Beranda blog Halaman 340

Inilah 5 Pesan Berharga dari Ali bin Abi Thalib

0

ABU Nu’aim al-Ashbahani mencatat dalam kitab Hilyatul Auliya’, bahwa ‘Ali bin Abi Thalib berkata,

“Hafalkanlah lima hal dari saya; yang mana seandainya kalian mengendarai unta untuk mencarinya, pasti unta itu sudah binasa sebelum kalian mendapatkannya; yaitu janganlah seorang hamba mengharapkan selain Tuhannya, janganlah ia merasa takut kecuali kepada dosanya sendiri, jangan sampai orang bodoh merasa malu untuk bertanya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui, jangan sampai orang ‘alim merasa malu untuk mengatakan ‘Allah lebih tahu (wallahu a’lam)’ tatkala ia ditanya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui; dan kesabaran (bila dikaitkan dengan) iman adalah bagaikan kedudukan kepala dari tubuh, dan tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki kesabaran.”

Pesan pertama adalah berharap hanya kepada Allah dan percaya penuh kepada-Nya. Inilah inti dari sikap zuhud.

Oleh karenanya, seorang ahli ibadah dari generasi Tabi’in, Yunus bin Maisarah bin Halbas al-Jublani, berkata:

“Kezuhudan di dunia itu bukan dengan mengharamkan yang halal, tidak pula dengan menyia-nyiakan harta, akan tetapi kezuhudan di dunia adalah jika kepercayaanmu kepada apa yang ada di tangan Allah lebih kuat dibanding kepercayaanmu kepada apa yang ada di tanganmu; jika keadaanmu ketika tertimpa musibah dan keadaanmu ketika tidak tertimpa adalah sama; dan jika orang yang mencelamu maupun menyanjungmu dalam kebenaran adalah sama.” (Riwayat al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Akan tetapi, dewasa ini betapa banyak orang yang “merasa mampu” sehingga lalai dari berdoa, semata-mata mengandalkan rekadayanya sendiri, dan benar-benar lupa kepada Allah.

Ini bukan berarti kita disuruh tidak berupaya dan semata-mata bersandar pada “kepercayaan”, karena Rasulullah sendiri menganjurkan umatnya untuk berusaha mencari yang halal, serta mencela orang yang mengemis, malas dan hanya menjadi beban orang lain. Masalahnya tidak boleh dikacaukan dan dicampuradukkan.

Pesan kedua adalah senantiasa meneropong diri sendiri, ber-muhasabah dan bertaubat. Sebagai manusia biasa, kita tidak ditakdirkan untuk ma’shum (terpelihara dari dosa), dan Allah pun tidak membebani kita melebihi kemampuan kita.

Namun, adalah berbeda antara mereka yang sengaja berkubang dalam kemaksiatan dan tenggelam dalam kedurjanaan, dengan mereka yang berusaha sekuat tenaga menaati Allah dan menjauhi dosa-dosa, lalu tersandung kesalahan-kesalahan tanpa disengaja. Kelompok pertama itu tidak pernah menyesal, tetapi yang kedua selalu beristighfar dan memperbaiki diri. Tentu saja, Allah tidak akan memperlakukan mereka secara sama.

Pesan ketiga adalah anjuran untuk tidak segan-segan bertanya dan belajar, ketika kita tidak tahu. Bukankah kebanyakan penyimpangan dan kesesatan bersemi dari benih-benih kebodohan, prasangka, dan kemalasan mencari ilmu?

Sebagian besar pengikut aliran sesat adalah orang-orang bodoh yang tidak mau belajar, lalu menuruti hawa nafsunya yang telah dihias oleh syetan. Mereka bukan tidak bersekolah, tetapi tidak mengerti urusan agamanya, walau sangat mahir dalam urusan duniawi.

Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang keras-kasar-angkuh tabiatnya, gemar mengumpulkan harta namun pelit, suka berteriak-teriak di pasar-pasar, seperti bangkai di malam hari dan seperti keledai di siang hari, sangat mengerti urusan dunia tetapi tidak tahu-menahu urusan akhirat.” (Riwayat Ibnu Hibban dari Abu Hurairah, dengan sanad shahih ‘ala syarthi muslim).

Pesan keempat adalah tidak malu mengakui ketidaktahuan kita, jika ditanya atas sesuatu yang tidak kita mengerti. Penyakit “segan” seperti ini mudah menghinggapi para ulama, profesor, guru, trainer, penceramah, dan tokoh-tokoh terpandang. Apalagi jika sudah terkenal dan dikagumi oleh banyak pengikut.

Dalam hal ini, ‘Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Betapa sejuknya di hati, ketika saya ditanya tentang sesuatu yang saya sendiri tidak mempunyai ilmu tentangnya, kemudian saya katakan: Allahu a’lam.” (Riwayat Darimi, dengan sanad lemah).

Dikisahkan pula, bahwa seseorang datang kepada Ibnu ‘Umar lalu bertanya kepada beliau tentang sesuatu hal. Beliau menjawab, “Saya tidak punya ilmunya.” Beliau kemudian berpaling setelah orang itu beranjak pergi, dan berkata, “(Inilah) sebaik-baik ucapan yang dikatakan oleh Ibnu ‘Umar! Ia ditanya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui, lalu ia menjawab: saya tidak punya ilmunya.” (Riwayat Darimi, dengan isnad hasan).

Pesan kelima adalah berpegang kepada kesabaran. Sungguh, kesabaran dan menahan diri merupakan akhlak yang sangat sering dipesankan oleh Allah kepada kaum muslimin dalam wahyu-wahyu yang mula-mula turun kepada Rasulullah, baik secara tersirat maupun tersurat.

Perhatikanlah isi kandungan surah-surah al-‘Alaq, al-Qalam, al-Muddatsir dan al-Muzzammil; disana terpampang pesan-pesan kesabaran secara nyata. Bahkan, dalam surah al-‘Ashr, Allah menjadikan “saling berpesan dengan kesabaran” sebagai bagian dari sifat orang-orang yang tidak merugi di dunia ini, digandengkan dengan beriman, beramal shalih, serta saling berpesan dengan kebenaran.

Rasulullah pun pernah ditanya, “Bagian manakah yang paling utama dari iman?” Beliau menjawab, “Kesabaran dan lapang dada.” (Dikutip oleh Ibnu Hajar dalam al-Mathalib al-‘Aliyah, dari Jabir, dan menurut beliau isnad-nya hasan).

Inilah lima pesan ‘Ali bin Abi Thalib yang sangat berharga. Semoga kita dapat mengambil manfaat darinya. Amin. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Hidayatullah Depok Launching Platform Digital Terintegrasi

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Yayasan Hidayatullah Depok meluncurkan sejumlah platform digital besutannya yaitu portal website terintegrasi, aplikasi kesekretariatan & kepegawaian, aplikasi Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) dan relaunching media sosisal Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok (YPPH) Depok.

Peluncuran dilakukan disela gelaran Kajian Kelembagaan Bulanan yang secara semarak diikuti pengurus harian, pegawai, pengasuh, pendidik, dan segenap mitra jihad yang digelar di Gedung Sekolah Pemimpin, Komplek Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Jum’at, 28 Muharram 1444 (26/8/2022).

Developer integration platform proyek digital ini, Arya Adi Nugraha, mengatakan pengerjaan website terintegrasi ini merupakan upaya dia untuk menyokong Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok agar mulai memantapkan kiprah di ranah teknologi digital.

“Ide teknologi memang terus berkembang, inilah digital transformation. Memang kita sudah di 4.0 tapi kita ini sekarang masih 3, buktinya foto copy KTP,” kata Arya berseloroh.

Ia menjelaskan, kendati dunia khususnya Indonesia telah memasuki era yang disebut dengan revolusi industri 4.0 sebagai sebuah transformasi komprehensif peleburan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional, namun kita masih acapkali berkutat pada hal tradisional seperti masih harus foto copy KTP.

“KTP sudah ada chipnya tapi masih difoto copy. Berarti eranya masih 3 sebenarnya, tapi pengennya segera 4.0. (Namun) yang perlu kita pahami, dari 3 ke 4 adalah sebuah integrasi,” imbuhnya dalam peluncuran tersebut.

Dia berharap, dengan kehadiran platform digital tersebut, akan mengakomodir semua unit di Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok ke dalam satu tempat sebagai wadah untuk saling terintegrasi.

Dalam acara yang mengangkat tajuk “Meningkatkan dan Mengkristalkan Pemahaman Pegawai dalam Berlembaga sebagai Upaya Membangun Miniatur Peradaban Islam” ini menghadirkan narasumber Ketua Departemen Hukum DPP Hidayatullah Ust. Dr. Dudung A. Abdullah, SH, MH, yang mengisi kajian kelembagaan bertema dimensi pembacaan (iqra’) dan kaitannya dengan aspek aspek hukum.*/Ain

Pendiri Hidayatullah KH Hasyim HS Bersamai Silaturahim Dai se-Sulawesi

PALU (Hidayatullah.or.id) — Salah satu pendiri Hidayatullah KH Hasyim Harjo Suprapto berkesempatan membersamai acara Silaturahim Dai dan Halaqah Murabbi se- Sulawesi yag digelar di Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang dibuka hari ini, Jum’at, 28 Muharram 1444 (26/8/2022).

Pada momentum hari pertama usai shalat shubuh berjamaah di Masjid Al Amin, Komplek Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Palu, Jl. Uwe Buro, Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, beliau didapuk memberikan tausiah di hadapan peserta pewakilan dai Hidayatullah dari dari pulau Sulawesi ini.

Dihadapan jamaah, beliau memberikan wejangan dengan intonasi datar khas senior Hidayatullah yang murah senyum itu.

“Saya senang bisa berada di depan orang orang yang jelas ilmunya dan di atas saya. Kelebihan saya yang sudah pasti dari jamaah adalah umur,” katanya setengah berseloroh dalam mengawali tausiah.

