Beranda blog Halaman 15

Gandeng LSH Hidayatullah, Sertifikasi Juru Sembelih Halal Jadi Bagian Festival Cenderawasih 2026

0

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Festival Cenderawasih 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia Provinsi Papua kembali menghadirkan berbagai program penguatan ekonomi daerah.

Selain mendorong perkembangan UMKM, pariwisata, investasi, dan digitalisasi, festival tahun ini juga memberikan perhatian pada penguatan ekonomi syariah melalui pelatihan dan sertifikasi kompetensi BNSP Juru Sembelih Halal.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 8–10 Juni 2026, di Gedung Serbaguna BI Papua, Kota Jayapura, dilaksanakan bekerja sama dengan Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah. Program ini menghadirkan instruktur dari Pengurus Pusat LSH Hidayatullah, yakni KH Nanang Hanani dan Ustadz Muhammad Syarif.

Pelatihan tersebut difokuskan pada peningkatan kompetensi tenaga juru sembelih halal agar mampu menjalankan proses penyembelihan sesuai standar yang berlaku.

Selain aspek teknis, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai prinsip-prinsip syariah yang menjadi dasar dalam praktik penyembelihan halal.

KH Nanang Hanani menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki tujuan yang lebih luas dibanding sekadar peningkatan keterampilan individu.

Menurutnya, keberadaan juru sembelih yang kompeten menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan ekosistem halal.

“Dari pelatihan dan sertifikasi ini menyiapkan juru sembelih yang amanah, profesional, kompeten dan dalam rangka menguatkan ekonomi syariah dan ekosistem halal,” kata Nanang.

Ia juga menekankan bahwa kebutuhan terhadap tenaga penyembelih yang memahami tata cara penyembelihan halal semakin meningkat. Kondisi tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap produk yang memenuhi standar halal.

Melalui pelatihan dan sertifikasi kompetensi ini, peserta memperoleh pembekalan yang mendukung penerapan standar halal secara konsisten.

Kehadiran program tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok halal yang mencakup berbagai sektor usaha.

Kolaborasi BI Papua dan LSH Hidayatullah dalam Festival Cenderawasih 2026 sekaligus dalam rangka menguatkan keterkaitan antara pengembangan ekonomi daerah dengan penguatan sektor halal sebagai salah satu komponen yang terus berkembang di tengah masyarakat.

Dari Bontang untuk Indonesia: Siswa MI Hidayatullah Berhasil Menjadi Hafiz 30 Juz

0

BONTANG (Hidayatullah.or.id)— Di tengah tantangan pendidikan modern dan derasnya arus digitalisasi, kabar membanggakan datang dari Kota Bontang, Kalimantan Timur. Muhammad Fadil, siswa kelas VI MI Ar-Riyadh Hidayatullah Bontang, berhasil menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an melalui Program Takhassus Tahfizul Qur’an yang dikembangkan madrasah tersebut.

Capaian istimewa itu dikukuhkan dalam kegiatan Khatmil Qur’an wa al-Imtihan yang berlangsung di Aula Usman Palese, Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang, Rabu (3/6/2026). Keberhasilan Fadil menjadi bukti bahwa pendidikan Al-Qur’an yang terencana, konsisten, dan didukung lingkungan yang kondusif mampu melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an sejak usia dini.

Putra pasangan Marwan B. Nawer dan Marniati itu telah menunjukkan ketertarikannya terhadap Al-Qur’an sejak awal menempuh pendidikan di MI Ar-Riyadh. Untuk mengembangkan potensinya, ia mengikuti Program Takhassus Tahfizul Qur’an, sebuah program pembinaan intensif yang dirancang bagi peserta didik yang memiliki minat dan kemampuan menghafal Al-Qur’an hingga 30 juz.

Dalam proses pembinaannya, para siswa tidak hanya ditargetkan menyelesaikan hafalan, tetapi juga dibekali kemampuan membaca Al-Qur’an secara baik dan benar melalui Metode Al-Hidayah. Setelah itu, mereka menjalani setoran hafalan dan murojaah secara rutin, baik di lingkungan madrasah maupun di rumah dengan pendampingan orang tua.

Sebagai bagian dari evaluasi akhir, Fadil mengikuti ujian hafalan secara terbuka dengan metode bil ghaib di hadapan tim penguji, orang tua, dan tamu undangan. Ujian berlangsung sejak pagi hingga menjelang Zuhur untuk mengukur kualitas hafalan, ketepatan bacaan, serta kekuatan murojaah yang telah dibangun selama masa pembelajaran.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, bersama jajaran pembina, pengawas, dan pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih Fadil.

“Masya Allah, masih usia MI tetapi kemampuan hafalan dan bacaannya sudah sangat baik. Ini merupakan capaian yang patut disyukuri dan menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Hidayatullah Bontang, Firdaus Darwin, menegaskan bahwa keberhasilan melahirkan penghafal Al-Qur’an tidak terlepas dari sinergi antara sekolah, guru, dan keluarga.

“Melahirkan penghafal Al-Qur’an memerlukan sistem yang terintegrasi antara sekolah, guru, dan keluarga. Ketika ketiganya berjalan seiring, proses menjaga hafalan dapat berlangsung lebih kuat dan berkelanjutan,” katanya.

Menurut Firdaus, Program Takhassus Tahfizul Qur’an tidak hanya bertujuan menambah jumlah hafalan, tetapi juga membentuk karakter peserta didik melalui kedisiplinan, ketekunan, serta kedekatan dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Prestasi Muhammad Fadil menambah daftar capaian pendidikan Al-Qur’an di lingkungan Hidayatullah. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa penguatan karakter dan kecintaan terhadap Al-Qur’an dapat ditanamkan sejak usia dini melalui sistem pendidikan yang terarah, berkelanjutan, dan melibatkan seluruh unsur pendidikan.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, hadirnya hafiz Al-Qur’an dari kalangan pelajar sekolah dasar menjadi kabar yang membawa optimisme. Dari Bontang untuk Indonesia, prestasi Muhammad Fadil menjadi inspirasi bahwa investasi terbaik dalam pendidikan adalah melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu, kuat dalam akhlak, dan dekat dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Menyiapkan Dai Era Digital, Sekolah Da’i Hidayatullah Ciomas Gelar Final Lomba Khutbah

0

Bogor (Hidayatullah.or.id) — Semangat dakwah yang berlandaskan ilmu, hikmah, dan kemampuan komunikasi yang efektif tercermin dalam babak final Lomba Khutbah yang digelar Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Ciomas, Bogor, Pada hari Selasa, (2/6/2026) malam.

