Beranda blog Halaman 131

Marriage is (not) Scary, Ibadah Terpanjang yang Menyatukan Keberkahan dan Tantangan

0

SEJAK remaja, saya selalu menjadi tempat curhat orang-orang di sekitar, dari teman dekat hingga kenalan singkat. Entah karena saya dianggap aman atau karena kepribadian yang tertutup, curhatan itu datang seperti aliran sungai, mulai dari masalah remaja hingga kini memasuki babak lebih kompleks—pernikahan.

Dari berbagai kisah yang masuk ke telinga saya, tak jarang pernikahan digambarkan dengan nuansa getir: pasangan yang tak acuh, konflik soal nafkah, atau bahkan pengkhianatan.

Ada pula yang ingin cerai karena luka lama yang tak kunjung sembuh, sementara lainnya mendamba poligami dengan alasan yang beragam. Uniknya, ada kisah bahagia di antara cerita getir, seperti pasangan yang dengan ikhlas ingin berbagi kebahagiaan demi keturunan.

Namun, sebuah pernyataan yang kini viral, “Marriage is scary” (pernikahan itu mengerikan), membuat saya termenung. Apakah benar demikian?

Saya bergumam, mengingat perjalanan rumah tangga pribadi dan kisah-kisah orang lain, lalu beristighfar. Pernikahan tidak seharusnya diberi label “mengerikan.” Sebagai sebuah syariat, ia sarat dengan tujuan mulia dan maslahat bagi manusia.

Kesalahan sering kali terletak pada individu, bukan pernikahannya. Media sosial memperkuat citra negatif ini, memperbesar kejahatan atau kegagalan dalam pernikahan, sehingga menakuti generasi muda.

Saya teringat seorang akhwat yang bertanya dengan wajah penuh trauma, “Bolehkah saya tidak menikah seumur hidup?” Trauma ini berasal dari pengalaman orang lain yang tak bahagia dan narasi-narasi menakutkan di media.

Dalam Islam, pernikahan adalah ibadah terpanjang. Rasulullah SAW memberikan panduan memilih pasangan melalui sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.”

Agama, yang mencakup ilmu dan ketaatan, menjadi fondasi kokoh dalam rumah tangga.

Tidak ada perjalanan tanpa tantangan, termasuk pernikahan. Bahkan para nabi menghadapi ujian rumah tangga. Namun, persiapan yang matang dapat meminimalkan konflik dan membantu menyelesaikan masalah.

Seperti halnya safar yang hanya beberapa hari, kita mempersiapkan segala kebutuhan dengan teliti. Lalu, bagaimana dengan pernikahan yang seumur hidup? Bukankah persiapannya seharusnya lebih matang?

Pernikahan, meski singkat sekalipun, selalu membawa kebaikan. Ia menegakkan sunnah Rasulullah SAW, melindungi dari dosa besar, dan mengajarkan ketaatan serta kesabaran.

Jika pernikahan terasa pahit atau menyakitkan, sering kali itu karena salah satu pihak atau bahkan keduanya tidak memenuhi hak dan kewajiban. Maka, jangan salahkan pernikahannya, salahkan perilakunya.

Sungguh, pernikahan adalah anugerah sekaligus amanah. Ia bukanlah sesuatu yang mengerikan jika dijalani dengan kesadaran, keimanan, dan kesiapan. Sebaliknya, ia adalah perjalanan menuju keberkahan yang penuh dengan pelajaran dan hikmah.

*) Nurul Qalbi Tasyrif, penulis adalah ibu muda anak 2 yang menyelesaikan pendidikan sarjananya di Al-Azhar University, Kairo, Mesir dan Pascasarjana di Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Bogor. Kini pengasuh kelas takhassus putri STIE Hidayatullah Depok

Sambutan Hangat di Rakernas ke-V, “Wilujeng Sumping di Jawa Barat, Mugia Dipaparinan Kaberkahan”

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Suasana penuh semangat dan keakraban menyelimuti Hotel Grand Asrilia Bandung, Jawa Barat, pada Ahad, 29 Jumadil Awal 1446 (1/12/2024), saat ratusan peserta dari seluruh penjuru negeri menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah ke-V Tahun 2024.

Dengan tema besar “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan, Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik”, acara ini menjadi momen strategis untuk membahas, mengevaluasi, serta meneguhkan agenda dan program Hidayatullah untuk setahun berikutnya.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah yang juga Ketua Panitia Rakernas V Tahun 2024, Ust. Hidayatullah Abu Qory, SH.I, M.Ag, menyampaikan rasa syukur dan sambutan hangatnya kepada seluruh peserta.

Wilujeng sumping, hatur nuhun pisan. Ahlan wasahlan bi khuduurikum. Terimakasih kepada seluruh peserta, rasa syukur Alhamdulillah yang tak terhingga dari kami,” ujarnya dengan penuh kehangatan.

Dalam keterangannya, ia juga mendoakan semoga kedatangan dan kepergian peserta usai kegiatan ini diiringi keberkahan dan kebahagiaan. “Wilujeng Sumping di Jawa Barat, mugia sumping sinareng wangsulna dipaparinan kaberkahan tur kabahagiaan”.

Acara ini menjadi kebanggaan bagi Hidayatullah Jawa Barat, mengingat ini adalah kali pertama Rakernas Hidayatullah diadakan di Kota Bandung.

“Kehormatan ini tidak hanya untuk Hidayatullah Jawa Barat, tetapi juga untuk masyarakat dan para pejabat, terutama Forkopimda,” lanjutnya.

Dalam sambutannya, Hidayatullah tak lupa mengapresiasi pihak-pihak yang berkontribusi dalam suksesnya acara ini, termasuk dukungan dari aparat setempat.

“Kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah mendukung acara ini. Juga kepada segenap aparat yang telah memberikan dukungan sehingga acara ini bisa kita laksanakan,” tambahnya.

