Beranda blog Halaman 33

Gerakan Berlanjut, Tim Siaga Bencana Hidayatullah Dampingi Lansia di Aceh Tamiang

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Gerakan kemanusiaan akan terus dilakukan dan membutuhkan doa serta dukungan dari masyarakat luas. Pesan tersebut disampaikan langsung oleh koordinator relawan dalam aksi pembersihan rumah warga yang kembali digelar oleh relawan Hidayatullah Aceh bersama BMH Perwakilan Aceh di Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu, 14 Rajab 1447 (3/1/2026).

Aksi sosial tersebut dilaksanakan oleh Tim Siaga Bencana dari Hidayatullah Aceh yang berkolaborasi dengan BMH Perwakilan Aceh. Kegiatan difokuskan pada pembersihan rumah milik sepasang warga lanjut usia yang berdomisili di Dusun Damai, Desa Dalam, Kecamatan Karang Baru. Rumah tersebut membutuhkan penanganan segera agar kembali layak ditempati oleh penghuninya.

Kehadiran para relawan di lokasi merupakan bagian dari respons kemanusiaan berkelanjutan yang selama ini dijalankan Hidayatullah dan BMH di wilayah Aceh. Kegiatan pembersihan rumah tidak hanya dimaknai sebagai kerja fisik, tetapi juga sebagai bentuk pendampingan sosial bagi warga rentan, khususnya lansia yang memiliki keterbatasan tenaga dan akses.

Aksi lapangan tersebut dipimpin langsung oleh Nur Huda Ramadihan, pengurus DPD Hidayatullah Aceh Besar. Ia mengoordinasikan jalannya kegiatan bersama empat orang alumni Madrasah Aliyah (MA) Luqman Al-Hakim Hidayatullah Lhoknga, Aceh Besar, yang turut menjadi bagian dari tim relawan. Kolaborasi lintas latar belakang ini memperkuat efektivitas gerakan sosial yang dilakukan.

Selain itu, tim relawan juga diperkuat oleh Ustadz Misriyanto, putra daerah Aceh Tamiang yang memiliki pengalaman panjang dalam pengabdian dakwah dan pendidikan. Dalam perjalanan pengabdiannya, ia pernah mengemban amanah sebagai pimpinan Dayah atau Pesantren Hidayatullah di Lawe Luning Aman, Aceh Tenggara.

Kegiatan pembersihan rumah dilakukan secara gotong royong dengan membersihkan bagian dalam dan luar rumah agar dapat kembali difungsikan secara normal. Bagi pasangan lansia pemilik rumah, kehadiran relawan menjadi bantuan nyata yang sangat berarti, mengingat keterbatasan fisik yang mereka hadapi dalam merawat tempat tinggal.

Dalam keterangannya di sela kegiatan, Nur Huda Ramadihan menegaskan bahwa aksi kemanusiaan semacam ini bukan kegiatan sesaat. Ia menyampaikan bahwa relawan Hidayatullah Aceh dan BMH Perwakilan Aceh berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan.

“Gerakan ini akan terus kami lakukan. Kami mohon doa dan dukungan dari semua pihak agar ikhtiar kemanusiaan ini bisa berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih luas,” ujar Nur Huda Ramadihan.

Secara lebih luas, aksi pembersihan rumah warga lansia di Aceh Tamiang ini menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan sosial berbasis komunitas. Kehadiran relawan tidak hanya membantu menyelesaikan persoalan fisik, tetapi juga memberikan penguatan psikologis bagi warga yang menerima bantuan. Rasa diperhatikan dan didampingi menjadi modal penting dalam menjaga martabat dan semangat hidup masyarakat, terutama kelompok rentan.

Melalui kegiatan tersebut, Hidayatullah Aceh dan BMH Perwakilan Aceh menegaskan perannya sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil yang aktif dalam pelayanan sosial. Gerakan kemanusiaan yang dilakukan secara konsisten diharapkan dapat menjadi jembatan solidaritas antara berbagai lapisan masyarakat.

Itsar sebagai Jalan Penguat Organisasi dan Masyarakat

0

SEORANG senior rela sibuk mencarikan rumah kontrakan untuk kader yuniornya. Setelah menemukan rumah yang diharapkan, sang senior menyerahkannya kepada sang yunior. Padahal sang senior juga butuh rumah kontrakan untuk diri dan keluarganya, karena sudah harus segera berpindah dari rumah yang sekarang mereka tinggali.

Sang yunior tidak enak hati. Ia pun meminta agar sang senior menggunakan rumah tersebut. Biarlah dirinya sendiri mencari. Akan tetapi sang senior menolak permintaan itu. Akhirnya, dengan terpaksa dan haru, ia menerima kebaikan sang senior.

Jika mau, sang senior bisa menggunakan rumah tersebut. Ia yang mencari, pun seorang senior. Akan tetapi ia memilih untuk menolong sang yunior. Walaupun dengan begitu, ia sendiri mengalami kesulitan. Inilah contoh itsar.

Itsar dapat diartikan sebagai mendahulukan orang lain. Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 9 menyampaikan, “Dan mereka (Anshar) mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.”

Melalui itsar, sang senior yakin Allah ta’ala akan menurunkan pertolongan kepadanya, sebagaimana hadits riwayat Muslim, “Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama sang hamba selalu menolong saudaranya.”

Dengan itsar, sang senior menitipkan pesan agar sang yunior percaya bahwa dirinya sedang dieksplorasi, diantarkan untuk menjadi baik dan menyebarkan kebaikan. Dirinya tumbuh semakin berkapasitas. Sementara orang sekitarnya bertumbuh kebahagiaannya karena merasakan banyak kebaikan darinya.

