LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Puluhan santri Hidayatullah Lingga, Kepri tampak antusias berkumpul di halaman pondok menyambut program BMH Kepri berupa penyaluran alat ibadah dan logistik dalam rangkaian hari Santri Nasional dengan tema “Santri Bangkit untuk Indonesia Maju dan Berdaya” pada Selasa, 10 Januari 2023.
“Kegiatan ini merupakan penguatan terhadap jaringan ponpes yang menjadi binaan BMH Kepri, atensi besar kepada ponpes di Lingga ini karena para santrinya berasal dari pulau-pulau dan daerah transmigrasi di sekitar kabupaten Lingga,” ujar General Manager BMH Kepri, ustadz Abdul Aziz.
Selain menyerahkan bahan kebutuhan pokok berupa beras, susu, mie instan dan telur, BMH Kepri juga menyerahkan perlengkapan sholat; baju koko, sarung, kopiah dan al Quran kecil. Sekira 35 orang santri putra yang menuntut ilmu di ponpes Hidayatullah Lingga mayoritas dari kalangan tidak mampu sehingga sangat membutuhkan perhatian dari para muhsinin.
Ketua yayasan Hidayatullah Lingga yang juga sebagai kerua III Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lingga, ustadz Awwalin menyambut bahagia program penyaluran bantuan dari BMH Kepri, ia berharap dengan adanya perhatian ini semakin memacu semangat para santri dalam beribadah dan menuntut ilmu.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para donatur atas bantuan-bantuan yang telah diberikan, semoga Allah Subhana wa ta’ala membalas dengan balasan yang berlipat ganda,” pungkas ustadz Awwalin usai acara serah terima bantuan.*/Mujahid M. Salbu
KENDAL (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah (Jateng) menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di Kabupaten Kendal yang berlangsung selama 2 hari yang dibuka pada Sabtu, 14 Jumadal Akhirah 1444 H (7/1/2023).
Penyelenggara mengundang Bupati Kendal Dico Mahtado Ganinduto selaku tuan rumah untuk membuka acara tersebut. Namun bertepatan memiliki agenda lain yang telah terjadwal sebelumnya, sang Bupati mengutus Ir. Sugiono, S.T., M.T selaku Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kendal untuk menggantikan dirinya.
Dalam sambutannya membuka acara tersebut seraya membacakan sambutan Bupati, Sugiono mengapresiasi kiprah dan peran Hidayatullah dalam membangun daerah terutama dalam pengembangan sumber daya insani melalui program mainstream dakwah dan pendidikan.
Sekda pun berharap Hidayatullah khususnya di Kendal terus menjalin sinergi dengan pemerintah sebagaimana telah berjalan selama ini.
“Semoga ke depan kerjasama-kerjasama Hidayatullah dengan pemerintah bisa dilaksanakan, sinergi-sinergi program dapat terlaksana dengan baik, sehingga membawa perbaikan bersama, khususnya di Kabupaten Kendal ini,” kata Sekda Sugiono.
Sekda pun menyatakan rasa bangga dengan dipilihnya Kendal sebagai tempat penyelenggaraan Rakerwil Hidayatullah Jateng kali ini, apalagi pada kesempatan tersebut turut hadir Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA. Ia turut dibersamai Ketua DPW Hidyatullah Jateng Ust. H. Ali Subur dan Ketua DMW Jateng Ust H Sunoto Ahmad.
“Menjadi sebuah kehormatan Kabupaten Kendal dipilih sebagai tempat pelaksanaan Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah ini, lebih menggembirakan lagi bahwa Rakerwil ini juga dihadiri orang nomor satu di Hidayatullah yakni Ketua Umum DPP Hidayatullah,” kata Sugiono.
Pada kesempatan pembukaan Rakerwil Hidayatullah Jawa Tengah yang berlangsung di Hotel Tirto Arum pada tahun ini terasa istimewa sebab turut diisi arahan yang disampaikan langsung oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA.
Banyak arahan yang beliau berikan, khususnya terkait tema yang diusung dalam Rakerwil ini yakni “ Konsolidasi Jati Diri, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik”.
Rakerwil ini diikuti oleh seluruh komponen organisasi, sementara dari DPP Hidayatullah bertindak sebagai pendamping Rakerwil yakni Marwan Mujahidin.
Dari Wilayah hadir seluruh pengurus DPW (Dewan Pengurus Wilayah), DMW (Dewan Murabbi Wilayah), Organisasi pendukung (Muslimat Hidayatullah dan Pemuda Hidayatullah), BMH (Baitul Maal Hidayatullah), BTH (Baitut Tamwil Hidayatullah), SAR Hidayatullah, Pos Da’i Hidayatullah, dan Ketua Kampus Madya Semarang dan Kudus. Serta ada dari daerah hadir Pengurus Harian DPD Hidayatullah se-Jawa Tengah.
Selama 2 hari, yakni dari tanggal 7-8 Januari 2023, seluruh peserta memeras otak, saling berdiskusi, berargumen, guna menghasilkan program-program terbaik di tahun 2023 ini.
Sejumlah program strategis yang diusung dalam Rakerwil tahun ini, diantaranya target-target pendirian Rumah Qur’an Hidayatulah (RQH), pendirian 2 sekolah baru setingkat SMP, pendirian badan usaha milik organisasi (BUMO), serta target peningkatan akreditasi sekolah dan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) di Jawa Tengah, dan masih banyak program-program mainstream yang lain. */Eviq Erwiandy
Penulis paling kanan berkopiah hitam di kantor KPU Sultra
DALAM mengawali pemaparan orasi politiknya, Ustadz Dr M Tasmin Latif M Pd, pada event deklarasi Tim Pemenangan, Bakal Calon DPD RI Dapil Sultra ini mengatakan, “bobot forum ini menjadi kuat, karena dihadiri oleh Ketua Pokja Politik Hidayatullah, Bapak Ustadz Ir. H. Candra Kurnianto”.
Bersamaan kehadiran Bapak Ustadz Ir Candra Kurnianto ke Sulawesi Tenggara, mewakili Ketua Umum DPP Hidayatullah dalam event Rakerwil Hidayatullah DPW Sulawesi Tenggara yang diselenggarakan di Hotel Zahra Syariah Kendari. Pada Senin-Selasa 7-8 Januari 2024.
Berkaitan dengan segala sesuatu menyangkut persoalan politik, menjadi ranah diskusi Pokja Politik Hidayatullah.
Salah satu produk yang dihasilkan dari Pokja Politik Hidayatullah ini yang digawangi oleh Ustadz Candra (sapaan akrabnya), adalah Keputusan Penetapan Ustadz Dr. M Tasmin Latif M Pd untuk menjadi DPD RI Dapil Sultra pada periode mendatang ini.
Ketua Dewan Murabbi Pusat ini, dalam orasinya juga memaparkan kronologi penetapan keputusan tersebut.
Berawal dari taujih politik Bapak Pemimpin Umum Hidayatullah Ustadz Abdul Rahman Muhammad, menyampaikan bahwa mekanismenya harus dari bawah.
Mulai dari calon yang diusung dan disepakati pada tingkat DPW selanjutnya mengajukan ke Pokja Politik untuk digodok, hasil tersebut menjadi dasar keputusan MMS (Majelis Musyawarah Syuroh) yang diketuai oleh Bapak Pemimpin Umum dalam keputusan penetapan.
Pada era ini Hidayatullah semakin menunjukkan sebagai organisasi inklusif (terbuka). “Model inklusivitas Hidayatullah dalam da’wah dan politik”, in syaa Allah akan dideklarasikan pada acara Silatnas Hidayatullah 2023 mendatang di Kampus Ummul Quro Gunung Tembak. Papar Ustadz Tasrif Amin (sapaan akrab) Bapak Dr. M Tasmin Latif M Pd.
“Salah satu program yang akan dicanangkan adalah Pelatihan Muballigh di beberapa titik di Sulawesi Tenggara ini”, kata Dr. M Tasmin Latif M Pd. pada akhir orasinya.
Sementara dalam sambutannya Ketua Pokja Politik Hidayatullah, Bapak Ustadz H. Ir Candra Kurnianto mengatakan bahwa, “nanti akan disampaikan ke Pengurus Harian DPP, agar Tim Pemenangan yang telah dikukuhkan ini mendapatkan SK dari DPP sebagai penguatan.”
Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah ini juga menyampaikan, bahwa, “Saya sudah arahkan saat acara Rakernas, Sulawesi Tenggara mendapatkan tugas dan amanah untuk mengusung DPD RI, namun harus dibantu oleh DPW Sulawesi Selatan dan DPW Sulawesi Barat, karena selain jaraknya relatif dekat juga ketua DPWnya mempunyai hubungan emosional dengan Sulawesi Tenggara, masing-masing pernah bertugas di Bumi Anoa ini.”
“Kita perlu merumuskan strategi-strategi pemenangan, diantaranya memberdayakan orang-orang potensial yang ada di Sulawesi Tenggara untuk memberikan dukungan dalam berbagai hal”
Saya teringat, praktisi politik, “Dedi Mulyadi” seorang yang meminta kepadanya ingin mencalonkan diri menjadi caleg, kemudian ditanya, “apa potensimu,” orang ini menjawab, “menyanyi”.
Maka disettinglah, setiap ada hajatan masyarakat, caleg tersebut menyanyi, suaranya memang bagus, iya tidak dibayar namun setiap tampil mengkampanyekan dirinya sebagai caleg.
Dengan cara seperti itu orang ini sukses dan berhasil menjadi Caleg.
“Apalagi orang yang akan kita usung ini seorang ustadz, muballigh, Doktor, tentu jaulah levelnya”, Ustadz Tasrif Amin panggilan kecil kandidat DPD RI menyela, “tapi saya tidak bisa nyanyi”, justru yang bisa menyanyi orang yang duduk di sebelahnya, Ustadz Khairil Baits, hadirin ketawa lepas.
Selanjutnya Ustadz Candra menjelaskan bagaimana kita mampu membangun narasi menguatkan peran situs² sejarah yang pernah ada di Sulawesi Tenggara ini.
Ustadz Candra memberikan contoh kasus, ketika Ustadz Nursyamsa Hadis menjabat sebagai anggota DPD RI, Beliau ikut terlibat memperjuangkan pemekaran Provinsi Kalimantan Utara.
Mendapatkan orang yang memahami geopolitik Sulawesi Tenggara, apa issue-issue yang menarik, misalnya sumber daya alam Sulawesi Tenggara, kita bisa memainkan peran terkait dengan issue yang berkembang.
