Beranda blog Halaman 172

Roadshow Dakwah Kuatkan Nilai Kemerdekaan dan Dukung Peran Dai di Masyarakat

0

KALTARA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan ke-79 Negara Republik Indonesia, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Kalimantan Utara bersama dengan DPW Hidayatullah Kaltara menggelar Roadshow Dakwah yang bertajuk “Kuatkan Nilai-nilai Kemerdekaan Dalam Kiprah Dai di Masyarakat”.

Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 5 hingga 11 Agustus 2024, berkeliling wilayah Kalimantan Utara untuk memberi dukungan dan pencerahan kepada para dai yang berdedikasi tinggi.

Ust. Muhammad Khirson Sulaiman, Koordinator Dai Kaltara, menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk memberikan penguatan kepada para dai.

“Kami ingin para dai tetap membara semangatnya dan menjaga komitmen kuat dalam menjalankan tugas dakwah,” ujar Ustadz Khirson saat diwawancarai pada tanggal 10 Agustus.

Sebagai bagian dari roadshow ini, dai senior Ustadz Anwari Hambali hadir untuk memberikan pencerahan. Beliau dan timnya berkeliling dari Bulungan hingga Tarakan, menyapa dan memberi semangat kepada para dai serta jamaah masyarakat di berbagai kota seperti Tana Tidung, Malinau, Tulin Onsoi, Sebatik, dan Nunukan.

Dalam setiap kesempatan, Ustadz Anwari Hambali menekankan pentingnya menjaga shalat berjamaah dan berkeyakinan bahwa di mana pun seorang dai ditugaskan, di situlah Allah akan menghadirkan pertolongan dan kemuliaan.

Pesan Ustadz Anwari Hambali ini resonan dengan tema kemerdekaan, mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang membebaskan diri dari penjajah, tetapi juga tentang membebaskan diri dari kepasifan dan ketidakaktifan dalam beragama dan berdakwah.

Ustadz Khirson menambahkan, “Kegiatan ini berlangsung atas dukungan dari BMH Kaltara. Kami sangat berterima kasih. Semoga Allah mengumpulkan kita semua dalam satu kemuliaan dan keberkahan.”

Ini menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi dan dukungan dalam memajukan dakwah dan memperkuat jaringan dai di wilayah tersebut.

Kegiatan roadshow ini bukan hanya memperkuat para dai dan santri, tetapi juga menginspirasi masyarakat umum yang hadir.

Melalui kegiatan ini, nilai-nilai kemerdekaan diintegrasikan ke dalam kiprah dai di masyarakat, menegaskan bahwa kemerdekaan adalah sebuah proses kontinu yang memerlukan pembaruan semangat dan dedikasi terus-menerus dari semua pihak, khususnya para penggerak dakwah.*/Herim

Jalan Sehat Serentak Nasional Mushida Kampanye Jaga Kesehatan di Momen HUT ke-79 Republik Indonesia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Untuk mendorong pola hidup sehat di kalangan anggotanya dan mengkampanyekan pentingnya menjaga kesehatan bagi masyarakat secara luas, Muslimat Hidayatullah (Mushida) menggagas program Jalan Sehat Nasional yang diluncurkan serentak di seluruh wilayah Indonesia pada Ahad, 6 Shafar 1446 (11/8/2024).

Kegiatan yang dirancang sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesehatan ini juga dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan suasana yang santai namun sarat makna heroik, acara ini menjadi momentum bagi setiap peserta untuk meningkatkan semangat kebangsaan.

Pengurus Pusat Mushida telah menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk kegiatan ini, yang kemudian disosialisasikan secara online kepada Pengurus Wilayah (PW) Mushida di seluruh Indonesia. Setiap wilayah diberi waktu untuk berkonsultasi dan mendapatkan bimbingan teknis mengenai pelaksanaan acara.

Selain itu, Mushida juga mendorong kerja sama dengan berbagai pihak, seperti Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), majelis taklim, jamaah binaan, dan para pengusaha, untuk mendukung dan menyemarakkan kegiatan ini. Bahkan, para santri putri juga turut serta dalam program jalan sehat ini.

PW Mushida diinstruksikan untuk melakukan sosialisasi dan konsolidasi di wilayah masing-masing dengan membuat flyer yang menarik guna mengundang partisipasi sebanyak mungkin.

Acara pembukaan dilakukan secara virtual di depan kantor PP Mushida yang beralamat di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak 1/14, Otista, Polonia, Jakarta.

Ketua Umum Pengurus Pusat Mushida, Ustadzah Hani Akbar, memberikan sambutan yang mengingatkan para peserta akan niat utama dari kegiatan ini, yaitu selain menjaga kesehatan juga untuk memperkuat semangat “ribath,” atau berjaga terhadap segala hal yang dapat mengancam kehancuran bangsa Indonesia yang telah berusia 79 tahun.

Berjalan kaki terang dia sangat baik untuk metabolisme tubuh, mengurangi stres, meningkatkan stamina, dan memperbaiki suasana hati. Tentu saja, manfaat-manfaat ini dapat dirasakan apabila aktivitas berjalan kaki dilakukan secara rutin dan konsisten dalam jangka waktu yang panjang.

Dalam sambutannya, Ustadzah Hani mengutip surah Ali Imran ayat 200 dari Al-Qur’an yang menekankan pentingnya menjaga kekuatan fisik dan spiritual sebagai teladan bagi generasi penerus.

Selain itu, Ustadzah Hani juga mengingatkan untuk terus mendoakan dan memberikan dukungan material bagi Palestina, negara yang pertama kali menyuarakan dukungannya terhadap kemerdekaan Indonesia.

Program Jalan Sehat Nasional Mushida ini diikuti oleh ribuan kader dan anggota di seluruh Indonesia. Setiap wilayah diberikan kebebasan untuk berkreasi dalam pelaksanaan kegiatan jalan kaki, menyesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Di Cipinang Cempedak, Jakarta, misalnya, panitia menyiapkan doorprize menarik seperti peralatan dapur, makanan, pakaian, dan aneka hadiah lainnya. Sementara di Depok, kegiatan jalan kaki dilakukan hingga Alun-Alun Kota, yang kemudian dilanjutkan dengan acara perlombaaan, pembagian doorprize, makan bersama, dan halaqah bersama anak-anak.

Meskipun hujan turun di beberapa wilayah, seperti Batam, hal tersebut tidak menyurutkan semangat peserta untuk tetap melaksanakan kegiatan ini. Bahkan, di Papua, acara jalan sehat mendapat pengawalan dari aparat setempat, yang membuat pelaksanaan kegiatan semakin semarak dan peserta semakin antusias.

Tradisi Jaga Kebugaran

Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi yang ikut memantau persiapan dan pembukaan acara mengapresiasi Program Jalan Sehat Nasional Mushida ini sebagai upaya untuk menguatkan kembali tradisi menjaga kesehatan dan kebugaran khususnya di kalangan muslimah.

“Selain menjadi ajang olahraga untuk menjaga kebugaran, Jalan Sehat Nasional Mushida ini juga upaya menjaga semangat kebangsaan. Dengan kesehatan fisik yang baik, diharapkan setiap kader Mushida dapat berkontribusi lebih baik dalam pengabdian keumatan serta menjaga keutuhan bangsa dan negara,” katanya.

Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi tradisi tahunan yang tidak hanya memperkuat kesehatan jasmani, tetapi juga mengobarkan semangat cinta tanah air di kalangan anggotanya. Disamping itu, ia berharap kebiasaan berjalan kaki ini juga dirutinkan sebagai ikhtiar menjaga kesehatan tubuh.

Apalagi tak jarang ada flyer atau mem beredar di berbagai grup media sosial yang memohon doa kesehatan untuk yang sedang sakit dalam grup perpesanan kader, anggota, atau jamaah Hidayatullah.

Kata dia, meskipun kematian dan penyakit adalah bagian dari takdir yang telah ditetapkan oleh Allah, ikhtiar untuk menjaga kesehatan tetap menjadi kewajiban setiap individu.

Melalui pola makan sehat, gaya hidup yang teratur, istirahat yang cukup, mengelola stres, dan rutin berolahraga, seseorang dapat meminimalkan risiko terkena penyakit. Salah satu olahraga ringan, mudah, dan murah yang sangat dianjurkan adalah berjalan kaki.

Berjalan kaki memberikan banyak manfaat kesehatan, termasuk membantu menurunkan berat badan, meningkatkan kualitas tidur, menurunkan tekanan darah, meningkatkan kesehatan jantung, menjaga kesehatan sendi. (ybh/hidayatullah.or.id)

TBM Nurus Sibyan Kini Dilengkapi Fasilitas MCK untuk Mendukung Pendidikan Anak

0

TANGERANG (Hidayatullah.or.id) — Di Desa Pasilian, Kecamatan Kronjo, Tangerang, Banten, sebuah langkah besar dalam dunia pendidikan anak telah diambil. TBM (Taman Bacaan Masyarakat) Nurus Sibyan, sebuah lembaga yang telah memberikan ruang belajar bagi 65 anak, kini sedang mengalami peningkatan fasilitas yang signifikan dengan pembangunan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang tengah berlangsung, Kamis, 3 Shafar 1446 (8/8/24).

Ustadzah Muflihah, salah satu penggerak di TBM Nurus Sibyan, berbagi tentang perubahan yang diharapkan, “Fasilitas MCK ini akan menjadi sarana pendukung utama untuk memudahkan kegiatan sehari-hari anak-anak yang belajar membaca, mengaji, dan bermain di sini”.

Proyek ini tidak lepas dari dukungan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) yang sebelumnya telah membiayai pembuatan sumur bor di lokasi yang sama.

“Kami sangat bersyukur atas bantuan dari BMH. Pembangunan sumur bor dan sekarang MCK, benar-benar akan mengubah wajah TBM dan mungkin juga kehidupan anak-anak serta warga sekitar,” tambah Ustadzah Muflihah.

Pendiri TBM Nurus Sibyan, Ustadz Muhibi, mengawali proses pembangunan dengan membacakan doa termasuk manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Zailani sebagai wujud syukur dan harapan agar pembangunan ini membawa banyak keberkahan.

“Ini akan mengubah wajah TBM dan mendukung kultur baru di mana anak-anak bisa lebih nyaman dalam belajar dan bermain. Terima kasih BMH, setelah 20 tahun lebih, fasilitas ini akhirnya hadir, menjadi kenyataan yang membuat kami bersyukur tiada henti,” ujar Ustadz Muhibi.

Fasilitas MCK ini diharapkan tidak hanya memperbaiki infrastruktur fisik TBM Nurus Sibyan, tetapi juga meningkatkan kenyamanan dan higienitas lingkungan belajar, sehingga mendukung tumbuh kembang anak-anak secara optimal.

“Pembangunan ini merupakan simbol dari komitmen TBM dan BMH dalam memajukan pendidikan dan memberikan yang terbaik bagi generasi penerus bangsa,” tutur Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Banten, Roni Hayani.*/Herim

Bahagianya Anak-Anak Suku Bajoe Pulau Sabuntan Ikuti Program Khitan Gratis

0

SUMENEP (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggagas dan melaksanakan kebaikan dalam bentuk program khitan gratis bagi anak-anak Suku Bajoe di Pulau Sabuntan, Kepulauan Kangean, Sumenep, Ahad, 29 Muharam 1446 (4/8/2024).

Kegiatan yang berlangsung di Rumah Qur’an Wahab Masoer ini berhasil mengukir senyuman bahagia di wajah 15 anak, termasuk 9 anak yatim dan 6 anak dhuafa.

Pulau Sabuntan, yang dikenal sebagai salah satu pulau terpencil di Sumenep, memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, termasuk khitan.

Jarak yang jauh dan biaya yang mahal seringkali menjadi kendala bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan khitan yang layak. Melihat kondisi tersebut, BMH hadir untuk memberikan solusi dan meringankan beban masyarakat.

“Kami sangat bersyukur atas kesempatan untuk memberikan pelayanan khitan gratis kepada anak-anak Suku Bajoe,” ujar Imam Muslim, Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim.

“Semoga program ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi mereka dan meningkatkan kualitas hidup mereka,” tambahnya.

Selama kegiatan khitan, tidak hanya anak-anak yang mendapatkan pelayanan kesehatan, tetapi juga para orang tua diberikan penyuluhan kesehatan oleh tim medis BMH. Penyuluhan ini mencakup pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan anak setelah proses khitan, serta upaya pencegahan penyakit.

Senyuman Kebahagiaan

Yahya, salah satu orang tua yang anaknya dikhitan, mengungkapkan rasa syukurnya. “Kami sangat berterima kasih kepada BMH. Anak kami akhirnya bisa dikhitan dengan nyaman dan tidak perlu jauh-jauh ke Pulau Sapeken. Semoga Allah membalas kebaikan BMH,” ujarnya haru.

Senyuman bahagia juga terlihat di wajah anak-anak yang telah dikhitan. Mereka tampak ceria menerima hadiah berupa tas, bingkisan, snack, dan uang saku.

Dampak Positif yang Berkelanjutan

Program khitan gratis ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi anak-anak yang dikhitan, tetapi juga bagi komunitas Suku Bajoe secara keseluruhan.

Dengan terlaksananya program ini, diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan memberikan semangat baru bagi anak-anak untuk terus belajar dan meraih cita-cita.

BMH berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil dan membutuhkan bantuan. Melalui berbagai program sosial, BMH berupaya untuk mewujudkan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.*/Herim

BMH Berikan Dukungan untuk Kegiatan Sosialisasi dan Upgrading Dai se-Sumatera

0

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Selama tiga hari yang penuh gairah untuk menyerap inspirasi wahyu Ilahi, Pondok Pesantren Hidayatullah di Bengkulu menjadi pusat pertemuan bagi para perwakilan 68 Murabbi Wilayah se-Sumatera, dimulai sejak Jumat, 4 Shafar 1446 (9/8/2024).

Bertempat di Kampus Hidayatullah yang berlokasi di Jalan Halmahera, Surabaya, Kecamatan Sungai Serut, Kota Bengkulu, acara ini menjadi momentum strategis untuk sosialisasi revisi jadwal 60 Bayani serta Upgrading Murabbi Halaqah Wustho.

Sebagai tuan rumah, Bengkulu tidak hanya menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai, tetapi juga mendapatkan dukungan penuh dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) yang berperan signifikan dalam kesuksesan acara ini. BMH menunjukkan komitmennya dengan memberikan dukungan penuh terhadap seluruh rangkaian kegiatan, dari awal hingga akhir.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah narasumber yang memberikan pencerahan kepada para peserta. Di antaranya adalah Ust. Dr. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si, yang merupakan anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah, serta Ust. Drs. H. Zainuddin Musaddad, anggota Dewan Murabbi Pusat (DMP), bersama dengan Ust. Muhammad Nur Fuad.

Tidak hanya itu, Ketua DPW Hidayatullah Bengkulu, Ust. H. Ahmad Suhail, beserta unsur Dewan Murabbi Wilayah Bengkulu turut serta memperkuat acara ini dengan kehadiran mereka.

Dalam arahannya, dai senior Ust. H. Bachtiar Arasy menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai upaya memperkuat dan mengembangkan kompetensi Murabbi, serta memastikan bahwa setiap revisi yang disosialisasikan dapat diterapkan dengan efektif di seluruh wilayah Sumatera.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi ilmu, tetapi juga mempererat ukhuwah di antara para peserta yang datang dari berbagai wilayah di Sumatera. Semangat kebersamaan dan komitmen untuk terus mengembangkan dakwah Islamiah di wilayah masing-masing sangat terasa sepanjang acara ini.

Kepala Perwakilan BMH Bengkulu, Muhammad Irwan, menyampaikan bahwa BMH, dengan dukungannya yang konsisten, sekali lagi ingin semakin menguatkan perannya sebagai lembaga yang tidak hanya fokus pada pengelolaan dana umat, tetapi juga aktif dalam mendukung kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya dalam lingkup dakwah dan pendidikan.

Kesuksesan acara ini kata dia diharapkan menjadi pendorong bagi kegiatan-kegiatan serupa di masa depan dalam melakukan pengembangan dakwah untuk kemajuan agama, bangsa, dan negara. “Semoga sinergi antara BMH dan Hidayatullah ini terus terjalin erat demi kemaslahatan umat dan bangsa,” tandasnya.*/Fargowi Abdi

Pemimpin Umum Hidayatullah Pesan Munajat dan Jihad dalam Pembentukan Karakter Islami

0

PINRANG (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad, berkesempatan menyampaikan tausyiah dalam kegiatan Sosialisasi Revisi Jadwal 60 Bayani dan Upgrading Murabbi Halaqah Wustho di Rumah Quran Hidayatullah Parengki, Suppa, Pinrang, Sulawesi Selatan, pada Senin-Selasa, (5-6/8/2024).

Tausyiah Pemimpin Umum Hidayatullah menggarisbawahi betapa pentingnya munajat dan jihad dalam kehidupan seorang Muslim, serta bagaimana karakter dan akhlak Islami dibentuk melalui ketekunan dalam ibadah dan perjuangan di jalan Allah.

KH Abdurrahman Muhammad membuka tausyiahnya dengan mengingatkan pentingnya bersyukur kepada Allah atas nikmat iman, Islam, dan ihsan yang telah diberikan. “Bersyukurlah kepada Allah, semoga Allah meridhoi semuanya,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kehidupan ini pada dasarnya adalah upaya untuk mencari keridhoan Allah. Setiap pencapaian, menurutnya, tidak terlepas dari taufiq Allah, yang merupakan bentuk hidayah dan pertolongan dari-Nya.

Dalam pandangan Islam, karakter tidak hanya sekadar kebiasaan yang terbentuk dari pemikiran yang diulang-ulang, seperti yang dipahami dalam pengertian umum atau barat.

Lebih dari itu, terangnya, karakter dalam Islam mencakup akhlak dan moral yang tercermin dalam ibadah dan pekerjaan sehari-hari. Menurut KH Abdurrahman, semua pembentukan karakter dimulai dari iradha atau niat, yang kemudian melahirkan jihad.

KH Abdurrahman menegaskan bahwa perjuangan di Hidayatullah tidak mungkin terwujud tanpa munajat dan jihad. “Inti dari hidup ini adalah munajat dan jihad,” tegasnya, seperti dinukil media ini dari laman Hidayatullahsulsel.com, Selasa, 1 Shafar 1446 (6/8/2024).

Munajat, menurut beliau, adalah proses yang direncanakan, didoakan, dan diusahakan secara terus-menerus. Ia mencontohkan pembangunan masjid yang sempat terhenti karena pandemi, tetapi berkat munajat yang terus dilakukan, pembangunan tersebut dapat dilanjutkan hingga selesai.

Munajat ini, lanjutnya, melahirkan kesungguhan dalam melakukan kebaikan, yang merupakan bentuk jihad dalam Islam.

Jihad yang dimaksud KH Abdurrahman bukanlah dalam bentuk peperangan fisik, melainkan kesungguhan dalam berjuang di jalan Allah, khususnya melalui dakwah dan tarbiyah.

KH Abdurrahman kemudian mengaitkan jihad dengan pelajaran yang dapat diambil dari Surat Al-Ankabut, khususnya ayat ke-69, yang menyebutkan bahwa orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhoan Allah akan ditunjukkan jalan-jalan oleh-Nya.

Ia menjelaskan bahwa perjuangan seekor laba-laba dalam membangun sarangnya menggambarkan bagaimana jihad harus dilakukan dengan ketekunan, meskipun menghadapi rintangan dan kesulitan.

Seperti laba-laba yang terus membangun kembali sarangnya setelah rusak diterpa angin, demikian pula seorang Muslim harus terus berjuang di jalan Allah meski menghadapi berbagai cobaan.

Dalam tausyiahnya, KH Abdurrahman juga mengangkat kisah tiga pemuda hebat yang menjadi teladan dalam Islam, yaitu Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Ashabul Kahfi. Beliau mengajak peserta untuk merenungkan perjuangan ketiga pemuda ini dan memilih teladan yang paling sesuai dengan situasi mereka.

“Dari ketiga perjuangan pemuda ini, mana yang dipilih? Semua dipilih dan dilakukan secara kondisional,” ujarnya, menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam memilih cara berjihad sesuai dengan keadaan.

KH Abdurrahman menutup tausyiahnya dengan mengingatkan bahwa pembentukan karakter Islami tidak sekadar menciptakan kebiasaan, tetapi membangun akhlak yang baik. “Karena bekerja, karena beribadah itu akhlak,” tegasnya.

Akhlak yang benar harus didasarkan pada ilmu yang benar, dan ilmu tersebut harus dilandasi oleh wahyu, yaitu Al-Quran. Menurut beliau, tidak ada jalan berfikir, beribadah, atau kebaikan yang benar kecuali yang berlandaskan pada Al-Quran. (ybh/hidayatullah.or.id)

Hidayatullah Minta Pasal Pada PP No. 28/2024 yang Dapat Ditafsir Legalkan Seks Bebas Agar Ditinjau Ulang

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah menilai terdapat pasal-pasal bermasalah dalam Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan yang perlu ditinjau ulang, dihilangkan dan/atau dihapus karena bisa menodai dan menghancurkan nilai-nilai agama yang dianut masyarakat Indonesia, nilai-nilai luhur yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat, serta bisa menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Hidayatullah menyoroti PP No. 28/2024 tersebut yang beberapa pasal di dalamnya dipandang perlu ditinjau ulang. Bahkan dikhawatirkan, beberapa pasal dalam PP tersebut dapat saja ditafsirkan sebagai upaya legalisasi seks bebas.

Hidayatullah menyoroti Pasal 103 ayat (4) huruf e tentang pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi, serta pelayanan kesehatan reproduksi pada usia sekolah dan remaja antara lain dengan penyediaan alat kontrasepsi.

“Bahwa Kalimat penyediaan alat kontrasepsi, bisa memberi makna upaya melegalkan seks bebas di antara para pelajar asalkan proses kehamilan bisa dicegah dengan alat kontrasepsi, di mana itu disediakan oleh keluarga atau satuan pendidikan,” tegasnya.

Sikap itu disampaikan dalam pernyataan resmi Hidayatullah bertajuk “Pernyataan Sikap DPP Hidayatullah Terkait Terbitnya PP No. 28/2024 Tentang Peraturan Pelaksanaan UU No 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan”, di Jakarta, Senin, 30 Muharam 1446 (5/8/2024).

Hidayatullah juga menyoroti pasal 104 ayat (2) huruf b terkait dengan pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi, serta pelayanan kesehatan reproduksi, di mana pada huruf b dinyatakan untuk menjelaskan tentang perilaku seksual yang sehat, aman, dan bertanggung jawab.

“Kalimat perilaku seksual yang sehat, aman, dan bertanggung jawab, bisa memberi makna upaya melegalkan seks bebas di antara para pelajar asalkan suka sama suka dan saling bertanggung jawab terhadap efek kehamilan dan lain sebagainnya sebagai akibat dari aktivitas seks yang dilakukan,” demikian pernyataan Dewan Pengurus pusat (DPP) Hidayatullah itu yang ditandatangani Ketua Umum Dr. H. Nashirul Haq, Lc., MA, dan Sekretaris Jenderal Ir. Candra Kurnianto.

Hidayatullah menilai Pasal-pasal tersebut bertolak belakang dengan Pancasila, terutama sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, dan UUD 1945 Pasal 29 ayat (1).

Selain itu, pasal-pasal ini juga bertentangan dengan prinsip pendidikan nasional yang tercantum dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat (3) dan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menekankan peningkatan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia.

DPP Hidayatullah juga menyoroti bahwa pasal-pasal dalam PP No. 28 Tahun 2024 tidak melindungi anak-anak, terutama pelajar, agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Hal ini dinilai bertentangan dengan UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan perlindungan anak adalah tanggung jawab semua pihak, termasuk pemerintah.

Pada prinsipnya Hidayatullah mengapresiasi langkah pemerintah dalam menerbitkan PP No. 28 Tahun 2024 sebagai tindak lanjut dari UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan ini. Hidayatullah menilai upaya ini menunjukkan tanggung jawab pemerintah dalam merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina, dan mengawasi pelayanan kesehatan yang berkualitas, aman, efisien, merata, dan terjangkau bagi masyarakat. Hal ini sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) dari peraturan tersebut.

Meskipun demikian, Hidayatullah menilai terdapat beberapa pasal dalam PP No. 28/2024 yang perlu ditinjau ulang. Beberapa pasal disoroti dan dianggap dapat merusak nilai-nilai agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia serta nilai-nilai luhur yang berkembang di tengah masyarakat. Selain itu, pasal-pasal tersebut dinilai dapat menimbulkan keresahan di masyarakat.

Berdasarkan hal-hal tersebut, Dewan Pengurus pusat Hidayatullah menyatakan menolak segala bentuk upaya yang dapat merusak akhlak, moral, kepribadian, harkat, dan martabat kemanusiaan para pelajar serta generasi muda Indonesia, menolak segala bentuk upaya liberalisasi di lingkungan lembaga pendidikan Indonesia.

Hidayatullah juga menegaskan menolak pasal-pasal dalam PP No. 28 Tahun 2024 yang bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia yang religius dan berakhlakul karimah.

“Mengajak seluruh elemen bangsa untuk kritis dan berperan aktif memberikan masukan kepada kebijakan pemerintah yang bisa berakibat pada kehancuran bangsa dan negara,” terangnya dalam pernyataannya.

Ditambahkan, bahwa pernyataan sikap DPP Hidayatullah ini sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual dalam menjaga keutuhan dan kesejahteraan bangsa. (ybh/hidayatullah.or.id)

Tangis Haru Pecah saat Pak Tony Penyandang Disabilitas Terima Gerobak Berkah

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Senyum penuh harapan terpancar dari wajah Tony, seorang penjual gorengan dengan keterbatasan fisik. Semangat untuk bangkit menghadirkan kisah perjuangan yang luar biasa.

Hari itu, Rabu (7/8/2024), tangis haru mewarnai suasana ketika Tony menerima sebuah gerobak baru dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH).

Tony, yang telah berjualan gorengan selama bertahun-tahun dengan gerobak yang sudah tak layak pakai, akhirnya bisa bernapas lega berkat bantuan yang sangat berarti ini.

Tony, dengan segala keterbatasannya, tetap gigih berjualan dari pagi hingga malam. Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya tak mampu mengganti gerobak yang rusak.

“Dengan gerobak baru ini, saya bisa lebih nyaman berjualan dan lebih semangat menjalani hari-hari,” ujar Tony dengan penuh rasa syukur.

“Terima kasih banyak kepada BMH dan semua yang telah membantu. Bantuan ini sangat berarti bagi saya,” ungkapnya.

Gerobak lama Pak Tony

Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Jawa Timur, menyampaikan bahwa pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus menjadi fokus utama.

“Kami ingin membantu mereka yang berjuang di tengah keterbatasan, seperti Tony, agar mereka bisa terus berkarya dan menghidupi diri serta keluarganya dengan lebih baik,” kata Imam, seperti dalam keterangannya yang diterima media ini, Kamis, 3 Shafar 1446 (8/8/2024).

Program ini tidak hanya memberikan bantuan fisik berupa gerobak baru, tetapi juga memompa semangat dan harapan baru bagi para penerima manfaat.

Kisah perjuangan Tony, seorang disabilitas yang tak pernah menyerah, menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia membuktikan bahwa dengan bantuan yang tepat dan semangat yang tak padam, keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan.

Kini, dengan gerobak baru, Tony dapat berjualan dengan lebih nyaman dan diharapkan usahanya akan semakin maju. BMH terus berkomitmen untuk memberdayakan UMKM dan membantu mereka yang membutuhkan agar dapat berdikari dan mengembangkan usaha mereka, menciptakan perubahan nyata dalam kehidupan banyak orang.*/Herim

[KHUTBAH JUM’AT] Jangan Wariskan Generasi Lemah dan 4 Kunci Utama

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Islam adalah agama sempurna yang memberikan bimbingan, tuntunan, dan arahan agar kehidupan yang dijalani manusia selalu berakhir dengan bahagia di dunia dan selamat di akhirat (hayatan thayyiban). Inilah kehidupan yang diliputi keberkahan.

Para ulama berpendapat tentang makna berkah. Pertama, زيادة الخير بعد الخير مع الاستمرار “Bertambahnya kebaikan demi kebaikan secara berkesinambungan”. Kedua, ثبوت الخير الالهِي في الشيئ “Tetapnya kebaikan Iahi Rabbi pada sesuatu”.

Karunia keberkahan yang diberikan oleh Allah SWT yang menjadikan kita dijauhkan dari panasnya neraka dan dimasukkan pada kenikmatan surga-Nya. Itulah parameter kehidupan yang sukses sejati.

كُلُّ نَفۡسٍ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَ ۗ وَمَا ٱلۡحَيَٰوةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran (3) : 185)

Islam mengatur kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Sebagaimana Islam ingin setiap individu meraih kebahagiaan secara pribadi, Islam juga menginginkannya berbahagia bersama keluarga dan masyarakat.
 
Untuk mewujudkannya, Islam memberikan bimbingan kepada keluarga agar sesuai dengan kehendak Allah. Diantaranya adalah larangan bagi orang tua untuk meninggalkan generasi yang lemah; baik lemah secara fisik, intelektual, emosional, maupun lemah secara ekonomi.

Hal ini karena generasi yang lemah tidak mampu menempuh kehidupan dunia secara normal. Apalagi ia bertugas untuk melanjutkan kehidupan kita yaitu sebagai abdullah, beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah Allah di bumi.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat an-Nisa’ ayat 9,

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.s. An-Nisa’: 9)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
 
Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi peringatan kepada kaum muslimin agar jangan sampai meninggalkan keturunan yang lemah. Tentu larangan ini lebih ditujukan kepada orang tua yang mempunyai anak dan keturunan. Namun, lebih dari itu, ayat ini sebenarnya berbicara kepada setiap muslim.

Dari sini kita bisa memahami bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki adanya generasi yang lemah dalam masyarakat Muslim.

Oleh karena itu, agar tujuan mewujudkan generasi yang kuat bisa terwujud dalam masyarakat Muslim, maka diperlukan usaha dan kerjasama semua pihak, termasuk para guru dan segenap komponen masyarakat.
 
Kelemahan yang dimaksud dalam ayat tersebut bersifat umum. Di antara bentuk kelemahan generasi Islam adalah: lemah dalam bidang akidah, lemah dalam bidang ibadah, lemah secara intelektual/keilmuan, dan lemah secara ekonomi.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
 
Yang Pertama, jangan tinggalkan generasi yang lemah akidah (dhu’ful aqidah)

Pada abad ke-21 ini, kaum muslimin menghadapi tantangan berat berupa perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi yang sangat cepat. Dengan kehadiran teknologi ini, manusia seolah-olah hidup tanpa jarak.

Dunia seperti dalam genggaman tangan. Dunia berubah menjadi perkampungan kecil (global village). Semua terasa dekat. Segala bentuk informasi yang ada di dunia, baik yang positif maupun negatif, dapat diakses setiap saat melalui handphone android yang kita miliki.
 
Jika kehadiran teknologi ini tidak dibarengi dengan kualitas iman, ibadah dan akhlak yang baik, maka sangat mungkin anak-anak kita menerima dampak negatifnya, termasuk pendangkalan akidah dan kaburnya batas antara kebenaran dan kebatilan.
 
Kehadiran teknologi yang seharusnya mendekatkan komunikasi antar sesama manusia, seringkali justru semakin menjauhkan kita dari keluarga. Akibatnya teknologi menimbulkan sikap egois dan hubungan yang tidak harmonis.
 
Semakin banyak manusia memuja materi dan menjauhi ruhani. Komitmen terhadap agama dianggap sebagai hal yang tidak relevan dengan kehidupan kekinian.

Jika kita renungkan bersama, sepertinya kondisi ini mirip dengan kehidupan masyarakat jahiliyah lima belas abad silam, yang menuhankan hawa nafsu dan melepaskan diri dari aturan agama.

Jangan sampai anak keturunan kita menjadi generasi yang lemah akidah. Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah menekankan pendidikan akidah. Hal ini dicontohkan oleh Al-Qur’an melalui kisah Luqman al-Hakim yang selalu menanamkan akidah sejak dini kepada anak-anaknya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman: 13).
 
Pendidikan akidah yang lain dicontohkan Nabi Ya’qub ‘Alaihis salam dalam Surat al-Baqarah ayat 133. Sesaat sebelum wafat, beliau yang sebelumnya sudah mendidik anak-anaknya dalam ketaatan kepada Allah, ingin memastikan mereka berada pada akidah yang benar. Nabi Ya’qub berkata,

مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي

“Apa yang akan kalian sembah nanti sepeninggalku?”
 
Dengan tegas, anak-anaknya menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah (2) : 133).

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut :

أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوبَ ٱلۡمَوۡتُ إِذۡ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعۡبُدُونَ مِنۢ بَعۡدِي ۖ قَالُواْ نَعۡبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبۡرَٰهِـۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ

“Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku ?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah (2) : 133)

Demikian pula perhatian Nabi Ibrahim yang dikenal dengan Bapak Monoteisme Islam, terhadap akidah anak keturunannya.

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنًا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.” (QS. Ibrahim (14) : 35)
 
Kisah Luqman al-Hakim dan Nabi Ya’qub serta Bapak para Nabi di atas menggambarkan perhatian dan kepedulian orang tua terhadap generasi penerusnya dalam hal akidah. Disinilah pelajaran berharga kepada kita semua, agar jangan sampai meninggalkan generasi yang lemah akidah.

Kedua, jangan tinggalkan generasi yang lemah ibadah (dhu’ful ibadah)

Solusi agar terhindar dari generasi yang lemah ibadah adalah menghadirkan pendidikan ibadah di dalam keluarga.

Pembiasaan untuk melakukan ibadah sangat penting dilakukan sejak dini, agar tumbuh komitmen dalam diri generasi muda untuk senantiasa melaksanakan ibadah yang wajib maupun sunnah, seperti shalat lima waktu, puasa, membaca al-Qur’an, dll.
 
Saat ini, banyak sekali anak-anak muda yang meremehkan ibadah, terutama salat lima waktu. Padahal, ibadah shalat tidak memerlukan waktu yang lama untuk dilaksanakan.

Katakanlah untuk setiap shalat, kita butuh 15 menit dari sejak berwudhu, memakai pakaian yang suci dan kemudian melaksanakan salat. Jika dikalikan lima kali, dibutuhkan waktu 75 menit atau satu jam lebih 15 menit.

Waktu shalat ini jauh lebih sedikit bila dibandingkan waktu untuk istirahat, bekerja, bermain, dan bercengkrama bersama keluarga atau nongkrong di cafe.

Maka sungguh ironis jika anak-anak yang lahir dari keluarga Muslim tidak mau melaksanakan shalat seperti orang tua mereka. Apalagi jika berasalan tidak ada waktu dan tidak sempat karena padatnya aktivitas sehari-hari.
 
Fenomena generasi muda yang menyia-nyiakan ibadah shalat dan lebih memperturutkan hawa nafsu memang sudah disinggung di dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Kemudian, datanglah setelah mereka (generasi) pengganti yang mengabaikan salat dan mengikuti hawa nafsu. Mereka kelak akan tersesat.” (QS. Maryam (19) : 59)
 
Untuk itu, sebagai orang tua harus cerdas mendidik, membimbing dan menghadirkan pendidikan ibadah. Khususnya shalat, karena ibadah shalat adalah tiang agama. Barangsiapa yang menegakkannya, maka ia telah menegakkan agamanya. Dan barangsiapa merobohkannya, berarti ia telah merobohkan agamanya.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Yang Ketiga, jangan tinggalkan generasi lemah di bidang ilmu (dhu’ful ilmi)

Agar generasi tidak lemah di bidang ilmu, maka kita sebagai orang tua harus terus memotivasi anak agar semangat menuntut ilmu dan memilihkan institusi pendidikan yang baik bagi mereka. Tidak dapat dipungkiri, orang yang miskin ilmu tidak akan mampu bertahan/survive dalam kehidupan dunia.

Kesuksesan duniawi menuntut kecakapan, keterampilan, dan penguasaan ilmu pengetahuan yang cukup. Demikian juga kesuksesan di akhirat. Agar selamat dan mendapatkan surga yang Allah janjikan, dibutuhkan pemahaman terhadap ilmu syar’i yang dapat menuntun kepada jalan kebajikan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki.

Imam Syafi’i pernah berkata: “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat.”

Keempat, jangan tinggalkan generasi lemah ekonomi (dhu’fun fil maal)

Meninggalkan keluarga dalam kondisi berkecukupan lebih baik dari pada meninggalkan keluarga dalam kondisi miskin. Prinsip ini penting untuk dilaksanakan agar generasi berikutnya tidak menjadi beban orang lain, apalagi sampai meminta-minta dan menjadi pengemis.
 
Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam sendiri yang menjelaskan prinsip ini kepada para shahabatnya.

Suatu saat, ketika Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam masuk ke dalam rumah Sa’ad Ibnu Abi Waqqas Ra. dalam rangka menjenguknya ketika sakit parah, maka Sa’ad bertanya, ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai harta, sedangkan tidak ada orang yang mewarisiku kecuali hanya seorang anak perempuan. Maka bolehkah aku menyedekahkan dua pertiga dari hartaku?”

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, ”Tidak boleh.” Sa’ad bertanya. ”Bagaimana kalau dengan separuhnya?” Rasulullah menjawab, ”Jangan!” Sa’ad bertanya, ”Bagaimana kalau sepertiganya?” Rasulullah menjawab, ”Sepertiganya sudah cukup banyak”.

Kemudian Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya kamu bila meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan adalah lebih baik daripada kamu membiarkan mereka dalam keadaan miskin dan meminta-minta kepada orang lain.” (Muttafaq ’Alaih)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Dengan empat bekal utama tersebut, yaitu pendidikan akidah, pendidikan ibadah, bekal ilmu pengetahuan dan bekal kecakapan ekonomi, kita berharap anak-anak kita mampu melanjutkan estafet dakwah dan perjuangan Islam untuk mendemonstrasikan kemuliaan nilai-nilai Islam dalam berbagai dimensi kehidupan.

Generasi yang kuat akan menjadi rahmat bagi seluruh alam, seperti yang diinginkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagai orang tua, guru, dan anggota masyarakat, kita memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa generasi penerus kita tidak lemah dalam hal akidah, ibadah, ilmu pengetahuan, dan ekonomi.

Dengan demikian, kita berharap mereka mampu menjalani kehidupan yang berkah dan mendapatkan kebahagiaan di dunia serta keselamatan di akhirat. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Hidayatullah Soroti Pasal-pasal dalam PP No. 28/2024 yang Bertentangan dengan Kepribadian Bangsa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah menyatakan penolakan terhadap beberapa pasal yang dinilai bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia yang religius dan berakhlakul karimah dalam Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan

Hal itu ditegaskan dalam pernyataan resmi Hidayatullah bertajuk “Pernyataan Sikap DPP Hidayatullah Terkait Terbitnya PP No. 28/2024 Tentang Peraturan Pelaksanaan UU No 17 Tahun 2023 Tentang Kesehatan”, di Jakarta, Senin, 30 Muharam 1446 (5/8/2024).

“Menolak pasal-pasal dalam PP No. 28 Tahun 2024 yang bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia yang religius dan berakhlakul karimah,” demikian pernyataan Dewan Pengurus pusat (DPP) Hidayatullah itu yang ditandatangani Ketua Umum Dr. H. Nashirul Haq, Lc., MA, dan Sekretaris Jenderal Ir. Candra Kurnianto.

Pada prinsipnya Hidayatullah mengapresiasi langkah pemerintah dalam menerbitkan PP No. 28 Tahun 2024 sebagai tindak lanjut dari UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

Hidayatullah menilai upaya ini menunjukkan tanggung jawab pemerintah dalam merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina, dan mengawasi pelayanan kesehatan yang berkualitas, aman, efisien, merata, dan terjangkau bagi masyarakat. Hal ini sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) dari peraturan tersebut.

Meskipun demikian, Hidayatullah menilai terdapat beberapa pasal dalam PP No. 28/2024 yang perlu ditinjau ulang. Beberapa pasal disoroti dan dianggap dapat merusak nilai-nilai agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia serta nilai-nilai luhur yang berkembang di tengah masyarakat. Selain itu, pasal-pasal tersebut dinilai dapat menimbulkan keresahan di masyarakat.

DPP Hidayatullah menyatakan bahwa beberapa pasal dalam PP tersebut bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, serta peraturan perundang-undangan lainnya yang sudah ada di Indonesia. Pasal-pasal yang dianggap bermasalah antara lain:

Pasal 102 huruf a tentang penghapusan praktik sunat bagi perempuan, Pasal 103 ayat (4) huruf e tentang pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi serta pelayanan kesehatan reproduksi pada usia sekolah dan remaja dengan penyediaan alat kontrasepsi.

Berikutnya Pasal 104 ayat (2) huruf b terkait pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi serta pelayanan kesehatan reproduksi, yang menjelaskan tentang perilaku seksual yang sehat, aman, dan bertanggung jawab. Dalam Pasal 102 huruf a, terdapat kalimat yang menghapus praktik sunat bagi perempuan.

Meskipun dalam agama Islam, sunat bagi perempuan bukanlah kewajiban, namun praktik ini dianggap mulia jika dilakukan. DPP Hidayatullah mengusulkan adanya aturan ketat mengenai praktik sunat perempuan daripada penghapusan total.

Perlindungan Anak dan Implikasi Negatif Alat Kontrasepsi untuk Remaja

Lebih jauh Hidayatullah juga menyoroti Pasal 103 ayat (4) huruf e, yang membahas penyediaan alat kontrasepsi bagi remaja, dapat ditafsirkan sebagai upaya melegalkan seks bebas di kalangan pelajar asalkan tidak menyebabkan kehamilan. DPP Hidayatullah menekankan bahwa hal ini dapat merusak moral generasi muda.

Pasal 104 ayat (2) huruf b mengenai perilaku seksual yang sehat, aman, dan bertanggung jawab, juga dinilai berpotensi melegalkan seks bebas di antara pelajar dengan syarat suka sama suka dan saling bertanggung jawab.

Hidayatullah menilai Pasal-pasal tersebut bertolak belakang dengan Pancasila, terutama sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, dan UUD 1945 Pasal 29 ayat (1).

Selain itu, pasal-pasal ini juga bertentangan dengan prinsip pendidikan nasional yang tercantum dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat (3) dan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menekankan peningkatan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia.

DPP Hidayatullah juga menyoroti bahwa pasal-pasal dalam PP No. 28 Tahun 2024 tidak melindungi anak-anak, terutama pelajar, agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Hal ini bertentangan dengan UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan perlindungan anak adalah tanggung jawab semua pihak, termasuk pemerintah.

Berdasarkan hal-hal tersebut, Dewan Pengurus pusat Hidayatullah menyatakan menolak segala bentuk upaya yang dapat merusak akhlak, moral, kepribadian, harkat, dan martabat kemanusiaan para pelajar serta generasi muda Indonesia, menolak segala bentuk upaya liberalisasi di lingkungan lembaga pendidikan Indonesia.

Hidayatullah juga menegaskan menolak pasal-pasal dalam PP No. 28 Tahun 2024 yang bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia yang religius dan berakhlakul karimah.

“Mengajak seluruh elemen bangsa untuk kritis dan berperan aktif memberikan masukan kepada kebijakan pemerintah yang bisa berakibat pada kehancuran bangsa dan negara,” terangnya dalam pernyataannya.

Ditambahkan, bahwa pernyataan sikap DPP Hidayatullah ini sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual dalam menjaga keutuhan dan kesejahteraan bangsa. (ybh/hidayatullah.or.id)