Jika sang yunior ragu, ini bahaya. Satu perasaan buruk berpeluang muncul, yakni merasa dieksploitasi. Eksploitasi bermakna penggalian potensi sumber daya untuk diorientasikan kepada orang lain saja, sementara sang pemilik sumber daya relatif dilupakan.

Eksploitasi tidak jarang menimbulkan masalah berat. Sang yunior sebagai pemilik sumber daya akan kehabisan sumber daya lalu melemah, bahkan burn out. Hidupnya menyentuh titik nadir yang paling nyeri.

Satu yang diharapkan sang senior dari tindakan itsar-nya, yakni para yunior terinspirasi untuk saling itsar juga. Satu sama lain saling menolong sesuai kemampuan. Kedekatan antarperson atau kohesi sosial bisa lebih kuat. Pergerakan organisasi/komunitas lebih solid. Dampak ke masyarakat semakin terasa.

Perihal ini pernah dikaji oleh dilakukan Schiefer dan Noll (2016). Terdapat enam dimensi untuk mengokohkan kohesi sosial: Hubungan sosial, keterhubungan, orientasi baik, nilai-nilai bersama, kualitas hidup subjektif dan objektif, kesetaraan dan ketidaksetaraan.

Mengandalkan indoktrinasi saja bukan keputusan tepat. Aktivitas ini hanya menyentuh satu dua dimensi, lainnya belum. Menariknya itsar berpotensi menyentuh banyak dimensi. Misalkan dengan itsar, kesenjangan ekonomi dapat berkurang.

Satu catatan penting, itsar bukan lahir dari kelemahan. Justru itsar berawal dari kekuatan. Salah satunya kekuatan iman.

Catatan lainnya itsar bisa beresonansi. Orang yang menerima kebaikan lewat itsar, terutama para kader, terantarkan untuk berkeinginan itsar juga. Dengan sedikit penguatan, insya Allah, itsar akan terinternalisasi.

Ibarat siklus, itsar mewujud ke dalam kebaikan. Lalu kebaikan ini menginspirasi pihak lain. Pihak lain kemudian membangun itsar juga. Terus demikian hingga itsar meluas, tidak hanya di satu organisasi/komunitas tertentu.

Memang awalannya tidak mudah. Butuh orang-orang yang istiqomah melahirkan dan menyebarkan itsar. Ibarat pusaran, inti dibutuhkan. Para pengkader dan kader adalah intinya. Jika mereka istiqomah dalam itsar, ada harapan itsar terbentuk juga di masyarakat luas. Sebaliknya jika mereka berhenti, berhenti pula pertumbuhan itsar di masyarakat.

Wallah a’lam.

*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah

Dari Ta’aruf Nasional, Bidang Perkaderan Hidayatullah Tekankan Amanah dan Budaya Membaca

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Amanah kepemimpinan dalam kerja-kerja perkaderan hanya dapat dijalankan secara istiqamah apabila disertai kesadaran mendalam terhadap nilai literasi. Penegasan tersebut menjadi pesan utama dalam kegiatan Ta’aruf Perkaderan se-Indonesia yang diselenggarakan secara daring oleh Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah pada Senin, 16 Rajab 1447 (5/1/2026).

Pesan tersebut disampaikan Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Abdul Ghofar Hadi, di hadapan Kepala Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah dari berbagai wilayah di Indonesia. Forum ini menjadi pertemuan nasional pertama setelah Bidang Perkaderan dibentuk secara struktural di tingkat pusat, dengan mandat strategis dalam penguatan sumber daya kader.

Dalam pemaparannya, Ghofar menjelaskan bahwa pembentukan struktur baru bukan sekadar penataan organisasi, melainkan peneguhan tanggung jawab yang bersifat moral dan spiritual. Ia menyebut amanah sebagai konsep sentral yang tidak dapat dilepaskan dari keimanan. “Ini amanah,” tegasnya dalam forum tersebut.

Menurutnya, dalam tradisi Islam, amanah tidak boleh dikejar secara ambisius, namun juga tidak boleh dihindari ketika telah dipercayakan. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan pribadi dan intelektual agar amanah tidak berubah menjadi beban yang dijalankan secara formalistik semata. Dalam konteks inilah, terang Ghofar, literasi menjadi prasyarat utama kepemimpinan perkaderan.

“Amanah hanya bisa kita laksanakan jika kita yakin kepada Allah, yakin akan adanya surga dan neraka, serta percaya bahwa menjaga amanah adalah tanda iman sejati,” imbuhnya,

Ia menegaskan bahwa membaca merupakan fondasi peradaban seraya menekankan bahwa literasi sebagai instrumen strategis dalam membentuk pola pikir, ketajaman analisis, dan kedewasaan sikap para kader. “Tidak ada orang, apalagi bangsa, yang maju tanpa membaca,” kata Ghofar.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa membaca memiliki dimensi ibadah ketika diniatkan untuk memperkuat amanah dan memperluas kemaslahatan. Dalam kepemimpinan perkaderan, kemampuan memahami realitas, merumuskan kebijakan, dan membimbing generasi penerus sangat ditentukan oleh keluasan wawasan. Tanpa tradisi baca, kepemimpinan rentan terjebak pada pendekatan pragmatis dan kehilangan orientasi nilai.

Ghofar mengangkat teladan sejarah internal organisasi. Ia menyebut pendiri Hidayatullah, Abdullah Said, sebagai figur yang menempatkan membaca sebagai napas perjuangan. Dalam pandangannya, tradisi intelektual tersebut menjadi bagian penting dari pembentukan karakter gerakan sejak awal.

Membaca dan Gerakan Hidayatullah

Lebih jauh Ghofar juga menguraikan bahwa kerangka pemikiran Hidayatullah tidak lahir dalam ruang hampa. Prosesnya dibentuk melalui interaksi intensif dengan berbagai karya tokoh nasional dan ulama pemikir. Nama-nama seperti KH Mas Mansoer, Buya Malik Ahmad, Buya Hamka, dan Munawar Khalil disebut sebagai referensi bacaan yang turut memberi warna pada orientasi dakwah dan pendidikan Hidayatullah.

