Beranda blog Halaman 319

Rakerwil Aceh, Hidayatullah Didorong Terus Majukan Pendidikan dan Dakwah

ACEH BESAR (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) bertempat di Kampus Hidayatullah Gampong Paroy, Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, yang dibuka pada Jum’at, 27 Jumadil Akhir 1444 (20/1/2023).

Dalam sambutannya membuka acara ini, Penjabat (Pj) Gubernur Aceh Mayjen (purn) Achmad Marzuki yang diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Zahrol Fajri S.Ag MH, mendorong agar Hidayatullah terus memajukan pendidikan dan dakwah di provinsi berjuluk Serambi Mekkah itu.

“Kami menaruh harapan besar kepada Hidayatullah Aceh untuk dapat mengambil peran dan berkiprah secara maksimal, terutama untuk kemajuan pendidkan dan dakwah di Aceh,” kata Zahrol Fajri.

Zahrol Fajri mengungkapkan, salah satu harapan Pemerintah Aceh kedepannya adalah mewujudkan dan menjadikan Aceh yang menerapkan syariat Islam yang komprehensif dan kaffah.

Selain itu, pemerintah juga menerapkan pola pendidikan yang mumpuni, berkarakter, dan berakhlaqul karimah, yang nantinya generasi yang dihasilkan dari proses pendidikan ini akan mengambil alih tongkat estafeta pembangunan Aceh di segala bidang.

“Karenanya. dalam rangka mengoptimalkan peran Hidayatullah Aceh, maka kami mendorong agar secara kontinyu dapat mengevaluasi program kerjanya,” kata Zahrol Fajri.

Dia menambahkan, pihaknya yakin, momentum Rapat Kerja Wilayah yang diadakan kali ini sangat penting artinya bagi Hidayatullah, karena disamping sebagai sarana konsolidasi jati diri dan organisasi, juga sebagai sarana memperkuat program kerja dan menentukan arah organisasi yang akan dijalankan paling kurang untuk satu tahun mendatang.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Aceh, Muhammad Chofadz S.Ag, dalam sambutannya berharap agar seluruh kader Hidayatullah yang mengikuti acara Rakerwil Hidayatullah kali ini hendaknya betul betul serius.

“Karena apa yang dihasilkan dari Rakerwil ini adalah hal yang tentunya akan sangat menentukan langkah dan arah organisasi Hidayatullah Aceh kedepannya,” kata Chofadz.

Menurut Chofadz, kader muda Hidayatullah Aceh inilah yang kedepannya akan mengambil alih tongkat estafeta perjuangan Islam.

“Dan perlu disadari bahwa para kader kader muda Hidayatullah Aceh inilah yang kedepannya akan mengambil alih tongkat estafeta perjuangan menegakkan agama Allah di bumi Serambi Makkah ini,” ungkap mantan Sekretaris Wilayah Hidayatullah Jawa Timur ini.

Rakerwil Hidayatullah Aceh kali ini dihadiri Kabid Ekonomi DPP Hidayatullah Ust. Drs. Wahyu Rahman, MM, yang pada saat terjadi tragedi tsunami Aceh, ia menjadi Pimpinan Hidayatullah Aceh.

Pada kesempatan tersebut juga hadir Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatulah Aceh Tgk. Mahyedin Husra, S.Ag, unsur badan dan amal usaha, unsur organisasi pendukung, serta dipesertai pengurus inti dari sebanyak 12 DPD Hidayatullah se-Provinsi Aceh.*/Oemar Said

Panglima TNI Kunjungi Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono, S.E., M.M., C.S.F.A., mengunjungi Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Jumat, 27 Jumadil Akhir 1444 (20/1/2023).

Pesantren ini terletak di Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, tak begitu jauh dari wilayah Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

Panglima TNI turut serta mengikuti shalat Jumat bersama seribuan warga, santri, mahasantri, serta jamaah Masjid Ar-Riyadh Gunung Tembak.

Rombongan Panglima TNI tiba sekitar pukul 12.20 WITA menjelang pelaksanaan shalat Jumat. Sesaat setelah rombongan memasuki masjid, azan Jumat pun dikumandangkan.

Berdasarkan informasi dihimpun, Panglima TNI Yudo Margono hadir didampingi sejumlah jenderal.

Panglima TNI beserta rombongan disambut langsung oleh Pemimpin Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan UHamzah Akbar, dan para ustadz pembina/ pengurus Hidayatullah lainnya.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut ini tampak khidmat mendengarkan khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Habib Lukman Hakim Alatas. Ia kemudian turut melaksanakan shalat Jumat yang diimami oleh seorang hafizh pemegang sejumlah sanad Al-Qur’an, Baharun Musaddad.

Setelah melaksanakan shalat Jumat, Ketua YPPH Hamzah Akbar naik ke mimbar memberikan sambutan.

Dalam sambutannya ustadz Hamzah Akbar, demikian dikenal, merasa bersyukur atas kunjungan Panglima TNI beserta rombonga dari Markas Besar TNI ke Pesantren Hidayatullah.

