Beranda blog Halaman 363

Hidayatullah Surabaya Gelar Silaturrahim Kultural Syawalan 1443

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, menggelar acara Silaturrahim Kultural Syawalan 1443 H.

Acara kultural yang dilakukan setiap tahun setelah bulan suci Ramadhan kali ini diisi oleh Ketua Dewan Pembina Surabaya Ust H Abdul Rachman, Sabtu, 13 Syawal 1442 H (14/5/2022).

Acara ini dihadiri ribuan jamaah dan aktivis Hidayatullah Surabaya. Diawali dari sambutan dari Wakil wali siswa sekolah integral, Bapak Wisnu kemudian sambutan oleh Ustadz Syamsuddin, Ketua Badan Pengurus Pesantren Hidayatullah Surabaya.

Semarak rangkaian acara lainnya yaitu tausyiah agama oleh Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad yang disiarkan secara virtual dari Ma’had Ummul Quro Hidayatullah Balikpapan dan Ust H Abdul Rachman, Murabbi Am Hidayatullah Jawa Timur. (ybh/hio)

Pemuda Hidayatullah Ajak Milenial Tumbuhkan Minat Baca

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Mas Imam Nawawi, menyentil kesadaran generasi milenial untuk membaca serta mengajak mereka untuk berupaya menumbuhkan minat dan daya baca di tengah gempuran informasi era digital saat ini.

“Siapa yang menguasai ‘peta’ maka ia menguasai dunia. Tantangan kita adalah tantangan membaca agar kita berpikir. Dalam konteks era digital, siapa membaca memahami data maka dia menguasai. Inilah tantangan kita,” kata Mas Imam Nawawi di Balikpapan, Kaltim, Selasa malam, 15 Syawwal 1443 H (17/5/2022).

Hal itu disampaikan Imam saat menjadi narasumber dalam acara NGOPI BAPER (NGObrol PIntar BAwa PERubahan) sebagai bagian dari rangkaian Roadshow Pemuda Hidayatullah Kaltim yang bertepatan dengan peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei.

Menurut Imam, rendahnya minat dan daya baca bangsa menjadi salah satu problem yang tak boleh diabaikan. Untuk itu, ia mendorong generasi muda terus menumbuhkan daya baca karena ia merupakan salah satu indikator majunya sebuah bangsa.

Ia lantas mencontohkan kepeloporan negara Tiongkok dalam minat baca. Dalam hal penerbitan buku Indonesia jauh tertinggal dari negara TIrai Bambu itu. Indonesia hanya 18 ribu buku per tahun. Sedangkan negeri Tiongkok menerbitkan 440 ribu buku per tahun. Bahkan, dia menukil data UNESCO, Tiongkok telah mengungguli Amerika Serikat yang hanya menerbitkan buku 314.912 judul buku per tahun.

“Kalau kita kemudian mudah dipecah belah dan diprovokasi, itu boleh jadi memang akibat salah satunya kurang membaca. Kurang membaca, maka ukhuwah kita tidak kuat, mudah dibuat retak dan seterusnya,” imbuhnya seperti dinukil dari Republika.co.id.

Mengutip data dari Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, diketahui minat baca masyarakat Indonesia juga rendah yang hanya 0,001 persen. Indonesia berada di urutan 62 dari 70 negara yang disurvei.

Mestinya, terang Imam lebih lanjut, sebagai negara dengan mayoritas Muslim, Indonesia menjadi pelopor dalam minat baca. Namun kenyataannya tak demikian.

“Kalau beriman kepada Allah dan mengikuti Rasulullah maka membaca adalah hal yang harus diamalkan. Apalagi kita sudah ada pelajaran Alquran yang harus dibaca, dihafal, di-murajaah, dan ditadabbburi. Itu semua adalah membaca,” terang penulis buku Mindset Surga ini.

Imam menjelaskan, yang disebut membaca adalah “kita menangkap makna, mendapatkan pengertian, dan itu membuat kita mengerti tentang sesuatu. Membaca melibatkan pikiran, perasaan, bahkan keimanan.”

Dia menjelaskan, umumnya orang Indonesia tak tertarik membaca karena mereka hanya melakukan aktivitas melihat huruf. Kelihatannya membaca tapi sebenarnya mereka hanya melihat lihat.

“Yang disebut membaca, kita menangkap makna. Maka, sejauh yang kita lakukan adalah membaca dalam rangka menangkap makna, menyerap intisari pikiran, dan mengembangkan cara berpikir kita menjadi lebih baik, itulah hakekat membaca,” katanya.

Imam menegaskan, bangsa Indonesia khususnya generasi muda harus melakukan upaya membaca dengan sebenar-benarnya.

Dalam pada itu, menurut penulis produktif itu, membaca bukan untuk tahu belaka tapi membaca untuk menjadikan diri kita lebih kuat, baik dalam keilmuan, karakter diri, maupun kebermanfaatan diri termasuk di dalamnya keterampilan.

“Kalau membaca kita hanya sebatas membaca biasa itu pada akhirnya seperti keluhan banyak mahasiswa yang mengantuk ketika membaca. Minat bacanya bagus seperti kuat baca Whatsapp atau Facebook, tapi ketika berhadapan dengan buku lima menit dia tidur. Minat bacanya tinggi, daya bacanya rendah,” katanya seraya menukil ungkapan pendiri Indonesia Mengajar Anies Baswedan.