Ada ghost writernya (penulisnya), kemudian memanfaatkan koran-koran daerah untuk mengsosialisasikan calon yang kita usung, lalu disebar di media-media sosial, Kata Ustadz Candra memaparkan strategi pemenangan yang bisa dilakukan.
Pada acara ini hadir juga Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ustadz H. Ir Khairil Baits.
Dalam sambutannya Beliau menyampaikan, “pengalaman sebelumnya sudah bisa menjadi pelajaran, pasca pencoblosan kita sudah balik masing-masing ke rumah istirahat, tidak lagi mengawal dan mengawasi keberadaan kotak-kotak suara, sehingga pada periode ini perlu menyusun strategi pemenangan yang lebih baik lagi.”
Momen acara ini, dilakukan pembacaan ikrar bersama yang dipandu oleh Ketua Pokja Politik Hidayatullah Bapak Ustadz H. Ir. Candra Kurnianto, membangun komitmen untuk pemenangan Dr. M Tasmin Latif M.Pd sebagai DPD RI Dapil Sulawesi Tenggara Periode 2024-2029.
Pada rangkaian acara Rakerwil Hidayatullah DPW Sulawesi Tenggara ini, acara pembukaan dihadiri oleh Ketua DPRD Kota Kendari H. Subhan, ST, Ketua DPW PKS Provinsi Sulawesi Tenggara Yaudusalam Ajo S.i dan Ketua DPD PKS Kota Kendari Andi Mansyur, SS.*/
Ust Ahmad MS,pengurus DMW Hidayatullah Sulawesi Tenggara
LAMPUNG (Hidayatullah.or.id) — Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Abdul Ghofar Hadi, mengatakan Hidayatullah memiliki kultur khas yang sangat melekat yaitu menghidupkan dakwah dengan dikirimnya para kader untuk mengemban tugas kekhalifahan tersebut ke seantero bumi.
Karenanya, mahasiswa S3 Program Studi Keluarga Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) ini mengajak kader untuk senantiasa merawat semangat dakwah dengan terus menumbuhkan kegelisahan terhadap kondisi umat yang belum tersentuh dakwah Islam.
“Dengan kegelisahan itu akan tumbuh idealisme dan semangat untuk berjuang,” kata Ust. Abdul Ghofar Hadi.
Hal itu disampaikan Ust. Abdul Ghofar Hadi saat sambutan pada pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Provinsi Lampung yang digelar di Kota Bandar Lampung dibuka Sabtu, 14 Jumadal Akhirah 1444 H (7/1/2023).
Selain membacakan amanat Rakerwil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Ust. H. Nashirul Haq, Lc, MA, pada kesempatan tersebut Abdul Ghofar Hadi mengajak peserta melakukan terobosan dan berbagai kreasi yang memungkinkan terus merawat semangat perjuangan untuk menguatkan dakwah di kawasan ini.
Menurutnya, amat penting menumbuhkan kegelisahan yang lahir karena kesadaran akan pentingnya melakukan pencerahan kepada umat. Sebab, ketika dakwah tidak jalan, maka dikhawatirkan kita sudah berada di zona nyaman.
“Semoga tidak terjebak dalam zona aman, menikmati kondisi yang ada padahal masih banyak peluang untuk berkarya,” imbuhnya memungkasi seraya mengajak menguatkan persaudaraan, terus mantapkan kekompakan, menjaga soliditas, serta menyikapi berbagai dinamika yang ada dengan kebesaran jiwa dan mengintensifkan komunikasi.
Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Lampung Ust. Rusdi Hidayat menekankan perlunya penguatan program pada aspek pengembangan dan optimalisasi peran amal usaha dalam menunjang gerakan.
“Pada tahun ketiga ini, kita harus lebih semangat dan ekspansif untuk dakwah dan program-program amal usaha strategis dengan dakwah digital,” kata Rusdi.
Kegiatan tahunan ini diikuti oleh seluruh pengurus DPW, pengurus DMW, pengurus DPD, pengurus Kampus Madya, utusan dari PW Pemuda Hidayatullah dan PW Muslimat Hidayatullah serta unsur amal amal usaha.
Dalam pada itu, Ust. Munawir dalam sambutannya mewakili Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Lampung mengingatkan untuk lebih dewasa dalam berorganisasi. Dia menekankan hendaknya perkuat niat dan ukhwah sebagai kunci dalam berjamaah.
Rapat kerja wilayah Lampung kali ini terasa hidup dengan banyak usulan, tanggapan, dan masukan dari peserta Rakerwil. Semua departemen mendapatkan masukan program. Termasuk program DMW tentang halaqah, dauroh dan lailaltul ijtima.*/Yacong B. Halike
Penulis bersama Ust. Muhammad Nawir / Foto. dok. Hidayatullah.or.id
“KETIKA Nafsu Berkuasa”, itulah judul majalah Suara Hidayatullah yang menyentakkan pikiran dan hati Muhammad Nawir. Saat itu anak muda ini sedang berada di Bontang, Kaltim, untuk mencari saudaranya dan melamar pekerjaan di PT LNG Badak. Majalah itu dia baca saat silaturahim ke rumah saudaranya yang berlangganan majalah tersebut.
Ketika silaturahim ke Kampus Hidayatullah Bontang, bertambah tertarik lagi dia melihat langsung pribadi para ustadz di sana. Terutama saat melihat dan berjumpa dengan pimpinannya, yang (mohon maaf) kurus, berwibawa, santun, dan tidak banyak makannya. Orang yang dilihatnya tersebut adalah Ust. Abdurrahman Muhammad. Sekarang, Pemimpin Umum Hidayatullah.
Akhirnya Nawir memutuskan untuk bergabung ke Hidayatullah Gunung Tembak. Meskipun satu tahun setelah itu ada jawaban bahwa lamaran kerjanya di PT LNG Badak diterima.
Namun, dia sudah tidak tertarik lagi memenuhi panggilan kerja di perusahaan pengelolaan minyak bumi yang namanya sangat beken itu. Padahal, lumayan besar gaji dan berbagai jaminan yang akan dia dapatkan.
Tugas di Dapur
Muhammad Nawir sebagai lulusan SMEA untuk ukuran tahun 90-an itu keren, ijazahnya bisa untuk melamar jadi pegawai negeri atau karyawan perusahaan bonafid. Namun, Nawir tidak terlalu tertarik dengan itu semua. Ia malah penasaran dengan Hidayatullah.
Sebagaimana santri baru yang lain, setelah selesai menjalani Training Center (TC) semua santri mendapatkan tugas masing-masing. Nawir ditempatkan di dapur untuk tugas memasak.
Sebenarnya tidak nyambung dengan pendidikan dan kemampuannya. Tapi itulah ujian pertama yang harus ia jalani. Saat itu belum ada gas elpiji. Dia pun memasak dengan mengumpulkan kayu-kayu kering dari hutan untuk bahan bakar masak.
Tentu ia merasakan letih menjalankan aktifitas rutin itu. Dia harus masak tiga kali sehari untuk banyak santri, hampir tidak ada waktu istirahatnya. Apalagi jika musim hujan, kesulitan mencari kayu bakar yang kering menjadi tantangan tersendiri. Tak jarang, sudah datang para santri mau makan, tetapi nasi dan lauk belum selesai dimasak.
Berkecimpung di dapur ini, Nawir belajar ikhlas melayani para santri dan kerja keras untuk memasak dengan tiga kali sehari. Berlatih juga disiplin dan sabar jika turun hujan.
Tugas Takmir dan Pusat Informasi
Setelah satu tahun tugas di dapur, Nawir muda kemudian ditugaskan menjadi takmir Masjid Ar Riyadh. Suara beliau yang bagus dan meliuk-liuk saat mengumandangkan adzan sangat disenangi oleh jamaah.
Tugas sebagai takmir bukan hanya adzan. Nawir juga bertanggung jawab membersihkan lantai masjid, minimal 3 kali dalam sehari karena shalat berjamaah 5 kali sehari ditambah shalat lail berjamaah. Bukan hanya disapu tapi juga harus dipel dengan alat yang masih manual.
Nawir juga bertugas menjaga waktu shalat dengan mengumumkan waktu shalat persepuluh menit dari mulai 30 menit sebelum adzan. Jika terlambat maka dipastikan akan mendapat teguran dari jamaah.
Selain itu, Nawir juga bertugas sebagai pusat informasi mengumumkan segala kegiatan yang dilaksanakan di pesantren. Saat itu belum ada telpon apalagi handphone. Hanya ada handy talky (HT).
Setiap ada pemesanan barang, tamu akan datang, informasi laporan dari daerah itu melalui HT yang diletakkan di takmir. Ini yang membuat sulit tidur karena nyaris tidak berhenti HT berbunyi dan harus diumumkan ke mic masjid jika harus memanggil orang atau informasi yang harus disampaikan.
Tugas di takmir yang paling terkesan bagi Nawir adalah menemani Allahuyarham Ust. Abdullah Said shalat lail. Jika shalat lail berjamaah, terutama malam Senin dan malam Kamis, ibadah tahajjud itu dilaksanakan tepat pukul 00.00. Maka, pada pukul 23.30 sudah harus diumumkan panggilan, “shalah… shalah… shalah!”.
Yang juga tak terlupakan bagi Nawir muda saat itu, dia terkadang tertidur karena kecapekan dan dibangunkan langsung oleh Ust. Abdullah Said di ruang takmir.
Nawir merasakan langsung shalat lail 4 jam dan anehnya jika shalatnya pas dibelakang Allahuyarham Ust. Abdullah Said, dipastikan tidak mengantuk. Tapi posisi di baris depan itu harus rebutan duluan dengan jamaah dan ustadz yang lain.
Saat tertentu, Nawir diminta menemani shalat lail Allahuyarham berdua saja. Rata-rata 4 jam lamanya. Nawir menyaksikan sendiri, tempat sujud Ust. Abdullah Said ada darahnya karena saking lamanya sujud. Beliau harus ganti kain tempat sujud tersebut hingga tiga kali dalam semalam.
“Tugas di takmir ini berat tapi nikmat, karena banyak kesempatan bisa bicara dan dekat dengan Ust. Abdullah Said. Tapi, di Hidayatullah, perkaderan itu dengan rolling tugas. Tidak ada yang tugas abadi atau lama-lama di satu tempat,” ungkap Ust. Nawir saat mengisahkan kembali perjalanan tersebut kepada penulis beberapa waktu.
Tugas Penjaga Wartel
Tugas Nawir muda berikutnya menjadi salah satu penjaga warung telekom (wartel) milik pesantren yang berlokasi di kota. Bisa dibilang ini tugas yang bertolak belakang dengan takmir.
Jika di takmir fokus ibadah dan tidak pernah lihat perempuan, di wartel hampir setiap saat lihat perempuan dan melayaninya untuk memakai wartel. Sebenarnya tugas ini sangat menyiksa batinnya tapi tetap jalani dengan ketaatan dan banyak istighfar saja.
Tugas Biro Haji
Usia menjalani tugas debut mengelola wartel, selanjutnya Nawir dipindahkan tugas lagi menjadi tenagaa biro haji bersama Ust. Rahmat Rahman. Ini tugas yang berbeda karena harus banyak melayani orang-orang kaya yang hendak berangkat haji.
Bagi Nawir yang masih muda kala itu, tugas baru ini menantang dan menarik. Ada pengalaman baru yang didapatkan sambil terbesit harapan untuk bisa haji juga.
Saat menikmati tugas di Biro Haji ini, tiba-tiba ada tawaran untuk ikut menikah mubarakah. Sebenarnya belum siap dan tidak mau, tapi karena terus didesak maka akhirnya ikut pernikahan mubaraah 100 pasang tahun 1997.
Ini ternyata tugas terakhir di Gunung Tembak. Beberapa hari setelah menikah, untuk pertama kali tugas keluar Balikpapan yaitu langsung ke Pulau Sumatera yaitu Lampung. Sebelumnya diminta pulang silaturahim ke rumah orang tua dan mertua.
Tugas Lampung
Nawir mengaku awalnya was was ketika mau berangkat tugas ke Lampung karena baru pertama kali tugas jauh. Namun ia pantang surut ke belakang. Ia pun naik kapal hingga ke Tanjung Priok Jakarta. Alhamdulillah, ada paman yang menjemput meskipun belum pernah ketemu sebelumnya.
Setelah menginap di rumah sang paman selama 2 hari, Nawir lalu dibelikan tiket bus ke Lampung turun di Manggala pukul 02.00 dini hari. Ust. Abdul Majid Aziz sebagai pimpinan cabang Hidayatullah Lampung, girang bukan main dengan kedatangan Nawir. Karena ada tenaga baru yang memperkuat barisan.
Nawir mengaku tidak pernah terbayang tugas di Lampung yang terkenal sebagai kota dengan angka kriminalitas tinggi. Banyak kader dikirim ke Lampung tapi sebagian tidak betah. Ada sekitar 20 tenaga dikirim tapi terpental.
“Disinilah mahalnya ketaatan dan pentingnya garis komando,” kata Ust. Nawir yang kini didapuk menjadi Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Lampung.
Selama tugas di Lampung, sudah 4 kali ia kehilangan motor. Bukan hanya dia, beberapa orang yang ia kenal juga pernah kehilangan motor. Ini sebagai gambaran rawannya keamanan di Lampung. Ia mengakui beratnya dakwah di Lampung, hingga ada petugas dai yang dikirim ke sini berseloroh, “mungkin Lampung sudah dikutuk”.
Ungkapan itu mungkin sebagai gambaran perasaan tidak mudahnya mengemban tugas dakwah di kawasan ini. Namun, Ust. Nawir tetap berusaha bertahan dan berbuat apapun yang diampu demi tegaknya dakwah. Baginya, semakin berat tantangan dakwah maka semakin nikmat ibadah dan perjuangan itu. “Syarat tentu harus ada keyakinan, mujahadah dan kesabaran,” imbuhhnya.
Merintis Hidayatullah Yukum Jaya
Tahun 2003, Ust. Nawir ditugaskan dari Manggala untuk merintis di Kabupaten Yukum Jaya di Lampung Tengah. Selama 7 tahun belum mendapatkan tanah sehingga ia pun numpang dan kontrak rumah secara bergantian. Kegiatannya berdakwah dari masjid ke masjid, mengajar TPA, silaturahim ke orang-orang yang dikenal sambil mencari tanah.
Ada salah satu tempat pengajian tampak terbengkalai yang lokasinya dimiliki oleh Pak Haji Mahmud. Sang pemilik tanah mempercayakan pengunaan lokasi ini ke Pak Haji Amin. Lalu Ustadz Nawir mengajukan diri agar tanah tersebut diserahkan ke Hidayatullah.
Sang pemilik tanah pun setuju diserahkan ke Hidayatullah saja agar lebih maksimal tanah wakafnya. Lalu ustadz Ust. Nawir minta bantuan ke Ust. Amin Mahmud untuk menfasilitasi berkomunikasi dengan Haji Amin sebagai pengelola. Alhamdulillah, interaksi terjalin sangat baik dan penuh kehangatan hingga kemudian mulailah dilakukan peralihan.
Jadi, kisah tiga orang yang memiliki kemiripan nama menjadi kisah tersendiri dalam proses tanah Hidayatullah Yukum Jaya. Yaitu pemilik tanah bernama Haji Mahmud, pengelola bernama Haji Amin dan diserahkan ke Hidayatullah melalui Haji Amin Mahmud.
Tanah itu memang yang selama tiga tahun diinginkan dan senantiasa didoakan oleh Ust. Nawir. Ada keyakinan bahwa tanah tersebut yang pas untuk membangun pesantren.
Alhamdulillah, setelah mendapatkan tanah 7000 meter persegi itu, lalu satu persatu santri datang untuk belajar dan perlahan tapi pasti bangunan asrama, madrasah, dan mushola mulai berdiri. Sekarang sudah ada pendidikan SD dan SMP putri, rencana tahun ini akan mendirikan SMA putri .
Tempaan tugas selama di Bontan dan Gunung Tembak Balikpapan menjadi modal berharga bagi Ust. Nawir dan santri-santri Hidayatullah untuk mengemban amanah di tempat sesulit apapun. Ada keyakinan dengan usaha maksimal yang diiringi ibadah dan doa maka semua ada solusinya.
Masalah hasil hanya masalah waktu dan kesabaran untuk menunggu. Allah Maha Tahu, Allah tidak buta dan tuli dengan usaha yang dilakukan dan doa yang dipanjatkan para hamba-hamba.*/Abdul Ghofar Hadi
BOJONEGORO (Hidayatullah.or.id) — Di penghujung acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Jawa Timur (Jatim) yang berlansung selama 3 hari di Kampus II Hidayatullah Bojonegoro, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Jatim memberi surprise.
Tentu saja, kejutan tersebut betul betul bikin peserta penasaran. Pasalnya, akan diumumkan pada acara penutupan itu 15 kader-dai yang ada diumrahkan secara gratis.
Rinciannya; 10 dipilih dari Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Jatim terbaik, dan 5 dai terkategori tangguh.
“DPW telah menentukan poin-poin penilaiannya. Skor sudah dikalkulasi, maka terpilihlah 10 DPD terbaik yang mendapat hadiah umroh,” jelas Gani Irwansyah, Ketua Departemen Sosial dan Kesehatan DPW Hidayatullah Jawa Timur.
Adapun titik tekan penilaian dai tangguh, lanjutnya, ada pada ketangguhan para dai dalam mengemban dakwah di daerah. Termasuk juga, lamanya mengabdikan diri di medan dakwah.
Suasana penuh mendebaran terjadi, ketika Gani Irwansyah, membacakan nama-nama yang mendapat hadiah umrah.
Diantara ketua DPD yang mendapatkan hadiah umrah tersebut adalah DPD Hidayatullah Surabaya, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Situbondo, Madiun, Ngawi, Malang, dan Trenggalek.
Adapun 5 dai tangguh yang mendapatkan kesempatan umrah jatuh pada; Ust. Agus (Ponorogo), Ust. Agus Very (Banyuwangi),
Ust. Aziz (Madiun, Caruban), Ust. Mualimin (Lumajang), dan Ust. Katon (Surabaya).
Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur Ust. Amun Rowi, dalam sambutannya, menyampaikan permintaan maaf, dikarenakan pengurus baru bisa memberangkat 15 dai-kader untuk umrah.
“Sebagai pengurus, kami sejatinya ingin sekali memberangkatkan semua pengurus DPD se-Jatim. Tapi, mau dikata, kemampuan masih sekian,” ujar Amun.
Meski demikian, lanjut dia, patut harus disyukuri terhadap rizki yang Allah berikan saat ini, dengan diberi kemampuannya pengurus memberangkatkan 15 kader dan dai.
“Mudah-mudahan kedepannya akan lebih banyak lagi,” doa Amun yang langsung diamini oleh para peserta Rakerwil.
Secara terpisah, Kartam, ketua DPD Madiun, menyatakan kesyukuran dan terima kasihnya atas hadiah umrah yang diterimanya.
“Mudah-mudahan keberangkatannya nanti akan dipermudah, dan ibadah umrahnya diterima oleh Allah,” ujar ustadz lulusan STAIL Surabaya ini.
Adapun terlaksananya ibadah umrah ini berkat kerjasama antara DPW Hidayatullah, Jawa Timur, Sakinah, komunitas Pajero, Ferrari, Fortuner, dan lain lain.*/Khairul Hibri
BOJONEGORO (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah Jawa Timur menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang digelar selama 3 hari di Kampus II Hidayatullah Bojonegoro yang dibuka pada Jum’at, 13 Jumadal Akhirah 1444 H (6/1/2023).
Pada kesempatan tersebut sekaligus dilakukan pelantikan pengurus baru Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Sampang yang diamanahkan kepada putra daerah yakni Ust. Jules Amarta Sofyan.
Amanah baru diemban Sofyan Amarta ini, ketika pembacaan pelantikkan dirinya yang dibacakan langsung oleh Ust. H. Amun Rowi, ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur.
“Apakah ustadz sekalian siap untuk dilantik sebagai pengurus DPD Sampang?,” ujar Ust. Amun, panggilan akrabnya, sebelum memulai prosesi pelantikan, yang diselenggarakan di pra acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Jawa Timur.
“Siap..!” pekik Sofyan.
Merespon amanah baru yang diberikan, bantan Ketua BMH Perwakilan Bengkulu dan Lampung ini mengaku siap mengukir jalan dakwah di Sampang.
Bertepatan juga, ujar ustadz muda asli asal pulau garam ini, saat ini belum ada cabang Hidayatullah di Sampang.
“Jadi, ini benar-benar perintisan. Bismillah, kita siap mengukir jalan dakwah di Kabupaten Sampang,” ujarnya optimistis.
Sebelum mendapat amanah baru sebagai ketua DPD Sampang, alumni STAIL Surabaya ini telah melalang buana menjalankan amanah dakwah, mulai dari Jakarta, Batam, Bengkulu, dan Lampung.
Pengalaman ketika terjun di berbagai daerah ini, aku Sofyan, akan dijadikannya bekal untuk merintis dakwah di daerah pulau kelahirannya itu.
“Mudah-mudahan Allah akan mempermudah dalam menjalankan amanah, dan tentunya diterima sebagai nilai ibadah,” doanya. Selamat, ustadz. Semoga Allah lancarkan menjalankan amanahnya. Aamiin.*/Rudi Trianto
TOPOYO (Hidayatullah.or.id) – Tokoh Sulawesi Barat yang kini menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Mamuju Tengah Dr. H. Arsal Aras Tammauni, SE. M.Si menyebutkan hubungan Hidayatullah dengan masyarakat sangat baik bahkan ketika harus menjelaskan khilafiyah (perbedaan) di tengah kelompok yang berselisih sekalipun.
Hidayatullah, menurutnya, adalah ormas yang tidak asing lagi dalam keluarga Aras Tammauni.
“Bahkan para dainya biasa bermalam di kediaman saya saat akan masuk ke wilayah Saluadak untuk berdakwah” kenangnya.
Hal itu diceritakan Arsal Aras Tammauni saat menyampaikan sambutan dalam acara pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulawesi Barat (Sulbar), Jum’at, 13 Jumadal Akhirah 1444 H (6/1/2023).
Kedekatannya dengan ormas yang baru berumur 50 tahun itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, sikap dan cara berdakwah sangat moderat. Hal tersebut, moderasi atau washatiyah, juga merupakan salah satu poin dalam jati diri Hidayatullah.
Masih menurutnya tentang Hidayatullah, adalah ormas yang Kolaboratif dan dikenal moderat, ia meminta agar dapat bersinergi dengan masyarakat dan pemerintah dalam menjalankan tugasnya.
Saat ini terdapat beberapa kerjasama dalam bidang ekonomi dari institusi yang ia pimpin, salah satunya adalah ternak sapi sekitar 50 ekor sejak beberapa tahun lalu.
Arsal mengisahkan, suatu saat didatangi salah satu ormas memaparkan program bakti sosialnya bahkan meminta foto bersama. Belakangan diketahui ormas tersebut kategori terlarang meski sempat mencatut nama besarnya dan fotonya sebagai legitimasi keberadaannya.
“Dalah hal (pemahaman aqidah yang lurus) inilah kita sering tertipu lantaran terlihat ‘baiknya’ program mereka” tegas ketua DPRD Mamuju Tengah yang gemar mendengar murottal ini.
Rakerwil Hidayatullah Sulawesi Barat dibuka secara resmi oleh ketua Departemen Organisasi DPP Hidayatullah H. Samsudin, SE. MM. Di dalam Rakerwil membahas agenda program kerja dan RAPBO tahun anggaran 2023.
Peserta Rakerwil yang terdiri dari unsur DPP, pengurus pleno DPW, DMW, pengurus DPD Hidayatullah se Sulawesi Barat, organisasi pendukung; PW Mushida dan PW Pemuda Hidayatullah.
Selain amal usaha tingkat wilayah, juga hadir dalam seremonial pembukaan tersebut ketua Kantor Kemenag, ketua MUI, ketua BAZNAS, Kapolres, Perwira Penghubung, pimpinan Ormas dan tokoh tokoh masyarakat.
Dalam sambutannya Samsudin menyatakan kebahagiaannya bisa hadir di tengah masyarakat Mamuju Tengah.
Sembari menyinggung di manapun Provinsi terbentuk di Indonesia ini maka Hidayatullah akan disegerakan hadir, “Bahkan dari 402 kabupaten kota saat ini, keberadaan Hidayatullah sudah dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, sebagaimana potensi pemekaran beberapa provinsi di dataran Papua” ujarnya.
Pada Rakerwil yang bertema Konsolidasi Jati Diri, Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik tersebut juga ditegaskan tentang kriteria pemimpin yang memerhatikan musyawarah dan bahkan pada urusan kecil sekalipun.
Pemimpin yang mampu bekerja keras, cerdas, ihlas dan tuntas serta memprioritaskan munajat kepada Allah.
Kebahagiaan juga dirasakan oleh ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Drs. H. Mardhatillah. Dalam sambutannya, menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat yang telah menyukseskan Rakerwil tahun ini.
Dalam rencana, Bupati Mamuju Tengah akan menghadiri Rakerwil tersebut, namun faktor kesehatan akhirnya mewakilkan kepada H. Bahri Hamzah, S.IP, MM selaku Asisten I Pemkab Mamuju Tengah.
Dikatakan Bahri Hamzah, dengan dipusatkannya Rakerwil di Mamuju Tengah adalah apresiasi tersendiri bagi pemerintah dan pihaknya sangat menyadari hal itu.
“Kami sadar dengan dipilihnya Mamuju Tengah sebagai tuan rumah adalah apresiasi tersendiri bagi kami.” katanya.
Bahri Hamzah berharap agar Hidayatullah bisa membantu pemerintah di Mamuju Tengah untuk mengedukasi masyarakat yang mungkin saja belum paham tentang toleransi dan kehidupan yang berperadaban yang baik.
Menurut Bahri Hamzah, tidak bisa dipisah Hidayatullah dengan pemerintah Mamuju Tengah, bahkan salah satu pertimbangan dipilihnya Mamuju Tengah sebagai tuan rumah adalah menjaga hubungan sebagai anak kepada orang tuanya.
Menambahkan hal itu, Mardhatillah menyebutkan fungsi Hidayatullah di masyarakat adalah menjaga perilaku negatif, menjaga agar masyarakat terhindar dari ajaran yang menyimpang, serta mampu bermitra dengan pemerintah lewat program Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH), Majelis Majelis taklim dan program main stream organisasi.
Sebagaimana dimaklumi, kata dia, umat saat ini sering diperhadapkan dengan ujian aqidah yang serius. Dan diharapkan dengan hadirnya lembaga lembaga dakwah dapat menjaga masyarakat dari ajaran ajaran yang tidak masuk akal, tapi ada saja masyarakat yang ikut.*/Bashori, Massiara
LUWU TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Bupati Luwu Timur, Drs H Budiman MPd membuka rapat kerja wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulawesi Selatan di Ponpes Hidayatullah Towuti, Jum’at, 13 Jumadal Akhirah 1444 H (6/1/2023).
H Budiman mengaku bangga bisa hadir dalam acara Rakerwil Hidayatullah Sulsel, apalagi mendapat kehormatan membuka acara yang dihadiri oleh pengurus DPD dan Kampus Madya se-Sulsel.
“Sebagai pelayan ummat, tentu bertatap muka dengan pengurus Hidayatullah yang datang dari berbagai daerah di Sulsel ini membuat bangga dan terhormat apalagi diberikan kesempatan membuka acara besar ini,” katanya.
Lebih jauh ia menyampaikan bahwa kehadiran Hidayatullah di tengah-tengah masyarakat benar-benar telah memberikan kontribusi yang baik terutama dalam bidang pengembangan Sumber Daya Manusi (SDM)
“Banyak kebaikan yang kita dapat dengan hadirnya Hidayatullah di Luwu Timur ini, kami bersyukur hadirnya Hidayatullah cukup membantu dalam pengembangan SDM,” terang H Budiman.
Ia berjanji akan membantu Hidayatullah untuk kepentingan ummat terutama yang sejalan dengan program pemerintah daerah.
“InsyaAllah Pemerintah Daerah akan senantiasa siap membantu Hidayatullah dan kami senang bisa bekerjasama. yang penting program yang dibutuhkan sejalan dengan pemerintah dan tentu bantuan itu harus mengikuti prosedur yang ada,” terangnya.
Ia berharap semoga dalam Rakerwil yang akan berlangsung selama tiga hari ini, dapat melahirkan langka-langka strategis termasuk kolaborasi antara pemerintah dan Hidayatullah dalam meningkatkan nilai-nilai agama di Luwu Timur khususnya dan Sulsel.
“Kita semua berharap, semoga kegiatan Rakerwil ini dapat menjadi sebuah langkah strategis bagi pemerintah dan para toko agama untuk merumuskan berbagai hal dan gagasan-gagasan dalam rangka meningkatkan nilai-nilai agama di Luwu Timur yang kita cintai ini,” harapnya.*/Ridwan Gagah
POHUWATO (Hidayatullah.or.id) – Bupati Pohuwato Saipul Mbuinga, mengharapkan Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Marisa, bisa menjadi pelopor dalam perkembangan pendidikan agama islam di daerah dengan julukan Bumi Panua itu.
Hal itu, disampaikan Saipul, saat membukan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DPW Hidayatullah Provinsi Gorontalo yang berlangsung di Yayasan Ponpes Hidayatullah Marisa, Jum’at, 13 Jumadal Akhirah 1444 H (06/01/2023).
Sebelumnya, Saipul memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut di Kabupaten Pohuwato, tepatnya dilaksanakan di Popes Hidayatullah Marisa.
Dimana menurut Saipul, bahwa Hidayatullah Marisa memiliki peranan penting dalam perjalanan pendidikan pengetahuan agama Islam di Kabupaten Pohuwato.
“Dengan adanya kegiatan ini saya berharap dapat mejadi salah satu sumber pencerahan rohani yang akan berdampak pada hadirnya angin segar untuk masyarakat pohuwato demi pembangunan daerah kita tercinta,”ungkapnya
Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Gorontalo Ustad Safaruddin menjelaskan, pihaknya juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkb) Pohuwato yang cukup antusias dalam kesuksesan kegiatan Rekerwil tersebut.
Ditambahkannya, Rakerwil tersebut dihadiri oleh 100 da’i muda yang teridiri dari perwakilan 6 DPD kabupaten kota, 3 Kampus Madya dan 20 Rumah Qur’an kabupaten kota Se Provinsi Gorontalo.
“Saat ini kami telah dalam pelaksanaan program pelatihan da’i muda, dan hingga saat ini mereka sudah ada sebagian yang siap untuk diterjunkan sebagai pendakwah ditengah masyarakat, harapan kami juga kedepan para da’i Hidayatullah dapat dilibatkan aktif dalam membantu masyarakat utamanya dalam hal pengetahuan agama Islam,” pungkasnya.*/Marwan Husain