Beranda blog Halaman 14

Tradisi Membaca sebagai Penguat Halaqoh

Ketua DPP Hidayatullah Bidang Perkaderan dan Pembinaan Anggota, Dr. Abdul Ghofar Hadi, menegaskan bahwa cita-cita melahirkan kader dan pemimpin yang berpengaruh tidak akan terwujud tanpa penguatan sistem halaqah yang ditopang oleh tradisi membaca dan pembelajaran yang berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Ustadz Ghofar dalam suasana Lailatul Ijtima (Mabit) atau Halaqoh Kubro yang digelar DPW dan DMW Hidayatullah DKI Jakarta di Masjid Baitul Karim, Jumat malam (12/6/2026). Kegiatan itu mengangkat tema “Berpengaruh tanpa Berhalaqah, Hanyalah Mimpi.”

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat ini menegaskan bahwa halaqah tidak boleh dipahami sekadar kegiatan formal saja. Menurutnya, halaqah sebagai pusat pembinaan, pertemuan dan penguatan ide, serta ruang transformasi ilmu, serta nilai-nilai perjuangan.

Ghofar mengungkapkan bahwa wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca. Padahal saat itu, kata dia, masyarakat Arab berada dalam kondisi jahiliyah dan Rasulullah sendiri dikenal sebagai seorang ummi atau buta huruf.“Suatu perintah yang sepertinya tidak pas kala itu,”ujar Dosen STIS Hidayatullah ini.

Karena itu, Ghofar menekankan perlunya. Menurutnya, membaca menjadi sumber yang menghidupkan halaqah. Tanpa bahan bacaan dan tradisi belajar, halaqah hanya akan menjadi pertemuan rutin yang kehilangan ruh dan daya transformasinya. “Kalau halaqah ingin hidup dan melahirkan pengaruh, maka harus diawali dengan proses iqra, dengan membaca,”tegasnya.

Ustadz Ghofar lantas mencontohkan sosok pendiri Hidayatullah, Allahuyarham, KH Abdullah Said yang dikenal sebagai kutu buku sejak muda, ia memiliki tradisi membaca yang sangat kuat. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang nantinya melahirkan berbagai gagasan dan langkah besar dalam perjalanan Hidayatullah.
“Beliau menghabiskan banyak waktunya untuk membaca buku. Bahkan ketika bepergian ke berbagai daerah, oleh-oleh yang dibawa pulang bukan pakaian atau barang lainnya, tetapi buku,” tuturnya.

Ghofar mengatakan banyak gagasan besar Abdullah Said lahir dari hasil membaca. Dari proses itu pula banyak inspirasi yang berkembang dan dipraktekkan oleh beliau. Semua diawali dari interaksi yang intens dengan literasi, sejarah Islam, serta pemikiran para tokoh.

Di hadapan peserta Lailatul Ijtima itu, Ghofar menyoroti rendahnya budaya literasi di Indonesia. Padahal, sambung beliau, hampir semua tokoh besar dunia memiliki satu kesamaan, yakni kebiasaan membaca.

“Pemimpin-pemimpin besar dunia memiliki karakter yang sama, yaitu membaca. Bahkan tokoh-tokoh yang sukses dalam bidang ekonomi dan teknologi tetap menyediakan waktu khusus untuk membaca dan memperbarui wawasan mereka,” ungkapnya.

Lebih jauh, Ghofar berharap agar halaqah menjadi ruang dialog yang hidup, bukan sekedar tempat menyampaikan materi secara satu arah. Menurutnya, peserta halaqah perlu datang dengan bekal bacaan, pemikiran, dan hasil pengamatan terhadap berbagai persoalan umat maupun perkembangan masyarakat.

“Halaqah harus jadi tempat bertemunya gagasan. Di sana ada diskusi, inspirasi, evaluasi, dan lahir langkah-langkah nyata. Kalau datang tanpa bekal bacaan, maka halaqah sulit berkembang dan tidak menarik,”sambungnya.

Bagi Ustadz Ghofar makna halaqah adalah episentrum peradaban. Memiliki fungsi strategis dalam pembinaan, memperkuat moralitas, integritas, spiritualitas, serta kepemimpinan kader. Melalui halaqah, hubungan antara murabbi dan mutarabbi dapat terbangun secara lebih dekat sehingga pembinaan berjalan efektif.
“Halaqah adalah mesin kaderisasi. Di sana ada komitmen yang terkoneksi, menjadi kekuatan organisasi, dan menjadi fondasi kepemimpinan,” katanya.

Ghofar juga mendorong agar sistem halaqah semakin diperkuat dan menjadi budaya organisasi yang menjangkau seluruh tingkatan kepengurusan. Ia menilai, keberhasilan dakwah dan pembangunan peradaban sangat bergantung pada kuatnya jaringan pembinaan kader yang berkesinambungan.

“Pengaruh tidak lahir begitu saja. Pengaruh lahir dari proses panjang pembinaan, penguatan ilmu, dan penguatan ruhiyah,”tegasnya.

Selain sebagai sarana kaderisasi, Ghofar menilai halaqah juga dapat menjadi ruang penyelesaian berbagai persoalan kehidupan anggota, mulai dari masalah keluarga, pendidikan anak, hingga tantangan sosial yang dihadapi sehari-hari.

Dengan demikian, halaqah bukan hanya instrumen organisasi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dan pendampingan yang mampu memperkuat ketahanan individu, keluarga, dan jamaah secara keseluruhan.

LPH Hidayatullah Tempati Posisi Kedua Nasional Kinerja Pemeriksa Halal 2025

0

JAKARTA – Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah kembali mengingatkan capaian membanggakan yang berhasil diraih sepanjang tahun 2025, yakni menempati posisi kedua nasional dalam daftar kinerja Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) di Indonesia berdasarkan data Service Level Agreement (SLA) tiap aktor tahun 2025.

Capaian tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan LPH Hidayatullah dalam menghadirkan layanan pemeriksaan halal yang cepat, profesional, dan terpercaya bagi masyarakat serta pelaku usaha di berbagai daerah di Indonesia.

Berdasarkan data kinerja nasional yang dirilis, LPH Hidayatullah mencatat sebanyak 1.162 sertifikat halal terbit dengan total SLA 12,39 hari kerja. Hasil tersebut menempatkan LPH Hidayatullah di posisi kedua secara nasional, berada tepat di bawah LPH LPPOM yang menduduki peringkat pertama dengan 11.556 sertifikat halal terbit dan total SLA 11,94 hari kerja.

Sementara itu, posisi ketiga ditempati LPH PT SUCOFINDO yang mencatat 848 sertifikat halal terbit dengan total SLA 21,08 hari kerja. Adapun posisi keempat diraih LPH PT Surveyor Indonesia dengan 488 sertifikat halal dan total SLA 9,17 hari kerja.

Selanjutnya, posisi kelima ditempati LPH UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan 397 sertifikat halal terbit dan total SLA 21,31 hari kerja. Posisi keenam diraih LPH Quality Syariah dengan 317 sertifikat halal dan total SLA 9,04 hari kerja, disusul LPH ZAMZAMI di posisi ketujuh dengan 282 sertifikat halal dan total SLA 12,46 hari kerja.

Pada posisi kedelapan terdapat LPH SAIZU yang mencatat 278 sertifikat halal dengan total SLA 16,68 hari kerja. Sementara posisi kesembilan ditempati LPH UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan 248 sertifikat halal dan total SLA 20,75 hari kerja. Adapun posisi kesepuluh diraih BBSPJI Kerajinan dan Batik dengan 237 sertifikat halal serta total SLA 10,31 hari kerja.

Pencapaian tersebut menunjukkan konsistensi LPH Hidayatullah dalam menjaga kualitas layanan pemeriksaan halal sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap proses sertifikasi halal. Di tengah meningkatnya kebutuhan sertifikasi halal nasional, kecepatan dan ketepatan layanan menjadi faktor penting dalam mendukung penguatan ekosistem halal Indonesia.

LPH Hidayatullah menegaskan bahwa capaian ini tidak terlepas dari kerja sama dan dedikasi para auditor halal serta seluruh tim yang terlibat dalam proses pemeriksaan halal. Dengan dukungan sumber daya yang berpengalaman dan jaringan pelayanan yang tersebar di berbagai wilayah, lembaga ini terus berupaya memberikan layanan yang efektif, akuntabel, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Menjelang implementasi kebijakan Wajib Halal Oktober 2026, LPH Hidayatullah berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas layanan dan kualitas pemeriksaan halal guna membantu pelaku usaha memenuhi kewajiban sertifikasi halal. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kompetensi auditor, optimalisasi sistem pelayanan, serta peningkatan koordinasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Jaminan Produk Halal (JPH).

Melalui capaian peringkat kedua nasional ini, LPH Hidayatullah berharap dapat terus berkontribusi dalam mendukung percepatan sertifikasi halal nasional sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap produk halal yang beredar di Indonesia. Dengan pelayanan yang profesional, cepat, dan terpercaya, LPH Hidayatullah optimistis dapat terus menjadi bagian penting dalam pengembangan industri halal nasional dan suksesnya implementasi program Jaminan Produk Halal di masa mendatang.

Bendera Palestina Berpotensi Hadir di Stadion Piala Dunia 2026

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bendera Palestina berpotensi menjadi salah satu simbol yang terlihat di stadion-stadion penyelenggara Piala Dunia 2026. Hal tersebut sejalan dengan status Palestina sebagai anggota resmi FIFA melalui Asosiasi Sepak Bola Palestina (Palestinian Football Association/PFA).

Berdasarkan ketentuan umum penyelenggaraan pertandingan FIFA, penonton diperbolehkan membawa atribut dan bendera yang tidak melanggar regulasi keamanan maupun ketertiban stadion. Dengan demikian, bendera Palestina dapat ditampilkan sebagaimana bendera negara atau asosiasi anggota FIFA lainnya selama memenuhi aturan yang berlaku.

Piala Dunia 2026 akan diselenggarakan di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Turnamen tersebut akan menjadi edisi pertama yang diikuti 48 tim nasional, jumlah peserta terbanyak sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia.

Keberadaan bendera Palestina di stadion diperkirakan akan menjadi salah satu perhatian publik internasional, mengingat isu Palestina kerap memperoleh dukungan dari berbagai kelompok suporter sepak bola di sejumlah negara.

Sejumlah pengamat menilai kehadiran atribut Palestina dalam ajang sepak bola internasional mencerminkan prinsip inklusivitas yang dianut olahraga modern, di mana setiap anggota FIFA memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dan menampilkan identitasnya dalam komunitas sepak bola dunia.

Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung mulai Juni 2026 dan diproyeksikan menjadi salah satu perhelatan olahraga terbesar di dunia dengan kehadiran jutaan penonton dari berbagai negara.

KHUTBAH JUM’AT Iman, Hijrah, dan Jihad: Siklus Hidup Orang Beriman

MENJELANG datangnya bulan Muharam dan Tahun Baru Hijriyah, umat Islam kembali diajak merenungkan makna hijrah sebagai bagian dari perjalanan hidup seorang mukmin. Namun, hijrah bukanlah konsep yang berdiri sendiri. Dalam ajaran Islam, hijrah selalu berjalan beriringan dengan iman dan jihad sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan.

Melalui khutbah berjudul “Iman, Hijrah dan Jihad: Siklus Hidup Orang Beriman”, Dr. Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I., M.S.I mengingatkan bahwa iman harus diwujudkan dalam perubahan nyata (hijrah), dan perubahan tersebut memerlukan kesungguhan serta pengorbanan (jihad). Ketiganya menjadi siklus kehidupan yang terus menggerakkan seorang Muslim menuju ketaatan, perbaikan diri, dan kejayaan peradaban Islam.

Dapatkan teks lengkap Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) berikut untuk menambah wawasan dan memperkuat semangat menyambut Tahun Baru Hijriyah.

Unduh sekarang atau klik di sini:

Urgensi Halaqoh Bagi Pejuang Dakwah: Fondasi Karakter dan Militansi Kader

0

Rais ‘Aam Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad pada acara halaqoh kubro kader Hidayatullah se-kota Samarinda pada 7 Juni lalu yang berlangsung di Ponpes Rahmatullah Lempake Samarinda dalam tausyiahnya menyampaikan “,Halaqoh itu bukan bikinan ORMAS (Hidayatullah, Pen). Halaqoh itu sunnah Rasul. Nabi menata ummat ini mulai dari halaqoh untuk diantaranya mengeratkan ukhuwah sebagaimana tema acara ini Bersama Kader, Eratkan Ukhuwah, Besarkan Peran, Mewujudkan Perubahan Menuju Peradaban Islam. Semuanya ini tak akan bisa dilakukan tanpa saffan ka’annahum bun-yanum marsus (QS.61: 4) maka itu dirakit supaya betul-betul semua urusan itu mudah karena ada manajemen kepemimpinan yang baik. Nah inilah pentingnya yanga namanya halaqoh”.

Halaqoh, yang secara etimologi berarti lingkaran, merupakan metode pendidikan Islam yang berakar kuat pada tradisi Rasulullah SAW. Di rumah Dar Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, beliau mengumpulkan para sahabat untuk membacakan ayat-ayat Allah dan menjelaskan maknanya.

Bagi pejuang dakwah, halaqoh bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah kebutuhan untuk mendapatkan bimbingan (hidayah) sebagaimana janji Allah dalam QS. Al-Ankabuut (29): 69: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.

Hal ini juga ditegaskan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas bahwa esensi pendidikan Islam adalah ta’dib, yaitu pembentukan manusia beradab secara menyeluruh yang melibatkan harmonisasi antara tubuh, akal, dan jiwa. Halaqoh menjadi wadah penta’diban ini, di mana ilmu tidak hanya ditransfer secara informasi (ta’lim), tetapi diinternalisasi sebagai karakter melalui bimbingan seorang Murabbi.

Halaqoh sebagai Sarana Pembentukan Karakter Integral

Seorang pejuang dakwah dituntut memiliki profil yang tangguh. Halaqoh didesain untuk menyentuh tiga aspek utama manusia secara seimbang: ruhiyah, fikriyah, dan jasadiyah. Dimensi Ruhiyah (Spiritual): Menanamkan ketauhidan yang murni sesuai pesan Luqman kepada anaknya dalam QS. Luqman (31): 13 agar tidak mempersekutukan Allah. Tujuannya adalah melahirkan pribadi yang rajin beribadah karena menyadari tujuan penciptaannya, yakni semata-mata untuk mengabdi kepada Allah (QS. Adz-Dzariyaat: 56).

Dimensi Fikriyah (Intelektual): Mencetak sosok Ulul Albab yang mampu memikirkan keagungan Allah melalui fenomena alam dan ayat-ayat-Nya (QS. Ali Imran: 190-191). Musthafa Masyhur menyatakan bahwa seorang pejuang dakwah harus memiliki argumen yang kuat dari Al-Qur’an, Hadits, dan Sirah Nabawiyah untuk memperkuat pembicaraannya.

Dimensi Jasadiyah (Fisik): Menyiapkan fisik yang kuat sebagai bentuk kesiapan menghadapi tantangan dakwah yang berat.

Proses ini bertujuan membentuk karakter 5M: Mu’min (beriman), Mushlih (perbaikan), Mujahid (pejuang), Muta’awin (bekerja sama), dan Mutqin (profesional). Tokoh seperti Imam Al-Ghazali dan Ibn Miskawaih menempatkan akhlak dan spiritualitas sebagai inti dari pendidikan sejati, yang di dalam halaqoh diwujudkan melalui pembinaan karakter tersebut.

Pilar-Pilar Kekuatan: Ukhuwah dan Tadarruj

Halaqoh dibangun di atas rukun-rukun yang kokoh: Ta’aruf (saling mengenal), Tafahum (saling memahami), dan Takaful (saling menanggung beban). Ikatan ini menjadikan halaqoh sebagai perisai dari sikap hedonisme dan apatisme. Hasan Langgulung melihat ini sebagai upaya membentuk insan kamil yang seimbang secara ruhani dan sosial.

Metode yang digunakan adalah tadarruj (bertahap), meniru pola Rasulullah SAW dalam mendidik sahabat sedikit demi sedikit hingga mencapai kesempurnaan. Ibnul Atsir menjelaskan bahwa konsep Rabbani merujuk pada seorang alim yang mengajarkan ilmu dari yang sederhana sebelum yang kompleks. Rasulullah SAW bersabda, “Adabani Rabbii fa ahsana ta’dibi” (Tuhanku telah mendidikku dengan sebaik-baik pendidikan), yang menjadi landasan bahwa pendidikan adalah proses panjang penanaman nilai.

Peran Murabbi dan Profesionalitas Dakwah

Keberhasilan halaqoh sangat bergantung pada sosok Murabbi yang inspiratif. Satria Hadi Lubis menekankan pentingnya Murabbi untuk selalu mempersiapkan materi secara prima agar mad’u tidak merasa bosan dan tetap bertambah wawasannya.

Tanpa persiapan, penyampaian akan terasa hambar dan monoton. Murabbi juga dituntut untuk rapi dalam segala urusan, sesuai pesan Musthafa Masyhur agar da’i mencatat poin-poin yang akan dibicarakan agar tidak ada instruksi penting yang terlupakan.

Tanggung jawab dakwah adalah amanah bagi setiap individu. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Bukhari, “Sampaikan dariku walaupun satu ayat”. Halaqoh mempersiapkan kader agar siap mengemban tugas ini di tengah masyarakat, baik sebagai ahli ilmu maupun sebagai teladan akhlak mulia agar tidak terjerumus pada sifat sombong (QS. Luqman: 18).

Halaqoh sebagai Kebutuhan Mutlak

Pada akhirnya, halaqoh bagi pejuang dakwah seperti kader Hidayatullah  adalah sarana untuk mengembalikan para kader kepada fitrahnya dan mencapai kebahagiaan dunia-akhirat. Melalui integrasi ilmu dan amal, halaqoh mencetak pejuang dakwah yang tidak hanya mahir berbicara, tetapi menjadi representasi Islam sebagai kekuatan moral dan sosial yang adaptif terhadap tantangan zaman. Tanpa halaqoh, pejuang dakwah akan kehilangan kompas spiritualnya; namun dengan halaqoh, setiap langkah perjuangan akan senantiasa terbimbing oleh petunjuk Qur’ani.

Ulasan singkat ini kian meneguhkan bagi kader Hidayatullah untuk secara saksama dan bersungguh-sungguh menjaga terlaksananya halaqah sebagaimana arahan dari Rais ‘Aam pada awal tulisan ini. Konsistensi berhalaqoh menjadi jembatan utama terbangunnya jamaah Hidayatullah sebagai ka’annahum bun-yanum marsus

“seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kokoh” yang ditandai dengan kader-kadernya; terbangunnya persatuan yang solid, keteraturan dan kedisiplinan serta lahirnya kekuatan tanpa celah. Profil kader seperti inilah yang diharapkan mampu mengambil bagian secara efektif dalam membangun peradaban Islam.

Nursyamsa Hadis adalah anggota Murobbi Nasional Hidayatullah.

Perkuat Budaya Riset, UIN Suska Riau Gandeng IAI Hidayatullah Latih Penulisan Jurnal Bereputasi

Batam – Komitmen meningkatkan kualitas publikasi ilmiah sekaligus memperluas akses pendidikan pascasarjana terus dilakukan Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau. Upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Teknik Menulis Artikel Ilmiah di Jurnal Bereputasi yang dirangkai dengan Sosialisasi Program Pascasarjana UIN Sultan Syarif Kasim Riau di Kota Batam, Kepulauan Riau, Rabu (10/6/2026).

Direktur Pascasarjana UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Prof. Dr. Hj. Helmiati, M.Ag., hadir sebagai narasumber utama dalam kegiatan yang dilaksanakan di dua perguruan tinggi keagamaan Islam di Batam. Kegiatan pertama berlangsung di Institut Agama Islam (IAI) Al-Hidayah Batam pada pukul 08.00–12.00 WIB, kemudian dilanjutkan di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Kepulauan Riau Batam pada pukul 13.30 WIB hingga selesai.

Workshop dan sosialisasi tersebut diikuti oleh pimpinan perguruan tinggi, dosen, mahasiswa semester akhir, serta masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap pengembangan kapasitas akademik dan publikasi ilmiah. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya minat untuk memahami teknik penulisan artikel ilmiah yang sesuai dengan standar jurnal bereputasi nasional maupun internasional.

Dalam pemaparannya, Prof. Helmiati menjelaskan bahwa publikasi ilmiah merupakan salah satu indikator penting dalam pengembangan kualitas pendidikan tinggi. Karena itu, dosen dan mahasiswa perlu memiliki keterampilan menulis yang baik agar hasil penelitian yang dilakukan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Menurutnya, artikel ilmiah bukan sekadar produk akademik, tetapi juga sebuah karya intelektual yang memerlukan ketekunan dan kedalaman berpikir.

“Artikel merupakan produk seni yang penuh cita rasa, suatu kreasi yang hanya dapat dicapai melalui jalan sunyi. Kualitas sebuah artikel tidak hanya diukur dari ketepatan metodologi atau kekuatan data, tetapi juga dari keutuhan alur berpikir, kepekaan analisis, dan kematangan refleksi ilmiah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa menulis artikel jurnal pada hakikatnya merupakan ikhtiar intelektual sekaligus spiritual. Proses tersebut menuntut keheningan batin, kejernihan pikiran, dan kedalaman refleksi. Jalan sunyi dalam penulisan artikel jurnal, kata dia, menggambarkan proses yang sering kali tidak terlihat, mulai dari pergulatan dengan gagasan, membaca secara berulang, melakukan revisi, hingga menghadapi kritik maupun penolakan.

“Pada tahap inilah konsentrasi menjadi kunci utama, yaitu kemampuan menjaga fokus dan menyingkirkan berbagai distraksi agar gagasan dapat berkembang secara jujur dan bertanggung jawab,” katanya.

Materi workshop mencakup berbagai aspek penting dalam penyusunan artikel ilmiah, mulai dari landasan berpikir dalam penulisan artikel, struktur utama artikel jurnal, teknik penelusuran literatur berbasis digital, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung proses penulisan ilmiah.

Prof. Helmiati berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan motivasi dosen dan mahasiswa untuk menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas dan mampu menembus jurnal-jurnal bereputasi.

“Produktivitas publikasi ilmiah menjadi salah satu kunci peningkatan mutu pendidikan tinggi. Melalui kegiatan ini, kami berharap dosen dan mahasiswa semakin termotivasi menghasilkan karya-karya ilmiah yang berkualitas serta mampu dipublikasikan pada jurnal bereputasi,” tuturnya.

Selain workshop penulisan artikel ilmiah, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan berbagai program studi yang tersedia di Pascasarjana UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Sosialisasi disampaikan oleh Dr. Djeprin E. Hulawa, M.Ag., dan Dr. Nunu Mahnun, S.Ag., M.Pd.

Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh informasi mengenai program magister dan doktor, sistem perkuliahan, fasilitas akademik, peluang beasiswa, serta berbagai program pengembangan kompetensi yang ditawarkan kepada mahasiswa.

Prof. Helmiati menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Pascasarjana UIN Sultan Syarif Kasim Riau untuk memperkuat kolaborasi akademik antarperguruan tinggi sekaligus memperluas jangkauan layanan pendidikan pascasarjana di berbagai daerah.

Melalui kegiatan ini, Pascasarjana UIN Sultan Syarif Kasim Riau berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam membangun budaya akademik yang kuat, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mempererat sinergi dan kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di wilayah Kepulauan Riau dan sekitarnya.

Shalat Kita: Sebuah Rutinitas “Menggugurkan Kewajiban” atau Dialog yang Dirindukan?

0

Pernahkah kita merasa sudah menjadi hamba yang paling taat hanya karena tidak pernah bolong menunaikan shalat lima waktu? Atau pernahkah kita merasa bangga dengan target besar untuk mengubah dunia, sementara hubungan kita dengan Sang Pencipta dunia masih terasa hambar, kaku, dan terburu-buru?

Sebuah catatan indah dari situs IslamWeb mengajak kita berkaca pada potret ibadah manusia termulia, Rasulullah ﷺ. Catatan ini layak menjadi bahan perenungan agar kita mengetahui bagaimana totalitas beliau dalam menghamba kepada Allah, yang sekaligus menjadi saksi nyata atas kejujuran kenabiannya.

Totalitas Tanpa Batas

Rasulullah ﷺ adalah sosok yang sangat tekun beribadah. Beliau memperbanyak shalat, puasa, zikir, doa, dan berbagai bentuk ibadah lainnya. Beliau tidak pernah meninggalkan shalat malam. Bahkan, beliau bangun pada sebagian besar malam hingga kedua telapak kaki beliau bengkak karena lamanya berdiri.

Suatu malam, sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu berkesempatan shalat bersama Rasulullah ﷺ. Pengalaman itu kemudian beliau ceritakan dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim (No. 772).

Hudzaifah berkata:

“Aku pernah shalat bersama Nabi ﷺ pada suatu malam. Beliau memulai dengan membaca Surah Al-Baqarah. Aku mengira beliau akan rukuk setelah seratus ayat, tetapi beliau terus melanjutkan. Aku mengira beliau akan menyelesaikan surah itu dalam satu rakaat, ternyata beliau tetap melanjutkan. Setelah Al-Baqarah, beliau membaca An-Nisa’, lalu Ali Imran. Beliau membacanya dengan perlahan dan penuh penghayatan. Setiap melewati ayat tasbih, beliau bertasbih. Ketika melewati ayat permohonan, beliau berdoa. Ketika melewati ayat perlindungan, beliau memohon perlindungan kepada Allah. Kemudian beliau rukuk dan membaca ‘Subhana Rabbiyal ‘Azhim’. Lamanya rukuk hampir sama dengan lamanya berdiri. Setelah itu beliau berdiri (iktidal) dalam waktu yang hampir sama dengan rukuknya, lalu sujud dan membaca ‘Subhana Rabbiyal A’la’, dan sujudnya pun hampir sama dengan lamanya berdiri.”

(HR. Muslim)

Misteri Pengulangan Zikir dan Rahasia Iktidal yang Lama

Mari merenung sejenak secara logis.

Gabungan Surah Al-Baqarah, An-Nisa’, dan Ali Imran berjumlah sekitar 52 halaman mushaf. Membaca seluruhnya dengan tartil dan penuh tadabbur tentu memerlukan waktu yang sangat panjang, bahkan bisa mencapai satu setengah hingga dua jam.

Jika durasi rukuk, iktidal, dan sujud beliau hampir sama dengan lamanya berdiri, maka apa yang beliau lakukan pada saat itu?

Tentu bukan diam tanpa makna.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa membaca tasbih tiga kali hanyalah batas minimal kesempurnaan. Rasulullah ﷺ mengulang-ulang zikir tersebut dalam jumlah yang banyak, lalu menambahkannya dengan berbagai doa panjang.

Demikian pula saat iktidal. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa beliau terus memuji Allah dengan penuh kekhusyukan. Bahkan, menurut penjelasan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zadul Ma’ad, lamanya iktidal Rasulullah ﷺ sampai membuat orang yang melihat mengira beliau lupa karena begitu lama berdiri menghadap Allah.

Iktidal bukanlah jeda kosong, melainkan momentum pujian, pengagungan, dan ketundukan yang mendalam kepada Rabb semesta alam.

Alarm Keras untuk Shalat Kita

Kisah keindahan shalat Rasulullah ﷺ menjadi cermin besar yang menghentak kesadaran kita.

Mari jujur kepada diri sendiri.

Bukankah sering kali shalat kita berubah menjadi rutinitas mekanis yang dikerjakan dengan terburu-buru? Tidak ada kekhusyukan, tuma’ninah terasa hilang, dan bacaan hanya menjadi rangkaian hafalan yang keluar secara otomatis tanpa kehadiran hati.

Saat azan berkumandang, apa yang pertama kali muncul dalam pikiran kita?

Sering kali bukan rasa rindu untuk menghadap Allah, melainkan perasaan terbebani.

“Aduh, sudah masuk waktu shalat lagi. Cepat-cepat saja supaya pekerjaan tidak terganggu.”

Tanpa sadar, kita memposisikan shalat hanya sebagai kewajiban yang harus segera diselesaikan, bukan sebagai kebutuhan ruhani yang kita nantikan.

Akibatnya, shalat kehilangan ruh munajatnya. Ia tidak lagi menjadi dialog yang hidup antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Menemukan Keseimbangan antara Shalat dan Tugas Harian

Melihat panjangnya shalat Nabi ﷺ, muncul pertanyaan yang sangat realistis:

“Bagaimana dengan shalat fardhu di sela-sela aktivitas kerja? Apakah kita harus menirunya secara persis?”

Di sinilah keindahan Islam terlihat. Dalam shalat berjamaah, Rasulullah ﷺ justru memerintahkan agar imam tidak memberatkan makmum. Beliau pernah menegur Mu’adz bin Jabal yang membaca terlalu panjang hingga menyulitkan para jamaah.

Beliau bersabda:

“Jika salah seorang di antara kalian mengimami manusia, maka ringankanlah. Karena di antara mereka ada orang yang lemah, orang sakit, dan orang tua. Adapun jika ia shalat sendirian, maka silakan memperpanjang sesukanya.”

(HR. Bukhari)

Artinya, shalat fardhu memang harus proporsional dan tidak mengganggu kewajiban lainnya. Namun perlu dipahami, ringan bukan berarti tergesa-gesa.

Ringan menurut Rasulullah ﷺ adalah bacaan yang tidak terlalu panjang, tetapi seluruh rukun dan tuma’ninah tetap dilakukan secara sempurna.

Formula Shalat Berkualitas di Tengah Kesibukan

Kita tidak harus menjadikan shalat fardhu selama satu jam untuk merasakan kedekatan dengan Allah. Yang perlu diubah adalah kualitas kesadaran, bukan sekadar durasi. Berikut formula nya :

  1. Aturan Tiga Detik Keheningan

Berikan jeda singkat dua hingga tiga detik pada akhir ayat atau saat berpindah gerakan. Keheningan kecil ini membantu menghadirkan kembali pikiran yang sering melayang.