Lebih jauh pria yang menulis setiap hari di website masimamnawawi.com itu mengungkapkan, membaca yang baik adalah yang menjadi kekuatan dalam diri kita. Ia lantas mengemukakan teori Gus Baha, bahwa membaca untuk memahami.

“Banyak orang membaca untuk menceritakan lagi, bukan membaca untuk memahami. Apa yang kita baca nggak perlu dihafal karena membaca itu bukan menghafal tapi untuk menangkap. Kemudian memanifestasikan, dan karena kita seorang Muslim, maka kita juga mendakwahkan apa yang kita baca,” kata Imam.

Pada kesempatan tersebut Imam juga berbagi kiat menjaga motivasi dan semangat membaca. Bagi Imam, untuk bisa mempertahankan gairah membaca, maka seseorang harus paham betul bahwa membaca adalah perintah Allah SWT.

“Berarti kalau kita membaca kita dapat pahala. Kita tahu banyak kebaikan tapi kita tidak mengamalkan, kenapa tidak mengamalkan, karena akal kita tidak menerjemahkan. Kita tahu tapi kita tidak bisa jadikan itu sebagai kekuatan dalam diri kita,” katanya berevaluasi.

Menurut pria yang juga aktif keliling Indonesia itu, ayat Alquran banyak sekalimemerintahkan membaca dengan kosa kata derivatif dari kata iqra’ yang pada gilirannya didapati pesan universal agar manusia menggunakan akal budi, hati, dan pikirannya untuk menemukan kebenaran dan memperjuangkannya.

“Dengan demikian, maka setiap tarikan nafas seorang mukmin aktivitas utama yang dia lakukan adalah membaca. Dengan ia membaca, ia berpikir sekaligus berdzikir, itulah ulul albab,” tandasnya dalam acara yang juga ditayangkan secara live di channel LPPH Gunung Tembak itu. (ybh/hio)

Dunia Panggung Sandiwara dan Allah Selamanya Maha Kuasa

HIDUP ini memang sandiwara dan sutradaranya langsung oleh Allah subhanahu wa Ta’ala. Menjalani kehidupan dunia yang sudah menjadi skenario atau taqdir Allah dengan modal keimanan. Hakekat dari taqdir Allah semuanya baik dan untuk kebaikan manusia itu sendiri, sehingga orang beriman harus tetap menjaga prasangka yang baik kepada Allah, apapun yang terjadi.

Ketika ada hal-hal yang terjadi terasa kurang baik, kurang beruntung, kurang berpihak maka saat itulah kita intropeksi diri, evaluasi diri atau bermuhasabah. Mungkin ada kesalahan dan khilaf yang pernah kita lakukan atau Allah ingin menaikkan derajat kita dengan ujian tersebut.

Di hadapan Allah kita tidak bisa bersandiwara karena Allah Maha mengetahui terhadap segala yang kita lakukan secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi bahkan apa yang terbersit dalam hati. Allah Maha Mendengar semua pembicaraan yang kita ucapkan secara terang maupun bisik-bisik.

Sandiwara biasanya di hadapan manusia. Baik sandiwara by desaign dengan sutradara profesional untuk siaran film, sinetron dan lain sebagainya. Ini sifatnya kolosal dengan ditunjang oleh teknologi dan naskah yang dirancang menarik.

Ada juga sandiwara personal yang dilakukan sendiri dengan motivasi yang bermacam-macam dan berbeda-beda. Bersandiwara untuk bisa menarik simpati orang lain, menutupi kegalauannya, menampakkan kedewasaannya, menjebak atau menipu orang lain, menjaga harga diri dan status sosialnya. Sandiwara pribadi terkadang profesional, terkadang amatiran tergantung pengalaman dan kemahirannya masing-masing.

Kehidupan ini terkadang banyak sandiwara. Tapi catatan penting bagi orang beriman bahwa sandiwara yang dilakukan oleh manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Sehingga harus berhati-hati dalam bersandiwara, apalagi di hadapan Allah karena bisa terjerat dalam sifat munafik.

Bersandiwara di hadapan manusia bisa dianggap penjilat dan pembohong. Bersandiwara di hadapan istri dan anak-anak bisa menjadi bom waktu yang bisa mecerai berai akad pernikahan karena dianggap berkhianat.

Hidup memang bersandiwara, bagi orang beriman bersandiwara dengan skenario yang telah dirancang oleh Allah. Berusaha tetap on the track sesuai dengan tuntutan dan tatanan yang Allah gariskan melalui rambu-rambu dalam syariat Islam.

Terkadang seseorang akan memperlihatkan bahwa ia sangat bahagia untuk menutupi kesedihannya. Terkadang seseorang memperlihatkan tawanya untuk menutupi tangisnya. Terkadang harus menyampaikan narasi yang baik untuk menghindarkan tangis yang terjadi. Maka dari itu, seseorang perlu bersandiwara di depan orang lain agar terlihat baik-baik saja. Terkadang seseorang terlalu naif untuk menolak taqdir peran yang sudah ditentukan dan tidak menerima keadaan.

Rasa gengsi? Rasa gengsi juga salah satu yang mendorong seseorang harus bersandiwara. Gengsi untuk menunjukkan bakti ke orang tua, cinta dengan istri, sayang dengan anak-anak, gengsi untuk menunjukkan hormat pada orang lain dan banyak lagi.

Rasa gengsi dan sandiwara membuat orang sulit untuk selalu bersyukur terhadap nikmat dari Allah. Sehingga hindari bersandiwara, terutama di hadapan Allah dan manusia.

Allah berfirman dalam surat al Hadid ayat 4:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“ …..Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.

Ust Abdul Ghofar Hadi

Silaturrahim Syawal Hidayatullah Provinsi Sulawesi Utara

BOLAANG MONGONDOW (Hidayatullah.or.id) — Bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Ibolian, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, berlangsung Silaturrahim Syawal Hidayatullah Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu, 12 Syawal 1443 (14/5/2022).

Adapun tema yang diangkat dalam hajatan tahunan Hidayatullah wilayah Sulut ini mengikuti tema Syawalan di Kampus Induk Gunung Tembak yakni “Momentum Syawal Teguhkan Ukhuwah, Jatidiri dan Perjuangan”.

Acara ini sendiri merupakan rangkaian yang disiapkan dan diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulut yang dihadiri pengurus DPW, Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Organisasi Pendukung (Orpen), Amal Usaha dan masyarakat umum.

Peserta mulai check-in sejak hari Jum’at kemudian dilanjutkan dengan qiyamul lail dihari Sabtu dinihari mulai jam 03.00 secara berjamaah, sholat subuh, wirid/ dzikir dan taushiyah kelembagaan oleh DMW. Kemudian peserta sarapan dan mandi untuk persiapan mengikuti acara inti.

Ada dua pemateri yang dihadirkan yaitu Ust H Zainuddin Musaddad, MA selaku anggota Dewan Murabbi Pusat dan Ust Asih Subagyo yang merupakan Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi DPP Hidayatullah. Materi kedua narasumber ini disampaikan secara online (daring).

Dalam taushiyahnya, narasumber pertama Ust Zainuddin Musaddad menyampaikan bahwa kecewa, sakit hati, dengki, hasad, fitnah, ghibah, ujub, riya’, takabbur dan tajassus adalah sebagian dari penyakit hati yang sering menghinggapi setiap manusia.

Sehingga, terang dia, jika berbagai penyakit tersebut terkait dengan hubungan sesama manusia, maka semua jenis penyakit hati tersebut akan terobati dengan kita berjabat tangan dengan ketulusan hati dan sambil melihat wajah saudara-saudara kita dengan seksama saat bersalaman.

“Maka penyakit hati pelan tapi pasti akan terkikis dan selanjutnya akan hilang,” katanya.

Sementara itu, Ust Asih Subagyo menambahkan bahwa kekuatan umat Islam dalam skala apapun juga adalah dengan menjaga ukhuwah. Prasyarat ukhuwah itu harus diawali dengan ta’aruf, dimana saling mengenal luar dalam kepada sesama saudaranya.

“Kemudian tafahum, dimana kita saling memahami kelebihan dan kekurangan atau pun kekuatan dan kelemahan masing-masing,” kata Asih.

Lalu, prasyarat kokohnya kekuatan umat selanjutnya, kata Asih, adalah ta’awun atau saling tolong menolong. Konsepnya bisa berupa yang kuat menolong yang lemah atau yang dirasa mampu agar menolong yang kekurangan.

“Dan terakhir adalah takaful, adanya sikap saling memberikan jaminan. Artinya sesama umat muslim harus saling memberikan rasa aman dan terhindar dari kekhawatiran serta kecemasan,” imbuh Asih yang saat ini masih harus menjalani perawatan intensif karena sakit ini.

Lebih jauh, Asih menekankan bahwa jika ukhuwah ini kendor atau hilang, maka bicara tentang jamaah itu hanya omong kosong belaka.

Oleh karenanya, dia menyampaikan, membangun ukhuwah ini dalam kerangka kosolidasi organisasi yang tidak bisa ditawar tawar lagi. Demikian halnya dengan penguatan, pemahaman dan implementasi jatidiri, juga menjadi sebuah keharusan.

“Dengan demikian maka membangun ruhul jihad sebagai bekal dalam perjuangan di medan dakwah akan bisa dijalankan dengan baik” tandasnya.

Selepas shalat dzhuhur berjamaah, acara dilanjutkan dengan penyampaian program kerja dan pembacaan beberapa SK. Kemudian dilanjutkan dengan anjangsana silaturrahim kepada wakif tanah yang sering dipanggil dengan Habib.

Habib hanyalah nama panggilan yang karib digunakan untuk menyapanya. Nama sebenarnya beliau adalah Klaus Neven. Setelah menjadi mualaf, nama hijrahnya Habiburrahman. Habib mewakafkan sebuah lahan tanah dan bangunan di Niniha seluas 26 hektar.

Sore harinya seluruh peserta kembali ke tempat tugas masing-masing dengan semangat ukhuwah yang semakin meningkat.*/Taufiqurrahman

Hidayatullah Diharapkan Jadi Barometer Peradaban Islam di Indonesia

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Wali Kota Balikpapan H Rahmad Mas’ud, berharap Hidayatullah terus memberikan manfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara serta dapat menjadi barometer peradaban Islam khususnya di Indonesia.

“Selain itu, ke depan Pondok Pesantren Hidayatullah ini terus berkembang menjadi barometer dan sebagai central peradaban Islam di Indonesia,” ujarnya.

Hal itu disampaikan Wali Kota Balikpapan dalam acara peletakan batu pertama pembangunan guest house Peradaban Ummul Quro Pondok Pesantren Hidayatullah yang berlokasi di Jalan Mulawarman, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Balikpapan, Kaltim, Sabtu, 12 Syawal 1443 (14/5/2022).

Dalam kegiatan ini hadir Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Balikpapan Subari, anggota DPRD Provinsi Kaltim H Yusuf Mustafa, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Ummul Quro Balikpapan KH Hamzah Akbar, Ketua Bawaslu Balikpapan Agustan, termasuk Ketum PP Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi serta tampak pula tokoh senior Hidayatullah Ustadz Abdul Latif Usman yang ikut meletakkan batu di Pondok Pesantren Hidayatullah.

Wali Kota Balikpapan dalam sambutannya mengatakan, Peradaban Ummul Quro Pondok Pesantren Hidayatullah ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan doanya bisa melindungi bangsa khususnya kota Balikpapan.

Apalagi, lanjut Wali Kota, Balikpapan kini menjadi penyangga dan pintu gerbang Ibu Kota Negara (IKN) sehingga sudah saatnya harus bisa menyiapkan pendidikan formal maupun pendidikan religi dalam hal ini pondok pesantren.

“Kita harus berpegang pada ilmu agama. Kalau kita menciptakan anak-anak yang pintar tapi tidak benar hidupnya juga percuma. Saya yakin melalui pondok pesantren yang melahirkan santri-santri tentunya sudah banyak berbuat dengan bangsa yang kita cintai,” ungkapnya.

Menurut Wali Kota, apabila membangun bangunan untuk kegiatan dakwah atau syiar Allah SWT akan datangkan dan mudahkan dari penjuru manapun.

Untuk itu, Rahmad mengajak pengusaha muslim, anggota DPRD Balikpapan maupun Provinsi, saudara-saudara muslim dan para dermawan di Kota Balikpapan, supaya dapat terpanggil hatinya untuk bisa memberikan harta yang dititipkan kepadanya, agar dapat bermanfaat dalam syiar Islam di Kota Balikpapan.

“Tidak menutup kemungkinan juga kami dari keluarga. Insyaallah dengan izin Allah SWT, dengan harta yang dititipkan kepada kami dan keluarga. Mudah-mudahan harta yang dititipkan ini dapat bermanfaat kepada kami sebagai penyiar syariat Islam di permukaan bumi ini,” jelasnya.

Rahmad mengungkapkan, dalam tahun ini yayasan Bani Mas’ud sedang proses pembangunan Masjid dan Rumah Tahfidz Bani Mas’ud yang dikumpulkan dari zakat keluarga Bani Mas’ud.

“Saya minta para ustad dan santri Pondok Pesantren Hidayatullah dapat membantu. Saya yakin tidak mungkin bisa sendiri untuk penyebaran agama kita,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Ummul Quro Balikpapan KH Hamzah Akbar mengatakan Pondok Pesantren Hidayatullah ini membuka jariyah sebesar-besarnya.

“Tidak hanya untuk melakukan pembangunan guest house saja, melainkan untuk kebutuhan lain dalam memajukan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak semakin maju dan berkembang,” ujarnya. (ybh/hio)

Momentum Syawal dan Maaf Memaafkan

MUDIK yang dua tahun terakhir ini dilarang karena covid-19, tahun ini seperti meledak sehingga jalan-jalan macet dari H-8 hingga H+8. Berbagai transportasi umum habis dipesan, baik darat, laut maupun udara. Jutaan kendaraan merayap keluar Jakarta saat akhir Ramadhan dan merayap di arus baliknya.

Salah satu motivasi mudik adalah maaf. Mereka ingin meminta maaf kepada orang tuanya, saudaranya, tetangga, dan teman-teman di kampungnya. Mereka tidak peduli dengan jalan macet, tiket mahal, berdesak-desakan dan lain sebagainya yang sekilas mudik itu susah dan berat. Spirit maaf yang menguatkan dan mendorongnya untuk mudik.

Sebuah kata yang trending topic untuk di bulan Syawal ini. Semua umat Islam seolah ingin berlomba mendahului dan memperbanyak maaf kepada orang lain. Bagi yang mudik merasa tidak sah maaf jika tidak mencium tangan orang tuanya, memeluk hangat saudaranya. Mereka merasa tidak cukup hanya sekedar telepon, mengirim pesan di media sosial atapun video call.

Maaf menjadi penyempurna ibadah di bulan Ramadhan. Allah menjanjikan ampunan terhadap dosa-dosa yang telah lalu kepada orang beriman yang berpuasa dan berdiri di malam hari Ramadhan karena iman. Itu dosa yang terkait dengan Allah dengan istighfar dan taubat.

Adapun dosa kepada manusia atau orang lain, harus dengan meminta maaf langsung atau mengembalikan hak orang lain. Maaf yang tulus dan ikhlas, bukan formalitas, apa adanya dan ikut-ikutan.

Maaf itu mencairkan suasana, mendinginkan jiwa dan melembutkan hati. Sehingga para Wali Songo menyebut Syawal dengan lebaran. Asal katanya lebar yang berarti lapang, setelah Ramadhan harus ada kelapangan hati, kebesaran jiwa kepada orang lain untuk maaf dan memaafkan.

Maaf yang paling penting adalah kepada orang-orang terdekat. Keluarga inti, orang tua, suami istri dan anak. Lapis kedua, saudara dan tetangga dekat, lapis ketiga rekan kerja, atasan, bawahan yang hari-hari berinteraksi dan berhubungan. Karena mereka yang paling sering berinteraksi hampir setiap saat dan setiap hari.

Semakin sering interaksi maka semakin besar kemungkinan pernah berbuat salah, salah ucap, menyinggung, mengecewakan, dan lain sebagainya. Itu semua bisa terhapus dengan maaf.

Maaf untuk menghilangkan gengsi, harga diri yang terlalu tinggi, jaim. Syawal ini harus ada kelapangan hati dan jiwa untuk maaf memaafkan. Allah memberikan indikasi orang yang bertaqwa dengan salah satunya memaafkan manusia atau orang lain. Sebagaimana dalam al Qur’an surat ali Imron ayat 133-134:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dalam surat al A’raf ayat 199 juga ada perintah yang sangat jelas untuk kita semua menjadi orang yang pemaaf.


خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.

Menjadi pemaaf dan meminta maaf memang tidak dibatasi hanya di bulan Syawal. Tapi bulan Syawal ini adalah momentum untuk menjadi pemaaf dan meminta maaf, jika bulan Syawal enggan, maka menunggu bulan apa lagi untuk maaf dan memaafkan.

Ust Abdul Ghofar Hadi

Memaknai Sami’na Wa Atho’na

SALAH satu kunci sukses dalam sebuah kepemimpinan di dalam organisasi apapun juga adalah, jika setiap keputusan ada ditaati dan dilaksanakan. Dengan catatan bahwa pemimpin tersebut saat mengambil keputusan dalam kerangka melaksanakan dan menjalankan amanah organisasi. Sehingga sesuai dengan digariskan dalam visi, misi dan tujuan organisasi yang diderivasikan dalam serangkaian rule of the game, regulasi, aturan serta tata kelola yang menjadi guidelines (petunjuk) bagi organisasi tersebut.

Dan, dalam konteks organisasi Islam yang paling utama adalah menjadikan al-Qur’an dan As-Sunah sebagai pedomannya. Al-Qur’an telah memberikan petunjuk yang indah tentang ketaatan ini di dalam Surat An-Nur ayat 51:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا۟ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

Ada satu kalimat yang menjadi kunci di situ, yaitu سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا (“Kami mendengar, dan kami taat”). Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, dalam Tafsir Al-Wajiz saat menafsirkan ini beliau menjelaskan: “Sesungguhnya ucapan: “Kami mendengarkan hukumNya, menaati perintahNya, dan meridhai hukumNya” adalah ucapan orang-orang mukmin saat diajak mematuhi hukum Allah dan rasul-Nya supaya bisa menentukan hukum di antara mereka. Orang-orang yang mendeklarasikan diri untuk taat itu adalah orang-orang yang memenangkan kebaikan dunia akhirat”.

Sedangkan Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar di dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, menjelaskan: “Yakni sepatutnya bagi orang-orang beriman untuk berlaku demikian, yaitu apabila mengengar seruan tersebut maka ia harus menanggapinya dengan ketaatan dan ketundukan; mereka tetap mengatakan “kami mendengar perkataannya dan mentaati perintahnya” meski hal itu adalah sesuatu yang tidak mereka suka dan merugikan mereka”.

Disinilah letak ujian dari ketaatan itu. Seringkali kita merasa berat untuk menerima sebuah keputusan dari pemimpin, hanya karena tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan. Padahal, dengan sami’na wa atho’na, seberat apapun yang kita rasakan, sesungguhnya kita akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan di dunia dan akhirat, sebagaimana ayat di atas.

Untuk itu, Syaikh Dr. Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam Tafsir As-Sa’di menjelaskan bahwa, “Allah melingkupkan kemuliaan untuk mereka, karena (hakikat) kebahagiaan itu adalah mendapatkan sesuatu yang dipinta dan selamat dari hal-hal yang dibenci. Dan tidaklah berbahagia kecuali orang yang berhukum dan taat kepada Allah dan RasulNya”.

Konsekwensi logisnya, dengan memegang prinsip “sami’na wa atho’na” ini, maka sebagai muslim yang selalu mengharapkan ridho dan petunjuk jalan yang lurus dari Allah ta’ala, adalah harus selalu komitmen (iltizam) untuk benar-benar secara total menjalankan perintah Allah dengan sebaik-baiknya, dan meninggalkan secara total larangan Allah dengan tanpa terkecuali.

Seberat apapun masalah yang datang, serumit apapun persoalan yang dihadapi jangan pernah memilih menyelesaikan dengan jalan keluar yang bertentangan dengan syariat Allah SWT. Demikian juga jangan mengambil jalan pintas berdasarkan nafsu dan kepentingan diri sendiri/ kelompoknya, diluar apa yang sudah ditetapkan dan digariskan dalam sebuah ketetapan dan keputusan. Dan ketaatan terhadap keputusan itu, juga merupakan ujian tersendiri.

Oleh karena itu Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar terkait dengan sami’na wa atho’na di surat lain, yaitu surat al-Baqarah ayat 285, beliau menjelaskan,” { وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ } Ummat ini adalah ummat yang mengikuti perintah, maka ketika Alllah datangkan kepadanya akal sehat yang menunjukkan kepada kebenaran Rasul-Nya dan kebenaran kitab-Nya, maka sesungguhnya ummat ini tidak akan membantah dalil-dalil yang didatangkan kepada mereka dengan akal yang mereka punya, justru mereka akan mendengarnya dan taat kepadanya”.

Kita menyadari bahwa, seorang pemimpin dalam mengambil keputusan, sudah barang tentu mempertimbangkan berbagai aspek. Menyelaraskan dengan visi, misi, tujuan dan jatidiri organisasi. Mendengarkan berbagai pihak yang berkompeten. Berdasarkan data kualitatif dan kuantuitatif. Terlepas faktor subyektifitas (like or dislike). Juga melalui serangkaian laku ruhiyah dengan meminta petunjuk kepada Allah ta’ala termasuk melalui shalat isthikarah. Sampai kemudian sebuah keputusan itu diambil.

Seorang kawan baik dalam diskusi di WAG menyampaikan data yang menarik. Saat meneliti untuk kepentigan tesisnya, dengan sampel 10 lembaga, didapatkan data sekitar 80-85% rata rata anggota sebuah organisasi yang taat terhadap keputusan pimpinan. Menurutnya tidak ada yang 100%, kecuali yang benar-benar militan, itupun tidak bisa persis seratus persen.

Dia memberi contoh ketaatan santri dalam sebuah pesantren yang memang dituntut untuk sami’na wa atho’na dengan kiainya. Akan tetapi santri yang tidak sefaham dengan aturan pesantren dan kiainya, dia bakal taat dan akan pergi sebelum proses persantriannya selesai.

Alasan ketidaktaatan itu, masih berdasarkan penelitian kawan tadi, selain berbagai hal yang disebutkan di atas, juga adanya realitas yang berbicara bahwa seringkali pimpinan dilihat oleh anggota adalah adanya kekurangan, kelemahan bahkan keburukannya. Sehingga menyebabkan ketidakpercayaan atas keputusan yang diambil. Apapun itu bentuknya. Padahal bisa jadi semua penilaian anggota itu didorong faktor subyektifitas semata, dan tidak berdasar data serta fakta yang memadai.

Dengan demikian maka, tugas dari yang dipimpin (anggota) selanjutnya adalah senantisa berusaha mentaati dan menjalankan setiap keputusan itu. Dengan memegang teguh prinsip sami’na wa atho’na ini. Sehingga berdasar berbagai penjelasan di atas, akan membawa kepada keharmonisan dan keberlangsungan sebuah organisasi/ jama’ah dan akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan dikemudian hari. Dan inilah yang dicontohkan dan dipraktikkan dengan indah oleh Rasulullah beserta sahabatnya. Demikian juga contoh implementasi di berbagai organisasi apapun bentuk dan besarnya di muka bumi ini. Wallahu a’lam.

Asih Subagyo│Senior Researcher Hidayatullah Institute

Tanpa Ukhuwah yang Kuat Kita Mudah Sekali Diporak-porandakan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Salah satu pendiri Hidayatullah, anggota Majelis Penasehat Hidayatullah yang juga Ketua Dewan Pembina Ummulqura Balikpapan Ustadz Hasyim HS berpesan agar selalu menjaga ukhuwah atau persaudaraan. Kokohnya persaudaraan akan menguatkan perjalanan dalam perjuangan dakwah.

“Tanpa ukhuwah yang kuat kita mudah sekali diporak-porandakan, akan mudah diganggu, akan mudah dilemahkan oleh orang-orang yang kurang baik,” kata Ustadz Hasyim dalam penyampaian di Aula Bawah Kubah Kampus PUZ (STIS Hidayatullah).

Hal itu disampaikan beliau dikala membuka acara Silaturahmi Kultural Syawalan 1443 H Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, Sabtu 13 Syawal 1442 H (14/5/2022).

Acara yang mengangkat tema ‘Berkah Ramadhan Teguhkan Ukhuwah, Jati diri dan Perjuangan’ itu dihadiri juga oleh Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad dan jajaran lainnya.

Pada penyampaiannya di depan seluruh kader Hidayatullah yang hadir secara langsung dari seluruh penjuru Indonesia, Ustadz Hasyim mengungkapkan bahwa acara silaturahim ini adalah alat yang penting bagi para kader untuk mempererat kembali ukhuwah para kader.

“Alhamdulillah pagi ini kita kita semua dikumpulkan di masjid ini dalam rangka berusaha dan berupaya membuat acara ini agar ukhuwah kita semakin terjalin, semakin rapat dan semakin kuat, karena itu merupakan satu-satunya alat yang bisa kita pakai untuk perjalanan jauh kedepan,” ucapnya.

Selain itu, dalam acara yang juga dilaksanakan secara online itu Ustadz Hamzah Akbar, ketua Yayasan Hidayatullah Ummulqura Balikpapan dalam sambutannya merasa bersyukur diadakan acara Silaturahmi Syawalan ini.

Hamzah mengaku bahwa acara kultural ini juga sangat penting bagi kader karena tanpa acara kultural ini maka terasa begitu sulit untuk saling bertemu,

“Alhamdulillah kita hadir, baik di dari struktural dan kita juga yang lintas kultural semuanya hadir di sini (Kampus Ummulqura). Kalau tidak ada acara-acara kegiatan atau acara-acara kultural seperti ini semua kita terbatasi, ini momentum buat kita,” kata Hamzah di hadapan peserta Silaturahmi Syawalan.

Ustadz Hamzah mengungkapkan bahwa pada acara Silaturahmi Syawalan ini tidak memiliki batasan, dan ia mengaku khawatir hanya karena struktural membuat kader tidak bagus ukhuwahnya.

“Acara kita di Gutem (Gunung Tembak) ini tidak ada batasan. Alhamdulillah, karena memang esensi, muatan tema dan acara ini yang kita proyeksikan. Jangan sampai gara-gara struktur, ukhuwah kita jadi tidak tersambung, gara-gara sekat-sekat struktur kita jadi renggang,” tuturnya.

Ustadz Hamzah Akbar berharap agar acara kultural di Gunung Tembak selalu dilaksanakan. Karena, menurutnya, ini merupakan tolok ukur esensi imamah jamaah dan kekuatan ukhuwah kembali bisa direkatkan.

Acara silaturahmi yang terjadwal selama tiga hari tersebut, tidak saja mendapat sajian kenikmatan beribadah dan silaturahmi saja, juga diberikan spirit Ramadhan langsung oleh para pembimbing dan santri senior Hidayatullah serta beragam sajian jamuan lezat dari shahibul bait. (ybh/hio)

Hidayatullah Balikpapan Gelar Pernikahan Mubarak 6 Pasang Santri

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan melangsungkan pernikahan sebanyak 12 santri-santriwati di Balikpapan.

Acara pernikahan keenam pasang santri itu disaksikan secara langsung oleh Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, sejumlah pengurus tingkat pusat Hidayatullah dari Jakarta.

Disaksikan pula oleh ratusan santri, ustadz, warga, kader, pengurus, serta jamaah Hidayatullah secara offline di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, bakda subuh, Ahad, 14 Syawal 1443H (15/05/2022).

Turut serta menyaksikan acara sakral ini ribuan warganet melalui siaran langsung di kanal YouTube LPPH Gunung Tembak.

Aqad nikah berlangsung sakral. Sebagian pengantin tampak lancar saat proses ijab kabul. Sebagian lainnya ada yang harus mengulang.

“Sah! Sah! Barakallah!” doa dari para jamaah untuk para mempelai.

Hadir menyampaikan nasihat pernikahan yaitu Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah Ustadz Zainuddin Musaddad.

Di mimbar masjid, Ustadz Zainuddin menyampaikan sekaligus menegaskan kembali pentingnya pernikahan yang digelar secara syar’i, termasuk dalam rangkaian acaranya.

Ia menegaskan bahwa pernikahan tidak harus digelar secara mewah dengan tamu undangan yang melimpah.

Bagi Hidayatullah, pernikahan bukan soal penyelenggaraan resepsi, namun bagaimana agar generasi bisa menjalankan syariat Allah lewat menikah.

Sementara para pengantin putri ditempatkan pada lokasi acara terpisah dari pengantin putra.

Setelah acara di masjid selama sekitar 1,5 jam itu, para pengantin kemudian berfoto bareng dengan para hadirin. Mereka pun diguyur doa dan jabatan tangan.

Usai itu, para pengantin putra dikumpulkan di kantor YPPH Balikpapan untuk mendapatkan pembekalan lanjutan terkait tata cara penyerahan mahar. “Sudah halal istri antum,” kelakar Ustadz Hidayat Jaya Miharja, salah seorang panitia penyelenggara pernikahan itu.

Di kantor ini sekaligus digelar ramah tamah secara sederhana.

Kemudian, satu per satu para pengantin putra diantar ke sejumlah rumah yang telah ditentukan untuk menyerahkan mahar kepada pasangan masing-masing.

Berdasarkan data diterima Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah, berikut keempat pasang pengantin tersebut:

  1. Muhammad Irfanuddin bin Khairil Baits – Ummu Kalsum Tono bin Tono;
  2. Taqiyuddin Ahmad Ibnu Hidayat bin Rusydi Hidayat – Nafisatun Thohiroh binti Purwanto;
  3. Rayhan Ahmad Khairullah bin Ruhyadi – Karima Athiullah;
  4. Abdan Syakur Jundullah bin Jamaluddin Ibrahim – Nurtiaz Mumtaziah Ramadhan binti Abdul Aziz;
  5. Abdullah Kahhar bin Mardhatillah – Nurhayati binti Sunardi; dan
  6. Muhammad Akbar – Ayu Anjani Putri Hapsari.* (SKR/MCU)

Pemimpin dan Problem Eksekusi

DALAM sebuah organisasi, apapun bentuknya dan seberapapun besarnya, biasanya memiliki tujuan yang kemudian dirumuskan dalam visi dan misi. Selanjutnya di-breakdown dalam pada program kerja yang di dalamnya juga target, sasaran serta, strategi implementasi beserta timeline-nya. Sehingga kita kerapkali menjumpai organisasi dengan strategi yang luar biasa, akan tetapi tidak mampu terimplementasi dengan baik. Inilah yang kemudian disebut dengan problem eksekusi. Dimana, salah satu aktor terpenting di sini adalah pemimpin organisasi.

Mengapa demikian? Sebab pemimpin itu hadir bukan hanya untuk dihormati, ditaati dan disayangi semata. Itu sudah pasti. Akan tetapi kehadirannya dituntut untuk mempersembahkan kinerja dan karya, dalam rangka mencapai visi dan misi organisasi. Sehingga pada hakekatnya kinerja seorang pemimpin itu, akan dicapai melalui kerja orang lain.

Dengan demikian maka salah satu tugas utama pemimpin adalah menggerakkan orang lain. Sebab, sejatinya seorang pemimpin itu hanyalah ibarat sebatang lidi yang tidak memiliki banyak fungsi bila ia sendiri. Ia perlu menggabungkan lidi-lidi itu untuk menjadi kekuatan. Nah, pemimpin bertugas menggabungkan lidi tersebut. Konsekwensinya adalah, seorang pemimpin lebih banyak berbicara tentang kita bukan saya.

Salah satu strategi penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin dengan skala apapun juga adalah kemampuannya untuk melakukan eksekusi dengan tepat dan cepat. Ketepatan dan kecepatan dalam melakukan eksekusi dari seorang pemimpin akan mewujudkan hasil yang efektif dan memiliki kejelasan dalam bertindak. Keefektifan tersebut sangat diperlukan pemimpin agar organisasi yang dipimpinnya dapat selaras dengan visi dan misi organisasi dan dikorelasikan dengan pola pikir orang-orang yang dipimpinnya, terutama saat pengambilan keputusan yang strategis.

Pemimpin yang mampu secara tepat mengeksekusi hal yang dianggap urgent dan membutuhkan eksekusi yang cepat, memang tidak mudah. Terutama pada situasi-situasi ‘sulit’, pemimpin terkadang dihadapkan pada keraguan untuk melakukannya. Pemimpin benar-benar dituntut untuk melakukan pertimbangan yang matang dan bertindak cepat agar eksekusi yang dilakukannya efektitf.

Namun, tidak semua pemimpin memiliki kemampuan eksekusi yang efektif. Realitas diberbagai organisasi dijumpai, banyak dari pemimpin saat ini dirundung ‘kegalauan’, ‘keraguan’, dan ‘ketidakpastian’ untuk melakukan eksekusi dalam menjalankan kepemimpinannya.

Gagalnya seorang pemimpin dalam mengeksekusi strategi di suatu organisasi dan juga perusahaan biasanya disebabkan kurangnya sistem manajemen yang utuh guna mengintegrasikan dan menyelaraskan proses dan program tersebut. Suatu studi menyebutkan bahwa 90% perusahaan di Amerika dan Eropa tidak bisa mengimplementasikan formulasi strategi yang telah dibuat dengan tepat waktu (Bigler, 2003).

Disisi lain sebagaimana kita pahami bahwa, dalam suatu proses manajemen strategi, setelah memformulasikan strategi yang dianggap tepat dan sesuai dengan kondisi eksternal dan internal, maka tahapan selanjutnya adalah mengimplementasikan strategi tersebut.

Pada tahun 1999, Majalah Fortune menyebutkan bahwa kegagalan 70% chief executive officer, bukan sebagai hasil strategi yang buruk, akan tetapi pada eksekusi yang buruk (Niven, 2002). Niven menjelaskan sejumlah hambatan dalam implementasi strategi, yaitu hambatan visi; hambatan sumber daya manusia; hambatan sumber daya; serta hambatan manajemen.

Setidaknya ada 5 alasan mengapa pemimpin gagal melakukan eksekusi strategi dan program kerja. Hal pertama adalah pemimpin tidak mengikut rencananya dengan disiplin. Sering kali, pemimpin merubah rencananya sendiri di pertengahan eksekusi mengakibatkan hasil yang terjadi tidak sesuai harapan.

Kedua, adalah pemimpin gagal menilai prioritas kepentingan. Banyak pemimpin yang salah membuat penilaian untuk pekerjaan dan hal apa yang sebaiknya dijadikan prioritas terlebih dahulu. Ketiga, yakni pemimpin tidak menempatkan yang dipimpin sesuai dengan kemampuan bidang kerjanya. Sehingga Ketidakmampuan pemimpin menganalisa potensi timnya ini yang menjadikan pekerjaan terhambat atau lama diselesaikan.

Keempat, pemimpin terlalu percaya diri sehingga tidak melibatkan dan mendengarkan tim dalam mengeksekusi strategi. Padahal dengan melibatkan timnya maka keputusan strategis itu akan bisa diambil, ingat pemimpin itu hakekatnya juga penggerak bagi yang dipimpin.

Kelima, pemimpin dalam mengambil keputusan tidak berbasis data kuantitatif maupun kualitatif. Sehingga seringkali unsur subyektifitas lebih mengemuka dibanding aspek obyektifitas.

Dengan memperhatikan realitas di atas maka, “Rencana tidak mengubah apa-apa, yang mengubah adalah eksekusi.” Oleh karena itu, seorang pemimpin perlu memastikan agar eksekusi berjalan dengan baik di tim yang dipimpinnya.

Memang, tugas pemimpin tidaklah sampai pada detil eksekusi tetapi ia perlu meminta komitmen kepada timnya, yaitu komitmen eksekusi. Betapa banyak pimpinan gagal karena ia meminta komitmen yang salah kepada anggota timnya, komitmen yang bersifat “akan”. Seyogyanya komitmennya terhadap eksekusi memastikan bahwa apabila hal-hal yang menjadi komitmen tersebut dilakukan maka sesuatu yang “akan” dicapai menjadi nyata.

Problem eksekusi ini nyata terjadi dan dialami oleh organisasi. Eksekusi ini memang menjadi tugas seorang pemimpin, dengan menggerakkan seluruh timnya. Dan, salah satu ujian kepemimpinan ini adalah mengambil keputusan.

Maka dalam konteks Islam, selain beberapa kendala di atas, juga aspek ruhiyah seorang pemimpin akan berpengaruh terhadap eksekusinya. Sehingga seorang pemimpin memang dituntut untuk memiliki ruhiyah yang tajam, sehingga menghasilkan qaulan sadida, qaulan tsaqila dan qaulan layyina, ketika melakukan eksekusi. Wallahu a’lam.

Asih Subagyo│Senior Researcher Hidayatullah Institute