Beranda blog Halaman 154

Menyerap Hikmah pada Malam Muhasabah di Masjid Muhammad Cheng Hoo Berastagi

0

KEGIATAN Muhasabah di Masjid Muhammad Cheng Hoo, Berastagi, malam itu menghadirkan keheningan yang berbeda, Sabtu malam Ahad, 2 Rabi’ul Akhir 1446 (6/10/2024). Di tengah dataran tinggi, di kaki Gunung Sibayak yang menjulang setinggi 1.300 meter di atas permukaan laut, para santri dan orang tua mereka berkumpul ditengah hawa yang menggigit.

Udara yang dingin merambat dengan lembut, menusuk tulang, namun tidak memadamkan semangat mereka yang hadir di sana. Malam itu, di bawah langit yang berpendar bintang, mereka datang untuk merenung, mencari makna dalam peran hidup sebagai anak dan orang tua.

Masjid Cheng Hoo, berdiri megah di Brastagi, bagai oase spiritual di tengah alam yang liar dan indah. Di tempat yang syahdu ini, muhasabah malam diadakan oleh Pondok Pesantren Hidayatullah Alpurbanta, yang didukung oleh PosDai, Laznas BMH, dan BKM Muhammad Cheng Hoo.

Acara ini dirancang untuk membuka kesadaran, menggali lebih dalam tanggung jawab yang dimiliki setiap manusia sebagai pribadi muslim dalam membangun akhlak yang baik. Kegiatan ini tak sekedar interaksi antar insani pemburu berkah Ilahi, tetapi menjadi jembatan antara jiwa-jiwa yang rindu akan pencerahan.

Untaian Renungan

Malam itu, para santri dan orangtua yang datang dari berbagai latar belakang, mengikuti muhasabah dengan hikmat. Mereka duduk bersimpuh di lantai masjid, mendengarkan dengan hati terbuka ketika Ustaz Syukron Nasution, Ketua PosDai Sumatera Utara, mulai memberikan tausiyah.

Suaranya yang lembut, namun tegas, bergema di dalam ruangan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya bagai untaian doa yang melantun ke angkasa, membimbing setiap santri dan orang tua untuk melihat ke dalam diri.

“Ibu, Bapak, anak-anakku sekalian,” ucap Ustaz Syukron, “Pernahkah kita merenung sejenak, seberapa besar peran yang telah kita ambil dalam hidup ini? Pernahkah kita merasa bahwa tanggung jawab yang ada pada diri kita adalah amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya?”

Pertanyaan yang sederhana, namun menggetarkan hati. Dalam suasana malam yang dingin, para peserta seakan ditarik masuk ke dalam pusaran perenungan yang mendalam.

Para peserta diajak memikirkan perannya sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai anggota masyarakat, dan juga sebagai seorang muslim yang diamantakan tugas kekhalifahan di pundaknya. Apa yang telah dilakukan untuk membangun akhlak yang baik? Apa yang telah mereka wariskan untuk generasi selanjutnya?

Setiap orang terdiam, merenung. Ketenangan masjid yang diselimuti kabut tipis, menjadi saksi betapa pentingnya perenungan malam itu. Ustaz Syukron lantas mengingatkan betapa iman, peran dakwah, dan akhlak adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Iman menjadi pondasi, dakwah sebagai manifestasi, sementara akhlak adalah wujud nyata dari keimanan itu sendiri.

Sarana Pererat Silaturrahim

Di sisi lain, Ustaz Malidin Junus Bancin, salah satu pengasuh yang mendampingi para peserta, menambahkan bahwa acara ini tidak hanya sekadar muhasabah diri, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi antara santri, orang tua, dan pihak pesantren.

“Kami berharap,” ucapnya, “bahwa kegiatan ini memberikan kesan mendalam, terutama melalui pelaksanaan shalat tahajjud bersama, sehingga membangun semangat untuk menjadi anak yang saleh dan salehah.”

Tahajjud, shalat yang dilakukan di tengah malam, menjadi momen puncak dalam acara ini. Saat para santri dan orang tua bersujud bersama dalam keheningan malam, hanya suara desir angin yang menemani. Sholat tahajjud bukan hanya ritual fisik, melainkan panggilan spiritual yang menuntun hati-hati yang hadir malam itu ke kedalaman jiwa.

Setiap gerakan dalam sholat, setiap lantunan doa, terasa begitu khusyuk. Udara dingin yang menusuk tidak mampu mengalahkan kehangatan yang tercipta dari kebersamaan mereka.

Di tengah malam yang sunyi itu, mereka menghadap Sang Pencipta dengan segala harapan dan doa yang membuncah dalam hati. Tak ada yang lebih indah selain menyaksikan hubungan yang terjalin antara manusia dan Tuhannya dalam suasana hening seperti itu.

Tak hanya berhenti pada perenungan pribadi dan ikatan keluarga, acara muhasabah ini juga mengajarkan tentang kepedulian terhadap sesama. Di akhir acara, Ustaz Malidin mengumumkan bahwa akan diadakan penggalangan donasi untuk saudara-saudara mereka di Masjidil Aqsha dan Gaza, Palestina.

Palestina, tanah yang selalu bergolak, tanah yang dipenuhi oleh kisah penderitaan namun juga keteguhan iman, menjadi bagian penting dalam hati umat Islam di seluruh dunia.

Malam itu, meskipun tangan-tangan mereka dingin, semangat mereka tetap hangat. Donasi mulai terkumpul, dari orang tua, dari santri, dan dari semua yang hadir. Ini bukan sekadar pemberian materi, melainkan wujud solidaritas, wujud kepedulian terhadap sesama umat manusia yang tengah diuji dalam ujian kemanusiaan yang berat.

“Donasi yang terkumpul akan kami serahkan melalui BMH Sumatera Utara,” kata Ustaz Malidin. Senyumnya lembut, tetapi ada getaran di dalamnya. Getaran yang menunjukkan betapa pentingnya empati dan tindakan nyata untuk membantu sesama, terutama dalam situasi yang penuh tantangan seperti di Gaza.

Malam muhasabah itu meninggalkan kesan mendalam bagi setiap orang yang hadir sebagai sebuah perjalanan spiritual yang menuntun untuk kembali mengingat hakikat hidup.

Demikian pula, para orang tua yang hadir malam itu, ketika mereka pulang ke rumah masing-masing, membawa sebuah pesan yang lebih besar dari sekadar pengalaman. Mereka membawa pulang pemahaman yang lebih kuat tentang pentingnya menanamkan akhlak mulia kepada anak-anak mereka. Sebab, dalam dunia yang semakin kompleks ini, akhlak yang baik menjadi kunci untuk menghadapi segala tantangan.

Bagi para santri, malam muhasabah itu menjadi momen untuk menyelami lebih dalam peran mereka sebagai generasi penerus. Diharapkan makin tumbuh kesadaran bahwa menjadi anak yang saleh dan salehah bukan hanya tentang rajin beribadah, tetapi juga tentang bagaimana mereka berakhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Di kaki Gunung Sibayak, di Masjid Muhammad Cheng Hoo yang megah, kegiatab muhasabah ini diharapkan mengukir kenangan yang takkan terlupakan. Kenangan yang akan terus mereka bawa dalam perjalanan hidup mereka, sebagai pengingat bahwa di tengah tantangan dunia, hanya dengan akhlak yang baik dan iman yang kuat, hidup ini akan menemukan arahnya.*/Lukman Thalib

Kampus Ummulqura Ponpes Hidayatullah Tuan Rumah Fespati Pre TAFISA 2024

0
[ILUSTRASI] Santri berkuda di area Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan (10/9/2023).* [Foto: SKR/Media Silatnas Hidayatullah/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimanmtan Timir, menjadi tuan rumah Kejuaraan Federasi Seni Panahan Tradisional Indonesia (Fespati) Pre The Association For International Sport for All (Tafisa) 2024 Kalimantan Timur untuk kategori lomba panahan ground dan Panahan berkuda (horseback archery).

Hajatan nasional Fespati ini resmi dibuka pada Ahad, 3 Rabi’ul Akhir 1446 (6/10/2024) sore di Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim.

Rangkaian kejuaraan berskala nasional yang diikuti peserta dari berbagai provinsi ini berlangsung tiga hari, Ahad hingga Selasa (8/10/2024). Dibuka secara resmi oleh Waketum Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Nasional, Dr. Taufik Mulyadi.

Pembukaan ini dihadiri Pembina Ponpes Hidayatullah Ust. H. Abdul Latief Usman, Ketua LPP Hidayatullah Balikpapan Ust. H. Masykur Suyuti, serta sejumlah pengurus Hidayatullah lainnya.

Turut hadir ratusan peserta yang datang dari berbagai daerah, termasuk luar Kalimantan.

Hadir pula Ketua Umum Fespati Imran Taufik, perwakilan dari Ketua Kormi Kaltim Basri Rase, Ketua Kormi Balikpapan Ali Munsjir Halim, dan Ketua Fespati Kaltim Wahyu.

“Dengan mohon izin, mohon doa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, mari sama-sama kita buka kejuaraan ini dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim,” ujar Dr Taufik membuka acara, seperti dinukil media ini dari laman resmi Instagram @ummulqurahidayatullah.

Warga dan santri Hidayatullah serta tamu dari luar pesantren tampak antusias menghadiri pembukaan tersebut.

Antusiasme Peserta

Nilam, salah satu penanggung jawab entry data peserta wanita sekaligus wasit dalam ajang ini, melaporkan, total peserta yang melakukan registrasi di area perempuan pada hari pertama, Ahad (6/10/2024), mencapai 131 orang. Mereka terdaftar dalam berbagai kategori, mulai dari usia 12 hingga umum.

Ia juga menyampaikan bahwa kejuaraan ini diikuti oleh peserta tidak hanya dari Kalimantan Timur, tetapi juga dari berbagai provinsi lain.

Beberapa peserta yang melakukan registrasi di hari pertama berasal dari Bali, Jawa Barat, Jawa Timur, Palu, dan Jakarta.

Antusiasme mereka untuk berpartisipasi sangat terasa, terlihat jelas dari semangat dan keramahtamahan selama proses registrasi berlangsung.

Untuk kategori Panahan Ground di area wanita, sepuluh orang wasit telah ditunjuk untuk memastikan jalannya lomba dengan lancar.

Salah satu wasit panahan wanita, Marhani dari Paser Grogot, mengungkapkan rasa syukurnya atas tingginya antusiasme peserta.

“Alhamdulillah, peserta sangat antusias mengikuti Kejuaraan Fespati Pre Tafisa 2024, dalam lomba panahan, terutama kategori U12 yang banyak diminati,” ujarnya.

Marhani juga menjelaskan bahwa koordinasi untuk pertemuan ini dilakukan melalui Zoom Meeting dan WhatsApp Group. Persiapan untuk kegiatan ini telah berlangsung selama tiga bulan, menunjukkan keseriusan dan dedikasi panitia dalam menyukseskan acara ini.

Koordinasi terkait kegiatan ini juga dilakukan beberapa kali oleh para ustadzah pendidikan putri Ummulqura Hidayatullah sebagai tuan rumah lomba panahan ground akhwat. Demi memastikan situasi dan kondisi area aman.

“Kita tentunya bersyukur karena kembali mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah untuk event panahan berskala nasional untuk yang kedua kalinya,” katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, bagaimana kepercayaan ini kita sambut dengan berusaha memberikan pelayanan terbaik sesuai kemampuan kita.

Oleh karena itu, bagaimana kepercayaan ini kita sambut dengan berusaha memberikan pelayanan terbaik sesuai kemampuan kita.

Harapannya, para tamu yang datang senatiasa merasa rindu untuk kembali ke tempat ini dan salah satu jalan agar mereka kembali tentunya dengan mengirim putra putri mereka belajar di tempat ini,” ujar Ustadzah Irma selaku Ketua Departemen Pendidikan dan Pengkaderan Putri Kampus Hidayatullah Ummulqura Balikpapan.

Irma berharap semoga kegiatan ini dapat berjalan dengan sukses dan memberikan pengalaman berharga bagi semua peserta yang terlibat.

