Beranda blog Halaman 340

Wakil Bupati Lakukan Groundbreaking RQ Boddonge Pangkep

0

PANGKEP (Hidayatullah.or.id) — Wakil Bupati Kabupaten Pangkep, H. Syahban Sammana, S.H, melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) pembangunan Rumah Quran Hidayatullah )RQH) di Jalan Poros Kelurahan Boddonge, Balocci Baru, Kabupaten Pangkep, Sulsel, Selasa, 13 Dzulhijjah 1443 (12/7/2022).

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Syahban menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada pengurus DPD Hidayatullah Pangkep telah hadir dengan program Rumah Qur’an dan melakukan peletakan batu pertama.

Menurutnya, apa yang telah menjadi agenda dari Hidayatullah Pangkep sejalan dengan program yang telah dicanangkan pemerintah untuk membangun Pangkep menjadi kawasan yang relijius, maju, dan sejahtera.

“Program yang diangkat Hidayatullah yakni Rumah Qur’an ini merupakan salah satu program pemerintah untuk menjadikan Pangkep Religius,” kata Wakil Bupati Syahban.

Maka oleh karena itu, terang Wakil Bupati Syahban, peletakan batu pertama ini jangan sampai yang pertama dan terakhir.

“Semua kita harus terlibat dalam penyelesaian pembangunnya,” jelasnya mengajak terlibat dalam membangun RQH di Lokasi tanah hibah dari keluarga Ibu Hj Sariana beserta keluarga tersebut.

Wakil Bupati Syahban juga berharap, semoga Hidayatullah menjadi perekat dalam memantapkan ruhani masyarakat dengan berlandaskan pada ajaran luhur Islam yang ahlus sunnah waljamaah sebagaimana telah menjadi jatidiri Hidayatullah.

Sementara itu, Ketua Dewan Pungurus Daerah Hidayatullah Kabupaten Pangkep, Ust Karding, S.Sos mengajak seluruh elemen masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan Rumah Al-Qur’an Hidayatullah.

Karding mengatakan hadirnya Rumah Qur’an Hidayatullah merupakan salah satu program Hidayatullah secara nasional, yang bertujuan tingkatkan pendidikan Al Qur’an, ilmu diniyah, akhlak serta syiar dakwah untuk masyarakat sekitar.

“Dalam rangka untuk mewujudkan masyarakat atau negeri ini menjadi negeri yang diberkahi, baldatun thayyibatun warabbun ghafuur,” jelasnya.

Disamping itu, Karding mengutip sebuah pesan Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam diriwayatkan Imam Al-Bukhari dari Hajjaj bin Minhal dari Syu’bah dari Alqamah bin Martsad dari Sa’ad bin Ubaidah dari Abu Abdirrahman As-Sulami dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, bahwa bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkanya.

“Nabi Muhammad dimuliakan Allah karena al-Qur’an dan umat yang terbaik adalah yang belajar al-Qur’an,” kata Karding menjelaskan.

Oleh karena itu, Karding mengajak membangun Pangkep khususnya Balocci Baru ini dengan al-Quran sehingga menjadi wilayah yang terbaik.

“Alhamdulillah dari 10 program pemerintah Kabupaten Pangkep adalah menjadi Pangkep Religius. Maka ini menjadi satu bagian tidak terpisahkan dengan Rumah Al-Qur’an itu sendiri,” tandasnya.

Turut hadir dalam acara peletakan batu pertama Anggota Dewan Pertimbangan DPP Hidayatullah Dr. H. Abdul Aziz Qahhar Muzakkar, M,Si, Ketua DMW Hidayatullah Sulsel Ust Abdul Majid. MA, dan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Drs.Nasri Bohari, M.Pd.

Hadir juga dari instansi pemerintah, Camat Balocci Jainal Sanusi, S, STP, M, Si., Lurah Balocci Baru Maryam S.Pd, Kapolsek Balocci Ahmad, S.Sos,MH, Lurah Balleangin Baba S.Sos, lurah Tonasa Muliati SE, dan Perwakilan CSR PT. Semen Tonasa H. Saenal Anjani Dolo, tokoh masyarakat Haji Yahya dan para simpatisan serta donatur Hidayatullah Pangkep.*/Syam

WIKA Berbagi 200 Paket Daging Qurban di Masjid Baitul Karim

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Badan usaha milik negara Indonesia yang bergerak di bidang konstruksi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau biasa disingkat WIKA berbagi 200 bungkus paket daging qurban yang sudah ditimbang dan dikemas untuk masyarakat yang dibagikan di Masjid Baitul Karim, Komplek Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Otista, Jatinegara, Jakarta, Senin, 11 Dzulhijjah 1443 (11/72022).

Kegiatan yang digelar bertepatan dengan hari kedua Idul Adha ini disambut antusias oleh warga.

Tebar qurban PT Wijaya Karya yang bekerja sama dengan Masjid Baitul Karim ini merupakan kali kesekian dilakukan untuk semakin dekatkan perusahaan BUMN itu dengan masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah, baru kali ini saya bisa mendapatkan daging hewan Qurban. Kami bisa masak dan merasakan daging Qurban,” kata Ummi, seorang ibu janda di Kebun Nanas, Cipinang Cempedak.

PT Wijaya Karya yang diwakili Pak Nasir mengirimkan daging qurban ke masjid Baitul Karim dalam bentuk daging yang sudah ditimbang dan dikemas sebanyak 200 bungkus yang diterima langsung oleh panitia penanggung jawab Qurban dari masjid Baitul Karim Joko Arianto.

“Dengan kita terima jadi hewan qurban dalam bentuk paket bungkusan, lebih mudah dan cepat untuk mendistribusikan. Panitia dari masjid Baitul Karim tidak perlu repot repot menyembelih, memotong-motong, dan menimbang dagingnya,” kata Joko.

PT Wijaya Karya yang berada di Jalan DI Panjaitan, Kelurahan Cipinang Cempedak, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, selama ini bekerja sama dengan masjid Baitul Karim dalam pembinaan karyawan yang mengundang ustadz-ustadz untuk khutbah Jumat.

Menurut Joko sebagai panitia penanggung jawab Qurban dari masjid Baitul Karim mengatakan bahwa pembagian daging qurban ini untuk jamaah masjid, para janda, orang-orang tidak mampu di sekitar masjid Baitul Karim.

“Ini sebagai sarana komunikasi dan silaturahim dengan jamaah masjid dan masyarakat sekitar,” kata Joko seraya mendoakan semoga PT Wijaya Karya semakin jaya serta masjid Baitul Karim semakin makmur kegiatan ibadah dan tarbiyahnya.

“Masyarakat juga semakin tercerahkan untuk mentaati perintah Allah dengan melaksanakan ibadah dengan baik,” Joko.*/AGH

Tim Ekspedisi Qurban tanpa Batas BMH Tiba di Somaliland Afrika

HARGEISA (Hidayatullah.or.id) — Tim Ekspedisi Qurban Tanpa Batas Laznas BMH telah tiba di Bandar Udara Internasional Aden Adde, Somaliland, waktu setempat, Ahad, 11 Dzulhijjah 1443 (10/7/2022).

Direktur Program dan Pemberdayaan BMH Pusat, Zainal Abidin, melaporkan ia dan rombongan sudah tiba negara pecahan Somalia dalam rangka ekespedisi tebar hewan qurban BMH.

Tim yang dilepas dari Jakarta pada Kamis, (7//7/2022) ini tiba di negara bekas wilayah Britania Raya yang terletak di bagian barat laut Somalia di Tanduk Afrika itu disambut hangat oleh warga lokal setempat. Mereka adalah para penduduk miskin yang mendiami sebuah kawasan tandus di salah satu bagian negara itu.

Perjalanan ke Afrika itu memakan waktu total kurang lebih 31 jam. Adapun yang ditempuh adalah dari Jakarta menuju Bangkok. Kemudian lanjut dari Bangkok ke Addis Ababa pada pukul 06.30 esok hari, kemudian melanjutkan perjalanan ke Aden Adde di Somalia.

Zainal menambahkan bahwa negara tujuan qurban BMH di Afrika ada beberapa, seperti Kenya, Tanzania, Uganda, dan juga Somalia.

“Selain penyaluran qurban, juga ada agenda peresmian masjid, kemudian penyerahan bantuan kemanusiaan seperti air bersih, sanitasi, makanan dan lainnya,” kata Zainal.

Tim BMH merekam kondisi rumah para penerima manfaat Qurban Tanpa Batas 1443 H di Somaliland, Afrika. Kondisi rumah mereka hanya terbuat dari bahan seadanya seperti kain-kain bekas dan seng bekas yang menyangga agar rumah mereka tetap berdiri.

Sekitar 2.000 kepala keluarga yang tinggal disini. Cuaca di sekitar pemukiman warga kali ini begitu dingin. Dengan kondisi mereka yang hanya berlindung di bawah rumah yang terbuat dari kain bekas. Bisa dibayangkan bagaimana dinginnya jika malam hari tiba.

“Alhamdulillah juga kali ini BMH dapat mendistribusikan hewan Qurban berupa kambing dan sapi yang sehat untuk mereka. Hewan Qurban kalian InsyaAllah betul-betul sangat dirasakan kebahagiaannya oleh saudara muslim kita di sini,” kata Zainal.

Dia menambahkan, BMH mengucapkan terimakasih untuk para donatur telah mempercayakan BMH sebagai lembaga yang dipilih untuk melaksanakan ibadah Qurban. Semoga Allah SWT membalas kebaikannya para donatur dengan keberkahan ibadah dan kebaikan berlipat.*/Ain

BMH Wujudkan 30 Tahun Penantian Hewan Qurban Warga Tanah Merah

0

BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Pada hari pertama, Ahad, 10 Dzulhijjah 1443/ 10 Juli 2022, pemotongan hewan qurban Ekspedisi Qurban Tanpa Batas BMH Kepri digelar di Kampung Tanah Merah, Desa Penagah, Teluk Bintan, Kabupaten Bintan. Gema takbir dari warga yang berbondong-bondong hadir mengiringi prosesi pemotongan dua ekor sapi qurban.

Menurut General Manager BMH Kepri, Abdul Aziz, meski tahun ini agak terganggu dengan penyebaran virus penyakit mulut dan kuku (PMK).

Namun, Alhamdulillah, kata dia, BMH Kepri tetap dapat menjalankan program Ekspedisi Qurban Tanpa Batas untuk saudara-saudara sesama muslim yang berhak menerima.

“Kami sangat berbahagia dan semangat menjadi perantara kebaikan ini karena sambutan masyarakat yang sangat antusias, karena memang sudah lama merindukan pemotongan hewan qurban di kampung mereka,” katanya.

Kampung Tanah Merah, desa Penagah dihuni sekitar 150 KK, yang terbagi beberapa dusun dan kampung. Mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan kecil, beberapa ibu-ibu bekerja sebagai kuli ketam tetapi sejak perusahaan tutup mereka tak lagi memiliki tambahan penghasilan.

“Alhamdulillah, kami sangat bahagia dan berterima kasih, karena saya sudah 30 tahun di sini belum pernah ada pemotongan di mushollah Al Mukmin ini,” tutur ibu Rubiah (64 tahun) penuh haru.

Pada tahun ini, BMH Kepri menyalurkan 10 ekor sapi ke para muallaf dan kalangan dhuafaa. Selain dua titik di Bintan yaitu di Kecamatan Teluk Bintan dan kecamatan Toapaya, Ekspedisi Qurban Tanpa Batas juga akan melakukan penyaluran ke kabupaten Karimun.*/Mujahid M. Salbu

Rahasia Doa Rezeki Buah-Buahan

MASIH menggali hikmah dari kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam dan keluarganya yang luar biasa untuk kita teladani. Masih mengupas doa Nabi Ibrahim yang memintta rezeki buah-buahan, sebagaimana doa Nabi Ibrahim dalam Surah Ibrahim ayat 37,

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian dari zuriat keturunanku di sebuah lembah (Tanah Suci Makkah) yang tidak tanaman padanya, di sisi rumahMu yang diharamkan mencerobohinya. Wahai Tuhan kami, (mereka ditempatkan di situ) supaya mereka mendirikan sembahyang (dan memakmurkannya dengan ibadat). Oleh itu, jadikanlah hati sebahagian dari manusia tertarik gemar kepada mereka, (supaya datang beramai-ramai ke situ), dan kurniakanlah rezeki kepada mereka dari berbagai jenis buah-buahan dan hasil tanaman, semoga mereka bersyukur”

Mengapa Nabi Ibrahim meminta rezeki buah-buahan? Bukan makanan atau minuman yang lain, bukan kekayaan emas permata dan uang yang banyak. Ini pertanyaan karena penasaran tentang apa hikmah doa Nabi Ibrahim.

Bahkan doa terekam dua kali dalam al Qur’an, meski ada pengkhususan rezeki buah-buahan hanya untuk orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, yaitu di surat al Baqarah ayat 126:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian”

Selama ini, buah-buahan tidak dianggap makanan pokok, padahal buah-buahan ini makanan yang paling banyak disebut dalam al Qur’an untuk makanan manusia di dunia dan syurga. Pada dasarnya makanan manusia di belahan dunia manapun, berasal dari buah-buahan. Nyaris tidak ada makanan yang berasal dari buah-buahan (buah dari ubi-ubian ataupun biji-bijian).

Adapun makanan yang paling sehat adalah buah-buahan itu sendiri. Ini semua dokter dan pakar mengakuinya dari hasil penelitian bahwa buah-buahan adalah makanan yang sehat dan menguatkan.