Meski demikian, ia tetap rendah hati dengan menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan selama penyelenggaraan. “Jikalau ada hal yang kurang berkenan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya,” tutupnya dengan tulus.

Tak ketinggalan, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, dalam sambutannya membuka Rakernas ini juga turut menyapa segenap tokoh, undangan unsur pemerintah, para akademisi, para pimpinan ormas, dan peserta Rakernas yang hadir dari seluruh penjuru Tanah Air, termasuk hadirin perwakilan luar negeri yaitu Turki, Malaysia, Filipina, dan Arab Saudi.

Menurutnya, dipilihnya Bandung sebagai lokasi Rakernas tidak terlepas dari nilai historis dan simbolis kota tersebut. Kota berjuluk Bumi Parahyangan yang dikenal dengan keindahan dan kelembutannya ini diharapkan mampu menyemai semangat kehangatan, kelembutan, dan kesantunan kepada peserta Rakernas.

Nashirul pun dengan setengah bercanda, berharap para peserta dapat membawa kelembutan ini ke kehidupan pribadi mereka, khususnya dalam hubungan keluarga.

“Dengan menyerap spirit Parahyangan, para peserta kembali ke tempat tugas pasca Rakernas dengan membawa kehangatan, kelembutan, kesantunan, semakin ramah, semakin penyayang, terutama kepada istri, karena sudah ter-sibghah dengan hawa Bandung,” imbuhnya hangat.

Dia pun meminta doa dan dukungan dari semuanya dalam membersamai gerak langkah Hidayatullah berkhidmat untuk agama, umat, bangsa, dan negara.

Hidayatullah sebagai organisasi yang berkomitmen terhadap pengembangan umat dan bangsa, jelasnya, senantiasa membuka diri untuk bersinergi dengan berbagai pihak. (ybh/hidayatullah.or.id)

Mitra Implementator Laznas BMH Sulsel Raih Dua Kategori Terbaik bidang Manajemen dan Lingkungan

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Hidup harus berarti. Salah satunya dengan mencapai prestasi agar terus mau berkembang secara progresif dan berkelanjutan. Itu tampaknya menjadi spirit hidup dari mitra implementator Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Sulsel yang sukses raih penghargaan dua kategori sekaligus, yaitu kategori manajemen dan lingkungan.

Dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional Hidayatullah yang berlokasi di Bandung dan dihadiri oleh pelaku dakwah dan pengurus organisasi dari berbagai provinsi seluruh Indonesia, capaian membahagiakan itu diumumkan. Dari delapan kategori, Sulawesi Selatan berhasil meriah dua piala pada Ahad, 29 Jumadil Awal 1446 (1/12/2024).

Pertama, plakat dan sertifikat kategori Lingkungan terbaik  diterima langsung oleh Ketua Yayasan Al Bayan Makassar, Ustadz Suwito.

Adapun judul presentasi yang diajukan ‘Ekowisata Halal Wadi Mubarak sebagai pendorong kemandirian Pesantren Al Bayan Hidayatullah Menuju Ekonomi Keberlanjutan’.

“Ini adalah kerja kerja dari seluruh teman-teman Wadi Barakah dan juga Pesantren Tahfidz Hidayatullah Tompobulu Maros. Ini akan menambah semangat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan di Tompobulu,” kata Ustadz Suwito.

Ia juga secara khusus berterima kasih kepada Laznas BMH yang telah menjadi mitra program selama ini.

Adapun kategori kedua bidang Manajemen terbaik yang diraih oleh Yayasan Pendidikan Da’i Sultanbatara dengan judul ‘Manajemen Vokasi Pendidikan Dai SDH Sultanbatara Parepare’.

Plakad dan sertifikat di terima oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Nasri Bohari.

Dihubungi terpisah, Ketua Yayasan Pendidikan Dai Sultanbatara, Ustadz Rezkyaman mengungkapkan rasa haru dan syukurnya, baginya ini cukup beralasan, hari ini lembaga yang dipimpinnya telah mendidik para calon dan menugaskan alumninya ke berbagai wilayah di Indonesia Timur sudah ada enam angkatan.

“Kemenangan ini milik bersama, terlebih program ini juga melibatkan banyak tenaga pendidik dan santri dari tiga provinsi baik Sulsel, Sulbar dan Sultra, dan terimakasih kepada Laznas BMH sebagai sponsor di empat tahun terakhir ini,” ujarnya.

Ketua Laznas BMH Sulsel, Kadir,  yang hadir dalam kegiatan tersebut mengucapkan selamat pada para pemenang dan mengapreasiasi kerja sama dan kolaborasi yang telah terjalin selama ini dengan berbagai pihak.

“Pencapain yang diraih tentu menjadi bukti kebaikan yang terus memberi manfaat, dan di era kolaborasi ini telah banyak program terselesaikan dengan sinergi. Namun kita harus kembali berupaya berprestasi pada masa mendatang,” ucap Kadir.*/Herim

BMH Apresiasi Delapan Mitra Terbaik dalam Rakernas Hidayatullah ke-V 2024

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Suasana hangat menyelimuti Asriilia Hotel Bandung. Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar acara spesial. Mereka memberikan penghargaan kepada delapan mitra kolaborator terbaik tahun 2024, pada Ahad, 29 Jumadil Awal 1446 (1/12/2024).

Acara ini adalah bentuk apresiasi BMH atas dedikasi para mitra. Mereka telah mendukung berbagai program unggulan di seluruh Indonesia. Proses seleksi pemenang cukup ketat, termasuk sesi penjurian pada 28 November 2024.

Dari lebih dari 100 mitra kolaborator yang tersebar di 35 provinsi, terpilihlah 28 mitra terbaik. Dari sana, delapan mitra terbaik diumumkan sebagai pemenang dalam berbagai kategori.

