Beranda blog Halaman 337

Pangdam XIV/Hasanuddin: Kejuaraan Nasional IOF Usung Misi Ketahanan Pangan

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Panglima Kodam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Totok Imam Santoso mengatakan jika Kejuaraan Indonesia Offroad Federation (IOF) National Championship Round 4 di Maros, Sulawesi Selatan, punya misi selain olahraga, yakni kampanye ketahanan pangan.

“Saya bersama Pangkooopsau II dan Danlantamal VI mengucapkan terima kasih kepada bapak bupati beserta Forkopimda Kabupaten Maros atas gerak cepat dalam menyiapkan kegiatan ini di wilayahnya,” ujarnya di Makassar seperti dilansir Antara, Ahad, 6 Rabiul Awal 1444 (2/10/2022).

Totok Imam Santoso mengatakan misi lain dari kegiatan olahraga itu adalah kampanye ketahanan pangan sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu untuk membantu dan menyiapkan cadangan sumber pangan.

“Kemarin kita dipanggil oleh Bapak Presiden, salah satunya mempertanyakan masalah ketahanan pangan, Alhamdulillah berselang dua hari untuk Kabupaten Maros menjadi yang pertama dalam masalah kegiatan ketahanan pangan,” katanya.

Dia menyatakan, pelaksanaan offroad, kegiatan bakti sosial, dan ketahanan pangan adalah satu rangkaian kegiatan dalam memperingati HUT TNI ke 77.

Mayjen Totok menerangkan, kegiatan ketahanan pangan dalam rangkaian acara tersebut adalah dengan pencanangan penanaman jagung dan demonstrasi pembuatan silase (pakan ternak fermentasi) di wilayah Tompobulu Kabupaten Maros.

“Jadi dalam pencanangan itu, kami lakukan penanaman jagung dan demonstrasi pembuatan pakan ternak fermentasi,” tuturnya.

Pencanangan penanaman jagung pada HUT TNI ini dalam rangka mendukung pemerintah untuk mewujudkan lahan pangan sebagai pilar perekonomian bangsa dengan memanfaatkan sumber daya alam (SDA) yang ada di wilayah.

Ia mengaku adanya komitmen yang kuat dari Pemkab Maros dan Forkopimda saat ini untuk fokus dalam menciptakan pangan sendiri, sehingga masyarakat bisa meminimalkan pengeluaran untuk memperoleh pangan.

“Tujuannya satu yaitu untuk mensejahterakan seluruh masyarakat Indonesia,” tuturnya.

Event Kejuaraan Indonesia Offroad Federation (IOF) National Championship Round 4 Sulawesi Selatan berlangsung di komplek agrowisata Wadi Barakah, Pesantren Hidayatullah, Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu.

Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari mulai 1-2 Oktober 2022 itu diikuti sekitar 120 off roader dengan dipimpin langsung oleh Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Totok Imam Santosa.*/

Nikah Mubarak 20 Pasang Santri Hidayatullah di Kampus Induk Gunung Tembak

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kaltim, kembali menggelar kegiatan Pernikahan Massal Mubarak yang diikuti sebanyak 20 pasang santri, Ahad, 6 Rabiul Awal 1444 (2/10/2022).

Acara yang berlangsung khikmad bertempat di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak, ini dimulai sejak sekitar pukul 08.00 WITA hingga menjelang zuhur.

Pantauan di lokasi acara, suasana sakral dan kegembiraan meliputi prosesi pernikahan tersebut. Pernikahan yang juga tercatat secara resmi di lembaga negara ini dipandu tiga penghulu agama dari KUA setempat.

Walikota Balikpapan Rahmad Mas’ud menyampaikan selamat kepada para mempelai yang berbahagia hari ini dalam rangka pernikahan mubarak di Ponpes Hidayatullah.

“Saya yakin mereka yang menikah hari ini bisa menjaga dan rawat pasangan sebaik- baiknya. Semoga perkawinan yang mubarak terus bertahap hinhga akhir hayat,” kata Walikota Rahmad.

Pada kesempatan tersebut, Walikota juga menyapa undangan dan para mempelai pernikahan seraya mendoakan semoga bahtera rumah tangga yang dibangun senantiasa penuh berkah.

“Kami doakan menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah, dan dikaruniai anak-anak yang sholeh sholeha dan berbakti kepada orang tua,” kata Rahmad.

Sementara itu, Kepala Kemenag Kota Balikpapan, Johan Marpaung mengatakan, suatu kebahagian terutama dari Kementerian Agama bahwa bisa memberikan apresiasi yang luar biasa ternyata bahwa pernikahan itu mudah, biaya juga murah. Bahkan menikah di jam kerja itu biaya gratis.

“Yang bikin mahal itu acara-acaranya, tapi sesungguhnya menikah itu dimudahkan,” kata Johan.

Kata Johan, pernikahan merupakan bentuk sunnah dari Nabi Muhammad SAW, yang menjadikan suatu perhatian bagi orang tua untuk tidak melepas begitu saja anak-anak mencari jodohnya, tapi harus kita mendampinginya.

“Sehingga pernikahan mereka bisa terus bertahan,” katanya seperti dilansir inibalikpapan.

Sedangkan Ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Balikpapan, Ust Hamzah Akbar, memberikan ucapan selamat kepada 20 pasang santri yang melaksanakan pernikahan hari ini.

Hamzah mengatakan, mereka setelah pernikahan itu akan kembali ke daerah masing-masing, seperti Kendari, Lampung, Samarinda, dan daerah lainnya, setelah mendapatkan pasangannya.

“Yang karena pernikahan mubarak ini, kita upayakan sebagai kultur di Hidayatullah, bahwa diantara mereka semua produk pernikahan mubarak,” tutur Hamzah.

Ia menjelaskan, penetapan calon pasangan masing-masing santri itu pun dilakukan oleh panitia yang dibentuk khusus, yang selama ini memang sudah berpengalaman dalam pernikahan seperti itu.

“Proses nikah menjadi penguat baru mereka (pengantin),” ujar Hamzah.

Setelah menikah, para santri yang juga dai serta guru tersebut ditugaskan kembali ke daerah masing-masing.

“Harapan kita mereka kembali ke daerah dengan semangat baru, dengan gairah baru. Paling tidak ada teman berbagi,” ujarnya.*/Ramadan

Ujian adalah Konsekuensi untuk Teguhkan Iman

0

SEORANG mukmin bukanlah seseorang yang hidup tanpa dilanda masalah dan ujian. Sebaliknya, keimanannya justru menjadi alasan bagi Allah untuk menurunkan berbagai ujian, sebagaimana firman-Nya,

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Sungguh Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Qs. al-‘Ankabut: 2-3)

Singkatnya, Allah ingin melihat apakah pengakuan itu serius atau hanya bergurau; walau sebetulnya sangat mudah bagi-Nya untuk mengetahui isi hati manusia. Sebab, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya (lihat: Qs. al-Mu’min: 19). Tampaknya, ujian adalah bagian dari cara Allah untuk mematangkan iman kita masing-masing.

Di balik setiap ujian Allah ingin mengajarkan banyak hikmah kepada hamba-Nya. Salah satunya adalah bagaimana berpikir positif.

Sebagai misal, ketika membicarakan musibah yang menimpa kaum muslimin dalam Perang Uhud, Allah memandu kita untuk melihat sebuah “kekalahan” dan “kegagalan” dari sudut-sudut yang positif, sehingga setiap musibah tidak menghancurkan jiwa namun justru meneguhkannya.

Dalam Qs. Ali ‘Imran: 140-142, Allah berfirman, “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun telah mendapat luka serupa (pada perang Badar). Masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); supaya Allah membedakan orang-orang beriman (dengan orang-orang kafir); dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Allah tidak menyukai orang-orang zalim. Dan, agar Allah membersihkan orang-orang beriman (dari dosa mereka) serta membinasakan orang-orang kafir. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata (pula) orang-orang yang sabar?”

Jika dipersepsi secara negatif, kekalahan dalam Perang Uhud bisa saja meruntuhkan iman. Dalam Sirah Nabawiyah dikatakan bahwa lebih dari 70 orang Sahabat gugur, termasuk Hamzah bin ‘Abdul Mutthalib, paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bukankah kekalahan sedahsyat itu bisa menggiring mereka berprasangka buruk kepada Allah dan merasa ditinggalkan-Nya?

Jika demikian, benih-benih kemunafikan dan kekufuran mudah bersemi. Beruntunglah Allah segera menurunkan wahyu-Nya. Dipandu-Nya Rasulullah dan para Sahabat untuk memilih sikap yang benar, sehingga menjadi teladan abadi bagi kita.

Demikianlah, dalam menghadapi setiap kegagalan dan musibah, ayat-ayat di atas – juga banyak ayat lain yang senada – memandu kita untuk tetap tegar dan bisa memetik hikmah dari setiap kejadian. Jika kita bersikap sebaliknya dan merasa gagal, maka jiwa pun melemah; dan ketika itulah syetan mudah masuk untuk membisikkan beragam kekeliruan.

Hikmah lain dari musibah adalah menghapuskan dosa-dosa dan menaikkan derajat di sisi Allah. Setiap musibah yang menimpa seorang muslim, bila dihadapi dengan sabar, akan menjadi penebus dosa. Rasulullah bersabda,

“Tidak ada satu pun musibah yang mengenai seorang muslim melainkan dengan itu Allah menghapuskan darinya dosa-dosanya, bahkan dikarenakan sepucuk duri yang menusuknya.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari ‘Aisyah).

Diriwayatkan pula bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi, kemudian setingkat demi setingkat (di bawahnya). Maka, seseorang akan diuji sesuai dengan (tingkatan) agamanya. Jika agamanya kokoh, maka semakin berat pula ujiannya. Jika agamanya rapuh, maka ia akan diuji sesuai dengan (tingkatan) agamanya itu. Ujian tidak akan berhenti menimpa seorang hamba sampai akhirnya ia berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak memiliki satu dosa pun.” (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits hasan-shahih).

Demikianlah. Karena ujian adalah bagian dari konsekuensi iman, maka setiap ujian adalah peluang mendapatkan pahala, sebagaimana sabda beliau, “Besarnya pahala itu disertai dengan besarnya ujian. Sungguh, bila Allah mencintai suatu kaum, niscaya Dia menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan (dari Allah); dan barangsiapa yang marah, maka baginya kemarahan pula.” (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Anas. Hadits hasan-shahih).

Meskipun demikian, kita dilarang meminta agar diuji oleh Allah. Sebab, kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi hati kita ketika itu, apakah siap ataukah tidak. Sungguh, hati kita sangat mudah berubah bahkan dalam hitungan detik.

Sebaliknya, Islam justru mengajarkan kita untuk memohon kepada-Nya keselamatan dan keteguhan iman. Singkat kata, kita dilarang “menepuk dada” dan menantang turunnya ujian, akan tetapi diperintahkan untuk bersikap rendah hati dan meneguhkan jiwa ketika ujian itu benar-benar datang.

Oleh karenanya, dikisahkan bahwa menjelang pecahnya sebuah pertempuran, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di depan barisan para Sahabat, lalu berkhutbah, “Wahai manusia, jangan berangan-angan menjumpai musuh (di medan perang). Mintalah kepada Allah keselamatan. Namun, bila kalian telah berhadapan dengan mereka, maka bersabarlah, dan ketahuilah bahwasanya surga itu berada di bawah bayangan pedang.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari ‘Abdullah bin Abi Aufa).

Jadi, ujian pasti menghampiri kehidupan seorang mukmin. Hanya saja, jangan angkuh dan menantang kedatangannya. Jika ia benar-benar terjadi, semoga Allah meneguhkan hati kita dalam menghadapinya. Amin. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Biarlah Keimanan Bekerja Sebagaimana Mestinya

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Alhamdulillah kita bertemu karena dorongan keimanan. Keimanan itulah kenikmatan tertinggi yang diberikan oleh Allah. Hanya dikaruniakan kepada hamba yang dicintainya. Sekalipun kita tidak memiliki apa-apa tetapi ada iman, kita memiliki segala-galanya. Sebaliknya, jika kita menggenggam dunia dan seisinya tanpa iman, sesungguhnya kita manusia termiskin.

Kebahagiaan yang luar biasa bisa membersamai 300 kader halaqah wustha Hidayatullah Jawa Timur. Setelah hadir di sini, ternyata yang di lapangan ini sekitar 5000 orang. Yang paling memberikan harapan, tidak sampai 100 orang yang sudah usia tua. Ada secercah harapan lahir pelanjut-pelanjut perjuangan.

Yang tertua di sini mungkin saya, karena 2023 nanti saya sudah berumur 70 tahun. Saya berkiprah di dunia dakwah sejak umur 10 tahun. Saya pernah ke Malang ini di jalan Flores. Di Surabaya saya pernah di Ampel tahun 1970. Di Yogya dan Solo merupakan medan dakwah yang sudah saya lewati lorong-lorongnya. Sering berjalan kaki dari Solo ke Yogya.

Melihat kampus yang megah ini terbayang adanya spirit kebangkitan peradaban ke depan. Ada yang indah dalam perjalanan ini. Sehingga semuanya terus memberikan yang terbaik untuk perjuangan. Keimanan yang melahirkan peran dan kontribusi maksimal.

Dua pekan akhir ini saya dapat kiriman salam dari Ust. Abdurraham, dari Ust. Samsuddin, Ust. Idris, sehingga dua pekan ini -qadarullah- bisa berjalan. Itulah kiriman doa terbaik untuk saya tadi, padahal sebelumnya terbaring di ranjang.

Hidayatullah di Jatim dirintis tahun 1986. Merintis itu identik dengan merintih. Itulah romantika perjuangan yang sebenarnya romantis. Dimulai dari jiwa besar, sebuah mental militansi. Jangan menganggap saat itu serba ada. Justru, semuanya dimulai dari nol. Dan sekarang kita rasakan kedahsyatan efeknya. Hingga mentransfer aura positif ke Malang ini.

Anak-anakku, bahwa negeri ini 200 juta Muslim. Namun, mayoritas belum bisa mengaji. Inilah medan dakwah yang memberi tantangan sekaligus peluang. Apakah tantangan ekspansi dan terjun bebas ke pelosok negeri dibiarkan ? Tidak mungkin, dakwah harus terus berproses menuju arus dan rutenya sendiri.

Perintis Hidayatullah ini (Jatim) digerakkan oleh generasi muda. Ust. Abdurrahman merintis perjuangan ini pada usia likuran tahun. Saya dan pendiri Hidayatullah (Ust. Abdullah Said) belum genap 26 tahun. Yang menemani Rasulullah Saw pun adalah mayoritas pemuda. Para sahabat usia welasan dan likuran sudah terorbitkan menjadi pemimpin. Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan.

Pemuda-pemuda itulah lulusan rumah-rumah quran. Mengapa Islam bisa menyebar ke seluruh dunia padahal tidak difasilitasi? Itulah getaran kekuatan di balik dada.

Islam datang di Indonesia ini menggunakan perahu menuju samudera Pasai kemudian lewat pantura menuju Gresik. Pondok pesantren pertama di Jawa adalah di Giri.

Kemudian para dai Arab datang dengan kekuatan Iman. Setelah ada dakwah, penduduk Indonesia berubah menjadi mayoritas Muslim. Lahirlah kerajaan-kerajaan di Nusantara. Iman itu fungsional untuk melakukan perubahan. Dan Iman itu datang lewat gerakan pencerahan dari Allah. Itulah gerakan membangun peradaban.

Ada tiga unsur utama pada diri manusia yang harus terus dicerahkan. Dilakukan tilawah, tazkiyah dan ta’limul kitab wal hikmah. Pencerahan ruhiyah, qalbiyah, aqliyah dan jasadiyah. Manusia bergerak karena ruhnya. Ruh tidak terjangkau oleh sekedar ilmu logika, apalagi ilmu inderawi. Akal bisa berfungsi melakukan tugasnya jikalau ruhnya bekerja. Dan ruh itu fungsional kalau ada keimanan. Dan keimanan lahir karena sentuhan dan goresan wahyu.

Mukmin yakin tidak sekedar menangkap bukti-bukti inderawi, tetapi beriman terhadap yang ghaib. Wawasan orang beriman tidak sempit, hanya dikungkung oleh bukti-bukti inderawi yang lima saja. Tetapi, bisa menghubungkan dirinya kepada yang ghaib.

Wahyu membimbing hati sehingga lahir inspirasi, ilham, dan petunjuk. Dengan hati yang terbimbing lahir lah kekuatan gerak untuk berkorban, mewujudkan kebersamaan, melahirkan kasih sayang, militansi, kelapangan dada, dan ketenangan jiwa. Juga kekayaan batin yang tidak bisa dinilai dengan materi. Ada panggilan jiwa untuk tidak berhenti menanam kebaikan di taman kehidupan hingga ajal menjemput.

Iman memiliki 67 cabang. Paling tinggi adalah La ilaaha illallah. Yang paling rendah menyingkirkan gangguan (duri) di jalan. Jika kampus kita tidak bersih, indikator iman yang paling bawah tidak mewujud. Peradaban adalah manifestasi (perwujudan) keimanan dalam berbagai dimensi keimanan.

Membangun peradaban adalah gerakan iman. Dan membangun itu harus utuh. Ya ruhaninya ya jasmaninya. Maka para sahabat menghabiskan materi dan menyimpan kekayaan imaterial.

Siapa yang pernah semalam tidak tidur memikirkan Islam dan umat. Iman selalu mendorong pemiliknya untuk melakukan ekspansi, berkorban, itulah aksiomatik keimanan. Disanalah ada keindahan. Disanalah ada cinta Allah.

Afdhaludz dzikri Laa ilaaha illallah. Itulah pemberat timbangan amal kita. Kunci masuk surga. Akhirat tidak terbatas. Perjalanan menuju ke sana itu sulit dan menantang. Berbeda dengan jalan neraka, diliputi taburan bunga semerbak.

Kita akan menemukan kedahsyatan di Mahsyar. Orang tidak saling memperhatikan. Masing-masing disibukkan dengan urusannya sendiri. Matahari di atas kita. Kita bisa bermandikan keringat. Orientasi akhirat itulah menjadikan para sahabat all out (tajarrud) untuk berjuang.

Setelah surat Al Muzzammil tidak ada masa untuk tidur. Berdiri malam hari untuk bertemu Allah. Ketika ada tabattul, sabar, tawakkal, Rabbul masyriq wal maghrib, qaulan tsaqila, itulah azimat untuk tidak mundur sekalipun selangkah. Setelah itu perintah qum fa andzir. Penguasa dunia harus diberi peringatan. Nyali tidak boleh ciut.

Kalau Romawi menang dengan Persia, rajanya akan berjalan dari home ke Palestina. Saat itu terjadi perjanjian Hudabiyah. Rasulullah kemudian kirim surat kepada para raja, Aslim, Taslam. Jika kalian masuk Islam, kalian dijamin bisa selamat.

Dunia ini kita habiskan untuk memfasilitasi kita untuk menuju akhirat. Dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan akhirat. Janji akhirat yang menggiurkan. Islam dan iman itu suatu keindahan. Ucapan yang dominan di surga salamun alaikum thibtum.

Adakah kegelisahan kita ini melihat orang belum bisa mengaji ? Orang terjerumus ke lembah dosa? Jika tidak ada rasa empati, iman kita belum ekspansif. Kita hanya shalih ritual. Bukan shalih sosial. Shalih hanya untuk dirinya sendiri, shalih yang tidak berdaya. Bukan mushlih.

لقد جاءكم رسول من انفسكم عزيز

Apa yang membuat konflik dalam kehidupan ini ? Sekelas sahabat mempertanyakan harta rampasan. Ternyata harta pemicunya. Padahal sudah memperoleh kemenangan.

Ternyata kekalahan perang Uhud ada yang melahirkan syuhada dan hiburan bahwa kemenangan itu dipergilirkan. Teruslah berjuang dalam keadaan berat dan ringan. Jika menang bersyukur, jika kalah bersabar. Bukan persoalan kalah dan menang, tetapi apakah dengan dua kondisi yang kontradiktif tersebut menaikkan grafik taqarrub ilallah. Itulah parameter kemenangan sesungguhnya.

Jika iman sedang surut, semua berat. Jika kita untung duniawi hari ini, sebentar malam bisakah bangun malam? Jadi, terus mendeteksi apa yang menjadikan iman kuat dan melemah.

Dua hal tadi, qumillail dan qum fa andzir. Berefek kepada al Hamdulillah. Al Fatihah kemenangan awal, karena para pejuang menyatu dalam beribadah dan memohon istianah. Menyederhanakan perbedaan yang bersifat variatif dan mengedepankan hal yang prinsip. Prinsip adalah landasan berpikir dan bergerak. Itulah kemenangan awal.

Awal dari kegoncangan dalam suatu komunitas adalah ketidakadilan distribusi wewenang dan harta. Sehingga Rasulullah dikatakan tidak adil. Ooh, ternyata harta sumber konflik.

Alangkah indahnya, para aktifis memberikan fasilitas untuk Islam dan generasi penerus. Pertanyaan berikutnya, mampukah generasi pelanjut melipatgandakan hasil yang sudah ada ini? Hanya beberapa gelintir orang (5 orang) yang merintis Jawa Timur, 36 tahun yang lalu, sehingga melahirkan fenomena ini semua.

Generasi pelanjut Rasulullah sukses melipatgandakan modal awal perjuangan. Pada masa Umar terjadi ekspansi besar-besaran. Pada 10 tahun menjabat, dari titik kecil Makah dan Madinah menaklukkan 20 negara. Inilah kepemimpinan wahyu, mengelola dan melipatgandakan modal yang telah ada.

Setelah 36 tahun sudahkah menguasai Jawa Timur? Saya optimis masih ada para pendiri dan perintis di sini. Kalau Jatim belum ditaklukkan, kirim ke luar negeri. Mungkin idealisme terkungkung di sini. Berikan mereka peluang untuk berinovasi dan membuat strategi.

Dawud melawan Jalut dengan strategi ketapel. Perang asimetris. Bekali anak muda untuk bermanufer dan membuat strategi. Perang sekarang jurusnya untuk pandai membuat strategi.

Hikmahnya tidak diberi ruang di Makkah, akhirnya ekspansi keluar untuk menyusun strategi. Dan di medan dakwah yang baru, benar-benar dirasakan kiprahnya oleh penduduk setempat.

Jika terus diintrodusir Sistem Wahyu sebagai konsep dan praktek akan melahirkan transformasi secara berkesinambungan. Dewan Murabbi jangan berhenti berpikir dan bergerak. Untuk terus menyempurnakan konsep transformasi manhaj, baik dari sisi keilmuan dan cara menerapkannya di medan dakwah.

Jangan berpikir kapan sampai tujuan, yang penting jangan berhenti berjalan. Para ulama melahirkan karya dengan duduk, sedikit sekali tidurnya. Mereka berkarya karena motivasi iman. Memburu ilmu karena spirit peradaban. [ ]

(Catatan dari taujih disampaikan Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad pada acara Halaqah Kubro Hidayatullah Jatim pada Ahad, 25 September 2022. Ditulis ulang oleh Dadang Kusmayadi via Hidayatullahjabar.com)

Hidayatullah kini Hadir di Semua Kabupaten/ kota Maluku Utara

0

TALIABU (Hidayatullah.or.id) — Sore hari itu, tepat pukul 16.30 WIT pada hari Rabu, 21 September 2022, Kapal Motor (KM) Al Sudais 21 bertolak meninggalkan pelabuhan Ahmad Yani, Kota Ternate, dan berlabuh keesokan harinya, Kamis (22/9/2022), di pelabuhan Sanana, Kepulauan Sula, sekira pukul 07.00 WIT.

Perjalanan laut yang ditempuh kurang lebih 14 jam ini turut membawa Ustadz Rahman, dai muda Hidayatullah yang mendapat amanah dakwah baru. Sebelumnya ia pernah mengabdi membina muallaf suku Wana di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

Dari pelabuhan Sanana, mengharuskan Rahman dan rekannya sebagai penumpang lanjutan untuk pindah kapal yang menuju ke Kecamatan Loseng, Kabupaten Taliabu.

Tepat pukul 17.42 WIT atau kurang lebih 10 jam masa menunggu di Kota Sanana barulah petualangan dilanjutkan dengan menumpang KM Sabuk Nusantara 88 yang diagendakan sampai tujuan akhir pukul 03.30 WIT pada hari Jumat 23 September 2022.

Traveling sejak Rabu hingga Jumat melalui transportasi laut ini dalam rangka upaya menggenapkan jumlah distribusi dai ke titik pedalaman sekaligus perintisan Hidayatullah.

“Penugasan dai di Taliabu ini turut melengkapi cabang Hidayatullah di seluruh kabupaten kota se Maluku Utara,” kata Ketua DPW Hidayatullah Maluku Utara, Ust Nur Kholis.

Menurut Nur Kholis, penugasan dai perintisan di Taliabu ini terbilang cukup alot, berbeda dengan kabupaten/kota yang lain yang sudah terdistribusi oleh dai perintisan sejak tahun 2021 yang lalu.

Proses yang relatif panjang tersebut diantaranya karena selain pulau Taliabu yang relatif jauh dari ibu kota provinsi Maluku Utara, juga ketersediaan sumber daya kader dia untuk ditugaskan. Seperti diketahui, Taliabu adalah pulau terpencil yang infrastrukturnya tidak se maju seperti daerah lain.

Kendala tersebut akhirnya terjawab pasca Pengurus Wilayah Hidayatullah Maluku Utara menyelenggarakan kegiatan daurah marhalah wustha yang bertempat di Pondok Pesantren Tahfizh Qur’an Hidayatullah Gambesi, Kota Ternate, yang juga dihadiri oleh ketua Departemen Pengkaderan DPP Hidayatullah Ust Mohammad Sholeh Usman.

Kegiatan daurah marhalah wustho yang berlangsung sejak tanggal 11-14 September 2022 diramaikan dengan agenda yang beragam dan pada acara penutupan dirangkaikan dengan pengumuman nama-nama dai penugasan.

Saat itu, ada 3 nama yang mendapat SK, salah satu diantara mereka adalah Abdul Rohman alias Rohman yang ditugaskan di Taliabu.

Tidak berlebihan jika sosok ini yang diplot sebagai dai yang akan menerima tantangan dakwah di Taliabu. Ia siap maju terdepan untuk melelehkan kebekuan berpikir setelah sekian lama membatu.

Dai muda ini menyambut SK penugasan dengan sigap. Ia patuh dan berangkat tugas, sekalipun pengantin baru yang harus berpisah dengan istri untuk beberapa saat.

Dengan restu kedua orang tua dia berangkat. Rohman menepikan segala keraguan termasuk mengabaikan bisikan untuk tidak berangkat apalagi dengan bumbu Taliabu sebagai daerah tertinggal.

Selama perjalanan ia mengalami demam, flu, dan batuk, hingga sampai tujuan. Namun rintangan dan tantangan ini semua luluh dengan semangat perjuangan. Ikrar perjuangan ini terlanjur menggema saat memberikan testimoni pada acara penutupan dauroh marhalah wustho dengan satu kata, “berangkat!” yang selanjutnya disambut gembira oleh Ust Shaleh Usman dengan berkata “ini sudah!”.

Sambil menyudahi testimoni Rohman sebagai tanda kepuasan atas jawaban yg ditunggu tunggu sejak awal, menurut Shaleh ini relevan dengan slogan, “sekali mengudara tetap di udara”.

Pukul 03.30 pada hari Jumat tanggal 23 September 2022 KM Sabuk Nusantara 88 sampai di pelabuhan Losseng dan penumpang harus pindah tumpangan naik sekoci untuk sampai di daratan karena kapal berlabuh di tengah lautan.

Di pagi hari dakwah perdana di kepulauan Taliabu langsung dijalankan pada hari pertama beberapa saat setelah sampai di kampung Losseng dengan menyampaikan materi pada acara morning motivation Jum’at pagi dihadapan ratusan siswa dan siswi SMA 4 Kepulauan Taliabu di Losseng. Pada acara tersebut juga turut dihadiri oleh kepala sekolah Nazar La Parintah, S.Pd, para dewan guru dan ketua PPN setempat bapak Imran Perbela.

Hari kedua, Sabtu 24 September 2022 dakwah dilanjutkan dengan tabligh akbar yang tidak hanya dihadiri oleh siswa dan siswi SD hingga SMA di Losseng tapi juga turut hadir jamaah masjid, majelis taklim, dan orang tua/wali murid. Semua bisa berbondong bondong hadir atas kerjasama bapak kepala sekolah SMA 4 Taliabu dan dewan guru.

Susunan acara tabligh akbar diawali dengan pembacaan ayat ayat suci Al Quran oleh siswi SMA 4 Kepulauan Taliabo, kemudian dilanjutkan dengan sambutan sambutan.

Dalam sambutannya kepala sekolah SMA 4 kepulauan Taliabu menyampaikan tujuan kehadiran dai Hidayatullah, Ust Rohman untuk mengajarkan anak anak dan warga Losseng membaca Al Qur’an sekaligus akan dijadikan sebagai sumber daya bagi sekolah untuk fokus pada pembinaan akhlak dan karakter anak anak.

Pada acara tabligh akbar Ust Rohman didaulat menjadi penceramah dan menyampaikan materi dengan gaya milenial sehingga anak anak dan juga orang tua sangat antusias menyimak dan mendengarkan isi ceramah.

Pada sesi terakhir acara tabligh akbar ditutup dengan doa oleh imam masjid Al Muhajirin Ust La Ode Rafiun. Dalam doanya penuh harapan kampung Losseng seperti Mekkah dan Madinah sesak dengan para penghafal Qur’an yang kemudian diaminkan oleh jamaah yang hadir.

Seusai tabligh akbar dilanjutkan dengan sholat zuhur berjamaah kemudian penyampaian hasil komunikasi bapak kepala sekolah dengan orang tua wali murid terkait rencana pembukaan pendidikan semi pesantren di sekolah sehingga anak anak setelah pulang sekolah akan masuk asrama untuk mengikuti pembinaan oleh Ust Rohman dengan kurikulum utama Al Qur’an dan hafalan doa doa harian.

Program tersebut disambut baik dan didukung penuh oleh para dewan guru, orang tua, dan juga jamaah masyarakat setempat. Para murid inilah yang akan menjadi santri awal Ust Rohman sampai ada lahan untuk pembangunan Pondok Pesantren Hidayatullah Losseng Kepulauan Taliabu.

“Program program semacam ini akan menjadi rutinitas peningkatan daya spritual walaupun kondisi tanpa listrik dan jalan raya,” kata Rohman.

Selain program di atas, kunjungan silaturrahim dai juga dilakukan agar kampung kampung tetangga juga merasakan cahaya Islam.

Syiar Islam tersebut menurut Ust Rohman penting dilakukan karena kondisi kaum muslimin yang masih memprihatinkan dimana terdapat kampung muslim kurang lebih 100 KK tapi masjid gelap gulita dan masih sepi dari shalat berjamaah.

Langkah pembinaan itu mulai dilakukan dengan menjalin sinergi dengan tokoh agama dan masyarakat seperti halnya di masjid Baitusalam, Desa Kawadang, Kecamatan Taliabu Timur Selatan.

Sesaat setelah shalat magrib, sejumlah jamaah berharap ada dai yang menetap membina di sana dan bisa memberikan pencerahan Islam guna menguatkan aqidah umat Islam dari gempuran misionaris.*/La Ode Ilman

[Khutbah Jumat] Hakikat Hidup yang Singkat

0

KITA pasti mati. Tetapi itu bukan akhir dari segalanya. Bahkan inilah awal dari kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang abadi. Di sana manusia tinggal menerima resiko dari apa yang dilakukannya selama hidup di dunia.

Pada akhirnya hanya ada dua pilihan ekstrim, ditempatkan di surga dan merasakan hidup penuh kebahagiaan tanpa batas. Atau sebaliknya ditempatkan di neraka dan menderita selamanya tanpa batas.

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:

Bersama LSP BEKSYA Laznas BMH Lakukan Sertifikasi Amil

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Guna memperkuat sisi profesionalitas amil yang merupakan rangkaian penting dalam pertanggung jawaban publik dan pemerintah, Laznas BMH melakukan sertifikasi amil yang digelar bersama Lembaga Sertifikasi Profesi Bisnis Ekonomi dan Keuangan Syariah (LSP BEKSYA).

Hadir dalam kegiatan yang berlangsung di Pesantren Hidayatullah Depok itu Direktur Operasional LSP BEKSYA, Indra Yuliawan, MBE menerangkan posisi sertifikasi yang sedang berlangsung selama 2 hari itu.

“Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mengamanatkan pembentukan Badan Nasional Sertifikasi Profesi yang independen untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja bagi tenaga kerja, baik yang berasal dari lulusan pelatihan kerja dan/atau tenaga kerja yang telah berpengalaman dengan pentingnya sertifikasi,” terangnya dalam sambutan pembukaan kegiatan, Selasa, 23 Safar 1444 (20/9/2022).

Indra menerangkan, melalui PP 10 tahun 2018 dijelaskan bahwa sertifikat kompetensi adalah piagam atau kartu yang berisi bukti pengakuan tertulis atas penguasaan kompetensi kerja pada jenis profesi tertentu.

“Sertifikat tersebut diberikan oleh lembaga yang berwenang di bidang terkait, seperti organisasi profesi,” imbuhnya.

Lebih jauh, dijelaskan bahwa uji kompetensi ini adalah amanat dari UU nomor 13 dan juga PP 10 BNSP dan sesuai dengan SKKNI terbaru Nomor 30 tahun 2021 tentang bidang pengelolaan zakat. “Dalam hal ini dilakukan oleh LSP Bisnis Ekonomi Keuangan Syariah yang telah di berikan lisensi oleh BNSP,” tegasnya.

Sementara itu Direktur Utama Laznas BMH Supendi mengatakan bahwa ini adalah bagian dari komitmen BMH dalam meningkatkan profesionalitas kinerja dalam mengelola dana zakat.

Menurut Supendi, sertifikasi amil atau uji kompetensi ini BMH selenggarakan sebagai wujud komitmen hadirkan kinerja dan layanan publik yang terstandar sebagaimana regulasi yang berlaku.

“Ini akan jadi agenda yang berlangsung secara berkelanjutan, mengingat jaringan Laznas BMH tersebar di 34 provinsi,” ungkapnya.

Uji kometensi kali ini diikuti oleh 23 asesi dari berbagai wilayah di Indonesia. Salah seorang asesi dari Maluku Utara, Asfir Abdul Bashir mengaku senang dengan gelaran uji kompetensi ini.

“Saya merasa sangat terbuka wawasan dan bagaimana bekerja secara sistemik berdasarkan regulasi yang ada. Ini akan sangat mendorong kami dalam bekerja di Maluku Utara lebih baik dan profesional. Saya akan menerapkan ini sebagai satu amanah yang harus diterapkan dalam setiap operasi BMH melayani umat,” tuturnya bersemangat.*/Herim

Kembangkan Pertanian Terpadu dan Berkelanjutan di Bontang

0

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Pagi itu, Kamis, 4 Safar 1444 (01/9/22) ada yang berbeda di Pesantren Hidayatullah Qaryah Mubarokah, di Desa Suka Rahmat, Kecamatan Teluk Pandan, Kutai Timur. Kerja sama antara PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) dan Kelompok Tani Hidayatullah Qaryah Mubarokah resmi diteken.

Kerjasama tersebut dimaksudnya pemberdayaan masyarakat dalam bidang pertanian terpadu dan berkelanjutan. Pengurus DPD Hidayatullah Bontang, Ust Usman Sulaiman, menjelaskan bahwa ini merupakan program unggulan DPD Hidayatullah Bontang untuk mengembangkan ekonomi produktif.

Gayung bersambut, PT. Pupuk Kaltim sebagai bentuk kepedulian terhadap pengembangan masyarakat mendukung program tersebut. Dukungan itu diwujudkan dengan mengadakan tempat pelatihan dan pengembangan pertanian terpadu dan berkelanjutan.

Kerja sama tersebut diwujudkan dengan pencetakan sawah 1,1 ha, pemberian alat pertanian serta perbaikan irigasi. Adapun sawah tersebut akan digarap dengan metode sawah surjan, yang dikenal tangguh untuk berbagai medan tanah.

Sawah surjan yaitu metode menanam padi yang dikombinasi dengan tanaman lain yang mendukung pertumbuhan padi. Pada umumnya, tanaman yang digunakan adalah tanaman pertanian jenis palawija.

VP TJSL Pupuk Kaltim Anggono Wijaya mengatakan melalui sistem sawah surjan, petani binaan didorong untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal dalam satu lahan pada berbagai komoditas, dengan sistem tanam selang seling. Dimana pada musim kemarau, praktis petani tidak dapat menanam padi sehingga bisa diganti palawija. Lalu pada musim hujan, sawah bisa digenangi air secara baik untuk ditanami komoditas padi.

“Realisasinya pun sudah diawali dengan membekali petani binaan untuk pengelolaan lahan sawah surjan, termasuk berbagai dukungan langsung agar gagasan ini berjalan maksimal,” lanjut Anggono.

Implementasi konsep pertanian modern melalui Smart Green House mulai dikembangkan PT Pupuk Kaltim, menggandeng kelompok tani binaan Qoriyah Mubarokah ini digagas dalam upaya mendorong terwujudnya pertanian terpadu dan berkelanjutan, melalui implementasi pertanian presisi dengan pendampingan optimal.

Konsep pertanian ini dilaksanakan melalui sistem pentahelix, di atas lahan seluas 1.000 meter persegi di kawasan pertanian Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat hingga pemerintah dalam mewujudkan inovasi melalui kolaborasi aktif dan sinergis. Hal ini pun diharap tak hanya mampu mendorong tata kelola pertanian secara optimal, tapi juga memberi nilai tambah bagi petani dan masyarakat sekitar.

“Secara konsep, smart green house akan dikembangkan menjadi potensi agrowisata unggulan di Kalimantan Timur, sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat terkait tata kelola pertanian secara terintegrasi,” ujar Anggono Wijaya.

Selain memulai pembangunan smart green house, tahap awal pengembangan program juga dilaksanakan melalui budidaya sawah surjan oleh kelompok tani binaan, yang merupakan inisiasi pertama di Kalimantan Timur. Hal ini melihat kondisi lahan pertanian di kawasan Ponpes Hidayatullah cocok untuk berbagai jenis tanaman pangan, palawija dan hortikultura. (kp/hio)

[Khutbah Jumat] Menjadi Saksi Sejati Kenabian Muhammad ﷺ

0

SEBAGAI mukmin tentulah kita telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah. Artinya, kita semua pasti telah mempersaksikan bahwa Allah adalah Tuhan kita dan tidak ada Tuhan yang kita sembah selain-Nya.

Di saat bersamaan, kita juga bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Pertanyaannya: apakah yang dimaksud dengan “kesaksian” itu?

Lantas, bagaimana dengan kesaksian dalam syahadat kita itu? Apa makna dari “saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”? Apa dasar dari kesaksian kita? Benarkah kita telah bersaksi, dalam arti mengetahui kerasulan beliau dengan sebenar benarnya, atau ikrar syahadat itu hanya ucapan yang tanpa hakikat?

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:

Songsong Silaturrahim Nasional Hidayatullah 2023, Kampus Gunung Tembak Tingkatkan Persiapan

0
Ilustrasi] Silaturahim Nasional Hidayatullah 2018 di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim.* [Dok: SKR/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah bisa dipastikan insya Allah kembali digelar tahun depan. Kepastian ini diambil melalui Musyawarah Majelis Syura (MMS) di Jakarta beberapa waktu lalu. Meskipun kepastian detail waktunya belum ditentukan.

Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, selaku tuan rumah, telah mulai meningkatkan persiapan menyongsong Silatnas Hidayatullah 2023.

“Ini agenda rutin kita Hidayatullah,” ujar Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan, Ust. Hamzah Akbar, dalam rapat pekanan pengurus YPPH di Gunung Tembak, Senin, 15 Safar 1444 (11/09/2022) pagi.

“(Silatnas Hidayatullah 2023) sudah ditetapkan, sudah ditunjuk steering-nya,” tambah ustadz yang pernah menjadi Ketua Panitia Pelaksana Silatnas Hidayatullah ini.

Ust. Hamzah juga mengungkapkan, telah disepakati bahwa yang menjadi Ketua Panitia Pelaksana Silatnas Hidayatullah 2023 adalah Ustadz Muhammad Arfan AU (Ketua Departemen Sumberdaya Insani DPP Hidayatullah).

Kemudian, sebagai Sekretaris yaitu Ustadz Abul A’la Maududi (saat ini Sekretaris YPPH Balikpapan) dan sebagai Bendahara Ustadz Fathun Qorib (Ketua Yayasan Ittihaadi Mardhatillah Indonesia).

Adapun para pengurus lainnya di kepanitiaan Silatnas Hidayatullah mendatang sebagian dari pengurus YPPH Balikpapan saat ini. Tentu juga melibatkan banyak orang dari luar Gunung Tembak.

Oleh karenanya, Hamzah mengimbau kepada para pengurus YPPH Balikpapan untuk mulai mempersiapkan diri menyongsong silatnas.

Beberapa titik poin yang ditekankan Ketua YPPH kepada para pengurus YPPH, di antaranya yaitu meningkatkan koordinasi dan kolaborasi antar bidang, departemen, dan unit.

Mulai saat ini hingga silatnas mendatang, para pengurus YPPH diimbau untuk mulai membangun pola pikir dan mengkondisikan berbagai program YPPH dengan program terkait silatnas.

“Planing kita sudah planing silatnas, mindset kita sudah mindset silatnas,” imbaunya.

Hamzah memperkirakan Silatnas Hidayatullah 2023 diikuti 20 ribu peserta. “Bahkan bisa lebih,” sebutnya.

Jumlah yang banyak itu menjadi tantangan tersendiri bagi kepanitiaan dan warga Hidayatullah Gunung Tembak untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin.

Apalagi, rencananya akan ada sejumlah agenda besar berdekatan dengan Silatnas Hidayatullah 2023, yaitu rapat kerja nasional (Rakernas) Hidayatullah, jambore, acara Muslimat Hidayatullah, pernikahan mubarak, dan lain-lain.

Silatnas Hidayatullah teranyar sebelumnya digelar di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak pada 22-25 November 2018. Kala itu, silatnas yang diikuti puluhan ribu orang dari berbagai penjuru Indonesia itu dibuka oleh Wakil Presiden RI M Jusuf Kalla.* (SKR/MCU)