BENGKULU TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Lembaga relawan kemanusiaan nasional Search and Rescue (SAR) Hidayatullah sukses menggelar kegiatan Pendidkan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) digelar selama 10 hari yang pembukannya berlangsung di Kampus Sekolah Dai Hidayatullah, Kecamatan Karang Tinggi, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, Jum’at, 3 Rabiul Akhir 1444 (28/10/2022).
Pembukaan Diklat SAR Hidayatullah Regional Bengkulu tahun 2022 ini dibuka oleh Pj Bupati Bengkulu Tengah yang diwakili oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samsul Bahri.
Tampak hadir pula perwakilan Basarnas, Ketua DPW Hidayatullah Bengkulu Ust Ahmad Suhail beserta jajaran, Kepala BPBD Provinsi Bengkulu Ketua SAR Hidayatullah Wilayah Bengkulu, Perwakilan Polres Bengkulu Tengah, Babinsa, serta undangan lainnya.
Kepala Divisi Diklat SAR Hidayatullah Alfarobi Nurkarim yang juga hadir sebagai salah satu instruktur, mengatakan, tujuan diklat ini salah satunya untuk membentuk karakter kepribadian relawan kemanusiaan yang tinggi di dalam diri peserta.
Diharapkan dari diklat ini, peserta mampu menghadapi permasalahan dan tantangan dengan mudah, menyenangkan, dan profesional, sekaligus wadah kesukarelaan dalam kemanusiaan terhadap aksi tanggap darurat terhadap bencana alam.
Dia pun menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang tinggi kepada semua pihak yang telah mendukung kesuksesan dan kelancaran acara tersebut baik pihak internal maupun eksternal.*/Ainuddin
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hasil riset peneliti dari Jepang, fakta sejarah menunjukkan bahwa Syarikat Islam adalah organisasi yang secara langsung mendobrak kejumudan, merajut persatuan dan kesadaran untuk menjadi bangsa yang merdeka.
Oleh karena itu pemerhati yang juga pendiri Rumah Sejarah Indonesia Tamadun, Hadi Nur Ramadhan, mendorong kaum muda sadar bahwa Indonesia tidak bisa dipisahkan dari Islam. Pun demikian, Islam tidak bisa dipertentangkan dengan Indonesia.
“Narasi Islam dan Indonesia ini sudah mulai hilang. Bagi saya, Indonesia itu Islam dan Islam itu ya Indonesia,” kata Hadi dalam acara webinar nasional bertajuk “Bergerak Maju Kobarkan Api Kepahlawanan” dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional digelar Pemuda Hidayatullah bersama Laznas BMH disiarkan secara langsung kanal BMHtv dan Nasionalnews, Rabu, 15 Rabiul Akhir 1444 (9/11/2022).
Hadi menukil ungkapan Buya Hamka yang juga dikenal sebagai ulama dan pahlawan nasional, yang mengatakan bahwa tidak perlu ada Islam Indonesia dan tidak perlu juga ada Indonesia Islam.
Oleh sebab itu, Hadi menegaskan, orang Indonesia yang baik tentu akan secara otomatis memperjuangkan Islam karena spirit perjuangan bangsa Indonesia dibangun oleh nasionalisme dan nasionalisme itu dibangun dari relijiusitas atau semangat agama.
“Itulah yang kemudian dibangun oleh para pendiri bangsa dimana mereka sangat menghayati betul bagaimana negara ini tidak bisa dilepaskan dari dari spirit agama,” tegas Hadi.
Pada konklusi sajiannya, Hadi Nur menekankan pentingnya memahami sejarah tak terkecuali berkenaan dengan sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Menurut Hadi, kita tidak akan pernah menjadi orang besar jika selama hidup tidak pernah membaca sejarah orang orang besar.
“Maka untuk menjadi orang besar bacalah riwayat orang orang besar. Dengan membaca dan mempelajari sejarah, itulah salah satu cara untuk menjadi “otaknya” Indonesia dan menjadi pelanjut republik ini,” imbuhnya.
“Ingatlah pesan Kiai Haji Agus Salim, jadilah raja di negeri sendiri. Pemuda yang tidak punya cita cita laksana hidup seperti zombie. Hidup tapi tidak hidup,” tandas penggerak inisasi Melancong Sejarah ini.
Webinar ini menghadirkan narasumber lainnya yaitu keynote spekader Kepala Humas BMH Imam Nawawi, Sekretaris Jenderal PP Pemuda Hidayatullah Mazlis B. Mustafa dan Direktur Eksekutif Badan Koordinasi Nasional (BAKORNAS) Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam (LAPENMI) Pengurus Besar (PB) HMI Asran Siara.*/Yacong B. Halike
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah bersama Laznas BMH menggelar webinar nasional bertajuk “Bergerak Maju Kobarkan Api Kepahlawanan” dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Nasional disiarkan secara langsung kanal BMHtv dan Nasionalnews yang digelar pada Rabu, 15 Rabiul Akhir 1444 (9/11/2022).
Webinar ini menghadirkan 3 orang narasumber yaitu Sekretaris Jenderal PP Pemuda Hidayatullah Mazlis B. Mustafa, penulis yang juga pendiri Rumah Sejarah Indonesia Tamadun Hadi Nur Ramadhan, dan Direktur Eksekutif Badan Koordinasi Nasional (BAKORNAS) Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam (LAPENMI) Pengurus Besar (PB) HMI Asran Siara.
Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah dosen, akademisi, dan pemerhati bangsa serta menghadirkan Kepala Humas Laznas BMH Imam Nawawi.
Sebagai keynote speaker, sambutan pengantar Imam Nawawi mengawali pembahasan topik ini dengan memberikan penggambaran yang komprehensif berkenaan realitas faktual terkini dengan spirit kepahlawanan.
Imam mengelaborasi dua sisi penting, yakni kaum muda dan gerakan zakat, infak dan sedekah yang harus menjadi satu-kesatuan untuk mengobarkan api kepahlawanan kini dan masa depan.
Dalam pada itu, mengutarakan beberapa fakta penting yang kini sedang melanda dunia. Mulai dari resesi ekonomi yang mengguncang dunia termasuk Indonesia. Yang itu meningkatkan angka kemiskinan di Indonesia bahkan Amerika dan Eropa.
“Artinya, ada tantangan besar dalam pemberdayaan dan Laznas BMH sangat berkepentingan bagaimana anak anak muda bangsa punya talenta pemberdayaan yang kuat secara ekonomi,” katanya.
Dia juga menarik tema ini kepada masalah kedaulatan NKRI dan bagaimana merawatnya dengan energi kepahlawanan.
Menurutnya, jangan sampai kaum muda lengah, kemudian teritori Indonesia jadi lokasi untuk pertempuran terjadi, baik dari dimensi ideologi apalagi sampai militer.
Di sisi lain, terang Imam, diperlukan adanya kesiapan untuk menjawab semua tantangan itu. Dan, menurutnya, gerakan zakat, infak dan sedekah, termasuk instrumen penting untuk dimaksimalkan menjawab permasalahan yang ada.
“Oleh sebab itu, ini sangat butuh elaborasi dan kolaborasi dengan kalangan yang masih aktif di dalam perkuliahan, di kampus kampus, atau mereka yang bergerak sebagai aktifis,” imbuhnya.
Dia berharap dari kegiatan ini dapat semakin membangun kekuatan gerakan dan pemikiran yang lebih progresif dan kolaboratif, sehingga dengan itu kelompok muda dapat terus berkontribusi dalam menjawab permasalahan dengan sebaik baiknya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PP Pemuda Hidayatullah Mazlis B. Mustafa menerangkan bahwa api perjuangan kala 10 November 1945 tidak mungkin membara dan membakar tanpa injeksi sebuah semangat dalam lafadz “Allahu Akbar” sebagaimana pidato menggelegar yang disampaikan Bung Tomo.
Anak muda kelahiran Kunak, Malaysia, ini menekankan bahwa sejatinya pahlawan ada pada semua level kehidupan dengan segala aspeknya dalam setiap kiprahnya dalam kebaikan. Oleh sebab itu, ada yang disebut sebagai pahlawan daerah, pahlawan lingkungan, dan juga pahlawan nasional.
Masalahnya sekarang, terang Mazlis, adalah bagaimana lahirnya sumber daya pahlawan pahlawan yang akan lahir berikutnya sebagai pengisi kemerdekaan. “Ini PR pemuda,” kata Mazlis seraya menambahkan pahlawan masa depan adalah yang berkontribusi dalam setiap bidangnya.
Dengan peranan pemuda hari ini, diharapkan pada 100 tahun atau satu abad usianya, Indonesia mampu mencapai visi Indonesia Emas yang adidaya, maju, dan berpengaruh.
Pun demikian, Mazlis mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi untuk menuju Indonesia sebagai pemain global pada 2030 tidaklah sederhana. Terlebih generasi muda akan menjadi generasi paling dominan dalam tubuh bangsa Indonesia saat itu.
Ia menyebutkan diantaranya tantangan itu adalah pengentasan kemiskinan dan ancaman resesi. Oleh sebab itu, menurut Mazlis, generasi muda hari ini menjadi ujung tombak dalam menghadapi berbagai perubahan di masa medatang tersebut.
“Hari ini adalah milikmu, maka buatlah yang terbaik untuk diri, lingkungan, dan orang orang yang kau cintai. Hari kemarin tak akan kembali dan hari yang akan datang belum tentu kita dapatkan. Generasi muda jangan jadi generasi rebahan tapi jadilah generasi yang membawa perubahan. Jangan jadi gelembung yang terbawa ombak tapi jadilah gelombang yang membawa perubahan,” tandasnya.
Islam dan Indonesia
Hasil riset peneliti dari Jepang, fakta sejarah menunjukkan bahwa Syarikat Islam adalah organisasi yang secara langsung mendobrak kejumudan, merajut persatuan dan kesadaran untuk menjadi bangsa yang merdeka.
Oleh karena itu pendiri Rumah Sejarah Indonesia Tamadun Hadi Nur Ramadhan mendorong kaum muda sadar bahwa Indonesia tidak bisa dipisahkan dari Islam. Pun demikian, Islam tidak bisa dipertentangkan dengan Indonesia.
“Narasi Islam dan Indonesia ini sudah mulai hilang. Bagi saya, Indonesia itu Islam dan Islam itu ya Indonesia,” kata Hadi.
Hadi menukil ungkapan Buya Hamka yang juga dikenal sebagai ulama dan pahlawan nasional, yang mengatakan bahwa tidak perlu ada Islam Indonesia dan tidak perlu juga ada Indonesia Islam.
Oleh sebab itu, Hadi menegaskan, orang Indonesia yang baik tentu akan secara otomatis memperjuangkan Islam karena spirit perjuangan bangsa Indonesia dibangun oleh nasionalisme dan nasionalisme itu dibangun dari relijiusitas atau semangat agama.
“Itulah yang kemudian dibangun oleh para pendiri bangsa dimana mereka sangat menghayati betul bagaimana negara ini tidak bisa dilepaskan dari dari spirit agama,” tegas Hadi.
Pada konklusi sajiannya, Hadi Nur menekankan pentingnya memahami sejarah tak terkecuali berkenaan dengan sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Menurut Hadi, kita tidak akan pernah menjadi orang besar jika selama hidup tidak pernah membaca sejarah orang orang besar.
“Maka untuk menjadi orang besar bacalah riwayat orang orang besar. Dengan membaca dan mempelajari sejarah, itulah salah satu cara untuk menjadi “otaknya” Indonesia dan menjadi pelanjut republik ini,” imbuhnya.
“Ingatlah pesan Kiai Haji Agus Salim, jadilah raja di negeri sendiri. Pemuda yang tidak punya cita cita laksana hidup seperti zombie. Hidup tapi tidak hidup,” tandas penggerak inisiasi Melancong Sejarah ini.
Gerakan pendidikan
Lantas bagaimana cara kita mengobarkan kembali api kepahlawanan itu? Direktur Eksekutif Badan Koordinasi Nasional Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam PB HMI Asran Siara memberikan solusi penting melalui upaya membangun kembali kemajuan pendidikan Indonesia.
Mengutip riset terbaru, Asran mengungkapkan posisi Indonesia di bidang pendidikan belum cukup membanggakan bahkan untuk di kawasan Asia, padahal bidang ini menurutnya amatlah mendasar.
Asran menegaskan, sebuah bangsa tidak mungkin maju hanya karena kekuatan ekonomi, politik dan militer semata. Tetapi juga pendidikan. Oleh karena itu ia mendorong kaum muda sadar ilmu, terus berlatih kepemimpinan dengan aktif dalam organisasi.
Dia menyebutkan beberapa hal yang musti menjadi modal generasi muda dalam menghadapi tantangan di abad 21 sekarang ini, yaitu, diantaranya adalah kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah, kemampuan komunikasi dan bekerjasama, dan kemampuan belajar kontekstual.
“Perlu kita sadari bahwa sudah saatnya Indonesia sejajajar dengan negara negara maju lainnya di berbagai sektor. Hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil. Atas izin Allah dan dengan didodorong oleh keinginan luhur, haqqul yaqin, semua bisa capai,” katanya.
Asran juga menyoroti isu bonus demografi, yang menurutnya, jika tak dikelola dengan baik dengan bekal softskill yang memadai maka malah bisa menjadi beban pembangunan. Disisi lain kemajuan teknologi harus dijiwai oleh kesadaran akan pentingnya setiap diri aktif dalam gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Momentum Hari Pahlawan kita sebagai generasi muda harus menyadari bahwa hidup ini adalah perjalanan panjang dalam waktu yang sempit. Maka isilah dengan perjuangan yang membanggakan, tidak peduli seberapa kerasnya rintangan yang harus dilewati. Lakukan yang terbaik apapun yang bisa kita lakukan baik untuk diri sendiri, agama, keluarga, dan bangsa,” tandas Asran.
Pada akhirnya, Hari Pahlawan, harusnya menjadi momentum penting kita semua untuk sejenak dialog, merenung dan menyiapkan langkah konkret menjawab masalah dan tantangan yang membentang.
“Jika Allah menghadirkan kita hidup pada masa ini, maka tentu Allah menanti apakah ktia mau menjawab itu semua. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan kekuatan,” kata Imam dalam catatannya.*/Yacong B. Halike
SALAH dan lupa adalah sifat yang melekat pada manusia. Tidak ada yang bisa menghindarinya kecuali atas rahmat dan izin dari Allah. Oleh karenanya, agama tidak mengajari kita bagaimana caranya menghilangkan kedua sifat tersebut, karena hal itu mustahil.
Agama hanya mengajari kita bagaimana berdamai dengan sifat-sifat alamiah kita sendiri, dan meraih manfaat dari kekurangan-kekurangan yang ada. Kita tidak didorong untuk menghapusnya secara mutlak, namun mengendalikannya secara wajar.
Jiwa manusia memang sangat rawan tercoreng aneka noda. Kecil atau besar, sengaja atau tidak, tersembunyi atau terang-terangan, sendirian atau berkelompok, manusia berpeluang terperosok dalam kesalahan. Masalahnya akan sederhana jika Allah mengizinkan kita hidup dan mati begitu saja mengikuti naluri seperti binatang.
Namun, Allah telah memberi kita taklif, yakni tanggung jawab berupa perintah dan larangan, dan meminta kita untuk bekerja keras meluruskan hidup serta menjaga kesucian diri. Inilah konteks dari doa Nabi Ibrahim: “Janganlah Engkau hinakan aku pada hari ketika mereka dibangkitkan. (Yaitu) di hari dimana harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Qs. asy-Syu’ara’: 87-89).
Oleh karenanya, Allah mengirim para Nabi dan Rasul. Diantara hikmahnya adalah meluruskan kesalahan-kesalahan manusia dalam kehidupan ini. Ketika zaman kenabian telah berakhir, maka tugas tersebut diwariskan kepada para ulama’ dan orangtua, untuk membimbing generasi berikutnya mengenal Allah dan mengikuti jalan kebenaran.
Diantara prinsip yang diajarkan Al-Qur’an untuk meluruskan penyimpangan manusia direkam dalam surah Az-Zumar: 53-55. Disana Allah berfirman:
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.”
Ada empat prinsip utama yang ditegaskan di sini.
Pertama, memberi kabar gembira dan tidak membuat putus asa. Pada dasarnya, orang yang melakukan dosa dan kesalahan sedang berada dalam kondisi lemah dan lengah. Kalau bukan karena kelemahan dan kelengahannya, tidaklah mungkin syetan mampu menggelincirkannya. Sebab, tipudaya syetan sebenarnya sangatlah lemah (lihat: Qs. an-Nisa’: 76).
Maka, tidak ada terapi mujarab bagi orang-orang seperti ini selain membangun kembali kepercayaan diri dan pengharapannya. Dengan ini kita berharap ia memiliki energi batin untuk bangkit dari keterpurukan dan melawan godaan syetan.
Kedua dan ketiga, menuntun untuk kembali ke jalan Allah dan membimbing agar berkomitmen kepada-Nya.
Setelah tumbuh kemauan dalam batinnya, maka ia harus dituntun untuk kembali ke jalan Allah dan berkomitmen kepada-Nya perlahan-lahan. Tentang hal ini, Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani menulis dalam kitab al-Ghunyah:
“Pertama-tama, suruh mereka untuk meninggalkan kecenderungan menuruti kebiasaan dan tabiatnya dalam segala hal. Mulailah dengan kewajiban-kewajiban syar’i yang ringan/longgar, sehingga mereka bisa keluar dari belenggu dan dominasi kebiasaan serta tabiatnya itu, dan akhirnya bisa beralih menjadi di bawah ikatan syari’at dan pengabdian di dalamnya. Kemudian, pindahkan mereka dari yang bersifat ringan/longgar itu kepada yang bersifat lebih ketat/berat sedikit demi sedikit. Hapuskan sesuatu bagian yang bersifat ringan/longgar tadi, dan tempatkan sebagai gantinya sesuatu bagian lain yang bersifat berat/ketat.”
Jelasnya, tidak ada yang bisa membersihkan hati manusia kecuali Allah, Dzat yang menciptakan hati dan memilikinya. Dengan kata lain, hanya ada satu cara untuk membersihkan diri, yaitu: taat kepada-Nya.
Al-Qur’an menyatakan:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu yang bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nur: 21)
Keempat, mengikuti pilihan-pilihan tindakan terbaik. Ketika menafsirkan surah az-Zumar: 55, yakni ayat yang memuat prinsip ini, al-Hafizh Ibnul Jauzi merujukkannya kepada kalimat senada dalam surah al-A’raf: 145.
Menurut para ulama’, dalam syariat Islam terdapat bermacam-macam kebaikan. Sebagian lebih utama dibanding yang lain. Kita diperintahkan untuk memilih mana yang paling utama, sesuai situasi-kondisi yang ada. Misalnya, melakukan kebaikan adalah utama, dan menjauhi keburukan juga utama, namun melakukan kebaikan jelas lebih tinggi nilainya.
Membalas dengan qishash dibenarkan dalam syariat, tetapi memaafkan pasti lebih unggul. Memenuhi amal fardhu lebih utama dibanding nawafil (sunnah), dan amalan nawafil tentu lebih baik dari yang mubah. Suatu ketika berpuasa bisa menjadi pilihan terbaik, namun hal ini tidak berlaku ketika kita sakit berat. Demikianlah seterusnya.
Jika kita melaksanakan prinsip-prinsip ini, maka hati yang semula berpaling dari kebenaran akan kembali ke pangkuannya, dengan seizin Allah. Wallahu a’lam.
Marilah kita mewujudkan hakikat ketakwaan dalam kehidupan kita dengan cara yang sebenar-benarnya. Salah-satu prinsip ketakwaan itu adalah mewujudkan sikap tawazun (keseimbangan) dalam berbagai aktivitas kita sehari-hari. Di antaranya yaitu dalam memenuhi apa yang menjadi kebutuhan hidup kita. Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:
PALU (Hidayatullah.or.id) — Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) bersama Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) bersinergi dengan DPW Hidayatullah Sulteng dan Sulbar, Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), Majelis Quran Hidayatullah (MQH), Rumah Quran Hidayatullah (RQH), dan didukung Laznas BMH menggelar pelatihan peningkatan mutu dan kualitas (upgrading) dai bertajuk Dauroh Muallim Grand MBA dan Bina Aqidah berlangsung di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Jl. Uwe Buro, Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang dibuka pada jum’at (28/10/2022).
Ketua panitia Ust Muhaimin mengatakan pelatihan ini digelar sebagai bagian dari upaya untuk tingkatkan kapasitas guru mengaji untuk menguatkan program Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA).
“Dengan kapasitas guru yang memadai, para muallim memiliki kualitas sebagai guru Al-Qur’an dalam mengelola rumah rumah Qur’an agar profesional dan terkelola dengan baik,” kata Muhaimin.
Diterangkan dia, upgrading ini diharapkan semakin meneguhkan kiprah pengabdian para dai di berbagai titik di kawasan itu terutama di daerah pedalaman, terpencil, rentan, dan minoritas.
Muhaimin menyebutkan, program ini juga sejalan dengan agenda Grand MBA untuk menguatkan standarisasi muallim dengan harapan para muallim mampu mengembangkan rumah rumah dan majlis Qur’an di tempat daerahnya masing masing.
Daurah Muallim Grand MBA dan Bina Aqidah tersebut mengangkat tema “Menjadi Guru Al-Qur’an yang Berkualitas dan Profesional Menuju Peradaban Islam” ini digelar intensif selama 3 hari.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, diantaranya ketua Departemen Dakwah dan Penyiaran DPP Hidayatullah Ust. Shohibul Anwar termasuk Ketua Korps Mubaligh Hidayatullah Pusat, Ustadz Iwan Abdullah.
Serta turut hadir Kadep Dakwah DPW Hidayatullah Sulbar Ust. Nurdin S. Pd yang mendapampingi utusan DPW Hidayatullah Sulbar dari setiap daerahnya, yaitu Fajri dan Sa’il (DPD Pasangkayu), Syamsuddin (Mamuju Tengah), Ahmal (Mamuju), Ahsanul Rijal (Majene) dan Amri utusan dari DPD Hidayatullah Kabupaten Polewali Mandar.
Selain teori dan praktek, kegiatan yang diikuti 30 dai dan 35 daiyah perwakilan calon muallim dan muallimah dari berbagai daerah di Sulteng dan Sulbar ini mendapatkan materi terkait matrikulasi dan kiat mengajar dengan metode Al-Hidayah, Metode Al Qiroah, Grand MBA dan materi Bina Aqidah.
Salah seorang peserta, Ust. Fajri Hasan utusan dari DPD Hidayatullah Pasangkayu mengatakan sangat terkesan dengan kegiatan. Menurutnya, pelatihan ini penting sebab menambah wawasan, ilmu, dan pengalaman sehingga menjadi bekal bermanfaat baginya saat kembali mengabdi di masyarakat.
“Sangat memberikan pengetahuan dan Ilmu berkaitan dengan manajemen pengelolaan RQH. Saya berharap agar dauroh muallim seperti ini menjadi agenda rutin setiap 1 kali setahun di setiap DPD yg ada di seluruh Indonesia,” kata Fajri Hasan. */Sa’il
PENAJAM (Hidayatullah.or.id) – Anggota DPRD Kaltim Baharuddin Muin mengatakan penting untuk senantiasa menanamkan dan mengamalkan nilai nilai Pancasila sebagai falsafah berbangsa bernegara pada setiap generasi dimana muatannya juga sarat dengan ajaran Islam.
“Empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UU 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika harus terus digalakkan dan ditanamkan sejak dini kepada generasi muda, sebagai bekal dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa ke depan,” kata Baharuddin.
Hal itu disampaikan Baharuddin saat mengisi materi acara sosialisasi wawasan kebangsaan, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Silkar Kabupaten Penajam Paser Utara, Kaltim, Ahad, 12 Rabbiul Akhir 1444 (6/11/2022).
Di hadapan puluhan santri, dia menyampaikan tentang pentingnya menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai bentuk kecintaaan terhadap bangsa, dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan.
“Alasan kenapa sosialisasi kebangsaan dilakukan di pondok pesantren agar selain mendapatkan pelajaran sebagaimana kurikulum para santri juga lebih memahami tentang kecintaan terhadap bangsa dan menghormati perbedaan sebagai kekayaan yang harus senantiasa dijaga,” harapnya.
Dia menerangkan, mudahnya akses informasi dan telekomunikasi memberikan dampak positif dan negatif, sebab itu pihaknya meminta agar generasi muda mewaspadai paham yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan kita sebagai anak bangsa.
“Bijak dan tetap waspada dalam menerima dan menyebarkan informasi telebih di media sosial yang belum tahu kebenarannya. Utamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi juga bagian dari pengamalan nilai pancasila,” sebutnya.
Sosialisasi kebangsaan ini akan rutin dilaksanakan, sebagai bentuk kepedulian terhadap bangsa dan sekaligus amanat presiden untuk terus mengampanyekan dan memberikan pemahaman terhadap empat pilar kebangsaan.
Pada kesempatan tersebut turut hadir pengurus Pesantren Hidayatullah Penajam Ust. Mursyid M. Salbu yang dalam sambutannya menungkapkan berbagai upaya dan kiprah Hidayatullah di dalam membangun negeri ini yang bersinergi dengan berbagai pihak
Dia juga menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada Anggota DPRD Kaltim Baharuddin Muin beserta rombongan yang telah hadir di kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Silkar Kabupaten Penajam Paser Utara, Kaltim.*/Ahmad Syadzili
DARI Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda; “Jauhilah kalian akan hasad, karena sesungguhnya hasad itu bisa memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar” (dalam lafadz yang lain, sebagaimana api membakar rumput kering) (HR. Abu Dawud)
Awal mula penyakit hasad
Hasad atau dengki adalah dosa pertama kali yang pernah terjadi pada kehidupan jin dan manusia. Awal ketika itu iblis diperintah Allah agar sujud kepada Adam. Namun kedengkiannya mencegah dia untuk mentaati perintah Allah karena menganggap dia yang tercipta dari api merasa lebih baik dari pada Adam yang tercipta dari tanah.
Padahal yang benar; justru tanah lebih baik dari pada api. Karena tanah adalah medium utama kehidupan makhluk berpijak. Kehidupan hewani dan nabati sangatlah tergantung darinya. Tanah tempat munculnya mata air, tumbuhnya tanaman, tersedianya makanan segala binatang, dan tempat resapan segala kotoran.
Semua berawal dari tanah dan kembali hancur menjadi tanah. Tanah jelas lebih baik bahkan lebih mahal hingga ratusan juta, adapun api kadangkala justru bahaya, kadangkala juga gratis mendapatkannya.
Dan pada awal kehidupan manusia, kejahatan pembunuhan yang dilakukan Qobil putra Adam alaihissalam terhadap Habil adalah karena faktor iri. Qobil iri kepada Habil yang istrinya lebih cantik, dan persembahan qurbannya yang selalu diterima Allah. Maka kasus kriminalitas pada awalnya timbul dari sifat iri.
Maka awal perilaku hasad iblis ini menjadi awal sumber fitnah dan lahirnya kejahatan di kalangan umat manusia berikutnya. Jadi, siapa saja yang sukanya iri berarti persis Iblis.
Hingga sekarang, kaum yang dikenal pendengki sejak dulu hingga sekarang adalah Yahudi. Sebab mereka iri karena nabi akhir bukan dari Bani Isroil, tetapi dari Arab. Dengki mereka melahirkan dendam yang sulit padam sampai kini.
Mereka iri melihat kaum muslimin mendapatkan hidayah, iri dengan ketundukan mereka kepada syari’at, sehingga Yahudi enggan menerima dakwah Islam dan tunduk kepada al-Qur’an. Yang ada justru sebaliknya, lihatlah mereka membantai muslimin Palestina, Afganistan, Iraq, dan di mana saja. Mereka ingin menghilangkan keimanan lepas dari dada-dada kaum muslimin dengan segala strategi.
“Ataukah mereka iri kepada manusia yang Allah berikan kepada mereka sebagian karunia-Nya?” (An-Nisa’: 54) 4)
Apa hasad itu?
Hasad (: iri, dengki) adalah kebencian melihat nikmat yang ada pada orang lain, dan ingin agar kenikmatan itu lenyap lalu berpindah kepadanya. Hasad adalah penyakit hati yang termasuk kelompok dosa besar. Lantaran pada umumnya hanya menginginkan kenikmatan dunia semata sebagaimana yang dimiliki saudaranya. Sebagaimana generasi yang iri ingin diberi karunia yang ada pada Qorun. Iri adalah virus mematikan dan tiada obatnya kecuali ya harus menjauhinya.
Dengki berawal dari keburukan, berjalan pada kejahatan dan berakhir penderitaan. Orang pendengki adalah orang yang sengsara, benci melihat orang lain mendapat kesenangan, tersiksa mendengar kawannya sukses, menangis, kesal, jengkel mengetahui kompetitornya unggul.
Dan, dengki ini rupanya menjadi penyakit manusia modern. Pada akhirnya akan menjadi wabah cinta dunia. Yang mana orang sekarang mudah iri terhadap tetangganya yang bergaji lebih tinggi, sakit nonton tetangganya bisa beli mobil baru, demam melihat saudaranya naik pangkat, tertekan mendengar kawannya maju, atau dapat rejeki dan seterusnya.
Ibnu Rojab berkata: “pada dasarnya sifat dengki itu ada pada setiap manusia, yakni tidak ingin disaingi orang, ia ingin lebih dari orang lain. Namun orang yang terpuji ialah orang yang tidak menampakkan dan tak membenarkan kedengkiannya. Dan orang yang tercela ialah orang yang menampakkan irinya dengan usaha-usaha jahat”.
Bahaya hasad
Hadits ini menunjukkan bahayanya hasad yang bisa menggunduli amal serta wajibnya menjauhi iri. Dalam hal ini lafadz hadits di atas menggunakan Majaz Isti’aroh yang seolah-olah menghidupkan api yang mati menjadi bergejolak.
Demikianlah, hasad itu merusak, ia akan melibas habis kebaikan yang pernah dilakukan hamba. Sebagaimana api yang melahap kayu bakar, yang akhirnya menjadikannya sebagai abu dan debu.
Ada tiga kelompok pendengki; yang pertama, si pendengki ingin menghilangkan nikmat yang ada pada orang lain dengan trik-trik jahat. Dan inilah golongan para penjahat. Awal mulanya biasanya tampak ketidaksukaan pada raut wajahnya yang kecut, kemudian suka meng-ghibah, terus membuat desas-desus fitnah, adu domba, provokasi dan dibuktikan dengan tindakan konkrit mencelakai. Dengan saling jegal-menjegal, saling menjatuhkan, saling santet, hingga bunuh-membunuh.
Wabah penyakit ini semua telah nyata ada pada masyarakat sekarang, yang sungguh mengerikan. Hanya karena warisan, saudara tega membunuh saudara. Hanya karena uang 5.000 rupiah tetangga tega menghabisi tetangga.
Para maling, koruptor, perampok, penjambret, dan CS nya adalah jelas-jelas dari kelompok pendengki. Barisan sakit hati, pewaris iblis dalam bidang kedengkian. Mereka benar-benar tega mencelakai orang yang didengkinya dan menggasak nikmat Allah yang dikaruniakan kepada manusia secara keji.
Solusi dari nabi agar terhindar dari kejahatan para pendengki diantaranya dengan membaca surat Al-mu’awwidzatain, menyambung silaturrahim, bersedekah, menunaikan hak harta, berakhlak mulia, syukur nikmat dan menjauhi congkak. Jika kita menyimpan kekayaan, janganlah dipamer-pamerkan agar terjaga dari kejahatan orang-orang dengki.
Yang kedua, golongan pendengki namun tidak berniat menghilangkan nikmat tersebut dari orang lain. Ia hanya mengelus dada dan meratapi diri sendiri saja. Ia sakit hati melihat orang lain mendapat rejeki. Golongan ini juga tercela karena sebab sifat irinya seolah-olah menyalahkan kehendak Allah, menganggap Allah tidak adil serta ia berputus asa dengan rahmat Allah yang luas.
Yang ketiga, orang yang iri namun dengkinya dapat dikalahkan dan justru mendorong dirinya berbuat baik kepada orang yang didengki. Ketika hasad menyuruh orang kepada benci, maka ia lawan dengan cinta. Ketika hasad mendorong seseorang untuk sombong maka ia lawan dengan tawadhu’. Ketika dengki mendukung seseorang untuk mencela, memaki, mengkhianati, merongrong dan menyalahkan suatu organisasi atau lembaga, maka ia lawan dengan menghormati dan menasehati. Ketika iri membuat orang melakukan kedholiman maka ia lawan dengan keadilan.
Namun hal ini langka. Dan golongan ini hanya ada pada diri seorang mukmin sejati. Ia mencintai kenikmatan yang ada pada saudaranya sebagaimana ia senang jika kenikmatan itu ada pada dirinya. Dan inilah setinggi-tinggi derajat iman. Karena Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;
“Tidaklah sempuna iman seorang diantara kalian sehingga ia mencintai apa yang ada pada saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR.Muttafaq alaih)
Golongan manusia pada sisi obyek yang membuat iri dengki dibagi menjadi empat golongan;
Pertama, orang yang iri terhadap orang yang berbuat baik dengan hartanya. Sementara dia tidak diberi harta, namun ia berkata; seandainya aku diberi harta seperti halnya fulan maka aku akan berbuat baik sebagaimana fulan berbuat baik dengan hartanya. Maka orang ini sama kedudukannya dengan orang pertama.
Kedua, orang yang iri terhadap orang yang berbuat buruk dengan hartanya. Sementara dia tidak diberi harta, namun ia berkata; seandainya aku diberi harta seperti halnya fulan maka aku akan bermaksiyat juga sebagaimana fulan berbuat jahat dengan hartanya. Maka orang ini sama jeleknya.
Ketiga, iri terhadap orang yang bisa berbuat baik meski hartanya minim. Sementara dia berlimpahan harta, lalu ia berkata; dia yang tidak diberi kekayaan saja bisa berbuat baik dengan maksimal, mengapa saya justru tidak? Maka orang ini sama baiknya.
Keempat, orang celaka di atas celaka. Derita di atas sengsara. Dia tidak memiliki harta, namun ia iri ingin pula berbuat jahat dengan kawannya yang sama-sama melarat.
Tashfiyyah dari hasad
Seorang yang cerdas tentu ia berusaha menghilangkan terlebih dahulu kejelekan-kejelekan akhlak pada dirinya sebelum menghiasi dirinya dengan kebaikan-kebaikan adab. Sebagaimana pula percuma saja jika mengisi gelas atau bejana dengan air susu, teh, kopi, juice dan apa saja tanpa terlebih dahulu membersihkannya dari kotoran. Dengan demikian sulit berhasil suatu tarbiyah dan dakwah tanpa ada usaha tazkiyah dan tashfiyah terlebih dahulu. Sebagaimana percuma mengisi gelas kotor dengan beraneka minuman yang lezat.
Dan salah satu tashfiyah (penyucian jiwa) di sini adalah menjauhi hasad. Karena jika tidak, percuma saja. Apa untungnya jika harus berpayah-payah melakukan amal ibadah sekian lama dan begitu banyak namun harus dilahab habis oleh sifat dengki ini, sebagaimana kayu bakar yang dilahap api?
Rasulullah bersabda;
“Ada tiga hal yang seorangpun tidak bisa selamat darinya; thiyaroh, persangkaan, dan dengki” sahabat berkata: “lantas siapa yang bisa selamat ya Rasulullah? Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berkata; “Jika engkau menganggap sial maka janganlah kembali, jika berprasangka janganlah kau benarkan, jika engkau iri janganlah engkau melanggar” (HR. Abdur Rozaq)
“Setiap anak Adam itu mempunyai sifat hasad, dan tidaklah kedengkiannya membahayakannya selama tidak ia ucapkan dengan lisan, dan tidak dilakukan dengan tangan” (HR. Abu Nu’aim)
Hasad berbeda dengan ghibtoh. Ketika hasad menginginkan hilangnya kenikmatan pada orang lain, adapun ghibtoh adalah sikap iri ingin memiliki kebaikan sebagaimana kawannya yang memiliki kebaikan, ia ingin memiliki kenikmatan yang sama. Misalnya iri ingin menjadi ulama’ yang hafal al-Qur’an, hafal ribuan hadits, ibadahnya sempurna, kehidupannya berkualitas, memberi manfaat kepada umat, iri ingin juga menjadi hartawan yang bisa memberi kontribusi perjuangan Islam seperti halnya Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, iri kepada orang yang bisa naik hajji dan berkeinginan juga naik hajji. Dan seterusnya.
Dan iri yang dibolehkan satu-satunya dalam Islam adalah iri dalam masalah ilmu dan ibadah. Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam;
“Tidak boleh iri kecuali terhadap dua perkara; (yaitu) seorang yang Allah berikan dia ilmu Al-Qur’an maka ia melaksanakannya sepanjang siang dan malam, dan seseorang yang Allah berikan padanya harta maka ia infaqkan harta tersebut sepanjang siang dan malam” (HR. Bukhori –Muslim)
Ust. Mardiansyah,guru di Pondok Pesantren Hidayatullah Bontang
DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) – Guna meningkatkan kapasitas diri dan menguatkan peran kiprah dai dan daiyah dalam bertugas emban amanah dakwah, DPW Hidayatullah Sumatera Utara (Sumut) yang didukung Laznas BMH menggelar Pelatihan Dai Daiyah di Deli Serdang pada 2-5 Rabiul Akhir 1444 (27-30/10/2022).
Kegiatan ini diikuti ratusan peserta yang terdiri dari 35 dai dan 70 daiyah dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Di kesempatan yang sama, dilakukan penugasan dai saat penutupan.
Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Sumut, Lukman BAMS, mengatakan kegiatan ini sebagai langkah konkret BMH dalam memberikan kontribusi pada stabilisasi dan konsistensi dai dalam membina umat dan merawat nilai-nilai kebangsaan, khususunya di berbagai penjuru pedalaman Sumatera Uata.
“Terlebih saat ini, keterbukaan informasi dan digitalisasi kehidupan, sehingga diperlukan wawasan dan keterampilan dalam menyikapinya, agar hal tersebut dapat dimaksimalkan untuk mendukung gerak dakwah semakin luas,” terang Lukman.
Pelatihan ini dihadiri empat narasumber utama, yakni KH Hamim Tohari, KH Abu A’la Abdullah, KH Nasfi Arsyad dan KH Muhammad Sholeh, semuanya didatangkan oleh panitia dari Jakarta.
Beragam materi yang disampaikan seluruhnya bersifat terapan karena pemateri adalah figure-figur yang telah malang melintang di dunia dakwah dan pembinaan masyarakat. Sangat aplikatif.
Para peserta sangat penting untuk mendorong mereka kian semangat dan tertantang dengan perkembangan dinamika masyarakat saat ini yang semakin maju dan berkembang.
Salah seorang dai yang menjadi peserta bernama Musyadi mengaku senang dan bersyukur dapat mengikuti acara ini. Menurutnya, pelatihan ini sangat bermanfaat besar buat dirinya karena ada materi bagaimana kita harus menata niat dalam dakwah, improvisasi, mindset, benturan budaya, respon antar lembaga dakwah hingga konstalasi global dakwah Islam.
“Sangat-sangat bermanfaat. Dan, insya Allah ini semakin memacu kami lebih antusias ke depan dalam berdakwah,” ujar Musyadi, dai yang mendapat tugas dakwah di Kepulaun Nias.
Dalam pada itu, Lukman menyampaikan terimakasih kepada semua pihak baik personal maupun korporasi yang telah mendukung acara ini secara penuh seperti PT Pegadaian, Pos Indonesia, PT Socfindo, Universitas Negeri Medan, Pondok Kue Nabila.
“Semoga sinergi ini menjadi jalan hadirnya pahala dan keberkahan kepada kita semua,” tandasnya.*/Yacong B. Halike
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Lembaga Studi Islam dan Peradaban (LSIP) Imam Nawawi mengatakan pertemuan Religion Forum atau Religion 20 (R20) yang mengangkat tema Revealing and Nurtuling Religion as a Sources of Global Solution: A Global Movement for Shared Moral and Spiritual Values, harus mampu meretas problematika masyarakat dunia.
Seperti diketahui, R20 yang merupakan rangkaian G20 bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam agenda perdamaian, pembangunan ekonomi, dan stabilitas dunia dengan melibatkan para pemuka agama dari berbagai agama terutama dari negara-negara anggota G20.
Menurut Imam, umumnya sepertinya tidak terlalu berbeda pendapat, bahwa ekonomi selalu jadi alasan mengapa konflik bahkan perang sampai terjadi.
“Sementara kita semua memahami bahwa sifat agama adalah mempersatukan. Ekonomi harus menjadi kekuatan pemersatu, bukan pemecah belah,” kata Imam.
Dia mengungkapkan, jika kemudian para pemimpin negara-negara dunia menyadari, bahwa agama adalah subjek penting untuk bisa mengakhiri perang atas dasar ekonomi itu.
“Tetapi, sudahkah umat beragama, katakanlah Islam, mampu memanivestasikan ajaran islam dalam realitas kehidupan,” imbuh Imam yang juga Ketum PP Pemuda Hidayatullah ini.
Jadi, terang dia, forum R20 sebenarnya menantang kita semua yang mengaku beragama. Mampukah memberikan bukti bahwa agama yang kita yakini hidup dan memelihara kehidupan umat manusia dan dunia.
“Pada level inilah, sejak sekarang umat Islam harus siap menjadikan agama eksis dan menjadi solusi bagi permasalahan dunia, sehingga harapan agama bisa menyelesaikan persoalan dunia, benar-benar bukan utopia,” katanya.
Imam juga menyoroti narasi bahwa agama harus mampu menjadi solusi bagi problematika masyarakat dunia yang mencuat dalam gelaran Forum Agama negara-negara anggota G20 di Nusa Dua Bali, 2-3 November 2022 itu.
Terlebih pada kesempatan itu, kala berpidato dalam bentuk video, 2 November 2022, Presiden Jokowi mengharapkan tokoh agama harus melakukan kerjasama untuk berkontribusi dalam menyolusikan problematika masyarakat global.
Dalam pidatonya Jokowi mengatakan tokoh agama dari berbagai agama harus bekerjasama untuk meningkatkan kontribusi agama dalam menyelesaikan masalah-masalah dunia untuk mengurangi rivalitas dan menghentikan perang demi dunia yang damai, dunia yang bersatu, dan dunia yang bekerjasama untuk mewariskan kebaikan bagi generasi mendatang.
“Kalimat itu memberikan petunjuk kepada kita semua, bahwa agama memiliki peran kunci, bahkan sangat strategis dalam membangun masyarakat dunia yang damai. Saat ini agama tak lagi dibenci. Tetapi benar-benar dinanti,” kata Imam.
“Berarti dunia memasuki babak baru. Setelah sekian lama agama kerap jadi kambing hitam aksi kekerasan dan perpecahan, sekarang orang mulai menyadari bahwa agama sebagai ajaran harus manives dalam kehidupan nyata umat manusia,” lanjutnya.
Menurut Imam, harapan Presiden Jokowi, termasuk mereka yang hadir dalam forum itu, bahwa agama harus bekerja dan kontributif untuk perdamaian dunia, merupakan satu harapan yang tepat.
“Sebab, agama, katakan dalam hal ini Islam, memang mendorong agar umatnya mampu menjadi juru damai, mendamaikan orang yang berselisih,” imbuhnya seraya menukil pesan eksplisit Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam yang memerintahkan umatnya agar tidak dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan.
Oleh sebab itu umat Islam harus menyadari pentingnya mendamaikan sesama yang berselisih, kemudian berhasil, maka umat yang lain akan melihat bagaimana agama dalam bentuk ajaran fungsional dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Dengan demikian, penduduk dunia melihat keindahan ajaran Islam,” katanya.*/Yacong B. Halike