Kejuaraan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sebagai sarana untuk mempererat silaturahmi dan membangun semangat kebersamaan di antara peserta dari berbagai daerah.

Sementara itu, di putra, antusiasme para peserta juga tak kalah “menyala”. Para peserta melakukan pendaftaran di tempat yang telah ditentukan.

Panitia penyelenggara sebelumnya telah menyebutkan, kejuaraan itu diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai daerah.

“Total peserta 311 orang,” ujar Abdillah, salah seorang panitia inti, dalam rapat koordinasi panitia di Gunung Tembak, Balikpapan, Jumat (4/10/2024).*/MCU/Abdus Syakur

Ponpes Darul Hijrah Putri Beri Beasiswa dan Pendidkan Layak untuk Anak Kurang Mampu

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Mimpi hadirnya pondok pesantren nyaman dan representatif bagi santri putri di Surabaya semakin dekat dengan kenyataan.

Berkat zakat, infak, dan sedekah yang disalurkan melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), pembangunan Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri ini terus menunjukkan kemajuan yang signifikan.

Pada 8 Oktober 2024 lalu, tahap pengecoran lantai 2 telah berhasil diselesaikan dengan lancar. Pencapaian ini menandai 40% dari total pembangunan pondok pesantren yang diharapkan rampung bertepatan dengan tahun ajaran baru 2025.

“Alhamdulillah, dengan bantuan dan dukungan dari para donatur, progres pembangunan pondok berjalan lancar. Kami mohon doa restu agar target selesai di tahun ajaran baru 2025 dapat tercapai,” ujar Ustadz Ihya Ulumuddin, Ketua Yayasan Darul Hijrah, dengan penuh syukur.

Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri tak hanya akan menjadi tempat belajar bagi para santri, tetapi juga memiliki misi sosial yang kuat. Pesantren ini akan memberi pendidikan layak dengan beasiswa bagi anak anak yang kurang mampu.

“Kami akan memberikan beasiswa kepada anak-anak yang kurang mampu, membantu mereka mendapatkan pendidikan yang layak,” tambah Ustadz Ihya.

Dengan kapasitas yang diperkirakan dapat menampung puluhan santri, pondok ini akan memberikan dampak yang signifikan bagi anak-anak yatim dan dhuafa yang memiliki keterbatasan ekonomi namun berkeinginan kuat untuk menimba ilmu agama.

Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, menyatakan bahwa program ini adalah bagian dari komitmen BMH untuk membantu masyarakat yang membutuhkan melalui pendidikan berkualitas.

“Kami berkomitmen untuk menjadikan pondok pesantren ini sebagai pusat pendidikan yang tidak hanya mencetak santri yang unggul dalam ilmu agama, tetapi juga memperkuat nilai sosial dengan memberikan akses pendidikan kepada mereka yang kurang mampu,” ujarnya.

Pembangunan Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri ini menjadi bukti nyata bahwa zakat, infak, dan sedekah mampu mewujudkan mimpi dan mengantarkan harapan bagi generasi penerus bangsa.*/Hermanto Imam

Berbagi Motivasi dan Merangkul Anak Anak Muda Generasi Masa Depan Lingga

0

PADA tanggal 30 September 2024, saya mendapat kesempatan istimewa untuk berbagi wawasan dengan para santri di Pesantren Hidayatullah Lingga, Kepulauan Riau (Kepri). Suasana yang hangat dan penuh semangat melingkupi masjid sederhana di lingkungan pesantren itu.

Di tengah kesederhanaan tempat, saya memotivasi untuk mengisi hari ini dengan kebaikan, disiplin dalam belajar dan ibadah, serta visi membangun masa depan yang cerah.

Kita telah menyaksikan betapa pentingnya penanaman sikap positif pada anak sejak dini. Psikolog dan para ahli pendidikan sepakat bahwa masa kanak-kanak adalah masa yang paling krusial dalam pembentukan karakter.

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan lingkungan penuh kasih sayang, disiplin, dan motivasi positif cenderung menjadi individu yang percaya diri dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan sikap optimis.

Motivasi pada anak membantu mereka tumbuh menjadi individu yang percaya diri, siap menghadapi dunia dengan sikap baik. Sikap optimis dan keberanian menghadapi rintangan bukan hanya diperoleh secara alami, tetapi perlu ditanamkan melalui interaksi sehari-hari dengan orang dewasa di sekitar mereka, terutama orang tua dan pendidik. Inilah yang saya coba sampaikan kepada para santri di Lingga pagi itu bahwa setiap keputusan kecil hari ini akan membentuk karakter mereka di masa depan.

“Hari ini adalah pondasi bagi masa depan kita,” saya memulai. “Apa yang kalian lakukan hari ini akan membentuk masa depan kalian, jadi lakukanlah dengan sungguh-sungguh.” Secara ilmiah, teori perkembangan manusia menjelaskan bahwa tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan konsistensi akan berakumulasi menjadi kebiasaan yang kokoh.

Saya pun menekankan pentingnya komitmen terhadap pengembangan diri. Disiplin dalam belajar dan ibadah bukan hanya untuk memenuhi tuntutan sesaat, tetapi juga untuk mengasah potensi diri yang akan berguna di masa depan. Ini adalah hal yang penting dalam pendidikan di pesantren maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika anak-anak belajar untuk mengatur waktu mereka, mengerjakan tugas tepat waktu, dan menghormati komitmen mereka, mereka sedang membangun fondasi yang akan menopang kesuksesan mereka di masa depan.

Menurut sebuah studi, ada empat gaya pengambilan keputusan yang umum dalam kehidupan sehari-hari: langsung, analitis, konseptual, dan perilaku. Gaya pengambilan keputusan yang disiplin, terutama yang melibatkan pendekatan analitis, mengajarkan anak untuk berpikir kritis, memperhitungkan konsekuensi dari setiap tindakan, dan tetap fokus pada tujuan akhir mereka.

Hal Itulah yang saya sampaikan kepada para santri: “Kalian tidak perlu merasa risau dengan apa yang akan datang. Masa depan itu milik kalian, dan bentukannya tergantung pada bagaimana kalian mengisi hari ini.” Saya menjelaskan bahwa disiplin yang diterapkan dengan konsistensi akan membentuk kepribadian yang tangguh.

Sharing Pengalaman

Saya berbagi kepada para santri tentang bagaimana disiplin dan kebaikan yang konsisten telah membantu saya dalam meraih berbagai pencapaian. Seperti hobi menulis yang terus saya tekuni, di mana saya merasakan anugerah Allah yang memungkinkan saya berpikir progresif dan memberikan saya kesempatan untuk melihat Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Saya percaya bahwa anak-anak muda ini, dengan segala potensi yang mereka miliki, akan menjadi individu yang luar biasa jika mereka terus menanamkan disiplin dan kebaikan dalam kehidupan mereka.

Salah satu tantangan terbesar dalam kehidupan adalah kemampuan untuk menghadapi rintangan dengan sikap positif. Sikap positif memungkinkan seseorang untuk memandang kehidupan dengan harapan, keyakinan, optimisme, keberanian, tekad, dan kesabaran. Anak-anak yang diajarkan untuk selalu melihat sisi positif dari setiap tantangan akan tumbuh menjadi individu yang kuat dan tidak mudah menyerah.

Kembali pada para santri di Lingga, saya menutup paparan saya dengan ajakan sederhana: “Jadikanlah hari ini kesempatan untuk menanam benih kebaikan yang akan tumbuh di masa depan. Setiap usaha kecil yang kalian lakukan dengan ikhlas akan menguatkan pondasi hidup kalian.”

“Jadikan disiplin sebagai kebiasaan,” saya menambahkan, “mulailah dengan hal-hal kecil, seperti mengatur waktu tidur dan bangun, serta menyelesaikan tugas tepat waktu. Dengan begitu, disiplin akan menjadi bagian dari diri kalian.”

Pesan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi disiplin adalah salah satu pilar terpenting dalam membangun kesuksesan jangka panjang. Setiap langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten akan mengarah pada tujuan yang lebih besar.

Selama acara berlangsung, suasana di masjid pesantren terasa semakin hidup. Namun, di tengah semangat yang tinggi, kami semua menyadari bahwa bangunan fisik masjid tersebut sudah ringkih.

Lantai yang mulai lapuk dan atap yang rapuh seolah menjadi penanda masjid ini memerlukan pembaharuan. “Masjid ini memang butuh kita renovasi,” ungkap Ust. Awalin, seorang dai tangguh yang menjadi tulang punggung kegiatan dakwah di Lingga.

Saya merasa bersyukur karena dapat menginspirasi anak anak generasi masa depan Lingga ini untuk memulai komitmen hidup yang progresif, berdampak sosial, dan mengembangkan diri untuk masa depan yang lebih baik.

Generasi Emas di Masa Depan

Pesantren Hidayatullah Lingga telah menjadi candradimuka bagi para santri yang kini berkomitmen mengisi hari-hari mereka dengan nilai-nilai kebaikan, disiplin, dan ibadah yang tulus. Kelak saya yakin akan ada yang luar biasa dari mereka, sejauh mereka percaya dan membina diri dengan bekal penting itu.

Kita menyadari penanaman nilai-nilai positif pada anak sejak dini merupakan investasi jangka panjang yang sangat berharga. Menurut para ahli, anak-anak yang dibesarkan dengan nilai-nilai ini akan memiliki dasar yang kuat untuk sukses di masa depan, baik dari segi akademik, sosial, maupun spiritual.

Seperti yang diungkapkan oleh penelitian terbaru, sikap positif membantu anak-anak untuk tetap fokus pada tujuan mereka dan mengatasi tantangan dengan kepala tegak .

Ketika mereka tumbuh dewasa, anak-anak yang disiplin dan memiliki motivasi yang kuat akan mampu memberikan kontribusi besar bagi masyarakat. Mereka akan menjadi generasi yang tangguh, mampu mengatasi tantangan global, dan tetap berpegang pada nilai-nilai luhur yang telah mereka pelajari sejak dini.

Dengan komitmen yang kuat terhadap pengembangan diri, disiplin, dan motivasi positif, saya yakin rangkulan hangat penuh kepedulian terhadap generasi muda masa depan Lingga ini, dan anak anak kita di tempat tempat yang jauh lainnya, akan tumbuh menjadi individu yang luar biasa, membawa perubahan positif bagi lingkungan mereka, dan menjadi bagian dari generasi emas Indonesia di masa depan.[]

*) Imam Nawawi, penulis Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect), Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023.

Komjen Pol Purn Syafruddin Ingatkan Pentingnya Riset dan Keseimbangan SDM untuk Kemajuan Bangsa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Assalam Fil ‘Alamiin (ASFA) Foundation Komjen Pol (Purn) Dr. H. Syafruddin Kambo, M.Si, menegaskan pentingnya keseimbangan dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) serta mendorong lembaga-lembaga pendidikan seperti Hidayatullah untuk memadukan keilmuan agama dengan sains dan teknologi.

Hal itu disampaikan mantan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB) ini saat menerima rombongan Pemuda Hidayatullah di kantornya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jum’at, 1 Rabi’ul Akhir 1446 (04/10/2024).

Syafruddin mengapresiasi peran Hidayatullah sebagai organisasi masyarakat yang berperan penting dalam pendidikan dan dakwah. Ia menyoroti bahwa Hidayatullah telah memberikan kontribusi besar dalam penguatan tarbiyah dan dakwah.

Namun, ia menegaskan bahwa dalam menghadapi era modern, ada kebutuhan mendesak untuk menyeimbangkan pengajaran ilmu agama dengan ilmu pengetahuan modern.

“Harus ada penguatan kelembagaan. Hidayatullah ini kan salah satu organisasi masyarakat yang merupakan lembaga pendidikan. Tarbiyah dan dakwah dikuatkan terus saja, sambil kita menyeimbangkan sainsnya di kalangan kita yang masih kurang itu,” ujar Syafruddin.

Ketua Assalam Fil ‘Alamiin (ASFA) Foundation Komjen Pol (Purn) Dr. H. Syafruddin Kambo M.Si (Foto: Rizki Ulfahadi/ Hidorid)
Penguatan Kelembagaan dan Kolaborasi Pendidikan

Pada kesempatan tersebut, Syafruddin melihat bahwa kelembagaan Hidayatullah telah kuat dalam mempromosikan nilai-nilai agama melalui pendidikan, tetapi tantangan era globalisasi memaksa setiap organisasi untuk menyesuaikan diri.

Bagi Syafruddin, penguatan kelembagaan adalah upaya yang berkelanjutan, terutama dalam aspek kolaborasi dengan lembaga-lembaga pendidikan yang mengedepankan inovasi sains dan teknologi.

Menurutnya, sinergi antara pendidikan agama dan ilmu pengetahuan umum sangat penting untuk menciptakan generasi yang tidak hanya religius tetapi juga cakap dalam menghadapi tantangan modern.

“Kita harus memastikan lembaga-lembaga pendidikan kita tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tapi juga tempat berkembangnya sains. Penguatan SDM kita harus mencakup kedua aspek ini,” jelas Syafruddin lebih lanjut.

Lebih jauh lagi, Syafruddin menekankan bahwa riset merupakan elemen fundamental dalam menciptakan inovasi dan kemajuan bangsa. Ia mengingatkan bahwa tanpa riset, negara akan kesulitan untuk berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Ia mencermati bahwa di Indonesia, produksi data dan riset masih belum maksimal sehingga banyak analisis yang dilakukan tanpa dasar ilmiah yang kuat.

“Kita harus menjalankan dan mendorong riset-riset. Tidak ada kemajuan tanpa riset. Kita harus memproduksi data supaya tidak menghasilkan analisis yang liar,” tegas Syafruddin, yang pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) 2016-2018.

Baginya, peran riset sangat vital, tidak hanya dalam bidang teknologi, tetapi juga dalam aspek sosial dan budaya, di mana penelitian yang mendalam dapat memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap berbagai isu masyarakat.

Syafruddin juga melihat pentingnya mempromosikan riset di kalangan muda, dengan harapan generasi selanjutnya dapat membawa inovasi baru yang bermanfaat bagi bangsa.

“Anak-anak muda kita harus didorong untuk melakukan riset, untuk berpikir kritis, dan menghasilkan solusi-solusi yang berbasis data,” tambahnya.

Pentingnya Wawasan Sejarah

Selain membahas keseimbangan ilmu dan riset, Syafruddin juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kurangnya pengetahuan sejarah di kalangan generasi muda Indonesia. Menurutnya, banyak sejarah penting yang tidak diajarkan di sekolah, sehingga wawasan sejarah anak muda sangat minim.

“Bangsa ini lahir dari diskusinya kaum muda. Bukan hanya soal berperang dengan bambu runcing. Sejarah penting seperti ini tidak ada diajarkan di sekolah. Makanya saya itu setiap Jum’at sore saya berkumpul dengan cucu-cucu dan saya ceritakan ke mereka bahwa bangsa kita begini-begini sejarahnya. Banyak sejarah yang tidak diajarkan di sekolah,” ungkapnya.

Syafruddin menilai bahwa pemahaman sejarah yang kuat merupakan fondasi untuk membangun masa depan yang lebih baik. Anak muda perlu dibekali dengan pengetahuan sejarah agar mereka memahami konteks perjuangan dan perkembangan bangsa ini. Dengan demikian, terangnya, mereka bisa mengambil pelajaran dari masa lalu dan menerapkannya dalam kehidupan masa kini dan masa depan.

Dalam pertemuan tersebut, Syafruddin juga memberikan perhatian khusus kepada pendidikan generasi muda melalui pemberian beasiswa. Ia memberikan beasiswa pendidikan bagi 2 orang kader Pemuda Hidayatullah untuk melanjutkan studi di luar negeri.

Beasiswa ini merupakan bagian dari program kerja sama ASFA Foundation dengan beberapa kampus internasional yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas intelektual generasi muda Muslim Indonesia.

Syafruddin berharap bahwa para penerima beasiswa ini kelak dapat kembali ke Indonesia dengan membawa ilmu yang bermanfaat dan mampu berkontribusi dalam membangun bangsa.

Selain itu, Syafruddin mengapresiasi kiprah Pemuda Hidayatullah yang telah menjadi salah satu pelopor dalam menanamkan nilai-nilai keislaman dan nasionalisme di kalangan generasi muda.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, Rasfiuddin Sabaruddin, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada ASFA Foundation atas dukungan yang telah diberikan, khususnya dalam program beasiswa dan pemberdayaan pemuda.

Ia juga menyampaikan harapan bahwa kerja sama antara ASFA Foundation dan Pemuda Hidayatullah dapat terus berlanjut di masa mendatang.

Menutup perjumpaan, Syafruddin mengingatkan bahwa masa depan bangsa ini berada di tangan generasi muda yang memiliki pendidikan yang baik, pemahaman sejarah yang kuat, serta integritas dalam menjalankan peran mereka di masyarakat.

Pertemuan tersebut dihadiri juga Sekretaris Jenderal PP Pemuda Hidayatullah Bustanul Arifin, Ketua PW Pemuda Hidayatullah Jakarta Adam Sukiman, serta anggota Dewan Pengurus Lazis Assalam Fil ‘Alamiin, KH Pangeran Arsyad Ihsanul Haq.*/Rizki Ulfahadi

Berkat Kepedulian Zakat Bantu Tuna Netra Terus Berkarya dan Terampil

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Keterbatasan penglihatan tak menghalangi semangat para tuna netra di Balikpapan untuk belajar dan berkarya. Berkat kepedulian para donatur yang menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kaltim, 26 sahabat tuna netra mendapatkan pelatihan memasak yang membekali mereka dengan keterampilan hidup dan meningkatkan rasa percaya diri.

Program yang diselenggarakan pada Ahad, 3 Rabi’ul Akhir 1446 (6/10/2024) di sekretariat Pertuni Jalan Telaga Sari RT 36 No. 007 ini mengajarkan teknik dasar memasak, seperti memotong, menggoreng, dan menyajikan makanan sederhana.

Para peserta juga diajarkan cara menggunakan alat-alat dapur secara aman dan menjaga kebersihan selama proses memasak.

“Pelatihan ini bukan hanya tentang memasak, tetapi juga tentang mengubah pola pikir. Keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya dan mandiri,” ungkap Achmad Rifai, Kadiv Prodaya BMH Kaltim.

Dampak dari program ini signifikan. Para peserta kini lebih percaya diri dan optimis dalam menjalani hidup. “Sebelumnya, saya ragu bisa memasak tanpa melihat. Tapi setelah mengikuti pelatihan ini, saya bisa melakukannya,” ujar Salman, Koordinator Pertuni Kota Balikpapan, dengan bangga.

Salman dan teman-temannya kini bisa memenuhi kebutuhan makan sendiri dan bahkan memiliki peluang untuk menghasilkan pendapatan melalui usaha kecil di bidang kuliner.

“Terima kasih kepada BMH dan para donatur yang telah membantu kami. Semoga program ini terus berlanjut dan menginspirasi banyak orang,” tambahnya.

BMH Kaltim berkomitmen untuk terus memberdayakan masyarakat prasejahtera melalui berbagai program inovatif. Dukungan dari para donatur sangat diharapkan agar semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat zakat, infak, dan sedekah.*/Hermanto Imam

Pemuda Hidayatullah Pertegas Positioning sebagai Wadah Pengembangan Diri

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Ekowira Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Deden Sugianto Darwin, menegaskan positioning organisasinya sebagai wadah pengembangan diri. Hal itu disampaikan dia saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) II Pemuda Hidayatullah Jawa Barat selama 2 hari dibuka pada Sabtu, 2 Rabi’ul Akhir 1446 (05/10/2024).

“Melalui berbagai program derivasi dari Rakernas, positioning gerakan Pemuda Hidayatullah adalah wadah bagi anggota untuk meningkatkan kesadaran diri, kemampuan, dan keterampilan,” kata Deden.

Rakerwil ini mengusung tema “Konsolidasi Progresivitas Pemuda yang Beradab, Menuju Jawa Barat Emas 2045” bertempat di Aula Pondok Pesantren Pesantren Hidayatullah, Jalan Pasir Leutik No.18A, Padasuka, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Pewadahan ini jelas Deden bertujuan agar para anggota dapat mengoptimalkan potensi pribadi mereka dan berkontribusi lebih besar bagi masyarakat, baik dalam konteks spiritual, intelektual, maupun sosial.

Visi ini menurut Deden meneguhkan upaya Pemuda Hidayatullah untuk menciptakan generasi muda yang tidak hanya tangguh secara individual, tetapi juga memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa, sejalan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045.

Disamping itu, Deden berharap Pemuda Hidayatullah Jabar tidak hanya fokus internal saja. Tetapi, melebarkan sayapnya dengan berimprovisasi, berdinamika, dan memainkan peran progresif beradab di dunia politik.

“Saya berharap, Pemuda Hidayatullah Jabar ini ikut memainkan peran yang progresif dan beradab di kancah perpolitikan Jawa Barat. Ini berkesesuaian dengan tema Rakerwil bahwasanya kita siap mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045. Sebab, pemuda adalah instrumen primer untuk mewujudkan impian tadi,” ungkap Deden.

Lebih jauh pria kelahiran Cianjur ini mendorong terus dilakukannya upaya membentuk pemimpin pemimpin muda yang kompeten dan berakhlak mulia untuk Indonesia Emas 2045 dengan menempuh langkah-langkah strategis berupa penguatan basis kader dan rekrutmen secara berkelanjutan.

Berikutnya, Deden juga mengingatkan pentingnya selalu memastikan gerakan perkaderan terstruktur dengan mengadakan pelatihan dan pengembangan kapasitas kader melalui program LTC dan melakukan peningkatan kapasitas kader dari aspek pengetahuan agama secara komprehensif dan memperluas wawasan tentang berbagai isu terkini, baik nasional maupun internasional.

Demikian pula penekanannya terhadap bidang kewirausahaan pengetahuan ekonomi dengan memastikan pemahaman prinsip-prinsip ekonomi dan keuangan Islam untuk mendukung pengembangan diri dan masyarakat.

“Pengetahuan sosial politik juga penting bagi pemuda dengan meningkatkan pemahaman tentang dinamika sosial dan politik serta peran pemuda dalam pembangunan bangsa dan dapat mengelaborasikan dalam perspektif Islam,” terangnya.

Yang tidak kalah penting, jelas Deden, Pemuda Hidayatullah harus berupaya melakukan pengembangan soft skill dengan membentuk kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerjasama, dan problem-solving.

Dinamika Jawa Barat

Sementara itu, di kesempatan yang sama, Ketua Pemuda Hidayatullah Jawa Barat, Mustakim, menyerukan pentingnya keterlibatan alumni MA Hidayatullah di wilayah Jawa Barat dalam organisasi Pemuda Hidayatullah.

Menurut Mustakim, banyak alumni potensial yang hingga kini belum aktif bergabung. “Saya melihat, banyak sekali alumni MA Hidayatullah yang tersebar di Jabar, namun belum bergabung dengan Pemuda Hidayatullah,” ujar Mustakim.

Dalam momentum Rakerwil ini, Pemuda Hidayatullah Jabar menegaskan kembali posisinya sebagai wadah silaturahmi dan pengembangan diri bagi kader-kadernya.

“Kita sediakan ruang bagi alumni, baik yang memiliki bakat menulis, futsal, atau lainnya,” tambahnya, menekankan pentingnya strategi ini untuk menarik lebih banyak alumni.

Rakerwil ini turut dihadiri oleh pengurus DPW Hidayatullah Jabar, seperti Sekwil DPW Ustadz Andi Ahmad Suhendar, Kadep Ekonomi Ustadz Abdul Wahid, dan Kadep Organisasi Ustadz Noval Abdullah. Acara pembukaan kemudian ditutup dengan pertandingan futsal sebagai simbol kebersamaan.*/Muhammad Jundi Al Hafidz

Pembangunan Asrama Pesmadai Bidik Lebih Banyak Lahirkan Dai Intelektual

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Zakat bukan hanya sekadar bantuan konsumtif, tetapi juga investasi untuk masa depan peradaban untuk melahirkan lebih banyak dai intelektual yang kelak berkontribusi positif dalam membangun agama, umat, dan bangsa.

Upaya strategis ini dibuktikan dengan pembangunan asrama Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) Hidayatullah Makassar, yang diinisiasi berkat dukungan zakat dari para dermawan melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) yang berkolaborasi dengan Pemuda Hidayatullah dalam program ini.

Pesmadai ini diharapkan menjadi kawah candradimuka bagi mahasiswa muslim untuk menjadi kader dakwah yang intelektual dan berwawasan luas.

“Keberadaan Hidayatullah tidak terlepas dari peran pemuda, maka adanya lokasi untuk proses pengkaderan menjadi mutlak,” ungkap Ustadz Abdul Aziz Kahhar Muzakkar, Anggota DPD RI periode 2014-2019, saat menghadiri peletakan batu pertama pembangunan asrama.

Ia menekankan pentingnya regenerasi dalam gerakan dakwah, di mana mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan.

Asrama tiga lantai yang berlokasi di Jalan Damai Lrg. II, Tamalanrea Indah ini akan menampung mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi swasta dan negeri. Mereka akan dibekali dengan ilmu agama yang mendalam, keterampilan dakwah, serta pengembangan diri agar mampu menjawab tantangan zaman.

“Selama tiga tahun terakhir, Laznas BMH telah mendukung program Pesmadai dengan memberikan bantuan dana operasional bagi 16 santri mahasiswa,” ujar Kadir, Ketua Laznas BMH Sulsel.

Kadir mengajak masyarakat untuk turut berkontribusi dalam pembangunan asrama ini, karena setiap donasi yang diberikan akan menjadi amal jariyah yang pahala terus mengalir.

Pembangunan Pesmadai Hidayatullah Makassar ini menjadi bukti nyata bahwa zakat mampu memberdayakan generasi muda dan memajukan dakwah Islam.

“Dengan mencetak kader-kader dakwah yang cerdas dan berakhlak mulia, diharapkan Islam dapat berkembang dan memberikan rahmat bagi seluruh alam. Menuju Indonesia Emas 2045,” tutup Kadir.*/Hermanto Imam

Pendidikan Integral Hidayatullah Karawang Terus Berbenah, Bidik Output Unggul dan Berkarakter

KARAWANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Yayasan Ummul Quro Hidayatullah Karawang, Rudi Safaat, sampaikan apresiasi kepada guru dan segenap tenaga pendidik yang terus berperan aktif dalam membentuk generasi Qur’ani dalam lingkungan satuan Pendidikan Integral Hidayatullah Karawang.

Dia mengatakan bahwa yayasan terus berbenah dan berpacu maju melalui unit pendidikan unggulannya seperti SD Integral Ummul Quro dan TKQ Yaa Bunayya yang berkomitmen menghadirkan pendidikan yang berlandaskan tauhid, unggul, dan berkarakter.

“Perjalanan ini adalah bentuk ikhtiar kami dalam memberikan yang terbaik bagi generasi masa depan. Kami berharap melalui seminar ini, para guru semakin terinspirasi untuk menjadi pemimpin di kelas yang tidak hanya memberikan ilmu tetapi juga mendidik karakter dan moral anak-anak kita,” ujar Rudi saat sambutan pembukaan acara Seminar Pendidikan bertajuk “Ekspansi Pendidikan” yang diselenggarakan oleh Yayasan Ummul Quro Hidayatullah Karawang, Sabtu, 2 Rabi’ul Akhir 1446 (5/10/2024).

Dia mengatakan, seminar pendidikan yang mengundang Ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nanang Noerpatria, M.Pd, ini amat penting, terutama bagi para penyelenggara pendidikan termasuk para guru yang memiliki peran besar dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter kuat dan berakhlak mulia.

Dalam seminar ini dibahas implementasi kepemimpinan di sekolah serta langkah-langkah konkret untuk membangun sistem pendidikan yang kuat dan berkelanjutan.

Seminar ini tidak hanya sekadar menjadi ajang berbagi ilmu, tetapi juga mempertegas komitmen Yayasan Ummul Quro Hidayatullah Karawang dalam memberikan pendidikan terbaik bagi generasi mendatang.

Dengan berbagai rencana pengembangan sarana dan prasarana yang telah disampaikan, serta peningkatan kualitas SDM, Rudi menyampaikan yayasan berkomitmen untuk terus menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter Qur’ani yang unggul.

Kunjungan Kadep Dikdasmen

Setelah acara seminar, pengurus yayasan mengajak Dr. Nanang untuk melakukan “scanning environment” sebagai masukan dan arahan terhadap berbagai upaya yang telah dilakukan dalam pengembangan sarana dan prasarana di yayasan.

Dalam kesempatan ini, Rusman Abdillah, Kepala Departemen Pendidikan Yayasan Ummul Quro Hidayatullah Karawang, menyampaikan bahwa yayasan terus berfokus pada pengembangan sarana dan prasarana sebagai bagian dari komitmen menghadirkan pendidikan berkualitas.

“Alhamdulillah, kami terus berusaha menghadirkan progresivitas dan menjaganya dengan fokus pada penambahan serta perbaikan sarana dan prasarana, selain peningkatan sumber daya manusia,” kata Rusman.

Di hadapan Kadep Dikdasmen, Rusman menyebutkan target sarpras tahun ini adalah dua ruang kelas untuk SD, satu ruang guru, kantor kepala sekolah TKQ, dan aula 132 meter persegi untuk menunjang kegiatan organisasi serta siswa.

Rusman juga melaporkan bahwa untuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2025, yayasan menargetkan 100 calon siswa baru untuk unit unggulan SD Integral Ummul Quro dan TKQ Yaa Bunayya.

“Dengan sarana yang semakin lengkap dan SDM yang terus kami tingkatkan, kami optimis dapat memberikan pendidikan yang terbaik untuk calon siswa kami di tahun ajaran mendatang,” tambahnya.

Bagi para orang tua yang tengah mempertimbangkan pilihan pendidikan untuk anak-anak mereka, SD Integral Ummul Quro dan TKQ Yaa Bunayya menawarkan lebih dari sekadar pendidikan formal.

“Kami optimis bahwa dengan dukungan sarana yang terus berkembang, guru-guru yang berdedikasi, serta program pendidikan yang menyeluruh, kami mampu memberikan pendidikan yang tidak hanya berkualitas tetapi juga penuh makna,” ungkap Rusman.

PPDB 2025 telah dibuka di lingkungan satuan Pendidikan Integral Hidayatullah Karawang. Rusman mengajak daftarkan putra-putri untuk bersama-sama wujudkan cita-cita membangun generasi Qur’ani yang unggul dan berkarakter

Daftarkan putra-putri Anda dan bersama-sama kita wujudkan cita-cita membangun generasi Qur’ani yang unggul dan berkarakter. Ayo, jadilah bagian dari keluarga besar SD Integral Ummul Quro dan TKQ Yaa Bunayya!

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai SD Integral Ummul Quro dan TKQ Yaa Bunayya Hidayatullaj Karawang, Anda dapat berkunjung ke Facebook @HISKarawang atau dapat dihubungi melalui telepon di nomor +62 821-2215-0221.

(Sponsored content)

Seminar Pendidikan di Karawang, Nanang Noerpatria Paparkan Enam Aspek Penting Tarbiyah

KARAWANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nanang Noerpatria, M.Pd hadir menjadi narasumber dalam acara Seminar Pendidikan bertajuk “Ekspansi Pendidikan” yang diselenggarakan oleh Yayasan Ummul Quro Hidayatullah Karawang, Sabtu, 2 Rabi’ul Akhir 1446 (5/10/2024).

Dipandu oleh Kepala Sekolah Dasar Integral Hidayatullah Karawang, Rusman Abdillah sebagai moderator, pada kesempatan tersebut Nanang Noerpatria memaparkan materi tentang enam aspek tarbiyah penting yang mencakup tarbiyah ruhiyah, jasadiyah, aqliyah, iqtishadiyah, tsaqafiyah, dan ijtima’iyah.

Nanang menekankan bahwa pendidikan harus memproses dan memadukan seluruh aspek ini untuk membentuk pribadi yang seimbang.

“Seorang guru bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai murabbi yang mendidik jiwa, raga, dan intelektual peserta didik, sebagaimana muatan utama enam aspek penting tarbiyah ini,” katanya.

Dalam pada itu, Nanang juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara transfer of knowledge (pemindahan pengetahuan) dan transfer of values (pemindahan nilai).

Dia menegaskan bahwa di sekolah-sekolah umum, fokusnya lebih kepada transfer pengetahuan, meskipun ada sedikit sentuhan nilai melalui kurikulum Merdeka dengan P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Namun, transfer nilai yang mendalam, khususnya nilai-nilai kepemimpinan, masih kurang.

“Kepemimpinan adalah yang utama. Guru adalah pemimpin di kelas. Di sinilah kekuatan pendidikan di sekolah-sekolah Islam, karena kita tidak hanya mentransfer ilmu tetapi juga nilai-nilai kehidupan,” tegas Nanang.

Manifestasi Iman

Masih dalam paparannya, Nanang mengajak para guru untuk meyakini bahwa pendidikan adalah manifestasi dari iman. Melalui peran sebagai murabbi, guru tidak hanya mentransfer ilmu tetapi juga memimpin peserta didik dalam kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Mendidik ditegaskan Nanang adalah merupakan tanggung jawab kepemimpinan yang diemban oleh setiap guru dan pendidik. Hal itu ia tekankan seraya mengutip hadits Nabi Muhammad SAW: “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi”, bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Hadits ini, menurut Nanang, mengingatkan bahwa tugas sebagai guru adalah tanggung jawab besar, baik di dunia maupun di akhirat.

Tulang Punggung Peradaban

Lebih jauh Nanang memberikan contoh aktual bagaimana sistem profesional diterapkan di berbagai tempat, salah satunya di Freeport yang pernah dikunjunginya. Di sana, setiap detail, termasuk parkir kendaraan, diatur dengan disiplin tinggi.

“Setiap mobil harus diparkir mundur agar siap keluar dengan cepat, dan bahkan saat mobil memasuki pintu parkir, pintu kaca mobil harus dalam keadaan terbuka, padahal tidak ada penjaga parkir,” kisahnya.

Apa yang dilihatnya di Freeport tersebut menurut Nanang merupakan penerapan contoh sistem. Kata dia, dalam Islam juga demikian, karena Islam adalah dinul islam, yang berarti sistem Islam. “Sistem ini bagaikan jarum jam yang terus bergerak, meski tidak ada yang memperhatikannya,” jelasnya.

Menurutnya, membangun sistem pendidikan yang baik harus dimulai dari visi yang jelas. Guru bukan hanya sekadar pengajar, tetapi pemimpin yang membentuk masa depan.

“Setiap hari kita harus siap menghadapi tantangan. Tugas kita bukan hanya mengatur, tetapi memimpin. Guru memiliki tiga peran besar secara bertahap yaitu sebagai teacher, educator, dan trainer, yang semuanya berkontribusi dalam membangun peradaban,” tambahnya.

Nanang menegaskan, sistem yang baik akan mendukung proses pendidikan secara sempurna, sehingga tidak hanya pengetahuan yang ditransfer kepada siswa, tetapi juga nilai-nilai kehidupan yang menjadi pondasi bagi mereka dalam menghadapi dunia. Kepemimpinan yang kuat menjadi kunci utama dalam menjalankan sistem ini di sekolah-sekolah Islam.

Mengakhiri sajian materi yang dibawakannya, Nanang menyampaikan bahwa pendidikan adalah jalan menuju kebahagiaan. Dia menyebutkan, kebahagiaan lahir dari pendidikan yang seimbang antara transfer ilmu dan nilai.

“Di sinilah peran penting sistem pendidikan Islam, yang berusaha menghadirkan keduanya dalam proses belajar mengajar,” tandasnya.

Seminar ini juga turut dihadiri Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Barat Ust Hidayatullah Abu Corry, Ketua Pembina Yayasan Hidayatullah Karawang Ust. H. Nanang Hanani, MA, Ketua Yayasan Ummul Quro Hidayatullah Karawang, Ustadz Rudi Safaat, SH, dan pengelola pendidikan di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Karawang.*/Adam Sukiman