Beranda blog Halaman 344

[KHUTBAH JUM’AT] Menempa Iman untuk Lahirkan Maslahat Kehidupan

Alhamdulillah, kita bersyukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala penguasa alam raya, penentu segala peristiwa dan pemberi rezeki kepada seluruh makhluk-Nya, sehingga kita bisa sama-sama merasakan nikat iman, Islam, sehat dan persaudaraan dalam nilai dan ajaran Islam. Shalawat dan saam semoga selalu Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia.

Teks Khutbah Jum’at kerjasama Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai), Pemuda Hidayatullah dan Hidayatullah.or.id, berikut selengkapnya:

Targhib wa Tarhib, Siapakah Mayoritas Penghuni Surga

SUATU kali, Rasulullah pernah bersabda, “Neraka diperlihatkan kepada saya, dan ternyata mayoritas penghuninya adalah kaum wanita yang melakukan kekufuran.” Ada yang bertanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka mengkufuri suaminya, dan mengkufuri kebaikan. Andaikan engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian ia melihat sesuatu (yang buruk) padamu, ia akan berkata: ‘Aku samasekali tidak pernah melihat satu kebaikan pun padamu!” (Riwayat Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas).

Hadits ini termasuk bab nasihat, atau targhib wa tarhib (motivasi dan ancaman). Artinya, beliau tengah memperingatkan kaum wanita agar berhati-hati, sebab mereka memiliki peluang besar untuk terjerumus ke jurang neraka oleh penyebab yang terkesan sepele.

Beliau tidak menyatakan kebanyakan kaum wanita masuk neraka karena kekafiran kepada Allah, namun karena mereka ingkar dan tidak mengakui kebaikan-kebaikan suaminya. Karena emosi, sebagian wanita suka membesar-besarkan masalah, kemudian membuat kesimpulan bombastis dan tidak benar.

Hadits ini bukan berarti tidak ada wanita yang kafir kepada Allah, bukan berarti pula kekafiran kepada Allah tidak membuat wanita masuk neraka. Masalahnya berbeda. Akan tetapi, hadits ini mengesankan bahwa sebagian besar kemaksiatan kaum wanita bersumber dari dalam rumah mereka sendiri. Tepatnya, dari baik atau buruknya pola hubungan mereka dengan suaminya.

Tatkala mereka cenderung tidak bersyukur dan berterima kasih kepada kebaikan-kebaikan suaminya, biasanya akan segera timbul kemaksiatan-kemaksiatan yang lain. Sebab, hati yang tidak bersyukur merupakan pintu yang nyaman bagi masuknya godaan syetan.

Akan tetapi, sebagian kita mungkin juga bertanya-tanya: jika kaum wanita merupakan mayoritas penghuni neraka, apakah itu berarti mayoritas penghuni surga terdiri dari kaum pria? Jika benar begitu, mengapa jamaah-jamaah pengajian justru dipadati kaum wanita, sebaliknya orang-orang yang terlibat perang, mafia, tawuran, dan kejahatan pada umumnya adalah pria? Apakah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu keliru?

Tentu saja tidak. Hadits itu shahih, dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya yang merupakan kitab paling shahih. Adalah kewajiban kita sebagai muslim untuk mempercayai setiap hadits yang terbukti shahih dari Rasulullah. Lalu, bagaimana kita memahami kenyataan di atas? Apakah sebagian besar kaum wanita itu harus kita curigai ketulusan dan imannya?

Dulu, di zaman para Tabi’in, pernah muncul tanda tanya serupa. Kaum pria dan wanita pun saling berbangga-banggaan, atau saling berdebat tentang siapa yang paling banyak menjadi penghuni surga.

Namun, ketika mendengar perdebatan ini, Abu Hurairah kemudian berkomentar, “Bukankah Abul Qasim – yakni, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam – telah bersabda: ‘Sesungguhnya golongan pertama yang masuk surga itu bagaikan rembulan di malam purnama. Lalu, golongan berikutnya bagaikan bintang yang paling terang cahayanya di langit. Setiap orang diantara mereka disertai dua (wanita yang menjadi) istrinya, dimana inti betis mereka terlihat dari balik dagingnya. Di surga kelak tidak ada seorang pun yang bujangan.” (Riwayat Muslim).

Jadi, siapakah mayoritas penghuni surga? Tentu saja kaum wanita. Sebab, setiap kali satu orang pria masuk surga, maka akan ada dua wanita yang disertakan bersamanya, yang dipilihkan dari wanita-wanita yang berhak masuk surga. Dengan demikian, jelas jumlah kaum wanita akan menjadi dua kali lipat kaum pria di surga nanti.

Hadits di atas juga menjadi peringatan bagi kaum pria, betapa mereka tidak bisa berbangga, santai, dan merasa aman, semata-mata bersandar pada hadits yang menyatakan bahwa mayoritas penghuni neraka adalah wanita.

Allah Maha Adil, dan tidak akan menetapkan surga atau neraka hanya berdasarkan jenis kelamin. Iman, amal shalih, dan ketulusan hati sajalah yang menjadi penentu, tidak pandang apa jenis kelamin manusia.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memperhatikan tubuh dan bentuk rupa kalian – dalam riwayat lain: harta kalian – akan tetapi Dia memperhatikan hati dan amal perbuatan kalian.” (Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah).

Di sisi lain, sepertinya kedua sabda Rasulullah dimuka juga dapat disimpulkan bahwa kaum wanita merupakan anak keturunan Nabi Adam yang terbanyak. Ini adalah kenyataan yang tak terpungkiri di sepanjang sejarah kita.

Bahkan, beliau pernah menyatakan bahwa ketika Hari Kiamat benar-benar telah dekat, rasio jenis kelamin akan menjadi satu pria dibanding limapuluh wanita!! (Riwayat Bukhari, dari Anas).

Maka, sesungguhnya Allah membuka pintu surga bagi kedua jenis kelamin manusia secara sewajarnya. Ketika kaum wanita merupakan bagian terbesar dari umat manusia, maka mayoritas penghuni neraka maupun surga pun akan terdiri dari mereka. Samasekali tidak ada yang aneh atau bersifat diskriminatif disini, apalagi misoginis (mengandung kebencian terhadap wanita).

Dalam Al-Qur’an, Allah sering menegaskan bahwa manusia diberi kesempatan yang sama untuk meraih rahmat dan surga-Nya. Firman Allah berikut ini adalah salah satu contoh:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. al-Ahzab: 35). Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Muslimat Hidayatullah Papua Barat Gelar Daurah Murabbiyah Ula

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Muslimat Hidayatullah (Mushida) Papua Barat menggelar kegiatan Daurah Murabbiyah Ula yang dirangkai dengan Marhalah Wustha bertajuk “Meneguhkan Jatidiri Menuju Sukses Gerakan Tarbiyah” digelar selama 3 hari di Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Papua Barat, Jln Trikora Arfai II Kel Anday Manokwari Papua Barat, 20-22 Dzulqaidah 1443 (19-21/6/2022). Acara ini turut didukung Laznas BMH.

Ketua Mushida Papua Barat Ustz Nadrah As mengatakan tujuan kegiatan adalah meningkatkan peran seorang muslimat dalam upaya membentuk karakter diri dan lingkungan yang peradaban islami dengan mencetak murabbiyah yang visioner dan berintegritas tinggi.

“Diharapkan dari kegiatan ini semakin memantapkan jatidiri kader dalam mengejawantah nilai nilai ajaran Islam sehingga siap melahirkan kader-kader militan dan tangguh yang siap mengabdi untuk umat,” ujar Nadrah As.

Selanjutnya sambutan dari narasumber utama, Ustadzah Emi Pitoyanti. Ketua Majelis Murabbiyah Pusat (MMP) Muslimat Hidayatullah ini menekankan peranan dan fungsi murabbiyah sebagai kunci utama dalam urgensi halaqah dan metode dalam proses transfer ilmu kepada para mutarabbiyahnya.

“Dalam ungkapan yang populer disebutkan, bahwa metode lebih utama daripada materi pelajaran. Tapi guru atau murabbi lebih utama dari metode, sedangkan spiritual (ruh) murabbi lebih utama atas semuanya,” papar instruktur nasional Muslimat Hidayatullah ini.

Sehingga Daurah Murobbiyah ini, lanjutnya, adalah upaya untuk menerapkan pola di atas. “Bagaimana agar kegiatan ini mampu menghasilkan murabbiyah yang mumpuni,” imbuhnya.

Hal itu, terang dia, agar proses tarbiyah di Muslimat Hidayatullah melalui wadah marhalah dan halaqah, dapat berjalan dengan sangat baik, terstandardisasi dan mencapai tujuan yang diharapkan.

Ketua Majelis Murabbiyah Pusat ini juga menguatkan hal yang sama tentang pentingnya bagi seorang murabbiyah mengambil peranan penting dalam pembinaan muslimat dengan terus mengajar sambil belajar.

“Apa yang dilakukan ini adalah upaya standardisasi manajemen proses jenjang kekaderan. Sehingga, para muslimat yang tergabung dalam wadah organisasi Mushida betul-betul tersibghah pengetahuan dan pemahaman keislamannya dengan baik serta mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat,” terangnya.

Selain itu, tambahnya, Muslimat Hidayatullah juga diharapkan harus bisa menjadi ikon dakwah bil hal di tengah lingkungan mereka berada.

Sementara itu, Master Trainer Daurah Murobbiyah Ula ini, Ustadzah Nur Iryani S.Pd.I juga memberikan penguatan agar apapun kondisi yang terjadi di masyarakat, halaqah harus tetap berjalan. Tidak harus bertemu tatap muka, jika kondisi memang tidak memungkinkan halaqah tetap harus berjalan dengan memanfaatkan kemajuan di bidang teknologi, yaitu zoom meeting.

“Transformasi nilai-nilai perkaderan di lembaga ini harus terus berjalan kepada para muslimat yang sangat memiliki peran penting dalam mencetak peradaban Islam,” sambungnya.

Bagi Muslimat Hidayatullah, lanjut Iryani, seorang murabbiyah itu harus terus belajar, ibarat sebuah teko jika digunakan menyiram terus menerus namun tak pernah terisi, maka alama-lama akan habis. Kondisi tersebut, kata dia, menyebabkan kegiatan halaqah menjadi sesuatu yang sangat membosankan.

Oleh karenanya, terang Iryani, seorang murabbiyah harus terus belajar dan mengupgrade pengetahuannya agar kegiatan halaqah menjadi sesuatu yang sangat dirindu oleh para mutarabbiyahnya.

Dan hal yang paling penting bagi seorang murabbiyah, lanjut dia, adalah memiliki aura positif sehingga para mutarabbiyahnya merasakan ada kenyamanan yang luar biasa ketika dekat dengan murabbiyahnya.

“Aura positif itu tidak harus keluar biaya yang mahal seperti datang ke dokter kecantikan, tidak demikian. Namun semua bisa didapat dengan kekuatan ilahiyah, yaitu Gerakan Nawafil Hidayatullah,” tandasnya.*/Hadrianti Rukmana

DPW Hidayatullah Gorontalo Kuatkan Kedaulatan Pangan

BONE BOLANGO (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Gorontalo menilai kondisi geografis dan sosial Gorontalo amat ideal untuk menjadi lumbung pangan, oleh sebab itu perlu menguatkan peran maksimal dalam kedaulatan pangan dengan baik.

Oleh sebab itu, dengan dukungan program Mandiri Berdaya BMH, Hidayatullah Gorontalo membuat perkebunan untuk menguatkan kemandirian pangan santri dan warga sekitar.

“Kondisi tanah yang subur dan kultur bertani menjadi daya dukung yang mumpuni,” kata Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Gorontalo, Ust. Safruddin, S. Sos. I, disela sela panen raya komoditi di Kampus DPC Hidayatullah Bone Pantai, Kabupaten Bone Bolango, Senin, 21 Dzulqaidah 1443 (20/6/2022).

Safruddin mengatakan Hidayatullah tidak saja bergiat pada aktivitas pendidikan, sosial dan dakwah, kini melalui Departemen Ekonomi Wilayah mendorong santri dan jamaah Hidayatullah untuk bertani sebagai upaya membangun ketahanan pangan lokal.

Ketua Departemen Ekonomi Wilayah Hidayatullah Gorontalo, Lukin, menambahkan bahwa tugas Departemen Ekonomi Wilayah Hidayatullah di bidang ketahanan pangan adalah mencetak santri sebagai kader-kader petani maju dan smart.

“Pada gilirannya nanti diharapkan dapat menopang ketahanan pangan lokal hingga nasional, berikutnya adalah memberikan edukasi kepada petani-petani tradisional menjadi profesional dan modern serta membuka lapangan kerja baru bagi warga setempat,” kata Lukin.

Lukin menyebutkan, saat ini Depertemen Ekonomi Wilayah Hidayatullah Gorontalo menetapkan Kampus DPC Hidayatullah Bone Pantai, Kabupaten Bone Bolango sebagai pilot project sektor pertanian.

Di atas lahan kurang lebih tiga hektar Pondok Pesantren Hidayatullah Bone Pantai, tergarap kawasan pertanian. Sementara 1 hektarnya dijadikan sebagai lahan perkebunan tomat dan cabe rawit.

Aktivitas santri dan warga bertani di DPC Hidayatullah Bone Pantai telah dimulai sejak 2020 dengan berbagai komoditi yang ditanam seperti cabe rawit, rica dan juga tomat.

“Alhamdulillah, program ini cukup sukses karena telah melakukan panen secara rutin,” kata Lukin yang merupakan alumni STIE Hidayatullah Depok ini.

Lukin menambahkan, budidaya beragam komoditi konsumsi ini membantu pemerintah setempat mengembangkan kelembagaan tani yang kuat termasuk lembaga keuangannya dan membangun jejaring untuk memudahkan pemasarannya.

“Kedepan DPW Hidayatullah Gorontalo mendorong tumbuhnya pusat-pusat pelatihan ditingkat pedesaan dan pengembangan agrobisnis komoditi,” katanya.

Tidak saja di Bone Bolango, ia berharap gerakan kemandirian pangan juga dapat dilgalakkan di daerah lainnya. Ia mengaku prihatin, meski memiliki potensi lahan yang subur, Indonesia kerap mengisi kebutuhan nasional dengan impor. Hal itu menurutnya menunjukkan masih banyak peluang yang belum termanfaatkan dengan baik.

“Sehingga Hidayatullah harus hadir mengambil peran menjadi lokomotif ketahanan pangan. Kita juga berharap semoga Pemerintah Gorontalo melalui pemerintah setempat bisa secara konsisten dan berkesinambungan membantu pertanian setempat dengan mengsupport bibit-bibit unggul, pupuk, dan asistensi para petani secara langsung,” katanya.

Berbagai dukungan tersebut diharapkan dalam mempercepat pembangunan pertanian dalam rangka pemantapan ekonomi daerah untuk peningkatan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan.*/Walimin, Humas Hidayatullah Gorontalo

Inilah 2 Warisan Nilai bagi Perjalanan HIdayatullah

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah Dr. H. Ir. Abdul Aziz Qahhar M.Si menyebutkan ada 2 warisan nilai ditinggalkan oleh pendiri Hidayatullah Allahyarham Ust Abdullah Said yang amat berharga dan mempengaruhi perjalanan Hidayatullah. Kedua warisan nilai tersebut adalah Sistematika Wahyu dan Imamah Jamaah.

“Warisan nilai ini memegang peranan penting, bahkan terpenting, dalam mengawal spirit perjuangan karena Hidayatullah bisa eksis -dengan izin Allah- dan menyebar ke seluruh indonesia secara cepat adalah karena adanya dua konsep perjuangan ini,” kata Aziz.

Hal itu disisampaikan Aziz dalam taushiah disela-sela gelaran Daurah Marhalah Wustha se-Papua Barat di hadapan warga, kader, dan jamaah shalat shubuh di Kampus Pesantren Hidayatullah Manokwari, Papua Barat, Selasa, 22 Dzulqaidah 1443 (21/6/2022).

Menurut Aziz, Islam berdasarkan kepemimpinan bersifat mutlak berdasarkan dalil Qur’an dan fakta sejarah yang dibangun oleh Rasulullah. Prinsip imamah jamaah inilah, terang Aziz, yang melatari obsesi Ust Abdullah Said dalam menyebarkan gerakan dakwah Hidayatullah ke seluruh penjuru Indonesia.

“Para santri awal Hidayatullah dibekali dengan satu keyakinan yang tinggi bahwa ‘jual beli’ dengan Allah pasti melahirkan pendampingan, penjagaan hingga pertolongan Allah yang selalu up to date diturunkan kepada setiap pihak yang total mengurus agama-Nya dan mendakwahkannya,,” jelasnya,

Mantan senator di DPD RI tiga periode dapil Sulsel ini menegaskan bahwa warisan Sistematika Wahyu dan Imamah Jamaah harus menjelma dalam 2 dimensi yang saling menguatkan yakni dimensi kajian keilmuan dan dimensi praktek.

“Dua dimensi ini harus berjalan secara seiring ditengah tantangan dakwah yang semakin variatif dan jauh berbeda dengan tantangan dakwah diperiode-periode sebelumnya,” katanya mengingatkan.

Dia menguraikan, apabila dimensi kajiannya lebih dominan, akan lahir pemikir-pemikir yang sangat paham manhaj dakwah Hidayatullah secara teoritis namun “ciut nyali” saat mendapat tugas dakwah ke lapangan apatah lagi ke daerah ekstrim semisal Irian Jaya (sebelum menjadi Papua)

“Tapi jika minus keilmuan dan hanya bersandar pada semangat dakwah tanpa memahami dengan baik hakikat dan metodologi dakwah, maka pelaku dakwah akan tertinggal dan dikhawatirkan tidak mampu meladeni dinamika yang berlaku ditengah umat,” jelasnya.

Untuk itu, Aziz mengimbuhkan, dengan adanya keseimbangan antar dimensi tersebut akan menumbuhkan soliditas dan harmoni. Sebaliknya, manakala kedua dimensi terjadi ketimpangan maka akan memantik disparitas dan disharmoni.*/Naspi Arsyad

Obat Penyakit Bodoh

0

MENURUT Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata bodoh adalah tidak memiliki pengetahuan (pendidikan, pengalaman). Namun dalam kehidupan yang sesungguhnya, yang dinamakan orang bodoh bukan berarti orang yang tidak berpendidikan.

Akan tetapi, orang yang bergelar doktor pun bisa menjadi orang bodoh. Karena, pada dasarnya kebodohan tidak berkaitan jenjang pendidikan ataupun dengan ijazah. Kebodohan erat kaitannya attitude (perilaku) dan akhlak seseorang.

Berkenaan dengan orang bodoh ini, Allah ta’ala berfirman dalam Surat al A’raf ayat 199 :

خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkenaan dengan ayat ini menjelaskan bahwa, ”Sebagian ulama mengatakan bahwa manusia itu ada dua macam: Pertama, orang yang baik; terimalah kebajikan yang diberikannya kepadamu, janganlah kamu membebaninya dengan sesuatu yang di luar kemampuannya, jangan pula sesuatu yang menyempitkan dirinya”.

Adapun terhadap orang yang kedua, yaitu orang yang buruk, maka perintahkanlah dia untuk berbuat yang makruf. Jika ia tetap tenggelam di dalam kesesatannya serta membangkang —tidak mau menuruti nasihatmu— serta terus-menerus di dalam kebodohannya, maka ber­palinglah kamu darinya. Mudah-mudahan berpalingmu darinya dapat menolak tipu muslihatnya terhadap dirimu.”

Sedangkan Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir saat menjelaskan tentang berpaling dari orang bodoh :وَأَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِينَ (serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh) adalah,”Jika kamu telah menegakkan hujjah atas mereka dengan menyuruh mereka berbuat ma’ruf lalu mereka tidak mengerjakannya, maka berpalinglah dari mereka dan janganlah kamu mendebat dan membodoh-bodohkan mereka sebagai balasan atas perdebatan dan pembodohan mereka kepadamu, karena mereka memang merupakan orang-orang yang bodoh”.

Dengan melihat hal di atas maka orang bodoh sesungguhnya adalah seseorang yang tidak mau berbuat ma’ruf (kebajikan). Sehingga bisa dikatakan mereka yang gemar berbuat hal yang munkar (kejelekan). Maka sangat wajar bila mereka gemar mengganggu orang lain dengan ucapannya yang menghina, mengejek, dan memfitnah, bahkan memancing-mancing permusuhan.

Orang-orang bodoh semacam ini tidak perlu ditanggapi atau dipedulikan. Jangan biarkan mereka mengisi ruang kehidupan dan pikiran kita. Jika kitaikut meresponnya, maka kita terjerumus dalam kebodohan yang sama.

Cara menghadapi orang bodoh

Dalam tafsir As-Sa’di dijelaskan tentang bagaimana bersikap dan menghadapi orang bodoh ini. Jangan membebani mereka dengan apa yang tidak sesuai dengan tabiat mereka, akan tetapi berterima kasihlah kepada setiap orang atas apa yang dia dapatkan darinya dalam bentuk perbuatan dan ucapan yang baik, memaklumi kelalaian dan memaafkan kekurangan mereka.

Tidak menyombongkan diri kepada yang lebih kecil karena kecilnya, atau kepada orang bodoh karena kebodohannya, atau kepada orang miskin karena kemiskinannya, akan tetapi dia bergaul dengan semuanya dengan lemah lembut dan perlakuan yang sesuai dengan kondisi, dengan dada yang lapang. ”dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf yakni mengerjakan semua ucapan yang dan perbuatan yang baik dan akhlak yang sempurna baik kepada orang yang dekat maupun kepada orang yang jauh.

Jadikanlah sesuatu yang kamu berikan kepada manusia dalam bentuk pengajaran ilmu atau dorongan kepada kebaikan, berupa silaturahmi, berbuat baik kepada kedua orang tua, mendamaikan perselisihan diantara dua manusia, memberi nasihat yang berguna, memberi pendapat yang benar, tolong menolong dalam kebaiak, dan takwa, melarang yang buruk, atau memberi petunjuk kepada kemaslahatan agama dan dunia. karena gangguan dari orang bodoh adalah suatu keniscayaan, maka Allah memerintahkan agar menyikapinya dengan berpaling darinya dan tidak membalas kebodohannya.

Barangsiapa menyakitimu dengan ucapan atau perbuatannya, maka janganlah kamu menyakitinya. barangsiapa yang tidak memberimu, maka kamu jangan tidak memberinya. Barangsiapa yang memutuskanmu, maka kamu jangan memutuskannya. Dan barangsiapa yang menzhalimimu, maka bersikap adillah kepadanya.

Hal yang terjadi adalah seringkali orang bodoh ini, jika dihadapkan terhadap suatu permasalahan, malah merasa yang paling atau lebih tepatnya dapat dikatakan sebagai yang sok tahu. Padahal bisa jadi hanya tahu kulit-kulitnya saja. Sehingga jika ditanya lebih jauh, jawabannya berputar-putar menunjukkan kedangkalan ilmunya.

Terkait dengan orang bodoh semacam ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, mempunyai resep sederhana, dalam sebuah hadits beliau bersabda:

ألا سألوا إذْ لَم يعلَموا فإنَّما شفاءُ العيِّ السُّؤالُ

“Tidakkah mereka bertanya jika tidak mengetahui (hukumnya), sesungguhnya tiada lain obat penyakit bodoh adalah bertanya.”

[HR. Abu Dawud dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan Syaikh al-Albani rahimahullah menshahihkan sanadnya dalam Shahih Abu Dawud 336].

Semoga kita terhidar dari penyakit bodoh ini. Sebab siapapun kita, sangat memiliki potensi untuk masuk perangkap kebodohan ini. Wallahu a’lam

Ust Asih Subagyo

Waspada Bahaya Berhutang dan Warning Rasulullah

DI ZAMAN kredit yang relatif murah dan mudah sekarang ini, siapa yang tidak punya hutang? Beli motor, hutang. Beli rumah, hutang. Beli komputer, hutang.

Sebagian ibu rumah tangga juga gemar memenuhi rumahnya dengan perabotan yang dibeli secara berhutang, mulai dari kulkas, televisi, VCD player, dipan, almari, sampai panci dan penggorengan. Bahkan, ada juga yang naik haji dengan – difasilitasi oleh – hutang!

Lalu, apakah berhutang itu tercela dan dilarang? Bukan begitu. Hutang samasekali tidak dilarang. Bahkan, ayat terpanjang dalam Al-Qur’an justru membicarakan masalah hutang.

Silakan periksa surah al-Baqarah: 282. Secara terinci sekali Allah membimbing kita bagaimana caranya mengelola transaksi hutang-piutang ini, nyaris sama dengan cara Allah mengajari kita bagaimana membagi harta warisan. Berbagai kemungkinan diantisipasi di dalamnya, mulai dari pencatatan, persaksian, saksi cadangan, jaminan, wali, dan lain sebagainya.

Sepertinya, di dunia ini tidak ada Kitab Suci yang membicarakan hutang-piutang dan transaksi keuangan, serta mendudukkannya pada posisi yang tidak kalah pentingnya dengan masalah-masalah spiritual, selain Al-Qur’an. Akan tetapi, yang hendak kita waspadai adalah penyakit-penyakit yang kerapkali muncul akibat berhutang itu.

Diceritakan oleh ummul mu’minin ‘Aisyah, bahwa Rasulullah pernah berdoa dalam shalatnya, “Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masih Dajjal. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari pemicu dosa dan himpitan hutang.” Lalu, ada seseorang yang berkata kepada beliau, “Betapa seringnya Anda memohon perlindungan dari hutang, wahai Rasulullah.” Beliau menanggapi, “Sungguh seseorang itu, bila terhimpit hutang, ia berbicara lalu bohong, dan berjanji lalu ingkar.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Betapa jauh serta mendalamnya pandangan beliau terhadap persoalan ini. Jelas sudah, bukan berhutangnya yang dilarang. Tetapi, beliau meminta kita berhati-hati terhadap hutang karena ia potensial memicu dua kesalahan besar, yaitu: berbohong dan ingkar janji.

Mari kita amati. Ketika seseorang terhimpit hutang dan tidak sanggup melunasinya, sangat mungkin ia berbohong dan ingkar janji. Betapa beratnya untuk secara jujur dan gentle mengakui tidak mampu serta meminta keringanan.

Adakalanya karena malu, gengsi, sungkan, atau niat-niat yang tidak baik. Misalnya, ketika tagihan datang, bisa saja ia justru berdusta dengan mengatakan bahwa sebenarnya punya uang sekian-sekian tapi masih dibawa si fulan, atau punya aset begini-begitu dan sekarang dalam proses penjualan. Padahal, sebenarnya tidak ada samasekali. Atau, ia berjanji pada tanggal sekian akan segera membayar, namun kemudian mengingkarinya.

Maka, Rasulullah pun mengajari kita untuk memohon perlindungan kepada Allah dari berhutang ini, sebab beliau khawatir kita akan berbohong dan mengingkari janji. Mengapa keduanya sangat berbahaya? Sebuah hadits lain akan menjelaskan letak masalahnya.

Beliau bersabda, “Ada empat sifat, siapa saja yang keempatnya ada dalam dirinya, maka dia adalah seorang munafik sejati. Tetapi, siapa saja yang dalam dirinya terdapat salah satu darinya, maka di dalam dirinya terdapat salah satu sifat munafik sampai ia meninggalkannya. Yaitu: jika dipercaya ia khianat, jika berbicara ia bohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika berdebat/bersengketa dia akan curang/zhalim.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash).

Jadi, adakalanya berhutang akan menjerumuskan kita ke dalam kemunafikan tanpa sadar. Jika saja seseorang banyak berhutang, lalu dalam transaksi-transaksi ini dia sering berbohong atau mengingkari janjinya, bisa dipastikan ia tengah mendidik dirinya sendiri untuk menjadi munafik.

Pelan-pelan, ia akan terjerat jaring-jaring kemunafikan, hingga suatu saat sudah tak bisa lepas lagi. Seluruh bagian dirinya dipenuhi kebohongan, kepalsuan, tidak bisa dipercaya, pendeknya: tipuan. Dan, inilah hakikat munafik itu sendiri: menampakkan iman tetapi menyimpan kekufuran. Na’udzu billah.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah semakin memperparah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Qs. al-Baqarah: 8-10).

Dengan kata lain, ketika beliau mengajari kita untuk “berlindung dari himpitan hutang”, beliau sebenarnya sangat khawatir jika kita terjangkiti penyakit nifaq. Beliau tidak melarang berhutang, karena hutang-piutang adalah bagian dari interaksi normal dalam kehidupan, dan di dalamnya pun terkandung sikap tolong-menolong yang dianjurkan Islam.

Hanya saja, jika kita harus berhutang, beliau meminta kita untuk sangat berhati-hati, yakni jangan sampai terjatuh dalam kebiasaan berbohong dan ingkar janji; yang merupakan bagian dari kemunafikan. Sebab, ancaman Allah sangatlah berat kepada sifat yang satu ini.

Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (Qs. an-Nisa’: 145).

Maka, mohonlah pertolongan Allah, dan berhati-hatilah! Semoga kita tidak terjangkiti penyakit gemar berbohong dan ingkar janji. Amin. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Wakil Bupati Buka Upgrading Guru se-Papua Barat

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Barat melaksanakana kegiatan upgrading bagi 90 guru dari berbagai daerah di Papua Barat, Sabtu, 19 Dzulqaidah 1443 (18/06/2022). Wakil Bupati Manokwari, Edi Budoyo, membuka langsung kegiatan upgrading tersebut.

Kegiatan tersebut digelar di Aula Amin Bahrun Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Jl. Trikora Arfai II, Kelurahan Anday, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari.

Dalam sambutannya, Bupati Edi Budoyo mengharapkan Hidayatullah dapat erus melanjutkan perannya dalam pembangunan khususnya dalam meningkatkan kualitas dalam melaksanakan tugas mempersiapkan masa depan generasi muda melalui pendidikan yang berada di bawah naungan Hidayatullah.

Wakil Bupati Manokwari juga berpesan agar setelah mengikuti kegiatan dan kembali ke daerah masing-masing para guru menjalin sinergitas dan harmonisasi dengan pemerintah daerah. Hal itu untuk menjaga keamanan dan kedamaian di daerah masing-masing.

“Siapa pun pimpinan di daerah masing-masing selalu berharap daerahnya aman. Tidak ada riak walau sekecil apapun supaya aman,” katanya.

Untuk bisa aman, Wakil Bupati meminta Hidayatullah terus melanjutkan kontribusinya dalam menjaga toleransi serta membangun harmonisasi dengan pemerintah daerah masing-masing.

“Saya harap bapak-ibu kembali ke tempat tugas menjalin harmonisasi dengan pemerintah daerah masing-masing,” katanya.

Selain itu Budoyo juga sepakat dengan Yayasan Hidayatullah yang mau mendirikan sekolah dari TK hingga SMA, bahkan perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas SDM. Namun dia mengingatkan agar tidak hanya mengajarkan tentang agama tapi juga ilmu pengetahuan lain untuk menjaga keseimbangan.

“Sebab agama tanpa ilmu akan sulit maju. Namun sebaliknya ilmu tanpa agama bisa salah arah. Jadi harus seimbang. Anak-anak kita harus seimbang antara ilmu dan agama,” tegasnya.

Kepada para guru peserta kegiatan upgrading, Budoyo berharap kegiatan itu menjadi penyemangat dalam kondisi apapun untuk meningkatkan kualitas anak-anak didik.

“Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi penyemangat untuk mendidik anak-anak menjadi lebih baik, jangan sampai mereka salah arah,” tukas Budoyo.

Sementara itu, Ketua Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Fathul Adzim, menyampaikan bahwa Hidayatullah telah memiliki 615 pesantren di seluruh Indonesia. Di pesantren itu juga ada sekolah, bahkan perguruan tinggi.

“Kami sadar Hidayatullah harus bangkit dari sisi SDM, maka harus membina guru-guru agar melahirkan generasi bertauhid,” ujarnya.

Dia juga berterima kasih atas dukungan pemerintah daerah setempat. Dukungan itu diharapkan menjadi bekal bagi pendidikan yang handal di Papua Barat.

Pembukaan kegiatan upgrading guru-guru Hidayatullah juga dibarengi dengan peletakan batu pertama pembangunan musholla bagi santri putri Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari.

Menurut Ketua Pembina Yayasan Hidayatullah Manokwari, Ustadz Hasdar Ambal mengatakan, bahwa pembangunan mushola menjadi kebutuhan karena santri putri di Pesantren Hidayatullah lebih dari 100 orang.

Hasdar mengatakan, mushola yang ada saat ini kapasitasnya terbatas, sehingga saat shalat atau ceramah para santri putri harus berdesak-desakan.*/Miftahuddin

Tips Hidup Sehat dari Ustadz Hasyim Harjo Suprapto

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Salah satu pendiri Hidayatullah Ustadz Hasyim Harjo Suprapto berbagi tips hidup sehat kepada anak anak muda peserta TOT LTC dan LPQ Pemuda Hidayatullah.

Nasihat itu beliau sampaikan kala menjadi narasumber dalam forum tersbut yang digelar di Kampus Ummul Qura Indonesia, Balikpapan, beberapa waktu lalu (16/6/2022).

Nasihat itu hadir atas pertanyaan Sekretaris PW Pemuda Hidayatullah Jawa Tengah, Setiadi Nugraha.

Pertanyaan itu memang menarik dan relevan, mengingat pada usia kepala 7 alias 70 tahun lebih, Ustadz Hasyim masih sehat, gesit dan bahkan dalam lima kali sehari semalam bisa naik turun tangga masjid dengan sangat biasa.

Satu hal yang orang lain seusianya mulai kewalahan. Apalagi kalau mau aktivitas fisik lain. Ustadz Hasyim HS masih enerjik bahkan kerja bakti baginya bukan hambatan.

Berkeringatlah dengan Bekerja

Pada kesempatan tersebut, Ustadz Hasyim menyebutkan ada beberapa jenis aktivitas harus selalu kaum muda upayakan untuk hidup sehat sampai usia kronologis dan usia biologis yang panjang.

Ia mengatakan, selalulah berusaha untuk terus berkeringat. Lakukan aktivitas fisik, mulai bekerja mencangkul atau aktivitas fisik lain.

“Karena orang berkeringat itu tanda bergerak, biasanya ada lelah, lalu ia kalau makan enak sekali,” kata beliau yang mengguncang tawa seluruh hadirin.

Menurut beliau, penyakit itu kotoran. Ia harus keluar agar hilang dari tubuh kita.

“Jadi kalau ada kerja bakti, turun dengan nawaitu yang benar,” ungkapnya yang kembali dengan gaya khasnya yang akrab.

Jangan Ceroboh
Beliau juga berpesan agar anak muda jangan ceroboh dalam hidup.

“Biasanya ini muncul karena merasa muda lalu ceroboh. Sebagai contoh, kalau malam naik motor, pakailah jaket. Jangan merasa masih muda kalau yang seperti itu,” ucapnya.

“Ada orang yang kala muda begitu ceroboh. Naik motor malam tidak pakai jaket. Kini ia hidup dengan banyak penyakit. Jadi ada kadang penyakit karena kita merasa muda lalu ceroboh,” tegasnya.

Demikianlah nasihat hidup sehat dari sosok yang memang sehat sampai sekarang meski usia telah kepala 7.

Meski demikian beliau mengatakan bahwa sakit sejatinya tetap karunia Allah.

“Bagi saya sakit itu juga karunia Allah. Jadi harus dinikmati. Cuma kan, kalau sakit jangan cerita ke orang lain,” ungkapnya bercanda.

“Bagaimana menikmati sakit itu, kita banyak istighfar. Ada kesempatan merenung dan muhasabah. Tapi kalau soal istighfar biar sehat, banyak-banyak saja ini kita sebut dalam sehari-hari. Insha Allah sehat juga batin kita,” tutupnya sumringah.*/Mas Imam Nawawi

Bersyahadat Sibukkan Kita Bangun Diri dan Berbuat untuk Umat

KETIKA sudah muncul kesadaran tentang urgensi dan konsekwensi syahadat. Maka seseorang itu tidak berhenti untuk berpikir, bertadabur, dan bergerak. Tentu semua dalam bingkai kebaikan, mengajak dan membangun kebaikan kepada banyak orang di sekitarnya.

Berfikir untuk bagaimana bisa orang banyak juga bisa bersyahadat yang benar dan menikmati hidup dengan keimanan. Akan selalu mencari cara, menemukan metode, membuat media dan pendekatan yang agar banyak orang bisa bersyahadat dengan baik. Sebanyak-banyaknya mendakwahkan kepada orang lain mengenal syahadat

Mereka hanya berfikir tapi juga terus bergerak di tengah masyarakat. Menghadapi segala tantangan orang-orang yang kontra syahadat. Tentu sunnatullah nya pasti ada saja halangan, godaan, hambatan dan orang-orang yang tidak suka atau memusuhi bersyahadat.

Ketika bersyahadat yang benar, ada gelora dalam hati untuk beribadah dan berdakwah. Bukan diam merenung atau sibuk dengan diri sendiri dan keluarganya saja. Syahadat melahirkan orang berpikir aktif dan produktif.

Kesibukan Muhammad setelah diangkat menjadi nabi dan Rasulullah, kesibukannya luar biasa dan berlipat pekerjaan yang dilakukannya. Tugas kenabiaan adalah tugas khalifah atau pemimpin, seorang pemimpin bukan hanya dituntut harus baik tapi mengajak orang lain juga menjadi baik dan melakukan kebaikan.

Rasulullah saw sibuk dengan tugasnya menjadi nabi, kepala negara, panglima perang, gurunya para sahabat, imam shalat berjamaah, kepala keluarga, berdakwah, melayani umat dan ibadah kepada Allah. Semua peran dilakukan dengan sempurna.

10 tahun mengemban amanah kenabian di periode Madinah, 65 kali ada peperangan. Betapa sibuknya beliau, tapi tetap bisa mentarbiyah sahabatnya, mengurus istri dan anaknya. Istrinya bukan hanya satu tapi sembilan.

Subhanallah, hingga menjelang wafat. Rasulullah yang difikirkan dan disebut adalah umatku….umatku….umatku….

Abu Bakar sibuk menjadi sahabat Rasulullah saw yang paling setia. Ke mana saja menyertai dan putra putri nya juga Sholeh Sholehah, bahkan Aisyah menjadi istri nabi yang cerdas.

Siti Khadijah sibuk menguruskan perihal Rasulullah dan menjadi pendokong setia dakwah. Hartanya habis dan waktunya juga habis di jalan dakwah dan mentarbiyah keluarga nya.

Mus’ab bin Umair sibuk dengan tugasnya berdakwah di Madinah. Dua pertiga penduduk Madinah berislam lewat kesejukan dan kesantunan dakwah Islam beliau.

Abu Hurairah sibuk mengumpul hadith daripada Rasulullah saw dan otaknya adalah gudang pengetahuan. Hari ini menjadi rujukan hadis nya.

‘Ibn Sina dan Al-Razi sibuk dengan hafalan Al-quran, kajian-kajian tentang ibadah dan muamalah. Hasil karya-karyanya yang masih segar dan menjadi rujukan hingga kini.

Mereka orang-orang sibuk luar biasa untuk menjayakan Islam dan muslimin. Mereka disibukkan dengan tarbiyah, taklim, ibadah, halaqah-halaqah ilmu, dakwah, perang, infaq, dan membangunkan ekonomi untuk dijadikan harta dakwah.

Itu semua adalah dalam rangka aktualisasi syahadatnya. Apalagi memasuki bulan-bulan haram ini, bertambah kesibukan mereka. Bukan untuk pribadi dan keluarga tapi Islam dan muslimin.

Orang bersyahadat tidak pernah menjadi pengangguran dan tidak kurang pekerjaan, selama iman masih ada maka keterpanggilan untuk mendakwahkan Islam di tengah umat akan terus memanggilnya.

Sibuk dengan Agama

Orang-orang kafir juga sibuk dengan program-program anti Islam. Bagaimana memadamkan api Islam lewat propaganda, konspirasi, dan strategi mereka dalam menghentikan dakwah Islam. Ada lewat cara kekerasan dengan pembunuhan dan pengusiran, ada lewat pemikiran dan budaya untuk melemahkan umat Islam.

Mereka berkorban juga untuk keyakinannya yang salah. Luar biasa juga usahanya untuk menguasai dunia dalam segala bidang kehidupan. Untuk sementara ini, mereka berhasil. Itu harus kita akui, karena mereka lebih serius dan sibuk.

Orang Islam yang belum sadar dan sibuk dengan perbedaan dan perpecahan antar golongan. Sebagian sibuk dengan menyerang dan mencari kesalahan saudaranya sendiri.

Ada yang sibuk kerja mencari materi semata dari pagi hingga pagi lagi. Sibuk nonton musik yang suka musik,sibuk menonton movies yang hobby film. Sibuk berjam-jam bisa bertahan di depan televisi untuk serial drama atau olahraga. Ada yang sibuk dengan gadgetnya, game-nya atau chatting dengan teman temannya.

Padahal PR-nya banyak sekali bagi orang yang telah bersyahadat itu.

Para pemilik syahadat harus sibuk dan mengelola waktu dan terus memberi peringatan kepada orang-orang yang menjadi amanahnya. Merealisasikan syahadat yang dimilikinya di level keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitarnya.

Sebagaimana pernah tersampaikan sebelumnya. Bahwa orang bersyahadat tidak mungkin menjadi pengangguran atau kurang pekerjaan. Karena banyaknya pekerjaan yang menuntut mereka terkait syahadatnya.

Mestinya tidak ada waktu kosong, tersia-siakan. Seharusnya merasa kurang waktu 24 jam sehari, kurang umur yang diberikan. Apalagi menanyakan liburan, istirahat, kompensasi, insentif, THR atau apalah bahasanya?

Mestinya berpikir untuk upgrading kompetensi diri dengan belajar dan berlatih. Agar bisa lebih banyak berkontribusi kepada umat. Semakin banyak kompentensi yang dimiliki maka semakin banyak yang diperbuat untuk umat.

Kok bisa berfikir pendek, padahal amanah bidang pendidikan belum berhasil bagi guru atau dosen. Pendidikan belum menghasilkan insan insan yang Kamil ibadahnya, komitmennya, keilmuannya, moral dan mentalnya. Itu semua perlu terus difikirkan dan dimujahadahkan.

Bagi dai, muballigh juga tentang dakwah yang belum merata, masih pasif menunggu jadwal. Bagi ekonom, PR tentang kesejahteraan umat Islam yang belum berdaya. Politikus muslim juga seharusnya tidak bisa tidur untuk menenangkan kebijakan dan politik untuk kepentingan umat.

Jangan juga hanya sibuk hanya dalam perasaannya saja atau merasa sibuk. Tapi tidak berkarya, hanya dalam angan-angan saja. Atau sibuk menilai kerja orang tapi dirinya tidak bekerja.

Terkadang kita yang jabatan juga belum seberapa, anak buah juga masih terbatas, istri baru satu, anak baru beberapa. Tapi sibuknya sepertinya sudah luar biasa. Sehingga merasa tidak sempat atau tidak optimal mengurus agama ini.

Tidak sempat membaca Al Qur’an, halaqah tak ada waktu, shalat sunnah rawatib juga tercecer, wirid tidak sempat, shalat lailnya payah, puasa sunnah tidak kuat. Itulah PR hidup di era kecanggihan komunikasi dan informasi yang dimanjakan oleh gadget dan tidak sadar bahwa itu semua jebakan jika tidak dioptimalkan dengan baik.

Subhanallah, ini sekedar belajar menuliskan fikiran dan perasaan yang selama ini mengendap. Semoga bisa dipahami dan bermanfaat. Semua kebaikan dari Allah dan keburukan tulisan ini berasal dari kami pribadi.

Ust Abdul Ghofar Hadi