Dalam kesempatan yang sama, Ghofar menyinggung tradisi literasi yang masih terjaga di lingkaran kepemimpinan organisasi. Ia menyampaikan bahwa pimpinan tertinggi Hidayatullah dikenal sebagai pribadi yang dekat dengan buku. “Hingga kini, Rais ‘Am Hidayatullah pun dikenal sebagai sosok yang gemar membaca. Kado terbaik untuk beliau ya buku,” ungkapnya.

Ghofar menegaskan bahwa tanpa kesadaran literasi, amanah berisiko kehilangan arah. Ketika wawasan menyempit, kepemimpinan dapat tergelincir pada sikap reaktif dan jangka pendek. Sebaliknya, budaya baca memungkinkan kader memahami konteks zaman sekaligus menjaga prinsip dasar gerakan.

Melalui forum nasional ini, dia mengatakan, Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah menegaskan orientasi pembinaan yang berbasis ilmu, akhlak, dan kesinambungan. Amanah kepemimpinan menurutnya adalah tanggung jawab jangka panjang yang hanya dapat ditunaikan melalui ketekunan, keimanan, dan komitmen terhadap literasi sebagai nilai dasar pembentukan kader

Harapan Pemulihan Pascabencana Menggema Bersama Aksi Relawan Hidayatullah Aceh

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Relawan Tim Siaga Bencana Hidayatullah bersama Baitulmaal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Aceh kembali melaksanakan aksi kemanusiaan di wilayah terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang. Kegiatan tersebut berlangsung di Dusun Meluncur, Kecamatan Tenggulun, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan membantu pemulihan sosial dan spiritual masyarakat.

Aksi kemanusiaan ini dilaksanakan pada Sabtu malam, 14 Rajab 1447 (3/1/2025). Kegiatan lapangan dipimpin langsung oleh Buya Karyadi anggota Dewan Murabbi Hidayatullah Aceh, yang turut didampingi oleh istrinya. Kehadiran relawan pada malam hari dipilih untuk menyesuaikan dengan kondisi warga yang sebagian besar masih beraktivitas membersihkan lingkungan dan menata kembali tempat tinggal pascabencana.

Dalam kegiatan tersebut, tim menyalurkan bantuan kebutuhan pokok dan sarana ibadah kepada masyarakat yang mayoritas terdiri atas kaum ibu dan anak-anak. Bantuan yang disalurkan meliputi 300 bungkus nasi siap santap, 170 eksemplar Al-Qur’an, 50 buku Iqra, serta ratusan mukena untuk dewasa dan anak-anak, dengan total sekitar 150 lembar. Bantuan tersebut diarahkan untuk menjawab kebutuhan dasar sekaligus memperkuat dimensi keagamaan masyarakat terdampak.

Ustadz Karyadi menjelaskan bahwa bantuan yang diberikan merupakan bentuk kepedulian dan ikhtiar kemanusiaan, meskipun jumlahnya masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan kebutuhan riil warga di lapangan. Menurutnya, masyarakat masih menghadapi berbagai keterbatasan pascabencana, mulai dari akses terhadap sumber kebutuhan primer hingga ketersediaan air bersih dan fasilitas penunjang kehidupan sehari-hari.

“Kami menyadari apa yang disalurkan belum sebanding dengan besarnya kebutuhan masyarakat terdampak. Namun ini adalah bentuk kehadiran dan kepedulian, agar mereka tidak merasa sendiri dalam menghadapi masa sulit,” ujar Karyadi di sela-sela kegiatan.

Lebih lanjut, Karyadi menekankan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik dan material, tetapi juga menyangkut pemulihan psikologis dan spiritual masyarakat. Ia menyampaikan harapan agar musibah yang menimpa segera berlalu, sehingga masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas keseharian secara normal.

“Kami berharap masyarakat segera pulih, sehingga kehidupan bisa kembali berjalan seperti biasa. Langgar-langgar kembali hidup, anak-anak belajar mengaji, dan suara Al-Qur’an kembali menggema di tengah kampung,” tuturnya.

Ketua DPW Hiadyatullah Aceh, Harun Rasyid, kini pelan pelan langgar dan masjid masjid di Aceh khususnya Tamiang mulai sedikit sedikit hidup pascabencana dimana masjid dan langgar sebagai pusat kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.

“Upaya pemulihan ini juga menjadi bagian dari penguatan ketahanan sosial berbasis komunitas, di mana nilai gotong royong, kepedulian, dan kebersamaan menjadi fondasi utama,” kata Harun dalam keterangannya.

Kehadiran Tim Siaga Bencana Hidayatullah dan BMH Perwakilan Aceh disambut dengan rasa syukur dan kebahagiaan oleh warga Dusun Meluncur. Sejumlah warga menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan, khususnya karena bantuan tidak hanya menyentuh kebutuhan pangan, tetapi juga mendukung keberlangsungan aktivitas ibadah dan pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak.

Masyarakat berharap pendampingan dan perhatian dari berbagai pihak dapat terus berlanjut hingga kondisi mereka benar-benar pulih. Bagi warga, kehadiran relawan di tengah keterbatasan memberikan dorongan moral sekaligus menumbuhkan optimisme untuk bangkit kembali.

“Diharapkan dari kehadiran yang sederhana ini dapat membantu masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi juga menata kembali kehidupan sosial dan keagamaan secara berkelanjutan,” tandas Harun.

Hidayatullah Kenang Jejak Pengabdian Prof Amal Fathullah Zarkasyi untuk Negeri

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi dan mengenang berpulangnya sebagai kehilangan besar bagi dunia pendidikan Islam dan bangsa Indonesia.

