Beranda blog Halaman 345

Bersyahadat Sibukkan Kita Bangun Diri dan Berbuat untuk Umat

KETIKA sudah muncul kesadaran tentang urgensi dan konsekwensi syahadat. Maka seseorang itu tidak berhenti untuk berpikir, bertadabur, dan bergerak. Tentu semua dalam bingkai kebaikan, mengajak dan membangun kebaikan kepada banyak orang di sekitarnya.

Berfikir untuk bagaimana bisa orang banyak juga bisa bersyahadat yang benar dan menikmati hidup dengan keimanan. Akan selalu mencari cara, menemukan metode, membuat media dan pendekatan yang agar banyak orang bisa bersyahadat dengan baik. Sebanyak-banyaknya mendakwahkan kepada orang lain mengenal syahadat

Mereka hanya berfikir tapi juga terus bergerak di tengah masyarakat. Menghadapi segala tantangan orang-orang yang kontra syahadat. Tentu sunnatullah nya pasti ada saja halangan, godaan, hambatan dan orang-orang yang tidak suka atau memusuhi bersyahadat.

Ketika bersyahadat yang benar, ada gelora dalam hati untuk beribadah dan berdakwah. Bukan diam merenung atau sibuk dengan diri sendiri dan keluarganya saja. Syahadat melahirkan orang berpikir aktif dan produktif.

Kesibukan Muhammad setelah diangkat menjadi nabi dan Rasulullah, kesibukannya luar biasa dan berlipat pekerjaan yang dilakukannya. Tugas kenabiaan adalah tugas khalifah atau pemimpin, seorang pemimpin bukan hanya dituntut harus baik tapi mengajak orang lain juga menjadi baik dan melakukan kebaikan.

Rasulullah saw sibuk dengan tugasnya menjadi nabi, kepala negara, panglima perang, gurunya para sahabat, imam shalat berjamaah, kepala keluarga, berdakwah, melayani umat dan ibadah kepada Allah. Semua peran dilakukan dengan sempurna.

10 tahun mengemban amanah kenabian di periode Madinah, 65 kali ada peperangan. Betapa sibuknya beliau, tapi tetap bisa mentarbiyah sahabatnya, mengurus istri dan anaknya. Istrinya bukan hanya satu tapi sembilan.

Subhanallah, hingga menjelang wafat. Rasulullah yang difikirkan dan disebut adalah umatku….umatku….umatku….

Abu Bakar sibuk menjadi sahabat Rasulullah saw yang paling setia. Ke mana saja menyertai dan putra putri nya juga Sholeh Sholehah, bahkan Aisyah menjadi istri nabi yang cerdas.

Siti Khadijah sibuk menguruskan perihal Rasulullah dan menjadi pendokong setia dakwah. Hartanya habis dan waktunya juga habis di jalan dakwah dan mentarbiyah keluarga nya.

Mus’ab bin Umair sibuk dengan tugasnya berdakwah di Madinah. Dua pertiga penduduk Madinah berislam lewat kesejukan dan kesantunan dakwah Islam beliau.

Abu Hurairah sibuk mengumpul hadith daripada Rasulullah saw dan otaknya adalah gudang pengetahuan. Hari ini menjadi rujukan hadis nya.

‘Ibn Sina dan Al-Razi sibuk dengan hafalan Al-quran, kajian-kajian tentang ibadah dan muamalah. Hasil karya-karyanya yang masih segar dan menjadi rujukan hingga kini.

Mereka orang-orang sibuk luar biasa untuk menjayakan Islam dan muslimin. Mereka disibukkan dengan tarbiyah, taklim, ibadah, halaqah-halaqah ilmu, dakwah, perang, infaq, dan membangunkan ekonomi untuk dijadikan harta dakwah.

Itu semua adalah dalam rangka aktualisasi syahadatnya. Apalagi memasuki bulan-bulan haram ini, bertambah kesibukan mereka. Bukan untuk pribadi dan keluarga tapi Islam dan muslimin.

Orang bersyahadat tidak pernah menjadi pengangguran dan tidak kurang pekerjaan, selama iman masih ada maka keterpanggilan untuk mendakwahkan Islam di tengah umat akan terus memanggilnya.

Sibuk dengan Agama

Orang-orang kafir juga sibuk dengan program-program anti Islam. Bagaimana memadamkan api Islam lewat propaganda, konspirasi, dan strategi mereka dalam menghentikan dakwah Islam. Ada lewat cara kekerasan dengan pembunuhan dan pengusiran, ada lewat pemikiran dan budaya untuk melemahkan umat Islam.

Mereka berkorban juga untuk keyakinannya yang salah. Luar biasa juga usahanya untuk menguasai dunia dalam segala bidang kehidupan. Untuk sementara ini, mereka berhasil. Itu harus kita akui, karena mereka lebih serius dan sibuk.

Orang Islam yang belum sadar dan sibuk dengan perbedaan dan perpecahan antar golongan. Sebagian sibuk dengan menyerang dan mencari kesalahan saudaranya sendiri.

Ada yang sibuk kerja mencari materi semata dari pagi hingga pagi lagi. Sibuk nonton musik yang suka musik,sibuk menonton movies yang hobby film. Sibuk berjam-jam bisa bertahan di depan televisi untuk serial drama atau olahraga. Ada yang sibuk dengan gadgetnya, game-nya atau chatting dengan teman temannya.

Padahal PR-nya banyak sekali bagi orang yang telah bersyahadat itu.

Para pemilik syahadat harus sibuk dan mengelola waktu dan terus memberi peringatan kepada orang-orang yang menjadi amanahnya. Merealisasikan syahadat yang dimilikinya di level keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitarnya.

Sebagaimana pernah tersampaikan sebelumnya. Bahwa orang bersyahadat tidak mungkin menjadi pengangguran atau kurang pekerjaan. Karena banyaknya pekerjaan yang menuntut mereka terkait syahadatnya.

Mestinya tidak ada waktu kosong, tersia-siakan. Seharusnya merasa kurang waktu 24 jam sehari, kurang umur yang diberikan. Apalagi menanyakan liburan, istirahat, kompensasi, insentif, THR atau apalah bahasanya?

Mestinya berpikir untuk upgrading kompetensi diri dengan belajar dan berlatih. Agar bisa lebih banyak berkontribusi kepada umat. Semakin banyak kompentensi yang dimiliki maka semakin banyak yang diperbuat untuk umat.

Kok bisa berfikir pendek, padahal amanah bidang pendidikan belum berhasil bagi guru atau dosen. Pendidikan belum menghasilkan insan insan yang Kamil ibadahnya, komitmennya, keilmuannya, moral dan mentalnya. Itu semua perlu terus difikirkan dan dimujahadahkan.

Bagi dai, muballigh juga tentang dakwah yang belum merata, masih pasif menunggu jadwal. Bagi ekonom, PR tentang kesejahteraan umat Islam yang belum berdaya. Politikus muslim juga seharusnya tidak bisa tidur untuk menenangkan kebijakan dan politik untuk kepentingan umat.

Jangan juga hanya sibuk hanya dalam perasaannya saja atau merasa sibuk. Tapi tidak berkarya, hanya dalam angan-angan saja. Atau sibuk menilai kerja orang tapi dirinya tidak bekerja.

Terkadang kita yang jabatan juga belum seberapa, anak buah juga masih terbatas, istri baru satu, anak baru beberapa. Tapi sibuknya sepertinya sudah luar biasa. Sehingga merasa tidak sempat atau tidak optimal mengurus agama ini.

Tidak sempat membaca Al Qur’an, halaqah tak ada waktu, shalat sunnah rawatib juga tercecer, wirid tidak sempat, shalat lailnya payah, puasa sunnah tidak kuat. Itulah PR hidup di era kecanggihan komunikasi dan informasi yang dimanjakan oleh gadget dan tidak sadar bahwa itu semua jebakan jika tidak dioptimalkan dengan baik.

Subhanallah, ini sekedar belajar menuliskan fikiran dan perasaan yang selama ini mengendap. Semoga bisa dipahami dan bermanfaat. Semua kebaikan dari Allah dan keburukan tulisan ini berasal dari kami pribadi.

Ust Abdul Ghofar Hadi

Rakerwil Mushida Jawa Barat, Ketum Hani Dorong Kuatkan Peran Domestik Muslimat

CIREBON (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umun (Ketum) Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida), Hani Akbar, menekankan pentingnya terus menguatkan peran domestik wanita muslimah sebagai bagian tak terpisahkan dari apa yang telah menjadi visi Muslimat Hidayatullah untuk membangun keluarga Qur’ani menuju peradaban Islam.

“Peran domestik sangat penting dan tidak boleh diabaikan sebab ia adalah kodrati,” kata Hani dalam pembukaan Rapat kerja Wilayah (Rakerwil) Mushida Jawa Barat terselenggara di Hotel Cirebon, Jawa Barat, belum lama ini.

Kendati demikian, lanjut Hani, dakwah dan pendidikan yang menjadi mainstream gerakan Hidayatullah tetap harus dapat dijalankan sesuai kapasitas masing masing.

“Peran domestik dan peran publik terutama dalam gerakan dakwah dan tarbiyah keumatan hendaknya dapat berjalan seiring dan seimbang,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Hani Akbar juga memberikan penguatan tentang organisasi serta menyampaikan materi konfrehensif berkenaan dengan peran seorang muslimah dan istri dalam rumah dan dakwah serta bagaimana mengharmonikannya.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh 52 peserta dari Pengurus Daerah Mushida se Jawa Barat berserta Kepala Sekolah TK Yaa Bunayya yang ada di wilayah Jawa Barat.

Pada pembukaan acara dibuka oleh ketua DPW Hidayatullah Jawa Barat Ust Taufiq Wahyudiono. Wahyu memberikan semangat dan spirit kepada seluruh kader pengurus muslimat Jawa Barat.

“Bahwa perjuangan ibu-ibu sungguh luar bisa karena bisa mengurus semua, yang tidak bisa dilakukan oleh bapak-bapak. Mulai dari urusan rumah tangga, mengasuh anak, menjalankan amanah lembaga, dan organisasi,” katanya.

Hadir juga dalam kesempatan itu Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq yang membawakan materi Konsolidasi Jatidiri, Wawasan dan Organisasi untuk Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi dan Integrasi Sistemik.

Dalam pemaparannya, UNH, begitu beliau karib disapa, mengatakan yang patut kita jadikan acuan dalam berorganisasi yaitu visi besar Hidayatullah yang dapat terwujud dengan rapinya organisasi dalam menjalankan setiap program-programnya.

Setelah penguatan dan pemaparan materi konsolidasi tersebut dilanjutkan dengan presentasi program-program kerja Pengurus Wilayah Mushida Jabar dari tiap tiap departemen.

Apresiasi

Disela sela acara, panitia Rakerwil memberikan apreasiasi kepada para pengurus daerah yang aktif dalam menjalankan dakwah dan program-program yang sudah dicanangkan dan dilaksanakan selama setahun yang lalu.

Diantara kategori penghargaan itu adalah PD Maaliyah Muamalah Terbaik, PD Perintisan Teraktif, PD Koordinasi Infaq GNH Teraktif, PD Gerakan Sosial Teraktif, PD Tertib Administrasi Terunggul, dan berbagai prestasi kategori lainnya sebagai apresiasi bagi kepengurusan di daerah masing masing.

“Harapan kami dengan kegiatan ini maka semua aktifis dakwah dan kader kader pengurus yang ada di Jawa Barat ini lebih baik lagi,” kata Ketua PW Muslimat Hidayatullah Jawa Barat, Rahmawati.

Rahmawati berharap, dengan agenda Rakerwil dan apresiasi ini bisa semakin menguatkan kebersamaan dalam meningkatkan semua aspek kehidupan sehingga dakwah-dakwah di Jawa Barat lebih berkembang sebagaimana yang diharapakan oleh masyarakat.

Pihaknya juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada pihak pihak yang telah memberikan dukungan untuk sukses terselenggaranya kegiatan ini.

“Alhamdulillah kami sangat bersyukur acara ini berjalan dengan baik tentunya dengan bantuan dana dan support dari berbagai pihak diantaranya Baitul Maal Hidayatullah. Semoga BMH lebih maju lagi lebih unggul dalam memberikan pelayanan kepada umat,” tandas Rahmawati.

Dan acara pembukaan Rakerwil Mushida Jabar ini ditutup doa oleh Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Jawa Barat Ust Dadang Abu Hamzah.*/Ummu Mikhaila

TOT II LTC dan LPQ Nasional Pemuda Hidayatullah Ikhtiar Lahirkan Pendidik Bangsa

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Kegiatan Training for Trainer (TOT) Leadership Training Center (LTC) dan Pendidikan Al Quran Bersanad (LPQ) Pemuda Hidayatullah ke-2 dimulai terselenggara selama sepekan yang dibuka pada Selasa, 15 Dzulqaidah 1443 (14/6/2022).

Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah, Mas Imam Nawawi, mengatakan TOT ini bertujuan untuk melahirkan para pemimpin yang siap berkiprah mendidik generasi bangsa dengan mentalitas, wawasan, dan komitmen kepemimpinan yang kuat sebagai sebuah upaya turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Implementasi semangat konstitusi didalam mewarisi perjuangan para pejuang bangsa yang telah mengorbankan harta bahkan jiwa untuk Indonesia merdeka adalah dengan cara melahirkan generasi yang punya kesadaran dan kecerdasan akan sejarah besarnya,” kata Imam dalam sambutan pembukaan acara di Masjid Ar Riyadh, Kampus Ummulquraa Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Imam mengatakan, oleh karena TOT ini adalah bagian dari upaya Pemuda Hidayatullah mencerdaskan kehidupan bangsa, maka apa yang dilakukan dimensinya bukan sekedar ruangan kegiatan digelar tetapi sebuah titik yang akan terus menjadi awal dari tersambungnya spirit lahirnya generasi bangsa yang akan membawa Indonesia pada martabat yang sesungguhnya.

Lebih jauh, Imam menyebutkan, di dalam majalah Arsip Nasional disebutkan bahwa merdeka bukan sekedar dalam makna politik semata namun dalam dimensi universal. Oleh sebab itu, generasi dibutuhkan generasi rabbani yang siap berkarya dan berkontribusi untuk kebaikan ini.

“Generasi rabbani adalah mereka yang mewujudkan spirit al-‘Alaq karena di alam diri generasi rabbani ada dua hal yang menjadi mainstream yaitu mengajarkan kebenaran dan terus menyelaminya,” kata Imam seraya menukil Al Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 79.

Oleh sebab itu, lanjut dia, agenda LTC dan LPQ adalah dalam ranga menifestasi itu semua dan generasi rabbani adalah visi dari Pemuda Hidayatullah, yang mengharmonikan idealisme sebagai seorang muslim dan sekaligus idealisme sebagai bangsa Indonesia.

“Seluruh lulusan TOT akan menjadi penggerak kemajuan dan kecerdasan anak bangsa seluruh Indonesia dari Aceh hingga Papua,” imbuhnya.

Dia menambahkan, hidup kita tidak tergantung dimana kita berada karena substansinya bukan tempat tetapi pada visi dan semangat yang menyala berkobar kobar di dalam hati yang ditunjukkan oleh manifestasi iman itu sendiri.

“Ya Ayyuhal Muddatsir, Qum fa Anzir. Generasi Islam jangan sampai beku pikiranya, tidak bangkit kesadaran dan kecerdasannya, karena sesungguhnya seluruh rangkaian dalam surat yang ada dalam sistematika wahyu basisnya adalah iqra’ bismirabbik,” tandasnya.

Training for Trainer Leadership Training Center dan Pendidikan Al Quran Bersanad Pemuda Hidayatullah ke-II ini dibuka oleh Kabid Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi DPP Hidayatullah Ust Asih Subagyo dan Ketua Kampus Ummulqura Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan Ust Hamzah Akbar.

Pembukaan dihadiri juga oleh pendiri Hidayatullah KH Hasyim Harjo Suprapto, Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, unsur DPW Hidayatullah Kaltim, Ketua PW Pemuda Hidayatullah Kaltim Shabirin Ibnu Hambali dan jajaran, para pembimbing dan pembina Kampus Ummulquraa Hidayatullah Gunung Tembak serta undangan dan santri.*/Ain

[KHUTBAH JUM’AT] Shalat Berjamaah Sebagai Solusi Urusan Dunia dan Akhirat

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Yakni dengan terus berusaha keras menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala hal yang dilarang-Nya. Semoga hidup kita di dunia ini mendapat ridho dan kebahagiaan dari Allah swt. Jika kita kelak wafat, dipanggil kepada-Nya, kita meninggal dalam kondisi husnul khatimah, sehingga mendapatkan rahmat, ampunan dan surga-Nya. Aamiin.

Teks Khutbah Jum’at kerjasama Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) dan Hidayatullah.or.id, berikut selengkapnya:

Hidayatullah Kepri Bersinergi dengan BMH Gelar Training Paralegal

BATAM (Hidayatullah.or.id) — DPW Hidayatullah Kepri bersinergi dengan BMH Kepri menggelar Training Paralegal Da’i dan Guru di Kampus Batu Aji, Hidayatullah, 11-12 Dzulqaidah 1443/10-12 Juni 2022.

Kegiatan ini bagian dari edukasi hukum bagi para pengurus dan dai se Kepri, Direktur LBH Hidayatullah Dr. Dudung A. Abdullah turut hadir sekaligus menjadi narasumber.

Pelatihan diikuti 40 peserta dari DPD se Kepri dan pengurus kampus utama Hidayatullah Batam. Menurut General Manager BMH Kepri, Abdul Aziz, BMH Kepri memberikan dukungan penuh atas kegiatan ini karena gerakan dakwah merupakan salah satu bagian dari program BMH.

“Kita terus berupaya mengupgrade kemampuan para da’i termasuk pemahaman tentang hukum, apalagi di era digital ini sangat rentan sehingga jangan sampai para da’i dalam menyampaikan syiar Islam mudah terjebak dengan persolan hukum karena minimnya pengetahuan,” tutur Abdul Aziz.

Dalam acara pembukaan, ketua DPW Hidayatullah Kepri, Darmansyah turut memberikan sambutan, ia mengungkapkan dibentuknya LBH Hidayatullah Kepulauan Riau agar dapat memberikan pendampingan hukum kepada para aktivis dakwah dan tarbiyah di kawasan Kepulauan Riau.

“Kami mengucapkan terimakasih kepada BMH Kepri yang mendukung DPW dalam berbagai program, khususnya program mainstream yaitu tarbiyah dan dakwah,” tutur Darmansyah antusias.

Training bertema “Menyiapkan para guru dan da’i untuk membangun Kepulauan Riau yang bermartabat dan berkeadilan” ini diikuti dengan penuh antusias para peserta.

Salah seorang peserta, Ustadz Hamka Kedang, dai dari Kabupaten Lingga, mengatakan selama ini ia sangat minim pengetahuan tentang hukum, tetapi setelah mengikuti pelatihan yang diadakan DPW Hidayatullah Kepri dan BMH Kepri ini, ia mengaku mendapatkan ilmu dan pengalamab baru.

“Kami merasa punya bekal dan tanggung jawab lebih untuk membantu guru, dai atau masyarakat di daerah kami dalam menghadapi persoalan hukum. Alhamdulillah kami sebagai guru dan dai pedalaman merasa sangat bersyukur diadakan kegiatan training paralegal ini,” kata Hamka menandaskan.*/Mujahid M. Salbu

Kampus Ummulqura Gutem Tuan Rumah TOT Pemuda

Pelangi di balik papan nama Kampus Induk Hidayatullah Ummulqura, Gunung Tembak, Balikpapan, Rabu (22/12/2021).* [Foto: Muh. Abdus Syakur/MCU]
Pelangi di balik papan nama Kampus Induk Hidayatullah Ummulqura, Gunung Tembak, Balikpapan, Rabu (22/12/2021).* [Foto: Muh. Abdus Syakur/MCU]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Kampus Ummulqura Hidayatullah Gunung Tembak (Gutem), Balikpapan, Kalimantan Timur, kembali menjadi tuan rumah kegiatan Training for Trainer (TOT) Leadership Training Center (LTC) dan Pendidikan Al Quran Bersanad (LPQ) Pemuda Hidayatullah yang ke-2. Acara ini akan berlangsung selama sepekan mulai Selasa, 15 Dzulqaidah 1443 (14/6/2022).

LTC dan LPQ sendiri adalah merupakan program nasional yang disediakan oleh Pemuda Hidayatullah sebagai sarana kaum muda meningkatkan kapasitas diri dalam hal kepemimpinan dan kiprah, pemberantasan buta aksara Arab, kacakapan baca tulis Al Qur’an, sehingga bisa lebih progresif dan beradab di dalam kehidupan ini.

Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah, Mas Imam Nawawi, mengatakan bukan tanpa alasan Kampus Ummulquraa Hidayatullah Gunung Tembak menjadi tempat kegiatan acara nasional ini.

“Kampus Gunung Tembak adalah wahana konservasi untuk merawat gerakan kultural Hidayatullah sebagai titik awal perlangkahannya dalam mengabdi untuk dakwah dan umat, maka kita harapkan peserta TOT pun dapat merasakan suasana itu dan menyerap langsung spirit dari para senior di sini,” kata Imam dinukil Kaltim.news di kantor Kampus Ummulquraa Hidayatullah Gunung Tembak, Senin (13/6/2022).

Imam menjelaskan, TOT LTC ini bertujuan untuk melahirkan para pemimpin yang siap berkiprah mendidik generasi bangsa yang memiliki mental, wawasan, dan komitmen kepemimpinan sebagai sebuah upaya turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kegiatan ini juga memberikan satu pengalaman belajar secara langsung kepada generasi muda untuk ikut andil mengambil peran bertanggungjawab untuk membangun diri, keluarga, lingkungan, seluruh bangsa, umat, dan rakyat Indonesia.

Imam menerangkan, TOT LPQ ini digelar sebagai upaya untuk melahirkan instruktur untuk mencetak generasi yang melek terhadap al Quran sebagai upaya konkrit menjawab tantangan umat dalam memberantas buta aksara Quran.

Diharapkan dari sini akan mendorong gerakan dakwah Al Quran sehingga semakin banyak umat Islam terutama generasi mudanya yang semakin melek Al Quran, yang, tidak saja mampu membaca namun juga menginternalisasikan nilai nilai yang dikandungnya.

“Diharapkan dari sini akan lahir kesadaran untuk menata diri dan lingkungan dengan nilai nilai Quran yang sangat menginspirasi dunia yang melahirkan kecintaan terhadap ilmu, kedisiplinan, komitmen dalam ibadah, dan hadir di garda depan dalam mengentaskan masalah masalah sosial,” katanya.

Pengentasan masalah sosial, terang Imam, itulah sebenarnya yang menjadi inti dari pesan pesan Al Quran yang melalui LPQ ini diharapkan lahir generasi yang cinta Al Quran, mengamalkannya, mendakwahkannya, dan mentarbiyyahkannya dalam kehidupan sehari hari.

Tak lupa, ia menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang tinggi kepada pengurus dan keluarga besar Yayasan Kampus Ummulquraa Hidayatullah Gunung Tembak yang telah menerima mereka dengan terbuka beserta berbagai layanan maksimal yang diberikan.

“Hanya Allah Subhanahu Wata’ala yang mampu membalas segala kebaikan, keramahan, dan segala perhatian luar biasa yang diberikan Kampus Ummulquraa Hidayatullah Gunung Tembak untuk kesuksesan acara ini,” kata Kampus Ummulquraa Hidayatullah Gunung Tembak.

Dari pantauan media ini, peserta TOT LTC dan LPQ ini sudah mulai tiba di Kampus Ummulquraa Hidayatullah Gunung Tembak yang akan dihadiri utusan PW Pemuda Hidayatullah dari seluruh provinsi di Indonesia.

“Alhamdulillah persiapan sudah hampir 100 persen, temen temen panitia juga sudah stand by bekerja sejak beberapa hari ini mulai dari penjemputan, akomodasi, konsumsi, dan lain lain,” kata Ketua PW Pemuda Hidayatullah Kaltim, Shabirin Hambali.

Selain menggunakan armada udara, tidak sedikit peserta yang datang menggunakan kapal laut, seperti dilakukan perwakilan PW Maluku Utara, Papua, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, dan lainnnya.*/

LBH Hidayatullah Kepri Resmi Terbentuk dan Dikukuhkan

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah terus meluaskan kiprahnya. Kali ini jejaring kerja LBH Hidayatullah kembali bertambah dengan dideklarasikannya pembentukan LBH Hidayatullah Kepulauan Riau (Kepri), Ahad, 13 Dzulqaidah 1443 (12/6/2022).

Pendirian LBH Hidayatullah Kepri ditandai dengan pembacaan deklarasi pembentukannya yang oleh Ketua Badan Pembina Kampus Utama Hidayatullah Kepri, KH Jamaluddin Nur, yang juga Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga DPP Hidayatullah.

Dalam sambutannya, Jamaluddin Nur menyampaikan pentinganya pelatihan ini diselenggarakan sebagai bekal untuk membantu laju pergerakan dakwah dalam ruang garapan masing-masing, baik sebagai guru, dai maupun pengambil kebijakan dalam luang lingkup Provinsi Kepri ini.

Dengan pemahaman hukum yang konfrehensif, lanjut dia, diharapkan juga akan menumbuhkan kesadaran imparsialitas sehingga dai, ulama, dan guru ngaji tak seenaknya dikriminalisasi. Penegakan hukum pada mereka pun mestinya dilakukan dengan berimbang, adil, dan beradab.

“Dengan terbentuknya LBH Hidayatullah Kepri ini, masyarakat juga dapat menyampaikan persoalan hukum yang dihadapi dengan harapan tidak ada lagi, ulama, dan dai masyarakat yang mendapatkan perlakuan yang tidak adil,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ust Jamaluddin menyampaikan rasa bangga dan gembira atas adanya pelatihan paralegal dan juga dibentuknya LBH Hidayatullah Kepri yang diharapkan dia semakin menguatkan peran keumatan Hidayatullah di bidang hukum.

Ia pun berkomitmen memberikan support kepada LBH Hidayatullah Kepri bahkan menyatakan akan menfasilitasi kantor khusus. “Harapannya agar LBH Hidayatullah Kepri bisa memberikan manfaat bagi lembaga dan umat,” tandasnya.

Sebelumnya, selama 3 hari pengurus Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Hidayatullah Kepulauan Riau melaksanakan kegiatan Training Paralegal Satu (I) Dai dan Guru dengan tema “Menyiapkan Dai dan Guru sebagai Paralegal untuk Membangun Kepulauan Riau yang Bermartabat dan Berkeadilan”.

Turut hadir dalam kegiatan ini 3 orang narasumber dari Lembaga Bantuan Hukum Hidayatullah yaitu Dr. Dudung A. Abdullah, Agus Gunawan, S.H, M.Pd, Fahrul Ramadhan, S.H, M.Kn, dan Faris, M.Ak, pengurus Kampus Utama Hidayatullah Batam, GM Lembaga Amil Zakat Baitul Maal Hidayatullah Kepri Abdul Aziz Elhaqqy, dan Rektor Institut Agama Islam Abdullah Sadi Batam Muhammad Ramli.

Direktur LBH Hidayatullah Dr. Dudung A. Abdullah dalam keterangannya mengatakan, kegiatan pelatihan ini guna membekali dai di Kepulauan Riau dengan pengetahuan dasar hukum dan hak asasi manusia yang dapat melindungi haknya dalam melakukan perjuangan ditengah masyarakat, sehingga mampu membuat solusi atau strategi dalam penyelesaian kasus-kasus yang berhadapan dengan hukum.

Selain itu, kegiatan yang digelar intensif 3 hari ini diharapkan memberikan keterampilan dalam melakukan advokasi yang berkaitan dengan penerapan norma-norma hukum serta dapat membentuk jaringan antar Paralegal lintas sektor dan membentuk posko- posko Bantuan Hukum, sehingga dapat menjadi “unit reaksi cepat” atau menjadi pertolongan pertama pada kasus dan atau kejadian yang mereka hadapi.

“Dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat umum, khususnya dai dan aktifis keagamaan yang berada di tengah masyarakat, sudah seyogyanya mereka diberikan pengetahuan dasar tentang hukum dan hak asasi manusia,” tukasnya menandaskan.

Seremonial dalam acara penutupan diantaranya pengambilan sumpah paralegal oleh Direktur LBH Hidayatullah kepada para peserta yang telah sah menjadi Paralegal Hidayatullah.

Masih dalam rangkaian acara, dilakukan pelantikan pengurus LBH Hidayatullah Kepri, serta penanda tanganan MoU kerjasama pengabdian masyarakat antara Institut Agama Islam Abdullah Said (IAIAS) Batam dengan LBH Hidayatullah.*/Ain

Shalat Tapi Maksiat? Ketahui Hakikat Doa doa Kita

Ilustrasi orang sedang shalat (Foto: Purwaka Seta/ Pixabay)

APAKAH yang paling sering kita mohonkan kepada Allah dalam doa-doa kita? Apa alasan kita meminta kepada Allah hal-hal itu? Ya, benar. Mungkin, karena ia sangat penting, mendesak, atau menjadi pusat gravitasi kehidupan kita sehari-hari. Menurut kita, jika hal-hal itu tidak terpenuhi atau gagal, hidup kita akan terganggu, rusak, bahkan tidak bermakna lagi.

Demikianlah, karena doa adalah cermin kecenderungan dan pengharapan seseorang. Ia tidak berisi hal-hal remeh, namun ia merefleksikan siapa jatidiri pengucapnya.

Doa menunjukkan bagaimana seseorang menilai hakikat kehidupan serta perkara-perkara yang disertakan dalam doanya itu. Memang, sangat mungkin bahwa isi doa seseorang akan dianggap sepele oleh orang lain, tetapi secara subyektif ia sangatlah penting bagi orang yang memanjatkannya.

Di sisi lain, secara alamiah manusia hanya akan berdoa ketika merasa lemah dan tidak mampu meraih sesuatu dengan bersandar pada dirinya sendiri. Doa hanya diucapkan oleh orang yang merasa tidak berdaya di hadapan Tuhannya. Orang sombong tidak akan pernah berdoa, sebab ia merasa dirinya kuat dan mampu mewujudkan segalanya dengan kemampuannya sendiri.

Oleh karenanya, doa termasuk inti ibadah, dan Allah murka jika kita tidak mau berdoa. Diriwayatkan oleh al-‘Askary dalam al-Mawa’izh, dengan sanad dha’if, bahwa Allah berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi, “Barangsiapa yang tidak berdoa kepadaku, maka Aku murka kepadanya.”

Oleh karenanya, ada banyak doa dalam Al-Qur’an dan hadits. Bahkan, seluruh momen hidup Rasulullah dipenuhi dengan doa. Mulai dari bangun tidur, masuk dan keluar kamar mandi, memakai baju, bercermin, makan, keluar rumah, naik kendaraan, dst. Beliau terbiasa berdoa di hadapan orang banyak seperti ketika berhaji atau memimpin shalat, dan tetap berdoa di saat-saat paling privat yang beliau jalani bersama istri-istrinya.

Lalu, apa pentingnya doa bagi kita? Pada dasarnya, doa akan mengajarkan kita untuk merendahkan diri, tawadhu’ dan mengakui keterbatasan diri sendiri. Sikap-sikap inilah yang akan melembutkan jiwa dan memudahkan masuknya nasihat, pesan-pesan kebaikan, serta bisikan hati-nurani.

Sebaliknya, manusia yang tidak pernah atau tidak mau berdoa, hatinya akan mengeras bagaikan batu, bahkan lebih keras lagi. Ia sulit mengenali kebenaran dan tidak peka kepada kebajikan. Jika ini terus-menerus dibiarkan, ia akan kehilangan sifat manusiawinya dan berubah menjadi Iblis.

Tahukah Anda, bahwa penyakit pertama yang menyesatkan Iblis adalah kesombongan? Karena sombong, ia menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Kesombongan membuat Iblis gagal mengenali hakikat perintah itu. Ia secara sempit hanya “memandang Adam”, dan tidak “melihat Allah” yang memerintahkannya bersujud.

Oleh karenanya, kita diperintahkan menjaga shalat lima waktu. Rasulullah bersabda, “Perjanjian diantara kami dan mereka adalah shalat. Siapa saja yang meninggalkannya, maka dia telah kafir.” (Riwayat Nasa’i, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Buraidah al-Aslami. Isnad-nya shahih).

Mengapa shalat? Ya, karena – secara bahasa – shalat berarti doa. Dalam shalat lah kita diajarkan untuk membungkukkan diri, duduk bersimpuh, dan bahkan meletakkan wajah kita di tanah, semata-mata untuk menunjukkan kerendahan dan kelemahan kita di hadapan Allah.

Tidak ada perbedaan dan keistimewaan tatacara shalat diantara sesama muslim. Sebab, kita semua sama-sama manusia, dan yang besar hakikatnya hanyalah Allah. Sebaliknya, jika seseorang tidak mau lagi membiasakan diri untuk merendah di hadapan Allah dan bersikap tawadhu’ kepada sesama, maka benih-benih kesombongan Iblis akan tumbuh subur dalam jiwanya. Sebentar lagi, kemungkinan besar, ia pun akan menjadi kafir seperti Iblis.

Diantara manfaat lain dari menjaga shalat adalah menciptakan kepekaan untuk mengenali kemunkaran dan kemudian diberi kekuatan untuk meninggalkannya. Allah berfirman, “Tegakkanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” (Qs. al-‘Ankabut: 45).

Demikianlah, jika seseorang bersungguh-sungguh mengerjakan shalat dan memahami doa-doanya, jiwanya akan sangat sensitif tetapi sekaligus sangat kuat. Ia sensitif terhadap hal-hal di sekitarnya, apakah ma’ruf atau munkar, namun juga kuat berpegang pada prinsipnya dan tidak takut dimusuhi orang lain karenanya.

Dikisahkan bahwa Nawwas bin Sam’an al-Anshari bertanya kepada Rasulullah tentang kebajikan dan dosa, maka beliau menjawab, “Kebajikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa-apa yang terasa mengganjal di hatimu dan engkau tidak suka jika hal itu diketahui oleh orang lain.” (Riwayat Muslim).

Inilah kepekaan hati seorang muslim sejati. Dalam hadits lain, beliau bersabda, “Tinggalkan apa yang meragukanmu, dan beralihlah kepada apa yang tidak meragukanmu.” (Riwayat Nasa’i dan Tirmidzi. Hadits hasan-shahih).

Tentu saja, tidak sembarang orang bisa merasakan seperti ini. Banyak orang yang hatinya justru telah mati dan tidak nyambung samasekali terhadap sinyal-sinyal kemunkaran. Ia tidak ubahnya hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi (Qs. al-A’raf: 79 dan al-Furqan: 43-44).

Maka, agar hati kita tetap hidup, kita harus selalu menjaganya dengan berdoa, terutama dalam shalat. Jangan sampai kita tidak mengerti untuk apa doa-doa itu, karena – jika tidak dipahami – ia tidak akan membekaskan pengaruhnya dalam diri kita. Mungkin, inilah penyebab mengapa ada banyak orang terbiasa yang mengerjakan shalat, namun sekaligus ahli maksiat. Astaghfirullah!

Ust. M. Alimin Mukhtar

Lembar Jawaban Pikiran dan Islam sebagai Peradaban Ilmu

Oleh Misran Abdullah

DI DALAM sejarah tidak ada satupun peradaban yang tidak memiliki pondasi ilmu pengetahuan, dalam mengawali dan membangun peradabannya. Bisa dipastikan peradaban yang tidak memelihara ilmu pengetahuan dengan baik, peradaban itu tidak akan bertahan lama dan akan mengalami kehancuran. Sebaliknya peradaban yang memelihara ilmu pengetahuan dengan baik peradaban itu akan eksis dan akan mengalami kemajuan yang pesat.

Islam adalah peradaban ilmu pengetahuan. Di dalam konsep Islam, belajar dan membaca adalah suatu hal yang diwajibkan kepada seluruh pemeluk agamanya. Sebagaiman Wahyu yang pertama, yaitu surat Al-alaq ayat 1-5:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ – ١خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ – ٢اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ – ٣الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ – ٤عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ – ٥

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (1), Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2), Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah (3), Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (4). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5)”

Lebih jauh lagi, diawal penciptaan manusia pertama yaitu, nabi Adam Alaihissalam secara tersirat Tuhan ingin menyampaikan kedudukan ilmu pengetahuan begitu mulia disisi-Nya. Peristiwa yang sangat menarik disaat Tuhan ingin memperlihatkan keunggulan manusia dari mahluk lainnya kepada seluruh malaikat dan Iblis, sebagai bentuk jawaban keraguan para malaikat atas eksistensi keberadaan manusia di muka bumi.

Diperlihatkan bagaimana kemudian para malaikat dan Iblis ditantang untuk menyebutkan nama-nama benda di surga, namun mereka tidak menyanggupinya. Sedangkan Adam (Alaihissalam) dapat menyebutkan seluruh nama-nama benda di surga, lalu para malaikat dan Iblis didiperintah oleh Tuhan untuk sujud kepada Adam (Alaihissalam). Merekapun sujud kecuali Iblis ia enggan dan menyombongkan diri, Al-Baqarah (33-34).

Dia (Allah) berfirman, “Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu!” Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Dia berfirman, “Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?”(33)

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.”(34)

Di zaman sekarang ini, bangsa-bangsa yang yang memiliki tingkat belajar dan membaca yang tinggi memiliki kemajuan yang luar biasa, lihat saja negara Jepang, China, Singapura. Contoh negara di Asia yang memiliki budaya minat baca yang tinggi maka jangan heran bila mereka memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan kompetitif.

Saya ingin mengatakan, bahwa ilmu pengetahuan itu adalah power atau kekuatan jadi rumusnya orang, bangsa, atau negara. Yang menghormati dan memilihara ilmu pengetahuan dengan baik, ia sedang mempersiapkan kekuatan yang luar biasa.

Secara historis negara Indonesia dapat dapat dijajah begitu lama oleh para penjajah, karena para penjajah memiliki strategi membatasi dan melarang anak-anak bangsa ini mendapatkan pendidikan. Sehingga, anak bangsa timbul sebagai orang bodoh yang mudah dipermainkan, diadudomba, diperbudak, dirampas kebebasannya, dan kehidupan sosial ekonominya direbut oleh para penjajah.

Dan, anehnya, kita sebagai bangsa yang sudah merdeka tidak belajar dari peristiwa sejarah itu. Lihat saja tingkat minat baca Indonesia. Berdasarkan data UNESCO, Indonesia menempati urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Minat baca masyarakat Indonesia terhitung memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Berdasarkan studi World Most Literate Countries yang dilakukan oleh Presiden Central Connecticut State University (CCSU), John W Miller, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara pada 2016.

Minat baca Indonesia yang sangat rendah, kontras dengan Singapura walau memiliki kurang lebih lima juta penduduk tetapi memiliki persentase minat baca di angka 88,7%. Tidak heran bila generasi kita semakin terpuruk dewasa ini.

Semakin terbelakang dan bodoh atau sengaja membodohkan diri yang tidak memiliki visi dan kendali jelas untuk meneruskan estafeta perubahan besar!

Suatu waktu seorang teman pernah bertanya kepada saya, “mengapa kita harus rajin membaca?”. Saya jawab, “untuk memberikan asupan pada pikiran, sehingga kita memiliki argumentasi dan nalar yang tajam”.

Diantara urgensinya kenapa kita harus rajin membaca adalah supaya kita memiliki argumentasi yang tajam untuk menolak serangan-serangan pemikiran/ opini yang menyimpang tanpa dasar kebenaran.

Salah contohnya adalah kisah hidup seorang Ahmad Deedat, seorang lulusan sekolah dasar yang terkenal sebagai cendikiawan muslim dalam perbandingan agama. Ia juga pendebat lintas agama yang handal.

Ketika ia hijrah ke Afrika dan di sana ia bekerja sebagai pegawai di salah satu toko yang dekat dengan sekolah menengah Kristen di pantai selatan Natal.

Tuduhan-tuduhan kasar yang menentang ajaran Islam dari siswa seminari selama kunjungan mereka ke toko tersebut membuat Ahmad Deedat hanya bisa mengangkat tangan. Lidahnya kelu, sama sekali tidak sanggup membantah apa yang dituduhkan tersebut.

Ahmad Deedat tak mampu membela diri dari apa yang dilekatkan kepada dirinya. Semua kebisuan tersebut terjadi karena Ahmad Deedat tidak memiliki pengetahuan untuk dapat membantahnya.

Peristiwa tersebut membuatnya merenung panjang. Ia akhirnya menanamkan tekad pada diri untuk membalaskan perlakuan tersebut. Hingga pada suatu hari, Deedat menemukan sebuah buku berjudul Izharul-Haq karya Syekh Rahmatullah al Kairanawi, seorang Kristolog. Ia pun membaca dan mempelajarinya. Dengan begitu ia dapat mengalahkan dan membantah segala tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadanya.

Ini jugalah yang kemudian memotivasinya untuk banyak membaca dan belajar tentang Islam dan perbandingan agama sehingga kita pun mengenal beliau sebagai pendebat handal dengan logika-logikanya yang sangat masuk akal dan banyak mempermalukan lawan-lawan debatnya.

Hikmanya kemudian mari kita banyak belajar dan membaca tidak lain untuk menjaga dan memajukan agama, bangsa, dan negeri ini.

Misran Abdullah, penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah dan member dalam forum diskusi Ngaji Ideologi dan Logika (Idilog)

SD Luqman Al Hakim Surabaya Gelar Haflah Tahfidz Al-Quran ke-IX

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Anak merupakan harta paling berharga bagi kedua orang tua. Kebahagiaan kedua orang tua adalah ketika mereka melihat putra-putrinya tumbuh sebagai anak yang sholih-sholihah. Hati orang tua mana yang tidak bangga dan bahagia melihat anak-anaknya berahklaqul karimah serta memiliki hafalan Al-Quran.

Apalagi ditambah mampu mengharumkan nama kedua orang tua melalui prestasi-prestasi yang diraihnya. Sungguh pengorbanan orang tua tidaklah sia-sia. Demi melihat anaknya tumbuh berkembang sesuai tuntunan Islam, para orang tua rela berkorban serta berusaha keras memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Itulah sambutan Kepala SD Luqman Al-Hakim Pondok pesantren Hidayatullah Surabaya, Ust. Adi Purwanto, M.Pd, ketika opening Haflah IX Tahfidz Al-Quran edisi ke-sembilan pada Sabtu, 12 Dzulqaidah 1443 (11/6/2022).

Acara ini diikuti sekitar 200 peserta mulai santri penghafal Al-Qur’an, orang tua wali santri, hingga para undangan. Acara ini berlangsung di aula Lt. 3 Gedung SD Luqman Al-Hakim Surabaya.

Ust. Adi juga menjelaskan bahwa SD Luqman Al Hakim merupakan sekolah full day yang mampu menghasilkan banyak prestasi serta penghafal Al Quran.

Dengan 2 program, yakni kelas reguler dan kelas takhasus tahfidz, salah satu sekolah Islam terbaik di Surabaya ini berusaha mewujudkan generasi yang tak hanya pandai secara intelektual, tapi juga memiliki hafalan Al Quran serta kemandirian dalam beribadah.

Sementara itu, Koordinator Bidang Al-Quran, Ust. Syamsul Alam Jaga, M.I. Kom menjelaskann bahwa Haflah IX tahfidz Al-Quran ini dilaksanakan secara rutin tiap semester. Santri yang telah menyelesaikan target hafalan yakni minimal hafal 1 juz akan diuji.

Dia mengatakan, santri yang mampu lulus dalam ujian, akan mendapatkan syahadah (ijazah) tahfidz Al Quran yang akan diserahkan ketika wisuda tahfidz.

“Seremonial ini sebagai bentuk apresiasi kita terhadap ikhtiar dan perjuangan santri sekaligus orang tua dalam menghafalkan kalam illahi. Sekaligus sebagai bentuk syiar Islam, agar semakin banyak lahir para penghafal-penghafal Al Quran, para penjaga Al Quran di usia khususnya sekolah dasar,” tandasnya.

Dalam sesi tausiyah, hadir sebagai pembicara Ust. Herman Sutarman, Lc, dosen STAI Luqman Al Hakim Surabaya. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan nasehat bahwa kita tidak diperbolehkan hasad dan iri hati kecuali terhadap 2 orang. Yakni, pertama orang yang dikaruniai kemampuan oleh Allah untuk membaca atau menghafal Al Quran lalu ia gemar membaca dan menghafal Al Quran tersebut. Kedua, orang yang dikaruniai harta oleh Allah dan gemar bersedekah.

Alumni salah satu universitas di Madinah ini juga menukil sebuah hadist dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa barang siapa yang ingin mengetahui apakah orang tersebut cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka, lihatlah apakah dia mencintai Al Quran.

Ustadz Sutarman menutup tausiyahnya dengan sebuah pertanyaan yang menyentuh, seberapa cintakah kita dengan Al Quran?

Hadir dalam acara tersebut, Ust. H. Syamsuddin, SE, MM selaku Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Turut pula memberikan sambutan, Ibu Cacik Suci Astuti, M.T, Ketua Komite SD Luqman Al Hakim.

Acara ditutup dengan doa tepat pukul 11.00 WIB, oleh Ust. Zainun Nasich, M.Pd trainer nasional Metode Baca Al Quran Al Hidayah.*/Rudi Trianto (Humas Siluqim)