  1. Hadir Secara Utuh

Shalat sepuluh menit dengan hati yang hadir jauh lebih bernilai dibanding shalat lima belas menit yang dipenuhi lamunan.

Matikan sejenak mode “autopilot” saat berdiri di hadapan Allah.

  1. Jadikan Shalat Sebagai Charging Station

Ubah cara pandang kita. Shalat bukan penghambat pekerjaan, melainkan waktu terbaik untuk menyegarkan jiwa dan pikiran. Hati yang tenang akan melahirkan produktivitas yang lebih baik setelah kembali bekerja.

  1. Miliki Ruang Privat di Sepertiga Malam

Jika kita merindukan dialog yang lebih panjang, penuh tangisan, doa, dan curahan hati, maka qiyamul lail adalah tempat terbaik untuk mewujudkannya.

Di sanalah seorang hamba dapat berbicara lebih lama dengan Rabb-nya tanpa terbebani oleh kesibukan dunia.

Penutup

Bagaimana mungkin kita ingin memperbaiki dunia yang luas ini jika untuk menenangkan pikiran, menundukkan ego, dan membangun dialog dengan Sang Pencipta selama beberapa menit saja kita masih kesulitan?

Perubahan besar tidak pernah lahir dari jiwa yang gersang dan terburu-buru.

Mari menemukan keseimbangan itu: menunaikan tugas dunia dengan profesional dan memuliakan shalat dengan penuh ketenangan.

Ubah shalat dari sekadar rutinitas untuk menggugurkan kewajiban menjadi dialog intim yang dirindukan, yang menguatkan setiap langkah hidup kita menuju ridha Allah سبحانه وتعالى.

*) Khoirul Anam, S.Sos.I penulis adalah Dosen STIQ Ash-Shiddiq dan Pengisi Kajian Al-Qur’an & Tafsir Hidayatullah Medan Al-Qur’an Learning Centre

Pondok Pesantren Hidayatullah Cirebon Ikuti Workshop Transformasi Pesantren Sewilayah III Cirebon

0

CIREBON (Hidayatullah.or.id) – Pondok Pesantren Hidayatullah Cirebon turut ambil bagian dalam Workshop Pengasuh Pesantren Sewilayah III Cirebon yang diselenggarakan di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 Cirebon, Bertepatan dengan 6 Dzulhijjah 1447 H. Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga malam hari tersebut diikuti lebih dari 100 pengasuh pesantren dari wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.

Workshop yang diinisiasi Imam Jazuli Foundation ini menghadirkan Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH. Imam Jazuli, Lc., M.A., sebagai narasumber utama. Dalam enam sesi pembekalan, peserta diajak memahami berbagai strategi penguatan pesantren agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai keislaman yang menjadi ruh pendidikan pesantren.

KH. Imam Jazuli menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam membangun peradaban umat. Karena itu, penguatan tata kelola kelembagaan, peningkatan mutu pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, serta pemanfaatan teknologi digital perlu terus dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar meningkatkan kualitas layanan pendidikan Islam.

“Pesantren harus tetap kokoh dalam menjaga nilai-nilai Islam, namun juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman agar semakin relevan dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat,” ungkapnya dalam salah satu sesi workshop.

Pondok Pesantren Hidayatullah Cirebon mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Keikutsertaan tersebut merupakan bagian dari komitmen lembaga dalam meningkatkan kapasitas pengelola pesantren serta memperkuat kualitas pendidikan dan pembinaan generasi.

Perwakilan Pondok Pesantren Hidayatullah Cirebon, Ustadz Aldy, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan banyak wawasan dan inspirasi yang dapat diterapkan dalam pengembangan pesantren.

“Workshop ini sangat bermanfaat bagi para pengasuh pesantren. Kami mendapatkan banyak wawasan baru mengenai pengelolaan pesantren yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Semoga ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat kami terapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan di Pondok Pesantren Hidayatullah Cirebon,” ujarnya.

Selain menjadi forum pembelajaran, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahim dan bertukar pengalaman antar-pengasuh pesantren. Berbagai tantangan dan peluang pengembangan lembaga pendidikan Islam didiskusikan secara terbuka guna melahirkan solusi dan kolaborasi yang bermanfaat bagi kemajuan pesantren.

Workshop di Cirebon ini merupakan bagian dari program penguatan kapasitas pengasuh pesantren yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai daerah di Indonesia. Program tersebut bertujuan mendorong lahirnya pesantren-pesantren yang unggul dalam tata kelola, kuat dalam pembinaan karakter, serta mampu mencetak generasi muslim yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepemimpinan yang visioner.

Melalui keikutsertaan dalam kegiatan ini, Pondok Pesantren Hidayatullah Cirebon menegaskan komitmennya untuk terus belajar, berinovasi, dan berkontribusi dalam memajukan pendidikan pesantren sebagai salah satu pilar penting pembangunan umat dan bangsa.

Pelepasan Siswa Kelas VI MIS Hidayatullah Marisa, Tandai Awal Perjalanan Menuju Jenjang Pendidikan Berikutnya

0

Gorontalo (Hidayatullah.or.id) — Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Hidayatullah Marisa menggelar acara pelepasan dan perpisahan siswa kelas VI Tahun Pelajaran 2025/2026, bertepatan pada 26 Dzulqa’dah 1447 H. dalam suasana khidmat dan penuh makna. Kegiatan tersebut menjadi penanda berakhirnya masa pendidikan dasar para siswa sekaligus awal perjalanan mereka menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Acara yang berlangsung di aula madrasah itu dihadiri oleh jajaran dewan guru, orang tua siswa, serta sejumlah tamu undangan. Kehadiran para orang tua dan keluarga turut menambah kekhidmatan suasana, sekaligus menjadi bentuk apresiasi atas capaian para siswa selama menempuh pendidikan di MIS Hidayatullah Marisa.

Dalam sambutannya, Kepala MIS Hidayatullah Marisa, Kamil Patingki, M.Pd.I., menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut serta mengapresiasi kerja keras seluruh siswa yang telah menyelesaikan proses pendidikan dengan baik.

Menurutnya, keberhasilan para siswa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh pembentukan karakter, akhlak, dan nilai-nilai keislaman yang menjadi fondasi utama dalam pendidikan.

“Pelepasan ini bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang dalam menuntut ilmu dan menggapai cita-cita. Kami berharap para lulusan terus menjaga semangat belajar, berakhlak mulia, dan mampu menjadi generasi yang membanggakan keluarga, masyarakat, dan bangsa,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada seluruh orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada MIS Hidayatullah Marisa serta mendukung proses pembelajaran selama enam tahun terakhir.

Rangkaian kegiatan pelepasan diisi dengan berbagai agenda yang mencerminkan kebersamaan antara guru dan siswa. Momen tersebut menjadi ruang refleksi atas perjalanan pendidikan yang telah dilalui sekaligus mempererat hubungan emosional antara peserta didik, guru, dan orang tua.

Pesantren Hidayatullah Medan Jajaki Kerja Sama Penguatan Digital Marketing dan Kemandirian Ekonomi Bersama BINUS University Medan

0

Medan (Hidayatullah.or.id) – Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan melakukan kunjungan silaturahmi dan penjajakan kerja sama strategis dengan BINUS University Medan pada Selasa (9/6/2026). Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun sinergi antara lembaga pendidikan Islam dan perguruan tinggi modern dalam menghadapi tantangan era digital.

Rombongan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan dipimpin oleh Ketua Yayasan, Ustadz Isa Abdul Bari, S.Pd., S.Ag didampingi Ustadz Fachri Fathullah, S.Pd (Sekretaris), Ustadz Faris, S.Pd. (Bendahara), Ust. Khoirul Anam, S.Sos.I. (Anggota Pembina), serta Ustadz Ali Ibrahim Akbar, M.Pd. (Ketua Pengawas).

Turut hadir dalam rombongan, Ustdzh. Dini Zahara, S.Ag. selaku Wakil Ketua III STIQ Ash-Shiddiq Medan bersama tim Tata Usaha STIQ Ash-Shiddiq Medan.

Kunjungan yang berlangsung di BINUS University Medan, kawasan Podomoro City Deli Medan, disambut langsung oleh Bapak Ince Ahmad Zarqan, B.Sc.Is., MM ( Koordinator Prodi Binus University). Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak berdiskusi mengenai berbagai peluang kolaborasi yang dapat memberikan manfaat bagi pengembangan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi umat.

Selain melakukan silaturahmi kelembagaan dan meninjau fasilitas kampus, rombongan juga diajak berkeliling melihat berbagai sarana pembelajaran modern yang dimiliki BINUS University Medan. Fasilitas tersebut menunjukkan komitmen kampus dalam menghadirkan lingkungan pendidikan berbasis teknologi dan inovasi.

Salah satu hasil penting dari pertemuan ini adalah kesepakatan untuk menjajaki program Pelatihan Digital Marketing berbasis Media Sosial bagi unit-unit pendidikan di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi, publikasi, dan penguatan citra lembaga pendidikan.
Selain itu, kedua institusi juga membuka peluang kerja sama dalam bidang Pelatihan Manajemen Koperasi dan Pengembangan Usaha Ekonomi Produktif guna mendukung penguatan kemandirian ekonomi pesantren melalui tata kelola usaha yang profesional dan berkelanjutan.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Ustadz Isa Abdul Baary, menyambut baik peluang sinergi tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara pesantren dan perguruan tinggi merupakan langkah strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan sekaligus meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan ekonomi modern.

Sementara itu, pihak BINUS University Medan menyatakan keterbukaannya untuk membangun kemitraan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui berbagai program pendidikan, pelatihan, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kunjungan ini, kedua lembaga berharap dapat mewujudkan kerja sama yang berkelanjutan dalam rangka melahirkan generasi yang unggul, berkarakter, serta mampu memadukan nilai-nilai keislaman dengan kompetensi yang relevan di era digital.