Almarhum wafat di Solo, Jawa Tengah, pada Sabtu, 3 Januari 2026. Kepergian tokoh pendidikan tersebut meninggalkan jejak panjang pengabdian yang tidak terpisahkan dari Pondok Modern Darussalam Gontor.

Naspi Arsyad menyebut Amal Fathullah Zarkasyi sebagai figur yang telah mewakafkan hidupnya sepenuhnya untuk Islam dan kaum muslimin. Menurutnya, sosok guru kelahiran Ponorogo, 04 Nopember 1949 ini bukan hanya milik Gontor, tetapi bagian dari sejarah pendidikan Indonesia yang kontribusinya melampaui ruang dan zaman.

“Beliau bukan hanya memimpin Gontor sebagai lembaga pendidikan besar dan berpengaruh, tetapi mewakafkan seluruh hidupnya untuk membangun manusia dan peradaban melalui pendidikan. Itulah jalan hidup yang beliau pilih hingga akhir hayatnya,” ujar Naspi Arsyad.

Almarhum Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi dikenal sebagai salah satu pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, sebuah institusi pendidikan Islam yang memiliki pengaruh luas dalam sistem pendidikan nasional.

Gontor dikenal dengan model pendidikan terpadu yang memadukan penguasaan ilmu agama, bahasa, kepemimpinan, dan kedisiplinan, serta menekankan nilai keikhlasan, kemandirian, dan pengabdian. Dalam kepemimpinannya, Gontor terus memperkuat perannya sebagai pusat kaderisasi umat dan bangsa.

Naspi Arsyad menyampaikan bahwa kiprah Amal Fathullah Zarkasyi tidak dapat dilepaskan dari kontribusi nyata Gontor dalam melahirkan sumber daya manusia yang berperan di berbagai sektor kehidupan.

“Melalui Gontor yang beliau pimpin, lahir para pendidik, dai, ulama, hingga birokrat yang berkiprah memajukan kehidupan bangsa dan memberi kontribusi strategis bagi Indonesia,” kata Naspi.

Pondok Modern Darussalam Gontor telah melahirkan ribuan alumni yang tersebar di dalam dan luar negeri, berkiprah sebagai akademisi, pendakwah, pemimpin lembaga pendidikan, aparatur negara, dan tokoh masyarakat. Sistem wakaf yang menjadi fondasi kelembagaan Gontor menjadikan pondok ini berdiri independen dari kepentingan pribadi, sebuah prinsip yang terus dijaga oleh para pimpinannya, termasuk Amal Fathullah Zarkasyi.

Naspi menilai bahwa gagasan-gagasan almarhum memperkuat paradigma pendidikan berbasis karakter dan pengabdian. “Beliau selalu menekankan bahwa ilmu harus melahirkan tanggung jawab moral. Pendidikan bukan untuk kepentingan diri, tetapi untuk kemaslahatan umat dan bangsa,” ungkap Naspi Arsyad.

Menurut Naspi, pandangan guru besar di bidang Ilmu Aqidah di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor itu sejalan dengan tradisi Gontor yang memposisikan pendidikan sebagai amanah peradaban, bukan sekadar transmisi pengetahuan.

Naspi Arsyad juga menekankan bahwa keteladanan Amal Fathullah Zarkasyi terletak pada konsistensi antara pemikiran dan praktik. Kepemimpinannya di Gontor ditandai dengan kesederhanaan, disiplin, dan keteguhan menjaga nilai-nilai wakaf pondok yang mengantar lembaga ini menjadi pilar pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan.

Wafatnya Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi di RS Moewardi Solo menutup satu fase penting dalam sejarah Gontor, namun warisan pemikiran dan sistem pendidikan yang dibangunnya tetap hidup. Naspi Arsyad menyampaikan doa agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan agar keteladanan hidupnya terus menginspirasi generasi penerus.

“Beliau telah menunaikan amanah hidupnya dengan sangat baik. Tugas kita hari ini adalah melanjutkan spirit pengabdian itu, menjaga pendidikan sebagai jalan membangun umat dan bangsa,” tutup Naspi Arsyad.

Ketum DPP Hidayatullah Tekankan Pentingnya Gerakan Berdampak untuk Masyarakat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Seluruh jaringan Hidayatullah di berbagai level dan tingkatan ditegaskan wajib melaksanakan amanah program organisasi dengan sebaik mungkin, dengan tujuan utama agar dampak gerakan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat luas.

Penegasan ini disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, dalam sesi pembukaan Sidang Pleno DPP Hidayatullah yang berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, pada Sabtu, 14 Rajab 1447 (3/1/2026).

KH Naspi Arsyad menyampaikan bahwa Sidang Pleno DPP memiliki posisi strategis sebagai forum pengambilan keputusan yang menentukan arah program kerja organisasi ke depan. Forum ini, menurutnya, menjadi ruang konsolidasi untuk merumuskan langkah-langkah yang mampu mendorong penguatan dakwah dan tarbiyah secara lebih luas dan terstruktur di seluruh wilayah Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa pembahasan program kerja dalam sidang pleno tidak dapat dipisahkan dari misi dasar Hidayatullah sebagai gerakan dakwah dan pendidikan. Oleh karena itu, setiap keputusan yang dihasilkan diharapkan berorientasi pada kemajuan umat dan memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan sosial masyarakat. Dalam konteks tersebut, pelaksanaan program tidak berhenti pada tataran perencanaan, tetapi harus diwujudkan secara konkret oleh seluruh elemen organisasi.

KH Naspi Arsyad menaruh harapan agar sidang pleno ini menghasilkan rumusan yang aplikatif dan dapat dijalankan secara konsisten. Ia menekankan bahwa persatuan internal merupakan prasyarat penting dalam mewujudkan program kerja yang efektif. Keputusan yang diambil, menurutnya, harus mencerminkan ukhuwah yang semakin kuat dan terpelihara di dalam tubuh organisasi.

Naspi menggarisbawahi pentingnya sinergi antarlembaga dan antarstruktur organisasi. Sinergi tersebut, kata dia, perlu diwujudkan secara nyata dalam penjabaran program kerja nasional, mulai dari tingkat pusat hingga wilayah. Dengan demikian, setiap unit organisasi bergerak dalam satu arah dan saling menguatkan.

“Oleh karena itu, sinergi ini harus teraktualisasi secara maksimal dalam penjabaran dan pelaksanaan program kerja secara nasional,” tegas KH Naspi.

Lebih lanjut, KH Naspi Arsyad menyebut Sidang Pleno DPP sebagai momentum bermujahadah, yakni kesungguhan kolektif untuk mengoptimalkan peran organisasi. Dalam kerangka ini, seluruh jaringan Hidayatullah di tingkat wilayah dipandang memiliki tanggung jawab besar untuk menjalankan amanah program dengan penuh kesungguhan. Pelaksanaan program yang konsisten dan terukur diharapkan mampu menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa orientasi program kerja Hidayatullah tidak terlepas dari tujuan kemaslahatan publik. Oleh sebab itu, keberhasilan organisasi tidak hanya diukur dari tersusunnya dokumen perencanaan, tetapi dari sejauh mana gerakan yang dijalankan dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Penegasan ini disampaikan sebagai pengingat agar seluruh struktur organisasi menjaga komitmen terhadap tujuan awal pendirian gerakan.

Menutup arahannya, KH Naspi Arsyad menyoroti pentingnya aktivasi pikiran dalam kehidupan berorganisasi. Ia menyampaikan bahwa penggunaan akal secara optimal merupakan cerminan dari hakikat seorang Muslim. Menurutnya, dimensi intelektual tidak dapat dipisahkan dari religiositas, karena keduanya saling melengkapi dalam membentuk pribadi dan komunitas yang berdaya.

“Aktivasi pikiran adalah cerminan dari hakikat seorang muslim,” tegas KH Naspi Arsyad.

Dalam penjelasannya, ia mengaitkan aktivasi pikiran dengan tanggung jawab manusia untuk memanfaatkan potensi akal yang dianugerahkan. Pemanfaatan akal secara optimal dipandang sebagai bentuk kesadaran dan kesungguhan dalam menjalankan peran sebagai insan beriman sekaligus anggota masyarakat. Prinsip ini, menurutnya, relevan diterapkan dalam dinamika organisasi.

KH Naspi Arsyad juga menekankan bahwa organisasi yang ingin berkembang memerlukan sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis dan inovatif. Kemampuan tersebut, jelasnya, diperlukan agar setiap kegiatan tidak berhenti pada rutinitas semata dan memastikan bahwa program yang dijalankan memiliki substansi dan relevansi dengan kebutuhan masyarakat.

Dari Individu ke Gerakan yang Gemilang

0

KEMAJUAN tidak pernah lahir secara kebetulan. Ia selalu bertumpu pada kualitas manusia yang menggerakkannya. Di balik setiap perubahan besar, selalu ada pribadi-pribadi yang kuat secara batin, jernih dalam berpikir, dan matang dalam bersikap. Tanpa manusia semacam ini, pembangunan hanya akan berhenti pada slogan, dan kebangkitan tinggal menjadi wacana.

Buya Hamka pernah memberikan gambaran sederhana namun sangat dalam tentang seperti apa pribadi unggul itu. Menurutnya, manusia hebat adalah mereka yang mampu menahan amarah, sanggup menenggang perasaan orang lain, serta memiliki keberanian untuk berpikir dan berpendapat secara mandiri.

Hamka juga menekankan pentingnya tradisi membaca yang aktif dan kreatif. Dalam buku karyanya, Pribadi Hebat, ia menganjurkan agar seseorang “menelan” banyak buku, lalu mengolahnya menjadi pupuk bagi pertumbuhan diri. Artinya, ilmu tidak cukup hanya dikumpulkan. Ia harus dicerna, dipahami, dan diolah hingga melahirkan pandangan yang hidup dan bernilai.

“‘Telan’ buku-buku yang banyak, lalu jadikan pupuk untuk menyuburkan diri sendiri dengan pendapat sendiri,” kata Hamka.

Gagasan ini sejalan dengan pandangan Syeikh Yusuf al-Qaradawi. Dalam bukunya, Kembali dalam Dekapan Tarbiyah, ia menegaskan bahwa kemajuan yang gemilang menuntut prasyarat yang tidak ringan. Salah satu yang paling mendasar adalah keyakinan yang kokoh. Tanpa keyakinan, langkah mudah goyah dan arah mudah kabur.

Keyakinan yang kokoh, menurut Al-Qaradawi, tidak hadir begitu saja. Ia tumbuh melalui proses tarbiyah yang berkesinambungan. Tarbiyah membentuk manusia dari dalam, memperkuat iman, menata ruhani, dan meneguhkan orientasi hidup. Karena itu, kebangkitan sejati selalu dimulai dari individu, bukan dari struktur atau institusi semata.

Dalam proses tarbiyah inilah peran murabbi menjadi sangat menentukan. Murabbi bukan sekadar pengajar, melainkan sosok yang memiliki bobot. Bobot iman, kedalaman ruhani, kesucian jiwa, kekuatan kehendak, kematangan emosi, dan kemampuan memengaruhi orang lain ke arah kebaikan. Kehadiran murabbi dengan kualitas semacam ini menjadi faktor kunci lahirnya generasi unggul.

Kebijaksanaan dan Sikap Hidup

Kebangkitan peradaban, dengan demikian, tidak pernah muncul dari ruang hampa. Ia berawal dari transformasi batin seorang manusia. Prosesnya mirip dengan pertumbuhan sebuah pohon.

Akar menyerap unsur-unsur dari tanah, tetapi pohonlah yang mengolahnya hingga berbuah manis. Demikian pula manusia; informasi dan pengetahuan yang diserap baru akan bermakna jika diolah menjadi kebijaksanaan dan sikap hidup.

Secara alamiah, pertumbuhan manusia mengikuti hukum akumulasi. Pengetahuan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit tidak otomatis menjelma menjadi karakter. Di sinilah relevansi pesan Hamka tentang pentingnya pendapat mandiri.

Buku adalah nutrisi mentah, sementara daya pikir dan refleksi pribadi adalah alat pencernaannya. Tanpa proses ini, ilmu hanya akan menjadi tumpukan data yang membebani ingatan, bukan menerangi kehidupan.

Keyakinan yang lahir dari proses pengolahan ini bekerja seperti mesin penggerak pada sebuah kapal besar. Ia menentukan arah dan menjaga kestabilan perjalanan. Al-Qaradawi menempatkan keyakinan sebagai syarat mutlak kemajuan, karena keyakinan yang sejati bukan sekadar pernyataan lisan, melainkan kesatuan antara pikiran dan perbuatan. Ketika seseorang memiliki kepastian arah, ia tidak mudah goyah oleh tekanan, kritik, atau perubahan situasi.

Peran Katalisator

Gerakan yang besar dan bermakna juga membutuhkan figur pemimpin yang berfungsi sebagai katalisator. Dalam ilmu pengetahuan, katalis mempercepat reaksi tanpa ikut habis.

Demikian pula murabbi. Dengan kedalaman spiritual dan ketenangan emosinya, ia mempercepat proses pendewasaan umat. Ia tidak hanya menyampaikan materi, tetapi menularkan keteguhan, keikhlasan, dan kejernihan visi.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Abdullah Said yang melihat objek dakwah sebagai manusia yang haus dan lapar akan sentuhan nilai-nilai Islam. Kesadaran ini membuat seorang murabbi mampu mengelola konflik dengan kepala dingin dan hati yang bersih, tanpa merendahkan atau menyakiti.

Pada akhirnya, kebangkitan yang gemilang terwujud ketika pribadi-pribadi hebat disatukan dalam satu barisan. Individu yang mandiri dalam berpikir, namun rendah hati dalam bersikap, akan membangun kolaborasi yang tulus.

Seperti akar-akar pohon yang saling menguatkan di bawah tanah, kesatuan visi inilah yang perlahan meruntuhkan kemustahilan dan menghadirkan harapan baru bagi masa depan.[]

*) Mas Imam Nawawi, penulis pegiat literasi

Mushida Papua Barat Daya Gemakan Ketahanan Keluarga sebagai Fondasi Pembangunan Nasional

0

PAPUA BARAT DAYA (Hidayatullah.or.id) — Ketahanan keluarga adalah pondasi utama dalam membentuk masyarakat yang berakhlak dan memiliki daya saing di tengah dinamika pembangunan nasional. Demikian penegasan tersebut mengemuka dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) I Muslimat Hidayatullah Papua Barat Daya yang digelar di Teminabuan, Kabupaten Sorong Selatan, pada Jum’at, 13 Rajab 1447 (2/1/2026).

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat Daya, M. Sanusi, S.Pd.I., menegaskan bahwa forum ini momentum konsolidasi awal organisasi dalam memperkuat peran perempuan Muslim dari lingkup keluarga sebagai basis pembangunan peradaban.

Sanusi mengapresiasi tema Muswil I Mushida Papua Barat Daya tersebut yang mengangkat tajuk Meneguhkan Peran Muslimah dalam Membangun Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas 2045.

“Tema ini senafas dengan arah gerak organisasi yang memandang keluarga sebagai ruang strategis pembentukan karakter generasi bangsa,” kata Sanusi.

Sanusi mengatakan bahwa forum ini istimewa sebagai ajang musyawarah organisatoris dan juga ruang penguatan visi bersama mengenai peran Muslimah dalam pembangunan bangsa.

Melalui Muswil I tersebut, Sanusi berharap Muslimat Hidayatullah Papua Barat Daya semakin solid menjalankan perannya sebagai pilar ketahanan keluarga sekaligus bagian penting dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Sanusi menekankan bahwa penguatan ketahanan keluarga tidak dapat dilepaskan dari kesiapan sumber daya manusia, khususnya peran perempuan sebagai penggerak utama pendidikan di rumah. Ia menyampaikan bahwa masyarakat yang berakhlak dan berdaya saing tidak dibentuk secara instan di ruang publik, melainkan melalui proses panjang yang dimulai dari keluarga yang kokoh secara nilai dan spiritual.

Tri Konsolidasi

Lebih lanjut, menurut Sanusi, terdapat tiga konsolidasi utama yang perlu menjadi perhatian seluruh kader Muslimat Hidayatullah. Konsolidasi tersebut meliputi konsolidasi jati diri, konsolidasi organisasi, dan konsolidasi wawasan. Ketiganya dipandang saling terkait dan menjadi fondasi dalam menjalankan peran strategis Muslimah di tengah masyarakat.

Pada aspek konsolidasi jati diri, Sanusi menegaskan pentingnya membangun visi besar dalam diri setiap anggota. Ia menyampaikan bahwa cita-cita membangun peradaban Islam harus dimulai dari kesadaran personal akan peran masing-masing individu, terutama dalam keluarga.

“Peradaban Islam tidak lahir secara tiba-tiba di ruang publik, tetapi dibangun secara bertahap dari rumah tangga yang berlandaskan nilai-nilai Islam,” ujarnya.

Ia juga menekankan posisi ibu sebagai pendidik utama dalam keluarga. Dalam pandangannya, ketahanan keluarga sangat ditentukan oleh kualitas peran ibu dalam membimbing dan membentuk karakter anak.

“Ibu memiliki peran yang sangat fundamental sebagai pendidik utama. Sebagaimana ungkapan al-ummu madrasatul ula, ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya,” kata Sanusi, lantas menegaskan bahwa keluarga merupakan titik awal pembentukan masyarakat yang berintegritas dan berdaya saing.

Konsolidasi kedua yang disoroti adalah konsolidasi organisasi. Sanusi menilai bahwa kekuatan organisasi sangat ditentukan oleh pemahaman pengurus terhadap struktur, fungsi, dan nilai dasar yang menjadi rujukan gerak organisasi. Ia menekankan pentingnya menjadikan Pedoman Dasar Organisasi sebagai acuan utama dalam menjalankan amanah.

“Organisasi akan berjalan kuat apabila setiap pengurus memahami peran dan tanggung jawabnya, serta tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah,” tegasnya dalam forum tersebut.

Sementara itu, konsolidasi wawasan ditegaskan sebagai elemen ketiga yang tidak kalah penting. Sanusi mendorong seluruh anggota Muslimat Hidayatullah untuk terus meningkatkan kapasitas keilmuan dan tidak terjebak pada sikap pasif terhadap perubahan. Ia mengingatkan bahwa tantangan zaman menuntut Muslimah untuk memiliki wawasan luas agar mampu beradaptasi dan memberikan kontribusi nyata.

“Semangat belajar sepanjang hayat harus terus dijaga, sebagaimana pesan Rasulullah SAW, carilah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat,” tuturnya.

Pembukaan Muswil I ini turut dihadiri oleh Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren serta Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kabupaten Sorong Selatan. Selain itu, jajaran pengurus DPW Hidayatullah Papua Barat Daya, pengurus DPD Muslimat Hidayatullah se-Papua Barat Daya, pengurus majelis taklim, dan tokoh masyarakat setempat turut hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan secara tertib.

Pergantian Tahun Momentum Pererat Silaturahmi dan Teguhkan ‘Pela Gandong’ di Maluku

AMBON (Hidayatullah.or.id) — Momentum pergantian tahun dinilai sebagai ruang strategis untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat sinergi seluruh elemen masyarakat demi mewujudkan Maluku yang semakin kondusif, aman, dan penuh keberkahan.

Peneguhan nilai-nilai kearifan lokal, terutama pela gandong, kembali ditekankan sebagai fondasi sosial yang telah lama menjadi perekat kehidupan masyarakat Maluku. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Doa Bersama menyambut malam Tahun Baru 2026 yang digelar di Kota Ambon.

Kegiatan yang berlangsung khidmat pada Kamis malam, 11 Rajab 1447 (31/12/2025), tersebut diselenggarakan di Tribun Lapangan Letkol Pol (Purn) CHR Tahapary, kawasan Tantui. Acara ini diinisiasi oleh Kapolda Maluku sebagai bagian dari upaya memperkuat harmoni sosial dan menjaga stabilitas keamanan di wilayah Maluku menjelang pergantian tahun.

Dalam forum tersebut, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Maluku, Naharuddin, turut hadir memenuhi undangan. Kehadirannya merepresentasikan komitmen organisasi dalam mendukung hubungan beragama serta menjaga kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

Doa bersama ini dihadiri oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Maluku, unsur TNI dan Polri, tokoh-tokoh lintas agama, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan. Wakapolda Maluku Brigjen Pol. Imam Thobroni dan Danrem 151/Binaiya dari Kodam XV/Pattimura tampak hadir bersama unsur pimpinan daerah lainnya. Masyarakat setempat juga turut mengikuti kegiatan tersebut dengan tertib.

Di sela-sela kegiatan, Ketua DPW Hidayatullah Maluku menegaskan bahwa pergantian tahun seharusnya dimaknai lebih dari sekadar perayaan simbolik. Menurutnya, momen ini dapat menjadi sarana memperkuat relasi sosial dan membangun kesadaran kolektif akan pentingnya kebersamaan.

“Momentum pergantian tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan ajang untuk mempererat tali silaturahmi. Kita berdoa agar Maluku ke depan semakin kondusif, aman, dan penuh keberkahan melalui sinergi seluruh elemen masyarakat,” ujar Naharuddin.

Ia menyampaikan bahwa partisipasi Hidayatullah dalam forum lintas agama tersebut merupakan bentuk ikhtiar konkret untuk menumbuhkan semangat toleransi yang berkelanjutan. Harapannya, nilai-nilai saling menghormati dan kebersamaan tidak berhenti pada level elite, tetapi terus mengakar hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.

Sementara itu, dalam sambutannya, Kapolda Maluku Dadang Hartanto menjelaskan bahwa doa bersama lintas agama ini merupakan bagian integral dari rangkaian Operasi Lilin Salawaku 2025. Operasi tersebut digelar untuk memastikan keamanan dan ketertiban masyarakat selama perayaan Natal 2025 dan menyambut Tahun Baru 2026.

“Kita berkumpul malam ini untuk bersyukur sekaligus memohon perlindungan Tuhan Yang Maha Esa. Ini adalah buah dari sinergi, dedikasi seluruh petugas di lapangan, serta dukungan serta doa seluruh masyarakat,” ungkapnya di hadapan para undangan.

Kapolda juga menekankan bahwa stabilitas keamanan tidak dapat terwujud hanya melalui pendekatan struktural dan pengamanan aparat semata. Menurutnya, kekuatan sosial dan budaya masyarakat Maluku memiliki peran penting dalam menjaga kedamaian dan menyelesaikan persoalan secara bermartabat.

Kapolda menggarisbawahi pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal Maluku, khususnya pela gandong. Nilai ini dipandang sebagai warisan budaya yang mengajarkan persaudaraan lintas batas, baik agama, suku, maupun wilayah, dan telah terbukti menjadi perekat sosial dalam berbagai situasi.

