Beranda blog Halaman 361

Leading with Heart, Managing with Mind

Gambar ilustrasi lampu penerang (Foto: Sergei Akulich/ Pixabay)

DALAM Surat Shad (38) : 26, Alah SWT berfirman,”Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah SWT. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah SWT akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Dalam tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa dalam ayat ini terkandung pesan kepada ulil amri (pemerintah, dan siapapun yang memimpin-red) agar mereka menetapkan hukum dengan berpijak kepada kebenaran yang diturunkan dari Allah swt dan tidak menyimpang darinya karena hal itu akan menyesatkan mereka dari jalann-Nya.

Demikian halnya dengan Rasulullah SAW, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar r.a:

“Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya, seorang istri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tangggung jawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memlihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin akan ditanya (diminta pertangggung jawab) dari hal yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Hal yang paling mendasar yang dapat diambil dari hadis di atas adalah bahwa dalam level apapun, manusia adalah pemimpin termasuk bagi dirinya sendiri. Setiap perbuatan dan tindakan memiliki resiko yang harus dipertanggungjawabkan.

Setiap orang adalah pemimpin meskipun pada saat yang sama setiap orang juga membutuhkan pemimpin dan kepemimpinan ketika ia harus berhadapan untuk menciptakan solusi hidup dimana kemampuan, keahlian, dan kekuatannya dibatasi oleh sekat yang ia ciptakan sendiri dalam posisinya sebagai bagian dari komunitas.

Masih banyak lagi sebenarnya dalil yang berkaitan dengan kepemimpinan dan urgensinya hingga level implementasi bahkan juga monitoring dan evaluasinya. Akan tetapi, setidaknya, kita tersontak ketika diingatkan oleh Bapak Pemimpin Umum saat Tarhib Ramadhan, Selasa (29/3/2022), bahwa dalam memimpin disetiap level apapun, harus Leading with Heart dan Managing with Mind.

Memimpin dengan hati, artinya, mengedepankan perasaan yang bersumber dari kuatnya ibadah dan amal sholeh (ahsanu amala) yang dilakukan. Dimana akan melahirkan sebuah intuisi yang ilhami untuk melahirkan sejumlah konsepsi ilahiyah, yang akan memandu setiap pemimpin dalam memimpin apa yang dipimpinnya, dalam level apapaun termasuk memimpin dirinya sendiri ataupun dalam keluarga.

Konsekwensi logisnya akan terjadi kedekatan antara pemimpin dengan yang dipimpin, seperti hubungan saudara (kal jasadil wahid), bukan hubunga transaksional, sebagaimana hubungan bos dan majikan.

Oleh karenanya, seorang pemimpin akan memimpin secara adil, dan jauh dari hawa nafsu, serta kepentingan pribadi. Karena jika dalam memimpin sudah dipandu dengan hawa nafsu, pasti akan merugikan bahkan menyesatkan. Cepat atau lambat, sebagaimana yang digambarkan dalam QS -Shad ayat 26 di atas.

Selanjutnya, dimana letak manajemen, akal dan rasio. Inilah kemudian yang diistilahkan dengan manage by head. Artinya seorang pemimpin harus menggunakan “kepalanya” dalam me-manage yang dipimpin. Kepalanya tidak boleh kosong. Sehingga, seorang pemimpin juga dituntut untuk memiliki wordview yang cermerlang, dengan wawasan yang luas, otak yang encer, serta kemampuan managerial skill yang memadai. Untuk mendapatkannya, bisa melalui jalur pendidikan formal maupun non formal, literasi (baca/tulis) dan lain sebagainnya.

Tuntutan berikutnya adalah, seorang pemimpin juga mesti memahami dan tidak alergi terhadap adanya tools manajemen modern yang disesuaikan dengan visi, misi dan budaya organisasi, sehingga dalam me-manage yang dipimpinnya berlaku kaidah SMART (Specific, Measureable, Achievable, Relevant, dan Time-bound). Sebab seorang pemimpin juga mesti mampu men-direct dalam menyusun perencanaan strategis.

Dan, tools ini akan membantu dalam merealisasikan seluruh program yang telah dirumuskan tersebut. Karena, manage by head, itu outpunya adalah hasil kerja yang bisa dirasakan perubahannya, bahkan yang nampak bisa dilihat secara fisik.

Dengan demikian maka, kemampuan seorang pemimpin dalam menintegrasikan dan memadukan antara manage by heart dan manage by head, akan melahirkan kepemimpinan yang visioner dan melakukan quantum leap, yang bisa jadi dapat menerobos dimensi ruang dan waktu.

Implementasinya dapat dimulai dari sekala yang paling kecil, sesuai dengan kapasitas kita masing-masing, sebab pemimpin itu sebenarnya adalah diri kita masing-masing. Wallahu a’lam

Asih Subagyo, penulis adalah instruktur Hidayatullah Institute

Ma’had Tahfizh Qur’an Al Humaira Sukabumi Gelar Daurah Marhalah Ula

0

SUKABUMI (Hidayatullah.or.id) — Ma’had Tahfizh Al Qur’an Putri Al Humaira Sukabumi menggelar kegiatan Daurah Marhala Ula (DMU) digelar selama 3 hari yang dibuka pada Senin, 25 Sya’ban 1443 (28/3/2022)/

Kegiatan yang digelar mulai 25 hingga 27 Sya’ban/ 28-30 Maret 2022 ini diselenggarakan di komplek Ma’had Tahfizh Al Qur’an Al Humaira, Sukabumi dengan sebanyak 33 peserta santri.

DMU ini menghadirkan pemateri Ust. Fakhruddin Rifa’i (Ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Sukabumi) Ust. Naspi Arsyad, Lc (Direktur Ma’had Tahfizh Al Humaira) dan Ustazah Rusmina (Ketua Majlis Murabbiyah Hidayatullah Jawa Barat).

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Daurah Marhalah Ula, Aisyah S.H.I menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pemateri dan peserta atas partisipasinya dalam acara ini.

Aisyah juga menuturkan tujuan pelaksanaan daurah ini sebagai media bagi peserta untuk mengenal Hidayatullah lebih jauh.

Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Hidayatullah (STIS) Balikpapan ini menegaskan bahwa para pemateri adalah pihak yang mengenal konsep Hidayatullah sangat baik sebab telah bergabung dengan Hidayatullah sejak puluhan tahun sebelumnya.

Acara yang digelar untuk santri kelas XI dan XII ini dibuka secara resmi oleh Ust. Fakhruddin Rifai. Dalam sambutannya, Fakhruddin meminta agar seluruh peserta mengikuti daurah ini dengan maksimal karena seluruh rangkaian materinya bagaikan golden gate dalam mengenal dan memahami Hidayatullah.

“Daurah ini diadakan bukan sekedar untuk menambah agenda kegiatan santri, bukan sekedar acara seremonial. Daurah ini adalah jenjang formal yang ditetapkan oleh Hidayatullah agar peserta dapat menjadi kader Hidayatullah lebih utuh,” kata pria murah senyum ini.

Fakhruddin menambahkan bahwa Hidayatullah adalah lembaga perkaderan yang menetapkan tarbiyah dan dakwah sebagai mainstream gerakannya.

Dan, terang dia, sebagai lembaga tarbiyah dan dakwah, Hidayatullah harus diback-up oleh pelaku dakwah yang memahami konsep gerakan Hidayatullah dengan benar agar mainstream gerakannya selalu on the track.

Acara pembukaan DMU juga dihadiri oleh unsur Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, pimpinan DPD Hidayatullah Kabupaten Sukabumi dan jajaran pengelola Ma’had Tahfizh Al Humaira Sukabumi. (ybh/hio)

Ketum Aphida Berbagi Motivasi Entrepreneurship di Kampus IAIAS Batam

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Asosiasi Pengusaha Hidayatullah (APHIDA) Muhammad Faisal Tamrin berbagi tips dan motivasi kewirausahaan dalam acara Seminar Entrepreneurship di hadapan mahasiswi kelas takhassus Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) di Batam, Sabtu, 23 Sya’ban 1443 (26/3/2022).

Acara seminar yang bertempat di lantai 2 Aula Gedung Asia Raya atau Gedung Rektorat IAI Abdullah Said Batam ini dilaksanakan dimulai Pukul 09:30 sampai selesai yang dibuka oleh Ketua Departemen Dakwah Kampus Utama Hidayatullah Batam Ust. Rahmat Ilahi Hadits.

Pada kesempatan tersebut Muhammad Faisal juga sekaligus mensosialisasikan program-program APHIDA yang dapat dikerjasamakan dengan Program Studi (Prodi) Manajemen Bisnis Syariah, Fakultas Ekonomi Islam pada Institut Agama Islam Abdullah Said (IAIAS) Batam.

Faisal yang juga alumni angkatan III Madrasah Aliyah Radhiyatan Mardhiyah (Marama) Putra Hidayatullah Gunung Tembak ini memulai seminar dengan menyampaikan dasar tauhid sebagai pegangan seseorang yang bergerak di bidang entrepreneur dengan menyitir Qur’an Surat al Isra’ ayat ke 170:

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

Kenapa harus menjadi entrepreneur adalah sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh alumnus Magister Hukum Universitas Indonesia (UI) ini sebagai pancingan kepada peserta seminar.

Kemudian Faisal melanjutkan bahwa karena Rasulullah shalallahu alaihi wasllam adalah seorang pengusaha, bahkan Istri Rasul juga seorang pengusaha, maka umatnya pun setidaknya tidaknya tak boleh mengabaikan pentingnya kewirausahaan.

“Ada empat sahabat Rasul adalah pedagang dan semua kaya raya. Ada sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga pun ternyata hampir semua pedagang. Jika ditelaah lebih dalam lagi, maka akan ditemukan data yang sangat jelas tentang masuknya Islam ke nusantara juga lewat perdagangan,” kata Faisal.

Faisal lantas menekankan pentingnya berniaga, yang, bahkan oleh Rasulullah Muhammad SAW sendiri telah menegaskan bahwa berdagang merupakan pintu rezeki utama.

“Yang paling menggiurkan itu berada di perdagangan, karena kelipatan pendapatannya bukan perbulan tapi perhari sudah bisa ditaksir omzet pendapatannya. Yang apabila diselami lebih seksama kita akan sadar dengan itu semua posisi tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah bisa diejawantahkan oleh seorang muslim,” kata mantan Pengurus Pusat Syabab (Pemuda) Hidayatullah periode 2005-2008 ini.

Faisal juga menjelaskan bahwa Allah SWT lebih menyukai Muslim yang kuat daripada yang lemah dan salah satu kategori kuat yang dimaksud adalah kuat dalam hal finansial karena narasi “hampir-hampir saja kefakiran itu menjerumuskan kita pada kekufuran”  bisa menyebabkan orang untuk hasud kepada orang kaya.

“Sedangkan hasud akan memakan kebaikan, juga karena bisa mendorongnya untuk tunduk kepada mereka dengan sesuatu yang merusak kehormatannya dan membuat cacat agamanya,” kata Faisal.

Faisal juga menguraikan perihal potongan makna ayat Al Quran yang menjelasakan tentang “kamu tidak meninggalkan generasi yang lemah” sebagaimana dalam Surah an Nisa ayat 9. Dia mengatakan, salah satu kelemahan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah lemah ekonominya.

“Makna ayat ini bisa menjadi pemicu untuk generasi muda menangkap makna yang terkandung di dalamnya untuk mengambil peran dalam entrepreneur ini,” kata bos PT Acacia Oktroi Biro ini.

Dia menambahkan, harta yang baik adalah yang dimanfaatkan untuk kemaslahatan dunia dan akhirat sebaimana sabda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam bahwa sebaik-baik harta adalah yang dimiliki oleh orang yang shaleh.

“Maka tantangan dan peluang entrepreneurship ini harus juga ditangkap oleh mahasiswa untuk mengambil langkah memulai membangun kemandirian ekonomi umat ini, dari kita untuk kita,” tutup pria yang mahir empat bahasa asing; Inggris, Perancis, Arab dan Korean ini.*/Lailman Abdullah

Inilah Perkara yang Lebih Baik dari Dunia dan Seisinya

BILA Anda dihadiahi sebidang tanah di lokasi sangat strategis, lengkap dengan bangunan dan perabotnya, tentu sangat mengejutkan. Lebih mengejutkan lagi kalau saja ada yang datang kepada Anda dan bisa memberi – benar-benar memberi, bukan tipuan – seluruh dunia dan seisinya.

Tetapi, pasti akan jauh lebih mengejutkan jika Anda diberi beberapa hal yang lebih berharga dibanding dunia dan seisinya, dimana Anda pun bebas mengambilnya setiap saat!

Apakah kita sedang dipermainkan? Tidak. Ini kenyataan yang ditawarkan Allah dan Rasul-Nya kepada kita, kaum muslimin. Demikianlah, karena Allah sangat Kaya dan Pemurah.

Oleh karenanya, kita dianugerahi agama yang mencerminkan kekayaan dan kepemurahan-Nya pula, dimana karunia-karunia besar ditumpahkan dari langit tanpa khawatir menghabiskan khazanah-Nya.

Bahkan, andai seluruh manusia dan jin, mulai dari generasi terawal sampai terakhir, semua berdoa bersamaan, lalu Allah kabulkan apapun permohonan mereka masing-masing, niscaya kekayaan-Nya takkan berkurang melainkan seperti sebatang jarum yang dicelupkan ke samudera. Hanya sejumlah air yang melekat di jarum itulah berkurangnya kekayaan Allah (Riwayat Muslim).

Sesuatu yang lebih berharga dari dunia seisinya tentulah bukan dunia, bukan pula isinya. Ia adalah sesuatu yang lain dan berbeda. Apa sajakah itu?

Pertama, seharian bersiaga di medan jihad fi sabilillah.

Sahl bin Sa’ad as-Sa’idiy berkata: sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Bersiaga seharian di (medan jihad) fi sabilillah itu lebih baik dibanding dunia dan semua yang ada diatasnya. Tempat kalian meletakkan cemeti di surga nanti adalah lebih baik dibanding dunia dan semua yang ada diatasnya. Waktu antara puncak siang hingga malam yang dilalui seseorang di jalan Allah, atau waktu antara terbitnya matahari hingga puncak siang yang ia lalui di jalan Allah, adalah lebih baik dibanding dunia dan semua yang ada diatasnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Kedua, mengerjakan dua rakaat shalat sunnah sebelum Shubuh.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah: Nabi bersabda, “Dua rakaat fajar itu lebih baik dibanding dunia dan semua yang ada di dalamnya.” (Riwayat Muslim). Yang dimaksud “dua rakaat fajar” adalah shalat sunnah qabliyyah (sebelum) Subuh, dikerjakan dengan dua rakaat yang ringan.

Ketiga, membaca seribu ayat dalam satu malam.

Abu Umamah al-Bahily berkata: “Siapa saja yang membaca seribu ayat, maka dicatat untuknya pahala satu qinthar. Sedangkan satu qirath dari qinthar itu tidak akan bisa disaingi oleh dunia kalian ini.” Beliau menambahkan, “Tidak bisa disamai oleh dunia kalian ini.” (Riwayat ad-Darimi. Hadits shahih).

Diriwayatkan pula dari dua orang Sahabat, yaitu Tamim ad-Dary dan Fadhalah bin ‘Ubaid, mereka berkata, “Siapa saja yang membaca seribu ayat (Al-Qur’an) dalam satu malam, niscaya dicatat untuknya (pahala) satu qinthar. Satu qirath dari qinthar itu lebih baik dibanding dunia dan semua yang ada di dalamnya. Dan, Allah menyimpan pahala, terserah pada apa yang dikehendaki-Nya.” (Riwayat ad-Darimi).

Sanad hadits kedua ini sebetulnya dha’if (lemah), namun teks haditsnya hasan (baik) dan bisa dijadikan pegangan, karena isinya senada dengan riwayat Abu Umamah diatas. Sekilas terlihat pula bahwa hadits ini hanya pernyataan para Sahabat, namun apa yang berkenaan dengan pahala dan hal-hal ghaib seperti itu jelas tidak mungkin berasal dari ijtihad mereka sendiri. Ia pasti bersumber dari petunjuk Rasulullah.

Keempat, seluruh isi Al-Qur’an.

Suatu kali, Ibnu Mas’ud membacakan satu ayat Al-Qur’an kepada seseorang, kemudian beliau berkata, “Sungguh (ayat) ini lebih baik dibanding apa yang tertimpa cahaya matahari di saat terbitnya (yakni: bumi), atau dibanding sesuatu apapun yang ada di muka bumi.” Beliau mengucapkan pernyataan ini kepada seluruh ayat Al-Qur’an. (Riwayat Thabrani. Menurut al-Haitsami: semua perawinya terpercaya).

Kelima, membimbing satu orang menuju Islam.

Abu Rafi’ mengisahkan, bahwa suatu ketika Rasulullah bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib, saat akan diutus memimpin sebuah pasukan, “Sungguh, bila Allah memberi hidayah seseorang melalui tanganmu, itu lebih baik bagimu dibanding apa yang tertimpa cahaya matahari di saat terbit dan terbenamnya (yaitu: seluruh bumi).” (Riwayat Thabrani. Menurut al-Haitsami: salah seorang perawinya hanya dinyatakan tsiqah (terpercaya) oleh Ibnu Hibban, sedangkan para perawi lainnya jelas terpercaya).

Dikisahkan oleh Al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam Hilyatu al-Auliya, bahwa ada seorang budak perempuan yang masuk Islam berkat ajakan majikannya. Maka, Imam asy-Sya’bi pun berkata kepada sang majikan tersebut, “Masuk Islamnya budak perempuan itu di tanganmu adalah lebih baik bagimu dibanding apa yang tertimpa cahaya matahari di saat terbitnya (yaitu: seluruh bumi).”

Keenam, membaca kalimah: “subhanallah wal hamdulillahi….

Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda, “Sungguh, bila aku membaca kalimah: “subhanallah wal hamdulillahi wa la ilaha illallah wallahu akbar”, adalah lebih aku sukai dibanding apa yang tertimpa cahaya matahari di saat terbitnya (yaitu: seluruh bumi).” (Riwayat Muslim).

Kalimah itu disebut dengan al-baqiyat ash-shalihat, yakni “yang senantiasa abadi dan baik”. Nilainya begitu tinggi karena ia merangkum keagungan Allah dan keesaan-Nya. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Sambut Ramadhan BMH Gelar Publik Expose Berbagi Kebaikan dengan Zakat

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Sambut bulan suci Ramadhan 1443, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) meggelar Public Expose sekaligus peluncuran program Ramadhan tahun yang mengangkat tajuk “Berbagi Kebaikan dengan Zakat” di Kampus Hidayatullah Kalimulya, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis, 21 Sya’ban 1443 (24/3/2022).

Direktur Utama Laznas BMH, Supendi, mengatakan 3 tahun terakhir penduduk berbagai belahan bumi termasuk Indonesia mengadapi dinamika yang sama sekali berbeda dimana kita bersinggungan dengan pandemi. Kondisi ini kemudian melahirkan istilah new normal atau normal baru untuk adaptasi baru.

Pandemi ini tidak saja berdampak pada cara orang berinteraksi melainkan juga menyebabkan tidak sedikit kematian dan atau setidaknya kehilangan mata pencaharian.

“Banyak, ribuan bahkan jutaan keluarga yang kehilangan mata pencahariannya, setidaknya berkurang pendapatannya. Ada anak anak yang kehilangan orangtuanya, ayah, ibunya, atau kedua duanya yang mereka adalah tumpuan dan harapan bagi keluarga dan masa depan anak itu,” kata Supendi.

Akan tetapi, lanjutnya, ada yang menggembirakan dikala pandemi covid-19 sedang melanda dimana kedermawanan dan solidaritas masyarakat untuk berbagi ternyata sangat tinggi.

Hal itu terbukti, misalnya, dalam sebuah lingkungan jika ada yang terdampak, maka sesama masyarakat berlomba lomba mengulurkan tangan untuk meringankan beban saudara saudaranya.

“Termasuk lembaga amil zakat, dalam masa pandemik justru mengalami penghimpunan yang signifikan amanah kebaikan dari umat untuk disalurkan kepada yang berhak menerimanya,” katanya.

Disisi lain, terang Supendi, dari waktu waktu kesadaran masyarakat untuk berzakat pun semakin hari makin meningkat yang seiring dengan pertumbuhan ekonomi kelas menengah (middle class) yang notabene mereka adalah anak muda milenial yang pendapatannya bisa dikatakan tidak kecil.

“Kesadaran mereka berzakat luar biasa. Kalau dulu zakat hanya dimaknai zakat fitrah (saja), tapi saat ini wawasan mereka akan zakat luar biasa bukan saja zakat fitrah, termasuk juga zakat lain seperti zakat maal, zakat perniagaan, zakat pfofesi, zakat peternakan, zakat pertanian dan lain sebagainya,” katanya.

Berangkat dari fenomena tersebut, Supendi menjelaskan, BMH kemudian terus menggelindingkan spirit kedermawaan tersebut dengan mengangkat tema Ramadhan 1443 kali ini dengan tagline berbagai kebaikan dengan zakat.

Dia menjelaskan, tema yang menjadi jargon program Ramadhan BMH tahun ini tersebut mengandung 2 pesan utama yaitu, pertama, kebaikan, dan, yang kedua, pesan zakat.

“Berbicara kebaikan tidak lepas dari yang namanya kepedulian, kedermawanan, yang olehnya kebaikan adalah sesuatu yang sifatnya inklusif dimana semua orang bisa melakukannya tanpa batas suku, ras, dan agama,” kata Supendi.

Kemudian, jelasnya, ada muatan pesan zakat. Menurut Supendi, zakat adalah sesuatu yang sifatnya eksklusif yang hanya berlaku bagi muslim yang memenuhi kriteria kewajiban berzakat.

“Oleh karena itu, pada bulan Ramadhan 1443, tema yang diangkat BMH adalah berbagi kebaikan dengan zakat. Kami mengajak kepada semua elemen masyarakat tidak dibatasi isu sekat, mari bersama sama BMH menebarkan kebaikan penjuru nusantara,” katanya.

Supendi menyebukan, ada 4 rumusan dari program Berbagi Kebaikan dengan Zakat ini yaitu meluaskan syiar dakwah hingga pelosok negeri, meringankan beban keterbatasan masyarakat miskin di bulan Ramadhan, meningkatkan kualitas hidup dan ibadah masyarakat yang berada dalam kekurangan dan membuka peluang kepada masyarakat untuk berbagi baik melalui sedekah maupun kewajiban menunaikan ibadah zakat.

Pimpinan Badan Amil Zakat (Baznas) KH Achmad Sudrajat, Lc, MA, dalam kesempatan yang sama mengapresiasi kiprah nyata BMH untuk negeri dalam bingkai semangat keberkahan dan kebersamaan.

Sudrajat mengatakan, peran serta BMH sudah tidak diragukan lagi karena setiap tahun selalu mendapat award atau penghargaan dengan penilaian yang dilakukan sangat panjang dan ketat leh Baznas selama setahun. Terakhir, BMH mendapatkan award sebagai terbaik dalam pendistribusian zakat di seluruh Indonesia.

“Jadi para muzakki bisa melihat dari sini, bahwa semua harta yang dikirim kepada BMH sudah teruji, karena dalam pendistribusiannya kita (Baznas) punya parameter dan ini selalu disampaikan dengan baik,” kata Sudrajat.

Sudrajat juga mengapresiasi BMH yang secara berturut turut mampu meneguhkan konsistensinya menjaga amanah umat dengan raihan award sebagai Laznas dengan Laporan Tahunan ZIS Terbaik.

“Peran peran lapangan BMH sudah teruji dan terbukti sukses memberikan khidmat kepada bangsa dan negara serta masyarakat,” tambahnya.

Senada itu, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Dr. Tarmizi Tohor mendorong laznas untuk melakukan syiar pemahaman tentang zakat serta terus melahirkan inovasi dan terobosan yang memiliki nilai maslahat yang berkesinambungan baik untuk muzakki maupun mustahik.

“Selamat kepada BMH dan terus kembangkan edukasi seperti ini. Kita harus bekerja keras dalam rangka untuk meningkatkan pengumpulan dan memantapkan pendistribusian dalam rangka untuk perbaikan ekonomi umat kita,” katanya berpesan.

Dalam kegiatan ini BMH menghadirkan salah seorang Dai Tangguh, Ust Karding, yang mengabdi di pedalaman Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, yang dalam kiprahnya berhasil menyulap kandang sapi menjadi mushalla untuk pondok pesantren yang dibangunnya.

Selain itu, hadir juga memberi penguatan dalam format taushiah dan testimoni yaitu tokoh literasi yang juga seniman pendakwah Habiburrahman El Shirazy atau jarib disapa Kang Abik dan Muhammad Syalabi yang mewakili unsur media cetak dan elektronik sebagai bagian dari mitra strategis lembaga filantropi.

Dalam kesempatan public expose yang dipandu pembawa acara Irwan Abdullah tersebut BMH juga memaparkan program dan berbagai capaian yang telah berhasil diraih setidaknya dalam 1 tahun terkahir yang disampaikan Ketua Pengurus BMH Firman Zainal Abidin.*/Ain

SAR Hidayatullah Gelar Program Pelatih Muda Kuatkan SRU Nasional

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Lembaga relawan kemanusiaan pencarian dan pertolongan/ Search and Rescue (SAR) Hidayatullah menggelar kegiatan pelatihan “Pelatih Muda” yang digelar selama 5 hari yang dibuka perdana dan secara resmi di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kalimulya, Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa, 19 Sya’ban 1443 (22/3/2022).

Ketua Umum SAR Hidayatullah Irwan Harun mengatakan SAR Hidayatullah sudah terbentuk 24 wilayah dan setiap wilayah tersebut telah terbentuk Search and Rescue Unit (SRU) yang merupakan perwakilan di setiap kabupaten/ kota di Indonesia.

“Pembinaan anggota SAR Hidayatullah yang tersebar di beberapa titik tersebut perlu dilakukan dalam satu wadah berbentuk unit untuk dijadikan wadah berkumpul, beraktifitas dan bertukar pemikiran. Maka dibentuklah Search and Rescue Unit (SRU) di setiap kampus atau kabupaten/ kota,” kata Irwan dalam keterangannya, Kamis (24/3/2022).

Selain itu, jelas Irwan, perlu adanya pembina yang mampu memberikan motivasi, pelatihan dan pengawasan dalam beraktifitias. Karenanya, lanjutnya, SAR Hidayatullah membentuk program pelatihan “Pelatih muda” agar bisa mengawal kegiatan-kegiatan SAR yang memiliki moto kerelawanan “tanpa tapi tanpa nanti”.

“Untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan akan pembina di SRU-SRU yang tersebar di Indonesia, maka SAR Hidayatullah meluncurkan program pelatihan Pelatih Muda,” katanya.

Ketua Divisi Diklat PP SAR Hidayatullah Alfarobi Nurkarim Enta menambahkan, program Pelatih Muda ini sebagai solusi dari pemenuhan kebutuhan akan pembina SRU di daerah dan pelatih fisik dan mental di pendidikan dan pelatihan yang diadakan SAR Hidayatullah.

Adapun sejumlah ketentuan untuk dapat mengikuti program training “Pelatih Muda” diantaranya adalah mensyaratkan peserta telah terdaftar sebagai nggota SAR Hidayatullah, telah mengikuti diklat dasar yang diselengara oleh PP SAR Hidayatullah, membawa Surat Tugas dari PW SAR Hidayatullah.

Peserta juga setikdanya harus berusia 18-35 tahun, mengisi formulir dan membawa kartu keluarga (KK), pas Photo 3×4 sebanyak 4 lembar dan menyediakan biaya registrasi Rp 500.000 agar proses berjalan secara maksimal.

Sementara untuk optimalisasi kegiatan selama berjalannya program, peserta diwajibkan membawa perlengkapan seperti celana hitam, baju PDL, sepatu lapangan dan olahraga, baju kebesaran, dan alat tulis.

Adapun output peserta yang diharapkan dari rangkaian kegiatan ini yakni memiliki pengetahuan pembinaan fisik dan mental, serta aplikasi di lapangan, mampu membuat rekayasa kegiatan dan tujuan kegiatan, dan memahami nilai “sami’na wa atho’na” dalam kepemimpinan.

“Hasil yang diharapkan lainnya dari kegiatan ini adalah peserta memiliki kecakapan memahami psikologi anggota dan bisa menempatkan diri sebagai kawan, senior dan pelatih, memahami fungsi sanksi dan reward serta memahami standar safety dalam berkegiatan,” tandas Alfarobi. (ybh/hio)

Lima Ayat yang Menakjubkan

AL HAFIDZ Sa’id bin Manshur al-Khurasani menyitir sebuah riwayat yang menakjubkan dalam kitabnya, as-Sunan. Riwayat ini statusnya “hasan li ghairihi”, yakni sebetulnya memiliki sanad dha’if (lemah) namun meningkat menjadi kuat karena didukung oleh jalur periwayatan lainnya.

Disebutkan bahwa Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya di dalam (surah) an-Nisa’ terdapat lima ayat, dimana dunia dan seisinya ini tidak akan menyenangkanku dibanding dengan kelimanya. Aku sungguh tahu bahwasannya para ulama’ – ketika membacanya – mereka pasti mengetahuinya.”

Mungkin, ini terdengar seperti gurauan. Sebab, lima ayat itu nilainya begitu menakjubkan. Tetapi, Ibnu Mas’ud adalah salah seorang seorang Sahabat yang menjadi guru dan rujukan dalam bacaan Al-Qur’an. Beliau pasti tidak bercanda dengan pernyataannya.

Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa ingin membaca Al-Qur’an yang segar sebagaimana ia diturunkan, maka bacalah menurut (tatacara dan sikap) bacaan Ibnu Ummi ‘Abd.” (Riwayat Ibnu Majah. Hadits shahih). Yang dimaksud Ibnu Ummi ‘Abd tidak lain adalah Ibnu Mas’ud.

Lalu, apa sajakah kelima ayat dalam surah an-Nisa’ itu?

Pertama, ayat ke-31.

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).”

Artinya, jika kita berharap Allah menghapus dan memaafkan kesalahan-kesalahan kecil kita, maka jauhi dan tinggalkan dosa-dosa besar.

Lalu, apakah dosa besar itu? Dalam Tafsir Fathul Qadir, Imam Syaukani mengutip pernyataan Ibnu Mas’ud, “Dosa-dosa besar adalah semua yang dilarang oleh Allah dalam surah (an-Nisa’) ini, sampai ayat ke-33.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Dosa besar adalah setiap dosa yang telah divonis oleh Allah dengan neraka, kemurkaan, laknat, atau siksaan.”

Kedua, ayat ke-40.

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat-gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.”

Allah Maha Adil, dan tidak mungkin berbuat aniaya. Nabi bersabda:

“Kelak Allah akan membebaskan salah seorang dari umatku di hadapan banyak orang. Digelarlah untuknya 99 gulungan catatan, masing-masing sepanjang mata memandang, lalu Allah bertanya padanya, “Apakah engkau mengingkari sedikit saja dari semua ini? Apakah para malaikat pencatat amal-Ku telah menzhalimimu?” Ia menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku.” Allah bertanya, “Apakah engkau memiliki alasan atau kebaikan.” Maka, diam tanpa dayalah orang itu, lalu menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku.”

Allah lalu berfirman, “Sebaliknya, sebenarnya engkau mempunyai satu kebaikan di sisi Kami. Tidak ada kezhaliman sedikit pun atas dirimu di hari ini. Maka, dikeluarkanlah satu kartu (catatan yang tertulis) padanya: Asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu. Lalu, semua catatan itu diletakkan pada satu sisi daun timbangan, dan selembar kartu itu pada daun timbangan lainnya. Maka, terangkatlah gulungan-gulungan catatan tersebut dan lebih berat yang selembar itu.” (Riwayat Ahmad, al-Hakim dan at-Tirmidzi, dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash. Hadits shahih).

Ketiga, ayat ke-48.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya….”

Syirik adalah dosa tak termaafkan. Jika seorang hamba mati dan menjumpai Allah dalam keadaan musyrik, maka murka-Nya tak terpadamkan. Ia pasti masuk neraka selama-lamanya.

Imam al-Alusi meriwayatkan asbabun nuzul ayat ini dalam Tafsirnya: bahwa tatkala turun ayat, “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Az-Zumar: 53), maka Nabi berdiri diatas mimbar dan membacakannya. Ada seseorang yang berdiri dan bertanya, “Bagaimana dengan menyekutukan Allah (syirik)?” Maka, beliau pun diam. Orang itu kembali berdiri dan menanyakan hal yang sama, dua atau tiga kali, sementara beliau tetap diam. Maka, turunlah surah an-Nisa’: 48 di atas.

Keempat, ayat ke-64.

“…Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini berkenaan dengan beberapa orang yang mengadukan perkara kepada Rasulullah. Namun, setelah diberi putusan, mereka justru tidak puas dan ingin mencari hukum lain yang bisa memenuhi selera nafsunya.

Allah menegur keras sikap tersebut, namun menjanjikan jalan keluar, yaitu: jika mereka mau bertaubat dan mohon ampun kepada Allah, lalu mendatangi Rasulullah dan meminta agar dimaafkan serta dimohonkan ampunan, maka pasti Allah bersedia menerima mereka kembali.

Kelima, ayat ke-110.

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.”

Dalam Tafsir Zaadul Masir, Imam Ibnul Jauzi menyatakan bahwa yang dimaksud “kejahatan” disini adalah syirik, mencuri atau dosa-dosa lain secara umum. Sedangkan “menganiaya dirinya” adalah menuduh orang lain tanpa bukti atau dosa-dosa lain di bawah syirik.

Sesungguhnyalah, kita tidak pernah terlepas dari kesalahan dan dosa. Maka, inilah jalan-jalan emas yang diberikan Allah. Tentu saja, mendapatkan jaminan ampunan dari Allah nilainya akan jauh lebih baik dari dunia dan seluruh isinya. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Santri Hidayatullah Kolaka Raih Juara Turnamen Tapak Suci se-Sultra

0

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Setelah berhasil lolos dalam seleksi kejuaraan daerah di Kabupaten Kolaka, Pimpinan Daerah Tapak Suci Kolaka mengutus 6 santri Hidayatullah Kolaka untuk mewakili Tapak Suci Kolaka dalam event Kejuaraan Wilayah Tapak Suci Sulawesi Tenggara yang diadakan di GOR SKO Kendari, 17-19 Sya’ban 1443 H (20-22/03/2022).

“Alhamdulillah keenam santri kami dari Hidayatullah Kolaka berhasil meraih 2 medali emas, 2 medali perak dan 2 medali perunggu,” ucap Ust. Aryan Arrayhan penuh syukur atas raihan prestasi santri-santrinya tersebut.

Dalam turnamen ini, santri yang meraih medali emas atas nama Aswar Anas yang turun di kelas 47-51 Kg dan Muallim 51-55 Kg.

Selanjutnya santri yang meraih medali perak atas nama Kautsar (39-43 Kg) dan Subhan (56-60 Kg). Sedangkan Syahrul yang turun di kelas 43-47 Kg dan Khairil 39-43 Kg sama-sama berhasil meraih medali perunggu.

Prada Yusril Hamza salah seorang pelatih mengungkapkan rasa kagumnya atas raihan prestasi para atlet santri ini.

“Santri Hidayatullah, bagi saya sangat mengagumkan karena kecerdasan mereka yang begitu cepat menangkap tehnik dan jurus yang diajarkan serta kelihaian mereka menggunakan tehnik tersebut dalam gelanggang pertandingan,” kata Prada.

Menurut pengakuannya, biasanya ia membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengajarkan tehnik kepada muridnya sewaktu melatih di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, namun tidak dengan santri Hidayatullah.

“Penguasaan teknik dan jurus-jurus yang kami ajarkan begitu cepat diserap oleh para santri. Sehingga tentunya ungkapan kerja keras tidak akan mengkhianati hasil adalah benar adanya,” tukasnya.

“Kami berharap para santri Hidayatullah tidak hanya meraih prestasi di tingkat wilayah, tetapi ke depan, mereka juga bisa meraih prestasi di tingkat nasional, bahkan hingga tingkat internasional nantinya,” harap pelatih dari personil TNI-AD di kesatuan Kompi Senapan B Yonif 725/Waroagi ini menutup.

Turut hadir mendampingi dan memberikan semangat kepada atlet santri ini para pengasuh santri, Ust. Kholis Nur dan Riko Ardiansyah. */Noer Akbar

Hidayatullah Timika Borong Piala Ajang MTQ XI Tingkat Kabupaten

MIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, kembali menggelar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke XI yang berlangsung di 2 tempat yaitu Masjid Ar Rahman dan Masjid At Taqwa Timika, 15-17 Sya’ban 1443 (18-20/03/22).

Pelaksanaan MTQ ini sebagai sarana menciptakan generasi muda Qur’ani yang cerdas dan religius sesuai visi misi kabupaten Mimika.

MTQ kali kesebalas ini di Mimika ini ikuti oleh sekolah-sekolah, pesantren, TPQ, dan masjid yang ada di Mimika dengan berbagai jenis lomba diantaranya tilawah, tartil, hifdzil 1,5,10,20 Juz, syarhil Qur’an dan fahmil Al Qur’an, kalighrafi/khot, serta Karya Tulis Ilmiah Kandungan Al-Qur’an (KTIQ) yang diperuntukkan putra-putri dari semua tingkatan.

Dari semua cabang lomba, Pesantren Hidayatullah Mimika meraih juara pada setiap jenis lomba yang ada dengan total memborong 20 piala pada ajang ini.

Panitia MTQ ke XI Kabupaten Mimika menetapkan 8 cabang lomba yang mewakili kafilah kabupaten Mimika ke ajang MTQ tingkat provinsi Papua pada bulan Mei mendatang di kota Jayapura.

Cabang lomba tersebut diantaranya Tartil Putri, Hifdzil 1 Juz +tilawah Putra, Hifdzil 1 Juz+tilawah Putri, Hifdzil 5 Juz +Tilawah Putra, 5 Juz + Tilawah Putri, Hifdzil 10 Juz Putri, Syarhil Qur’an Putri dan Fahmil Qur’an Putri.

Ketua LPIH Ponpes Hidayatullah Mimika, Ust Abdul Syakir, menyampaikan rasa syukur Alhamdulillah dan bangga atas pencapaian pada ajang MTQ ke XI tingkat kabupaten Mimika tahun 2022 sebab bisa memborong piala bahkan keluar sebagai juara umum.

“Hasil ini karena adanya kerja keras semua tim pelatih, official, peserta, wali murid dan seluruh dewan guru Hidayatullah Timika sehingga bisa mendapatkan hasil yang sangat memuaskan,” kata Syakir.

Dari cerita anak-anak sebagai peserta MTQ tahun ini selain usaha/ ikhtiar, mereka melakukan puasa nazar agar diberikan kelancaran dan kemudahan. Ada yang selama 2 pekan berinfaq, shalat lail, meminta doa restu dan maaf kepada orang tuanya dan teman-teman.

“Selamat dan sukses untuk anak-anakku yang meraih prestasi terus tingkatkan kualitas kalian. Dan, yang belum berprestasi jangan berkecil hati tetap optimis dan terus belajar dan belajar. Mudah-mudahan kepada para peserta yg lolos ke tingkat provinsi Papua di kota Jayapura optimis tembus sampai ke tingkat nasional,” harap Syakir menandaskan. (ybh/hio)

Jangan Bantu Setan dengan Memberi Label Buruk

IMAM Bukhari menuturkan, bahwa pada suatu ketika, di masa hidup Rasulullah, seseorang digiring menghadap beliau karena ketahuan menenggak minuman keras. Maka, beliau pun bersabda kepada para Sahabat yang berkumpul di sekitarnya, “Pukuli dia!”.

Menurut Abu Hurairah, saat itu ada yang memukulinya dengan tangan, sandal, atau kain bajunya. Dalam riwayat lain, bahkan ada yang menggunakan tongkat atau pelepah kurma yang masih basah.

Tentu saja, dia babak-belur. Setelah selesai, ada salah seorang dari mereka yang berujar kepada peminum khamer itu, “Semoga Allah menghinakanmu!”

Mendengar ucapan ini, rupanya Rasulullah tidak berkenan dan bersabda, “Jangan katakan seperti itu! Jangan membantu setan untuk menjerumuskannya!”. Lalu, beliau mengajarkan bagaimana yang seharusnya dikatakan, “Akan tetapi, katakan: ‘Ya Allah, ampunilah dia! Ya Allah, sayangilah dia!’”

Menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Baary, kemungkinan, orang yang ditegur oleh Nabi karena ucapannya itu adalah Umar bin Khattab.

Beliau kemudian menyuruh para Sahabat untuk mendekati orang itu dan mencela perbuatannya. Maka, mereka pun mengerumuninya dan berkata, “Apa kamu tidak bertakwa kepada Allah? Apa kamu tidak takut kepada Allah? Apa kamu tidak malu kepada Rasulullah?” Setelah itu, mereka pun membiarkannya pergi.

Inilah kekuatan “label buruk”, yang sangat disadari oleh Rasulullah dan beliau ajarkan kepada kita. Sungguh, jika seorang pelaku maksiat didoakan keburukan dan justru diberi cap sebagai terhina di mata Allah, maka akan terkesan dalam jiwanya bahwa ia memang benar-benar seperti itu, tidak bisa diubah dan dibenahi.

Pada gilirannya, situasi jiwa yang lemah ini merupakan lahan subur bagi bisikan-bisikan syetan: “Sudahlah, buat apa kamu berbuat baik? Kamu ini orang terhina di mata Allah. Buat apa sih bertaubat? Nggak ada gunanya! Cuma bikin capek. Mana ada yang mau percaya sama kamu! Sama saja, kan? Daripada berbuat baik tapi tidak dipercaya, mending sekalian saja jadi orang jahat! Biar tahu rasa mereka itu! Biar sekalian puas! Huh!

Sebaliknya, beliau menyarankan dua hal mendasar. Pertama, memintakan ampunan kepada Allah serta mendoakan kebaikan untuknya. Inilah hak sesama muslim, yakni dibantu dan dibela agar terselamatkan agamanya. Bukankah saudara kita itu tengah terjungkal di-smack down oleh setan, sehingga terjerumus dalam maksiat? Sebagai sesama muslim, bukankah seharusnya ia dibantu? Yang terhina adalah setan musuh kita itu, bukan saudara kita sesama muslim. Maka, kalahkan tipuan setan, perlemah bisikannya, dan bukan sebaliknya: menolong serta mempertegasnya.

Kedua, beliau menyuruh kita untuk menunjukkan letak kekeliruan saudara kita. Artinya, tunjukkan bahwa perbuatannya sangat buruk dan memalukan; bahwa kita seluruhnya samasekali tidak simpatik atau mendukung. Jelas, beliau menyuruh kita “mencela perbuatannya”, bukan “menghinakan orangnya”.

Setan pada kenyataannya ringkih dan tidak berdaya, namun ia sangat lihai dan licik memanfaatkan celah-celah kelemahan serta kealpaan manusia. Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa tipudaya setan itu sesungguhnya sangat lemah (Qs. An-Nisa’: 76).

Setan hanya bisa menghias segala keburukan di mata manusia sehingga tampak indah dan baik. Jika sudah begini, pada hakikatnya manusia sendiri yang memilih jalan keburukan. Ia telah tertipu, dan kelak setan bahkan berlepas diri darinya samasekali. Masing-masing akan berhadapan dengan Allah dan menerima balasan yang setimpal. (Qs. Al-Hasyr: 16; al-Anfal: 48; at-Taubah: 37).

Rasulullah memberi contoh dengan menganugerahkan gelar-gelar yang baik kepada para Sahabatnya. Lihatlah, Abu Bakar diberinya nama panggilan ash-shiddiq (yang sangat jujur). Umar mendapatkan nama al-faruq (yang sangat tegas memilah hak dan batil). Utsman mendapat dzun nurain (pemilik dua cahaya). Ali disebut aqdhaa (yang paling pandai memutuskan perkara). Abu Ubaidah disebut amiinu hadzihil ummah (orang kepercayaan umat ini). Zubair dinamai hawariyyu (sahabat setia). Daftar ini masih bisa terus diperpanjang.

Sebaliknya, jika ada Sahabat yang namanya bermakna buruk, tidak pada tempatnya, menandakan pesimisme, atau berkonotasi syirik, beliau akan mengubah dan menggantinya. Zainab, salah seorang istri beliau, nama aslinya adalah Barrah (yang maha baik). Ini hak Allah, maka tidak layak disandang manusia.

Ada seorang pemuka suku yang bergelar Zaid al-Khail (si Kuda), datang menghadap Nabi dan masuk Islam. Namun, beliau menggantinya, “Kamu adalah Zaid al-Khair (si Baik).” Konon, nama asli Abu Bakar ash-Shiddiq adalah Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah), dan beliau menggantinya menjadi Abdullah (hamba Allah).

Inilah kekuatan “label baik”, untuk membangkitkan motivasi dan melawan cap-cap negatif yang sering membelenggu potensi ketakwaan dalam jiwa manusia. Sebab, setiap kita telah diberi potensi ketakwaan itu, dan juga potensi sebaliknya.

Allah berfirman:

“Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan, sungguh merugilah orang yang mengotorinya.” (Qs. Asy-Syams: 7-10).

Wajar pula jika Allah melarang keras kita saling mengejek dan memanggil dengan gelar-gelar yang buruk (Qs. Al-Hujurat: 11).

Maka, para guru, pengasuh, orang tua, pendidik, juga kita semua, seharusnya berhati-hati dalam berbicara. Jangan sampai label, gelar atau cap yang kita berikan kepada seseorang justru menjadi alat bagi setan untuk menjerumuskannya. Astaghfirullah!

Ust. M. Alimin Mukhtar