Berikut daftar pemenang penghargaan berdasarkan kategori:

  • Program Dakwah Terbaik:
  • Kampung Muallaf Baduy
  • Mitra: Yayasan Bina Muallaf Baduy Banten
  • Program Pendidikan Terbaik:
  • Beasiswa Santri Tahfidz Pesantren Daarul Hijrah
  • Mitra: DPW Hidayatullah Jawa Timur
  • Program Ekonomi Terbaik:
  • Rumah Nelayan Indonesia
  • Mitra: Yayasan Rumah Tahfidz Apung Jakarta Utara
  • Program Sosial Terbaik:
  • Gizi Untuk Balita Terlantar
  • Mitra: Muslimat Hidayatullah Papua Barat
  • Program Lingkungan Terbaik:
  • Ecowisata Halal Wadi Barakah
  • Mitra: Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar
  • Inovasi Program Terbaik:
  • Klinik Sehat Hidayatullah
  • Mitra: DPD Hidayatullah Kota Malang
  • Manajemen Program Terbaik:
  • Vokasi Dai Pedalaman
  • Mitra: Yayasan Dai Sultanbatara
  • Laporan Program Terbaik:
  • Pembangunan Masjid Pondok Pesantren
  • Mitra: Yayasan Dhiyaul Haq – Hidayatullah Cilegon, Banten

Penghargaan diserahkan langsung oleh para manajemen BMH Pusat. Hadir di antaranya Dede Heri Bachtiar (Sekretaris Pengurus BMH Pusat), Wahyu Rahman (Pengawas BMH Pusat), Marwan Mujahidin (Anggota Pembina BMH Pusat), dan juga Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr. H. Nashirul Haq yang juga Ketua Pembina BMH Pusat.

“Penghargaan ini bukan hanya bentuk apresiasi,” ungkap Rohsyiandi Santika, Kepala Departemen Kreator Program BMH Pusat. “Ini juga motivasi bagi mitra lainnya untuk terus meningkatkan kualitas manajemen, inovasi, dan laporan program.”

Indikator penilaian penghargaan meliputi:

  1. Keterlibatan banyak pihak dalam implementasi program.
  2. Dampak program bagi masyarakat.
  3. Keberlanjutan program.
  4. Inovasi yang diterapkan.
  5. Jumlah penerima manfaat.
  6. Kualitas dokumentasi dan laporan program.

Acara ini menjadi bukti nyata keberhasilan sinergi BMH dengan berbagai mitra. Bersama, mereka memperluas manfaat program ke seluruh pelosok negeri.

Para pemenang pun menyampaikan rasa syukur mereka.

Ustaz Maghfur dari DPW Hidayatullah Banten berkata, “Alhamdulillah, kami mendapatkan dua penghargaan dari BMH: Kategori Dakwah Terbaik dan Laporan Terbaik. Terima kasih BMH atas dukungan dan kolaborasinya. Ini memotivasi kami untuk terus melakukan yang terbaik untuk kemaslahatan umat.”

Ustaz Suwito Fatah, Ketua Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar, juga mengungkapkan terima kasihnya.

“Program Ecowisata Wadi Barokah adalah mujahadah teman-teman Hidayatullah di Sulawesi Selatan. Terima kasih dan semangat bagi teman-teman semuanya di Wadi Barokah.”

Ustaz Idris dari DPW Hidayatullah Jawa Timur turut bersyukur.

“Alhamdulillah, DPW Hidayatullah Jatim memiliki dua program unggulan yang bisa dijangkau semua kalangan: program pendidikan dan klinik kesehatan. Terima kasih BMH atas dukungannya. Semoga semakin memberikan manfaat untuk umat.”

Semua ini adalah wujud nyata dari semangat kolaborasi dan dedikasi untuk kemaslahatan umat. Dengan penghargaan ini, BMH berharap dapat terus mendorong mitra-mitra lainnya untuk berinovasi dan memberikan yang terbaik.*/Herim

Pendidikan Profetik dan Profesional di Era Digital Membuka Jalan Baru untuk Masa Depan

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah ke-V 2024, Seminar Pendidikan Nasional digelar dengan tema “Membangun Pendidikan Profetik dan Profesional Melalui Inovasi dan Digitalisasi” bertempat di Hotel Grand Asrilia, Bandung, Jawa Barat, Ahad, 29 Jumadil Awal tahun 1446 (1/12/2024).

Acara ini menghadirkan tiga narasumber yaitu Prof. Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., M.A (Rektor Universitas Pendidikan Indonesia), Ust. Dr. H. Nashirul Haq (Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah), dan Muhammad Andy Zaky (CEO OrbitEdutech Teknologi Edukasi) serta dipandu oleh Direktur Hidayatullah Institute (HI), Muzakkir Usman, S.S., Ph.D.

Acara yang berlangsung di tengah atmosfer akademik ini menyoroti urgensi pendidikan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai profetik dengan tuntutan profesionalisme modern.

Dalam paparannya Nashirul Haq menekankan pentingnya pendidikan berbasis nilai-nilai profetik yang tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Kita ingin mewarisi konsep pendidikan Rasulullah SAW dalam aspek profetik yang mengombinasikannya dengan profesionalisme sesuai kebutuhan zaman karena Islam itu shalihun li kulli zaman wa makan. Islam selalu sejalan dengan perkembangan zaman,” tegasnya.

Ia juga menyinggung pentingnya inovasi dalam pendidikan agar tidak terjebak dalam stagnasi melainkan harus adaptif terhadap tantangan modern.

“Bahkan, kalau ada orang yang jumud, tidak mau berkembang, tidak mau berinovasi dan mencari solusi, tidak mau berkreasi dengan kebutuhan zaman, maka itu sebetulnya bertentangan dengan ajaran Islam,” katanya.

Sebagai narasumber kedua, Prof. Solehuddin menegaskan pentingnya semangat pembelajaran yang terus-menerus. “Jangan pernah berhenti belajar dan ini diperintahkan oleh Nabi kita. Belajarlah dan menjadilah pembelajar sepanjang hayat,” imbuhnya.

Solehuddin menggarisbawahi bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tetapi juga proses pengembangan karakter dan kemampuan untuk terus beradaptasi di tengah dinamika zaman.

Pendidikan, terang dia, harus terus menjadi wadah pembentukan manusia yang mampu mengharmoniskan nilai profetik dengan profesionalisme, menuju masa depan yang lebih baik. “Lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan,” tekannya.

Dalam paparannya, Solehuddin menyitir al-Qur’an surat Ali Imron [3] ayat 110 yang artinya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”

Berdasarkan ayat ini, jelas rektor UPI ini, umat Islam harus memantaskan diri sebagai umat terbaik. Untuk itulah perlu pendidikan yang profetik.

Pada bagian lain, Muhammad Andy Zaky memberikan pandangan tajam tentang peran teknologi dalam pendidikan.

Zaky menyebutkan, teknologi menyimpan potensi besar. Perubahan era dari Industri 3.0 ke 4.0 hanya memakan waktu puluhan tahun, dan kini bergerak ke era 5.0 yang penuh kompleksitas.

“Maka, nggak bisa nggak, kita harus bisa ngikutin. Ini yang terjadi. Teknologi makin cepat, kalau kita lihat era yang disebut era industry 1.0, industry 2.0, terjadi transisinya ratusan tahun. Tapi dari industry 3.0 dan 4.0 itu cuma puluhan tahun. Mungkin sebentar lagi ke 5.0, dimana teknologi makin advanced dan itu merubah teknologi dan merubah peta industri juga kedepannya,” katanya.

Menurut Zaky, perkembangan zaman sukar untuk dinafikkan termasuk mengesampingkan bahwa artificial intelligence (Ai) terus tumbuh. Demikian pula keterbukaan informasi dimana setiap orang tak bisa menghindar bahwa sekarang apapun informasi tersedia di internet.

“Apakah kita bisa menghindar bahwa, ah, nggak deh, saya nggak mau pakai smartphone supaya gak kalah pinter sama handphone. Nggak bisa,” imbuhnya.

Dengan demikian, menurut Andy, teknologi bukan hanya tantangan, melainkan juga solusi. Dia mengatakan, pihaknya di Orbit Edutech berpegang pada prinsip Pak Habibie bahwa orang yang imtaknya hebat tapi tidak tau iptek, dia tidak akan mampu menolong dirinya sendiri. Sedangkan orang yang ipteknya kuat tetapi tidak memiliki imtak itu berbahaya, dia akan halalkan semua cara.

“Kita perlu membangun generasi yang punya keseimbangan iptek dan imtak. Jadi dua hal ini harus kita jaga,” katanya.

Andy juga menekankan perlunya transformasi pendidikan melalui digitalisasi, dengan fokus pada tiga aspek utama yaitu siswa, lembaga, dan pemimpin pendidikan. “Model kompetensi abad 21 seperti literasi, kompetensi teknikal, dan pembentukan karakter menjadi kunci keberhasilan,” imbuhnya.

Tema yang diangkat dalam seminar ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan holistik dalam pendidikan. Profetik dan profesionalisme bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua sisi yang saling melengkapi.

Dalam pandangan Nashirul Haq, pendidikan yang berbasis nilai profetik berakar pada misi spiritual Islam, sementara aspek profesionalisme memastikan bahwa nilai-nilai tersebut relevan dalam konteks modern.

“Sifat kreatif dan inovatif itu adalah ajaran Islam yang sesungguhnya,” ungkap Nashirul Haq, merujuk pada keharusan umat Islam untuk senantiasa mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jatidiri dan identitas dasarnya.

Sementara itu, Andy Zaky menegaskan tentang keseimbangan iman dan ilmu teknologi dengan menekankan perlunya pendidikan berbasis digital yang tetap memperhatikan aspek moral.

Ketiga narasumber sepakat bahwa pendidikan harus mampu menjembatani warisan nilai dengan kebutuhan zaman. Teknologi, inovasi, dan digitalisasi hanyalah alat. Tujuan akhirnya adalah membangun generasi yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki fondasi moral yang kuat. (ybh/hidayatullah.or.id)

Hidayatullah Gelar Seminar Pendidikan Nasional

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Hari kedua Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah, Ahad, 29 Jumadil Awal tahun 1446 (1/12/2024), diwarnai oleh gelaran Seminar Pendidikan Nasional bertajuk Membangun Pendidikan Profetik, dan Profesional Melalui Inovasi dan Digitalisasi.

Hadir sebagai pembicara dalam seminar yang digelar di pusat Kota Bandung, Jawa Barat, tersebut, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., MA, Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr Nashirul Haq, dan CEO Orbit Edutech, M. Andy Zaky.

Dalam paparannya, Solehuddin menyitir al-Qur’an surat Ali Imron [3] ayat 110 yang artinya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”

Berdasarkan ayat ini, jelas rektor UPI ini, umat Islam harus memantaskan diri sebagai umat terbaik. Untuk itulah perlu pendidikan yang profetik.

Sementara itu Nashirul Haq mengatakan, pendidikan yang diberlakukan di Hidayatullah adalah pendidikan berbasis tauhid sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Adapun pemateri ketiga, Andy Zaky, memaparkan tentang bagaimana para pendidik menyikapi perkembangan teknologi digital yang tak bisa dihindari.

Seminar berlangsung sejak pagi hingga menjelang waktu dhuhur di Grand Asrilia Hotel, Bandung.

Selain dihadiri seluruh peserta Rakernas Hidayatullah, juga dihadiri sejumlah tokoh nasional dan tokoh lokal, di antaranya sejarawan Islam, Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, Rektor UICM, Dr. Ir. H. Asep Najmuddin, M.P, dan Ketua APTISI Jawa Barat, Prof. Dr. Ali Abdurahman, S.H, MH.

Di samping itu hadir juga utusan dari ormas-ormas Islam, ormas kepemudaan, ormas kewanitaan, dan organisasi mahasiswa.*/Mahladi

Buka Rakernas Hidayatullah ke-V Tahun 2024, Nashirul Haq Gaungkan Tebarkanlah Salam

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, secara resmi membuka Rapat Kerja Nasional Hidayatullah (Rakernas) di Hotel Grand Asrilia Bandung, Jawa Barat, pada Ahad, 29 Jumadil Awal tahun 1446 (1/12/2024).

