Beranda blog Halaman 319

Hidayatullah Berbagi Pengalaman Kelola Wakaf di Forum BWI Kuala Lumpur

KUALA LUMPUR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Asih Subagyo berbagi pengalaman dalam pengelolaan wakaf pada forum bertajuk Bankwaqf Internatioal Dinner ’23 digelar BankWaqf International (BWI) Group di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis malam, 12 Jumadal Akhirah 1444 H (5/1/2023).

Asih yang juga bembina Baitul Wakaf Hidayatullah ini diberi mandat untuk berbagi pengalaman Hidayatullah, sebagai salah satu organisasi Islam di Indonesia dalam mengelola wakaf dalam berbagai model penerapan.

“Wakaf itu merupakan bagian penting dari peradaban Islam,” kata Asih dalam forum diskusi yang digelar di venue Ikhwan Delight Restaurant, Sungai Penchala, Kuala Lumpur itu.

Disamping memaparkan berbagai pegalaman Hidayatullah dalam pengelolaan wakaf, Asih juga menyampaikan bahwa salah satu tantangan umat Islam saat ini dalah minimnya pemahaman dan literasi wakaf di kalangan umat Islam.

Sehingga, menurutnya, perlu terus dilakukan edukasi, agar wakaf menjadi model dalam pengembangan ekonomi ummat.

Selain Asih, forum ini juga menghadirkan pembicara lainnya yaitu Prof. Dr. Ramzan Aliti (STEM Labs – Nort Macedonia), Sultan Salahudeen (Pengusaha India) dan Bambang Kuswijayanto (Deputi Director Bank Waqf International).

Acara yang dihadiri sekitar 50 orang utusan dari berbagai negara ini berlangsung cukup hangat dan menarik dengan antusiasme forum menemukan formulasi guna menguatkan eksistensi wakaf untuk kesejahteraan umat.

Dalam paparannya, Prof. Ramzan Aliti, menyampaikan bahwa sebagai negara yang dalam sejarahnya merupakan bagian dari kekhalifahan Turki Utsmani, saat ini di Macedonia, penduduk muslimnya sekitar 50% muslim.

Macedonia kata dia sempat dikuasai oleh komunisme, dan sejak berakhirnya rezim komunis tahun 1990-an, maka kini berbenah.

“Dan umat muslim Macedonia berusaha mengelola kembali aset-aset wakaf yang berada di tempat-tempat yang strategis,” kata pembicara asal Macedonia ini.

Disisi lain, Prof Ramdan juga menekankan umat Islam harus menguasai STEM (Science Technology, Engineering and Mathematic), untuk menguasai duia kembali.

Sebagai pembicara ketiga, Sultan Salahudeen, sekaligus kapasitasnya sebagai pengusaha, ia menekankan pentingnya pengusaha menanamkan (embedeed) wakaf dalam aktifitas bisnisnya. Sehingga disetiap bisnis yang dilakukan labanya bisa disisihkan untuk kepentingan wakaf.

Pemilik perusahaan gas dan kimia ini, operasinya di Malaysia, India dan Canada, ini juga menekankan bahwa wakaf ini mesti di prioritaskan untuk empat hal yaitu ketahanan pengan, pendidikan, kesehatan dan perumahan.

Kemudian, Bambang Kuswijayanto sebagai pembicara terakhir, sebagai mantan bankers yang lebih dari 20 tahun bekerja ia menyampaikan bahwa prinsip perbankan itu pasti tidak bisa lepas dari riba, meskipun bisa jadi istilahnya diperhalus. Bank Wakaf Internasional ini, sambung dia, meluruskan pemahaman itu.

“Bahwa sesungguhnya ekonomi Islam dan dengan menggunakan instrument wakaf ini, dapat mensejahterakan umat, tanpa terkait dengan riba,” tegas dia.

Islam sebagai Solusi Krisis Ekonomi

Sebagai Keynote Speaker, Dr. Dato’ Abu Ubaidah selaku Presiden BWI, menjelaskan bahwa ekonomi yang berbasis kapitasisme dan sosialisme sedang menuju kehancuran. Karena mereka berbasis pada interest (bunga/riba) dan pajak.

Sedangkan Islam dengan berbagai instrumen ekonomi yang dimilikinya, tegas Abu Ubaidah, sudah saatnya menjadi solusi itu.

“Wakaf sebagai salah satu instrumen keuangan Islam, mesti dipahamkan secara benar kepada umat, sehingga kedepan Islam menjadi kekuatan yang eksis di dunia,” kata Abu Ubaidah yang juga seorang pengusaha ini.

Abu Ubaidah yang juga sebagai pengusaha dengan perusahaannya yang tersebar di berbagai negara itu, mengaku juga menerapkan prisnsip setiap bisnisnya 10% dari keuntungannya diwakafkan yang dikelola secara profesioanal.

Oleh karenannya, ia juga menekankan pentingnya profesionalisme nadzir, untuk mengelola wakaf hingga berkembang dan membesar. Dan, dari pengalaman dan alasan itulah, Abu Ubaidah mendirikan Bank Wakaf Internasional.

Acara ini dihadiri juga oleh akademisi dari Malaysia seperti Prof. Betania Kartika, MA (International Institute for Halal Research and Training (INHART) – IIUM, Prof. Dr. Awal Adam Saad (Islamic Finance – IIUM), Prof. Dr. Ir. Sholehudin Shuib (UiTM), Dr. Mazlan, Rasfiudin PhD (cand) (STIE Hidayatullah Depiok) dan sejumlah tokoh lainnya.

Selain itu juga dihadiri oleh pengusaha, aktivis Islam di Malaysia. Di bagian penutup, Prof Awal Saad yang asli Nigeria itu, menyampaikan kajian ringkas tentang Wakaf.*/Yacong B. Halike

Pesan Rakerwil Ketua Umum DPP Hidayatullah

INILAH sambutan Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA yang disampaikan di Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah DKI Jakarta, Jum’at, 13 Jumadal Akhirah 1444 H (6/1/2023).

Berikut kutipan lengkapnya:

Alhamdulillah, segala bentuk pujian kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas restu dan ridha-Nya, sehingga pada hari ini dapat diselenggarakan acara Pembukaan Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Sulsel tahun 2023 di
tempat yang berbahagia ini.

Semoga selama penyelenggaraan Rakerwil ini dapat berjalan sukses. Shalawat dan salam kami sampaikan kepada Nabiyullah Muhammad Saw, seorang teladan ummat manusia yang berhasil membangun Peradaban Islam di persada bumi ini.

Semoga spirit perjuangan beliau dapat kita warisi sebagai modal untuk melanjutkan risalah perjuangan beliau di abad ini.

Rapat kerja wilayah merupakan agenda tahunan Dewan Pengurus Wilayah yang dihadiri oleh seluruh anggota Dewan Pengurus Wilayah, Dewan Murabbi Wilayah, unsur Dewan Pengurus Daerah, unsur Organisasi Pendukung tingkat wilayah (Pemuda dan Mushida) serta unsur amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah seperti Kampus Madya, BMH Perwakilan, serta unsur Dewan Pengurus Pusat.

Keberadaan unsur DPD, Organisasi Pendukung, amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah dalam rapat kerja wilayah adalah mutlak diperlukan dalam rangka terbangunnya kerjasama secara kolektif, sinkronisasi dan koordinasi serta dukungan berupa kontribusi dari DPD, amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah untuk terlaksananya program kerja DPW yang disepakati.

Sedangkan keberadaan unsur Dewan Pengurus Pusat adalah untuk memastikan bahwa seluruh keputusan dan kebijakan yang diambil dalam rapat kerja wilayah ini berada dalam rangkaian keputusan dan kebijakan yang sama dan semakin menguatkan dan membumikan kebijakan dan keputusan yang telah diambil dalam Sidang Pleno, Musyawarah Majelis Syura serta kesepakatan-kesepakatan Rapat Kerja Nasional yang telah dilaksanakan akhir tahun 2022.

Setelah pelaksanaan Rapat kerja Wilayah ini juga diharapkan agar DPD, amal usaha dan badan usaha tingkat wilayah dapat menuangkannya lebih lanjut dalam program kerja yang lebih terperinci lagi, terukur dan dapat dilihat dan dinilai secara lebih kuantitatif lagi di lembaganya masing-masing.

Program kerja 2023 ini merupakan turunan dari program umum lima tahunan 2020-2025 yang mengacu kepada arah kebijakan strategis yang telah ditetapkan dalam Munas V pada akhir bulan Oktober 2020 yang lalu.

Kita juga harus meyakini bahwa segala bentuk karya yang dihasilkan pada periode sebelumnya, kinerja yang dicapai, prestasi yang diraih semuanya akan dinilai dan diberi ganjaran oleh Allah SWT, bahkan disaksikan oleh Rasulullah SAW dan orang-orang beriman kelak di Akhirat.

Allah Ta’ala berfirman:


وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At-Taubah : 105)

Rapat kerja wilayah tahun ini cukup istimewa karena pemetaan DPW Hidayatullah seluruh Indonesia melalui kegiatan asesmen (penilaian) secara offline telah selesai dilakukan dan didapatkan gambaran keberadaan 34 DPW Hidayatullah serta telah diklasifikasikan ke dalam DPW maju, berkembang dan perintisan.

Kegiatan Asesmen ini sangat penting sebagai bahan evaluasi dan muhasabah kita bersama sekaligus acuan untuk perencanaan organisasi ke depan termasuk perencanaan DPW tahun 2023 yang diwujudkan dalam pembuatan program kerja dan APBO DPW yang reasonable (wajar) dan rasional.

DPW dapat menyusun program kerja sesuai dengan skala prioritas, mulai dari program kerja yang memang wajib dilakukan hingga program yang menantang bagi DPW yang bersangkutan sebagai wujud mujahadah dan spirit untuk tidak berhenti berfastabiqul khairat.

Di tahun 2022 juga telah dimulai pelaksanaan asesmen Kampus Madya sebagai amal usaha milik DPW dan diharapkan dapat diselesaikan dalam tahun 2023 ini. Kegiatan asesmen Kampus Madya selain merupakan bagian dari upaya kita untuk terus melakukan standardisasi, sentralisasi dan integrasi juga merupakan upaya merajut keutuhan, kesatuan dan konsolidasi antara Organisasi dengan amal usahanya sehingga terbangun kesepahaman dan terbangun sistem yang membuktikan bahwa Hidayatullah adalah sebuah Al Harakah Al Islamiyah.

Sebagai sebuah Harakah, bagi Hidayatullah, kegiatan-kegiatan kultural yang menguatkan spirit perjuangan, menggerakkan tarbiyah dan menyemarkkan dakwah adalah hal yang tidak kalah penting dari merumuskan program-program kerja setiap tahun.

Oleh karena itu, anggota dan kader Hidayatullah menanti dengan penuh harap agar bisa hadir dalam Silaturahim Nasional (Silatnas) di Kampus Induk Hidayatullah Balikpapan pada bulan November 2023.

Untuk suksesnya acara tersebut maka diharapkan dalam Rakerwil ini dilakukan penguatan untuk semua kader dan anggota agar bisa mengambil peran dengan mempersiapkan bekal untuk bisa datang ke Balikpapan, menyemarakan dengan acara-acara pra Silatnas di wilayahnya masing-masing, memberikan kontribusi dana untuk persiapan Silatnas.

Silatnas adalah hajatan lima tahunan untuk bisa menjalin silaturahim seluruh dai Hidayatullah secara nasional, menguatkan jatidiri Hidayatullah dan mainstream tarbiyah dan dakwah Hidayatullah.

Rapat Kerja Nasional III di Jakarta awal Desember 2022 lalu kembali menegaskan bahwa fokus kebijakan organisasi saat ini adalah Konsolidasi Jati diri, Organisasi dan Wawasan Menuju Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik. Karena ini sangat penting untuk diwujudkan dari tingkat pusat hingga daerah.

Oleh karena itu dalam rapat kerja wilayah kali ini, Tri Konsolidasi dan Kebijakan Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik, Arah Kebijakan Strategis, Program Umum dan Kesepakatan Rakernas harus dipahami dengan baik oleh peserta rakerwil khususnya oleh pengurus DPW yang bertanggungjawab terhadap terlaksananya program tersebut.

Konsolidasi Jatidiri yaitu internalisasi jatidiri Hidayatullah secara fikriyah dan amaliyah, secara konsep maupun kultur kepada seluruh kader Hidayatullah.

Enam jatidiri harus menjadi doktrin, paradigma berfikir dan spirit gerakan yang menjiwai seluruh kebijakan dan program organisasi. Setiap momen baik formal maupun informal hendaknya dijadikan sebagai sarana transformasi jatidiri secara massif.

Konsolidasi Organisasi adalah upaya membangun soliditas pengurus, kader dan anggota, serta menyatukan kekuatan dan potensi yang dimiliki dalam rangka mewujudkan visi organisasi.

Kebijakan standardisasi, sentralisasi dan integrasi sistemik terus disosialisasikan dan diimplementasikan dalam berbagai bidang.

Konsolidasi Wawasan dilakukan sebagai upaya peningkatan wawasan keilmuan setiap kader yang meliputi wawasan keislaman, keindonesiaan, wawasan kelembagaan, wawasan global, wawasan regional dan lokal.

Tujuannya agar pengurus dan memiliki pemahaman yang cukup dan komprehensif sebagai pijakan dalam mengambil kebijakan dan menentukan sikap dalam menghadapi berbagai persoalan dan permasalahan keummatan dan kebangsaan.

Alhamdulillah, kita semua juga sudah semakin mempunyai pemahaman yang sama tentang pentingnya menata organisasi ini lebih terstandar, tersentralisasi dan terintegrasi.

Sentralisasi kebijakan secara nasional dilakukan melalui Peraturan-Peraturan Organisasi, sentralisasi program yang merujuk kepada kebijakan strategis yang diturunkan menjadi program tahunan dalam Musyawarah Majelis Syura dan disosialisasikan melalui Rakernas.

Kebijakan standardisasi di berbagai bidang terus dilakukan, antara lain standardisasi institusi pendidikan sebagai upaya peningkatan kualitas Pendidikan Integral Hidayatullah.

Demikian pula standardisasi halaqah terus ditingkatkan agar kualitas para kader terus meningkat dari waktu ke waktu, baik kualitas intelektual maupun kualitas spritualnya.

Standardisasi ini dilakukan dengan tujuan menjaga kualitas pribadi kader dan institusi melalui sistem yang komprehensif.

Selanjutnya seluruh program-program yang telah dicanangkan akan berjalan dengan baik dengan hasil yang maksimal jika terjadi integrasi, sinergi, dan sinkronisasi serta kerja sama yang baik di antara semua departemen dan institusi yang terkait.

Selain materi penting di atas, ada beberapa agenda penting dalam Rapat Kerja Wilayah kali ini antara lain sebagai berikut:

  1. Penyusunan Program kerja dan APBO Tahun 2023 yang mengacu kepada hasil Musyawarah Majelis Syura Nomor 05 tahun 2022 tentang Pengesahan Program Kerja Organisasi tahun 2023 serta rekomendasi Rapat kerja Nasional tahun 2022. Ada panduan Rakerwil dan program skala prioritas untuk memudahkan dalam penyusunan program kerja DPW.
  2. Kesepakatan-kesepakatan dalam Rakernas 2023 yang menjadi komitmen setiap DPW diantaranya adalah:

a. Menyukseskan Silatnas 2023 dengan senantiasa mencantumkan logo silatnas di setiap event dan kontribusi anggota/kader setiap bulan 10.000

b. Salah satu syarat utama untuk terselenggaranya Silatnas adalah selesainya pembangunan Masjid Agung Ar Riyadh, ini juga mengajak seluruh anggota dan kader Hidayatullah untuk jihad harta dengan infak.

c. Komitmen menambah anggota melalui berbagai model kegiatan tarbiyah dan dakwah, terutama wali santri yang jumlahnya puluhan ribu orang untuk bisa menjadi anggota Hidayatullah dan terbina dengan baik

d. Komitmen untuk menambah kader melalui kegiatan training Daurah Marhalah Ula dan Daurah Marhalah Wustha baik untuk para santri tingkat SMA maupun melalui rekruitmen anggota-anggota dari masyarakat umum.

e. Komitmen menyukseskan Sinergi Program Mainstream yang dijalankan di kampus-kampus pesantren.

f. Memastikan terselenggaranya Halaqah Ta’lim (Pembinaan anggota), Halaqah Ula santri SMA/MA/SMK, Mhs/wi PTH dan Umum dengan manajemen yang baik dan standar.

g. Memastikan amal usaha dan badan usaha di tingkat wilayah/daerah memenuhi kewajiban kontribusi kepada Organisasi sesuai dengan PO Keuangan yang telah disahkan Menjadi bagian dari upaya membangun close loop economic dengan memastikan Kampus madya/Pratama membeli kebutuhan buku, seragam dan kebutuhan sekolah lainnya dari badan usaha yang telah ditetapkan organisasi untuk menyediakannya termasuk memastikan Majalah Suara Hidayatullah dimiliki oleh setiap kader dan wali santri/wali murid sekolah-sekolah Hidayatullah.

i. Mempersiapkan Kampus Madya yang belum asesmen untuk memenuhi proses standardisasi yang ditetapkan oleh Departemen kepesantrenan

j. Salah satu upaya dukungan DPW/DPD terhadap perkaderan di tingkat perguruan tinggi Hidayatullah adalah dengan cara pengkondisian santri-santri SMA/MA agar tertarik menjadi mahasiswa Perguruan Tinggi Hidayatullah

k. Pendataan secara integrasi untuk database organisasi, kader dan anggota melalui SISTAHID

l. Komitmen menjalankan Gerakan Talaqqi Nasional melalui BKPTQ (Badan Koordinasi Pembinaan Tilawah al Qur’an) yang dimulai dari pengurus structural, amal usaha dan selanjutnya diikuti oleh seluruh kader.

m. Mengembangkan amal usaha kesehatan dan amal usaha sosial sebagai bentuk pelaksanaan misi Hidayatullah

n. Memastikan setiap kader menjadi penggerak dakwah fardiyah serta memastikan masjid-masjid di Kampus Madya/Pratama aktif melakukan pembinaan jamaah

o. Memastikan administrasi DPW/DPD memenuhi standard yang ditetapkan oleh Organisasi. Kami mengharapkan agar seluruh pengurus struktural terus berkomitmen untuk aktif mengikuti pembinaan melalui halaqah kader, halaqah diniyah dan halaqah taklim.

Dari halaqah kader tersebut setiap kader diberi tugas untuk menjalankan dakwah fardiyah dalam rangka rekruitmen anggota baru. Kita harapkan agar kebijakan ini menjadi kultur (budaya) sehingga setiap kader Hidayatullah aktif berhalaqah untuk meningkatkan kualitas diri secara ruhiyah dan keilmuan serta aktif berdakwah mengajak ummat untuk berislam lebih baik lagi.

Insya Allah seluruh aktifitas yang kita lakukan di lembaga perjuangan ini dengan niat karena Allah dan untuk mencari ridha-Nya akan bernilai ibadah, amal shaleh dan jihad fi sabilillah.

Dalam rangka mencapai tujuan dan target yang diharapkan, kita harus membangun 3 kekuatan, yaitu:

Pertama, quwwah ruhiyah (kekuatan ruhiyah), ini meliputi kekuatan moral dan spiritual. Maka kekuatan ini ditempatkan pada urutan pertama dan utama, sehingga Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) harus menjadi karakter dasar bagi setiap kader, pengurus dan anggota Hidayatullah.

Kemudian menjaga integritas moral dalam menjalankan amanah. Dalam hal ini, semua kader harus dipastikan berhalaqah, ketua halaqah menggerakkannya dan murabbi mengevaluasi mutarabbinya

Kedua, quwwah aqliyah (kekuatan akal). Setelah ruhiyah terus dikuatkan berikutnya adalah akal. Sehingga diharapkan setiap kali kita mengeluarkan gagasan atau ide, itu tidak ada yang keluar dari bimbingan wahyu. Agar pemikiran akal kita terbingkai oleh wahyu.Penting gerakan membaca dan menulis buku, diskusi untuk memperkaya pengetahuan dan menajamkan pemahaman kader.

Ketiga, quwwah maddiyah (kekuatan material). Kekuatan ini harus dikendalikan oleh jiwa dan pikiran yang suci. Sebagaimana Ibnu Mubarok, yang memilih jalan menjadi pebisnis namun itu dilakukan untuk menjaga izzah ulama bukan sekedar bisnis untuk menumpuk kekayaan.

Keempat, quwwah idariyah (kekuatan manajerial). Setelah kekuatan material diperoleh maka selanjutnya perlu dihadirkan kekuatan manajerial, karena berbagai nikmat harta dan fasilitas akan melenakan jika tidak diatur dengan sebaik-baiknya.

Rakerwil Hidayatullah Kaltim Sambut Target IKN dan Wilayah Khusus

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Kalimantan Timur yang berlangsung di Aula Pangeran Antasari Kantor DPW Hidayatullah Kaltim, Samarinda selama 3 hari turut membahas Ibu Kota Nusantara (IKN) dan komitmen Hidayatullah benua Etam ini untuk memantapkan kiprah. Diantara ikhtiar tersebut adalah memantapkan formulasi sambut target IKN dan menjadikan Kaltim sebagai wilayah khusus.

Diketahui, pembahasan IKN terus menjadi berita di berbagai media massa. Ada yang pro dengan berbagai argumentasinya. Begitu juga ada yang kontra dengan berbagai latar belakangnya.

Terlepas dari pro dan kontra yang melingkupinya, Hidayatullah perlu ambil langkah untuk itu. Apalagi IKN sudah menjadi kebijakan yang resmi dari pemerintah.

“Langkah yang akan diambil oleh organisasi dirumuskan oleh Pokja IKN yang dibentuk oleh DPP Hidayatullah,” kata Ketua DPW Hidayatullah Kaltim Ust. H. Uswandi.

Uswandi menyampaikan bahwa Kaltim akan mendapat amanah baru untuk merealisasikan poin-poin yang dirumuskan oleh Pokja IKN. Ia juga menekankan pentingnya sukseskan Silatnas dan perjuangkan H. Naspi Arsyad dalam pemilihan anggota DPD RI.

Acara Rakerwil Hidayatullah Kaltim kali ini lebih istimewa karena dirangkai dengan Sosialisasi dari Pokja IKN dan Wilayah Khusus Kaltim, dibuka Jum’at, 13 Jumadal Akhirah 1444 H (6/1/2023).

Selain itu juga, sebagai implementasi dari target Pokja IKN. Rakerwil kali ini juga sosialisasi dan pemenangan Ustadz Naspi Arsyad sebagai Calon DPD RI dari Kalimantan Timur.

Sebagai perwakilan dari DPP, acara Rakerwil dibuka oleh Ust. Nursyamsa Hadits. Dalam kesempatan tersebut, Nursyamsa membacakan sambutan dari Ketua Umum Hidayatullah.

Peserta Rakerwil juga mendapat pencerahan dan penguatan dari Pemimpin Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad.

Pemimpin umum mengingatkan para kader untuk senantiasa menjaga ruhiyahnya. Dengan menjadikan spirit GNH sebagai karakter keseharian.

Setelah kekuatan ruhiyah dimiliki, maka perlu diikuti dengan mengasah kekuatan intelektual. Inspirasi dan gagasan akan tumbuh pada kader yang memiliki ruhiyah yang kuat dan intelektual yang matang.

Pemimpin umum juga mengingatkan bahwa Pengurus DMW merupakan Soko Guru Wilayah, yang harus memastikan bahwa Visi dan Misi Hidayatullah menjadi spirit perjuangan para kader.*/Muzayyin

Rakerwil DKI Jakarta, Ketum Pesan Jadikan Jatidiri Hidayatullah Landasan Utama

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA, membuka Rapat Kerja wilayah (Rakerwil) Hidayatullah DKI Jakarta di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Jum’at, 13 Jumadal Akhirah 1444 H (6/1/2023).

Dalam sambutannya ia menekankan bahwa gerakan-gerakan kebaikan yang sejatinya akan diupayakan Hidayatullah DKI Jakarta harus selalu berlandaskan oleh enam jati diri Hidayatullah.

“Sebagai seorang kader, terlebih utama lagi seorang pengurus, seharusnya selalu menjadikan jati diri Hidayatullah sebagai landasan utama dalam gerakan kebaikan yang kita lakukan ” jelasnya.

Adapun enam jati diri Hidayatullah itu adalah Sistematika Wahyu (SW) sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah, Ahlus Sunnah wal Jamaah, Alharakah Al Jihadiyah Al Islamiyah, Imamah dan Jamaah, Jama’atun minal muslimin, dan sikap Wasathiyah.

Nashirul menjelaskan bahwa enam jati diri Hidayatullah telah sejatinya telah mencakupi seluruh elemen penting dalam kehidupan daru yang terkecil hingga yang terbesar.

“Jati diri Hidayatullah sejatinya telah mencakupi banyak hal yang kita perlukan sebagai spirit perjuangan gerakan kebaikan yang akan kita lakukan target yang kita usung tidaklah paragmatis maka jati diri Hidayatullah adalah landasan kuatnya,” terang Nashirul.

Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta akan dilaksanakan selama dua hari mulai tanggal 5-6 Januari 2023 dengan mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri Organisasi dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standarisasi Sentralisasi dan Integrasi Sistemik”.*/Amanji Kefron, Arbi Ramli

Renungan dari Tanah Merah

0

CATATAN kecil penyaluran bantuan sumur bor di Tanah Merah, Bintan bersama BMH Kepri.

Amanah-amanah dari lembaga perjuangan yang kami emban mengantarkan pada sebuah perenungan bahwa amanah adalah ujian sekaligus anugerah. Di medan tugas yang terbentang, kami mencoba mengais makna yang tersirat.

Bahwa kami bukan “hero” tetapi hanyalah sekelompok orang yang khawatir ketika matahari terbenam, umur kami berkurang tapi amal kami tidak bertambah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu.

‎قال ابن مسعود رضي الله عنه
‎ما ندمت على شيء ندمي على يوم غربت شمسه نقص فيه أجلي ولم يزد فيه عملي

“Tidaklah aku menyesali sesuatu pada hari yang matahari tenggelam padanya melainkan berkurangnya umurku namun tidak bertambah amalanku.”

Kami hanyalah sekelompok orang yang lemah dan penuh khilaf namun berharap amal dari betis-betis kecil kami yang menyusuri kampung-kampung, kelak timbangannya lebih berat dari gunung Bintan yang menjulang.

Setiap derap langkah kami adalah usaha keras untuk menjadi bagian dari apa yang diucapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”.

Kami ikut bahagia ketika menyaksikan saudara-saudara kami terlepas dari kesulitan air bersih yang bertahun-tahun mereka alami. Ada resonansi kasih sayang Allah Ta’ala pada air yang mengucur ketika untuk pertamakalinya ibu-ibu di kampung ini memutar keran dengan wajah bahagia.

Dengan langkah-langkah kecil itu, kami berharap Allah Ta’ala memberikan rasa nikmat di hati kami, sebagaimana rasa nikmat yang Allah Ta’ala berikan ketika rukuk dan sujud di hadapan-Nya, ketika kami membaca ayat-ayat-Nya yang mulia, ketika bermunajat, berdzikir dan bersholawat kepada manusia agung, nabiullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Semoga dari ribuan kubik air yang mengucur berkat bantuan para muhsinin, ada juga bagian kami untuk menjadi saksi yang meringankan kelak di yaumul hisab, semoga dari air yang mengucur ada yang mengalir menghanyutkan dosa-dosa yang pernah kami lakukan menuju muara ampunan-Nya. Aamiin yaa Rabb.

Mujahid M. Salbu, penulis adalah pengurus DPW Hidayatullah Kepulauan Riau (Kepri)

[Khutbah Jumat] Perjalanan Menuju Takwa

PESAN utama setiap khutbah adalah ajakan untuk meningkatkan ketakwaan. Seruan takwa ini disampaikan berulang-ulang. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya persoalan tersebut.

Tetapi, di sisi lain ajakan kepada takwa seringkali menjadi klise, diulang-ulang tetapi kehilangan makna. Seolah-olah ia bisa diperoleh dengan mudah, bahkan siapapun yang mengaku muslim sudah dianggap sebagai orang yang bertakwa, tanpa usaha sungguh-sungguh untuk meraihnya.

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:

Warga Tanah Merah Bahagia Sambut Fasilitas Air Bersih dari BMH Kepri

0

BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Mengawali tahun 2023, warga kampung muslim Tanah Merah, Penagah, kecamatan Teluk Bintan, kabupaten Bintan mendapat kado istimewa berupa fasilitas air bersih; sumur bor dan terminal pengambilan air bantuan dari para muhsinin.

Pada, Rabu, (4/12) 2023, sumur bor dan terminal air bersih secara resmi diserahkan kepada warga muslim Tanah Merah, general manager BMH Kepri, uastadz Abdul Aziz menyerahkan secara simbolis kepada ketua RW 02, Nasri.

Menurut Nasri, di lingkungan RW 02 terdapat sekitar 170 KK atau 700 jiwa, untuk sumur bor ketiga ini akan dimanfaatkan sekitar 400 KK termasuk dialirkan untuk kebutuhan masjid sehingga warga tidak kesulitan lagi ketika akan berwudhu untuk menunaikan sholat lima waktu.

“Alhamdulillah, kehadiran fasilitas air bersih menjadi solusi atas problem yang selama bertahun-tahun dialami warga kampung muslim Tanah Merah, yaitu sulitnya mendapatkan air bersih, semoga bisa dirawat dan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga di kampung ini,” tutur ustadz Abdul Aziz, semringah.

Pada acara serah terima, sejumlah ibu-ibu tampak antusias, sebab kehadiran fasilitas air bersih ini sudah sangat lama mereka impikan. Sumur resapan yang selama ini menjadi tumpuan tidak dapat lagi mencukupi kebutuhan warga. BMH Kepri masih akan terus menggalang bantuan untuk pembangunan fasilitas air bersih di kampung muslim Tanah Merah agar seluruh warga bisa menikmati air bersih.

“Kami sangat berterima kasih atas bantuan sumur bor ini, kami tak susah lagi mencari air, kadang kami ke desa sebelah pakai gerobak atau dipikul untuk dapat air bersih,” kenang ibu Nurjannah.*/Mujahid M. Salbu

Laznas BMH Bangun Shelter sebagai Hunian Sementara di Daerah Terdampak Gempa Cianjur

CIANJUR (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) tengah mengusahakan pembangunan shelter sebagai hunian sementara (huntara) bagi pengungsi warga terdampak gempa Cianjur di Kampung Pasir Gombong, Desa Sukamulya, Kecamatan Cugenang, Cianjur, Jawa Barat.

“Saat ini satu unit shelter pas berlangsung untuk pembangunan. Dengan ukuran 6 X 18 meter, yang nantinya akan dihuni 10 KK lengkap dengan 1 dapur umum dan 2 MCK,” terang Koordinator Program Cianjur Bangkit dari BMH, Dhiyauddin, baru baru ini.

Dhiyauddin menyebutkan, total KK di Kampung Pasir Gombong adalah 180 KK. “Jadi kita masih membuka peluang masyarakat terlibat dalam pembangunan shelter ini,” katanya.

Shelter ini bersifat penting mendesak, karena sudah sebulan lamanya warga tinggal di dalam tenda-tenda darurat. Sementara musim dingin masih berlangsung.

Dengan adanya shelter, lanjut Dhiyauddin, diharapkan kesehatan warga terpelihara. Pada saat yang sama aktivitas yang memberikan kenyamanan lahir dan batin bisa dihadirkan.

Tokoh masyarakat Kampung Pasir Gombong, H. Jajang, mengatakan bahwa warga sangat berharap semua KK dapat menempati shelter, sehingga merata dan sama yang warga rasakan.

“Warga berharap semua bisa tinggal di shelter yang BMH bangun nantinya. Tetapi kami tetap bersyukur, Alhamdulillah. Berapapun nanti yang bisa warga nikmati, semoga itu menjadi berkah bagi kita semua,” ungkapnya.*/Herim

Santri Tahfidz Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar Gelar Doa untuk Kebaikan Bangsa dan Negara

TAKALAR (Hidayatullah.or.id) — Untaian doa untuk kebaikan bangsa dan negara bersama santri dan pengurus dilaksanakan Pondok Tahfidz Ahlul Jannah Hidayatullah, Desa Paddinging, Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, belum lama ini (30/12/2022).

Santri dan walinya bersama pengurus Ponpes hadir dalam acara ini. Turut hadir Haji Achmad Daeng Se’re tokoh masyarakat setempat bersama keluarga. Menurut Aji De’de panggilan akrab beliau, do’a penghafal Qur’an itu makbul.

“Rangkaian do’a bersama ini, selain untuk bangsa dan negara kita khususkan juga untuk bapak Panglima TNI yang baru-baru dilantik juga Bapak Kepala Staf Angkatan Laut, semoga diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan tugas-tugas mulianya,” ucapnya seperti dilansir laman Hidayatullah Sulsel.

Sementara itu Pimpinan Pondok Tahfidz Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar Ust. Arham mengaku senang atas kehadiran Bapak Achmad Daeng Se’re di Pondok terlebih ikut bersama wali santri dan pengurus dalam doa bersama untuk kebaikan bangsa dan negara

“Senang rasanya dengan kehadiran A’jiku yang selama ini telah membersamai kita, beliau selalu memberikan dukungan juga kepercayaan dalam berbagai kegiatan syiar agama di pondok, dari dulu di awal-awal pondok tahfidz ahlul jannah ini baru dirintis dan waktu itu beliau masih menjabat sebagai wakil bupati. Beliau hadir dan menyaksikan secara langsung kegiatan di tempat yang begitu sederhana ini, hingga sekarang masih tetap membersamai kita alhamdulillah,” pungkasnya

Ada harapan dalam doa yang dipimpin langsung Pengasuh Pondok Ust. Mansur kiranya bangsa ini senantiasa dalam lindungan Allah SWT, menjadi bangsa yang “Baldatun Toyyobatun Warobbun Ghafuur”.*/Mansyur

Terus Melangkah karena Allah adalah Sebaik-baik Pengatur Rencana

KETIKA menyadari betapa luas dan kokohnya hegemoni kaum kafir di seluruh dunia dewasa ini, seorang tokoh nasional berdoa di Masjidil Haram, “Ya Allah, menangkan Islam dengan caramu!”.

Beliau merasa segala daya dan kekuatan kaum muslimin seperti tiada artinya di hadapan musuh-musuhnya. Kita kalah dalam berbagai bidang, tertinggal dalam segala segi. Seolah-olah, tiada jalan lagi untuk menang. Kita bagaikan hidangan prasmanan yang dikeroyok dari segala penjuru.

Namun, beliau juga mengerti, dunia ini tidaklah berjalan begitu saja. Ada Tuhan Maha Perkasa yang mengaturnya. Dan, alhamdulillah, kita beriman kepada Tuhan itu, sedangkan mereka memusuhi-Nya. Maka, kita punya satu poin penentu, yakni dukungan Allah.

Renungkanlah, berapa banyak bayi yang disembelih Fir’aun untuk melenyapkan seorang anak yang diramalkan bakal meruntuhkan kerajaannya. Namun, Allah justru mengantar bayi itu ke pangkuan Fir’aun sendiri. Dikirimkan-Nya bayi Musa, yang terhanyut di sungai tidak diketahui siapa orangtuanya, kepada seorang wanita yang sendirian tanpa anak.

Siapa yang mengendalikan aliran Sungai Nil sehingga tidak menenggelamkan kotak (tabut) itu sebelum ditemukan? Siapa yang menjatuhkan simpati dan kasih sayang ke dalam hati istri Fir’aun sehingga bersedia mengasuhnya? Siapa yang mengendurkan kewaspadaan Fir’aun sehingga tidak mencurigai bayi yang dipungutnya? Maka, sempurnalah takdir yang telah ditetapkan, dan Allah-lah sebaik-baik pengatur rencana. (Al-Fawa’id, karya Ibnu Qayyim).

Ingatlah kata-kata Sultan Nuruddin Mahmud Zanki (w. 569 H), seorang penguasa muslim yang shalih dan gemar berjihad melawan tentara Salib. Suatu kali seorang penasehatnya berkata, “Demi Allah, jangan membahayakan diri Anda sendiri. Jika Anda tertimpa sesuatu yang tidak diinginkan di medan perang, maka tidak ada seorang muslim pun melainkan pasti terkena akibat buruknya.”

Sultan Nuruddin Mahmud Zanki menjawab, “Siapa Mahmud ini, sehingga pantas dikatakan seperti itu pada dirinya? Siapa yang telah menjaga negeri-negeri ini sebelum itu? Bukankah Dia Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain-Nya?” (Ad-Daris fi Tarikh al-Madaris, I/468-469).

Benar. Kita tidak boleh lupa: dunia ini bukan arloji; setelah selesai dibuat pabrik, ia dilepaskan berdetak sendiri. Tetapi, ada Allah yang selalu memperhatikan dan mengurusnya. Dia tidak pernah mengantuk atau tidur, dekat dengan hamba-hamba-Nya, mendengar setiap permohonan mereka, dan bahkan Dia lebih dekat dibanding urat leher mereka sendiri. Dia tidak akan diam membiarkan agama-Nya dinistakan. (Qs. ar-Rahman: 29; al-Baqarah: 186, 255; Ghafir: 19; al-An’am: 59-61; Qaaf: 16-18; ar-Ruum: 47).

Perhatikanlah, betapa rencana Allah tak tertandingi rekayasa manusia. Ketika tokoh-tokoh muslim dan para da’i diusir oleh penguasa sekuler dari negeri asalnya dan terpaksa berhijrah, atau jutaan imigran muslim memasuki Dunia Barat dengan berbagai sebab, sebenarnya sebuah sejarah baru sedang ditulis.

Disana mereka tinggal, eksis, berkembang, dan terus berdakwah. Maka, ketika para wanita kafir enggan hamil dan melahirkan karena takut kehilangan keseksian tubuhnya, di saat bersamaan jutaan generasi muslim lahir disana. Ketika para remaja Barat terjerat seks bebas, narkoba, dan terlena oleh kemewahan, di saat bersamaan remaja-remaja muslim tekun mendidik dirinya, dan optimis menatap masa depan.

Ketika gereja-gereja dijual karena ditinggalkan jemaatnya, di saat bersamaan masjid-masjid terus diperluas karena tidak sanggup lagi menampung jamaah. Tatkala jumlah pemeluk agama-agama lain menyusut, berbagai kota disana justru menyaksikan bersyahadatnya belasan sampai puluhan warga asli setiap pekan.

Bahkan, dengan nada bergurau seseorang berkata, “Ketika sebagian dari mereka mulai sadar dari kegilaannya, ternyata sebagian dari kita justru yang mulai sinting.” Bukankah sekularisasi, westernisasi, dan pemurtadan malah semakin mengganas di negeri-negeri yang mayoritas ditinggali kaum muslimin? La haula wa la quwwata illa billah.

Dalam konteks inilah Badi’uzzaman Said Nursi (ulama’ Turki penentang gigih sekularisme) berkata, “Daulat Usmaniyah – yakni: negeri-negeri Islam – adalah seorang wanita yang sedang mengandung janin Eropa yang akan lahir pada suatu hari. Sedangkan Eropa adalah seorang wanita yang sedang mengandung janin Islam yang akan lahir pada suatu hari.”

Maka, mari memusatkan diri membina umat yang ada dalam jangkauan kita, dengan segenap kesungguhan, keyakinan, dan adab yang baik. Adapun orang-orang kafir itu, biarlah Allah yang mengurusnya.

Al-Qur’an telah memproklamirkan:

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur: 55).

Ini bukan janji kampanye dalam Pemilu yang seringkali dusta, namun pernyataan Allah yang tak mungkin meleset. Maka, tidak pada tempatnya menuntut janji yang pasti ditepati.

Yang justru harus betul-betul diperhatikan adalah: sudahkah kita memenuhi syarat untuk mendapatkan janji-Nya? Sungguh, pengaturan Allah takkan pernah terkalahkan; maka bersiap-siagalah! Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar