Beranda blog Halaman 156

[KHUTBAH JUM’AT] Menjaga Amanah dan Sumpah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Beberapa hari yang lalu, sebanyak 580 anggota DPR dan 152 anggota DPD dilantik secara resmi. Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Anggota DPR, DPD dan MPR RI masa jabatan 2024-2029 ini digelar di Ruang Paripurna, Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Selasa, 1 Oktober 2024.

Begitupun juga, telah dilakukan pelantikan dan pengambilan sumpah wakil rakyat di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia.

Mari kita dokan semoga para wakil rakyat yang telah dilantik dan disumpah amanah. Karena sesungguhnya amanah, jabatan, dan kekuasaan itu adalah pemberian Allah Subhanahu wa ta’ala kepada siapa yang dikehendaki.

قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ٦

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu” (QS. Ali ‘Imran: 26)

Jabatan dan kekuasaan adalah amanat dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Selayaknya bagi siapapun yang diberikan amanat untuk menjaganya, termasuk orang yang diberi amanat jabatan kekuasaan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْٓا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui” (QS. Al-Anfal: 27).

Dalam Tafsir Jalalain disebutkan, “amanat yang dimaksud ialah sesuatu yang dipercayakan kepada kalian meliputi agama dan urusan lainnya” (Tafsirul Jalalain)

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah

Dalam Islam, Allah Subhanahu wa ta’ala secara tegas melarang bagi siapa pun untuk menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan. Kekuasaan hendaknya dimanfaatkan untuk memperoleh kemaslahatan secara umum, bukan kepentingan pribadi atau satu kelompok.

Beberapa ayat dalam Al-Qur’an menunjukkan secara implisit bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala dengan tegas melarang penyalahgunaan kekuasaan. Salah satu contohnya ialah Allah Subhanahu wa ta’ala secara tegas melarang menyuap untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ وَتُدۡلُواْ بِهَآ إِلَى ٱلۡحُكَّامِ لِتَأۡكُلُواْ فَرِيقٗا مِّنۡ أَمۡوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلۡإِثۡمِ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

“Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 188)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Ayat ini merupakan peringatan sekaligus ancaman untuk orang yang berbuat zalim kepada orang lain dengan memakan atau menguasai harta mereka dengan cara yang batil seperti halnya membuat sumpah palsu, kesaksian palsu, membuat laporan palsu atau cara-cara batil lainnya.

Tidak hanya dengan sumpah dusta, larangan tersebut juga berlaku untuk cara-cara lain dalam mengambil hak-hak orang lain dengan batil. Termasuk di dalamnya dalam hal ini ialah menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan bagi pejabat pemerintah.

Pada ayat yang lain juga Allah Subhanahu wa ta’ala dengan tegas melarang melakukan pengkhianatan terhadap amanat yang telah diberikan. Termasuk dalam hal ini ialah amanat kekuasaan. Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَخُونُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓاْ أَمَٰنَٰتِكُمۡ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)

Amanat yang dimaksud ialah setiap pekerjaan yang dipercayakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, baik meliputi kewajiban maupun amanat seperti kewenangan dan kekuasaan.

Dalam tafsirnya menjelaskan surah Al-Anfal ayat 27 ini, Prof. Dr. Syaikh Wahbah Mustafa al-Zuhaili berkata:

“Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah, Rasul dan Qur’an-Nya. Janganlah kalian mengkhianati Allah dengan menyia-nyiakan kewajiban dari-Nya atau melewati batas dan keharaman-Nya. Jangan kalian khianati utusan-Nya dengan tidak mengikuti sunnahnya, tidak melaksanakan perintahnya, tidak menjauhi larangannya dan mengikuti hawa nafsu serta warisan nenek moyang kalian! Jangan pula kalian khianati amanat yang telah diberikan kepada kalian dengan tidak menjaganya. Baik amanat yang bersifat titipan materi, rahasia rahasia milik umat maupun individu apalagi sebagai wakil rakyat”

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرً

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)

Dengan demikian, menyelewengkan amanat yang telah diberikan dengan menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan tidak diperkenankan dan sangat amat dilarang dalam Islam. Sebaliknya, Allah Subhanahu wa ta’ala dengan tegas memerintahkan kita semua untuk melaksanakan amanat dengan sebaik-baiknya.

Hadirin jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta’ala

Bahkan jika manusia melanggar sumpah jabatan (sumpah palsu) dan menghianati amanah amanah yang telah diberikan kepadanya maka Allah memberi ancaman neraka (azab yang pedih).

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ ٱللَّهِ وَأَيْمَٰنِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُو۟لَٰٓئِكَ لَا خَلَٰقَ لَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ ٱللَّهُ وَلَا يَنظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih” (QS: Ali Imron :77)

Dalam Hadist Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga disebutkan:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ، فَقَدْ أَوْجَبَ اللهُ لَهُ النَّارَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ» فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيرًا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: وَإِنْ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ

“Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengambil hak seorang Muslim dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan surga baginya.” Seorang laki-laki bertanya, “Walaupun hak itu kecil, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Walaupun sebatang siwak”. (HR. Muslim).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Wahyu Ilahi Solusi Ilmiah dan Spiritual dalam Pencarian Hakikat Tuhan

0

DALAM sebuah kajian pekanan Majelis Reboan Dewan Murabbi Hidayatullah Wilayah Jabar via Zoom, Rabu, 21 Rabi’ul Awal 1446 (25/9/2024) yang saya ikuti, Ustadz Naspi Arsyad, Lc, sebagai narasumber menyampaikan suatu hal yang sangat menarik.

Beliau menjelaskan penting menjadi perhatian kondisi dan situasi bahwa sebelum turunnya wahyu pertama, yakni lima ayat Surat Al-‘Alaq, manusia telah berada dalam kebingungan intelektual yang mendalam diperhadapkan dengan realitas sosial.

Sebagaimana dibahas dalam tulisan sebelumnya (baca: Al-Alaq Sebagai Tantangan Intelektual Menemukan Tuhan), wahyu pertama ini tidak hanya menantang berbagai konsep Tuhan yang sudah ada, tetapi juga menjawab pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang melampaui kemampuan manusia saat itu untuk menjawabnya sendiri.

Aktivitas berpikir dan berfilsafat pada masa itu tidak memberikan jawaban yang meyakinkan, tidak mencapai tingkatan haqqul yaqin—tingkat keyakinan yang hakiki menurut Al-Ghazali. Semakin manusia mengandalkan intelektualitas tanpa panduan wahyu, semakin banyak jawaban yang muncul, dan semakin absurd hasilnya. Manusia terus bergulat dengan berbagai pertanyaan besar tentang eksistensi, kebenaran, dan Tuhan, tetapi tak ada satu pun jawaban yang memuaskan secara penuh.

Disinilah Al-‘Alaq hadir sebagai pemantik nalar yang menantang sekaligus memberikan solusi. Surat ini menjadi penghubung antara akal dan wahyu, menjembatani aktivitas intelektual manusia yang seringkali terbatas dengan petunjuk Ilahi yang menawarkan kepastian. Ustadz Naspi menyebutnya dengan istilah “benang hijau” sebagai penyambung antara realitas (fenomena) dan idealitas (noumena), antara yang empiris dan non-empiris.

Beliau mencontohkan, jauh sebelum para filsuf menyelami pencarian intelektual yang tak berujung, Nabi Ibrahim alaihissalam yang juga mencari Tuhan dengan pergulatan aktivitas pikirannya. Namun, meski sudah merenungi alam semesta—bintang, bulan, matahari—ia masih merasakan keraguan.

Hingga akhirnya, Allah memberikan petunjuk wahyu–terkenal dengan kisah eksperimental yang dilakukan Ibrahim pada burung yang dipelihara yang lantas diperintah untuk dibunuh kemudian Allah hidupkan Kembali. Kisah ini menjadi semacam “benang hijau” antara pergulatan intelektualnya mencari Tuhan dan keyakinan yang ragu, hingga menjadikannya kemantapan iman yang teguh.

Begitu pula dengan wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW. Surat Al-‘Alaq bukan hanya sebuah perintah untuk membaca (iqra), tetapi juga sebuah jembatan yang menjawab kebingungan dan keraguan intelektual manusia ketika dihadapkan pada konsep Tuhan yang tak dapat dicapai hanya dengan akal. Dengan turunnya wahyu, manusia mendapatkan jawaban yang lebih dari sekadar hasil pemikiran; mereka mendapatkan petunjuk yang menyempurnakan pencarian intelektual mereka.

Ini memberikan gambaran bagaimana wahyu Al-Qur’an menjadi penyelaras antara akal dan petunjuk Ilahi. Bagaimana, dalam konteks sejarahnya, aktivitas intelektual tanpa bimbingan wahyu seringkali hanya menghasilkan kebingungan yang semakin dalam.

Kokoh dalam Tantangan Zaman

Sebelum wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW, aktivitas intelektual manusia, termasuk para filsuf, terus bertanya tentang eksistensi, realitas, dan Tuhan. Socrates, Plato, dan Aristoteles, melalui pendekatan rasional dan logika, berusaha memahami hakikat keberadaan, tetapi hasilnya seringkali tak mencapai kesimpulan yang mutlak atau memuaskan.

Bahkan Descartes, dengan cogito ergo sum-nya (saya berpikir maka saya ada), tidak mampu sepenuhnya menjawab masalah-masalah eksistensial yang mendalam. Descartes menegaskan bahwa akal manusia adalah sumber utama pengetahuan, tetapi ia juga menyadari keterbatasan akal manusia dalam menjangkau realitas tertinggi.

Di sisi lain, tokoh seperti Immanuel Kant berpendapat bahwa akal manusia tidak dapat menjangkau hal-hal yang bersifat metafisik, seperti Tuhan, karena keterbatasan indera dan pengalaman manusia. Kant membatasi pengetahuan manusia pada fenomena, yaitu hal-hal yang dapat diamati dan dialami secara empiris, dan menyebut aspek metafisik sebagai “noumena” yang tak bisa dijangkau akal.

Al-Ghazali menegaskan bahwa akal memiliki batasan dan tidak dapat mencapai kebenaran mutlak tanpa bantuan wahyu. Dalam Tahafut al-Falasifah, Al-Ghazali menunjukkan bahwa wahyu memberikan kunci untuk memahami kebenaran yang tidak dapat dicapai hanya melalui akal.

Sementara Al-Farabi mengajukan semacam sintesis gagasan tentang hubungan antara akal dan wahyu. Ia berpendapat bahwa wahyu merupakan bentuk pengetahuan tertinggi yang mengarahkan akal untuk memahami kebenaran yang lebih dalam. Menurutnya, akal dan wahyu tidak berkontradiksi; sebaliknya, keduanya saling melengkapi.

Dalam konteks ini, wahyu Al-Qur’an awal turunnya dan eksistensinya hingga akhir kehidupan, sebagai pemantik intelektual yang mengarahkan pencarian manusia ke jalan yang lebih jelas, sekaligus menawarkan solusi untuk menjembatani gap antara pemahaman fisik dan metafisik.

Surat Al-Alaq tidak hanya mengajak manusia untuk membaca dan berpikir, tetapi juga untuk menundukkan intelektualitas di bawah panduan Ilahi yang lebih pasti dan sempurna. Al-‘Alaq hadir untuk menyambungkan antara pencarian intelektual manusia dengan kepastian wahyu. Surah ini menjadi “benang hijau” yang mempertemukan nalar manusia dengan keyakinan yang hakiki. Berikut beberapa tantangan intelektual-wahyu dalam konteks kekinian.

1. Artificial Intelligence (AI) dan Kesadaran

Tantangan intelektual dalam memahami eksistensi Tuhan tidak berhenti pada filsafat dan sains kuno saja, tetapi juga merambah ke era modern dengan munculnya teknologi kecerdasan buatan (AI). Bagaimana AI dan kesadaran buatan menambah dimensi baru dalam perdebatan intelektual terkait kehidupan dan kesadaran?

Peneliti AI seperti Alan Turing, pencipta Turing Test, berpendapat bahwa jika sebuah mesin dapat meniru perilaku manusia secara sempurna, maka mesin itu dapat dikatakan memiliki “kesadaran” atau setidaknya kecerdasan buatan yang mendekati manusia. Turing optimis bahwa melalui algoritma yang canggih, AI dapat mencapai tingkat kecerdasan yang kompleks.

Di sisi lain, peneliti seperti John Searle dengan Chinese Room Argument-nya, menolak ide ini. Searle berpendapat bahwa meskipun AI bisa memproses data dengan cepat, itu hanyalah simulasi, dan tidak dapat menciptakan kesadaran sejati. Menurut Searle, mesin mungkin dapat meniru perilaku, tetapi tidak bisa mengalami atau memahami dengan cara manusia melakukannya.

Jauh sebelum Searli, pemikir muslim Ibn Sina (Avicenna) sudah menjelaskan semacam pondasi secara intelektual bahwa ruh adalah substansi yang terpisah dari tubuh, menunjukkan pentingnya aspek non-fisik dalam pemahaman manusia. Apa yang eksis dari manusia tidak akan ada yang menyamai apalagi menggantikan secara persisinya, terlebih itu dibuat oleh manusia sendiri.

Wahyu Al-Qur’an memberikan sudut pandang berbeda tentang kesadaran dan kehidupan, yang tidak dapat direduksi menjadi proses mekanis atau algoritmis. Dalam Surat Al-Isra’ [17:85], Allah menjelaskan bahwa hakikat ruh, yang menjadi sumber kesadaran, adalah rahasia ilahi yang berada di luar jangkauan pemahaman manusia. Dengan demikian, wahyu menjadi “benang hijau” yang melengkapi pencarian intelektual tentang kesadaran yang tidak bisa dipecahkan hanya dengan sains.

2. Penelitian Tentang Alam Semesta Multiverse

Selain kesadaran buatan, manusia juga mencoba menjawab misteri kosmos melalui konsep-konsep sains modern lainnya seperti multiverse. Apakah konsep ini mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan eksistensial, atau justru menambah spekulasi yang lebih jauh lagi?

Konsep multiverse pertama kali dipopulerkan oleh Hugh Everett dalam Many-Worlds Interpretation dari mekanika kuantum . Everett menyatakan bahwa setiap kali keputusan diambil atau suatu kejadian terjadi, alam semesta “bercabang” menjadi berbagai kemungkinan hasil yang berbeda. Ini melahirkan ide bahwa ada alam-alam semesta lain selain yang kita tinggali.

Namun, kritikus seperti Neil deGrasse Tyson menyatakan bahwa multiverse adalah spekulasi yang tidak bisa dibuktikan secara empiris dan lebih merupakan ide filosofis dari pada ilmiah. Al-Kindi, sebagai salah satu filsuf Islam pertama, menunjukkan bahwa Tuhan adalah pencipta segalanya, sehingga realitas yang tidak kita ketahui pun berada dalam genggaman-Nya.

Al-Qur’an, dengan menyebut Allah sebagai “Rabbul ‘Aalamin” (Tuhan Semesta Alam), memberi ruang untuk interpretasi adanya alam-alam lain yang tidak kita kenal. Dalam hal ini, wahyu menjadi jembatan yang menghubungkan teori multiverse dengan keyakinan bahwa Allah memiliki kekuasaan mutlak atas segala alam, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

3. Quantum Physics dan Ketidakpastian

Jika multiverse menambah dimensi baru pada pemahaman kita tentang alam semesta, fisika kuantum dengan prinsip ketidakpastiannya membawa kita lebih dalam lagi pada kompleksitas realitas yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh akal manusia

Werner Heisenberg, dengan Uncertainty Principle-nya, menjelaskan bahwa dalam dunia kuantum, tidak mungkin mengetahui posisi dan kecepatan partikel secara bersamaan. Hal ini memicu perdebatan tentang batasan pengetahuan manusia.

Heisenberg sendiri menerima ketidakpastian ini sebagai realitas yang tidak bisa dielakkan. Albert Einstein, di sisi lain, terkenal dengan kritiknya terhadap ketidakpastian ini, dengan mengatakan, “Tuhan tidak bermain dadu”, menolak ide bahwa alam semesta bisa bersifat acak.

Menguatkan pendapat Einstein, pemikir terkanal dengan syair-syair cintanya, Jalaluddin Rumi mengajarkan bahwa kehadiran Ilahi mengatur segala sesuatu, dan wahyu menjadi panduan bagi manusia untuk menerima keterbatasan ini dengan rendah hati.

Al-Qur’an, melalui berbagai ayat seperti Surat Al-Baqarah [2:255], mengingatkan bahwa ada aspek dari realitas yang berada di luar jangkauan pengetahuan manusia. Ketidakpastian ini, dalam pandangan Islam, tidaklah sepenuhnya acak, melainkan sebuah tanda keterbatasan manusia yang harus ditundukkan di bawah kebijaksanaan ilahi.

4. Kloning dan Modifikasi Genetik

Teknologi modern terus menggali batas-batas ciptaan Tuhan melalui penelitian bioteknologi seperti kloning dan modifikasi genetik, yang sekali lagi memicu pertanyaan etis dan filosofis tentang peran manusia dalam menciptakan kehidupan ilmuwan seperti Ian Wilmut, yang berhasil mengkloning domba Dolly, membuka pintu bagi perkembangan kloning manusia .

Namun, etika kloning menjadi topik yang diperdebatkan, dengan tokoh seperti Leon Kass mengkritik bahwa kloning manusia dapat merusak konsep kemanusiaan itu sendiri. Kass menekankan bahwa kloning mereduksi manusia menjadi produk yang dapat dimanipulasi, yang melanggar martabat dan keunikan individu.

Ajaran Islam menegaskan bahwa penciptaan dan kehidupan adalah hak mutlak Allah. Demikian Al-Jahiz, ulama dan ahli zoologi Islam pertamamenekankan bahwa setiap makhluk memiliki martabat dan tujuan yang diberikan oleh Sang Pencipta.

Ustadz Zainuddin Musaddad, anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah dalam suatu kesempatan mengisi kajian wahyu pertama ini menyampaikan Surat Al-Mu’minun (23:12-14), sebagai elaborasi dari kata ‘alaq’. Bagaimana Al-Qur’an menggambarkan penciptaan manusia sebagai proses yang dikendalikan sepenuhnya oleh Allah, menekankan bahwa meskipun manusia bisa memanipulasi genetic—bayi tabung, mereka tetap tidak bisa menandingi ciptaan Allah yang sempurna.

Dalam Surat Ar-Ra’d Ayat 16, Allah SWT berfirman “…apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka? Katakanlah: ‘Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa’”

Dengan demikian, wahyu menjadi “benang hijau” yang mengingatkan manusia untuk tidak mengambil alih peran Tuhan dalam penciptaan. Meskipun ‘berhasil’ rekayasa tersebut tidak lepas dari hukum-hukum Allah yang sudah ditetapkan (sunnatullah).

5. Eksplorasi Luar Angkasa dan Pencarian Kehidupan Ekstraterestrial

Seolah tak puas dengan eksplorasi sains di bidang biologi dan genetika, manusia juga terus mencari jawaban di luar bumi melalui eksplorasi luar angkasa. Pencarian kehidupan ekstraterestrial menambah dimensi baru dalam pencarian intelektual yang mencoba menjawab pertanyaan eksistensi.

Carl Sagan, dengan misi pencarian kehidupan di luar bumi, adalah salah satu ilmuwan yang berkontribusi besar dalam eksplorasi luar angkasa. Namun, tokoh seperti Stephen Hawking memperingatkan bahwa mencari kehidupan ekstraterestrial bisa berisiko jika kita bertemu dengan peradaban yang lebih maju dan mungkin tidak bersahabat.

Sebagai ilmuwan Muslim, Al-Biruni yang pernah melakukan percobaan mengamati bintang, menunjukkan bahwa pengetahuan manusia tentang alam semesta harus selalu dihubungkan dengan kebesaran Tuhan.

Kembali Al-Qur’an memberikan wawasannya tentang eksistensi makhluk hidup di luar bumi. Dalam Surat Ash-Shura [42:29], disebutkan bahwa Allah menciptakan kehidupan di langit dan bumi, menunjukkan bahwa ciptaan Allah tidak terbatas pada apa yang kita ketahui.

Dengan demikian, wahyu ini menjadi “benang hijau” yang mengaitkan eksplorasi ilmiah dengan kebesaran Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Bahkan menantang sekaligus memberikan jawabannya sebagaimana firmanNya pada ayat ke-33 dari surat Ar-Rahman:

Wahai bangsa jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”

Al-Quran “Benang Hijau” Umat Akhir Zaman

Pada akhirnya, segala upaya intelektual manusia, betapapun mendalam dan beraneka ragamnya, selalu berhadapan dengan batas yang tak terelakkan. Dari filsafat hingga sains, pencarian manusia akan kebenaran kerap kali membawa pada jalan buntu atau ketidakpastian.

Namun, di titik inilah wahyu hadir sebagai penuntun, benang hijau yang menghubungkan keterbatasan akal manusia dengan dimensi keimanan, yang tak hanya melengkapi tetapi juga melampaui pengetahuan manusia.

Al-Qur’an, sebagai wahyu ilahi, bukan hanya membimbing manusia untuk berpikir dan mencari, tetapi juga menuntun akal untuk tunduk pada kebijaksanaan Allah yang Maha Tinggi. Ketika manusia mulai menyadari keterbatasan akal dalam menjangkau rahasia kosmik dan metafisik, keimanan muncul sebagai dimensi baru yang mengangkat kemuliaan mereka.

Sebagaimana Allah berfirman, “Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11), pengangkatan ini bukan sekadar pengakuan akan keimanan dan ilmu, tetapi juga penyingkapan tabir antara ketidaktahuan dan pengetahuan, yang hanya mungkin melalui bimbingan-Nya.

Dalam keimanan dan ilmu, manusia mencapai puncak kemuliaan yang diberikan oleh Al-Akram, Allah Yang Maha Mulia, sebagaimana disebut dalam wahyu pertama yang memerintahkan manusia untuk membaca dalam nama Tuhan yang menciptakan (Al-Alaq [96]: 1-5). Dalam proses ini, Allah tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga menyingkap rahasia-rahasia yang sebelumnya tertutup.

Pengangkatan derajat ini adalah transisi dari kegelapan dan ketidaktahuan menuju cahaya pengetahuan yang diberikan langsung oleh Sang Pencipta. Manusia, dengan keimanan dan ilmunya, memperoleh posisi istimewa di hadapan Tuhan—bukan karena kesombongan intelektualnya, tetapi karena rendah hati dalam menerima bahwa ilmu hakiki hanya datang dari-Nya.

Dengan demikian, integrasi iman dan ilmu adalah jalan menuju kemuliaan yang sejati. Keimanan bukanlah pengganti akal, melainkan melengkapinya. Ilmu bukanlah sekadar pengetahuan, tetapi sarana untuk mengenal Tuhan lebih dekat. Dalam perjalanan intelektual manusia, wahyu Al Qur’an sebagai kitabullah dan kalaamullah menjadi solusi yang menghubungkan setiap pertanyaan, menjawab setiap keraguan, dan mengangkat setiap derajat menuju puncak kemuliaan di hadapan Tuhan yang Maha Mulia.

Allah-lah yang menyingkap tabir keterbatasan dan memberikan pengetahuan yang membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari ketidaktahuan menuju pengenalan yang sempurna akan-Nya.

Oleh karena itu, dalam segala keterbatasan intelektual manusia, iman kepada wahyu menjadi pelengkap yang membawa ke arah kebenaran hakiki, menjadikan manusia makhluk yang tidak hanya bijak, tetapi juga mulia di hadapan Allah. Wahyu sebagai benang hijau yang tak terputus, menghubungkan akal dan iman, mengangkat manusia dari kerapuhan pengetahuan menuju kemuliaan pengenalan akan Tuhan. Wa’alhu ’Alam.

*) Rusman Abdillah, S.E, penulis adalah internship researcher di Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Peduli Kesehatan Wanita, Mushida Gelar Penyuluhan Deteksi Dini Penyakit Kanker Serviks

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Daerah Khusus Jakarta (DKJ) menggelar penyuluhan kesehatan terkait kanker serviks dan kanker payudara sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Solidaritas Jilbab Sedunia (HSJD), Ahad, 25 Rabi’ul Awal 1446 (29/9/2024).

Acara yang digelar pada Ahad pagi di Rumah Qur’an Tahfidz Apung, Kamal Muara, Jakarta Utara, ini dihadiri oleh pengurus Muslimat Hidayatullah Jakarta serta masyarakat setempat. Acara ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan peran kaum muslimah dalam menjaga identitas keagamaannya sekaligus meningkatkan kesadaran akan kesehatan.

Ketua Pengurus Wilayah (PW) Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta (DKJ), Afifah Hanafi, menekankan pentingnya penyelenggaraan kegiatan tersebut.

“Acara ini adalah salah satu bentuk tanggung jawab Muslimat Hidayatullah dalam menyampaikan pesan tentang kewajiban berhijab bagi setiap muslimah. Dalam ajaran Islam, jilbab bukan hanya simbol fisik, tetapi juga wujud dari ketaatan dan identitas kita sebagai muslimah,” ujar Afifah dalam keterangannya.

Acara ini juga dirangkai dengan pembagian jilbab kepada masyarakat setempat yang hadir, sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap saudari-saudari kita yang mungkin belum mampu memakainya.

Turut hadir dalam acara tersebut adalah jajaran pengurus Muslimat Hidayatullah DKJ, termasuk struktur PD Mushida DKJ, anggota DMW DKJ, serta beberapa tokoh masyarakat setempat.

Kesehatan Perempuan

Peringatan HSJD ini juga dirangkai dengan penyuluhan mengenai kanker serviks dan kanker payudara, dua penyakit yang sangat mengancam kesehatan perempuan. Dalam kesempatan tersebut, hadir seorang dokter dari Islamic Medical Service (IMS) yang memberikan materi penyuluhan kesehatan secara langsung.

Penyuluhan ini mendapatkan perhatian yang cukup besar dari para peserta yang mayoritas adalah perempuan, mengingat betapa pentingnya deteksi dini dan pencegahan dua penyakit tersebut.

Afifah menjelaskan, kesehatan adalah salah satu aspek penting yang harus diperhatikan oleh kaum muslimah. Pihaknya sebagai Muslimat Hidayatullah tidak hanya ingin memberikan pendidikan keagamaan, tetapi juga pendidikan kesehatan yang memadai.

“Dengan mengetahui risiko dan cara pencegahan kanker serviks dan kanker payudara, kita dapat menjaga tubuh kita yang merupakan amanah dari Allah,” kata Afifah.

Ia juga menambahkan bahwa acara penyuluhan kesehatan ini adalah bagian dari upaya Muslimat Hidayatullah dalam memberikan pelayanan yang menyeluruh kepada masyarakat. Kesehatan fisik dan kesehatan spiritual, terang Afifah, adalah dua hal yang saling berkaitan.

“Kami ingin memastikan bahwa kaum muslimah tidak hanya kuat dalam iman, tetapi juga sehat secara jasmani, karena hanya dengan tubuh yang sehat kita dapat beribadah dengan lebih baik,” imbuhnya.

Acara ini diadakan di Rumah Qur’an Tahfidz Apung, yang berlokasi di Kamal Muara, Jakarta Utara, sebuah perkampungan yang berada di atas laut. Rumah Qur’an ini hadir dan menjadi pusat dakwah serta pendidikan bagi masyarakat sekitar, khususnya kaum muslimah dan anak-anak. Lokasinya yang unik, berada di atas perairan, menjadi simbol perjuangan dakwah yang tak terbatas oleh keadaan geografis.

Acara yang disponsori Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) ini ditutup dengan doa bersama dan pembagian jilbab kepada para peserta, menandai berakhirnya rangkaian kegiatan yang penuh manfaat dan hikmah bagi seluruh yang hadir.

Turut hadir mendampingi pada kesempatan tersebut Ketua DPD Hidayatullah Jakarta Utara Maswiyana beserta jajaran dan dibuka oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta Muhammad Isnaini.*/Arsyis Musyahadah

Dai Memiliki Tanggung Jawab untuk Sampaikan Materi Dakwah yang Efektif

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah, KH. Drs. Ahmad Yani, menyampaikan pesan pentingnya peran dan tanggung jawab seorang dai dalam menyampaikan materi dakwah yang efektif.

Ia menekankan pentingnya kemampuan komunikasi yang baik, rajin membaca, serta memiliki rasa penasaran tinggi agar dakwah yang disampaikan tidak hanya sekadar informatif, namun mampu menggerakkan pendengar untuk mengamalkannya.

“Tugas seorang dai adalah memberi pemahaman dengan cara memberi informasi yang mampu menggerakkan pendengar untuk mengamalkannya,” katanya dalam acara Kursus Muballigh Profesional Angkatan IV pada sesi tema “Menyusun Materi Dakwah yang Efektif” yang digelar oleh Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), Ahad, 25 Rabi’ul Awal 1446 (29/9/2024).

Ahmad Yani menekankan bahwa materi dakwah akan lebih menarik apabila memiliki kerangka yang jelas dan benar. Penguasaan teknik komunikasi yang baik dapat mengubah penyampaian pesan menjadi lebih hidup dan memberikan dampak yang lebih besar kepada audiens.

“Kemampuan komunikasi efektif menjadi hal yang sangat penting dimiliki oleh para dai. Kemampuan ini akan menjadi penentu sebuah materi menjadi lebih menarik karena memiliki kerangka yang jelas dan benar,” tutur KH. Ahmad Yani.

Beliau juga menyoroti bahwa komunikasi dalam dakwah tidak hanya menyampaikan informasi secara satu arah, melainkan harus ada elemen interaksi yang dapat menjembatani pemahaman antara dai dan audiens. Keterampilan komunikasi ini meliputi penyusunan materi, cara menyampaikan, serta bagaimana menangkap reaksi dari jamaah untuk kemudian dapat merespon dengan tepat.

Dai Harus Rajin Membaca

Lebih jauh KH. Ahmad Yani menekankan bahwa seorang dai dan khatib harus rajin membaca dan mendalami berbagai sumber agar dapat mengembangkan materi dakwah yang kontekstual.

Malas berpikir hanya mengandalkan bahan ceramah yang sudah ada tanpa melakukan penyesuaian atau elaborasi yang mendalam. Hal ini, menurutnya, akan membuat materi dakwah menjadi monoton dan kehilangan relevansi dengan kondisi jamaah.

“Seorang dai dituntut untuk rajin membaca agar memiliki peluru (materi) yang tidak terbatas. Sebab di banyak kasus, dai malas berpikir, sehingga materi ceramah atau khutbah yang disampaikan hanya modal copy paste atau bahan yang sudah siap tanpa elaborasi yang kontekstual,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa dengan konsistensi dalam belajar dan memperdalam ilmu, seorang dai akan lebih percaya diri ketika berdiri di depan jamaah.

Perasaan takut atau was-was yang kerap menghantui para dai dapat diminimalisir dengan bekal pengetahuan yang memadai. Dengan terus membaca dan belajar, hal ini akan membuat penyampaian dakwah menjadi lebih lancar dan meyakinkan.

Kepercayaan diri ini menurutnya tidak hanya penting bagi dai pemula, namun juga bagi para dai yang telah berpengalaman. Dalam berbagai situasi, seperti ceramah di acara maulid, aqiqah, pernikahan, atau bahkan dalam suasana duka cita, seorang dai harus selalu siap menyampaikan materi yang relevan dan inspiratif.

Masih dalam materinya, KH. Ahmad Yani mengingatkan bahwa seorang dai tidak boleh “miskin kata”, yang artinya tidak boleh kekurangan materi atau kehabisan ide dalam menyampaikan dakwah. Kemampuan untuk terus belajar dan membaca menjadi syarat mutlak agar seorang dai selalu siap dalam berbagai momen.

“Menjadi dai jangan miskin kata, karena itu mesti tekun dalam belajar dan membaca, sehingga seorang dai tetap dalam kondisi siap dalam berbagai acara, baik maulid, aqiqah, pernikahan maupun ceramah dalam suasana kematian,” jelas KH. Ahmad Yani yang juga Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini.

Lebih jauh, KH. Ahmad Yani menekankan bahwa dakwah yang efektif adalah dakwah yang kontekstual, sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi oleh jamaah.

Untuk itu, harapnya, dai harus mampu mengelaborasi materi yang disampaikan agar sesuai dengan tantangan zaman, sekaligus dapat memberikan solusi praktis bagi jamaah dalam menghadapi permasalahan kehidupan sehari-hari.

Kursus Muballigh Profesional yang diadakan oleh KMH ini merupakan salah satu upaya untuk mencetak calon muballigh dan meningkatkan kompetensi para dai dalam menyusun dan menyampaikan materi dakwah yang efektif dan juga mampu menggerakkan hati umat untuk mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.*/Adam Sukiman

H2R SAR Hidayatullah Sulsel Tekankan Kewaspadaan Dini dan Mitigasi Bencana Hidrometeorologi

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Search and Rescue (SAR) Hidayatullah, badan pendukung ormas Hidayatullah dalam mengkoordinasi dan memobilisasi sumberdaya dalam tanggap darurat bencana, mitigasi, kewaspadaan dini dan rehabilitasi pasca bencana, menggelar pertemuan koordinasi wilayah selama 2 hari di Pantai Madinatul Izzah Mubarak, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, pada 24-25 Rabi’ul Awal 1446 (28-29/9/2024).

Pertemuan ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memperkuat tanggap darurat bencana, mitigasi, kewaspadaan dini, dan rehabilitasi pascabencana, yang menjadi fokus utama SAR Hidayatullah.

Acara koordinasi wilayah bertajuk “Halaqah Hidayatullah Rescue (H2R)” ini terasa istimewa karena selain dihadiri langsung oleh Ketua Umum SAR Hidayatullah Irwan Harun, juga ditinjau langsung oleh Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, yang meluangkan memberi motivasi selama kurang lebih 30 menit kepada peserta.

Kehadiran KH Abdurrahman Muhammad disela sela kesibukannya memenuhi undangan perlbagai agenda di provinsi berjuluk Anging Mamiri ini memberi semangat dan motivasi kepada para peserta yang datang dari berbagai wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, termasuk Pengurus Wilayah dan anggota SAR Hidayatullah, mahasiswa Sekolah Dai Hidayatullah Sultanbatara, dan potensi relawan SAR dari Pondok Pesantren Hidayatullah Menro, Kabupaten Pinrang.

Dalam pertemuan tersebut, fokus utama adalah menguatkan pelayanan mitigasi bencana dan tanggap darurat khususnya di Sulawesi Selatan, yang merupakan wilayah rentan bencana.

Sulawesi Selatan secara geografis terletak di kawasan cincin api dunia (ring of fire), yang membuat wilayah ini sering kali mengalami gempa bumi dan bencana hidrometeorologi lainnya seperti banjir, tanah longsor, serta kekeringan berkepanjangan.

Ketua Umum SAR Hidayatullah, Irwan Harun, dalam keterangannya menyampaikan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi termasuk gempa megathrust.

Berdasarkan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa megathrust di wilayah selatan Pulau Sulawesi berpotensi besar menimbulkan kerusakan luas, terutama di daerah pesisir. BMKG telah mengidentifikasi potensi gempa berkekuatan lebih dari 8,0 magnitudo yang dapat memicu tsunami di sepanjang pantai barat Sulawesi dan sebagian wilayah lainnya.

Mengingat tingginya risiko tersebut, Irwan menekankan bahwa edukasi dan sosialisasi mengenai bencana harus terus digalakkan di masyarakat, terutama di lingkungan pendidikan.

“Kita hidup di wilayah yang sangat rawan terhadap gempa, khususnya potensi gempa megathrust yang disebutkan dalam berbagai temuan BMKG. Ini mengharuskan kita untuk lebih siap dan terus melakukan sosialisasi serta edukasi mitigasi bencana di seluruh lapisan masyarakat,” ujar Irwan.

Kewaspadaan Dini di Lingkungan Pendidikan

Sebagai bagian dari program tanggap bencana, SAR Hidayatullah berkomitmen untuk terus melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat, termasuk di sekolah-sekolah dan pondok pesantren yang menjadi lingkungan pendidikan utama di kawasan tersebut.

Irwan menyebutkan bahwa SAR Hidayatullah siap menjadi instruktur dan pelatih dalam kegiatan mitigasi dan kewaspadaan bencana di lingkungan satuan pendidikan, dengan harapan agar para siswa, santri, serta tenaga pendidik bisa memiliki pemahaman mendalam tentang langkah-langkah tanggap darurat yang harus diambil ketika terjadi bencana.

“Anak-anak kita harus sadar akan bahaya yang mengancam dan tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana melanda. Edukasi ini tidak hanya untuk anak-anak, tetapi juga untuk seluruh elemen masyarakat,” tambahnya.

Selain pendidikan formal, SAR Hidayatullah juga terus mendorong peningkatan kapasitas relawan yang berasal dari pondok pesantren dan lembaga pendidikan lainnya di Sulawesi Selatan. Para santri dan relawan ini diharapkan bisa menjadi garda terdepan dalam membantu penanganan bencana di masa mendatang.

Menurut Irwan, salah satu tantangan utama dalam menghadapi gempa bumi dan bencana hidrometeorologi adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya yang mengintai. Karenanya, sosialisasi yang terus menerus dan latihan kesiapsiagaan sangat diperlukan untuk meminimalisir dampak dari bencana tersebut.

SAR Hidayatullah, melalui pertemuan ini, menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat edukasi kepada masyarakat, agar mereka lebih siap dan tangguh dalam menghadapi bencana.

“Kita semua harus bersiap menghadapi segala kemungkinan. Kewaspadaan dini, mitigasi, dan pelatihan secara berkala harus menjadi prioritas. Tidak hanya di kalangan relawan, tetapi juga masyarakat umum,” tegas Irwan Harun.

Pengukuhan SAR Hidayatullah Pinrang dan Parepare

Sebagai bagian dari agenda pertemuan, SAR Hidayatullah juga mengukuhkan tim relawan untuk wilayah Pinrang dan Parepare. Pengukuhan ini dilakukan langsung oleh Ketua SAR Hidayatullah Sulsel, Armin Karim.

Armin berharap dengan adanya tim SAR yang terorganisir di kedua wilayah ini, respons terhadap bencana bisa lebih cepat dan terarah, mengingat kedua wilayah tersebut sering dilanda bencana alam, khususnya banjir dan tanah longsor.

“Kita harus memperkuat sinergi di lapangan, baik di Pinrang maupun Parepare. Dengan adanya tim SAR yang kuat di wilayah-wilayah ini, kita bisa lebih sigap dalam merespons setiap bencana yang terjadi,” ujar Armin dalam sambutannya.

Armin juga mengungkapkan bahwa di akhir tahun 2024, SAR Hidayatullah merencanakan untuk mengadakan program pelatihan berskala nasional bagi para relawan Search and Rescue (SAR) di Sulawesi Selatan. Program ini akan menjadi ajang peningkatan kapasitas bagi para relawan dalam menangani berbagai jenis bencana, baik yang bersifat lokal maupun nasional.

“Insyaallah, di akhir tahun ini kita akan adakan training center nasional untuk meningkatkan kapasitas relawan SAR di Sulawesi Selatan,” tambahnya.

SAR Hidayatullah ditegaskan Armin juga akan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan lembaga terkait lainnya untuk memperkuat sistem peringatan dini dan tanggap darurat di wilayah Sulawesi Selatan.

Melalui kerjasama ini, diharapkan masyarakat dapat lebih cepat mendapatkan informasi yang akurat dan terpercaya ketika terjadi bencana, sehingga langkah-langkah penyelamatan bisa segera diambil. (ybh/hidayatullah.or.id)

Iman sebagai Energi Utama dalam Menjalankan Ajaran Islam

0

IMAN dalam ajaran Islam merupakan fondasi segala amal dan tindakan. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ustadz H. Dr. Nashirul Haq, MA, dalam acara Tabligh Akbar bertema “Energi Iman untuk Gerakan Dakwah” di Masjid Baitul Karim, Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, pada 21 September 2024 lalu.

Beliau menyatakan bahwa, “Iman adalah energi. Kekuatan inilah yang memotivasi dan menggerakkan untuk beramal shaleh, berhijrah, berjihad, dan berdakwah. Segala bentuk ajaran Islam hanya bisa dijalankan kalau ada energi iman.”

Pesan beliau ini menggambarkan betapa pentingnya iman dalam menjalankan setiap aspek kehidupan seorang Muslim. Iman bukan sekadar keyakinan yang statis, tetapi sebuah kekuatan dinamis yang menggerakkan jiwa menuju kebaikan dan pengabdian kepada Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an dan Hadis, iman kerap dijelaskan sebagai dasar dari segala bentuk ibadah dan kebaikan, yang tanpanya, tindakan manusia menjadi hampa makna.

Iman Sebagai Kekuatan Utama

Iman, dalam pandangan Islam, tidak sekadar meyakini keberadaan Allah SWT, tetapi juga mencakup pengamalan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam surah Al-Baqarah ayat 285, Allah SWT berfirman:

اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Mereka semua beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, (mereka mengatakan), ‘Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara rasul-rasul-Nya,’ dan mereka mengatakan, ‘Kami dengar dan kami taat.’ Mereka berdoa, ‘Ampunilah kami ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.'”

Ayat ini menunjukkan bahwa iman adalah totalitas keyakinan dan ketaatan. Seorang Muslim yang beriman tidak hanya percaya dalam hati, tetapi juga mewujudkan keimanan tersebut dalam bentuk amal perbuatan, sebagaimana dijelaskan oleh Ustadz Nashirul Haq.

Iman menjadi motor yang mendorong seorang Muslim untuk selalu bergerak menuju jalan yang diridhai oleh Allah SWT. Energi iman inilah yang menuntun seorang Muslim untuk beramal shaleh, berjihad, berdakwah, dan berhijrah—empat pilar utama yang dijelaskan oleh Ustadz Nashirul sebagai implementasi iman yang nyata.

Peran Iman dalam Amal Shaleh

Al-Qur’an secara konsisten mengaitkan iman dengan amal shaleh. Amal shaleh, dalam Islam, merupakan buah dari iman yang kokoh. Dalam surah Al-Asr, Allah SWT berfirman:

وَالْعَصْرِۙ. اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ. اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”

Ayat ini mengisyaratkan bahwa iman dan amal shaleh tidak dapat dipisahkan. Iman adalah dasar yang menuntun manusia untuk melakukan amal shaleh, dan amal shaleh menjadi bukti nyata dari iman yang dimiliki.

Tanpa iman, amal shaleh tidak memiliki pondasi yang kuat, sedangkan tanpa amal shaleh, iman tidak terwujud dalam tindakan. Inilah yang dimaksud dengan iman sebagai energi, di mana seorang Muslim terdorong untuk melakukan amal shaleh sebagai bentuk ketaatan dan pengabdian kepada Allah SWT.

Hijrah sebagai Manifestasi Iman

Salah satu manifestasi iman yang paling fundamental dalam sejarah Islam adalah hijrah. Hijrah, secara harfiah berarti “berpindah”, namun dalam konteks spiritual, hijrah mencerminkan perpindahan dari keburukan menuju kebaikan, dari kekafiran menuju keimanan.

Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah, yang merupakan langkah strategis dalam mengembangkan dakwah Islam.

Dalam surah An-Nisa ayat 100, Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةًۗ وَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۗ

“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai di tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.”

Hijrah tidak hanya dilihat sebagai perpindahan fisik, tetapi juga spiritual. Hijrah menunjukkan betapa iman dapat menggerakkan seseorang untuk meninggalkan kenyamanan dan keselamatan pribadi demi kebenaran. Energi iman inilah yang menggerakkan seorang Muslim untuk mengambil risiko, berkorban, dan berjuang demi tegaknya nilai-nilai Islam.

Jihad yang Didorong oleh Iman

Selain hijrah, jihad merupakan bentuk nyata lain dari manifestasi iman. Kata “jihad” berasal dari kata “jahada”, yang berarti “berjuang” atau “berusaha dengan keras”. Dalam tuntunan Islam, jihad berarti berjuang di jalan Allah, baik dalam bentuk perjuangan melawan hawa nafsu, melawan kebodohan, maupun dalam mempertahankan agama. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Hajj ayat 78:

وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهٖۗ هُوَ اجْتَبٰىكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍۗ مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَۗ هُوَ سَمّٰىكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ ەۙ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِۖ

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia.”

Jihad, dalam segala bentuknya, memerlukan energi iman yang besar. Tanpa iman yang kuat, seorang Muslim tidak akan mampu menghadapi berbagai tantangan dan pengorbanan yang diperlukan dalam jihad. Jihad bukanlah tindakan yang bisa dilakukan secara asal-asalan, tetapi harus berdasarkan keyakinan yang mendalam kepada Allah dan tujuan mulia dalam menegakkan agama-Nya.

Dakwah Penyebaran Kebenaran melalui Energi Iman

Dakwah, sebagai salah satu bentuk ibadah yang paling utama, juga didorong oleh energi iman. Dakwah bukan sekadar menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga mengajak umat manusia kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Imran ayat 104:

تَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Dakwah memerlukan ketulusan, keikhlasan, dan pengorbanan yang tinggi. Tanpa iman yang kuat, seorang da’i tidak akan mampu menghadapi rintangan dan tantangan dalam menyebarkan ajaran Islam.

Energi iman inilah yang menggerakkan para da’i untuk terus berdakwah meskipun menghadapi banyak kesulitan dan cobaan. Seperti yang disampaikan oleh Ustadz Nashirul Haq, dakwah hanya dapat berjalan dengan baik jika dilandasi oleh energi iman yang tulus dan mendalam.

Iman Pendorong Utama dalam Kehidupan

Iman, seperti yang disampaikan oleh Ustadz Nashirul Haq, adalah energi utama yang menggerakkan seorang Muslim dalam menjalankan ajaran Islam. Tanpa iman, segala bentuk ibadah dan kebaikan tidak akan memiliki makna yang sesungguhnya. Iman adalah kekuatan yang memotivasi seseorang untuk beramal shaleh, berhijrah, berjihad, dan berdakwah.

Dalam pandangan Islam, iman bukanlah sesuatu yang pasif, melainkan dinamis dan terus berkembang seiring dengan amal dan ketaatan kepada Allah SWT. Energi iman inilah yang membedakan seorang Muslim yang benar-benar taat dan berjuang di jalan Allah dengan mereka yang hanya menjalankan agama secara formalitas. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebaikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya.”

Dengan iman yang kokoh, seorang Muslim akan mampu menghadapi segala ujian dan tantangan hidup, karena ia tahu bahwa Allah selalu bersamanya dan bahwa setiap amal shaleh yang ia lakukan akan mendekatkan dirinya kepada-Nya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Training Paralegal di Sulsel Bekali Keilmuan Hukum bagi Dai dan Pengurus Pesantren

0

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 23 orang dari berbagai latar belakang mengikuti kegiatan pelatihan paralegal yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan pada 24-25 Rabi’ul Awal 1446 (28-29/9/2024).

Acara yang berlangsung selama dua hari tersebut digelar di Gedung Peradaban Hidayatullah Sulawesi Selatan, Parepare, dan bertujuan untuk memberikan pemahaman dasar mengenai hukum kepada para dai, guru, dan pengurus pesantren.

Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan literasi hukum di kalangan aktivis dakwah dan tenaga pendidik yang terlibat dalam pengelolaan pesantren.

Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut, Dr. Dudung A. Abdullah, M.Pd.I, MH, pendiri Kantor Firma Hukum DRDR, serta Hidayatullah, SH.I, M.Ag dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah, memberikan pemaparan komprehensif mengenai peran paralegal dalam masyarakat.

Dalam keterangannya, Sekretaris DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Sumaryadi, menjelaskan bahwa pelatihan paralegal ini bertujuan untuk memberikan bekal dasar bagi para dai, guru, dan pengurus pesantren agar memiliki keterampilan hukum. Namun, ia menjelaskan bahwa paralegal tidak berperan sebagai pengacara, melainkan sebagai mediator dan fasilitator dalam membantu masyarakat memahami hak dan kewajiban hukum mereka.

“Kami berharap melalui kegiatan ini, para dai, guru, dan pengurus pesantren akan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam pengadministrasian hukum, komunikasi dengan klien, serta penelitian hukum. Ini penting agar mereka dapat menjalankan peran mereka dengan lebih baik dalam mendampingi masyarakat,” ujar Sumaryadi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pelatihan paralegal ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman hukum di kalangan para dai, terutama dalam menghadapi situasi di mana dakwah atau lembaga yang mereka pimpin berhadapan dengan masalah hukum.

Kegiatan pelatihan paralegal yang diselenggarakan oleh DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan ini merupakan tapakan langkah dalam upaya meningkatkan literasi hukum di kalangan para dai dan pengurus pesantren. Diharapkan, melalui kegiatan ini, para dai tidak hanya akan memiliki keterampilan dasar dalam bidang hukum, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan yang mampu mendampingi masyarakat dalam memahami hak dan kewajiban hukum mereka.

Sumaryadi menjelaskan, sebagai lembaga yang berkomitmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan dakwah, Hidayatullah Sulawesi Selatan akan terus mengadakan kegiatan-kegiatan serupa di masa mendatang.

Dengan semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi oleh para dai dalam menjalankan tugas dakwah, pelatihan paralegal ini diharapkan dapat menjadi bekal penting bagi mereka dalam menghadapi berbagai permasalahan hukum yang mungkin muncul di kemudian hari. Lebih dari itu, dia menambahkan, pelatihan ini juga diharapkan dapat membuka jalan bagi terciptanya kesadaran hukum yang lebih luas di kalangan masyarakat.

Kegiatan ini juga merupakan bentuk kolaborasi antara DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan dan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Sulawesi Selatan. Ketua Laznas BMH Sulsel, Kadir, menekankan pentingnya pelatihan ini sebagai bagian dari upaya menjaga marwah para dai dan lembaga-lembaga dakwah di bawah naungan Hidayatullah.

“Para dai wajib menjaga marwah diri dan lembaga. Penting bagi dai untuk memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para dai dapat lebih memahami aspek hukum yang terkait dengan tugas dan peran mereka di masyarakat,” jelas Kadir.

Ia juga menambahkan bahwa pelatihan ini tidak hanya akan memberikan pemahaman dasar mengenai hukum, tetapi juga akan membekali para dai dengan keterampilan yang diperlukan untuk melindungi diri dan lembaga mereka dari berbagai masalah hukum yang mungkin timbul di kemudian hari.

Dai Harus Melek Hukum

Dudung dalam sesinya menekankan pentingnya pemahaman hukum bagi para dai, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan yang sering muncul dalam aktivitas dakwah. Ia menegaskan bahwa persoalan hukum bisa menimpa siapa saja, termasuk para aktivis dakwah dan lembaga dakwah.

“Persoalan hukum bisa menimpa siapa saja, termasuk para aktivis dakwah. Ada dai yang difitnah, ada juga dai yang lembaganya dipersoalkan secara hukum. Tidak sedikit yang seperti itu. Jadi, dengan pelatihan ini, kami berharap teman-teman dai dapat memiliki edukasi hukum yang baik,” ujar Dudung di hadapan para peserta pelatihan.

Direktur LBH Hidayatullah ini juga menekankan bahwa pelatihan ini bukan dimaksudkan untuk menjadikan para dai sebagai pengacara, tetapi lebih kepada memberikan bekal dasar mengenai hukum agar mereka dapat memahami prosedur hukum, hak dan kewajiban sebagai warga negara, serta bagaimana berperan sebagai jembatan antara masyarakat dengan lembaga hukum yang lebih kompeten.

Dudung menjelaskan bahwa paralegal memiliki peran penting dalam mendampingi masyarakat yang kurang memiliki akses terhadap bantuan hukum formal.

“Paralegal bukanlah pengacara, tetapi mereka dapat menjadi perpanjangan tangan masyarakat dalam memahami permasalahan hukum. Ini adalah peran penting yang dapat dimainkan oleh para dai di masyarakat,” tambahnya.

Selain Dr. Dudung, pemateri lain yang juga memberikan sajian dalam kegiatan ini, Hidayatullah, SH.I, M.Ag dari LBH Hidayatullah, menekankan pentingnya peran paralegal dalam pengelolaan lembaga dakwah dan pesantren. Menurutnya, paralegal dapat membantu para dai dan pengurus pesantren dalam menjalankan tugas-tugas administratif yang berhubungan dengan hukum.

“Dalam mengelola pesantren, sering kali kita dihadapkan pada berbagai persoalan hukum, baik itu terkait administrasi, keuangan, maupun hubungan dengan masyarakat sekitar. Dengan pemahaman dasar mengenai hukum, para dai dan pengurus pesantren dapat mengantisipasi berbagai persoalan tersebut dan mengelolanya dengan baik,” jelas Hidayatullah.

Hidayatullah juga menyebutkan bahwa pelatihan paralegal ini dapat menjadi pintu masuk bagi para dai untuk lebih memahami sistem hukum di Indonesia, sehingga mereka dapat berperan lebih aktif dalam mendampingi masyarakat, khususnya dalam hal yang berkaitan dengan permasalahan hukum.*/Herim

Sosialisasi Wujudkan Implementasi Program Zakat yang Rapi, Aman, dan Bermanfaat

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Sumatera Utara menggelar acara sosialisasi juknis laporan program dan MoU (Memorandum of Understanding) bagi mitra implementasi program pada Selasa, 27 Rabi’ul Awal 1446 (1/10/2024).

Acara yang berlangsung di Kantor BMH Sumut ini dihadiri oleh perwakilan dari lembaga mitra, yaitu Yayasan Darul Dakwah Medan, Yayasan Perguruan Panca Hidayah (YPPH) Medan – Kampus Utama, dan Hidayatullah Sumatera Utara.

Sosialisasi ini bertujuan untuk menyamakan persepsi tentang program, meningkatkan kerapian administrasi pelaksanaan program, serta saling memudahkan dalam implementasi program.

Program-program yang dikerjasamakan meliputi Rumah Quran, Logistik Santri, dan Dakwah Daerah.

“Dengan adanya panduan ini, kita menjadi lebih tertata dalam melaksanakan program. Ini sangat membantu kami dalam memenuhi kebutuhan santri,” ujar Fiman Hadait Munthe, Bendahara YPPH Medan – KU.

Ketua Yayasan Darul Dakwah, Muslih Akbar, juga menyampaikan apresiasinya. “Alhamdulillah, kami kembali dipercaya menjadi mitra kebaikan BMH dalam program Rumah Quran. Saat ini ada 21 unit RQ binaan kami,” ungkapnya.

Kadiv Prodaya BMH Sumut, Osman Ali, menekankan pentingnya sosialisasi ini untuk memastikan program berjalan dengan aman secara syari, regulasi, dan NKRI.

Acara sosialisasi ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara BMH Sumut dan lembaga mitra dalam mewujudkan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat.*/Herim

Tebar Cahaya Al-Qur’an di Lingga, Perkuat Dakwah dan Pembangunan Manusia

0

LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Di tengah hamparan lautan biru Kepulauan Riau, gugusan pulau-pulau indah di Kabupaten Lingga menyimpan tantangan dakwah yang signifikan. Akses terbatas, termasuk sulitnya memperoleh Al-Qur’an, menjadi kendala bagi masyarakat setempat dalam memperdalam ilmu agama.

Untuk mengatasi hal ini, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) mengambil langkah penting dengan memperkuat dakwah dan pembangunan manusia di Lingga.

Pada Senin, 26 Rabi’ul Awal 1446 (30/9/2024), BMH menyerahkan bantuan Al-Qur’an kepada Ust. Badiul Hasan, Ketua MUI Kabupaten Lingga, di Pesantren Hidayatullah Lingga.

“Bantuan ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat, terutama para mualaf, untuk mempelajari dan memahami Al-Qur’an,” jelas Fatahillah, Kepala BMH Perwakilan Kepulauan Riau.

Ust. Badiul Hasan menyambut dukungan tersebut dengan penuh syukur. “Al-Qur’an adalah pedoman hidup umat Islam. Dengan tambahan Al-Qur’an ini, kami optimis dakwah di Lingga akan semakin berkembang.”

Imam Nawawi, Kepala Humas BMH Pusat, menegaskan komitmen BMH dalam mendukung dakwah dan pembangunan manusia. “Kami percaya Al-Qur’an adalah sumber ilmu dan petunjuk hidup yang akan membawa masyarakat ke arah kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.

Penyerahan ini bukan sekadar aksi simbolis, tetapi langkah nyata untuk memberdayakan masyarakat melalui pendidikan agama. Diharapkan, masyarakat Lingga dapat memperkuat iman dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

BMH berharap bantuan ini membawa dampak positif bagi dakwah dan pembangunan manusia di Lingga, menjadikan masyarakat lebih dekat dengan ajaran Islam serta menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan berkah.*/Herim

Hari Kesaktian Pancasila Bersama Gaungkan Nasionalisme dan Zakat

0

KUDUS (Hiadyatullah.or.id) — Memperingati Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2024, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggugah semangat nasionalisme dan kepedulian sosial melalui talkshow di Radio Manggala Kudus 100.4 FM (jaringan Radio Thomson).

Ustadz Aqiful Khoir, konsultan zakat sekaligus amil BMH Jawa Tengah, hadir sebagai narasumber, membagikan inspirasi mengenai pentingnya zakat dalam mewujudkan Indonesia yang bermartabat, maju, dan sejahtera.

“Melalui peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini, mari kita wujudkan Indonesia yang bermartabat, maju, dan sejahtera dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan menunaikan zakat,” ujar Ustadz Aqiful Khoir, seperti dalam keterangannya diterima media ini, Rabu, 28 Rabi’ul Awal 1446 (2/10/2024).

Menurutnya, zakat adalah kewajiban sosial yang menghubungkan sesama manusia. “Semua perlu bersinergi dan bersegera membayar zakat.”

Di akhir acara, ia mengajak seluruh pendengar untuk memajukan maslahat umat melalui zakat. “Mari majukan maslahat umat bersama zakat,” tegasnya.

Acara ini mengusung tema “Perkuat Nasionalisme dengan Mengamalkan Nilai-Nilai Pancasila dan Menunaikan Zakat untuk Mewujudkan Indonesia Sejahtera” dan disiarkan secara live serta streaming di radiothomson.com.

Manajer Radio Manggala Kudus, Aldi Alfian, mengungkapkan antusiasmenya. “Insya Allah, kerja sama ini akan terus berlanjut,” ujarnya. Salah satu pendengar, Oemar dari Kota Kudus, juga tertarik untuk berzakat melalui BMH karena layanan jemput zakat yang mudah.

Eko Kusniyanto, Koordinator BMH Jawa Tengah Gerai Kudus, menekankan pentingnya literasi zakat dan infak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Eko berharap momentum Hari Kesaktian Pancasila ini menggerakkan kesadaran masyarakat untuk mempercayakan zakat, infak, dan sedekah kepada lembaga resmi seperti Laznas BMH.

Talkshow ini adalah contoh sinergi antara media dan lembaga amil zakat dalam mengedukasi masyarakat dan mendorong semangat kebaikan. Diharapkan program ini memberi dampak positif bagi peningkatan partisipasi masyarakat dalam berzakat.*/Herim