Beranda blog Halaman 174

Menebar Kebaikan di Samosir, Bahagiakan Muslimah dan Dhuafa

0

SAMOSIR (Hidayatullah.or.id) — Di tengah keindahan Danau Toba, sebuah kisah inspiratif terukir. Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Sumatera Utara berhasil menyentuh hati masyarakat muslim di Desa Sukkean, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Dairi.

Dengan tulus, BMH menyalurkan bantuan berupa hijab dan sembako kepada para muslimah di desa tersebut pada Ahad, 29 Muharam 1446 (4/8/2024).

“Bantuan ini bentuk dukungan kami agar saudara-saudara kita di sini semakin kuat dalam menjalankan agamanya, kian teguh dalam mengukir kebaikan demi kebaikan di titik yang mereka jumlahnya bisa dihitung jari,” ujar Osman Ali, Kadiv Prodaya BMH Sumatera Utara.

Sebagai desa dengan populasi muslim yang minoritas, Sukkean menjadi salah satu fokus perhatian BMH. Masjid Nurul Islam yang berdiri megah menjadi saksi bisu perjuangan umat Islam di desa ini. “Kami ingin memastikan bahwa cahaya Islam terus bersinar terang di sini,” tambah Osman.

Opung Jujur Damanik, salah satu penerima manfaat, tak dapat menyembunyikan rasa syukurnya. Dengan senyum sumringah, beliau mengungkapkan, “Terima kasih kepada BMH dan para donatur yang telah jauh-jauh datang ke sini. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua.”

Selain ituH ijab juga menjadi bantuan yang BMH kirimkan. Hijab yang diberikan bukan hanya sekadar pakaian, tetapi juga simbol identitas seorang muslimah.

Melalui bantuan ini, BMH berharap dapat menguatkan iman dan ketaqwaan para muslimah di Sukkean. Sementara itu, sembako yang diberikan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani.

Osman mengatakan, kehadiran bantuan BMH di Samosir ini membawa semangat khidmat keumatan dengan diwakafkannya sebidang tanah untuk pembangunan fasilitas dakwah. BMH berharap Islam dapat menebar cahaya di Samosir.

Dan, inilah kedahsyatan dari zakat, infak dan sedekah. “Setiap rupiah yang disumbangkan oleh para donatur akan memberikan manfaat yang luar biasa bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ujar Osman.*/Herim

Pesan Langit di Pulau Samosir, Iqra’ sebagai Awal Perjalanan Menuju Kemenangan

0

SAMOSIR (Hidayatullah.or.id) — Di tengah keindahan alam membentang yang menawarkan 1001 lokus eksotisme penanda kebesaran Ilahi Robbi, di Masjid Nurul Islam, Desa Tambun Sungkean, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara (Sumut), Sabtu, 28 Muharam 1446 (3/8/2024), sebuah pesan mendalam disampaikan pada malam yang hangat penuh kekhusyukan.

Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sumut, Ustadz Ali Hermawan, dai senior dengan pengalaman berlimpah menyampaikan perihal makna mendalam di balik perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yakni “Iqra!”.

“Iqra, bacalah! Perintah ini bukan sekadar untuk membaca huruf dan kata,” tegas Ustadz Ali.

“Iqra adalah panggilan untuk terus belajar, berikhtiar, dan berjuang. Agar mudah dalam iman, jihad dan hijrah,” tegasnya.

Lebih lanjut, pria murah senyum itu menjelaskan bahwa iman, jihad, dan hijrah adalah tiga hal yang saling terkait erat.

“Iman adalah pondasi, jihad adalah perjuangan, dan hijrah adalah langkah nyata untuk menuju perubahan yang lebih baik, mencapai kemenangan yang besar,” ungkapnya.

“Hijrah bukanlah sekadar pindah tempat,” lanjut Ustadz Ali.

“Hijrah adalah proses transformasi diri, meninggalkan kebiasaan buruk menuju kebaikan. Hijrah adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran dan keteguhan iman,” tegasnya.

Dengan nada penuh semangat, Ustadz Ali mengingatkan seluruh dai Hidayatullah se Sumatera Utara, bahwa setiap orang yang berhijrah pasti akan menghadapi tantangan. Namun, ia juga menegaskan bahwa Allah SWT selalu bersama orang-orang yang berjuang di jalan-Nya.

“Orang yang berhijrah adalah mereka yang yakin bahwa dengan pertolongan Allah, segala kesulitan pasti bisa diatasi. Mereka tidak akan pernah menyerah dan selalu optimis menatap masa depan,” ujarnya.

Mengapa Iqra menjadi wahyu pertama?

Ustadz Ali Hermawan menjelaskan, “Perintah Iqra menjadi wahyu pertama karena Allah Subhanahu wa ta’ala ingin manusia selalu haus akan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu, kita akan mampu memahami agama kita dengan lebih baik dan menjalankan perintah-Nya dengan benar.”

“Selain itu, perintah Iqra juga mengajarkan kita untuk terus berinovasi dan mengembangkan diri. Dengan begitu, kita akan mampu menghadapi tantangan zaman dengan penuh percaya diri. Bisa menjadi dai yang kata Ustadz Imam Nawawi, dai yang humanis dan kreatif,” bebernya.

Ustadz Ali Hermawan mengajak seluruh kader Hidayatullah untuk terus belajar, berjuang, dan berhijrah. Dengan iman yang kuat, jihad yang istiqomah, dan hijrah yang konsisten, kita akan meraih kemenangan dan ridho Allah Subhanahu wa ta’ala.*/Herim

Semarak Refleksi Kemerdekaan Kader Hidayatullah Sumut di Tepian Danau Toba Pulau Samosir

SAMOSIR (Hidayatullah.or.id) — Ratusan kader dai Hidayatullah se-Sumatera Utara berhimpun di Masjid Nurul Islam, Desa Tambun Sungkean, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir, Sabtu, 28 Muharam 1446 (3/8/2024).

Masjid Nurul Islam yang terletak dipinggir Danau Toba dengan panorama alamnya yang aduhai cantiknya kian menambah semarak acara Refleksi Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2024.

Perjumpaan para dai itu semakin istimewa karena bertepatan dengan momen Muharram. Mereka berkumpul untuk merenungkan makna kemerdekaan yang sesungguhnya.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Utara, Ust. Subur Pramudya, menyampaikan bahwa merayakan kemerdekaan tidak hanya melalui lomba-lomba seru namun juga dengan menghidupkan kembali semangat juang para pahlawan bangsa.

“Merdeka dari penjajahan nafsu,” ujar Ustaz Subur, “adalah bagaimana kita, sebagai bangsa, menyegarkan spirit kita dalam menghadapi tantangan berat dalam kehidupan bermasyarakat.”

Sementara itu, anggota Dewan Murabbi Wilayah Sumut, Ust. Khairul Anam, menyoroti paradoks yang dihadapi oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang.

Kata Anam, meski maju secara militer dan teknologi, kedua negara ini mengalami masalah serius seperti tingginya angka bunuh diri. Kiai Anam menggarisbawahi bahwa kemerdekaan sejati lebih dari sekedar kemajuan fisik; ia tentang kesejahteraan mental dan spiritual.

Sementara itu, Ust. H. Ali Hermawan, Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sumut, menambahkan bahwa sinergi antara Tahun Baru Islam dan peringatan kemerdekaan harus menjadi sumber kekuatan diri.

“Acara ini tidak boleh hanya seremonial,” katanya, “tetapi harus menjadi momentum bagi kita untuk berbagi lebih banyak dengan hati yang jernih”.

Acara ini dihadiri oleh dai muda perwakilan dari seluruh Sumatera Utara, mulai dari Nias hingga Langkat. Kehadiran mereka menandakan kesatuan dan kekuatan komunitas dalam memahami dan menyebarkan nilai-nilai kemerdekaan yang mendalam.

Ali merefleksikan, bahwa peringatan di Masjid Nurul Islam Pulau Samosir, dengan segala renungan dan diskusi yang dibawa, mengingatkan kita semua bahwa kemerdekaan adalah perjuangan kontinu terhadap penindasan, baik yang fisik maupun yang rohani.

“Di momen Muharam ini, mari kita terus menjaga api kebebasan yang telah dinyalakan oleh para pahlawan kemerdekaan dengan terus memperkaya diri dan komunitas dengan nilai-nilai yang mencerahkan dan membebaskan,” imbuhnya menandaskan.*/Herim

Sinergi untuk Pendidikan Qur’an Menyemai Generasi Hafidz Berakhlak Mulia di Jakarta

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Senyum sumringah terpancar dari wajah Shobrun Jamil al Ayyubi (16), seorang santri asal Kalimantan Utara yang tengah menimba ilmu di Rumah Qur’an Jayakarta, Jl. Poltangan III No.3A 3, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Keberhasilannya menghafal 30 juz Al-Qur’an menjadi salah satu pencapaian membanggakan bagi semua pihak.

Keberhasilan Shobrun dan para santri lainnya tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, salah satunya adalah Bank BJB Cabang Jakarta Barat.

Untuk ketiga kalinya, Bank BJB memberikan bantuan logistik berupa sembako untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para penghafal Al-Qur’an.

“Alhamdulillah, bantuan logistik dari Bank BJB sangat membantu kami dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari para santri,” ujar Muhammad Abdullah Azzam El Izzi, pengasuh Rumah Qur’an Jayakarta.

“Dengan adanya dukungan seperti ini, para santri dapat lebih fokus dalam menghafal Al-Qur’an,” tegasnya, seperti dalam keterangannya yang diterima media ini, Sabtu, 28 Muharam 1446 (3/8/2024).

Bantuan logistik yang diberikan meliputi beras, susu UHT, sarden, minyak sayur, gula pasir, terigu, garam, dan lainnya. Bantuan ini sangat berarti bagi para santri, terutama mereka yang sedang menjalani karantina untuk fokus menghafal Al-Qur’an.

Adi Yusuf, Koordinator Program BMH Jakarta, menyampaikan terima kasih kepada Bank BJB atas kepeduliannya terhadap pendidikan Al-Qur’an.

“Kami berharap kerjasama ini dapat terus berlanjut dan semakin banyak pihak yang ikut mendukung program pendidikan Al-Qur’an,” ujarnya.

Demikianlah kebaikan yang terus memancar, memberi jalan keberhasilan kepada generasi bangsa, seperti Shobrun. Ini tentu menjadi inspirasi bagi santri-santri lainnya.

Adi merasa terharu karena para santri ini semakin termotivasi untuk terus belajar dan mengamalkan Al-Qur’an. Dari Rumah Qur’an Jayakarta diharapkan akan lahir lebih banyak lagi generasi muda yang hafal Al-Qur’an dan menjadi generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia.*/Herim

Sulsel Tuan Rumah, Rapat Kerja Nasional II Pemuda Hidayatullah 2024 Dibuka

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Gelaran Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II Pemuda Hidayatullah 2024 yang akan digelar selama 3 hari dibuka secara resmi hari ini, Jum’at, 27 Muharam 1446 (2/8/2024).

Kali ini Sulawesi Selatan menjadi tuan rumah helatan tahunan ini yang digelar di Ballroom Asrama Haji Embarkasi Makasar, Jalan Asrama H. Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.

Rapat Kerja Nasional II Pemuda Hidayatullah 2024 ini mengusung tema “Konsolidasi Progresivitas Pemuda yang Beradab Menuju Indonesia Emas”.

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Rasfiuddin Sabaruddin dalam pidato pembukaan Rakernas Pemuda Hidayatullah menyoroti gerak langkah bangsa menuju visi Indonesia Emas 2045.

Tema konsolidasi dan progresivitas pemuda yang beradab menuju Indonesia Emas menggarisbawahi pentingnya peran pemuda dalam mendorong perubahan positif dan berkelanjutan untuk mencapai masa depan Indonesia dan ummah yang cemerlang.

Rasfiuddin menjelaskan bahwa pelaksanaan Rakernas kali ini juga bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender hijriyah. Bulan Muharram dikenal sebagai bulan yang sarat dengan semangat hijrah, yang mengajak umat untuk bertransformasi menjadi lebih baik.

“Hijriyah adalah momentum menguatkan persaudaraan dan pemantapan program,” tegasnya.

Waktu istimewa ini, terang dia, juga bertepatan dengan bulan Agustus di mana kita memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79 tahun.

“Ini menjadi momentum persatuan dan persamaan persepsi dalam mengisi kemerdekaan,” ujarnya.

Selain itu, Rasfiuddin juga melakukan refleksi atas Milad Pemuda Hidayatullah yang saat ini telah memasuki usia 24 tahun. Usia ini dianggap sudah cukup dewasa untuk semakin mematangkan program-program yang bertujuan untuk mengisi kemerdekaan bangsa dengan kontribusi yang signifikan.

Masih dalam pidatonya, Rasfiuddin tidak lupa menyoroti dinamika politik saat ini dan di masa mendatang. Dia menegaskan bahwa Pemuda Hidayatullah akan bersikap proaktif dalam mengawal dan mensukseskan pesta demokrasi pada Pilkada serentak mendatang.

“Dengan mengedepankan politik silaturrahim, Pemuda Hidayatullah siap membawa dua jatidiri yaitu progresif dan beradab ke dalam kancah politik nasional,” imbuhnya.

Dia menukaskan, Rakernas Pemuda Hidayatullah tahun 2024 ini merupakan momentum kebangkitan dalam meneguhkan gerakan amar ma’ruf nahi munkar untuk memajukan bangsa, agama, dan ummah.

Rakernas Pemuda Hidayatullah merupakan ajang pertemuan rutin tahunan untuk menguatkan program-program strategis yang telah dirancang. Dengan semangat hijrah dan kemerdekaan, Pemuda Hidayatullah diharapkan mampu berkontribusi lebih banyak lagi dalam pembangunan bangsa dan memperkokoh persaudaraan di antara anggotanya.

Rasfiuddin meyakinkan bahwa Pemuda Hidayatullah memiliki energi dan semangat yang besar untuk melakukan perubahan yang mampu membawa bangsa dan ummah ke arah yang lebih baik.

Pembukaan Rapat Kerja Nasional II Pemuda Hidayatullah 2024 turut dihadiri PJ Gubernur Sulawesi Selatan Prof. Dr. Zudan Arif Fakrullah, S.H, M.H yang diwakili Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Karo Kesra) Ariyanti Aruji, Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Andi Rian R Djajadi, S.I.K, M.H dalam hal diwakili Wakil Direktur (Wadir) Binmas Polda Sulsel, AKBP Andi Kumara, SH, SIK, M.Si.

Turut hadir pula Walikota Makassar Ir. H. Mohammad Ramdhan Pomanto yang diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Sekretaris Dinas H. Aminuddin Tarawe, Ph. D, Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Dr. Nasirul Haq, Lc, M.A diwakili Kadep SDI Dr. Muhammad Arfan AU, M.Si.

Tampak hadir juga Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan KH. Drs. Nasri Buhari, Ketua DMW Hidayatullah Sulawesi Selatan K.H Ir. Abdul Majid, MA, Ketua Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar Ust. Suwito Fatah, MM, Ketua Perwakilan BMH Sulsel Abdul Kadir, Ketua PW Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan Abdurrahman Sibghatullah, Lc, unsur pimpinan organisai kepemudaan (OKP), dan segenap Pengurus Pusat dan Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah seluruh Indonesia. (ybh/hidayatullah.or.id)

Antusiasme Peserta Ikuti Kelas Manajemen Kematian dan Pemuliaan Jenazah

0

RASULULLAH Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Qais bin Saad Radhiyallahu ‘anhu dan Sahal bin Hunaif Radhiyallahu ‘anhu (RA), berikut ini:

“Dari Ibnu Abu Laila bahwa ketika Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra. sedang berada di Qadisiyah, tiba-tiba ada iringan jenazah melewati mereka, maka keduanya berdiri. Lalu dikatakan kepada keduanya: Jenazah itu adalah termasuk penduduk setempat (yakni orang kafir). Mereka berdua berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau berdiri. Ketika dikatakan: Jenazah itu Yahudi, Rasulullah saw. bersabda: Bukankah ia juga manusia? (Shahih Muslim No.1596).

Hadits tersebut menjadi salah satu dari banyak hadits yang seharusnya menjadi pedoman bagi kita sebagai umat Islam. Yaitu, bagaimana cara dan akhlak Rasulullah memberikan contoh untuk memuliakan orang mati atau jenazah.

Di penghujung Hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan: “bukankah ia juga manusia”? Ya, ia adalah juga manusia.

Rasulullah mengajarkan untuk tidak bersikap Sara meski kepada manusia yang sudah wafat atau jenazah. Ini yang menyentakan dan harus menyadarkan kita untuk memuliakan semua jenazah, meskipun beda agama, suku, bahasa, dan warna kulit. 

Dalam rangka mempraktikkan cara memuliakan jenazah, Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) yang diketuai Ust. Iwan Abdullah, M.Si mengadakan pelatihan manajemen kematian. Kegiatan ini digelar bekerja sama dengan Ikatan Persaudaraan Pemulia Jenazah Indonesia (IPPJI) yang diketuai oleh Dr. (HC) Rusmono Hy, S.Pd.I sebagai pemateri bersama tim.

Kegiatan dilaksanakan di Masjid Baitul Karim, Komplek Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Jakarta, pada Kamis, 26 Muharam 1446 (1/8/2024) dari pukul 13.00 hingga 17.00. Peserta hampir 100 orang putra dan putri yang dilakukan secara terpisah. Nampak peserta sangat antusias mengikuti pelatihan ini.

Pelatihan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ust. Muhammad Awwab. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Wakil DKM Masjid Baitul Karim, Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Pd.I.

Dalam sambutannya, Ghofar mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya kegiatan manajemen kematian ini, baik kepada KMH sebagai inisiator kegiatan, panitia pelaksana, tim dari IPPJI.

Tema pelatihan ini adalah manajemen kematian. Hal pertama yang disampaikan Dr. (HC) Rusmoyo adalah meluruskan mindset peserta untuk tidak takut menjadi berani memuliakan jenazah. Selama ini, kata dia, kebanyakan manusia takut, geli, jijik, bahkan trauma untuk mengurus jenazah.

Dalam mengubah mindset kematian,  Ustadz Rusmono mengatakan bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian. Sebagaimana dalam surah Al-Imran ayat 185:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Maka Rusmono mengajak jamaah untuk menghadapi kematian. Merencanakan serta mempelajari tata cara pengurusan jenazah sesuai syariat Islam. Karena hukum pemuliaan jenazah adalah fardhu kifayah, yakni status hukum yang wajib dilakukan, namun jika sudah dilakukan oleh muslim yang lain maka kewajiban itu gugur.

Sesi pertama dari pukul 13.00 hingga waktu Ashar materi  terkait keutamaan pemuliaan jenazah. Ada banyak materi disampaikan dengan menarik dan interaktif yaitu manajemen kematian, manajemen sakit, manajemen saat sakaratul maut, manajemen pemuliaan jenazah, memandikan, mengkafani, mensholatkan, dan memakamkan jenazah.

Setelah pemaparan materi, pelatihan dilanjutkan dengan Sesi II bakda Ashar hingga pukul 17.00 WIB.  Yaitu praktek simulasi proses pemuliaan jenazah dengan melibatkan peserta pelatihan  yang hadir.

Dengan khidmat, para peserta menyimak penjelasan Ust. Rusmono seraya mempraktekan langkah-langkah kepengurusan jenazah mulai dari menyiapkan kain kafan, memandikan jenazah, hingga mengkafani.

Dalam sesi praktik ini, ternyata simpel, sederhana, dan mudah dalam merawat jenazah dari  memandikan dan mengkafani. Apalagi cara penyampaikan dan praktiknya, Ustadz Rusmono menyelingi dengan humor-humor. Jenazah betul-betul dimuliakan sebagaimana dia masih hidup, dijaga auratnya, dibersihkan tubuhnya, dan diberikan minyak parfum yang wangi seperti minyak wangi di Ka’bah atau hajar Aswad.

Ustadz Iwan Abdullah sebagai inisiator kegiatan ini, mengaku sangat berbahagia dan senang dengan antusiasme peserta mengikuti pelatihan manajemen kematian ini. Iwan berharap, semua peserta bisa menjadi pelopor pemulia jenazah di tempatnya masing-masing, apalagi jika ada anggota keluarga yang meninggal dunia.*/Abu Zamzam, Ybh

Sekolah Dai Sultanbatara Kirim 20 Lulusan Angkatan V 2024 Mengabdi

0

PAREPARE (Hidayatullah.or.id) – Ujian Terbuka Syarah Matan Mandzumah Al Jazaariyyah menandai rangkaian wisuda dan penugasan 20 kader dai muda angkatan ke-5 Sekolah Dai Hidayatullah (SDH) Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara (Sultanbatara) yang ditugaskan mengabdi ke berbagai titik di kawasan Sultanbatara, Kamis, 26 Muharam 1446 (1/8/2024).

Dalam suasana penuh haru dan syukur, acara wisuda dan penugasan kader dai muda ini digelar di Gedung Dakwah Hidayatullah Kota Parepare, Kamis, 26 Muharam 1446 (1/8/2024).

Mudir Sekolah Dai Sultanbatara Parepare, Ust. H. Habibi Nursalam Bonggo, S.Pd.I, dalam keterangannya kepada media ini usai acara, mengatakan para alumni angkatan V ini dibekali embrio semangat dan ketaatan sehingga mereka siap ditugaskan berdakwah di berbagai titik khususnya di kawasan Sultanbatara.

Habibi berharap, para dai muda ini terus dikuatkan oleh para senior agar mereka terus mampu berkompetisi dalam kebaikan. Spirit fastabiqul khairat ini menurutnya perlu ditanamkan secara terus menerus.

“Para senior perlu ‘mentalqin’ mereka dengan step by step, agar mereka kuat dan kelak menjadi pioner yang bermental baja dan tahan banting. Disamping itu, perlu juga kesejahteraan buat mereka sesuai dengan kearifan lokal di mana mereka bertugas,” kata Habibi.

Seraya dengan itu, Habibi berharap sinergi tiga wilayah ini semakin menguatkan pengembangan dakwah di kawasan sekaligus meneguhkan eksistensi mereka dalam mengarungi dakwah sebagai jalan hidup.

“Jangan sampai mereka sambil berdakwah dan mengasuh dan masih tergantung dengan keuangan orangtuanya, terkadang ini membuat ortu mengajak balik kerja kampungnya. Sehingga aspek kesehjahteraan ini penting jadi perhatian,” katanya, seperti dinukil dari laman Posdai.or.id.

Habibi juga berharap kepada alumni untuk sabar dalam menjalani proses karena tidak ada proses yang singkat untuk menjadi pribadi sukses serta menjalani masa masa ini dengan penuh dedikasi.

“Harapan kepada alumni agar taat dan sabar serta banyak komunikasi dengan yang lebih senior” harapnya, sambil mendorong agar setiap alumni mencari minimal 2 orang untuk masuk Sekolah Dai.

Habibi berharap agar para mahasantri yang telah lulus dapat memanfaatkan ilmu yang mereka peroleh untuk mengajar Al-Qur’an dengan metode Grand MBA.

Habibi juga menekankan pentingnya sinergi antara para pengurus daerah Hidayatullah dan para lulusan dalam menjalankan dakwah dan pengabdian mereka di masyarakat.

Dengan keberhasilan ini, kata dia, Hidayatullah Sultanbatara tidak hanya mengukir prestasi, tetapi juga menebar inspirasi. Keberadaan Sekolah Dai Hidayatullah Sultanbatara di Parepare menjadi bukti bahwa dengan kerja keras, dedikasi, dan bimbingan yang tepat, para mahasantri dapat mencapai puncak prestasi dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Tampak pula pada acara tersebut Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Dr. H. Tasmin Latif, M.Pd., yang juga hadir untuk memberikan pesan kepada para wisudawan. Ia berpesan agar mereka selalu tampil sebagai orang terbaik di tengah masyarakat dengan dakwah yang relevan dan santun.

“Tampillah dengan melakukan dakwah yang relevan di tengah tengah masyarakat, hadirlah dengan mubasysyiran wa nadziran,” ujarnya, seperti dilansir laman Hidayatullahsulbar.com.

Menurut Tasmin Latif, metode dakwah yang moderat dan santun menjadi landasan bagi para da’i Hidayatullah dalam menjalankan tugas mereka sebagai pemersatu jalinan ukhuwah umat.

Di hadapan para hadirin, Al-Farobi dinobatkan sebagai mahasantri terbaik dalam Bahasa Arab, sementara Iswar dan Aras masing-masing meraih predikat terbaik dalam pelajaran Al-Qur’an dan Grand MBA. Keempat mahasantri yang membawa harum nama Hidayatullah Mamuju ini menjadi bukti nyata dari dedikasi dan kerja keras mereka.

Nilai Keteladanan Dai

Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ust Nasri Bukhori, M.Pd I, menyampaikan bahwa seorang dai adalah individu yang siap dicontoh dan siap memberikan segalanya.

Hidup seorang dai, kata Nasri, penuh tantangan, namun secara gamblang Allah menjelaskan keistimewaan dai dalam Al Qur’an surah Fusshilat ayat 33. Di sana terdapat Basyira, atau kabar gembira, bahwa setiap orang yang mengambil peran dakwah adalah manusia pilihan, pekerjaan pilihan, dan pekerjaan yang diridhoi.

“Seorang dai harus menjadi teladan dalam setiap aspek kehidupan. Para dai menyampaikan ajaran agama dan juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Kehidupan seorang da’i tidak mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi, baik dari dalam diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar. Namun, jelas Nasri, setiap tantangan ini merupakan ujian yang akan meningkatkan kualitas diri seorang dai, menjadikannya lebih tangguh dan beriman.

Nasri kembali menegaskan bahwa pekerjaan seorang dai adalah profesi mulia yang dilakoni oleh semua Nabi. Karenanya, keberkahan yang diperoleh dai bukan hanya dalam bentuk empirik, tetapi juga dalam bentuk ketenangan batin dan kepuasan spiritual.

Dakwah Santun dan Bersahabat

Dalam acara tersebut, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kementerian Agama Kota Parepare, H. Saiful Mahsan, S.Pt., M.Si., turut hadir dan menyampaikan rasa syukur atas keberadaan Hidayatullah.

Menurut H. Saiful Mahsan, dakwah yang dilakukan oleh Hidayatullah sangat santun dan tidak keras, sehingga diterima dengan baik oleh masyarakat dan pemerintah setempat.

Sinergi yang terjalin antara Hidayatullah dan masyarakat Parepare telah memberikan manfaat besar bagi umat, dan ia berharap kerjasama ini akan terus berlanjut. (ybh/hidayatullah.or.id)

[KHUTBAH JUM’AT] Iman, Hijrah dan Jihad Siklus Sistemik

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Di Bulan Muharram ini, tema sentral pembicaraan dan pembahasan umat Islam adalah tentang hijrah. Sebagai sejarah fenomenal dari perjalanan dakwah Rasulullah yang harus meninggalkan Makkah sebagai tempat kelahiran dan kampung halaman menuju Madinah. Hijrah tidak berdiri sendiri tapi harus diiringi dengan iman dan jihad.

Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan tentang tiga hal tersebut dalam firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللهِ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman serta orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Baqarah:218)

الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” (QS. At-Taubah: 20)

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah dalam kitab Zaadul Ma’ad menyampaikan bahwa iman, hijrah, dan jihad adalah sesuatu yang sistemik dan tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Tidak sempurna iman jika tidak hijrah dan tidak bisa hijrah dengan baik tanpa jihad. Sebaliknya, jihad tidak tegak tanpa dilandasi dengan iman dan semangat hijrah.

Hijrah merupakan konsekuensi iman dan dorongan untuk mengaktualisasikan iman dengan berpindah ke situasi dan kondisi agar lebih dekat kepada Allah. Ketika tumbuh iman pasti tumbuh pula spirit hijrah (meninggalkan hal yang tidak baik) menjadi lebih baik.

Hijrah maknawi adalah hijrah dari kemaksiatan menuju kepada ketaatan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang” (HR. Bukhari).

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Dari makna hadist di atas, hijrah adalah hal yang sangat logis dan keharusan. Tidak mungkin orang beriman yang percaya, yakin, dan mencintai Allah, namun di saat yang sama melaksanakan hal-hal yang dilarang oleh Allah.

Kalau betul-betul beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala pasti dia akan hijrah atau meninggalkan hal yang dilarang Allah Subhanahu wa ta’ala.

Hijrah peribadatan dan perbuatannya. Dari sebelumnya menyembah berhala menjadi bertauhid menyembah Allah. Jika sebelumnya masih bolong-bolong shalatnya, berubah menjadi lebih konsisten. Jika sebelumnya shalat sendiri di rumah, berubah berjamaah di masjid dan bertambah shalat sunnah rawatibnya.

Hijrah meninggalkan perbuatan dari yang munkar, maksiat, dan tercela menjadi perbuatan yang makruf dan akhlaq mulia.

Jika sebelumnya menjalankan usaha dengan riba berani berubah menjadi ekonomi syariah. Intinya, hijrah itu berubah menjadi lebih baik. Bukan merasa lebih baik dari orang lain.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Iman bukanlah keyakinan yang diam, stagnan, egois, cuek, dan pasif terhadap kondisi yang ada. Ketika iman tumbuh maka muncul kerisauan terhadap kondisi masyarakat dan akhirnya terpanggil untuk mengubahnya lebih baik.

Iman itu memerlukan aktualisasi dan hijrah adalah jalan untuk sebuah perubahan menjadi lebih baik.

Kemudian dalam perjalanan iman dan hijrah tentu tidak mudah dan banyak tantangan. Terkadang harus berdarah-darah, mengorbankan tenaga, harta, keluarga, waktu, dan hal-hal yang kita cintai. Maka Islam mensyariatkan jihad atau berjuang seoptimalkan mungkin.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

(Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya). Hadits ini derajatnya shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu.

Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah

Jihad bukan hanya dalam makna qital atau perang. Menundukkan hawa nafsu, ego, dan logikanya sendiri juga adalah jihad. Untuk bisa beriman dan berhijrah pasti mensyaratkan jihad yaitu kesungguhan dan pengorbanan.

Untuk bisa istiqomah shalat lima waktu berjamaah, infak, shalat lail, dan semua amal ibadah, amal sholeh sebagai manifestasi iman dan hijrah diperlukan jihad. Diperlukan kesungguhan. Minimal mengalahkan nafsu malasnya, merasa cukup, dan bisa bersabar untuk istiqomah.

Pemaknaan yang benar terhadap iman, hijrah, dan jihad akan melahirkan paradigma dan kekuatan moral bagi orang beriman untuk meraih kemenangan. Sebagaimana kejayaan Islam yang pernah diraih generasi Rasulullah di awal Islam dengan iman, hijrah, dan jihad.

Hari ini ada banyak usaha dalam pendangkalan makna iman, hijrah, dan jihad, bahkan mendistorsi bahkan men-delete kurikulum hijrah dan jihad dari ajaran Islam. Dengan berbagai seminar, penerbitan buku, pembredelan kitab yang seolah jihad itu ektrem menjadi penyebab ketertinggalan dan kejumudan dalam Islam.

Sehingga di bulan Muharram ini, mari senantiasa menjadikan Muharram dan hari-hari besar Islam sebagai momentum untuk konsolidasi jatidiri seorang muslim, muhasabah, dan berdiskusi untuk menguatkan paradigma iman, hijrah, dan jihad.

Ketiganya adalah siklus kehidupan yang harus terus bergerak, setelah pada puncak jihad maka kembali chek and rechceck imannya lagi, berani hijrah dan selanjutnya wujudkan dalam jihad.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ.

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

DPP Hidayatullah Imbau Umat Islam Shalat Ghaib Untuk Ismail Haniyah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah mengimbau kepada seluruh kaum Muslim di mana pun berada, khususnya kader dan simpatisan Hidayatullah, untuk menyelenggarakan shalat ghaib bagi pejuang Palestina, Dr. Ismail Haniyah.

Pernyataan ini disampaikan Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr. Nashirul Haq kepada Hidayatullah.or.id pada Kamis pagi, 26 Muharam 1446 (1/8/2024).

“Umat Islam merasa amat berduka atas syahidnya pahlawan kaum Muslim dalam pembebasan Baitul Maqdis, Dr Ismail Haniyah. Karena itu kami mengimbau seluruh kader dan simpatisan Hidayatullah, dan kaum Muslim pada umumnya, untuk menyelenggarakan shalat ghaib,” katanya.

Masjid Baitul Karim yang terletak di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah rencananya akan menggelar shalat ghaib pada Kamis (1/8) usai shalat magrib.

Selain itu, masjid yang berada satu kompleks dengan Kantor DPP Hidayatullah ini tetap rutin melantunkan doa qunut nazilah untuk para pejuang Palestina usai shalat magrib hingga hari ini. Hidayatullah sendiri memiliki lebih dari 500 kampus/pesantren di seluruh Indonesia.

Sebagaimana dikabarkan sebelumnya, Ismail Haniyah, atau bernama lengkap Ismail Abdul Salam Ahmad Haniyah, simbol perjuangan Palestina dalam menghadapi penjajahan, penindasan, dan kekerasan brutal Zionis Israel, telah syahid pada Selasa (29/7/2024).

Menurut laporan Al Jazeera dan berbagai media lainnya, Ismail Haniyah syahid dalam sebuah serangan di kediamannya di Teheran, Iran, yang dilakukan pasukan Zionis Israel. Serangan ini juga menewaskan salah satu pengawal pribadinya.

Rencananya jenazah Ismail Haniyah akan diterbangkan ke Doha, Qatar, dan proses pemakaman akan berlangsung di Qatar pada Jumat (2/8). Demikian menurut pernyataan tertulis Hamas yang disampaikan lewat telegram.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengeluarkan seruan serupa. Ketua MUI Bidang Dakwah, KH Muhammad Cholil Nafis, melalui cuitannya di akun X pada Rabu (31/7/2024), mengimbau seluruh umat Islam di Indonesia untuk melaksanakan salat gaib atas wafatnya Ismail Haniyah.

“Mohon kepada takmir masjid se-Indonesia untuk melaksanakan shalat ghaib seusai shalat Jum’at,” tulis Kiai Cholil dengan ejaan yang telah disesuaikan. (Mahladi/Hidayatullah.or.id)

Bekali Mahasiswa STIQ Ash-Shiddiq, Imam Maknai Menulis sebagai Napas Kehidupan

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Aula Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Bandar Labuhan, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, dipenuhi semangat berkobar para mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiq yang mengikuti forum literasi Islam dan pelatihan jurnalistik, Rabu, 25 Muharam 1446 (31/7/2024).

Di tengah mereka, hadir Imam Nawawi, Kepala Humas BMH Pusat, bukan hanya sebagai pembicara, tapi juga sebagai penyulut api semangat berkarya melalui tulisan.

Suasana semakin hidup saat Darmawan Sriyanto, M.Si, Ketua STIQ Deli Serdang, memandu sesi tanya jawab yang interaktif.

Imam, dengan gaya bicaranya yang khas, mampu memikat perhatian seluruh hadirin. Ia berbagi kiat-kiat menulis yang praktis dan mudah diterapkan, mulai dari mencari ide, menyusun kerangka tulisan, hingga teknik penulisan yang efektif.

“Menulis itu seperti bernapas bagi saya,” ujar Mas Imam. “Melalui tulisan, kita bisa menyampaikan pesan, berbagi pengetahuan, dan bahkan mengubah dunia.”

Semangat yang ditularkan Imam tak hanya membakar jiwa para mahasiswa, tapi juga memberikan mereka keyakinan untuk terus berkarya.

Diantaranya menyadari bahwa menulis adalah kekuatan, dan setiap kata yang mereka torehkan memiliki potensi untuk menginspirasi dan membawa perubahan.

Para mahasiswi, dengan antusias bergantian melontarkan pertanyaan dan berbagi pengalaman mereka dalam dunia tulis-menulis.

Natasa Dwi Utami mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an Ash-Shiddiq semester 7 mengaku sharing ini membuatnya mendapatkan banyak manfaat.

“Saya sangat mendapat banyak kebaikan dan manfaat dalam hal menulis, terutama menulis berita dengan baik dan cara menulis berita dengan lebih banyak lagi,” ucapnya.

Sementara itu, Lukman, Kepala BMH Perwakilan Sumatera Utara, yang mendukung acara pelatihan ini, mengatakan kegiatan ini sangat penting untuk membangkitkan gairah mahasiswi dalam menuangkan ide dan gagasan mereka lewat tulisan.

“Menulis bukan hanya sekadar keterampilan, tapi juga sarana untuk berbagi inspirasi dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” kata Lukman.

Di penghujung acara, ruang kegiatan pelatihan yang diikuti mahasiswa STIQ Deli Serdang dipenuhi aura positif dan semangat baru. Selain mereka membawa sertifikat pelatihan menulis, para mahasiswi juga meninggalkan ruangan dengan tekad bulat untuk terus mengasah kemampuan menulis mereka.*/Herim