Sebagaimana disampaikan pada momen lain, Ustadz Hasyim, demikian ia biasa disapa, melakukan napat tilas dinamika perjuangannya mengawali rintisan Hidayatullah ini.

“Maju saja, nanti Allah berikan ilmu atau perkataan yang menarik orang,” katanya mengenang pesan yang acapkali disampaikan oleh sahabatnya, Ust Abdullah Said, diawal bersama merintis Hidayatullah.

Dari semua pemaparan tentang perjuangannya bersama Ust Abdullah Said dan sahabat sahabatnya, Ust Hasyim mengajak jamaah selalu mendoakan pendiri Hidayatullah tersebut.

“Semoga beliau bahagia dengan amal jariyahnya, menikmati perjuangannya,” ajaknya agar seluruh kader selalu saling mendoakan, memaafkan dan menjaga silaturrahim.

Kesyukurannya adalah masih berada dalam jamaah Hidayatullah selalu disegarkan agar menjadi motivasi bagi generasi pelanjutnya.

Ia juga mengajak agar selalu bisa memaknai hidup di Hidayatullah sebagai hidup yang disetting memiliki visi yang jelas. Dia tekankan bahwa Allah itu Maha Penolong cuma kadang kadang kita ragu atas pertolongan Allah.

Ia mengatakan, spirit yang didapati selama berinteraksi dengan Abdullah Said adalah selalu menyuruhnya maju untuk menyelesaikan tugasnya dengan keyakinan penuh bahwasanya Allah akan menolong selagi niatnya bagus.

“Maju saja, nanti Allah akan tolong selagi niatmu bagus,” kenangnya lagi.

Menurutnya, banyak ide dan gagasan Abdullah Said yang kita sendiri tidak paham dan sanggup memahaminya. Menurut pengalamannya, Ust Abdullah Said sering mengatakan sesuatu dalam keadaan kita belum punya materi apa apa.

“Itu sebenarnya pelajaran Tauhid tingkat tinggi. Ilahi anta maqshudi wa ridhaka mathlubi, ini bukan ayat bukan hadits tapi sangat relevan dengan keduanya,” imbuhnya.

Dahulu saja, kenangnya, tidak ada (fasilitas) apa apa yang ada hanya taat dan semangat, kerja keras, ibadah keras adalah nyanyian sehari hari, kerja hingga larut malam.

Kala itu, kader Hidayatullah ditugaskan ke mana mana mudah karena taat, meyakini bahwa Allah itu kuasa, mengerti kebutuhan orang. Inilah, kata dia, yang menjadi penyemangat hari ini.

“Dulu belum ada apa apa, kami dulu, tidak pernah berbicara fasilitas dan hal hal yang bersifat keduniaan,” tuturnya.

“Apakah sudah menjadi rumus ya? ketika jalan kaki semangat luar biasa namun ketika sudah ada fasilitas justru spirit itu berkurang,” selorohnya ringan.

Makanya, kata dia, rubrik dalam majalah Suara Hidayatullah yang duluan ia baca adalah Serial Dai, dengan harapan semangat berdakwah masih tetap diwarisi oleh generasi hari ini.

Terlebih lagi, jika spirit yang dimaksud selalu ia kaitkan dengan contoh yang diperagakan di awal awal rintisan ormas Islam yang sudah berada di seluruh provinsi ini.

Dengan semangatnya yang tinggi beliau secara rutin mengimami shalat tahajjud selama rata rata 4 jam setiap malamnya.

Meski ia bukan hafidz Qur’an 30 juz, menurutnya, mampu menerapkan isi yang terkandung di dalamnya melalui praktik praktik peradaban Islam di semua kampus kampus Hidayatullah di Indonesia ini.

Diujung tausiah, beliau berpesan, “Mari saling mendoakan dalam kebaikan dan jangan saling menyakiti karena itu menjadi penghalang pertolongan Allah”.*/Muhammad Bashori

Sako Pramuka Hidayatullah Gelar KMD & Scouting Skill Nasional

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Sako Pramuka Hidayatullah menggelar Kursus Mahir Dasar (KMD) dan Scouting Skill (Keterampilan Pramuka) untuk pertama kalinya digelar secara nasional.

KMD dan Scouting Skill ini berlangsung di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, selama sepekan, Kamis-Rabu, 27 Muharram – 3 Shafar 1444 (25-31/08/2022).

Kegiatan ini diikuti ratusan peserta dari berbagai utusan daerah se-Indonesia, mulai dari wilayah timur (Papua) hingga wilayah barat Nusantara (Sumatera).

Seremonial pembukaan Scouting Skill bertema “Pramuka Hidayatullah Berbakti untuk Negeri, Back to Nature” ini dilakukan pada Kamis (25/08/2022).

Tampak hadir Majelis Pembimbing Sakonas Pramuka Hidayatullah Kak Supriyadi (Mas Pri), instruktur nasional dari SAR Hidayatullah Ahmad Jaya (purnawirawan marinir TNI), Sekretaris Dewan Pembina YPPH Balikpapan Ust. Abdul Latief Usman bersama anggotanya Ust. Sarbini Nasir dan Ust. Syamsu Rijal Palu, Ketua Sakonas Hidayatullah Kak Syarif Daryono, dan Sekretaris YPPH Balikpapan Ust. Abul A’la Maududi.

Hadir pula unsur Pengurus Pinsakonas yaitu Kak Irwan Budiana dan Kak Abdul Malik Najmuddin, Ketua Sakoda Pramuka Hidayatullah Kaltim Kak Fathi Fadhlullah, Ketua Departemen Pendidikan DPW Hidayatullah Kaltim, Ustadz Muhammad Ya’rif Yahya, Ketua LPPH Gunung Tembak Ustadz Masykur, dan lain sebagainya.

“Dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim, pelatihan Scouting Skill pertama Sakonas Hidayatullah saya nyatakan dibuka,” ujar Mas Pri, lantas mengetuk mimbar tiga kali, lalu memekikkan seruan bertakbir, disamput “Allahu Akbar!” oleh hadirin, sebagaimana pantauan Media Center @UmmulquraHidayatullah (MCU).

Dalam sambutannya sebelum membuka acara itu, Mas Pri menyampaikan bahwa pelatihan ini juga sebagai persiapan pelaksanaan jambore Sako Pramuka Hidayatullah nasional yang ketiga. Bahkan, ia mencetuskan wacana Hidayatullah menggelar jambore internasional yang diikuti perwakilan sejumlah negara lain.

Mas Pri yang juga Wakil Ketua Kwarnas/Ketua Komisi Pembinaan Anggota Muda Gerakan Pramuka masa bakti 2018-2021 menyampaikan, kehadiran Sako Hidayatullah untuk turut serta membangun bangsa dan negara Indonesia.

Oleh karena itu, Jambore Ketiga Sako Hidayatullah yang rencananya digelar di Balikpapan tahun depan itu harus memiliki nilai lebih dibanding dua jambore sebelumnya.

“(Jambore) yang ketiga ini akan kita ceritakan kepada Indonesia, kita di bawah Hidayatullah hadir untuk Indonesia, hadir untuk dunia. Dengan cara apa? Ya kita undang sako-sako (ormas Islam) yang lain,” ujarnya.

Sementara Ketua Sakonas Hidayatullah Kak Syarif, dalam sambutannya antara lain menyampaikan sejumlah pantun, misalnya berikut ini:

“Ke Balikpapan membeli dasi, belinya di toko Pak Abdullah.

Mari kita sukseskan kaderisasi, melalui Pandu dan juga Sako Hidayatullah.”

Ketua LPPH Gunung Tembak Ustadz Masykur mengajak para peserta pelatihan itu untuk memberikan kontribusi positif yang terbaik bagi Indonesia.

Menurutnya, Indonesia dengan berbagai problem yang ada, membutuhkan kehadiran anak-anak bangsa yang mampu memberikan solusi, bukan sekadar memperbincangkan masalah.

“Dan inilah kita sebagai Pramuka, sebagai Sako Hidayatullah, untuk kemudian merapikan barisan dan memastikan bahwa kontribusi yang kita berikan (untuk bangsa dan umat) adalah kontribusi yang terbaik,” pesannya

Pada penghujung acara itu, Ustadz Abdul Latief Usman didaulat untuk memberikan wejangan pamungkas.

Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan para tamu, baik peserta pelatihan maupun para instruktur, agar selalu mengambil sisi-sisi baik dalam acara itu, termasuk terkait tempat pelaksanaannya.

Ia mengambil majas dua hewan yang dinilai memiliki karakter berbanding terbalik, yaitu lalat dan lebah. Lalat, katanya, meskipun berada di hotel bintang lima, tetapi yang dicari adalah tempat kotor atau sampah. Sementara lebah, meskipun berada di tengah hutan, tetapi yang dicari adalah bunga.

“Jadi kalau seluruh peserta dari seluruh Indonesia ini mau jadi lalat, carilah kekurangannya di sini. Kalau mau jadi lebah, cari kelebihannya di sini,” pesannya.

“Jangan cari kekurangannya. Kalau cari kekurangan di sini, anda akan jadi lalat. Tapi kalau cari kelebihannya, anda jadi lebah semuanya,” pungkasnya.

Berdasarkan data diterima MCU, KMD dan Scouting Skill perdana Sako Pramuka Hidayatullah ini diikuti oleh 132 peserta (76 putra dan 55 putri). Panitia menghadirkan sejumlah instruktur nasional dari pusat maupun instruktur lokal.*(SKR/MCU)

Foto oleh Muhammad Abdus Syakur

Upgrading Mushida Kuatkan Eksistensi sebagai Orpen

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Keberadaan Muslimat Hidayatullah (Mushida) merupakan bagian dari organisasi pendukung (orpen) yang integral dari Gerakan Hidayatullah, sehingga peran, fungsi, dan gerakannya harus disinergikan dengan organisasi induk dalam rangka mewujudkan peradaban Islam.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi DPP Hidayatullah, Asih Subagyo, pada kegiatan dengan tema “Eksistensi Muslimat Hidayatullah Sebagai Organisasi Pendukung” yang diikuti oleh lebih dari 500 peserta, belum lama ini.

“Sebagai Muslimah yang memiliki banyak amanah, agar tidak tumpang tindih, maka pengurus Muslimat Hidayatullah harus mampu memahami job deskripsinya serta tugas pokok dan fungsinya sebagai pengurus,” imbuh Asih seperti dilansir laman Mushida.

Asih menjelaskan, tujuan berorganisasi ialah membangun rasa tanggung jawab terhadap amanah dan belajar tentang ketaatan terhadap pemimpin.

“Hidayatullah merupakan organisasi massa Islam yang berbasis kader. Organisasi merupakan jama’ah dan jama’ah ialah organisasi,” imbuhnya.

Dan, Asih melanjutkan, diantara pilar-pilar kekuatan jama’ah yaitu adanya kepemimpinan yang kuat, ketaatan anggota, transaksi sosial, budaya musyawarah, dan soliditas ukhuwah.

Visi Muslimat Hidayatullah membangun keluarga Qur’ani menuju peraban Islam. Oleh sebab itu, ia menegaskan bahwa dakwah di dalam keluarga menjadi penting karena masyarakat Qur’ani lahir dari keluarga yang berakhlak Qur’ani.

“Hal yang tidak boleh diabaikan bahwa kita tidak bisa mengajak atau menjadikan masyarakat Qur’ani jika tidak ada dakwah dalam internal keluarga,” tegasnya.

Selain itu, dia menambahkan, tantangan Muslimat Hidayatullah saat ini harus selalu memperbaiki diri untuk menjadi mar’atus sholihah, menjadi manager keluarga, madrasah bagi anak-anaknya, bekerja secara professional serta proporsional, menyeimbangkan antara tugas keorganisasian dan perannya sebagai ibu, dan melaksanakan dakwah fardhiyyah.

Departemen Organisasi PP Mushida menyelenggarakan Upgrading Pengurus Pusat, Wilayah, Daerah dan Tri Konsolidasi pada secara virtual. Upgrading bertujuan untuk meningkatkan wawasan keorganisasian pengurus sehingga berjalan dengan baik sebagaimana yang telah dituangkan dalam Pedoman Dasar Organisasi.

“Kegiatan ini diselenggarakan untuk menyegarkan kembali tugas pokok dan fungsi pengurus sebagai kader yang diberi amanah,” kata Ketua Departemen Organisasi PP Mushida, Hapseni Dirwan.

Hapseni menambahkan, harapannya dari kegiatan ini dapat memotivasi pengurus Muslimat Hidayatullah dalam mengemban amanah dan memberikan yang terbaik untuk organisai ini.*/Arsyis Musyahadah

Totalitas Dorong Produktif Melakukan Amal Terbaik

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Dengan menjadi pribadi muslim yang totalitas sejatinya akan mendorongnya menjadi insan yang produktif dengan melakukan amal terbaik. Demikian disampaikan anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust Drs Abdul Rahman.

“Jika rasa itu telah hadir, dijamin hidup seorang muslim penuh vitalitas, dinamis, dan merasa bahagia selalu. Hal ini akan mendorong manusia untuk bekerja secara produktif dan melakukan amal terbaik,” katanya.

Hal tersebut diungkap Ust Abdul Rahman di hadapan ratusan santri Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) dan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah, beberapa waktu lalu, Selasa (02/08/2022).

Ia lantas menegaskan seraya bertanya bagaimana seorang santri bisa berprestasi meraih juara? Mengapa ada orang yang penuh vitalitas dan mampu energik setiap waktu?

Menurutnya, kebanyakan manusia menginginkan hal tersebut, tapi tidak semua tahu rahasia di balik itu. Menurut dai senior asal Gresik, Jawa Timur tersebut, rahasianya adalah bagaimana ia merasakan cinta dan tunduk kepada Allah.

“Itulah puncak ketaatan manusia, ghayatul dzul wal hubb, adanya ketundukan dan kecintaan,” ucap Ketua Umum DPP Hidayatullah periode I (2000-2005) tersebut.

Demikian iman itu bekerja, lanjutnya. Kalau menjadi santri, jadi terbaik di dunia, yang mengelola kampus, jadi pengelola pesantren terbaik di dunia. Sebab, terangnya, ibadah itu hanya diterima jika murni semata-mata karena Allah.

“Kalau santri menghafal al-Qur’an, misalnya, maka jadi penghafal terbaik nomor satu, karena dia menghafal untuk Allah,” terangnya dengan suara tinggi, penuh semangat.

Santri atau mahasiswa, lanjutnya, tidak boleh main-main atau bersantai-santai dalam menuntut ilmu. Justru, setiap ada arahan atau komando, mereka harus gesit dan bergegas menyambut seruan itu.

“Jadi semua harus totalitas, jangan beri yang sisa-sisa saja. Jangan mau berjuang dan berkorban kalau nanti ada sisa waktu, sisa duit, sisa pikiran,” ujarnya sambil mengutip kisah salah seorang anak Nabi Adam yang pengorbanannya tidak diterima oleh Allah.

“Mental santri itu militan, bergerak maju, bukan meletan atau klemar-klemer (bahasa Jawa),” ucapnya terus membakar semangat.

Bertempat di lantai utama Masjid ar-Riyadh, Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, ia juga menceritakan kisah para santri dahulu yang digembleng langsung oleh KH. Abdullah Said, Pendiri Hidayatullah, puluhan tahun silam.

Menurutnya, saat itu para santri punya spirit yang luar biasa. Mereka bisa dikata siap menerima komando dan tugas dakwah apa saja.

“Selain jiwa militan, santri juga harus memiliki sikap istijabah fauriyah atau responsibilitas yang sangat tinggi. Pokoknya siap apa saja dan kapan saja. Jadi jangan santai apalagi malas-malasan, bisa ketinggalan zaman nanti,” sambung dia yang pernah berburu ilmu hingga ke Kota Makkah al-Mukarramah itu.

Sikap demikian, nasihatnya, hanya bisa didapat jika penuntut ilmu memiliki kesungguhan (jiddiyah), qawiyyul azm (tekad yang kuat), serta kesabaran dan keuletan (mushabarah).

“Santri itu harus serius, disiplin tinggi, kerja keras, cerdas, tahan banting, dan tidak mudah mengeluh,” tutupnya, masih dengan getar semangat yang sama.*/Abu Jaulah/MCU)

[Khutbah Jumat] Urgensi Menjaga Nikmat Sehat

ADA dua nikmat yang seringkali manusia lalai dan tersadar kembali ketika dua nikmat tersebut sedang tidak ada pada dirinya. Dua nikmat ini seringkali dianggap biasa saja dan tidak dianggap istimewa, karena setiap hari diperlukan dan dinikmati. Yaitu nikmat sehat dan waktu luang. Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya, unduh sekarang:

Gender Nonbiner Menyimpang dan Lampaui Batas, Harus Disembuhkan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam Islam gender hanya dikenal laki laki dan perempuan. Keduanya merupakan fitrah kehidupan dimana Allah SWT meciptakannya untuk berpasang pasangan.

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi mengatakan jika ada gender diluar dua kelamin tersebut seperti klaim gender nonbiner, maka itu adalah bentuk kesombongan, menyimpang, dan melampaui batas.

Imam menilai, paradigma Barat tentang gender telah terlampau jauh merasuk ke dalam sistem berpikir masyarakat sehingga acapkali dianggap benar dan yang menerimanya diglorifikasi sebagai open minded.

Padahal, terang Imam, Islam dengan konfrehensif mengatur relasi gender yang menjunjung tinggi nilai keadilan dan persamaan keduanya dihadapan Allah SWT sebagai hamba dan khalifah di bumi dengan kapasitas fitrahnya masing masing.

“Saya sendiri pun heran, mengapa kita sebagai bangsa Indonesia, lebih khsuus umat beragama, harus menerima, mengakui dan menghormati nilai-nilai dunia global begitu saja,” kata Imam dalam obrolan dengan media ini ruang kerjanya di Jakarta, Selasa, 25 Muharram 1444 (23/8/2022).

“Pada saat yang sama, mengapa dunia global tidak menghargai pandangan bangsa Indonesia, terkhusus umat Islam. Mengapa tidak setara seperti itu,” imbuhnya heran.

Penulis buku Mindset Surga ini pun mempertanyakan mengapa paradigma Barat tentang gender begitu amat dipaksakan, yang, siapapun berbeda dengannya, akan diinsinuasi sebagai pelanggar hak asasi manusia (HAM).

“Kemudian ‘manusia’, mengapa harus versi Barat semata. Kenapa versi Indonesia, versi umat Islam tentang manusia tidak dapat pengakuan dunia,” tanyanya.

Dia menjelaskan seraya bertanya, ketika menyebut HAM, maka “M” alias manusianya itu manusia yang mana, yang berpaham apa? Lalu kalau benar dunia saling menghargai, mengapa “M” Barat harus kita terima sebagai “M” Indonesia?

“Sedangkan Barat tidak mau menerima “M” Indonesia. Apakah ini bukan “penjajahan” atas istilah “manusia. Lebih dalam lagi, apakah begini keadilan dalam menghargai sama-sama manusia modern.

Di sisi lain, Pancasila sebagai falsafah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara telah mendemarkasi secara tegas dan lugas bahwa nilai nilai ketuhanan dan keadaban moral hendaknya menjadi penuntun.

“Lantas, kalau kita terima pandangan global yang memaksa seperti itu, lalu dimana kita letakkan Pancasila,” tukasnya.

Oleh sebab itu, menurut Imam, amat penting menanamkan cara berpikir (framework) dan pandangan hidup (worldviews) yang benar kepada generasi muda sebagaimana tuntunan Ilahi agar mereka tak tercerabut dari akarnya sebagai bangsa yang beradab dan berketuhanan.

“Disamping itu, mereka yang terperosok dan terbawa arus, harus dibantu untuk disembuhkan dengan melakukan gerakan pencerahan dan penyadaran secara terus menerus,” tandasnya.

Seperti diketahui, belakangan ini sedang viral isu identitas nonbiner (non binary) yang dilontarkan oleh seorang mahasiswa di Makassar, yaitu identitas gender yang tidak merujuk secara spesifik pada salah satu gender seperti perempuan maupun laki-laki. Ia tak bisa mengasosiasikan dirinya ke dalam jenis kelamin pria atau wanita.*/Ain

Santri MA Hidayatullah Dominasi Juara KSM 2022 Kota Depok

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Sebanyak 6 murid Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Hidayatullah Depok berhasil meraih juara dalam ajang Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tahun 2022 Tingkat Kota Depok yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, pada Sabtu-Ahad, 15-16 Muharram 1444 (13-14/8/2022).

KSM Tingkat Kota Depok yang digelar di MA Ibnu Nafis Kota Depok, Jln Parung Serab, Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, ini diikuti oleh sekolah sekolah Madrasah Aliyah yang ada di kota Belimbing ini.

Dalam ajang KSM Tingkat Kota Depok ini, MAS Hidayatullah berhasil medominasi kompetisi dengan masuk ke 3 besar dimana satu diataranya menduduki peringkat Juara 1 yaitu atas nama Luqman Harits Abdul Aziz pada bidang Kimia Terintegrasi.

Kemudian ada Muhammad Roihan yang berhasil meraih Juara 3 pada bidang Fisika Terintegrasi, Muammar Farrel Franoza meraih Juara 3 pada bidang kompetisi Biologi Terintegrasi, dan Rayhan Hilmi Ardianto yang berhasil menempati posisi Juara 3 pada bidang kompetisi Matematika Terintegrasi.

Selain masuk dalam tiga besar, 2 murid MA Hidayatullah Depok juga berhasil meriah juara pada bidang kompetisi lainnya yaitu Iman Satrio Ramadhan yang menduduki Juara Harapan 1 pada bidang studi Kimia Terintegrasi dan Muhammad Yasheer Gunawan yang meraih posisi Juara Harapan 1 pada bidang kompetisi Biologi Terintegrasi.

Penyerahan tropi juara kepada para pemenang kompetisi ini dilakukan langsung oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kota Depok, H. Ahmad Sadeli.

Dilansir laman Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Dirjen Pendis Kemenag, sebanyak 3 siswa terbaik tiap bidang studi pada KSM Tingkat Kabupaten/Kota akan mengikuti kompetisi berikutnya yakni ajang KSM Tingkat Provinsi yang akan dilaksanakan pada 10 – 11 September 2022 mendatang.

Nantinya pengumuman pemenang KSM Provinsi dipublikasikan melalui portal dan akun KSM masing-masing Satuan Pendidikan pada 14 September 2022.

Selanjutnya, 1 orang siswa terbaik per bidang studi hasil KSM Tingkat Kota/ Kabupaten akan mewakili provinsi pada ajang Kompetisi Sains Madrasah Nasional yang akan dilaksanakan pada 10 – 14 Oktober 2022 di Jakarta.*/Ain

Hakikat Kehidupan Dunia

0

BANYAK sekali ayat Al-Qur’an yang memperingatkan kita terhadap jebakan-jebakan kehidupan duniawi. Salah satunya menegaskan bahwa kehidupan dunia adalah kesenangan yang melalaikan (mata’ul ghurur), dan menyebutnya sebagai sekedar permainan, senda gurau, perhiasan, adu gengsi, dan berbangga dengan banyaknya harta serta anak (Qs. al-Hadid: 20).

Akan tetapi, bukankah kita ditakdirkan oleh Allah terlahir ke dunia ini, dan hanya dengan beramal di dunia ini sajalah kita dimungkinkan untuk kembali kepada-Nya dengan selamat? Lalu, apa masalahnya dengan kehidupan dunia ini?

Al-Hafizh Ibnul Jauzi berkata dalam kitab Shaydhul Khathir, “Jika kami membicarakan dunia, maka kami melihat bahwa bumi yang terbentang luas yang dijadikan sebagai kediaman makhluk ini, ternyata darinya keluar bahan-bahan pangan untuk mereka, dan padanya pula orang-orang yang sudah mati diantara mereka dikuburkan. Yang seperti ini tidak pantas dicela, karena adanya kemaslahatan padanya. Kami melihat air yang ada diatasnya, juga tanaman dan binatang, semuanya diperuntukkan bagi kemaslahatan manusia. Di dalamnya pula terdapat pemeliharaan bagi eksistensi mereka. Kami melihat bahwa keberlangsungan eksistensi manusia merupakan penyebab untuk mengenal Tuhannya, menaati-Nya, dan berkhidmat kepada-Nya. Sesuatu yang menjadi penyebab keberlangsungan eksistensi seorang ‘arif (orang yang mengenal Tuhannya) dan ‘abid (orang yang tekun beribadah), maka harus dipuji, bukan dicela. Menjadi jelas bagi kami bahwa celaan itu hanya ditujukan kepada perbuatan orang-orang bodoh, atau orang yang suka bermaksiat di dunia. Sebab, jika dia meraup harta yang mubah dan menunaikan zakatnya, maka tidak dicela.”

Jadi, masalahnya ada pada sikap dan perilaku kita sendiri. Sesungguhnya dunia ini adalah cobaan, sehingga ia pun sekedar menjadi sarana untuk menyeleksi siapa diantara kita yang layak lulus dan meraih keridhaan-Nya.

Dunia bukan tujuan. Dunia akan bernilai kebaikan, jika berada di tangan orang-orang yang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik harta yang baik adalah yang berada di tangan seseorang yang shalih.” (Riwayat Ahmad. Isnad-nya shahih ‘ala syarthi muslim). Sebab, harta itu dikumpulkan dari jalan yang benar dan dibelanjakan ke jalan yang benar pula.

Akan tetapi, di tangan orang-orang kafir dan durjana, maka apa saja bagian dari dunia ini akan menjadi modal menantang Allah dan memusuhi agama-Nya, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir membelanjakan harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Mereka akan membelanjakan harta itu, kemudian menjadi bahan sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Ke dalam Jahannam-lah orang-orang yang kafir itu kelak dikumpulkan.” (Qs. al-Anfal: 36)

Sudah terlalu banyak contoh nyata. Fir’aun menggunakan seluruh kekuasaan dan balatentaranya untuk menghalangi dakwah Nabi Musa dan Harun, ‘alaihima as-salam. Abu Jahal mengerahkan segenap hartanya untuk membiayai pasukan Quraisy, demi menyerbu Madinah. Sekarang pun hal yang sama terulang kembali, dalam tampilan-tampilan yang lebih spektakuler dan menyentuh seluruh aspek kehidupan.

Sebaliknya, bagi seorang mukmin, hakikat kehidupan dunia adalah tempat mencari bekal untuk kelak kembali menghadap Allah. Sungguh, rugilah orang yang menjadikan dunia ini sebagai tujuannya, dimana ia mengerahkan seluruh potensi yang ia miliki untuk menjayakannya, seolah-olah ia akan hidup abadi di dalamnya, tanpa terpikir bahwa kelak ia akan menghadap Allah dan dimintai pertanggungjawaban.

Orang-orang ini pasti telah berpaling dari-Nya, dan kelak hanya akan menuai penyesalan tak bertepi. Allah mengecam kelalaian mereka dalam firman-Nya:

“Maka berpalinglah engkau (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah batas terjauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (Qs. an-Najm: 29-30)

Oleh karenanya, yang dikehendaki dari seorang muslim adalah meluruskan niat dan menjaga keistiqamahan amalnya. Jangan sampai kita bekerja keras meraih harta dunia, namun tidak memperhatikan tujuan penggunaannya. Carilah harta dunia sebagai bekal beribadah, menolong sesama hamba Allah, dan menegakkan agama-Nya.

Jangan menumpuknya untuk kesenangan pribadi dan menyebarkan kemunkaran di muka bumi. Jangan mencarinya dengan melalaikan Allah, tidak perduli halal-haram, dan menzhalimi sesama. Jangan sampai pula kebakhilan menghalangi kita dari bersedekah dan menunaikan zakatnya. Sungguh, kelak Allah akan bertanya kepada kita tentang semua itu!

Dikisahkan bahwa suatu ketika di Kufah, ada seseorang yang berdiri di hadapan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu kemudian mencaci-maki dan mencerca dunia habis-habisan.

Mendengar ucapan orang tersebut, beliau pun berkata, “Sesungguhnya dunia adalah tempat persinggahan yang benar bagi siapa saja yang benar memperlakukannya; tempat berdiamnya keselamatan bagi siapa saja yang memahaminya; dan negeri tempat kekayaan bagi siapa saja yang mengambil bekal darinya. Dunia adalah masjid bagi kekasih-kekasih Allah, tempat shalat malaikat-Nya, tempat penurunan wahyu-Nya, tempat berniaga para wali-Nya, dimana mereka meraih rahmat Allah di dalamnya dan beruntung mendapatkan surga di dalamnya….” (Riwayat Ibnu Abi Dunia dalam Ishlahul Maal, dan ad-Dinawari dalam al-Mujalasah).

Maka, mari bertanya pada diri sendiri: apakah sudah seperti itu hakikat kehidupan dunia ini di mata kita? Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar