Beranda blog Halaman 363

Bergosip Hingga Terperosok ke dalam Perangkap Setan

Ilustrasi bergunjing dan bullying (Sumber: Pixabay/ Succo)

MADINAH Al-Munawwarah heboh. Seisi kota dilanda kasak-kusuk dan cerita tidak sedap. Menyebar diam-diam dari mulut ke mulut, bagai kanker yang menggerogoti tubuh.

Tidak main-main, karena yang diperbincangkan adalah istri Rasulullah sendiri; yang masih muda, cerdas, enerjik, berpengaruh, dan sangat cantik. Hampir semua orang terpancing dan dengan cepatnya tersulut aneka spekulasi.

Masing-masing dengan argumen dan analisisnya. Bahkan, Rasulullah sendiri sempat bimbang antara menolak dan membenarkan. Beliau pun memanggil sebagian sahabatnya untuk dimintai pertimbangan. Ya, menurut gosip yang beredar, konon katanya: Aisyah berselingkuh!!

Situasi semakin runyam, karena setelah peristiwa yang menyulut gosip itu terjadi, Aisyah justru ditakdirkan sakit, dan – tanpa prasangka apapun – ia minta pulang ke rumah orangtuanya, Abu Bakar ash-Shiddiq.

Sebenarnya, permintaan Aisyah itu sederhana dan normal, karena ia cuma ingin bisa dirawat oleh ibunya. Tetapi, keinginan ini muncul di saat yang tidak tepat. Api fitnah pun semakin membesar. Ditambah lagi, ternyata Aisyah terbaring sakit cukup parah dan samasekali tidak pernah keluar rumah selama satu bulan!

Mungkin, gosip ini setara hebohnya jika ada istri seorang kepala negara diisukan punya affair dengan salah seorang tokoh selebritis. Lalu, ia tiba-tiba pisah rumah dengan sang presiden, dan pulang ke rumah orangtuanya. Kacaunya lagi, sebulan penuh ia tidak tampak batang hidungnya samasekali. Kurang bahan apa lagi?

Tetapi, peristiwa yang dalam Siroh Nabi dikenal sebagai Haditsul Ifki (cerita bohong) ini rupanya ada di bawah skenario tertentu yang Allah tetapkan.

Setelah segala sesuatunya nyaris tak terkendali, dan wahyu sepertinya tertahan di langit, tiba-tiba Allah membersihkan nama baik Aisyah, membebaskan pria yang dituduh sebagai “lawan mainnya” dari kenistaan, dan kemudian menegur keras kaum muslimin yang tidak berhati-hati menyaring berita, tetapi justru terpancing prasangka buruk dan dipermainkan setan melalui lidah-lidah kaum munafik.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagimu. Bahkan, ia adalah baik bagimu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Siapa diantara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar.” (Qs. An-Nur: 11).

Di masa Nabi, gosip itu menjadi baik karena dengan segera akan tersingkap kebencian di hati musuh-musuh Islam, yang senantiasa mengharap kehancuran dan kerusakan bagi kaum muslimin, khususnya Rasulullah dan Ahli Baitnya. Akan menjadi jelas, “siapa” menginginkan “apa”.

Di sisi lain, dengan itulah Allah hendak memberi pahala Rasulullah dan keluarganya. Allah melanjutkan tegurannya:

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata. Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itulah di sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu semuanya, di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa adzab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.” (Qs an-Nur: 12-14).

Demikianlah etika yang diajarkan Allah. Seharusnya, bukannya larut dalam arus spekulasi, namun kita diminta kritis dan tidak terjerat permainan “tangan-tangan” tidak tampak, yang mengail di air keruh, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, demi egonya sendiri.

Lebih tegas lagi, Allah kemudian memperingatkan kaum muslimin, agar tidak mengulangi lagi perbuatan seperti itu, yaitu membicarakan sesuatu yang tidak benar-benar mereka tahu informasinya. Sebab, mungkin bagi mereka hal itu sederhana dan remeh, akan tetapi di mata Allah sangat besar.

Lalu, Allah mengancam orang-orang yang suka menyebar-nyebarkan berita buruk dan keji di tengah-tengah masyarakat:

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs an-Nur: 19).

Maka, siapa saja yang bekerja aktif atau mendukung kegiatan yang pada intinya menyebarkan berita-berita keji diantara kaum muslimin, sebenarnya ia berada di bawah bayangan ancaman Allah ini. Sebab, meluasnya gosip maupun berita perzinaan, perselingkuhan, perceraian, gonta-ganti pasangan, kemaksiatan, dan sejenisnya, pada kenyataannnya sama dengan mengkampanyekan semua itu agar diterima dan dipersepsi sebagai sebuah gejala normal.

Ini adalah tantangan terbuka kepada agama Allah dan ajaran Rasul-Nya. Seharusnya, yang layak serta pantas diserukan dan dipopulerkan adalah kebajikan, prestasi, keteladanan, inspirasi, harmoni, dan semacamanya.

Oleh karenanya, Nabi sendiri sangat anti terhadap kabar buruk yang berkenaan dengan para Sahabatnya. Diriwayatkan bahwa beliau pernah bersabda, “Jangan sampai salah seorang dari Sahabatku menyampaikan sesuatu (informasi buruk) perihal Sahabat lainnya, sebab aku ingin keluar menjumpai kalian dalam keadaan berhati bersih.” (Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad, dari Ibnu Mas’ud dengan sanad dha’if).

Demikianlah seharusnya yang diajarkan Islam, bahwa selayaknya kita menjaga rahasia dan menutupi aib orang lain, bukan mengobral dan – justru – mengeruk keuntungan pribadi darinya. Bila kita melakukannya, sungguh itu merupakan akhlaq yang sangat tercela. Na’udzu billah.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Persaudaraan Dai Indonesia Gelar Pelatihan Guru Ngaji Nasional

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) menggelar kegiatan Pelatihan Guru Ngaji Nasional yang akan berlangsung selama 3 hari di Komplek Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah yang dibuka pada Rabu, 13 Sya’ban 1443 (16/3/2022).

Posdai adalah lembaga dakwah dibawah Departemen Komunikasi dan Penyiaran DPP Hidayatullah yang memiliki fokus gerakan pengarusutamaan pengembangan kapasitas dan kuantitas dai, khususnya untuk keterpenuhan kebutuhan dai di daerah-daerah terpelosok, terpencil, tertinggal dan minoritas.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Dr H Nashirul Haq saat membuka acara ini menyampaikan bahwasanya Al Quran adalah mukjizat akhir zaman yang sejatinya dibutuhkan sekali oleh manusia.

Oleh sebab itu, kata dia, Hidayatullah kemudian meluncurkan sebuah program bernama Grand MBA yang diharapkan menjadi gerakan kolosal untuk menekan buta aksara Al Qur’an untuk semua lapisan masyarakat.

Segandengan itu, Grand MBA atau Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Quran juga medium untuk meneguhkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT melalui kegiatan program taklim Bina Aqidah.

“Grand MBA dan Bina Aqidah adalah materi universal dengan cakupan metode praktis di dalamnya adalah sebagai ikhtiar kita membimbing masyarakat agar mudah dalam belajar dan memahami Al Qur’an,” katanya.

Nashirul menukil perkataan seorang sahabat Nabi sekaligus saudara sepupu Rasulullah yaitu Abdullah bin Abbas yang biasa disebut Ibnu Abbas, Nashirul mengingatkan peserta hendaknya terus mempelajari Al Qur’an, menghayati, mengamalkan, dan mendakwahkannya. Sebab, terangnya, mendakwahkan Al Quran adalah sebuah jihad yang besar dan utama.

“Jihad yang besar menurut Ibnu Abbas adalah jihad mengajarkan Al-Qur’an,” kata Nashirul seraya menyitir ayat Al Quran surah Al Furqan [25] ayat 52:

”Maka, janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Alquran dengan jihad yang besar”.

Lebih jauh Nashirul mengungkapkan, Hidayatullah telah mengarusutamakan dakwah sebagai pekerjaan utama. Oleh sebab itu apapun aktifitas keseharian hendaknya dalam bingkai spirit dakwah dalam rangka untuk mencerahkan umat dengan Al Quran.

Dalam pada itu, untuk menguatkan mainstream gerkakan tersebut, dicetuskan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) yang salah satu muatannya adalah anjuran untuk melakukan dakwah fardiyah bagi segenap kader.

Nashirul berharap, dari kegiatan nasional ini dapat semakin meningkatkan kepercayaan diri pada dai dan berupaya mengggulirkan kegiatan serupa di berbagai titik lainnya sebab umat sangat butuh dengan Al Quran.

Steering Committee (SC) Pelatihan Guru Ngaji Nasional yang juga Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran DPP Hidayatullah, Shohibul Anwar, dalam sambutannya mengatakan pelatihan untuk memantapkan program Grand MBA sebagai sebuah program gerakan nasional.

“Kegiatan ini juga untuk melalukan standardisasi dan penyeragaman baik yang berkaitan dengan dengan kurikulum maupun standar kompetensi muallim,” katanya

Dia menambahkan, kegiatan pelatihan nasional yang diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia ini juga dalam rangka menyiapkan tenaga dai muallaim sekaligus memantapkan kapasitas muallim yang telah mengemban tugas sebagai dai mengabdi di daerah pedalaman, terpencil, kawasan terluar, pelosok, tertinggal, dan minoritas.*/Rif/ain

Prajurit TNI Berlatih di Ponpes Hidayatullah Balikpapan

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) -– Hari masih pagi, sejumlah prajurit TNI bersenjata terlihat memasuki Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak di Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, tetangga Ibu Kota Negara (IKN). Jangan kaget dulu! Kedatangan pasukan loreng tersebut merupakan bagian dari latihan militer mereka.

Untuk diketahui, beberapa pekan ini, puluhan prajurit TNI dari Batalyon Infanteri (Yonif) Raider 600/Modang Kodam VI/Mulawarman menjalani pelatihan militer di ujung timur Kota Balikpapan yang berbatasan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. Pelatihan ini dilakukan sebelum mereka ditugaskan ke Papua sebagai Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) TNI AD.

Pelatihan militer itu juga digelar di kompleks Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Dalam rangkaian kedatangannya ke pesantren itu, para prajurit TNI memberikan pelatihan kepada santri-santri Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) Raadhiyatan Madhiyyah Putra Hidayatullah Balikpapan.

Selain pelatihan baris-berbaris, prajurit TNI yang bermarkas di Kelurahan Manggar, Balikpapan Timur, itu juga menyampaikan pengenalan seputar dunia kemiliteran. Kegiatan itu melibatkan santri SMH kelas 1-3, berlangsung di pesantren yang dikenal “Hidayatullah Ummulqura” itu, Sabtu (12/03/2022).

Menurut Zen Suprapto, selaku pelatih prajurit TNI itu, kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan para santri terkait dunia kemiliteran.

“Kita ke sini ya untuk coba memerkenalkan dunia kemiliteran kepada santri-santri, seperti ini, dasar-dasarnya saja. Kita berharap nanti adalah adek-adek santri ini tertarik dan bisa ikut di militer,” tuturnya saat diwawancarai Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah di sela-sela kegiatan tersebut.

“Kami berharap nanti ada dari santri-santri ini yang bisa masuk TNI, apalagi komandan yang sekarang itu beliau senang sekali sama santri, apalagi hafizh al-Qur’an itu lebih diutamakan,” ujarnya.

Kehadiran anggota TNI di Pesantren Hidayatullah juga sekaligus untuk berlatih. Mereka antara lain berlatih mengajar anak-anak.

“Jadi mereka (prajurit TNI) tidak hanya mengajar santri ini aja, tapi mereka kita ajak ke sini sekalian kita suruh belajar mengajar anak-anak, karena yang di sana (menunjuk pasukan bersenjata, red) itu nanti kita mau kirim ke Papua. Nah biar ada basic mengajar, kita suruh mereka (mengajar santri) seperti itu,” ungkapnya.

Dalam kegiatan latihan itu, prajurit dari Yonif Raider 600/Modang tersebut menjadikan kampus Yayasan Ittihaadi Mardhatillah Indonesia (YIMI) sebagai markas pelatihan. YIMI merupakan yayasan sosial di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan.

YIMI beralamat di Jl PDAM, Blukus, beberapa ratus meter di bagian barat Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak. Dalam beberapa pekan belakangan ini, setidaknya sudah dua kali Yonif Raider 600/Modang melakukan pelatihan di sekitaran pesantren dan bermarkas di gedung YIMI. Sejumlah warga pun sempat turut menyaksikan latihan tersebut dan mendengar suara tembakan.

Pelatihan di Balikpapan itu sebagai persiapan para prajurit TNI sebelum ditugaskan ke Papua. Kalau nanti para prajurit itu banyak berinteraksi dengan anak-anak muda Papua, mereka sudah terlatih sejak di Balikpapan memberikan pelatihan.

“Itu pun kalau di tempat mereka nanti (di Papua) ada anak-anaknya, siapa tahu bapak-bapak semua di sana,” canda Zen sembari tertawa kecil.

Pelatihan yang diadakan oleh TNI itu disambut hangat oleh warga dan santri Hidayatullah. Terlihat bagaimana antusiame santri dalam menerima materi dari masing-masing prajurit.

“Keren sih gayanya mereka, tadi saya ikut di pengenalan senjata, ternyata senjata itu ada banyak, baru tahu saya,” ucap Rifky, salah seorang santri, setelah pelatihan di depan gedung laboratorium SMH itu.

“Tadi juga saya sempat megang senjatanya, ya lumayan berat sih, keren juga senjatanya. Saya sebenarnya tertarik ikut TNI, tapi saya takut kalau tugasnya jauh,” lanjutnya berguyon sembari tertawa.

Santri lainnya juga mengungkapkan rasa senang mengikuti materi kemiliteran yang diberikan.

“Ya, senang ikut, tadi saya ikut persenjataan, tadi ada disebutin pasukan apa gitu, tertarik juga saya lihatnya,” tutur salah seorang santri kelas 1 SMH.

Sementara itu, pihak YIMI juga menyampaikan terima kasih atas kepercayaan dari pihak TNI lewat penggunaan kampus YIMI.

“Gawi Manuntung Waja Sampai Kaputing. Terima kasih kepada Yonif Raider 600/Modang Kodam VI/Mulawarman atas kepercayaannya menjadikan Kampus Yayasan Ittihaadi Mardhatillah sebagai tempat latihan prajurit Tentara Nasional Indonesia. Semoga bapak Tentara Nasional Indonesia sehat selalu dan menjadi garda terdepan membela negara. Aamiin,” ujar Ketua YIMI Fathun Qorib dalam keterangannya di Balikpapan bersama Ketua Harian Imam Muhammad dan Sekretaris Miftahussalam Mubarak baru-baru ini.

Sebagai informasi, Pesantren Hidayatullah Balikpapan Gunung Tembak terletak pada dua titik lokasi berdampingan di Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur. Lokasi utama pesantren itu disebut Kampus Tarbiyah (Pendidikan), tempat dimana para santri SMH tersebut dilatih oleh prajurit Yonif Raider 600/Modang. Tepat di samping barat Kampus Tarbiyah itu, merupakan Kampus Dakwah, sebuah lokasi pemukiman warga pesantren yang berdampingan dengan perumahan warga pada umumnya. Di samping Kampus Dakwah ini kompleks YIMI berada.

Pada Selasa (15/03/2022) siang, prajurit Yonif Raider 600/Modang itu tuntas menyelesaikan latihannya pada sesi kedua. Sebelum kembali ke markas mereka di Manggar, para tentara berpamitan dengan warga setempat, Ketua RT 47, serta sejumlah pengurus YIMI.

Pihak YIMI kemudian memberikan ucapan terima kasih secara simbolis kepada pihak Yonif Raider 600/Modang. Ucapan terima kasih juga disampaikan pihak TNI kepada pengurus YIMI.

Bukan sekali ini saja. Sudah sejak lama Pesantren Hidayatullah bersinergi dengan pihak TNI termasuk di Balikpapan. Pada Jumat (25/02/2022), pihak Komando Distrik Militer (Kodim) 0905/Balikpapan bersama Komando Daerah Militer (Kodam) VI/Mulawarman telah mengunjungi Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Ummulqura di Gunung Tembak.

Mereka mengadakan kampanye kreatif penerimaan calon bintara (caba) TNI AD TA 2022 bagi santri Hidayatullah Balikpapan di Aula Abdullah Said, Gunung Tembak.

Acara ini diikuti sekitar 140 santri dari Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah Putra (MARAMA) Gunung Tembak dan para penghafal Al-Qur’an dari Ma’had Tahfidz Ahlus Shuffah Gunung Binjai.

Acara tersebut bertajuk “Kampanye Kreatif dalam rangka penerimaan prajurit TNI AD Akmil, Sepa PK, Secaba PK, Secata PK serta jalur khusus santri dan lintas agama di wilayah Kodim 0905/Balikpapan TA 2022”.

Kepala SMH Hamimal Mustafa Rizky, menyambut gembira dan berterima kasih kepada pihak Kodim 0905/Bpn dan Kodam VI/Mulawarman itu, atas kedatangan mereka ke Pesantren Hidayatullah.

“Suatu kehormatan khususnya bagi kami di Pesantren Hidayatullah khususnya di Madrasah Aliyah yang telah didatangi tim Kodim 0905/Bpn,” ujarnya dalam sambutannya.

Hamimal menjelaskan, sebelumnya sudah ada sejumlah alumnus Marama yang telah bergabung dan menjadi bagian dari TNI. Baik yang mendaftar di Kalimantan maupun di daerah lain seperti Sulawesi.

“Banyak santri yang ingin ambil bagian dengan TNI tapi mungkin belum ada jalur,” ujar alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini.

Pada era 90-an, cukup sering TNI menggelar latihan di wilayah pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, termasuk menggunakan danau pesantren sebagai tempat latihan berenang.* (Asrijal/ Media Center Ummulqura Hidayatullah Balikpapan)

Menyempurnakan Ruku’ dan Sujud Kita

Foto ilustrasi bersujud (sumber: pixabay/ Purwaka Seta)

KITA pasti merasa sakit hati dan marah jika dituduh sebagai pencuri, padahal kita tidak melakukannya. Lalu, bagaimana jika kita dituduh sebagai “pencuri paling buruk”? Sudah pencuri, ditambahi gelar “paling buruk” lagi.

Tetapi, ternyata itu belum cukup. Bagaimana jika tuduhan itu datang dari junjungan kita, Rasulullah sendiri, padahal kita justru sedang beribadah dan berusaha melaksanakan perintahnya? Kita sedang beribadah malah dituduh sebagai maling? Tetapi, bukankah pernyataan beliau pasti benar dan tidak pernah mengada-ada?

Benar, memang demikianlah adanya. Diceritakan oleh Abdullah bin Mughaffal, bahwa Nabi bersabda: “Pencuri paling buruk adalah orang yang mencuri shalatnya.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa dia mencuri shalatnya?” Beliau menjawab, “Dia tidak menyempurnakan ruku’ serta sujudnya. Dan, orang yang paling pelit adalah yang pelit mengucapkan salam.” (Riwayat Thabrani dalam tiga Mu’jam-nya. Menurut al-Haitsami: para perawinya bisa dipercaya).

Para sahabat itu sama keheranannya dengan kita. Tetapi, penjelasan Nabi adalah sangat masuk akal.

Bila seseorang mengerjakan shalat dengan tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, bukankah ia seolah hanya bermain-main di hadapan Tuhannya? Ia mungkin terlihat beribadah, tetapi sebenarnya tidak.

Mengapa ia tidak berdiri di hadapan Tuhannya seperti seorang perindu yang menjumpai kekasihnya? Ingin berlama-lama, dan bila saja boleh, tidak perlu beranjak dari situ untuk selamanya.

Akan tetapi, ia justru mempercepat ruku’ dan sujudnya seakan berdiri di depan bangkai busuk dan ingin secepatnya kabur, karena muak dan mau muntah. Ia membaca doanya secara cepat dan sangat terburu-buru, seakan tidak sadar bahwa ia tengah memuji dan mengagungkan Tuhannya. Orang seperti ini, rasa-rasanya cukup pantas disejajarkan dengan “pencuri paling buruk”, untuk menggambarkan buruknya perbuatan yang ia lakukan.

Lalu, bagaimana kita bisa menyempurnakan ruku’ dan sujud?

Diceritakan oleh Ibnu Mas’ud: sesungguhnya Nabi bersabda, “Jika salah seorang dari kalian ruku’ lalu membaca: subhana rabbiyal ‘azhim – tiga kali – dalam ruku’-nya, maka telah sempurnalah ruku’-nya, dan itu adalah yang paling minimal. Dan jika ia sujud lalu membaca: subhana rabbiyal a’la – tiga kali – maka telah sempurnalah sujudnya, dan itu adalah yang paling minimal.” (Riwayat Tirmidzi. Hadits dha’if).

Di belakang hadits ini, Imam Tirmidzi menyatakan bahwa, isnad-nya tidak bersambung, namun isinya diamalkan para ulama’. Artinya, kita dianjurkan membaca tasbih tidak kurang dari tiga kali dalam ruku’ dan sujud. Imam Abdullah bin Mubarak menganjurkan para imam agar membaca tasbih sebanyak lima kali supaya makmum bisa bertasbih tiga kali.

Dalam kitab-kitab fiqh kita temukan bahwa salah satu rukun shalat adalah thuma’ninah (tenang), yang biasanya disertakan bersama ruku’, i’tidal, sujud, dan duduk diantara dua sujud. Kita pasti temukan keterangan ini dalam kitab fiqh standar yang paling ringkas sekalipun, seperti Al-Ghayah wa at-Taqrib karya Qadhi Abu Syuja’ yang populer di pesantren-pesantren.

Jika sikap tenang, tidak buru-buru, dan penuh kekhusyu’an merupakan “rukun shalat”, itu artinya shalat kita tidak akan sah jika ia terlewatkan. Tanpa thuma’ninah, gerakan-gerakan tersebut tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah.

Abu Hurairah menuturkan: sesungguhnya Rasulullah memasuki masjid. Lalu, ada seseorang yang masuk masjid, mengerjakan shalat, dan mengucapkan salam kepada beliau. Beliau menjawab salamnya lalu bersabda, “Kembalilah, sebab sungguh engkau belum mengerjakan shalat.” Ia pun kembali dan mengulangi shalatnya seperti yang sebelumnya.

Orang tersebyu lalu mendatangi Rasulullah kembali dan mengucapkan salam. Beliau bersabda, “Kembalilah, sebab sungguh engkau belum mengerjakan shalat.” Ini berulang sampai tiga kali.

Orang itu lalu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan (membawa) kebenaran, saya tidak bisa (mengerjakan shalat) yang lebih baik dari ini. Ajarilah saya”.

Rasulullah kemudian bersabda, “Jika engkau berdiri hendak mengerjakan shalat, maka bertakbirlah. Lalu, bacalah bagian Al-Qur’an yang terasa ringan bagimu. Lalu, ruku’lah sehingga engkau tenang (thuma’ninah) dalam ruku’mu. Lalu, bangkitlah sampai engkau tegak berdiri. Kemudian, sujudlah sehingga engkau tenang dalam sujudmu. Lalu, bangunlah sampai engkau tegak dalam dudukmu. Kerjakanlah semua itu dalam keseluruhan shalatmu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Tampaknya, mengerjakan shalat dengan cepat dan buru-buru bukan cerita baru. Bahkan, di masa hidup Nabi sendiri, ada saja orang-orang yang tidak benar dalam shalatnya. Teguran beliau demikian jelas: “Kembalilah, sebab sungguh engkau belum mengerjakan shalat.”

Tindakan orang itu juga memperlihatkan dengan jelas maksudnya: dia kembali, dan mengulangi shalatnya, bahkan sampai tiga kali!

Apa yang terjadi, andai beliau hidup kembali di tengah-tengah kita sekarang, lalu duduk di salah satu sudut masjid ini, dan memperhatikan shalat kita? Jika kita ditegur seperti itu, bukankah shalat kita harus diulangi? Bagaimana jika kita menjadi imam? Bukankah seisi masjid akan beliau nilai tidak mengerjakan shalat, dan beliau akan meminta kita – seluruhnya – mengulang kembali?

Bagaimana jika lima kali sehari, tujuh hari sepekan, empat pekan sebulan, duabelas bulan setahun, seumur hidup? Atau, belasan dan puluhan rakaat dalam tarawih sepanjang Ramadhan? Subhanallah!

Maka, sempurnakan shalat kita, agar kita tidak ber-takbiratul ihram dan merasa sebagai mushalli (orang yang mengerjakan shalat), tetapi di mata Allah justru menjadi sekumpulan pencuri! Na’udzu billah.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Penting Bekali Peserta Didik dengan Ilmu Kemasyarakatan

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr H Nashirul Haq, MA, mengungkapkan pentingnya membekali peserta didik dengan ilmu kemasyarakatan atau tarbiyah ijtimaiyah, tak terkecuali bagi santri yang menimba ilmu di Hidayatullah.

Tarbiyah ijtimaiyah atau pendidikan wawasan kemasyarakatan sangat penting karena para santri akan kembali berkiprah di tengah masyarakat apapun profesinya. Maka perlu dilatih agar bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat,” kata Nashirul.

Hal itu disampaikan beliau dalam sambutannya ketika membuka secara resmi helatan Daurah Marhalah Ula (DMU) Nasional SMA digelar secara hibryd yang berpusat di Aula Sekolah Pemimpin, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Selasa, 12 Sya’ban 1443 (15/3/2022).

Masih dalam sambutannya, Nashirul berpesan hendaknya senantiasa mengasah diri dan menjadikan masanya sekarang ini sebagai momentum untuk membangun kualias diri.

Sebagai seorang muslim, katannya, hendaknya tidak saja cerdas dalam berfikir tetapi juga memiliki rasa kepedulian yang diantaranya ditunjukkan dengan kecakapan interaksi dalam bersosialisasi dan kemampuan memahami, berempati, dan peduli terhadap berbagai keadaan.

“Orang yang tidak punya kepedulian tidak punya kecerdasan emosional dan orang seperti ini tidak layak jadi manusia sebetulnya, apalagi mau jadi pemimpin,” katanya.

Lebih jauh, beliau juga menekankan pentingnya penanaman pendidikan kemasyarakatan bagi segenap peserta didik sebab mereka akan kembali berkiprah di tengah masyarakat apapun profesinya.

“Maka perlu dilatih agar bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat dan dengan dengan segala jenis manusia,” katanya melanjutkan.

Ia mendorong penyelenggara pendidikan menguatkan sisi pendidikan kemasyarakatan sehingga kelak peserta didik di usia mudanya sudah siap berkiprah di masyarakat. “Bisa berkontribusi sekecil apapun seperti mengajar mengaji, bersih bersih masjid di sekitar lingkungannya tinggal. Jangan habis waktunya dengan kegiatan monoton,” ujarnya.

Begitupun penempaan selama menjalani masa pendidikan di lingkungan Pesantren Hidayatullah. Ketika mendapatkan tugas sekecil apapun itu hendaknya dijalankan dengan penuh penuh rasa tangggung jawab dan amanah. “Itu adalah latihan menjadi pemimpin. Jangan menghindari tugas, sekecil apapun itu,” tandasnya.

Dalam pembukaan DMU SMA ini, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Nashirul Haq juga turut didampingi jajaran lainnya yaitu Kabid Tarbiyah Abu A’la Abdullah, Ketua Departemen Kepesantrenan Muhammad Syakir Syafii, dan tampak pula Ketua DPD Hidayatullah Depok Hafidz Bahar beserta pengurus Yayasan Hidayatullah Depok, Kepala SMA Hidayatullah Depok dan dewan guru lainnya.

DMU SMA yang mengangkat tema “Menjadi Kader Mujahid Muda Hidayatullah yang Cerdas dan Militan” digelar secara serentak di 34 Provinsi yang akan berlangsung selama 3 hari di semua kampus kampus Hidayatullah se-Indonesia. Kegiatan ini juga melibatkan Dewan Murabbi, Pemuda Hidayatullah, dan Muslimat Hidayatullah.*/Ainuddin

Ketua Umum Hidayatullah Buka DMU SMA Nasional

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr H Nashirul Haq, MA, membuka secara resmi helatan Daurah Marhalah Ula (DMU) Nasional SMA sekaligus Orientasi Umum digelar secara hibryd yang berepisentrum di Aula Sekolah Pemimpin, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Selasa, 12 Sya’ban 1443 (15/3/2022).

Setelah menyapa ribuan hadirin peserta offline di lokasi pembukaan acara maupun hadirin yang mengikuti secara online dari 34 provinsi se-Indonesia, Ust Nashirul memotivasi peserta hendaknya selalu semangat dalam beribadah, menjaga akhlak, rajin belajar, dan berdakwah.

“Mulia pribadinya, lurus aqidahnya, al-Quran akhlaknya, selalu semangat beribadah, dan siap berdakwah menuju Allah dalam komitmen jamaah demi tegak Islam kaffah,” katanya seraya menukil lirik mars Pandu Hidayatullah.

Dalam pada itu, Nashirul juga berpesan kepada penyelenggara pendidikan agar senantiasa menguatkan perannya. Ia pun mengungkap 3 hal orientasi pendidikan yang menjadi tantangan kedepan, yaitu Karakter, Narasi, dan Kompetensi.

Masih dalam sambutannya, Nashirul berpesan kepada peserta DMU hendaknya senantiasa mengasah diri dan menjadkan masanya sekarang ini sebagai momentum untuk membangun kualias diri.

Sebagai seorang muslim, pesannya, hendaknya tidak saja cerdas dalam berfikir tetapi juga memiliki rasa kepedulian yang diantaranya ditunjukkan dengan kecakapan interaksi dalam bersosialisasi dan kemampuan memahami, berempati, dan peduli terhadap berbagai keadaan.

“Orang yang tidak punya kepedulian tidak punya kecerdasan emosional dan orang seperti ini tidak layak jadi manusia sebetulnya, apalagi mau jadi pemimpin,” katanya berpesan.

Lebih jauh, beliau juga menekankan pentingnya penanaman tarbiyah ijtimaiyah atau pendidikan kemasyarakatan bagi segenap peserta didik sebab mereka akan kembali berkiprah di tengah masyarakat apapun profesinya.

“Maka perlu dilatih agar bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat dan dengan dengan segala jenis manusia,” katanya menandaskan.

Steering Committee yang juga Ketua Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah KH Muhammad Syakir Syafii berharap dari kegiatan ini memberi bekal kepada peserta sebagai ujung tombak perjuangan dalam membangun peradaban Islam di persada bumi Nusantara hingga dunia.

“DMU kali ini merupakan event kali kedua yang diselenggarakan serentak secara nasional dibawah koordinasi Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah,” kata KH Syakir.

Dia mengatakan, DMU kali ini diikuti oleh santri Hidayatullah kelas 11 (kelas 2 SMA/ sederajat) atau sesusia dengan usia kelas 2 SMA baik putra maupun putri.

Adapun total peserta yang mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan ini sebanyak 2596 santri dengan rincian 1158 santri putri dan 1438 santri putra.

Sementara, Syakir menambahkan, jumlah rombongan belajar (rombel), ada 121 rombel yang terdiri dari rombel putra 54 dan rombel putri 67. Sementara jumlah instruktur total 431 terdiri dari 248 ustadz dan 183 ustazah.

Dalam pembukaan DMU SMA ini, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Nashirul Haq juga turut didampingi jajaran lainnya yaitu Kabid Tarbiyah Abu A’la Abdullah, dan tampak pula Ketua DPD Hidayatullah Depok Hafidz Bahar beserta pengurus Yayasan Hidayatullah Depok, Kepala SMA Hidayatullah Depok dan dewan guru lainnya.

DMU SMA yang mengangkat tema “Menjadi Kader Mujahid Muda Hidayatullah yang Cerdas dan Militan” akan berlangsung selama 3 hari di semua kampus kampus Hidayatullah se-Indonesia. Kegiatan ini juga melibatkan Dewan Murabbi, Pemuda Hidayatullah, dan Muslimat Hidayatullah.*/Ainuddin

Meneropong 3 Orientasi Pendidikan Masa Depan

0

TANTANGAN pendidikan masa kini semakin tidak ringan. Dibutuhkan tidak saja modal semangat, melainkan juga inovasi dan kemampuan mengaktualiasi nilai nilai pendidikan Islam sebagai jawaban dalam menghadapi problem kependidikan masa depan.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr H Nashirul Haq, MA, saat membuka secara resmi helatan Daurah Marhalah Ula (DMU) Nasional SMA, mengungkapkan 3 hal orientasi pendidikan yang menjadi tantangan kedepan.

Nashirul menyebutkan ketiga tantangan tersebut, yaitu Karakter, Narasi, dan Kompetensi.

Seraya itu, ia berpesan kepada penyelenggara pendidikan hendaknya senantiasa menguatkan perannya untuk mantapnya kualitas penyelenggaraan pendidikan.

“Jadi kalau sekedar kecerdasan saja, robot pun sudah lebih cerdas dari kita. Maka yang paling menentukan adalah karakter,” katanya.

Hal itu disampaikan beliau dalam sambutannya membuka secara resmi helatan Daurah Marhalah Ula (DMU) Nasional SMA digelar secara hibryd yang berepisentrum di Aula Sekolah Pemimpin, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Selasa, 12 Sya’ban 1443 (15/3/2022).

Nashirul menegaskan, karakter sangat penting. Apalagi, terang dia, sekarang ini sudah ada kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semua bisa dikendalikan dengan robot atau teknologi.

Ia menekankan bahwa tanpa karakter luhur, kecerdasan yang dimiliki seperti tak bernilai. Namun, karakter pun harus ditopang dengan narasi atau ilmu.

“Barulah setelah karakter adalah narasi. Narasi ini ilmu. Ilmu yang selalu dikembangkan. Dan, narasi yang dikembangkan oleh Hidayatullah adalah merupakan derivasi dari wahyu, karenananya pendidikan Hidayatullah diistilahkan dengan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid,” terangnya.

Nashirul menjelaskan, semua ilmu harus dijiwai dengan nilai nilai Quran karena Al Quran adalah sumber ilmu dan sumber inspirasi.

Maka, lanjutnya, peserta didik bertanggung jawab mengembangkan ilmu pengetahuan dan sains kedepan berdasarkan nilai nilai Tauhid yang oleh sarjana muslim diistilahkan sebagai islamisation of human knowledge (IOHK).

“Harus melakukan islamisasi ilmu, karena ilmu sekarang ini banyak yang disalahgunakan dan kehilangan orientasi. Orientasinya dunia dan materi semata, yang tidak lagi memuat nilai kemaslahatan dan kemanusiaan. Maka narasi narasi yang harus kita bangun adalah narasi ilmu yang berlandaskan kepada Wahyu,” ungkapnya.

Nashirul lantas menguraikan orientasi pendidikan masa depan lainnya, yaitu kompetensi. Aspek ini, kata dia, sangat penting. Karenanya, peserta didik kedepan harus memiliki keterampilan.

“Ilmu saat ini sudah mudah didapatkan, namun kompetensi harus terus dilatih dan kembangkan yang karena itu membutuhkan latihan dan proses yang panjang,” jelasnya.

Ia seraya menyebutkan orientasi kompetensi ini sepenarikan nafas dengan konsepsi Al Quran yang ingin mengantarkan setiap orang beriman memiliki 2 hal sekaligus sebagaimana dalam Al Quran surah Sad ayat 45: ulil aidi wal abshar.

Dia menjelaskan, ulil aidi adalah orang orang yang memiliki keterampilan atau skil apa saja. Berkenaan dengan penyiapan kompetensi ini, Nashirul bercerita pernah mengunjungi sekolah favorit di Massachusetts, sebuah negara bagian Amerika Serikat.

Nashirul mengisahkan, sekolah yang dikunjunginya tersebut menerapkan model berasrama layaknya pondok pesantren di Indonesia. Mereka yang bersekolah di situ bukan orang biasa, umumnya anak anak orang beken seperti anak pangeran negara negara Arab dan senator.

“Ternyata, modelnya itu kayak pesantren. Ada workhsopnya. Ada tempat untuk bikin berbagai keterampilan. Saya (langsung) bayangkan Gunung Tembak, kayak begini aja, (tapi) kok jadi pilihan. Kegiatan mereka tidak melulu di kelas, kenapa, karena mereka disiapkan menjadi leaders,” ujarnya.

Nashirul mengatakan, para santri pun mesti berbangga karena sekolah di pesantren dan dididik di tempat kondusif yang memungkinkan mengembangkan berbagai kompetensi yang mereka miliki.

“Harus terampil. Harus memiliki karakter. Ini harus menjadi perhatian. Karena kecerdasan intelektual hanyalah salah satu aspek yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Nah, inilah yang menjadi kesadaran kita,” katanya berpesan.

Tidak cukup hanya terampil. Santri juga hendaknya memilliki karakter ulil abshar, yaitu bervisi hidup dan memiliki pandangan jauh kedepan serta memiliki pikiran besar dan tekun beribadah.

Mufassirin menjelaskan ulil abshar itu adalah orang yang berpikiran maju dan tekun beribadah. Inilah yang kita ingin lahirkan di Hidayatullah,” katanya.

Karenanya, terangnya, di dalam lingkungan pendidikan Hidayatullah aspek ibadah menjadi hal yang sangat penting yang juga senafas dengan tujuan pendidikan nasional untuk melahirkan peserta didik yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, cakap, mandiri, dan demokratis.

“Jadi mestinya, sistem pendidikan nasional kita penilaiannya adalah penilaian karakter yang pertama yaitu beriman, takwa, dan akhlak. Kalau sudah gagal di akhlak, ibadahnya tidak karu-karuan, ya tidak perlu dinilai yang lain. Bagaimana kira kira, setuju nggak,” katanya tersenyum sambil bertanya.

Nashirul berpesan, tiga orientasi ini: Karakter, Narasi, dan Kompetensi, hendaknya menjadi perhatian bagi semua penyelenggara pendidikan.

“Hidayatullah hadir sebagai swaka generasi dengan pondok pesantren dan lembaga pendidikannya untuk menyelamatkan generasi karena kehidupan yang dihadapi saat ini sungguh berat tantangannya,” imbuhnya.

Dalam pembukaan DMU SMA ini, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Nashirul Haq juga turut didampingi jajaran lainnya yaitu Kabid Tarbiyah Abu A’la Abdullah, Ketua Departemen Kepesantrenan Muhammad Syakir Syafii, dan tampak pula Ketua DPD Hidayatullah Depok Hafidz Bahar beserta pengurus Yayasan Hidayatullah Depok, Kepala SMA Hidayatullah Depok dan dewan guru lainnya.

DMU SMA yang mengangkat tema “Menjadi Kader Mujahid Muda Hidayatullah yang Cerdas dan Militan” digelar secara serentak di 34 Provinsi yang akan berlangsung selama 3 hari di semua kampus kampus Hidayatullah se-Indonesia. Kegiatan ini juga melibatkan Dewan Murabbi, Pemuda Hidayatullah, dan Muslimat Hidayatullah.*/Ainuddin

BMH Bersama Duta Parenting Realisasikan Program Peduli Kesehatan Santri di Maluku

MALUKU (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) BMH Perwakilan Maluku bersinergi dengan istri Gubernur Maluku yang juga Duta Perangi Stunting (Parenting) Provinsi Maluku, Widya Pratiwi Murad Ismail, menggelar event kesehatan untuk santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Negeri Liang, Dusun Tanah Merah, Maluku Tengah, Ahad, 10 Sya’ban 1443 (13/3/2022).

Dalam kesempatan tersebut, Widya Pratiwi Murad selaku Ketua TP-PKK Maluku menyerahkan secara simbolis bantuan berupa Al-Qur’an, sajadah dan mukena saat hadiri kegiatan Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas yang berlangsung Pondok Pesantren Hidayatullah Liang, Kabupaten Maluku Tengah ini.

Tak hanya itu, Istri orang nomor satu di Maluku ini juga, memberikan sembako berupa beras, minyak goreng, telur, dan juga daun teh celup kepada para santri dan juga para guru mengaji yang ada di pesantren itu.

Widya mengungkapkan, ini merupakan wujud kepedulian dirinya sebagai Ketua TP-PKK Maluku terhadap santri yang ada di pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan formal, agama dan pendidikan Akhlak bagi para santri.

Dalam diskusi bersama para santri serta guru-guru juga penyelenggara kegiatan BMH terkait masalah stunting, Widya menjelaskan, sejak dirinya dikukuhkan sebagai Duta Perangi Stunting dimana prevelensi stunting di tahun 2019 mencapai 34, 02 persen dan kemudian pasca tiga tahun menjabat sebagai Ketua TP-PKK Maluku, angka stunting turun menjadi 28,7 persen.

“Upaya kerja keras kita bersama membuahkan hasil yang menggembirakan namun tugas dan tanggung jawab kita masih belum selesai dari target nasional di tahun 2024 sebesar 14 persen ” jelasnya.

Selain itu kata Widya, agar semua elemen dapat bersinergi dalam memerangi stunting hal ini bukan saja menjadi tugas dari sektor kesehatan tapi juga sektor non kesehatan.
.

Istri Gubernur Maluku, Ibu Widya Pratiwi Murad Ismail dalam sambutannya mengapresiasi BMH Maluku yang turut serta berkontribusi dalam mendukung pemerintah dalam hal kesehatan anak bangsa dan medukung upaya pemerintah dalam upaya percepatan penurunan stunting di Maluku.

“Apresiasi dan terima kasih saya sampaikan kepada Lembaga Amal Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan semua pihak atas dukungan dan kontribusinya dalam mendukung upaya pemerintah untuk kesehatan, khususnya percepatan penurunan stunting,” ungkapnya

“Dengan optimisme dan kerja keras bersama untuk mencapai target maksimal saya yakin akan memberi dampak signifikan terhadap percepatan perbaikan gizi di Indonesia khususnya tanah raja-raja yang kita cintai,” tandasnya.

Kepala BMH Perwakilan Maluku, Supriyanto, menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas dukungan Ibu Gubernur atas keterlibatannya dalam program event kesehatan untuk santri tersebut.

“Alhamdulillah program kesehatan BMH kali ini mendapat apresiasi dan dukungan dari Ibu Gubernur Maluku,” kata Supriyanto.

Hadir juga Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, karo Kesra Setda Provinsi Maluku, kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, serta OPD Maluku Tengah dan Tim Kesehatan dari Dinas Kesehatan Provinsi Maluku.

Menurut Supriyanto, momentum ini merupakan rangkaian dari program BMH memperingati Hari Gizi Nasional.

“Harapannya kita dapat mewujudkan generasi muda yang sehat melalui pemenuhan gizi anak agar terhindar dari stunting, terlebih lagi kepada mereka yang berhak menerima,” tutur Supriyanto.

Pada momentum ini sebanyak 230 santri antusias menerima layanan kesehatan. Kemudian ada juga dari majelis taklim, guru dan pengasuh serta masyarakat setempat.

La Anjo, santri Putra Pondok Pesantren Hidayatullah Negeri Liang menyampaikan isi hatinya.

“Alhamdulillah, kami dapat paket gizi, paket sembako dari istri Gubernur Maluku. Terima kasih juga kami sampaikan kepada donatur. Semoga bapak dan ibu donator tetap sehat dan berkah selalu,” ujarnya sumringah.*/Arief Ismail

Silaturrahim FKPP se-Jakarta Timur dengan Aleg Kuatkan Kemandirian Pesantren

JAKARTA TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Anggota dan pengurus Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) se-Jakarta Timur menggelar acara silaturrahim yang dilaksanakan di Komplek Pondok Tahfidz Marhamah Pesantren Hidayatullah, Jakarta Timur, Kamis, 7 Sya’ban 1443 (10/3/2022).

Dalam kegiatan tersebut hadir Anggota legislatif (aleg) DPR RI Fraksi PKS dari Daerah Pemilihan (DAPIL) DKI 1 Jakarta Timur, Dr. Hj. Anis Byarwati, S.Ag., M.Si, sekaligus dalam rangka serap aspirasi.

Dalam kesempatan menyampaikan sambutan, Anis Byarwati mengatakan kemajuan dan kemandirian pondok pesantren membuat kota semakin menjadi berkah.

Dengan mengusung tema “Silaturahim untuk Kerja sama dan Kesejahteraan Pondok Pesantren se-Jakarta Timur”, Anis bersama BPU PKS menyampaikan sangat mendukung kerja sama demi kemaslahatan umat dan bangsa Indonesia yang semakin berkah.

“Perkembangan pondok pesantren yang cukup pesat di ibu kota akan membawa dampak kota yang semakin berkah,” kata Anis.

Oleh karena itu, kata dia, kemajuan dan kemandirian pondok pesantren haruslah terus didorong dan dibantu, itulah yang dikatakan Anis, yang juga menjabat sebagai Ketua DPP PKS Bidang Ekonomi dan Keuangan.

Pada kesempatan ini, Anis yang merupakan Anggota Komisi XI DPR RI menjelaskan tugas-tugasnya dan amanahnya di parlemen.

Anis yang juga sangat fokus pada pemberdayaan ekonomi, membahas kondisi ekonomi bangsa yang cukup memperihatinkan.

Untuk itu, Anis sangat mendorong jika masyarakat bisa punya kemandirian ekonomi, termasuk pondok pesantren.

“Saya sangat mengapresiasi sekali, jika ada pondok pesantren yang mandiri secara ekonomi, dan saya siap mendukung, karena itu juga merupakan kesempatan saya beramal soleh, melalui program yang akan kita sinergikan. Semoga ini menjadi salah satu jalan terwujudnya kesejahteraan umat, sebagaimana cita-cita saya bersama PKS,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Bidang Pembangunan Umat (BPU) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS DKI Jakarta Ahmad Zaenudin, menyampaikan semua bentuk sinergisitas adalah dalam rangka memberikan yang terbaik untuk umat, bangsa dan negara yang kita cintai.

“BPU PKS DKI adalah bagian dari umat, akan terus mengawal pembangunan keumatan dalam bersinergi dan kolaborasi dengan pondok pesantren agar lebih berdaya,” tuturnya.

Politisi Senior PKS itu juga berharap, pertemuan silaturahmi ini dapat mendukungnya bersama PKS untuk bisa saling bersinergi, berkolaborasi, sehingga memberikan energi untuk kemajuan pondok pesantren khususnya di Jakarta Timur.

Anis juga berterima kasih karena itikad baiknya untuk bersilaturahmi dan bekerja sama disambut dengan tangan terbuka dan rasa persaudaraan yang sangat memberikan semangat dalam menjalankan amanah sebagai wakil rakyat.

Menutup pertemuannya, Anis menyempatkan diri untuk berkeliling melihat kegiatan para santri dan kondisi Pondok Pesantren Hidayatullah yang nyaman, bersih di wilayah Jakarta Timur.

Kehadiran Anis diterima langsung dan disambut baik oleh Ketua FKPP Jakarta Timur KH Mahmud Effendi beserta 37 perwakilan pondok pesantren se-Jakarta Timur.

Selain itu, hadir juga mendampingi Wakil Ketua BPU PKS DKI Jakarta Ahmad Zaenudin yang mewakili K.H. Muhammad Thamrin, para pengurus BPU PKS DKI lainnya Abdul Kholik dan Ulis Tofa serta Ketua Persatuan Umat Islam (PUI) DKI Jakarta, Gunadi. (ybh/hio)

Membangun Rumah di Surga dengan 5 Amalan ini

SEBAGIAN dari kita – Alhamdulillah – telah tinggal di rumah-rumah milik sendiri, kecil maupun besar. Sebagian yang lain sedang berusaha memiliki rumah dengan cara mengangsur melalui KPR atau skema lain sejenisnya. Sebagian lagi, baru mampu berharap suatu saat memiliki rumah yang akan ditinggalinya bersama keluarga. Tetapi, sejauh ini, semua itu adalah rumah-rumah di dunia.

Tidakkah kita memikirkan pula, bagaimana kelak tempat tinggal kita di akhirat? Sebab, pastinya akan ada banyak para raja dan penguasa zhalim yang selama di dunia ini tinggal dalam istana-istana megah, namun kelak di akhirat menjadi gelandangan. Na’udzu billah!

Akan tetapi, nasib buruk tidak hanya menimpa para penguasa zhalim. Sebagian besar rakyatnya yang lalai pun akan terjungkal ke tempat serupa. Sebab, mereka telah menghabiskan seluruh sumberdaya yang dimilikinya untuk membeli, membangun, memperbesar, memperindah, dan merenovasi rumah-rumahnya yang ada di dunia; hingga tak ada lagi yang tersisihkan untuk akhiratnya. Mereka lalai mempersiapkan rumah tempat tinggalnya di akhirat, di negeri yang kekal.

Bukan berarti kita tidak boleh memiliki rumah yang layak dan nyaman. Sebab, Rasulullah pun memiliki rumah, meski sangat bersahaja. Para sahabat beliau, yaitu generasi terbaik yang pernah dilahirkan umat manusia, juga memiliki tempat tinggal.

Kita adalah manusia berbadan wadag. Tubuh kita memerlukan tempat untuk “berlabuh” dan beristirahat. Allah telah menjadikan rumah sebagai tempat kita berlindung, menyimpan rahasia, dan juga memperoleh ketenangan. Akan tetapi, yang dicela adalah kelalaian. Yakni, bila kita menumpahkan seluruh sumberdaya yang kita miliki dan kumpulkan, demi rumah-rumah kita di dunia, melalaikan rumah-rumah kita di akhirat.

Allah menegur kealpaan ini dalam firman-Nya, “Akan tetapi, kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia. Padahal, akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (Qs al-A’la: 16-17).

Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita bisa membangun rumah-rumah di akhirat nanti, agar tidak termasuk orang-orang yang “lebih mengutamakan kehidupan dunia”? Inilah bimbingan Rasulullah untuk kita:

1. Membangun masjid, walau seukuran sarang burung merpati

Diriwayatkan dari Abu Dzarr: Nabi bersabda, “Siapa saja yang membangun masjid semata-mata karena Allah, walau hanya seukuran sarang burung merpati, niscaya Allah membangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (Riwayat Al-Bazzar dan Thabrani dalam ash-Shaghir. Menurut al-Haitsami: para perawinya terpercaya).

Hadits ini, dengan redaksi sedikit berbeda, sebenarnya juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Utsman bin ‘Affan. Diriwayatkan pula oleh para imam ahli hadits yang lain dalam kitab-kitab mereka.

2. Mengerjakan 12 rakaat shalat sunnah rawatib setiap hari secara kontinyu

Ummu Habibah, istri Nabi berkisah: saya mendengar Rasulullah bersabda, “Tidak seorang hamba muslim pun yang setiap hari mengerjakan 12 rakaat shalat tathawwu’ (sukarela), bukan shalat fardhu (wajib), semata-mata karena Allah, melainkan Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga – atau: melainkan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” Ummu Habibah berkata: “Maka, sejak saat itu saya selalu mengerjakannya.” (Riwayat Muslim).

Dalam riwayat lain yang bersumber dari ‘Aisyah, dinyatakan bahwa 12 rakaat itu adalah: 4 rakaat sebelum zhuhur, 2 rakaat sesudah zhuhur, 2 rakaat setelah maghrib, 2 rakaat sesudah isya’, dan 2 rakaat sebelum subuh.” (Riwayat Nasa’i. Hadits shahih).

3. Mengerjakan 12 rakaat shalat sunnah sebelum zhuhur

Ummu Habibah binti Abi Sufyan berkata, “Siapa saja yang dalam sehari mengerjakan shalat 12 rakaat sebelum zhuhur, niscaya Allah membangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (Riwayat Nasa’i. Hadits shahih li ghairihi).

4. Membaca surah Al-Ikhlas 10 kali

Mu’adz bin Anas al-Juhani berkata: Nabi bersabda, “Siapa saja yang membaca Qul Huwallahu Ahad sepuluh kali sampai selesai, niscaya Allah membangunkan untuknya sebuah istana di surga.” Umar bin Khattab berkata, “Kalau begitu, saya akan memperbanyaknya, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Allah (akan membalas) lebih banyak dan lebih baik.” (Riwayat Ahmad. Sanad-nya lemah, namun dikutip melalui dua jalur berbeda yang saling menguatkan, sementara para perawi lainnya bisa dipercaya.).

Penyusun kitab Shahih Kunuz as-Sunnah an-Nabawiyah menilai hadits ini shahih dan berkomentar, “Saudaraku sesama mukmin, sungguh membangun rumah di surga hanya menyita waktumu dua menit saja. Renungkanlah!”

Tentu saja, akan semakin bermakna jika surah ini dibaca dengan dimengerti makna dan perintah di dalamnya, yakni mengesakan Allah dan tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun.

5. Mengisi shaf yang lowong dalam shalat berjamaah

‘Aisyah berkata: Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang mengisi shaf yang lowong (dalam shalat berjamaah), niscaya Allah mengangkat derajatnya satu tingkat dan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga.” (Riwayat Thabrani dalam al-Ausath. Hadits shahih).

Oleh karenanya, setiap kali hendak memimpin shalat, sebelum takbiratul ihram Nabi selalu berbalik ke arah jamaahnya dan berseru, “Rapat dan luruskan shaf kalian, sebab aku bisa melihat kalian dari belakang punggungku!” (Riwayat Ahmad. Hadits shahih).

Semoga Allah membimbing kita untuk menaati-Nya, serta membangunkan untuk kita sebuah rumah yang nyaman kelak di surga. Amin.
Wallahu ‘alam.

Ust. M. Alimin Mukhtar