Beranda blog Halaman 363

Wakil Ketua MUI Provinsi Sumut Serukan Sinergitas Dakwah

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) KH Dr Arso, SH, MAg, menyampaikan kebanggaannya kepada Kampus Hidayatullah Medan atas kiprahnya selama ini dan menyerukan hendaknya terus mengeratkan sinergi untuk bersama teguh di jalan dakwah.

KH Dr Arso menyampaikan itu saat menjadi narasumber dalam acara buka bersama dan sekaligus tabligh akbar bertajuk “Ramadhan Berkah, Buka Bersama di Pondok Pesantren Hidayatullah Medan” yang digelar di halaman Masjid Baitul Akbar Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Kamis sore, 20 Ramadan 1443 (21/4/2022).

Pada kesempatan tersebut, KH Arso melaporkan ihwal terobosan MUI Sumut yang menggulirkan program “Pendidikan Tinggi Kader Ulama” yang fokus belajarnya adalah mendalami ilmu keislaman terutama penguasaan bahasa Arab dan kitab kuning.

Arso menyebutkan, semua biaya pendidikan program tersebut mulai dari fasilitas asrama, makan dan biaya hidup, serta kitab-kitabnya ditanggung penuh oleh MUI. “Alhamdulillah tahun ini ada 24 orang mahasantri yang sedang menyelesaikan tugas belajarnya,” katanya.

Para alumni program pendidikan MUI Sumut tersebut diterjunkan ke daerah daerah minoritas yang membutuhkan para da’i untuk mengembangkan sayap dakwah disana. Diantaranya dikirim ke Pulau Samosir Kabupaten Simalungun.

Karena tantangan dakwah yang cukup luas dengan beragam dinamikanya, KH Dr Arso pun berharap Hidayatullah juga terus menguatkan gerakan dakwah di pedalaman tersebut. “Semoga Hidayatullah juga turut andil mengirimkan dai dainya ke sana,” katanya.

Arso mengatakan, ia sebenarnya baru saja pulang dari mengunjungi daerah binaan MUI di pulau Samosir tersebut yaitu tepatnya di desa Panguluran. Beliau menceritakan bagaimana kondisi ummat Islam di sana yang minoritas.

Arso menyebutkan, sekira 50 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1972, ia pernah datang kesana pertama kalinya dalam rangka dakwah.

“Ketika itu ummat Islam di sana hanya memiliki mushalla kecil yang lantainya belum disemen, jorok dan kotor, terkesan tidak terurus, karena memang hampir tidak pernah ditempati untuk shalat warganya. Namun sekarang sudah berubah menjadi masjid besar bahkan bertingkat. Ada madrasahnya dan ada rumah ustadznya atau imam,” kata ulama ini penuh haru.

Hingga kini MUI Sumatera Utara masih juga mengirimkan tenaga da’inya ke sana yang diambil dari alumni Pendidikan Tinggi Kader Ulama yang dikelola MUI Sumatera Utara.

“Tidak hanya di Samosir, MUI Sumut juga mengirimkan dai sebanyak 15 orang tahun ini, ke tanah Karo untuk mengembangkan dakwah Islam di sana,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, Anggota Dewan Fatwa Pengurus Besar (PB) Al Washliyah ini menyapa para santri dan pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Sumatera Utara. Dia mengungkapkan rasa bangganya kepada kader Hidayatullah Medan karena pengurusnya adalah generasi muda semua.

“Jarang sebuah pesantren yang dikelola oleh kaum muda,” katanya seraya berpesan kepada semua kader Hidayatullah agar jangan segan segan bersilaturrahmi dengan MUI karena MUI adalah rumah besar umat Islam.

Selaku petinggi MUI di kawasan yang masyhur dengan senandung “Mar Sipature Hutana Be”, Arso juga menginformasikan dan mengundang ormas Islam hadir dalam agenda rumah besar umat Islam itu dalam beberapa waktu ke depan diantaranya bersilaturrahim dengan Gubernur.

“Semoga pengurus Pesantren Hidayatullah dan perwakilan dari Pimpinan Wilayahnya bisa turut hadir dalam acara tersebut nantinya,” katanya.

Berkaitan dengan momentum Ramadhan, KH Arso menyampaikan pesan pesan spiritual yang menggugah para santri dan warga Hidayatullah. Beliau menyitir sebuah hadits Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam yang berbunyi:

“أتاكم رمضانٌ ، شهرُ بركةٍ ، يغشاكم اللهُ فيه ، فَيُنزِلُ الرحمةَ ، ويَحُطُّ الخطايا ويَستجيب فيه الدعاءَ ، وينظر اللهُ تعالَى إلى تنافُسِكم فيه ، ويُباهي بكم ملائكتَه ، فأَرُوا اللهَ من أنفُسِكم خيرًا ، فإنَّ الشَّقِيَّ من حُرِمَ فيه رحمةَ اللهِ عزَّ وجلَّ.” أخرجه الطبراني

“Telah datang kepada kamu sekalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Bulan dimana Allah SWT mengunjungi kalian, kemudian Dia menurunkan Rahmatnya, Allah hendak menghapus dosa – dosa kalian, Allah hendak mengabulkan do’a kalian, Allah hendak melihat kalian berlomba – lomba dalam kebaikan didalamnya, dan Allah membangga – banggakan kalian dihadapan para malaikatNya. Oleh karena itu tampakkanlah oleh kalian akan kebaikan kalian kepada Allah. Karena sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang tidak mendapatkan Rahmatnya Allah SWT. (Saat Allah membagi rahmatNya di bulan Ramadhan ini)” (HR. Tabraniy).

“Ramadhan telah menaungi kita. Ramadhan bagaikan tenda yang menaungi kita. Marilah kita masuk ke dalam tenda Ramadhan untuk Meramadhankan diri kita, meramadhankan hidup kita, meramadhankan siang dan malam kita yang kita lalui. Kerja dan istirahat kita harus bernilai Ramadhan,” katanya beramanat.*/Choirul Anam

Inilah 5 Titipan Wejangan untuk Santri Hidayatullah dari Ulama Sepuh

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) KH Dr Arso, SH, MAg, menjadi narasumber dalam acara buka bersama dan sekaligus tabligh akbar bertajuk “Ramadhan Berkah, Buka Bersama di Pondok Pesantren Hidayatullah Medan” yang digelar di halaman Masjid Baitul Akbar Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Kamis sore, 20 Ramadan 1443 (21/4/2022).

Pada kesempatam taushiahnya, ulama sepuh berusia 81 tahun KH Dr Arso menitipkan 5 poin wejangan kepada santri dan pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Medan.

Pesan KH Dr Arso yang pertama adalah hendaknya menegakkan nilai nilai “Julasaa’ul Qur’an”. Yaitu, senantiasa berada di dalam majelis Al Qur’an dan harus dihidupkan terus menerus dengan membaca , mentadabburi, memahami, mengkaji dan mendalaminya melalui tafsirnya.

“Kedua, ‘Ummaarul Masaajid’, yaitu jadilah orang orang yang memakmurkan masjid. Hidupkan shalat berjamaah, galakkan shalat sunnah, dan membudayakan ta’lim diniyyah,” katanya.

Ketiga, lanjut KH Arso, adalah menguatkan nilai “Wildaanul Islam”, yakni menyiapkan generasi Islam seperti bagaimana selalu menyiapkan kader Islam untuk menyongsong masa depan kejayaan Islam dalam membangun Peradaban Islam.

Keempat, “Alhubb Bainal Muslimin” atau saling mencintai sesama muslim. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Rawe – rawe rantas, malang- malang tuntas.

“Kelima, ‘Wal Mustaghfiriina Bil Ashaar’, yakni membiasakan bangun malam untuk istighfar, tahajjud, dan qiyamullail,” tandasya.

Pada kesempatan buka bersama ini turut hadir Ketua DPW Hidayatullah Sumut Ust Subur Pramudya beserta sejumlah jajaran, Ketua Yayasan Hidayatullah Medan Ust Ali Ibrahim Akbar beserta staf yayasan serta guru dan pengasuh.*/Choirul Anam

Kader Biologis yang Ideologis dan Kader Ideologis yang Biologis

0
Ilustrasi oleh RoadLight/ Pixabay

DALAM sebuah organisasi dan gerakan apapun itu bentuknya, yang menginginkan untuk sustain, berjalan lama melintasi generasi, pastilah mempersiapkan generasi pelanjut untuk meneruskan visi dan misi yang sudah ditetapkan. Biasanya dua kelompok besar yang dikader dalam melakukan proses regenerasi ini.

Pertama adalah mempersiapkan kader biologis. Dimana mereka adalah orang-orang yang memiliki garis keturunan dan lahir dari keluarga yang sudah menjadi bagian dari organisasi tersebut. Sehingga secara otomatis mereka sudah termasuk sebagai kader organisasi itu. Selanjutnya dianggap sudah paham dengan seluruh aturan yang ada di dalam organisasi tersebut, karena sudah berinteraksi sejak lahir dengan orang tuanya yang memang sudah menjadi kader, dan menjadi bagian dari ekosistem yang ada. Sehingga pada gilirannya diharapkan akan meneneruskan estafeta kepemimpinan organisasi dimaksud.

Kedua adalah mempersiapkan kader ideologis, yaitu orang-orang yang menjadi bagian dari organisasi itu, setelah melakukan interaksi yang cukup panjang. Mereka awalnya outsider, yang kemudian bergabung di dalamnya. Sehingga untuk mendapatkan gelar kader organisasi itu, setelah mengikuti pendidikan ataupun proser perkaderan berjenjang serta pembinaan yang ada di organisasi tersebut.

Konsekwensinya, kader ideologis ini faham atas seluruh proses, aturan yang ada dalam organisasi, dan selanjutnya menjadi bagian dari organisasi tersebut di berbagai struktur dan underbow-nya, untuk ikut andil dalam melanjutkan estafeta kepemimpinan organisasi dimasa mendatang.

Jika melihat proses dan penjelasan dua model kader tersebut di atas, secara sekilas kita pasti berkesimpulan bahwa kader biologis akan lebih militan. Sebab sejak kecil dia telah berada dalam bi’ah (lingkungan) dimana orang tuanya yang memang kader. Ada proses tranformasi menyertai pertumbuhannya. Sehingga setiap aktifitasnya untuk organisasi pasti didukung lingkungan sekitarnya. Apalagi jika didukung dengan mengikuti jenjang kekaderan yang ada.

Beda dengan kader ideologis yang notabene bukan berasal bagian organisasi sejak awal. Maka ketika hendak menjadi bagian dari organisasi, maka harus berbagai cara, dari jenjang perkaderan tingkat bawah, hingga pada tingkat tertentu untuk mendapatkan “pengakuan” sebagai kader. Dan selanjutnya dapat berkecimpung dan menjadi bagian ataupun pengurus organisasi tersebut.

Dengan demikian maka, jika kita hanya melihat dari sisi nasab atau keturunan, maka yang berpeluang besar untuk berjuang melanjutkan estafeta kepemimpinan di organisasi adalah kader biologis. Namun, jika kita melihat dari segi tantangan dan perjuangan, dan kematangan karena digembleng melalui serangkain proses perkaderan, maka kader ideologislah yang lebih memiliki militansi, sebab perjuanganya cukup keras dan panjang, baik berjuang untuk meyakinkan diri dan keluarganya, maupun meyakinkan organisasi.

Apakah benar demikian? Sebab jika kita lihat realita di lapangan ternyata dijumpai banyak kader biologis yang tidak mau mengurusi organisai. Bahkan ada juga yang berlawanan jika tidak dikatakan memusuhi. Hal ini bisa terjadi karena banyak kemungkinan; bisa jadi karena proses transformasi ideologi dari orangtuanya yang kurang karena kesibukanya, jenuh dengan rutinitas, kebiasaan dan lingkungan yang ada, kecewa dengan apa yang terjadi dengan orang tuanya dan langsung dikaitkan dengan organisasi, enggan mengikuti jenjang perkaderan karena merasa memiliki privilege, dan lain sebagainya.

Sehingga seringkali justru sebaliknya yang terjadi pada kader ideologis. Sebab kebanyakan kader ideologis inilah yang lebih giat dalam memajukan serta mengembangkan organisasi untuk kemaslahatan umat.

Sejatinya, militan atau tidaknya seseorang itu tergantung dari seberapa besar kecintaan dan kesadaranya dalam berorganisasi. Tentu saja setelah melalui serangkaian proses pembinaan dan perkaderan. Sebab, tidak mungkin sebuah perjuangan bisa berjalan dengan baik, kalau tidak dilandaskan rasa cinta didalamnya.

Jangan Mempertentangkan

Kita tidak dapat kemudian mempertentangkan secara diametral antara kader biologis dan kader ideologis mana yang lebih unggul. Namun, setidaknya kita harus melakukan proses untuk menjadikan kader biologis yang ideologis dan kader ideologis yang biologis. Bagaimana caranya?

Dalam surat al-Baqarah: 33, merupakan contoh ideal bagaimana Nabi Ya’qub as mempersiapkan kader biologis yang ideologis. Firman Allah ta’ala:

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

Ayat ini berkenaan dengan Nabi Ya’qub yang sudah memiliki tanda-tanda akan kematiannya. Maka Nabi Ya’qub mengumpulkan anak keturannya untuk mentajdid ulang atas pemahaman mereka.

Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil dalam Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur, menafsirkan ayat ini dengan cukup indah. Ketika diajukan pertanyaan oleh Nabi Ya’qub a.s kepada anak-anaknya {مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِى} “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?”, { قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ } “Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu”, { وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي } “Dan aku pengikut agama bapak-bapakku” [ Yusuf : 38 ], { إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ } “”sesunggguhnya kami mendapati leluhur kami di atas suatu ajaran dan agama, dan sesungguhnya kami hanya mengikuti dan meneladani manhaj dan jejak mereka” [ az-Zukhruf : 23 ].

Konsistensi para ayah dan orang-orang tua atas apa yang menjadi kewajiban mereka sangat berpengaruh terhadap perkembangan diri anak-anak dan keturunan-keturunan mereka. Dan hal ini merupakan perkara yang sebagian besarnya adalah nyata dan perkara ini tidak mungkin diingkari. Maka dapat dipastikan bahwa hidayah itu bisa menjadi warisan yang turun temurun terus berlanjut secara fitrah.

Adapun kesesatan sebagian besarnya disebabkan oleh fanatisme golongan. Oleh karena itu menjadi sebuah kewajiban bagi seorang ayah melindungi keluarganya dari perkara ini, dan jika kamu menghendaki untuk anak-anak dan keturunan-keturunanmu berada dalam kebaikan maka jadilah kamu orang tua yang baik { وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا } “sedang ayahnya adalah seorang yang saleh” [al-Kahfi 82].

Dari sini jelas menunjukkan bagaimana kapasitas dan kapabilitas Nabi Ya’qub a.s sebagai seorang ayah dalam melakukan transformasi ideologis terhadap anak keturunannya. Bahkan konsistensi dalam pendampingan serta mengujinya terus dilakukan hingga menjelang ajal. Seolah menjelaskan bahwa, Nabi Ya’qub telah menyiapkan kader-kader biologisnya untuk selanjutnya menjadikan kader ideologis.

Dan ingat, Beliau saat mengumpulkan anak-anaknya itu, berwasiat berkenaan dengan perkara tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan urusan dunia. Dan ini patut menjadi uswah bagi setiap orang tua.

Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana proses kader ideologis menjadi kader biologis. Sirah Nabawiyah telah mengajarkan dengan cukup indah bagaimana kemudian Rasulullah saw beserta sahabatnya saling menjadikan besan dan bahkan saling menjadikan menantu.

Dari proses ini terjadilah ikatan kekerabatan dan kekeluargaan yang demikian kuat dan kokoh. Pada gilirannya, anak keturunannya juga akan berlanjut menjadi kader biologis yang ideologis sekaligus sebagai kader biologis yang ideologis. Sebuah proses perkaderan yang patut diwarisi oleh generasi saat ini dan masa mendatang. Wallahu a’lam

Asih Subagyo│Senior Researcher Hidayatullah Institute

Semarak Ujian Akhir Terbuka SMP Putri Hidayatullah Depok

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Manfaatkan momentum Ramadhan 1443 Hijriah, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Depok menggelar ujian akhir terbuka untuk tingkat Sekolah Mengenah Pertama (SMP) Putri, Rabu, 19 Ramadhan 1443 (20/4/2022).

Acara yang berlangsung semarak ini dihadiri seluruh civitas pendidikan pesantren, tamu undangan, hingga wali santri. Kegiatan terlaksana di aula gedung Sekolah Pemimpin Komplek Kampus Ponpes Hidayatullah Depok.

Ujian akhir terbuka ini merupakan puncak dari rangkaian ujian sejak Januari lalu, dimana 33 santriwati kelas 9 menempuhnya dengan beberapa tahapan.

Terasa spesial, sebab kegiatan ini merupakan angkatan pertama SMP Integral Hidayatullah Putri kampus utama Depok. Kegiatan juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan dari kelas 7 dan 8 seperti, tarian Ratoh Jaroe, dan penampilan Nasyid.

Dalam taujihnya, Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Depok Ust Lalu Mabrul mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga atas terlaksananya kegiatan tersebut.

Terkhusus kepada para Asatidzah, Mabrul berterima kasih karena telah melaksanakan pendidikan dengan sebaik-baiknya.

“Kehadiran sekolah SMP putri ini adalah menjadi cita-cita kami di yayasan,” kata Ustadz Lalu Mabrul dalam sambutannya.

Sebagaimana visinya, kata Ust Mabrul, mewujudkan generasi muslimah yang unggul dan menjadi kebanggaan ummat. Ia berharap hadirnya sekolah putri dapat menjawab permasalahan bangsa. Dimana generasi saat ini banyak yang jauh diri nilai agama.

Diakhir, sambutannya, atas nama Yayasan, Ustadz Lalu mohon didoakan agar ditahun depan dapat mewujudkan jenjang pendidikan Madrasah Aliyah (MA).

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Sekolah SMP Integral Hidayatullah Putri, Ustadzah Sarah Zakiyah AM mengakui banyak mengambil pelajaran dari amanah yang diembannya persis tiga tahun silam.

Dia mengatakan, Al Qur’an Surah Jumu’ah Ayat 2 menjadi menjadi pedoman yang dipegang teguh bersama timnya ketika membangun SMP Integral Hidayatullah Putri. Model pembelajaran yang mengintegrasikan antara Tauhid, Al-Quran, Sains dan Teknologi menjadi pola utama pendidikan yang dipilih.

Kepada 33 santriwati yang mengikuti ujian Ustadzah Sarah mengingatkan seraya mengutip sebuah syair. Siapa yang tidak sabar dalam menghadapi getirnya menuntut ilmu, maka ia tidak akan meraih kemuliaan didalamnya.

“Anak kami, angkatan pertama, terima kasih anak-anak ku, tidak kami lepas dalam doa, tidak kami lepas ketika mereka melakukan kesalahan. Keridhaan Allah atas kalian, anak-anak sholihah kebanggaan umat Islam,” ujarnya.

Usatadzah Sarah kemudian menjelaskan bahwa ujian yang dilakukan tidak hanya terjadi sehari dua hari, tapi sejak masuk semester dua kelas 9 telah melewati berbagai tahapan ujian.

Pertama, membuat makalah Siroh Nabawiyah dan mempresentasikannya. Kedua, menyusun penelitian sederhana Tauhid STEAM (Science Technology Engineering Art Matemathic) yang saat presentasi pengujinya dari luar.

“Ketiga, karantina setoran hafalan Al-Quran sekaligus terjemahan perkata (lafdziyyah) sebanyak 1 Juz. Dan, keempat, Ujian Siroh Nabawiyah, Qur’an teori dan Aplikasi Ghorib Tajwid dan setoran 42 Hadist Arbain Annawawi,” kata Ustadzah Sarah.

Uniknya, lanjut Sarah, 33 anak anak santriwatinya angkatan pertama ini punya tingkat hafalan Al-Qur’an yang berbeda. Hal itu dinyatakan setelah mereka mengikuti ujian. Mulai dari 10 Juz, sampai paling sedikit 3 Juz.

Tak luput, Usatadzah Sarah turut menyampaikan rasa terima kasih yang luar bisa kepada semua orang tua wali santri.

“Kepercayaan Ayah Bunda kepada kami, inilah modal utama kami tetap berjalan dan mendidik anak anak santri kami dengan sepenuh cinta,” ungkapnya.

Sementara itu, selama pelaksanaan ujian, peraih nilai tertinggi hafalan Qur’an: Putri Hana Salwa, Qur’an Lafdziyah: Qonita Muna Salimah, Qur’an teori dan Aplikasi Ghorib Tajwid: Siti Maysaroh dan Nurul Izzah Shahab, Hadits Arbain: Annida Nurul Fadhilah.

Sementara untuk materi Siroh Nabawi: Annisa Mumtaz. Mereka mendapatkan Mushaf Al-Qur’an dari kerajaan Arab Saudi dan seri lengkap buku Siroh Nabawiyah dari Kita Production.*/Azim Arrasyid Sofyan

Ramadhan Ceria Di Pulau Hinterland Bersama BMH Kepri

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Anak-anak di pulau Panjang Timur dan Barat di Batam menyesaki Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH) Atok Somad untuk mengikuti rangkaian agenda Ramadhan Ceria bersama BMH Kepri, Selasa sore, 18 Ramadan 1443 (19/4/2022).

Di antara kegiatan yang menarik perhatian anak-anak yaitu lomba azan, hafalan surah pendek, dan doa harian. Kegiatan semacam ini terbilang jarang digelar di pulau, sehingga sangat terasa antusiasme anak-anak yang mendiami pulau hinterland (penyangga) Batam itu.

Branch Manager BMH Kepri, Abdul Aziz Elhaqqi , turut berbahagia melihat gairah dan semangat peserta. Menurutnya, kegiatan yang digelar BMH Kepri ini sebagai stimulasi atau rangsangan agar anak-anak khususnya siswa dan siswi RQH binaan BMH lebih bersemangat lagi dalam mengikuti proses pembelajaran di RQH.

“Kami menyiapkan hadiah sebagai bentuk apresiasi kepada siswa dan siswi yang berprestasi, sehingga yang lain juga akan terpacu untuk belajar,” ujarnya.

Ramadhan Ceria ini diikuti sekira 27 peserta dari pulau Panjang Timur dan Barat yang didampingi orang tua masing-masing. Sebelum buka puasa bersama, pengurus DPW Hidayatullah Kepri, Ust Rahmat Ilahi Hadis, menyampaikan kultum yang ditutup doa.

Tokoh masyarakat pulau Panjang Timur dan Barat, Bapak Atok Somad, menyampaikan rasa syukur atas digelarnya Ramadhan Ceria. Ia juga berterimah kasih kepada BMH Kepri atas kepedulian kepada warga pulau.

Selain di pulau Panjang Timur, BMH Kepri juga menggelar Ramadhan Ceria di RQH M Sulthon di Tanjung Pinang. Sekira 30 siswa dan siswi RQH mengikuti lomba yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama.

Ustadzah Nurlina sebagai penanggungjawab RQH M Sulthon mengungkapkan, lomba ini juga sebagai bahan evaluasi atas pembelajaran yang sudah diberikan selama ini, khususnya hafalan surah pendek dan doa harian.

“Alhamdulillah, dari lomba yang digelar, ada peningkatan kemampuan hafalan para siswa dan siswi, termasuk dari sisi tajwid dan makharijul huruf (pengucapan huruf al Qur’an-red),” tambahnya.*/Mujahid M. Salbu

Daiyah Itu Bernama RA Kartini

0

RADEN Adjeng Kartini (21 April 1879 – 17 September 1904) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini bukan satu-satunya pahlawan bagi kemerdekaan Indonesia.

Sangat banyak perempuan yang punya jasa bagi negara, namun nama mereka tak setenar Kartini. Yang membedakan adalah kemampuan komunikasi dan tulis menulis serta korespondensi dengan orang asing, sebagai sebuah kemampuan yang langka dijamanya. Demikian juga konten yang ada dalam tulisannya tersebut yang menggungah dan menginspirasi kaum perempuan melampuai jamannya.

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902).

Kartini juga berkorespondensi dengan Rosa Abendanon sejak tahun 1899 hingga 1904. Kemudian Abendanon menerbitkan surat-surat Kartini dalam bentuk sebuah buku dengan judul Bahasa Belanda, Door Duistrnis tot Licht. Armijn Pane menerjemahkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang dan diterbitkan Balai Pustaka sejak 1922 hingga 1978.

Dalam salah satu kutipannya disebutkan Ibu adalah pusat kehidupan rumah tangga. Kepada mereka dibebankan tugas besar mendidik anak-anaknya, pendidikan akan membentuk budi pekertinya. Berilah pendidikan yang baik bagi anak-anak perempuan. Siapkanlah dia masak-masak untuk menjalankan tugasnya yang berat. (Halaman 386).

Membaca surat-surat RA Kartini, tersebut sesungguhnya menunjukkan kedalaman dan pemahamannya atas agama itu sendiri. Sebab selain banyak belajar pendidikan formal di Europese Lagere School (ELS), Kartini kecil juga mendalami agama, yang saat itu, diajar oleh Kiai Sholeh Darat Semarang.

Nama Darat dinisbahkan tinggalnya dikampung Darat, sedang nama aslinya adalah Al-‘Aalim Al-‘Allaamah Asy-Syaikh Muhammad Sholih bin Umar as-Samarani al-Jawi asy-Syafi’i. Beliau asli Mayong-Jepara, dimana Kartini mukim. Banyak Kyai santri (murid) beliau saat sudah tinggal di Semarang, yang dikemudian hari menjadi tokoh dan ulama besar.

Mbah Sholeh Darat bukan Kiyai sembarangan, beberapa muridnya yang terlacak untuk sementara ini adalah: KH Hasyim Asy’ari – Jombang, Jawa Timur, KH Ahmad Dahlan – Yogyakarta, Jawa Tengah, KH Amir Idris – Pekalongan, Jawa Tengah, KH Dahlan – Tremas, Pacitan, Jawa Timur, KH Dimyathi – Tremas, Pacitan, Jawa Timur, KH Dalhar – Watucongol, Magelang, Jawa Tengah, KH Bisri Syansuri – Jombang, Jawa Timur dan masih banyak lagi.

Sehingga dari bacaan di atas setidaknya kita memahami wawasan RA Kartini, yang tidak sama dan sebangun sebagaimana yang ditafsirkan dan diklaim oleh kaum feminis dewasa ini. Bahwa Kartini berhasil menyuarakan harapan perempuan akan kebebasan yang pada saat itu terkungkung oleh tradisi. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa yang terbelenggu oleh tradisi, dilarang sekolah, dipingit, hingga harus siap menikah dengan laki-laki yang tidak mereka kenal. Dan beberapa diksi lain seperti emansipasi, feminisme dan terminologi sejenis lainnya.

Akan tetapi, sekali lagi, justru pendidikan bagi perempuan yang Kartini inginkan adalah untuk meningkatkan kemampuan bagi perempuan, sehingga menempatkan perempuan sesuai dengan kodratnya. Dan dengan jelas disebutkan bukan untuk menyaingi laki-laki, akan tetapi menyiapkan anak-anaknya lebih baik di masa mendatang. Sedangkan pemahaman keagamaan seperti ini, tidak mengerti sepenuhnya oleh teman korespondensinya, baik Abendanon maupun Prof. Anton. Dan hal ini sesungguhnya buah dari berguru (ngaji)-nya Kartini, kepada Mbah Sholeh Darat.

Jika kita merujuk dalamQS al-Baqarah: 257, Allah ta’ala berfirman,” Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Maka ada korelasi judul buku Kartini itu dengan QS Albaqarah 257. Meski sekal lagi Mr. Abendanon, tidak bermaksud mengaitkan akan tetapi itulah faktanya. Atau Armjn Pane sang penerjemah Door Duistrnis tot Licht, yang secara terjemah bebas seharusnya melalui kegelapan menuju cahaya, menjadi habis gelap terbitlah terang, yang faham tentang Al-Qur’an.

Ada sebuah kisah menarik yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil dalam Li Yaddabbaru Ayatih, beliau berkata,“Suatu ketika aku menghadiri satu majlis bersama seorang ikhwah asal inggris bernama Khalil. Dalam majelis itu ia bercerita bagaimana ia masuk ke dalam Islam. Kemudian salah seorang dari hadirin bertanya: bagaimana pengaruh islam terhadap kehidupannya? Maka dia pun menjawab: aku pernah hidup dalam kegelapan sebagaimana yang Allah katakan dalam firman-Nya: { يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ }, kemudian ia memberi isyarat dengan tangannya yang menutup kedua matanya”.

Saya berkesimpulan, sebenarnya surat menyurat yang dilakukan RA Kartini kepada Mr. Abendanon dan istrinya Rosa Abendadon, serta kepada Prof. Anton dan istrinya itu, bukan merupakan sebuah keluhan semata. Akan tetapi itu bagian dari bentuk dakwah yang dilakukan RA Kartini, untuk mengajak koresponden-nya itu meninggalkan kegelapan (kekafiran) menuju yang terang berupa cahaya Iman dan Islam. Akan tetapi Qodarullah, RA Kartini meninggal di usia muda, 25 tahun, pada tanggal 17 September 1904, tepat empat hari setelah melahirkan putra pertamanya Soesalit Djojoadhiningrat.

Dengan demikian maka, RA Kartini menurut saya adalah sosok Daiyah yang sesungguhnya di masanya, dengan segala kelebihan dan keterbatasannya. Yang dengan caranya, salah satunya melalui tulisan, ingin mendakwahkan kebaikan kepada semua pihak, bahkan kepada orang asing sekalipun. Meskipun personifikasi dan penokohan RA Kartini selama ini tidak pernah dilekatkan pada aktifitas dakwah. Wallahu a’lam.

Asih Subagyo│Senior Researcher Hidayatullah Institute

Inilah 6 Desain Miniatur Peradaban Islam oleh Bapak Monoteisme

0
Ilustrasi gambar Ka’bah Baitullah (Ekrem/ Pixabay)

PADA momentum yang berbahagia ini, marilah kita tingkatkan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang dilimpahkan kepada kita. Nikmat sehat dan kesempatan sehingga kita bisa ber-muwajahah di sini. Semoga langkah kita diberkahi oleh Allah, Aamiin.

Tidak lupa, kita bersyukur juga kepada Allah atas nikmat yang paling besar dalam hidup kita, yaitu nikmat Iman dan Islam. Nikmat hidayah, hidup di atas jalan kebenaran yang tidak mungkin digantikan dengan apapun dari kehidupan dunia ini.

Allah berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. “ (QS. al-Maidah: 3).

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah dengan sejenak merenungi kisah Nabi Ibrahim yang tersebut di dalam al-Qur’an, khususnya ketika beliau meninggalkan anaknya di lembah yang gersang (bakkah). Tiada air dan tumbuh-tumbuhan yang dikemudian hari di lembah ini dibangun Ka’bah, kiblat kaum muslimin. 

Kisah ini tersebut terangkai di dalam surat Ibrahim ayat 35- 39 sebagai refleksi bagi kita tentang bagaimana Bapak Monoteisme mendesain miniatur peradaban Islam, yang bisa diringkas dalam beberapa poin penting di bawah ini:

(1). Pendidikan Tauhid Menghadirkan Rasa Aman

وإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35).

Kisah ini dimulai dengan permohonan Nabi Ibrahim kepada Allah Sang Pencipta, agar Negeri Mekkah ini dijadikan negeri yang aman dan tentram, serta bahagia penduduknya.

Rasa aman adalah kebutuhan pokok hidup manusia. Tanpa rasa aman, hidup manusia menjadi hambar tidak bermakna, harta yang melimpah tiada arti baginya, bahkan kesehatan-pun akan mulai sirna, jika perasaan cemas selalu menghantuinya. 

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita do’a meminta rasa aman di dalam hidup ini, sebagaimana di dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alahi wa salam berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي

“Ya Allah, saya memohon kepada-Mu, keselamatan di dunia dan akherat, Ya Allah saya memohon kepada-Mu, ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku“ (HR. Abu Daud, Shahih).

Setelah memohon keamanan di negerinya, Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar dirinya dan keluarganya serta anak keturunannya dijauhkan dari kesyirikan (menyembah berhala), karena perbuatan syirik adalah kezaliman yang besar dan akan mengakibatkan kesengsaraan dunia dan akherat.

Nabi Ibrahim di dalam do’a ini menggabungkan antara rasa aman dengan tauhid. Seakan-akan beliau hendak berpesan kepada umat Islam dan seluruh manusia bahwa syarat untuk mendapatkan kehidupan yang aman, tentram dan bahagia pada diri, keluarga,  lingkungan, masyarakat dan negara adalah memegang tauhid erat-erat dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. 

Ini dikuatkan oleh firman Allah,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ.

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-An’am : 82).

Juga Firman-Nya,

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4)

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,(yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”  (Qs. Qurays; 1-4)

(2). Pintu Taubat masih Terbuka

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Ya Tuhan-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“ (QS.Ibrahim: 36)

Nabi Ibrahim sangat menginginkan umatnya mengikuti jejaknya dalam bertauhid kepada Allah dan menjauhi kesyirikan, karena kesyirikan ini telah menyesatkan banyak manusia. Oleh karena itu, beliau memohon kepada Allah agar pintu taubat dibukakan lebar-lebar kepada mereka yang pernah terjebak dalam kesyirikan dan ingin kembali kepada Tauhid.

Beliau ingin agar orang-orang yang dahulu menentang dakwah tauhid, diberikan hidayah ke jalan yang lurus, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Pernyataan Nabi Ibrahim di atas menunjukkan betapa sayangnya beliau kepada umatnya dan betapa beliau sangat menginginkan mereka kembali kepada jalan Allah dan hidup tenang di bawah naungan tauhid. Dakwah kepada tauhid adalah dakwah kepada ketenangan hidup dan kebahagiaan hati dunia dan akherat.

(3). Mendirikan Shalat Faktor Turunnya Rezeki

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”  (QS. Ibrahim : 37).

Kekuatan Tauhid yang dimiliki Nabi Ibrahim sangat terlihat ketika beliau diperintahkan Allah untuk membawa istri dan anaknya di tengah-tengah lembah padang pasir yang tidak ada air dan tumbuh-tumbuhan.

Beliau tetap tegar, bahkan istrinya pun ikut tegar dan tabah menghadapi ujian ini. Bagi Nabi Ibrahim, kebutuhan hidup setiap manusia dari sandang, papan, dan pakan sudah ditanggung oleh Allah, tidak mungkin luput maupun berkurang.

Oleh karenanya, beliau tidak pernah khawatir sedikitpun terhadap nasib dirinya dan keluarganya yang ditinggal di lembah tidak berpenghuni gersang tersebut. Ini sebagaimana disinyalir oleh Allah SWT dalam firman-Nya,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuz).” (Qs. Hud: 6).

Ini juga sesuai dengan hadist Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ رُوح القُدسِ نَفَثَ في رُوعي أنه لن تَمُوتَ نفس حتى تستكمل رِزْقها وأجَلَها

“Sesungguhnya Malaikat Jibril (Ruhul Quds) membisikan pada diriku, bahwa jiwa seseorang tidak akan mati sampai rezeki dan ajalnya disempurnakan.“ (HR. Baihaqi, Shahih) 

Yang menarik, justru yang dirisaukan oleh Nabi Ibrahim ini adalah bagaimana anak dan keturunannya bisa melaksanakan perintah Allah dengan sebaik-baiknya, terutama perintah shalat yang merupakan inti dari seluruh ibadah dan bukti kehambaan mutlak kepada Allah.

Ini sesuai dengan firman Allah,

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”(QS. al-Baqarah:132).

Yang menjadikan perhatian Nabi Ibrahim bukan hanya shalat, tetapi juga Ka’bah yang merupakan kiblat umat Islam dalam shalat. Beliau memohon kepada Allah agar manusia di dunia ini rindu dan senang berkunjung ke Ka’bah untuk melaksanakan ibadah Haji dan Umrah, atau sekedar thowaf dan mengerjakan shalat di sana.

Kemudian Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar mereka yang selalu menegakkan shalat, dan selalu menjadikan Ka’bah sebagai pusat perhatiannya, baik yang tinggal di sekitarnya, maupun  yang jauh darinya, diberikan kepada mereka rezeki berupa buah-buahan yang berasal dari berbagai penjuru dunia.

Nabi Ibrahim dalam do’a ini mengisyaratkan kepada umat Islam, bahwa ibadah shalat, haji dan umrah serta ibadah-ibadah yang lainnya, akan membawa kepada keberkahan hidup dan melimpahnya rezeki, maka hendaknya setiap muslim tidak khawatir kehilangan rezeki. Tugas manusia adalah beribadah dan menyembah Allah, jika itu dilaksanakan dengan baik, maka Allah akan menanggung seluruh keperluan hidupnya.

Dalam hal ini Allah berfirman,

ومَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. adz-Dzariyat : 56-58)

Allah juga berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha : 132)

(4). Merasakan Muraqabatullah (Monitoring Allah Swt)

 رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.” ( QS.Ibrahim :38)..

Nabi Ibrahim sangat menyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu di bumi dan di langit, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, maka Beliau tidak pernah khawatir sedikitpun ketika meninggalkan anak dan istri di lembah yang kering, tiada air dan tumbuh-tumbuhan.

Beliau juga tidak pernah khawatir terhadap apa yang akan terjadi di masa mendatang, karena semuanya dalam pengawasan Allah. Dengan demikian hidupnya menjadi tenang, tidak pernah gelisah.

Keyakinan seperti ini yang mestinya dimiliki setiap muslim yang mengaku dirinya pengikut Nabi Ibrahim. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallampun diperintahkan secara tegas untuk mengikuti ajaran nabi Ibrahim sebagaimana di dalam firman-Nya:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. an-Nahl : 123).

Selain itu, keyakinan tentang Ilmu Allah, menyebabkan seorang muslim selalu menjauhi segala bentuk maksiat dan kejahatan, karena dia tahu Allah selalu melihatnya. Inilah yang disebut al-Ihsan, tingkat keimanan yang paling tinggi dalam diri seorang muslim. Sebagaimana disebutkan di dalam hadist Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

الإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Al-Ihsan adalah engkau menyembah Allah, seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka Allah melihat engkau“ ( HR. Bukhari)

(5) Selalu bersyukur terhadap Nikmat Allah

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ (39) رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40)

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku” (QS. Ibrahim: 39-40)

Nabi Ibrahim bertahun-tahun memohon kepada Allah agar dikaruniai keturunan yang akan meneruskan perjuangan dan dakwahnya, tetapi keturunan tersebut tidak kunjung datang sampai di hari tuanya.

Tetapi, walupun begitu, beliau tidak pernah putus asa terhadap Rahmat Allah. Dan ketika beliau berumur 80 tahun, menurut sebagian literatur, lahirlah Ismail dari istrinya Siti Hajar dan sesudah itu ketika berumur 98 tahun, lahirlah Ishaq dari istrinya Siti Sarah.

Di hari tua seperti itu, baru lahir anak yang selama ini ditunggu-tunggu. Nabi Ibrahim tidak mengeluh, atau mengatakan sudah terlambat, beliau tetap bersyukur mendapatkan keturunan walau di hari tua, sebagaimana yang tersebut pada ayat di atas.

Ketika kedua anaknya lahir, Beliau memohon kepada Allah agar keduanya di masa mendatang menjadi anak sholeh yang taat kepada Allah dengan memperbanyak ibadah kepada-Nya dengan bersujud dan shalat.

(6) Beristighfar atas Segala Dosa

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (Qs. Ibrahim: 41).

Di dalam perjalanan dakwah selama hidupnya, Nabi Ibrahim merasa banyak hal yang kurang berkenan dengan kehendak dan keinginan Allah, ataupun usaha dakwahnya belum maksimal, maka beliau di akhir hayatnya berusaha untuk memperbanyak istighfar dan memohon ampun atas segala dosanya, dosa kedua orangtuanya, dan dosa orang-orang beriman secara umum agar nanti di hari hisab, di hari perhitungan dipermudah urusannya.

Ayat ini juga memberikan pesan kepada kita umat Islam, agar selalu mendoakan dan memintakan ampun kepada saudara-saudaranya sesama muslim, khususnya di waktu-waktu tertentu, seperti saat khutbah Jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha. Ini sesuai dengan firman-Nya,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. al-Hasyr: 10).

Ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak boleh ada kedengkian diantara mereka. Justru sebaliknya, mereka harus saling berlapang dada, meminta maaf satu dengan yang lainnya, bahkan saling memintakan ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang dikerjakan, sehingga mereka semua bisa beribadah kepada Allah dengan hati bersih.

Sehingga, yang terjadi di dalam kehidupan dunia ini, hati mereka bersih, dan di dalam kehidupan akherat, ketika mereka masuk surgapun hati mereka tetap bersih, sebagaimana firman-Nya,

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini.  Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran”. Dan diserukan kepada mereka: “Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS.al-A’raf (7) : 43).

Inilah salah satu makna dari do’a sapu jagad yang sering diucapkan seorang muslim, sebagaimana firman-Nya,

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. al-Baqarah: 201).

Mudah-mudahan kita semua menjadi orang-orang yang mendapatkan kebaikan di dunia, dan kebaikan di akherat serta dijauhkan dari api neraka. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Ust. Sholih Hasyim

Islamic Medical Service Terima Apresiasi dari Forum Ulama dan Habaib

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga layanan kesehatan nasional Islamic Medical Services (IMS) mendapat penghargaan dari Dewab Pimpinan Pusat Forum Ulama dan Habaib (DPP FUHAB) di kantor DPP FUHAB Jl. Hangtuah X No 2 ,Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu, 19 Ramadhan 1443 (20/04/2022).

Penghargaan tersebut diberikan atas peran dan kiprah nyata IMS selama ini terhadap masyarakat terutama warga DKI Jakarta dan sekitarnya dalam pelayanannya membantu anak jalanan dan masyarakat umum yang ingin hijrah lebih baik.

Direktur IMS Imron Faizin mengatakan bentuk nyata pelayanan tersebut salah satunya adalah dengan program hapus tato gratis.

“Penghargaan dari FUHAB ini merupakan motivasi bagi IMS untuk tetap melayani masyarakat dan menjadi lebih baik lagi kedepannnya,” kata Imron usai menerima penghargaan yang diserahkan langsung Ketua Umum DPP FUHAB KH Luthfi Zawawi.

Sementara itu, dalam sambutannya KH Luthfi Zawawi selaku Ketua Umum FUHAB menyampaikan bahwa banyak warga DKI yang selama ini mendapat pembinaan dari FUHAB ingin mendaftar hapus tato, namun pada kesempatan Ramadhan ini hanya dibatasi 100 orang.

“Insya Allah setelah Ramadhan FUHAB akan mengakomodir untuk warga DKI yang ingin hapus tato secara rutin,” katanya.

Selain itu, program Ramadhan hapus tato ini juga bekerjasama antara FUHAB dan IMS yang didukung oleh Baznas (Bazis) DKI Jakarta.

Pada acara tersebut dihadiri Gubernur DKI Anies Rasyid Baswedan, Wakil Gubernur Ahmad Riza Patria, Walikota Jakarta Selatan Marullah Matali, para ulama, kyai, habaib dan tokoh masyarakat.

Gubernur DKI Jakarta dalam sambutannya memberikan apreasiasi terhadap program-program yang telah dicanangkan dan direncanakan oleh FUHAB terutama kegiatan penghapusan tato.*/Alamsjah Jilpy

Majelis Murobbi Rayon Madiun Teguhkan Semangat Dakwah

0

MADIUN (Hidayatullah.or.id) — Para dai Hidayatullah dari berbagai daerah se karisidenan Madiun melangsungkan pertemuan yang dikemas dalam acara Mabit Majelis Murobbi Rayon Madiun.

Acara yang bertempat di Pesantren Hidayatullah Ponorogo ini dilaksanakan pada hari Sabtu hingga Ahad (16-17/4), diikuti oleh 28 peserta dai Hidayatullah dari Pacitan, Ponorogo, Madiun, Kabupaten Madiun, Magetan, Nganjuk dan Ngawi.

Majelis Murobbi Rayon Madiun merupakan pertemuan rutin dua bulan sekali bagi para dai dan kader senior Hidayatullah se Rayon Madiun yang telah mengikuti dauroh Marhalah Wustho, jenjang pendidikan kader Hidayatullah level lanjut.

Ustadz Muhammad Juwaini, selaku pengurus Dewan Murobbi Wilayah Hidayatullah Jawa Timur mengatakan berkumpulnya para dai ini untuk menguatkan silaturrahim, meningkatkan keilmuan kegamaan dengan kajian tafsir al Qur’an, serta penguatan spirit perjuangan kelembagaan yang didampingi oleh Dewan Murobbi Hidayatullah Jawa Timur.

Juwaini menyampaikan bahwa meskipun dalam keadaan sesibuk apapun dengan pekerjaan harian, kegiatan ini harus terlaksana.

“Jangan khawatir rizki kita tidak akan tertukar. Meskipun kita meningalkan suatu penghasilan karena mengikuti majelis ini. Yakinlah in sya Allaah akan diganti Allaah Subhanahu Wata’ala bahkan ditambah,” pesan Juwaini dalam tausiahnya.

Lebih lanjut lagi, dia menyampaikan bahwa acara ini merupakan media penguatan spirit imamah jama’ah dalam organisasi Hidayatullah.

“Meskipun dalam keadaan berpuasa tetap masih bisa terlaksana, para asatidz sekalian yang hadir semakin menguatkan soliditas” tegas dai senior yang tinggal di Pesantren Hidayatullah Kota Madiun ini.

Selain itu Juwaini menjelaskan bahwa Hidayatullah sebagai ormas Islam yang memiliki visi membangun Peradaban Islam harus didukung dengan SDM kader yang berkualitas.

“Di lembaga kita sudah ada sistem yang baik untuk bisa mewujudkan visi besar kita. Untuk itu diperlukan kader yang berkualitas dan siap bertugas dakwah dimana saja bahkan di pelosok pedalaman,” ungkapnya.

“Sistem pendidikan kita ini, pak.., in sya Allaah bisa menghasilkan kader yang siap bertugas hingga pelosok pedalaman hutan. Ada ini anak muda di luar Jawa yang sudah bergelar sarjana, tapi mau ditempatkan di pelosok sana. Ini luar biasa dan jarang ditemukan di era saat ini. Maka dakwah kita di daerah yang tidak pelosok ini tidak boleh kalah dan harus bisa menghasilkan kader yang berkualitas pula,” pesan beliau diakhir tausiahnya.

Acara berlangsung dengan mendengarkan kajian kitab Tafsir As Sa’di dan diselingi dengan eksplorasi pemikiran dan diskusi ringan para dai tentang tantangan dan peluang dakwah di masyarakat sekitar.

Ahad siangnya, acara diakhiri dengan evaluasi kegiatan DPD Hidayatullah se Rayon Madiun yang dipimpin oleh Ust Abdul Azis, Ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Madiun sekaligus sebagai ketua rayon.

Dalam evaluasinya Aziz menyampaikan pentingnya pertemuan ini untuk penguatan keilmuan para dai dan senantiasa meningkatkan semangat dalam berdakwah.

“Dua bulan lagi tempat Majelis Murobbi Rayon kita adakan di Pacitan. Kita para peserta harus senantiasa semangat meskipun jarak cukup jauh tapi tidak menjadi halangan dan justru senang hati kita hadir di Pacitan. In sya Allaah sebagai peningkatan keilmuan dan penguatan semangat dalam berdakwah,” pungkas Aziz di akhir evaluasi.*/Galih Pratama Yoga

Masa Depan Keuangan Syariah Indonesia

0

KEUANGAN Syariah merupakan salah satu parameter yang di ukur dalam Global Islamic Economy Indicator Score Rank. Dimana dalam laporan terakhir yang dikeluarkan oleh Dinar Standard, Indonesia secara keseluruhan mendapat peringkat ke 4 dengan sekor 91, dibawah Malaysia (426,9), Saudi Arabia (218,6) dan Uni Emirat Arab (114.6).

Posisi Indonesia ini, naik 1 peringkat dari tahun sebelumnya yang berada pada posisi ke-5. Sedangkan untuk keuangan syariah berada pada peringkat 6.

Sebenarnya naiknya peringkat Indonesia ini juga tidak terlepas dari meningkatnya literasi keuangan syariah rakyat Indonesia. Dalam survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2019 menunjukkan indeks literasi keuangan sebesar 38,03% dan indeks inklusi keuangan sebesar 76,19 persen.

Meskipun tergolong masih rendah, angka tersebut meningkat dibanding hasil SNLIK tahun 2016, yaitu indeks literasi keuangan sebesar 29,7% dan indeks inklusi keuangan sebesar 67,8%. Sedangkan indeks literasi keuangan syariah Indonesia baru mencapai 8,93%, meskipun mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

Hal ini menunjukkan masyarakat Indonesia secara umum belum memahami dengan baik karakteristik berbagai produk dan layanan jasa keuangan yang ditawarkan oleh lembaga jasa keuangan formal, padahal literasi keuangan merupakan keterampilan yang penting dalam rangka pemberdayaan masyarakat, kesejahteraan individu, perlindungan konsumen, dan peningkatan inklusi keuangan.

Menurut (Achdiyat 2022) didapatkan data hingga tahun 2021, market share (pangsa pasar) keuangan syariah secara akumulatif sebesar 10,16%, terdiri dari: perbankan syariah 6,52% (total aset Rp. 642,21 T); industri keuangan non-bank syariah 4,26% (Rp. 130,32T); pasar modal syariah 32,56 % (Rp. 3.984T) yang meliputi: sukuk negara 18,52% (RP. 1.125T), reksa dana syariah 7,07% (Rp. 44T) dan sukuk korporasi 7,55% (34,77T).

Sedangkan secara keseluruhan aset keuangan syariah mengalami pertumbuhan sebesar 13,82% year on year (yoy) Desember 2021. Sehingga total aset keuangan syariah nasional sampai dengan September 2021 sebesar Rp 1.901,1 triliun.

Secara lebih detail kontribusi market share dan total aset tersebut di atas adalah sebagai berikut: perbankan syariah market share dan total aset sebagaimana tersebut di atas berasal dari: 12 Bank Umum Syariah, 21 Unit Usaha Syariah dan 163 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

Sedangkan dari industri keuangan non-bank syariah berasal dari: 46 Asuransi Syariah, 31 Pembiayaan Syariah, 7 Fintech Syariah, 7 Penjaminan Syariah, 82 Lembaga Keuangan Mikro Syariah, dan 10 Industri Non Bank Syariah Lainnya. Sedangkan dari pasar modal syariah, berasal dari laporan OJK berkenaan dengan kelolaan saham syariah.

Outlook 2022

Masih berdasarkan (Achdiyat 2022), untuk melihat tantangan kedepan setidaknya kita melihat asumsi dasar kondisi ekonomi Indonesia yang tertuang dalam APBN 2022, yaitu : Pertumbuhan PDB 3,51%, Inflasi 1,87%,Suku Bunga 3,5% ~, Neraca Perdagangan USD 35,34 miliar, Tingkat Pengangguran 6,49%, Indeks Keyakinan Bisnis 7,1%. Hal ini di dukung oleh pemerintah yang telah menetapkan asumsi dasar ekonomi makro Indonesia 2022 untuk RAPBN 2022 sebesar 5,2%.

Dari asumsi tersebut, maka proyeksi total aset perbankanSyariah mencapai Rp 646,2 Triliun per September 2021 dengan pertumbuhan aset sebesar 12,22% YoY. Pertumbuhan ini diproyeksikan akan tetap positif didukung oleh pemulihan kondisi perekonomian nasional.

Peluang yang cukup luas dan penetrasi yang rendah menjadi dasar perlunya peningkatan market share perbankan Syariah Indonesia melebihi perbankan konvensional, sehingga pada beberapa tahun ini diproyeksikan market share perbankan syariah diproyeksikan 11,3%. Hal ini juga didukung oleh nilai transaksi digital banking mencapai Rp 39.841T di tahun 2021 meningkat 46% YoY dan diproyeksi meningkat 25% ditahun 2022.

Terkait dengan industri keuangan non bank syariah, perkiraan pertumbuhan asuransi Syariah didorong dengan peningkatan kesadaran masyarakat atas risiko kesehatan pasca pandemi COVID-19 namun rendahnya literasi masyarakat terhadap produk asuransi Syariah masih menjadi tantangan.

Perkiraan peningkatan pembiayaan Syariah didasari oleh peningkatan tren penjualan produk otomotif. Restrukturisasi pinjaman dapat mengurangi permasalahan kualitas aset, khususnya NPF (Non-Performing Financing). Hal ini perlu didukung dengan pemulihan bisnis dan pendapatan sektor riil.

Prediksi peningkatan dana pensiun Syariah didukung dengan peningkatan market share dana pensiun Syariah terhadap dana pensiun nasional yang diperkirakan akan mencapai lebih dari 1% pada tahun 2022.

Sedangkan, nilai asset Fintech Syariah mengalami sedikit penurunan di tahun 2021 menjadi 74M, namun diproyeksikan akan meningkat dengan dukungan peningkatan literasi dan diversifikasi produk. Jumlah pemain fintech Syariah dan porsi asset nya masih relatif kecil dibandingkan fintech konvensional (hanya ada 7 fintech syariah dan 97 fintech konvensional) yang resmi dan berijin.

Dari sisi pasar modal syariah diproyeksikan Kapitalisasi Saham Syariah tumbuh sebesar 19,36% dengan nilai Rp3.992,66 T di akhir 2021. Saham Syariah juga diperkirakan akan terus bertumbuh seiring meningkatnya jumlah perusahaan IPO.

Tren pertumbuhan akumulasi penerbitan sukuk korporasi yang cukup tinggi sebesar 181% dan 495 emiten yang terdaftar di ISSI diharapkan akan meningkatkan penerbitan sukuk korporasi. Indonesia menerbitkan green tranche Sukuk dengan nilai USD750 juta.

Green Tranche Sukuk akan meningkat sejalan dengan penggunaan green-energy. Kebutuhan pendanaan Syariah diproyeksikan akan terus bertumbuh melalui: proyek strategis pemerintah, konversi pembiayaan BUMN, sustainability project, longterm and green-field project.

Tantangan Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah

Menurut Kepala Bagian Edukasi Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Primandanu Febriyan Aziz, setidaknya ada 5 tantangan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia:

Pertama, market share relatif masih rendah, secara keseluruhan market share keuangan syariah hingga Desember 2021 masih berada di angka 10,16 %. Sehingga memicu pebankan, iknb, dan pasar modal masing-masing untuk meningkatkan market share, melalui edukasi dan diversifikasi produk. Selain itu juga dengan menambah jumlah dan total aset dan kelolaan.

Kedua, literasi keuangan syariah masih rendah, dengan indeks literasi keuangan sebesar 38,03% menunjukkan rendahnya tingkat literasi masyarakat. Sedangkan indeks literasi keuangan syariah Indonesia baru mencapai 8,93%, meskipun mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Ini harus ditingkatkan dengan melalui edukasi yang melibatkan kampus, ormas Islam, pesantren, masjid dan lembaga keagamaan lainnya.

Ketiga, deferensiasi model bisnis/produk syariah yang terbatas, diferensiasi model bisnis atau produk syariah yang masih terbatas turut menjadi tantangan berbagai pihak melakukan kegiatan dalam rangka pengembangan keuangan syariah. Sejauh ini, model bisnis atau produk syariah meliputi saham, sukuk korporasi, reksa dana syariah, surat berharga negara, asuransi syariah dan pembiayaan syariah.

Keempat, adopsi teknologi yang belum memadai, perkembangan teknologi yang begitu cepat membutuhkan investasi yang besar. Sehingga industri keuangan syariah masih belum mampu mengikuti trend ini, diperlukan integrasi teknologi keuangan yang mutakhir.

Kelima, pemenuhan SDM yang belum optimal, dimana kebutuhan SDM untuk mengisi berbagi posisi di industri keuangan syariah tidak berbanding lurus dengan lulusan pendidikan tinggi, baik dari sisi kuantitas maupun kulaitas dan kapasitasnya.

Transformasi Digital

Dalam Seminar dan Expo Syari’ah Investmen 11/11/2021, KH.Ma’ruf Amin menyampaikan bahwa: “Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu peluang sekaligus tantangan bagi kemajuan ekonomi dan keuangan Syariah ke depan”.

Sehingga, pengembangan pemanfaatan teknologi digital dalam perekonomian syariah adalah mutlak dilakukan, hal ini untuk mendorong digitalisasi perbankan dan fintech syariah serta mendorong layanan pengelolaan dana pensiun syariah lebih baik lagi.

Dari sini akan menciptakan peluang transformasi digital disebabkan oleh, pertama, halal lifestyle yang kian diminati sehingga meningkatkan demand pemanfaatan keuangan syariah yang tinggi. Dan, kedua, pertumbuhan ekonomi Syariah di Indonesia yang mengalami kemajuan pesat, dan ketiga, preferensi konsumen dari generasi millenials dan Gen-Z yang terus tumbuh.

Kendatipun demikian, bukan berarti transformasi digital tidak mendapatkan tantangan, setidaknya ada 4 hal yang menjadi tantangan transformasi digital yaitu : a) ekosistem yang cukup kompleks dan melibatkan banyak stakeholder seperti lembaga keuangan syariah, industri halal, UMKM, hingga e-commerce, b) infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia yang relatif belum merata, c) kapabilitas, literasi, dan penggunaan digital pelaku usaha, terutama UMKM yang sangat terbatas, dan d) kecepatan koneksi internet Indonesia yang masih relatif lambat.

Untuk itu diperlukan kunci keberhasilan dalam menghadapi transformasi digital ini meliputi : 1) penerapan service excellence dan product as services yang customer- oriented, 2) strategi bisnis yang tepat sasaran dan menciptakan kolaborasi antar berbagai stakeholder, dan 3) peningkatan awareness dan literasi masyarakat dalam bidang Ekonomi dan Keuangan Syariah.

Menangkap peluang

Secara global, nilai aset keuangan syariah meningkat 7,8% dari US$3,4 triliun pada tahun 2020 menjadi US$3,6 triliun pada tahun 2021. Pertumbuhan rata-rata pertahun (CAGR) sebesar 7,9% diharapkan antara tahun 2021 dan 2025, dan nilainya aset keuangan Islam diperkirakan mencapai US$4,9 triliun pada tahun 2025.

Sedangkan total aset ekonomi syariah di Indonesia hingga Desember 2021, diperkirakan Rp. 2.000 triiun, maka dengan CAGR 7,9% sebagaimana tersebut di atas, maka dapat diproyeksikan akan mencapai nilai lebih dari Rp. 2.500 triliun pada tahun 2025. Tentu saja ini nilai yang sangat besar.

Lalu pertanyaannya bagaimana untuk menangkap peluang tersebut, setidaknya ada 6 (enam) hal yang bisa diusulkan:

Pertama, berusaha menerapkan 100% prinsip syariah dalam semua institusi keuangan syariah, baik di perbankan syariah, industri keuangan non-bank syariah dan pasar modal syarih. Sehingga perlu perubahan yang paradigmatik dalam industri keuangan syariah, termasuk dalam akad, bagi hasil, dan lain sebagainya.

Kedua, berkolaborasi dengan ustadz, da’i, kyai, ajengan dan tokoh agama lainnya, untuk melakukan edukasi kepada masyarakat berkenaan dengan ekonomi islam dan keungan syariah, melalui pengajian, khutbah dan lain sebagainya. Sehingga akan meningkatkan pemahaman umat, dan pada gilirannya akan meningkatkan literasi keuangan syariah.

Ketiga, melakukan sinergi dengan sekolah vokasi, pesantren, perguruan tinggi serta lembaga profesional lainnya untuk menyiapkan SDM syariah tersertifikasi sehingga memilik kualitas, kapasitas dan integritas yang memadai untuk mengelola institusi keuangan syariah.

Keempat, memperkuat institusi keuangan Islam yang ada dengan melibatkan pengusaha muslim, ormas Islam, pesantren, masjid dan lembaga serta institusi Islam lainnya serta umat Islam, serta umat islam pada umumnya, untuk menjadi mitra (nasabah) serta investor pada institusi keuangan syariah sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Sehinga umat dari segala lapisan apapun merasa memiliki institusi keuangan syariah yang dimaksud.

Kelima, memanfaatkan teknologi yang mutakhir dalam mengelola dan memberikan layanan pada institusi keuangan syariah, dengan melibatkan perusahaan dan engineer muslim yang kompeten, sehingga tidak kalah dengan institusi keuangan syariah lainnya
Keenam, meminta pemerintah selain membuat regulasi dan undang-undang yang mendukung perkembangan indiustri keungan syariah, juga ditunjukkan politik anggaran yang berpihak pada tumbuh dan berkembangnya ekonomi syariah.

Dengan demikian maka, cita-cita Indonesia menjadi pusat keuangan syariah, akan menjadi kenyataan karena semua komponen umat terlibat dalam mengembangkannya.

Tentu tidak sesederhana ini, akan tetapi ini adalah langkah kesekian sebagai upaya untuk merealisasikan itu semua. Sehingga masa depan industri keuangan syariah secara khusus dan ekonomi syariah secara umum memiliki masa depan yang cerah. Dan ini semua menjadi pilar bagi tegaknya peradaban Islam. Wallahu a’lam

Asih SubagyoDosen STIE Hidayatullah Depok