Beranda blog Halaman 155

BMIWI International Webinar Bahas Globalisasi dan Tantangan Ketahanan Keluarga

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia (BMIWI) menggelar acara webinar internasional bertajuk “Strengthening Family Resilience as the Foundation of Civilization”, sebuah tema besar yang berfokus pada penguatan ketahanan keluarga sebagai pondasi dari sebuah peradaban khususnya dalam konteks Islam, Sabtu, 2 Rabi’ul Akhir 1446 (5/10/2024).

Acara ini secara resmi dibuka oleh Ketua Presidium BMIWI, Dr. Reny Susilowati Latif, M.Pd.I., yang dalam sambutannya menekankan pentingnya peranan keluarga dalam membentuk fondasi yang kuat bagi masyarakat dan peradaban Islam.

BMIWI, sebagai badan federasi organisasi tingkat pusat, memiliki visi besar untuk menjadi federasi organisasi Muslimah yang produktif dan solutif, khususnya dalam meningkatkan kapasitas organisasi anggotanya.

Dr. Reny Susilowati menegaskan bahwa salah satu misi dari visi tersebut adalah memperkuat peranan organisasi Muslimah dalam menghadapi tantangan dan permasalahan yang dihadapi perempuan Muslim, baik di tingkat nasional, regional, maupun internasional.

Dalam konteks internasional, terang dia, visi dan misi ini diaktualisasikan melalui berbagai program, termasuk webinar internasional kali ini yang berfokus pada ketahanan keluarga.

“Visi dan misi ini kemudian kami terjemahkan dalam program hubungan luar negeri, dengan tema besar penguatan peranan keluarga sebagai pondasi dari peradaban,” tutur Reny.

Keluarga sebagai Inti Peradaban Islam

Dalam sambutannya, Reny menekankan bahwa keluarga adalah institusi terkecil dalam sebuah peradaban. Keluarga yang kuat, menurutnya, akan menjadi pilar bagi tegaknya peradaban yang kokoh.

Dalam ranah Muslimah, peradaban yang dimaksud tak lain adalah peradaban Islam yang berlandaskan pada nilai-nilai keislaman yang luhur. “Ketahanan keluarga tidak hanya menjadi fondasi bagi ketahanan masyarakat, tetapi juga bagi tegaknya peradaban Islam,” ucapnya.

Globalisasi, kata Dr. Reny, membawa berbagai tantangan yang mempengaruhi sendi-sendi kehidupan keluarga, baik dari aspek sosial, budaya, maupun agama. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji dampak globalisasi terhadap keluarga serta mencari solusi yang dapat memperkuat ketahanan keluarga di era modern ini.

“Seminar ini membahas bagaimana ketahanan keluarga dapat dipertahankan di tengah tantangan globalisasi, serta mengkaji realitas yang ada dan idealitas yang kita harapkan dari sebuah keluarga yang tangguh,” tambahnya.

Lebih lanjut, Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah periode 2015-2020 ini menyampaikan harapannya bahwa program-program seperti ini dapat terus berkelanjutan dengan bersinergi bersama mitra-mitra internasional. Ia juga berharap adanya kolaborasi lebih lanjut dalam bidang informasi dan komunikasi untuk memperkuat hubungan lintas negara.

“Silaturahmi antarbangsa ini diharapkan akan terus berkembang dalam berbagai bentuk program bersama di masa mendatang,” katanya optimis.

Pembicara dari Tiga Negara

Acara ini dipandu oleh moderator Ariesa Ulfa, B.Sc., M.Sos., yang saat ini menjabat sebagai Ketua Divisi Hubungan Luar Negeri BMIWI. Ariesa Ulfa dengan cermat mengarahkan diskusi antara tiga pembicara internasional yang diundang khusus untuk berbagi perspektif tentang ketahanan keluarga di tengah tantangan global.

Pembicara pertama, Mr. Nailul Hafiz Abdul Rahim, B.Eng., M.Sc., berasal dari Singapura. Mr. Nailul menyampaikan materi yang bertajuk “Enculturalising Family Resilience to Thrive in Uncertain Times”, yang membahas bagaimana budaya ketahanan keluarga dapat dikembangkan dan diterapkan untuk bertahan dalam masa-masa yang penuh ketidakpastian.

Dalam presentasinya, Nailul Hafiz menekankan pentingnya membangun ketahanan keluarga melalui pendekatan budaya yang kontekstual dengan ajaran Islam dan relevan dengan tantangan zaman.

Selanjutnya, penyaji dari Brunei Darussalam, hadir Associate Professor Dr. Hajah Rose binti Abdullah yang memaparkan topik “Strengthen Family Resilience with Islamic Perspective”.

Dr. Hajah Rose menyoroti bagaimana Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan pedoman yang jelas tentang bagaimana membangun dan menjaga ketahanan keluarga.

Menurutnya, prinsip-prinsip Islam, seperti keadilan, kebijaksanaan, dan kasih sayang, harus dijadikan pijakan dalam membangun keluarga yang kokoh.

Dr. Hajah Rose juga menekankan bahwa ketahanan keluarga dalam Islam bukan hanya berfokus pada aspek material, tetapi juga spiritual, karena tujuan akhir kehidupan keluarga Muslim adalah bertemu kembali di surga, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah.

Pembicara ketiga, Dr. Dinar Dewi Kania, dari Indonesia, menyampaikan pandangan yang kritis melalui paparannya yang bertajuk “Globalization and Secularization of Family Values”.

Dalam presentasinya, Dr. Dinar mengungkapkan bahwa globalisasi seringkali membawa pengaruh negatif terhadap nilai-nilai keluarga, khususnya melalui proses sekularisasi yang mengaburkan peran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Dinar, sekularisasi ini berdampak pada melemahnya nilai-nilai Islam dalam keluarga, sehingga perlu adanya upaya yang serius untuk menjaga agar keluarga tetap berlandaskan pada nilai-nilai spiritual yang kuat.

Dinar menjelaskan, sekularisasi yang ditimbulkan oleh globalisasi adalah salah satu tantangan besar bagi keluarga Muslim. Oleh karena itu, terangnya, kita harus memperkuat peran agama dalam keluarga agar nilai-nilai Islam tidak tergerus oleh arus sekularisme.

Acara webinar internasional ini tidak hanya dihadiri oleh peserta dari Indonesia, tetapi juga dari berbagai negara lainnya, termasuk Australia dan Malaysia.

Partisipasi yang luas ini dalam acara ini mencerminkan tingginya minat dan kepedulian komunitas internasional terhadap isu ketahanan keluarga, khususnya dalam menghadapi tantangan global yang terus berkembang.

BMIWI, sebagai organisasi yang berfokus pada pengembangan Muslimah di Indonesia, berharap dapat terus memperluas jangkauan kerjanya di tingkat internasional dengan menjalin sinergi lebih kuat lagi dengan mitra.*/Yacong B. Halike

Kebaikan Zakat Membelah Lautan, Hadirkan Sumur Bor dan Rumah Qur’an untuk Mualaf Selat Kongki

0

LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Bayangkan kalau Anda harus menempuh perjalanan berjam-jam membelah lautan lepas dengan menggunakan kapal nelayan demi mencapai sebuah pulau kecil.

Itulah yang dilakukan oleh Imam Nawawi, Kepala Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Pusat bersama tim BMH Kepulauan Riau untuk mengunjungi mualaf di Selat Kongki, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.

Kepulauan Riau, provinsi dengan lebih dari 3.200 pulau — dan hanya sekitar 300 yang berpenghuni — menyimpan sejuta cerita. Salah satunya adalah kisah masyarakat mualaf di Selat Kongki, yang kini tersentuh kebaikan berkat zakat, infak, dan sedekah umat melalui BMH.

Perjalanan menuju Selat Kongki tidaklah mudah. Dari Batam, Imam Nawawi harus menaiki kapal menuju Daik Lingga selama 4-5 jam. Esok paginya, perjalanan dilanjutkan dengan kapal kayu masyarakat Desa Pena’ah selama 3 jam pulang pergi.

Namun, semua lelah terbayarkan ketika menyaksikan semangat anak-anak mualaf Selat Kongki dalam belajar mengaji. “Masya Allah, sebagian besar sudah lancar membaca Alquran,” tutur Imam Nawawi dengan binar mata, seperti dalam keterangannya kepada media ini, Ahad, 3 Rabi’ul Akhir 1446(6/10/2024).

Kebaikan zakat melalui BMH telah hadir di tengah-tengah mereka, membangun mushala, rumah Qur’an, dan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan mendasar masyarakat.

“Ini adalah berkah atau keajaiban dari zakat, infak, dan sedekah umat melalui BMH,” terang Fatahillah Riyanto, Kepala BMH Perwakilan Kepulauan Riau.

Kehadiran BMH di Selat Kongki memberikan harapan baru bagi masyarakat mualaf di sana. Mereka kini memiliki tempat beribadah yang layak, akses pendidikan agama, dan sumber air bersih.

“Semoga kebaikan ini terus mengalir dan menjangkau lebih banyak lagi masyarakat di pelosok kepulauan,” tutup Fatahillah.*/Adam Marzuki

“Sholah, Sholah, Sholah, Waktu Zuhur Kurang Tiga Puluh Menit!”

0

TRADISI imbauan atau peringatan dini untuk mengingatkan waktu shalat lima waktu merupakan salah satu kekayaan yang khas dari Kampus kampus Hidayatullah di Tanah Air.

Setiap kali waktu shalat hampir tiba, Zuhur misalnya, bunyi dari pelantang suara di masjid, dengan jelas mengumandangkan seruan ini: “Sholah, sholah, sholah, waktu Zuhur kurang tiga puluh menit!”. Diulang sampai tiga kali.

Kebiasaan ini tentu tak mungkin dilupakan oleh para santri atau kader kader senior di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, tempat di mana tradisi imbauan “sholah, sholah, sholah” ini berawal.

Pengumuman “sholah, sholah, sholah” ini bukan sekadar pengingat, melainkan sebuah penanda spiritual yang melekat di hati komunitas Hidayatullah.

Dengan imbauan ini, setiap orang yang mendengarnya diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri, seperti layaknya pengumuman keberangkatan di bandara yang mengingatkan penumpang agar segera bersiap menuju tujuan.

Tradisi ini, walaupun mungkin tidak ada di zaman Nabi Muhammad SAW secara spesifik, telah menjadi salah satu bentuk amal ma’ruf yang luar biasa dan sangat berharga.

Mengapa ini perlu dijaga? Karena ia adalah representasi nyata dari semangat saling mengingatkan dalam kebaikan, yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam.

Di balik tiap seruan untuk shalat terdapat pengingat akan pentingnya shalat berjamaah di awal waktu, serta pengakuan terhadap peran shalat sebagai salah satu pilar penting kehidupan seorang Muslim.

Shalat merupakan salah satu kewajiban dalam Islam yang ditekankan dengan kuat dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dalam surah Al-Baqarah ayat 238, Allah SWT berfirman:

حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.”

Ayat ini menekankan pentingnya menjaga shalat, terutama di waktu yang tepat, dan mengingatkan untuk melaksanakannya dengan khusyuk. Shalat lima waktu bukanlah semata-mata ibadah individu, namun juga instrumen untuk membangun hubungan spiritual dalam komunitas Muslim.

Shalat berjamaah bahkan memiliki keutamaan yang sangat tinggi dibandingkan shalat sendirian. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis:

عَنْ عَبْدِ الله بْنِ عُمَر رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat berjamaah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian.” (Muttafaqun ‘alaih)

Hadis ini menggarisbawahi urgensi shalat berjamaah dan menegaskan nilai keutamaannya dalam kehidupan seorang Muslim.

Dengan adanya imbauan waktu shalat, Hidayatullah menghidupkan semangat kolektif yang diperintahkan oleh agama, yakni agar setiap anggota komunitas senantiasa siap mendirikan shalat tepat waktu dan, jika memungkinkan, melaksanakannya secara berjamaah.

Shalat sebagai Instrumen Kehidupan Spiritual

Shalat tidak hanya menjadi kewajiban ritual, tetapi juga merupakan salah satu instrumen paling mendalam dalam kehidupan spiritual seorang Muslim.

Dengan melaksanakan shalat lima waktu, seorang Muslim mengingatkan diri akan tujuan hidup, yakni untuk beribadah kepada Allah SWT, serta merenungi ketundukan dan ketaatan kepada-Nya. Dalam surah Al-Ankabut ayat 45, Allah berfirman:

ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).”

Melalui shalat, setiap Muslim memiliki kesempatan untuk membersihkan hati dan pikiran dari hal-hal yang buruk dan merusak. Selain itu, shalat juga menjadi pengingat bahwa hidup ini bukan sekadar urusan duniawi, melainkan juga memiliki dimensi spiritual yang perlu dirawat.

Selain semacam hook untuk menarik perhatian dan membangkitkan minat, imbauan awal sebelum masuk ke pengumuman seperti “Sholah, sholah, sholah” atau “kaum muslimin rahimakumullah” memberikan ruang bagi setiap individu untuk menyesuaikan diri, meninggalkan sejenak urusan dunia, dan berfokus pada ibadah.

Tradisi Saling Mengingatkan

Saling mengingatkan dalam kebaikan adalah salah satu ajaran penting dalam Islam. Dalam surah Al-Asr, Allah SWT berfirman:

وَالْعَصْرِۙ. اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ. اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”

Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu cara untuk menghindari kerugian di dunia dan akhirat adalah dengan saling menasihati dalam kebaikan dan kebenaran.

Tradisi mengumandangkan peringatan waktu shalat di Hidayatullah ini, dengan cara yang teratur dan konsisten, adalah bentuk nyata dari pelaksanaan ajaran tersebut.

Setiap kali pengumuman terdengar, ia tidak hanya mengingatkan individu untuk segera melaksanakan kewajiban shalat, tetapi juga mengingatkan akan pentingnya bersikap disiplin dan mendahulukan ibadah di atas segalanya.

Dalam konteks ini, budaya mengingatkan waktu shalat di Hidayatullah dapat dilihat sebagai representasi dari dakwah kecil yang berjalan secara kontinyu. Ia mengajak setiap orang untuk selalu siaga dan siap dalam memenuhi kewajiban ibadah mereka.

Di sini, peran komunitas sangat terlihat, di mana semua orang, baik santri, warga, staf, pengajar, maupun mahasiswa, memiliki tanggung jawab moral yang sama untuk menjaga kewajiban ini.

Tidak dapat dipungkiri bahwa shalat lima waktu juga memiliki elemen kedisiplinan yang kuat. Mengingat waktu shalat yang sudah ditentukan dengan spesifik, seseorang dituntut untuk mengatur dan menyesuaikan jadwal keseharian mereka dengan waktu-waktu shalat tersebut. Ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits ini, Nabi Muhammad SAW menekankan bahwa salah satu bentuk ketaatan yang paling Allah SWT cintai adalah ketika seorang hamba mampu melaksanakan shalat tepat pada waktunya.

Dalam kerangka Hidayatullah, tradisi mengumumkan waktu shalat dengan peringatan dini “Sholah, sholah, sholah” lewat pelantang suara masjid membantu setiap orang di lingkungan tersebut untuk senantiasa memperhatikan waktu dan bersiap lebih awal. Hal ini menjadi bagian dari proses pendidikan karakter, terutama dalam hal disiplin dan tanggung jawab terhadap waktu.

Menjaga Warisan, Menjaga Identitas

Menjaga tradisi imbauan shalat di Hidayatullah bukan hanya soal mempertahankan kebiasaan lama, melainkan juga tentang menjaga identitas spiritual dan keislaman yang kuat.

Meskipun imbauan seperti ini mungkin tidak ada di zaman Nabi Muhammad SAW, ia tetap memiliki relevansi yang tinggi dalam konteks modern. Hal ini karena budaya ini membantu mengingatkan akan pentingnya ibadah secara kolektif di tengah dunia yang semakin sibuk dan penuh dengan distraksi.

Dalam konteks Indonesia, di mana mayoritas umat Islam bukan penutur asli bahasa Arab, penggunaan bahasa yang lebih familiar dan mudah dipahami jelas lebih efektif dalam menyampaikan pesan.

Islam selalu menekankan esensi di atas bentuk, dan selama inti dari pesan tersebut adalah untuk mengingatkan umat Islam tentang pentingnya shalat, tradisi “sholah, sholah, sholah” ini seharusnya dipertahankan.

Banyak orang mungkin berpendapat bahwa imbauan tersebut tidak relevan lagi, karena ada teknologi canggih yang bisa mengingatkan kita akan waktu shalat, seperti aplikasi pada ponsel atau alarm otomatis.

Namun, esensi dari tradisi ini “sholah, sholah, sholah” jauh lebih dalam daripada sekadar fungsi alarm. Ia menyatukan komunitas dalam satu suara, satu tujuan: menegakkan ibadah tepat waktu dan secara berjamaah.

Selain itu, imbauan ini memiliki makna simbolik yang kuat. Ia adalah pengingat bahwa shalat bukan hanya kewajiban individual, tetapi juga kewajiban komunitas. Setiap kali pengumuman “sholah, sholah, sholah” terdengar, ia menghidupkan kembali semangat kebersamaan dan kepedulian antar sesama Muslim.

Tradisi ini, dengan demikian, tidak boleh dihilangkan hanya karena alasan teknis atau bahasa, melainkan harus dilihat sebagai warisan berharga yang memperkuat ikatan spiritual dan kebersamaan dalam sebuah komunitas.

Tradisi imbauan waktu shalat di Hidayatullah adalah salah satu contoh bagaimana sebuah komunitas bisa menjaga dan memupuk nilai-nilai Islam secara terus-menerus.

Dengan mengumandangkan peringatan waktu shalat, baik dari segi spiritual maupun sosial, tradisi ini memperlihatkan betapa pentingnya saling mengingatkan dalam kebaikan, menjaga disiplin waktu, dan mendirikan shalat berjamaah di awal waktu.

Sebagaimana pengingat di bandara yang mempersiapkan penumpang untuk keberangkatan mereka, imbauan shalat melalui corong pelantang suara masjid di Hidayatullah juga mempersiapkan setiap Muslim untuk keberangkatan spiritual mereka dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan ibadah.

Oleh karena itu, menjaga tradisi“sholah, sholah, sholah” ini adalah menjaga kekayaan yang tidak ternilai, kekayaan yang tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga memperkuat identitas dan kebersamaan umat.

Jangan sampai hanya karena alasan-alasan yang bersifat teknis, tradisi ini hilang dan kita kehilangan salah satu sarana penting dalam menjaga hubungan kita dengan Sang Pencipta.*/Yacong B. Halike

Pembinaan Guru dan Wali Murid di Bulungan Soroti Tantangan Pendidikan Masa Kini

TANJUNG SELOR (Hidayatullah.or.id) — Suasana di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kecamatan Tanjungselor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), tampak lebih ramai dari biasanya, Sabtu, 2 Rabi’ul Akhir 1446 (5/10/2024).

Sejak pukul 07.30 WITA, ratusan guru dan wali murid telah memadati ruang utama masjid pesantren untuk mengikuti acara “Pembinaan Guru dan Wali Murid”.

Kegiatan ini merupakan salah satu agenda rutin pesantren untuk memperkuat hubungan antara sekolah, guru, dan orang tua dalam membina karakter serta aqidah anak didiknya.

Senafas dengan visinya yang kuat dalam mendidik generasi Islam yang berpegang teguh pada ajaran agama, acara yang berlangsung di Pesantren Hidayatullah Bulungan ini menjadi penting di tengah tantangan yang dihadapi masyarakat modern, terutama terkait kenakalan remaja, kasus kekerasan seksual, dan kejahatan digital yang semakin marak.

Pemateri utama dalam acara tersebut yakni Ust. Jumardi Sukma, seorang dai Hidayatullah Bulungan, menyampaikan betapa pentingnya pembinaan aqidah bagi anak-anak, khususnya di era digital saat ini.

“Di zaman digital ini, kita sering mendengar kasus-kasus pencabulan, kekerasan seksual, serta kenakalan remaja lainnya. Salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk menghindari hal ini adalah dengan memasukkan anak-anak kita ke pondok pesantren,” ujar Ust. Jumardi Sukma di depan hadirin.

Ia menegaskan bahwa meskipun terkadang ada kasus serupa di lingkungan pesantren, namun jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sekolah-sekolah umum di luar pesantren.

Karenanya, menurut dia, pembinaan aqidah yang kuat dapat menjadi benteng bagi anak-anak dalam menghadapi berbagai godaan dan pengaruh negatif dari dunia luar, terutama dari media sosial yang kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak remaja.

Penggunaan Teknologi

Jumardi juga menyinggung tentang tantangan besar yang dihadapi orang tua dan pendidik di zaman sekarang. Menurutnya, teknologi, media sosial, dan lingkungan yang semakin bebas telah membawa pengaruh besar terhadap perilaku remaja.

“Kita perlu menyadari bahwa tantangan zaman sekarang sangat berbeda dengan dahulu. Dulu, mungkin kita lebih mudah mengawasi anak-anak karena dunia mereka lebih terbatas. Namun, sekarang, dunia anak-anak kita sangat luas karena adanya internet dan media sosial,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa pondok pesantren bisa menjadi salah satu solusi untuk membantu orang tua dalam membimbing dan mendidik anak-anak mereka, bukan hanya dalam hal akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan moral.

Diterangkan Jumardi, pondok pesantren memberikan lingkungan yang lebih terkontrol dan kondusif untuk pembinaan aqidah dan akhlak, sehingga anak-anak dapat tumbuh dengan nilai-nilai Islam yang kuat.

“Meski begitu, pondok pesantren bukanlah tempat yang sempurna. Ada kalanya terjadi masalah, tetapi perbedaannya adalah, di pesantren, kita punya sistem dan nilai-nilai yang menjaga anak-anak kita tetap berada dalam koridor yang benar,” tambahnya.

Di antara para wali murid yang hadir, beberapa di antaranya berasal dari daerah yang cukup jauh seperti Berau dan Kabupaten Tana Tidung (KTT). Bahkan, ada beberapa orang tua yang rela bermalam di pesantren demi mengikuti acara pembinaan ini.

Salah seorang wali murid yang hadir, Ibu Nurul dari Kabupaten Berau, mengungkapkan kebahagiaannya atas terselenggaranya acara ini. Ia mengaku sangat senang bisa mengikuti kegiatan ini. Selain memperkuat fondasi agama anak-anak, acara ini juga menjadi ajang silaturahmi antara sesama wali murid dan para ustadz-ustadzah di pesantren.

Selain memperkuat fondasi agama, acara pembinaan ini juga menjadi kesempatan untuk berbagi pengalaman dan cerita antara orang tua. Banyak di antara mereka yang saling bertukar pikiran tentang tantangan dalam mendidik anak-anak mereka di rumah.

Keakraban antara wali murid dan para ustadz-ustadzah juga semakin erat melalui kegiatan ini, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat.*/Ade Junaidi Rahmat

Rakerwil Pemuda Hidayatullah Kepri Konsolidasi Peran Menuju Indonesia Emas 2045

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah Kepulauan Riau menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang ke-3 dengan tema besar “Konsolidasi Progresivitas Pemuda yang Beradab Menuju Indonesia Emas 2045” yang digelar selama tiga hari dibuka pada, Jum’at, 1 Rabi’ul Akhir 1446 (4/10/2024).

Bertempat di Kampus Utama Hidayatullah Batam, acara ini dihadiri oleh 50 peserta utusan Pengurus Daerah (PD) dan Kesatuan Mandiri yang datang dari berbagai daerah di Kepulauan Riau. Para peserta terdiri dari anggota dan pengurus Pemuda Hidayatullah, baik dari tingkat daerah maupun wilayah.

Hadir pula sejumlah tokoh penting dari berbagai lembaga, di antaranya perwakilan dari Kesbangpol Kepri Sugiarto Doso, S.Sos, MAP; Ketua DPW Hidayatullah Kepulauan Riau Ust. Darmansyah yang akrab disapa dengan Bang Anca; Fatahillah Riyanto dari BMH Kepulauan Riau; serta perwakilan dari Pengurus Wilayah Mushida Kepri.

Acara dimulai dengan sambutan dari Ketua PW Pemuda Hidayatullah Kepri, Abdurrahman, yang menyampaikan harapan besar atas terselenggaranya Rakerwil ini. Abdurrahman menekankan pentingnya soliditas di kalangan pemuda dalam melaksanakan setiap program yang telah dirancang.

“Kami berharap Pemuda Hidayatullah dapat tetap solid dalam melaksanakan setiap program yang telah diamanahkan. Kita harus tetap kompak dalam kondisi apapun, karena kebersamaan adalah kunci utama keberhasilan kita,” ujar Abdurrahman dalam sambutannya.

Abdurrahman menjelaskan, Rakerwil yang berlangsung selama tiga hari, mulai dari tanggal 4 hingga 6 Oktober 2024, ini tidak hanya fokus pada pembahasan program kerja, evaluasi internal, dan pembahasan tajam mengenai peran sebagaimana tema menuju Indonesia Emas 2045. Salah satu agenda menarik dalam kegiatan ini adalah touring dakwah ke Kota Tanjung Pinang.

Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar anggota dan pengurus Pemuda Hidayatullah, sekaligus menyebarkan nilai-nilai keagamaan dan sosial ke masyarakat luas.

Dengan semangat “Menuju Indonesia Emas 2045”, Abdurrahman menambanhkan, Rakerwil ini menjadi momen penting bagi Pemuda Hidayatullah Kepulauan Riau untuk memperkuat konsolidasi, memperbaiki strategi, dan memastikan bahwa generasi muda Islam siap menjadi pelopor perubahan di masa depan.

Pesan Kesbangpol

Selain itu, Kepala Sub Bidang Ketahanan Ideologi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kepri Sugiarto Doso turut memberikan injeksi spirit bagi para pemuda yang hadir. Dalam pesannya, Sugiarto mengingatkan para pemuda tentang pentingnya semangat dan ketangguhan dalam berjuang.

“Teruslah semangat, terus berjuang dan pantang menyerah. Para pendiri dan perintis Hidayatullah telah berpesan bahwa tantangan yang kita hadapi saat ini tidak jauh berbeda dengan masa lalu. Tantangan terbesar adalah bagaimana kita selalu mengingat dan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” tutur Sugiarto, sambil menunjuk sebuah bingkai di dinding ruangan yang mengingatkan akan pesan para pendiri Hidayatullah.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPW Hidayatullah Kepulauan Riau, Ust. Darmansyah atau yang biasa disapa Bang Anca, dalam sambutan arahannya menekankan peran penting pemuda dalam berkarya dan berkontribusi bagi lembaga serta bangsa.

Bang Anca menantang para pemuda untuk lebih berani melahirkan ide-ide kreatif yang dapat memperkuat posisi Indonesia menuju tahun 2045.

“Pemuda harus terus menelurkan gagasan dan ide-ide baru serta menjadi pribadi yang berkarakter. Jangan sampai merasa minder dengan keberhasilan senior-senior kita, tetapi justru harus mampu menciptakan karya besar yang akan mengangkat harkat dan martabat bangsa ini,” tegas Bang Anca.

Kerja Profetik dan Profesional

Salah satu momen penting dalam Rakerwil ini adalah sambutan dari Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Kepulauan Riau, Ust. Khoirul Amri, M.Pd.

Dalam sambutannya, Khoirul memberikan pandangan mendalam mengenai filosofi kerja yang harus dipegang oleh setiap anggota Pemuda Hidayatullah. Ia menguraikan dua bentuk kerja utama yang harus dijalani, yaitu kerja profetik dan kerja profesional.

“Kerja seorang mujahid ada dua, yaitu profetik dan profesional. Kerja profetik adalah kerja yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wassalam, yang penuh dengan nilai-nilai spiritual dan tanggung jawab moral. Sementara kerja profesional adalah kerja yang berprinsip pada manajemen yang baik serta regulasi yang mengikat, agar segala aktivitas kita terstruktur dan sesuai dengan aturan,” paparnya.

Tidak hanya berhenti di situ, Khoirul Amri juga menambahkan bahwa dalam mengemban amanah organisasi, para pemuda harus meneladani sifat-sifat para Nabi, seperti Shiddiq (jujur), Tabligh (komunikatif), dan Fathonah (cerdas).

Khoirul mengingatkan bahwa pemuda harus mampu menyampaikan informasi dengan akurat dan bijaksana. Khoirul mencontohkan kisah Nabi Ibrahim AS dalam menghadapi tantangan besar saat ia berupaya menghancurkan berhala-berhala di Babilonia.

Dia menyebutkan, Nabi Ibrahim AS datang seorang diri untuk meruntuhkan segala patung berhala, kecuali sebuah patung terbesar yang dianggap sebagai dewa paling hebat oleh kaumnya.

Dengan cerdas, Nabi Ibrahim meletakkan alat penghancur di patung besar itu agar kaumnya berfikir bahwa patung besar itulah yang telah menghancurkan berhala-berhala lainnya. “Hal ini adalah bukti betapa pentingnya kita menjadi cerdas dalam menghadapi tantangan,” jelas Ust. Khoirul.

Fokus Pengembangan Pemuda

Sementara itu, sambutan penutup disampaikan oleh perwakilan Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, Deden Sugianto Darwin, yang sekaligus meresmikan pembukaan Rakerwil ini.

Dalam sambutannya, pengusaha yang biasa disapa Kang Deden ini menekankan pentingnya pengembangan kader dan peningkatan kualitas diri di kalangan pemuda. Menurutnya, ekspansi rekrutmen kader harus terus dilakukan agar semakin banyak pemuda Hidayatullah yang berkontribusi secara aktif.

“Pengurus wilayah wajib melakukan ekspansi rekrutmen kader agar semakin meluasnya kader muda Hidayatullah,” kata Deden.

Selain itu, terang pria kelahiran Cianjur, Jawa Barat, ini, pemuda juga harus senantiasa meningkatkan soft skill dan hard skill.

“Perkuat literasi bacaan agar menjadi pemuda yang unggul dan berpengaruh,” pesan Deden sebelum akhirnya membuka secara resmi kegiatan Rakerwil ke-2 Pemuda Hidayatullah Kepulauan Riau ini.*/Faisal Amri

Jejak Hidayatullah dan Urgensi Pelestarian Lingkungan Ditengah Ancaman Perubahan Iklim

0

PERUBAHAN iklim (climate change) telah menjadi tantangan serius yang dihadapi oleh seluruh penduduk bumi saat ini. Fenomena ini mencakup peningkatan suhu global, perubahan pola cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, hingga ancaman hilangnya keanekaragaman hayati.

Dampak-dampak tersebut jelas akan sangat memengaruhi keberlangsungan hidup umat manusia secara keseluruhan, termasuk Indonesia yang juga menghadapi tantangan berat dalam menghadapi perubahan iklim ini.

Menjaga lingkungan bukan hanya persoalan tanggung jawab manusia terhadap alam, tetapi juga merupakan kewajiban spiritual dalam Islam. Al-Qur’an secara tegas menyatakan:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”

Al Qur’an surah Ar-Rum ayat 41 ini menggarisbawahi pentingnya kesadaran untuk menjaga keseimbangan alam agar tidak terjadi kerusakan yang semakin parah. Kerusakan lingkungan yang kita saksikan hari ini sebagian besar merupakan hasil dari ketidakpedulian manusia terhadap kelestarian alam.

Rasulullah SAW juga memberikan petunjuk jelas dalam hal ini, seperti yang disebutkan dalam hadis berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَا يَغْرِسُ مُسْلِمٌ غَرْسًا وَلَا يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلَا طَائِرٌ وَلَا شَيْئٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ أَجْرٌ رواه الطبراني

“Dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Tiada seorang muslim yang menanam pohon atau menebar bibit tanaman, lalu (hasilnya) dimakan oleh manusia, burung, atau apapun itu, melainkan ia akan bernilai pahala bagi penanamnya,” (HR At-Thabarani).

Jadi, Islam tidak hanya menyeru umatnya untuk tidak melakukan kerusakan, tetapi juga mengajak untuk secara aktif melestarikan lingkungan.

Generasi Muda dan Bumi Masa Depan

Pemuda sebagai agen perubahan memegang peran penting dalam upaya pelestarian lingkungan. Masa muda merupakan fase dalam kehidupan di mana semangat, energi, dan ide-ide baru berkembang pesat. Dalam ranah pelestarian lingkungan, peran pemuda sangat krusial karena mereka adalah generasi yang akan mewarisi bumi ini di masa depan.

Di Indonesia, pemerintah dan berbagai organisasi telah menyadari pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga lingkungan. Mereka dilihat sebagai aset penting yang mampu memimpin gerakan sosial, termasuk dalam isu lingkungan.

Pemuda memiliki potensi untuk menginisiasi berbagai aksi seperti menanam pohon, mengurangi penggunaan plastik, hingga mengembangkan teknologi ramah lingkungan. Gerakan-gerakan ini bukan hanya memberikan dampak langsung terhadap alam, tetapi juga mendidik masyarakat akan pentingnya menjaga bumi.

Keterlibatan pemuda juga penting dalam kampanye perubahan perilaku, karena mereka cenderung lebih responsif terhadap teknologi dan informasi. Dengan memanfaatkan platform digital, mereka dapat menyebarkan pesan-pesan lingkungan secara luas, menciptakan kesadaran kolektif yang lebih besar.

Warisan Ustadz Abdullah Said

Salah satu contoh konkret tokoh yang berdedikasi terhadap lingkungan adalah Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah. Pada bulan Juni 1984, beliau menerima penghargaan Kalpataru dari pemerintah Indonesia.

Kalpataru adalah penghargaan tertinggi yang diberikan kepada individu atau kelompok yang berjasa dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Penghargaan ini diberikan kepada Ustadz Abdullah Said sebagai perintis dan pengabdi lingkungan atas inisiatifnya dalam menciptakan lingkungan hijau dan asri di kawasan pesantren yang ia dirikan. Inisiatif tersebut bukan hanya sekadar aksi fisik, melainkan juga representasi dari nilai-nilai Islam yang menghargai kelestarian alam.

Peran Abdullah Said dan Hidayatullah dalam pelestarian lingkungan patut dicontoh oleh umat Islam di seluruh dunia, khususnya oleh para murid dan kader kadernya.

Dengan mendirikan pesantren yang hijau dan asri, Ustadz Abdullah Said menekankan pentingnya lingkungan yang sehat sebagai bagian dari proses pendidikan. Pesan ini memiliki relevansi yang kuat di era modern ini, ketika perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi umat manusia.

Hidayatullah, dengan demikian, perlu terus mengembangkan program-program yang sejalan dengan ajaran Islam dalam hal pelestarian lingkungan. Hal ini sejalan dengan prinsip Islam yang memandang alam sebagai amanah dari Allah SWT. Manusia diberikan tanggung jawab sebagai khalifah (pemimpin) di bumi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'” (QS Al-Baqarah: 30). Sebagai khalifah, manusia bertanggung jawab untuk menjaga alam dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijak.

Aksi Lingkungan Berbasis Spiritualitas

Pelestarian lingkungan tidak hanya dapat dilihat dari sisi material dan fisik, tetapi juga harus dilihat sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta. Setiap tindakan manusia terhadap alam, baik itu kerusakan maupun pelestarian, akan diperhitungkan di hari akhir. Islam mendorong umatnya untuk bertanggung jawab tidak hanya pada diri sendiri dan sesama manusia, tetapi juga kepada alam semesta.

Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah SAW bersabda, “Dunia ini hijau dan indah, dan Allah telah menunjuk kamu sebagai khalifah-Nya di dunia. Dia melihat bagaimana kamu bertindak” (HR Muslim). Hadis ini menekankan betapa pentingnya menjaga keindahan dan kesuburan alam, karena di dalamnya terdapat kebijaksanaan dan tanggung jawab manusia sebagai pemimpin di bumi.

Di tengah perubahan iklim yang semakin mengancam, umat Islam dapat mengambil inspirasi dari ajaran-ajaran agama yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Misalnya, ajaran untuk tidak boros dan memanfaatkan sumber daya secara efisien sebagaimana dalam Al-Qur’an, “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS Al-A’raf: 31).

Tantangan yang dihadapi dunia saat ini dalam menangani perubahan iklim semakin kompleks. Namun, dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan khususnya pemuda, harapan untuk masa depan yang lebih baik masih ada.

Maka, sebagai pemuda, kita perlu mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh seperti Ustadz Abdullah Said yang secara konsisten menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan bukan hanya sebuah kewajiban sosial, tetapi juga spiritual.

Keterlibatan generasi muda dalam program pelestarian lingkungan sangat penting untuk mengamankan masa depan. Mereka adalah generasi yang akan menerima dampak terburuk dari perubahan iklim jika tidak ada langkah nyata yang diambil saat ini.

Oleh karena itu, gerakan pelestarian lingkungan harus terus didorong dengan semangat kebersamaan, keberlanjutan, dan spiritualitas yang mendalam. Islam sebagai agama yang menyeluruh telah memberikan pedoman yang jelas tentang bagaimana umat manusia harus memperlakukan alam.

Melalui penghargaan Kalpataru yang diterima oleh Ustadz Abdullah Said, kita belajar bahwa setiap individu, tak peduli sebesar atau sekecil apapun perannya, dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pelestarian lingkungan. Sebagai umat Islam, kita diingatkan kembali akan tugas kita sebagai khalifah di bumi.

Pemuda sebagai penerus generasi juga harus terus dilibatkan dalam setiap upaya pelestarian lingkungan. Dengan semangat spiritualitas, ketekunan, dan kerja sama, kita dapat menjaga bumi ini tetap hijau dan asri untuk generasi yang akan datang.[]

*) Adam Sukiman, penulis adalah research internship Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) dan Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta.

Hadiri Dialog Kebangsaan di Ponpes Hidayatullah, Risma Bahas Pendidikan dan Kesejahteraan Guru

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Calon Gubernur Jawa Timur nomor urut 3 Tri Rismaharini bersilaturrahim sekaligus menghadiri acara Dialog Kebangsaan yang digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jalan Kejawan Putih Tambak, Surabaya, Selasa, 27 Rabi’ul Awal 1446 (1/10/2024).

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban. Dalam kesempatan ini, Risma bersama pengasuh pondok pesantren membahas isu-isu krusial terkait pendidikan di lingkungan pesantren, serta kesejahteraan para pendidik, termasuk guru, ustaz, dan ustazah.

Risma turut berbagi pengalamannya dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor pendidikan selama menjabat sebagai Wali Kota Surabaya. Ia menekankan pentingnya pendidikan dalam kemajuan suatu bangsa.

“Pendidikan memegang peranan kunci. Keberhasilan suatu bangsa dapat diukur dari sejauh mana anak-anaknya memiliki akses terhadap pendidikan yang lebih baik,” ungkapnya.

Risma menyoroti bahwa tantangan utama yang dihadapi pondok pesantren adalah masalah finansial. Menurutnya, pesantren menanggung beban operasional yang tidak sepenuhnya didukung oleh pemerintah daerah. “Dari sisi finansial, mereka memiliki banyak keterbatasan karena harus menanggung biaya operasional sendiri,” jelasnya.

Risma, yang pernah menjabat sebagai Menteri Sosial RI periode 2020-2024, juga menegaskan bahwa biaya pendidikan bukanlah hal yang murah. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya politik anggaran yang berfokus pada sektor pendidikan. Saat ini, Risma telah melakukan perhitungan terkait alokasi anggaran yang diperlukan untuk mewujudkan perbaikan di Jawa Timur.

Lebih lanjut, Risma mengingatkan bahwa selama masa jabatannya sebagai Wali Kota Surabaya, alokasi anggaran untuk pendidikan dalam APBD mencapai 32 persen, bahkan pernah mencapai 36 persen, menunjukkan komitmennya terhadap peningkatan sektor ini.

Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Ustaz Syamsuddin, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Risma. Menurutnya, Risma bukanlah sosok yang asing bagi warga Hidayatullah.

“Kami masih ingat, Bu Risma pernah hadir di sini pada waktu Subuh. Kehadirannya saat itu benar-benar mengejutkan kami,” ujarnya.

Acara ini ditutup dengan doa serta sesi foto bersama sebagai bentuk apresiasi dan dukungan dari warga pesantren.*/Adib Nursyahid

Perkaderan Sebuah Sistem Nilai Dasar Pergerakan yang Harus Diwariskan

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Cdt. Dr. Muhammad Shaleh Utsman S.S, M.I.Kom, mengatakan perkaderan sebagai sebuah sistem nilai dasar bagi gerakan seperti Hidayatullah sangat penting untuk menjaga kontinuitas visi dan misi organisasi.

Shaleh menekankan pentingnya pengkaderan melalui Daurah Marhalah Wustha sebagai upaya memperdalam pengetahuan manhaj Hidayatullah, sebuah sistem nilai yang menjadi dasar pergerakan dakwah organisasi ini.

“Pengetahuan ini menjadi bekal bagi para kader untuk berdakwah dan berjuang membangun peradaban Islam,” ujar Shaleh saat membuka acara upgrading dai Daurahh Marhala Wustha gelaran Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan selama 4 hari yang dibuka pada Kamis, 29 Rabi’ul Awal 1446 (3/10/2024).

Perkaderan, dijelaskan dia, berfungsi sebagai wadah pembinaan dan pendidikan kader, di mana nilai-nilai dasar yang dipegang teguh oleh organisasi ditransmisikan dari generasi ke generasi. Ini mencakup penguatan pemahaman terhadap ajaran Islam, manhaj gerakan, jatidiri, pengembangan karakter, serta penanaman semangat dakwah dan pengabdian.

Bagi Hidayatullah, perkaderan menjadi fondasi utama dalam membangun kader yang memiliki kualitas kepemimpinan, kecakapan intelektual, serta moralitas yang tinggi.

Sistem ini, terang Shaleh, memastikan bahwa kader yang dilahirkan mampu melanjutkan perjuangan dan menjaga kemurnian ajaran yang dipegang. Nilai-nilai seperti tauhid, ukhuwah, dan dakwah menjadi pilar-pilar utama yang harus diwariskan secara konsisten.

Dengan demikian, menurut Shaleh, perkaderan bukan hanya sebuah proses formal, tetapi juga sebuah upaya regenerasi yang vital untuk memastikan bahwa nilai-nilai organisasi tetap relevan dan hidup di tengah tantangan zaman. Warisan ini penting untuk menjaga kesinambungan dan memperkuat peran Hidayatullah dalam masyarakat.

“Hidayatullah terus berkembang dan maju. Kader-kader saat ini adalah pewaris dan pelanjut perjuangan,” tegasnya menandaskan.

Kampus Al Bayan Tuan Rumah

Kampus Al Bayan Hidayatullah Makassar menjadi tuan rumah penyelenggeraan acara yang diikuti 40 kader Hidayatullah yang datang dari tiga provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat ini.

Acara yang berpusat di Aula Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Bayan ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, di antaranya DPW Hidayatullah Sulsel, Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulsel, Kampus Utama Al-Bayan, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Sulsel, DPD Hidayatullah Makassar, STAI Al-Bayan, Pemuda Hidayatullah Makassar, dan Baituzzakah Terpadu (BTH) Sulsel.

Selain Shaleh, sejumlah tokoh lainnya juga turut hadir dan memberikan sambutan. Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustadz Drs. Nasri Bohari, M.Pd., Ketua DMW Hidayatullah Sulsel, KH. Abdul Majid, M.A., serta Ketua Yayasan Kampus Utama Al-Bayan, Ustadz Suwito Fatah, M.M., turut menyampaikan harapan agar pelatihan ini dapat menghasilkan kader-kader yang siap berkontribusi nyata bagi kemajuan umat.

Acara ini juga dihadiri oleh Ustadz Dr. Abdul Qadir Mahmud, M.Pd., Ketua STAI Al-Bayan Makassar, serta perwakilan dari BMH Sulsel, DPD Hidayatullah Makassar, BTH Sulsel, dan PW Pemuda Hidayatullah Sulsel.*/Herim

BMH Sukses Jalani Audit Resertifikasi Mutu ISO 9001:2015, Bangun Komitmen Profesionalitas

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengelolaan zakat yang profesional dan transparan. Lembaga amil zakat nasional ini tengah dan telah menjalani audit resertifikasi mutu ISO 9001:2015 selama dua hari, Rabu-Kamis, 28-29 Rabi’ul Awal 1446 (2-3/10/2024).

“Audit ini bertujuan untuk memperkuat tata kelola zakat yang amanah dan profesional. Audit inib berlangsung selama 3 tahun sekali, untuk memastikan apakah sistem yang berjalan masih relevan atau tidak dengan mutu manajemen yang seharusnya,” jelas Supendi, Direktur Utama BMH, dalam sambutannya.

“Kami berharap dapat terus meningkatkan mutu layanan dan memberikan yang terbaik bagi para mitra dan donatur,” sambungnya.

Tim auditor dari PT. Sakti Indonesia, yang dipimpin oleh Wasis S. Leksana dan Rully Aprilyana, telah melakukan penilaian menyeluruh terhadap sistem manajemen mutu BMH.

PT. Sakti Indonesia merupakan lembaga berpengalaman dan berkompeten dalam audit mutu standar internasional. Pada 2024 ini audit berlangsung di 10 wilayah, seperti BMH Pusat, BMH Jawa Barat, BMH Jawa Tengah, BMH Jawa Timur, BMH Kepulauan Riau, BMH Kaltim, BMH Kaltara, BMH Sulsel, BMH Banten dan NTB.

Dalam audit ini BMH semakin termotivasi untuk terus berkiprah sebagai lembaga zakat nasional yang profesional dan akuntabel. Dengan sertifikasi ISO 9001:2015, BMH berharap dapat terus menjaga kepercayaan masyarakat dan mitra dalam menyalurkan zakat untuk kemaslahatan umat.

“Seperti tak ada gading yang tak retak, seperti itu pula proses perbaikan masih terus BMH lakukan. Meskipun demikian BMH tetap memenuhi standar mutu ISO 9001:2015 dan berhasil mempertahankan sertifikasi ini dengan baik,” pungkas Supendi.*/Herim

BMH Sukses Jalani Audit Resertifikasi Mutu ISO 9001:2015, Tegaskan Komitmen Profesionalitas

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengelolaan zakat yang profesional dan transparan. Lembaga amil zakat nasional ini tengah dan telah menjalani audit resertifikasi mutu ISO 9001:2015 selama dua hari, Rabu-Kamis, 28-29 Rabi’ul Awal 1446 (2-3/10/2024).

“Audit ini bertujuan untuk memperkuat tata kelola zakat yang amanah dan profesional. Audit inib berlangsung selama 3 tahun sekali, untuk memastikan apakah sistem yang berjalan masih relevan atau tidak dengan mutu manajemen yang seharusnya,” jelas Supendi, Direktur Utama BMH, dalam sambutannya.

“Kami berharap dapat terus meningkatkan mutu layanan dan memberikan yang terbaik bagi para mitra dan donatur,” sambungnya.

Tim auditor dari PT. Sakti Indonesia, yang dipimpin oleh Wasis S. Leksana dan Rully Aprilyana, telah melakukan penilaian menyeluruh terhadap sistem manajemen mutu BMH.

PT. Sakti Indonesia merupakan lembaga berpengalaman dan berkompeten dalam audit mutu standar internasional. Pada 2024 ini audit berlangsung di 10 wilayah, seperti BMH Pusat, BMH Jawa Barat, BMH Jawa Tengah, BMH Jawa Timur, BMH Kepulauan Riau, BMH Kaltim, BMH Kaltara, BMH Sulsel, BMH Banten dan NTB.

Dalam audit ini BMH semakin termotivasi untuk terus berkiprah sebagai lembaga zakat nasional yang profesional dan akuntabel. Dengan sertifikasi ISO 9001:2015, BMH berharap dapat terus menjaga kepercayaan masyarakat dan mitra dalam menyalurkan zakat untuk kemaslahatan umat.

“Seperti tak ada gading yang tak retak, seperti itu pula proses perbaikan masih terus BMH lakukan. Meskipun demikian BMH tetap memenuhi standar mutu ISO 9001:2015 dan berhasil mempertahankan sertifikasi ini dengan baik,” pungkas Supendi.*/Herim