JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Candra Kurnianto, menyatakan dukungan atas gerakan menolak kedatangan tim nasional (timnas) Israel yang akan berlaga pada Piala Dunia U-20 di Indonesia tahun 2023 mendatang.
Dukungan tersebut disampaikan Candra saat menerima kunjungan Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, dr Sarbini Abdul Murad, di kantor DPP Hidayatullah, Jakarta, Rabu, 5 Muharram 1444 (3/8/2022).
“Kami mendukung kegiatan MER-C menggagas perlawanan atas Israel dan merasa gembira menjadi bagian dari gerakan perlawanan itu,” kata Candra didampingi Ketua Departemen Hubungan Antar Bangsa DPP Hidayatullah, Dzikrullah.
Candra juga mengimbau agar MER-C mengajak juga ormas-ormas Islam yang tergabung dalam Majelis Ormas Islam (MOI) yang beranggotakan 13 ormas. Hidayatullah sendiri, kata Candra, selama ini ikut aktif di majelis tersebut.
Selain itu, bisa juga diajak ormas-ormas lainnya, serta semua elemen masyarakat. Misalnya, para suporter sepak bola di Tanah Air. Candra yakin, jika mereka diberi pemahaman yang benar tentang kekejaman Israel atas Palestina maka mereka juga akan mendukung gerakan ini.
Sebelumnya, MER-C telah menyatakan kepada publik tentang penolakan rencana kedatangan timnas Israel ke Indonesia. Alasannya, hal tersebut melanggar konstitusi Indonesia yang dengan tegas menentang segala bentuk penjajahan di muka bumi.
Menurut Sarbini, Kementerian Olahraga seharusnya mengevaluasi keputusan mereka mengizinkan kedatangan timnas Israel ke Indonesia, dan segera berkoordinasi kembali dengan Kementerian Luar Negeri dan Majelis Ulama Indonesia.
Sarbini menekankan Indonesia perlu mengambil inisiatif segera untuk menolak kedatangan tim nasional (timas) Israel yang akan berlaga pada Piala Dunia U-20 di Indonesia tahun 2023 mendatang.
“Kami mengajak ormas dan tokoh tokoh Islam untuk menolak kedatangan tim nasional Israel yang akan berlaga pada Piala Dunia U-20 di Indonesia tahun 2023,” katanya.
Dengan penolakan ini ia berharap masyarakat Indonesia menjadi tau dan terbuka wawasanya bahwa Indonesia tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel dan pemerintah telah menegaskan tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel sebelum Palestina merdeka.*/Ainuddin
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sesepuh Hidayatullah yang juga Walikota Balikpapan Periode 2001-2006 dan 2006-2011, H. Imdaad Hamid meninggal dunia. Imdaad Hamid wafat pada usia ke-78 tahun dalam perawatan di rumah sakit akibat sakit kronis.
Keluarga besar Hidayatullah menyampaikan belasungkawa dan duka cita yang mendalam atas meninggalnya tokoh Kaltim yang pernah menyumbangkan sebuah cincin berliannya berharga belasan juta ituuntuk mendukung dicetuskannya ide Sekolah Pemimpin Hidayatullah (SPH) di Balikpapan.
Ketua DPP Hidayatullah Ust Ir Abu A’la Abdullah mengatakan sosok Imdaad Hamid tak asing bagi Hidayatullah, sebab ia merupakan orang tidak saja dekat dengan almarhum Abdullah Said sang pendiri tetapi juga punya jasa besar dalam mendukung kiprah dakwah di bumi Benua Etam itu.
“Keluarga besar Hidayatullah berduka. Beliau tokoh yang juga walikota yang fenomenal karena jasa jasa mulianya untuk umat,” kata Abu A’la seraya mendoakan semoga Allah mengampuni segala dosa beliau dan menerima segala amal saleh dan amal jariyahnya.
“Hidayatullah sangat berterima kasih atas jasa-jasa beliau, mudah-mudahan kelak di akhirat Allah mempertemukan kita di surga,” lanjutnya.
Dikatakan dia, Imdaad Hamid dikenal karena kedekatannya dengan ulama, tekun dalam berislam, dan kepeduliannya yang tinggi pada pemasalahan umat khususnya di Balikpapan dimana ia pernah menjadi walikota selama 2 periode.
“Insya Allah amal jariyah dan amal sholeh beliau terus mengalir bersama-sama Hidayatullah hingga akhir zaman,” tandasnya.
Almarhum Imdaad berpulang sekitar pukul 00.30 Wita di rumah sakit di Jakarta saat dalam perawatan di RS akibat sakit kronis. Komplikasi yang telah lama diderita almarhum.
Balikpapan banyak mengalami perubahan semenjak dipimpin Imdaad. Pembangunan ibu kota Kalimantan Timur itu mengalami perkembangan yang cukup pesat.
Mantan Walikota Balikpapan, Rizal Effendi, dalam unggahan di laman pribadinya mengatakan jenazah almarhum akan disemayakamkan di rumah duka Jl Bhayangkara.
Selanjutnya ba’da Ashar almarhum disalatkan di Masjid Agung At Taqwa sebelum diberangkatkan ke pemakaman di Taman Makam Pahlawan Dharma Agung, Gunung Bakaran. Di situ juga tempat dimakamkan mantan wali kota sebelumnya, Tjutjup Suparna.*/Ain
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kiprah BMH di tengah musibah berupa wabah yang melanda Tanah Air sejak 2020 mendapat perhatian dan penghargaan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah.
Baru baru ini Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) diganjar penghargaan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) atas pelbagai kiprahnya dalam mengentaskan masalah dan memberikan perlindungan anak,
“Alhamdulillah hari ini 23 Juli 2022 BMH menerima Piagam Penghargaan dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atas kiprah BMH ikut memuliakan anak yatim, piatu dan yatim piatu dalam hal membantu mereka survive di tengah wabah Covid-19 selama ini,” terang Direktur Program dan Pemberdayaan BMH Pusat, Zainal Abidin pada kesempatan menerima penghargaan tersebut di Bogor, Jawa Barat.
Piagam penghargaan itu ditandatangani langsung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati.
Piagam itu bernomor 605/Men/HM.08/7/2022 dan diberikan kepada BMH atas upayanya di bidang perlindungan khusus anak bagi yatim, piatu dan yatim piatu korban Covid-19.
Pada 30 Agustus 2021 BMH sempat bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati mengunjungi dua anak yatim korban Covid di Jakarta dan Bekasi.
“Kala itu BMH bersama Ibu Menteri Bintang datang ke Naufal Fathin Razzaq (11) siswa SDN Cipinang 01 Jakarta Timur dan juga berkunjung ke Fiona Oktaviani Husen di Graha Mustika Media Blok L3 No. 20 Setu, Bekasi melihat kondisi mereka yang telah lama BMH bantu untuk tetap bsia sehat dan bisa sekolah secara online, termasuk untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” imbuh Zainal.
Hadirnya penghargaan kepada BMH dari pemerintah ini memberikan satu motivasi untuk dapat konsisten dan lebih baik lagi dalam membantu masyarakat, terutama anak bangsa yang harus meraih cita-cita mereka di masa mendatang, terkhusus anak-anak yatim, piatu dan yatim piatu di negeri ini.*/Herim
Al Hamdulillah was syukru lillah ‘ala ni’amillah, Idul Qurban sudah sekian kali kita lakukan. Sesuatu yang bersifat rutinitas seringkali kurang tertangkap esensinya/subtansinya.
Itulah sebabnya perlu dipersegar ulang esensi hari raya idul adha ini. Dengan harapan kita selalu menemukan hal-hal baru, pelajaran baru, dan hikmah baru dibalik peristiwa.
Hanyalah orang-orang yang cerdas kalbunya yang bisa memetik ibrah dibalik peristiwa. Sehingga, konsisten untuk mengagungkan asma Allah Subhanahu Wa Ta’ala..
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj 22:32)..
Qadarullah, idul adha 1443 H ini jatuh pada bulan Juli 2022. Sebulan lagi kita juga akan memperingati 77 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Sebuah usia mendekati ‘uzur. Usia yang sepatutnya menggambarkan kematangan struktur kepribadian. Setengah abad lebih duapuluh tahun.
Sebagai ungkapan rasa syukur dan istighfar serta muhasabah dalam memperingati hari raya Idul Qurban 1443 H pada pagi hari ini dan mengisi kemerdekan pada bulan Agustus besuk, kita ucapkan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah. Apa saja yang sudah kita lakukan untuk menggapai cita-cita, dan apa saja yang belum kita raih?
سُبحان الله والحَمد لله ولا اله الاّ الله والله اكبَر ولا حَول ولا قوَّة الاّ بالله العَليِّ العَظِيم
Maha suci Allah (tasbih). Betapa kotornya diri ini, seringkali tidak pandai memelihara anggota tubuh dari perbuatan keji dan mungkar. Kita kurang trampil mengelola telinga untuk mendengarkan firman- Nya. Mengelola mata untuk menyaksikan ayat tanziliyah dan ayat kauniyah. Mengendalikan mulut dari perkataan sia-sia, terutama di era digital sekarang. Mengelola tangan untuk berinfaq, jari-jari untuk bertasbih. Mengelola kaki untuk melangkah ke rumah Allah. Mengelola hati memaksimalkan akal sehat dan mujahadah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi taujih kepada kita dalam firman-Nya :
“Katakanlah (Muhammad), “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang (kepada mereka) tanda-tanda kekuasaan (Kami), tetapi mereka tetap berpaling.” (QS. Al-An’am 6 : 46)..
Segala puja dan puji hanya milik Allah Swt (tahmid). Betapa sering kita tidak pandai bersyukur atas nikmat yang diberikan kepada kita. Baik nikmat lahir dan batin. Kita kadangkala memandang orang terdekat kita sebagai rivalitas (pesaing) kita, bukan dilihat sebagai anugerah yang disyukuri.
مَنْ لَمْ يَشْكُر النّاسَ لَمْ يشْكُرِ الله
Barangsiapa yang tidak mensyukuri manusia (makhluk) sama dengan tidak mensyukuri Penciptanya (Allah Al Khaliq).
Tiada Tuhan selain Allah (tahlil).
Semoga dengan memperbanyak melantunkan tahlil, semakin kuat keimanan kita dan mendorong untuk beramal shalih.
Allahu akbar (takbir).
Betapa kecil diri kita, harta kita, kewenangan kita, pengaruh kita, ilmu pengetahuan kita. Bumi dibandingkan dengan ‘Arsy Allah bagaikan kelerang di tanah lapang. Dan kita berada di kelereng tersebut. Betapa kecilnya kita dihadapan kebesaran Allah Swt.
La haula wa laa quwwata illa billah (hauqalah). Tiada daya dan kekuatan yang kita miliki kecuali disupport dari kekuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita adalah faqir, miskin, dan dhoif. Allah Swt memiliki segala sifat kesempurnaan, sedangkan kita tempat salah dan lupa.
Sementara itu kita dibebani tugas yang tidak mudah dan tidak sederhana.
Pertama : Sebagai ‘abdullah untuk menomor satukan Allah Swt.
Kedua : Menjadi mandataris Allah untuk ‘imaratul ardh (membangun dan memakmurkan bumi). Utamanya bumi pertiwi yang kita diami secara turun-temurun.
Agar anak cucu kita nanti at-home di tanah tumpah darah kita, kita tidak berhenti untuk membangun di segala bidang. Untuk meninggalkan warisan yang terbaik kepada generasi pelanjut kita. Yaitu, mewariskan nilai-nilai tauhid dan prestasi (amal shalih).
Ingatlah, jika kalian tidak sanggup membangun dan memperbaiki, jangan merusak. Karena membangun diatas puing-puing kerusakan memerlukan cost (biaya) yang mahal.
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas 28: Ayat 77)
Membangun sesuatu itu tidak mudah dan tidak sederhana. Membangun itu memerlukan proses yang konstan (jangka panjang). Tidak dengan cara instan. Membangun tidak seperti membalik telapak tangan. Bim salabim, langsung jadi. Itulah sunnatullah fil kaun (hukum alam yang berlaku di jagat raya).
Dalam membangun itu juga harus lebih utuh, seimbang. Jangan mudah terpedaya dengan paham diluar islam. Yang selalu berpikir dikotomis dan kontradiktif. Jasmani di satu sisi, ruhani pada sisi yang berbeda. Bangunan pisiknya mentereng, ruhani penduduknya keropos. Seperti kata pujangga Arab berikut :
Kapan bangunan bisa sempurna,
bila kalian membangun, sedangkan selainmu merobohkan ?
Jika ada seribu pembangun satu merobohkan, cukuplah sudah, bagaimana jadinya jika satu membangun seribu yang meruntuhkan ?
Pada peristiwa Uhud yang dipimpin langsung oleh Qoidul Mujahidin, Imamul Muttaqin, pertolongan Allah tidak jadi diturunkan karena pasukan tidak solid dan tidak disiplin. Ada sebagian yang menginginkan akhirat dan ada pula yang memburu dunia. Satu niatnya suci, yang lain motivasinya kotor.
“Dan sungguh, Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mengabaikan perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada (pula) orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu, tetapi Dia benar-benar telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang diberikan) kepada orang-orang mukmin.” (QS. Ali ‘Imran 3:152)..
Oleh karena itu, pendiri negeri kita telah meletakkan rambu-rambu, memberi arah pembangunan ke depan. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Mendahulukan mental sebelum pisik. Mensinergikan antara imtak dan iptek. Keduanya tidak perlu dipertetangkan. Manusia tanpa ruh, mayat berjalan. Manusia tanpa jasad yang sehat, jin kuntilanak, dhemit, dan makhluk halus lainnya di alam sana.
Muncul dan tenggelam, maju dan mundurnya sebuah peradaban tidak instan (ujug-ujug). Oleh karena itu, jangan menjadi manusia instan. Ingin sukses enggan bersulit-bersulit. Ingin panen tidak mau menanam. Ingin meraih cita-cita tidak mau memburunya. Ingin menduduki kursi dengan jalan pintas. Ingin berkuasa dengan menghalalkan segala cara. Demikianlah karakteristik insan digital. Seseorang dibentuk oleh lingkungan sosialnya (nahnu ibnul biah).
Apa yang dirasakan oleh generasi pelanjut – maju dan mundur – merupakan akumulasi (tumpukan) kontribusi positif dan destruktif pendahulunya.
Sungguh, eksistensi sebuah negeri berbanding lurus dengan kualitas moral penduduknya, jika minus moralnya negeri tersebut akan hilang bersama waktu.
Sesungguhnya kemajuan yang dialami bangsa ini merupakan akumulasi kontribusi pendahulu kita pada masa yang silam. Oleh karena itu jangan menyederhanakan kebaikan sekalipun hanya berupa senyum. Karena, mentransfer aura positif kepada lingkungan sosial..
Janganlah sekali-kali engkau remehkan kebaikan sedikitpun sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri (steril dari serakah, hasud dan sombong)..
Demikian pula kehancuran, kehinaan, ketertinggalan suatu peradaban tidak terjadi sekaligus. Tetapi melalui proses yang panjang. Sebagaimana kebaikan yang terakumulasi dalam kurun tertentu dan melahirkan kemajuan peradaban, akumulasi keburukan (destruktif) juga akan menggiring kepada sebuah kepunahan peradaban.
Oleh karena itu, jangan mendekati perbuatan zina, jangan mendekati harta anak yatim, jangan mendekati tindakan keji baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, demikianlah taujih Rabbani dalam al Quran. Kebaikan itu mengajak saudara-saudaranya, demikian pula kejahatan itu beranak-pinak..
Penyakit yang menimpa kita juga tidak datang secara tiba-tiba, tetapi efek dari pola makan, pola hidup, pola pikir yang kita terapkan dalam jangka waktu yang panjang. Maka, perbaiki pola makan, pola hidup, pola pikir. Jangan kebanyakan pola (tingkah) !..
Pendiri negeri ini kita ketika membangun pondasi Indonesia memunculkan rumusan istilah yang menggambarkan visi besar yang ingin diraihnya. Yaitu baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik dan mendapatkan ampunan dari yang Maha Pengampun). Istilah tersebut diserap dari Surat Saba (34). Nama sebuah negeri yang makmur dan sejahtera, dipimpin oleh seorang ratu yang sangat adil bernama Bilqis.
Dalam hadits Farwah bin Musaik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh seorang laki-laki, “Ya Rasulullah, kabarkanlah kepadaku tentang Saba’ ? Apakah Saba’ itu ? Apakah ia adalah nama sebuah tempat ataukah nama dari seorang wanita ?” Beliau pun menjawab,
“Dia bukanlah nama suatu tempat dan bukan pula nama wanita, tetapi ia adalah seorang laki-laki yang memiliki sepeluh orang anak dari bangsa Arab. Enam orang dari anak-anaknya menempati wilayah Yaman dan empat orang menempati wilayah Syam.” (HR. Abu Dawud, no. 3988 dan Tirmidzi, no. 3222).
Dalam riwayat Ibnu Abbas ra. terdapat tambahan :
انّ رجلاً سَاَل رسولَ الله صلى الله عليه وسلّم عَن سباٍ ماهو
اَرَجلٌ ام امراةٌ ام ارضٌ فقال : بل هو رجلٌ ولد عشَرةً فسكن اليمن منهم ستّة وبالشام منهم اربعةٌ فامّا اليمانيّون فمَذْحِج والكِنْد والاَزْد والْاَشْعَريّون واَنمارٌ وحِمْيَرُ عَربًا كلّها وَاَمّا الشّامِيةُ فلخمٌ وجُذام وعامِلة وَغَسَّان
Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Saba, apakah itu ? apakah dia laki-laki atau perempuan atau bumi (nama negeri) ?. Beliau pun bersabda : Bahkan dia itu seorang laki-laki yang memiliki sepuluh anak, enam orang diantaranya tinggal di Yaman, dan empat lainnya tinggal di Syam. Mereka yang tinggal di Yaman adalah Madzhij, Kindah, Al Azd, Al-Asy’ariyyin, Anmar dan Himyar, semuanya bangsa Arab. Adapun mereka yang berada di Syam adalah Lakhm, Judzam, ‘Amilah dan Ghassan (HR. Ahmad, no. 2898).
Secara garis besar wilayah Jazirah Arab dibagi menjadi dua bagian, bagian Utara dan bagian Selatan. Arab bagian Selatan lebih maju dibandingkan Arab bagian Utara. Masyarakat Arab bagian Selatan adalah masyarakat yang dinamis dan memiliki peradaban, mereka telah mengenal kontak dengan dunia internasional karena pelabuhan mereka terbuka bagi pedagang-pedagang asing yang hendak berniaga ke sana. Sementara orang-orang Arab Utara adalah mereka yang terbiasa dengan kerasnya kehidupan padang pasir, mereka kaku dan lugu karena kurangnya kontak dengan dunia luar. Tentu saja geografi kerajaan Saba’ sangat mempengaruhi bagi kemajuan peradaban mereka.
Kerajaan Saba’ memiliki bala tentara yang kuat. Hal itu bisa pahami dari perbincangan petinggi negeri untuk membalas kiriman surat dari Nabi Sulaiman yang diantarkan burung Hud-Hud.
“Mereka menjawab, “Kita memiliki kekuatan dan keberanian yang luar biasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan.”” (QS. An-Naml 27: Ayat 33)..
Juga dikenal dengan hasil alamnya yang melimpah, orang-orang pun banyak berhijrah dan bermitra dengan mereka. Perekonomian mereka begitu menggeliat hidup dan sangat dinamis.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang kemakmuran kaum Saba’ dalam firman-Nya..
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun, di sebelah kanan dan di sebelah kiri.” (QS. Saba’: 15)
Kedua kebun tersebut sangat luas dan diapit oleh dua gunung di wilayah Ma’rib. Tanahnya pun sangat subur, menghasilkan berbagai macam buah dan sayuran.
Qatadah dan Abdurrahman bin Zaid rahimahumallah mengisahkan, apabila ada seseorang yang masuk ke dalam kebun tersebut dengan membawa keranjang di atas kepalanya, ketika keluar dari kebun itu keranjang tersebut akan penuh dengan buah-buahan tanpa harus memetik buah tersebut. Abdurrahman bin Zaid menambahkan, di sana tidak ditemukan nyamuk, lalat, serangga, kalajengking, dan ular (Tafsir ath-Thabari, 20: 376-377).
Menurut al-Qusyairi, penyebutan dua kebun tersebut tidak berarti bahwa di Saba’ kala itu hanya terdapat dua kebun itu saja, tapi maksud dari dua kebun itu adalah kebun-kebun yang berada di sebelah kanan dan kiri lembah atau di antara gunung tersebut. Kebun-kebun di Ma’rib saat itu sangat banyak dan memiliki tanaman yang bervariasi (Fathul Qadir, 4: 422).
Yang membuat tanah di Ma’rib menjadi subur adalah pusaka nenek moyang mereka berupa bendungan monumental Ma’rib atau juga dikenal dengan nama bendungan ‘Arim, bendungan yang panjangnya 620m, lebar 60m, dan tinggi 16m ini mendistribusikan airnya ke ladang-ladang penduduk dan juga menjadi sumber air di wilayah Ma’rib.
Dalam buku-buku tafsir mencatumkan nama Ratu Bilqis sebagai pemrakarsa dibangunnya bendungan ini. Ratu Bilqis berinisiatif mendirikan bendungan tersebut lantaran terjadi perebutan sumber air di antara rakyatnya yang mengakibatkan mereka saling bertikai bahkan saling membunuh.
Dengan dibangunnya bendungan ini, orang-orang Saba’ tidak perlu lagi khawatir akan kehabisan air dan memperebutkan sumber air, karena bendungan tersebut sudah menjamin kebutuhan air mereka, mengairi kebun-kebun dan memberi minum ternak mereka.
Faktor Kehancuran Negeri Saba’
Sebelum Ratu Bilqis masuk Islam, kaum Saba’ menyembah matahari dan bintang-bintang. Setelah ia memeluk Islam, maka kaumnya pun berbondong-bondong memeluk agama Islam yang didakwahkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.
Sampai kurun waktu tertentu, kaum Saba’ tetap mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun dengan bergulirnya waktu, mereka kembali ke agama nenek moyang mereka, menyembah matahari dan bintang-bintang. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus tiga belas orang rasul kepada mereka (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 507), akan tetapi mereka tetap tidak mau kembali ke agama monotheisme, mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apa pun. Allah pun mencabut kenikmatan yang telah Dia anugerahkan kepada mereka,
“Tetapi mereka berpaling, maka kami datangkan kepada mereka banjir al-‘arim.” (QS. Saba’: 16)..
Penyebab kehancuran bendungan tersebut tentu saja adalah takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akibat dari penduduk Saba’ yang kufur akan nikmat Allah terhadap mereka. Namun, Allah menciptakan suatu perantara yang bisa diterima oleh logika manusia agar manusia lebih mudah untuk merenungi dan mengambil pelajaran.
Di dalam buku-buku tafsir disebutkan, seekor tikus yang lebih besar dari kucing sebagai penyebab runtuhnya bendungan Ma’rib. Subhanallah ! Betapa mudahnya Allah menghancurkan bendungan tersebut, meskipun dengan seekor makhluk kecil yang dianggap eremah, tikus.
Sebab lain yang disebutkan oleh sejarawan adalah terjadinya perang saudara di kalangan rakyat Saba’ sementara bendungan mereka butuh pemugaran karena dirusak oleh musuh-musuh mereka (at-Tahrir wa at-Tanwir, 22 : 169), perang saudara tersebut mengalihkan mereka dari memperbaiki bendungan Ma’rib. Allahu a’lam mana yang lebih benar mengenai berita-berita tersebut.
Bendungan ini hancur sekitar tahun 542 M. Setelah itu, mereka hidup dalam kesulitan, tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh subur di tanah mereka tidak lagi menghasilkan buah seperti sebelum-sebelumnya dan Yaman saat ini termasuk salah satu negeri termiskin dan terkering di Jazirah Arab.
“Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Asl dan sedikit pohon Sidr. (QS. Saba’ 34 : 16)..
“Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS. Saba’ 34 : 17)..
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. An-Nahl: 112 – 113).
Kalau kita renungkan kisah kaum Saba’ dengan perenungan yang mendalam, tentu saja kita menemukan suatu ibrah kengerian, bagaimana sebuah negeri yang teramat sangat subur, lalu menjadi negeri yang kering dan tandus. Allah mengabadikan kisah kaum Saba’ ini di dalam Alquran dan memberi nama surat yang memuat kisah mereka dengan surat Saba’. Hal ini tentu saja dimaksudkan agar manusia senantiasa mengingat-ingat apa yang terjadi kepada kaum ini.
Demikian pula negeri kita, Indonesia, yang disebut sebagai jamrud katulistiwa, tongkat yang dibuang ke tanah akan menjadi pohon, sebagai gambaran kesuburannya, namudzajiyyah fil jannah (market surga), qith’atun minal firdausi fil ardhi (sepenggal surga firdaus di bumi), meminjam istilah pujangga Arab, hendaknya menjadi bahan tafakkur dan muhasabah secara radikal peristiwa sejarah pada kaum Saba’ agar kita tidak mengulang kisah perjalanan mereka.
Perhatikan lantunan lagu berikut :
Kolam Susu
Bukan lautan hanya kolam susu Kail dan jala cukup menghidupimu Tiada badai tiada topan kau temui Ikan dan udang menghampiri dirimu Orang bilang tanah kita tanah surga Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Penduduk Saba bosa dengan makanan yang siap sedia dan alam yang subur seperti bosannya Bani Israil dengan makanan manna dan salwa di Padang Tih. Bangsa saba mengungkapkan kebosanannya seperti pada ayat berikut..
“Maka mereka berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami,” dan (berarti mereka) menzalimi diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka bahan pembicaraan dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.”(QS. Saba’ 34: Ayat 19)
Sehingga buah bibir bangsa Arab ketika melukiskan kehancuran negeri setelah mencapai kemakmurannya dengan ungkapan yang masyhur :
تَفَرَّقُوا بِاَيْدِي سَبَاٍ
Mereka bercerai- berai, porak-poranda bagaikan tangan-tangan (jahil) penduduk Saba.
Tergantung kita, apakah negeri kita ini kita jadikan taman yang indah sejauh mata memandang atau hutan rimba. Hukum rimba, yang kuat memangsa yang lemah, yang pintar membodohi yang bodoh, yang kuat menindas yang miskin. Kezaliman menggurita, keadilan tersudut, terpojok, dan termarginalkan.
Marilah kita resapi taujih nabawi berikut, dalam salah satu sabdanya, sebagai bekal untuk menata ulang negeri kita.
Maka datanglah iblis dengan lima macam bendera: Bendera hasad ditanamkannya disamping ilmu para ulama. Bendera kezaliman dipancangkannya di sebelah keadilan para pemimpin. Bendera riya dikibarkannya di sebelah ibadah para ahli ibadah. Bendera khianat disisipkannya di sebelah amanah pebisnis. Dan bendera ingkar dipasangkannya di sebelah ketundukan kaum profesional.
Ust Sholeh Hasyim (Disadur dari naskah Idul Adha 1443 Hijriyah)
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah membekali mahasiswa/ mahasiswi calon wisudawan sarjana Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan dengan ilmu hukum dan paralegal. Kegiatan ini didukung BMH dan sejumlah lembaga lainnya.
Pembekalan dilakukan selama 2 hari dalam rangkaian kegiatan Pembekalan dan Penugasan Calon Alumni STIS Hidayatullah bertajuk ““Internalisasi Manhaj Sistematika Wahyu Bagi Kader Alumni STIS Hidayatullah” yang digelar di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, Kaltim, Jum’at – Sabtu, 30 Dzulhijjah 1443 – 1 Muharram 1444 (29-30/7/2022).
Hadir sebagai pembicara advokat yang juga Direktur LBH Hidayatullah Pusat Dr Dudung A. Abdulllah yang dibersamai Wakil Direktur Bidang Non Litigasi LBH Hidayatullah Pusat, Hidayatullah, SHI, MAg.
Dihadapan peserta sebanyak 28 orang mahasiswa dan 30 mahasiswi, Dudung menyampaikan pengantar dasar ilmu hukum dan paralegal.
“Pelatihan ini diberikan untuk memberikan bekal skill paralegal, sehingga diharapkan para alumni STIS Hidayatullah bisa mendampingi umat saat ada jamaah atau masyarakat yang sedang berhadapan dengan hukum,” kata Dudung.
Kegiatan pelatihan ini juga membekali agar mahasiswa yang akan segera diterjunkan ke tengah-tengah masyarakat cerdas dan sadar hukum.
Materi yang diberikan dalam pelatihan paralegal ini selain wawasan seputar dunia hukum, juga diberikan materi dasar hukum pidana dan perdata, kiat membuat kronologis kasus, surat kuasa, somasi, laporan polisi, sikap dalam menghadapi kasus hukum, dan sebagainya.
Dalam penutupan pelatihan Paralegal ini setiap peserta yang dinyatakan lulus langsung dilantik menjadi seorang paralegal dengan disumpah dan mendapat kartu anggota Paralegal.
Ketua panitia pelaksana Pembekalan dan Penugasan Calon Alumni STIS Hidayatullah, Pajrin B, S.H, mengatakan Hidayatullah memiliki tradisi sejak awal berdirinya yang tak pernah lepas setiap saat melahirkan dan mengirimkan kader-kader dari berbagai unit dan lembaga.
“Dengan berbagai kompleksitas dan dinamika kehidupan di masyarakat, calon sarjana yang akan ditugaskan perlu mendapatkan wawasan pentingnya kecakapan sosial dan urgensi ketahanan diri sehingga mampu berkontribusi secara nyata dan simultan di tengah masyarakat,” katanya.
Dia menambahkan, dengan adanya program pembekalan ini akan semakin memperkuat dan memperdalam pemahaman calon dai sarjana tentang nilai organisasi dan jati diri serta menambah wawasan keindonesiaan dan pemahaman akan posisi sebagai kader Hidayatullah serta memahami kondisi tempat bertugas.
“Kami berharap, dengan hadirnya dai sarjana yang mumpuni di tengah masyarakat, hal ini semakin meneguhkan komitmen STIS Hidayatullah menjadi perguruan tinggi yang melahirkan sarjana kompetitif dan berdaya saing,” tandas Pajrin.*/Ain
JEPARA (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah KH Sholih Hasyim mengatakan Islam merupakan ajaran sempurna dan paripurna, tinggi dan tak ada yang menandingi, yang menawarkan keselamatan, kemuliaan, kesejahteraan, dan kemajuan peradaban.
Hal itu ia sampaikan seraya menukil salah satu hadits yang menekankan kepada umat manusia untuk menyebarkan salam, memberi makan, menjaga silaturrahim, dan mendirikan shalat malam dikala orang-orang tidur lelap.
Dari ‘Abdullah bin Salâm, ia berkata: “Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, orang-orang segera pergi menuju beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (karena ingin melihatnya). Ada yang mengatakan: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah datang, lalu aku mendatanginya ditengah kerumunan banyak orang untuk melihatnya. Ketika aku melihat wajah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , aku mengetahui bahwa wajahnya bukanlah wajah pembohong. Dan yang pertama kali beliau ucapkan adalah, ‘Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk Surga dengan sejahtera.”
Menurut Sholeh, hadits hasan shahih yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi ini mengandung pesan penegakan peradaban Islam yang dengan anggun mengajak segenap umat manusia agar beriman pada Allah SWT, menjaga perdamaian dan mengentaskan kemiskinan.
“Mari senantiasa beramal shaleh, sebagaimana dalam satu kesempatan, Rasulullah SAW memberikan empat tips untuk selalu diamalkan untuk tegaknya peradaban Islam,” katanya.
Ia lantas menegaskan empat hal tersebut dalam taushiahnya pada kesempatan peletakan batu pertama pembangunan asrama santri Pondok Pesantren Tahfidz Makam Maliki Jepara, Jawa Tengah, Sabtu, 1 Muharram 1444 (30/7/22).
“Mari selalu menebarkan salam, menjaga silaturahim, memberi makan pada mereka yang membutuhkan dan bangun di sepertiga malam untuk shalat lail,” ujar beliau mengingatkan.
Ia menjelaskan, dengan reaktualisasi nilai nilai ajaran Islam tersebut maka peradaban Islam mewujud sebagai solusi atas berbagai masalah yang dihadapi saat ini seperti problem resesi ekonomi dan kerentanan ketahanan pangan yang jadi isu utama dunia akhir-akhir ini.
“Spirit peradaban Islam bisa menjadi solusi atas berbagai masalah resesi ekonomi dan kerentanan ketahanan pangan yang dihadapi dunia saat ini,” katanya.
Dia menukaskan, dengan nilai mulia untuk menyebarkan keselamatan, rahmah, keberkahan (afsus salaam), mengentaskan masalah kelaparan dan kemiskinan dunia (it’amuth tha’am), menjaga hubungan baik antar sesama di kawasan (wasiilul arham), dan membesarkan Allah SWT semata dalam setiap masalah, maka kita telah menegakkan peradaban Islam.
“Mari selalu beramal shaleh,” tandasnya.
Tepat awal tahun baru Islam 1444 H, Pondok Pesantren Tahfidz Quran Hakam Maliki Jepara memulai proses awal peletakan batu pertama pembangunan asrama santri yang lebih representatif.
“Saat ini rumah yang diwakafkan sudah tidak mampu menampung banyaknya santriwati yang ingin mondok,” kata pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Makam Maliki Jepara, Ustadz Taufan Al-Hafidz.
Pada kesempatan tersebut, Ust Taufan menyampaikan terimakasih kepada semua pihak atas dukungannya selama ini, seperti Ibu Sundari dan keluarga, YBM PLN, BMH, dan para donatur.
Hadir dalam kesempatan ini diantaranya, Lurah Welahan, Ibu Sundari dan Keluarga, Babinsa Welahan, Ketua Perwakilan BMH Jawa Tengah dan para tamu undangan. Diakhir acara, diadakan pembagian bingkisan kepada 20 anak yatim.*/Yusran Yauma
SEBAGIAN orang bertanya-tanya, mengapa semakin banyak orang pandai dan lulus pendidikan tinggi, namun kejahatan semakin “semarak” dan bahkan jauh lebih canggih?
Dulu, orang hanya mencuri perabotan elektronik atau perhiasan dengan mencongkel pintu dan melobangi dinding, namun sekarang orang bisa mencuri jutaan rupiah milik orang lain hanya dengan melalui jaringan ATM atau internet. Bagaimana bisa? Ya, karena pencurinya sangat menguasai teknologi informasi. Jelas, pelakunya sangat terdidik dan terlatih.
Mengapa pendidikan yang bertujuan membuat manusia semakin beradab justru memperlebar jalan bagi kejahatan?
Dalam pembukaan kitab Ta’limul Muta’allim, Syekh Zarnuji merasakan kegelisahan yang sama, dan menulis: “…saya melihat sebagian besar pelajar di zaman kita bersungguh-sungguh (mencari) ilmu namun tidak bisa sampai atau terhalang dari manfaat serta buahnya, yaitu beramal dengannya dan menyebarkannya. Sebab, mereka salah menempuh jalannya dan meninggalkan syarat-syaratnya. (Padahal), setiap orang yang salah mengambil jalan pastilah akan tersesat dan tidak bisa sampai ke tujuannya, baik sedikit maupun banyak….”
Abu al-Hasan al-Mawardi juga dalam Tashilu an-Nazhr wa Ta’jilu azh-Zhufr fi Akhlaqi al-Malik berkata, “Setiap orang yang belajar dari orang lain, selama dia tidak memelihara adab dalam dirinya, maka segala yang telah ia dapatkan dari (guru)nya itu akan berhamburan dan ia akan kembali kepada tabiatnya yang semula.”
Artinya, tanpa adab, pendidikan akan sia-sia. Apa yang ditanamkan dengan susah payah selama pendidikan, akan berhamburan kembali, begitu ia diwisuda dari Almamaternya dan memegang ijazah.
Mari kita buat perumpamaan. Jika Anda ingin membuat makanan tertentu, dan telah menyiapkan seluruh bahan maupun peralatan yang diperlukan, apa lagikah yang harus Anda pastikan agar makanan yang Anda inginkan bisa jadi dengan pas dan lezat?
Ya benar, Anda harus mengikuti resep pembuatannya secara tepat, seperti bagaimana menyiapkan bahan dasarnya, seberapa banyak air, gula atau garam yang ditambahkan, dan lain sebagainya, sampai tahap terakhirnya: digoreng, dikukus, dipanggang, atau dibakar.
Jadi, masalah terbesarnya adalah: sejak semula mereka telah keliru memilih jalan dalam mencari ilmu, atau tidak memperhatikan syarat-syaratnya.
Dalam konsep pendidikan Islam, jalan dan syarat itu terangkum dalam adab. Apakah adab itu?
Menurut Syarif ‘Ali al-Jurjani dalam kitab at-Ta’rifat, adab adalah pengetahuan tentang segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menjaga diri dari kesalahan. Maka, orang yang tidak mengenal adab sangat rawan terjerumus dalam kesalahan-kesalahan.
Islam menggariskan banyak adab kepada pemeluknya. Ada adab kepada Allah, seperti mengakui dan bersyukur atas segala nikmat nikmat-Nya. Ketika ini dilanggar, maka pelakunya terjerumus dalam kufur ni’mat.
Allah berfirman, “Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Qs. Ibrahim: 7).
Ada lagi adab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti mencintai dan menghormatinya. Lalu, ada adab kepada kedua orang tua, guru, ulama’, saudara, karib kerabat, teman sejawat, tetangga, tamu, pemimpin, dan masih banyak lagi.
Masing-masing adab memiliki fungsi dan peran tersendiri, dalam rangka menata hati dan membersihkan jiwa. Selanjutnya, bila hati dan jiwa telah siap, maka hidayah Allah akan tumbuh subur di dalamnya, bagaikan tanah yang telah ditata dan dibersihkan, lalu ditaburi benih yang tepat.
Sebaliknya, ketika adab diabaikan, maka cepat atau lambat seseorang akan memanen hasilnya. Tentu saja, bukan panen yang baik.
Imam ‘Abdullah bin Mubarak berkata, “Siapa saja yang meremehkan adab, ia dihukum dengan terhalang dari amalan-amalan sunnah; siapa saja yang meremehkan amalan-amalan sunnah, ia dihukum dengan terhalang dari amalan-amalan fardhu; dan siapa saja yang meremehkan amalan-amalan fardhu, ia dihukum dengan terhaladang dari ma’rifat (mengenal Allah).” (dari: Ahadits fi Dzammil Kalam wa Ahlihi).
Orang yang tidak mengenal Allah tidak akan takut kepada Allah. Dan, jika ia tidak takut kepada Allah, maka ia tidak akan segan melakukan aneka kejahatan dan kezhaliman. Semua bisa diterjangnya dengan ringan dan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Anda pasti bisa membayangkannya dalam film-film mafia, dimana puluhan orang dibantai dengan senapan mesin dengan tatapan dingin tanpa rasa iba sedikit pun. Disana Anda juga sangat tahu, kejahatan itu di-menej sangat rapi dan tangguh. Tentu, dengan memanfaatkan hasil-hasil pendidikan dan teknologi.
Sekarang, di negeri ini, kejahatan telah tumbuh bagai mafia. Terorganisir sangat rapi, tangguh dan menggurita. Bahkan, tidak lagi sebagai kejahatan tersembunyi, namun telah diakui sebagai fakta. Bukankah pemerintah pun telah membentuk Satgas Mafia Pajak, sebagai misal?
Tampaknya, kegelisahan Syekh Zarnuji, ratusan tahun lalu, kini semakin relevan. Jika para pelajar tekun mencari ilmu, namun tidak mengindahkan adab, maka dalam waktu singkat mereka akan terjerumus dalam banyak kesalahan-kesalahan. Atau, setelah lulus, semua hasil pendidikannya akan musnah.
Dan, tentu saja, yang paling membahayakan adalah: jika mereka menjadi semakin pandai, namun tumbuh tanpa mengenal Tuhannya samasekali. Mereka akan berotak sangat encer, namun tidak bermoral. Bayangkanlah apa yang akan dilakukan generasi semacam ini.
Jika kepada Tuhan saja tidak takut, apalagi polisi, jaksa, hakim, dan manusia-manusia yang – sebagian dari mereka – terbukti bisa disuap dan dibeli dengan sejumlah materi? Wallahu a’lam.
BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Menandai awal tahun baru Islam pada 1 Muharram 1444 H yang bertepatan dengan 30 Juli 2022, Laznas BMH hadirkan program beasiswa senilai Rp. 165 juta untuk 565 santri hingga mahasiswa di 12 titk lokasi pesantren yang ada di Bengkulu.
“Alhamdulillah momentum tahun baru Islam ke 1444 H, BMH berikan Rp. 165 juta beasiswa untuk 565 santri yang tersebar di 12 pesantren,” terang Kepala BMH Perwakilan Bengkulu, M. Irwan, dalam keterangannya.
Dua belas pesantren itu tersebar di beberapa kabupaten, seperti Bengkulu Selatan, Kabupaten Kaur, Kabupaten Lebong, Bengkulu Tengah, Kota Bengkulu, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Mukomuko, dan Kabupaten Seluma.
Program ini membahagiakan para pengasuh dan santri. Ustadz Martoni misalnya sangat bersyukur dengan adanya program beasiswa ini.
Kemudian Ananda Bayu, salah seorang santri penerima beasiswa juga sangat bahagia dan mendoakan para donatur.
“Saya sangat senang dan semoga para donatur Allah berikan rezeki yang berkah dan melimpah,” ucapnya.
Khusus para santri yatim dhuafa di Pesantren Hidayatullah Seluma di Jalan Raya Istana Perkembangan, Kecamatan Rimbo Kedoi, BMH juga tambahkan program santunan untuk santri.
“Khusus Seluma tim BMH hadirkan program tambahan berupa santunan untuk santri yatim dan dhuafa kepada sebanyak 45 santri. Semoga semangat mereka belajar lebih giat dan kelak menjadi generasi cerdas dan berdaya,” tutup Irwan.*/Herim
NIAS (Hidayatullah.or.id) – Pesantren hingga kini masih merupakan wadah yang sangat baik untuk mendidik generasi bangsa. Pendidikan agama bagi mereka merupakan sebuah keharusan.
Begitulah satu dari sekian fungsi pesantren, terutama yang berada di desa atau pedalaman. Sehingga keberadaannya sangat penting untuk mendapat dukungan. Namun tak sedikit problem yang di hadapi pesantren untuk dapat menjalankan fungsinya.
Begitupun Pesantren Hidayatullah Nias yang saat ini membina ratusan santri putra dan putri. Lahan yang ada di sekitarnya harus dibeli mengingat bila tak dibebaskan maka akan dikuasai oleh pihak yang tidak sejalan dengan program besar pesantren kedepan.
Ada 1,2 hektar yang harus dibebaskan, 100 ribu per meter, dibutuhkan dana 1,2 milyar.
Untuk membantu membebaskan lahan tersebut, bertepatan dengan tahun baru Hijriyah, 1 Muharram 1444, bertempat di Masjid pesantren di hadapan ratusan santri, BMH serahkan donasi pembebasan lahan titipan donatur sebesar Rp. 37.304.000.
Secara simbolis serahterima dana tahap ke 2 tersebut dilakukan di sela acara Taushiyah Muharram yang di gelar oleh Hidayatullah secara serentak.
Ust Heri Kafri selaku Ketua Yayasan Hidayatullah Nias mengucapkan ribuan terimakasih kepada seluruh muhsinin yang telah ikut berpartisipasi dalam pembebasan lahan ini.
“Semoga Allah memudahkan urusan para muhsinin semuanya dan semoga kelak Pesantren Hidayatullah Nias semakin banyak memberikan kontribusi kepada umat sehingga umat Islam semakin berkembang di pulau Nias,” kata Hari.
Sementara itu ditempat terpisah, Lukman BAMS, ketua BMH Perwakilan Sumatera Utara menuturkan, hingga saat ini pihaknya masih membuka peluang untuk para donator yang ingin ikut dalam pembebasan lahan pesantren ini.*/Abdilbar
SELALU ada yang menarik pada setiap makhluk ciptaan Allah. Demikian pengakuan KH Abdurrahman Muhammad, Pemimpin Umum Hidayatullah.
Diakui, kali ini yang menarik perhatiannya adalah soal semut dan falsafah kebersamaannya. Serangga kecil tersebut dianggap punya insting sekaligus sifat-sifat yang istimewa. Cerita ini dituturnya di hadapan guru-guru Pondok Pesantren Salafiyah Ahlus Shuffah, Gunung Binjai, Balikpapan, Kaltim, beberapa waktu lalu.
“Jadi saya selalu perhatikan semut-semut yang biasa ada di masjid. Saya perhatikan dan itu menyenangkan hati,” ucap sahabat Pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said Rahimahullah ini. “Kalau ada nyamuk yang hinggap di badan saya, bismillah, saya pukul saja. Niatnya memberi makan kepada semut,” lanjutnya bercerita.
Tak butuh waktu lama, seekor semut segera dilihatnya mendekat kepada bangkai nyamuk yang sudah tergeletak. “Kuat sekali insting penciuman binatang kecil tersebut. Dari jauh itu dia cium, ah datang, tapi lama itu baru ditemukan, biasanya dia keliling-keliling dulu berputar,” ucap Ustadz Abdurrahman tersenyum meneruskan cerita.
Tak tahan, ustadz yang telah malah melintang berdakwah itu mengaku terkadang mengambil kembali nyamuk dan mendekatkannya ke semut yang dilihatnya masih sibuk mencari. “Kadang kuangkat lagi kudekat-dekatkan ke semut. Tapi karena terkejut semut itu lari kembali,” ujarnya.
Akhirnya, melanjutkan cerita, semut itu lalu dibiarkan saja. “Eh datang dia, sesudah itu lari lagi dia, rupanya pergi kasih tahu temannya. Karena setelah itu langsung datang rombongan semut-semut. MasyaAllah, luar biasa.”
Menurut pegiat dakwah asal Kota Pare-Pare (Sulsel) tersebut, ada pelajaran hidup berjamaah dari kehidupan semut. Di sana ada kebersamaan berarti ada kekuatan. Ia disebut sebagai fitrah sekaligus daya tarik. Itulah mengapa, tugas pokok pemimpin ialah mensolidkan kebersamaan sebagai satu sumber kekuatan.
Sebaliknya, ketika kebersamaan itu hilang, maka tidak ada lagi yang menarik dalam kehidupan. Semua jadi hambar. Bahkan yang tadinya indah, jadi hilang berganti suram. Makanya, tugas pemimpin ialah menguatkan kebersamaan untuk melahirkan kekuatan jamaah.
“Ceramah saja tidak cukup. Ngomong bagus itu gampang. Tapi lebih penting, bagaimana setiap orang mengambil peran maksimal dalam perjuangan dakwah ini. Semua yang diomongkan harus terprogram dan terkonsep dengan baik,” pungkas Ustadz Abdurrahman dan mengutip ayat tentang amanah dalam al-Qur’an pada kegiatan Rabu, (06/07/2022) itu.* (Masykur/MCU)