Beranda blog Halaman 132

Launching Grand MBA Center Ikhtiar Cerdaskan Kehidupan Bangsa melalui Al-Qur’an

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Bertempat di lantai tiga Gedung Dakwah Kantor Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Kota Makassar, sebuah inovasi pendidikan berbasis dakwah bernama Grand MBA Center diluncurkan, Sabtu, 28 Jumadil Awal 1446 (30/11/2024).

Acara peluncuran ini merupakan bagian dari pelatihan intensif bagi dai dan guru ngaji bertajuk Daurah Muallim Grand MBA, yang bertujuan memperkenalkan metode pembelajaran Al-Qur’an yang lebih efektif dan mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat.

Ketua Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) Sulsel, Ust Reskyaman SW, menjelaskan Grand MBA atau Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al-Qur’an lahir sebagai wujud ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa, terutama melalui pemberantasan buta aksara Al-Qur’an.

Inisiatif ini pertama kali diperkenalkan pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah tahun 2001, dan sejak saat itu menjadi salah satu program unggulan lembaga untuk memajukan pendidikan Al Qur’an berbasis metodogi praktis.

“Metode ini dirancang untuk mempermudah proses pembelajaran, tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga orang dewasa yang ingin mendalami Al-Qur’an,” kata Ust Reskyaman, seperti dalam keterangan diterima media ini, Sabtu.

Peluncuran Grand MBA Center ini mempertegas komitmen Hidayatullah dalam memberantas buta aksara Al-Qur’an sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia yang unggul.

“Sebagai candradimuka bagi para dai dan guru ngaji, diharapkan Grand MBA Center ini aktif memfasilitasi transfer pengetahuan serta membangun ekosistem dakwah yang modern dan berkelanjutan,” jelas Reskyaman.

Sementara itu, Ustadz Muhdi Muhammad, instruktur nasional dari Tim Grand MBA, menekankan pentingnya pelatihan ini bagi para dai.

“Metode ini sebagai ikhtiar transformasi dakwah agar lebih adaptif dengan kebutuhan masyarakat modern,” ungkap Muhdi yang juga koordinator Rumah Qur’an Hidayatullah Nasional ini.

Dengan sinergi berbagai pihak, Muhdi berharap Grand MBA Center di Makassar ini menjadi pusat pengembangan inovasi pendidikan Al-Qur’an sehingga dakwah Islam senantiasa setarikan nafas dengan tradisi keluhurannya dan sejalan dengan kemajuan zaman.

Ketua DPD Hidayatullah Makassar, Dr. Nasrullah Sapa, Lc, menegaskan relevansi pendekatan baru ini dalam meningkatkan profesionalitas dakwah.

Menurutnya, dakwah hari ini perlu pendekatan baru, bisa beradaptasi dengan kondisi masyarakat yang menghendaki fasilitas standar selain guru yang memang memiliki kapasitas.

“Jadi sangat cocok jika adanya Grand MBA Center sebagai langkah koordinasi, perencanaan, dan aktivitas gerakan, agar kerja keumatan ini benar-benar profesional,” ujarnya.

Dalam pelatihan tersebut, para peserta, termasuk guru-guru Al-Qur’an seperti Muhammad Fauzi Azzaini dari Taman Al-Qur’an Al Hidayah Moncong Loe, mengapresiasi kesederhanaan metode ini.

“Dari pengalaman mengikuti pelatihan, cara belajar ini lebih mudah, simple untuk dipelajari dan tetap mempertahankan pengulangan huruf bacaan untuk memastikan terserap dengan baik,” kata Fauzi.

Pelatihan dan peluncuran Grand MBA Center ini juga didukung penuh oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (BMH) bersama Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) dan jaringan sinergi lainnya dalam rangka memperkuat pendidikan berbasis Al-Qur’an, yang juga sejalan dengan cita-cita bangsa dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat. (ybh/hidayatullah.or.id)

Rakernas 2024 Kukuhkan Konsolidasi Sebagai Pilar Transformasi Hidayatullah

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Rakernas (Rapat Kerja Nasional) Hidayatullah 2024 yang diadakan di Bandung, Jawa Barat, mengangkat tema “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan, Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik”.

Tema ini, sebagaimana disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, merupakan landasan yang konsisten dalam berbagai agenda organisasi selama periode kepengurusan 2020-2025.

Menurut Nashirul, fokus pada konsolidasi menjadi kunci bagi keberhasilan organisasi.

“Konsolidasi jati diri harus menjadi langkah awal. Sebab, jati diri adalah dasar, spirit, dan jiwa dalam menjalankan berbagai program,” tegasnya di depan seluruh peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah di Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 28 Jumadil Awal 1446 (30/11/2024).

Konsolidasi jati diri ini menurutnya menjadi fondasi utama yang tidak hanya memperkuat identitas, tetapi juga menjadi inspirasi organisasi dalam melaksanakan program yang berbasis ideologi.

