Beranda blog Halaman 20

Wahyu Rahman Dorong Penguatan Jati Diri untuk Optimalisasi Kebermanfaatan di Tengah Umat

0

KOTAWARINGIN BARAT (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Drs. Wahyu Rahman, M.E., menegaskan bahwa penguatan jati diri organisasi merupakan prasyarat utama agar pengaruh Hidayatullah semakin kuat dan dirasakan oleh masyarakat. Menurutnya, jati diri yang hidup dalam diri setiap kader akan menentukan kualitas dakwah, pendidikan, serta kebermanfaatan program kerja yang dijalankan di tengah umat.

“Jika jati diri hidup dalam jiwa kader, maka program dakwah dan pendidikan akan semakin berkualitas. Hidayatullah makin terasa perannya di tengah umat. Ini yang disebut pengaruh. Maka kader harus paham betul jati diri ini,” kata Wahyu Rahman dalam penyampaiannya.

Pesan itu disampaikan Wahyu dalam forum Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Kalimantan Tengah bertempat di Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat pada Sabtu hingga Ahad, 19-20 Sya’ban 1447 (7–8/2/2025). Kegiatan ini diikuti oleh jajaran pengurus wilayah, unsur pengurus daerah, serta kader dari berbagai wilayah di Kalimantan Tengah.

Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah yang membidangi ekonomi ini menjelaskan bahwa kondisi kaderisasi di Kalimantan Tengah memiliki tantangan tersendiri.

Berdasarkan pengamatannya, lebih dari 90 persen kader di wilayah tersebut merupakan generasi muda yang tidak pernah bertemu secara langsung dengan pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said rahimahullah, maupun murid-murid generasi awalnya. Situasi tersebut, menurutnya, menjadikan penguatan pemahaman jati diri organisasi sebagai kebutuhan yang tidak dapat ditunda.

Wahyu Rahman menyampaikan bahwa jati diri tidak hanya dipahami sebagai konsep historis, tetapi harus terinternalisasi dalam sikap, pola pikir, dan cara kerja kader dalam menjalankan amanah organisasi. Dengan pemahaman tersebut, program-program Hidayatullah dapat dijalankan secara konsisten sesuai nilai dan orientasi perjuangan yang telah dirintis sejak awal.

Dalam kesempatan tausyiah subuh pada rangkaian kegiatan yang sama, Wahyu Rahman juga mengingatkan pentingnya peningkatan keimanan dalam menjalankan program kerja organisasi. Ia menegaskan bahwa keimanan menjadi landasan utama agar setiap amal dan kerja yang dilakukan memiliki nilai di hadapan Allah. Penegasan tersebut disampaikan dalam konteks pelaksanaan amanah organisasi yang menuntut kesungguhan dan keikhlasan.

Selain itu, ia menekankan pentingnya sikap optimistis dalam menetapkan target program kerja. Menurutnya, target yang dirumuskan dengan optimisme akan mendorong etos kerja yang lebih kuat dan terarah. “Jangan ada kemalasan dalam eksekusi program kerja,” tegasnya, menekankan pentingnya disiplin dan kesungguhan dalam pelaksanaan setiap rencana yang telah ditetapkan.

Kegiatan ini mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi Menuju Hidayatullah Kalimantan Tengah Mandiri dan Berpengaruh.” Tema tersebut dirumuskan sebagai kerangka bersama untuk menjaga identitas, nilai, dan orientasi perjuangan organisasi, sekaligus mendorong transformasi kelembagaan agar mampu beradaptasi dengan dinamika sosial, keumatan, dan kebangsaan.

Ia meningatkan bahwa forum tahunan wilayah ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk melakukan evaluasi kinerja, penyelarasan visi, serta perumusan langkah-langkah organisasi ke depan sebagai bagian dari upaya membangun organisasi yang mandiri dan memiliki pengaruh nyata di tengah masyarakat Kalimantan Tengah.

Menjemput Cahaya Iman, Julius Lungu Ikarkan Syahadat di Tengah Rakerwil Hidayatullah Kaltara

0

MALINAU (Hidayatullah.or.id) — Sebuah peristiwa penuh makna terjadi di Kampus Peradaban Pondok Pesantren Hidayatullah Malinau pada Ahad pagi, 20 Sya’ban 1447 (8/1/2026). Seorang pemuda bernama Julius Lungu secara resmi menyatakan diri memeluk agama Islam dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat dalam suasana khidmat dan menggetarkan hati. Momen ini menjadi penanda awal perjalanan spiritual baru yang ia pilih dengan kesadaran penuh.

Julius Lungu, yang sebelumnya beragama Katholik dan berasal dari suku Kenyah dan Merap, mengikrarkan keislamannya di hadapan para ulama dan peserta kegiatan Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kalimantan Utara yang dirangkaikan dengan Tarhib Ramadhan.

Prosesi tersebut berlangsung di sela agenda yang dihadiri Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Pelayanan Umat, Drs. Shohibul Anwar, M.H.I., yang juga bertindak langsung sebagai penuntun ikrar syahadat.

Keputusan Julius untuk memeluk Islam bukanlah langkah yang diambil secara tiba-tiba. Ia menempuh perjalanan batin yang panjang, diwarnai pencarian, perenungan, dan dialog dengan hati nuraninya sendiri. Pilihan tersebut lahir dari keyakinan personal, tanpa paksaan, sebagai wujud kesungguhan untuk menata hidup berdasarkan ajaran Islam yang diyakininya membawa ketenangan dan arah baru.

Prosesi sakral itu turut disaksikan oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kaltara Ustadz M. Irsan Sulaiman, S.Pd.I. dan Ketua Dewan Murabbi Wilayah Ustadz H. Jamirudin, S.Pd.I., yang hadir sebagai saksi sekaligus penguat ikrar. Di hadapan mereka, Julius Lungu melafalkan dua kalimat syahadat dengan suara mantap dan penuh penghayatan. Setiap lafaz yang terucap menjadi saksi perubahan besar dalam perjalanan hidupnya.

Suasana haru menyelimuti prosesi tersebut. Para hadirin menyaksikan dengan penuh rasa syukur ketika Julius, dengan tenang dan lancar, menyelesaikan ikrar syahadatnya. Sejak saat itu, ia memilih nama baru, Muhammad Abdul Razak, sebagai identitas sekaligus doa agar kehidupannya ke depan senantiasa berada dalam lindungan dan bimbingan Allah SWT.

Pihak Pondok Pesantren Hidayatullah Malinau menyambut kehadiran Muhammad Abdul Razak dengan tangan terbuka. Lembaga ini menyatakan kesiapan untuk memberikan pendampingan keislaman secara berkelanjutan agar ia dapat mengenal, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam secara bertahap. Pendampingan tersebut menjadi bagian dari komitmen dakwah yang mengedepankan pendekatan damai, penuh hikmah, serta menghargai proses spiritual setiap individu.

Peristiwa ini tidak hanya menjadi momen personal bagi Muhammad Abdul Razak, tetapi juga cerminan wajah dakwah Islam yang humanis dan menyejukkan. Masuk Islamnya Julius Lungu menunjukkan bahwa hidayah hadir melalui proses batin yang jujur dan merdeka, serta tumbuh dalam suasana yang penuh penghormatan terhadap pilihan keyakinan.

Dengan penuh rasa syukur, keluarga besar Hidayatullah berharap momen ini menjadi langkah awal yang kokoh bagi Muhammad Abdul Razak dalam menapaki jalan iman. Perjalanan barunya diharapkan membawa keteguhan, ketenangan, dan keberanian untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna sesuai tuntunan Islam.[]

Pemuda Hidayatullah Harus Siapkan Diri Menjadi Aktor Strategis Pembangunan Bangsa

0

PASURUAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowie, mengingatkan pemuda Hidayatullah untuk selalu menjunjung tinggi ajaran Islam disamping terus menempa diri sebagai aktor strategis dalam pembangunan bangsa. Hal itu disampaikan Amun saat memberi sambutan dalam pembukaan Musyawarah Wilayah (Musywil) Pemuda Hidayatullah Jawa Timur yang digelar di Pasuruan pada Sabtu, 19 Sya’ban 1447 (7/2/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Kantor Bupati Pasuruan, Jawa Timur, dan diikuti oleh pengurus serta delegasi Pemuda Hidayatullah dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Ditegaskan Amun Rowie, pemuda adalah aktor strategis dalam pembangunan bangsa, khususnya dalam menyongsong agenda Indonesia Emas 2045 yang bertepatan dengan satu abad kemerdekaan Republik Indonesia. Ia menegaskan bahwa pemuda secara alamiah memiliki kapasitas intelektual dan semangat perubahan yang menjadi modal penting dalam menjawab tantangan masa depan bangsa.

Menurutnya, bonus demografi yang diproyeksikan akan dialami Indonesia dalam dua dekade ke depan hanya akan menjadi peluang jika generasi muda memiliki kemampuan dan keterampilan yang memadai. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), puncak bonus demografi Indonesia diperkirakan terjadi pada periode 2030–2045, ketika proporsi penduduk usia produktif mencapai lebih dari 60 persen dari total populasi.

Dalam pada itu, Amun Rowie menekankan bahwa kualitas sumber daya manusia pemuda akan menjadi faktor penentu keberhasilan Indonesia memanfaatkan momentum demografi tersebut.

“Apa yang dimiliki pemuda untuk mencapai Indonesia 2045 adalah kemampuan dan keterampilan. Indonesia akan memperoleh bonus demografi yang sangat besar karena jumlah generasi mudanya melimpah,” ujar Amun Rowie.

Ia menjelaskan bahwa kuantitas pemuda yang besar harus diiringi dengan peningkatan kapasitas, baik dalam aspek intelektual, keterampilan, maupun karakter. Tanpa kesiapan tersebut, bonus demografi justru berpotensi menjadi beban pembangunan.

Lebih lanjut, Amun Rowie menguraikan perbedaan mendasar antara pemuda dan generasi yang lebih tua. Ia menilai bahwa pemuda memiliki karakter idealisme yang lebih kuat, sehingga cenderung berani memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini sebagai kebenaran. Sementara itu, generasi yang lebih senior umumnya memiliki pertimbangan yang lebih kompleks, termasuk aspek sosial, ekonomi, dan tanggung jawab keluarga.

Menurutnya, perbedaan ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipahami sebagai dinamika alami dalam perjalanan sebuah masyarakat. Justru, idealisme pemuda perlu diarahkan agar tetap berada dalam koridor nilai dan tujuan yang konstruktif.

“Karena idealisme itulah, banyak perubahan besar dalam sejarah digerakkan oleh pemuda,” tambahnya.

Amun Rowie menegaskan bahwa berbagai tonggak penting dalam sejarah Indonesia, mulai dari pergerakan kebangsaan hingga reformasi, tidak terlepas dari peran generasi muda yang memiliki keberanian dan keyakinan kuat terhadap gagasan perubahan.

Dalam sambutannya, ia juga mengaitkan peran pemuda dengan sejarah lahirnya Hidayatullah sebagai sebuah gerakan. Menurutnya, Hidayatullah sejak awal dibangun di atas semangat persatuan di tengah keragaman pandangan keagamaan yang berkembang di masyarakat Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa pendirian Hidayatullah tidak dimaksudkan untuk memperlebar perbedaan, melainkan menjadi ruang berhimpun yang mengedepankan ukhuwah dan kerja bersama. Corak khas gerakan ini dinilai dia relevan dengan karakter bangsa Indonesia yang majemuk, baik dari sisi budaya, etnis, maupun tradisi keagamaan.

“Hidayatullah hadir untuk menghindari perselisihan dan lebih mengedepankan persatuan daripada perpecahan. Di dalamnya dapat berhimpun berbagai latar belakang, baik dari NU, Muhammadiyah, maupun lainnya,” jelasnya.

Amun Rowie menilai bahwa semangat persatuan tersebut perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda Hidayatullah, termasuk Pemuda Hidayatullah di Jawa Timur. Menurutnya, Musywil menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaan dan keumatan, sekaligus merumuskan langkah strategis pemuda dalam menghadapi tantangan zaman.

Ia berharap Musywil Pemuda Hidayatullah Jawa Timur dapat melahirkan kepemimpinan yang mampu memadukan idealisme pemuda dengan kebijaksanaan gerakan, sehingga mampu berkontribusi secara nyata bagi umat, bangsa, dan negara menuju Indonesia Emas 2045.

Haniffudin Chaniago Ajak Pemuda Ambil Peran Aktif Menuju Indonesia Emas 2045

0

PASURUAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, Haniffudin Chaniago, menghadiri sekaligus memberikan sambutan dalam pembukaan Musyawarah Wilayah (Musywil) Pemuda Hidayatullah Jawa Timur yang digelar di Pasuruan pada Sabtu, 19 Sya’ban 1447 (7/2/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Kantor Bupati Pasuruan, Jawa Timur, dan diikuti oleh unsur pengurus wilayah, daerah, serta kader Pemuda Hidayatullah dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Haniffudin dalam sambutannya menegaskan Musywil sebagai forum penting untuk melakukan konsolidasi peran pemuda dalam konteks pembangunan nasional jangka panjang.

Ia mengaitkan dinamika organisasi kepemudaan dengan agenda besar Indonesia Emas 2045, yakni proyeksi 100 tahun kemerdekaan Indonesia yang ditandai dengan target negara berpendapatan tinggi dan daya saing global.

Dia menyebutkan, berdasarkan proyeksi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), periode menuju 2045 merupakan fase krusial karena Indonesia berada pada puncak bonus demografi, di mana mayoritas penduduk berada pada usia produktif.

Dalam visi menuju cita cita tersebut, Haniffudin mengajak seluruh peserta Musywil untuk melakukan refleksi kritis atas posisi dan peran Pemuda Hidayatullah di tengah arus besar perubahan sosial, ekonomi, dan politik nasional. Ia menegaskan bahwa momentum demografi dan pembangunan tidak boleh disikapi secara pasif.

“Dalam arus gerakan menuju Indonesia Emas 2045, apakah kita hanya puas sebagai penonton atau berani mengambil risiko dan tampil sebagai pemain, atau justru menjadi beban dalam arus gerakan ini,” tegasnya.

Anak muda berdarah Solok, Sumatera Barat, ini mendorong kader agar memandang masa depan bangsa sebagai ruang kontribusi nyata. Dia menekankan bahwa organisasi kepemudaan berbasis dakwah harus memiliki keberanian mengambil peran strategis, sejalan dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Lebih lanjut, ia mengingatkan agar orientasi perjuangan Pemuda Hidayatullah tidak tereduksi hanya pada pengelolaan amal usaha organisasi.

Menurutnya, meskipun amal usaha memiliki fungsi penting sebagai instrumen dakwah dan pelayanan umat, namun visi gerakan tidak boleh berhenti pada penguatan struktur internal semata. Ia menilai bahwa tantangan umat dan bangsa saat ini menuntut kehadiran pemuda pada ruang-ruang yang lebih luas dan berdampak.

Haniffudin menjelaskan bahwa Pemuda Hidayatullah sejak awal dirancang sebagai bagian dari gerakan peradaban. Oleh karena itu, kiprah kader seharusnya meluas ke sektor sosial, ekonomi, pendidikan, dan kebangsaan, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam. Menurutnya, keterlibatan aktif dalam kehidupan masyarakat menjadi indikator penting relevansi gerakan pemuda.

Dalam sambutannya, Haniffudin juga menyoroti aspek kemandirian ekonomi kader. Ia mendorong pemuda untuk tidak menggantungkan keberlangsungan hidup dan perjuangannya semata-mata pada struktur organisasi maupun amal usaha yang dimiliki. Tantangan ekonomi global, perubahan pola kerja, serta meningkatnya kompetisi menuntut pemuda memiliki kapasitas adaptif dan kemandirian personal.

Ia menegaskan bahwa keberanian keluar dari zona nyaman merupakan prasyarat untuk membangun daya tahan dan keberlanjutan perjuangan. Menurutnya, pemuda yang berdaya akan memiliki keleluasaan dalam berkontribusi dan tidak mudah terjebak pada ketergantungan struktural.

“Jangan cukupkan perjuangan hanya pada amal usaha. Perjuangan kita harus lebih luas untuk kemajuan umat dan bangsa,” katanya.

Haniffudin menutup dengan menegaskan bahwa Musywil bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan atau penyusunan program kerja, melainkan momentum untuk memperjelas orientasi gerakan Pemuda Hidayatullah di tingkat wilayah.

Ia berharap hasil Musywil Jawa Timur mampu melahirkan kepemimpinan dan agenda strategis yang responsif terhadap tantangan zaman serta selaras dengan visi Indonesia Emas 2045.

Gelar Musyawarah Wilayah, Pemuda Hidayatullah Jatim Didorong Aktif Berkolaborasi Bangun Daerah

0

PASURUAN (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Musywil) Pemuda Hidayatullah Jawa Timur resmi digelar di Pasuruan dibuka pada Sabtu, 19 Sya’ban 1447 (7/2/2026), bertempat di Aula Kantor Bupati Pasuruan, Jawa Timur.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Bupati Pasuruan, H. Mochamad Rusdi Sutejo, yang diwakili oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Pasuruan, Nurul Huda. Musywil ini dihadiri oleh pengurus dan kader Pemuda Hidayatullah dari seluruh wilayah Jawa Timur serta sejumlah unsur pemerintah daerah dan organisasi pendukung.

Dalam sambutan pembukaan yang disampaikan mewakili Bupati Pasuruan, Nurul Huda menekankan pentingnya peran pemuda dalam agenda pembangunan daerah dan nasional.

Nurul Huda menyampaikan bahwa pemerintah daerah memandang organisasi kepemudaan sebagai mitra strategis dalam menjaga stabilitas sosial sekaligus mendorong percepatan pembangunan berbasis partisipasi masyarakat.

Menurut Nurul Huda, tantangan pembangunan ke depan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyangkut penguatan kualitas sumber daya manusia. Ia menilai bahwa perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan dinamika ekonomi global menuntut generasi muda untuk terus meningkatkan kompetensi dan keahlian agar mampu beradaptasi dengan cepat.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Pasuruan membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan organisasi kepemudaan, termasuk Pemuda Hidayatullah, selama memiliki orientasi kontribusi nyata bagi masyarakat. Sinergi tersebut dinilai penting untuk memastikan program pembangunan dapat menyentuh kebutuhan riil di tingkat akar rumput.

“Banyak tantangan di depan mata yang membutuhkan sentuhan para pemuda. Sinergi dan kolaborasi menjadi kunci untuk menjawab berbagai persoalan tersebut,” ujarnya.

Nurul Huda juga menekankan bahwa penguatan kapasitas pemuda perlu diarahkan pada peningkatan keterampilan, literasi kebangsaan, serta kepemimpinan yang berintegritas. Ia berharap Pemuda Hidayatullah mampu mengambil peran tersebut dengan tetap menjaga nilai-nilai persatuan dan kebhinekaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Hidayatullah Jawa Timur, Adib Nursyahid, dalam kesempatan yang sama menyampaikan apresiasi atas tingginya antusiasme peserta dalam mengikuti Musywil. Ia menilai kehadiran kader dari berbagai daerah mencerminkan komitmen organisasi untuk terus melakukan konsolidasi dan pembaruan gerakan.

Adib menjelaskan bahwa Musywil bukan sekadar forum rutin organisasi, melainkan ruang strategis untuk melakukan refleksi atas perjalanan gerakan sekaligus merumuskan langkah ke depan. Menurutnya, dinamika sosial yang terus berubah menuntut organisasi kepemudaan untuk tetap adaptif tanpa kehilangan jati diri.

“Musyawarah ini menjadi ajang evaluasi gerakan dan peneguhan arah organisasi agar tetap relevan dengan tantangan zaman,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa hasil Musywil diharapkan mampu melahirkan rumusan program yang lebih responsif terhadap kebutuhan umat dan masyarakat, sekaligus memperkuat peran Pemuda Hidayatullah sebagai bagian dari elemen strategis pembangunan sumber daya manusia.

Agenda utama Musyawarah Wilayah Pemuda Hidayatullah Jawa Timur 2026 membajas meliputi laporan pertanggungjawaban pengurus periode sebelumnya, perumusan program kerja organisasi ke depan, serta pemilihan kepengurusan baru untuk periode berikutnya.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Pasuruan, unsur SAR Hidayatullah, Satuan Komunitas Pramuka Hidayatullah, serta pimpinan dan kader Pemuda Hidayatullah dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Forum Rakerwil NTB Tekankan Peran dan Tanggungjawab Keumatan secara Berkelanjutan

0

MATARAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Kepesantenan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah KH Muhammad Syakir Syafi’i mengingatkan bahwa tantangan umat pada masa mendatang semakin kompleks dan menuntut kesiapan organisasi yang kokoh.

Ia menyatakan bahwa kondisi tersebut mengharuskan Hidayatullah memiliki kekuatan yang utuh secara ideologis, struktural, dan kultural agar mampu menjalankan peran dan tanggung jawabnya secara berkelanjutan di tengah dinamika umat, bangsa, dan masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Nusa Tenggara Barat Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah NTB pada 7–8 Februari 2026 di Kota Mataram.

KH Muhammad Syakir Syafi’i mendorong pengurus wilayah dan daerah untuk memperkuat kaderisasi, meningkatkan kualitas kepemimpinan, serta mengembangkan amal usaha yang mandiri dan profesional.

Menurutnya, langkah-langkah tersebut diperlukan agar Hidayatullah dapat menjalankan perannya secara konsisten dan terstruktur dalam menjawab kebutuhan umat dan masyarakat.

Rakerwil Hidayatullah NTB 2026 mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi Menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh.” Tema tersebut dirumuskan sebagai kerangka kerja bersama dalam menjaga identitas, nilai, dan orientasi perjuangan Hidayatullah, sekaligus mendorong proses transformasi organisasi agar mampu beradaptasi dengan perubahan sosial, keumatan, dan kebangsaan yang terus berkembang.

Kegiatan ini diikuti oleh jajaran pengurus DPW Hidayatullah NTB, perwakilan Dewan Pengurus Daerah kabupaten dan kota, pimpinan lembaga serta amal usaha, dan unsur kader dari berbagai wilayah di Nusa Tenggara Barat.

Apresiasi Kiprah Hidayatullah NTB

Dari unsur pemerintah daerah, Biro Sekretariat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Ahmad Masyhuri, S.H., menyampaikan sambutan dan apresiasi atas kontribusi Hidayatullah di NTB.

Ahmad menyatakan bahwa Hidayatullah telah berperan dalam pembangunan sumber daya manusia, terutama melalui pendidikan dan pembinaan karakter.

“Semoga terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun masyarakat yang religius, berakhlak, dan berdaya saing,” katanya.

Ketua BAZNAS Provinsi NTB, Dr. Lalu Muhammad Iqbal, M.A., dalam kesempatan serupa menekankan pentingnya kolaborasi antara organisasi kemasyarakatan Islam dan lembaga zakat.

Ia menyampaikan bahwa penguatan kemandirian umat perlu dibangun melalui kerja bersama yang terencana dan profesional, khususnya dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang diarahkan pada program pemberdayaan ekonomi dan sosial secara berkelanjutan.

Merespon Persoalan Umat

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah NTB, Ustadz Lalu Mabrul, M.Pd., menegaskan bahwa Rakerwil merupakan momentum penting untuk konsolidasi ideologis dan organisatoris.

Ia mengingatkan bahwa jati diri Hidayatullah sebagai gerakan dakwah dan tarbiyah harus senantiasa dijaga, seraya melakukan transformasi organisasi menuju kemandirian dan penguatan pengaruh.

Ia juga menyatakan bahwa kemandirian organisasi berkaitan dengan kualitas kader, kekuatan amal usaha, dan kemampuan organisasi dalam merespons persoalan umat dan masyarakat.

Ketua Panitia, Fardin Rabbani, M.Pd., dalam laporannya, ia menyampaikan gambaran umum pelaksanaan kegiatan, tujuan Rakerwil, serta agenda strategis yang akan dibahas selama dua hari.

Fardin mengatakan bahwa Rakerwil dirancang sebagai ruang musyawarah yang produktif untuk merumuskan langkah-langkah konkret dalam memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan kualitas kader, serta mengoptimalkan peran Hidayatullah di bidang dakwah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan.

Selama dua hari pelaksanaan, Rakerwil Hidayatullah NTB 2026 dijadwalkan membahas evaluasi program kerja wilayah, penyusunan rencana strategis, penguatan sinergi antar-lembaga, serta perumusan langkah-langkah transformasi organisasi ke depan.

Hasil Rakerwil, lanjut Fardin, diharapkan menjadi pedoman kerja bagi DPW dan DPD Hidayatullah se-Nusa Tenggara Barat dalam menjalankan program secara terarah dan berkesinambungan.

Dari Labuhanbatu, Rakerwil Hidayatullah Sumut Gaungkan Dakwah Kolektif dan Kolaboratif

0

LABUHANBATU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Perkaderan Dr. Paryadi Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I., M.Si., menegaskan bahwa tugas dakwah tidak dapat dipikul secara individual, melainkan harus dilaksanakan dengan melibatkan seluruh elemen, baik pemerintah maupun masyarakat secara luas.

“Tugas dakwah ini tidak bisa kita angkat sendirian. Oleh karena itu, kita harus melibatkan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat pada umumnya,” katanya, sembari menegaskan prinsip dasar gerakan Hidayatullah yang meluaskan kolaborasi lintas sektor dalam kerja-kerja dakwah.

Lebih lanjut, ia mengarahkan seluruh kader Hidayatullah Sumatera Utara untuk memperluas jejaring dan komunikasi. Ia menyampaikan imbauan agar para kader “menggencarkan silaturahmi, menjalin komunikasi, melakukan kolaborasi dan sinergi, serta membangun jejaring dengan semua pihak agar dakwah ini mengalami pertumbuhan yang cepat, eksplosif, dan akseleratif.”

Dalam pada itu, Ghofar mendorong agar Rakerwil Hidayatullah Sumatera Utara ini dimaksimalkan menjadi forum untuk mempertemukan gagasan, menyatukan langkah organisasi, serta memperkuat hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan.

Rakerwil Hidayatullah Sumatera Utara resmi dibuka bertempat di Hotel Deli Syari’ah, Kabupaten Labuhanbatu Induk, Sumatera Utara, Sabtu, 19 Sya’ban 1447 (7/2/2026). Kegiatan ini diikuti oleh 65 peserta yang merupakan perwakilan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hidayatullah dari seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Utara.

Acara pembukaan Rakerwil dihadiri oleh sejumlah perwakilan instansi pemerintah dan unsur keamanan. Hadir mewakili Kepala Kementerian Agama Kabupaten Labuhanbatu Induk, Dr. H. Jamal, M.Pd.I. Selain itu, turut hadir Kepala Subbagian Kerja Sama Badan Koordinasi (Bakkop) Polres Labuhanbatu Induk, Komisaris Polisi P. Hutasuhut.

Dalam sambutannya, Dr. H. Jamal, M.Pd.I. menyampaikan harapannya agar seluruh program Hidayatullah Sumatera Utara, khususnya di bidang dakwah, sosial, dan pendidikan, dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menyatakan harapan tersebut tidak hanya ditujukan bagi umat Islam, tetapi juga bagi pemeluk agama lain yang hidup berdampingan di Kabupaten Labuhanbatu Induk dan wilayah Sumatera Utara secara keseluruhan.

Buktikan Islam Rahmat Semesta Alam

Sementara itu, Kompol P. Hutasuhut dalam sambutannya menyoroti nilai yang terkandung dalam Mars Hidayatullah. Ia mengungkapkan ketertarikannya pada lirik yang berbunyi, “Hadapi lawan hingga jadi kawan, buktikan Islam rahmat semesta alam.”

Menurutnya, pesan tersebut menarik karena dalam kehidupan sosial sering kali hubungan antarteman atau tetangga justru mudah berubah menjadi konflik. Pernyataan tersebut disambut tawa dan tepuk tangan peserta yang memenuhi ruangan.

Kompol P. Hutasuhut kemudian menegaskan kesiapan institusinya untuk mendukung aktivitas dakwah Hidayatullah, khususnya di Kabupaten Labuhanbatu.

Ia menyampaikan bahwa daerah tersebut menghadapi tantangan serius berupa dekadensi moral, termasuk kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda. Ia menyebutkan bahwa dalam satu tahun, jumlah anak muda atau generasi Z yang terjerat kasus narkoba dan diproses hukum dapat mencapai ratusan orang.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sumatera Utara, Ustadz Syukron Khoiri Nasution, M.Pd., merespons sambutan dan tawaran kerja sama dari Kementerian Agama dan Polres Labuhanbatu.

Dalam pernyataannya, ia menyampaikan bahwa jajaran pengurus DPW dan DPD Hidayatullah Sumatera Utara didominasi oleh generasi muda yang masih memiliki keterbatasan pengalaman dan wawasan.

Oleh karena itu, Syukron memohon bimbingan dan arahan dari seluruh pihak, baik pemerintah, aparat keamanan, maupun tokoh masyarakat, dalam menjalankan amanah dakwah.

Pemerintah Daerah Apresiasi Peran Hidayatullah Kaltara dalam Penguatan Sumber Daya Manusia

0

MALINAU (Hidayatullah.or.id) — Staf Ahli Aparatur dan Pelayanan Publik Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, Dr. Ir. Syahrullah Mursalin, M.P, yang mewakili Gubernur Kalimantan Utara Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum, menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi Hidayatullah sebagai organisasi kemasyarakatan yang secara fokus dan berkelanjutan bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat membuka secara resmi Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Kalimantan Utara di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Malinau yang dibuka pada Sabtu, 19 Sya’ban 1447 (7/2/2026).

Dalam sambutannya, Syahrullah Mursalin menilai keberlanjutan program Hidayatullah menjadi nilai penting di tengah tantangan pembangunan daerah. Ia menyampaikan bahwa Provinsi Kalimantan Utara memiliki kondisi geografis yang beragam dan tantangan akses layanan di sejumlah wilayah.

Ia menyebut, sinergi antara pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan relevan untuk memperkuat upaya pembangunan. Syahrullah menegaskan bahwa kehadiran Hidayatullah selaras dengan arah pembangunan daerah yang menempatkan penguatan sumber daya manusia sebagai salah satu prioritas.

Rakerwil Hidayatullah Kalimantan Utara juga dihadiri oleh Wakil Bupati Malinau, Jakariah, S.E., M.Si. Dalam kesempatan tersebut, Jakariah menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kontribusi Hidayatullah dalam pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Malinau.

Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Malinau memiliki komitmen untuk memastikan tidak ada anak yang terputus dari akses pendidikan.

Menurut Jakariah, pemerintah daerah menanggung seluruh kebutuhan pendidikan anak-anak di Malinau, mulai dari biaya sekolah hingga perlengkapan belajar. Ia menyebutkan bahwa saat ini sekitar 20.000 anak memperoleh jaminan pendidikan dari pemerintah kabupaten. Selain itu, Pemkab Malinau juga menjalankan program desa sarjana, dengan pembiayaan penuh bagi ratusan mahasiswa setiap tahun.

“Investasi terbaik adalah investasi pada manusia. Jika kita berinvestasi pada fisik, suatu saat akan rusak. Namun investasi pada manusia akan memberikan manfaat sepanjang hayat,” ujar Jakariah dalam sambutannya.

Jakariah juga menyampaikan harapan agar Rakerwil Hidayatullah Kalimantan Utara dapat menghasilkan program kerja yang sejalan dengan visi pembangunan nasional dan daerah.

Ia menekankan pentingnya keselarasan tersebut dalam rangka berkontribusi terhadap pencapaian Indonesia Emas 2045. Dalam penyampaiannya, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga harmonisasi sosial, kebersamaan, serta sikap saling menghormati di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan Utara.

Sementara itu, dalam kapasitasnya mewakili Gubernur Kalimantan Utara, Syahrullah Mursalin menyampaikan bahwa pemerintah provinsi membuka ruang kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan.

Syahrullah menyebutkan bahwa pembangunan di wilayah perbatasan memerlukan kerja sama lintas sektor agar tantangan geografis dan keterbatasan layanan dapat direspons secara efektif. Dalam konteks tersebut, peran organisasi yang memiliki jaringan akar rumput dinilai relevan.

Forum ini diharapkan Syahrullah dapat memperkuat peran organisasi dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial, sekaligus memperluas kontribusinya dalam pembangunan masyarakat di Kalimantan Utara.

Kabid Pelayanan Umat Sebut Kehadiran Hidayatullah Wujud Syukur atas Nikmat Indonesia

0

MALINAU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Pelayanan Umat, Shohibul Anwar, M.H.I, menegaskan bahwa kehadiran Hidayatullah merupakan wujud kepedulian sekaligus rasa syukur atas nikmat besar yang Allah SWT anugerahkan kepada Indonesia sebagai negeri yang luas, kaya, dan berpenduduk besar.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat memberikan arahan dalam pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Kalimantan Utara di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Malinau yang dimulai pada Sabtu, 19 Sya’ban 1447 (7/2/2026).

Shohibul Anwar memaparkan gambaran umum kondisi Indonesia sebagai negara dengan bentang geografis yang sangat luas. Ia menyampaikan bahwa luas wilayah Indonesia dapat disejajarkan dengan jarak dari Turki hingga Kepulauan Inggris.

Selain itu, Indonesia memiliki keragaman yang sangat besar dengan ribuan bahasa daerah dan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen penduduk memeluk agama Islam.

Namun demikian, ia juga menyampaikan bahwa tantangan umat masih cukup besar, termasuk fakta bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia belum mampu membaca Al-Qur’an.

Shohibul Anwar menjelaskan bahwa realitas tersebut menjadi dasar kehadiran dan peran Hidayatullah di tengah masyarakat. “Di sinilah Hidayatullah hadir sebagai gerakan pelayanan umat melalui pendidikan, dakwah, dan sosial yang berkelanjutan,” ujarnya di hadapan peserta Rakerwil.

Ia kemudian memaparkan kondisi dan capaian pelayanan Hidayatullah di wilayah Kalimantan Utara. Menurutnya, hingga saat ini Hidayatullah telah hadir di lima kabupaten dan kota di provinsi tersebut. Kehadiran itu diwujudkan melalui jaringan lembaga pendidikan yang lengkap, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga jenjang Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Ia menyampaikan bahwa sistem pendidikan yang dikembangkan tidak bersifat tunggal, melainkan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Shohibul Anwar menjelaskan bahwa model pendidikan Hidayatullah mencakup sekolah berbayar, sekolah dengan biaya terjangkau, serta sekolah gratis. Skema tersebut diterapkan sebagai bentuk keberpihakan kepada masyarakat kurang mampu agar tetap memperoleh akses pendidikan.

Selain pendidikan formal, ia juga menyampaikan bahwa Hidayatullah mengembangkan Sekolah Dai sebagai pusat kaderisasi dakwah. Seluruh alumni perguruan tinggi Hidayatullah dipersiapkan melalui lembaga tersebut untuk menjadi pendakwah yang siap terjun langsung ke tengah masyarakat.

Di bidang sosial, Shohibul Anwar menyampaikan bahwa Hidayatullah telah menginisiasi program Sekolah Lansia. Program ini diselenggarakan baik dalam bentuk berasrama maupun non-berasrama. Ia menjelaskan bahwa Sekolah Lansia dirancang agar para lanjut usia dapat mengisi masa tua dengan aktivitas yang bermakna dan membahagiakan.

Selain itu, Hidayatullah juga memiliki unit Search and Rescue (SAR) yang aktif terlibat dalam penanganan kebencanaan di berbagai wilayah Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Shohibul Anwar menekankan pentingnya perumusan program kerja yang matang dan terukur. Ia menyampaikan bahwa setiap program yang dirancang harus berorientasi pada dampak nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Hidayatullah hadir bukan sekadar hadir. Semakin besar manfaat yang dirasakan masyarakat, maka semakin kuat kepercayaan dan pengaruh dakwah yang dibangun,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Shohibul Anwar juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara serta pemerintah kabupaten dan kota atas dukungan dan kerja sama yang telah terjalin selama ini.

Ia mengingatkan seluruh kader Hidayatullah untuk terus menjaga sinergi dengan pemerintah dan seluruh komponen masyarakat. Menurutnya, tugas dakwah merupakan tanggung jawab bersama seluruh umat Islam.

Menutup arahannya, Shohibul Anwar menyampaikan permohonan maaf kepada para kader di daerah atas keterbatasan yang dimiliki oleh pengurus pusat dalam memenuhi kebutuhan sumber daya insani dan layanan lainnya.

Hidayatullah Kaltara Teguhkan Peran Strategis Dakwah dan Pendidikan dalam Pembangunan Daerah

0

MALINAU (Hidayatullah.or.id) – Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Kalimantan Utara yang dimulai pada Sabtu, 19 Sya’ban 1447 (7/2/2026) menjadi momentum konsolidasi strategis dalam memperkuat peran dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat sebagai bagian integral dari pembangunan daerah.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Utara, Muh. Irsan Sulaiman, mengatakan kegiatan ini menegaskan pentingnya sinergi antara organisasi kemasyarakatan, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat dalam mewujudkan Kalimantan Utara yang maju, religius, dan berkeadaban.

Irsan Sulaiman dalam sambutannya menekankan bahwa visi dan misi pembangunan Kalimantan Utara tidak akan dapat diwujudkan secara optimal tanpa kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan antara pemerintah provinsi, DPRD, serta organisasi kemasyarakatan.

Menurutnya, pembangunan tidak semata-mata soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut pembangunan manusia dan nilai-nilai spiritual masyarakat. Dalam konteks inilah, Hidayatullah mengambil peran aktif untuk mendukung visi besar Gubernur Kalimantan Utara, khususnya melalui penguatan sektor pendidikan dan dakwah.

“Rakerwil ini forum yang menuntut kerja keras dan kesungguhan. Program kerja yang dirumuskan harus memiliki dampak nyata dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kalimantan Utara,” tegasnya dalam sambutannya.

Ia juga menekankan bahwa setiap program Hidayatullah ke depan harus kontekstual dengan kebutuhan lokal Kalimantan Utara, serta mampu menjawab tantangan sosial, pendidikan, dan keumatan yang dihadapi masyarakat di wilayah perbatasan dan daerah terpencil.