedulian sosial yang lahir dari Ramadhan memperkuat ikatan antar individu dan mengurangi kesenjangan sosial. Solidaritas ini menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, di mana setiap orang merasa memiliki tanggung jawab untuk saling menopang.
Jika nilai kepedulian ini terus dijaga, maka masyarakat akan lebih tangguh menghadapi tantangan, baik ekonomi maupun sosial.
Kepedulian sosial pasca Ramadhan adalah wujud nyata dari nilai ta’awun yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah ayat 2:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.”
Ayat ini mengajarkan prinsip dasar kehidupan sosial dalam Islam, yaitu pentingnya bekerja sama dalam hal-hal yang membawa kebaikan, seperti menolong sesama, menjaga keadilan, dan memperkuat ketakwaan kepada Allah.
Sebaliknya, ayat ini melarang keras segala bentuk kerja sama yang mengarah pada kezaliman, dosa, atau permusuhan. Pesan utamanya adalah bahwa solidaritas dan kolaborasi harus diarahkan pada hal-hal positif yang mendekatkan manusia kepada Allah.
Sidang jama’ah Jum’ah yang Berbahagia
Ramadhan adalah momentum transformasi. Kesabaran, kejujuran, dan kepedulian yang dilatih selama sebulan penuh seharusnya menjadi karakter permanen dalam kehidupan sosial.
Jika refleksi ini benar-benar diinternalisasi, maka masyarakat akan lebih damai dan beradab. Ramadhan bukan hanya ritual tahunan, melainkan sebuah proses pendidikan sosial yang mampu memperbaiki sistem kehidupan bersama.
Dengan menjadikan nilai-nilai Ramadhan sebagai pedoman, kita dapat membangun masyarakat yang lebih kuat, berintegritas, dan penuh kasih sayang.
Mengumpulkan nilai di akhir Ramadhan bukan berarti menutup buku, melainkan membuka lembaran baru. Dzikir menenangkan hati, doa menghapus dosa, dan tilawah menguatkan jiwa.
Semua itu bermuara pada satu hadiah: taqwa! Hadiah yang tidak bisa dibeli dengan harta, tetapi hanya bisa diraih dengan kesungguhan ibadah dan ketulusan hati.
Ramadhan mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan menuju Allah. Di akhir bulan suci, kita diajak untuk membawa semangat Ramadhan ke dalam kehidupan sehari-hari: menjaga lisan, menahan amarah, memperbanyak doa, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman. Dengan begitu, Ramadhan terus hidup dalam jiwa.
Hadiah taqwa adalah bekal paling berharga. Ia menjadikan kita pribadi yang lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih kuat menghadapi ujian.
Maka, mari kita jadikan akhir Ramadhan sebagai titik tolak untuk kehidupan baru yang lebih bermakna, lebih terarah, dan lebih dekat dengan Allah.[]
DALAM tradisi keilmuan Islam, keberlanjutan sebuah gerakan tidak pernah dilepaskan dari kekuatan sanad. Sanad bukan sekadar rantai periwayatan, melainkan sebuah mekanisme penjagaan makna, kesinambungan orientasi, dan pemeliharaan ruh perjuangan.
Oleh karenanya, para ulama sejak generasi awal telah menempatkan sanad sebagai bagian inheren dari agama itu sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam tradisi ulama salaf, di antaranya Muhammad ibn Sirin dan Abdullah ibn al-Mubarak, bahwa sanad merupakan bagian inheren dari agama; tanpanya, setiap orang akan dengan mudah menyampaikan apa saja tanpa pijakan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam kerangka inilah, sanad tidak hanya berfungsi menjaga kebenaran informasi, tetapi juga menjaga cara memahami, merasakan, dan mengamalkan kebenaran tersebut.
Dengan perspektif ini, dinamika sebuah gerakan tidak cukup dibaca melalui kacamata struktur organisasi atau kecanggihan programnya semata. Ia harus dipahami sebagai proses epistemologis yang hidup, di mana nilai, kesadaran, dan praksis saling bertaut dalam satu sistem yang berkesinambungan.
Penting untuk meletakkan sistematika wahyu selain sebagai sumber normatif, juga sebagai sistem pembentukan manusia yang memiliki urutan dan metodologi yang jelas. Sistematika wahyu membentuk kesadaran, kesadaran melahirkan tindakan, dan tindakan yang terjaga melahirkan peradaban. Dalam alur inilah sanad bekerja sebagai penghubung yang memastikan kesinambungan proses tersebut tertransmisikan antar generasi.
Jika kerangka ini digunakan untuk membaca ijtihad Allahuyarhan Ustaz Abdullah Said, maka apa yang tampak sebagai ijtihad-ijtihad praksis dalam mendirikan lembaga perjuangan Hidayatullah sesungguhnya merupakan manifestasi dari perjalanan panjang hidayah dan pergulatan spiritual yang berakar pada sanad keilmuan dan perjuangan yang kuat dan mengakar.
Beliau mungkin tidak mewariskannya dalam sebuah grand design dan tertuang dalam dokumen yang sistematis, tetapi telah terbukti mewariskan sesuatu yang lebih fundamental: manhaj yang hidup. Metode ini tidak bekerja dalam teks semata, tetapi dalam kesadaran yang kemudian menjelma menjadi pola pikir, pola sikap, dan pola gerak.
Demikianlah hingga kini, Hidayatullah memperlihatkan karakter sistemiknya. Sebuah sistem sosial yang bekerja secara internal dan berkesinambungan. Sistem ini memiliki daya hidup yang memungkinkan gerakan tetap berjalan.
Dalam istilah yang sering digunakan, sistem ini bekerja seperti “auto pilot” dengan mekanisme enam jati dirinya dan tujuh prinsip tertib organisasinya: Hidayatullah memiliki arah yang jelas, mekanisme internal yang terjaga, serta kemampuan untuk terus bergerak dalam berbagai kondisi tanpa kehilangan orientasi dasarnya.
Lebih dari itu, sistem ini menunjukkan tingkat kompatibilitas yang tinggi terhadap dinamika sosial yang terus berubah. Ia mampu hadir dalam berbagai konteks tanpa kehilangan identitasnya. Hal ini dimungkinkan karena sejak awal telah ada kejelasan yang tegas dalam membedakan antara aspek yang bersifat tetap dan yang bersifat berubah.
Penegasan ini sering dibingkai oleh Ust Dr Ir Abdul Aziz Qahhar melalui pembedaan antara tsawabit dan mutaghayyirat. Sebuah penegasan yang jelas mana yang menjadi substansi nilai yang tidak berubah, dan mana yang merupakan metode yang dapat disesuaikan dengan tuntutan zaman. Dengan kata lain, terdapat diferensiasi yang matang antara fondasi nilai sebagai “software” dan perangkat operasional sebagai “hardware”.
Kejelasan antara tsawabit dan mutaghayyirat inilah yang menjadikan gerakan ini idealnya tidak kaku, tetapi juga tidak kehilangan arah. Ia mampu bergerak dinamis tanpa tercerabut dari akar, dan mampu beradaptasi tanpa larut dalam perubahan.
Namun, keunggulan sistemik ini tidak akan memiliki makna jika tidak diikuti dengan proses transformasi dan transmisi yang berkelanjutan. Sebab, sistem yang paling kokoh sekalipun dapat mengalami pelemahan jika tidak diwariskan secara utuh kepada generasi berikutnya.
Di sinilah urgensinya untuk mentransformasikan dan mentransmisikan sanad gerakan manhaji ini. Transformasi mengandung makna internalisasi, yaitu bagaimana nilai dan manhaj itu dihidupkan dalam kesadaran individu. Sementara transmisi mengandung makna pewarisan, yaitu bagaimana kesadaran tersebut dipindahkan dan ditumbuhkan dalam diri generasi pelanjut.
Kedua proses ini tidak dapat dipisahkan, karena tanpa transformasi, transmisi hanya akan melahirkan reproduksi yang dangkal; dan tanpa transmisi, transformasi akan berhenti pada pengalaman individual yang tidak berkelanjutan.
Apa yang berlangsung dalam kegiatan Ngaji Manhaj Sistematika Wahyu, kajian spesial i’tikaf di Masjid Umar Al Faruq di bawah bimbingan langsung Ust Abdul Aziz Qahhar dapat dibaca sebagai ikhtiar konkret dalam menjembatani dua proses tersebut. I’tikaf menjadi ruang pedagogis dan epistemologis, dimana sanad tidak hanya dibicarakan, tetapi dihadirkan dalam pengalaman.
Dalam suasana yang memungkinkan perjumpaan antara wahyu, refleksi diri, dan pengalaman kolektif itu, nilai-nilai tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi diinternalisasi secara eksistensial.
Atmosfir ruang seperti ini, proses transmisi berlangsung secara lebih utuh. Generasi pelanjut tidak sekadar menerima pengetahuan, tetapi mengalami pembentukan cara pandang dan orientasi tindakan. Di sinilah proses penyemaian apa yang dapat disebut sebagai chemistry antar generasi.
Chemistry ini bukan sekadar keterhubungan emosional, tetapi keselarasan antara konsepsi dan aplikasi, antara nilai yang diyakini dan tindakan yang dijalankan. Ia menjadi indikator bahwa sanad tidak hanya berpindah, tetapi benar-benar hidup dalam diri generasi baru.
Tanpa chemistry ini, sanad berisiko berhenti sebagai narasi historis yang telah banyak kita jumpai. Generasi pelanjut mungkin mengetahui nama-nama besar dan cerita-cerita perjuangan, tetapi tidak mampu menghidupkan kembali ruh yang melahirkannya.
Sebaliknya, dengan chemistry yang terbangun, perbedaan konteks antar generasi tidak menjadi penghalang, tetapi justru menjadi ruang bagi aktualisasi manhaj yang lebih relevan. Generasi baru tidak sekadar mengulang, tetapi melanjutkan dengan kesadaran yang lebih kontekstual, tanpa kehilangan akar epistemologisnya.
Demikianlah adanya, mentransformasikan dan mentransmisikan sanad gerakan manhaji adalah upaya menjaga kehidupan gerakan itu sendiri. Ia memastikan bahwa setiap generasi tidak memulai dari titik nol, tetapi melanjutkan estafet perjuangan dengan fondasi yang kokoh dan arah yang jelas.
Sanad gerakan manhaji sebagai energi masa depan. Dan, di situlah sebuah gerakan menemukan daya tahannya: bukan hanya pada kekuatan strukturnya, tetapi pada kemampuannya menyemai chemistry antar generasi yang menjaga kesinambungan antara nilai, kesadaran, dan tindakan dalam lintasan sejarah yang terus bergerak. Wallahualam.
*) Dr Irfan Yahya,penulis Sosiolog dan Ketua Dewan Pengurus Daerah Hidayarullah Makassar