Beranda blog Halaman 175

MUI Serukan Shalat Ghaib untuk Pejuang Kemerdekaan Palestina Ismail Haniyah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ismail Abdul Salam Ahmad Haniyah atau kita kenal dengan nama Ismail Haniyah, adalah seorang pemimpin perjuangan kemerdekaan Baitul Maqdis yang telah menjadi simbol perjuangan Palestina dalam menghadapi penjajahan, penindasan, dan kekerasan brutal penjajah zionis Israel yang terus berlanjut. Sosoknya tidak hanya dikenal sebagai seorang pemimpin politik, tetapi juga sebagai pejuang yang gigih membela hak-hak rakyat Palestina.

Ketua MUI Bidang Dakwah, KH Muhammad Cholil Nafis, mengimbau seluruh umat Islam di Indonesia untuk melaksanakan salat gaib atas wafatnya Ismail Haniyah. Seruan ini disampaikan melalui cuitannya di akun X pada Rabu, 25 Muharam 1446 (31/7/2024).

“Mohon kepada takmir masjid se-Indonesia untuk melaksanakan shalat ghaib seusai shalat Jum’at,” tulis Kiai Cholil dengan ejaan yang telah disesuaikan.

Menurut laporan dari berbagai sumber, termasuk Al Jazeera dan Reuters, Ismail Haniyah syahid dalam sebuah serangan yang dilakukan oleh pasukan Zionis di kediamannya di Teheran, Iran. Serangan ini juga menewaskan salah satu pengawal pribadi Haniyah. Peristiwa tragis ini terjadi setelah ia menghadiri upacara pelantikan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada Selasa (29/7/2024).

Jenazah Ismail Haniyah akan dimakamkan pada Kamis (1/8) pukul 8 pagi di Teheran, sebelum kemudian dipindahkan ke Doha, Qatar. Proses pemakaman di Qatar akan berlangsung pada Jumat (2/8), di mana jenazah Haniyah akan disalatkan dan dikuburkan di ibu kota Qatar, seperti yang disampaikan oleh Hamas melalui pernyataan tertulis di Telegram.

Berita gugurnya Ismail Haniyah mengundang reaksi duka dan solidaritas dari berbagai penjuru dunia Islam. Banyak pemimpin dan masyarakat Muslim yang mengungkapkan rasa kehilangan mereka atas wafatnya seorang pejuang yang berkomitmen penuh terhadap kemerdekaan Palestina.

“Inna lillahi wa inna ilaihi Raji’un ikut berduka atas wafatnya almarhum al-syahiid Ismail Haniya, pejuang kemerdekaan Palestina Allahummaghfirlahu warhamhu wa’fu ‘anhu. Alfatihah,” ungkap Cholil Nafis dalam cuitannya. (ybh/hidayatullah.or.id)

Teladan Shalihin Menerima Kemalangan dengan Cara Jenaka

SIAPA sih manusia yang tidak pernah mengalami kesialan atau nasib buruk? Kita semua pernah mengalaminya. Bahkan, para Nabi dan wali pun tidak dikecualikan dari daftar ini. Bagaimana pun, suka dan duka ibarat bumbu penyedap yang tanpanya kehidupan menjadi hambar.

Pada kenyataannya, keberuntungan maupun kemalangan bisa mengenai bagian mana saja dari diri kita. Jenis, intensitas, dan skalanya pun bisa sangat beragam; yang pada gilirannya mendorong cara-cara penyikapan yang sangat beragam pula.

Ada manusia yang menerima keberuntungan dengan syukur yang nyata, tetapi ada pula yang menjadi lupa diri. Ada manusia yang menerima kemalangan dengan kesabaran berlipat, tetapi ada pula yang tenggelam dalam keputusasaan. Kisah-kisah kesyukuran maupun kesabaran sangatlah melimpah, sebab usia keberuntungan dan kemalangan sudah setua umat manusia itu sendiri. 

Alhasil, amal perbuatan manusia pasti beragam. Dan, inilah watak dasar mereka, sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.” (QS. Al-Lail: 4). Dari sini pula mereka kelak akan diberi balasan secara utuh, tidak dizhalimi sedikit pun.

Allah berfirman, “Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberikan balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. Dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu).” (QS. An-Najm: 38-42).

Hanya saja, efek kemalangan dan keberuntungan tidaklah sama. Keberuntungan biasanya tidak melahirkan kisah-kisah heroik, bahkan acapkali menderetkan seribu satu ironi. Justru kemalanganlah yang kerapkali menempa manusia dan menampakkan keunggulannya. Seperti besi yang didiamkan sekian lama tanpa disentuh, biasanya malah berkarat dan hancur perlahan-lahan.

Sebaliknya, besi yang dibakar dan ditempa dengan palu berkali-kali, justru berubah menjadi logam yang bersih, padat, dan kokoh. Manusia cenderung menjadi kuat dalam penderitaan, dan mudah melempem di tengah-tengah kemapanan. Mungkin, inilah rahasia mengapa Allah sengaja merancang kehidupan kita sebagai rangkaian ujian, bukan untaian hadiah (lihat, QS. al-Baqarah: 155).

Menyadari kenyataan ini, para ulama’ sengaja mencatat kisah-kisah penuh inspirasi yang merekam bagaimana manusia menghadapi kenyataan-kenyataan hidup yang tidak diharapkan. Misalnya, Al-Hafizh Ibnu Abi Dunia menyusun karya berjudul Al-I’tibar wa A’qabus Sururi wal Ahzan (Pelajaran dan Akibat [di balik] Kegembiraan dan Kesedihan).

Dalam risalah ringkas ini, pada riwayat no. 21, beliau menyitir pernyataan ‘Abdurrahman bin Abu Bakrah (Tabi’in Senior, w. 96 H), “Barangsiapa yang menginginkan kekekalan, hendaklah ia meneguhkan diri menghadapi musibah-musibah.”

Uniknya, para ulama’ juga menceritakan orang-orang yang bisa menerima kemalangan-kemalangannya dengan cara jenaka. Reaksi mereka spontan, sangat alami, dan mencerminkan nilai-nilai tertentu yang diyakininya. Sepertinya, dengan sedikit selera humor, terkadang kemalangan pun bisa berubah menjadi hiburan yang menentramkan.

Sebagai contoh, Imam Adz-Dzahabi mencatat sebuah anekdot menggelikan dalam biografi ‘Imran bin Hitthan as-Sadusi, seorang ulama’ dari generasi Tabi’in Senior yang wafat tahun 84 H. Konon, ‘Imran ini memiliki seorang istri yang cantik jelita, sementara beliau sendiri dikenal buruk rupa.

Suatu kali, beliau memandangi istrinya dan sangat mengagumi kemolekannya. Tiba-tiba, istrinya berkata, “Aku dan kamu sama-sama di surga. Sebab, kamu diberi karunia lalu bersyukur, sedangkan aku diberi musibah lalu bersabar.” (Siyaru A’lamin Nubala’, IV/214).

Begitulah. Punya pasangan hidup yang buruk rupa pun bisa diterima dengan gembira, bahkan ditertawakan. Tidak disesali, apalagi diratapi dan di-curhat-kan ke mana-mana melalui media massa atau jejaring sosial, seperti yang lazim dilakukan sebagian orang di zaman kita. Semuanya bisa disyukuri sebagai anugerah yang indah, sebab kesabaran dalam menerimanya berbuah surga.

Terlihat seperti lelucon, tetapi ini sesungguhnya bukan main-main. Lihatlah kebalikannya, betapa banyak orang-orang yang dikaruniai pasangan cantik atau tampan, namun lebih memilih berselingkuh dengan orang lain. Ternyata, pemberian-pemberian yang terbaik sekali pun bila tidak disyukuri dengan benar pasti berbalik menjadi bencana.

Imam Adz-Dzahabi juga menceritakan kisah lain. Disebutkan bahwa al-A’masy (Tabi’in Yunior, w. 147 H) mempunyai seorang anak yang lemah ingatannya. Suatu kali, beliau berkata kepadanya, “Pergilah, belikan tali untuk jemuran.” Anak itu bertanya, “Wahai ayah, berapa panjangnya?” “Sepuluh hasta (yakni, sekitar 5 meter),” kata sang ayah. Anak itu bertanya lagi, “Berapa lebarnya?” Spontan, al-A’masy berseru, “Selebar musibahku pada (keberadaan)mu!” (Siyaru A’lamin Nubala’, VI/239).

Ya, selebar itulah musibah seorang ayah mendapati anaknya yang lemah. Tapi, beliau tahu bahwa lebarnya musibah selalu beriringan dengan luasnya pahala. Sebab, beliau pernah meriwayatkan sebuah atsar dalam masalah ini. Beliau berkata: dari Abu Zhubyan, ia berkata, “Kami pernah menyodorkan mushaf-mushaf Al-Qur’an kepada ‘Alqamah bin Qais (untuk diperiksa ketepatan bacaannya). Beliau kemudian melewati ayat ini: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11). Maka, kami pun bertanya kepada beliau tentang maknanya. Beliau menjawab: ‘Maksudnya, seseorang yang tertimpa suatu musibah sedangkan ia tahu bahwa hal itu datang dari Allah, lalu ia rela dan menerimanya.” (Riwayat al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra).

Ada satu kisah lain, yang bersumber dari zaman Nabi. Shuhaib berkata, “Saya datang untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu berada di Quba’. Beliau bersama Abu Bakar dan ‘Umar, sedangkan di hadapan mereka ada kurma segar. Saya sendiri terkena sakit mata di perjalanan sehingga sangat kelaparan. Maka, saya pun memakan kurma-kurma itu. Umar berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah Anda melihat Shuhaib yang makan kurma padahal matanya sakit?” Maka, beliau pun berkata, “Hai Shuhaib, engkau makan kurma padahal matamu sakit?” Shuhaib menjawab, “Wahai Rasulullah, saya makan dengan menggunakan sebelah mata saya ini yang masih sehat.” (Riwayat Ibnu Majah, Ibnu ‘Asakir, al-Hakim, dan ath-Thabrani. Redaksinya milik Ibnu ‘Asakir. Hadits hasan-shahih).

Jawaban spontan Shuhaib mencerminkan pikiran-pikiran positifnya. Alih-alih mengeluh dan meratapi sebelah matanya yang sakit, beliau lebih suka mensyukuri sebelah matanya lagi yang masih sehat. Alhasil, semua bisa dilanjutkan dan berjalan normal, seolah tidak terjadi apa-apa. Halangan-halangan kecil seperti itu tidak perlu dibesar-besarkan, karena bisa diterima dengan lapang hati dan bahkan jenaka.

Cara beliau menyikapi kemalangan patut dicontoh, meski terlihat sebagai gurauan. Bukankah kita sering mendapati orang-orang yang begitu cepatnya ambruk hanya karena masalah-masalah sepele? Sedikit pusing pun sudah cukup menjadi alasan untuk bolos sekolah, atau minta surat keterangan dokter agar bisa mangkir dari kantor.