Hal ini sebagaimana jaminan Rasulullah dalam hadistnya bahwa rumah yang dijamin tidak ada kelaparan adalah rumah yang ada kurmanya. “ Tidak akan lapar penghuni rumah yang memiliki kurma” (HR. Muslim)

Nabi Ibrahim paham bahwa tanah haram ini adalah suatu lembah tandus dan tidak bertumbuh tumbuhan, maka Nabi Ibrahim meminta buah-buahan yang menjadi rezeki untuk mereka makan. Ini doa yang sangat cerdas dan strategis untuk kehidupan keluarganya secara khusus dan manusia secara umum.

Maka Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim, sebagaimana dalam al Qur’an dalam surah Al Al-Qasas ayat 57 disebutkan:


وَقَالُوا إِنْ نَتَّبِعِ الْهُدَىٰ مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ أَرْضِنَا ۚ أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَىٰ إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan mereka berkata: “Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami”. Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Atas karunia Allah, doa Nabi Ibrahim ini terwujud. Meskipun Makkah tidak ada pohon yang berbuah, namun buah-buhan dan hasil tanaman empat musim dari negeri-negeri sekitarnya didatangkan ke Makkah sebagai perwujudan diperkenankannya doa. Apalagi kurma dengan segala jenisnya yang banyak.

Makkah menjadi tempat pertemuan berbagai hasil tanaman dan buah-buahan yang datang dari segenap penjuru negeri. Allahpun menjadikan Tanah Tha’if sebagai tempat tumbuhnya berbagai pepohonan.

Hari ini, jika pergi ke Makkah, semua buah tersedia di sana dan melimpah ruah. Tidak ada satupun buah yang terlewatkan untuk dijual dan dikonsumsi di Makkah. Mudah dan murah mengkonsumsi buah-buahan di Makkah meski tidak ada pohon-pohon buahnya.
Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan berkata,

و هذا من لطفه تعالى وكرمه ورحمته وبركته: أنه ليس في البلد الحرام مكة شجرة مثمرة، و هي تجبى إليها ثمارات ما حولها، استجابة لخليله إبراهيم عليه الصلاة و السلام

“Inilah kebaikan Allah Ta’ala: kedermawanan, kasih sayang, dan keberkahan-Nya, yaitu di tanah haram Makkah tidak ada pohon yang tumbuh, tetapi didatangkan buah-buahan ke kota Makkah dari sekeliling Kota Makkah sebagai bentuk pengabulan doanya Ibrahim Alaihissallam, sang kekasih Allah” (Tafsir Ibnu Katsir)

Di bagian terakhir surat Ibrahim ayat 37 ada kalimat penutup لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (supaya kalian bersyukur). Ini adalah tujuan dari doa Nabi Ibrahim bahwa rezeki buah-buahan kepada penduduk Makkah dan manusia pada umumnya adalah agar mereka bersyukur atas limpahan nikmat rezeki buah-buahan tersebut. Bersyukurnya dengan menegakkan shalat dan banyak beribadah kepada Allah.

Makna sesungguhnya bahwa tujuan dari segala rezeki yang kita minta dan diberikan oleh Allah dalam bentuk apapun harus mendukung untuk menunaikan ibadah kepada Allah dan menegakkan ketaatan. Itulah perwujudan hakekat syukur.

Ust Abdul Ghofar Hadi

Teladan Nabi Ibrahim Jadikan Shalat sebagai Doa Utama

NABI Ibrahim (Alaihissalam) meninggalkan Hajar istrinya dan Ismail anaknya yang masih bayi, setelah istrinya paham bahwa ini perintah Allah. Ada keyakinan bahwa Allah tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya.

Nabi Ibrahim pergi dengan sedikit tenang. Dan, untuk lebih meyakinkan ketenangannya, di sebuah bukit Nabi Ibrahim memanjatkan munajatnya kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Doa Nabi Ibrahim banyak diabadikan oleh Allah dalam al Qur’an, artinya doanya memang istimewa dan layak untuk diteladani oleh orang-orang beriman umat Nabi Muhammad.

Sebagaimana doa Nabi Ibrahim dalam Surah Ibrahim ayat 37,

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian dari zuriat keturunanku di sebuah lembah (Tanah Suci Makkah) yang tidak tanaman padanya, di sisi rumahMu yang diharamkan mencerobohinya. Wahai Tuhan kami, (mereka ditempatkan di situ) supaya mereka mendirikan sembahyang (dan memakmurkannya dengan ibadah). Oleh itu, jadikanlah hati sebahagian dari manusia tertarik gemar kepada mereka, (supaya datang beramai-ramai ke situ), dan kurniakanlah rezeki kepada mereka dari berbagai jenis buah-buahan dan hasil tanaman, semoga mereka bersyukur”

Doa Nabi Ibrahim ini menarik untuk dicermati. Diawali dengan mengiba, curhat, menyampaikan keprihatinannya meninggalkan anak keturunannya di lembah yang tidak ada kehidupan. Hal itu dibolehkan bahwa seperti itu etika yang benar dalam berdoa. Ada prolognya terkait permasalahan yang dihadapinya, tidak to the point langsung meminta keperluannya.

Curhat, mengiba, dan menyampaikan masalah melalui doa kepada Allah itu menguatkan akidah, mengokohkan jiwa, melapangkan hati, menjernihkan fikiran, dan meringankan beban permasalahan. Berbeda curhat dengan sesama manusia, mungkin lega dan plong tapi menyisakan beban fikiran apalagi kalau disebar-sebar curhatannya.

Kedua, doa Nabi Ibrahim saat meninggalkan istri dan anaknya bukan meminta hal-hal yang sifatnya materi seperti makanan dan minuman. Padahal itu kebutuhan mendesak yang diperlukan istri dan anaknya untuk bisa bertahan hidup berdua di tanah tandus dan tanpa ada orang lain.

Nabi Ibrahim tidak pernah khawatir untuk masalah kehidupan dengan segala pernak-perniknya bagi keluarganya karena Allah pasti akan menjaminnya sehingga tidak menjadi prioritas doanya.

Nabi Ibrahim berdoa yang pertama adalah رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ ( Wahai Tuhan kami, (mereka ditempatkan di situ) supaya mereka mendirikan sembahyang (dan memakmurkannya dengan ibadah). Subhanallah, shalat itu yang menjadi doa pertama dan utama Nabi Ibrahim.

Hal ini selaras dengan pernyataan Nabi Ya’qub saat hendak didatangi malaikat maut, sebagaiaman termaktub pada surat Al Baqarah ayat 133:

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ ٱلْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِى قَالُوا۟ نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”

Para nabi tidak mengkhawatirkan tentang makanan, minuman, dan kehidupan dunia keturunannya tapi masalah ibadah atau shalat sebagai hal yang utama untuk dipastikan terwariskan.

Sehingga bagi kita orang tua yang beriman, pendidikan pendidikan pertama untuk anak-anak adalah masalah shalat, pesan yang utama saat mereka bepergian ke mana saja adalah nasehat untuk tetap shalat.

Doa yang senantiasa juga kita panjatkan untuk anak-anak kita adalah masalah shalat. Lagi-lagi doa nabi Ibrahim tentang masalah ini terekam dalam al Qur’an surah Ibrahim pada ayat 40:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku”

Sedemikian pentingnya masalah ibadah shalat sehingga doa ini terekam dalam al Qur’an. Dalam hadist lain juga banyak disebutkan bahwa shalat itu pembeda antara orang beriman dan orang kafir.

Kelak di hari kiamat, amal pertama yang dihisab adalah masalah kualitas shalat, jika baik maka amal-amal yang lain dianggap baik. Jika shalatnya tidak baik, maka satu persatu amal yang lain dihisab.

Shalat yang baik dan ikhlas akan mencegah melakukan perbuatan keji dan mungkar. Ada lagi hadist dari Rasulullah, yang menekankan perintah dan pendidikan pertama kepada anak umur 7 tahun adalah perintah shalat.

Di hari-hari tasyrik ini, kita harus terus menggali nilai-nilai tarbiyah Nabi Ibrahim. Salah satunya tentang doa utama yang beliau panjatkan adalah tentang keistiqamahan shalat untuk keluarga anak keturunannya.

Inilah sejarah dan fakta, karena ketaatan Nabi Ibrahim dan keluarganya menegakkan ibadah shalat maka mengundang keberkahan yang luar biasa dan daya tarik manusia untuk datang berbondong-bondong ke Makkah.

Sebagai orang tua, mari optimalkan diri memberikan keteladanan yang baik dalam menjalankan perintah shalat. Sehingga ada kemudahan untuk memerintahkan anak dalam melaksanakan shalat.

Sebagai anak-anak yang remaja dan dewasa, mari tetap jaga shalat. Bukti kesholehan dan berbakti kita kepada orang tua dan kehambaan kita kepada Allah adalah istiqamah menegakkan shalat tepat waktu dan berusaha berjamaah di masjid lima waktu. Wallahu ‘alam bishawab.

ABDUL GHOFAR HADI

Hikmah tak Potong Kuku dan Cukur Kumis dalam 10 Hari

SALAH satu sunnah fitrah yang dilakukan setiap pekan, terutama di hari Jumat adalah memotong kuku dan mencukur kumis. Sebagaimana terdapat dalam hadis- hadis, yang di antaranya adalah berikut ini:

عن أبي هريرة: الفطرة خمس أو خمس من الفطرة الختان والاستحداد ونتف الإبط وتقليم الأظفار وقص الشارب

Artinya: Amalan sunnah itu ada lima, atau lima dari ajaran fitrah; khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan mencukur kumis. (Shohih Bukhari, 5/ 2209).

Waktunya biasanya satu pekan sekali atau tepatnya di hari Jumat. Melaksanakan sunnah artinya aktualisasi meneladani dan mencintai Rasulullah. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: Wahai putraku, ini adalah sunnahku. Dan barang siapa menghidupkan sunnahku, maka dia telah mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga. (Sunan At- Tirmidzi, 10/197).

Kecintaan pada Rasulullah terbukti dengan mencintai sunnahnya. Ketika seorang muslim memotong kuku, atau menghilangkan kotoran di badannya dan ia melakukannya dengan kesadaran penuh bahwa ia melakukannya karena mencintai Rasulullah dan ingin meneladaninya.

Maka, bukan hanya ada rasa optimis akan janji Rasulullah bahwa seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dicintainya. Namun ada kebersihan fisik yang ia dapat, terbiasa kuku pendek, kumis dan rambut rapih setiap pekan.

Satu sisi, saat menjelang Idul Adha, bagi yang berniat berkorban disunnahkan untuk tidak memotong kuku, mencukur kumis dan rambut. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu laihi wassallam:

“Jika masuk bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih kurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikit pun dari rambut dan kukunya.” (HR Muslim)

Sunnah tersebut berlaku hingga hewan kurban dari orang yang berkorban, hewannya selesai dipotong. Selain itu, perlu diperhatikan bahwasanya sunnah ini hanya berlaku bagi orang berkurban saja, tidak untuk anggota keluarga lainnya.

Inilah yang menarik, biasanya satu pekan potong kuku dan cukur kumis, ini harus menunggu 3 hari lagi saat Idul Adha untuk menunaikan sunnah lain. Sehingga ada rasa risih saat kuku sedikit panjang dan kumis sedikit panjang juga. Rasanya tidak biasa dan tidak sabar menunggu waktu Idul Adha atau waktu menyembelih hewan kurban karena mau segera potong kuku dan kumis.

Ada pertanyaan dari anak, “Bi, mengapa ada laki-laki yang tidak berumis dan berjenggot,” tanyanya polos
“Tidak tahu ya Mas, semua itu pemberian Allah,” jawab saya sekenanya.
“Mengapa jenggot dan kumis ada yang berubah warna putih,” tanyanya kembali dengan lugunya sambil pegang-pegang jenggot saya yang sebagian warna putih.

“Tidak tahu juga mas,” jawab saya, betul-betul tidak tahu
“Kalau kuku ini, kapan memanjangnya, pagi, sore atau malam. Kok tiba-tiba kuku jadi panjang?,” tanyanya sambil menunjukkan kukunya yang mulai panjang karena 10 hari belum dipotong.
“Tidak tahu kapan kuku kita tumbuh memanjangnya,” jawab saya apa adanya.

Terkadang pertanyaan-pertanyaan anak yang sederhana, seringkali orang tua kesulitan memberikan jawaban. Pertanyaan bukan salah karena itu realita yang mereka lihat sehari-hari dan memang realita itu mengundang pertanyaan bagi yang belum paham.

Orang tua biasanya tidak mau tahu, karena sudah bertahun-tahun seperti itu, rasa ingin tahunya tidak sebesar anak-anak.

Pertanyaan ini juga terkait dengan akidah, tauhid atau bisa diarahkan untuk menguatkan keyakinan atas kekuasaan Allah dan lemahnya manusia. Ada hal yang melekat tumbuh di manusia tapi tidak berdaya dan tidak tahu apa yang terjadi. Seperti memutihnya kumis dan memanjangnya kuku.

Diperlukan pengorbanan untuk bisa memahami dan memahamkan tentang sunnah fitrah ini. Bahwa dibalik perintah Allah dan Rasulullah pasti ada hikmahnya yang luar biasa dan itu untuk kebaikan orang-orang beriman. Akal dan nalar manusia saja yang terbatas untuk bisa memahaminya dengan baik. Wallahu a’lam bis shawwab.

ABDUL GHOFAR HADI

Keistimewaan Makkah dan Buah Ketaatan Seorang Istri

NABI IBRAHIM membawa Siti Hajar dan anaknya yang masih bayi menyusu, Ismail, di padang tandus. Pada saat itu di Mekkah belum ada ditinggali manusia. Wilayah itu tandus dan gersang. Tak ada mata air, tak ada tanda-tanda kehidupan. Tidak ada orang yang berani hidup di sana saat itu.

Nabi Ibrahim meninggalkan mereka berdua dengan hanya berbekal kurma dan gentong kecil berisi air. Tatkala Nabi Ibrahim berniat pergi, Siti Hajar kaget, panik, dan berusaha mengikutinya sambil bertanya.

“Hai Ibrahim, Engkau hendak ke mana? Engkau meninggalkan kami di lembah yang tiada teman atau apa pun di sini?,” Siti Hajar memberondongnya dengan pertanyaan seperti itu berkali-kali.

Sebagai seorang wanita biasa, manusiawi ada rasa takut dan khawatir di benak Siti Hajar. Namun, Ibrahim bergeming. Memandang Siti Hajar pun tidak. Ibrahim terus melangkah meninggalkan istri dan anaknya. Hingga akhirnya Siti Hajar bertanya.

“Apakah Allah telah menyuruhmu berbuat demikian?,” Siti Hajar bertanya.
Ibrahim menghentikan langkahnya dan menjawab dengan singkat, “benar”
“Jika demikian, maka Dia tidak akan menelantarkan kami,” ujar Siti Hajar.

Ibrahim pun pergi ke Palestina lagi. Siti Hajar dan Ismail yang masih bayi berusaha bertahan hidup hanya berdua di tanah tandus nan gersang.

Tidak lama persediaan kemudian, makanan dan minuman habis karena memang hanya sedikit. Air susu Siti Hajar telah mengering. Sementara gentong tempat persediaan air sudah kosong. Siti Hajar kehausan, demikian pula Ismail.

Si kecil itu berguling-guling kehausan. Sementara Siti Hajar tidak tega melihat anaknya yang demikian. Maka beranjaklah ia ke bukit Shafa, tempat yang paling dekat darinya. Dia berdiri di puncaknya sambil mengarahkan pandangannya ke lembah dengan harapan melihat air. Namun, dia tidak melihat seorangpun.

Kemudian, dia turun dari Shafa. Ketika dia tiba di lembah, dia menyingsingkan kainnya lalu berjalan seperti orang tergesa-gesa hingga melintasi lembah tersebut. Kemudian dia menuju Marwah.

Sesampai di Marwah ia pun berdiri di puncaknya dengan harapan dapat melihat seseorang. Tetapi di situ dia pun tidak melihat siapa-siapa. Sepi dan sunyi mencekam. Hingga akhirnya ketika ikhtiar Siti Hajar maksimal hingga 7 kali ke Shofa dan Marwa, Allah memberikan pertolongan dengan mengalirnya air zamzam yang hingga hari ini masih terus mengalir.

Makkah kini sangat istimewa yang menjadi tempat berkumpulnya jutaan manusia untuk ibadah, tanah yang gersang dan tandus menjadi kota paling makmur dan ramai. Inilah buah dari ketaatan seorang istri kepada suami dan keyakinan tauhid kepada Allah. Sebuah ketaatan yang luar biasa yang dilandasi oleh keimanan dan keyakinan yang kuat kepada Allah.

Lain cerita, seandainya Siti Hajar tidak mau ditinggal oleh Ibrahim. Menangis dan terus mengikuti Ibrahim kemanapun pergi. Menonjolkan sisi kewanitaannya yang lemah. Atau mau ditinggal di situ tapi dengan kesedihan yang mendalam dan hanya bisa meratap tidak mau berikhtiar sama sekali.

Atau seperti sebagian istri yang sosialita, hedonis, jangankan ditinggal di tempat yang sepi, tidak diajak liburan bisa ngambek berhari-hari, dikurangi atau terlambat uang belanja bisa ngomel hingga akhir bulan. Tentu cerita Makkah tidak seperti hari ini.

Ketaatan Siti Hajar, tentu tidak tiba-tiba tapi ada tarbiyah dari suaminya. Tentu selama ini ada edukasi dan aktualisasi iman dalam kehidupan keluarganya. Kemudian Ibrahim juga memang layak untuk menjadi suami yang ditaati karena ketaladanan dan ketaatan yang telah beliau implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketaatan seorang istri bukan instan atau sulapan tapi ada ikhtiar dan munajat dari pemimpinnya yaitu suami. Tidak bijaksana seorang suami ingin istrinya taat, sementara belum ada tarbiyah sebelumnya, belum ada ketaladanan yang dilihat dari suaminya.

Istri juga harus mengkondisikan agar suami tetap istiqamah dalam ketaatan. Menjadi motivasi dan alarm jika suami mulai futur dalam beribadah, berusaha mencarikan solusi jika suami mengalami kesulitan.

Salah satu pelajaran penting dalam idul Adha adalah ketaatan seorang suami istri kepada Allah, ketaatan istri kepada suaminya dan Tuhannya. Makkah hadir hari ini dengan segala gemerlapnya adalah karena buah dari ketaatan seorang istri kepada suaminya dan Tuhannya.

Sehingga pantas Allah mengabadikan kisah Ibrahim dan keluarganya dalam al Qur’an untuk menjadikan teladan kepada orang-orang beriman. Akan ada hal yang spektakuler jika berusaha mengaktualisasikan kembali ketaatan kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari.

ABDUL GHOFAR HADI

Rapat Kerja Nasional Musyrif Grand MBA Mantapkan Standardisasi

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Musyrif Grand MBA Hidayatullah berkomitmen memantapkan standardisasi Majelis Quran Hdayatullah (MQH) dan Rumah Quran Hidayatullah (RQH) secara nasional.

“Salah satu agenda Rakernas ini adalah membahas dan menguatkan standardisasi MQH dan RQH secara nasional,” kata Steering Committee Rakernas Musyrif Grand MBA Ust. Muhdi Muhammad dalam keterangannya dalam keterangan usai pembukaan acara itu secara hybrid di Jakarta, Rabu, 30 Dzulqaidah 1443 (29/6/2022).

Muhdi menjelaskan, Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) adalah merupakan program nasional Hidayatullah sebagai metode pilihan pembelajaran Al Qur’an secara tuntas dan sistematis.

Ia menjelaskan, sebagaimana amanat Rakernas Hidayatullah 2021, GranD MBA terus menggulirkan program tahunan yang telah disahkan, satu diantaranya menyelenggarakan dauroh nasional baik musyrif maupun mu’allim.

“Dauroh Musyrif nasional diselenggarakan dalam rangka penguatan manajemen pengelola GranD MBA di setiap wilayah nusantara,” katanya.

Daurah telah diselenggarakan dua kali dalam dua tahun berturut-turut dengan harapan penyelenggaraan pembelajaran GranD MBA disetiap wilayah semakin massif dan profesional.

Dia menambahkan, selama dua tahun program GranD MBA berjalan mengalami perkembangan cukup signifikan dengan bergulirnya program MQH dan RQH sebagai program unggulan yang dikawalnya.

“Karena itu dipandang penting Rakernas Musyrif Grand MBA Hidayatullah ini untuk memantapkan standardisasi dan pengembangan program yang lebih baik dan berkualitas,” tandasnya.

Acara yang berlangsung secara hybrid ini digelar selama 2 hari di Gedung Dakwah Hidayatullah Pusat dengan mengangkat tema “Tingkatkan Kualitas, Wujudkan MQH dan RQH sebagai Sarana Dakwah Komunitas” yang diikuti para Musyrif Grand MBA Nasional dan Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah se-Indonesia.*/Ain

Hari Raya Idul Adha Hidayatullah Ikut Ketetapan Pemerintah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menyikapi perbedaan penetapan tanggal hari raya Idul Adha 1443 H/ 2022, mengikuti ketetapan pemerintah sebagaimana hasil sidang itsbat Kementerian Agama sebagai lembaga khusus Badan Hisab dan Rukyat dengan anggota yang mencakup semua elemen ummat Islam di Indonesia.

“Hidayatullah adalah bagian dari umat Islam. Sikap yang paling tepat sebagai bagian dari pengambil kesepakatan adalah konsisten pada kesepakatan hasil sidang itsbat yang telah menetapkan bahwa Idul Adha 2022 tanggal 10 Juli 2022,” kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah DR. H. Nashirul Haq, Lc., M.A.

Hal itu disampaikan ia dalam Surat Edaran DPP Hidayatullah tentang Menyambut Idul Adha 1443 H/ 2022 M yang dikeluarkan di Jakarta, Rabu, 6 Dzulhijah 1443 H (6/7/2022).

Ia menjelaskan, Hidayatullah melalui Majelis Mudzakarah Hidayatullah telah menetapkan Panduan Penetapan Bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah (Dalam Prespektif Fikih Jamaah) pada 1432 H/ 2011 M berdasarkan buku panduan tersebut di halaman 30 hingga 41.

Nashirul menambahkan, awal bulan Dzulhijah sebagai momentum luar biasa bagi orang-orang yang diberikan kesempatan berangkat haji.

Dia menyebutklan, 10 Dzulhijah sebagai hari raya yang selalu dirindukan dan membahagiakan bagi orang-orang beriman.

Oleh karenanya, terangnya, penting untuk mengoptimalkan ibadah di bulan Dzulhijah baik bagi yang berkesempatan haji khususnya dan kita semua orang beriman pada umumnya.*/Ainuddin