Namun, ia mengingatkan, langkah konsolidasi ini tidak berhenti pada aspek jati diri. Nashirul menekankan perlunya konsolidasi organisasi sebagai upaya untuk mengintegrasikan ideologi ke dalam program-program yang operasional dan membumi.

“Agar membumi, perlu konsolidasi organisasi,” ujar Nashirul, seraya menekankan bahwa ideologi yang kokoh harus terhubung dengan mekanisme kerja yang efisien dan terorganisasi.

Selain jati diri dan organisasi, wawasan menjadi dimensi ketiga dalam tema besar Rakernas kali ini. Nashirul mencontohkan keberanian dan inovasi Umar bin Khaththab sebagai refleksi penting bagi kader Hidayatullah.

“Umar bin Khaththab mampu membuat banyak terobosan hanya dalam waktu dua tahun setelah Rasulullah wafat. Beliau tidak butuh waktu sampai 50 tahun seperti kita,” ujarnya.

Terobosan yang berhasil dilakukan Umar tersebut, lanjutnya, tak lain karena pribadi Umar memiliki wawasan keislaman yang sangat baik serta kemampuannya dalam beradaptasi dan menciptakan perubahan signifikan.*/Mahladi

Ekspansi dan Inklusi Arah Baru Hidayatullah Menuju 50 Tahun Kedua

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Organisasi Hidayatullah saat ini sudah masuk 50 tahun kedua. Pada setengah abad kedua ini, menurut Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah, Drs Hamim Thohari M.Si, Hidayatullah harus berani tampil beda.

“Hidayatullah harus lebih terbuka. Harus inklusif!,” jelas Hamim di depan seluruh peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah di Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 28 Jumadil Awal 1446 (30/11/2024).

Hamim berharap gerak Hidayatullah ke depan bisa lebih cepat dari sebelumnya.

Sementara itu Ketua Dewan Murabbi Pusat, Dr. Tasyrif Amin, menjelaskan, tahun 2025 mendatang perkaderan Hidayatullah harus lebih ekspansif.

“Kami akan mempersiapkan murabbinya. Silahkan DPP membuat sebanyak mungkin halaqah,” jelas Tasyrif.

Karena itu para kader Hidayatullah, di bawah koordinasi Departemen Rekrutmen dan Pembinaan Anggota, harus lebih giat lagi mengajak masyarakat ikut terlibat dalam program-program Hidayatullah.

Perlu Konsolidasi

Tema Rakernas Hidayatullah kali ini adalah Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan, Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik.

Tema ini, menurut Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr. Nashirul Haq dalam sambutannya, sama seperti tema Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah yang digelar di awal periode kepengurusan sekarang ini. Bahkan, tema itu pula yang diambil dalam setiap Rakernas pada periode ini.

Hal ini menandakan, menurut Nashirul, konsolidasi harus dilakukan terus menerus dan diharapkan selesai pada tahun 2025 kelak, yakni saat periode kepengurusan 2020-2025 berakhir. Jika konsolidasi sudah selesai, maka langkah ekspansi sebagai langkah selanjutnya, akan lebih mudah.

Konsolidasi jati diri, jelas Nashirul lagi, harus menjadi langkah awal. Sebab, jati diri adalah dasar, spirit, dan jiwa dalam menjalankan berbagai program.

Namun, konsolidasi jati diri saja tidak cukup. Sebab, jika hanya konsolidasi jati diri, program-program yang dicanangkan Hidayatullah hanya bersifat ideologis dan tidak membumi. Agar membumi, perlu konsolidasi organisasi.

Konsolidasi jati diri dan konsolidasi organisasi ternyata juga belum cukup. Masih perlu wawasan yang mampu membuat kader-kader Hidayatullah berani berkreasi dan berinovasi.

“Umar bin Khaththab mampu membuat banyak terobosan hanya dalam waktu dua tahun setelah Rasulullah wafat. Beliau tidak butuh waktu sampai 50 tahun seperti kita,” jelas Nashirul. Keberanian ini, lanjutnya, tak lain karena pribadi Umar memiliki wawasan keislaman yang sangat baik.*/Mahladi

Istimewanya Grand Asrilia Hotel Tempat Gelaran Rakernas Hidayatullah di Bandung

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Pada akhir tahun 2024, Hidayatullah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dengan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat sebagai tuan rumah.

Rakernas ini berlangsung selama tiga hari, pada 28-30 Jumadil Awal 1446 H atau bertepatan dengan 30 November hingga 2 Desember 2024, bertempat di Grand Asrilia Hotel, Kota Bandung.

Hotel megah yang berlokasi di Jalan Pelajar Pejuang, Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung yang menjadi venua Rakernas Hidayatullah 2024 ini terbilang istimewa.

Grand Asrilia Hotel mengusung konsep syariah yang menjadikannya salah satu pilihan utama bagi wisatawan dan pelaku bisnis yang mengutamakan prinsip-prinsip Islam dalam aktivitas sehari-hari.

Salah satu aspek yang membedakan Grand Asrilia dari hotel lainnya adalah tekad pemiliknya, Asril Das, yang memiliki obsesi untuk menjadikan hotel ini sebagai hotel syariah terbesar di Indonesia. Keistimewaan ini tercermin dalam setiap detail layanan yang disediakan, mulai dari aspek pemenuhan kebutuhan pengunjung, hingga tata kelola operasional yang berlandaskan prinsip syariah.

Sebagai sebuah hotel syariah, Grand Asrilia tidak hanya menawarkan kenyamanan tetapi juga memberikan pengalaman spiritual yang berbeda. Semua fasilitas dan layanan yang ada di hotel ini mengedepankan nilai-nilai keislaman, termasuk pembatasan dalam hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama, seperti penyediaan alkohol atau hiburan yang tidak sesuai dengan norma syariah.

Selain itu, kebijakan operasional hotel ini mencakup pemberian ruang yang nyaman bagi pengunjung untuk beribadah, dengan menyediakan fasilitas seperti mushola yang mudah diakses.

Komitmen Sosial

Keistimewaan lain dari Grand Asrilia adalah peran aktifnya dalam penanggulangan pandemi Covid-19. Pada 24 Juni 2021, di tengah ketidakpastian dan ketakutan yang melanda dunia, terutama terkait penyebaran virus Corona, Grand Asrilia Hotel menjadi tempat pemulihan pertama bagi pasien Covid-19 di Kota Bandung.

Keputusan itu diambil setelah pemiliknya, Asril Das, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana banyak orang terkapar dan menunggu tempat perawatan yang terbatas di rumah sakit.

“Saya melihat di televisi, orang terkapar menunggu di ruang tunggu, tidak jelas sampai kapan mereka akan mendapatkan ruang perawatan. Di situlah saya berpikir, keluarga saya juga sempat bertanya, kasihan melihat orang-orang itu, saya jawab, iya kasihan,” ungkap Asril Das dalam wawancaranya seperti dikutip oleh Kliknusae.com pada 27 Juni 2021.

Pada saat itu, banyak hotel yang enggan membuka pintu bagi pasien isolasi mandiri karena kekhawatiran terhadap penyebaran virus. Namun, Asril Das, meskipun awalnya merasa ragu karena pertimbangan psikologis, akhirnya memutuskan untuk berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan menjadikan hotelnya sebagai pusat pemulihan bagi pasien Covid-19.

Sebagai hotel bintang empat, Grand Asrilia terus berkembang dan menawarkan berbagai fasilitas yang mendukung kenyamanan pengunjung. Dengan lokasinya yang hanya berjarak 20 menit berkendara dari Trans Studio Bandung, hotel ini menawarkan berbagai fasilitas unggulan, termasuk resepsionis yang tersedia 24 jam, kolam renang, dan Wi-Fi gratis di seluruh area.

Selain itu, hotel ini juga menyediakan kamar yang ramah bagi difabel, memastikan bahwa semua pengunjung dapat menikmati layanan dengan mudah.

Hotel ini juga dikenal karena ruang pertemuan yang luas dan lengkap, membuatnya menjadi pilihan ideal untuk berbagai acara, seperti konferensi, seminar, hingga rapat kerja seperti yang dilakukan oleh Hidayatullah.

Dengan segala fasilitas yang ditawarkan, Grand Asrilia menjawab kebutuhan masyarakat akan akomodasi yang tidak hanya nyaman, tetapi juga sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut sebagai komitmen untuk membangun masa depan yang lebih baik melalui penerapan nilai-nilai syariah dalam industri perhotelan. (ybh/hidayatullah.or.id)

Transformasi Tarbiyah dan Dakwah Hidayatullah Teguhkan Khidmat untuk Umat

0
Kegiatan Halaqah Kader di Masjid ArRiyadh Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, [Foto: SKR/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Memasuki usia lebih dari 50 tahun, organisasi masyarakat (ormas) Islam Hidayatullah terus memantapkan perannya sebagai motor penggerak keumatan melalui tarbiyah dan dakwah.

Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd.I, kembali menegaskan inti perjuangan organisasi ini dengan menyoroti transformasi gerakan era modern di hadapan ratusan warga dan santri di Masjid Ar-Riyadh, Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, pada Sabtu, 21 Jumadil Awal 1446 (23/11/2024).

Menurutnya, Hidayatullah mengalami pergeseran paradigmatik dalam cara memandang tempat tinggal kadernya. Dahulu, kampus menjadi pusat utama pergerakan dakwah. Kini, keberadaan fisik di kampus bukan lagi penentu utama.

“Yang menentukan adalah dia loyal dan ikut halaqah, memiliki murabbi yang membimbing dia dalam eksistensi sebagai kader dan jamaah Hidayatullah,” jelas Tasyrif.

Tasyrif menjelaskan, halaqah menjadi lokomotif transformasi Hidayatullah. Ustadz Tasyrif menegaskan pentingnya loyalitas kader terhadap halaqah sebagai bagian dari kepemimpinan kultural Hidayatullah.

“Meskipun tinggal di ujung Balikpapan, kalau dia istiqamah ikut halaqah, berarti secara kultural dia eksis melalui kepemimpinan kultural Hidayatullah dan secara infiradi dia istiqamah menegakkan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH),” katanya.

Sebaliknya, mereka yang tinggal di lingkungan kampus tetapi tidak aktif dalam halaqah atau GNH akan dipertanyakan eksistensinya sebagai bagian dari organisasi. “Itulah konsekuensi keterbukaan lembaga,” tegas Ustadz Tasyrif.

Landasan pemikiran gerakan ini, terang dia, bersandar pada manhaj Nabawi, yang menekankan perlunya seorang Muslim memiliki murabbi atau pembimbing spiritual.

Dengan merujuk ayat 79 dari Surah Ali Imran, ia menjelaskan, masyarakat di Makkah dan Madinah disebut khaira ummah karena mereka terpimpin secara kultural dan struktural.

Menurutnya, pola pembinaan ini juga diilhami dari pengalaman Pemimpin Umum Hidayatullah saat melakukan ziarah ke Tanah Suci. Transformasi ini menciptakan pola dakwah dan tarbiyah yang menyesuaikan dengan tantangan zaman tanpa kehilangan esensinya.

Sebagai penutup, Tasyrif memaknai bahwa melalui tarbiyah dan dakwah yang inklusif, Hidayatullah tidak hanya mempertahankan relevansinya, tetapi juga memperluas dampak keumatannya.

Dia menegaskan, dengan halaqah sebagai lokomotif dan loyalitas kader sebagai fondasi, Hidayatullah berupaya meneguhkan bahwa nilai-nilai universal Islam tetap hidup di tengah modernitas.

Ustadz Tasyrif memandang halaqah sebagai sumber energi besar yang berpotensi mendukung ekspansi dakwah.

“Sekarang ini, energi yang dimiliki oleh halaqah masih energi internal. Bisa dibayangkan jika seluruh anggota halaqah yang telah dibina lalu ekspansi dakwah membangun gerakan keumatan,” ujarnya memungkasi.*/Abu Jaulah/MCU

Energizing Green Space, Kolaborasi Hijau PLN dan Hidayatullah untuk Masa Depan Berkelanjutan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan menjadi tuan rumah program Energizing Green Space yang diinisiasi oleh PLN Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (PLN UIP KLT).

Program ini, bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN, bertujuan untuk menciptakan ruang hijau yang produktif serta berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Kegiatan ini sekaligus memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia 2024.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, KH Hamzah Akbar, menyambut baik inisiatif ini. Dalam sambutannya, Hamzah menyampaikan penghijauan ini akan menjadi warisan bagi generasi mendatang sekaligus menjadi sarana pembelajaran lingkungan yang nyata bagi para santri.

“Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam membangun kesadaran generasi muda santri akan pentingnya menjaga keseimbangan alam, khususnya melalui pemanfaatan ruang hijau yang lebih produktif,” katanya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Jum’at, 27 Jumadil Awal 1446 (29/11/2024).

Inisiatif penghijauan semacam ini, jelas Hamzah, sangat relevan dalam konteks global menghadapi tantangan perubahan iklim. Dia menyebutkan, menurut data United Nations Environment Programme (UNEP), reboisasi adalah salah satu cara paling efektif untuk menyerap karbon dioksida dan mengurangi dampak gas rumah kaca.

Oleh karena itu, imbuhnya, kolaborasi antara sektor korporasi dan entitas sosial keagamaan, seperti yang dilakukan PLN dan Pesantren Hidayatullah, merupakan langkah strategis yang mendukung agenda lingkungan hidup nasional.

Menurutnya, kerjasama ini merupakan wujud nyata dari komitmen multi-pihak terhadap keberlanjutan. Tentu penting sekali kita menjaga kesinambungan program ini untuk generasi mendatang.

“Perawatan ruang hijau, termasuk yang telah lama dijaga di kampus Hidayatullah Gunung Tembak ini tidak hanya menjadi warisan fisik, tetapi juga menciptakan warisan intelektual yang mengakar pada santri, yakni pemahaman akan pentingnya menjaga alam sebagai amanah ilahi,” harap Hamzah.

Pondok Pesantren Hidayatullah, dengan tradisi keagamaannya yang kuat, jelas Hamzah, kini berkesempatan terus menguatkan perannya menjadikan ruang hijau sebagai laboratorium alam bagi para santri.

Dari sinilah, terang Hamzah, santri dapat memahami langsung konsep ekologi, pentingnya pohon bagi penyerapan karbon, hingga cara menjaga keanekaragaman hayati di kawasan pesantren.

