Beranda blog Halaman 367

Sinergi Serahkan Paket Perlengkapan Dapur untuk Penyintas Erupsi Semeru

0

LUMAJANG (Hidayatullah.or.id) — Kondisi masyarakat penyintas erupsi Semeru Kabupaten Lumajang terus mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Laznas BMH.

Terbaru, BMH bersama Yayasan Al-Muslim Bekasi dan Kitabisa serta PT BNP Paribas Asset Management hadirkan bantuan paket perlengkapan dapur bagi warga penyintas erupsi Semeru agar dapat segera hidup normal sebagaimana biasanya, terutama dalam hal pemenuhan konsumsi sehari-hari.

“Alhamdulillah BMH bekerja sama dengan Yayasan Al Muslim, Kitabisa dan PT BNP Paribas Asset Management memberikan bantuan berupa paket perlengkapan dapur yang diberikan kepada warga masyarakat yang rumahnya rusak akibat terkena guguran awan panas. Paket tersebut terdiri dari kompor, panci, wajan, dan lainnya,” terang Direktur Program dan Pemberdayaan BMH, Zainal Abidin, Kamis, 23 Rajab 1443 (24/2/2022).

Dengan bantuan ini diharapkan bisa mengembalikan semangat warga untuk kembali menata hidup baru, pasca kejadian erupsi, mengingat selama ini suplay makanan masih berasal dari dapur umun dan juga menggunakan dapur dari saudara mereka.

“Terima kasih kepada seluruh donatur yang telah memberikan bantuan paket alat masak dapur kami,” ucap Bapak Slamet Efendi, salah satu warga yang rumahnya terdampak parah yang berada Desa Curah Kobokan.

Program jangka menengah BMH di lokasi terus diupayakan satu di antaranya ialah pembangunan hunian sementara (huntara) yang sejauh ini telah selesai dibangun sebanyak 5 unit huntara.*/Herim

Segerakan Kebaikan Jangan Tunggu Mukjizat Datang

0

“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya; Tentulah mereka berkata: “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan Kami adalah orang orang yang kena sihir”. (QS al-Hijr: 14-15)

SIKAP kaum yang lemah iman dan kafir senantiasa serupa dalam beragama, atau menyikapi agama dan ajaran-ajarannya. Tipisnya keimanan, keengganan untuk berpikir jernih, dan kuatnya keingkaran adalah sebagian faktor yang mendorong mereka untuk senantiasa menolak kebenaran, meski pun bukti-bukti nyata sudah hadir tepat di depan matanya.

Al-Qur’an sering menggambarkan isi hati mereka dengan menyitir kata-kata yang mereka ucapkan. Bagaimana pun, ucapan adalah cerminan jiwa. Salah satu fenomena paling menonjol yang diungkap Al-Qur’an tentang kaum kafir dan tipis iman adalah keinginan mereka untuk menyaksikan keajaiban serta mukjizat dalam beragama.

Mereka menunggu-nunggu, dan bahkan dengan arogan menantang agar mukijzat serta keajaiban itu didatangkan sebagai bukti kebenaran suatu agama. Mereka lupa, bahwa umat-umat terdahulu telah menyaksikan keajaiban-keajaiban besar, tetapi hanya sesaat saja terpesona, dan tidak lama kemudian mereka telah lupa. Lalu ingkar lagi dan bahkan semakin bertambah besar keingkarannya.

Dewasa ini, di tengah-tengah upaya untuk menyeru kaum muslimin menegakkan syariat Allah di tengah-tengah mereka, sering muncul suara-suara mencibir. Sebagian dari cibiran itu meminta dan menantang agar penerapan syariat dapat menjadi “obat ajaib” atas persoalan-persoalan pelik yang mendera bangsa ini.

Jika dulu kaum kafir menantang para Nabi untuk mendatangkan mukjizat sebagai bukti kebenaran risalah yang dibawanya, sekarang orang-orang yang kurang percaya menantang keajaiban turun jika aturan agama total diterapkan. Diantara bentuknya adalah permintaan bukti bahwa aturan agama mampu menjadi solusi instan atas persoalan-persoalan ekonomi, politik, sosial, hankam, pendidikan, dll.

Pokoknya, mereka menuntut jika syariat diterapkan maka semua harus langsung beres. Sim salabim!! Padahal, masalah terbesar justru ada dalam diri mereka sendiri. Jika mereka menolak terus dan tidak beriman dengan sungguh-sungguh, keberkahan tidak akan mungkin muncul, dan aturan agama pun tidak bisa berfungsi sempurna.

Itu dalam skup makro dan komunitas. Dalam skala kecil, yakni kehidupan pribadi, manifestasinya tidak jauh berbeda. Tipisnya keimanan ini bisa tampil dalam rupa penundaan untuk bersungguh-sungguh mengamalkan ajaran agama, dengan berbagai alasan, misalnya belum siap.

Sebenarnya, yang terjadi bukan belum siap, tetapi sebuah perasaan menunggu dan mengharap kejadian spiritual yang hebat, baru mau berbalik kepada Allah. Dan sebagaimana kita saksikan kasusnya pada umat-umat terdahulu, hal itu pun acapkali bohong dan hanya sesaat saja imannya, yakni ketika sedang tercengang itu.

Sebab, setelah situasi mereda mereka akan lupa lagi dan ketagihan kejadian spiritual lagi. Kejadian hebat itu bisa berupa bencana alam, kematian orang-orang terdekat, sakit yang berat, dan lain-lain.

Padahal, beragama tidak bisa dengan sikap menunggu seperti itu. Itu pada hakikatnya merupakan cerminan kemalasan, keengganan, kekurangyakinan, bahkan penolakan terhadap kebenaran agama itu sendiri.

Sebenarnya, tidak ada halangan sedikitpun bagi Allah untuk mendatangkan kembali mukjizat dan keajaiban di zaman ini. Dia Maha Hidup dan senantiasa Mengurusi makhluk-Nya. Apa yang pernah Dia tunjukkan di masa lalu adalah sangat ringan sekedar untuk diulang kembali hari ini.

Namun, masalahnya adalah: berbagai keajaiban itu telah didustakan oleh uamt-umat terdahulu, yakni manusia yang sama dengan spesies kita di zaman ini. Karena kesamaan karakter itulah, sudah seharusnya kita belajar, bahwa apa yang tidak banyak berarti untuk melahirkan iman di masa lalu, maka akan bernasib sama di era kita sekarang.

Allah meminta kita untuk lebih banyak berfikir, merenung, menganalisis, membandingkan, dan membangun iman dalam suasana yang jernih serta tenang. Al-Qur’an adalah kitab suci yang paling terbuka dalam mengajak dialog dan berpikir. Sebab, hanya dengan kesadaran yang seperti inilah iman bisa dibangun di atas fondasi yang kokoh, akarnya menghunjam dalam dan cabang-cabangnya lebat di angkasa.

Satu hal penting kiranya perlu diungkap juga di akhir artikel ringkas ini, perihal bahaya menunggu-nunggu mukjizat dan keajaiban itu.

Mengapa menunggu dan menantang mukjizat atau keajaiban sangat berbahaya? Sungguh, dalam surah al-Baqarah: 209-210 Allah menjelaskan, bahwa jika sebuah keajaiban dan mukjizat telah tampil, lalu manusia tetap kufur, maka setelah itu Allah tidak akan memberikan tempo waktu lagi.

Bencana besar akan datang, dan biasanya tanpa peringatan sebelumnya. Awan-awan besar yang biasanya membawa rahmat akan berubah mendatangkan bencana, dan berbagai karunia yang membanggakan segera berganti menjadi siksaan yang tak pernah diduga-duga. Na’udzu billah.

Jadi, berimanlah dengan sungguh-sungguh, sesegera mungkin. Tegakkan syariat-Nya semampu Anda. Jangan menantang keajaiban didatangkan! Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Kejari Kenalkan Hukum ke Santri Hidayatullah Tabalong

0

TABALONG (Hidayatullah.or.id) — Satu upaya untuk mengenalkan dan memberi edukasi terkait hukum dilakukan Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabalong dengan mendatangi sekolah dan pondok pesantren.

Kegiatan safari edukasi hukum Kejari kali ini menyasar para santri dan pengajar Pondok Pesantren Hidayatullah, yang ada di Desa Maburai, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Program yang sudah berjalan dengan menyambangi pelajar ke sekolahnya masing-masing ini dinamakan Jaksa Masuk Sekolah (JMS).

Kemudian bagian dari program JMS ini juga ada kegiatan Jaksa Masuk Pesantren yang khusus menyasar para santri dan juga pengajar di pondok pesantren.

Kajari Tabalong M Ridosan melalui Kasi Intel Kejari Tabalong, Amanda Adelina, mengatakan kegiatan Jaksa Masuk Pesantren ini untuk mengenalkan hukum ke para santri dan pengajarnya.

“Kegiatan Jaksa Masuk Pesantren diisi dengan materi pencegahan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak,” katanya seperti dimuat Banjarmasin Post.

“Ini sebagai bentuk kepedulian kejaksaan dalam mengedukasi dan mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak,” ujarnya.

Dengan begitu maka diharapkan melalui kegiatan bisa mengenalkan hukum serta mengedukasi para santri dan pengajar di pondok pesantren tentang bentuk dan pencegahan kekerasan seksual.

“Kami berharap para santri dan pengajar di pondok pesantren dapat lebih mengenal hukum dan mengetahui bentuk kekerasan seksual serta bagaimana pencegahannya,” katanya.

BMH Kirimkan Bantuan Beras Santri Tahfidz ke Pulau Buru

0

BURU (Hidayatullah.or.id) — Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Maluku menggalakkan Program Beras Sembako untuk para santri tahfidz yatim piatu di Maluku. Proram kali ini dilakukan di Kabupaten Buru.

“BMH mengunjungi Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Savanajaya di Pulau Buru sekaligus menyalurkan beras untuk santri. Semoga dengan bantuan beras dan sembako ini para santri dapat semakin sehat sehingga kuat dalam belajar,” terang Kepala BMH Perwakilan Maluku, Supriyanto, dalam keterangannya beberapa waktu lalu, (20/2/2022) .

Pesantren yang berada di Pulau Buru itu berlokasi di Desa Savanajaya, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku.

“Titik ini harus dijangkau dengan melalui laut sekitar 10 jam lebih dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 45 menit. Dan masuk pelosok sekitar 1 kilometer dengan jalan yang penuh bebatuan tak beraspal,” jelas Supriyanto.

Di sana ada 58 santri yang tekun belajar Al-Quran. Sebagian besarnya berasrama.

“Mereka dibina secara gratis dan tidak dipungut biaya pendidikan. Pembiayaan mereka seutuhnya dari umat dan satu di antaranya melalui BMH,” imbuh Supri.

Ustadz Hidayatullah selaku pengasuh santri mengungkapkan rasa syukurnya atas beras dan sembako yang diterimanya untuk para santri.

“Syukur Alhamdulillah, kami ucapkan terimakasih atas program beras santri yang kami terima. Rezeki Beras ini cukup untuk makan santri. Semoga Allah berikan kesehatan, keberkahan rizki dan dijauhkan dari marabahaya kepada seluruh donatur muhsinin dan amil BMH,” ungkapnya penuh hikmat yang disambut seruan “Aamiin” oleh seluruh santri.

Program ini bergulir secara rutin dan intensif dalam setiap bulannya, sebagai wujud ikut serta mendorong hadirnya generasi bangsa yang sehat, cerdas dan religius.*/Herim

LOMBA MARS HIDAYATULLAH

0

Hidayatullah menjadi salah satu organisasi massa Islam yang secara formal memiliki legalitas dari pemerintah sebagai Badan Perkumpulan. Kemudian seyogyanya memiliki beberapa perangkat sebagai sebagai organisasi formal, diantaranya lagu mars.


Selama ini kita sudah mengenal lirik lagu Hidayatullah yang dianggap mars tapi masih lebih tepat dianggap sebagai nashid Hidayatullah. Yaitu
Hidayatullah wadah perjuangan
Lahirkan kader, ulama, mujahid
Membangun umat dalam kebersamaan
Menata hati, terangi bumi
Dst


Keberadaan mars Hidayatullah ini penting untuk eksistensi Hidayatullah dalam kegiatan-kegiatan formal dan sebagai transformasi nilai-nilai Hidayatullah dalam bentuk lagu serta bagian dari syiar dakwah Hidayatullah dalam bidang seni.


Sehingga DPP Hidayatullah dalam beberapa kali musyawarah menetapkan untuk mengadakan lomba pembuatan mars Hidayatullah.


Dalam hal ini kita mengajak kepada seluruh kader, anggota dan jamaah Hidayatullah untuk berkontribusi dalam menggagas mars Hidayatullah.
Waktunya selama bulan Maret dari tanggal 1 hingga 31 Maret.
Adapun syarat dan ketentuan bisa dibaca lebih detail dalam pengumuman ini.

Klik disini untuk informasi lomba

Utamakan Selamat, Jangan Pernah tak Terlindungi

0

“WAHAI para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang sudah mampu memberi nafkah, maka hendaklah ia menikah. Karena sesungguhnya menikah itu lebih menahan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan jika belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu sebagai obat (dari godaan syahwat) baginya.” (Muttafaq ‘Alaihi, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu).

Islam mewarnai pemeluknya dengan semangat kehati-hatian dan perlindungan diri dalam segala hal. Syariatnya yang indah dirancang secara seksama dalam upaya meminimalisir kemungkinan celaka. Islam tidak membiarkan pemeluknya berada dalam suatu kondisi yang memiliki celah untuk tergelincir tanpa memberikan panduan disana.

Hadits di atas memuat kaidah “perlindungan diri” yang luar biasa, dimana seorang muslim tidak boleh membiarkan dirinya di tepi jurang kehancuran tanpa menyiapkan “tali-tali pengaman”.

Ketika seseorang sudah mampu memberi nafkah, dan ia sendiri sudah berhasrat kepada lawan jenisnya, maka Islam membimbingnya untuk menjaga diri dengan menikah. Menikah, menurut Rasulullah, akan lebih menahan pandangan mata dan membendung luapan syahwat. Dengan demikian ia terhindar dari bahaya perzinaan.

Namun, pada saat seorang muslim belum mampu menafkahi, sementara gejolak syahwatnya terus menggelora, ia diarahkan untuk menjaga diri dengan jalan berpuasa. Berpuasa, dalam konteks ini, akan melemahkan syahwat dan melumerkan dorongan kepada lawan jenis. Dengan demikian ia pun terjauh dari perzinaan.

Pada pokoknya, dalam kondisi yang manapun, seorang muslim tidak boleh dibiarkan tanpa perlindungan diri. Sepanjang hayat, di setiap saat, imannya harus senantiasa terjaga. Sebab, tidak seorangpun mengetahui kapan datangnya ajal. Sebab, Islam menghendaki agar pemeluknya berpulang ke haribaan Rabb-Nya tetap sebagai hamba-hamba shalih yang senantiasa menyerahkan diri kepada-Nya (QS al-Baqarah [02] : 132).

Taqwa = Perisai

Semangat “perlindungan diri” itu sepenuhnya terangkum dalam sikap taqwa, yang di dalamnya mengandung amalan-amalan praktis secara lebih terperinci. Misalnya, beriman kepada yang ghaib, menegakkan shalat, menafkahkan harta di jalan Allah, mengimani al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya, serta meyakini adanya kehidupan akhirat (QS al-Baqarah [02] : 1-5). Allah sendiri menyatakan bahwa manusia yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertaqwa (QS al-Hujurat [49] : 13).

Dalam pengertian syar’i, taqwa diartikan “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”. Sebenarnya, pengertian ini adalah konsekuensi dari makna taqwa, bukan maknanya itu sendiri. Sebab, dalam bahasa Arab, akar kata taqwa berarti menjaga dan melindungi. Dalam bentuk lain, maknanya adalah perisai yang dipakai prajurit untuk melindungi dirinya dari serangan musuh.

Artinya, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya merupakan refleksi langsung dari upaya seorang muslim untuk menjaga, merawat, dan melindungi dirinya sendiri. Ketaatan kepada Allah pada dasarnya bukan untuk kejayaan Allah, akan tetapi kembali kepada manusia itu sendiri. Kerajaan dan kekuasaan-Nya tidak akan bertambah jika seluruh makhluk-Nya taat, sebagaimana tidak juga berkurang jika mereka semuanya membangkang.

Maka, segala perintah Allah jika dipatuhi dan dilaksanakan sepenuh hati, pasti mendatangkan kemanfaatan yang dinikmati manusia itu sendiri. Sebaliknya, pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah hanya akan mengakibatkan kehancuran dan kesengsaraan bagi mereka.

Allah menegur para Sahabat yang demikian terpukul dan sedih menerima kekalahan mereka dalam perang Uhud.

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata, ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’.” (QS Ali Imran [03] : 165).

Permasalahan yang dikritik dalam ayat ini sudah sangat jelas, bahwa barisan mereka bisa dikalahkan dan porak-poranda oleh musuh karena ada yang tidak menaati perintah Rasulullah.

Utamakan selamat!

Umar bin Khaththab pernah bertanya kepada salah seorang Sahabat yang lain, “Apakah taqwa itu?” Dijawab, “Jika Anda melewati suatu jalan yang penuh dengan duri, maka seperti itulah taqwa.” Maksudnya, sangat berhati-hati dan waspada. Setiap langkah diperiksa sebelumnya dan di-muhasabah setelah itu. Tidak mungkin seorang muslim hidup sembarangan dan semau gue.

Semangat “perlindungan diri” ini mewarnai setiap sudut syari’at Islam. Tidak ada bagian yang dibiarkan terbuka bagi jalan masuk Iblis. Misalnya, Islam lebih menyukai menjatuhkan hukum qishash kepada pembunuh daripada membiarkan seluruh umat terjerumus dalam lingkaran syetan balas dendam dan saling bunuh.

Qishash akan memutus rantai perkara kepada dua pihak yang terlibat langsung, tidak lagi merembet kepada keluarga dan keturunannya. Namun, pada saat bersamaan, Islam juga menganjurkan keluarga korban untuk memberi maaf dan ridha menerima diyat. Kedua belah pihak diminta memilih perbuatan yang lebih utama, dengan landasan keadilan yang tetap ditegakkan sesuai haknya.

Di luar itu, Rasulullah menegaskan bahwa harta, jiwa, dan kehormatan setiap muslim adalah haram dilanggar, kecuali dengan hak-hak Islam.

Terhadap perzinaan, Islam lebih suka menjatuhkan hukum rajam atau cambuk kepada satu dua orang pelaku ketimbang membiarkan seluruh masyarakat melacurkan diri, baik secara terbuka maupun diam-diam. Namun, pada saat bersamaan, setiap muslim diminta untuk menjaga pergaulan antar lawan jenis, menutup aurat dengan sempurna, menundukkan pandangan, dan melarang hal-hal yang menjurus kepada zina.

Artinya, tidak mungkin memandang hukum rajam dan cambuk secara terpisah tanpa melibatkan sistem-sistem perlindungan yang secara integral telah digariskan oleh Islam. Menilai suatu bagian dari sistem secara mandiri sama halnya mengamati sebentuk sabuk pengaman (safety belt) tanpa mengaitkannya dengan mobil. Pada akhirnya, pengamat gagal memahami fungsinya secara utuh, dan bahkan terdorong untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna.

Dengan kata lain, bagian-bagian tertentu dalam Islam yang sering disalahfahami sebagian orang, jelas bukan karena sifat asasinya yang sia-sia. Namun, karena cara pandang para pengkritiknya yang sepihak dan tidak komprehensif.

Dalam ushul fiqh dikenal kaidah-kaidah “perlindungan diri” ini di berbagai tempat. Misalnya, menghindari kerusakan itu lebih diprioritaskan daripada menarik kemanfaatan (dar’ul mafaasidi muqaddamun ‘ala jalbil mashaalihi). Artinya, jika ada peluang untuk meraih kebaikan tertentu, namun pada saat bersamaan mengakibatkan timbulnya keburukan yang jauh lebih besar, maka lebih baik peluang itu diabaikan.

Misalnya, memakai pakaian ketat dan terbuka tidak boleh dinilai dari sudut pandang hak pribadi. Menjaga hak pribadi itu kebaikan, namun dalam kasus ini bisa mengakibatkan kerusakan yang lebih besar. Maka, kebaikan itu dikesampingkan demi menolak keburukan yang lebih besar. Dari sudut pandang tertentu, terhindar dari kerusakan besar adalah kebaikan besar.

Dalam masalah ini, dosa tidak timbul karena bawaan genetik. Ia lahir karena dorongan tertentu, entah internal atau eksternal. Maka, para wanita diminta menutup aurat secara sempurna, dan kaum pria harus tetap menjaga pandangan matanya.

Para lelaki juga harus menjaga aurat, karena kaum perempuan pun diminta menahan pandangannya. Demikianlah, semangat “utamakan selamat” ini berlaku untuk semuanya, tanpa kecuali. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Ketum DPPH Apresiasi SAR Hidayatullah Terima Piagam Penghargaan dari Basarnas

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah (Ketum DPPH) Ust. Dr. H. Nasirul Haq mengapresiasi kiprah lembaga relawan kemanusiaan pencarian dan pertolongan/ Search and Rescue (SAR) Hidayatullah.

Atas konsistensi kiprahnya itu, SAR Hidayatullah mendapatkan penghargaan dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) yang diserahkan langsung oleh Kepala Basarnas Marsekal Muda (Marsda) TNI Henri Alfiandi.

Penghargaan tersebut sebagaimaan terlampir dalam surat Basarnas dengan Nomor: B/868/BNP.02.01/II/BSN-2022 tertanggal 21 Februari 2022 tentang Daftar Potensi Pencarian dan Pertolongan Penerima Piagam Penghargaan Tahun 2022.

“Atas nama DPP Hidayatullah menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada SAR Hidayatullah atas prestasinya mendapatkan penghargaan dari Basarnas,” katanya saat menerima Pengurus Pusat SAR Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu, 22 Rajab 1443 (23/2/2022).

Pada kesempatan tersebut, Nashirul turut didampingi Kabid Dakwah dan Pelayanan Umat (Yanmat) Nursyamsa Hadis. Sementara dari SAR Hidayatullah hadir Ketua Umum SAR Hidayatullah Irwan Harun, Bendahara Usman Abdul Hamid, serta unsur Dewan Pembina Muhammad Musyafir dan Safaruddin Shahab.

Nashirul berharap, raihan penghargaan dari Basarnas tersebut semakin memotivasi, menguatkan, dan memantapkan kiprah SAR Hidayatullah dalam operasi bantuan dan pertolongan kepada masyarakat pra dan pasca bencana.

“Semoga kiprah SAR Hidayatullah semakin meningkat. Terus maju untuk agama, bangsa, negara Insya Allah,” pesannya.

Selain SAR Hidayatullah, ada 3 potensi penerima piagam penghargaan lainnya yakni SAR Astra Internasional, Sentra Komunikasi (Senkom) Mitra Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana (Baguna).

Piagam penghargaan diberikan bertepatan dengan dengan gelaran Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Basarnas Tahun 2022 di Ruang Serbaguna Basarnas, Senin, 20 Rajab 1443 (21/2/2022).

Irwan Harun menyampaikan rasa syukur Alhamdulillah ke kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas penganugerahan piagam dari Basarnas ini.

“Piagam penghargaan untuk SAR Hidayatullah dari Basarnas, sebelumnya akan diserahkan langsung oleh Bapak Presiden, (namun) karena alasan PPKM, penyerahan dilakukan secara terbatas,” kata Irwan dalam keterangannya.

rwan menambahkan, apresiasi Basarnas ini semakin mendorong SAR Hidayatullah untuk terus meluaskan bakti kerelewanan dalam pencarian dan pertolongan di setiap bencana yang dapat dijangkau.

Selain itu, Irwan menekankan, kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak akan semakin dikuatkan. Karena, terangnya, dengan kebersamaan dan kepemimpinan kolaboratif dibawah Basarnas akan semakin memantapkan operasi pencarian dan pertolongan/ search and rescue (SAR) dalam musibah bencana.*/Ain

Pusat Dakwah di Kawasan, Posdai Bantu Pembangunan Masjid Pedalaman Dompu

DOMPU (Hidayatullah.or.id) — Masjid adalah pusat kegiatan ibadah, pusat pengembangan ilmu, pusat kebudayaan Islam, pusat pengembangan karakter dan kepemimpinan umat. Maka wajar, masjid memiliki kedudukan tersendiri di sisi Allah SWT sebagaimana dalam firman-Nya.

Mengingat pentingnya masjid sebagai pusat dakwah pencerahan umat, Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) bergerak cepat melakukan penguatan masjid.

Kali ini Posdai menyalurkan amanah bantuan pembangunan masjid di Pesantren Hidayatullah yang berada di pedalaman Desa Bara, Kecamatan Woja, Domou, NTB pada 12 Februari 2022 lalu.

Pembangunan masjid tahap pertama ini disalurkan berkat bantuan para donatur yang terus mengambil bagian dalam menyukseskan berbagai program dakwah para dai.

Kepala Pemberdayaan Dai Posdai Ust Abdul Muin mengatakan pembangunan masjid ini adalah langkah untuk meneguhkan kiprah para dai di Dompu untuk menunjang dakwah pembinaan masyarakat di kawasan tersebut.

Muin juga menyebutkan pembangunan masjid ini masih tahap pertama. Untuk itu dirinya berharap agar pada pembangunan tahap kedua nanti mendapatkan banyak dukungan dari para dermawan.

Masjid diproyeksi menjadi pusat dakwah di kawasan ini sekaligus sebagai fasilitas yang terbuka untuk umat Islam.

“Pembangunan masjid ini masih panjang. untuk itu kami berharap semua pihak dan umat muslim agar terlibat dalam menyukseskan pembangunan ini,” kata Muin.

Pihaknya juga mengucapkan banyak terimakasih kepada para donatur, muhsinin, dan muhsinat yang telah turut andil dalam membangun Masjid Al-ikhsan ini.

“Saya mewakili Posdai dan para dai pedalaman NTB mengucapkan banyak terimakasi kepada sumua yg membantu pembangunan masjid ini,” katanya menukaskan.*/Zain Amier

Bincang dengan Ust H Hasyim HS: Kenang Sahabat dan Pesan untuk Kawula Muda

0

Bincang kembali hadir. Kali ini dipandu Ust Abdul Ghaffar Hadi yang berbincang dengan satu dari 5 pendiri Hidayatullah, Ust H Hasim HS. Bincang ini terbilang mendadak, karena hanya kurang beberapa jam sebelum beliau bertolak ke Balikpapan.

Alhamdulillah, kendati tak diawali janji, Ust Hasyim berkenan menerima Hidayatullah ID ditengah padatnya agenda beliau di Jakarta sekaligus bertakziah atas meninggalnya sahabat beliau, Ust Hasan Ibrahim.

Malam hari sebelum wawancara esoknya, ia sempat mengisi tausiah sebuah acara silaturrahim di Bogor hingga dini hari. Sebelum itu, siangnya, ia berada di Bandung juga untuk sebuah keperluan ziarah.

Pagi itu, usai menanti beliau mengaji yang sudah rutin dilakukannya, ia pun bersedia bincang bincang sebelum sarapan. Di wisma Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah. Menaiki lingkaran tangga hingga lantai 3 lalu kemudian menuju rooftop.

Tak tampak lelah padanya. Ia juga tetap disiplin menjaga protokol kesehatan. Maskernya tak dilepas.

“Alhamdulillah, beliau masih kuat. Ke masjid juga masih pakai motor,” kata Sekretaris Kampus Ummulqura Hidayatullah Balikpapan pada kami yang membersamai dalam perjalanan ini.

Simak perbincangan ini selengkapnya, klik di sini.

Ketidaktahuan Tujuan Hidup Awal Kesia-siaan

0

Dari al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiya-llahu ‘anhum: Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Diantara (pertanda) baiknya keislaman seseorang adalah bila dia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits riwayat Ahmad)

Bila seseorang sudah memutuskan untuk mendaki gunung yang tinggi dan terjal, apa yang akan disiapkannya? Jika ia seorang pendaki yang berpengalaman, ia akan lebih banyak menyiapkan peralatan dan bekal yang paling penting, paling ringan dibawa, dan tentunya tidak akan berlebihan.

Bila pun ia harus membawa peralatan masak misalnya, ia tidak akan mengangkut kompor gas lengkap dengan tabung elpijinya. Sangat berat dan merepotkan. Ia pasti lebih memilih kompor portabel dengan parafin secukupnya. Kalau membutuhkan hiburan, ia tidak akan mau menggendong televisi layar datar 21″, apalagi satu set home theatre. Ia pasti lebih memilih radio mini atau mp3 player seukuran gantungan kunci saja.

Mengapa demikian? Sebab, ia tahu persis tantangan yang akan dihadapinya. Medan yang bakal dia lalui sudah tergambar di depan matanya. Ia mungkin juga sudah membayangkan sudut-sudut kemiringan lereng gunung itu.

Di medan semacam ini, sudah selayaknya seseorang menghemat energi, salah satunya dengan membawa hanya perbekalan yang paling penting dan seringan mungkin. Dengan disiplin mental seperti ini, perjalanannya kemungkinan besar lebih menyenangkan dan berakhir sukses. Tentu saja, bekal-bekal lain berupa ketrampilan, pengetahuan dan kesiapan fisik juga tidak boleh diabaikan.

Mari kita tarik ilustrasi di atas ke dalam arena kehidupan sehari-hari. Kita akan mengkaji dan mencari jawaban atas pertanyaan ini: bagaimana kita bisa mengetahui sesuatu adalah sia-sia dan tidak penting? Apa yang menjadi standar dan rujukannya?

Sebagaimana ilustrasi di atas, kata kunci pertama adalah “tujuan”. Pengetahuan yang mantap dan pasti tentang tujuan dari suatu aktifitas adalah titik tolak pertama untuk memulai perjalanan.

Jika kita tidak menyadari arah dari apa yang sedang kita kerjakan, tidak lama lagi kita akan kehabisan energi dan semangat. Semua akan hampa dan kosong. Lebih celaka lagi, jika kita tidak mengerti harus mengerjakan apa. Maka, pada titik inilah akan muncul perilaku yang tanpa arah dan tidak memiliki relevansi dengan status dan tujuan kita yang sebenarnya.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang duduk berjam-jam di depan layar game online adalah cermin ketidaksadaran terhadap status dan tujuannya. Ia telah melakukan sesuatu yang tidak relevan dan tidak penting. Tentu saja, yang relevan dan penting bagi seorang mahasiswa adalah belajar, bukan menghabiskan waktu dan sumberdayanya untuk bermain-main.

Kata kunci kedua adalah “pengetahuan yang memadai tentang hal-hal yang relevan dengan tujuan tersebut”. Seorang pendaki gunung tentu tidak akan menyiapkan dan membawa-bawa peralatan menyelam ketika berangkat ke medan yang ditujunya.

Alat menyelam memang penting, tetapi tidak relevan bagi aktifitas pendakian gunung. Ia tentu lebih membutuhkan tali temali atau sepatu yang kuat dan nyaman di kaki. Demikianlah, ketika pergi ke sekolah, seorang pelajar akan membawa buku-buku dan alat tulis, bukan golok atau bantal.

Sejauh ini, kita baru berbicara dalam skup kecil. Mari kita membahas skup yang lebih luas, yakni kehidupan. Bagaimana cara kita menyadari bahwa apa yang kita lakukan sekarang ini, dalam hari-hari kehidupan kita, adalah sia-sia atau berguna? Pertama, tentu saja adalah menyadari apa tujuan hidup kita.

Ketidaktahuan terhadap tujuan hidup adalah awal kesia-siaan. Dalam al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia adalah agar mengabdi kepada-Nya semata. Maka, setiap aktifitas yang tidak memiliki nilai ibadah dan pengabdian kepada Allah adalah sia-sia dan tidak relevan.

Kita dapat menderetkan beragam kegiatan mubadzir disini, seperti menonton acara-acara gosip, membaca media cabul, mendengarkan musik perangsang syahwat, atau menghabiskan waktu untuk ngobrol tanpa ada jluntrung-nya.

Bagaimanapun juga, seseorang yang mengerti apa tujuan hidupnya, dia tahu apa yang baik ataupun tidak untuk dilakukannya. Hadits yang kita kutip di awal tulisan ini menegaskan ciri itu. Bahwa, seorang muslim yang baik akan meninggalkan segala sesuatu yang mubadzir, tidak produktif, sia-sia, tidak relevan, juga apa saja yang berbau maksiat. Sebab, ia tahu bahwa ia diciptakan bukan untuk itu.

Dengan kata lain, kesadaran terhadap tujuan hidup sangat menentukan terhadap apa yang harus kita kerjakan selama hidup. Karena kesadaran ini pulalah kita akan terdorong untuk mencari tahu bagaimana cara melakukan hal-hal yang relevan dengan tujuan itu.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, maka dia akan dibuatnya faqih (paham betul) terhadap urusan agamanya.” Jika logika hadits ini kita balik, maka ia akan berbunyi begini: pemahaman yang baik terhadap urusan agama adalah awal karunia kebaikan bagi seseorang.

Dalam hadits itu, hanya disebut secara umum kata “kebaikan”, yang bisa bermakna kebaikan apa saja, baik di dunia maupun di akhirat. Hadits ini juga menegaskan bahwa – di mata Allah – kebaikan yang bakal diraih seseorang sangat tergantung kepada faktor pengatahuan dan pengamalan agama.

Tanpa kehadiran faktor agama, sebenarnya tidak ada sesuatu pun yang layak disebut sebagai kebaikan; entah itu kesibukan, karir, kekayaan, kecantikan, popularitas, kekuasaan, gelar akademik, rumah megah, kendaraan mewah, dan lain-lain. Tanpa kehadiran agama di samping segala yang sudah disebutkan itu, maka semuanya adalah sia-sia.

Standar dan ukuran sesuatu sia-sia atau berguna, penting atau mubadzir, adalah agama. Dan, seorang muslim yang baik pasti meninggalkan apa yang diketahuinya sebagai kesia-siaan dan kemubadziran.

Bagaimana cara meninggalkannya? Pahamilah agama ini sebaik-baiknya, agar kita mengerti harus “diapakan”, “dikemanakan” dan “dibagaimanakan” semua yang sekarang kita miliki. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar