Beranda blog Halaman 23

Hidayatullah Sulsel Tegaskan Orientasi Amal Shaleh yang Terstruktur dan Berkelanjutan

0

BONE (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muhammad Saleh Usman, menegaskan bahwa istilah “program kerja” dalam perspektif Al-Qur’an pada hakikatnya adalah amal shaleh. Ia menyampaikan bahwa aktivitas organisasi sebagai ikhtiar kolektif yang terstruktur untuk menguatkan iman dan mewujudkan amal shaleh secara berkelanjutan dalam bingkai dakwah.

Penegasan tersebut disampaikan Muhammad Saleh Usman saat membuka Rapat Kerja Daerah Gabungan Kabupaten Bone, Soppeng, dan Wajo yang digelar di Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Salaonro, Jalan Poros Watansoppeng – Pampanua, Kecamatan Lili Rilau, Kabupaten Soppeng, pada Senin, 14 Sya’ban 1447 (2/1/2026).

Dalam forum tersebut, Saleh menekankan pentingnya kepemimpinan Qur’ani sebagai fondasi pengelolaan organisasi, sekaligus penguatan amal shaleh sebagai landasan utama perumusan dan pelaksanaan program.

Saleh menjelaskan bahwa seluruh program yang dijalankan organisasi pada dasarnya merupakan wujud amal shaleh. Oleh karena itu, setiap program perlu dikomunikasikan dengan baik serta dilandasi niat yang benar.

“Semua program yang kita jalankan hakikatnya adalah amal sholeh. Oleh karena itu, harus dikomunikasikan dengan baik dan dilandasi niat yang benar,” ujarnya.

Dalam arahannya, Saleh juga mengingatkan bahwa aspek finansial memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas dakwah, namun tidak dapat dijadikan ukuran utama dalam beramal.

Ia menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah menjadikan kesiapan materi sebagai syarat pokok dalam menjalankan dakwah. Dia mengingatkan bahwa kekuatan dakwah bertumpu pada keyakinan dan konsistensi, bukan pada besarnya dukungan finansial.

Sebagai contoh, Saleh menyebut perkembangan dakwah di wilayah Bone dan Soppeng yang menurutnya tumbuh dari keyakinan dan komitmen, bukan dari kekuatan materi. Ia menggambarkan keterbatasan sumber daya tidak menjadi penghalang bagi keberlangsungan dakwah selama dilandasi niat yang lurus dan kerja nyata.

Dalam pada itu, Saleh mengutip QS At-Taubah ayat 105 untuk menegaskan bahwa keyakinan harus diwujudkan dalam bentuk amal dan kerja yang nyata. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kuantitas amal tidak otomatis bernilai di sisi Allah apabila disertai dengan niat yang keliru atau praktik kezaliman. Penekanan ini disampaikan untuk menjaga orientasi amal agar tetap berada dalam koridor keikhlasan.

“Bahkan amal para ahli Al-Qur’an, mujahid, dan dermawan bisa gugur jika tidak ikhlas karena Allah,” tegasnya.

Muhammad Saleh Usman menegaskan bahwa dakwah harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, baik di wilayah pedesaan, perkotaan, maupun kalangan pejabat dan pemangku kebijakan.

Dia menekankan bahwa seluruh program kerja harus dibangun di atas kesepakatan dan kemauan bersama. Ia mengibaratkan sebuah program tidak akan terwujud tanpa kesepahaman, sebagaimana sebuah gazebo tidak akan berdiri jika tidak ada kerja sama antar pihak.

Ia juga mengurai sejumlah faktor yang kerap melahirkan sikap “tidak mau” dalam menjalankan program, di antaranya karena tidak memahami program, terjadi salah paham, atau faktor kondisi personal seperti sakit. Karena itu, ia menegaskan pentingnya kehadiran pendamping atau konselor dalam struktur untuk membantu memahamkan program kepada kader.

“Jika kita mengaku sebagai kader, maka hindari segala sesuatu yang bisa merusak ukhuwah,” tegas pria yang sebelumnya mengemban amanah sebagai Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah ini.

Pada kesempatan tersebut, Ketua DPW juga menekankan bahwa Marhalah Ula merupakan standar dasar keimanan, keislaman, dan ketakwaan seseorang secara hakiki, yang harus menjadi pijakan bersama dalam menjalankan seluruh agenda dakwah dan organisasi.

Rapat Kerja Daerah Gabungan ini juga ditandai dengan pembacaan Surat Keputusan pengurus Dewan Pengurus Cabang oleh Dewan Pengurus Daerah Bone. Pengurus yang ditetapkan meliputi DPC Tanete Riattang Barat dengan ketua Ustadz Bachtiar, DPC Amali dengan Ustadz Darman, DPC Patimpeng dengan Ustadz Munshif, DPC Kahu dengan Ustadz Herman, DPC Ponre dengan Ustadz Kaharuddin, serta DPC Sibulue dengan Ustadz A. Muh. Ishak.

Rakerda berlangsung intensif sehari penuh dengan agenda utama sinkronisasi program dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat lintas kabupaten Bone, Soppeng, dan Wajo. Selain itu, forum ini diarahkan untuk memperkuat soliditas struktur organisasi di tingkat daerah dan cabang agar pelaksanaan program berjalan selaras dengan prinsip amal shaleh sebagai orientasi utama gerakan.

Dewan Murabbi Paparkan Makna Al Harakah Al Jihadiyah sebagai Gerakan Hidup

0

BATU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Jawa Timur, Muhammad Juweni, menegaskan bahwa makna Al Harakah Al Jihadiyah tidak boleh dipahami secara sempit maupun sekadar simbolik. Ia menyampaikan bahwa konsep tersebut merupakan identitas perjuangan organisasi yang harus dimaknai sebagai ruh gerakan, hadir dan menjiwai seluruh aktivitas kader tanpa dibatasi oleh profesi, posisi, atau berbagai ruang pengabdian dalam kehidupan.

Penegasan tersebut disampaikan Muhammad Juweni dalam Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Jawa Timur yang digelar di Kampus Hidayatullah Batu pada Jumat hingga Sabtu, 12-13 Sya’ban 1447 (31 Januari–1 Februari 2026). Forum ini dihadiri pengurus Hidayatullah dari berbagai struktur di seluruh wilayah Jawa Timur dan menjadi bagian dari agenda konsolidasi organisasi.

Dalam pengantar materinya, Juweni mengingatkan kembali Al Harakah Al Jihadiyah Al Islamiyah sebagai salah satu jati diri utama Hidayatullah yang membentuk arah dan karakter perjuangan organisasi.

“Al Harakah Al Jihadiyah adalah gerakan hidup. Ia menuntut kesungguhan total dalam mengamalkan Islam di seluruh lini kehidupan,” ujar Juweni.

Menurut Juweni, tantangan organisasi pada masa kini adalah pada konsistensi dalam menjaga karakter dasar. Oleh karena itu, Rakerwil ditegaskan Juweni sebagai ruang muhasabah agar seluruh aktivitas organisasi tetap berada dalam koridor jihad fii sabilillah.

Materi lanjutan disampaikan oleh anggota DMW Jawa Timur, Muhammad Syuhud, yang menegaskan bahwa jihad fii sabilillah merupakan amal puncak dalam Islam dan menjadi landasan seluruh gerak kader Hidayatullah.

Ia menyampaikan bahwa tidak ada amal lain yang memiliki keutamaan yang dipadukan dengan jihad fii sabilillah, sehingga orientasi niat menjadi aspek utama dalam setiap aktivitas kader.

“Tidak ada amal yang pahalanya dipadukan dengan jihad fii sabilillah. Oleh karena itu, yang terpenting adalah memastikan setiap profesi—guru, dai, pengelola lembaga, pengusaha, maupun pengurus—dijalani dengan niat jihad,” ujar Syuhud.

Dia menekankan bahwa jihad dapat tercermin dalam kesungguhan menjalankan amanah sebagai hamba (Abdullah) dan sebagai pemakmur bumi atau khalifatullah.

Dalam pandangannya, keberadaan dalam meniti jalan perjuangan adalah pilihan sadar untuk hidup dalam khidmat dakwah dan tarbiyah jangka panjang.

“Berada dalam Al Harakah Al Jihadiyah berarti siap berproses, siap berkorban, dan siap istiqamah, meski hasilnya tidak selalu instan,” kata Syuhud.

Dalam pemaparannya, Syuhud mengaitkan makna jihad dengan manhaj Sistematika Wahyu yang menjadi dasar gerakan Hidayatullah. Ia menjelaskan bahwa perjuangan Islam dibangun secara bertahap, mengikuti pola turunnya wahyu.

Menurutnya, Wahyu Makkiyah berfungsi sebagai pondasi dan kerangka pembentukan akidah serta kepribadian, sementara Wahyu Madaniyah menyempurnakan bangunan peradaban.

“Wahyu Makkiyah adalah pondasi dan kerangka. Wahyu Madaniyah menyempurnakan bangunan. Ini pelajaran bahwa jihad adalah proses panjang yang menuntut kesabaran dan konsistensi,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Syuhud menegaskan bahwa Hidayatullah menempatkan diri sebagai organisasi kemasyarakatan yang wasathiyah yang menghadirkan keseimbangan, hikmah, dan peran pemersatu umat.

Seperti diketahui, enam jati diri Hidayatullah adalah Sistematika Wahyu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al Harakah Al Jihadiyah Islamiyah, Imamah dan Jamaah, Jama’atun Minal Muslimin, dan Al Wasathiyah, yang menjadi pedoman dalam gerakan dakwah dan pendidikan Hidayatullah untuk membangun peradaban Islam dengan manhaj tarbiyah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta menekankan kepemimpinan, persatuan, dan keseimbangan.[]

Mengapa Umat Islam adalah Umat Terbaik?

0

UNGKAPAN bahwa umat Islam adalah umat terbaik telah lama beredar dalam ruang diskursus keislaman. Namun, pemaknaan atas predikat tersebut sering kali berhenti pada klaim normatif tanpa penggalian syarat dan konsekuensinya.

Saya menemukan satu jawaban tegas kala membaca buku Pengantar Tafsir Modern Jilid 1 (Judul asli: Al-Tafsir al-Hadith: Tartib al-Suwar Hasba al-Nuzul) karya Syaikh Muhammad ‘Izzat bin Abdul Hadi bin Darwish bin Ibrahim bin Hasan Darwazah.

Dalam karyanya, pendidik yang lebih dikenal dengan nama Izzat Darwazah ini tidak semata menempatkan predikat umat terbaik sebagai status bawaan, melainkan sebagai capaian yang bergantung pada sikap dan orientasi hidup umat Islam terhadap Al-Qur’an.

Menurut Darwazah, umat Islam hanya dapat disebut sebagai umat terbaik selama mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya, petunjuk, dan peta jalan (road map) dalam menjalani kehidupan dunia.

Dengan kata lain, Darwazah menegaskan bahwa keunggulan umat tidak ditentukan oleh jumlah, identitas formal, atau romantisme sejarah, melainkan oleh kesediaan untuk menundukkan seluruh aspek kehidupan pada nilai-nilai wahyu.

Darwazah menegaskan bahwa predikat tersebut mengandung beban tanggung jawab yang berat. Umat Islam dituntut untuk bersedia menanggung konsekuensi dari amanah yang mereka emban, menyadari peran tersebut, dan melaksanakannya secara nyata.

Amanah itu mencakup kesediaan menyeru manusia kepada jalan kebaikan, kebenaran, dan petunjuk, serta menghidupkan amar makruf nahi munkar dalam pengertian yang substantif dan berkelanjutan.

Lebih jauh, Darwazah juga menekankan pentingnya membangun tradisi saling menguatkan dalam kesabaran dan kebenaran, serta membiasakan diri menghargai kebaikan, keadilan, kebajikan, kasih sayang, ihsan, kedermawanan, kemuliaan, kejujuran, dan komitmen terhadap janji.

Dalam pengembangannya, Syaikh Darwazah yang menulis buku tafsirnya berdasarkan kronologis turunnya ayat (tartib nuzuli) ini mendorong umat Islam untuk benar-benar menyibukkan diri dengan Al-Qur’an.

Kesibukan ini bukan sekadar aktivitas ritual, melainkan keterlibatan intelektual dan spiritual melalui upaya memahami, merenungkan, menafsirkan, menyimpulkan hukum, memetik ilham, dan mereguk inspirasi.

Dorongan yang juga menjadi pesan penting dari Rasulullah ini sejalan dengan prinsip dasar wahyu pertama, iqra’ bismirabbik, serta berbagai perintah Al-Qur’an agar manusia berpikir (yatafakkarun, ta‘qilun, ulul albab).

Kehidupan yang Memiliki Arah

Dari penjelasan tersebut, tampak bahwa kriteria umat terbaik bermuara pada satu hal mendasar, yakni kehidupan yang memiliki arah. Hidup yang terarah berarti menjadikan kebaikan sebagai tujuan, dengan Al-Qur’an sebagai penuntun utama.

Perkataan seseorang menjadi bernilai ketika berpijak pada Al-Qur’an. Perjalanan, tugas, dan silaturahmi menjadi bermakna ketika diarahkan untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Bahkan jabatan dan kekuasaan hanya bernilai sejauh dipahami sebagai amanah dan sarana menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Dengan demikian, dalam posisi dan peran apa pun, umat Islam dapat diarahkan menjadi unggul selama orientasi hidupnya mengikuti arah yang ditentukan Al-Qur’an. Kebaikan yang dimaksud bukan kebaikan subjektif, melainkan kebaikan yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. Prinsip ini menuntut konsistensi antara keyakinan dan praksis sosial.

Pada tataran personal, gagasan Syaikh Darwazah yang lahir di Nablus, Palestina, ini mengajak setiap kita untuk melakukan introspeksi diri. Pertanyaan mendasarnya adalah apakah Al-Qur’an benar-benar menjadi episentrum kesadaran, atau justru nilai-nilai material yang selama ini mengendalikan cara berpikir dan berperilaku.

Upaya menjawab pertanyaan ini dapat dilakukan melalui pendekatan yang dikembangkan oleh Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, yakni dengan mendalami ayat-ayat dalam surah-surah awal yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat-ayat tersebut meliputi lima ayat Surah Al-‘Alaq, tujuh ayat Surah Al-Qolam, sepuluh ayat Al-Muzammil, sepuluh ayat Al-Mudatsir, serta keseluruhan Surah Al-Fatihah.

Pendekatan ini terbukti membentuk pribadi-pribadi yang memiliki kekuatan spiritual dan kepekaan dakwah. Para murid dan kader Ust. Abdullah Said tampil di tengah masyarakat dengan dakwah yang efektif karena menyampaikan Islam bukan semata-mata secara kognitif, melainkan melalui keindahan ajaran yang mereka hayati dan amalkan.

Praktik seperti tekun membaca dalam arti luas, meyakini Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, membiasakan tahajud, berdakwah dengan niat membesarkan nama Allah, serta membangun akhlak sebagaimana pesan utama Surah Al-Fatihah, menjadi manifestasi nyata dari kehidupan Qur’ani yang terarah.[]

*) Mas Imam Nawawi, penulis adalah pegiat literasi Hidayatullah

Menjadikan Bulan Sya’ban sebagai Ruang Refleksi Spiritual dan Kesadaran Kemanusiaan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., mengajak umat Islam menjadikan bulan Sya’ban sebagai momentum untuk menyelami kembali spiritualisme Islam dalam makna yang lebih luas dan mendalam. Menurutnya, Sya’ban tidak sekadar fase transisi menuju Ramadhan, tetapi periode penting untuk menata kesiapan spiritual, moral, dan sosial umat.

Dalam konteks tersebut, Naspi mengingatkan doa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yang berbunyi: “Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhan,” yang berarti, “Ya Allah, berkahilah umur kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah umur kami hingga bulan Ramadhan.”

Doa ini, jelasnya, merupakan tuntunan Nabi Muhammad saw yang menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak munajat sebagai persiapan batin disamping persiapan fisik sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Di pertengahan bulan ini, sebagian umat Islam juga memperingati Nisfu Sya’ban. Naspi memaknai peringatan ini sebagai ruang refleksi untuk menyucikan jiwa, baik secara personal maupun dalam konteks kehidupan berbangsa. Dalam kerangka refleksi tersebut, ia juga mengajak umat Islam untuk terus mendoakan Palestina yang hingga saat ini masih berada dalam kondisi terjajah dan mengalami ketidakadilan struktural.

“Ini adalah momentum yang mengingatkan umat pada pentingnya kesungguhan perjuangan dan kesungguhan ibadah. Persiapan menuju Ramadhan sebagaimana spirit yang terkandung dalam bulan Sya’ban ini memiliki dimensi sosial dan kemanusiaan,” katanya di Jakarta, Senin, 15 Sya’ban 1447 (3/2/2026) sembari menegaskan bahwa ibadah tidak dapat dipisahkan dari kepekaan terhadap realitas penderitaan dan ketidakadilan yang dialami sesama manusia.

Kesungguhan ibadah, jelas Naspi, harus berjalan seiring dengan kesadaran moral untuk memperjuangkan keadilan. Ia menekankan bahwa dimensi spiritual dalam Islam selalu memiliki implikasi sosial, termasuk dalam bentuk dukungan moral dan spiritual terhadap perjuangan pembebasan Palestina dari penjajahan. Dengan demikian, tegasnya, ibadah tidak berhenti pada relasi vertikal dengan Tuhan, tetapi juga mewujud dalam kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan global.

Oleh karena itu, periode Sya’ban dipandang Naspi relevan sebagai titik jeda untuk melakukan evaluasi diri sebelum memasuki fase ibadah yang lebih intensif di bulan Ramadhan.

Momentum ini, menurutnya, juga dapat dimanfaatkan untuk meneguhkan kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Melalui peningkatan kualitas spiritual, umat Islam diharapkan mampu memperkuat persaudaraan, menumbuhkan rasa kebersamaan, dan membangun solidaritas sosial yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lebih lanjut, Naspi menegaskan bahwa aktualisasi ibadah ritual dalam momentum istimewa ini seharusnya bermuara pada pembentukan laku hidup yang positif dan berkeadaban. Ia mengaitkan hal tersebut dengan spirit Surah Al-‘Alaq yang menekankan pentingnya membaca dan pengetahuan sebagai fondasi pembebasan manusia.

“Spirit membaca yang dibingkai dengan iqra’ bismirabbik merupakan proses pembacaan realitas yang berlandaskan kesadaran ketuhanan, sehingga melahirkan masyarakat yang berpengetahuan,” katanya menandaskan.

Pondok Pesantren Hidayatullah Medan Peserta Hebitren Sumut dalam Kunjungan Wamen Koperasi

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Medan turut ambil bagian dalam kegiatan Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren (Hebitren) Sumatera Utara yang digelar bersama Koperasi Sekunder Bisnis Pesantren (KSBP) Sumatera Utara di lingkungan Pondok Pesantren Al Kautsar Al Akbar, Medan.

Kegiatan ini berlangsung pada Jumat, 11 Sya’ban 1447 (30/1/2026), dan menjadi bagian dari agenda kunjungan kerja Wakil Menteri Koperasi Republik Indonesia, Farida Farichah, ke Sumatera Utara.

Acara ini turut dihadiri Direktur Umum dan Hukum Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM) Deva Rachman, S.Sos,. M.Si.

Kunjungan tersebut adalah forum silaturahim sekaligus peninjauan langsung terhadap perkembangan ekonomi pesantren dan koperasi pesantren di wilayah Sumatera Utara.

Melalui Hebitren, pesantren-pesantren yang memiliki unit usaha dipertemukan dalam satu ruang koordinasi untuk memperkuat jejaring, berbagi praktik baik, serta membangun sinergi dengan pemerintah.

Dalam agenda yang dipusatkan di kantor KSBP Sumatera Utara tersebut, Wakil Menteri Koperasi RI disambut oleh pengurus koperasi pesantren dan para pimpinan pesantren yang hadir.

Rangkaian kegiatan mencakup perkenalan dengan pengurus KSBP Sumut, penyampaian arahan Wakil Menteri Koperasi, serta peninjauan langsung sejumlah unit usaha pesantren, seperti toko koperasi, unit digital printing, konveksi, hingga Sarana Produksi Pangan Gizi (SPPG) milik Ponpes Al Kautsar Al Akbar.

Pondok Pesantren Hidayatullah Medan menjadi salah satu peserta yang diundang secara resmi dalam kegiatan tersebut. Kehadiran Pesantren Hidayatullah Medan mencerminkan keterlibatan aktif pesantren ini dalam ekosistem ekonomi pesantren di Sumatera Utara, khususnya dalam penguatan koperasi dan usaha berbasis komunitas.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Ust. Isa Abdul Baary, menyampaikan bahwa keikutsertaan pesantrennya dalam forum Hebitren Sumatera Utara merupakan bagian dari komitmen jangka panjang dalam membangun kemandirian ekonomi pesantren.

“Kami memandang kunjungan ini sebagai dorongan moral dan strategis untuk terus memperkuat kemandirian ekonomi pesantren. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi umat,” ujar Isa Abdul Baary dalam keterangannya.

Ia menjelaskan bahwa penguatan ekonomi pesantren menjadi penopang penting bagi keberlanjutan fungsi pendidikan dan pembinaan santri. Melalui unit-unit usaha yang dikelola secara profesional dan berjejaring, pesantren diharapkan mampu mengembangkan sumber pembiayaan mandiri sekaligus membuka ruang pemberdayaan bagi masyarakat sekitar.

Kegiatan Hebitren Sumatera Utara ini juga dimaknai sebagai langkah konkret mempererat hubungan antara pesantren dan pemerintah. Kehadiran Wakil Menteri Koperasi RI memberikan ruang dialog langsung mengenai kebijakan, dukungan, serta tantangan yang dihadapi koperasi pesantren di daerah.

Dalam agenda tersebut, pesantren tidak hanya diposisikan sebagai penerima kebijakan, tetapi sebagai mitra strategis dalam penguatan ekonomi nasional berbasis nilai gotong royong dan prinsip syariah.

Ust. Isa Abdul Baary menilai bahwa kolaborasi antara Hebitren, KSBP, pesantren, dan pemerintah memiliki potensi besar untuk mempercepat penguatan koperasi pesantren.

“Dengan sinergi yang terbangun, pesantren dapat berkembang menjadi model ekonomi berbasis komunitas yang produktif, profesional, dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Ia juga berharap bahwa kegiatan seperti ini dapat membuka akses yang lebih luas bagi pesantren untuk meningkatkan kapasitas usaha, baik dari sisi manajemen, jaringan pemasaran, maupun akses pembiayaan.

Menurutnya, ekonomi pesantren yang kuat akan berdampak langsung pada kualitas pendidikan, kesejahteraan santri, serta kontribusi sosial pesantren di tengah masyarakat.

Kunjungan kerja Wakil Menteri Koperasi RI ke Hebitren Sumatera Utara ditutup dengan sesi ramah tamah dan diskusi bersama para pimpinan pesantren dan lembaga.

Amun Rowie Tekankan Peran Strategis Kader Senior dalam Regenerasi Gerakan Dakwah

0

BATU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowie, menyampaikan bahwa kader senior memiliki peran strategis dalam menjaga nilai, arah, serta kesinambungan pengalaman perjuangan organisasi.

Ia menegaskan bahwa proses regenerasi tidak dimaksudkan untuk memutus mata rantai pengabdian, melainkan memastikan estafet dakwah berjalan dengan tetap berpijak pada nilai-nilai yang telah dibangun oleh para pendahulu.

Pernyataan tersebut disampaikan Amun Rowie saat memberikan arahan dalam Rapat Kerja Wilayah Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur yang berlangsung di Kampus Hidayatullah Batu, Jawa Timur, pada Jumat hingga Sabtu, 12-13 Sya’ban 1447 (31 Januari–1 Februari 2026).

Dalam arahannya, Amun menegaskan bahwa Hidayatullah merupakan organisasi perjuangan yang tidak mengenal konsep pensiun dalam dakwah.

Ia menyampaikan bahwa pengabdian dalam organisasi bersifat berkelanjutan, seiring dengan tanggung jawab moral dan nilai perjuangan yang melekat pada setiap kader.

“Pensiun boleh ada di amal usaha, tetapi tidak dalam organisasi perjuangan. Kita berjuang sampai akhir,” ujarnya di hadapan peserta Rakerwil.

Rakerwil DPW Hidayatullah Jawa Timur diikuti oleh berbagai unsur struktur organisasi. Peserta mencakup perwakilan Dewan Pengurus Pusat, Dewan Murabbi Wilayah, Dewan Pengurus Wilayah, Dewan Pengurus Daerah, badan-badan organisasi, amal usaha, serta organisasi pendukung Hidayatullah se-Jawa Timur. Kehadiran lintas unsur ini mencerminkan keterpaduan struktur organisasi dalam merumuskan arah kerja wilayah.

Amun Rowie menjelaskan bahwa regenerasi kader harus dilaksanakan secara terencana dan berkesinambungan, dengan pembagian peran yang jelas antara kader senior dan kader junior.

Menurutnya, kader senior tetap memegang fungsi strategis sebagai penjaga nilai, penentu arah, serta penyimpan pengalaman perjuangan organisasi.

Sementara itu, kader junior didorong untuk tampil sebagai penggerak lapangan dan pelaksana program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Pembagian peran tersebut, menurut Amun, bertujuan menjaga keseimbangan antara kesinambungan nilai dan kebutuhan akan energi baru dalam organisasi.

Dengan pola ini, proses kaderisasi tidak hanya menghasilkan pergantian struktur, tetapi juga memastikan transfer nilai dan pengalaman berlangsung secara utuh. Ia menekankan bahwa regenerasi tidak identik dengan penghapusan peran kader lama, melainkan penataan ulang peran sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Dalam pemaparannya, Amun juga mengungkapkan data komposisi kepengurusan Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah di Jawa Timur. Ia menyebutkan bahwa sekitar 30 persen pengurus DPD saat ini berasal dari kader baru. Komposisi tersebut menunjukkan adanya proses penyegaran organisasi yang berjalan seiring dengan upaya menjaga ruh perjuangan yang telah dibangun sebelumnya.

Menurut Amun, kehadiran kader baru dalam struktur kepengurusan merupakan bagian dari dinamika organisasi yang sehat. Namun demikian, ia menegaskan bahwa penyegaran tersebut harus tetap berada dalam koridor nilai dan visi perjuangan Hidayatullah. Dengan demikian, keberlanjutan dakwah tidak hanya dijaga melalui regenerasi usia, tetapi juga melalui konsistensi nilai dan arah gerakan.

Dia mengatakan, Rapat Kerja Wilayah DPW Hidayatullah Jawa Timur menjadi forum penting untuk menyamakan persepsi terkait pola kaderisasi dan pembagian peran antar generasi.

Melalui forum ini, kembali dia menegaskan bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh munculnya kader baru, tetapi juga oleh peran aktif kader senior dalam membimbing, mengarahkan, dan menjaga marwah perjuangan.

Forum Rakerwil Jawa Timur, Suwito Abdul Fattah Tekankan Relevansi Hidayatullah dalam Dinamika Nasional

0

BATU (Hidayatullah.or.id) — Bendahara Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Suwito Abdul Fattah, menyampaikan bahwa pada usia organisasi yang telah melampaui setengah abad, Hidayatullah sebagai salah satu pilar pembangunan bangsa dituntut untuk semakin relevan dengan dinamika nasional.

Ia mengatakan bahwa organisasi perlu hadir sebagai mitra strategis negara dengan tetap berpijak pada nilai-nilai agama, Pancasila, dan Undang-Undang Dasar 1945. Penegasan tersebut disampaikan Suwito dalam forum Rapat Kerja Wilayah Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur yang digelar di Kampus Hidayatullah Batu pada Jumat hingga Sabtu, 12-13 Sya’ban 1447 (31 Januari–1 Februari 2026).

Suwito mendorong forum ini menjadi ruang konsolidasi dan penegasan arah gerak organisasi, dengan penekanan bahwa seluruh program kerja tidak berhenti pada tataran perencanaan, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk layanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Suwito, yang dikenal memiliki pengalaman panjang dalam penguatan tata kelola organisasi dan filantropi Islam, menyampaikan bahwa ukuran keberhasilan organisasi tidak dapat disederhanakan pada aspek tata kelola semata. Ia menekankan bahwa program kerja harus keluar dari ruang konseptual dan menjangkau kebutuhan riil masyarakat.

“Program kerja jangan berada di menara gading. Ia harus dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegas Suwito, sembari mengingatkan bahwa kerja-kerja organisasi harus memberi dampak nyata, bukan sekadar memenuhi kewajiban laporan atau penyerapan anggaran.

Menurut Suwito, keberhasilan tidak diukur dari besarnya forum musyawarah atau kelengkapan dokumen perencanaan. Ia menekankan bahwa yang lebih penting adalah sejauh mana program Hidayatullah mampu menjawab kebutuhan umat secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, ia menegaskan Rakerwil menjadi forum strategis untuk menyatukan arah dan memperkuat orientasi pengabdian.

“Musyawarah ini bagian dari syariat. Kalau dijalankan dengan ukhuwah dan kesungguhan, insyaallah menghadirkan keberkahan. Rakerwil harus menjadi ruang menyatukan arah, bukan mempertahankan ego,” ujarnya.

Agenda Besar Nasional

Suwito juga menyinggung sejumlah agenda besar nasional, termasuk penguatan ketahanan pangan, pengembangan energi hijau, serta investasi sumber daya manusia sebagai fondasi menuju Indonesia Emas.

Ia menyampaikan bahwa potensi sumber daya yang dimiliki Hidayatullah perlu dikelola secara terukur agar memberikan dampak yang luas bagi masyarakat.

“Program kerja itu harus dirasakan bukan hanya ke dalam, tapi juga ke luar. Manajemen waktu dan energi harus jelas, supaya manfaatnya sampai ke umat,” katanya, seraya mendorong agar menghindari pola kerja formalistik yang berfokus pada penyelesaian administrasi semata.

Ia mengingatkan bahwa masih terdapat kecenderungan menganggap program selesai ketika laporan disampaikan dan anggaran terserap. Menurutnya, indikator keberhasilan justru terletak pada kepuasan masyarakat di luar struktur organisasi.

“Indikator keberhasilan itu bukan kepuasan pengurus. Yang kita ukur justru kepuasan di luar struktur, apakah masyarakat merasa terlayani, terbantu, dan dilindungi,” tegasnya.

Setelah Delapan Tahun, Putra Asli Suku Togutil Kembali ke Kampung Halaman sebagai Dai Masyarakat

0

HALMAHERA (Hidayatullah.or.id) –– Seorang remaja dari suku Togutil bernama Rahmat kini tampil menyampaikan dakwah di hadapan masyarakat. Sosok yang berasal dari pedalaman Halmahera itu menjalani proses panjang sebelum berdiri sebagai pendakwah.

Perjalanan hidupnya bermula jauh dari ruang-ruang dengan akses terbatas, dari kawasan hutan yang selama ini dikenal terpencil dan terpinggirkan.

Rahmat merupakan remaja suku Togutil yang mengikuti pembinaan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Maluku Utara. Delapan tahun silam, ia diberangkatkan ke Pulau Jawa untuk mengikuti pendidikan melalui program Pondok Rumah Ceria di Bekasi.

Pada masa itu, Rahmat masih berada pada tahap awal pembelajaran. Ia belum mampu membaca dan masih sangat bergantung pada bimbingan dasar.

Pembinaan tersebut berlangsung dalam waktu panjang. Proses pendidikan dan pendampingan dijalani secara berkelanjutan. Menjelang Ramadhan 1447 Hijriah, Rahmat kembali ke tanah asalnya di Halmahera. Kepulangan ini menjadi momentum penting setelah bertahun-tahun menjalani pendidikan di luar daerah.

Perjalanan menuju kampung halaman bukan perkara mudah. Untuk mencapai wilayah pedalaman Togutil, Rahmat harus berjalan kaki selama tiga hari menembus hutan.

Medan yang dilalui mencerminkan kondisi geografis tempat ia berasal, sekaligus jarak yang selama ini memisahkan masyarakat pedalaman dari akses pendidikan dan pembinaan.

Keputusan pulang lahir dari kerinduan dan kepedulian. Rahmat kerap menyaksikan kondisi masyarakat Togutil melalui tayangan video yang beredar di media sosial.

Rekaman perjumpaan warga pedalaman dengan aktivitas pertambangan meninggalkan kesan mendalam. Dari situ muncul keinginan untuk kembali dan hadir langsung di tengah masyarakatnya.

Total enam hari perjalanan keluar dan masuk hutan ia tempuh. Setelah itu, Rahmat tiba di wilayah Galela, Halmahera Utara, dan bertemu kembali dengan ibu serta saudara-saudaranya. Kepulangan tersebut tidak hanya menjadi pertemuan keluarga, tetapi juga membuka ruang pengabdian di daerah asalnya.

Pengasuh pembinaan Suku Togutil, Ustadz Rahman Saha, menyampaikan bahwa Rahmat telah menunjukkan perubahan yang signifikan.

Selama berada di Galela, Rahmat tercatat telah mengisi tausiyah di enam titik berbeda. Aktivitas ini dilakukan di hadapan masyarakat setempat sebagai bagian dari kegiatan dakwah.

“Dulu ia datang masih kecil dan belum bisa membaca. Hari ini, ia berdiri menyampaikan tausiyah di hadapan masyarakat,” ujar Ustadz Rahman Saha. Pernyataan tersebut menggambarkan proses panjang yang telah dilalui Rahmat sejak awal pembinaan hingga saat ini.

Kepala Perwakilan BMH Maluku Utara, Nurhadi, menyampaikan bahwa capaian Rahmat merupakan hasil dari pelatihan yang dijalankan secara berkesinambungan.

Ia menilai bahwa pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang dilakukan secara konsisten dapat melahirkan sumber daya manusia yang unggul, termasuk dari komunitas suku terasing.

“Delapan tahun lalu Rahmat berangkat sebagai anak didik. Hari ini ia kembali menjadi dai. Ini menunjukkan bahwa pelatihan membutuhkan kesabaran, waktu, dan konsistensi,” tutur Nurhadi.

Pada Ramadhan mendatang, Rahmat dijadwalkan mengikuti safari dakwah di sejumlah wilayah Maluku Utara. Agenda tersebut menjadi bagian dari aktivitas dakwah yang akan ia jalani setelah kembali dari pembinaan panjang.

Perjalanan Rahmat mencatat lahirnya seorang pendakwah dari pedalaman, melalui proses pendidikan yang berlangsung bertahun-tahun dan dijalani secara bertahap.

Hidayatullah Maluku Utara Awali Rakerwil dengan Rapat Pleno Pengurus Wilayah

0

TERNATE (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Maluku Utara mengawali rangkaian Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) dengan menggelar Rapat Pleno Pengurus Wilayah selama dua hari, bertempat di Kampus Hidayatullah Gambesi, Ternate, pada 31 Januari hingga 1 Februari 2026.

Rapat pleno untuk sinkronisasi program antar pengurus wilayah ini dibuka langsung oleh Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara, Nasri Buhori, M.Pd. Dalam sambutannya, ia memaparkan arah kebijakan serta strategi organisasi untuk lima tahun ke depan sebagai pijakan gerak Hidayatullah Maluku Utara periode 2026–2030.

Menurutnya, agenda prioritas organisasi ke depan difokuskan pada upaya mewujudkan visi Hidayatullah melalui penguatan gerakan tarbiyah dan dakwah. Hal tersebut dirumuskan dalam tema utama periode ini, yakni “Konsolidasi Jatidiri dan Transformasi Organisasi Menuju Hidayatullah Maluku Utara Mandiri dan Berpengaruh.”

Tema tersebut, lanjut Nasri, menjadi landasan utama dalam penyusunan rencana strategis organisasi lima tahunan yang kemudian diturunkan secara operasional ke dalam program kerja tahunan sebagai arah kebijakan organisasi.

“Rakerwil merupakan bagian dari menjalankan amanah organisasi yang berlandaskan jatidiri Hidayatullah. Karena itu, komitmen dan loyalitas kader, terlebih para pengurus, adalah sebuah keniscayaan,” ujarnya dalam keterangannya diterima media ini pada Ahad, 13 Sya’ban 1447 (1/2/2026).

Ia menegaskan bahwa Rakerwil merupakan manifestasi ketaatan dalam sistem kepemimpinan imamah jama’ah. Seluruh keputusan dan kebijakan yang dihasilkan merupakan implementasi dari ketetapan kepemimpinan hasil Musyawarah Majelis Syuro yang diturunkan secara berjenjang mulai dari Rakernas, Rakerwil, hingga Rakerda.

“Dalam pleno inilah kita bersama-sama merumuskan arah kebijakan dan rencana kerja lima tahun ke depan yang akan direalisasikan secara bertahap dalam program operasional tahunan. Dengan demikian, setiap kebijakan dan keputusan bersama menjadi standar kerja organisasi sesuai tema utama periode ini,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Maluku Utara, Ustadz H. Riyadi Poniman, S.HI, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjadikan enam karakter Jatidiri Hidayatullah sebagai manhaj gerakan dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan program kerja.

Ia menjelaskan bahwa konsolidasi jatidiri tidak sekadar menjadi slogan, melainkan harus memastikan proses internalisasi keimanan dalam diri setiap kader berjalan secara intens dan berkualitas. Dengan demikian, kader Hidayatullah mampu merepresentasikan diri sebagai ideolog-ideolog Islam yang siap berkorban dan memiliki kesiapan mengambil risiko maksimal demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin.

Menurutnya, kepemimpinan dalam organisasi pergerakan seperti Hidayatullah harus dilandasi kesadaran ideologis yang kuat serta ditunjukkan melalui kinerja yang berdampak positif dan kontributif terhadap berbagai persoalan umat.

“Kita ingin setiap kader dan pengurus menjalankan program kerja secara konsisten dengan tetap berpegang teguh pada manhaj yang kita anut selama ini, yaitu enam karakter Jatidiri Hidayatullah. Tidak boleh lepas, apalagi melupakannya,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa Hidayatullah harus dijadikan sebagai wasilah atau sarana untuk menggapai ridha Allah SWT melalui gerakan dakwah dan tarbiyah yang terarah dan berkesinambungan.

Sebagai tindak lanjut dari rapat pleno tersebut, DPW Hidayatullah Maluku Utara dijadwalkan akan menggelar Rapat Kerja Wilayah pada awal Februari 2026. Rakerwil ini bertujuan untuk memantapkan program kerja lima tahun ke depan sekaligus melakukan penguatan dan evaluasi terhadap berbagai aspek organisasi.

Kalapas Cipinang Ajak Hidayatullah Bersinergi dalam Pembinaan Warga Binaan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang, Wachid Wibowo, mengajak Hidayatullah untuk menjalin sinergi dalam pembinaan warga binaan pemasyarakatan. Ajakan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya memperkuat program pembinaan, baik pada aspek spiritual, keterampilan, maupun bentuk pembinaan lainnya yang relevan dengan kebutuhan warga binaan di lingkungan Lapas Cipinang.

Ajakan tersebut disampaikan Wachid Wibowo saat melakukan kunjungan silaturahmi bersama jajaran ke Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah pada Rabu, 10 Sya’ban 1447 (29/1/2025). Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari komunikasi yang telah dilakukan sebelumnya sekaligus menjadi forum pembahasan peluang kerja sama pembinaan warga binaan pemasyarakatan.

Pertemuan berlangsung dalam suasana dialogis dengan fokus pada penguatan kolaborasi antara lembaga pemasyarakatan dan organisasi kemasyarakatan berbasis keagamaan.

Dalam pertemuan tersebut, Wachid Wibowo menjelaskan kondisi aktual Lapas Cipinang yang menampung warga binaan dengan status inkrah atau berkekuatan hukum tetap. Ia menyampaikan bahwa jumlah penghuni Lapas Cipinang saat ini mencapai 2.049 orang, sementara kapasitas ideal lembaga tersebut hanya 880 orang.

Dari total penghuni, sekitar 1.800 orang beragama Islam, sekitar 180 orang beragama Kristen, dan selebihnya beragama Katolik. Data tersebut disampaikan untuk memberikan gambaran kebutuhan pembinaan yang proporsional sesuai dengan kondisi lapas.

Wachid Wibowo juga memaparkan bahwa pola pembinaan di Lapas Cipinang terbagi ke dalam dua kategori utama, yakni pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian atau keterampilan. Pembinaan kepribadian mencakup aspek mental dan spiritual, sementara pembinaan kemandirian diarahkan pada pengembangan keterampilan warga binaan. Namun, ia mengungkapkan adanya keterbatasan sumber daya manusia yang menjadi tantangan dalam pelaksanaan pembinaan tersebut.

Dari sekitar 270 petugas yang bertugas di Lapas Cipinang, Wachid Wibowo menjelaskan bahwa sebagian besar ditempatkan pada fungsi pengamanan. Untuk kebutuhan pembinaan, Lapas Cipinang saat ini hanya memiliki satu orang psikolog dan belum memiliki tenaga pembina yang berlatar belakang pendidikan sarjana agama. Kondisi ini mendorong pihak lapas untuk memaksimalkan potensi internal warga binaan dalam pelaksanaan pembinaan spiritual.

“Untuk pembinaan spiritual, kami memaksimalkan potensi warga binaan yang memiliki kemampuan di bidang keagamaan,” ujar Wachid Wibowo.

Dalam forum silaturahmi tersebut, Wachid Wibowo secara terbuka menyampaikan undangan kerja sama kepada Hidayatullah. Ia menegaskan bahwa Lapas Cipinang membuka ruang sinergi dengan lembaga keagamaan dan organisasi kemasyarakatan untuk memperkuat pembinaan warga binaan.

“Kami membuka sinergi dengan lembaga keagamaan dan organisasi kemasyarakatan. Silakan Hidayatullah untuk bersama-sama melakukan pembinaan, baik spiritual, keterampilan, maupun bentuk pembinaan lainnya,” tegasnya.

Selain menyampaikan ajakan kerja sama, Wachid Wibowo juga mengungkapkan apresiasi atas sambutan yang diberikan oleh jajaran DPP Hidayatullah dalam kunjungan tersebut. Ia menyampaikan harapan agar silaturahmi yang terjalin dapat memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. “Saya ucapkan terima kasih atas penyambutannya yang luar biasa. Semoga silaturahmi ini membawa keberkahan dan ridha dari Allah SWT,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Imron Faizin, menyampaikan bahwa Hidayatullah selama ini telah memiliki pengalaman kerja sama pembinaan dengan berbagai lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di sejumlah daerah di Indonesia. Ia menyatakan bahwa pengalaman tersebut menjadi modal dalam membangun sinergi yang lebih luas.

“Kami sudah menjalin kerja sama dengan sejumlah lapas dan rutan. Semoga sinergi ini dapat berlanjut dan semakin kuat ke depannya, khususnya dengan Lapas Cipinang,” ujar Imron.

Turut hadir pada kesempatan itu Ketua DPP Hidayaullah Bidang Pelayanan Umat Drs. Shohibul Anwar, MH.I., dan Wakil Sekretaris Jenderal III Muhammad Isnaeni. Tampak pula Abdul Hadi MA Damanik dan Dadang Kusmayadi dari Yayasan Wakaf Al Qur’an Suara Hidayatullah.

Pertemuan ini menandai langkah awal penguatan komunikasi antara Lapas Cipinang dan Hidayatullah dalam konteks pembinaan warga binaan, dengan fokus pada kolaborasi yang terstruktur dan berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan lapas dan program pembinaan yang ada.