Sebagai institusi dakwah dan pendidikan berbasis agama, Hidayatullah selama ini telah berperan aktif dalam pelestarian bumi serta memiliki posisi unik untuk mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan ekologis.

Dia menambahkan, konsep khalifah fil ardh (kepemimpinan manusia atas bumi) yang sering diajarkan dalam Islam mendapatkan aplikasinya melalui aktivitas penghijauan ini.

Tanam 2.000 Bibit Pohon Produktif

Sebanyak 2.000 bibit pohon buah produktif, seperti manggis, jeruk nipis, jeruk purut, jambu kristal, dan nangka, ditanam di lahan pesantren yang terletak di Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan. Upaya ini dirancang untuk menghadirkan manfaat jangka panjang, baik sebagai penyedia udara bersih maupun sumber daya ekonomi lokal.

General Manager PLN UIP KLT, Raja Muda Siregar, bersama jajaran manajemen senior PLN hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Dalam sambutanya, Raja menegaskan bahwa program ini adalah bentuk nyata kontribusi PLN terhadap pelestarian lingkungan dan mitigasi perubahan iklim.

“Hari ini kita tidak hanya menanam pohon sebagai simbol, tetapi juga menanam harapan. Harapan untuk masa depan yang lebih hijau, lebih sehat, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Raja menjelaskan bahwa program ini mendukung pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya TPB 13 tentang perubahan iklim dan TPB 15 yang berfokus pada pelestarian ekosistem darat. Dengan melibatkan institusi pendidikan berbasis pesantren, PLN memanfaatkan ruang kolaborasi untuk membangun kesadaran lintas generasi tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekologi.

PLN UIP KLT, melalui Energizing Green Space, tidak hanya memberikan kontribusi lingkungan, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dengan masyarakat lokal.

Raja menambahkan, inisiatif ini mencerminkan bagaimana pendekatan berbasis kolaborasi dapat menghadirkan solusi nyata bagi isu-isu global, seperti pelestarian lingkungan dan perubahan iklim.*/Adam Sukiman

Crowdfunding Blockchain untuk Transparansi Zakat Inovasi Laznas Baitul Maal Hidayatullah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitulmaal Hidayatullah (BMH) bersama dengan platform digital iBantu luncurkan platform crowdfunding berbasis blockchain berbagi.bmh.or.id dalam acara bertajuk “Berbagi di Era Digital: Transparansi dan Amanah untuk Masa Depan” di Jakarta, Kamis, 26 Jumadil Awal 1446 (28/11/2024).

Peluncuran ini menandai tonggak baru dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, dengan penerapan teknologi mutakhir guna meningkatkan transparansi dan kepercayaan publik.

Peluncuran ini dihadiri Pimpinan Bidang Koordinasi Nasional Baznas RI KH Achmad Sudrajat dan Prof. Nadratuzzaman Hosen, Pimpinan Bidang Inovasi Teknologi. Sinergi antara BMH dan iBantu dalam menciptakan platform ini menandai era baru transparansi dan kepercayaan dalam dunia filantropi.

Blockchain, teknologi yang menjadi basis platform ini, menawarkan sistem pencatatan terdesentralisasi yang memungkinkan setiap transaksi dicatat secara permanen, aman, dan transparan.

Teknologi ini memberikan keunggulan signifikan, seperti kemampuan memantau alur dana secara real-time hingga mencapai penerima manfaat zakat. Hal ini diharapkan menjawab tantangan transparansi, yang sering menjadi sorotan dalam lembaga filantropi.

“Ini merupakan inovasi,” ujar Achmad Sudrajat dalam sambutannya. Ia menegaskan bahwa pengelolaan zakat tidak lagi bisa dilakukan secara konvensional. “Tantangan ke depan membutuhkan kreativitas tingkat tinggi. Tidak mungkin kita bermain secara konvensional,” imbuhnya.

Achmad menekankan bahwa jutaan mustahik (penerima zakat) menunggu kontribusi nyata dari lembaga-lembaga amil zakat. Karena itu, inovasi melalui teknologi informasi adalah keharusan.

Kebutuhan akan inovasi di sektor filantropi bukan hanya tuntutan zaman, tetapi juga respon terhadap ekspektasi masyarakat yang semakin tinggi akan transparansi dan akuntabilitas.

“Kita harus adaptif dengan perkembangan teknologi. Inovasi ini akan memperkuat amanah kita kepada masyarakat,” katanya. Dengan teknologi blockchain, publik kini dapat memastikan bahwa dana yang mereka salurkan akan sampai kepada penerima yang berhak dengan transparan.

Sudrajat menambahkan, zakat memiliki makna yang mendalam, yaitu ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan). Banyak yang berpikir bahwa zakat mengurangi harta. Padahal, tegasnya, justru sebaliknya. Dalam konsep ilahi, zakat bertumbuh dan membawa keberkahan, baik bagi yang memberi maupun yang menerima.

“Saat bayar zakat, uang terkurangi dong. Padahal nggak. Karena, yang namanya zakat pasti konsep ilahinya an nubuw wa ziyadatil khair wa tazkir wa tazkiyah. Bertumbuh dan tertambahnya kebaikan,” tandasnya.

Prof. Nadratuzzaman Hosen yang menyatakan pentingnya adaptasi teknologi dalam memperkuat amanah kepada masyarakat.

Langkah Strategis Hadapi Masa Depan

Pada kesempatan yang sama Ketua Dewan Pengurus BMH, Firmanza, menjelaskan bahwa penerapan teknologi ini merupakan langkah strategis dalam menghadapi tantangan kemiskinan di masa depan.

“Tahun-tahun ke depan akan menjadi ujian luar biasa. Namun, ini juga menjadi peluang untuk memperkuat sistem filantropi agar lebih efisien dan transparan, sehingga mereka yang berada di bawah garis kemiskinan dapat menerima manfaat secara langsung dan tepat sasaran,” jelas Firmanza.

Dia berharap platform crowdfunding berbasis blockchain ini dapat menjadi model bagi semua pihak, termasuk pemerintah, BAZNAS, masyarakat, dan lembaga amil zakat lainnya. Ia optimistis teknologi ini akan diimplementasikan lebih luas di masa mendatang.

Dengan dukungan teknologi blockchain, Firmanza menambahkan, BMH memastikan bahwa setiap rupiah yang disumbangkan akan dikelola dengan amanah, memberikan manfaat optimal bagi masyarakat yang membutuhkan, sekaligus membangun kepercayaan yang lebih besar antara lembaga amil zakat dan masyarakat.

Ciptakan Dampak Lebih Besar

Presiden Direktur iBantu, Damar Hulan Osman, menyampaikan bahwa kerja sama ini mencerminkan komitmen kedua lembaga dalam menciptakan inovasi berbasis teknologi untuk memperluas dampak sosial filantropi.

“Dengan kebersamaan, kita bisa mewujudkan mimpi besar, menjadikan setiap langkah kolaborasi ini sebagai amal jariyah yang memberikan manfaat bagi umat sekaligus menjadi warisan berharga di masa depan,” ujar Damar.

Menurutnya, filantropi adalah cerminan cinta dan kepedulian, yang lebih dari sekadar kewajiban. “Filantropi menghubungkan hati yang memberi dengan jiwa yang menerima. Setiap kebaikan, sekecil apa pun, memiliki kekuatan untuk mengubah dunia,” tambahnya.

Damar juga menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi dalam mewujudkan ekosistem filantropi yang lebih baik. “Platform ini adalah simbol dedikasi dan inovasi untuk menciptakan filantropi yang lebih transparan, aman, dan berdampak besar,” katanya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Iqra’ Bismirabbik Membangun Peradaban dengan Semangat Perbaikan Diri dan Masyarakat

0

PADA Kamis malam (28/11/2024), saya berkesempatan berbincang daring bersama tiga guru dan seorang pengusaha, menggali makna mendalam dari perintah pertama dalam Islam, Iqra’ Bismirabbik.

Tak hanya tekstual, perintah ini mengajak umat manusia untuk membaca kehidupan dengan perspektif mukmin, yaitu mengaitkan ilmu dengan iman dan amal dengan merefleksi esensi Islam sebagai agama yang mengintegrasikan pengetahuan, spiritualitas, dan tindakan nyata.

Perintah Iqra’ pertama kali diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dalam masa awal kenabian di Makkah, sebuah kota yang pada saat itu jauh dari peradaban besar seperti Romawi dan Persia.

Wahyu ini hadir bukan untuk mengadopsi pola pikir bangsa-bangsa besar ketika itu, tetapi untuk memperkenalkan paradigma baru yang menghubungkan ilmu dengan iman.

Dalam kerangka tersebut, perintah iqra’ bukan sekadar membaca dalam pengertian teknis, tetapi membaca dengan penuh kesadaran akan kebesaran Allah SWT, Sang Pencipta.

Sebagaimana ditegaskan oleh Dr. Syamsuddin Arif dalam bukunya Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, epistemologi Islam menekankan cara berpikir yang tulus, jujur, dan lurus berdasarkan iman. Cara berpikir ini berbeda dengan pola pikir diabolik, yang menurutnya diwakili oleh Iblis, yang memahami tanpa mengimani, dan mengetahui tanpa mengamalkan. Dalam diskusi malam itu, pandangan ini menjadi fondasi untuk memahami Iqra’ sebagai ajakan intelektual dan spiritual sekaligus.

Salah satu poin penting dalam diskusi adalah penekanan pada pengamalan ilmu. Indra Azhar Ahmad, seorang pengusaha yang turut serta, menekankan dengan mengajukan pertanyaan, apa yang sudah kita baca, dan bagaimana bisa kita amalkan? Jangan sampai banyak membaca tetapi tak ada niat untuk mengamalkannya.

Islam menekankan keterpaduan antara ilmu dan amal. Dalam Al-Quran, banyak ayat yang menyebutkan “orang-orang yang beriman dan beramal saleh,” menegaskan bahwa keimanan yang tidak disertai amal akan kehilangan substansinya. Amal yang berdasarkan ilmu juga menjamin bahwa tindakan yang dilakukan memiliki landasan yang benar.

Infantri, seorang guru yang hadir dalam diskusi, berbagi pengalaman pribadinya. “Saya membaca buku dan mencoba mengubah perilaku dari hal-hal kecil. Itu cara saya menjadikan diri lebih bermanfaat,” katanya.

Dia mencontohkan bagaimana perubahan kecil, yang dilakukan secara konsisten, dapat membawa dampak besar dalam hidup dan lingkungan sekitar.

Apa yang dikemukakan Infantri selaras dengan konsep tazkiyah dalam Islam, yaitu proses penyucian jiwa yang dilakukan melalui perbaikan diri secara terus-menerus.

Maka, membaca, dalam hal ini, bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi menjadi sarana introspeksi diri. Setiap informasi yang diperoleh dari bacaan harus mendorong seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih peduli terhadap orang lain.

Irham, guru lain yang turut berbicara, menambahkan, iqra’ itu membaca dengan target pengamalan. Membaca yang baik seharusnya mendorong diri untuk beramal. Perspektif Irham ini menegaskan bahwa membaca dengan nama Tuhan (bismirabbik) tidak hanya bertujuan untuk menambah wawasan, tetapi untuk memotivasi perubahan diri dan perbaikan masyarakat.

Membangun Peradaban Berbasis Iqra’

Diskusi malam itu menegaskan bahwa Iqra’ adalah fondasi bagi pembangunan peradaban. Sebuah peradaban yang berlandaskan Islam tidak hanya mengagungkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadikan ilmu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan membangun masyarakat yang lebih baik.

Dalam tradisi Islam, kontribusi ilmu terhadap peradaban terlihat nyata, misalnya dalam kontribusi ulama klasik seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Khawarizmi. Mereka membaca dan memahami dunia melalui kacamata iman, menjadikan ilmu mereka bermanfaat bagi umat manusia.

Sejalan dengan itu, Iqra’ Bismirabbik adalah ajakan untuk membaca dengan kesadaran bahwa ilmu adalah amanah. Ilmu bukan sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu, tetapi untuk memberikan manfaat bagi kehidupan. Proses ini dimulai dengan niat yang benar, berlanjut dengan pengumpulan pengetahuan, dan diakhiri dengan pengamalan yang nyata.

Pesan dalam perintah iqra’ bismirabbik memiliki relevansi yang universal. Dalam masyarakat modern yang sering kali terjebak dalam dualisme antara agama dan ilmu, Iqra’ mengajarkan integrasi.

Agama tidak anti terhadap ilmu, tetapi justru menjadikan ilmu sebagai pilar untuk membangun individu dan masyarakat yang unggul. Dengan semangat Iqra’ inilah, manusia dapat mencapai keseimbangan antara aspek intelektual, spiritual, dan sosial.

Membaca dengan niat yang benar, sebagai mukmin, berarti menghubungkan ilmu dengan pengamalan, menjadikannya bagian dari perjalanan menuju keridhaan Allah.

Melalui iqra’ bismirabbik, manusia diajak untuk menjadi lebih baik, menyerap ilmu, dan meneguhkan kontribusi dalam membangun peradaban yang berakar pada iman dan bertujuan pada kemaslahatan dunia dan akhirat.[]

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Membangun Generasi Qur’ani Ditengah Tantangan Infrastruktur di Pondok Panjang

0

LEBAK (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Nurus Salam, yang berdiri di Kampung Pasir Mantang, Desa Pondok Panjang, Kabupaten Lebak, telah menjadi pusat pendidikan agama sejak 2015. Meski menjadi mercusuar pendidikan bagi masyarakat sekitar, pesantren ini menghadapi tantangan besar, yaitu ketiadaan sumber air bersih yang layak, yang berdampak signifikan pada keseharian dan kualitas pendidikan para santri.

Pengasuh pesantren, Ustaz Lindanugraha, yang kini berusia 37 tahun, telah berjuang keras untuk memastikan kebutuhan dasar pesantren terpenuhi. Namun, keterbatasan infrastruktur membuat perjuangan itu tidak mudah.

Dua kali usaha penggalian sumur, dari 2016 hingga 2018, gagal akibat kondisi tanah berbatu yang keras. Akibatnya, pesantren hanya mengandalkan tadah air hujan dan air kubangan sawah yang harus diambil dari lokasi jauh. Jalanan terjal dan berbatu memperparah upaya mendapatkan sumber air.

“Air bersih adalah kebutuhan dasar. Tanpa itu, kami sulit menjaga kesehatan dan kenyamanan santri dalam belajar,” tutur Ustaz Lindanugraha.

Ia, yang berasal dari keluarga sederhana—ayah seorang tukang kayu dan ibu seorang buruh kebun—menunjukkan tekad luar biasa untuk menghadirkan pendidikan berkualitas bagi generasi muda meski di tengah keterbatasan.

Kesulitan ini tidak hanya memengaruhi kehidupan sehari-hari, tetapi juga menghambat proses belajar mengajar. Santri yang belajar mengaji harus melakukannya dalam kondisi yang kurang ideal. “Kami berharap ada bantuan dari pemerintah maupun masyarakat agar para santri bisa belajar dan tinggal di lingkungan yang layak,” tambahnya.

Kesulitan yang dialami Ponpes Nurus Salam mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak pesantren di daerah terpencil. Infrastruktur dasar, seperti akses air bersih, masih menjadi kendala yang sulit diatasi. Karena itu, dukungan dari berbagai pihak menjadi sangat penting.

Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) turut memberikan perhatian kepada Ponpes Nurus Salam. Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Banten, Roni Hayani, mengatakan pihaknya memahami betapa pentingnya air bersih bagi kelangsungan pendidikan dan kesehatan santri.

“Melalui zakat, infak, dan sedekah, kami berkomitmen membantu pesantren ini menemukan solusi jangka panjang,” ungkap Roni Hayani.

Kontribusi dari zakat, infak, dan sedekah tidak hanya meringankan beban operasional pesantren, tetapi juga memungkinkan terciptanya lingkungan belajar yang lebih baik.

Dalam kasus Ponpes Nurus Salam, dukungan ini membantu memenuhi kebutuhan dasar seperti air bersih, yang pada akhirnya mendukung kesehatan dan kenyamanan santri dalam belajar. Selain itu, bantuan ini juga menjadi investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi Qur’ani yang berakhlak mulia.*/Herim

Gelisah di Jumat Berkah

0

“MAS, saya gelisah kalau tiba hari Jumat,” kata seorang sopir ojek online

Loh, Jumat penuh berkah kok malah gelisah sih, Pak?

“Iya, Mas, justru saya gelisah karena kesulitan mendapatkan Jumat berkah,” katanya dengan nada kesal

“Maksudnya bapak gimana, saya belum paham?”

“Setiap Jumat, jam pulang anak sekolah mepet kadang bersamaan dengan adzan Jumat. Saya harus menjemputnya, sehingga seringkali ketinggalan sunnah sunnah sebelum Jumat. Kenapa kebijakannya tidak pulang lebih awal atau sekalian dikondisikan shalat Jumat di sekolah,” bapak itu menerangkan sekaligus memberikan solusi.

Subhanallah, bapak gelisah yang positif. Tapi, solusinya sudah pernah disampaikan ke sekolah?”

“Belum mas, mana mungkin didengar, saya wali santri biasa dan orang kecil”

Entah sejak kapan kebijakan jam sekolah hari Jumat kepulangannya mepet hingga pukul 12.00. Padahal sebelumnya hari Jumat, jam kepulangan lebih awal yaitu pukul 10.30 atau 11.00 untuk memberikan kesempatan murid-murid dan guru-guru muslim bisa persiapan ibadah shalat Jumat.

Sebenarnya pengaturan Jumat lebih awal pulang sekolah sudah menjadi kompromi untuk umat Islam. Karena di sebagian sekolah muslim, libur sekolah itu hari Jumat untuk memuliakan dan mengkondisikan umat Islam bisa beribadah dengan tenang dan maksimal.

Bisa dibayangkan berapa ribu umat Islam yang terganggu ibadah shalat Jumatnya jika terus menerus pulang anak sekolah mepet waktu Jumat. Bukan hanya murid dan guru yang terganggu, tapi orang tuanya, penjemputnya, para sopir angkut, ojek online, satpam, penjual makanan dan semua yang terkait anak sekolah.

Padahal shalat Jumat itu sakral dan hukumnya wajib. Ketika kewajiban tidak dilaksanakan secara massif dan terus menerus karena terhalang oleh sistem maka akan ada degradasi spritual masyarakat.

Semoga ini bukan karena sebuah kesengajaan dari regulasi untuk tujuan tujuan tertentu yang sengaja menyulitkan umat Islam menunaikan ibadah shalat Jumat dengan sempurna. Tapi karena ketidaktahuan urgensi dari ibadah shalat Jumat.

Jumat berkah perlu dirasakan dan dinikmati oleh semua muslim dengan sistem sosial kemasyarakatan yang mendukung. Maka kebijakan pemerintah dan instansi dalam menetapkan regulasi sangat penting untuk menjemput Jumat berkah.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah