Beranda blog Halaman 365

Diklat SAR Hidayatullah Sulsel Capai 90 Persen Target Penguasaan Teknik

BULUKUMBA (Hidayatullah.or.id) — Diklat Dasar SAR Hidayatullah Sulawesi Selatan sukses digelar selama 10 hari dan ditutup di lokasi pusat kegiatan di Tebing Apparalang, Bulukumba, belum lama ini (27/03/2022).

Kepala Divisi Diklat SAR Hidayatullah Alfarobi Nurkarim mengapresiasi helatan Diklat Dasar SAR Hidayatullah Sulawesi Selatan ini dengan nilai luar biasa baik dari segi penguasaan materi dan teknik aplikasi di lapangan.

“Jika diprosentasikan dalam bentuk persen maka Diklat Dasar SAR Hidayatullah Sulsel kali ini mencapai 90 persen terlaksana dan tercapai,” kata Alfarobi.

Alfarobi, berharap Insya Allah kedepannya akan dilaksanakan lagi Diklat Dasar SAR Hidayatullah di Sulawesi Selatan. Paling tidak, kata doa, dilaksanakan sekali lagi diklat dasar dan 1 kali diklat lanjutan.

“Agar tahun ini bisa tercetak instruktur-instruktur muda yang akan menjadi instruktur di lapangan untuk diklat-diklat selanjutnya dan juga untuk seluruh tim seluruh unit di seluruh kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan,” terangnya.

Kegiatan diklat didampingi langsung lima pembina dari pengurus pusat SAR Hidayatullah yaitu Ketua Umum SAR Hidayatullah Irwan Harun, Kadiv Operasi Murdianto, Kadiv Diklat Alfarobi Nurkarim, instruktur Nasional Ahmad Jaya, dan pembina SAR Hidayatullah Saharuddin.

Pada penutupan Diklat Dasar SAR Hidayatullah Sulawesi Selatan, Kadiv Operasi Murdianto mewakili Ketua Umum SAR Hidayatullah menuturkan bahwa tidak kebetulan Allah Subhanahu Wa Ta’ala takdirkan Bulukumba ini sebagai tempat diklat karena dari sinilah sejarah tertorehkan.

“Sejarah pembebasan Irian Barat itu berawal dari Bulukumba ini dimana Presiden Soeharto memesan 40 kapal untuk membebaskan Irian Barat,” ungkap Murdianto.

Peserta diklat 40 orang ini, katanya, diharapankan akan memberi warna dengan rahmat Allah ditebarkan bukan hanya untuk Sulawesi Selatan, bukan pula hanya untuk Indonesia tetapi untuk seluruh dunia.

Sementara itu Ketua SAR Hidayatullah Sulawesi Selatan Armin memberikan penguatan kepada peserta bahwa apa yang diberikan oleh para instruktur adalah untuk meningkatkan kemampuan terbaik para peserta dari sisi kemanusiaan sehingga mampu melaksanakan tugas kemanusiaan nantinya.

“Setiap tempaan yang diberikan oleh para instruktur sampai kemudian membuat perasaan tidak enak dan bahkan sampai muntah-muntah semata-mata diharapkan untuk mengeluarkan sisi terbaik dari diri peserta. Untuk apa? untuk Ahsanu ‘Amala untuk berbuat yang terbaik dari sisi kemanusiaan,” tegasnya.

Instruktur nasional SAR Hidayatullah Ahmad Jaya memberikan apresiasi kepada para peserta Diklat Dasar SAR Hidayatullah Sulawesi Selatan, karena menurutnya untuk materi navigasi yang berhasil memecahkan rekor akurat atas titik koordinat yang telah ditentukan itu.

“Ini sangat luar biasa karena yang bisa memecahkan rekor keakuratan dalam materi navigasi baru peserta diklat di Tarakan dan Sulawesi Selatan,” ungkap marinir TNI ini. */Muhammad Erwin

Ketum DPP Hidayatullah Resmikan Kantor PP Muslimat Hidayatullah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, Lc., MA, meresmikan secara simbolis penggunaan perdana kantor baru Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (Mushida) di komplek Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Sabtu, 2 Sya’ban 1443 (5/6/2022).

Peresmian gedung kantor baru Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah ini ditandai dengan pengguntingan pita di pintu masuk kantor. Dalam kesempatan tersebut Nashirul turut didampingi sejumah jajaran serta turut disaksikan juga Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah dan peserta Rakernas Mushida 2022 yang dibuka di hari yang sama.

Kantor baru Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah yang representatif ini memiliki sejumlah fasilitas seperti ruang rapat besar, meeting room kecil, ruang penerimaan tamu, ruang kerja Ketua Umum, Sekjen, dan pengurus harian, ruang istirahat, dan tersedia juga fasilitas ibadah khusus wanita yang terintegrasi dengan Masjid Baitul Karim Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah.

Berbarengan dengan peresmian kantor dan pembukaan Rakernas Mushida, pada kesempatan itu juga dilakukan pembukaan pameran produk Mushida oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah Ustadzah Hani Akbar, S.Sos.I.

Di arena Rakernas juga digelar presentasi produk kecantikan SKN 8 serta penandatanganan MoU, presentasi STIE Hidayatullah serta penandatanganan MoU, dan penyerahan Mushida Award kepada PW Mushida terpilih.

Rapat Kerja Muslimat Hidayatullah berlangsung pada 2-3 Sya’ban 1443 H/5-6 Maret 2022 di Aula Gedung Dakwah Hidayatullah, Cipinang, Jakarta. Tujuan penyelenggaraan Rakernas Muslimat Hidayatullah ialah tersosialisasikannya program kerja dalam mencapai visi misi organisasi dan meningkatkan ukhuwah Islamiyah di antara kader Muslimat Hidayatullah. (ybh/hio)

Inilah Doa yang Paling Utama

Anas bin Malik berkata: Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shalla-llahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apakah doa yang paling utama itu?’ Beliaupun menjawab, “Engkau meminta kepada Allah maaf dan kesehatan di dunia dan akhirat. Bila engkau diberi-Nya semua itu, maka sungguh engkau telah beruntung.” (Riwayat Hannad bin as-Sariy dalam Kitab az-Zuhd, juz 1 hadits no. 446)

KEHIDUPAN sehari-hari kita dipenuhi dengan doa dan permohonan, entah disadari atau tidak. Sehari semalam kita mengucapkan ihdina ash-shirath al-mustaqim (tunjukkan kami ke jalan yang lurus), minimal 17 kali dalam shalat wajib.

Di luar shalat, ada banyak lagi doa-doa: sebelum makan, mau naik kendaraan, hendak tidur, saat bercermin, akan masuk kamar kecil, memulai aktifitas, dan lain sebagianya.

Jika memang demikian banyak doa yang dapat kita panjatkan sepanjang hidup, adakah permohonan paling utama yang layak diajukan?

Ya, hadits yang kita kutip di awal tulisan ini menunjukkan secara gamblang apa isi dari doa yang paling utama itu: dimaafkan atas segala kesalahan dan diberi anugerah kesehatan.

Kita memohon maaf kepada Allah berhubung karakter kemanusiaan kita yang sering salah dan lupa. Acapkali dosa seperti datang begitu saja tanpa tersadari, dan beberapa saat kemudian kita baru ingat telah terjerumus dalam pelanggaran.

Misalnya, dalam kesempatan berbincang dengan seorang sahabat, entah darimana bermula tiba-tiba kita terseret untuk menggunjing (ngrasani atau ghibah) seseorang yang tidak hadir saat itu. Bisa jadi pula, kita yang tidak lagi mengingat pernah melakukan dosa seperti ini, juga tidak pernah menyesalinya.

Maka, dengan doa, kita mohon kepada Allah agar dimaafkan dan diampuni. Sebab, kita sendiri bahkan tidak bisa mengingat lagi dosa-dosa itu. Inilah kelalaian yang harus dimohonkan maaf. Inilah keteledoran yang mesti dimintakan toleransi.

Ada juga dosa-dosa yang kita torehkan tanpa sengaja, atau di luar kehendak dan kuasa kita. Terlebih-lebih dewasa ini, betapa banyak wanita yang memamerkan auratnya secara terang-terangan. Entah dengan pakaian yang ketat, membentuk tubuh, terbuka, terlalu tipis atau minim disana-sini.

Ingat, dalam situasi yang terkesan “normal” begini, bukankah banyak dari kita yang sudah kebal dan merasa biasa-biasa saja? Kita tidak pernah lagi terkejut menyaksikan rambut wanita-wanita non-muhrim yang dibuka tanpa penutup, atau betisnya yang terpampang, juga leher dan dadanya yang dibiarkan setengah terbuka. Bukankah semua itu aurat wanita, yang berarti pula seharusnya tidak boleh dilihat?

Jika ia haram ditampakkan, maka melihatnya juga haram. Dan, ini jelas dosa serta pelanggaran. Tetapi, bukankah kebanyakan kita sudah terbiasa dan tidak rikuh lagi? Maka, mohon maaflah kepada Allah atas dosa-dosa sejenis ini, yang nyaris tiada seorang pun dari kita mampu menghindarinya.

Jika para pria yang tanpa sengaja harus berdosa, karena di setiap penjuru pemandangan semacam itu hampir pasti ada, bagaimana lagi dengan para wanita yang secara terang-terangan membuka auratnya di muka umum? Apakah mereka tidak sangat butuh untuk memohon maaf dan ampunan Allah, karena telah menyeret sekian banyak orang ke dalam kubangan dosa?

Ini bukan kebencian kepada perempuan dan diskriminasi. Tetapi, sebagai muslim, lelaki atau perempuan, bukankah kita harus terus menjaga diri dari dosa? Jadi, menutup aurat adalah bagian dari upaya sadar untuk meraih kesucian diri, memurnikan iman dan memaksimalkan ketaatan. Demikian pula menjaga pandangan dan berhati-hati dalam pergaulan.

Permohonan kedua yang layak kita panjatkan kepada Allah adalah meminta anugerah kesehatan, jasmani dan rohani. Ini jelas dan gamblang.

Setiap orang mungkin memohon keberlimpahan rezeki, keluasan ilmu, kesuksesan dalam bisnis, dan lain sebagainya. Tidak masalah. Namun ingatlah, di saat rezeki dihamparkan, ilmu dicurahkan, bisnis mengalir lancar, tetapi apa yang terjadi jika karunia kesehatan dicabut dari diri kita? Nyaris saja semua yang kita miliki tidak lagi berharga.

Lihatlah, di bawah cobaan penyakit, kita bisa menjual apapun aset yang kita punya: kendaraan, tanah, rumah, perabot, perhiasan, pendeknya semua dan apa saja! Segala daya upaya yang mungkin akan kita tempuh untuk meraih kembali nikmat kesehatan, bahkan terkadang tanpa mengindahkan biayanya.

Kesehatan merupakan anugerah yang sangat berharga. Dengannya kita bisa maksimal beribadah, sebab segala jenis ketaatan yang ada sangat mungkin dicoba dan dijalankan. Dengannya pula sumberdaya kita akan terarah untuk kemaslahatan yang lebih luas, tidak hanya terfokus merawat diri sendiri. Dengannya kegagalan dapat kita sikapi dengan lebih tegar, karena kita masih diberi kesempatan untuk bangkit dan berjaya sekali lagi.

Bahkan, nyaris saja kesempatan itu tak pernah tertutup selama kita masih sehat dan segar bugar. Dari sisi lain, kedua perkara yang kita mohonkan kepada Allah menyingkap prinsip mawas diri, baik secara fisik maupun spiritual.

Permohonan maaf mengajarkan kita untuk berhati-hati menjalani hidup, sadar untuk menjauhi dosa sekuat tenaga, memonitor batin kita sendiri agar senantiasa bersih dan murni.

Sementara itu, permohonan kesehatan mengingatkan kita untuk merawat anugerah tubuh yang Allah berikan. Jangan merusaknya dengan makan sembarangan atau merokok, misalnya.

Demikianlah, Rasulullah juga mengajarkan kita untuk meraih kesempurnaan hidup dengan mawas diri. Waspadai perusak spiritual, waspadai pula penghancur fisik. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Agenda Rapat Kerja Nasional Muslimat Hidayatullah Resmi Dibuka

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Muslimat Hidayatullah dengan tema “Konsolidasi Jati Diri, Wawasan dan Organisasi Demi Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik,” resmi dibuka di Aula Gedung Dakwah Hidayatullah, Cipinang, Jakarta, Sabtu, 2 Sya’ban 1443 (5/03/2022).

Rapat Kerja Nasional Muslimat Hidayatullah dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, Lc., MA.

“Rapat kerja dalam kesempatan ini mengutamakan sinkronisasi dan konsolidasi. Program kerja yang dicanangkan oleh Mushida adalah program yang mengacu pada kebijakan strategis dan program kerja lima tahunan yang diturunkan pada program tahunan,” katanya dalam sambutan.

Yang tak kalah penting, ia mengingatkan bahwa setiap orang harus memulai sesuatu dari cita-cita akhir yang sudah ditanamkan dalam pikiran kita.

“Apa yang menjadi pikiran besar itulah yang menjadi semangat. Allahu yarham Ustadz Abdullah Said dan bertahan di sebuah hutan belantara selama puluhan tahun karena adanya sebuah visi yang besar,” imbuhnya.

Begitu juga dengan Rasulullah dan sahabat yang berkorban jiwa raga dalam keadaan suka dan duka, tetap teguh dalam ajaran Islam karena sebuah visi.

“Dalam mewujudkan visi Hidayatullah adalah dengan mencetak kader yang berkualitas. Selain itu, perlu memperhatikan aspek tarbiyah dan dakwah yang seimbang dalam merekrut anggota,” katanya.

Nashirul juga menegaskan bahwa dakwah tidak ada artinya tanpa mencetak kader. Untuk itu, organisasi harus dekat dengan elemen umat. Dalam mengemban amanah di Hidayatullah terdapat empat kekuatan yang dibutuhkan yaitu kekuatan spiritual, intelektual, material, dan manajerial.

Rakernas dengan target optimalnya kinerja seluruh PW dan terwujudnya kemandirian ekonomi berbasis keummatan ini, dihadiri oleh Pengurus Pusat Mushida, Pengurus Inti Wilayah Mushida 34 Provinsi, dan Kepala PAUD/TK Kampus Utama Hidayatullah.

Acara pembukaan Rakernas Muslimat Hidayatullah dirangkai dengan peresmian kantor PP Mushida oleh Ust. Dr. Nasirul Haq, Lc. MA, pembukaan pameran produk Mushida oleh Ustadzah Hani Akbar, S.Sos.I, presentasi produk kecantikan SKN 8 serta penandatanganan MoU, presentasi STIE Hidayatullah serta penandatanganan MoU, dan penyerahan Mushida Award kepada PW Mushida terpilih.*/Arsyis Musyahadah

DMU Ikhtiar Lahirkan Kader Berintegritas Moral, Spiritual dan Profesional

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Surabaya menggelar Dauroh Marhalah Ula (DMU) yang bertema “Melahirkan Kader Berintegritas Moral, Spiritual dan Profesional”. Acara ini berlangsung selama dua hari Sabtu-Ahad, 2-3 Sya’ban 1443/ 5-6 Maret 2022 di Aula Rahmat Rahman Kampus Utama Hidayatullah Surabaya.

Acara DMU berlangsung menjadi tujuh sesi. Sesi pertama Pangantar Sistimatika Wahyu; Sesi kedua, Lahirnya Syahadat dari Ma’rifatul Alam dan Insan; Sesi ketiga, Makna dan Konsekuensi Syahadat; sesi keempat, Komitmen Hidup berQur’an; sesi kelima, Membekali Diri dengan 7 “Azimat” Al Muzzammil; sesi keenam, Komitmen Berdakwah; dan, sesi ketujuh Komitmen Berjamaah.

Panitia penyelengara Ust Nur Huda dalam sambutannya menekankan akan pentingnya mengikuti acara ini hingga sesi akhir.

“Harapannya bagi semua peserta bisa mengikuti sampai selesai jika satu sesi terlewatkan maka tidak akan mendapat sertifikat marhalah atau tidak lulus” kata Sekretaris DPD Hidayatullah Surabaya ini.

“Harapan kedua diadakan acara ini untuk menjadi syarat supaya bisa mengikuti jenjang Marhalah Wustho sehingga setelah semua mahasiswa lulus dari STAIL sudah selesai Marhalah Ula,” tambah Nur Huda.

Ust Juweni selaku ketua Dewan Murabbi Wilayah Jawa Timur dengan sepenuh hati menyampaikan bahwa kegiatan Daurah marhalah Ula ini dapat melahirkan kader kader pelanjut estafeta perjuangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

“Dauroh ini sangat penting khususnya bagi kita para kader penerus estafeta perjuangan di lembaga Hidayatullah karena mau tidak mau kita akan menjadi seorang penerus perjuangan dakwah Nabi,” sambut Ust Juweni.

Beliau juga memaparkan bahwa kegiatan marhalah ini menjadi motode perekrutan kader tangguh untuk lahirkan generasi Islam kaffah.

‘Dauroh Marhalah Ula ini adalah tahapan pengajaran Hidayatullah dan ini akan mengantarkan untuk semakin kenal kepada Allah ma’rifatullah, juga akan mengantarkan kita menjadi seseorang berislam secara kaffah,” terangnya.

Acara ini diikuti oleh 60 peserta dari mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim Surabaya. Turut hadir pula jajaran Pengurus Daerah Hidayatullah Surabaya, Ketua PD Pemuda Hidayatullah Surabaya.*/Adib Nursyahid

Ketum Pemuda Hidayatullah Ajak Generasi Muda Tolitoli Kuatkan Literasi

TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Imam Nawawi, mengajak generasi muda untuk membangun budaya ilmu atau literasi dan terus menguatkannya.

Hal itu disampaikan Imam dalam kesempatan lawatannya memenuhi undangan PW Pemuda Hidayatullah Sulawesi Tengah (Sulteng) dimana ia sempat mampir di Palu dan berjumpa generasi muda santri Hidayatullah Tolitoli.

Santri putra maupun putri Kampus Pesantren Hidayatullah Tolitoli tampak antusias menyimak paparan demi paparan yang disampaikan oleh penulis buku Mindset Surga itu.

Dalam uraiannya, pemuda yang aktif menulis di website pribadinya masimamnawawi.com itu mendorong para santri untuk meningkatkan budaya literasi.

“Apa yang membuat bangsa Indonesia begitu lama dijajah oleh Belanda adalah karena bangsa Indonesia kurang baca dibanding Belanda. Akibatnya bangsa ini mudah sekali dipecah belah dan ditaklukan dalam waktu yang begitu lama,” terangnya, Jum’at, 1 Sya’ban 1443 (4/3/2022).

Beruntung masih ada dari anak anak bangsa ketika itu yang terus menumbuhkan tradisi ilmu dalam pengemberaan intelektual mereka di sekolah rakyat dan di luar negeri.

“Begitu muncul generasi muda dari bangsa ini yang mengerti bagaimana cara membebaskan bangsa ini dari penjajahan Belanda maka segenap potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh seluruh komponen berhasil disatukan dan Indonesia dapat meraih kemerdekaan,” kata Imam.

Imam menjelaskan, kemerdekaan yang berhasil diraih bangsa ini berawal dari tumbuhnya pengetahuan dari proses dialektika, ilmu itu kemudian melahirkan kesadaran dan pada puncaknya kesadaran itu yang kelak menghunuskan perlawanan hingga penjajah harus angkat kaki dari negeri ini.

“Sebab dari itu semua adalah mereka mau membaca dan mereka terus berjuang hingga mendapatkan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala,” imbuh pegiat literasi yang karib disapa Mas Imam ini.

Lebih jauh Mas Imam mengajak anak-anak santri untuk keluar dari definisi anak-anak hari ini yang cenderung santai, identik dengan dunia permainan dan tidak bisa berpikir dewasa.

“Walaupun anda semua masih usia anak-anak tapi jangan pernah menganggap bahwa anak-anak itu berarti harus banyak bermain. Mulai sekarang tanamkan kesadaran di dalam diri bahwa yang kalian butuhkan sebenarnya adalah banyak belajar, banyak ibadah, dan banyak latihan tanggung jawab,” pesannya.

Imam yang lahir di Jember dan sejak kecil tumbuh dalam tradisi NU ini menekankan bahwa para pejuang kemerdekaan dahulu adalah mereka yang tak lelah berbuat untuk kebajikan, seperti ditunjukkan para ulama dan santri di masa pergerakan nasional.

“Oleh karena itu jadilah anak-anak yang berpikir dewasa, bertindak baik, dan menjadikan setiap kesempatan sebagai sarana menjadi orang-orang yang disayang oleh Allah subhanahu wa ta’ala,” tutup Imam.*(ybh/hio)

Keindahan Alam Kawasan Wadi Barakah Pesantren Hidayatullah Tompobulu

MAROS (Hidayatullah.or.id) — Kawasan pengembangan agrowisata Wadi Barakah di kawasan Pondok Pesantren Tahfidz Putra Hidayatullah Tompobulu memiliki panorama yang indah dan mengesankan. Hal ini pun diakui Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (Ketum DPP) Hidayatullah Dr KH Nashirul Haq Lc MA yang belum lama ini menyempatkan berkunjung ke kawasan itu yang berlokasi di Tompobulu, Pucak, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Nashirul mengaku terpesona dengan bentangan alam yang indah dan komplit dimiliki area agrowisata Wadi Barakah yang berada dalam kawasan pengembangan dari Ponpes Hidayatullah Tompobulu.

“Masyallah, ini lengkap jannatin tajri min tahtiha al-anhar (surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai),” ujarnya mengilustrasikan kekagumanya saat memandang lembah hijau Wadi Barakah yang terdiri dari panorama hutan, persawahan, kebun dan sungai yang mengalir di tengahnya.

Kunjungan ulama muda alumnus Universitas Madinah itu sebelum bertolak ke Jakarta usai sehari sebelumnya hadir meresmikan Masjid Al Fatih, Belawa, Wajo.

Ia didampingi Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Bukhari MPd dan jajaran, diterima oleh Ketua Yayasan Albayan Hidayatullah Makassar Ust Suwito Fatah MM beserta jajaran.

Nashirul menaruh harapan dan optimis kawasan pesantren seluas 21 hektar, yang dibelah oleh bakal jalan provinsi itu, menjadi kawasan terpadu pendidikan berkualitas dan agrowisata yang diminati.

Wadi Barakah akan menjadi kawasan agrowisata untuk outbond, camping, penginapan villa dengan nuansa wisata spiritual. Saat itu sudah ditanam ratusan bibit berbagai buah-buah mulai dari jampu crystal, alpokat hingga durian.

Pengembangan agrowisata Wadi Barakah di kawasan Pesantren Hidayatullah Tompobulu atas inisiatif Ketua Dewan Pembina Yayasan Albayan Ust Dr Abd Aziz Qahhar Mudzakkar MSi, seiring ditetapkanya Tompobulu sebagai kawasan agrowisata oleh Pemprov Sulsel bersama Pemkab Maros.

Hadir pula pada kunjungan itu Arsitek master plan kawasan Hidayatullah Tompobulu Ir Muaz Yahya, Bendahara DPW Hidayatullah Sulsel Ust Kadir MM, Ketua STAI Albayan Hidayatullah Dr Irfan Yahya ST MSi.*/Firmansyah Lafiri – AMC

Terasa Aroma Ramadhan

“Bi, berapa lagi Ramadhan?”
“30 hari lagi”
“Masih lama ya?”
“Mau apa dengan Ramadhan?”
“Ramai-ramai sama teman buka puasa, shalat taraweh dan bermain-main

Memasuki bulan Syaban, aroma bulan Ramadhan mulai terasa. Ada bayang-bayang kebahagiaan suasana Ramadhan.

Semua manusia dengan fitrahnya senang bertemu Ramadhan. Termasuk anak-anak bahagia sesuai dengan umur dan versinya.
Ramadhan sudah terbayang suasananya dan terasa aroma bahagianya. Meski masih satu bulan lagi akan datang.

Bagi orang beriman, Ramadhan adalah bulan yang luar biasa untuk beribadah dan menikmati kelezatan spritual dengan berbagai ibadah didalamnya.

Agenda dan program sudah mulai direncanakan, meski tidak ditulis dalam dokumen. Tapi sudah tercatat dalam hati dan fikiran akan membaca al Quran 3 x khatam, infak sekian rupiah, shalat lail jam sekian dan lain sebagainya.

Selanjutnya di masjid-masjid, komunitas pengajian juga sudah musyawarah menyiapkan kegiatan menyambut Ramadhan. Dari fasilitas masjid, jadwal kegiatan, pembagian tugas.

Bukan lagi memikirkan lapar dan haus, buka puasa dan sahurnya, kue dan baju lebarannya. Itu fikiran anak-anak atau mereka yang masih awwam dalam memahami makna Ramadhan.

Tapi menyiapkan hati untuk bisa optimalkan waktu dari detik ke detik Ramadhan bernilai ibadah.

Sebagian manusia, ada yang merasa terancam, menderita, gelisah dengan akan datangnya Ramadhan. Karena orientasinya masih sekitar makan, minum dan bersenang-senang dengan hal-hal sekitar perut.

Ini yang harus diberikan sentuhan tarbiyah dan dakwah untuk bisa memaknai Ramadhan sebagai bulan mulia, berkah dan agung.

Sebagian senang karena ada peluang besar bisnis dengan keuntungan yang berlipat. Jualan bahan pokok makanan, kue, pakaian dan aksesorisnya.

Itu dampak dari keberkahan Ramadhan tapi bukan keuntungan materi berlipat yang menjadi obsesi. Tapi pahala dan derajat berlipat yang dijanjikan Allah dan Rasul yang harus dikejar dan diraihnya.

Ramadhan datang, orang-orang beriman terpanggil untuk semangat dan berbahagia menyambutnya. Aroma dan suasana Ramadhan semakin dekat, kerinduan bertemu Ramadhan menjadi romantika iman untuk menyambutnya.

Ust. Abdul Ghaffar Hadi

Kodim 0905/BPN dan Kodam VI/Mlw Kampanye Kreatif Penerimaan Santri Masuk TNI

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pihak Komando Distrik Militer (Kodim) 0905/Balikpapan bersama Komando Daerah Militer (Kodam) VI/Mulawarman mengunjungi Kampus Induk Pesantren Hidayatullah Ummulqura di Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat, 24 Rajab 1443 (25/02/2022).

Mereka mengadakan kampanye kreatif penerimaan calon bintara (caba) TNI AD TA 2022 bagi santri Hidayatullah Balikpapan di Aula Abdullah Said, Gunung Tembak.

Acara ini diikuti sekitar 140 santri dari Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) Madrasah Aliyah Raadhiyatan Mardhiyyah Putra (MARAMA) Gunung Tembak dan para penghafal Al-Qur’an dari Ma’had Tahfidz Ahlus Shuffah Gunung Binjai.

Acara tersebut bertajuk “Kampanye Kreatif dalam rangka penerimaan prajurit TNI AD Akmil, Sepa PK, Secaba PK, Secata PK serta jalur khusus santri dan lintas agama di wilayah Kodim 0905/Balikpapan TA 2022”.

Kepala SMH, Ustadz Hamimal Mustafa Rizky, menyambut gembira dan berterima kasih kepada pihak Kodim 0905/Bpn dan Kodam VI/Mulawarman itu, atas kedatangan mereka ke Pesantren Hidayatullah.

“Suatu kehormatan khususnya bagi kami di Pesantren Hidayatullah khususnya di Madrasah Aliyah yang telah didatangi tim Kodim 0905/Bpn,” ujarnya dalam sambutannya.

Hamimal menjelaskan, sebelumnya sudah ada sejumlah alumnus Marama yang telah bergabung dan menjadi bagian dari TNI. Baik yang mendaftar di Kalimantan maupun di daerah lain seperti Sulawesi.

“Banyak santri yang ingin ambil bagian dengan TNI tapi mungkin belum ada jalur,” ujar alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini.

Acara tersebut, jelasnya, diikuti oleh sekitar 140 orang santri. Selain santri Ahlus Shuffah dan santri Marama kelas III, santri kelas I dan II Marama juga diundang agar ke depan mereka yang mau masuk TNI memiliki kesiapan lebih dini.

“Semoga santri bisa mengambil momen ini dengan sebaik baiknya,” ujarnya dalam acara yang dibawakan secara khusus oleh Humas Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan Ustadz Hidayat Jaya Miharja itu.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan oleh Letda Cak. Abdul Khadirin Genera Harahap, Paur Kampanye Publikasi Urdiapra Simindiasahpra Ajendam VI/Mulawarman.

Letda Abdul antara lain menyampaikan hak dan kewajiban setiap warga negara dalam membela negara, sebagaimana Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 30 ayat (1).

“Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara,” bunyi ayattersebut Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 30 ayat (1) disampaikan Letda Abdul.

Termasuk yang berhak dan wajib membela dan mempertahankan negara, tambahnya, yaitu para santri. “Berhak dan wajib untuk membela negara dalam keadaan apapun,” ujarnya, apalagi dalam keadaan darurat yaitu terjadinya peperangan, maka santri juga turut berperang, berjuang membela negara.

Oleh karena itulah, kampanye atau sosialisasi penerimaan calon prajurit digelar TNI di berbagai wilayah kodim se-Indonesia.

Pemateri berikutnya, Kapten Hari Purnomo Ajen, Kepala Urusan Penyediaan Tenaga (Kaur Diaga), menyampaikan teknis proses perekrutan calon prajurit TNI.

“Kita ke sini untuk mengajak santri santri bergabung dengan TNI,” ujarnya.

Selain jalur santri, untuk masuk TNI ada juga jalur reguler. Menurut Kapten Hari, santri yang ingin gabung TNI lebih berpeluang lewat jalur santri. Sebab di jalur reguler lebih banyak pesaingnya.

“Di jalur ponpes ini hanya bersaing antar ponpes saja, jadi persaingannnya tidak terlalu banyak,” ujarnya, pada khususnya di wilayah Kalimantan, dimana jumlah pondok pesantren tidak sebanyak di Jawa.

Pada sesi tanya jawab, sejumlah santri memanfaatkan kesempatan langka. Wira Saguna Abyasa, kelas III Marama, misalnya, dengan antusias menanyakan, antara lain, apakah setelah masuk TNI, seorang prajurit tetap bisa melanjutkan pendidikannya pada jenjang yang lebih tinggi.

“Itu boleh!” jawab Kapten Hari. Pada saat dinas, jelasnya, seorang prajurit bisa minta izin ke komandannya untuk kuliah. “Mungkin dari SMA ke sarjana, bisa, diberi kesempatan seluas-luasnya,” imbuhnya.

Ia pun meminta kepada para santri agar tidak menyia-nyiakan kesempatan masuk TNI lewat jalur santri tersebut.

Pada sesi akhir, pantauan Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah, Mayor Sugimin selaku Kasi Bina Rois Bintal Kodam VI/Mulawarman, memaparkan tentang radikalisme. Makna dari paham ini, sebutnya, yaitu suatu keinginan untuk berubah secara instan atau dengan jalan kekerasan.

Ia pun mengajak pihak pesantren dan para santri agar menghindari paham kekerasan seperti itu.

YPPH Balikpapan menyambut positif pemaparan terkait radikalisme tersebut. “Ini penting, jangan sampi kita bercerai berai karena paham-paham sepeti itu,” ujar Ustadz Hidayat, Humas YPPH, menegaskan.

Di akhir acara, diadakan foto bersama antara para tamu dari TNI AD dengan para ustadz dan guru di Hidayatullah, serta para santri. Acara ini turut dihadiri oleh PLH Pasipers Kodam VI/Mulawarman Kapten Czi Ashari* (SKR/MCU)

Tanggung jawab Pembebasan Baitul Maqdis ada di Pundak Pemuda

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Cendekiawan internasional berdarah Inggris Palestina Prof. Dr. Abd Al-Fattah El-Awaisi menyebut pemuda memiliki tanggung jawab besar membebaskan Baitul Maqdis dan untuk melakukan hal tersebut haruslah dengan ilmu.

“Tanggung jawab pembebasan Baitul Maqdis ada di pundak pemuda,” kata El-Awaisi saat menjadi narasumber Kuliah Peradaban sesi-4 secara hibryd di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Selasa, 28 Rajab 1443 (1/3/2022)

Melalui majelis tersebut, peraih penghargaan Islamic World Istanbul Science Award ini berpesan bahwa untuk membebaskan Baitul Maqdis haruslah dengan ilmu.

Ia pun berbagi kisah mengenai upayanya melakukan telaah ilmiah mendalam tentang Baitul Maqdis yang sudah dibukukan dan kini telah diterjemahkan berjudul “Roadmap Nabawiyah Pembebasan Baitul Maqdis”. Buku ini ditulisnya selama 30 tahun lebih berdasarkan kajian, rihlah ilmiah, kesaksian selama hidup, dan analisa.

“Ilmu itu penentu amal. Bagaimana ilmu seseorang maka begitulah amalnya. Benar berfikir (maka) benar amalnya. Salah berfikir, salah amalnya. Jadi kalau mau membuat sesuatu yang konkrit, selesaikan buku ini. Bedah, pelajari, kaji, insya Allah, ini adalah intinya inti dari pemikiran saya selama lebih 30 tahun,” katanya melalui penterjemah Ust Ardhi Rosyadi.

Berkenaan dengan pentingnya ilmu tentang Baitul Maqdis, El-Awaisi menekankan bahwa jangan hanya lantang menyuarakan pembebasan Baitul Maqdis tetapi minim pengetahuan tentangnya. Kondisi ini ia istilahkan seperti investor yang mau menamam modal tapi tidak tahu tentang yang akan ditanami saham.

“Bagaimana mungkin kita berorasi untuk membebaskan Baitul Maqdis tapi ternyata masyarakat kita tidak tahu apa apa tentang Baitul Maqdis. Tidak tahu bahwa Masjidil Aqsha adalah masjid yang mulia. Tidak tahu bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berjuang membebaskan Baitul Maqdis selama hidupnya,” ungkapnya.

Dia menegaskan, apa yang kita sampaikan tentang pembebasan Baitul Maqdis tidak akan masuk jika tak ada maklumat sedikitpun berupa ilmu tentang Baitul Maqdis. Hal ini kemudian senafas dengan wahyu pertama turun yang memerintahkan untuk membaca.

“Wahyu yang turun pertama kali kepada Nabi bukan berperanglah, atau bunuhlah. Tapi, bacalah (iqra’!). Akan tetapi, perlu digaris bawahi, harus tekan kontrol B, tebalkan. Baca atas nama siapa?,” kata El-Awaisi seraya bertanya kemana muara pembacaan itu dilakukan.

Dia melanjutkan pertanyaannya, apakah membaca atas nama Amerika? Atau membaca dengan fikrah Rusia? Atau membaca dengan mindset Cina? El-Awaisi kemudian menekankan bahwa pembacaan tersebut adalah atas sepenuh bimbingan Allah SWT.

“Inilah, yang, sayang sekali, bukan hanya kita, orang orang Arab bahkan orang Palestina sendiri terlalaikan selama lebih dari 100 tahun ini. Yaitu ilmu dan makrifat,” ujarnya kemudian.

Lebih jauh, Profesor Hubungan Internasional di Istanbul Sabahattin Zaim University, Turki, ini menyampaikan tentang kedudukan istimewa Baitul Maqdis sebagai pusat peradaban dunia.

“Bahkan, kita harus percaya diri menyatakan dan meyakini bahwa Baitul Maqdis adalah pusat keberkahan dan insya Allah akan memimpin semua peradaban dunia,” katanya.

Konsekwensinya kemudian adalah ketika kondisi Baitul Maqdis khususnya Masjidil Aqsha tidak berada di tangan umat Islam maka melemahlah peradaban dunia khususnya peradaban Islam.

Sebaliknya, ketika Baitul Maqdis khususnya Masjidil Aqsha berada dalam kepemimpinan dan genggaman umat Islam, maka peradaban Islam akan berada dalam puncak kejayaannya.

Baitul Maqdis sebagai Titik Persatuan

Lebih jauh Prof El-Awaisi menerangkan, Baitul Maqdis memiliki ikatan yang kuat dengan Islam dari awal dakwah ini yaitu sejak malaikat Jibril turun kepada Nabi Muhammad SAW dan memerintahkan membaca (iqra’!). “Sejak itu juga Baitul Maqdis memiliki ikatan yang kuat dengan Islam dan umat Islam,” imbuhnya.

Dia menegaskan Baitul Maqdis juga merupakan kiblat pertama umat Islam dimana Rasulillah SAW shalat menghadap Baitul Maqdis sebelum isra’ miraj. Barulah setelah isra’ miraj turun perintah untuk shalat 5 kali dalam sehari semalam. Bahkan dalam surah Al Muzammil, Rasulullah SAW diperintahkan untuk shalat dengan kiblat ke arah Baitul Maqdis, belum kemudian ke arah Ka’bah.

“Sementara yang disebut kiblat adalah titik persatuan umat, dimanapun umat Islam berada maka titik persatuannya adalah kiblat. Dulu kilblat kita adalah Baitul Maqdis, maka Masjidil Aqsa adalah titik persatuan umat Islam sebelum isra’ miraj,” kata El-Awaisi.

Sebagian ulama menyebutkan bahwa Rasulullah SAW shalat menghadap masjid Aqsha 16 atau 17 bulan. Dan sebelum hijrah, Rasulullah SAW shalat dengan menghadap sepenuhnya ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis.

Di awal pemaparannya, El-Awaisi mengatakan apa yang disampaikan tidak dimaksudkan ntuk menggurui melainkan semata dalam rangka untuk meraih faedah dan keberkahan dari Allah subhanahu wata’ala.

Agenda Kuliah Peradaban sesi-4 di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta kali ini sekaligus merupakan tempat perdana yang dikunjungi Prof. Dr. Abd Al-Fattah El-Awais usai menjalani masa karantina dalam agenda turnya ke Indonesia hingga beberapa hari kedepan.*/Ainuddin Chalik