“Rasa syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada bapak Panglima TNI yang hari ini berkunjung dalam agenda rapat di Kalimantan Timur,” ucap Ketua YPPH di depan Panglima TNI dan rombongan.

Usai itu, Panglima TNI Yudo Margono tampil menyampaikan sambutannya. Di hadapan seluruh jama’ah Jumat, Panglima TNI merasa senang dan mengaku menikmati berada di Pesantren Hidayatullah.

“Senang rasanya saya bisa hadir bersama dan tentunya berada di depan adik-adik maupun anak-anak, karena ini banyak seumuran anak saya, adik-adik semua di Pesantren (Hidayatullah Gunung Tembak). Tadi saya merasa, kenapa tadi begitu saya duduk rasanya kok dingin, ternyata berada di tengah-tengah para santri. Alhamdulillah,” ucap Panglima TNI Yudo Margono yang tampil dengan seragam loreng hijau.

Ia kemudian berpesan agar santri senantiasa bersyukur dan berbesar hati dalam menuntut ilmu.

“Alhamdulillah! Adek-adek sudah berguru di sini ya tetaplah berguru dengan ikhlas ya, karena itu merupakan modal awal untuk kalian menatap masa depan. Jangan berkecil hati!,” pesannya kepada seluruh santri yang tampil dengan seragam putih-putih.

Panglima TNI itu juga mengungkapkan terima kasih kepada para sesepuh dan ustadz di Hidayatullah atas jasanya mendidik dan mengajar seluruh santri.

“Para ulama, para sesepuh yang telah membimbing para generasi muda harapan bangsa ini untuk nantinya mereka akan meniti karya mereka, akan meneruskan perjuangan para bapak,” tambahnya.

Sumbang Pembangunan Masjid Ar-Riyadh

Tak lupa, pada kesempatan itu Panglima TNI menyampaikan komitmennya untuk memberikan bantuan pembangunan Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak.

“Saya akan sumbang Rp 500 (juta, red), nanti mudah-mudahan bisa lebih menyempurnakan masjid ini ya. Sehingga nanti segera masjid ini bisa bermanfaat untuk semuanya khususnya di pesantren ini,” sebutnya.

Usai acara di masjid, rombongan tamu beramah tamah di Kantor YPPH Balikpapan, tepat di sisi timur masjid. Panglima TNI bersama rombongannya ditemani para pengurus Hidayatullah bersantap siang bersama.

Setelah silaturahim itu, Panglima TNI dan rombongan meninggalkan Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak pada sekitar pukul 14.07 WITA. Rombongan menuju Amborawang, Kabupaten Kutai Kartanegara, yang berbatasan dengan Kelurahan Teritip.

Sebelumnya diketahui, Kamis (19/01/2023), Panglima TNI Yudo Margono mendarat di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan tepat pukul 11.30 WITA.

Pesawat B-737 400/500 TNI AU membawanya beserta rombongan yang terdiri dari Pangkogabwilhan II, Asrenum Panglima TNI, Asintel Panglima TNI, Asops Panglima TNI, Aslog Panglima TNI, Aster Panglima TNI, Askomlek Panglima TNI, dan Kapuspen TNI.

Kedatangan Panglima TNI dalam rangka kunjungan kerja di wilayah Kodam VI Mulawarman.

Kunjungan Laksamana TNI Yudo Margono ke Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak itu tepat sebulan usai dilantik sebagai Panglima TNI oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta (19/12/2022).* (Asrijal/MCU/SKR)

Hidayatullah Papua Barat Gelar Rakerwil di Raja Ampat, Perkuat Ukhuwah Islamiyah

0

WAISAI (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Papua Barat pada Tahun 2023 ini dilaksanakan di Waisai, Kabupaten Raja Ampat yang dibuka pada hari ini bertempat di Aula Kantor bersama MUI-PHBI Kabupaten Raja Ampat, Jum’at, 27 Jumadil Akhir 1444 (20/1/2023).

Hadir membuka acara ini Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Raja Ampat H. Drs. Mansyur Syahdan, SE, Msi.

Dalam sambutan dan sekaligus membuka secara Resmi Rakerwil Hidayatullah Papua Barat ini, Mansyur Syahdan memberikan pesan Kepada Hidayatullah bahwa hadirnya Hidayatullah dapat memperkuat ukhuwah Islamiyah di Bumi Para Raja ini.

Dia pun berharap Hidayatullah terus fokus menjalankan program kerja yang telah dihasilkan dari Rakernas dan diderivasi oleh wilayah dan daerah sesuai dengan kearifan lokal yang ada.

“Mari terus perkuat ukhuwah dan perkuat kerjasama baik dengan pemerintah maupun elemen elemen masyarakat lainnya,” pesan Mansyur yang juga peraih penghargaan Satya Lencana Karya atas dedikasinya selama 30 tahun mengabdi sebagai ASN.

Sementara Ketua DPW Hidayatullah Papua Barat Ust. H. Hasdar Ambal mengucapkan terimakasih kepada pemerintah dan tokoh agama Kabupaten Raja Ampat atas partisipasinya sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar dan sukses hingga usai.

“Selamat datang dan selamat bermusyawarah memeras pikiran dan memberikan ide ide terbaiknya untuk kemajuan dakwah,” kata Hasdar dalam sambutan singkatnya.

Segendang sepenarian, Ketua Dikdasmen DPP Hidayatullah Dr. Nanang Nur Patria yang mendampingi Rakerwil itu menyampaikan pentingnya memperhatikan hasil evaluasi program kerja tahun sebelumnya untuk selanjutnya dirumuskan program kerja.

“Program DPW Hidayatullah Papua Barat dan Seluruh DPD yang di angkat harus berdasarkan evaluasi Program dari Tahun sebelumnya,” pesannya menandaskan.*/Nashiruddin Al Bani

Pemimpin Umum Hidayatullah Ajak Jalankan Pancasila dengan Baik

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah KH. Abdurrahman Muhammad mengajak umat Islam untuk menjalankan Pancasila dengan baik di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Untuk menjalankannya dengan baik, maka, kata Pemimpin Umum Hidayatullah, umat Islam mesti memahami Pancasila dan memahami hal-hal terkait Indonesia dengan baik.

Ajakan itu secara khusus disampaikannya untuk warga Hidayatullah di manapun berada.

“Warga Hidayatullah harus memahami ke-Indonesia-an,” ujar Pemimpin Umum pada acara penutupan Rapat Pleno LPJ 2022 dan Program Kerja 2023 YPPH Balikpapan di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis, 26 Jumadil Akhir 1444 H (19/01/2023) pagi.

Menurut Pemimpin Umum Hidayatullah, lima sila yang tertuang dalam Pancasila selaras dengan nilai-nilai ajaran Islam. Mulai dari sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, hingga sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Menurutnya, di antara contoh pelaksanaan Pancasila yang baik adalah penegakan hukum sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Misalnya, katanya, jika ada pencuri atau pelaku kejahatan, maka ditangkap dan diadili secara adil. Pelaku kejahatan, katanya, mestinya dihukum lewat pengadilan. “Dibawa ke meja hijau. Jangan dihakimi sendiri,” tegasnya.

Hal itu kata dia merupakan contoh pelaksanaan sila kedua Pancasila yaitu “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dan sila kelima.

Penegasan Pemimpin Umum Hidayatullah terkait Pancasila dan NKRI berulang kali disampaikan dalam berbagai kesempatan, baik acara-acara yang bersifat internal Hidayatullah maupun bersifat publik. Termasuk dalam pelaksanaan Jambore Wilayah Sako Pramuka Hidayatullah Kalimantan Timur di IKN, Penajam Paser Utara, beberapa waktu lalu.

Sebagai informasi, Rapat Pleno YPPH Balikpapan 2023 digelar pada Senin hingga Kamis (16-19/01/20223). Mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan WawasanMenuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik”.

Rapat Pleno dihadiri Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq, para Pembina dan Pengawas YPPH Balikpapan, Ketua YPPH Hamzah Akbar, serta para pengurus yayasan lainnya.*/Muhammad Abdus Syakur

Menebarkan Rahmat Ikhtiar Wujudkan Umat dan Bangsa Bermartabat

0
Sejumlah jamaah berfoto bersama Ust. Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si usai acara tabligh akbar (Foto: Wahyudin/ Hidayatullah.or.id)

RAJA AMPAT (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Provinsi Papua Barat menggelar tabligh akbar yang bertajuk “Menebar Rahmat Ikhtiar Mewujudkan Umat dan bangsa yang Bermartabat” hadirkan narasumber yaitu Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Ust. Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si, Kamis, 27 Jumadal Akhirah 1444 H (19/1/2023).

Acara yang digelar di Masjid Agung Waisai Raja Ampat ini dihadiri tokoh agama serta umat muslim yang terkhusus berada di Kota Waisai seperti Ketua MUI Kabupaten Raja Ampat KH. Abubakar Lodji, Sekretaris KKSS Raja Ampat H. Muhammad Said, dan Ketua Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS) Raja Ampat Suherni Ibrahim.

Hadir pula Ketua Baznas Kabupaten Raja Ampat H. Muhammad Habir Pamessangi, Ketua DMW Hidayatullah Papua Barat Ust. H. Muhammad Sultan, Ketua DPW Hidayatullah Papua Barat Ust. H. Hasdar Ambal, dan segenap pengurus DPW dan unsur pengurus inti DPD Hidayatullah se-Papua Barat.

Pada kesempatan tersebut Ust. Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si menyampaikan materi mengenai universalitas ajaran Islam yang tidak saja diturunkan untuk bangsa Arab tapi untuk semua bangsa bangsa di dunia.

Dengan spirit ajaran Islam yang sedemikian lengkap tersebut, jelas Aziz, agama ini membawa nilai nilai persaudaraan yang tidak dibatasi sekat sekat wilayah, ras, suku, ataupun bangsa. “Setiap muslim adalah bersaudara,” katanya mengutip sebuah hadist shahih.

Oleh karenanya, sambung Aziz, silaturrahim adalah hal utama yang mesti selalu dihidupkan untuk mencapai tujuan sebagaimana tema tabligh akbar ini, yaitu menebarkan rahmat untuk mewujudkan umat dan bangsa Indonesia yang bermartabat.