Penekanan terhadap pela gandong dalam forum lintas agama ini menunjukkan bahwa pendekatan kultural tetap relevan dalam merawat harmoni sosial. Kearifan lokal tersebut tidak hanya berfungsi sebagai simbol tradisi, tetapi juga sebagai instrumen sosial yang hidup dan adaptif dalam menghadapi tantangan zaman.

Kegiatan doa bersama lintas agama di penghujung tahun ini sekaligus menjadi refleksi bersama atas perjalanan Maluku sepanjang 2025. Dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, agenda tersebut memperlihatkan upaya kolektif untuk menutup tahun dengan semangat persatuan dan membuka lembaran baru dengan harapan akan kehidupan sosial yang lebih damai.

Naharuddin menambahkan, silaturahmi yang terbangun dalam ruang-ruang kebersamaan semacam ini menjadi modal sosial penting bagi Maluku untuk melangkah ke masa depan yang lebih kondusif, aman, dan penuh keberkahan, dengan tetap berakar pada nilai-nilai luhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Musibah Datang Saat Tugas Negara, Rumah Ustadz Idham Terendam Banjir Bandang

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Saat banjir bandang melanda wilayah Aceh Tamiang pada akhir November hingga awal Desember, Ustadz Muhammad Idham tidak berada di rumah. Pada waktu musibah terjadi, ia sedang menjalankan tugas kedinasan di luar daerah.

Dalam kondisi darurat tersebut, istri dan anak-anaknya berupaya menyelamatkan diri dengan mengungsi ke salah satu balai dayah atau pesantren yang berlokasi tidak jauh dari kediaman mereka. Peristiwa ini menandai dampak personal yang dialami keluarga aparatur negara di tengah bencana alam yang melanda kawasan tersebut.

Ustadz Muhammad Idham merupakan alumni Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman Al Hakim (STAIL) Hidayatullah Surabaya dan saat ini berprofesi sebagai aparatur sipil negara di bawah naungan Kementerian Agama.

Ia bertugas di salah satu Kantor Urusan Agama tingkat kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang. Secara administratif, ia tercatat berdomisili di Dusun Bahagia, Desa Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, wilayah yang termasuk terdampak cukup parah oleh banjir bandang.

Menurut keterangan lapangan, air bah disertai lumpur memasuki rumah kediaman keluarga Ustadz Idham hingga memenuhi seluruh bagian bangunan. Kondisi tersebut menyebabkan tidak ada satu pun perabot rumah tangga yang dapat diselamatkan.

Selain peralatan sehari-hari, sejumlah dokumen penting turut rusak, termasuk ijazah, rapor pendidikan anak-anak, serta berbagai arsip keluarga. Koleksi buku-buku keagamaan dan kitab yang selama ini digunakan untuk menunjang aktivitas keilmuan juga ikut terendam dan tidak dapat diselamatkan.

Dampak banjir tidak hanya terbatas pada kerusakan rumah dan barang-barang pribadi. Sarana transportasi yang biasa digunakan Ustadz Idham untuk menunjang aktivitas kedinasan sebagai penyuluh agama Islam juga menjadi korban.

Sepeda motor yang selama ini menjadi alat mobilisasi ke kantor KUA ikut terendam banjir. Akibatnya, hingga beberapa waktu setelah kejadian, ia belum dapat kembali menjalankan tugas secara normal karena keterbatasan akses dan ketiadaan kendaraan.

Dalam situasi tersebut, dukungan kemanusiaan datang dari jaringan relawan. Beberapa hari setelah banjir, Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh melakukan kunjungan langsung ke lokasi tempat tinggal Ustadz Idham. Rombongan relawan dipimpin oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Aceh, Harun Rasyid, bersama perwakilan dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Aceh.

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bagian dari respon kemanusiaan terhadap warga yang terdampak banjir bandang. Lokasi kediaman Ustadz Idham termasuk salah satu kawasan dengan tingkat kerusakan cukup berat.

Dalam kesempatan itu, relawan menyalurkan bantuan berupa paket sembako. Bantuan tidak hanya diberikan kepada keluarga Ustadz Idham, tetapi juga kepada beberapa warga sekitar yang mengalami kondisi serupa.

Penyaluran bantuan tersebut dimaksudkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar keluarga terdampak dalam masa pemulihan awal pascabencana. Kehadiran relawan di lokasi juga menjadi sarana pendataan langsung atas kondisi warga, sekaligus bentuk kepedulian sosial terhadap sesama, khususnya di lingkungan yang terdampak secara signifikan.

Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang memberikan gambaran nyata mengenai kerentanan masyarakat terhadap bencana hidrometeorologi.

Harun mengatakan, keluarga Ustadz Idham menjadi salah satu contoh bagaimana musibah tidak hanya berdampak pada aspek material, tetapi juga mengganggu aktivitas pendidikan anak dan kewajiban kedinasan kepala keluarga. Kerusakan dokumen dan sarana kerja menambah tantangan dalam proses pemulihan pascabencana.

“Upaya solidaritas yang dilakukan tim gabungan ini sebagai upaya kecil dalam membantu warga terdampak. Bantuan logistik yang disalurkan diharapkan dapat menjadi penopang sementara hingga kondisi berangsur membaik,” kata Harun.

Hingga saat ini, proses pemulihan di wilayah terdampak masih berlangsung. Keluarga Ustadz Muhammad Idham bersama warga lainnya terus berupaya menata kembali kehidupan mereka pascabencana.

“Dukungan dari berbagai pihak menjadi faktor penting dalam membantu masyarakat melewati masa sulit, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan di tengah ujian alam yang terjadi,” tandas Harun yang meninjau langsung Dusun Bahagia, Aceh Tamiang.