Beranda blog Halaman 168

Daurah Marhalah Wustho Membangun Kader Hidayatullah yang Berkarya Nyata

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Semangat berkobar dari wajah para calon wisudawan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIL) Luqman Hakim Pesantren Hidayatullah Surabaya begitu tampak menyala, Senin, 21 Shafar 1446 (26/8/2024).

Tertangkap suasana bahwa ada pesan penting disampaikan, bahwa kader Hidayatullah harus siap berkarya nyata, hari ini juga.

Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Muhammad Shaleh Usman, mengingatkan bahwa Hidayatullah lahir dari nol, tanpa fasilitas memadai.

Namun, berkat komitmen kuat pada manhaj, dakwah, dan tarbiyah, organisasi ini berhasil berkembang pesat hingga menjangkau seluruh Nusantara.

“Kunci sukses generasi awal adalah kesadaran yang terkoneksi kuat dengan manhaj,” tegas Shaleh Usman.

“Jika hari ini kita telah difasilitasi namun tak mampu berkarya, berarti ada yang perlu dibenahi dalam sistem kesadaran kita,” tambahnya menegaskan.

Pesan ini menjadi cambuk sekaligus motivasi bagi para kader muda Hidayatullah. Di era serba canggih ini, fasilitas bukanlah penghalang untuk berkarya.

Justru, dengan bekal manhaj yang kuat, mereka diharapkan mampu menghadirkan karya-karya inovatif yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.

“Masa depan akan baik-baik saja, bahkan lebih baik, jika kita memegang teguh manhaj,” lanjut Shaleh Usman.

“Maka, berpikirlah tentang apa yang bisa kita buat hari ini. Karya apa yang siap kita hadirkan? Karena dahulu generasi awal mampu, lalu apa yang mencegah generasi sekarang tidak bisa?” tegasnya.

Daurah Marhalah Wustho ini bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah momentum penting untuk menanamkan semangat berkarya dan berjuang dalam diri setiap kader Hidayatullah.

Mereka diharapkan tak hanya menjadi generasi penerus, tapi juga pelopor perubahan yang membawa organisasi ini menuju puncak kejayaan.

Di pundak mereka, masa depan Hidayatullah dipertaruhkan. Dengan bekal ilmu dan semangat yang membara, mereka siap melangkah maju, mewujudkan cita-cita luhur organisasi, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan umat dan bangsa.*/Herim

Halaqah Kubro Hidayatullah Merajut Ukhuwah Membangun Negeri

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Semangat kebersamaan dan tekad untuk berkontribusi bagi umat dan bangsa menjadi energi besar dalam rapat virtual gabungan Dewan Murabbi Wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten yang berlangsung secara daring, Senin, 21 Shafar 1446 (26/8/2024).

Halaqah Kubro, sebuah ajang silaturahmi akbar keluarga besar Hidayatullah, menjadi fokus utama pembahasan malam itu.

Ustadz Muhammad Dirlis Karyadi, Ketua Dewan Murabbi Wilayah Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi, menegaskan pentingnya Halaqah Kubro ini meninggalkan kesan mendalam dan dirindukan setiap tahun.

Lebih dari sekadar pertemuan, acara ini kaat Karyadi diharapkan menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah, memperkuat sinergi, dan membangkitkan semangat berkarya bagi kemajuan umat dan bangsa.

“Tema Halaqah Kubro tahun ini, ‘Peran Strategis Hidayatullah untuk Indonesia Bermartabat’, adalah sebuah panggilan bagi kita semua untuk merenungkan kontribusi nyata yang bisa kita berikan,” ujar Ustadz Karyadi.

Berbagai persiapan matang tengah dilakukan. Mulai dari penggalangan dana partisipatif, kajian pra-acara, hingga penyusunan acara yang menarik dan melibatkan berbagai elemen, termasuk para pemuda. Semangat gotong royong dan kolaborasi menjadi kunci sukses acara ini.

“Mari kita jadikan Halaqah Kubro ini sebagai wadah untuk saling menginspirasi, berbagi pengalaman, dan memperkuat tekad kita untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Terlebih acara ini akan dihadiri langsung oleh Pemimpin Umum,” ajak Karyadi.

Di balik setiap detail persiapan, tersimpan harapan besar akan lahirnya generasi-generasi Hidayatullah yang berdaya, berakhlak mulia, dan siap menjawab tantangan zaman.

Halaqah Kubro bukan sekadar ajang seremonial, tapi sebuah momentum strategis untuk meneguhkan komitmen dan merapatkan barisan untuk kemajuan bangsa.

Ketika ribuan kader Hidayatullah berkumpul, energi positif akan terpancar, ide-ide brilian akan bermunculan, dan semangat perjuangan akan berkobar. Inilah kekuatan ukhuwah, kekuatan kebersamaan yang mampu melahirkan perubahan besar.

Mari kita sambut Halaqah Kubro dengan hati terbuka dan semangat berkarya.

“Bersama-sama, mari kita sukseskan Halaqah Kubra ini dengan sebaik-baiknya. Kita wujudkan Indonesia bermartabat, Indonesia yang maju dan sejahtera, di bawah naungan ridho Ilahi,” tutup Ustaz Karyadi.*/Herim

Berjuang Seratus Persen, Bekerja Seratus Persen dan Berkontribusi Positif untuk Masyarakat

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Muhammad Saddam S.Ak., M.A.k, mengajak mahasiswa untuk berjuang seratus persen dan bekerja seratus persen. Berjuang dan bekerja 100% ini sebagai metafora komitmen untuk sukses dengan keseimbangan antara pengabdian penuh dan dedikasi total dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam konteks kiprah kebaikan di Hidayatullah.

“Maka saya berharap ikuti kegiatan ini dengan sebaik mungkin, karena kita berjuang seratus persen dan bekerja seratus persen,” kata Saddam.

Ia menyampaikan tersebut di hadapan mahasiswa saat membuka Training Center (TC) 40 hari lanjutan untuk mahasiswa boarding Semester VIII dan calon wisudawan di Aula Abdullah Said, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Ahad malam, 20 Shafar 1446 (26/8/2024).

Berjuang seratus persen, jelasnya, adalah sebagai semangat untuk terus belajar, beradaptasi, dan bertahan di tengah persaingan yang ketat mencakup kemampuan untuk menghadapi tantangan, mengambil inisiatif, dan tidak mudah menyerah.

Sementara itu, bekerja seratus persen merujuk pada etos kerja yang tinggi, di mana kita bekerja dengan penuh dedikasi, integritas, dan profesionalisme. Menjalankan setiap tugas dengan sungguh-sungguh, tidak setengah-setengah, dan selalu berorientasi pada hasil yang terbaik.

Keseimbangan antara kesungguhan dalam perjuangan dan dedikasi di dunia pekerjaan ini adalah kunci untuk mencapai kesuksesan dalam karir. Ketika mampu menggabungkan keduanya, mahasiswa akan menjadi kader leader yang produktif dan efisien.

Saddam menekankan pentingnya kegiatan yang diadakan selama 40 hari ini bagi mahasiswa boarding. Menurutnya, kegiatan ini merupakan salah satu syarat penting menuju wisuda sekaligus menjadi penutup dari rangkaian KKN (pengkaryaan) dan tugas akhir yang telah dijalani. TC 40 hari ini dirancang untuk mengasah kemampuan dan karakter mahasiswa sehingga siap menjadi pemimpin visioner di masa depan.

Saddam menegaskan bahwa setiap mahasiswa boarding wajib mengikuti kegiatan ini. Dia menegaskan, kegiatan ini bukan hanya sekadar ritual akademik, tetapi sebuah proses pembentukan diri dimana mahasiswa diuji dan ditempa untuk menjadi individu yang lebih kuat, berkomitmen, dan berdaya saing.

Pra Wahyu

Masih dalam sambutannya, Saddam memaparkan konsep Manhaj Sistematika Wahyu (SW) yang coba direaktualisai dalam landasan pendidikan di STIE Hidayatullah. SW pada pra wahyu mencakup fase keyatiman, mengembala kambing, berdagang, berkhadijah, dan bergua hira Rasulullah.

Fase perikehidupan Rasulullah dalam Pra Wahyu ini, tegas Saddam, adalah sebuah panduan hidup yang mencerminkan perjalanan spiritual dan intelektual yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa.

“Momen kalian saat ini adalah fase bergua hira,” ujar Saddam, menggambarkan momen ini sebagai saat di mana mahasiswa dijauhkan dari distraksi modern seperti handphone dan kendaraan, untuk lebih fokus pada pengembangan diri. Ini adalah fase penting di mana fokus dan kesadaran penuh diperlukan untuk mendalami diri dan materi yang akan disampaikan.

Filosofi bergua hira yang diterapkan dalam kegiatan ini sebagai momen untuk refleksi dan transformasi. Mahasiswa diajak untuk menarik diri dari kesibukan dunia luar dan fokus pada pengembangan diri. Ini adalah kesempatan di mana mereka dapat menggali potensi terdalam dan mempersiapkan diri untuk tantangan besar di masa depan.

Saddam menyampaikan bahwa mahasiswa yang mengikuti TC ini adalah orang-orang pilihan. “Kalian ini mahasiswa pilihan karena di kampus lain tidak ada seperti ini, cuman ada di Hidayatullah dan ini sudah lama dilakukan bahkan sejak Hidayatullah berdiri,” katanya.

Saddam menekankan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengembalikan esensi pendidikan serta menempa mahasiswa menjadi pemimpin yang visioner, berwawasan luas, dan manhaji. Pada akhirnya, mereka diharapkan hadir untuk memberi manfaat bagi umat.

Saddam juga memberikan dorongan kepada mahasiswa agar tak perlu galau dalam menghadapi tugas ikatan dinas yang kelak akan dijalankan setelah diwisuda.

Penugasan ini sebagai bagian dari penyerapan bursa kerja bagi mahasiswa di berbagai daerah di Indonesia yang membutuhkan sumber daya yang cakap dalam bidang ekonomi.

“Jangan takut untuk tugas, karena kalian akan diberikan semua materinya oleh para instruktur dan pemateri yang paham di bidangnya,” tegasnya.

Waka IV STIE Hidayatullah Bidang Keasramaan & Pengkaderan, Alfarobi Nur Karim, di kesempatan yang sama, menyampaikan kegiatan TC 40 hari ini dirancang untuk menantang mahasiswa dalam berbagai aspek, baik secara individu maupun dalam konteks masyarakat.

Mahasiswa diajak untuk menghadapi diri sendiri, mengenali kekuatan dan kelemahan mereka, serta bagaimana mereka dapat berkontribusi secara positif di masyarakat. */Mhd Zuhri Fadhlullah

STIE Hidayatullah Gelar TC 40 Hari untuk Mahasiswa Tingkat Akhir

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Sebagai institusi pendidikanyang memiliki visi menuju perguruan tinggi dengan kualitas bertaraf internasional, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah terus berupaya tingkatkan kualitas lulusannya.

Salah satu program unggulan yang dilaksanakan adalah Training Center (TC) lanjutan untuk mahasiswa boarding Semester VIII dan calon wisudawan, yang tahun ini diikuti oleh mahasiswa boarding semester VIII,

Ketua STIE Hidayatullah, Muhammad Saddam S.Ak., M.Ak, mengatakan program ini menjadi bagian dari komitmen STIE Hidayatullah untuk mencetak lulusan yang unggul secara akademis dan siap menghadapi dunia kerja dengan keterampilan yang memadai.

Ia menyampaikan program TC ini wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa boarding karena merupakan salah satu syarat menuju wisuda. Dalam sambutannya, Saddam menyampaikan pentingnya program ini dalam mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang visioner dan berwawasan luas.

Saddam juga mengangkat konsep Sistematika Wahyu (SW) pra wahyu pada fase keyatiman Rasulullah. Ia mengajak para mahasiswa untuk merenungkan fase hidup mereka saat ini sebagai “fase Gua Hira,” di mana mereka dijauhkan dari berbagai distraksi modern seperti handphone dan kendaraan, untuk lebih fokus pada pengembangan diri.

“Momen kalian saat ini adalah fase bergua hira,” ujar Saddam, saat membuka kegiatan tersebut di Aula Abdullah Said, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Ahad malam, 20 Shafar 1446 (26/8/2024).

seraya menjelaskan program TC ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan teknis, membangun karakter pemimpin yang visioner, berwawasan luas, dan manhaji.