Dalam sambutannya, Nashirul secara filosofis menyampaikan bahwa gelaran Rakernas di Kota Kembang ini dan kehadiran para peserta mengikuti agenda tahunan di Jawa Barat ini memiliki tiga tujuan utama, sebagaimana dilakukan Rasulullah ketika hijrah ke Madinah, yaitu menebarkan salam (afsus salaam), mempererat silaturahim (wasilul arham), dan memberi makan (wa’ath’imuth tho’aam).

Filosofi ini, imbuh Nashirul, hendaknya menjiwai bagi segenap kader Hidayatullah dalam menjalankan aktivitas organisasi yang dilandasi semangat untuk menghadirkan kebaikan dan meluaskan kemaslahatan bagi kehidupan.

“Alhamdulillah kami hadir di Jabar untuk melakukan tiga hal ini sebagaimana dilakukan Rasulullah ketika hijrah ke Madinah. Wa’ath’imuth tho’aam ini yang belum maksimal, justru kami yang diberikan makan oleh bapak sekalian,” katanya.

Selain itu, dia menyebut Rakernas ini sebagai momen untuk semakin menyerap energi Ilahi agar rapat menghasilkan sesuatu yang berharga.

“Kami menganjurkan kepada peserta untuk menghidupkan malam malam dengan tahajjud agar rapat kerja ini betul-betul melahirkan program kerja yang terilhami dari langit, insya Allah,” katanya.

Dipilihnya Bandung sebagai lokasi Rakernas tidak terlepas dari nilai historis dan simbolis kota tersebut. Kota berjuluk Bumi Parahyangan yang dikenal dengan keindahan dan kelembutannya ini diharapkan mampu menyemai semangat kehangatan, kelembutan, dan kesantunan kepada peserta Rakernas.

Nashirul pun dengan setengah bercanda, berharap para peserta dapat membawa kelembutan ini ke kehidupan pribadi mereka, khususnya dalam hubungan keluarga.

“Dengan menyerap spirit Parahyangan, para peserta kembali ke tempat tugas pasca Rakernas dengan membawa kehangatan, kelembutan, kesantunan, semakin ramah, semakin penyayang, terutama kepada istri, karena sudah ter-sibghah dengan hawa Bandung,” imbuhnya hangat.

Menampakkan Ajaran Islam

Lebih jauh Nashirul dalam sambutannya menyampaikan visi Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam yang mengusung nilai nilai kasih sayang dan kebaikan untuk semesta (rahmatan lil ‘alamin).

“Hidayatullah memiliki visi membangun peradaban Islam. Artinya, menghadirkan nilai nilai agung ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan manusia sebagai rahmatan lil ‘alamin,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh, mencakup aspek ritual dan sosial. Menurutnya, tantangan utama umat Islam saat ini adalah menampilkan keagungan ajaran Islam yang luhur di tengah stigma yang sering kali tidak adil.

“Karena kita meyakini Islam bukan hanya sebagai agama ritual, tapi juga ajaran sosial. Dan, inilah yang masih perlu kita zahirkan, perlu kita nampakkan, kita wujudkan dalam kehidupan kita sebagai rahmatan lil alamiin,” tegasnya.

Upaya ini, lanjut dia, membutuhkan sinergi lintas sektoral, termasuk pemerintah dan masyarakat. Nashirul menekankan pentingnya kerja sama ini untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, yaitu negeri yang berdaulat, mandiri, adil, dan sejahtera di bawah naungan rahmat Allah.

“Tidak ada ajaran yang seramah dengan Islam, sedamai dengan Islam, yang setoleran dengan Islam. Cuma, umat Islam itu ikhlas tidak mau pujungan (carper). Sehingga, kadang kadang umat Islam justru dianggap intoleran dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Karena itu, untuk mewujudkan visi misi Hidayatullah dalam membangun peradaban mulia ini, terang Nashirul, maka harus bersinergi dan berkolaborasi dengan seluruh komponen bangsa dan umat terutama pemerintah dan masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Nashirul menyapa segenap tokoh, undangan unsur pemerintah, para akademisi, para pimpinan ormas, dan peserta Rakernas yang hadir dari seluruh penjuru Tanah Air, termasuk hadirin perwakilan luar negeri yaitu Turki, Malaysia, Filipina, dan Arab Saudi.

Nashirul membuka secara resmi Rakernas ke-V tahun 2024 Hidayatullah ini dengan diawali pembacaan puisi:

Jauh pulau dari Malaka
Pergi haji ke kota Makkah
Dengan Bismillah Rakernas dibuka
Semoga semuanya mendapat berkah

Dia pun meminta doa dan dukungan dari semuanya dalam membersamai gerak langkah Hidayatullah berkhidmat untuk agama, umat, bangsa, dan negara.

Hidayatullah sebagai organisasi yang berkomitmen terhadap pengembangan umat dan bangsa, jelasnya, senantiasa membuka diri untuk bersinergi dengan berbagai pihak.

“Hidayatullah terbuka melakukan sinergi dengan pemerintah, membangun kemitraan dan kolaborasi dengan masyarakat dan semua elemen umat dan bangsa dengan mewujudkan Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang berdaulat, mandiri, adil, makmur, sejahtera, dan bermartabat dibawah naungan dan ridha kasih sayang Allah Ta’ala,” tandasnya.

Usia pembukaan, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Hidayatullah dan Bank Syariah Indonesia (BSI) tentang pemanfaatan layanan jasa dan produk perbankan berlandaskan prinsip syariah. (ybh/hidayatullah.or.id)

Hidayatullah Dukung Pemerintah Kokohkan Jatidiri Bangsa dan Pembelaan Terhadap Palestina

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah setelah mencermati dengan seksama, menjiwai, dan juga melihat komitmen kepemimpinan yang disampaikan oleh Presiden Prabowo dalam banyak kesempatan terutama dalam konsistensi pembelaan terhadap kemerdekaan Palestina, maka Hidayatullah menyatakan mendukung visi misi pemerintah Presiden Prabowo Subianto demi mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, pembangunan berkelanjutan, peningkatan kesejahteraan rakyat, dan pemeliharaan lingkungan hidup.

“Sebenarnya dari dulu kita dukung. Cuma baru dibilang, karena selama ini ikhlas saja kita,” kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, di depan peserta saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah di Bandung, Jawa Barat, Ahad, 29 Jumadil Awal 1446 (1/12/2024).

Nashirul Haq mengatakan, Hidayatullah telah mencermati beberapa visi pemerintahan Kabinet Merah Putih, yang pertama, adalah visi mengokohkan ideologi dan jatidiri bangsa.

“Ini yang penting. Pancasila ini ideologi dan jatidiri (bangsa) (yang) kalau tidak dikuatkan maka Indonesia ini akan mengalami goncangan moral dan intervensi asing akan semakin kuat,” imbuhnya.

Goncangan itu, terang dia, akan terjadi apabila Pancasila sebagai ideologi dan jatidiri bangsa tidak dikuatkan yang diserao dari nilai nilai Islam.

Nashirul juga mencermati visi pemerintah dalam mendorong kemandirian dengan swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru, meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, kewirausahaan, industri kreatif, dan pengembangan infrastruktur.

Selain itu, pemerintah Presiden Prabowo Subianto juga mengusung visi memperkuat pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, dan kesehatan. Juga berkomitmen melanjutkan hilirisasi, pemerataam ekonomi, pemberantasan kemiskinan, reformasi politik, hukum, dan pemberantasan korupsi.

Nashirul melihat, juga adanya upaya penyelarasan kehidupan yang harmonis lingkungan, alam, dan budaya menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Dalam banyak forum, Presiden Prabowo juga menunjukkan jiwa patriotiknya dan menegaskan berbagai komitmen penting antara lain kedaulatan nasional, ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan rakyat, pemberantasan korupsi, dan mewujudkan pemerintahan yang bersih, termasuk penegasan sikap Indonesia terhadap isu Palestina.

“Inilah yang menjadi alasan Hidayatullah mendukung sepenuhnya pemerintahan Bapak Prabowo Gibran dan siap berkolaborasi dengan Kabinet Merah Putih dalam berkontribusi membangun Indonesia yang lebih maju dan bermartabat,” kata Nashirul.

Dia menegaskan, dukungan ini diiringi dengan kontribusi yang substansial berupa masukan, konsep, dan pemikiran kritis, terutama dalam bidang yang telah menjadi concen Hidayatullah selama ini. Menurutnya, kritik dan koreksi menjadi elemen integral dalam proses pemerintahan.

“Tapi, tentu, selain kita mendukung dan siap berkolaborasi, kita juga siap untuk memberikan masukan, konsep, dan pemikiran terutama pada bidang yang selama ini digeluti oleh Hidayatullah. Dan, kita juga siap untuk memberikan kritik dan koreksi dalam bingkai amar ma’ru nahi munkar dengan cara yang bijak,” imbuhnya.

Membuka Rakernas 2024 Hidayatullah, Nashirul meminta doa dan dukungan dari semuanya dalam membersamai gerak langkah Hidayatullah mengabdi berkhidmat untuk agama, umat, bangsa, dan negara.

“Hidayatullah terbuka melakukan sinergi dengan pemerintah, membangun kemitraan dan kolaborasi dengan masyarakat dan semua elemen umat dan bangsa dengan mewujudkan Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang berdaulat, mandiri, adil, makmur, sejahtera, dan bermartabat dibawah naungan dan ridha kasih sayang Allah Ta’ala,” tandasnya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Bahaya Metastasis dalam Organisasi: Sebuah Diagnosa Kritis

0

DALAM tubuh manusia, kanker adalah salah satu penyakit yang paling menakutkan. Sebuah sel abnormal yang awalnya kecil dapat berkembang biak tanpa terkendali, lalu menyebar ke organ lain melalui proses yang dikenal sebagai metastasis. Metastasis, dalam konteks medis, merujuk pada penyebaran sel kanker dari tumor primer ke bagian tubuh lainnya. Proses ini sangat kompleks dan sering kali tidak terdeteksi hingga mencapai tahap yang lebih lanjut, di mana pengobatan menjadi semakin sulit dan tidak efektif.

Penyakit ini menjadi lebih sulit diatasi ketika sel kanker telah menyebar ke berbagai bagian tubuh, karena pengobatan tidak hanya harus fokus pada organ yang terkena, tetapi juga pada sumber utama penyakitnya. Bahkan, pada beberapa kasus, sulit menemukan primary tumor (penyebab utama), sehingga upaya pengobatan bisa salah arah dan memperburuk kondisi.

Organisasi, layaknya tubuh manusia, juga dapat mengalami “metastasis” dari masalah-masalah yang awalnya kecil. Sehingga, analogi di atas dapat diterapkan pada organisasi, terutama organisasi Islam, yang sering kali gagal mendeteksi masalah mendasar yang mengancam keberlangsungan dan efektivitas mereka. Jika tidak didiagnosis dengan benar, masalah ini dapat menyebar dan memengaruhi seluruh sistem organisasi, menyebabkan kemunduran bahkan kehancuran.

Diagnosis Superfisial: Melihat yang Terlihat

Proses diagnosa dalam organisasi mirip dengan prosedur medis untuk mendeteksi kanker. Dalam konteks ini, diagnosa harus dilakukan secara komprehensif dan terstruktur. Metode seperti model Weisbord dapat digunakan untuk mendiagnosa berbagai aspek organisasi—tujuan, struktur, penghargaan, mekanisme kerja, dan kepemimpinan—agar dapat menemukan kesenjangan antara dimensi formal dan informal organisasi.

Jika hanya fokus pada gejala atau masalah yang terlihat, organisasi berisiko mengabaikan faktor-faktor penyebab yang lebih mendasar. Misalnya, sebuah organisasi mungkin mengalami masalah keuangan bukan hanya karena pengelolaan dana yang buruk, tetapi juga karena kurangnya visi yang jelas atau budaya organisasi yang tidak mendukung inovasi.

Hal ini terjadi karena, Organisasi sering kali terjebak dalam penanganan masalah yang bersifat artefaktual, yaitu masalah yang tampak jelas dan langsung terlihat. Hal ini mirip dengan bagaimana pengobatan kanker sering kali hanya difokuskan pada tumor sekunder tanpa mengatasi tumor primer yang menjadi penyebab utama. Akibatnya, meskipun gejala-gejala di permukaan mungkin diatasi, akar permasalahan tetap ada dan bahkan dapat berkembang menjadi lebih parah..

Contoh lain misalnya, ketika sebuah organisasi mengalami pergantian kepemimpinan yang terpola secara periodik, respons umum biasanya adalah mencari pemimpin baru yang dianggap lebih kompeten dan memiliki kapasitas serta kapabiliras yang unggul. Namun, jika berhenti pada titik ini dan tidak dilakukan analisis mendalam dan komprehensip, bisa jadi masalahnya bukan pada individu pemimpin, tetapi pada sistem regenerasi, pola komunikasi, atau bahkan manhaj organisasi itu sendiri yang tidak relevan dengan zaman.

Metastasis dalam Organisasi

Dalam organisasi, “metastasis” terjadi ketika masalah utama (yang mungkin tersembunyi) menyebar dan menyebabkan kerusakan pada berbagai aspek lainnya. Sehingga, metastasis organisasional bukanlah sekadar persoalan teknis, melainkan tantangan filosofis yang mendalam. Organisasi sejati adalah organisasi yang mampu melakukan introspeksi fundamental, mengidentifikasi sel-sel patologis, dan melakukan regenerasi dengan kesadaran penuh.

Pertama, Masalah Konsep Dasar dan Jati Diri: Sebuah organisasi Islam mungkin terlihat sibuk dengan program-program yang “berjalan” di permukaan, tetapi kehilangan arah karena tidak memahami dengan jelas jati diri dan manhaj-nya. Misalnya, organisasi yang mengklaim berlandaskan pada Islam tetapi pola kerjanya lebih menyerupai perusahaan komersial atau partai politik atau bisa jadi dikelola secara amatiran yang tanpa sadar terjadi deviasi dari khiththahnya. Ketidaksesuaian ini dapat memunculkan ketidakpercayaan dan melemahkan solidaritas internal dan juga merambat ke public.

Kedua, Pola Transformasi yang Stagnan: Transformasi organisasi yang sehat memerlukan kemampuan untuk membaca zaman dan kebutuhan ummat. Jika organisasi terlalu kaku dan enggan berinovasi, stagnasi ini akan menyebar, memengaruhi program, sumber daya manusia, dan daya tariknya bagi generasi muda.

Ketiga, Implementasi yang Lemah: Organisasi mungkin memiliki visi-misi yang  mulia, yang diikuti dengan narasi besar menyertainya. Tetapi dalam pelaksanaannya gagal menerjemahkannya menjadi langkah konkret yang relevan dan terukur. Akibatnya, berbagai bagian organisasi mulai kehilangan arah, menciptakan ketidakpastian dan lambat laun terjadi kerusakan sistemik.

Keberanian untuk Mendiagnosa: Menghadapi Ketakutan Akan Akar Masalah

Untuk mengatasi masalah metastasis ini, organisasi harus memiliki keberanian untuk melakukan diagnosa mendalam dan tidak takut menghadapi kenyataan yang mungkin sulit dan bisa menyababklam instabilitas dalam Orgaisasi. Ini berarti menggali lebih dalam dari sekedar masalah yang tampak di permukaan dan memahami akar penyebabnya, meskipun itu berarti harus melakukan perubahan yang signifikan pada konsep dasar dan manhaj yang selama ini dipegang.

Seperti dalam bidang onkologi, dimana dokter onkologi harus menemukan dan memahami tumor utama sebelum merencanakan pengobatan yang efektif, organisasi juga harus mampu melakukan diagnosa yang tepat sebelum dapat merencanakan solusi yang efektif. Ini melibatkan merancang tata laksana dan protokol yang terukur untuk memastikan semua aspek organisasi bekerja harmonis dan selaras dengan tujuan utama..

Pertama, Melakukan Diagnosis Menyeluruh: Organisasi harus berani mengidentifikasi kelemahan mendasar, bahkan jika itu berarti mengakui bahwa arah visi, nilai dasar, atau manhaj yang selama ini dijalankan perlu diperbaiki.

Kedua, Menggunakan Alat Diagnostik yang Tepat: Audit organisasi, survei internal, dan analisis SWOT yang mendalam dapat digunakan untuk mengungkap akar masalah. Pendekatan berbasis data, bukan asumsi, menjadi kunci.

Ketiga, Menggali Penyebab Primer: Fokus pada pertanyaan mendasar: Apakah organisasi benar-benar memahami perannya dalam konteks zaman? Apakah visi dan misinya berakar pada nilai-nilai Islam dan kebutuhan masyarakat.

Keempat, Desain Tata Laksana Terukur: Merancang protokol perbaikan yang sistematis, dimulai dari masalah utama hingga gejala permukaan.

Kelima, Transformasi Paradigma: Merevisi konsep dasar organisasi untuk memastikan keselarasan dengan visi Islam yang rahmatan lil alamin dan relevansi zaman.

Keenam, Peningkatan Kapasitas Kader: Membina kader agar memiliki kompetensi kepemimpinan dan spiritualitas yang seimbang.

Ketujuh, Monitoring dan Evaluasi Berkelanjutan: Membuat mekanisme evaluasi reguler untuk memastikan semua tindakan perbaikan berjalan sesuai rencana.

Treatment dan Tata Laksana yang Tepat

Sehingga, setelah diagnosa dilakukan dan menemukan akar masalahnya, maka langkah berikutnya adalah melakukan treatment dengan protrokol yang cermat dan tepat. Organisasi harus mampu merancang dan menerapkan strategi yang komprehensif dan berkesinambungan. Ini bukan hanya tentang memperbaiki masalah yang terlihat, tetapi juga menyelesaikan akar permasalahan yang mendasar.

Dengan pendekatan yang tepat, organisasi bisa menghindari bahaya metastasis dan memastikan keberlangsungan serta kesuksesan jangka panjang. Ini berarti tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan sehat dan kuat.

Pertama, Reformasi Paradigma: Jika akar masalah adalah ketidaksesuaian konsep dasar, maka organisasi perlu berani merumuskan ulang paradigma dan jati dirinya, dengan tetap berlandaskan prinsip-prinsip Islam.

Kedua, Restrukturisasi: Mengadopsi struktur yang lebih fleksibel dan responsif terhadap perubahan zaman, seperti menerapkan agile organization dan kepemimpinan yang visioner.

Ketiga, Peningkatan Kompetensi SDM: Melakukan pelatihan berkelanjutan dan menciptakan sistem regenerasi yang sehat untuk membangun kapasitas kepemimpinan yang relevan.

Keempat, Pengawasan Berkelanjutan: Membuat indikator kinerja organisasi yang dapat dievaluasi secara berkala untuk memastikan transformasi berjalan sesuai arah.

Kelima, Kolaborasi: Menggandeng mitra eksternal untuk membantu mempercepat transformasi, baik dalam aspek manajemen, teknologi, maupun penguatan program.

Belajar dari Kasus Metastasis

Metastasis dalam organisasi adalah analogi yang kuat untuk memahami bagaimana masalah mendasar dapat menyebar dan mempengaruhi berbagai aspek organisasi. Dengan keberanian untuk melakukan diagnosa mendalam dan penanganan yang tepat, organisasi dapat menyelesaikan masalah fundamental dan menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif. Sama seperti dalam dunia medis, pengobatan yang berhasil memerlukan pemahaman yang mendalam dan pendekatan yang komprehensif, organisasi juga harus mengadopsi pendekatan yang serupa untuk memastikan keberhasilannya di masa depan.

Sehingga, sebagaimana dalam onkologi, diagnosis yang salah atau pengobatan yang salah arah dapat memperburuk keadaan. Organisasi Islam harus belajar dari kasus metastasis untuk menyadari bahwa masalah yang terlihat hanyalah puncak gunung es. Perlu keberanian untuk menggali lebih dalam, memahami akar masalah, dan mengambil langkah tegas untuk menyelesaikannya.

Organisasi yang mampu mengatasi “metastasis” akan menjadi entitas yang sehat, tangguh, dan relevan dalam membangun peradaban Islam yang berkelanjutan. Sebaliknya, organisasi yang hanya fokus pada artefak dan gejala akan terjebak dalam siklus stagnasi, perlahan kehilangan esensinya, dan akhirnya tenggelam dalam sejarah. Wallahu a’lam.

*) ASIH SUBAGYO, penulis adalah Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sambil berbaring menggunakan handphone karena kendala kesehatan.

Hidayatullah Nyatakan Dukungan Pada Visi dan Misi Pemerintahan Prabowo

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Organisasi Islam Hidayatullah menyatakan dukungan atas visi dan misi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pernyataan dukungan ini disampaikan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, saat pembukaan acara Rapat Kerja Nasional Hidayatullah (Rakernas) di Hotel Grand Asrilia Bandung, Jawa Barat, pada Ahad, 29 Jumadil Awal tahun 1446 (1/12/2024).

“Dukungan ini kami berikan demi mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, pembangunan yang berkelanjutan, peningkatan kesejahteraan rakyat, dan pemeliharaan lingkungan hidup,” jelas Nashirul.

Selain itu, ungkap Nashirul lagi, dalam berbagai forum, Presiden Prabowo telah menegaskan komitmen penting terkait kedaulatan nasional, ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan rakyat, pemberantasan korupsi, serta mewujudkan pemerintahan yang bersih.

Komitmen pemerintah yang tak kalah penting adalah sikap tegas dan dukungan kepada perjuangan rakyat Palestina untuk meraih kemerdekaannya.

“Visi, misi, dan komitmen tersebut memberi harapan baru dan optimisme bahwa Insya Allah Indonesia akan lebih baik di masa yang akan datang,” kata Nashirul lagi.

Atas alasan itulah, Hidayatullah menyatakan dukungan sepenuhnya kepada pemerintahan Prabowo dan siap berkolaborasi dengan Kabinet Merah Putih dalam membangun Indonesia yang lebih maju dan bermartabat.

Namun, tegas Nashirul, Hidayatullah juga akan memberikan saran dan kritik dengan cara yang bijak bila ada hal yang perlu diingatkan. “Hal ini perlu untuk menjaga agar Indonesia tetap berada pada jalur yang benar,” kata Nashirul.

Beberapa visi dan misi pemerintah Prabowo adalah mengokohkan ideologi dan jati diri bangsa; mendorong kemandirian melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, ekonomi biru; meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, kewirausahaan, industri kreatif dan pengembangan infrastruktur; memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan; serta reformasi politik, hukum, birokrasi, dan pemberantasan korupsi.

Sedang visi Hidayatullah adalah membangun peradaban Islam. Adapun beberapa misi Hidayatullah adalah menjalankan kegiatan pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, secara profetik dan profesional; membangun sinergi dengan segenap komponen umat Islam dalam gerakan amar maruf nahi munkar; serta mengajak pemerintah dan segenap bangsa Indonesia untuk mewujudkan NKRI yang bermartabat.*/Mahladi