Beranda blog Halaman 379

Sedih Ust Abdul Qadir Jaelani Terhalang Nikmati Shalat Berjamaah

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — APA jadinya jika seorang Muslim terhalang dari nikmatnya shalat wajib berjamaah di masjid? Mungkin itulah yang dirasakan oleh Ustadz Abdul Qadir Jaelani, sosok dai senior asal Balikpapan, Kalimantan Timur.

Sosok tokoh perintis dan santri awal Pondok Pesantren Hidayatullah itu memang tak lagi sekuat dahulu di masa mudanya. Ia hanya mampu melangkah tertatih-tatih.

Kemana-mana, Ustadz Qadir, demikian sapaannya, harus ditemani sepotong tongkat kayunya. Syukur, jika ada yang membantu memapahnya berjalan.

Padahal dulu di masa mudanya, Ustadz Qadir adalah pemuda enerjik dan aktif sebagai pegiat dakwah. Itu terbukti dari jejak dakwahnya yang tertancap mulai dari Gunung Tembak Balikpapan hingga menjelajahi Toli-Toli, Sulawesi Tengah. Dari Tarakan (Kalimantan Utara) hingga merambah ke Dumai (Riau), serta sejumlah daerah tugas lainnya.

Takdir Allah, Ustadz Qadir sedang diuji sakit oleh Allah saat ini. Menurut pengakuannya, seringkali ia merasa sakit yang hebat di daerah punggung belakang tubuhnya. “Umumnya orang bilang itu penyakit syaraf kejepit,” terangnya satu saat, penghujung 2021 lalu.

Jadi bagaimana dengan kebiasaannya mendatangi masjid di awal waktu untuk shalat berjamaah? Itulah kesedihan paling mendalam yang dirasakan oleh Ustadz Abdul Qadir.

“Seperti ada yang hilang dalam diri saya. Sedih bahkan rasanya rugi sekali, jika seorang Muslim tidak shalat wajib berjamaah di masjid,” ucapnya dengan nada sedih.

Pengakuan tersebut dikisahkan Ustadz Qadir dalam kesempatan Taushiyah Shubuh, di Masjid Ar-Riyadh, Balikpapan, Sabtu (25/12/2021). Hari itu, Ustadz yang pernah diamanahi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Toli-Toli tersebut memaksakan diri datang ke masjid. Seperti kebiasaannya, jauh sebelum azan berkumandang, ia telah hadir di masjid sambil dipapah oleh Mahfudz, anaknya.

Semasa sehat, ia memang dikenal warga sekitar yang selalu datang lebih awal ke masjid. Memperbanyak zikir, baca Al-Qur’an, dan shalat sunnah rawatib adalah kegemarannya sejak dulu.

Berpuluh tahun kebiasaan itu dijaga olehnya. Hingga akhirnya Allah menguji dengan kondisi kesehatan yang kian menurun.

“Kalau sedang baring atau duduk, rasanya terpikir banyak rencana, tapi begitu bangkit atau berdiri, buyar itu semua, ternyata lagi sakit sekarang,” ucap Ustadz Qadir mengawali nasihatnya.

Saking lama dan rindunya dengan masjid, Ustadz yang berdarah suku Mandar itu sempat merasa ragu, apakah masih bisa ceramah atau tidak.

Padahal berpuluh tahun silam, berdakwah lewat ceramah adalah pekerjaan sehari-hari yang ditekuninya. “Dulu itu bisa sampai tiga atau empat kali ceramah dalam sehari,” lanjutnya.

Ustadz Qadir pun berpesan agar seluruh umat Islam memberi perhatian khusus kepada shalat yang menjadi rukun Islam kedua ini.

“Upayakan jangan ketinggalan shalatnya, hindari masbuk itu. Apalagi sampai tidak berjamaah di masjid. Rugi besar itu!” pungkasnya.* (Abu Jaulah/MCU)

Satu Masa Ragam Rasa

HIDUP di dunia ini memang berputar sebagaimana bumi berputar. Masing-masing manusia memiliki putaran taqdir yang berbeda satu dengan yang lain.

Di saat itulah, jika memiliki iman maka rasa syukur dan sabar menjadi sikap yang luar biasa untuk pengendali. Iman yang menjadikan perasaan tenang, bahagia dan tentram.

Jika tidak ada iman, maka keluh kesah dan putus asa menjadi nyanyian setiap hari. Ada yang parah dengan pelampiasan narkoba, kejahatan hingga bunuh diri.

Satu masa atau waktu seperti pada tahun baru masehi 2022, ada yang kehilangan istri karena wafat. Tentu mereka berselimut duka di tengah pesta mercon dan kembang api tahun baru.

Sebagaimana yang di tahun baru mendapatkan musibah sakit dirinya atau anggota keluarganya. Sehingga harus dirawat di rumah sakit. Rasa galau dan sedih mengiringi moment pergantian tahun.

Ada juga yang merasakan bahagia karena lamarannya diterima oleh keluarga pujaan hati. Ada yang akan melangsungkan akad nikah, atau mendapatkan anugerah anak yang baru lahir.

Satu situasi tapi masing-masing berbeda mendapatkan taqdir dari Allah. Ada yang sedih, ada juga yang bahagia. Ada yang kehilangan dan ada juga yang mendapatkan sesuatu.

Perputaran dan perbedaan situasi ini, mengantarkan pada sikap bijak. Tidak terlalu sedih juga tidak terlalu bahagia. Semua disikapi sebagai sebuah ujian dari Allah.

Sebab kita tidak tahu perputaran roda taqdir ini. Terkadang mengantar kita di roda bawah yang terinjak dan menderita dengan ujian hidup yang menyertainya. Dan itu tidak diprediksi, datang tiba-tiba dan terkadang lama.

Namun roda kehidupan ini juga mengantar kepada kejayaan. Ada prestasi, kesuksesan dan kemudahan yang didapatkan.

Bijak pada diri sendiri juga bijak dengan orang lain.
Sebab semua hanya putaran roda taqdir yang berbeda.

Beruntunglah bagi yang memiliki iman sebagai pondasi dan pengendalian roda kehidupan yang terus berputar. Imanlah yang harus senantiasa kita pupuk dan jaga. Apapun putaran taqdirnya, akan mengantar kepada sabar sabar dan syukur.

Ust Abdul Ghofar Hadi

Pesan dari Rakerwil Jateng: Berkhidmat di Jalan Allah

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Setiap program kerja berdimensi keumatan dan kebangsaan yang dijalankan hendaknya diniatkan dalam rangka berkhidmat di jalan Allah, sebagai ibadah yang semata mata hanya ingin meraih ridha dan kasih sayang-Nya. Oleh karena itu, selalu nomorsatukan Allah SWT dalam hidup.

Demikian ditekankan Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust Drs Nursyamsa Hadis, saat hadir menutup acara Rapat Kerja Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah di Kota Semarang, Rabu, 25 Jumadil Awal 1443 (29/12/2021).

“Jika ada kendala, orang mukmin itu sudah ada obat manjurnya, dibawa saja dalam shalat,” pesannya mengingatkan.

Dalam kesempatan tersebut, Nursyamsa berharap beragam program kerja Hidayatullah yang telah dicanangkan secara nasional dalam Rakernas dan selanjutnya diderivasikan ke tingkat wilayah dapat terlaksana dengan baik.

Menurutnya, hal yang amat penting diperhatikan dalam kerja kerja keumatan semacam ini adalah kebersamaan dan kekompakan. Dengan demikian, akan semakin merekatkan soliditas tim untuk tercapainya visi.

“Kuatkan tekad, kesepakatan-kesepakatan yang kita lahirkan dalam forum yang mulia dan penuh rasa kekompakan ini menjadi utang bersama. Mari kita azzamkan untuk kita lunasi,” ungkapnya.

Dia menegaskan, kalau hanya mengandalkan kemampuan manusiawi kita tanpa pertolongan Allah SWT dalam setiap pekerjaan dan program yang dijalankan maka mustahil keberhasilan, kesuksesan, dan kemenangan dapat diraih.

Oleh karenanya, setiap personil kader harus banyak banyak meminta pertolongan pada Allah SWT di setiap kesempatan dengan munajat yang sungguh sungguh.

“Mohonlah solusi atas gunda gulana kita pada Allah SWT dalam shalat sampai yakin sudah dapat jawaban barulah kita selesaikan shalat. Maka, setelah shalat kita punya semangat lagi untuk siap tandang ke gelanggang dakwah,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Nursyamsa menyitir pesan pendiri Hidayatullah termasuk yang acapkali dilontarkan Pemimpin Umum Hidayatullah Ust H Abdurrahman Muhammad bahwa ketika kelak ditakdirkan masanya nanti berakhir di dunia, mereka berdoa agar dimatikan saat menjalankan tugas dakwah.

“Semoga kita semua terus istiqomah di jalan dakwah,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Hidayatullah Jateng, Ahmad Ali Subur, yang belum lama menuntaskan mengikuti kegiatan Leadership Training dengan tema “Pemimpin Hebat, Pemimpin Bermanfaat” yang diselenggarakan Hidayatullah Institute selama 10 hari di Jakarta, benar-benar terasa ghirahnya.

Menurut Subur, program-program kerja kita harus menjawab minimal dua aspek, pertama, adalah aspek kebutuhan organisasi, dan kedua, yakni aspek tuntutan. Kolaborasi dan keterpaduan dalam bingkai Imamah jamaah harus menjawab tuntas dua hal tersebut.

“Tidak perlu muluk-muluk menjalankan semua program yang kita sepakati di Rakerwil ini. Masing-masing departemen, minimal satu program yang urgen difokuskan dan disukseskan, (itu) sudah bisa merubah wajah dan memberi warna gerakan Hidayatullah di Jateng ini,” kata Subur.

Hal senada juga dikuatkan oleh Ust H Sunoto Ahmad selaku Ketua DMW Hidayatullah Jateng dalam pesannya yang lugas. Sunoto menekankan untuk fokus dan menghindarkan diri dari merasa paling benar karena fanatisme.

“Kerjakan apa yang bisa dilakukan. Jangan berharap melakukan hal yang belum bisa dilakukan. Sederhana saja, lakukan apa yang bisa, hingga akhirnya berbuah kemenangan. Tetapi jika sudah menang, jangan sombong apalagi sampai melahirkan fanatisme jahiliyah. Teruslah pertajam iqra,” ungkapnya.

Di sesi paling akhir sebelum penutupan, panitia Rakerwil menghadirkan Drs H Achmad Mirza selaku coach dan mentor pengusaha anti riba, yang dalam paparannya banyak mengingatkan bahaya dosa riba.

“Saya ini, berdakwah dengan pendekatan berbeda, sehingga tidak akan rebutan lahan dengan para ustadz. Saya mengambil garapan kepada kalangan menengah ke atas yang kadang bingung mau diapakan uangnya,” kata Achmad.

“Itulah sasaran dakwah saya, tentu dengan pendekatan yang berbeda. Karena, boleh jadi, mereka memang kaya, tapi belum bisa lepas dari transaksi ribawi. Padahal praktek riba ini ditentang oleh Allah dan rasul-Nya bahkan pelakunya ditantang perang,” lanjut Achmad memungkasi.

Selain memberikan materi dalam bentuk ilmu, Achmad juga berbagi buku yang ditulis olehnya dengan judul Semua Bisa Bebas Utang dan support untuk para pejuang dakwah di daerah dalam bentuk cash.*/Yusran Yauma

Rakerwil Sulsel UNH Tekankn Jatidiri Hidayatullah

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust Dr Nashirul Haq hadir menyampaikan tausiah dalam acara pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Sulawesi Selatan di kampus utama Hidayatullah Makassar, Jl Poros BTP, Rabu, 25 Jumadil Awal 1443 (29/12/2021).

Dalam kesempatan tersebut, beliau yang karib disapa UNH menekankan jatidiri Hidayatullah, selain penjelasan arah kebijakan maupun program Hidayatullah pada Rakerwil Hidayatullah Sulsel.

“Jika jatidiri menjadi karakter dan cara pandang semua kader maka akan sangat mudah upaya sentralisasi dengan pemahaman imamah jamaah dalam bentuk peraturan organisasi,” katanya.

Ulama muda asal Wajo Sulsel itu merinci tiga konsolidasi utama Hidayatullah, konsolidasi jati diri, konsolidasi organisasi dan konsolidasi wawasan.

Tiga konsolidasi itu untuk menyukseskan program standarisasi, sentralisasi dan integrasi sistemik Hidayatullah secara nasional. Standarisasi yang ditetapkan, menurutnya, juga untuk menjaga dan upgrade kualitas pribadi kader dan lembaga.

Sedangkan standarisasi ruhuyiah melalui Gerakan Nawafil Hidayatullah dan halaqah. “Standarisasi pula untuk memastikan lembaga pendidikan yang dikelola Hidayatullah memiliki kualitas output alumninya seragam,” tandasnya.*/Firman/ Hidayatullahsulsel.com

Majelis Ormas Islam Gelar Muhasabah Akhir Tahun 2021

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Majelis Ormas Islam (MOI) menggelar acara kajian refleksi akhir tahun yang digelar secara virtual yang diikuti oleh organisasi Islam nasional, Kamis, 26 Jumadil Awal 1443 (30/12/2021).

Acara ini dihadiri oleh Wakil Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Didin Hafidhuddin yang sekaligus menjadi pembicara kunci dan dibuka oleh Ketua Presidium MOI KH Nazar Haris.

Hadir pula tokoh dan pimpinan ormas Islam tingkat pusat sebagai pengisi taushiah refleksi akhir tahun seperti Ketua Pembina PP Perti KH Dr Anwar Sanusi, Sekjen DPP Al Ittihadiyah KH Ir Nuruzzaman, Sekjen DPP Ikadi Dr Khairan Arif, Ketum DPP Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq Marling.

Lalu ada Ketua Umum PB Al Washliyah KH Dr Masyhuril Khamis, Ketua Umum DDII KH Dr Adian Husaini, Ketua Majelis Amanah PB Mathlaul Anwar KH Ahmad Sadeli Karim, Ketua Umum DPP Persatuan Umat Islam (PUI) KH Nurhasan Zaidi, Ketua Umum PP Wahdah Islamiyah KH. M. Zaitun Rasmin, Ketua Al Irsyad Islamiyah KH Dr Faisol Nasar, dan Ketua Umum DPP Persis KH Aceh Zakaria.

Saksikan acara ini di saluran YouTube Majelis Ormas Islam, klik di sini.

Mengenang 17 Tahun Gempa dan Tsunami Dahsyat Aceh

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Telah 17 tahun peristiwa gempa dan tsunami Aceh yang terjadi pada hari Ahad, 26 Desember 2004. Hari ini kita kembali mengenang musibah dahsyat tersebut.

Gempa yang disusul tsunami megathrustt yang terjadi di pagi hari itu berkekuatan 9,3 skala richter yang menelan korban hampir 300 ribu jiwa yang meninggal dunia.

Pesantren Hidayatullah Kampung Nusa, Lhoknga, Aceh Besar, menjadi saksi bisu dari peristiwa gempa bumi terbesar ketiga yang pernah tercatat di sesmograf dan merupakan gempa dengan durasi patahan terpanjang sepanjang sejarah.

Tonton selengkapnya, klik di sini.

Visi Tanpa Aksi itu Khayalan, Aksi Tanpa Visi itu Sensasi

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Semangat dalam berdakwah adalah satu keniscayaan hidup orang beriman. Itu sebabnya Muslim, lebih khusus para aktifis dakwah, harus mengenali sumber-sumber (mashadir) kekuatan untuk menjaga spirit dan keyakinan yang dimilikinya.

Demikian ditegaskan Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust. H. Abdurrahman Muhammad, dalam kesempatan taushiyah di hadapan jamaah Masjid ar-Riyadh, Balikpapan Kalimantan Timur, beberapa waktu lalu.

Menurutn Ust Abdurrahman, sapaan akrab jamaah padanya, asas keyakinan tersebut bisa kuat jika ditopang oleh kekuatan ruh yang bersumber dari wahyu al-Qur’an.

“Wahyu ialah ruh. Sehingga hanya wahyu yang bisa memberi semangat dan kekuatan tanpa batas kepada manusia,” ucap ustadz kelahiran Pare-Pare, Sulawesi Selatan tersebut.

Sumber kekuatan yang lain, lanjut Ust Abdurrahman, terletak pada kekuatan literasi, akhlaq, keterampilan fisik (skill), serta kemampuan leadership dan manajerial seseorang.

“Orang yang bisa menggabungkan ini berarti mengumpulkan sumber-sumber kekuatan yang tak terkalahkan. Apalagi jika ia suka berinfak, ganjarannya tanpa batas,” terangnya.

Masih menurutnya, pendiri Hidayatullah KH Abdullah Said Rahimahullah biasa memotivasi para kadernya dahulu bahwa kita semua ini “karyawan Allah” yang gajinya tidak terbatas (ajrun ghairu mamnun).

“Jadi biasa itu (saat) almarhum mengirim petugas dakwah ke daerah, ‘hei karyawan Allah, berangkatlah! Bekerjalah dan pergilah menolong agama Allah! Tolonglah agama Allah ini (pasti) gajimu tidak terbatas!’” seru Ust Abdurrahman sambil menirukan suara sahabat karibnya itu.

Lebih jauh, Pemimpin Umum Hidayatullah mengingatkan bahwa kehadiran kampus-kampus Hidayatullah yang tersebar merupakan wujud nyata iman yang diperagakan.

“Ini aksi namanya, yaitu proses yang dilakukan untuk mencapai visi. Visi tanpa aksi ialah khayalan, visi tanpa implementasi (ialah) khayalan. Aksi tanpa visi (ialah) sensasi,” sambungnya.

Menurut Ust Abdurrahman sensasi adalah pekerjaan sepintas dan parsial saja, biasa dilakukan karena ada interest di sana.

“Maka berbahagialah jika terlibat di jalan dakwah ini. Siapkan diri selalu, jangan pernah mundur! Tapi kuatkan ruhnya, kuatkan akhlaq dan kepemimpinannya,” tutup ustadz penuh semangat (22/12/2021).*/Masykur Suyuthi/MCU

Orang Paling Lemah Sedunia

0

KITA telah banyak menyaksikan orang-orang yang lemah di sekitar kita, atau bahkan mungkin kita sendiri adalah bagian dari mereka. Di sisi lain, masing-masing dari kita juga mempunyai kriteria sendiri-sendiri tentang apa yang kita maksud dengan kelemahan itu.

Ada yang beranggapan bahwa orang lemah itu adalah mereka yang kalah secara sosial-ekonomi, sehingga tersingkir di tepi arus zaman dan tidak mendapatkan kehidupan yang layak.

Sebagian yang lain menilai bahwa orang lemah adalah mereka yang cacat fisik, sehingga harus tergantung kepada orang lain untuk melangsungkan kehidupannya.

Tak jarang pula kriteria kelemahan itu dikaitkan dengan ketertinggalan serta kedangkalan intelejensi, akses sumberdaya, tingkat pendidikan, jenis kelamin, profesi, dan lain sebagainya.

Dengan demikian, jika ditanyakan kepada masing-masing kita, “Siapakah orang paling lemah sedunia?” Jelas, masing-masing akan menjawab sesuai dengan kriterianya.

Akan tetapi, jika pertanyaan yang sama diajukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah jawaban beliau?

Inilah salah satu jawabannya, “Sesungguhnya orang yang paling lemah adalah mereka yang lemah dalam berdoa, dan orang yang paling pelit adalah mereka yang pelit dalam mengucapkan salam.” (Hadits hasan, riwayat al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, bersumber dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Menurut beliau, kelemahan dalam doa menandakan kelemahan paling mendasar dalam diri seseorang. Mengapa? Sebab, doa adalah refleksi impian, harapan dan keyakinan setiap jiwa.

Maka, manusia yang lemah dalam doa berarti lemah cita-cita dan pandangan hidupnya. Apa lagi yang bisa diharapkan dari orang seperti ini?

Sehingga, sederhana saja cara mengevaluasi apa sebenarnya yang paling dominan menguasai jiwa seseorang, tak terkecuali diri kita sendiri. Cara itu adalah: memperhatikan apa saja doa dan pengharapan terbanyak yang kita panjatkan setiap harinya.

Jika doa dan permohonan kita hanya hal remeh-temeh dan pragmatis, maka itulah nilai dan hakikat diri kita yang sebenarnya. Hati kita pasti telah terpatri kepada semua itu, yang darinya akan menggerakkan seluruh instrumen fisik dan mental kita untuk berfokus kesana, dan hanya kesana.

Jika doa dan permohonan kita adalah hal-hal besar dan agung, maka ia akan melahirkan energi untuk menggiring semua potensi yang kita miliki agar berkonsentrasi meraihnya.

Oleh karenanya, dalam salah satu munajat-nya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyitir ucapan ini, “…janganlah Engkau (ya, Allah!) menjadikan musibah kami dalam agama kami, jangan pula menjadikan dunia ini sebagai hasrat dan kegelisahan terbesar kami, bukan pula sebagai sejauh-jauh batas pengetahuan kami…”

Dengan kata lain, sebenarnya ada sangat banyak orang yang batas terjauh pengertiannya tidak melebihi apa yang mampu dilihat matanya, diraba kulitnya, didengar telinganya, dikecap lidahnya, dicium hidungnya.

Bukankah Rasulullah sendiri sampai memasukkan hal ini dalam salah satu permohonannya? Di satu sisi, ini mengindikasikan betapa berbahayanya hal itu, dan di sisi lain memang banyak orang yang tergelincir dalam lobang perangkapnya: materialisme!

Kelemahan dalam doa adalah penyakit, yang diawali dari lemahnya ilmu, keyakinan, dan orientasi hidup. Tentu saja kita tidak dilarang untuk memohon kebaikan-kebaikan di dunia ini, sebab Al-Qur’an pun mengajarkan kepada kita untuk memintanya.

Namun, kita tetap diperingatkan agar tidak mengabaikan kehidupan akhirat yang kekal dan abadi. Itu berarti, doa memiliki dampak yang sangat kuat dalam membangun visi dan orientasi hidup manusia, dengan kata lain: “membangun iman”.

Sedemikian pentingnya doa dalam membangun iman, sehingga Rasulullah sangat banyak mengajarkan doa kepada umatnya, untuk beragam kesempatan, keperluan, dan peristiwa. Itu dapat berarti pula, bahwa jika Anda ingin mengubah orientasi hidup Anda sendiri atau orang lain, mulailah dari mengubah doa dan pengharapan Anda.

Ajarilah anak-anak dan murid Anda berdoa, sebab dengan itu Anda telah membentuk keyakinan dan jalan menuju masa depannya! Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Semarak Beragam Turnamen Rakyat Genjot Ekonomi di Pesisir Kepulauan Riau

BATAM (Hidayatullah.or.id) – Kegairahan milad ke 20 Baitul Maal Hidayatullah (BMH) tidak hanya dirasakan keluarga besar BMH termasuk di Kepulauan Riau. Resonansi rasa syukur atas kiprah BMH selama ini juga dirasakan warga pulau-pulau di sekitar Batam.

BMH perwakilan kepuluan Riau menggelar milad dengan cara yang berbeda, yaitu dengan menggelar beragam lomba atau turnamen bertajuk BMH Cup di pulau Panjang Barat yang diikuti 128 kontingen dari 64 pulau di hinterland (penyangga kota Batam).

Kemeriahan dan kegembiraan melakoni turnamen berlangsung selama sebulan, pada hari Ahad, 15 Jumadil Awal 1443 (19//12/2021), dilangsungkan agenda penutupan lomba dalam rangka Milad ke 20 BMH yang dirangkaikan pembagian hadiah bagi pemenang masing-masing kategori.

“Kami dari tim manajemen BMH mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada tuan rumah, yakni masyarakat pulau Panjang Barat, BMH ingin ajang ini menjadi jembatan silaturrahmi bagi ummat Islam di pulau-pulau sehingga terjalin ukhwah islamiyah dan ukhuwah sebagai sesama bangsa Indonesia,” tutur kepala perwakilan BMH Kepri, Abdul Aziz.

Menurut ketua panitia dan tokoh masyarakat pulau Panjang, Rahman, untuk pertama kalinya ada lembaga yang menggelar lomba di pulau Panjang dan mengundang warga pulau sekitar untuk ikut berpartisipasi.

Dia mengatakan, event ini tidak hanya membangkitkan semangat berkompetisi secara sehat tetapi juga membangkitkan ekonomi masyarakat, tercatat sekira 125 KK terlibat sebagai panitia dan 30 stand UMKM berdiri dengan aneka produk dan kebutuhan untuk warga dan peserta.

“Sehingga event ini tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat pulau tetapi juga menambah penghasilan secara ekonomi di tengah kondisi pandemi yang belum reda,” kata Rahman.

Dari catatan panitia, diperkirakan sekira 15 ribu wisatawan hadir menyaksikan event olahraga dan seni yang digelar sejak 12 November-19 Desember 2021.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada BMH perwakilan Kepri dan khususnya kepada bapak Abdul Aziz, sebagai kepala perwakilan BMH Kepri yang berkenan menghadirkan kegembiraan untuk warga pulau dengan kegiatan olahraga yang berdampak pada juga pada kegiatan ekonomi warga,” terang Rahman, penuh haru.

Salah satu anggota kontingen dari pulau Awing mengungkapkan kebahagiaannya dengan digelarnya event ini.

“Alhamdulillah pada sore ini kami memenangkan final dan mendapatkan juara satu, terima kasih kami ucapkan kepada BMH dan panitia pulau Panjang yang telah mensupport turnamen ini,” ungkap Nila Sari peserta perwakilan Pulau Awing.

Kebahagiaan yang terpancar dari wajah warga dan peserta event terlihat hingga hari terakhir saat penutupan, antusiasme yang didorong rasa syukur atas kepedulian BMH Kepri dengan menggelar event milad untuk warga pulau.

Sebagai pamungkas acara, dilakukan pembacaan doa untuk memohon keberkahan atas kegiatan ini yang disampaikan oleh tokoh masyarakat sekaligus tokoh agama, Ustadz Pustaf Manaf, dilanjutkan foto bersama manajemen BMH Kepri, panitia, tokoh masyarakat dan peserta lomba yang meraih juara di setiap cabang atau kategori lomba.*/Mujahid M. Salbu

Mohon Doa Kesembuhan untuk Pendiri Hidayatullah Ustadz Hasan Ibrahim

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Salah seorang Pendiri Hidayatullah, Ust H.A. Hasan Ibrahim, saat ini sedang diuji kesehatannya. Sudah sekitar dua bulan ini, kondisi fisik Ketua Majelis Penasihat Hidayatullah itu semakin menurun. Sudah beberapa tahun ini, kondisinya memang tidak seprima dulu.

Baru-baru ini, Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad bersama Ketua Umum DPP Hidayatullah Ustadz Nashirul Haq dan Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ustadz Hamim Thohari menjenguk Ustadz Hasan.

Dalam kesempatan tersebut, ketiga tokoh Hidayatullah itu mendoakan Ustadz Hasan. Dalam foto yang dikirimkan salah seorang putra Ustadz Hasan, Bang Saifullah, tampak Ustadz Hasan juga turut mengangkat kedua tangannya saat berdoa sembari tetap berbaring.

Saat dikunjungi itu, raut wajah Ustadz Hasan memperlihatkan kegembiraannya.

“Belum ada perkembangan (kesehatan beliau), tetapi begitu dijenguk (ketiga ustadz Hidayatullah tadi) beliau wajahnya senang banget,” ujar Saiful yang berdomisili di Depok, Jawa Barat, kepada Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah, Kamis (23/12/2021) melalui pesan WA.

“Mungkin rindu yang sudah lama ingin berjumpa tapi ketika bertemu beliau sudah sama-sama tidak bugar lagi,” tambahnya.

Jamaah Hidayatullah di seluruh dunia diminta untuk mendoakan Ustadz Hasan agar lekas diberi kesembuhan dan kesehatannya pulih sediakala.

Sebelumnya, DPP Hidayatullah melalui Wakil Sekretaris Jenderal I, Ustadz Abdul Ghaffar Hadi, juga menyampaikan kondisi kesehatan Ustadz Hasan.

“Bismillahirrahmanirrahim. Mohon doa terbaik dari kita semua, salah satu pendiri Hidayatullah, Ustadz Hasan Ibrahim diuji dengan sakit.

Informasi dari istrinya bahwa beberapa hari terakhir ini, beliau sudah tidak mau makan dan sulit komunikasi.

“Semoga Allah memberikan kesehatan dan kesembuhan kepada Ustadz Hasan Ibrahim. Aamin ya Rabbal Alamin,” ujar Ustadz Ghofar kepada MCU lewat pesan WA-nya, Rabu (22/12/2021).

Ustadz Hasan Ibrahim lahir di Pekalongan, 20 Januari 1950. Di usianya yang telah mencapai 71 tahun, ia tak lagi sekuat dahulu. Tongkat menemani langkahnya semenjak sakit yang mendera tubuhnya.

Tak hanya berjalan, ayah delapan anak ini pun agak kesulitan untuk merangkai kata dan perlu waktu untuk menata ingatan akan masa lalu.

Meski demikian, Ustadz Hasan tak pernah kendor semangat dalam membersamai perjalanan dakwah Hidayatullah.

Ia ikut bersama Ustadz Abdullah Said berjuang mengembangkan dakwah di Balikpapan, Kalimantan Timur. Ustadz Hasan tak sendiri kala itu 50-an tahun lalu, ia berangkat bersama 4 pemuda lainnya yang mempunyai semangat yang sama. Yaitu Ustadz Usman Palese, Ustadz Muhammad Hasyim, Ustadz Nazir Hasan, dan Ustadz Kisman Amin.

Kini tak terasa sudah setengah abad, Ustadz Hasan berada dalam wadah perjuangan Islam yang dirintis oleh Allahuyarham Ustadz Abdullah Said.

“Yang paling berkesan dalam hidup saya ketika ia (Allahuyarham) memotivasi saat pertama kali menginjakkan kaki di Gunung Tembak bersama kawan-kawan. Ketika itu daerah tersebut masih berupa hutan belukar,” tuturnya dikutip Majalah Suara Hidayatullah edisi September 2021.

Kala itu, Ustadz Abdullah Said, tutur Ustadz Hasan, seringkali mengatakan, “Tempat ini jangan dilihat sekarang yang masih hutan belukar dan penuh tunggul kayu ulin yang sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tapi yakinlah beberapa tahun yang akan datang tempat ini akan berubah menjadi tempat yang menarik dan ramai dikunjungi orang. Dari sinilah kita akan bertolak untuk merambah ke seluruh Kaltim. Dan, Anda-Andalah yang akan menggurat sejarah yang patut dicatat dengan tinta emas.”

Alhamdulillah, kata Ustadz Hasan, kini satu demi satu apa yang pernah dibahasakan Allahuyarham itu terwujud.*/(Muh. Abdus Syakur/MCU)