Beranda blog Halaman 335

Masjid Hidayatullah di Kampung Muslim Pulau Setengar Diresmikan

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Di bulan yang penuh berkah yang merupakan bulan kelahiran nabiullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, BMH Kepri menggelar peresmian Masjid Hidayatullah di kampung muslim pulau Setengar Batam, Ahad, (16/10) 2022.

Peresmian ini dihadiri oleh General Manager BMH Kepri, Abdul Aziz Elhaqqy, ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ust Darmansyah, ketua DPD Hidayatullah Batam, Ust Mohammad Ramli, perangkat desa, tokoh masyarakat dan warga pulau Setengar.

Menurut Abdul Aziz, General Manager BMH Kepri, pembangunan masjid dan fasilitas air bersih yang menjadi impian muslim muallaf pulau Setengar ini hampir seluruhnya disupport oleh komunitas muslim bank Indonesia, selebihnya dari donatur lain.

“Alhamdulillah hari ini kita secara resmi menyerahkan penggunaannya kepada warga dan semoga kami dapat terus bersinergi dengan berbagai pihak termasuk dengan komunitas muslim bank Indonesia yang telah memberikan kepercayaan kepada BMH,” harap Abdul Aziz.

Pulau Setengar dihuni sekitar 14 KK yang mayoritas muallaf. Setelah hampir 10 bulan menanti, karena mushollah yang selama ini digunakan sudah tak layak akhirnya kaum muslimim bisa menunaikan sholat jamaah kembali dan anak-anak sudah memiliki tempat untuk belajar mengaji.

“Sudah lama kami mengharapkan ada tempat untuk sholat berjamaah, kami tak menyerah, alhamdulillah ada BMH yang mau membantu kami mencarikan dana, alhamdulillah terima kasih yang sebesar-besarnya kepada BMH dan para donatur, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan bapak dan ibu,” tutur Awang Ahad, ketua RT setempat mewakili warga.

Di penghujung acara, Ust Mohammad Ramli dari Batam menyampaikan tausiyah yang berpesan kepada warga pulau Setengar memanfaatkan sebaik-baiknya masjid ini sebagai wujud cinta kepada Allah dan nabiullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.*/Mujahid M. Salbu

LTC PD Kota Semarang Lejitkan Potensi dan Progresifitas Pemuda

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) – Pengurus Daerah (PD) Pemuda Hidayatullah Kota Semarang, Jawa Tengah, sukses menggelar pelatihan kepemimpinan dan motivasi Leadership Training Center (LTC) bertajuk “Millenial Leaders: Dengan Al Quran Lejitkan Potensi dan Progresifitas Pemuda” yang berlangsung di Kampus Pesantren Alburhan Hidayatullah Semarang.

Kegiatan LTC yang digelar bersinergi dengan Yayasan Al burhan Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Semarang dan didukung penuh DPW Hidayatullah Jateng ini berlangsung selama 2 hari dengan diikuti 25 peserta belum lama ini.

Ketua PD Pemuda Hidayatullah Semarang, Aminullah, menyampaikan dari LTC ini diharapkan semua peserta kelak memiliki bekal pengetahuan seputar jati diri muslim dan dapat mengembangkan skil leadershipnya melalui wadah Pemuda Hidayatullah.

“Anda semua adalah kader umat dan bangsa Indonesia yang akan melanjutkan estafeta kepemimpinan di masa mendatang. Kegiatan LTC menjadi medium pembelajaran dan pengembangan diri agar kelak kita siap mengemban tugas mulia tersebut,” kata Aminullah seperti dilansir laman Hidayatullah Jateng.

Aminullah berharap peserta nantinya mampu menerjemahkan kepemimpinan khususnya di sekolah dan dapat berkiprah secara luas dalam kancah pergaulan bangsa, negara, bahkan dunia, dengan terus mempertajam wawasan dan kapasitas diri.

Dalam arahannya, Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Jawa Tengah Ust Nur Said Abdullah mengajak semua peserta yang hadir pada acara tersebut untuk turut berpartisipasi dalam mengejawantahkan visi misi Hidayatullah dalam rangka membagun peradaban Islam dalam setiap aspek kehidupan.

Lebih lanjut, Nur Said berpesan kepada pemuda agar selalu menguatkan imunitas diri dalam menghadapi kondisi serta dinamika kehidupan baik regional, domestik, dan global saat ini.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa mutlak sebagai pemuda memiliki semangat lebih daripada para pendahulu yang telah membaktikan hidupnya untuk kebajikan dengan bersusah payah membagun pesantren- pesantren di berbagai pelosok.

“Kami berharap pelatihan LTC ini nanti bisa mempertajam pemahaman para peserta untuk mencari cara dalam menyelesaikan berbagai problematika keumatan dan sebagai bekal menjadi seorang pemimpin yang shiddiq, amanah, fatonah, dan tabligh” ujarnya.

Salah seorang peserta, Ahmad Wildan, mengaku senang dapat mengikuti acara yang digelar intensif selama 2 hari pada akhir pekan awal bulan Oktober ini.

“Alhamdulillah dengan mengikuti LTC Pemuda Hidayatullah ini, saya jadi mengerti pentingnya pengembangan diri melalui organisasi dan pelatihan pengembangan diri,” kata Wildan.

“Dengan berlatih memimpin dan bekerja dalam tim melalui organisasi itu, akan membentuk mental dan karakter karena dalam organisasi kita dibentuk sebagai pemimpin, peka terhadap apa yang kita pimpin, bertanggunh jawab, dan amanah. Ini elemen penting yang tidak kita dapatkan jika tidak ikut dalam berorganisasi,” tutup Wildan.

Hadir langsung pada kesempatan tersebut instruktur yang juga Ketua PW Pemuda Hidayatullah Jateng bang Shodikhul Fulqin beserta sejumlah jajarannya. Acara ini juga menghadirkan narasumber dari unsur Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah. */Mohammad Riswan

Ustadz Mardhatillah Ungkap “5K1L” sebagai Ciri Orang Sukses

0

POLMAN (Hidayatullah.or.id) – Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat Ust Drs. H. Mardhatillah mengungkapkan 5K1L (dibaca: skil) sebagai ciri ciri yang dimiliki orang sukses, yaitu Karakter, Kinerja, Kompetensi, Komunikasi, Kolaborasi, dan Literasi.

Mardhatillah menjelaskan perihal ciri-ciri orang yang sukses. Yang pertama, lanjutnya, adalah karakter. Orang tua dan guru harus menanamkan kepada anak didik karakter yang dalam sendi moral dan kinerja.

“Karakter moral di dalamnya ada iman, takwa, dan kejujuran,” paparnya saat mengisi ceramah pengajian warga Hidayatullah Kabupaten Polewali Mandar (Polman) yang berlangsung di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Duampanua, belum lama ini, Ahad, 13 Rabbiul Awal 1444 (9/10/2022).

Dia menerangkan, karakter moral dimulai dari orang tua, guru dan pengasuh. Sebab mereka adalah pembimbing sekaligus juga menjadi uswah di tengah-tengah santri dan anak-anaknya.

Mardhatillah melanjutkan, ciri yang kedua adalah kinerja, yaitu memberikan pendidikan kinerja yang baik dengan barometernya adalah rajin bekerja, iklas beramal, menjaga kebersihan, termasuk mendidik dan mengajarkan hidup yang kreatif lewat latihan keterampilan dan pengembangan diri.

“Orang besar adalah senantiasa berpikir besar dan mempunyai kinerja atau karya hebat serta memberikan solusi dengan kreatifitas dan inovasi. Kenapa, supaya kedepan para santri kita unggul,” harapnya.

Ciri ketiga, lanjutnya, adalah kompetensi yang diurai dalam Empat ‘K’ (4k), yaitu ‘K’ pertama adalah Kritis. Kata dia, ciri orang sukses yaitu kritis namun juga dapat memberikan solusi.

Kemudian berikutnya, ‘K’ yang kedua adalah Kreatif yaitu para santri harus kreatif yang dimulai dari orang tua dan guru yang senantiasa menciptakan hal-hal baru dan berinovasi.

Kemudian ciri keempat adalah komunikasi. Mardhatillah mengatakan, seorang santri harus cakap dalam berkomunikasi sebab siapa yang menguasai komunikasi maka dia akan menguasai masa depan.

Dia melanjutkan ciri orang sukses yang kelima yaitu Kolaborasi. Dia mendorong para santri, pengurus, dan warga untuk terus menerus memelihara kerjasama. “Sebab hanya orang yang bisa kerjasamalah yang akan dapat meraih peluang-peluang dan keuntungan di masa depan,” tukas ketua DPW yang sudah menjabat empat periode di tiga provinsi ini.

Kemudian ciri-ciri orang yang sukses keenam, lanjutnya, adalah Literasi. Literasi dengan indikasi kultur membaca yang standar ditandai tidak sekedar minat membaca yang tinggi. “Tetapi juga harus mempunyai daya membaca yang kuat,” imbuhnya.

Lebih lanjut Ustadz Mardhatillah menekankan kaitannya dengan literasi tersebut adalah bagaimana kita menguasai teknologi informasi. Sebab, jelasnya, lewat teknologi informasi maka segala persoalan dengan mudah diselesaikan.

Selain itu, dihadapan para jamaah pengajian warga dan santri beliau juga menjelaskan terkait tri konsolidasi, terkhusus konsolidasi jati diri dan organisasi.

Ustadz Mardhatillah menutup ceramahnya dengan sosialisasi hasil rapat pleno DPW Hidayatullah Sulbar serta tupoksi pendamping organisasi dan amal usaha.

Ceramah yang berlangsung satu jam lebih itu dihadiri juga para pengurus DPW, pengurus yayasan, badan pembina dan pengawas. Juga hadir pengurus mushida dan ketua-ketua unit kegiatan.*/Massiara

Inilah 8 Indikator Mengukur Mutu Keislaman Kita

Oleh Ust Sholih Hasyim S.Sos. I*

MANUSIA yang paling mulia disisi Allah adalah yang bertakwa. Sumber daya muttaqin ini kehadirannya adalah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Dan orang yang bertakwa orientasi hidupnya (wijhatul hayah) hanya kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala.

“Anta maqshuduna, ridhaka mathlubuna, dunyana wa ukhrana” (Engkaulah tujuan puncak kami, keridhaan-Mu yang aku cari, demi menggapai kebahagiaan dunia dan keselamatan akhirat kami). Bukan yang lain. Bukan karena ilmu kita, jabatan kita, kepandaian kita, harta kita, atau orientasi dunia lainnya.

Dengan takwa, manusia selalu mentauhidkan Allah Subhanahu wa-ta’ala dan tidak menyekutukan-Nya. Selalu mengingat-Nya dan tidak melupakan-Nya. Selalu mensyukuri karunia-Nya dan tidak mengingkari-Nya. Selalu mendekatkan diri kepada-Nya dan tidak menjauhi-Nya, meminjam istilah Ibnu Masud dalam Tafsir Ath Thabari.

Parameter Keislaman

Lantas apa indikasinya bahwa keislaman kita sesuai “Manhaj Ilahi dan Nabawi”? setidaknya ada delapan indikator yang bisa memudahkan kita untuk mengukur mutu keislaman kita.

Pertama : Terkikisnya Virus Thagha’

Istilah thagha’ (baca thogho) ini diambil dari surat Al-‘Alaq pada ayat 6. Secara bahasa artinya melampaui batas. Seperti air yang tumpah dari gelas, karena diisi melebihi dari ukurannya. Manusia bersikap thagha karena merasa dirinya serba cukup (ayat 7). Merasa dirinya sudah cukup berharta, berilmu dan berkuasa. Tidak lagi memerlukan bimbingan dari Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎).

Jadi, pertama kali yang harus dilakukan oleh orang yang ingin berhasil mengenal Islam adalah tazkiyatun nafs (membersihkan hati), berfikir obyektif dan terbuka. Melihat ke langit (Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎)), ke tengah (ayat diri sendiri) dan ke bawah (alam dan seisinya dan tempat kembali manusia). Lahirlah kesadaran transedental.

Jika hati kita belum bisa disterilkan dari kepentingan hawa nafsu, dunia, dan kekuasaan, maka mustahil Islam bisa kita serap dan kita nikmati secara baik. Islam yang bisa dijadikan pencegah dari perbuatan fahsya dan mungkar. Bukan sekedar Islam sebagai pencuci dosa.

Bangsa kita yang mayoritas Muslim, tapi buktinya masih banyak melakukan korupsi. Karena ajaran Islam hanya dijadikan penebus dosa sebagaimana agama lain. Dari sini sesungguhnya sudah cukup memadai mutu keislaman kita. Sesungguhnya mencegah lebih baik daripada mengobati (al wiqayatu khoirun minal ‘ilaj).

Bahaya laten thagha’ akan berakibat fatal dan krusial. Yaitu membatalkan keislaman kita. Penyakit thagha’ melahirkan tiga kejahatan yang menjadi pemicu penyimpangan manusia sepanjang sejarah. Yaitu, sombong yang diwariskan oleh iblis, serakah (thama’) yang ditularkan oleh Adam as dan hasud yang diwariskan oleh Qabil.

Thagha’ dan iman akan terus berhadap-hadapan sampai hari kiamat. Kebenaran dan kebatilan, keimanan dan kemusyrikan, al Haqq wal Batil, tidak akan bisa dipertemukan sepanjang sejarah peradaban manusia. Buah dari terkikisnya thagha’ akan mendidik manusia untuk memiliki sikap tawadhu. Rendah hati, selalu memerlukan bimbingan wahyu.

Kedua: Kokohnya Keimanan kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala

Sasaran al-Quran adalah orang-orang yang beriman. Unsur yang paling mulia pada dirinya adalah hatinya. Hatinya steril dari virus kemusyrikan. Sekalipun tinggi kualitas keilmuan, peradaban manusia, ketika berinteraksi dengan al-Quran dengan memaksakan pemahamannya atau menyimpan niat yang buruk, al-Quran yang demikian terang, menjadi kabur. Jadi, iman adalah modal utama dan pertama untuk At-Ta’amul ma’a Al-Quran.

Iman, bagaikan air sumur zamzam. Sumber yang dipancarkannya tidak akan pernah kering dan habis sepanjang sejarah peradaban manusia. Iman itulah yang memotivasi pemiliknya untuk istiqomah (konsisten), mudawamah (berkesinambungan), istimroriyah (terus-menerus), tanpa mengenal lelah, dengan sabar, tegar, teguh, tekun, tawakkal, mengajak kepada kebaikan dan mencegah segala bentuk kemungkaran tanpa tendensi apapun, pura-pura dan pamrih. Tidak mengharapakan pujian, ucapan terima kasih dan balasan serta tidak takut celaan orang yang mencela.

Imanlah yang menjadikan seseorang terus bergerak menyemai kebaikan-kebaikan di taman kehidupan ini tanpa kenal letih. Karena, ia yakin dalam setiap gerakan yang dimotivasi oleh nilai-nilai keimanan itu tersimpan potensi kebaikan-kebaikan melulu (barakah). “Taharrak fa-inna fil harakati barakah” (bergeraklah, karena setiap gerakan ada tambahan kebaikan).

Dan, kebaikan yang ditanam itu akan ia panen, kembali kepada dirinya. Baik secara kontan (langsung) ataupun secara kredit (tidak langsung). Bukan dipanen orang lain. Justru, jika berhenti bergerak, potensi yang dimilikinya tinggal sebuah potensi. Tidak tumbuh dan berkembang. Air yang tidak mengalir, akan menjadi sarang berbagai kuman yang mematikan.

Imanlah yang menjadikan seseorang terus aktif membendung/menghalangi berbagai pengaruh negatif kejelekan, kefasikan, kezhaliman, kemungkaran. Karena, semua perbuatan dosa dan maksiat akan menghancurkan dirinya sendiri. Manusia yang bergelimang dalam perbuatan dosa, di dunianya tersiksa, sedangkan di akhirat siksanya lebih menyakitkan.

Imanlah yang mencegah pemiliknya untuk menelola hawa nafsu (syahwat), nafsu perut dan nafsu kelamin. Karena kedua nafsu duniawi itu semakin dicicipi dengan cara yang salah bagaikan meminum air laut. Semakin di minum, bertambah haus.

Ali bin Abi Thalib mengatakan: Tiga hukuman bagi orang yang berbuat maksiat, yaitu penghidupan yang serba sulit, sulit menemukan jalan keluar dari himpitan persoalan, dan tidak dapat memenuhi kebutuhan pangannya kecuali dengan melakukan maksiat kepada Allah Subhanahu wa-ta’ala.

Ketiga: Menjadikan Diri Sebagai Alat Peraga al-Quran

Kita sepakat bahwa al-Quran adalah kitab suci yang orisinil. Ini sudah diberitakan oleh kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Namun secara jujur kita mengakui, betapa jauhnya jarak antara kaum muslimin dengan kitab sucinya.

Bagaikan pemain layang-layang. Umat Islam belum mampu menjadikan dirinya sebagai gambaran kongkrit “al-Quran yang berjalan di pasar, di gedung parlemen, di jalan raya, di rumah tangga, di lembaga pendidikan, di dunia militer” dll.

Faktanya, al Quran sekedar dijadikan mantra, sehingga tidak berefek apa pun pada perubahan pola pikir, sudut pandang, arah kehidupan, orientasi dan perilaku kehidupan dalam skala individu, keluarga, bangsa dan negara.

Agar kita menjadi orang-orang yang berorientasi al-Quran, hendaklah al-Quran menjadi penuntun dan pemandu seluruh kehidupan kita. Sehingga al-Quran merubah kehidupan kita secara total dan merujuk referensi isi al-Quran.

Sikap seorang Muslim terhadap al-Quran seharusnya ada empat hal. Tasmi’, (mendengarkan dengan merenungi isinya), tafhim (memahami), ta’lim (mengajarkan kepada orang lain), tathbiq (mengamalkan), kemudian mengajak orang lain ke jalan Al Quran tersebut. Mustahil mendakwakan al-Quran jika kita sendiri tidak mengamalkannya. Terserah kita, al-Quran sebagai pembelamu (hujjatun laka) atau penggugatmu (hujjatun ‘alaika), demikian Sabda Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam. Artinya, al-Quran bisa memperkuat sikap kita sebaliknya bisa menghancurkan kita atas sikap-sikap kita yang tak sesuai dengan nilai yang terkandung salam al-Quran.

Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Quran kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran Ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat[mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri].” (QS. Al Araf (7): 203-204).

Keempat: Menjadikan Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam sebagai Idola

Tujuan puncak orang beriman adalah mencari ridha Allah (Ya Allah Ya Rabbana Anta Maqshuduna, Ridhaka Mathlubuna Dunyana Wa Ukhrona). Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam adalah manusia yang dipilih oleh-Nya untuk menyampaikan wahyu kepada umat manusia.

Tujuan berislam adalah mencari ridha Allah Subhanahu wa-ta’ala atau “Allahu Ghoyatuna”. Dan salah satu strategi menjalankannya dalam kehidupan berislam adalah mengikuti Rasulullah Muhammad.

Dua kalimat syahadat mengajarkan pelajaran penting. Yang pertama tauhidul ghoyah (menyatukan tujuan). Untuk menggapai tujuan, strateginya yang kedua : tauhidul qiyadah (menyatukan komando kepemimpinan). Mustahil kita bisa makrifatullah tanpa didahului oleh makrifatur rasul.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah (QS. Al Ahzab (33) : 21)

Tapi mari kita saksikan pada diri kita semua, saudara kita, atau anak-anak kita. Siapa sosok yang menjadi idola kita atau mereka ? Nabikah? Yang cukup menggenaskan, tidak sedikit dari generasi muda Islam yang mengidolakan artis pengagum kebebasan, penjahat, pecandu narkoba, pemabuk, dan pelaku pornografi. Jangan-jangan di antara mereka adalah anak kita. Na’udzu Billah min dzalik.

Kelima: Ibadah, Refleksi dari Keimanan

Agar hati (tempatnya aqidah tauhid) bisa dirawat dari berbagai penyakit yang mengotori dan merusaknya, memerlukan ketekunan dalam ibadah kepada-Nya. Untuk menguji kualitas komitmen keimanan seseorang adalah giat beribadah kepada Allah. Baik yang wajib ataupun yang sunnah. Ketaatan beribadah merupakan turunan dari keimanan.

Pengertian iman menurut Aswaja adalah, “Al imanu tashdiqu bil qalb, iqrarun bil lisan wal ‘amalu bil arkan, yazidu bith thaah wa yanqushu bil makshiah” (Iman itu diyakini di dalam hati, diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan). Bukan disebut beriman hanya karena dia memakai songkok putih, bergelar haji, tetapi tindak-tanduknya belum mencerminkan seorang Muslim. Atau tidak bisa seseorang dikatakan sholeh hanya karena dia baik, suka menyumbang fakir-miskin, tetapi dia kafir atau tidak pernah sholat. Seorang yang beriman namanya mukmin. Dan orang Mukmin, dia pasti rajin beribadah dan kuat memegang syariat Allah. Mukmin itu komitmen dengan penegakan syariat..

Keenam: Bangkit Untuk Menyelamatkan Ummah

Tidak cukup seorang muslim puas jika melihat dirinya shalih, sedangkan membiarkan orang lain bergelimang dalam dosa. Islam yang benar, di samping dirinya shalih, pula mengajak saudaranya menjadi shalih pula. Seorang muslim yang tidak memiliki kepekaan sosial, maka suatu saat keimanan yang dimilikinya akan mengalami degradasi. Karena secara individual orang yang shalih disebut khairul bariyyah, dan memiliki kesadaran ideologis untuk membentuk umat sehingga menjadi khairu ummah. Idealisme keimanannya dibuktikan dengan membentuk sebuah komunitas. Mustahil menjadi khairu ummah tanpa bahan dasar khairul bariyyah. Insan shalih tidak bisa dipisahkan dari al mujtama’ ash-shalih (masyarakat yang shalih). Jadi, kita dituntut untuk shalih linafsihi dan shalih lighairihi.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran (3) : 110).

Ketujuh: Menegakkan Kepemimpinan Imamah dan Jamaah

Konsekwensi keimanan seseorang adalah berjamaah (berkumpul karena ikatan la ilaha illallah muhammadur rasulullah). Bukan sekedar ikatan kerja. Manusia adalah makhluk sosial. Sekalipun memikul pekerjaan sederhana, misalnya tertawa, mencukur rambut, memerlukan keterlibatan orang lain. Lebih-lebih melaksanakan ajaran Islam yang demikian lengkap dan mengandung persoalan yang kompleks. Islam bukan sekedar makanan akal, pula konsumsi hati dan perasaan.

Islam tidak sebatas dipahami, tetapi perlu diperagakan dalam kehidupan nyata. Din (konsep) tidak bisa dipisahkan dari daulah (penerapannya). Orang Islam dituntut menunjukkan bahwa dirinya adalah alat peraga al-Quran dan as-Sunnah. Yang berjalan di alam nyata.

Dan Islam tidak akan berdiri tegak dan teraplikasikan secara kaffah tanpa adanya sebuah jamaah yang kuat dan berwibawa. Kita sangat diuntungkan dengan berjamaah, untuk menjaga keshalihan kita. Di samping itu, tidak ada satupun ayat yang menjelaskan orang beriman dengan menggunakan kata tunggal (mufrad), – aman – tetapi memakai isim jama’ – amanuu -.

Kepemimpinan yang dibangun tidak berdiri di atas prinsip laa ilaaha illah muhammadur Rasulullah, maka mustahil bisa menguatkan ikatan hati. Sebagaimana kondisi masyarakat Yahudi yang digambarkan dalam al-Quran. Karena masing-masing individu berjiwa kerdil. Imamah jamaah adalah media yang paling efektif untuk menyederhanakan perbedaan kita dan menonjolkan persamaan. Mengecilkan persoalan furuiyah (cabang agama) dan membesarkan persoalan ushul (pokok). Karena, perkumpulan kita diikat oleh ikatan yang prinsip (ideologis), La ilaha illah wa Muhammadur Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wassalam. Bukan kepentingan pragmatis dan sesaat serta jangka pendek.

Kedelapan: Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah

Inilah nikmat tertinggi yang kita rasakan setelah nikmat iman kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Ukhuwwah Islamiyah inilah yang berhasil memutus mata rantai ‘ashabiyah (fanatisme kesukuan), ananiyah (egoisme), keangkuan, kesombongan, atribut dan asesoris lahiriyah, yang menjadi pilar berdirinya masyarakat jahiliyah. Persaudaraan yang diikat oleh ikatan tauhid ini yang bisa mengungguli ikatan kekeluargaan seketurunan. Ukhuwwah inilah yang dijamin menjaga keshalihan kita dan melipat gandakan hasil kerja-kerja kita.

Inilah sebuah ikatan yang kokoh, karena dibingkai oleh prinsip. Saling cinta mencintai karena Allah Subhanahu wa-ta’ala. Maka, lahirlah sebuah ungkapan; “Seandainya cinta dan kasih sayang itu telah merasuk dalam kehidupan maka manusia tidak memerlukan keadilan dan undang-undang.”

Kasman Singodimejo salah satu pendiri Muhammadiyah pernah mengatakan; “Sesungguhnya kaum muslimin sekalipun hanya mengumpulkan kerikil, dalam waktu dekat akan menjadi gunung.” Seandainya jumlah kaum muslimin yang demikian besar dan berhasil menyingkirkan perbedaan-perbedaan kecil di antara mereka (furuiyah), maka hanya sekedar kencing secara berjamaah di pemukiman Yahudi di Palestina, mereka akan “tenggelam”.

Imam Syafii mengatakan, “Allah tidak akan menolong umat yang bercerai-berai, baik dahulu, kini dan umat yang akan datang.” Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, kata pepatah Indonesia. Karena, tangan Allah di atas orang yang berjamaah (berkumpul karena ikatan iman), bukan sekedar berhimpun dan bergerombol karena hobi.

Semoga, tulisan ini semakin memperkokoh dan memperkuat identitas keislaman kita semua. Amin.*

*Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Orangtua Wajib Mendidik Anak-anaknya dengan Dasar Ilmu Agama

0

CIREBON (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Pembinaan Keluarga dan Pendidikan Anak Usia Dini Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Ust Endang Abdurrahman menekankan bahwa setiap orangtua muslim memiliki kewajiban untuk mendidik anak anaknya dengan dasar dasar ilmu agama.

Menurut Endang, setiap orangtua harus berusaha bahkan berpayah payah untuk menjadi suami yang shalih shalehah sehingga itulah kelak yang akan menjadi bekal bagi anak anaknya. Sebab, terang dia, anak akan meneladani kedua orang tuanya karena tabiat anak memang cenderung untuk meniru apa-apa yang ada di sekitarnya.

“Di dalam al-Qur-an, banyak ayat yang menjelaskan bagaimana orangtua mendidik anak-anaknya. Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah doa orangtua untuk anaknya,” kata Endang saat menjadi pengisi materi dalam acara Kajian Parenting bertema “Mengelola Sikap dan Harapan Orangtua” di komplek Yayasan Manarussalam Pondok Pesantren Hidayatullah Cirebon, Jawa Barat, belum lama ini, Ahad, 6 Rabbiul Awal 1444 (2/10/2022).

Dia menegaskan, yang tak kalah penting adalah doa orangtua untuk kebaikan anak anaknya. Praktik pendidikan dan bimbingan akan semakin kokoh manakala diiringi dengan doa sebab hanya Allah SWT yang berkuasa dan Maha Menguasai setiap manusia termasuk anak anak.

“Doa adalah senjata seorang muslim, karena itu, para orangtua penting mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya,” ujarnya.

“Doa orangtua itu diijabah oleh Allah,” imbuh Endang melanjutkan yang menukil hadits Rasululah Shallallahu’alaihi wa sallam dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan-nya no. 6619 dan dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah bahwa ada tiga doa yang tidak tertolak: [1] doa orang tua (kepada anaknya) [2] orang orang yang berpuasa, dan [3] doa orang yang sedang safar”.

Kegiatan ini, menurut Ustadz Qomaruddin, M.Pd, ketua Yayasan Manarussalam dihadiri oleh orangtua murid mulai dari tingkat Day Care, TKIT Yaa Bunayya, TKII Al-Maslicha, DTA Baitussalam, SD Integral Luqman Al-Hakim, MTs Sains Al-Hadid, dan MA Luqman Al-Hakim.

Sementara itu, menurut Ustadz Fahrur Rozi, S.E, selaku ketua Departemen Dakwah Pondok Pesantren Hidayatullah Cirebon, kegiatan pembinaan orangtua murid ini rutin dilakukan.

“Silaturahim dengan orangtua murid ini merupakan kewajiban pihak pesantren dalam rangka peningkatan pengetahuan dan pembinaan, sehingga terjalin hubungan yang baik dan harmonis,” ujar Fahrur Rozi.

Salah seorang wali murid, Eka, yang hadir pada acara tersebut sangat antusias menyimak kajian parenting ini. “Kami senang sekali dengan adanya kegiatan pembinaan orangtua ini. Saya bawa rombongan keluarga dengan mobil elf agar bisa hadir di kegiatan pembinaan ini,” ungkapnya.*/Mistari

PW Mushida Sulawesi Barat Gelar Daurah Marhalah Wustha

0

PASANGKAYU (Hidayatullah.or.id) — PW Mushida Sulawesi Barat menyelenggarakan Daurah Marhalah Wustha dengan tema “Meneguhkan Jati Diri Kader Muslimat Hidayatullah Menuju Sukses Tarbiyah dan Dakwah” pada 13-16 Oktober 2022/17-20 Rabiul Awal 1444 H di Podok Pesantren Al-Izzah Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Tujuan diselenggarakannya kegiatan ini yaitu meneguhkan jatidiri kader Muslimat Hidayatullah, memahami manhaj, dan memiliki loyalitas terhadap organisasi Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam.

Daurah Marhalah Wustha diikuti oleh 23 peserta yang berasal dari Muslimat Hidayatullah Mamuju, Pasangkayu, Polewali Mandar, Majene, dan Palu, Sulawei Tengah.

“Sebagai orang yang beriman, kita harus bersungguh-sungguh manfaatkan kegiatan ini. Dauroh ini membuktikan adanya estafet kader selanjutnya untuk menjadi kader yang berkualitas unggulan Hidayatullah,” ungkap Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, Ustadz Mardhatillah dalam pembukaan yang disampaikan.

Salmah Abdullah, S.Pd.I sebagai Ketua Panitia Penyelenggara, mengharapkan agar peserta Daurah Marhalah Wustha dapat memperdalam pemahaman tentang manhaj Hidayatullah sehingga dapat menjadi sosok yang sukses dalam pendidikan dan dakwah.

Pemateri Daurah Marhalah Wustha Mushida Sulawesi Barat di antaranya yaitu Ustadz Tasrif Amin Latif (Ketua Dewan Murabbi Pusat), Ustadz Dr. Ir. H. Abdul Qahar Muzakkar (Anggota Dewan Pertimbangan DPP Hidayatullah), Ustadz Sholih Hasyim (Anggota Dewan Murabbi Pusat), dan Ustadz Shaleh Utsman, (Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah).

Hadir pula narasumber lainnya dari PP Mushida yakni Ustadzah Irawati Istadi (Anggota Majelis Penasihat Mushida), dan Ustadzah Neny Setiawaty (Ketua Departemen Pelayanan Ummat PP Mushida).*/PW Mushida Sulbar

Mari Berbekal Sebaik baiknya untuk Hari Esok

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok ; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Hasyr: 18)

Faidah yang terkandung dalam ayat ini;

Pentingnya Taqwa

Allah ta’ala setiap kali memerintahkan suatu perintah kemudian perintah itu diulang kembali seperti dalam ayat ini, menunjukkan akan pentingnya perintah tersebut. Anda bisa saja main-main dalam urusan lain, tapi anda jangan main-main soal TAQWA, sebagaimana Allah firman-Nya;

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam” (Ali imron: 102)

Maka tidak heran Rasulullah menjadikan pesan taqwa ini hampir di setiap pembukaan khutbahnya yang dikenal dengan ‘khutbatul hajah’. Karena ucapan yang paling benar dari seluruh perkataan adalah firman Allah, petunjuk terbaik di dunia ini adalah petunjuk Rasulullah, perkara terburuk adalah rekayasa yang dibuat-buat dalam agama, dan setiap yang dibuat-buat itu disebut bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah di neraka. (Riwayat Abu Dawud 1/331, Nasa’i 1/208, al-Hakim 2/182)

Diulangnya perintah taqwa yaitu menghendaki agar orang-orang beriman benar-benar bertaqwa dalam segala kondisinya, dalam semua situasi, sepi sendiri maupun ramai, dimana saja dan kapan saja. Supaya seorang mukmin benar-benar menghadapi perintah Allah dengan penuh ketaatan, larangan Allah benar-benar dijauhkan, nikmat Allah betul-betul disyukuri, asma Allah benar-benar berusaha diingati, tidak ada: main-main!!

Perintah memperhatikan (Nadhor) amal

Di antara dua perintah Taqwa, diapitlah perintah: “hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya….” Allah menginginkan setiap orang beriman benar-benar memperhatikan amalnya. Sebab hanya amal sholih lah yang akan berguna dan senantiasa menyertai si mayit hingga hari kiyamat. Harta, kedudukan, sanak keluarga semua tidak menyertainya. Maka amal perlu diperhatikan baik secara kuantitas (jumlah) maupun kualitas (mutu).

“……dan berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang berakal”. (Al-Baqoroh: 197)

Ketika suku Bani Mudhor mendatangi Rasulullah di siang gurun yang panas, dalam keadaan bertelanjang dada dan tidak bersandal, Rasulullah iba melihat kemiskinan mereka. Kemudian Rasulullah membaca ayat ini. Maka berdatanganlah para sahabat dengan membawa sedekah-sedekah mereka berupa dinar, dirham, pakaian, kurma, gandum dan sebagainya. Dari yang membawa sebutir kurma hingga seseeorang yang terhuyung-huyung membawa berat dan banyaknya sedekah. (Tafsir Ibnu Katsir 3/477).

Demikianlah di antara semangat mereka dalam beramal ketika mendengar ayat ini, maka dimanakah kedudukan kita jika dibandingkan para pendahulu ini?

Dalam ayat ini Allah tidak mengatakan Faltaro (ro-a, yaro-ru’yah) hendaknya melihat sekilas. Tanpa perhatian dan tanpa kepedulian ekstra. Allah juga tidak mengatakan Falta’mal, maka hendaknya beramal. Karena bukan asal beramal. Asal-asalan mengerjakan ‘ibadah’. Hendaknya diperhatikan secara seksama; apakah amal tersebut ada landasan dalilnya yang shohih, ikhlas tidak, jangan-jangan riya’, sesuai petunjuk Rasulullah atau tidak, jangan-jangan bid’ah dan seterusnya.

Namun Allah mengatakan; Faltandhur, hendaknya memperhatikan dengan seksama (Lisanul ‘Arob VI). Sebagaimana melihat uang dengan lebih seksama; dilihat, ditrawang, diraba. Sebagaimana pula istilah ‘Nadhor’ yang digunakan untuk melihat gadis calon istrinya.

Sebagaimana sabda Rasulullah: “Bila seorang di antara kalian melamar wanita, jika mampu untuk melihat (Nadhor) apa yang membuatnya tertarik untuk menikahi, maka lakukan”. (Riwayat Ahmad)

Nadhor dengan cara memperhatikan nasabnya, tabiatnya, menanyakan kepribadiannya, mencari kabar dari teman karibnya dan sebagainya. Padahal gadis calon istri itu hanya menyertainya beberapa tahun saja, maka bagaimanakah seharusnya perlakuan seseorang terhadap amalnya yang akan terus menyertainya hingga hari kiyamat?

Maka bagaimana pula seseorang pergi menuju negeri akhirat dengan tanpa bekal amal? Bagaimana pula nasib seseorang pergi ke akhirat kelak dengan bekal amal yang buruk? Betapa bahayanya seseorang yang melakukan perjalanan dengan perbekalan yang kurang. Bahkan bisa-bisa tidak sampai ke tempat tujuan, tapi sampainya justru di penjara gara-gara berbekal uang palsu.

Perintah Muhasabah

Ayat ini berisi perintah untuk muhasabah. Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: ‘Hendaknya seseorang senantiasa muhasabah dengan apa yang diperbuat oleh 6 anggota badannya; mata, telinga, mulut, kemaluan, tangan dan kakinya. Sebab mereka menjadi sarana manusia mencapai tujuan-tujuannya. Selamatlah, berbahagialah orang yang senantiasa menjaganya dan menggunakannya dalam kebaikan. Dan celakalah orang yang menyia-nyiakannya dalam kemaksiyatan. (Ighotsatul Lahfan, I/160)

Amirul Mukminin Umar bin Khottob berkata: ‘Hasibu anfusakum qobla an-tuhaasabu, hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbang-timbanglah sebelum amal perbuatan kalian ditimbang. Sungguh, lebih mudah bagi kalian menghisab amal di hari ini daripada dihisabnya kelak di hari kiyamat yang tiada sesuatupun tersembunyi kecuali akan ditampakkan’. (Ighotsatul Lahfan, I/157)

Faltandhur, hendaklah seorang mukmin ber-muhasabah, intropeksi, mawas diri tentang amalnya. Apakah amal perbuatannya sudah baik atau belum. Apakah selama ini masih banyak kekeliruan maka cepat-cepat bertaubat. Jika sekiranya merasa kadar ketaatanya dalam menjalankan perintah Allah masih minimize, maka hendaklah lebih ber-mujahadah.

Jika selama ini ngantukan dan malas-malasan berkhitmad untuk agama, maka hendaklah berbenah diri. Jika selama ini terlibat riba dan dosa maka secepatnya sadarkan diri. Apakah amal yang diperbuatnya akan memberi manfaat atau justru menimbulkan mudhorrot (kerugian) bagi dirinya kelak di akhirat. Maka hendaklah diperhatikan.

Kinayah dekatnya akhirat

Lalu, apa yang hendak diperhatikan dalam perintah penting ini? Yaitu hari esok. Apakah hari esok yang dimaksud adalah hari-hari ke depan? bulan depan? hari tua? hari pasca pensiun? Yaitu hari hari qiyamat. Yaitu bermula pada kematian. Sebagaimana Rasulullah bersabda; jika seorang hamba mati maka terjadilah pada dirinya qiyamat. Yaitu kiyamat sughro (kecil).

Semantara kiyamat kubro adalah hancurnya planet dunia ini, jatuhnya bintang-bintang, padamnya matahari, dan sebagaimana yang Allah ceritakan dalam banyak ayat-Nya. Juga termasuk hari esok yang harus diperhatikan! Hanya orang yang kurang akal saja yang menyikapi perintah penting ini dengan sikap abai.

Sebab, jika seseorang menjadikan focus perhatiannya, kiblat cita-citanya (himmah), orientasinya demi akhirat maka pastilah ia akan bersungguh-sungguh, bersusah payah dan berpeluh-peluh dalam beramal. Sebaliknya, manakala yang ada di otaknya hanya dunia, yang di hatinya melulu dunia, cita-citanya hanya apa yang bisa masuk ke dalam perutnya maka dia nilainya seperti yang keluar dari perutnya.

Allah menggambarkan betapa dekatnya jarak akhirat dengan manusia yang seakan-akan besok (ghod) terjadinya. Dan memang 100% benar. Bahwa pintu awal akhirat adalah kematian. Dan bukankah kematian tiap-tiap manusia itu begitu dekat? Dalam hitungan waktu berlalu, Al-maut itu begitu cepat menyambar nyawa tanpa manusia sadari.

Perintah menuntut ilmu

Dimanakah letak perintah menuntut ilmu pada ayat ini? Barangkali tidak terbayang oleh seseorang dalam ayat yang agung ini ternyata terdapat kandungan perintah untuk menuntut ilmu. Karena memang masih banyak amal yang perlu kita perbaiki. Masih banyak ilmu yang harus kita pelajari. Karena sebabnya pula bagaimana benar-benar bisa beramal secara benar tanpa mempelajarinya?

Perintah memperhatikan amal, secara otomatis juga perintah mengetahui ilmunya. Sebagaimana kaidah Al-‘ilmu qoblal Qouli wal ‘Amal, wajib berilmu terlebih dahulu sebelum beramal. Bagaimana beramal dengan benar tanpa didasari ilmu yang benar?

Keutamaan Muroqobah

“…….sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Bahwa seluruh amal perbuatan dan segala keadaan manusia di manapun dan kapanpun senantiasa diawasi Allah ta’ala. Tiada sedikitpun seseuatu baik yang kecil maupun yang tersembunyi melainkan semuanya berada di bawah pengawasan Allah ta’ala.

Oleh karena itu, mengherankan dan betapa anehnya manusia dengan tanpa risih dan malu berbuat durjana padahal dilihat Allah ta’ala. Dengan tanpa rasa malu manusia bermaksiyat sedangkan Allah melihatnya. Tidakkah manusia itu berfikir, dimanakah akalnya? Wallohu a’lam bis-showab.

Ust Mardiansyah (Pendidik di Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang)

Dirut Laznas BMH Terima Sertifikasi 23 Amil dari Ketua BNSP

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kebahagiaan mendalam menyelimuti keluarga besar Laznas BMH. Pasalnya, dari 23 amil seluruh Indonesia yang mengikuti sertifikasi kompetensi gelombang pertama sukses meraih hasil yang memuaskan.

“Saya sangat apresiatif kepada BMH, karena untuk lembaga zakat berdasarkan SKKNI terbaru 2021, BMH ini yang pertama menerimanya,” terang Ketua BNSP Kunjung Masehat sebelum sesi penyerahan seritikat ke Dirut Laznas BMH di Kantor BNSP di Jalan MT. Haryono, Jakarta Selatan, Kamis, 17 Rabbiul Awal 1444 (13/10/2022).

Sementara itu Dirut Laznas BMH, Supendi menjelaskan bahwa adanya sertifikasi kompetensi ini sebagai upaya untuk meningkatkan mutu SDM sesuai kompetensi yang dibutuhkan dalam manajemen pengelolaan zakat.

“BMH sangat bersyukur, saat ini 23 amil telah mendapatkan sertifikasi, tentu ini akan berlangsung secara bergelombang, sampai seluruh amil nantinya, pada profesi dan kompetensi yang beragam bisa mendapatkan sertifikasi profefsi dari BNSP,” ungkapnya.

“Harapannya dengan begitu, amanah dana zakat, infak dan sedekah yang diberikan umat melalui BMH dapat semakin terkelola secara rapi, profesional dan akuntabel. Ini sangat mungkin, karena setiap amil benar-benar kompeten,” imbuh Supendi.

Lebih jauh Ketua BNSP Kunjung Masehat meminta agar Laznas BMH juga dapat mensyiarkan pentingnya sertifikasi profesi bagi kaum muda, sehingga ke depan mereka tidak saja mengandalkan ijazah, tetapi juga bukti kompetensi yang dibuktikan oleh sertifikat dari BNSP.*/Herim

Menparekraf Motivasi Santri saat Kunjungi Kampus Ponpes Hidayatullah Fakfak

FAKFAK (Hidayatullah.or.id) — Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno melakukan kunjungan ke Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah yang beralamat di Sekru, Distrik Fakfak, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua, Kamis, 17 Rabbiul Awal 1444 (14/10/2022).

Dalam kunjungannya tersebut, Menteri Sandiaga yang didampingi orang nomor satu Kabupaten Fakfak, Bupati Untung Tamsil, S.Sos, M.Si, diterima langsung oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Ust Iping Hanafi beserta jajaran dan tokoh masyarakat setempat.

Pada kesempatan itu, Sandiaga menyampaikan sambutannya seraya memberikan motivasi kepada santri santri yang menuntut ilmu di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Fakfak.

Pengusaha sukses ini mengawali sambutannya dengan menyapa para hadirin yang terdiri dari santriawan, santriwati, pengurus, guru ponpes, serta para tamu undangan.

Di hadapan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Fakfak, Sandiaga yang karib disapa Mas Menteri ini menyapa santri dan memberikan motivasi. Ia menyampaikan santri adalah generasi harapan agama dan bangsa.

Ia menambahkan motivasinya kepada para santriwati agar selalu meneladani sifat Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang memiliki karakter mulia.

Sandiaga menjelaskan, karakter mulia Nabi yang menjadi kunci suksesnya tersebut yakni dalam dirinya ada kercerdasan dan bijaksana (Fathonah) terpercaya (Amanah), benar dan jujur (Shiddiq), dan penyampai wahyu Allah untuk kebaikan manusia (Tabligh).

Sandiaga kemudian memberi singkatan dari keempat nilai utama tersebut dengan FAST yang bermakna cepat.

“Mau sukses, sangat mudah. (Karena) kita sudah ada contohnya, contohnya adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dia pengusaha. Dia juga pemimpin. Dia memiliki konsep fast,” katanya.

Sebelumnya, mas Menteri bersama rombongan staf Kemenparekraf berkunjung ke salah satu Desa Wisata tepatnya di Kampung Ugar, Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Menurut jadwalnya, Menparekraf akan mengunjungi salah satu nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022, Kampung Ugar melalui jalur darat dari Bandara ke Pelabuhan Kokas sebelum melanjutkan menggunakan transportasi laut ke kawasan tersebut.

Penyebrangan dari Pelabuhan Kokas menuju Kampung Ugar diperkirakan memakan waktu kurang lebih 20 menit. Sandiaga direncanakan akan melakukan visitasi ke Kampung Ugar untuk mempromosikan pariwisata di Kampung Ugar.

Kampung Ugar merupakan salah satu nominasi ADWI 2022 yang memiliki banyak potensi wisata diantaranya pasir timbul, telaga goa dan bintang, spot diving dan snorkling, sumur sejarah, memancing, goa alam, eduwisata satwa endemik dan gugusan pulau-pulau kecil.

Selain ke Kampung Ugar, Sandiaga juga menyempatkan diri untuk meninjau Pulau Tubir Seram sekaligus melakukan serangkaian kegiatan di Kampung Brongkendik.

Potensi wisata di Desa Wisata Kampung Ugar diharapkan mampu meningkatkan sektor perekonomian masyarakat Fakfak khusunya masyarakat Kampung Ugar dengan pengenalan wisata dan produk UMKM.

Kunjungan Sandiaga bersama rombongan Menparekraf direncanakan hingga hari Jumat, (14/10) sebelum bertolak ke Jakarta siang harinya.*/Ain

Jika Shalat Berkualitas, Hidup pun Berkualitas

0

AGUNGNYA shalat. Seperti inilah buah ibadah. Ia mampu melahirkan keberuntungan bagi pelakunya. Pelaku shalat dijamin dengan keberuntungan, sebagaimana janji Allah di dalam Al Qur’an.

Sehingga pelaksanaan shalat sangatlah besar peranannya dalam Islam, maka perlu untuk selalu diperhatikan dan ditegakkan. Jika tidak, shalat hanyalah gerak badan tanpa makna. Kosong melompong dan berujung pada kepayahan. Pada akhirnya hasilnya hanyalah kebosanan belaka.

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) yang khusyu’ dalam sholatnya.” (Al-Mukminun : 1-2)

Rasulullah bersabda mengenai betapa pentingnya sholat;

“Yang pertama-tama dipertanyakan (dihisab) terhadap seorang hamba pada hari kiyamat kelak tentang amalnya adalah sholat. Apabila sholatnya baik maka dia beruntung dan sukses, dan apabila sholatnya buruk maka dia kecewa dan merugi” (HR. An-Nasa’i)

Rasulullah pernah berkata kepada Bilal; “wahai Bilal bahagiakan aku dengan sholat”. Shalat adalah sumber ketenangan jiwa dan kegembiraannya. Maka tidak heran nabi dan sahabat-sahabatnya suka berlama-lama dalam sholat malam hingga membuat kaki beliau bengkak.

Lantas, apakah rahasia kebahagiaan shalat itu hanya mereka saja yang bisa rasakan sementara kita tidak? Tentu tidak.

Pembicaraan tentang shalat perlu terus pengulangan. Tidak boleh ada kebosanan, kelalaian, dan acuh tentangnya. Karena shalat merupakan kewajiban yang sangat agung, kebaikan yang amat terpuji dan bahaya yang luar biasa manakala meninggalkannya.

Shalat merupakan tiang agama. Barangsiapa yang meremehkan shalat berarti telah melalaikan pondasi agama. Shalat merupakan obat hati yang bisa menyembuhkan ragam macam penyakit dan kejelekan akhlaq. Bagaikan pelita cahaya yang menghilangkan pekatnya dosa-dosa. Sebagaimana firman Allah:

“Dan dirikanlah shalat. Sesunggungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS AL-‘Ankabut : 45)

Namun, shalat yang bagaimana yang bisa mencegah kekejian tersebut? Bukankah ada orang yang rajin shalat tapi gemar pula maksiyat, alias STMJ (Sholat Terus Maksiyat Jalan).

Shalatnya hebat tapi menjadi tukang ghibah, namimah, pengidap sakit hati, iri, dongkol, kemalasan dan seterusnya. Kalau seperti ini, tentu pasti ada yang error dalam shalatnya.

Sebagaimana sabda nabi ;

“Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sebuah sungai yang bersih di depan pintu salah seorang kalian, dia mandi di sana lima kali sehari, apakah masih ada kotoran yang tersissa? Mereka menjawab; “tidak ada kotoran tersisa sedikitpun” nabi bersabda,”demikianlah permisalan shalat lima waktu, Allah menghapus kesalahan-kesalahan dengan sebab shalat” (HR Muslim)

Begitulah agungnya shalat bisa membersihkan segala daki-daki kejelekan sampai Rasulullah menjadikannya sebagai batas antara kekafiran dan keimanan. Barang siapa yang menegakkan shalat, dia muslim. Jika tidak, ya kafir. Sebagaimana Rosulullah bersabda;

“Perbedaan antara muslim dan kafir adalah sholat” (HR .Muslim) 7)

Kedudukan khusyu’ dalam sholat

Khusyu’ merupakan ruh shalat. Sebagaimana ruh bagi badan. Ia sangat cepat hilangnya dan sulit mendapatkannya. Bahkan tidak jarang puluhan orang shalat berjama’ah mereka tidak khusyu’ dalam shalatnya hatta imamnya sekalipun. Inilah musibah. Terlebih lagi zaman sekarang ini. Tidak dapat dan tidak berusaha menggapai khusyu’ merupakan musibah sangat besar.

Sehingga Rasulullah berdo’a agar terlindung dari hati yang tidak khusyu’. Rasulullah bersabda bahwa yang pertama kali diangkat dari umat ini adalah khusyu’ sehingga hampir-hampir tidak didapatkan seorangpun yang khusyu’ dalam shalatnya. (HR. Ahmad dan Thobrony) (1.100 hadits pilihan, Dr. Muh. Faiz Almath))

Shalat apabila dihiasi denag khusyu’ dalam ucapan, dan geraknya dihiasi dengan kerendahan, ketulusan, ketenangan, ketundukan, cinta dan pengagungan maka sungguh pelakunya akan dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Hatinya kain berseri-seri, fikirannya jernih, keimanannya meningkat, kecintaannya dalam berbuat kebaikan semakin bertambah, keinginannya untuk berbuat jelek semakin sirna.

Dengan Khusyu’ munajat seorang hamba semakin mudah dikabulkan dan kedekatan kepada Allah semakin terasa. Sehingga kenikmatan dan kesejukannya terasa usai shalat hingga shalat kembali. Ketika ia memasuki shalat dengan penuh ketundukan, selama shalat ia munajat dengan penuh ketakutan dan harap, maka setelah melaksanakan shalat seolah-olah ia melepaskan segala himpitan beban dunia. Yang tertinggal di hatinya berupa kegembiraan dan ketentraman yang senantiasa bersama.

Dari Hasan bin ‘Athiyah, bahwa Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya ada dua orang yang berada dalam satu sholat perbedaan keutamaan diantara keduanya bagaikan langit dan bumi” (HR. Abu Dawud)

Agar khusyu’ dalam shalat

Khusyuk memang mudah diucap, namun masing-masing belum tentu bisa. Namun. sungguh barang siapa yang menempuh metode nabi dalam melaksanakan shalat tentu akan mendapatkan kekhusyukan. Untuk dapat khusyu’ ada beberapa hal yang bisa membantunya, diantaranya hendaknya segera menuju masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, memakai pakaian yang bersih, badannya suci, mengkosongkan hatinya dari kesibukan dunia, semerbak wangi badannya, meluruskan dan merapikan shof, tidak melihat ke atas atau ke samping, dan sebagainya.

Dan menjauhi segala apa yang bisa mengganggu kekhusyu’an seperti; bernyanyi-nyanyi di masjid, membaca Qur’an dengan keras disamping orang shalat, memakai baju bergambar atau tulisan-tulisan grafity; Billabong, Dagadu, Repsol, UD. Makmur dan sejenisnya. Begitu juga suara-suara gaduh musik, handphone, radio dan semacamnya.

Hal yang paling pokok agar dapat khusyu’ adalah kesempurnaan sunnah-sunnah dalam shalat secara keseluruhan, seperti bacaan al-Qur’an yang fashih terutama imam dengan merenungi maknanya. Sebab realita yang terjadi ada sebagian bahkan kebanyakan masjid bacaan imam shalatnya rusak luar biasa. Sulit dibedakan antara suara kompor dan bacaan Quran, antara bacaan surat dan kidung jenaka. Wal’iyadzu billah.

Nabi telah memberi contoh bagaimana contoh shalat yang sempurna, sebagaimana yang disebutkan hadits ‘Aisyah: “…… beliau shalat empat raka’at, jangan engkau tanya bagus dan panjangnya…..”. (HR. Bukhari).

Riwayat ini menunjukkan bahwa membaguskan shalatnya, maksudnya memperbanyak atau memanjangkan bacaan-bacaan, tenang dalam gerakannya serta khusyu’. Shalat harus thuma’ninah, yaitu tenteram dalam gerakan, baik ketika berdiri, ruku’, sujud, duduk antara dua sujud dan lain seterusnya.

Rasulullah bersabda; “Apabila engkau akan melaksanakan shalat maka sempurnakanlah wudhu’, kemudian menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah, dan bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur’an kemudian ruku’lah sehingga benar-benar ruku’, kemudian angkatlah kepalamu sehingga engkau benar-benar berdiri, kemudian sujudlah dengan benar-benar sujud, kemudian angkatlah (tubuhnya) sehingga rata dan benar-benar duduk, kemudian sujudlah dengan benar-benar sujud, kemudian angkatlah sehingga benar-benar berdiri, kemudian lakukan semua itu di shalatmu seluruhnya”. (HR Bukhari)

Dari Abi Hurarirah, ia berkata, bahwa Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya sejelek-jelek manusia adalah pencuri yang mencuri shalatnya”. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah ! Bagaimana mencuri shalatnya ? Ia bersabda : (Yaitu) tidak menyempurnakan ruku’nya dan sujudnya”. (HR Al Hakim)

Betapa jeleknya seseorang yang dicap sebagai maling. Pencuri yang mengambil hak manusia tanpa hak sudah begitu jeleknya dalam pandangan masyarakat, apalagi dalam hal ini yang diambil adalah haq Allah. Maka tidak heran Rasulullah mengatakan sebagai sejelek-jekek manusia. Apalagi yang tidak shalat. Maka sangat perlu untuk terus didakwahi.

Orang yang tertimpa musibah berupa kemalingan atau hartanya dijambret orang saja, kadang-kadang tidak bisa tidur berhari-hari, resah ingin hartanya kembali, dan menyesali akan keteledorannya. Namun aneh tapi nyata, giliran shalatnya dicuri syetan dengan mengingatkan hal-hal yang menghilangkan kekhusyukan, atau ia justru menjadi malingnya sendiri, malah tenang-tenang saja.

Dari ‘Amr bin Ash dan Khalid bin Walid dan Syarhabil bin Hasanah serta Yazid bin Abi Sufyan, mereka berkata: “Rasulullah melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’nya, dan mematuk dalam sujudnya. Maka sabdanya : Seandainya orang ini mati dalam keadaan seperti ini, maka ia mati bukan dalam millah Muhammad”. (HR. Baihaqy)

Hadits ini menerangkan bahwa mereka yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujud seperti burung yang mematuk, atau ayam jago yang makan, berarti telah mengerjakan suatu amalan yang tidak disukai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akhir kata

Tidaklah ada penyimpangan moral dan tindak kejahatan yang terjadi di tengah kaum muslimin kecuali bersumber pada kelalaian mereka dalam menegakkan shalat. Shalat semaunya, secepatnya, seingatnya, kalau toh mau shalat mereka bagaikan bangkai tanpa ruh. Sebatas gerak badan belaka.

Belum lagi dari segi pakaian yang sembarangan, shof yang kacau balau. Belum lagi penyempurnaan syarat-syaratnya, rukun dan sunnah-sunnahnya, serta konsekuensi shalat itu sendiri.

Semoga kita dijauhkan dari rusaknya shalat, semoga kita hidup bahagia dan berkualitas sebagaimana kesempurnaan shalat kita, amin.

Ust Mardiansyah Musawwimi