Beranda blog Halaman 368

Meneguhkan Ukhuwah Islam dan Wathaniyah untuk Papua Barat Bermartabat

0

TELUK WONDAMA (Hidayatullah.or.id) — Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Papua Barat bersinergi berkeliling melakukan safari dakwah ke berbagai daerah yang pada Ramadhan 1443 kali ini mengangkat tema “Mengukuhkan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathaniyah Untuk Papua Barat yang Aman, Sejahtera dan Bermartabat”.

MUI dan DMI Papua Barat yang merupakan wadah berhimpun berbagai elemen umat Islam ini melakukan safari dakwah Ramadhan terakhir di di Kabupaten Teluk Wondama Papua Barat yang berlangsung di gedung serba guna Yayasan Pendidikan Islam Wasior Jl. Iriati, Distrik Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Bararat, 16 Ramadan 1443 (17/4/2022).

Acara safari Ramadhan ini dihadiri langsung oleh Bupati Kabupaten Teluk Wondama Ir. Hendrik S. Mamber, MM dan Wakil Bupati Drs. Andarias Kayukatui, M.Si bersama Ibu serta Forkopimda.

Tokoh Nahdlatul Ulama Wondama Usman Puasa dalam sambutannya menyapa Pemerintah Papua Barat, MUI Papua Barat dan DMI Papua Barat menyampaikan salam dan berterima kasih kepada semua pihak MUI Kabupaten Teluk Wondama, Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama dan seluruh masyarakat yang telah menyukseskan acara ini.

Usman menambahkan, tujuan dari safari Ramadhan ini adalah menjadikan momentum Ramadhan ini sebagai momentum untuk bersilaturrahim dan menjalin ukhuwah semasama umat Islam juga antar umat beragama.

“Semoga Ramadhan ini semakin mempererat persaudaraan seluruh umat beragama,” kata Usman.

Bupati Kabupaten Teluk Wondama Ir. Hendrik S. Mamber, berterima kasih atas kunjungan safari Ramadhan dari Pemerintah, MUI, DMI Papua Barat di Kabupaten Teluk Wondama.

Dalam sambutannya, Bupati Hendrik menyampaikan agenda penting safari Ramadhan diantaranya memaknai puasa sebagai perintah Tuhan dan menjalin silaturrahim kepada semua umat beragama.

“Safari Ramadhan ini juga mengajarkan untuk berbagi kepada sesama serta merupakan wujud ibadah kepada tuhan dan interaksi kepada sesama manusia,” kata Hendrik.

Bupati menambahkan, mengajak kepada masyarakat semua untuk selalu menjaga kesehatan dengan melakukan vaksin. Harapannya, kata dia, semoga pandemi Covid 19 menjadi endemik.

Bupati juga mengajak semua masyarakat untuk senantiasa mendukung program-program pemerintah daerah, sehingga kabupaten Teluk Wondama diberkahi oleh Tuhan.

Mengakhiri sambutannya MUI Papua Barat memberikan cinderamata kepada umat di Kabupaten Teluk Wondama yang diterima langsung oleh Bupati.

Pengurus MUI Papua Barat Ust Sultan, S.Pd.I selaku penceramah sebelum berbuka puasa menyampaikan dalam tausiahnya bahwa kabupaten Teluk Wondama merupakan kabupaten terakhir yang dikunjungi oleh Tim Safari Ramadhan Pemerintah, MUI, DMI Papua Barat dan yang paling lengkap sebab hadir secara bersamaan Bupati dan wakil bupati.

“Ini cerminan bahwa toleransi umat beragama di Kabupaten Teluk Wondama sangat terjaga,” kata dai senior Hidayatullah ini.

Hal itu disampaikan Ust Sultan seraya menukil Al Qur’an Surah al-Hujurat (49) ayat 10: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat.”

Sultan menjelaskan, sebagai sesama umat Islam hendaknya kita saling menjaga persaudaraan. Demikian pula sebagai sesama anak bangsa, tegas Sultan, harus selalu menjaga persatuan dan saling menghormati sebagai manifestasi ukhuwah wathaniyah.

“Segala bentuk usaha yang bisa menyebabkan perpecahan harus dihindari. Salah satunya ialah fitnah dan dan kecurigaan satu sama lain,” kata Sultan seraya menyitat hadits Nabi yang diriwiyatkan oleh Bukhari: “Jauhilah prasangka buruk karena prasangka buruk adalah pembicaraan yang paling dusta”.

Sultan menambahkan, untuk itu bulan Ramadhan adalah bulan dimana umat Islam berlatih untuk memiliki jiwa sabar, peduli, penyayang serta selalu menjaga toleransi.

“Semoga Kabupaten Teluk Wondama khususnya dan Papua Barat pada umumnya selalu damai, aman dan sejahtera,” tandas Sultan. Acara diakhiri dengan doa dan berbuka puasa bersama.*/Miftahuddin

Inilah 3 Ibrah Penting dari Madrasah Ramadhan

Ilustrasi kaligrafi oleh Mila Okta Safitri/ Pixabay

RAMADHAN merupakan sekolah ilahiyah bagi orang beriman. Sebagai sebuah wahana pendidikan ideal, setidaknya memenuhi tiga unsur standarisasi (tsalatsatu maqayis). Standar input, proses, dan output. Input madrasah Ramadhan sumber daya mukmin, prosesnya kegiatan shiyam dan qiyam Ramadhan, outputnya adalah sumber daya muttaqin.

Banyak pelajaran penting yang Allah SWT berikan pada bulan penuh berkah ini. Kurikulumnya ditetapkan agar setiap Muslim melakukan upgrade dan update level/derajat keimanannya.

Karena, ketika keimanan mengalami disfungsi, maka memiliki kelayakan untuk dijajah (qabiliyyah littaghallub). Sebaliknya, ketika keimanan fungsional, identik dengan kejayaan, ketenangan, kesuksesan, amanah, prestasi, dll.

Ramadhan, sarana untuk melatih diri (mujahadah), menempa jiwa, tazkiyatun nafs, rekonstruksi pikiran dan sikap, agar menjadi pribadi berkualitas secara lahir dan batin, hamba yang taat, serta mencapai derajat takwa.

Jiwa kita dididik dan ditempa untuk mengendalikan hawa nafsu. Menahan diri untuk tidak makan dan minum dan menghindari hal-hal yang bisa membatalkan ataupun yang merusak pahala shaum (al Imsak ‘anil mufthirat wal imsak ‘anil muhlikat).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah orang yang kuat yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah” (al Hadits)

Malam hari, membiasakan qiyamul lail dan tahajjud (qiyam) serta melakukan tadarus Alquran serta istighfar di waktu sahur. Dan siang hari melakukan shoum (puasa lahir) dan shiyam (puasa batin). Itu semua merupakan sebagian kecil mata pelajaran yang Allah sediakan untuk dimaksimalkan pemanfaatannya.

Apabila diperhatikan lebih dalam, setidaknya ada 3 pelajaran (ibrah) penting dalam madrasah Ramadhan yang perlu kita sadap.

Pertama, pelajaran syukur

Tidak semua orang dapat menginjakkan kakinya pada Ramadhan untuk menikmati bulan yang penuh rahmat, hidayah, dan ampunan-Nya. Berbahagialah yang berkesempatan kembali bertemu dengan Ramadhan.

Maksimalkan Ramadhan sebaik mungkin sebagai bentuk rasa syukur. Sebab, tak ada yang tahu, apakah Ramadhan berikutnya bisa berjumpa kembali atau tidak. Sahabat kita yang membersamai puasa tahun yang silam, sekarang tidak bersama kita lagi. Sudah dipanggil oleh Allah Swt.

Kedua, pelajaran ikhlas dan sabar

Keikhlasan menjadi modal melaksanakan berbagai aktivitas ibadah pada Ramadhan. Semua dilakukan semata-mata mengharap keridhaan-Nya tanpa campuran kepentingan yang lain.

Dengan ikhlas, hati menjadi riang dan ringan menjalankan setiap peribadahan. Sehingga bisa memaknai dan menikmati segala aktifitasnya.

Sementara untuk membentengi keikhlasan itu diperlukan keteguhan hati, ketegaran jiwa, yakni kesabaran. Bayangkan, bagaimana seorang Muslim harus berjibaku dengan nafsunya tatkala ia sedang menjalani shaum.

Bersabar menahan lapar dan dahaga, berhemat dalam ucapan sia-sia bahkan dosa, tunduk dari pandangan yang tak membawa berkah, lumpuh dari melakukan hal-hal yang tak disenangi Allah, bahkan sampai pada tataran berprasangka hanya yang baik-baik.

Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah shaum itu sekadar tidak makan dan tidak minum, melainkan shaum itu adalah mengendalikan diri dari ucapan kotor dan perbuatan yang tidak ada manfaatnya. Apabila seseorang memarahi engkau tanpa sebab yang engkau ketahui, katakanlah kepadanya, ‘Saya sedang shaum.'” (HR. Hakim).

Ketiga, pelajaran muraqabatullah was shidq

Ramadhan menjadi madrasah untuk menumbuhkan kedua sifat tersebut. Bayangkan, yang mengetahui seseorang sedang shaum ialah hanya Allah dan dirinya sendiri.

Walaupun seseorang berada dalam kesempatan untuk mencicipi makanan, ketika sadar bahwa ia sedang shaum maka akan begitu segan memakannya. Mengapa? Karena dilihat orang ataupun tidak, ia akan tunduk karena Allah semata.

Ia selalu merasa diawasi oleh Allah dimanapun dan kapan pun. Pola pendidikan inilah yang mengajarkan kejujuran dalam segala hal. Ia tidak bisa bersembunyi dan tidak ada yang dirahasiakan di mata Allah Swt.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :

أربعٌ إذا كنّ فيك فلا عليك ما فاتك من الدنيا، حِفظ أمانة وصِدق حديث وحُسن خليقةٍ وعِفَّة طعْمَة

Empat perkara bila ada pada dirimu maka dunia yang fana tidak akan pernah menyusahkanmu: 1. Menjaga amanah. 2. Jujur dalam ucapan. 3. Akhlaq yang baik, dan 4. Menjaga makanan (HR. Ahmad, dishahihkan Albani : Silsilah ash-Shahihah, 733)..

Madrasah Ramadhan menggembleng kita agar trampil mengelola waktu dengan sebaik-baiknya. Bagaimana bisa produktif di tengah keterbatasan sumber daya waktu. Sudah seharusnya diisi dengan melakukan amal kebajikan. Buanglah segala moda /kotoran yang melekat di dalam diri, jiwa, bahkan harta.

Lulusan Madrasah Ramadhan

Apabila seluruh mata pelajaran Ramadhan diikuti dengan tanpa absen dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, wisuda sebagai manusia takwa menjadi anugerah yang tidak ternilai harganya (QS al-Baqarah [2] :183).

Taqwa berasal dari kata dasar: waqa, yaqii, wiqoyah – ittaqa. Yakni, mencari perlindungan yang bisa melindunginya dari neraka di akhirat dan mencari perlindungan yang bisa melindunginya dari hal-hal yang membuat murka Allah Swt di dunia ini. Diantaranya menjaga pisik dari penyakit yang menggerogotinya. Dengan menerapkan pola hidup sehat seperti umat Islam pertama di Madinah.

Pada suatu hari, Rasulullah SAW kedatangan tamu seorang tabib bangsa Yahudi yang datang dari Palestina. Ia minta izin untuk buka praktik di kota Madinah. Rasulullah pun mengizinkan. Tabib Yahudi itupun mulai buka praktik.

Tapi, satu bulan kemudian ia kembali datang menemui Rasulullah, kali ini untuk permisi pulang ke negerinya. Rasulullah pun tak dapat menyembunyikan keheranannya.

“Kenapa Anda begitu cepat meninggalkan kota ini, apa ada yang kurang menyenangkan di sini?’’ tanya Beliau.

“Tidak, Tuan. Semuanya baik-baik saja. Bahkan penduduk kota ini sungguh sangat menyenangkan,” kilah sang tabib.

“Lalu, apa yang menjadi masalahnya?” desak Rasulullah.

Sang tabib berterus terang, bahwa ia ingin cepat pulang ke negerinya karena selama satu bulan buka praktik di Madinah tak satupun warga kota yang datang untuk berobat padanya. Padahal, di negerinya ia termasuk tabib pakar yang terkenal dan banyak pasiennya.

Kemudian ia melanjutkan ceritanya.

“Karena penasaran, saya pun berkeliling kota masuk kampung keluar kampung untuk mencari pasien yang sakit. Tapi, tak satupun saya jumpai orang sakit untuk saya obati. Saya merasa heran, seluruh warga kota dalam keadaan sehat wal’afiat. Belum pernah saya dapatkan kota dengan seluruh penduduknya yang sehat seperti di kota Madinah ini,” ujarnya si tabib itu panjang lebar.

“Lalu, saya bertanya kepada penduduk yang saya jumpai, apa rahasianya sehingga mereka hidup nyaris sehat sempurna?” lanjut sang tabib.

“Lantas, apa jawaban mereka?” Tanya Rasulullah.

“Mereka menjawab: “Kami adalah kaum yang tidak (akan) makan sebelum datang lapar. Dan apabila kami makan, tidak (sampai) kekenyangan.” “Begitulah jawab mereka, Tuan,” jelas sang tabib Yahudi itu kepada Rasulullah.

Mendengar cerita tabib tersebut, Rasulullah berkomentar, “Sungguh benar apa yang mereka katakan kepada tuan,“ ujar Rasulullah seraya berkata, “Lambung manusia itu tempatnya segala penyakit, sedangkan pencegahan itu pokok dari segala pengobatan.” (H.R. ad- Dailami).

Dalam sabdanya yang lain :

ماملا ادمي وعاء شرّا من بطن بحسب ابن ادم اكلات يقمن صلبه فان كان لا محالة فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفسه

Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk yaitu perut. Cukuplah bagi anak Adam mengkonsumsi beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya 1/3 perutnya (diisi) untuk makanan, 1/3 untuk minuman, 1/3 lagi untuk bernafas (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dll.)

Berangkat dari cerita tabib Yahudi di atas dapat kita simpulkan, bahwa kaum Muslimin pada masa awal berkembangnya agama Islam adalah satu kaum (umat) yang amat disiplin dalam mempraktekkan pola hidup sederhana.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud ra. bahwa:

نحن قوم لا ناكل حتى نجوع واذا اكلنا لا نشبع

“Kami adalah kaum yang tidak (akan) makan kecuali lapar, dan apabila makan tidak akan (sampai) kekenyangan.”

Menggambarkan sikap hidup mereka yang sangat berhati-hati dalam soal pengendalian perut.

Meskipun mereka hidup berkecukupan, mereka tidak menjadi rakus dan selalu menjalani pola hidup sederhana seperti yang diajarkan dan dicontohkan Rasulullah SAW.

Hal tersebut membuat mereka mampu mengendalikan perut dengan menghindari sifat rakus atau ingin menikmati segalanya. Mereka yakin bahwa tanpa tanpa kendali, perut atau lambung dapat menjadi tempatnya segala penyakit baik yang bersifat fisik maupun non fisik.

Yang bersifat fisik adalah segala bentuk penyakit yang dapat dideteksi secara medis seperti diare, disentri, kolera, maag, dan penyakit perut lainnya.

Sedangkan yang bersifat non fisik adalah segala bentuk penyakit kejiwaan yang tidak dapat dideteksi secara medis, seperti tamak, rakus, serakah, konsumtif, materialistis, dsb, di mana penyakit tersebut hanya bisa diobati dengan cara mengingat Allah (zikir) dan lebih mendekatkan diri kepadaNya (taqarrub).

Allah SWT berfirman, “Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al- A’raf:31)

Jumhur Ulama mengatakan: Taqwa adalah melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya untuk menggapai ridha Allah Swt.

Ibnu Masud berkata: Bertakwa adalah Dia ditauhidkan dan tidak disekutukan, nama-Nya selalu diingat dan tidak dilupakan, nikmat-Nya disyukuri dan tidak diingkari.

Ust. Sholih Hasyim | Kudus, Jawa Tengah

Organisasi itu Hidup

Ilustrasi gambar fokus pada target (Varvarin/ Pixabay)

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam” (HR. Muslim).

Begitulah cara Rasulullah mengibarat bagaimana seharusnya umat itu bersatu, berserikat, berkumpul, berjama’ah, berorganisasi atau bahkan bernegara. Ia laksana satu tubuh. Sehinga tidak bisa dipisahkan satu dengan lain. Karena sesungguhnya, yang membedakan hanya tempat, fungsi dan perannya masing-masing. Sehingga kesemuanya akan sama-sama merasakan suka dan duka, karena memiliki tujuan akhir yang sama.

Jika dikaitkan dengan organisasi, Morgan G (2006) dalam sebuah bukunya Images of Organization, membuat metafora yang cukup menarik. Dari berbagai metafora yang diberikan, salah satunya menyatakan bahwa organisasi diibaratkan seperti organisme. Dia bukan sesuatu yang mati. Tetapi, dia hidup sebagaimana organisme hidup. Karena hidup, ia selayaknya seperti makhluk hidup pada umumnya. Yaitu mengalami pertumbuhan dan perkerkembangan. Tidak statis dan jumud.

Dimana tumbuh seringkali dikaitkan dengan perkembangan secara fisik. Sedangkan berkembang dikaitkan dengan otak/pikiran. Dua-duanya harus seiring dan sejalan. Jika kembali ke ibarat satu tubuh tadi, maka pertumbuhan fisiknya yang terus membesar, juga harus dibarengi dengan pertumbuhan otaknya, yaitu menyangkut cara berfikirnya. Dengan demikian maka, organisasi sebagai sesuatu yang hidup tersebut, dalam tumbuh dan berkembangnya juga dalam pengaruh lingkungan sekitar.

Kendatipun demikian, organisasi yang satu dengan organisasi yang lain bisa berbeda, karena berada pada lingkungan yang berbeda pula. Morgan menggambarkan organisasi seperti hanlya buaya yang hidup di daerah rawa akan berbeda dengan onta yang hidup dipadang pasir. Keduanya memiliki anatomi dan cara hidup yang berbeda. Demikian organisasi dalam situasi yang kondusif tentu berbeda dengan organisasi yang sedang berada dalam masa krisis.

Siklus Organisasi

Setiap organisasi memiliki tujuan akhir yang hendak dicapai. Sehingga dengannya juga memiliki cara yang berlainan dalam struktur, kebudayaan dan strategi pengembangan sumber daya yang ada untuk dapat bekerjasama dalam mencapai tujuan organisasi dimaksud.

Tidak sama antara satu organisasi yang satu dengan yang lain. Demikian halnya denga pilihan strateginya, mesti ada pendekatan yang sifatnya generik namun dalam praktinya selalu berlainan antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. Hal ini terutama agar organisasi tersebut dapat bertahan dan berkembang. Disinilah maka ada istilah siklus/daur hidup organisasi.

Jones (2001) menyebut tahapan dalam siklus hidup organisasi meliputi tahapan kelahiran, pertumbuhan, penurunan, dan kematian, sehingga dapat dikatakan bahwa siklus hidup suatu organisasi (organizational lfe cycles) adalah tahapan organisasi yang dimulai dari lahir, tumbuh , dewasa dan mati.

Siklus hidup organisasi sangat panjang tetapi bisa juga sangat pendek, tergantung pada kualitas proses manajemen, termasuk kemampuan organisasi untuk menghadapi turbulensi serta perubahan eksternal dan internal, karena seringkali turbulensi eksternal ini menciptakan tekanan dan mendeterminasi pada kinerja organisasi itu sendiri.

Namun sebuah organisasi terkadang terpaksa sampai pada tahap kemunduran, yang disebabkan oleh empat alasan, yaitu atrofi organisasi, kerentanan, hilangnya legitimasi, dan entropi lingkungan.

Jika suatu organisasi sampai pada tahap kemunduran, maka diperlukan upaya untuk mencegahnya dan pada kenyataannya organisasi tidak harus berhenti beroperasi, tetapi diklaim lebih efisien, produktif, inovatif, dan lebih efektif.

Agar Organisasi tidak Mati

Dengan demikian maka sebagai organisme, setiap tahapan dalam siklus organisasi itu sudah harus dipahami sejak dini. Dan tujuannya adalah jangan sampai mati, baik cepat mupun lambat. Sehingga sebagaimana juga diibaratkan satu tubuh itu, maka secara instinktif, juga mesti dirasakan jika dalam setiap tahapan ada perubahan baik perbaikan ataupun berupa masalah dan ketidak sesuaian dengan prosedur yang telah ada.

Dalam konteks ini maka pemimpin organisasi harus mampu menggerakkan seluruh elemen organisasi untuk melakukan upaya-upaya yang sifatnya preventif maupun kuratif, dengan tetap memperhatikan faktor eksternal.

Sebagaimana diuraikan di atas, dapat dipahami bahwa titik krusial sebuah organisasi itu, jika sudah ada dipuncak, dan kemudian mengalami decline (penurunan). Problemnya adalah seringkali organisasi tidak menyadari bahwa dia dalam kondisi puncak, tetapi tiba-tiba merosot jatuh. Maka langkah antisipatif inilah yang terus dilakukan sehingga tidak sampai terjadi kematian.

Dalam konteks organisasi, kematian sebuah organisasi bukan berarti hilang sama sekali aktifitas ataupun tidak ada geraknya lagi. Akan tetapi kematian sebuah organisasi juga bisa diartikan tidak ada perannya lagi yang dirasakan oleh stakeholder organisasi itu sendiri, atau kepada lingkungan sekitarnya.

Maka, dalam organisasi mesti ada organ/elemen yang berfungsi dan berperan untuk melakukan self diagnosis, untuk kemudian secara periodik melakukan diagnosa mandiri berupa scanning dan assessment terhadap kondisi organisasi secara mandiri. Atau bisa juga dengan meminta pihak ekternal yang ahli untuk menjadi “dokter” dan memeriksa serta mendiagnosa organisasi kita, bisa dalam bentuk audit diberbagai aspek.

Dalam konteks organisasi Islam, maka metafora organisasi sebagai organisme ini sesunggunya, dalam rangka untuk memperjuangkan dan memenangkan kebenaran. Sedangkan kebenaran (al-haq) yang dimaksud adalah yaitu Islam itu sendiri. Dan ini semestinya dipahami oleh siapapun yang sedang menjadi bagian dari organisasi Islam, apapun bentuknya, seberapapun besarnya, dan dimanapun organisasi itu berada.

Memang menjadi bagian dari organisasi seperti ini tidak mudah, dan ternyata juga tidak banyak jumlahnya, sebagaimana hadits Nabi saw berikut ini.

Dari Tsauban r.a ia berkata: Telah bersabda Rosulullah saw; Senantiasa ada satu golongan dari ummatku yang menang karena di atas kebenaran, tidak akan merugikan mereka orang orang yang menghinanya sampai datang keputusan Allah saw, selama mereka tetap ada dalam keadaan demikian (haq) (H.R. Muslim dan Abu Daud).

Wallahu a’lam

Asih SubagyoSenior Researcher Hidayatullah Institute

Bersama Sakinah Swalayan Salurkan Paket Bingkisan Ramadhan

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Upaya menghadirkan kebahagiaan kepada warga dhuafa dan masyarakat pra-sejahtera terus dilakukan. Terbaru, BMH bersama Sakinah Swalayan serahkan paket bingkisan Ramadhan untuk 600 penerima manfaat di Surabaya meliputi lansia, dhuafa, yatim dhuafa dan pejuanh nafkah jalanan, Ahad,16 Ramadan 1443 (17/4/2022).

Paket Ramadhan tersebut meliputi paket bingkisan sembako, bantuan dana tunai dan beberapa paket lainnya untuk memberikan kepedulian kepada mereka.

Program ini terlaksana berkat dukungan dari kaum muslimin dan konsumen sakinah dibeberapa toko retail yang dikelola atas program donasi/koin kembalian.

M. Daud Ketua Kopontren Sakinah menyampaikan, Kegiatan ini terselenggara atas dukungan pelanggan setia sakinah mart dan kami kelola kemudian kami kembalikan lagi untuk ummat melalui program ini.

Semoga berkah bermanfaat khususnya dibulan ramadhan ini. Terimakasih sinerginya BMH.

Sementara itu warga keputih Surabaya Ibu Muslimah menyampaikan bahagianya terima bantuan sembako ini dari Sakinah.

“Maturnuwun sangat bermanfaat untuk bek dibulan Ramadhan ini”, ungkapnya.*/Mustofa

SD Integral Hidayatullah Baubau Adakan Camp Ramadhan Kenalkan Mondok ke Siswa

0

BAUBAU (Hidayatullah.or.id) — Guna mengenalkan dunia mondok dan mengisi kegiatan bulan Ramadhan 1443 H, SD Integral Hidayatullah Baubau menggelar CLASSIC (Class Six Integral Camp) bagi siswa kelas 6. Agenda acara dilaksanakan selama tiga hari sejak Jum’at pagi, 13 Ramadhan (15/4/2022) hingga Ahad pagi, 15 Ramadhan (17/4/2022).

Wali kelas 6, Ustadzah Mirna Angraeni mengatakan acara ini diikuti oleh 28 peserta yang merupakan siswa dan siswi kelas akhir (kelas 6) angkatan 2021/2022 dan juga didampingi oleh semua ustadz dan ustadzah.

Camp Ramadhan yang bertema ‘Merajut Kebersamaan yang Indah Hingga Akhir’ dilaksanakan di Kampus Pesantren Hidayatullah Baubau di bilangan Jalan Pahlawan Km.5, Lr. Pesantren Hidayatullah, Kel. Kadolokatapi, Kec. Wolio, Kota Baubau, Sultra.

Acara Camp Ramadhan ini tidak seperti pesantren kilat atau pesantren Ramadhan yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu.

Acara ini diisi dengan berbagai acara menarik dan seru yang menjadi agenda harian di Pesantren Hidayatullah Baubau ini yang diawali dengan ujian hafalan qur’an, tadarrus, wirid, buka puasa dan sahur bersama, tarawih berjamaah, olahraga, uji mental, dan games menarik.

Kegiatan ini juga diisi dengan materi kelas; Fiqih Ramadhan yang dibawakan oleh Ustadzah Siti Darlima, S.Pd., Adab Islam oleh Ustadzah Rizkiani, S.Pd., Shiroh Nabawiyah oleh Ustadzah Fitriani, S.Pd., dan spirit motivasi yang langsung dibawakan oleh Kepala Sekolah SD Integral Hidayatullah Baubau, Ust. Akbar Mahaba, S.Pd.I., M.Pd.

“Acara ini tujuan utamanya untuk mengenalkan dunia mondok di pesantren bagi siswa kelas 6 yang sebentar lagi insya Allah akan naik ke jenjang SMP/MTs. Mondok menjadi solusi untuk membina dan memandirikan siswa di masa pandemi seperti ini,” kata Akbar.

Dari beberapa testimonial, siswa merasa senang dengan kegiatan mondok ini dengan persiapan perlengkapan mondok sehari sebelumnya.

Senada dengan itu, wali siswa sangat mendukung dan berharap durasi/waktu pelaksanaan mondok bisa lebih lama lagi.

“Ustadz, kalau bisa (kegiatan mondok) dilaksanakan satu pekan,” ujar beberapa wali siswa saat menjemput anaknya.

Kepala Sekolah SD Integral Hidayatullah Baubau, Ust. Akbar Mahaba, S.Pd.I., M.Pd sangat berterimakasih kepada orang tua siswa yang mendukung penuh kegiatan ini dan juga ucapan terimakasih kepada guru-guru yang mendampingi siswa hingga akhir kegiatan. /*Noer Akbar

LPH Hidayatullah Resmi Terima Sertifikasi Akreditasi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah resmi menerima sertifikat akreditasi sebagai lembaga pemeriksa halal resmi dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama (Kemenag) yang diserahterimakan di Hotel Mercure, Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, Rabu, 12 Ramadan 1443 (13/4/2022).

Dalam kesempatan tersebut, BPJPH Kemenag sekaligus juga mengumumkan delapan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) baru yang kini telah memiliki sertifikat akreditasi.

Delapan Lembaga LPH ini akan menambah jumlah LPH di Indonesia yang sebelumnya hanya ada tiga LPH, yaitu LP POM MUI, LPH Sucofindo, dan LPH Surveyor.

“Bertambahnya jumlah LPH ini tentu akan semakin memperkuat penyelenggaraan Jaminan Produk Halal di Indonesia,” ujar Kepala BPJPH Kemenag Muhammad Aqil Irham dikutip dalam keterangan resminya.

Keberadaan LPH, lanjut Aqil Irham, merupakan bagian tak terpisahkan dari proses sertifikasi halal yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.

LPH kata Irham memiliki peran yang sangat penting dalam penyelenggaraan JPH di Indonesia dan tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan proses sertifikasi halal.

“Keberadaan LPH yang memadai tentu juga akan memperkuat infrastruktur yang diperlukan untuk mengakselerasi layanan sertifikasi halal di seluruh wilayah Indonesia,” lanjutnya.

Terlebih, terang dia, Kemenag telah mencanangkan program 10 juta produk bersertifikat halal di tahun 2022. Ini menuntut ketersediaan sejumlah perangkat pendukung, termasuk ketersediaan LPH dengan auditor halal dan labolatorium pengujian atau pemeriksaan produk halal.

Sementara itu, Kepala Pusat Kerja Sama dan Standardisasi Halal BPJPH Siti Aminah mengatakan proses akreditasi delapan LPH baru tersebut telah dimulai sebelum terbentuknya Tim Akreditasi LPH pada 10 November 2021.

“BPJPH bersama Tim Dewan Halal Nasional Majelis Ulama Indonesia (DHN MUI) melakukan proses verifikasi validasi dokumen dan lapangan terhadap 9 (sembilan) calon LPH yang tersebar di beberapa provinsi di Indonesia. Hasil verifikasi validasi ini kemudian ditindaklanjuti Tim Akreditasi,” ujar Aminah.

“Dari sembilan LPH yang disetujui proses akreditasinya, baru delapan LPH yang memenuhi syarat integrasi sistem LPH dengan BPJPH. Sehingga, baru delapan LPH yang dapat diterbitkan sertifikat akreditasinya,” kata dia.

Ketua LPH Hidayatullah Muhammad Faisal mengatakan dengan mendapatkan sertifikat akreditasi tersebut, LPH Hidayatullah sudah resmi menjadi bagian dari pemeriksa dalam proses sertifikasi halal di Indonesia.

“Mohon doa semoga eksistensi LPH Hidayatullah turut menguatkan kepeloporan halal food dengan mengedukasi masyarakat lebih memperhatikan soal kehalalan makanan yang dikonsumsi,” katanya.

Dia menambahkan, LPH Hidayatullah siap menjalankan perannya yang yang didukung auditor-auditor halal yang dilatih oleh LPPOM MUI serta kemantapan infrastruktur LPH lainnya.

Adapun LPH lainnya yang sudah terbit sertifikat akreditasinya yaitu LPH Kajian Halalan Thayyiban Muhammadiyah, LPH Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, LPH Balai Pengembangan Produk dan Standardisasi Industri Pekanbaru, LPH Universitas Brawijaya, LPH Universitas Hasanuddin, LPH Bersama Halal Madani, dan LPH Balai Sertifikasi Direktorat Standardisasi dan Pengendalian Mutu Kementerian Perdagangan.*/Ain

Mohon 3 Hasanah untuk Membangun Peradaban

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْأَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dan di antara mereka ada pula yang berdoa, “Ya Tuhan kami! Berilah kami di dunia kebaikan), artinya nikmat, (di akhirat kebaikan) yakni surga, (dan peliharalah kami dari siksa neraka.”) yakni dengan tidak memasukinya. Ini merupakan lukisan tentang keadaan orang-orang musyrik dan keadaan orang-orang beriman, yang tujuannya ialah supaya kita mencari dua macam kebaikan dunia dan akhirat, sebagaimana telah dijanjikan akan beroleh pahala dengan firman-Nya (QS. Al-Baqarah 2: 201).

Kalau Allah sudah mengabulkan do’a kita yaitu kebaikan di Dunia, kebaikan di Akhirat dan terhindar dari api neraka (2 : 201), lalu apa lagi yang kurang?

Yang kurang adalah kesadaran kita untuk meminta. Kebaikan dunia itu luas, tanpa batas, tak berujung dan tidak bertepi. Tak marbuthoh pada kalimat حسنة bermakna mubalaghah (superlatif, penyangatan). Seperti kalimat فريضة pada teks hadits : طلب العلم فريضة

Tapi yang kita tahu hanya kebaikan dunia dan akhirat saja. Yang sering kita minta hanya terbatas kebaikan untuk kesehatan dan rezeki yang lancar saja seakan-akan yang lain yang menjadi kepentingan ummat seperti ilmu, ekonomi, politik, militer dan anashirul quwwah (unsur-unsur kekuatan) yang lain tidak masuk dalam deretan/daftar permohonan kita.

1. Hasanah Ilmu/ Literasi

Menurut penelitian internasional, dari 70 negara, tingkat pemahaman literasi Indonesia berada di ranking yang ke – 62.

Perintah pertama itu membaca, membaca itu berilmu. Harusnya tingkat literasi ummat Islam tinggi. Komunitas Zionis sekarang, setiap kecamatan banyak yang bergelar doktor.

Bagaimana dengan Hidayatullah? Yang menjadikan surat Al Alaq sebagai manhaj? Pesantren Hidayatullah adalah cermin/ gambaran peradaban ditandai dengan tingkat literasi yang tinggi. Baca WhatsApp 5 jam kuat, baca literasi artikel 5 menit tidak kuat. Ini adalah leher-leher yang tidak berliterasi tinggi

Pesantren Hidayatullah cermin terbaik, guru gurunya teruji bukan diuji. Kita sebagai lembaga benar benar kita hajatkan transfer knowledge adalah yang utama.

Kita masih fokus menambah sarana tapi mengabaikan SDM, padahal SDM itu sangat penting. Semua gedung yang dimiliki adalah alat, operatornya adalah manusia. Karena itu minimal 5% dari dana yang dimiliki oleh yayasan dialokasikan untuk pengembangan SDM (Sumber Daya Mujahid Muttaqin).

Kalau Hidayatullah yang mengadopsi manhaj hanya begini begini saja, bahaya. Bisa mencoreng wajah mulia Islam. Jika Islam yang kita tampilkan kumuh, kotor, dan tidak disiplin akan merusak kemuliaan Islam. Ini yang katakan oleh Muhammad Abduh, “Al Islaamu Mahjuubun bil Muslim”. Islam itu tertutupi oleh perilaku kaum muslimin sendiri.

Seorang Mufti Malaysia mengatakan: “Di Mesir ada Al Azhar, pusatnya keilmuan Islam. Tapi daya tarik Mesir adalah Fir’aun bukan jasanya al Azhar yang menjadi pusat keilmuan Islam”

Prof. DR. Muh. Roem, bertanya kepada mahasiswanya: mana yang lebih baik, orang bodoh yang bertakwa atau orang pinter yang tidak bertakwa? Lalu dijawab oleh beliau: Mustahil orang yang bertakwa itu bodoh, karena ayat pertama yang turun adalah surat Al Alaq tentang Ilmu, dan tidak mungkin orang yang pinter tidak bertakwa. Karena Ilmu puncak takut pada Allah. Kalau ada orang pintar tidak takut pada Allah bukan berilmu namanya, tapi zhon (persangkaan).

Keilmuan kita sudah Hasanah apa belum? Kalau belum masukkan dalam daftar do’a kita. Rasulullah berdoa untuk ditambahi ilmu yang bermanfaat, bukan yang lain.

2. Hasanah dalam Aspek Ekonomi

Ekonomi itu penting untuk kemaslahatan ummat, kemiskinan itu berpotensi untuk menyeret ummat kepada kekafiran.

كاد الفقر ان يكون كفرا

Bagaimana kita mau berdaya sementara secara pribadi Fakir, secara lembaga fakir. Faqir fil iman wa faqir fil ilmu wa faqir fil mal.

Secara pribadi ada yang memilih menjadi fakir, tetapi lembaga jangan. Sebuah lembaga atau negara harus kaya karena berkewajiban mencukupi orang orang miskin. Melayani bangsanya. Negara harus hadir untuk fakku raqabah (mengurai problem sosial) rakyatnya (Surat Al Balad).

Padahal Allah sudah memberikan sertifikat pada surat Al Araf : 32)

(قُلۡ مَنۡ حَرَّمَ زِینَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِیۤ أَخۡرَجَ لِعِبَادِهِۦ وَٱلطَّیِّبَـٰتِ مِنَ ٱلرِّزۡقِۚ قُلۡ هِیَ لِلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا خَالِصَةࣰ یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِۗ كَذَ ٰ⁠لِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لِقَوۡمࣲ یَعۡلَمُونَ)

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dari rezeki yang baik-baik ? Katakanlah, “Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui.

Kata Ibnu Katsir itu diciptakan oleh Allah untuk orang beriman meskipun orang orang kafir ikut ikutan (nebeng, Bhs Jawa).

Masalahnya ummat Islam tidak sadar kalau Allah memberikan sertifikat bahwa mereka menguasai dunia dan seisinya

Kata Prof. Yusril, dunia saat ini bukan dikendalikan oleh politisi tapi oleh oligarki. Meskipun yang populer presiden tapi disetir oleh pemilik modal. Pemodal the real penguasa.

Rasulullah itu kaya, baik sebelum menjadi nabi maupun saat menjadi nabi begitu juga para sahabat nabi merupakan orang orang kaya yang hebat.

Kata Abdullah Ibnu Mubarok ketika ditanya mengapa berbisnis? Dia mengatakan: ” Aku berbisnis untuk menjaga kehormatan ulama agar mereka tidak mudah terbeli oleh penguasa”.

Seorang kyai, seorang ustadz harus lepas dari hutang jasa dengan santrinya jangan sampai hidup dari santri. Karena itu Pesantren harus punya amal usaha dan badan usaha. Agar independen. Berdikari. Berdiri di atas kaki sendiri.

3. Hasanah Bidang Politik

Politik itu sepenting apa? Bani Israil selalu dipimpin oleh nabi, kalau nabi meninggal Allah mengutus lagi seorang nabi untuk memimpin mereka

Allah tidak menumpas kemaksiatan dengan kita membacakan Al Qur’an tapi Allah menumpas kemaksiatan dengan implementasi Al Qur’an oleh seorang penguasa. Al Qur’an itu konsep, perlu ada orang yang mengimplementasikannya yaitu Sultan atau Penguasa.

ما اعظم هذا الدبن لو كان له رجال

Alangkah agungnya agama ini jika memiliki sosok yang sepadan dengan keagungannya

Yang namanya agama dan kekuasaan itu saudara kembar.

Kata Imam Al Ghazali: “Agama dan kekuasaan itu saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu yang dibangun tanpa pondasi akan runtuh dan sesuatu yang tidak ada penjaganya akan terancam hilang atau musnah”

Kata Ibnu Taymiah: ” Penguasaan terhadap urusan manusia termasuk kewajiban besar diantara kewajiban beragama karena kemaslahatan manusia tidak akan sempurna kecuali dengan berjamaah/ berkumpul sementara kalau berjamaah harus ada yang menjadi imam atau pemimpin diantara mereka.”

Urusan agama tidak akan tegak kecuali dengan kekuasaan. Segudang kepintaran tidak ada gunanya dihadapan segenggam kekuasaan.

Hidayatullah menerapkan sistem high politic. Tidak ikut politik praktis tapi mampu mempengaruhi. Menjadi jama’atudh dhaghthi (kelompok penekan).

Jihad Kontemporer Hidayatullah, Membangun Hayatul Muslim

Jihad adalah fitrah manusia. Dalam diri manusia ada dua kekuatan yang saling kontradiktif. Tarik menarik antara potensi positif dan potensi negatif. Kekuatan fujur dan kekuatan taqwa.

Untuk memenangkan dan agar ketakwaan lebih dominasi, mustahil terjadi tanpa jihad. Kemenangan manusia atas hawa nafsunya itulah menjadikan posisi manusia dipilih menjadi khalifah fil ardhi.

Tugas khalifah di muka bumi ini adalah ‘imaratul ardhi (memakmurkan bumi ini). Agar dunia menjadi potongan firdaus. Sebagaimana yang dirasakan nabi Adam ketika hidup di surga.

Allah berfirman pada surat Thaha ayat 118.

“Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) ditimpa panas matahari di dalamnya” (QS. Thaha (20) : 118-119 ).

Kehidupan surgawi yang digambarkan pendahulu kita menggambarkan kesuksesan terbangunya sebuah peradaban. Berkecukupan makanan (mangan wareg), sandang (sandang rapet), tidur nyenyak (turu anteng), hidup nyaman (urip kepenak), papan mapan (kediaman yang mapan).

Dan dua indikator menonjol kemakmuran negeri adalah (terhindar dari kelaparan dan terbebasnya warga dari rasa takut (Q.S. Quraisy : 4-5).

Dalam menata kehidupan islami (kampus miniatur madinah), kita berusaha untuk mengurai problem kita sendiri secara terprogram dan berkelanjutan. Dengan tahapan berikut:

Ishlahun nafsi, ishlahul bait, ishlahur ra’iyyah, ishlahul hukumah, ishlahul buldan, kaffatan linnas wa rahmatan lil alamin.

Empat Parameter Kebahagiaan

Dalam kehidupan di miniatur madinah, setiap dari kita menginginkan kebahagian. Kita berusaha dengan berbagai cara, baik siang maupun malam, untuk mewujudkan kebahagian tersebut.

Namun, kebanyakan dari kita tidak tahu dan mengerti apa sebenarnya yang menjadikan hidup kita bahagia di dunia ini. Padahal Nabi Saw. sejak dahulu sudah mengabarkan bahwa ada empat perkara yang menjadikan hidup kita bahagia.

Dalam hadits riwayat Ibnu Hibban, Nabi Saw. bersabda :

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ : اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيُّ.

“Ada empat perkara termasuk kebahagiaan; istri yang shalihah, tempat tinggal yang lapang, teman atau tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman.”

Memiliki istri yang shalihah dan baik.

Di antara sumber kebahagiaan dalam hidup adalah memiliki istri yang shalihah. Karena itu, ketika kita hendak memilih pasangan hidup, kita dianjurkan untuk memprioritaskan agama, kebaikan dan keshalihannya terlebih dulu.

Kita akan merasakan kebahagian dalam rumah tangga karena kebaikan dan keshalihan pasangan kita bukan karena yang lain. sebagaimana sabda Nabi Saw., istri shalihah adalah sebaik-baik perhiasan di dunia.

Dalam sebuah sabdanya, Nabi Saw. memberikan gambaran mengapa memiliki istri shalihah dapat mendatangkan kebahagian, yaitu karena ketika dipandang menyejukakan, ketika diperintah mau mentaati, dan istri shalihah dapat menjaga dirinya sendiri dari godaan orang lain meski tanpa pengawasan suami.

Disebutkan dalam hadis riwayat Abu Daud, Nabi Saw. bersabda:

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ

“Maukah aku beritakan kepada kalian tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila suami pergi, dia akan menjaga dirinya.”

Memiliki tempat yang nyaman.

Juga di antara sumber kebahagiaan adalah memiliki tempat tinggal atau rumah sendiri, yang nyaman dan lapang.

Dalam Islam, kita sangat dianjurkan untuk membangun rumah sebagai tempat istirahat ketika kita lelah dan tempat tidur ketika kita ngantuk, dan sebagai tempat silaturahmi bagi sanak famili kita.

Nabi Nuh ketika berada di atas perahu pada saat banjir besar memohon kepada Allah agar diberi tempat yang berkah. Ini menunjukkan bahwa tempat tinggal yang lapang dan berkah termasuk hal penting dalam hidup kita.

Memiliki teman dan tetangga yang baik.

Kehadiran teman dan tetangga dalam kehidupan kita sehari-hari sangat dibutuhkan. Islam sangat memperhatikan betul agar kita menjadi teman dan tetangga yang baik bagi orang lain, dan kita akan sangat beruntung jika memiliki teman dan tetangga yang baik kepada kita.

Al Jaaru Qabla Ad Dari (cari tetangga dahulu baru membangun rumah). Karena itu, kita dituntut untuk menghormati teman dan tetangga kita dengan harapan agar Allah memberikan teman dan tetangga yang baik kepada kita.

Orang-orang terdekat adalah modal utama untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas. Dalam hadits riwayat Imam Buhari dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya.”

Kendaraan yang nyaman.

Kendaraan yang nyaman bukan berarti harus mewah. Yang dimaksud di sini adalah kendaraan yang berfungsi dengan baik dan normal.

Kita sebagai muslim dituntut untuk bermanfaat kepada orang lain, dan kadang untuk melakukan hal tersebut kita membutuhkan kendaraan yang lancar.

Sebaliknya, apabila kendaraan sering rusak dan mogok, tentu hal ini sangat mengganggu kegiatan kita. Karena itu, di antara penunjang kebahagiaan hidup adalah memiliki kendaraan yang nyaman digunakan.

Empat perkara tersebut perlu kita upayakan terwujud dalam kehidupan kita agar kita bisa bahagia. Dalam Islam, mencari kebahagiaan di dunia tidak dilarang selama diusahakan dengan cara yang baik dan halal.

Ust. Sholih Hasyim

Ketua DPD RI LaNyalla Mattalitti Silaturrahim dengan Pengurus Hidayatullah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, bersilaturahmi dengan Pengurus Pusat Ormas Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah kawasan Cipinang Cimpedak, Jakarta Timur, Jumat, 14 Ramadan 1443 (15/4/2022).

LaNyalla hadir didampingi Staf Khusus Ketua DPD RI Sefdin Syaifuddin, Sekjen DPD RI Rahman Hadi, Deputi Administrasi DPD RI Lalu Niqman Zahir, Staf Ahli Ketua DPD RI Baso Juherman beserta jajaran staf lainnya.

Dari Pengurus Pusat Hidayatullah hadir Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq didampingi Sekretaris Jenderal Candra Kurnianto. Pertemuan juga dihadiri Dewan Murrabi Pusat Hidayatullah, Dewan Mudzakarah Hidayatullah, unsur Pengurus DPP Hidayatullah, Pengurus Organisasi Pendukung Tingkat Pusat Hidayatullah dan Pengurus Amal Usaha Tingkat Pusat Hidayatullah.

Saat berdialog, LaNyalla memaparkan situasi nasional dan internasional terkini. Salah satunya mengenai bagaimana pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Hari Melawan Islamophobia yang telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 15 Maret lalu.

LaNyalla juga menyampaikan jika DPD RI memiliki kewenangan yang berbeda dengan DPR RI.

“DPD RI itu hanya pengawasan dan menerima aspirasi. Sementara DPR RI memiliki kewenangan budgeting dan membentuk serta memutuskan UU,” kata LaNyalla.

Senator asal Jawa Timur itu melanjutkan, sejauh ini, katanya, dalam pandangannya DPR RI tidak maksimal memainkan fungsi kontrol terhadap pemerintah.

“Yang terjadi justru partai berkoalisi dengan pemerintah. Maka, kami DPD RI mengambil peran pengawasan terhadap roda pemerintahan,” ujar LaNyalla.

Sebagai wakil rakyat, LaNyalla menegaskan jika saat menjabat, dia disumpah atas nama Allah SWT, untuk menjalankan konstitusi dengan benar. Dimana salah satu tujuan negara ini menurut konstitusi adalah memajukan kesejahteraan umum.

“Artinya saya wajib mewakafkan diri saya untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Dan situasi hari ini, rakyat makin banyak yang tidak sejahtera akibat dampak pandemi dan krisis ekonomi. Itulah mengapa saya melakukan koreksi atas sistem pengelolaan SDA negara ini,” tukasnya.

LaNyalla, menambahkan, konsep pengelolaan SDA mutlak dikembalikan ke sistem ekonomi Pancasila, yang sesuai dengan konsepsi Islam. Dimana SDA adalah public good, bukan commercial good. Yang terjadi sekarang, yang menikmati oligarki. Rakyat tetap kere.

“Kalau kita memikirkan diri sendiri, kita tinggal menikmati saja perpanjangan tiga periode ini. Tapi kita tak mau seperti itu. Sama saja kami ini memperkaya oligarki dan membuat rakyat kita tambah kere,” kata LaNyalla.

Di sisi lain, LaNyalla juga menyinggung soal Hari Anti Islamophobia yang baru saja ditetapkan oleh PBB. Ia meminta pengurus Hidayatullah memassifkan informasi tersebut agar dapat menjadi peringatan yang bermakna bagi masyarakat Muslim dunia.

Sementara Staf Khusus Ketua DPD RI, Sefdin Syaifudin, menyayangkan Hari Anti Islamophobia tak disambut dengan gegap gempita oleh umat Muslim Indonesia.

“Saya kira perlu ada desakan kepada Legislatif untuk diratifikasi menjadi regulasi, meskipun tidak semua kesepakatan internasional itu mutlak diratifikasi,” tegas Sefdin.

Ia juga menyinggung polarisasi yang terjadi di Indonesia. Menurutnya, hal itu imbas dari Presidential Threshold 20 persen dan semakin meruncing sejak Pemilu 2014.

Menurutnta, Presidential Threshold 20 persen tak membuka ruang bagi putera dan puteri terbaik bangsa untuk berkontestasi dalam pemilu.

“Dan hal itu yang menyumbang polarisasi yang sampai hari ini dipelihara. Kita merasakan polarisasi itu sejak 7 tahun yang lalu, tepatnya sejak Pemilu 2014. Sebelumnya, kita tak pernah merasakan hal itu. Presidential Threshold ini adalah kunci masalah polarisasi bangsa ini. Ini juga menjadi concern Ketua DPD RI,” papar Sefdin.

Selanjutnya, dalam hal pengelolaan SDA, Sefdin memaparkan jika menurut catatan Salamudin Daeng, pemerhati masalah energi, hasil produksi batubara nasional mencapai 610 juta ton atau senilai 158,6 miliar dolar atau dalam rupiah menjadi Rp2.299 triliun.

Jika dibagi dua dengan negara, maka pemerintah bisa membayar seluruh utangnya hanya dalam tempo tujuh tahun lunas. Produksi Sawit sebanyak 47 juta ton atau senilai Rp950 triliun, maka jika dibagi dua dengan negara, pemerintah bisa menggratiskan biaya pendidikan dan memberi gaji guru honorer yang layak.

“Kalau dikelola negara sebesar 55 persen, lalu sebesar 35 persen kotraktor yang mengerjakan dan 10 persen untuk masyarakat di sekitar situ, 7 tahun kita bisa bayar utang Rp7 ribu triliun. Itu hanya dari batubara saja, belum lainnya,” ujarnya.

Sementara saat ini, dana yang masuk ke negara dari royalti dan bea ekspor dari sektor mineral dan batubara sejak tahun 2014 hingga 2020, berdasarkan data di Kementerian ESDM, setiap tahunnya tidak pernah mencapai Rp50 triliun.

Hanya di tahun 2021 kemarin, saat harga batubara dan sejumlah komoditi mineral mengalami kenaikan drastis, sehingga tembus Rp75 triliun.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Hidayatullah, Nashirul Haq menjelaskan organisasinya sudah sejak 20 tahun lalu menjelma menjadi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas). Hidayatullah, Nashirul Haq melanjutkan, memiliki target pada tahun 2025 tersebar di seluruh kabupaten/kota se-Indonesia.

“Tahun 2025 kami menarget sudah ada di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Kami memiliki jaringan pesantren yang cukup banyak. Jadi, kami ini merupakan ormas yang menggabungkan antara NU dan Muhammdiyah. Muhammadiyah terpusat dengan pendidikan, NU dengan pesantrennya. Hidayatullah seperti itu. Kulturnya pesantren, formalnya sekolah,” papar dia. (hio/lc)

Kurikulum Madrasah Ramadhan

0
Gambar ilustrasi umat muslim sedang berbuka puasa (Ahmad Ardity/ Pixabay)

SALAH satu sebutan bulan ramadhan adalah syahrut tarbiyah (bulan pendidikan). Menurut para ulama, ramadhan dinamakan sebagai syahrut tarbiyah karena begitu banyak hikmah dan nilai-nilai pendidikan yang dikandungnya.

Oleh karenanya, dalam upaya menyemarakkan ramadhan sebagai syahrut tarbiyah atau bulan pendidikan, sudah barang tentu umat Islam wajib mengisinya dengan kegiatan edukatif, mencerdaskan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil di dalam Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur, saat menafsirkan QS Al-Baqarah: 183 menyebutkan sebagai madrasah takwa, adapun secara lengkap sebagai berikut:

Ramadhan merupakan madrasah taqwa, perhatikanlah bagaimana kata taqwa disebutkan diawal ayat dan di akhir ayat diantara ayat-ayat puasa; hal itu karena puasa menjadi salah satu hal yang paling agung untuk mewujudkan ketaqwaan dalam diri seorang hamba, maka hendaklah kita melihat bagaimana pengaruh puasa terhadap ketaqwaan kita kepada Allah baik dalam hal pendengaran dan penglihatan maupun ucapan; agar kita bisa mencapai sebuah tujuan yang mulia : { لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ }.

Sebagai sebuah madrasah, maka sudah barang tentu memiliki tata aturan. Misalkan dalam hal ini syarat masuknya mesti jelas, yaitu orang-orang yang beriman. Demikian juga kualifikasi dan standar kelulusannya juga terukur, yaitu bertakwa. Dimana kesemuanya itu memiliki rujukan yang sangat komprehenshif dan unggul.

Adapun rujukan utamanya adalah Al-Qur’an, As-Sunnah, Sirah Nabawiyah, dan dilengkapi dengan pendapat salafus shalih dan fuqaha yang tertuang dalam kitab-kitab terdahulu hingga kontemporer. Dan demikian halnya dengan seluruh kehidupan umat manusia di dunia. Karena sesungguhnya madrasah ini merupakan kehidupan itu sediri.

Pertanyaannya kemudian adalah, untuk menghasilkan lulusan dan mendapatkan predikat takwa tersebut, kurikulum apa yang harus diajarkan? Hal ini sekaligus untuk menjawab peringatan dari Rasulullah saw, bahwa Iman itu kadang naik kadang turun.

Oleh karenanya, setidaknya ada 8 (delapan) materi pokok, yang mesti ditarbiyahkan (diajarkan) dalam madrasah ramadhan tersebut, yaitu:

1.Tarbiyah ruhiyah (pembinaan spritual)

Ramadhan merupakan media yang kondusif dalam meningkatan kualitas ruhiyah. Karena betapa banyak aktifitas ibadah yang memungkinkan menyertai pelaksanaan shiyam ramahan ini.

Disis lain, pada dasarnya setiap ibadah yang Allah swt perintahkan kepada hamba-hamba-Nya, mengandung ada dua dimensi. Yang pertama merupakan kewajiban diciptakannya manusia dan makhluk lainnya, juga merupakan sarana untuk membersihkan diri manusia itu sendiri dari kotoran dan dosa yang melumuri jiwanya. Sehingga tidak ada satu ibadah pun yang lepas dari arah tersebut. Dan inilah yang mendorong perbaikan ruhiyah.

Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, saat menafsirkan Surat an-Najm: 32 di dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, beliau menjelaskan tentang ( فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ) (maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci). Yakni janganlah kalian mengaku suci dari dosa-dosa, dan janganlah kalian memuji diri kalian bahwa kalian dapat berlepas diri dari dosa-dosa bahkan dari dosa-dosa kecil.

2. Tarbiyah jasadiyah (pembinaan jasmani)

Ibadah puasa tidak hanya membutuhkan pengendalian hawa nafsu. Juga membutuhkan kesehatan dan kekuatan fisik. Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah saw : “Shumu Tashihhu; Puasalah niscaya kamu akan sehat” (HR. al-Thabrani).

Dalam hadis yang lain, Nabi Saw bersabda :”Perut adalah rumah penyakit, dan pengaturan makanan adalah obat utamanya.” (Sahih-Muslim). Sehingga sebgaiman dalam QS al – Baqarah : 183, maka puasa tidak diwajibkan bagi mereka yang kesehatannya tidak prima. Seperti orang tua yang renta, orang sakit, wanita yang sedang hamil tua atau menyusui. Serta orang yang sedang musafir (orang dalam perjalanan). Kesemuanya itu, merupakan keringanan (rukhsah) bagi mereka.

3. Tarbiyah tsaqofiyah (pembinaan wawasan)

Sebagaimana diketahui bahwa islam itu bukan hanya untuk suku bangsa tertentu, akan tetapi untuk seluruh umat manusia dan seluruh alam (kafatan linnas wa rahmatan lil ’alamin). Sehingga Ramadhan merupakan sarana untuk itu, dengan menggali imu pengetahuan dari sumber utamanya, yaitu al-Qur’an.

Sebagaimana diperintahkan dalam surat pertama yang turun (dan ini di bulan ramadhan), QS al-Alaq ayat 1: iqra’ bismirabbik. Dimana kata Iqra’ dalam kamus memiliki beragam macam makna; menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, dan beberapa makna lainnya.

Dan, lebih ditekankan lagi bahwa proses ber-iqra’nya harus atas nama Tuhan yang menciptakan. Sehingga wawasan yang dilahirkan memiliki pijakan yang kokoh.

4. Tarbiyah ijtima’iyah (pembinaan sosial)

Yakni menumbuhkan kesadaran umat bahwa kita adalah makhluk sosial yang pasti membutuhkan bantuan orang lain. Sehingga terciptalah jaringan sosial berupa kepekaan dan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.

Memiliki jiwa kepedulian dan solidaritas yang kuat kepada sesama. Sebab bagi seorang muslim, hendaknya tidak saja cerdas dalam berfikir tetapi juga memiliki rasa kepedulian yang diantaranya ditunjukkan dengan kecakapan interaksi dalam bersosialisasi dan kemampuan memahami, berempati, dan peduli terhadap berbagai keadaan ditengah masyarakat .

Beberapa kegiatan yang dilakukan misalnya kegiatan bakti sosial, penggalangan dana untuk korban bencana, saling berbagi makanan, saling berkunjung, dlsb.

Dalam tafsir As Sa’di, saat menasfirkan QS al-Maidah ayat 2, berkenaan dengan wa ta’āwanụ ‘alal-birri wat-taqwā adalah sebagai berikut:

“Maksudnya, hendaknya sebagaian dari kamu membantu segaian yang lain dalam kebaikan. Kebajikan adalah nama yang mengumpulkan segalan perbuatan, baik lahir maupun batin, baik hak Allah maupun hak manusia yang di cintai dan diridhai oleh Allah.. Setiap perbuatan baik yang di perintahkan untuk dikerjakan atau setiap perbuatan buruk yang diperintahkan untuk dijauhi, maka seorang hamba diperintahkan untuk melaksanakannya sendiri dan dengan bantuan dari orang lain dari kalangan saudara-saudaranya yang beriman, baik dengan ucapan atau perbuatan yang mamacu dan mendorong kepadanya”.

5. Tarbiyah khuluqiyah (pembinaan akhlak)

Puasa juga mendidik manusia untuk memiliki akhlak yang mulia dan terpuji. Sabar dan jujur seta tegar terhadap segala ujian dan cobaan. Tentang hal tersebut, Rasulullah Muhammad SAW bersabda dalam hadistnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a:

“Apabila seorang dari kamu sekalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan berteriak. Bila dicela atau dimusuhi orang lain, katakanlah, aku ini sungguh sedang berpuasa,”.

Dalam tafsir al Wajiz, Prof. Dr. Wahbah Azzuhaili, saat menafsirkan Surat al-Qalam ayat 4, wa innaka la’ala khuluqin adhim adalah:

“Sesungguhnya kamu wahai Rasulallah benar-benar berakhlak mulia karena engkau dididik oleh Tuhanmu dalam Al-Quran. ‘Aisyah RA ditanya mengenai akhlak beliau (sebagaimana ditetapkan dalam hadits shahih), lalu dia menjawab: “Sesungguhnya Akhlak beliau adalah Al-Quran. Tidakkah kamu membaca Al-Quran ayat {Qad aflahal mu’minuun} [Al-Mu’minun 23/1] sampai sepuluh ayat?”

6. Tarbiyah iqtishodiyyah (pembinaan ekonomi)

Umat harus sadar bahwa ekonomi sangat berpengaruh pada dakwah Islam. Sehingga kurikulumnya diarahkan kepada kemandirian ekonomi dan pendidikan cerdas finansial yaitu dengan memberikan pendidikan kepada umat.

Pendidikan ini bertujuan untuk membina kemampuan umat dalam mengelola keuangan, memberi kesadaran akan peranan ekonomi di bidang pembangunan, produksi, dan ivestasi serta memberi pengetahuan problematika ekonomi umat. Dimulai dengan bermu’amalah sesama umat baik dalam bentuk musyarakah maupun mudharabah, sehingga terjadi pemerataan ekonomi.

Dalam hal ini As-Sa’di saat menafsirkan Surat al Hasyr ayat 7 tentang supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu, adalah:

“Sebab andai Allah tidak menetapkan ketentuan di atas tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbulkan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat”.

7. Tarbiyah jihadiyah (pembinaan jihad)

Puasa juga merupakan sarana dalam menumbuhkan semangat jihad dalam diri ummat. Terutama jihad dalam memerangi musuh yang ada dalam jiwa setiap muslim, mengikis hawa nafsu, dan berusaha menghilangkan dominasi jiwa yang selalu membawanya kepada perbuatan yang menyimpang.

Tentang hal tersebut, Allah SWT berfirman :” Barang siapa yang bersungguh sungguh di jalan Kami, maka Kami akan tunjukkan jalan – jalan Kami (jalan yang lurus”, (QS. 29 ayat 69).

Selain itu yang dimaksud dengan jihad juga memeiliki dua dimensi, yaitu jihad bil amwal (harta) dan jihad bil anfus (jiwa). Banyak ayat yang menerangkan tetang ini seperti: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar” (QS. Al-Hujurat [49]: 15).

8. Tarbiyah Qiyadiyah (pembinaan kepemimpinan)

Dengan puasa, umat disadarkan atas pentingnya kepemimpinan. Dalam kepemimpinan juga terkandung ketaatan. Sehingga, umat diajarkan untuk memiliki kecakapan leadership. Dengan demikian mereka akan mampu menjadi pribadi yang bijak dalam memimpin dan bisa menjadi uswah bagi para anggotanya. Demikian juga bisa menjadi rakyat (umat) yang bisa untuk dipimpin.

Sebab ada kaidah yang mendasar untuk memahami kepemimpinan ini sebagaimana sebagaimana sabda Rasulullah saw. “Sebaik-baiknya pemimpin adalah mereka yang kamu cintai dan mencintai kamu, kamu berdoa untuk mereka dan mereka berdoa untuk kamu. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu melaknati mereka dan mereka melaknati kamu.” (HR Muslim).

Maka sudah selayaknya kurikulum madrasah ramadhan ini bisa dielaborasi dan dikembangkan lagi lebih sempurna. Selanjutnya bisa diturunkan dalam tujuan intsruksi umum dan tujuan instruksi khusus yang memadai dan disesuaikan dengan realitas kehidupan yang ada.

Sementara itu, setiap kita adalah guru sekaligus muridnya. Metode bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.

Selanjutnya aktifitas madrasah ini dimulai dari setiap pribadi, di keluarga-keluarga, di surau-surau, di mushala-mushala, di masjid-masjid dan terus membesar menjadi madrasatul alam, maka in Syaa Allah akan mengahilkan lulusan madrasah ramadhan sebagai insan kamil. Dan pada gilirannya akan mengubah peradaban dunia yang rahmatan lil ‘alamin.

Wallahu a’lam.

Asih Subagyo Pendidik

Cerita Santri Kirim Surat kepada Pemimpin Umum Hidayatullah

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Jamaah masjid dibuat heboh bakda ashar itu. Pemicu kehebohan itu adalah seorang pria keturunan Tionghoa. Suasana sore selepas siang yang biasanya relatif tenang, kali ini sempat “bikin tegang”.

Di atas podium, seorang kiai berdiri, “mencari-cari” pria bermata sipit itu. Umat Islam setempat yang baru saja selesai shalat, dibuat terperanjat.

Kejadian bermula dari “tingkah” seorang remaja asal Mahakam Ulu (Mahulu), sebuah Kabupaten berpenduduk mayoritas non-Muslim di Kalimantan Timur.

Jumat sore, 6 Ramadhan 1443 H (08/04/2022) itu, terungkap, ada seseorang misterius yang mengirimkan surat kepada sang kiai.

“Beberapa hari lalu saya baca Al-Qur’an, pas saya buka (mushaf) eh ternyata ada (terselip) surat,” ungkap KH Abdurrahman Muhammad, Pemimpin Umum Hidayatullah, di Masjid Ar-Riyadh, Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim.

Jelas saja pengakuan itu membuat kaget jamaah shalat ashar. Bisa jadi ada yang tegang menerima info pengiriman surat misterius itu.

Ini “peristiwa” langka di lingkup Pesantren Hidayatullah. Berani-beraninya ada orang mengirimkan surat secara misterius kepada Pemimpin Umum, ada apa? kira-kira begitu mungkin kekhawatiran di benak jamaah.

Surat itu diketahui memang tanpa disertai identitas nama pengirim sama sekali. Di dalam kertas itu, sang pengirim surat menyampaikan satu permintaan kepada sang kiai. Begitu mendengar permintaan itu, jamaah di masjid malah tertawa.

“Terus dia ada bilang begini, ‘kalau sekiranya berkenan bolehkah ustadz memberikan saya syal’,” tutur Kiai Abdurrahman membuat jamaah tergelitik.

Ternyata isi suratnya “tidak jadi bikin tegang”. Tapi tetap saja mengundang kehebohan. Bagaimana tidak, sorban yang sudah menjadi ciri khas sang kiai itu ingin dimiliki oleh pengirim surat misterius itu.

Lalu bagaimana tanggapan Sang Kiai? Apakah ia berkenan langsung memberikan sorbannya?

Alih-alih begitu, Kiai Abdurrahman justru sempat merasa bingung, makhluk apa itu syal, hehehe…. Sesaat setelah membaca surat itu, tuturnya, ia menanyakannya kepada beberapa orang santri, ternyata juga tidak tahu.

“Saya tidak tahu syal itu apa, karena tulisannya juga agak susah dibaca, saya panggil santri suruh dibaca ulang, baru saya tanya syal itu apa?” ceritanya, menambah kehebohan jamaah.

Kemudian, lanjut ceritanya, salah seorang santri lain yang ditanya, berkata, “Sorban ini kayaknya (yang dimaksud syal), ustadz,” lanjut Kiai Abdurrahman sembari tertawa kecil.

Setelah paham maksud pengirim surat itu, sang kiai segera menuruti permintaannya. Sorban yang akan diberikan kepada pengirim surat itu pun segera disiapkan.

“Saya sudah taruh (sorbannya) di atas situ (tempat Al-Qur’an, red), sudah 2 hari, tapi ndak diambil-ambil, saya rasa dia malu,” ujar Kiai Abdurrahman menduga.

Lalu ia kepikiran membikin surat balasan ke pengirim surat itu. “Baru saya taruh juga di dekat situ (tempat Al-Qur’an). Tapi saya pikir dia pasti tambah malu lagi, jadi saya batalkan,” tambahnya lagi-lagi membuat jamaah tergelitik.

Setelah lama menceritakan kejadian unik itu di atas mambar, Kiai Abdurrahman pun bertanya kepada publik Masjid Ar-Riyadh. Siapa gerangan yang merasa menulis surat itu?

Pantauan hidayatullah.com, tidak seorang pun yang mengakuinya. “Silakan ambil (sorban itu),” ujar Kiai. Belum ada yang mengaku.

Jurusnya pun dikeluarkan. Kata Kiai Abdurrahman, kalau nanti tidak ada yang mengaku mengirim surat itu, siapa saja boleh mengambil sorban darinya itu.

Sontak saja, seorang santri tampak mengangkat tangan dengan malu-malu. Sikapnya pun disambut tawa kagum oleh jamaah atas keberaniannya.

Singkat cerita, bakda ceramah sekitar 1 jam, sang santri itu pun menemui Kiai Abdurrahman di dekat mimbar. Sang kiai lantas memberikan hadiahnya kepada pengirim surat misterius itu.

Siapa Santri itu?

Santri pemberani itu adalah Lucky Karl Farrel Salim (17 tahun). Kedua orang tuanya juga Muslim. Ayahnya keturunan China, ibunya bersuku Mandar. Saat ditemui hidayatullah.com, santri kelas 4 Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH/1 MA) Balikpapan ini tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.

Bagaimana ceritanya kok terpikir mengirim surat ke Pemimpin Umum Hidayatullah?

“Saya pengen pulang kampung, mau berdakwah, membantu Ustadz Taufik, cuman saya pengen dapat berkahnya dari yang paling tinggi (di kepemimpinan Hidayatullah). Makanya saya nekat tulis surat terus saya sempilkan di Al-Qur’annya Ustadz Abdurrahman Muhammad,” tutur Lucky.

Paginya, sehari setelah mengirim surat itu, kata Lucky, sang kiai membaca surat tersebut. Tak lama kemudian, Lucky menanti jawaban dari surat itu. Ia sempat bertanya-tanya, kenapa sorban yang dimintanya tak kunjung ditaruh di tempat sebagaimana isi surat tersebut. Apakah permintaannya tidak diterima.

“Sekalinya (sorban itu) ditaruhnya di dalam bungkusan, jadinya saya gak tahu,” tuturnya, menyebut alasannya telat mengambil hadiah tersebut.

Lucky menulis tangan surat kepada Pemimpin Umum Hidayatullah dalam secarik kertas putih bekas yang sudah tidak utuh. Surat itu masih tersimpan di dalam bungkusan hadiah yang diberikan sang kiai. Pengamatan hidayatullah.com, isi surat itu begini:

“Assalamualaikum Wrwb, Bapak Pimpinan Umum. Saya santri SMH ingin minta izin bolehkah minta syalnya. Saya gak berani ngomong langsung. Pengen banget syalnya Pimpinan (untuk) pergi berdakwah ke Mahakam Ulu bantu Ustadz Taufik.Jika Ustadz berkenan, tinggalkan syal itu di tempat namun jika tidak juga gak papa J. Assalamu’alaikum.”

Rupanya, masih pada kertas yang sama, Kiai Abdurrahman telah membalas permintaan itu dengan menulis sepenggal kalimat di bawahnya. Sang kiai menulis:

“Saya tidak mengerti apa yg dimaksud dan sudah tanya beberapa orang juga tidak mengerti,” jawaban sang kiai disertai parafnya.

Rupanya lagi, di halaman baliknya, Kiai Abdurrahman juga telah menuliskan pesan untuk Lucky. Begini pesannya:

“Tidak mengapa sampaikan langsung kepada saya”. Juga disertai paraf Kiai Abdurrahman. Ia berharap santri tak perlu segan menemuinya langsung jika ada hajat dengan dirinya.

Selain sorban merah, sang kiai menambahkan hadiah lain dalam bungkusan itu, yaitu selembar sarung.

“Alhamdulillah,” ungkap Lucky senang. Sehari sebelum meninggalkan Gunung Tembak untuk liburan sembari berdakwah, permintaannya dikabulkan Allah lewat hadiah pemberian Kiai itu.

Sebagai informasi, nama seseorang yang dimaksud di dalam surat itu adalah ustadz muda Muhammad Taufik. Dai Hidayatullah yang telah bertahun-tahun berdakwah di Mahulu. Lucky merupakan salah seorang santri binaan Taufik.*

Sumber: Media Center Ummulqura Hidayatullah Balikpapan