Hingga Januari 2022 media melaporkan bahwa ada 32.216 anak-anak Indonesia menjadi yatim piatu karena Covid-19. Sampai saat ini pendataan dan asesmen masih berlangsung. Tentu saja hal itu membuat hati kita pilu. Namun, kita harus ikut berpikir bahkan bertindak. Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), berikut selengkapnya:
Rumah Quran Hidayatullah Trenggalek Wisuda 80 Santri Dewasa

TRENGGALEK (Hidayatullah.or.id) — Rumah Quran Hidayatullah (RQH) Trenggalek sukses gelar wisuda untuk santri dewasa di Gedung Bhawarasa Pendopo Pemerintah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Ahad, 18 Dzulhijjah 1443 (17/7/2022).
Laznas BMH yang sejauh ini mendukung program ini sangat berbangga dengan gelaran ini.
“Alhamdulillah pada hari ini BMH sangat berbahagia dan berbangga serta bersyukur atas gelaran wisuda 80 santri dewasa yang selama ini belajar Alquran di Rumah Quran Hidayatullah Trenggalek,” terang Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, Imam Muslim.
Atas gelaran ini kontribusi BMH melalui Program Rumah Quran telah berperan mengurangi jumlah masyarakat yang buta huruf Alquran.
Rumah Quran Hidayatullah Trenggalek juga memberikan layanan pembelajaran Alquran kepada orang dewasa, termasuk pasangan suami istri.
“Ternyata luar biasa, banyak bapak-bapak dan ibu-ibu mau belajar Alquran di RQH Trenggalek ini,” ungkap pengelola RQH Trenggalek, Ustadz Said Mukmin.
Wisuda yang berlangsung di Gedung Bhawarasa Pendopo Pemerintah Kabupaten Trenggalek itu berlangsung khidmat, haru dan penuh nuansa kekeluargaan.
Ada sebanyak 80 mahasantri RQH 1 Trenggalek untuk Kelas Dasar yang diwisuda dalam kesempatan tersebut. Said Mukmin mengatakan total ada ratusan peserta RQH yang dijalankan.
Hidayatullah Trenggalek juga membuka juga Pesantren Tahfidz Anak (PTA) yang merupakan model RQH untuk anak. “Alhamdulillah baru dibuka dua minggu peserta sudah lebih dari 200 anak,” tandas Said.*/Galih Pratama Yoga
STIE Hidayatullah Kuatkan Kualitas Mahasiswa dengan TC 40 Hari
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Menyadari pentinganya ketersediaan sumber daya yang berkualitas, terampil, cakap, dan adaptif terhadap perkembangan zaman, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah menggulirkan program Training Center (TC) Lanjutan Mahasiswa Calon Dai dan Wisudawan yang digelar di Kampus Hidayatullah Depok, Jawa Barat, yang dibuka secara resmi pada Senin (18/7/2022).
Ketua STIE Hidayatullah Muhammad Saddam, S.E., M.Ak., CPHCM, mengatakan kegiatan yang digelar selama 40 hari ini wajib diikuti oleh semua mahasiswa kelas beasiswa semester delapan.
Pemusatan Training Center di Kampus Hidayatullah Depok ini, lanjut Saddam, senafas dengan amanat organisasi Hidayatullah yang telah mencanangkan rejuvenasi yang mencakup konsolidasi ideologi, organisasi, dan wawasan.
“Ini langkah yang sangat strategis untuk menyiapkan sumber daya dai sarjana yang disiplin menjalankan Gerakan Nawafil Hidayatullah, sebagai instruktur Grand MBA, SAR, berbudaya riset, dan menjadi muharrik dakwah di tempat tugas yang selaras dengan amanat pengabdian tri dharma perguruan tinggi,” kata Saddam.
Dia menambahkan, rejuvenasi yang telah digaungkan Hidayatullah perlu disambut dengan hangat dan disadari sebagai sebuah momentum bagi STIE Hidayatullah Depok untuk turut berpartisipasi aktif menjadi bagian dari tegaknya peradaban.
Dijelaskasn dia, STIE Hidayatullah menyadari akan perannya sebagai salah satu motor pencetak kader Hidayatullah, oleh sebab itu pihaknya merasa perlu melakukan akselerasi.
Saddam menjelaskan, akselerasi yang dilakukan STIE Hidayatullah ditandai dengan penyempurnaan kurikulum agar output lulusan sesuai dengan standar dengan senantiasa mematuhi aturan dan standar nasional yang telah disusun oleh pemerintah.
“Salah satu bagian dari penyempurnaan kurikulum tersebut adalah adanya proses penguatan dan internalisasi jatidiri Hidayatullah pada awal masuk perkuliahan dan menjelang wisuda atau penugasan lulusan,” terang Saddam.
Ia menjelaskan, proses penguatan dan internalisasi ini tidak hanya pada sisi knowledge atau kognitif saja tetapi juga afektif dan psikomotorik sehingga jati diri -yang di dalamnya terdapat manhaj- menjadi ‘habbit’ bagi lulusan STIE Hidayatullah.