Ia menekankan pentingnya mengikuti setiap kegiatan TC dengan disiplin. Ia mengingatkan para mahasiswa bahwa program ini dirancang untuk menempa mereka menjadi individu yang kuat, baik dari segi mental maupun spiritual.

Ainul Yakin, salah satu mahasiswa yang mengikuti program ini, menyatakan kesiapannya untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh. Ia berharap program ini dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat yang besar bagi dirinya dan rekan-rekannya.*/Mhd Zuhri Fadhlullah

Pengecoran Masjid At-Taufiq Simbol Cinta dan Pengabdian di Bumi Seribu Goa

0

BUTENG (Hidayatullah.or.id) — Warga dan santri Pesantren Hidayatullah Kepton melaksanakan kerja bakti pengecoran Masjid At-Taufiq, Pondok Pesantren Hidayatullah Lombe, berlokasi di Jalan Poros Lombe-Lakapera, Kelurahan Watulea, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, Ahad, 21 Shafar 1446 H (25/08/24).

Kegiatan yang dimulai sejak jam 6 pagi ini dibuka dengan tausiyah singkat dan do’a oleh Murabbi Hidayatullah Kepton sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesantren Hidayatullah Baubau Ust. Mahrus Salam, S.Pd.I.

“Sebelum kita bermujahadah, berikhtiar, dan bekerja, sebagaimana perintah Allâh, mari kita bermunajat agar selalu dalam perlindungan-Nya,” katanya.

Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Lombe, Ust. Hadiman, S.Pd.I. mengungkapkan rasa terima kasih atas bantuan dan dukungan dari semua pihak.

Pesantren yang pertama berdiri di Kecamatan Gu ini diperkirakan akan merampungkan pembangunan masjid yang berukuran 16×14 m² di awal tahun 2025 nanti.

“Mohon do’a dan dukungannya agar masjid bisa segera difungsikan untuk pembinaan pendidikan dan dakwah yang berkelanjutan di Bumi Seribu Goa ini,” harap Hadiman.

Turut hadir dalam amal kebaikan ini, Ketua Badan Pembina Pesantren Hidayatullah Lombe Ust. Abd Syukur, Ketua Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah (DPDH) Buteng Ust. Muh Nurdin, Ketua DPDH Baubau Ust. Achmad Mujaddid, dan Ketua DPDH Busel Ust. M Ali Basyir.

Hadir pula Ketua DPDH Muna Ust. Muzakkar Salim, Ketua DPDH Muna Barat Ust. Abdul Azis, Kasat Binmas Polres Buton Tengah AKP La Bela, Muslimat Hidayatullah Kepton, serta didukung oleh Mitra Zakat BMH Baubau.*/Noer Akbar

Tentang Usaha untuk Terkenal dan Genggam Kebaikan dalam Sunyi

0

DICERITAKAN, di suatu kampung ada seorang kakek yang punya kebiasaan unik dalam berinfak. Pada hari Jum’at, ketika kotak infak diedarkan di masjidnya, ia segera merogoh saku dan memasukkan uang dengan tangan kanannya. Namun, secara bersamaan ia juga menyembunyikan tangan kirinya ke belakang punggungnya.

Karena penasaran, seseorang bertanya kepada beliau mengapa berbuat demikian. Sang kakek menjawab, “Lho, kan, ada haditsnya. Ketika berinfak, jangan sampai tangan kiri kita melihat apa yang diberikan oleh tangan kanan”.

Kakek itu benar, walau pemahaman beliau terhadap hadits diatas melulu harfiah. Beliau merujuk sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah, tentang tujuh golongan yang dilindungi Allah pada Hari Kiamat kelak.

Sebetulnya, yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah kiasan betapa tersembunyinya infak yang disalurkan, seolah-olah sepasang tangan kita pun tidak saling tahu, apalagi orang lain.

Begitulah mestinya dalam beramal. Jangan digembar-gemborkan. Sebab pada kenyataannya, Allah tidak pernah luput dalam mencatat dan membalas. Diriwayatkan bahwa Nabi ‘Isa pernah bersabda:

“Jika tiba hari puasa salah seorang dari kalian, maka minyakilah jenggot kalian dan basahi bibir kalian, sehingga orang menyangka bahwa kalian tidak berpuasa. Bila memberi sesuatu dengan tangan kanan, maka sembunyikan agar tidak diketahui oleh tangan kiri. Jika shalat di rumah, maka pasanglah tabir; karena sesungguhnya Allah membagikan sanjungan sebagaimana Dia membagikan rezeki.” (Riwayat Ibnu Abu Dunia dalam al-Ikhlash wan Niyyah).

Akan tetapi, sayangnya, adab dalam beramal yang seperti ini sudah tidak laku lagi di zaman sekarang. Sepertinya, seseorang tidak puas hanya mendapat sanjungan dari Allah dan dijanjikan keberuntungan di surga. Ia menginginkan balasan instan dan kongkret, kontan di dunia ini.

Maka, dibuatlah banner-banner raksasa yang dipajang di jalan-jalan protokol di setiap kota besar maupun kecil, juga pamflet-pamflet yang dipasang di pohon, tiang listrik, poskamling, tembok pembatas, mulut gang, bahkan jembatan dan fasilitas umum. Semoga semua orang tahu siapa dia dan apa saja yang telah diperbuatnya.

Nilai-nilai amal shalih yang mestinya dipersembahkan hanya untuk Allah dan menjadi tabungan di akhirat, kini dideretkan di sepanjang jalan. Tidak cukup sampai di situ, karena sebagian orang juga memasang advertising amal shalihnya di media massa, mulai dari koran, majalah, internet, televisi, radio, bahkan jejaring sosial dan SMS.

Maka, tataplah seluruh wajah dan jargon yang dicetak besar-besar itu. Bertanyalah, apa sebenarnya yang kita inginkan dengan semua ini? Siapa sebenarnya yang kita tiru?

Padahal, menurut ulama’ terdahulu, amal terbaik justru yang disembunyikan, bukan yang disiar-siarkan. Al-Fudhail bin ‘Iyadh (w. 187 H) berkata, “Sebaik-baik amal adalah yang paling tersembunyi, yang paling kokoh dari godaan syetan, dan paling jauh dari riya’.” (Riwayat Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Bahkan, di mata para Sahabat, perbuatan seperti itu dianggap sebagai sebuah dosa yang sangat besar. Buraidah bin Hushaib al-Aslami bercerita, “Aku turut menyaksikan Penaklukan Khaibar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku termasuk salah seorang yang memanjat celah (di benteng Yahudi), lalu aku bertempur sehingga beliau bisa melihat luka-luka yang aku dapatkan dan juga kedudukanku. Aku pun terluka, dan aku mengenakan baju berwarna merah (ketika itu). Sungguh aku tidak mengetahui satu pun dosa yang pernah aku lakukan dalam Islam yang lebih besar dari itu, yaitu keinginan menjadi terkenal.” (Riwayat Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqa).

Sedemikian kerasnya ulama’ terdahulu dalam menyembunyikan amal, sampai-sampai istrinya sendiri tidak tahu, padahal mereka tidur satu bantal. Selama 20 tahun mereka sering menangis karena takut kepada Allah, namun keluarganya tidak pernah memergokinya.

Ketika mereka mengerjakan shalat berjamaah lalu hati mereka tergetar dan mata mereka menangis mendengar ayat-ayat Allah, bahkan teman di sampingnya pun tidak menyadarinya.

Muhammad bin Wasi’ (Tabi’in, w. 123 H) bercerita, “Sungguh saya telah menjumpai banyak tokoh. Ada seseorang (diantara mereka) yang mana kepalanya dan kepala istrinya sama-sama berada di atas satu bantal. Sungguh bantal yang berada di bawah pipinya telah basah oleh air matanya, namun istrinya tidak menyadarinya. Demi Allah, sungguh aku telah mendapati banyak tokoh; salah satu dari mereka berdiri dalam barisan (shalat berjamaah), lalu air mata mengalir membasahi pipinya, namun teman di sampingnya tidak menyadarinya.” (Riwayat Ibnu Abi Dunia dalam an-Ikhlash wan Niyyat no. 36).

Beliau juga bercerita, “Sungguh ada seseorang yang menangis selama 20 tahun, dan istrinya selalu bersamanya, tetapi istrinya itu tidak pernah mengetahuinya.” (Riwayat Ibnu Abi Dunia dalam an-Ikhlash wan Niyyat no. 51).

Bagaimana dengan kita di zaman ini? Mengapa lebih suka memamerkan amal melalui aneka saluran dan cara? Hasan al-Bashri (Tabi’in, w. 110 H) berkata, “Ada seseorang yang tekun beribadah selama dua puluh tahun, tapi tetangganya tidak mengetahuinya”.

Setelah mengutip riwayat ini, Hammad bin Zaid berkomentar, “Boleh jadi, salah seorang dari kalian shalat semalam suntuk atau sebagian malam saja, lalu pada pagi harinya sudah (dibicarakan) panjang lebar oleh tetangganya.” (Riwayat Ibnu Abi Dunia dalam an-Ikhlash wan Niyyat no. 39).

Namun, sekarang mari kita tinggalkan orang-orang yang gemar menyiarkan kebaikannya melalui baliho-baliho itu, dan kita beralih kepada orang-orang lain yang sebenarnya sama saja. Intinya serupa, walau caranya sedikit berbeda.

Tengoklah status facebook teman-teman Anda, juga milik Anda sendiri. Apa yang ter-update-kan di dalamnya? Bukankah sebagian besar orang didorong untuk pamer segala rupa pernik kehidupannya? Tidak cukup dengan foto-foto genit yang dipajang, bahkan aktivitas harian pun diperbaharui terus-menerus.

Seolah-olah kita sangat berharap agar dunia tahu, bahkan seisi jagad raya mengenal kita luar dalam. Kita dibuat merasa sebagai tokoh besar yang wajib diketahui seluruh sisi kehidupannya, tidak peduli penting ataukah tidak.

Sungguh aneh, kita memagari tempat tinggal kita dengan teralis-teralis besi, memasang tirai di seluruh jendela dan pintu, membuat dinding rumah yang tebal dan permanen, agar rahasia kita tertutupi dan aurat kita terlindung; namun pada saat bersamaan kita justru membongkar seluruh yang kita sembunyikan itu melalui jejaring sosial. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!

Di titik ini, bila kita hendak berbaik sangka, semoga kebaikan-kebaikan yang mereka sembunyikan jauh lebih banyak lagi. Jika tidak, pasti hanya tersisa aib dan cacat belaka, karena kebaikan-kebaikannya sudah disiarkan seluruhnya. Maka, sebelum jauh dan terlanjur, berhentilah.

Sebelum Allah membongkar aib kita, tutuplah rapat-rapat. Takutlah kepada ancaman Allah, yang sanggup merobek tirai paling tebal sekali pun. Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa yang menyiar-nyiarkan kebaikannya, niscaya Allah akan menyiar-nyiarkan pula keburukannya. Barangsiapa yang mempelihat-lihatkan kebaikannya, niscaya Allah akan memperlihat-lihatkan pula keburukannya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Sepertinya, sabda Rasulullah ini telah terbukti di zaman kita. Belum lama wajah-wajah tertentu kita kenal hanya lewat kebaikan-kebaikan yang disiarkannya, namun tiba-tiba wajah-wajah yang sama telah menghiasi media massa dikarenakan segala aib dan kejahatannya. Na’udzu billah min dzalik!. Wallahu a’lam.

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh Yayasan Pendidikan Integral (YPI) Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu, Malang, Jawa Timur

Rakha Zuhdi Tekuni Al Qur’an, Cinta Matematika, dan Ikut InIMC 2024 di India

SEPERTI biasa, bersama santri lainnya, anak laki laki itu tampak sedang asyik menyantap hidangan makan malam bersama teman temannya di Aula Makan Terbuka Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Bara, malam itu.

Remaja tersebut, Muhammad Rakha Zuhdi, tampak asik bercengkrama dengan temen temennya seraya menikmati sajian usia shalat magrib tersebut.

Rakha Zuhdi baru saja pulang dari mengikuti ajang kompetisi bergengsi di luar negeri yaitu Indian International Mathematics Competition (InIMC) 2024 di negara Sayyid Ahmad Khan. Dia berbagi cerita dengan teman temanya mengenai perjalanannya itu.

Selama 5 hari di Kota Lucknow, Uttar Pradesh, India, di ajang kompetisi Matematika ini Rakha Zuhdi bertemu dengan peserta olimpaide lainnya dari berbagai negara yang berlangsung selama 5 hari pada tanggal 26 hingga 31 Juli 2024 lalu.

Partisipasi dalam kompetisi InIMC 2024 ini melalui penjaringan dimana setiap tim harus terdiri dari maksimal 6 anggota yaitu seorang ketua tim, seorang wakil ketua dan 4 siswa.

Adapun negara negara mantan tuan rumah penyelenggara InIMC seperti Bulgaria, Tiongkok, Hong Kong, Makau, Filipina, Afrika Selatan, Korea Selatan, Taiwan dan Thailand dapat mengirimkan hingga empat tim.

Kesempatan dapat mengikuti ajang internasional dan berinteraksi dengan peserta dari 30 negara lainnya membuat Rakha Zuhdi amat senang dan bersyukur.

InIMC 2024 di Lucknow, Uttar Pradesh, Prindavan (Foto: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)

“Alhamdulillah, bersyukur dan senang banget bisa ikut ajang ini,” katanya yang ditemui media ini di Mulia Mart, minimarket swalayan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jum’at, 18 Shafar 1446 (23/8/2024).

Rakha, begitu ia karib disapa, mewakili Kota Depok di ajang kompetisi yang berlangsung di negara yang dikenal sebagai pengasil SDM cemerlang di bidang teknologi tersebut.

Membawa nama Indonesia di kancah internasional, perjalanan Rakha menuju prestasi ini dimulai dari kecintaannya terhadap matematika yang telah ia tumbuhkan sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Santri berusia 15 tahun ini terpilih sebagai salah satu dari delapan peserta yang mewakili Indonesia dalam olimpiade matematika tingkat internasional di India, dari ratusan peserta seleksi skala nasional, Rakha menjadi satu-satunya peserta dari Kota Depok yang lolos seleksi, bersama peserta lain dari Jakarta, Bekasi, Bogor, dan Surabaya.

Selama di India, Rakha dan tim Indonesia berhasil meraih dua Merit Award, sebuah pencapaian yang membanggakan tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi Indonesia. Meskipun penghargaan ini diraih secara tim, prestasi Rakha tetap istimewa karena dedikasinya dalam menghadapi tantangan di level internasional.

Anak dari pasangan Ilhas Sanusi dan Sri Anggrayani mengaku sangat bersyukur atas kesempatan tersebut. Dia pun menyampaikan terimakasih kepada para guru dan ustadz khususnya Ustadz Indra Azhar yang selama sangat tekun mendampingi dan memberikan bimbingan dalam mendalami ilmu matematika.

“Terima kasih telah membimbing saya sejak dari nol. Semoga ustadz dan guru guru sehat selalu,” kata lulusan SMP Integral Hidayatullah Depok ini.

Ketika ditanya apa kiatnya sehingga ia amat senang dengan pelajaran matematika dan tetap bisa membagi waktu dengan kegiatan lainnya yang padat di pondok, Rakha mengaku tidak ada yang berbeda dengan teman teman lainnya.

“Semua berjalan normal seperti biasa, seperti teman teman yang lain. Tapi khusus untuk matematika, memang ada kelas tambahan yang diberikan di luar jadwal di sekolah,” katanya.

Suasana kompetisi InIMC 2024 di Lucknow, Uttar Pradesh, Prindavan (Foto: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)

Tekuni Al Qur’an

Selain menggemari ilmu bidang matematika, Rakha juga dikenal sebagai santri yang menekuni program menghafal Al-Qur’an di pesantren yang berlokasi di bilangan Kebon Duren, Kalimulya, Kecamatan Cilodong ini.

Saat ini, Rakha telah menghafal 10 juz Al-Qur’an, sebuah prestasi yang jarang dimiliki oleh anak seusianya. Kemampuannya ini terus diasah di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, yang selalu mendukung setiap langkah Rakha dalam mengembangkan potensi dirinya.

Lahir dari keluarga sederhana, Rakha tumbuh di lingkungan yang penuh dukungan. Ibunya, meski hanya seorang karyawan swasta di Jakarta, ayahnya bekerja sebagai sekuriti di Monas, Jakarta Pusat, dan tinggal di rumah sederhana di Rawajati, Kalibata, Jakarta Selatan, mereka selalu memberikan semangat penuh kepada putra kedua mereka untuk terus berprestasi.

Muhammad Rakha Zuhdi bersama sang ibu

Sejak tahun 2021, Rakha melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, sebuah keputusan yang didukung penuh oleh kedua orang tuanya.

Pondok Pesantren Hidayatullah Depok menjadi tempat di mana Rakha terus mengasah kecerdasannya, baik dalam bidang agama maupun akademik. Sejak bergabung di jenjang SMP, Rakha mulai menunjukkan minat dan bakatnya dalam matematika.

Di pondok inilah, Rakha tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga terus memperdalam kemampuannya dalam matematika. Minat Rakha terhadap matematika bukanlah hal baru. Sejak kelas IV SD, Rakha sudah menunjukkan kecintaannya terhadap mata pelajaran ini.

Baginya, matematika adalah sebuah tantangan yang memberikan kepuasan tersendiri setiap kali ia berhasil menyelesaikan soal yang sulit. Di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, kecintaannya terhadap matematika semakin tumbuh, ditambah dengan dukungan dari guru-guru yang selalu mendorongnya untuk mengikuti berbagai kompetisi.

Muhammad Rakha Zuhdi bersama rekan rekannya di ajang InIMC 2024 di Lucknow, Uttar Pradesh, India (Foto: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)

Prestasi di Berbagai Kompetisi

Rakha telah mengikuti berbagai olimpiade matematika sejak kelas VII. Mulai dari tingkat Kota Depok hingga nasional, ia telah berhasil meraih berbagai penghargaan. Salah satu prestasi awalnya adalah meraih medali perunggu di Olimpiade Siswa Nasional (OSN) tingkat Kota Depok.

Selain itu, ia juga mengikuti olimpiade matematika yang diselenggarakan oleh Klinik Pendidikan MIPA (KPM) di tingkat nasional, di mana ia berhasil membawa pulang sertifikat sebagai pemenang.

Prestasi Rakha bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang yang masih terbentang di hadapannya. Pondok Pesantren Hidayatullah Depok berkomitmen untuk terus mendukung Rakha dalam setiap langkahnya menuju masa depan yang lebih cerah.

Sekolah ini juga berharap bahwa akan ada lebih banyak lagi sosok Rakha Zuhdi lainnya yang muncul di masa depan, yang kelal membawa nama Indonesia ke panggung dunia.

Dengan semangat dan dedikasi yang luar biasa, Muhammad Rakha Zuhdi telah membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Ia adalah inspirasi bagi kita semua, terutama bagi generasi muda yang bercita-cita tinggi.

Semoga prestasi Rakha dapat memotivasi lebih banyak anak muda untuk berprestasi di bidang mereka masing-masing, dan membawa nama Indonesia semakin berkibar di kancah internasional. (ybh/hidayatullah.or.id)

Wajah Santri Ponpes As Shidiq Berseri-seri Berkah Hadirnya Sumur Bor

0

KEDIRI (Hidayatullah.or.id) — Kebahagiaan terpancar terang dan meneduhkan di wajah para santri Pondok Pesantren As Shidiq, Manyaran, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri. Ini menjadi bagian dari berkah zakat, infak dan sedekah melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Seperti telah terealisasi, BMH sukses meresmikan sumur bor sedalam 75 meter yang akan memenuhi kebutuhan air bersih seluruh penghuni pondok. Tak hanya itu, acara ini juga diwarnai dengan penyaluran bantuan Muharram untuk anak-anak yatim, menambah semarak suasana penuh berkah, belum lama ini.

Acara peresmian ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Ibu Idha Wening Setiasih dari Bapas Kelas II Kediri, Wahyu Setiyawan selaku Pengawas Perbankan dari OJK Kediri, dan Agus Widjaja, Owner PT INAGRI.

Agus Widjaja, dalam sambutannya, menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara lembaga zakat, pemerintah, dan swasta dalam mendukung program-program bermanfaat bagi pendidikan dan kesejahteraan umat.

“Sinergi yang baik antara berbagai elemen masyarakat akan menghasilkan dampak yang lebih besar dan berkelanjutan,” tegasnya.

Ustadz Nasikin, pimpinan Pondok Pesantren As Shidiq, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada BMH dan para donatur.

“Kehadiran sumur ini sangat membantu kami dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Selain itu, bantuan Muharram yang disalurkan kepada anak-anak yatim juga memberikan kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Semoga kebaikan ini menjadi amal jariyah yang terus mengalir,” ucapnya penuh haru.

Imam Muslim, Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, menegaskan komitmen BMH untuk terus menebar kebaikan melalui program-program yang berdampak positif bagi masyarakat.

“Peresmian sumur dan penyaluran bantuan ini adalah bagian dari upaya kami untuk memberikan manfaat nyata kepada umat, khususnya di bidang pendidikan dan kesejahteraan. Kami berharap program ini dapat terus berjalan dan memberikan manfaat yang lebih luas lagi,” ujarnya penuh semangat.

Acara ini menjadi bukti nyata komitmen BMH dalam mendukung pendidikan dan kesejahteraan umat melalui program-program berkelanjutan.

Para santri dan masyarakat sekitar kini dapat menikmati manfaat dari sumur bor dan bantuan Muharram, yang akan mendukung kegiatan belajar dan ibadah mereka dengan lebih baik.*/Herim

[KHUTBAH JUM’AT] Kalimat Tauhid Membebaskan Diri dari Penjajahan Mental

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Dalam catatan sejarah, beberapa bangsa di dunia mengalami penjajahan oleh bangsa lain. Aljazair dan Tunisia, misalnya, dijajah oleh Perancis. Malaysia dan Brunei dijajah oleh Inggris, pun juga bangsa kita Indonesia yang tidak luput dari tindakan penjajahan yang dilakukan berturut turut oleh Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris, serta Jepang.

Tentu saja, setelah berhasil meraih kemerdekaannya, penduduk negeri negeri yang pernah terjajah tidak akan mau berada pada kondisi yang pernah menimpa mereka. Jangankan untuk bebas meraih pendidikan terbaik, mengekpresikan kebebasan berpikir saja seringkali dibungkam oleh penjajah.

Bahkan, yang lebih ekstrem adalah kebebasan untuk menjalankan kewajiban ibadah seperti shalat, mengaji, dan berhijab bagi kaum wanita dirampas secara paksa oleh kaum penjajah. Lihatlah nasib muslim Uighur Xinjiang yang hingga hari ini harus mengalami penjajahan di tanah mereka sendiri.

Jangankan  beraktifitas sebagaimana manusia normal, untuk beribadah saja, mereka sangat kesulitan. Itulah mengapa, dalam pembukaan Undang Undang Dasar (UUD) 1945 negara kita, founding fathers bangsa ini menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Maka, sangat manusiawi, kalau orang yang pernah mengalami penjajahan, akan trauma untuk kembali berada pada posisi terjajah tersebut. Ibarat orang yang pernah masuk ke dalam penjara, ia akan trauma untuk berpapasan dengan aparat, atau melihat nampan tempat makan yang pernah ia gunakan di dalam sel tahanan. Rasa trauma yang akan mendorong sikap untuk tidak mau kembali merasakan dingin dan pahitnya hidup dalam sel yang sempit.

Tetapi, dalam kehidupan ini, ada saja sebagian orang, yang tidak merasa rugi berada dalam kondisi yang terjajah, selama ia mendapatkan “kenyamanan” hidup yang pernah ia rasakan selama hidup dibawa rongrongan penjajah. Sebutlah Bani Israil yang diabadikan kisahnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al – Qur’an untuk menjadi ibrah bagi manusia akhir zaman, ummat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Allah berfirman:

وَاِذْ نَجَّيْنٰكُمْ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَسُوْمُوْنَكُمْ سُوْۤءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُوْنَ اَبْنَاۤءَكُمْ وَيَسْتَحْيُوْنَ نِسَاۤءَكُمْۗ وَفِيْ ذٰلِكُمْ بَلَاۤءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ

“(Ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Pada yang demikian terdapat cobaan yang sangat besar dari Tuhanmu” (QS. Al-Baqarah: 49)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan bahwa Dia telah menyelamatkan Nabi Musa bersama pengikutnya yaitu Bani Israil dari satu kondisi penjajahan yang teramat sangat berat. Penjajahan yang bukan hanya pendudukan wilayah bani Israil di Mesir, tetapi memperkerjakan mereka secara paksa untuk membangun bangunan bangunan besar yang monumental di zaman Fir’aun.

Bahkan tingkat kebengisan rezim Fir’aun adalah menghabisi nyawa anak laki laki dan membiarkan hidup anak anak perempuan mereka untuk dinistakan oleh kaum penjajah. Itulah mengapa, Allah Subhanahu wa Ta’ala menutup ayat ini dengan pernyataan وَفِيْ ذٰلِكُمْ بَلَاۤءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ bahwa pada yang demikian terdapat cobaan yang sangat besar dari Tuhanmu.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu mengingatkan kembali detik detik krusial saat Bani Israil bersama Nabi Musa Alaihissalam berada dalam kondisi yang sangat terdesak.

وَاِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰكُمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ

“(Ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkanmu dan menenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedangkan kamu menyaksikan(-nya)” (QS. Al-Baqarah: 50)

Adegan peristiwa ini, disampaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengingatkan Bani Israil dan kita semua, bahwa hanya atas izin dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, maka Nabi Musa berhasil menyelamatkan diri dan kaumnya dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Sungguh sebuah kondisi yang sangat patut disyukuri oleh Bani Israil.

Bahkan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berhenti sampai disitu saja. Dalam perjalanan meninggalkan Mesir, hingga harus melewati padang pasir yang sangat tandus, Allah berikan perlindungan berupa awan yang menanungi Nabi Musa dan Bani Israil dari teriknya panas matahari.

Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga turunkan makanan yang mengandung karbohidrat nabati dan minuman dengan protein hewani yaitu manna dan salwa yang hanya diberikan kepada ummat Nabi Musa ini.

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَاَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوٰىۗ كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْۗ وَمَا ظَلَمُوْنَا وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

“Kami menaungi kamu dengan awan dan Kami menurunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah (makanan) yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu. Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi justru merekalah yang menzalimi diri sendiri” (QS. Al-Baqarah: 57)

Sayangnya, sikap mental yang muncul dari Bani Israil sungguh di luar dugaan. Muncul rasa bosan dalam diri mereka untuk mengkonsumsi makanan terbaik yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala secara tidak terbatas (unlimited) kepada mereka.

Mereka meminta kepada Musa agar berdoa kepada Tuhannya, bahkan mereka mengatakan “Wahai Musa, berdoalah kepada Tuhanmu”, seakan akan Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan Tuhan mereka, untuk mendatangkan makanan yang biasa mereka konsumsi ketika tinggal di Mesir yaitu kacang kacangan, timun, bawang bawangan, dan makanan lainnya.

وَاِذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نَّصْبِرَ عَلٰى طَعَامٍ وَّاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ مِنْۢ بَقْلِهَا وَقِثَّاۤىِٕهَا وَفُوْمِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَاۗ

“(Ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa, kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan. Maka, mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah.” (QS. Al-Baqarah: 61)

Sungguh, ini merupakan sebuah sikap yang hanya bisa diproduksi oleh manusia manusia yang terjajah mentalnya. Itulah mengapa, Nabi Musa Alaihissalam mengeluarkan statement yang sangat tegas:

قَالَ اَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِيْ هُوَ اَدْنٰى بِالَّذِيْ هُوَ خَيْرٌۗ

“Dia (Musa) menjawab, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik?” (QS. Al-Baqarah: 61)

Bukankah manna dan salwa itu makanan terbaik yang langsung dihadiahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Bani Israil. Bukankah terlepasnya mereka dari sadisnya rezim Fir’aun merupakan nikmat agung dan terbesar yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka. Lantas mengapa mereka mau menukar nikmat agung ini dengan sesuatu yang buruk?

Maka sangat pantas kalau manusia manusia yang telah terjajah mentalnya seperi Bani Israil ini akan tertimpa kehinaan dimanapun mereka berada, serta mendapatkan kemurkaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِۗ

“Kemudian, mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah” (QS. Al-Baqarah: 61)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Ternyata, jamaah sekalian, masih ada manusia manusia yang walaupun secara dejure hidup dalam kebebasan, tetapi mereka secara defacto masih hidup dalam penjajahan. Dan, penjajahan yang paling berat adalah penjajahan mental.

Maka obat terjajahnya mental dalam penghambaan kepada kesenangan dunia, hingga rela menggadaikan kebebasan untuk menjalankan keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, adalah dengan memupuk dan menumbuhkembangkan kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illalaah”.

Inilah misi besar yang secara berkelanjutan, dilakukan oleh para nabi dan Rasul hingga rasul terakhir yaitu Nabiullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu melakukan transformasi keyakinan bahwa tidak ada Dzat yang patut untuk disembah kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya : “Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” (QS. Al-Anbiya: 25)

Inilah misi besar yang hendaknya juga menjadi misi kita sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu membebaskan diri dari penjajahan  penjajahan dalam bentuk apa pun, khususnya penjajahan mental, agar lahir keyakinan bahwasanya tidak ada ketundukan kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghadirkan kondisi yang bebas dari terjajahnya mental pada cinta duniawi.

Ketundukan kepada Allah akan membuat orang yang beriman terbebas dari konflik kepentingan terhadap sesama makhluk, karena baginya, tidak ada kepentingan tertinggi kecuali menyerahkan diri secara totalitas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat seorang hamba terbebas dari penjajahan mental untuk rakus kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Karena baginya, Raja yang Maha Kuasa hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang Maha Mengatur segala urusan, sehingga semua urusan seorang hamba akan diserahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya, memerdekakan diri dari terjajahnya mental untuk tunduk kepada hiruk pikuk dunia menuju ketundukan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Warisan Api Perjuangan dari Rengasdengklok untuk Generasi Masa Kini

0

SEJARAH mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 adalah puncak dari perjuangan panjang yang penuh dengan pengorbanan dan tekad yang tak kenal menyerah.

Namun, kemerdekaan bukan hanya sekadar momen, melainkan sebuah proses yang terus berlanjut, sebuah warisan yang harus kita jaga dan isi dengan hal-hal yang bermanfaat bagi generasi penerus.

Sebagai warga Karawang, kita memiliki tanggung jawab moral yang besar. Karawang tidak hanya menjadi saksi bisu dari perjuangan kemerdekaan, tetapi juga menjadi pusat dari sebuah peristiwa penting yang sering disebut sebagai “Goyang Karawang.”

Peristiwa ini bukanlah sekadar istilah yang sering dikaitkan dengan sebuah lagu dangdut populer, tetapi merujuk pada gerakan pemuda dalam peristiwa Rengasdengklok di Karawang pada tahun 1945 yang dipimpin oleh tokoh-tokoh muda seperti Syahrir, Wikana, Sukarni dan Chaerul Saleh.

Gerakan ini adalah upaya untuk mengguncang status quo dengan “menculik” dan kemudian mendorong para pemimpin tua ini untuk bertindak lebih tegas dalam mendukung proklamasi kemerdekaan.

Mengapa gerakan ini sedemkian penting? Karena ia menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari inisiatif kecil yang dilakukan oleh mereka yang memiliki visi dan keberanian untuk bertindak.

Ketika para pemuda di Karawang melihat bahwa tindakan diperlukan untuk mendukung proklamasi kemerdekaan, mereka tidak ragu untuk mengambil langkah-langkah berani.

Gerakan angkatan muda Karawang masa lalu itu adalah contoh nyata dari bagaimana semangat perjuangan dapat meresap ke dalam setiap lapisan masyarakat, memotivasi mereka untuk bertindak demi kebaikan yang lebih besar.

Sebagai generasi penerus, tugas kita adalah melanjutkan semangat perjuangan ini. Namun, bagaimana kita bisa mengaktualisasikan semangat tersebut dalam konteks pendidikan di zaman modern?

Di SD Integral Ummul Quro Hidayatullah Karawang, kami percaya bahwa jawabannya terletak pada tiga pilar utama: tauhid, karakter, dan keunggulan. Visi kami adalah membentuk generasi yang kuat dalam iman, mulia dalam akhlak, dan unggul dalam prestasi, yang sejalan dengan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh para pendahulu kita.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa iman dan ilmu adalah dua pilar utama dalam membangun keunggulan. Di sekolah kami, kami berupaya menyelaraskan pendidikan dengan nilai-nilai tauhid, sehingga pendidikan tidak hanya menjadi alat untuk mencapai kesuksesan duniawi, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membentuk pribadi yang unggul di dunia dan akhirat.

Namun, perjuangan ini tidak hanya tugas dari para guru dan staf sekolah. Ini adalah tanggung jawab bersama yang melibatkan seluruh komunitas sekolah, termasuk para orang tua. Seperti yang disampaikan oleh Ustadz Rusman Abdillah, Kepsek SD Integral Ummul Quro dalam amanatnya sebagai Pembina upacara HUT RI 17/08/2024 lalu:

“Kita semua adalah pejuang. Para ayahanda yang berjuang di tengah kesibukan mereka untuk bisa hadir bersama ananda, para siswa-siswi yang belajar berjuang dengan melihat spirit perjuangan itu dari sosok sang ayah, guru, dan lingkungannya. Para assatidzah yang berjuang menjadi ujung tombak pendidikan yang handal, dan pengurus yayasan yang berjuang menghadirkan fasilitas pendidikan. Ini adalah kolaborasi yang hebat dari kita semua, para pejuang.”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perjuangan bukan hanya milik mereka yang berperang di medan laga, tetapi juga milik mereka yang setiap hari berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga, masyarakat, dan bangsanya.

Sebagai salah satu tokoh besar Indonesia, Bung Karno, pernah berkata, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”.

Menghargai jasa para pahlawan tidak hanya dengan mengenang apa yang telah mereka lakukan, tetapi juga dengan melanjutkan perjuangan mereka dalam bentuk yang relevan dengan zaman kita.

Menyadari bahwa perjuangan adalah tanggung jawab bersama, kita harus terus berupaya untuk membangun kesadaran bahwa setiap tindakan kecil yang kita lakukan, ketika dilakukan dengan niat yang tulus dan semangat yang kuat, dapat memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan negara.

Seperti para pemuda Karawang yang dengan semangatnya mampu menggoyang status quo, kita pun harus berani mengguncang tatanan lama yang tidak lagi relevan, dan berinovasi untuk kemajuan bersama.

Harus Terus Menyala

Semangat perjuangan yang telah diwariskan kepada kita adalah api yang harus terus menyala. Dengan membangun pendidikan yang berkualitas, berbasis pada nilai-nilai agama dan moral, serta melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam proses pendidikan, kita dapat melanjutkan perjuangan para pahlawan dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan zaman ini.

Kemerdekaan adalah sebuah warisan yang harus dijaga dan diisi dengan tindakan nyata. Kita tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga mengambil pelajaran darinya untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Dengan semangat tauhid, karakter yang kuat, dan keunggulan dalam prestasi, kita dapat melanjutkan perjuangan para pahlawan dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.

Sebagai penutup, mari kita renungkan pesan dari Al-Qur’an yang mengingatkan kita akan pentingnya ilmu dan iman, serta pesan dari Bung Karno yang menekankan pentingnya menghargai jasa para pahlawan.

Semoga kita semua dapat menjadi pejuang di jalan yang benar, membangun bangsa dan negara dengan penuh semangat dan dedikasi.

“Sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Dengan semangat ini, mari kita teruskan perjuangan para pendahulu kita dengan tindakan-tindakan positif yang memberikan manfaat bagi diri kita, keluarga kita, dan bangsa kita.

*) Rusman Abdillah, penulis adalah pemerhati pendidikan tinggal di Karawang, pendidik di SD Integral Ummul Quro Pondok Pesantren Hidayatullah Karawang, Jawa Barat.