Sepertinya, sekali waktu, kita perlu belajar menyikapi musibah dengan mengaktifkan syaraf-syaraf humor kita; agar ia tidak gampang mengeruhkan akal sehat apalagi sampai menumbangkan semangat. Bukankah musibah tidak mungkin dihapuskan dari kehidupan, sementara kita tidak boleh berhenti sampai perjalanan ini mencapai ujungnya? Wallahu a’lam.[]

*) Ust. M. Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh Yayasan Pendidikan Integral (YPI) Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Batu, Malang, Jawa Timur

BMH Maluku Raih Penghargaan Penghimpunan ZISWAF Terbaik Ke-3

AMBON (Hidayatullah.or.id) — Kabar gembira datang dari dunia filantropi di Maluku. Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) Perwakilan Maluku berhasil meraih penghargaan dari Kemenag Maluku sebagai Penghimpunan Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) Terbaik ke-3 tahun 2023.

Penghargaan ini diberikan langsung oleh Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kementerian Agama Provinsi Maluku, H. M. Rusydi Latuconsina, S.Ag, mewakili Kakanwil Kemenag Provinsi Maluku, Dr. H. Yamin, S.Ag., M.Pd.I, pada acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Akreditasi dan Audit Syariah Lembaga Pengelola Zakat Tingkat Provinsi Maluku Tahun 2024, Selasa, 24 Muharram 1446 (30/7/2024).

Penghargaan ini menjadi bukti nyata atas dedikasi dan kerja keras BMH Maluku dalam mengelola zakat dan menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan.

Kakanwil Kemenag Provinsi Maluku dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh lembaga pengelola zakat, termasuk BMH.

“Melalui kegiatan ini, kita berharap dapat meningkatkan kompetensi para pengelola lembaga zakat agar dapat memberikan pelayanan yang lebih efektif dan efisien,” ujarnya.

Supriyanto, Kepala BMH Perwakilan Maluku, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas pencapaian ini.

“Penghargaan ini adalah buah dari kerja sama dan dukungan dari seluruh donatur, mitra, dan stakeholder. Kami akan terus berupaya untuk meningkatkan kinerja dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat,” ucapnya.

“Lebih jauh penghargaan ini menunjukkan bahwa BMH Maluku menjalankan pengelolaan zakat dengan prinsip-prinsip yang transparan dan akuntabel,” imbuhnya.

Prestasi BMH Maluku ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk ikut berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih baik.

“Dengan menyalurkan zakat melalui lembaga yang terpercaya seperti BMH, kita telah ikut serta dalam membantu mereka yang membutuhkan,” tutup Supriyanto.*/Herim

Rakor Bidang Ekonomi Sinergi BUMO Menuju Masa Depan Kemandirian Lembaga

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka meningkatkan kemandirian dan akuntabilitas Badan Usaha Milik Organisasi (BUMO), Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menggelar Rapat Koordinasi Ekonomi (Rakor Ekonomi) dengan tema “Menjadi BUMO Mandiri dan Akuntabel”.

Kegiatan ini dilaksanakan di Aula DPW Hidayatullah Jawa Timur, Jalan Keputih Tegal, Sukolilo, Surabaya, Selasa, 24 Muharam 1446 (30/7/2024).

Dalam Rakor ini, hadir narasumber yaitu Ketua Bidang Perekonomian DPP Hidayatullah, Drs. Wahyu Rahman, dan Ketua Departemen Perekonomian dan Kelembagaan DPP Hidayatullah, Miftahurrahman.

Kedua narasumber tersebut menyampaikan berbagai poin penting yang menjadi fokus utama Rakor, yakni penguatan komitmen BUMO untuk keberlangsungan organisasi.

Wahyu Rahman menekankan Rakor Ekonomi BUMO Hidayatullah ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian dan akuntabilitas BUMO dalam mendukung keberlangsungan. Dengan komitmen dan sinergi yang kuat, Wahyu berharap ekonomi lembaga Hidayatullah akan semakin maju dan mampu bersaing di kancah bisnis nasional maupun internasional.

“Rakor ini sebagai momentum penting dalam perjalanan ekonomi BUMO Hidayatullah,” cetusnya optimis.

Wahyu menambahkan, monitoring dan evaluasi BUMO juga menjadi salah satu agenda utama dalam Rakor ini. Langkah ini bertujuan untuk membangun strategi ekonomi ke depan dalam upaya meningkatkan kemandirian lembaga untuk menunjang gerakan membangun peradaban Islam.

Sementara itu Ketua Panitia Kegiatan, Fadhil Muhammad, menekankan pentingnya sinergi antar BUMO untuk memperkuat ekonomi lembaga. “Keterlibatan kita dalam mengelola bisnis ekonomi BUMO adalah wujud jihad kita,” ujarnya. “Semoga terwujud sinergi tersebut,” tambahnya.

Para direktur BUMO Hidayatullah, seperti PT. Lentera Jaya Abadi, Sakinah Swalayan, HG Probindo, Hitrave, Grand Shatara, Omchick, dan RPA Hidayatullah, LPH, Golden Palm Hill, Mulia Mandiri Nusantara, serta Hidayatullah Global Teknik (HGT) turut hadir dan berpartisipasi aktif dalam diskusi ini.

Para peserta Rakor menyampaikan harapan mereka agar melalui kegiatan ini, daya gerak semua BUMO semakin cepat dan kuat dalam bersaing di dunia bisnis. “Semoga dengan Rakor ini daya gerak semua BUMO makin cepat dan makin kuat daya saingnya di dunia bisnis,” ungkap salah satu peserta.*/Abdul Malik Almandaary

Ajang Super Camp Vol 1 Pandu Hidayatullah Malut Asah Bakat Kepemimpinan

0

SOFIFI (Hidayatullah.or.id) — Semangat berkobar di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Izzah Hidayatullah Kusu, Kecamatan Oba Utara, Sofifi, Pulau Halmahera, saat 300 santri dari berbagai penjuru Maluku Utara berkumpul dalam Super Camp Vol 1 Gerakan Pandu Hidayatullah.

Acara yang berlangsung selama empat hari ini, 24-27 Juli 2024, sebagai wadah untuk menempa generasi muda menjadi pemimpin berkarakter dan berjiwa petarung.

“Santri Hidayatullah adalah kader penerus perjuangan agama dan bangsa. Mereka harus memahami dan mengamalkan nilai-nilai kepemimpinan dalam Islam,” tegas Ustadz Nurkholis, Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara, saat membuka acara.

Berbagai kegiatan seru dan menantang mengisi hari-hari para santri. Mulai dari latihan baris-berbaris, sandi morse, pertolongan pertama, hingga lomba tartil dan hafalan Al-Qur’an. Semua dikemas dengan semangat kebersamaan dan ukhuwah islamiyyah yang kental.

“Super Camp ini sangat berkesan bagi saya,” ungkap Naila S, salah satu peserta.

“Saya tidak hanya mendapatkan ilmu baru, tapi juga teman-teman dari berbagai daerah. Pengalaman ini sangat berharga untuk pengembangan diri,” imbuhnya.

Muhammad Nashirul Haq, Ketua Sakoda Pramuka Maluku Utara, berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi para santri.

“Kami ingin mencetak generasi Rabbani yang mandiri, berakhlak mulia, dan siap menjadi pemimpin masa depan,” ujarnya penuh semangat.

Upacara penutupan Super Camp Vol 1 menjadi puncak acara yang meriah. Atraksi terjun dengan flying fox dan repling dari lantai dua gedung menjadi bukti nyata keberanian dan ketangguhan para santri.

Super Camp ini bukan hanya tentang petualangan dan keseruan, tapi juga tentang menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, kemandirian, dan ukhuwah islamiyyah dalam diri setiap santri.

“BMH sangat berkepentingan ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga semangat ini terus berkobar, menerangi jalan mereka menuju masa depan yang gemilang, menjadi pemimpin yang menerangi negeri,” tutup Kepala BMH Perwakilan Maluku Utara, Nur Hadi.*/Herim

Gagasan “Hadiah Filantropi”, Inovasi dan Kreativitas untuk Luaskan Kebaikan Zakat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam sesi forum daring bertajuk “Ruang Literasi,” Imam Nawawi, Kepala Humas Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), memperkenalkan gagasan yang segar untuk memajukan dunia filantropi di Indonesia. Gagasan tersebut adalah konsep “Hadiah Filantropi,” sebuah ide inovatif yang bertujuan untuk mendorong kreativitas serta meningkatkan kualitas program dan penghimpunan dana.

“Hadiah Filantropi adalah bentuk apresiasi yang diberikan kepada individu atau kelompok yang berhasil memenuhi kriteria tertentu dalam mendesain dan menjalankan program sosial,” jelas Imam Nawawi saat menyaji di Forum Ruang Literasi, Selasa, 24 Muharam 1446 (30/7/2024).

“Kami berharap konsep ini dapat menjadi solusi untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi oleh lembaga filantropi, seperti kurangnya inovasi dan keterbatasan sumber daya.”

Imam Nawawi mencontohkan, BMH dapat menantang setiap komunitas mitra, internal maupun eksternal untuk merancang program sosial paling menarik dengan kriteria yang telah ditentukan.

Selain itu, BMH juga dapat mendorong Muslimat Hidayatullah (Mushida) untuk membuat program pemberdayaan perempuan dengan kriteria khusus.

“Siapapun yang berhasil memenuhi kriteria tersebut akan mendapatkan Hadiah Filantropi dari BMH,” lanjut Imam Nawawi.

Konsep Hadiah Filantropi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi dunia filantropi di Indonesia.

Dengan mendorong inovasi dan kreativitas, Imam berharap, ini akan melahirkan program-program sosial yang lebih efektif dan berdampak luas bagi masyarakat yang juga menguat dari mitra internal maupun eksternal.

Selain itu, Hadiah Filantropi juga diharapkan dapat meningkatkan semangat berbagi di kalangan masyarakat.

Dengan adanya penghargaan yang menarik, Imam menambahkan, diharapkan lebih banyak orang termotivasi untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan membantu sesama.*/Herim

Dakwah Fardiyah sebagai Pilar Kembangkan Kebermanfaatan pada Umat

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Drs. Nursyamsa Hadis mengatakan dakwah fardiyah adalah pilar utama dalam mengembangkan keimanan dan kebermanfaatan pada umat. Karenananya, setiap muslim apalagi bagi kader Hidayatullah hendaknya terus berkontribusi dan mengembangkan dakwah fardiyah untuk kemajuan umat.

“Dakwah fardiyah sekarang ini merupakan tuntutan bagi kita karena merupakan pendekatan yang sangat penting dalam menyebarkan nilai-nilai Islam secara lebih kolektif, apalagi dengan kehadiran teknologi yang memungkinkan ajakan kebaikan ini dapat menyentuh semua lapisan,” katanya, saat membuka Rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) DPW Hidayatullah Jawa Tengah beberapa waktu lalu yang ditulis pada Selasa, 24 Muharam 1446 (29/7/2024).

Nursyamsa menjelaskan setiap muslim memiliki kewajiban dalam dakwah fardiyah untuk menyampaikan ajakan kebaikan dan keselamatan serta menyebarkan pesan-pesan Islam kepada individu secara langsung, baik melalui percakapan pribadi, pertemuan tatap muka, maupun melalui komunikasi digital seperti saat ini lewat media sosial.

Pendekatan ini, terangnya, bertujuan untuk membangun hubungan yang kuat antara dai (pendakwah) dan mad’u (orang yang didakwahi), sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan lebih baik dan efektif.

Disamping itu, seorang dai harus selalu menjadikan setiap momentum sebagai tempat belajar dan memetik hikmah termasuk dalam mengenal objek dakwah.

Dai harus mengenal mad’u secara baik, memahami karakteristik, kebutuhan, dan permasalahan yang dihadapinya. Dengan cara ini, terang Nusyamsa, dai dapat menyampaikan pesan yang relevan dan sesuai dengan konteks kehidupan mad’u.

Nursyamsa menyampaikan bahwa proses belajar yang menyeluruh adalah kunci untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. “Ilmu itu dihafal lalu dipahami, diamalkan, dipikirkan, serta dievaluasi,” ujarnya.

Ia menggarisbawahi, sebagai pelaku dakwah, kita dituntut untuk memahami dan mengamalkan ilmu agar dapat memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

Menjadi Pribadi Bermanfaat

Lebih jauh menurut Nursyamsa, hadits “Khoirunnas anfauhum linnas” yang berarti “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” harus menjadi pegangan dalam dakwah. Ia pun mengajak untuk berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Dakwah dengan pendekatan yang baik dan penuh kasih sayang menjadi salah satu pesan penting dari Ustadz Nursyamsa. Ia menekankan bahwa silaturrahmi dalam dakwah akan lebih efektif dan menyentuh hati.

Dengan silaturrahmi, jelasnya, hubungan yang harmonis dan saling memahami dapat terjalin dengan baik, sehingga pesan dakwah dapat tersampaikan dengan lebih mendalam dan diterima dengan hati yang terbuka.

Masih dalam arahannya, Ustadz Nursyamsa memberikan penekanan khusus kepada para senior untuk lebih fokus pada dakwah fardiyah atau silaturrahim. Dakwah fardiyah yang dilakukan dengan intensitas dan komitmen tinggi akan memberikan hasil yang lebih optimal dalam membina umat.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan teman-teman lama, karena “Lebih mudah mencari teman baru daripada merawat teman lama, jadi merawat hubungan yang sudah ada adalah bagian penting dari dakwah yang efektif,” terangnya.

Arahan pembukaan rapat monitoring dan evaluasi ini diakhiri dengan doa bersama dan komitmen untuk terus meningkatkan kualitas dakwah dan pengabdian kepada umat.*/Eviq Erwiandy

Pesan Ustadz Zainuddin Musaddad: Kunci Sukses Dakwah di Hati yang Ikhlas

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Matahari sore mulai condong di ufuk barat, menandai berakhirnya Kursus Muballigh Profesional di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta. Namun, semangat para peserta tak ikut meredup. Justru, api dakwah kian berkobar dalam jiwa mereka.

Ustadz Zainuddin Musaddad, pembina Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), menyampaikan pesan penutup yang menyentuh hati. “Kunci sukses dakwah adalah hati yang terpaut kepada Allah,” ujarnya dengan suara lembut namun tegas.

“Lupakan segala pamrih duniawi, fokuslah pada pengagungan Allah, dan jalani dakwah dengan penuh kesabaran.”

Kata-kata Ustadz Zainuddin menggema di setiap sudut ruangan, menyentuh relung hati para peserta.

Mereka menyadari bahwa dakwah bukanlah sekadar tugas, melainkan panggilan jiwa yang harus dijalani dengan penuh keikhlasan.

Ustadz Iwan Abdullah, M.Si., Ketua Umum KMH, turut memberikan semangat kepada para peserta.

“Pertemuan dan perpisahan kita adalah takdir Allah. Kini, saatnya kalian berjuang di alam nyata, bukan lagi di alam teori. Buktikan bahwa dakwah yang kalian jalani adalah dakwah lillahi, dakwah yang tulus karena Allah,” tegasnya.

Para peserta pun berjanji dalam hati, akan membawa pesan-pesan kebaikan ini ke seluruh penjuru negeri.

Mereka siap menghadapi segala tantangan dengan penuh keyakinan, karena mereka tahu, Allah selalu bersama mereka.

Penutupan kursus ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan dakwah yang sesungguhnya.

Dengan bekal ilmu dan semangat yang telah mereka dapatkan, para mubaligh ini siap menebarkan cahaya Islam di tengah masyarakat, menjadi pelita bagi mereka yang merindukan hidayah.*/Herim

Tugas Muballigh sebagai Peraga dan Tanamkan Nilai Qurani dalam Kehidupan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah Ust. Drs. H. Zainuddin Musaddad, MA, mengingatkan bahwa tanggung jawab muballigh tidak hanya terbatas pada penyampaian ayat-ayat suci, tetapi juga bagaimana mereka memperagakan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

“Tantangan kita sebagai muballigh bukan saja bisa menyampaikan ayat-ayat Allah, tetapi juga harus bisa memperagakan, ini tantangan kita,” ujarnya.

Pesan ini disampaikan Zainuddin Musaddad dalam Kursus Muballigh Profesional yang merupakan kerja sama antara Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) dan Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Ahad, 22 Muharam 1446 (28/7/2024).

Ia menegaskan bahwa setiap orang yang menerima Al-Quran wajib menyampaikan pesannya. Disamping itu, praktisi parenting Qurani ini mengingatkan para muballigh tentang pentingnya kepercayaan diri dan ketegasan saat menyampaikan dakwah.

Pada sesi yang diisinya ini, Abah Zain, demikian ia karib disapa, membawakan tema “Qum Faandzir” yang berarti “Bangkit dan beri peringatan”.

Ustadz Zainuddin menggambarkan bagaimana seorang muballigh harus berdiri; seimbang, tegak lurus, penuh keberanian dan wibawa.

“Jangan mundur apalagi minder. Yang kita sampaikan bukan cerita kita, tapi ayat Allah,” tegasnya.

Sementara itu Direktur Korps Mubaligh Hidayatullah (KMH) Pusat, Ust Iwan Abdullah, mengatakan melalui kursus ini, para muballigh diajarkan untuk tidak hanya melihat kekosongan, tetapi juga mengakui potensi dan kebaikan dalam setiap orang.

“Mengakui potensi dan kebaikan dalam setiap orang ini sebuah prinsip yang diajarkan oleh Rasulullah dalam menggenggam hati Umar bin Khattab dengan doa,” kata Iwan.

Iwan menerangkan, selain memberikan pelajaran tentang teknik berdakwah, pelatihan ini juga memberikan penekanan pada karakter dan integritas seorang dai yang harus mendukung pesannya dengan tindakan nyata.

“Kursus ini diharapkan dapat menghasilkan para muballigh yang ulung dalam ilmu, luas dalam pengaruh, tegas dalam sikap, dan siap untuk memenuhi panggilan dakwah dengan hati yang berani dan penuh semangat,” kata Iwan menandaskan.*/Herim

Lembaga Perjuangan: Sebuah Refleksi Pemikiran Ustadz Abdullah Said Rahimahullah

0
Ustadz Abdullah Said diapit sejumlah sahabat (Foto: Arsip/ Hidayatullah.or.id)

SALAH SATU diksi yang sering disampaikan oleh Allahuyarham Ustadz Abdullah Said di awal perlangkahan Hidayatullah adalah pernyataan beliau yang menyebutkan bahwa Hidayatullah adalah sebuah lembaga perjuangan. Sebuah pernyataan yang satu sisi untuk memompa ghirah dan semangat para pendiri yang saat itu sangat minim fasilitas, jauh dari kecukupan, disisi lain menyimpan pesan yang sangat mulia untuk diwujudkan. Dan, sekaligus membuktikan bahwa Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah itu, memiliki visi yang begitu luas dan mendalam tentang pergerakan Islam

Bagi Ustadz Abdullah Said, yang kala menyampaikan pernyataan itu masih berupa sebuah pesantren kecil, menegaskan bahwa beliau memiliki visi yang luas tentang peran dan misi organisasi yang didirikannya itu.

Hidayatullah, dalam pandangannya, pada saatnya bukan hanya sebuah jaringan pesantren atau organisasi massa Islam biasa. Sebaliknya, beliau melihat Hidayatullah merupakan sebuah lembaga perjuangan yang memiliki visi besar untuk mewujudkan tegaknya peradaban Islam.

Konsep “lembaga perjuangan” yang diusung oleh Ustadz Abdullah Said ini, sesungguhnya merefleksikan pemahaman yang revolusioner dan mendasar, bahwa setiap aspek yang diprogramkan dan diimplementasikan di Hidayatullah memiliki tujuan yang lebih besar dari sekadar fungsi praktisnya. Sekolah, pesantren, perguruan tinggi, lembaga sosial, lembaga dakwah, lembaga ekonomi, dan berbagai bentuk layanan umat lainnya yang dibangun oleh Hidayatullah bukanlah tujuan akhir, melainkan instrumen atau wasilah untuk mencapai tujuan yang lebih mulia: izzul Islam wal muslimun – kemuliaan Islam dan umat Muslim.

Dalam perjalanannya, maka dengan mengangkat terma lembaga perjuangan ini, para perintis awal dan kemudian para perintis yang mengembangkan sayap dakwah diberbagai penjuru tanah air, seolah mendapat energi berlebih dalam melandingkan islam di medan dakwahnya. Sehingga dengan cepat dapat melahirkan amal usaha terutama kampus-kampus di berbagai tempat, dengan melibatkan dukunguan dari masyarakat sekitar. Hal yang sama juga diberbagai kota besar mampu menjadi magnet bagi pemuda dan mahasiswa untuk bergabung dan ingin menjadi bagian dalam memperagakan islam dalam skala kecil itu. 

Namun pada perkembangan selanjutnya, dijumpai disebahagian tempat yang sudah berdiri amal usaha (kampus dan lembaga pendidikan), mengalami semacam diviasi dari tujuan. Niat awal amal usaha yang didirikan itu sebagai wasilah untuk mengejawantahkan lembaga perjuangan, akan tetapi dipahami oleh sebagian pengelola amal usaha, seolah-olah menjadi tujuan. Sehingga tanpa disadari pelan-pelan mereduksi dari tujuan mulianya.

Tulisan ini, dikonstruksi untuk melakukan refleksi ulang atas ide dasar Allahuyarham Ustadz Abdullah Said dalam mengusung Hidayatullah sebagai lembaga perjuangan, disisi lain sebagai autokritik atas terjadinya deviasi pemahaman dari sebahagian kalangan sebagaimana tersebut di atas. Sehingga kedepan, garis perjuangan yang telah ditetapkan tetap pada on the right track.

Kerangka Dasar

Sebagaimana mafhum, visi besar Hidayaulloah adalah membangun Peradaban Islam, visi besar tersebut merupakan derivasi dari manhaj nubuwwah yang diusung beliau, yang kemudian dikerangkakan dalam apa yang selanjutnya dikenal dengan istilah sistematika wahyu. Sebuah penafsiran yaang mencakup lima surat yang yang pertama turun sesuai dengan tata urutan turunnya wahyu, di mana secara sistematis ayat-ayat tersebut adalah sebagai wahyu yang Allah swt berikan kepada Nabi Muhammad saw sebagai petunjuk berkala dan berkesinambungan bagi Nabi untuk membangun peradaban Islam dengan mendidik sahabatnya sesuai wahyu-wahyu tersebut.

Pembatasan atas lima surat tersebut bukan tanpa alasan. Pembatasan ini atas dasar asumsi bahwa lima surat pertama tersebut, yaitu surat al-‘Alaq sampai al-Fatihah adalah merupakan pondasi, dasar-dasar ajaran yang Allah berikan untuk manusia.

Dengan kata lain, semua hal yang Allah gariskan untuk manusia pada intinya bertolak dari ayat~ayat tersebut, adapun ayat-ayat dan surat-surat selanjutnya merupakan bangunan di atas pondasi tersebut yang merupakan perincian dan penjelasannya.

Penafsiran ini adalah hasil ijtihadi Allahuyarham Ustadz Abdullah Said yang disajikan dengan model tematik, ditafsirkan dengan global artinya tidak menjelaskan arti setiap kata secara rinci. Beliau menjelaskan dan menjabarkan pada tema pokok satu ayat. Nuansa penafsirannya adalah adabi ijtima’i dan bertolak pada teks al qur’an sebagai titik tolak penafsirannya.

Secara ringkas dapat disimpulkan kandungan ayat-ayat tersebut sebagai berikut: surat al-‘Alaq:1-5 merupakan kunci utama didalam membangun kesadaran hidup bertauhid, surat al-Qalam: 1-7 membimbing manusia atau memiliki cita-cita dan visi hidup yang jelas berlandaskan Al Qur’an, surat al-Muazzammil: 1-10 merupakan pembekalan mental-spiritual sekaligus tarbiyah ruhiyah yang harus disiapkan oleh setiap pejuang Islam untuk menghadapi segala situasi, surat ai-Muaddatstsir: 1-7 adalah perintah untuk mendakwahkan Islam dan terjun serta memberi solusi dalam realitas kehidupan dan, surat al-Fatihah: 1-7 merupakan informasi utuh yang menggambarkan satu kesatuan berkenaan dengan ajaran Islam.

Instrumen Perjuangan

Untuk mencapai tujuan agung dan mulia tersebut sebagaimana tertuang dalam kerangka dasar di atas, maka Ustadz Abdullah Said rahimahullah, membangun berbagai instrumen yang pada awalnya mungkin terlihat seperti lembaga/amal usaha biasa. Sekolah, pesantren, lembaga sosial, lembaga dakwah, lembaga ekonomi, dan berbagai layanan umat lainnya, semuanya didirikan, dibangun, dan dikembangkan sebagai wasilah atau sarana untuk mencapai tujuan akhir.

Namun, di balik semua itu, terdapat sebuah pemahaman mendalam bahwa setiap instrumen tersebut memiliki peran strategis dalam melahirkan kader dan muharrik. Kader-kader inilah yang kelak akan menjadi ujung tombak dalam menegakkan peradaban Islam. Mereka dibekali dengan ilmu pengetahuan, akidah yang kuat, dan semangat perjuangan yang tinggi.Secara ringkas dapat diuraikan sebagai berikut:

Pertama, Lembaga Pendidikan, Dalam kerangka Hidayatullah, sekolah-sekolah, pesantren, dan kemudian perguruan tinggi dihadirkan tidak sekadar bertujuan untuk mendidik generasi muda dalam pengetahuan umum atau agama semata.  Sehingga sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga wadah pembentukan kader. Pesantren bukan sekadar pusat pembelajaran agama, melainkan tempaan jiwa pejuang. Perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan sarjana, tapi juga pemikir dan pembaharu Islam dan seterusnya.

Oleh karenanya dalam perspektif Ustadz Abdullah Said, beliau memandang bahwa lembaga-lembaga pendidikan ini harus menjadi pusat pengkaderan, yang melahirkan individu-individu beriman yang berperan sebagai penggerak (muharrik) dalam masyarakat.

Kader-kader ini diharapkan memiliki pemahaman Islam yang mendalam, kecerdasan intelektual, dan keterampilan praktis yang diperlukan dan kemudian disebar keseluruh penjuru tanah air dan juga dunia, serta memiliki ruhul jihad (kesungguhan dalam berkarya di berbagai bidang), dalam rangka untuk membangun masyarakat sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dalam hal ini maka dibuatkan lingkungan pesantren yang dalam pandangan beliau disebut sebagai kampus, yang salah satu fungsinya, selain untuk memperagakan miniature peradaban Islam, juga sebagai suaka genenasi.

Kedua, Lembaga Sosial dan Dakwah, Lembaga sosial dan dakwah Hidayatullah juga tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan atau penyebar agama secara konvensional. Sebaliknya, mereka dirancang untuk menjadi agen perubahan (agent of change) yang nyata, yang bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan umat dan menyebarkan ajaran Islam secara luas, dengan memanfaatkan semua platform yang ada.

Gagasan ini mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang dakwah sebagai upaya komprehensif. Dakwah tidak hanya terbatas pada ceramah atau pengajian, tapi mencakup seluruh aspek kehidupan – pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya. Setiap bidang menjadi arena perjuangan untuk menegakkan nilai-nilai Islam dan membangun peradaban yang berlandaskan prinsip-prinsip Ilahiah.

Sehingga aktifitas dakwah merupakan sebuah gerakan yang mendalam untuk membentuk karakter dan akhlak masyarakat, membangun dan pemberdayaan masyarakat (community development), serta mempersiapkan mereka untuk hidup dalam tatanan sosial yang Islami, dan selanjutnya menyiapkan kepemimpinan Islam di masa mendatang.

Ketiga, Lembaga Ekonomi dan Badan Usaha, Keberadaan lembaga ekonomi bertujuan untuk memperkuat basis ekonomi umat dan memberikan kemandirian finansial bagi lembaga-lembaga di bawah naungan Hidayatullah. Dalam kerangka ini, Hidayatullah juga menghadirkan dan mengembangkan berbagai bentuk usaha dan lembaga ekonomi, bukan semata untuk keuntungan material, tetapi sebagai sarana pemberdayaan ekonomi umat. Ustadz Abdullah Said memahami bahwa kekuatan ekonomi adalah salah satu pilar penting dalam membangun peradaban Islam yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, Hidayatullah berusaha menciptakan lingkungan dan sistem ekonomi yang berkeadilan, memberdayakan anggota komunitasnya, dan mengurangi ketergantungan umat pada sistem ekonomi yang tidak islami. Dan pada saat yang bersamaan memberikan contoh bagaimana implementasi ekonomi syariah diberbagai sektor kehidupan.

Untuk Izzul Islam wal Muslimun

Semua instrumen yang dibangun oleh Hidayatullah memiliki satu tujuan yang sama, yaitu melahirkan kader dan muharrik. Kader adalah individu yang memiliki komitmen kuat terhadap Islam dan siap berjuang untuk menegakkan nilai-nilai Islam. Sedangkan muharrik adalah individu yang mampu menggerakkan dan menginspirasi orang lain.

Dengan melahirkan kader dan muharrik yang berkualitas, Hidayatullah berharap dapat menciptakan perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Dengan melahirkan kader dan muharrik yang berkualitas, Hidayatullah berharap dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi pembangunan peradaban Islam. Kader-kader ini diharapkan mampu menjadi pemimpin di berbagai bidang kehidupan, baik di tingkat lokal, nasional maupun global.

Sehingga, kehadiran semua instrumen di atas, dari pendidikan hingga ekonomi, diarahkan untuk satu tujuan besar: izzul Islam wal Muslimun (kemuliaan Islam dan umat Muslim). Dalam perspektif ini, beliau sering menyampaikan bahwa kehadiran Hidayatullah adalah kaffatan linnas (untuk seluruh ummat manusia), yang tidak tersekat oleh suku, bangsa dan seterusnya, serta rahmatan lil ‘alaamin (menebar rahmat bagi seluruh alam).

Oleh karenanya, dalam hal ini kehadiran Hidayatullah bukan hanya berbicara tentang kesuksesan individual atau kelembagaan semata, tetapi tentang pembentukan peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, di mana umat Islam dapat hidup dengan martabat dan memberikan kontribusi positif bagi dunia. Ustadz Abdullah Said melihat Hidayatullah sebagai sebuah gerakan yang harus terus bergerak dan bertransformasi untuk memenuhi misi ini.

Pendekatan Holistik

Meskipun berasal dari diksi lembaga perjuangan, namun pada praktiknya, telah melahirkan pendekatan holistik, di mana menunjukkan kesadaran akan kompleksitas tantangan yang dihadapi umat Islam di era modern. Untuk menghadapi arus globalisasi, sekularisasi, dan berbagai ideologi yang bertentangan dengan Islam, dibutuhkan strategi yang menyeluruh dan multidimensi. Hidayatullah, melalui berbagai instrumennya, berupaya mempersiapkan umat tidak hanya secara spiritual, tapi juga intelektual, sosial, dan ekonomi.

Lebih jauh lagi, visi Ustadz Abdullah Said tentang Hidayatullah mencerminkan pemahaman bahwa perjuangan menegakkan Islam adalah proses jangka panjang yang membutuhkan kaderisasi berkelanjutan, dan juga kekuatan finansial dalam satu tarikan nafas. Setiap lembaga dan program yang dijalankan memiliki peran dalam membentuk kader-kader yang tidak hanya memahami Islam secara teoritis, tapi juga mampu menerapkan dan memperjuangkannya dalam realitas kehidupan.

Dalam konteks ini, Hidayatullah dengan berbagai kampus yang didirikan bisa dipandang sebagai miniatur peradaban Islam yang dicita-citakan. Setiap elemennya – dari pendidikan hingga ekonomi – adalah bagian dari upaya membangun model masyarakat Islam yang ideal. Model ini diharapkan bisa menjadi inspirasi dan contoh nyata bagi masyarakat luas tentang bagaimana nilai-nilai Islam bisa diterapkan secara komprehensif dalam kehidupan modern.

Penutup

Gagasan Ustadz Abdullah Said tentang Hidayatullah sebagai lembaga perjuangan secara reflektif dan praksis menawarkan perspektif yang menarik dan implementatif tentang bagaimana sebuah organisasi Islam dapat beroperasi dengan visi yang jauh melampaui fungsi-fungsi praktisnya. Hidayatullah diposisikan bukan sekadar sebagai penyedia layanan berbagai amal usaha dan badan usaha, melainkan sebagai wadah untuk melahirkan,  membangun dan mengembangkan kader-kader yang akan menjadi penggerak (muharrik) dalam mewujudkan visi peradaban Islam yang lebih besar.

Pendekatan ini menggabungkan aspek praktis dan ideologis, menciptakan model organisasi yang unik dan berpotensi memiliki dampak jangka panjang yang signifikan. Namun, keberhasilan model ini akan sangat bergantung pada kemampuan untuk terus menyeimbangkan antara tuntutan operasional dan visi ideologis, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan esensi misinya.

Tugas generasi pelanjut adalah bagaimana mampu mengimplementasikan dan mengembangkan konsep lembaga perjuangan ini dalam konteks kekinian. Terjadinya deviasi yang ada, menuntut kesadaran semua elemen organisasi dan selanjutnya untuk segera diluruskan sehingga kembali berjalan pada rel yang benar. Pada akhirnya cita-cita mulia Pendiri Hidayatullah akan dapat diwujudkan dan direlevankan disetiap ruang dan waktu.[]

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)