Oleh karena itu program TC ini mengajak berbagai pihak terutama internal Hidayatullah yang terdiri dari organisasi induk, organisasi pendukung, amal usaha, maupun badan usaha untuk berkolaborasi dan berpartisipasi dalam membentuk jati diri pada lulusan STIE Hidayatullah.
“Sehingga setiap lulusan STIE Hidayatullah mampu menjalankan banyak peran dan fungsi di tempat penugasan kelak,” tandasnya.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Ustadz Lalu Mabrul, M.Pd.I, yang membuka kegiatan ini mengapresiasi STIE Hidayatullah yang telah menginisasi kegiatan TC ini yang dinilai sebagai langkah monumental.
“Kita sama sama hadir di tempat ini dalam rangka pembukaan acara yang sangat monumental,” kata Mabrul.
Peserta TC mahasiswa semeser 8 ini sebelumnya telah menjalani masa KKN kurang lebih 3 bulan dengan berkonsetrasi dan menetap di berbagai masjid tersebar di Kota Depok. Selanjutnya, usai kegiatan ini, mereka akan menjalani jadwal seminar proposal skripsi.
Mabrul mengajak untuk bersyukur seraya berpesan kepada peserta untuk memastikan telah mempersiapkan diri sebaik baiknya dalam mengikuti semua rangkaian TC ini.
“Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah atas seluruh rangkaian nikmat yang besar dikaruniakan pada kita semua, yang nampak, yang tidak nampak, jasmani dan rohani, lahir dan batin,” tandasnya.
Selain materi klasikal, juga ada kegiatan lapangan (outdor) serta group discussion yang melibatkan instruktur dan fasilitator seperti SAR Hidayatullah, Tim LPPM STIE Hidayatullah, Posdai, Pemuda Hidayatullah, dan juga tim kaderisasi DPP Hidayatullah.*/Ain
Jangan Robohkan Benteng Pertahanan Moral Itu!

HARI itu saya menempuh perjalanan darat kurang lebih 16 jam dari Depok, Jawa Barat menuju Surabaya, Jawa Timur. Setelah itu bersama istri dan 5 orang anak, kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Pandaan yang terletak di Kabupaten Pasuruan selama kurang lebih 2 jam.
Perjalanan ratusan kilometer yang sedikit melelahkan, tapi harus kami lalui demi mengantar sang buah hati, anak kedua kami, yang akan melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren penghafal qur’an di Pasuruan.
Hari itu, saya dan istri sebagaimana banyak orang tua lainnya di Bumi Nusantara ini, mencoba bermujahadah (bersungguh – sungguh) menapaktilasi nenek moyang semua ummat beragama, yaitu Nabiullah Ibrahim alaihissalaam, untuk menempatkan putra kedua kami di pondok pesantren (yang jauh lebih lengkap infrastrukturnya daripada padang pasir tempat Ismail dan bundanya, Siti Hajar, ditinggalkan dahulu).
Agar putra kami, sebagaimana putra putri para orang tua yang memasukkan anaknya ke pondok pesantren, menjadi anak yang kenal dan cinta kepada Tuhannya, yaitu Allah swt, taat, dan tunduk beribadah hanya kepada-Nya dan senantiasa melaksanakan segala perintahNya serta menunjukkan perilaku akhlak yang mulia.
Kenal dan taat kepada Tuhannya, inilah sebuah tugas besar yang diemban kedua orang tua dalam perjalanan mengasuh putra putri yang diamanahkan oleh Allah swt. Seorang anak yang baru lahir dari rahim ibunya, merupakan bayi yang masih dalam fitrah kesuciannya.
Suci, dalam arti, ia masih bersih dalam ketundukan kepada Rabbnya sebagai seorang yang berserah diri (Muslim) hanya kepada Allah swt yang telah mengeluarkannya dari rahim ibunya.
Jiwa yang fitrah ini kelak menghadapi dua keadaan, apakah ia akan tetap dalam keadaan fitrahnya atau keluar dari fitrahnya (keluar dari Islam dan menjalankan agama atau kepercayaan di luar Islam), hal ini bergantung kepada kedua orang tuanya.
Maka tugas menjadi orang tua, khususnya dalam agama Islam, tidak bisa disepelekan, karena tugas ini berkaitan dengan keberlangsungan kebahagiaan hidup anak dan keturunan dunia dan akhirat.
Dalam menjalankan tugas sebagai seorang pendidik, untuk melahirkan generasi yang taat dalam menjalankan perintah Allah swt, orang tua memerlukan support system atau dukungan yang kuat dari lingkungan sekitarnya.
Orang tua yang tinggal di sebuah lingkungan dengan masyarakat yang heterogen, khususnya dalam pola mendidik anak, akan menghadapi tantangan yang tidak mudah untuk sekadar mendisiplinkan anak agar tidak berinteraksi dengan gadget, misalnya.
Belum lagi kalau lingkungan tersebut ternyata membebaskan atau cenderung membiarkan anak anak untuk berbusana tidak islami dengan alasan fashion kekinian yang menampakkan aurat para remaja wanitanya. Hal ini akan membuat orang tua yang tinggal di lingkungan tersebut merasa takut dan khawatir kalau putrinya akan terseret dalam pergaulan yang jauh dari nilai nilai islami.
Terlebih pengaruh akses dunia maya yang sudah masuk ke dalam kamar kamar tidur anak di usia mereka yang bahkan masih sangat belia, merupakan ancaman bagi orang tua untuk menghindarkan putra putrinya dari pengaruh negatif yang berkeliaran di dunia maya tersebut.
Kehadiran pondok pesantren yang menciptakan sebuah lingkungan yang homogen menjadi alternatif terbaik bagi orang tua untuk melanjutkan misi pendidikan putra putrinya. Spirit Nabi ibrahim yang menempatkan Ismail di tanah yang gersang, jauh dari keramaian, menjadi energi bagi orang tua untuk mengambil ibrah (pelajaran) untuk juga menempatkan putra putrinya di “tanah tandus” zaman modern ini yaitu pondok pesantren.
Jangan bandingkan siapa orang tua dan siapa sang anak, dan jangan bandingkan bagaimana fasilitas tanah tandus tempat Nabiullah Ismail alaihissalam dititipkan dengan tanh tandus zaman modern, karena substansi yang terdapat di dalamnya sesungguhnya bernilai sama yaitu agar anak anak yang tinggal di lingkungan ini senantiasa tunduk dan beribadah hanya kepada Allah swt, menjadi generasi qurrota a’yun, yaitu generasi yang menyejukkan pandangan kedua orang tua dan masyarakat sekitarnya dengan tingginya akhlak mulia anak anak tersebut.
Pondok pesantren, yang kehadirannya di Indonesia di awal abad 18 atau tahun 1700-an, merupakan sarana yang tepat bagi orang tua untuk melanjutkan misi pendidikan putra putrinya agar amanah yang dititipkan oleh Allah bisa menjaga fitrah kesucian dirinya sebagai seorang muslim yang tunduk dan taat hanya kepada Allah.
Pesantren memiliki infrastruktur pendidikan yang sangat ideal dalam menjalankan fungsinya sebagai penjaga fitrah generasi agar terhindar dari “godaan syaithan” dalam berbagai wujud dan topengnya di era disrupsi ini.
Penerapan nilai nilai kehidupan yang sama yang mengacu pada Qur’an terhadap seluruh santri di pesantren yang datang dari berbagai latar belakang keluarga dan budaya yang berbeda merupakan software utama dalam memformat generasi ini menjadi generasi yang lurus akidahnya dan mulia akhlaknya.
Masjid sebagai sentral kegiatan baik kegiatan ibadah wajib dan nawafil maupun kegiatan tarbiyah merupakan sarana efektif sebagai pembentukan karakter penghambaan hanya kepada Allah.
Asrama menjadi titik sentral untuk meningkatkan kemandirian siswa dengan berbagai tugas individu yang melekat kepada diri masing – masing dari tanggung jawab kamar dan tempat tidurnya, pakaian, dan lemarinya, hingga kebersihan lingkungan asrama.
Di Asrama ini juga, para santri dibina akhlaknya untuk menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua serta senantiasa menjaga perilaku selama berinteraksi dengan penghuni lainnya.
Di sekolah, mereka kemudian diberi ilmu pengetahuan sebagaimana pelajar pelajar di sekolah non boarding lainnya sesuai dengan kurikulum nasional (Kemendikbud atau Kemenag). Tentu saja nilai plus pendidikan di pesantren adalah karena mereka belajar agama lebih intensif dengan kitab kuning klasiknya, serta integrasi nilai nilai Islam ke dalam setiap mata pelajaran di kurikulum nasional oleh para ustadz ustadznya.
Inilah tiga infrastruktur mahal yang dimiliki oleh pesantren yang saling berintegrasi satu sama lain. Masjid, asrama dan sekolah menjadi media untuk membentuk karakter mereka menjadi generasi yang dicita citakan oleh semua orang tua yang menitipkan putra putrinya di pondok yaitu sholeh sholehah dan mulia adab perilakunya. Inilah benteng kokoh yang senantiasa membentengi satu generasi ke generasi lainnya.
Sayangnya, dibalik ketangguhan benteng kokoh ini, pesantren juga menghadapi ancaman baik dari internal maupun eksternal. Obrolan ringan dengan dua orang yang secara kebetulan berprofesi sama yaitu supir kendaraan yang saya tumpangi dalam perjalanan mengantar anak saya ke pesantrennya, menunjukkan bahwa peristiwa viral yang terjadi di sebuah pesantren besar di Jawa Timur menjadi perhatian serius masyarakat yang berharap banyak kepada benteng pelindung akhlak generasi ini.
Belum lagi pemberitaan berhari hari dari media media mainstream dan tidak ketinggalan pandangan netizen di media sosial menjadikan peristiwa tidak senonoh yang sesungguhnya sangat tabu untuk terjadi di tempat dimana moral sangat dijunjung tinggi menjadi perhatian serius yang harus dibenahi oleh para pemilik dan pemangku amanah di pondok pesantren.
Peristiwa ini sesungguhnya hampir mirip, kalau tidak bisa dikatakan nyaris serupa, dengan kejadian yang terjadi di sebuah pesantren relatif jauh lebih kecil dengan bingkai nama yang lebih modern berupa Boarding school di sebuah daerah di Jawa Barat, yang belakangan tidak diakui sebagai sebuah pesantren oleh Kemenag dan juga MUI Jawa Barat karena dinilai tidak memenuhi unsur persyaratan sebagaimana layaknya sebuah pesantren.
Tetapi, dua kejadian ini merupakan peristiwa yang sama, yaitu tindak asusila seorang yang dinamakan Kyai (telah dijatuhi vonis hukuman mati) di sebuah boarding school (sekolah berasrama) di Jawa Barat, dan seorang anak kyai yang disangkakan (masih proses hukum) melakukan tindak asusila di pondok pesantren ayahnya di Jawa Timur.
Modus keduanya nyaris mirip, yaitu menjadikan santri santri putri sebagai korban pencabulan yang mereka lakukan, dan bukan hanya sekali, tetapi berkali kali, dan lebih miris lagi karena korbannya tidak sedikit, lebih dari satu orang.
Inilah satu dari ancaman internal yang dihadapi oleh pondok pesantren hari ini, yaitu tindak asusila berupa kejahatan seks yang berpotensi terjadi di dalam lingkungan pondok oleh orang di dalam pondok pesantren tersebut.
Selain tindak asusila terhadap lawan jenis, sebagai dua peristiwa di atas, pesantren juga dihadapkan pada potensi ancaman, yang walaupun mungkin sangat minim, tetapi berpeluang terjadi yaitu munculnya perilaku menyukai sesama jenis, perilaku yang sangat dilaknat oleh Allah SWT.
Tidak bisa dibayangkan betapa hancur hati para orang tua yang mendapati putra putri yang dititipkan di tempat dimana nilai nilai mulia seharusnya ditegakkan, ternyata dinodai oleh oknum oknum yang memanfaatkan statusnya untuk menyalurkan nafsu kebinatangannya. Naudzu billahi, tsumma naudzu billahi mi dzaalik.
Dua peristiwa di atas, serta potensi asusila yang mengancam para santri di pondok pesantren, hendaknya menjadi starting point untuk kita semua masyarakat Indonesia yang peduli terhadap benteng penjaga moral generasi ini untuk terhindar dari potensi tindak asusila ini.
Peran pemerintah, orang tua, masyarakat sekitar pondok, dan tentu saja pemilik dan pemangku amanah di pondok pesantren perlu saling bersinergi menjalankan fungsi dan tugasnya untuk melanggengkan fungsi tarbiyah atau edukasi di pondok pesantren.
Pemerintah sebagai regulator sekaligus pengawas 30 ribuan pondok pondok pesantren yang tersebar di bumi Nusantara (Data Kemenag 2022) harus aktif menjalankan fungsinya untuk menstandarisasi pondok pesantren bukan hanya memenuhi 5 syarat minimal yang diwajibkan (ada kyai, mesjid, santri, pondok, dan belajar kitab kuning), tetapi benar – benar memastikan bahwa sosok ustadz ustadzah di lingkungan pondok pesantren adalah figur kyai yang menjadi teladan bagi para santrinya.
Mereka bukan hanya orang orang yang tinggi ilmu pengetahuan agamanya, tetapi juga luhur dan mulia adabnya agar mampu mentrasnformasikan nilai nilai ajaran langit untuk membumi dalam diri seluruh santri.
Jangan bayangkan rumitnya instrumen ini kelak, tapi paling sederhana, pemerintah bisa melakukan deteksi dini untuk mencegah berkembangnya pesantren yang berpotensi menjadi sarang kemaksiatan dunia syahwat di bawah perut.
Kepedulian orang tua terhadap ancaman potensi ini juga diperlukan sebagai main user (pengguna utama) layanan pondok pesantren.
Orang tua wajib melakukan pembekalan lebih dini kepada putra putrinya agar melakukan proteksi ketat terhadap organ organ tubuh penting mereka yang tidak boleh dilihat apalagi disentuh oleh orang lain.
Pengetahuan ini penting untuk dibekali kepada putra putri yang akan dikirim ke pondok pesantren. Tentu saja husnuddzhon (berprasangka baik) harus dikedepankan terhadap pesantren tempat mereka akan mengirimkan putra putri kesayangan mereka. Tetapi pembekalan pencegahan sangat diperlukan untuk disampaikan kepada anak anak, baik yang akan masuk tingkat SMP atau SMA di pondok agar mereka mampu menjaga aurat mereka dari kejahatan orang lain.
Peran masyarakat sekitar juga diperlukan untuk memberi pengawasan (bukan memata mematai) yang sewajarnya agar apabila terlihat perilaku atau kebiasaan yang mencurigakan dari pengelola atau pengajar di sebuah pondok pesantren di dekat lingkungan tersebut dapat segera diantisipasi dengan mengedepankan pendekatan hukum di negara ini.