Suasana kegiatan berlangsung dengan penuh semangat dan khidmat dengan mengusung pesan Al-Qur’an yang tertuang dalam Surah Fussilat ayat 33:

وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَٓا اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Artinya : “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’”

Ayat tersebut menjadi pengingat akan kemuliaan tugas dakwah yang sedang dipersiapkan para mahasantri. Babak final lomba menjadi ajang pembuktian kemampuan para peserta dalam menyampaikan pesan-pesan Islam secara sistematis, argumentatif, dan menyentuh hati. Para finalis dituntut tidak hanya memahami dalil-dalil syariat, tetapi juga mampu mengemasnya dalam penyampaian yang komunikatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Di hadapan dewan juri dan peserta lainnya, para mahasantri menampilkan khutbah yang memukau dengan memadukan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis Nabi, serta berbagai persoalan aktual umat. Kemampuan retorika, penguasaan materi, artikulasi, intonasi, hingga pengelolaan audiens menjadi aspek penting dalam penilaian.

Dewan juri, Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc., M.A., menyampaikan apresiasinya terhadap kualitas penampilan para finalis. Menurutnya, dakwah yang efektif membutuhkan perpaduan antara kedalaman ilmu dan kemampuan komunikasi yang baik.

“Di Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas, fokus utama kami adalah mencetak dai yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga terampil menyampaikannya kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa metode dakwah yang diajarkan merujuk pada prinsip-prinsip yang terkandung dalam Surah An-Nahl ayat 125, yakni berdakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik.

Menurutnya, tantangan dakwah pada era digital menuntut para dai memiliki kemampuan public speaking yang lebih kuat agar pesan Islam dapat diterima secara luas dan efektif.

“Artikulasi yang jelas, intonasi yang tepat, dan kemampuan membangun kedekatan dengan audiens menjadi bagian penting dalam proses dakwah saat ini. Pesan Islam harus disampaikan dengan bahasa yang santun, mudah dipahami, dan mampu menyentuh hati masyarakat,” katanya.

Dakwah Digital Menjadi Bagian Kurikulum

Tidak hanya berfokus pada kemampuan berbicara di atas mimbar, Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas juga mulai mengintegrasikan dakwah digital ke dalam proses pembelajaran.

Melalui pendekatan ini, para mahasantri dibekali keterampilan memanfaatkan berbagai platform media sosial sebagai sarana penyebaran nilai-nilai Islam. Salah satu media yang menjadi perhatian adalah platform video pendek yang banyak digunakan generasi muda.

Para santri dilatih untuk menyusun materi dakwah yang ringkas, menarik, dan sesuai dengan karakteristik audiens digital tanpa mengurangi substansi ajaran Islam yang disampaikan.

Langkah tersebut dinilai penting mengingat perkembangan teknologi telah mengubah pola masyarakat dalam memperoleh informasi dan pengetahuan keagamaan.

Dengan mengombinasikan latihan retorika klasik dan pemanfaatan media digital, para mahasantri dipersiapkan untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas, melampaui batas geografis dan ruang-ruang dakwah konvensional.

Menyiapkan Dai yang Siap Mengabdi

Keberhasilan penyelenggaraan lomba khutbah ini menjadi salah satu indikator keberhasilan proses pembinaan di Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas dalam menyiapkan kader-kader dai yang siap terjun ke tengah masyarakat.

Berdasarkan pengalaman angkatan sebelumnya, berbagai latihan dan kompetisi yang digelar secara berkala terbukti mampu membentuk mental, kepercayaan diri, dan keterampilan komunikasi para calon muballigh.

“Alhamdulillah, performa para finalis malam ini sangat memuaskan dan menunjukkan potensi yang luar biasa. Kami optimistis mereka akan mampu berkhidmat di tengah masyarakat, baik sebagai khatib, dai, maupun penggerak kemakmuran masjid di berbagai daerah,” tutur Ahmad Zainuddin.

Melalui pembinaan yang memadukan penguasaan ilmu syariat, keterampilan komunikasi, dan pemanfaatan teknologi digital, Sekolah Dai Hidayatullah Ciomas terus berupaya melahirkan generasi dai yang adaptif, berintegritas, dan siap menjawab tantangan dakwah pada era modern.

Nanang Noerpatria Dorong Percepatan Implementasi Sistem Pendidikan di Seluruh Indonesia

Jakarta (Hidayatullah.or.id)— Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, menegaskan bahwa Sistem Pendidikan Hidayatullah tidak boleh berhenti pada tataran konsep dan dokumen semata. Seluruh rumusan yang telah disusun harus segera diterjemahkan menjadi program, proyek, dan kegiatan nyata yang dapat diimplementasikan di seluruh wilayah Indonesia.

Penegasan tersebut disampaikan saat memberikan arahan dalam membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dan Workshop Sistem Pendidikan Hidayatullah yang digelar pada hari Senin, ( 08/06/2026) sebagai bagian dari upaya transformasi pendidikan menuju lembaga yang unggul dan berkejayaan.

Menurut Nanang, tantangan pendidikan yang terus berkembang menuntut organisasi untuk bergerak cepat dan adaptif. Karena itu, hasil workshop harus mampu melahirkan langkah-langkah implementatif yang berdampak nyata, bukan sekadar menghasilkan dokumen atau kajian konseptual.

“Konsep yang telah dirumuskan harus segera diwujudkan dalam praktik. Ukuran keberhasilannya bukan pada bagusnya gagasan dan konsep yang dihasilkan, tetapi pada manfaat nyata yang dirasakan oleh umat serta kualitas generasi yang dilahirkan,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa transformasi pendidikan Hidayatullah diarahkan untuk membangun lembaga pendidikan yang unggul, berdaya saing, dan berkejayaan. Pada saat yang sama, pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang bertauhid, profesional, berkarakter, serta memiliki fondasi nilai-nilai keislaman yang kuat.

Karena itu, Nanang berharap Rakornas dan workshop tidak sekadar menjadi ruang diskusi dan pertukaran gagasan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut harus menghasilkan rumusan kebijakan, proyek strategis, serta peta jalan implementasi yang jelas dan terukur.

Menurutnya, keberhasilan transformasi pendidikan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi seluruh elemen pendidikan. Mulai dari pengelola, pendidik, pimpinan lembaga, hingga seluruh unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan Hidayatullah harus bergerak secara sinergis untuk mewujudkan tujuan bersama.

Selain itu, Nanang mengingatkan pentingnya pemahaman yang utuh terhadap Buku Konsep dan Sistem Pendidikan Hidayatullah sebagai fondasi dalam pelaksanaan program di lapangan. Pemahaman tersebut harus diterjemahkan menjadi strategi, budaya kerja, dan praktik pendidikan yang konkret sehingga tujuan besar pendidikan Hidayatullah dapat diwujudkan secara efektif.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), yang kini semakin memengaruhi dunia saat ini terutama dunia pendidikan. Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mempercepat pemahaman konsep, memperluas akses informasi, serta mendukung berbagai proses pembelajaran.

Namun demikian, ia mengingatkan agar setiap informasi yang diperoleh melalui AI tetap diverifikasi dan dikritisi secara cermat sehingga tidak menimbulkan kesalahan dalam memahami maupun mengambil keputusan.

“AI dapat membantu banyak hal dalam aspek teoritis dan konseptual. Namun pembentukan karakter, keteladanan, kepemimpinan, serta pembinaan manusia tidak dapat digantikan oleh teknologi. Di sinilah peran pendidik tetap menjadi faktor utama,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nanang menegaskan bahwa transformasi pendidikan harus menyentuh aspek praktik dan implementasi, bukan hanya perubahan paradigma atau teori. Organisasi, kata dia, harus mampu merespons perkembangan zaman dengan cepat agar tidak tertinggal dalam dinamika dunia pendidikan yang berlangsung sangat pesat.

Ia menambahkan bahwa ukuran keberhasilan Sistem Pendidikan Hidayatullah tidak terletak pada seberapa baik konsep yang disusun, melainkan pada kemampuannya menjawab kebutuhan umat, memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, serta melahirkan generasi yang berkualitas, berdaya saing, dan siap memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.

Melalui Rakornas dan Workshop Sistem Pendidikan Hidayatullah ini, diharapkan lahir berbagai terobosan strategis yang dapat mempercepat implementasi sistem pendidikan secara nasional, sekaligus memperkuat peran Hidayatullah dalam mencetak generasi pemimpin masa depan yang bertauhid, unggul, profesional, dan berakhlak mulia.

Kegiatan yang berlangsung secara luring dan daring ini dihadiri oleh seluruh Tim Nasional Dikdasmen DPP Hidayatullah serta peserta dari seluruh di Indonesia.

Rakornas dan Workshop Pendidikan Hidayatullah Perkuat Transformasi Pendidikan Menuju 2030

Bogor (Hidayatullah.or.id) Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) DPP Hidayatullah menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang dirangkaikan dengan Workshop Sistem Pendidikan Hidayatullah selama tiga hari, Senin-Rabu (8–10 Juni 2026), sebagai upaya memperkuat konsolidasi, menyamakan persepsi, dan menyinkronkan arah gerak transformasi pendidikan Hidayatullah di seluruh Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung secara luring dan daring ini dihadiri oleh Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, S.Pd., M.Pd., bersama seluruh Tim Nasional Dikdasmen DPP Hidayatullah serta peserta dari seluruh di Indonesia. Bersama Tim Nasional Dikdasmen turut terlibat dalam proses penguatan program selama kegiatan berlangsung.

Rakornas dan workshop ini merupakan agenda lanjutan pasca Orientasi Tim Nasional Dikdasmen yang bertujuan memperkuat pemahaman terhadap konsep dan sistem pendidikan Hidayatullah sekaligus menyusun langkah-langkah strategis untuk implementasinya di seluruh satuan pendidikan.

Ketua Panitia, Abdul Aziz, S.Pd.I., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh peserta serta para pemateri yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, forum ini menjadi ruang bersama untuk merumuskan kebijakan dan strategi pengembangan pendidikan Hidayatullah ke depan.

“Kegiatan ini harus menjadi tempat kita berpikir bersama, mengambil spirit perjuangan pendidikan, sekaligus melahirkan keputusan-keputusan yang akan menjadi kebijakan untuk kemajuan pendidikan di wilayah yang kita amanahi. Selain itu, forum ini juga penting untuk menyinkronkan arah gerak pendidikan Hidayatullah secara nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Departemen Dikdasmen DPP Hidayatullah, Farhan Siswanto, M.Pd., menegaskan bahwa workshop ini merupakan bagian dari ikhtiar besar untuk memperkuat sistem pendidikan Hidayatullah. Menurutnya, pemahaman terhadap Buku Konsep dan Buku Sistem Pendidikan Hidayatullah harus diikuti dengan kemampuan menerjemahkannya menjadi sistem yang operasional dan dapat diterapkan secara efektif di seluruh satuan pendidikan.

“Semangat penguatan sistem pendidikan harus terus berjalan. Ke depan, workshop serupa perlu dilaksanakan di tingkat wilayah agar proses sosialisasi dan implementasi sistem pendidikan dapat menjangkau seluruh daerah,” ungkapnya.

Farhan menjelaskan bahwa Dikdasmen akan terus melakukan penyempurnaan berbagai perangkat pendukung pendidikan, mulai dari buku pendidikan, buku operasional untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, hingga panduan bagi kepala sekolah. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan adanya standar pengelolaan pendidikan yang seragam di seluruh jaringan pendidikan Hidayatullah.

Lebih lanjut, ia menyampaikan harapan agar dalam lima tahun ke depan pendidikan Hidayatullah mampu tampil sebagai lembaga pendidikan yang berpengaruh dan berdampak luas. Berbagai capaian yang telah diraih sekolah-sekolah Hidayatullah di tingkat provinsi maupun nasional, menurutnya, menjadi modal penting untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan.

“Kita ingin sekolah-sekolah Hidayatullah semakin dikenal karena kualitasnya, prestasinya, dan kontribusinya bagi umat. Tidak hanya berpengaruh di Indonesia, tetapi juga mampu menjangkau tingkat internasional,” katanya.

Selain pendalaman Buku Konsep dan Sistem Pendidikan Hidayatullah, Rakornas ini juga diisi dengan sesi koordinasi program prioritas serta penyusunan rencana tindak lanjut (action plan) yang akan dilaksanakan di tingkat pusat maupun wilayah. Melalui forum ini diharapkan lahir langkah-langkah konkret yang mampu mempercepat terwujudnya visi pendidikan Hidayatullah sebagai lembaga yang unggul, berpengaruh, dan berdampak menuju tahun 2030.

Menutup sambutannya, Farhan Siswanto mengingatkan bahwa seluruh ikhtiar pengembangan pendidikan harus senantiasa disandarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kualitas program dan kurikulum, tetapi juga oleh pertolongan dan keberkahan dari Allah SWT.

“Sehebat apa pun kurikulum dan program yang kita susun, semuanya harus tetap disandarkan kepada Allah. Dengan keikhlasan dan kesungguhan dalam berjuang, insya Allah pendidikan Hidayatullah akan terus berkembang dan memberikan manfaat yang luas bagi umat,” tutupnya.

Tiga Penyakit Serius Kepemimpinan Organisasi

0

Ada kalanya kepemimpinan organisasi tertimpa penyakit. Sebagian penyakit sifatnya serius, sebagian lainnya ringan. Mengenali kesemua penyakit ini penting. Agar kepemimpinan organisasi terus sehat. Organisasi pun kuat.

Di antara semua penyakit tersebut, terdapat tiga penyakit serius karena berpotensi melahirkan penyakit dan kerusakan baru di organisasi. Memahaminya semoga mengantarkan para pemimpin untuk mengantisipasinya. Berikut penjelasannya.

  1. Meremehkan Early Warning System

Sebagaimana pengelolaan lingkungan nyata, organisasi juga membutuhkan early warning system. Ini penting agar organisasi tetap langgeng. Jika tidak demikian, tanpa disadari organisasi akan segera mati.

Early warning system bagi organisasi dibangun oleh seperangkat sistem evaluasi. Basis datanya numerik dan deskriptif. Variabelnya bisa beragam, empat di antaranya sebagaimana ditetapkan pada Balanced Score Card (BSC): Konsumen, keuangan, pembelajaran dan pertumbuhan, dan proses internal.

Keempat variabel tersebut perlu terus diukur dan diamati secara berkala. Data kuantitatif dari pengukuran dan data deskriptif dari pengamatan kemudian disatukan, dianalisis, serta diambil kesimpulan. Berikutnya lahirlah sejumlah rekomendasi untuk perbaikan berikutnya.

Meremehkan early warning system di organisasi dapat dilihat dari dua situasi/perilaku. Pertama, ketiadaan sistem evaluasi yang utuh dan kuat. Kedua, pengabaian atas rekomendasi ahli.

Sebuah organisasi mungkin menunjukkan salah satu perilaku. Ini masih berpeluang untuk diperbaiki. Akan tetapi apabila suatu organisasi menunjukkan dua perilaku sekaligus, maka tanda-tanda kematian organisasi sudah di depan mata.

Ketiadaan early warning system diperparah dengan ketiadaan sistem berpikir kolektif organisasi. Masing-masing tokoh dan personel organisasi membuat narasi sendiri. Akhirnya ruwetlah alam pikiran organisasi. Arah geraknya semakin tidak jelas. Akhirnya tidak ada tujuan yang tercapai. Di titik ini organisasi sudah menapaki jalan penurunan tajam.

  1. Membangun Idealitas di Atas Kerapuhan

Organisasi memiliki idealitas, apapun namanya, semisal visi dan misi. Idealitas itu dijadikan target lalu diikhtiarkan untuk digapai. Seluruh sumber daya dan kapasitas diarahkan menujunya.

Dalam pergerakan menggapai target, organisasi memiliki dua aktivitas utama, yakni membangun dan memperbaiki. Aktivitas membangun itu berhubungan dengan meningkatkan kapasitas organisasi. Sedangkan aktivitas memperbaiki itu berhubungan dengan meminimalisir potensi kerusakan.

Idealnya kedua aktivitas tersebut berjalan seiring. Akan tetapi pada situasi yang butuh pemilihan prioritas, maka aktivitas memperbaiki perlu diutamakan. Agar potensi kerusakan tidak menjelma menjadi kerusakan, dan kerusakan tidak meluas.

Problemnya sering organisasi tidak menyadari prioritas di antara dua aktivitas tersebut. Potensi kerusakan kadang diabaikan, dianggap masih terlalu kecil untuk menjelma jadi kerusakan nyata. Aktivitas membangun itu yang terus digencarkan. Hingga pada satu titik, potensi kerusakan benar-benar merusak. Setiap orang di organisasi baru tersadarkan.

Di sisi lain pengawasan di organisasi seringkali lemah. Ada anggapan pengawasan tidak terlalu diperlukan karena husnuzhan diutamakan. Padahal justru pengawasan itu dilakukan sebagai penguat husnuzhan. Pihak pengawas membuktikan bahwa pihak yang diawasi benar-benar berlaku benar.

Lemahnya pengawasan diperparah dengan subordinasi senior kepada yunior. Lalu kelompok-kelompok nonformal terbentuk. Friksi mulai terasakan. Pengawasan menjelma jadi upaya saling menggigit antarkelompok nonformal.

  1. Mengabaikan Multiperspektif

Alkisah di sebuah kebun binatang seorang pengunjung diminta duduk di kursi penonton pertunjukan. Lalu seekor gajah melewatinya. Sang pengunjung lalu mengamati gajah itu.

Esoknya sekembali dari kebun binatang, sang pengunjung bercerita tentang gajah. Ia menyampaikan, “Gajah punya satu gading, satu mulut, satu mata, satu telinga. Badannya besar. Kakinya empat. Ekornya satu.”

Salahkah ceritanya? Tidak juga. Karena sang pengunjung melihat dari satu sisi. Perspektifnya hanya satu arah.

Apabila sang pengunjung mengamati gajah dengan berkeliling, kemungkinan besar gambaran gajah akan didapatkannya lebih utuh. Potensi miskonsepsi minim. Orang lain yang mendapatkan cerita lebih mampu memiliki gambaran utuh tentang gajah.

Di sinilah multiperspektif berperan. Pandangan perlu diedarkan secara cukup. Kesimpulan akan relatif utuh.

Di konteks organisasi, multiperspektif penting. Agar kesalahan dalam menyimpulkan dan membuat kebijakan tidak terjadi. Sebaliknya, kesimpulan benar dan kebijakan relevan demikian yang dihasilkan organisasi.

Nah, pemimpin organisasi perlu untuk menerapkan multiperspektif di organisasinya. Dia tidak hanya melihat dengan pandangannya sendiri tapi juga orang-orang sekitarnya, bahkan pihak luar. Kesemuanya dikomplilasi, diintegrasikan, untuk kemudian diambil kesimpulan yang tepat. Kebijakan yang dihasilkan juga relatif tepat.

Memang tidak mudah menerima perspektif lain. Akan tetapi seorang pemimpin organisasi yang transformatif tentu lebih memilih untuk menerimanya. Semoga relevansi organisasi terus terjaga.

Wallahu a’lam.

Fu’ad Fahrudin, M.Pd / Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah

KHUTBAH JUM’AT Meneladani  Nabi Ibrahim AS dalam Berdoa

Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: Ust-Iwan-Abdullah-1.jpg

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ وَحْدَهُ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى حَبِيْبِنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَ مَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَ جَاهَدَ فِي سَبِيْلِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدَهُ فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كَتَابِهِ الْكَرِيْمِ وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَـائِلِيْنَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

Hadirin Jama’ah Solat Jum’at Yang Dimuliakan Allah swt

Dalam Al Qur an ada dua Nabi yang di sebut sebagai uswatun hasanah (suri tauladan) Pertama Nabi Muhammad SAW , Rasulullah merupakan sosok suri teladan , yang dalam Al-Qur’an  beliau disebut dengan uswatunhasanah.


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Artinya: Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.( QS Al-Ahzab ayat 21)

Kedua Nabi Ibrahim AS , Nabi Ibrahim AS sebagai  uswatun hasanah, disebukan dalam Surah Al  Mumtahanah


قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ
Artinya: Sungguh, benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya. (QS Al-Mumtahanah: 4)

Nabi Ibrahim AS juga dikenal dengan sebutan abul anbiya (bapak para Nabi) karena 14 keturunannya menjadi Nabi dari 25 Nabi  yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Allah swt pun sangat mengistimewakan Nabi Ibrahim as. dan menjadikan Beliau sebagai Kholililullah  (kesayangan Allah SWT). Hal tersebut termaktub dalam surah An-Nisa’ ayat 125 berikut ini:


وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan(-Nya
Allah Swt.

begitupun Allah SWT memberikan pujian istimewa bagi Nabi Ibrahim AS dengan mengabadikan namanya sebanyak 69 kali dalam 24 surah Al-Qur’an.

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ

Dan kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik)di kalangan orang-orang yang datang kemudian, Yaitu kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim (Qs Ash-Shaffat :108-109)

Hadirin Jama’ah Solat Jum’at Yang Dimuliakan Allah swt

Dengan keistimewaan Nabi Ibrahim as. tersebut, tentulah banyak keteladanan yang bisa kita petik dan dijadikan pedoman dalam kehidupan. Diantaranya adalah  keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam berharap (berdoa kepada Allah swt) , Ada banyak doa Nabi Ibrahim AS yang  diabadikan Al-Qur’an, dan bisa kita amalkan dalam kehidupansehari-hari.

Pertama: Nabi Ibrahim berdoa agar diberikan negeri yang aman dan rezeki melimpah serta penduduk yang beriman, doa ini tercantum pada Surat Al-Baqarah ayat 126 berikut:

وَاِذۡ قَالَ اِبۡرٰهٖمُ رَبِّ اجۡعَلۡ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارۡزُقۡ اَهۡلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡهُمۡ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِ‌ؕ قَالَ وَمَنۡ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيۡلًا ثُمَّ اَضۡطَرُّهٗۤ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ‌ؕ وَبِئۡسَ الۡمَصِيۡرُ‏

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, Dia (Allah) berfirman, “Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

Hadirin Jama’ah Solat Jum’at Yang Dimuliakan Allah swt

Kedua  : Nabi Ibrahim berdoa agar mengangkat pemimpin yang membawa misi nubuwwah  yang mampu membacakan ayat ayat Allah, dan mengajarkan kitab & hikmah, serta menjadi pencerah di kalangan ummat. Doa ini tercantum dalam Surat Al-Baqarah ayat 129:

 رَبَّنَا وَابۡعَثۡ فِيۡهِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُوۡا عَلَيۡهِمۡ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الۡكِتٰبَ وَالۡحِكۡمَةَ وَ يُزَكِّيۡهِمۡ‌ؕ اِنَّكَ اَنۡتَ الۡعَزِيۡزُ الۡحَكِيۡمُ.

Artinya: “Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan mensucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

Ketiga: Nabi Memohon agar dijadikan dirinya dan keturunannya sebagai orang yang  bertaqwa, berserah diri hanya kepada Allah. Doa ini ada dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 128

رَبَّنَا وَاجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَيۡنِ لَـكَ وَ مِنۡ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسۡلِمَةً لَّكَ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبۡ عَلَيۡنَا ۚ اِنَّكَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِيۡمُ

Artinya: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

Keempat : Nabi Ibrahim mendoakan bagi orang tuanya dan semua orang orang yang beriman menapatkan ampunan dari Allah.  Doa ini terdapat dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 41 sebagai berikut:                                                      

رَبَّنَا اغۡفِرۡ لِىۡ وَلـِوَالِدَىَّ وَلِلۡمُؤۡمِنِيۡنَ يَوۡمَ يَقُوۡمُ الۡحِسَابُ

Artinya: “Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).


Hadirin Jama’ah Solat Jum’at Yang Dimuliakan Allah swt


Inilah beberapa keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam berharap/beroda kepada Allah,semoga kita dapat mencontoh Nabi Ibrahim dalam berdoa.

Coba renungi cara kita berdoa selama ini ? siapa saja yang kita doakan ?, pernahkah kita berdoa sebagaimana Nabi Ibrahim berdoa ?

Nabi Ibrahim berdoa untuk negerinya,Nabi Ibrahim berdoa buat penduduk negerinya , Nabi Ibrahim berdoa buat orang tua dan keturunannya, bahkan nabi Ibrahim berdoa buat semua orang yang beriman kepada Allah agar semua mendapatkan ampunya Allah swt.

Berdoalah sebanyak banyaknya, karena hanya berharap/berdoa kepada Allah, kita terhindar dari sifat takabbur (sombong) dan  hanya orang-orang yang sombong lah yang tidak mau berdoa , dan Allah tidak menyukai orang orang yang sombong.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al Mukmin:60)

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْن

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas ( Al Araf : 55)

Hadirin Jama’ah Solat Jum’at Yang Dimuliakan Allah swt

Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya merendah diri kepada-Nya, dan menunjukkan bahwa hanya Allah Ta’ala satu-satu-Nya Yang Berkuasa, Yang Maha Pengatur, yang Maha Pencipta, tiada sekutu bagi-Nya.

Dengan banyak berdoa kita dapat terhindar dari  bala dan musibah, Dan senantiasa berdoa niscaya  Allah akan kabulkan doa baik secara cash (di dunia) dikabulkan   atau di tunda dalam bentuk pahala yang terindah di akhirat.

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ «اللَّهُ أَكْثَرُ»

“Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidak ada seorangpun yang berdoa dengan sebuah doa yang tidak ada dosa di dalamnya dan memuutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengabulkan salah satu dari tiga perkara, baik dengan disegerakan baginya (pengabulan doanya) di dunia atau dengan disimpan baginya (pengabulan doanya) di akhirat atau dengan dijauhkan dari keburukan semisalnya”, para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, kalau begitu kami akan memperbanyak doa?” Beliau menjawab: “Allah lebih banyak (pengabulan doanya)” (HR. Ahmad )

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ 

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوْهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah SWT,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan itulah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia dan menghadapi kehidupan akhirat.

Pada khutbah pertama telah kita renungkan keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam berdoa. Beliau tidak hanya berdoa untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarga, keturunan, masyarakat, negeri tempat tinggalnya, bahkan seluruh kaum mukminin. Ini menunjukkan keluasan jiwa seorang hamba yang dekat dengan Allah SWT.

Oleh karena itu, hendaknya kita memperbanyak doa dalam setiap keadaan. Jadikan doa sebagai kebutuhan hidup, bukan hanya saat tertimpa musibah atau kesulitan. Sebab doa adalah wujud penghambaan, pengakuan akan kelemahan diri, dan bukti bahwa kita sepenuhnya bergantung kepada Allah SWT.

Marilah kita meneladani Nabi Ibrahim AS dengan memperbanyak doa untuk kebaikan agama, keluarga, bangsa, dan umat Islam. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa bermunajat, berharap, dan bergantung hanya kepada-Nya.

Doa

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَوَاصِيْهِمْ إِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا، وَلِلْمُسْلِمِيْنَ أَجْمَعِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ،

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Menjaga Kesucian Pesantren: Ketika Syahwat Berkedok Agama

0
Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: buku-ilmuan.jpg

Dunia pendidikan berbasis agama kembali diguncang badai moral yang memilukan. Sepanjang Mei 2026, lembaran berita kita mendadak pekat oleh laporan kekerasan seksual dari balik dinding-dinding lembaga tempat karakter bangsa dan umat seharusnya ditempa.

Di Pekalongan, AKF, seorang pimpinan PAP ditangkap atas dugaan kekerasan seksual terhadap sedikitnya enam anak didiknya. Bergeser ke Pati, dugaan pencabulan yang melibatkan pimpinan PND bahkan menyentuh angka yang mengerikan: lebih dari 50 santriwati yang mayoritas masih belia, duduk di bangku SMP.

Pola serupa berulang di Ngawi dengan tersangka berinisial D yang korbannya terus bertambah, serta di Sumenep, di mana seorang oknum kiai tega menodai sembilan santrinya selama delapan tahun lamanya.

Kalau kita perhatikan dengan nurani, Ini bukan sekadar angka statistik kriminal. Ini adalah kegelapan pada pelaku dan penggerak pendidikan pesantren. Akhinya menyebabkan terjadinya jeritan senyap anak-anak kita yang kehilangan masa depan, justru di tempat yang paling mereka percayai.

Namun pada saat yang sama inilah momentum kita untuk sama-sama menjaga pesantren tetap pada jati dirinya. Kita berharap kejadian kelam semacam itu tak terulang pada masa mendatang. Nama baik pesantren bukan semata tanggung jawab penyelenggara, tapi kita semua kaum Muslimin, bangsa Indonesia.

Anatomi Penyimpangan: Dari Pornografi hingga Manipulasi Kuasa

Mengapa tragedi kemanusiaan ini bisa terjadi di lingkungan yang religius? Kita harus berani membedah ruang gelap ini secara jujur. Semata-mata demi memastikan masa depan generasi kita tidak hancur.

Berikut beberapa analisa yang menjadi bagian dari faktor mengapa tragedi memilukan itu terjadi.

Pertama, arus digitalisasi membawa dampak tak pandang bulu. Menjamurnya situs porno membuat paparan pornografi bisa menembus siapa saja, tak terkecuali oknum agamawan, utamanya mereka yang gagal menjaga pandangan dan hatinya.

Kedua, adanya relasi kuasa dan otoritas yang timpang. Sosok ustaz atau kiai di mata santri adalah figur tanpa cela. Kepatuhan karena takzim pun akhirnya disalahgunakan. Itulah yang menciptakan ruang manipulasi. Penghormatan tulus para santri justru menjadi perangkap yang membuat mereka pasrah terhadap tipu daya oknum tersebut.

Ketiga, keterbatasan wawasan tentang kesehatan dan keamanan reproduksi di kalangan santri. Ketidaktahuan ini dimanfaatkan pelaku untuk melancarkan doktrin sesat. Sebagai contoh, modus operandi klasik namun nyata: pelaku berdalih bahwa tindakan menyimpang tersebut adalah ritual “membersihkan rahim”. Tanpa bekal literasi seksual yang memadai, sang santri hanya bisa manut, mengira itu adalah bagian dari proses spiritual.

Keempat, lemahnya batas hijab dan interaksi. Berbalut dogma pengabdian murid kepada guru—di mana sosok pengajar dianggap sebagai pengganti orang tua di rantaian pesantren—interaksi langsung yang intim dianggap “aman-aman saja”. Padahal, kedekatan emosional dan fisik tersebut sama sekali tidak mengubah status hukum mahram di antara keduanya.

Jadi, langkah preventif orang tua agar anak terhindar dari tipudaya semacam itu, mereka harus mengerti batasan aurat dan mahram. Sebab sesuci apapun seseorang secara sosial, ia tetap manusia dan tak boleh menabrak batasan yang namanya mahram. Mana kala batasan mahram itu dilanggar, maka fitnah tidak akan terhindarkan.

Memutus Mata Rantai: Langkah Preventif yang Konkret

Lalu apa yang bisa kita upayakan agar hal seperti itu tidak terulang lagi. Kita butuh langkah-langkah yang tegas dan jelas, serta konkret. Menangisi korban tidak akan menyelesaikan masalah. Kita butuh reformasi struktural dan kultural di dalam lembaga pendidikan berasrama.

Berikut beberapa poin penting yang kedepan bisa kita upayakan untuk menguatkan sistem regulasi yang menjamin keamanan dan kesucian para santriwati yang menimba ilmu.

Pertama, Standardisasi Perizinan yang Ketat

Pemerintah dan pihak berwenang tidak boleh lagi “obral” izin. Legalitas lembaga pendidikan berasrama harus melewati kurasi ketat, terstandar, dan diawasi secara berkala.

Kedua, SOP Tata Laksana yang Transparan

Manajemen asrama harus terbuka. Tidak boleh ada ruang-ruang gelap atau aktivitas steril yang menutup diri dari pengawasan publik atau wali santri.

Ketiga, Perekrutan Berbasis Fit and Proper Test

Guru dan karyawan bukan hanya harus unggul secara akademik, tetapi juga harus lulus skrining nilai-nilai spiritualitas yang komprehensif, termasuk kesehatan mental dan rekam jejak moral.

Selain itu sebenarnya telah ada aturan tentang pondok pesantren yaitu Undang-Undang No. 18 Tahun 2019 tentang
Pondok Pesantren.

Dalam undang-undang ini memang baru mengatur bagaimana melakukan fasilitasi, penegasan, pengakuan dan pemberdayaan pondok pesantren. Namun terkait pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, Kementerian Agama telah mengeluarkan peraturan yaitu Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2022 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual Pada Satuan Pendidikan di bawah Kementerian Agama. Tinggal bagaimana penegakannya dalam implementasi proses pendidikan itu sendiri pada setiap pesantren.

Di samping itu negara juga sudah memiliki regulasi akan kekerasan seksual (Undang-Undang No. 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual) yang dalam kasus belakangan ini, mungkin juga dapat menjadi alat untuk menetapkan kadar hukum yang seharusnya bagi pelaku.

Mengembalikan Agama sebagai Panglima Kemaslahatan

Pada hakikatnya, seorang pengajar—ustaz, kiai, atau apa pun jalurnya—adalah pengemban tugas mulia, kelanjutan dari risalah kenabian. Allah SWT menegaskan fungsi Rasulullah SAW sebagai Muallim (pengajar), yang salah satu tugas utamanya adalah mengeluarkan umat dari kesesatan, termasuk di dalamnya penyimpangan dan kejahatan seksual (QS. Al-Jumu’ah: 2).

Tugas suci pengajar adalah mewujudkan nilai agama sebagai panglima utama untuk melestarikan kemaslahatan dunia (siyaasatud dun-yaa wa hiraasatud diin—mengelola dunia demi memproteksi nilai agama).

Sungguh sebuah ironi yang menjijikkan jika yang terjadi justru sebaliknya: siyaasatud diin wa hiraasatud dun-yaa, yaitu mengeksplorasi dan menjual agama demi memuaskan kenikmatan duniawi yang fana.

Allahu a’lam bish-shawab.

*) K.H. Naspi Arsyad, Lc /  penulis adalah Ketua Umum DPP Hidayatullah

DPW Hidayatullah Sumut Perkuat Kemitraan dengan Kesbangpol untuk Mendukung Pembangunan Daerah

0
Gambar saat ini tidak memiliki teks alternatif (alt). Nama berkas: WhatsApp-Image-2026-06-03-at-12.30.50.jpeg

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Utara melakukan kunjungan silaturahim ke Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumatera Utara pada Rabu, 17 Dzulhijjah 1447 H (3/6/2026).

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan kelembagaan sekaligus memperkenalkan kepengurusan baru DPW Hidayatullah Sumatera Utara periode 2026–2030 kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Rombongan DPW Hidayatullah Sumatera Utara dipimpin langsung oleh Ketua DPW Sumut, Syukron Khairi Nasution, M.Pd., didampingi sekretaris, bendahara, dan Ketua Departemen Pengkaderan. Kehadiran mereka disambut hangat oleh Kepala Badan Kesbangpol Sumatera Utara, Dr. Ir. Mulyono, S.T., M.Si., beserta jajaran.

Dalam pertemuan tersebut, Syukron Khairi Nasution menyampaikan bahwa silaturahim ini merupakan langkah awal untuk membangun komunikasi yang lebih intensif dan memperkuat kolaborasi antara Hidayatullah dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Ia menjelaskan bahwa Hidayatullah sebagai organisasi dakwah, pendidikan, dan sosial terus berupaya mengambil peran aktif dalam pembangunan masyarakat melalui berbagai program pembinaan umat, pengembangan pendidikan, serta pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah di Sumatera Utara.

“Kunjungan ini tidak hanya sebagai ajang silaturahim, tetapi juga sebagai bentuk komitmen Hidayatullah untuk terus bersinergi dengan pemerintah dalam menghadirkan program-program yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Selain memperkenalkan kepengurusan baru, DPW Hidayatullah Sumut juga menyampaikan komitmennya untuk terus mendukung terciptanya masyarakat yang religius, berkarakter, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Kesbangpol Sumatera Utara, Mulyono, menyambut baik kunjungan pengurus DPW Hidayatullah Sumut. Ia menegaskan pentingnya peran organisasi kemasyarakatan dalam menjaga stabilitas sosial, memperkuat nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan, serta mendukung pembangunan daerah.

Dalam arahannya, Mulyono juga memaparkan berbagai dinamika dan tantangan yang dihadapi Sumatera Utara saat ini. Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan organisasi masyarakat menjadi salah satu kunci dalam menjaga persatuan serta memperkuat ketahanan sosial masyarakat.

Ia berharap Hidayatullah dapat terus mengambil peran strategis sebagai mitra pemerintah dalam membangun masyarakat yang religius, harmonis, dan berdaya saing.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Berbagai gagasan mengenai penguatan kerja sama antara pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan turut menjadi bagian dari pembahasan dalam forum tersebut.

Sebagai bentuk penghargaan dan penguatan hubungan kelembagaan, kegiatan ditutup dengan penyerahan cenderamata dari DPW Hidayatullah Sumatera Utara kepada Kepala Badan Kesbangpol Sumatera Utara. Acara kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama.

Melalui silaturahim ini, diharapkan terjalin sinergi yang semakin erat antara DPW Hidayatullah Sumatera Utara dan Kesbangpol Provinsi Sumatera Utara dalam mendukung pembangunan daerah serta mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman, harmonis, dan sejahtera.

LSH Hidayatullah Layani Penyembelihan dan Pengelolaan Qurban di Berbagai Titik

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah kembali mengambil peran dalam pelaksanaan ibadah qurban Idul Adha 1447 Hijriah dengan memberikan layanan penyembelihan dan pengelolaan hewan qurban di berbagai titik di Jabotabek.

Pada momentum Idul Adha tahun ini, sejumlah masjid dan lembaga keagamaan mempercayakan proses penanganan hewan qurban kepada tim LSH Hidayatullah yang didukung tenaga profesional dan personel terlatih di bidang penyembelihan halal.

Layanan yang diberikan tidak hanya mencakup proses penyembelihan, tetapi juga tahapan pasca sembelih, mulai dari pengulitan, pemotongan karkas, hingga pencacahan daging. Seluruh rangkaian kegiatan dilakukan sesuai prosedur penyembelihan halal yang menjadi fokus utama lembaga tersebut.

Pengurus Pusat LSH Hidayatullah, Muhammad Syarif, menjelaskan bahwa pelayanan qurban yang dijalankan lembaganya tidak hanya bertujuan membantu masjid dan panitia qurban dalam aspek teknis, tetapi juga menjadi sarana edukasi langsung kepada masyarakat.

“Khidmat ini sekaligus menjadi wadah edukasi langsung tentang penyembelihan halal yang sesuai tuntunan Islam, mulai dari penanganan hewan, proses penyembelihan, hingga pengelolaan daging qurban,” ujar Syarif di sela sela memimpin penyembelihan di Puspenerbad TNI Pondok Cabe, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten, Jum’at, 12 Dzulhijjah 1447 (29/5/2026).

Menurutnya, pemahaman terhadap tata cara penyembelihan yang benar menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas pelaksanaan ibadah qurban. Oleh karena itu, LSH Hidayatullah terus menghadirkan tenaga yang memiliki kompetensi teknis dan pemahaman syariat dalam setiap layanan yang diberikan kepada masyarakat.

Pada pelaksanaan Idul Adha 1447 H, jaringan LSH Hidayatullah yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia turut terlibat dalam mendukung kebutuhan layanan qurban. Keterlibatan jaringan nasional tersebut memungkinkan pelaksanaan pelayanan dilakukan secara lebih luas dan terkoordinasi, baik di lingkungan masjid, pesantren, lembaga pendidikan, maupun komunitas masyarakat.

Syarif juga menyampaikan harapannya agar layanan yang telah berjalan dapat terus diperkuat pada tahun-tahun mendatang. “Kami berharap layanan penyembelihan halal ini dapat terus ditingkatkan kualitasnya dan diperluas jangkauannya melalui dukungan jaringan LSH Hidayatullah secara nasional,” katanya.

Ia menambahkan bahwa melalui keterlibatan tenaga profesional dan dukungan jaringan nasional, LSH Hidayatullah terus berupaya memberikan pelayanan yang membantu masyarakat dalam melaksanakan ibadah qurban sekaligus memperkuat pemahaman mengenai penyembelihan halal yang sesuai tuntunan Islam.