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah menjalin silaturrahim,” tambahnya yang mengutip sebuah hadis dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Yang tak kalah penting, menurut Aziz, ada hubungan persaudaraan yang langka yaitu adalah ketika antar satu sama lain saling mendoakan. Dengan saling mendoakan, akan dimudahkan rizki dan akan dipanjangkan umurnya dalam usia yang penuh berkah.

“Ketika kita mendoakan kebaikan untuk orang lain, maka kebaikan tersebut akan kembali kepada diri kita. Diam diam mendoakan orang lain adalah latihan keikhlasan dalam keimanan dan beribadah,” katanya.

Mantan senator tiga periode ini mengatakan, tujuan utama kehadiran kita di tempat ini adalah silaturrahim, “dimana kita dipersatukan bukan hanya tentang suku, ras, dan daerah, akan tetapi lebih daripada itu adalah karena keimanan,” kata Aziz.

Ustadz Aziz menambahkan bahwa manusia yang paling mulia adalah manusia yang akhlak dan perilakunya paling sesuai dengan Al-Qur’an.

“Dengan terbangunnya akhlak mulia atau mental yang Qur’ani, maka inilah yang kelak mengundang keberkahan dari Allah untuk terwujudnya umat dan bangsa yang bermartabat,” tandasnya.

Terlihat jamaah antusias menyimak kata demi kata dan kalimat demi kalimat yang disampaikan oleh narasumber hingga tabligh akbar ini ditutup dengan doa oleh beliau.*/Wahyudin

[Download Khutbah Jumat] Peradaban Islam Manifestasi Tauhid

0

ISLAM adalah ajaran sekaligus sebagai sistem kehidupan yang akan mengantarkan ummat manusia kepada hakikat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Islam mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari kesesatan menuju keselamatan, dari kezaliman menuju keadilan, kerusakan menuju kemaslahatan.

Untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, kita diperintah melakukan perbaikan (ishlah), baik secara pribadi, keluarga, masyarakat hingga berbangsa dan bernegara. Perbaikan yang dilakukan harus mencakup seluruh aspek kehidupan yang dimulai dari perkara prinsip yaitu tauhid hingga masalah sederhana seperti kebersihan dan sifat malu. Inilah makna membangun peradaban Islam, yakni manifestasi tauhid atau perwujudan dan pembuktian iman dalam seluruh aspek kehidupan.

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh Ust. Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA. unduh sekarang:

Wantim Hadiri Konsolidasi Papua Barat, Tekankan ‘5T’ dalam Beroganisasi

SORONG (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Ust. H. Dr. Ir. Abdul Aziz, M.Si, menghadiri undangan menjadi narasumber dalam acara Konsolidasi Wilayah (Konswil) Pengurus Hidayatullah Papua Barat Daya yang digelar di Kota Sorong, Rabu, 25 Jumadil Akhir (18/1/2023).

Dalam materinya, menekankan pentingnya konsolidasi. Menurutnya, konsolidasi dilakukan tidak saja pada momen tertentu, melainkan harus dijalankan secara terus menerus.

“Konsolidasi ini mutlak dilakukan, sebab jika tidak, merugi kita, karena ini perintah Allah agar supaya kita semakin baik dan dari sini akan melahirkan perjumpaan ide dan pikiran,” katanya.

Dia menjelaskan, konsolidasi adalah upaya menyatukan dan memperkuat hubungan untuk melahirkan terobosan yang segar dalam gerakan dakwah dan akan memperkuat pelayanan umat yang lebih baik dan massif.

Itulah sebabnya, kata dia, perintah musyawarah dalam Al Qur’an semuanya mengarah kepada konsolidasi yang tidak saja untuk memecah kebuntuan dalam beragam perkara yang dihadapi. Musyawarah juga menuntut kapasitas kemanusiaan kita yang mesti membangun interaksi, komunikasi, sinergi, dan kolaborasi dengan menjunjung tinggi adab di dalamnya.

Nilai nilai utama dalam musyawarah juga termuat dalam konsepsi 5 Tertib Organisasi yang dianut oleh Hidayatullah. Aziz menyebutkan 5T tersebut, yaitu Tertib Administrasi, Tertib Regulasi,Tertib Manajemen, Tertib Kepemimpinan dan Tertib Budaya (kultur) Organisasi.

“Kelima T ini perlu kita perhatikan dan dikonsolidasikan terus menerus,” katanya berpesan.

Konsolidasi Wilayah yang digelar di Kampus Madya Hidayatullah Kabupaten Sorong kali ini diikuti oleh Pengurus DPW, Pengurus DPD, Pengurus Organisasi Pendukung; Pemuda Hidayatullah dan Muslimat Hidayatullah, serta amal usaha tingkat wilayah yaitu kampus Madya dan BMH.

Acara Konsolidasi Wilayah Hidayatullag Papua Barat sendiri berlangsung khidmat, meski cuaca di luar tempat acara sedang hujan gerimis yang cukup awet.*/Wahyudin

Luruskan Mindset Menuju Perubahan, Penting untuk Kemandirian Ekonomi

0

LUWU TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Kepala Bidang (Kabid) Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Drs. Wahyu Rahman, MM, mengatakan perubahan hanya dapat dilakukan apabila mindset atau pola pikir diperbaiki yang senafas dengan dimensi yang dituntunkan oleh Al Qur’an. Kemandirian menurutnya berawal dari mindset yang benar.

“Sebuah perubahan bisa terjadi jika diawali dari hal yang mendasar. Apa itu? Yaitu mindset. Itulah yang pertama kali yang dilakukan Nabi melalui Iqra’,” Wahyu Rahman.

Hal itu disampaikan dia ketika memberikan penguatan pada hari ketiga Rakerwil Hidayatullah Sulsel di Pesantren Hidayatullah Towuti, Ahad, 15 Jumadil Akhir 1444 (8/1/2023).

Ia menjelaskan, iqra’ secara substantif adalah proses pembentukan worldview, yang dimana hasilnya adalah syahadat yang berlandaskan pada pemahaman dan kesadaran.

Sehubungan dengan itu, Wahyu menekankan pentingnya memiliki mindset yang senantiasa bertumpu pada progresifitas. “Mindset berpikir tersebut merupakan hal yang sangat mendasar untuk sebuah perubahan,” jelasnya.

Ustadz berdarah Malili tersebut mendorong agar para kader Hidayatullah sudah selayaknya bermental untuk menjadi orang yang sejahtera. Ia mencontohkan bagaimana sembilan dari sepuluh sahabat Rasulullah merupakan orang kaya.

“Jangan salah pak. Jangan dikira sahabat-sahabat Nabi itu miskin. Perlu diketahui, 9 dari 10 sahabat Rasulullah yang dijamin surga, mereka adalah orang kaya. Hanya Ali bin Abi Thalib yang dikhususkan menuntut ilmu,” kata Wahyu.

Penguatan tersebut bertujuan agar para kader serta seluruh pengurus daerah yang tersebar di berbagai kabupaten/kota Sulawesi Selatan, untuk senantiasa mengingat bahwa agenda besar Hidayatullah Sulsel yakni, dakwah, kebangkitan pendidikan, dan kemandirian ekonomi.

Salah satu hasil dan yang telah menjadi resolusi agenda 2023 dalam Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Sulsel yang diselenggarakan di Hidayatullah Towuti ini, yaitu keharusan membawa atmosfer dakwah dan pendidikan Hidayatullah Sulsel lebih maju dan berkembang. Demikian juga halnya di sektor perekonomian.*/Ian Kassa

Berkah Cinta dan Ukhuwah di Jalan Dakwah

0

Oleh Dwi Fii Amanillah*

CINTA dan persaudaraan adalah kebutuhan hakiki bagi semua manusia. Sebagai makhluk sosia, seorang manusia tak akan sanggup hidup sendirian. Ia harus bergabung dan bekerjasama dengan manusia lainnya bahkan harus mampu berkompromi dengan makhluk-makhluk lainnya.

Cinta dan persaudaraan dalam Islam mendapat kedudukan yang tinggi dan mulia, sebagaimana dinukil dari hadits Rasulullah:

“Siapa yang mencintai seseorang karena Allah, kemudian seseorang yang dicintainya itu berkata, “Aku juga mencintaimu karena Allah.” Maka keduanya akan masuk surga. Orang yang lebih besar cintanya akan lebih tinggi derajatnya daripada yang lainnya. Ia akan digabungkan dengan orang-orang yang mencintai karena Allah.” (H.R.Al Bazaar)

Cinta dalam pengertian dan makna yang luas, bukan sekedar rasa sayang ala ABG zaman “now”. Bukan pula rasa sayang yang kebablasan kepada lawan jenis tanpa ikatan yang syar’i dengan bumbu-bumbu rayuan palsu bernuansa keindahan fatamorgana. Hal ini yang telah banyak menjerumuskan manusia pada perbudakan dan penghambaan kepada sesama mahluk berlainan jenis, yang lebih dikenal dengan istilah “Bucin” (Budak Cinta).

Semasa kuliah dulu sekitar tahun 1997, sebagai seorang yang aktif di lembaga dakwah Majelis Pencinta Musholla (MPM) Unhas, saya pernah terlibat diskusi yang cukup alot dan panjang dengan salah seorang pengikut Syiah terkait periwayatan hadits.

Teman diskusi saya itu mempersoalkan kenapa Abu Hurairah lebih banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dibandingan kerabat dekat Nabi sepupu beliau Ali Bin Abi Thalib.

Saya pun memberi jawaban singkat, “Saya punya banyak saudara kandung dan punya juga teman dekat. Kedekatan dengan saudara kandung secara biologis dan psikologis tidak otomatis untuk kemudian bisa saling terbuka dan curhat satu dengan lainnya tanpa beban.

Apatah lagi kita ketahui bersama dari sirah Nabawiyah bagaimana persaudaraan Nabi dan para sahabatnya yang sangat lekat dan sedemikian akrabnya, sehingga sangat wajar jika ada sahabat Nabi yang selalu membersamainya dan banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW.”

Hubungan cinta dan persaudaran dalam ikatan iman jauh lebih kuat dari sekadar hubungan karena adanya pertalian darah yang dalam Islam disebut “walijah” yang artinya terpercaya dan sangat dekat atau istilah populernya “bestie”.

Kita masih ingat peristiwa heroik yang terjadi pada saat hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah. Kisah bagaimana sahabat Ali Bin Abi Thalib karena rasa cintanya kepada Nabi yang dilandasi keimanan yang kuat beliau berani dan rela menggantikakan posisi nabi yang saat itu sudah dikepung dan akan dibunuh oleh gerombolan kafir Qurais.

Juga kisah Abu Bakar As Shiddiq yang rela menahan sakitnya gigitan ular saat memangku Nabi di saat mereka berdua bersembunyii di gua Tsur untuk melepaskan diri dari kejaran musuh-musuh Allah yang akan membunuh Nabi,

Begitu juga dengan kisah Abdurrahman bin Auf yang dengan halus menolak budi baik sahabat dari kaum Anshar yang menawarkan dan menghadiahkan rumah, harta dan istri secara cuma- cuma. Itulah gambaran cinta yang sebenarnya, persaudaraan yang hakiki dan sulit ada bandingannys.

Mencari teman di kala senang semudah membalik telapak tangan tapi mencari teman dan saudara seperjuangan di saat susah sama sulitnya mendulang emas di gurun sahara.

Dalam perjalanan dakwah mencari kawan seiring sejalan melewati suka dan dukanya perjuangan bukanlah perkara yang mudah.

Hidayatullah sebagai wadah perjuangan yang komitmen mencetak dai dan ulama yang mujahid secara konsisten terus menyebarkan dakwah hingga ke pelosok desa yang terpencil, menembus medan yang sulit berdakwah tanpa kenal lelah tak terlalu peduli memikirkan upah.

Merekrut orang yang mau hidup prihatin sebagai mujahid dakwah pengawal tegaknya peradaban tidaklah sama dengan merekrut pegawai di unit usaha sekolah maupun perusahaan yang menjanjikan gaji dan bonus yang cukup besar maka menjadi hal yang wajar jiga jika hanya sedikit orang saja siap bergabumg dalam barisan perjuangan menegakkan Agana Allah di atas permukaan bumi ini.

Jalan dakwah yang berliku,mendaki serta terjal, kalau bukan karena adaya cinta yang dalam dan persaudaraan yang erat antar sesama pejuang dakwah maka akan banyak yang gugur di tengah jalan, menjadi “futur” alias mundur teratur meninggalkan barisan perjuangan.

Di sinilah pentingnya saling memberi nasehat, saling memotivasi, saling berlomba untuk membantu dan memberi sebagai manifestasi dari kecintaan dan ukhuwah sesama muslim.

Ibaratnya seperti satu tubuh, tak terpisah satu dengan lainnya
Di Kampus pesantren Hidayatullah Kendari Sulawesi Tenggara pernah terjadi kasus pencurian kendaraan roda dua pada saat warga dan para santri menunaikan sholat subuh hingga yang diamanahi kendaraan tersebut pucat dan panik ditambah lagi ada di antara warga ada yang menimpakan kesalahan penuh kepadanya.

Hingga datanglah pembina pesantren menenangkan situasi , beliau berujar “Motor yang hilang inshaa Allah bisa diganti, tapi kalau kader yang hilang sangat sulit mencarikan penggantinya,” akhirnya suasana kembali tenang dan tidak saling menyalahkan satu dengan yang lainnya.

Nasihat adalah simbol cinta maka sudah selayaknya orang yang mencintai memberi nasehat yang menyejukan dan penuh hikmah dan orang yang dinasihati selayaknya menerima dengan cinta.

“Dien (Agama) adalah nasehat sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut: “Dari Tamim ad-Dari, Rasulullah SAW bersabda, “Agama adalah nasihat.” Para sahabat bertanya “Untuk siapa wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin dan kalangan umum.” (H.R Muslim).

Menasehati karena dorongan cinta kepada saudara seiman, memberi kelapangan hati ketika ada saudara yang khilaf atau sementara dirundung masalah serta bersabar ketika ada perbedaan pendapat dan pandangan sesama saudara seiman adalah akhlak mulia sekaligus ujian seberapa besar kadar kecintaan kita pada saudara-saudara kita.

Bukti cinta dan ukhuwah juga diwujudkan dengan sikap “itsar ” mendahulukan kepentingan saudara kita daripada kepentingan pribadi. Salah satu ciri khas pondok pesantren Hidayatullah adalah memuliakan (ikram) kepada para tamu baik yang sekedar singgah maupun yang menginap.

Di beberapa pondok pesantren Hidayatullah bahkan menyiapkan hidangan makanan khusus, kopi, snack serta buah yang sudah tertata rapi di kamar atau ruang tamu, bahkan perlengkapan mandi pun sudah tersedia lengkap.

Hingga suatu ketika berkunjung ke pesantren Hidayatulllah di Kolaka Sulawesi Tenggara saya berseloroh “Kayaknya sisa celana dalam saja yang belum dibelikan oleh tuan rumah”.

Dalam safar itsar pun diwujudkan dengan cara berlomba-lomba membayar harga hidangan yang telah disantap bersama ketika singgah di warung atau rumah makan tidak sebagaimana umum terjadi, masing-masing memegang dompetnya menunggu siapa yang duluan beranjak dari tempat duduknya untuk membayar.

Ustadz Hasyim H.S salah satu pendiri Hidayatullah mengungkapkan “Kesederhanaan dan keterbatasan ilmu para kader-kader Hidayatullah membuat mereka rendah hati, santun dan tidak arogan atau merasa paling hebat sehingga dakwahnya bisa diterima di semua lapisan masyarakat. ”

Cinta yang benar dan ukhuwah yang senantiasa dijaga dan dipupuk selalu membawa keberkahan.

Justu kejadian nyata dialami oleh sepasang suami istri perintis kampus pesantren di Bulukumba menjelang larut malam di kampus terpencil yang jauh dari keramaian dengan akses jalan tanah yang lumayan jauh dari jalan raya, istri salah seorang pembina pesantren yang hamil anak pertamanya tengah ngidam berat ingin makan daging.

Mungkin efek karena selama bertugas merintis sangat jarang menikmati lezatnya daging. Sang suami pun kebingungan dan menanggapi keinginan istrinya yang menurutnya tak masuk akal dengan nada suara agak keras, “Mana ada orang yang menjual daging malam-malam begini ?” Si istri pun bertambah sedih dan mencucurkan air matanya.

Sang suami pun merasa bersalah dan menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca. Tak berapa lama kemudian datang kawan seperjuanganya mengetuk pintu dan mengajaknya keluar malam karena ada undangan makan di kampung sebelah.

Tiba di tempat undangan Sang suami kaget karena di depannya telah terhidang begitu banyak masakan daging dengan aroma yang begitu lezat. Dalam hati ia berujar, “Alhamdulillah terpenuhi hajat istriku”, terlihat rona kebahagiaan di wajahnya.

Ia begitu menikmati berkahnya cinta dan ukuwah dari saudara saudara seperjuangannya yang selalu menguatkan hatinya. Saling mencintai karena Allah dan persaudaraan yang begitu mesra yang terperaga di kampus-kampus pesantren.

Ponpes yang didikasikan menjadi miniatur peradaban akan menjadi magnet power yang menarik masyarakat untuk bergabung menikmati indahnya simphonni kehidupan dari sebuah tatanan masyarakat yang terjaga oleh syari’ah dan telah tercerahkan oleh wahyu Allah SWT.

Istilah Allahuyarham ustadz Abdullah Said, ” Kalau ada orang kafir yang masuk ke dalam kawasan pesantren Insha Allah keluar menjadi muslim.

Salah satu do’a yang mustajab adalah doa yang dipanjatkan oleh saudara seiman tanpa diketahui oleh orang yang didoakan. Sudah menjadi tradisi di pesantren Hidayatullah untuk mendoakan para petugas yang dikirimkan ke daerah khususnya ba’da sholat lail sehingga bisa dikatakan bekal para dai Hidayatullah ketika terjun ke medan dakwah adalah tawakal dan doa-doa dari para guru dan saudara -saudara seperjuangan.(*)

*) Penulis adalah Kadep Tarbiyah dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Sulsel. Artikel ini dinukil dari laman Hidayatullah Sulsel

Kehadiran Hidayatullah Kuatkan Harmoni di Kabupaten Klungkung

KLUNGKUNG (Hidayatullah.or.id) — Semarak merekat ukhuwah selaras langkah di jalan dakwah. Demikianlah prinsip yang diyakini oleh Ust. Muhammad Yusuf dalam berdakwah. Itulah pula nilai yang ia bawa ketika ditugaskan ke Kabupaten Klungkung.

“Dakwah Al Quran itu tidak melahirkan tentangan, tugas kita adalah menjaga semangat persaudaraan dan mengesampingkan masalah khilafiyah sehingga dakwah berjalan selaras,” kata Ust. Yusuf dalam obrolan dengan Hidayatullah.or.id, Selasa, 24 Jumadal Akhirah 1444 H (17/1/2023).

Kehadiran Hidayatullah di Klungkung, kata dia, menguatkan harmoni yang terbangun selama ini. Hidayatullah pun mendapat sambutan antusias dari masyarakat.

Hal itu ditandai diantaranya saat dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Rumah Quran Hidayatullah (RQH) yang terletak di Kampung Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung.

Klungkung sendiri merupakan kabupaten kecil di Bali. Pusat pemerintahan kabupaten ini berada di kota Semarapura. Menurut catatan, kabupaten ini memiliki luas wilayah 315 km² dengan mayoritas penduduknya menganut agama Hindu yaitu sebesar 95,16 persen.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021, penduduk beragama Islam di Klungkung sebesar 4,17 persen, Kristen 0,37 persen, Protestan 0,27 persen, dan Katolik 0,10 persen. Adapun Buddha 0,02 persen, Konghucu 0,005 persen dan Kepercayaan 0,001 persen.

Kampung Kusamba di Kabupaten Klungkung merupakan kawasan yang dihuni oleh mayoritas muslim. Kehadiran dan pembangunan RQH di desa ini disambut baik oleh masyarakat. Rumah Quran ini sebelumnya adalah kandang ayam yang diwakafkan oleh Ibu Hj. Amaniah.

Ada 100 santri belajar di Rumah Quran ini di bawah bimbingan Ust. Yusuf. Sebelum ditugaskan mengabdi di Kampung Kusamba, Yusuf mengemban amanah dakwah di Denpasar. Selain berdakwah, ada sekira 8 tahun ia menjadi pengasuh santri di Pondok Pesantren Hidayatullah di ibu kota provinsi Bali ini.

Kini ia mengabdi di Kampung Kusamba. Ia pun merasa terharu dengan penerimaan dan dukungan luar biasa yang diberikan oleh masyarakat. “Alhamdulillah luar biasa diterima dengan baik,” katanya.

Pada Februari 2022 lalu, dilakukan peresmian pembangunan Rumah Tahfidz Qur’an Hidayatullah Klungkung yang dihadiri oleh masyarakat dan tokoh seperti Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan Bimas Islam Kemenag Kabupaten Klungkung Drs. H. Samsul Hakim, Perbekel (Kepala Desa) Kampung Kusamba Syahrul Ramadan S.Pd.I, dan tokoh agama Kampung Kusamba KH Murtadha BZ serta tokoh lainnya.

Kasi Pemerintahan Bimas Islam Kemenag Kabupaten Klungkung Drs. H. Samsul Hakim menyampaikan rasa bangga selaku umat Islam khususnya Kementerian Agama Kabupaten Klungkung atas rencana pendirian Rumah Tahfidz Qur’an Hidayatullah ini.

Dia berharap seluruh komponen masyarakat Kampung Kusamba dan masyarakat muslim yang ada khususnya di Klungkung turut mendukung dan mendoakan pembangunan Rumah Tahfidz Qur’an Hidayatullah ini.

“Semoga diberikan kemudahan oleh Allah dan semoga cepat selesai dan segera dilaksanakan pembangunannya,” katanya.

Perbekel Kampung Kusamba Syahrul Ramadan berharap Rumah Quran ini menjadi wadah bagi pembangunan generasi muda agar kelak anak anak kita menjadi generasi Rabbani yang mencintai Al Quran, mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya, dan menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup dan pedoman hidup.

“Dengan kehadiran Rumah Quran ini, kami berharap senantiasa menjadikan Kampung Kusamba ini menjadi berkah dengan segala kemajuannya termasuk juga bagaimana masyarakat beriman dan bertakwa,” kata Syahrul Ramadan.

Tokoh Kampung Kusamba KH Murtadha BZ pun menyampaikan hal serupa dan mengaku sangat antusias menyambut pembangunan Rumah Tahfidz Qur’an Hidayatullah ini.

KH Murtadha pun sempat mengenang perlangkahan awal Ust. Yusuf di Klungkung yang pada awalnya datang hanya dari rumah ke rumah dan sekarang Allah takdirkan untuk lebih baik dengan mendirikan Rumah Quran.

“Saya melihat dukungan masyarakat dengan banyaknya harapannya. Kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga apa yang menjadi hajat yang baik ini mendapatkan ridho Allah dan diberikan kemudahan apa yang dicita-citakan dan diharapkan,” katanya.

Ust. Muhammad Yusuf mengucapkan terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan. Dia berharap semoga pembangunan Rumah Tahfidz Qur’an Hidayatullah Klungkung ini berjalan dengan lancar sukses.

“Semoga melahirkan generasi Qurani,” kata Ust. Yusuf yang juga ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Klungkung ini.

Sebagai santri, Ust. Yusuf mengaku harus siap ditugaskan kapan dan dimana saja. Termasuk ketika ia dikirim dengan bekal ala kadarnya oleh Ust. Abdullah Ihsan ke Klungkung sejak tahun 2017.

“Ketika itu, Ustadz Abdullah Ihsan berpesan, dimanapun ditugaskan, Tuhannya tetap sama, Nabinya sama, maka mintalah pertolongan pada Allah dan berdakwalah dengan baik seperti Nabi berdakwah,” ingatnya.

Kali pertama datang ke Klungkung, Yusuf tak punya modal memadai. Kenalan seorang pun ia tak punya, sehingga ia hanya mengandalkan doa dan mengencangkan silaturrahim berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya.

“Tugas kita berat, kalau kita tidak melibatkan Allah di dalamnya maka tidak mungkin menang,” katanya kemudian yang mengutip pesan yang sering dikemukakan oleh pendiri Hidayatullah, Allaahuyarham Ust. Abdullah Said.

Ust. Yusuf mengatakan dengan kehadiran Hidayatullah ia berkomitmen terus menjadi katalisator agar senantiasa merawat harmoni dan meneguhkan sinergi antar sesama.*/Yacong B. Halike