Dan yang paling utama, tentu saja, adalah peran pondok pesantren. Sebagai orang tua kedua yang diamanahi oleh ayah dan bunda dari anak anak yang dititipkan di pondok tersebut, hal yang utama yang harus senantiasa tertanam dan ditanamkan di dalam diri para kyai dan pengajar, pengasuh serta warga di dalam pesantren, bahwa mereka sedang menjalankan sebuah perjanjian yang berat (mitsaqon gholiizon) untuk menjaga putra putri yang dititipkan di pesantren mereka untuk tetap tumbuh dalam fitrah keislamannya.
Amanah yang secara syariat mengikat kepada kedua orang tua mereka yang kemudian melibatkan pondok pesantren untuk bersinergi menanggung amanah tersebut selama pendidikan putra putri mereka di pondok pesantren.
Konsekuensi dari penghianatan terhadap amanah ini, bukan hanya gagalnya generasi yang diinginkan, tetapi juga kafalah (tanggungan) dosa yang ditanggung oleh pemangku pemangku amanah di pesantren selama pendidikan anak anak tersebut di lingkungan pondok.
Maka seleksi ketat terhadap tenaga pendidik, baik guru dan pengasuh di asrama harus dilakukan oleh kyai atau pimpinan pondok untuk menghindari terjadinya tindak asusila yang tidak diinginkan di lingkungan pondok.
Sistem kehidupan yang terjadwal dan termonitor juga harus diformat serapi mungkin agar tidak ada celah terhadap terjadinya kejahatan seksual. Pengaturan tempat tidur, pengawasan santri di waktu waktu rentan (waktu waktu kosong dan waktu istirahat) serta minimalisir ikhtilat (percampuran santri putra dan putri, atau bahkan ustadz putra dengan santri putri atau ustadzah putra dengan santri putra) harus diupayakan oleh pondok seoptimal mungkin.
Kalaupun ada campur baur antara lawan jenis, karena ada udzur syar’i, seperti kegiatan belajar mengajar, maka harus ada kontrol dan pengawasan yang ketat agar peristiwa kejahatan seksual tidak menimpa para santri.
Perkembangan teknologi juga bisa menjadi solusi pilihan bagi pondok kecil atau pun besar untuk menempatkan cctv (kamera pengawas) di titik titik krusial yang bisa dimonitor oleh pihak keamanan pondok atau orang yang dipercaya melakukan pengawasan.
Inilah ikhtiar (upaya) yang perlu dilakukan oleh pemerintah, orang tua, warga sekitar dan pengurus pondok pesantren untuk saling bersinergi bahu membahu menciptakan kondisi yang kondusif yang telah dilalui ratusan tahun oleh puluhan ribu pondok pesantren di Indonesia.
Tentu ikhtiar ini perlu didukung dengan munajat munajat para orang tua dari bilik bilik rumah mereka agar anak yang dititipnya di “lembah tandus” modern ini menjadi anak yang takut dan taat beribadah hanya kepada Allah SWT.
Orang tua harus kuat untuk menghapus air mata kesedihan ketika mengayunkan kaki melangkah meninggalkan anak gadis dan bujangnya menempuh kemandirian fitrahnya di pondok pesantren.
Bantu dan kuatkan mereka dengan lantunan do’a, dan sebut namanya agar Allah senantiasa membimbing dan memberi hidayah kepada mereka. Juga do’a dan munajat para kyai dan para ustadz dari tempat tempat sujud mereka agar anak anak yang sedang belajar di pondok pondok mereka senantiasa dijaga dan dilindungi oleh Allah.
Kalau semua kekuatan ini bersinergi satu sama lain, menjalankan fungsinya masing masing, maka keberhasilan pondok pesantren yang telah menyelamatkan jutaan generasi dari jahatnya zat haram yang terkandung dalam narkoba, pergaulan bebas sesama jenis, ancaman kecanduan gadget akan tetap terus berhasil mereka lestarikan termasuk menjaga dan merawat kesucian diri para santri dari ancaman tangan tangan penjahat seksual yang memanfaatkan status dan posisi di internal pondok itu sendiri.
Keberhasilan pesantren yang telah melahirkan jutaan generasi yang berkontribusi positif terhadap pembangunan bangsa akan tetap terus terawat dan terjaga dengan kekuatan peran dari pemerintah, orang tua, warga sekitar, dan pondok pesantren itu sendiri.
Mari bersinergi menjaga “tanah tandus” ini, jangan robohkan kekokohan benteng penjaga moral anak bangsa.*/
Ust Muzakkir Usman Asyari, Direktur Hidayatullah Institute
Pemimpin Umum: Pemimpin Harus Terdepan Dalam Kebaikan

LUWU (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, memberi tausiyah dan penguatan dalam Halaqoh Gabungan se-Luwu Raya di Pesantren Hidayatullah Sampeang, Luwu.
“Awalnya tidak terpikirkan akan ke sini (Sampeang). Padahal, sebelumnya sudah mau berangkat ke Makassar. Tetapi, inilah kehendak ilahiyah,” ujarnya Ahad, 18 Dzulhijjah 1443 (17/7/2022).
Di depan peserta halaqoh gabungan yang dihadiri kader dan pengurus Hidayatullah rayon Luwu, Luwu Timur, Palopo dan Masamba tersebut, KH Abdurrahman menekankan arti penting dan peran seorang pemimpin.
Menurutnya, saat berbicara dan mencontohkan kebaikan, sudah selayaknya seorang pemimpinlah yang terlebih dahulu mencontohkan.
“Siapa pun yang jadi pemimpin, maka dirinya harus terdepan dalam kebaikan. Kalau belum begitu, belum jadi itu kepemimpinan. Artinya, belum berhak ditolong oleh Allah,” tegas Kyai dengan penuh semangat.
Lebih jauh, sahabat setia pendiri Hidayatullah, KH. Abdullah Said tersebut, turut memberikan sindiran bahwa, seorang pemimpin sudah selayaknya disibukkan dengan berpikir bagaimana yang dipimpinnya ke depan.
“Tetapi, kalau ada pemimpin yang ngantuk-ngantuk terus, tidak berpikir itu tandanya,” katanya disambut tawa peserta Halaqoh.
Dengan mengusung tema, “Mengoptimalkan Proses Standarisasi Pelaksanaan Halaqah Wustho”, Halaqoh Gabungan Se-Luwu Raya ini merupakan program rutin yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel.*/Ian Kassa
Geliat Sekolah Dai Hidayatullah Bengkulu Kuatkan Dakwah

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Perkembangan sarana penunjang untuk Sekolah Dai Hidayatullah Bengkulu terus diupayakan dan digerakkan. Program Sekolah Dai Bengkulu ini bertempat di kawasan perintisan Pesantren Hidayatullah Bengkulu Tengah.
Kendati terbilang masih sejak sekira kurang lebih 1 tahun ini, Alhamdulillah Sekolah Dai Bengkulu semakin menunjukkan geliatnya dan telah ikut mewarnai dakwah di kawasan itu.
“Alhamdulillah tahun ini sudah meluluskan 12 dai dan langsung ditugaskan berdakwah,” kata Ketua Departemen Dakwah dan Penyiaran DPP Hidayatullah Ust Shohibul Anwar berkesempatan meninjau langsung Sekolah Dai Bengkulu, Jum’at, 16 Dzulhijjah 1443 (15/7/2022).
Tidak berhenti bergerak. Sekolah Dai Bengkulu kembali mengencangkan fokusnya dimana saat ini kembali bersiap untuk penerimaan santri calon dai angkatan kedua.
Sekolah Dai Bengkulu ini berdiri di atas lahan seluas 7,5 ha. Adapun seluas 5 ha disiapkan untuk demplot kebun sawit dan 2,5 ha untuk kawasan pendidikan.
“Saat ini sedang proses penyelesaian pembangunan masjid untuk melengkapi sarana sebelumnya berupa dua lokal rumah dai dan asrama santri yang masih berupa bangunan sederhana,” terang Ust Shohibul Anwar.
Lokasi Sekolah Dai Bengkuli terbilang cukup strategis yang berada di Tengah Padang, Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah. Jaraknya pun hanya 1 kilo meter dari kantor bupati Bengkulu Tengah.*/Ainuddin
Inilah Seburuk buruk Manusia

SELAIN menyebutkan beberapa kriteria manusia-manusia terbaik menurut pandangan Islam, hadits-hadits Rasulullah ternyata juga menyitir kriteria manusia-manusia terburuk. Tentu saja, maksudnya cukup jelas. Beliau mendorong kita untuk meniru kebaikan kelompok pertama, dan menjauhi keburukan kelompok kedua.
Mungkin sudah cukup banyak dikupas tentang siapa saja sebaik-baik manusia (khairun-naas) itu, maka kini giliran kita mengetahui siapa saja seburuk-buruk manusia (syarrun-naas). Mengapa demikian?
Sebab, mengetahui keburukan adalah salah satu cara untuk bisa menghindarinya. Seorang Sahabat Nabi, yaitu Hudzaifah bin Yaman pernah berkata, “Dulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, namun saya bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena saya khawatir jika terjerumus ke dalamnya.”
Jadi, siapa sajakah manusia-manusia terburuk itu, sehingga kita bisa mendidik diri kita sendiri agar tidak seperti mereka?
Pertama, orang yang bermuka dua.
Rasulullah bersabda, “Kalian akan mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang bermuka dua. Dia mendatangi kelompok yang ini dengan satu wajah, dan mendatangi kelompok lainnya dengan wajah lain pula.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah).
Yang dimaksud “orang bermuka dua” adalah kaum munafik. Dia tidak memiliki pendirian dan keteguhan dalam imannya. Maka, bila berkumpul dengan kaum muslimin, seolah-olah ia bagian dari mereka. Namun, jika bersama-sama kaum kafir, bisa jadi ia lebih dahsyat kekafirannya dibanding kaum kafir itu sendiri. Padahal, Allah mengancam kaum munafik akan dimasukkan ke dasar neraka yang terdalam! (QS. an-Nisa’: 145)
Kedua, orang yang ditakuti sesama manusia karena kejahatannya.
Suatu ketika, ada seseorang yang minta izin untuk bertamu kepada Rasulullah. Tatkala melihatnya, beliau berkata, “Izinkah dia masuk. Dia ini seburuk-buruk keturunan – atau: anggota – suatu kabilah!”. Tatkala dia telah masuk, ternyata Rasulullah bersikap sangat lembut dan bahkan tertawa-tawa bersamanya.
Setelah ia pergi, ‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, Anda telah menyatakan apa yang Anda nyatakan tadi (tentang orang itu), lalu mengapa Anda berbicara secara lemah lembut kepadanya?”
Beliau (Rasulullah) menjawab, “Wahai ‘Aisyah, sungguh manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah adalah seseorang yang ditinggalkan – atau: dijauhi – oleh sesamanya semata-mata mereka takut kepada kejahatannya.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari ‘Aisyah).
Ketiga, orang yang tidak bisa disadarkan oleh pesan-pesan Al-Qur’an.
Rasulullah bersabda, “Diantara manusia yang terburuk adalah seorang pendurhaka lagi kurang ajar, yang membaca Kitab Allah namun tidak tersadarkan oleh satu pun darinya.” (Riwayat Ahmad, dengan sanad hasan).
Jadi, apakah yang bisa diharapkan dari seseorang yang tidak mempan oleh nasihat dari Allah? Hatinya telah terkunci mati, sehingga ia akan lebih sesat dibanding seekor hewan ternak sekalipun! (lihat: Qs. al-A’raf: 177-179 dan al-Furqan: 43-44).
Keempat, orang yang mengalami Hari Kiamat dan menjadikan kuburan sebagai masjid.
Rasulullah bersabda, “Diantara manusia terburuk adalah mereka yang mendapati Hari Kiamat dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.” (Riwayat Ibnu Hibban. Isnad-nya hasan).
Hadits ini berhubungan dengan pernyataan beliau lainnya, bahwa Hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali jika sudah tidak ada seorang pun yang menyeru nama Allah di muka bumi. Tentu saja, zaman dimana nama Allah tidak lagi dikenal pastilah merupakan zaman terburuk, dan berisi manusia-manusia terburuk.
Adapun menjadikan kuburan sebagai masjid, maka cukup banyak hadits lain yang melarangnya, diantaranya karena hal itu meniru-niru atau menyamai perbuatan kaum Yahudi dan Kristen. Secara spesifik, yang dimaksud disini adalah kuburan orang-orang shalih dan banyak diziarahi.
Kelima, orang yang merusak akhiratnya demi meraih dunia milik orang lain.
Rasulullah bersabda, “Diantara orang yang paling buruk kedudukannya pada Hari Kiamat adalah seseorang hamba yang menghancurkan akhiratnya demi merebut dunia milik orang lain.” (Riwayat Ibnu Majah. Menurut al-Bushiri: sanad-nya hasan).
Yang dimaksud adalah orang yang membunuh sesamanya demi merampok hartanya, sehingga karena ambisi dunia itulah dia merebut hak milik orang lain dan menghancurkan akhiratnya sendiri. Atau, dia bersedia membantu orang zhalim demi meraih iming-iming duniawi, sehingga agamanya pun hancur.
Keenam, orang yang panjang umurnya, tapi jelek amal perbuatannya.
Abu Bakrah bercerita, bahwa suatu kali seseorang bertanya kepada Rasulullah, “Orang seperti apakah yang paling baik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” Dia bertanya lagi, “Lalu, orang seperti apa yang paling buruk?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya, tapi jelek amal perbuatannya.” (Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih li ghairihi).
Ketujuh, orang yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan justru tidak bisa dirasa aman dari keburukannya.
Abu Hurairah bercerita, bahwa suatu kali Rasulullah berdiri di dekat beberapa orang yang duduk-duduk, lalu bertanya, “Maukah kalian aku beritahu siapa orang terbaik dibandingkan orang terburuk diantara kalian?”
Mereka pun terdiam (tidak menjawab). Beliau mengulangi pertanyaannya tiga kali, lalu ada seseorang yang menjawab, “Mau, wahai Rasulullah. Beritahu kami siapa orang terbaik dibanding orang terburuk diantara kami.”
Beliau lalu bersabda, “Yang terbaik diantara kalian adalah orang yang bisa diharapkan kebaikannya dan dirasa aman dari keburukannya. Sedangkan orang terburuk diantara kalian adalah orang yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan justru tidak bisa dirasa aman dari keburukannya.” (Riwayat Tirmidzi. Hadits hasan-shahih).
Wallahu a’lam.
Ust. M. Alimin Mukhtar
IAIAS Batam Tuan Rumah Pekan Kreativitas Mahasiswa PTKI

BATAM (Hidayatullah) — Institut Agama Islam Abdullah Said (IAIAS) Batam menjadi tuan rumah helatan Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang digelar selama 3 hari dibuka Rabu, 14 Dzulhijjah 1443 (14/7/2022).
Kegiatan ini dalam rangka meningkatkan kualifikasi SDM dalam bidang kewirausahaan, khususnya mahasiswa di lingkungan Perguran Tinggi Keagamaan Islam.
Acara ini untuk mempersiapkan calon enterpreneur muda serta mahasiswa PTKI yang handal dan hidup mandiri menuju era Indonesia Emas 2045.
Dalam sambutannya ketika acara pemubukaan ini berlangsung KH Jamaluddin Nur selaku pembina Institut Agama Islam Abdullah Said Batam yang menjadi tuan rumah dalam acara ini menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta.
Jamaluddin juga menyampaikan apresiasi dan selamat mengikuti kegiatan tersebut yang menurutnya sangat bermanfaat untuk institusi masing-masing begitu juga untuk individu setiap peserta.
“Semoga bisa diikuti dengan baik, mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan mudah-mudahan menjadi wasilah kebaikan untuk dunia dan akhirat,” tandas Jamaluddin.
Acara yang dihelat di Da Vienna Boutique Hotel Batam ini dihadiri narasumber dan fasilitator Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kemenag RI, Prof Dr Suyitno, MAg, Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan Diktis Kemenag Zulpan Syarif Supriadi Hasibuan, dan PTP Muda Seksi Kemahasiswaan dan Sarpras PTKIS Otisia Arinindiyah.
Lebih dari seribu peserta secara offline diminta untuk mematuhi protokol kesehatan sesuai ketentuan selama acara berlangsung.
Informasi dari panitia di akhir sesi bagi peserta terpilih lulusan terbaik dari acara ini akan mendapatakan beasiswa Affirmasi DIKTIS Kementerian Agama, maupun peserta online.
Prasyarat sebagai peserta harus Mahasiswa aktif dengan menunjukkan surat tugas dari kampus masing-masing serta membawa proposal usaha diserta Rencana Anggaran Biaya (RAB) menjadi prsasyarat bagi peserta dalam acara.*/Abu Nafi
Pelatihan Guru Ngaji GRAND MBA se-Provinsi Bengkulu

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) bersama Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) bersinergi dengan Grand MBA, BMH, MQH, dan RQH menggelar pelatihan guru ngaji bertajuk Dauroh Muallim Se-Provinsi Bengkulu yang dibuka pada Kamis, 15 Dzulhijjah 1443 (14/7/2022).
Daurah Mauallim Se-Provinsi Bengkulu yang mengangkat tema “Menjadi Guru Al-Qur’an yang Berkualitas dan Profesional” ini digelar intensif selama 2 har bertempat di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Bengkulu Jl. Halmahera, Surabaya, Kec. Sungai Serut, Kota Bengkulu.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber yakni Ketua Departemen Dakwah dan Penyiaran DPP Hidayatullah Ust Shohibul Anwar termasuk Ketua Korps Mubaligh Hidayatullah Pusat, Ust Iwan Abdullah.
Ketua Panitia Daurah Mauallim Se-Provinsi Bengkulu Ust Titi Arpani mengatakan pelatihan ini digelar sebagai bagian dari upaya untuk tingkatkan kapasitas guru ngaji untuk menguatkan program Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA).
“Dengan kapasitas guru yang memadai, para muallim memiliki kualitas sebagai guru Al-Qur’an dalam mengelola Rumah rumah Qur’an agar profesional dan terkelola dengan baik,” kata Arpani.
Ia menyebutkan, program ini juga sejalan dengan agenda Grand MBA untuk menguatkan standarisasi muallim dengan harapan para muallim mampu mengembangkan rumah rumah dan majlis Qur’an di tempat daerahnya masing masing.
Selain teori dan praktek, kegiatan yang diikuti 25 peserta perwakilan calon muallim dari berbagai daerah di Bengkulu ini mendapatkan materi terkait matrikulasi dan kiat mengajar dengan metode Al-Hidayah, Grand MBA dan materi Bina Aqidah.
Salah seorang peserta daurah Ust Badrussalam dari Kabupaten Lebong mengatakan sangat terkesan dengan kegiatan. Menurutnya, pelatihan ini penting sebab menambah wawasan, ilmu, dan pengalaman sehingga menjadi bekal bermanfaat baginya saat kembali mengabdi di masyarakat.
“Sangat memberikan pengetahuan dan Ilmu berkaitan dengan manajemen pengelolaan Rumah Qur’an. Saya berharap agar dauroh Muallim seperti ini menjadi agenda rutin setiap 3 bulan sekali,” kata Badrussalam semringah.*/Ain
[Khutbah Jumat] Pastikan Takwa Menjadi Nilai Utama Hidup Kita
Meski pesan takwa ini selalu berkumandang dari mimbar setiap khutbah shalat Jum’at, pada kenyataannya sungguh tidak mudah untuk memegang teguh dan mempraktekkannya dalam langkah kehidupan nyata.
Teks Khutbah Jum’at kerjasama Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai), Pemuda Hidayatullah dan Hidayatullah.or.id, berikut selengkapnya:




