DENPASAR (Hidayatullah.or.id) — Disela kepadatan agendanya, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq menghadiri rangkaian acara Rapat Koordinasi (Rakor) Dakwah 5 Wilayah (Bali, NTB, NTT, Maluku & Maluku Utara) dan Daurah Marhalah Wustha se-Bali, 11-14 November di Kota Denpasar, Bali.
Dalam pembukaan acara tersebut, Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI Pusat yang karib disapa UNH ini mendorong para dai khususnya kader Hidayatullah agar senantiasa membangun kualitas dir dalam berbagai aspeknya.
Dia mengatakan, setiap gelaran kegiatan daurah maupun upgrading yang diselenggarakan adalah diarahkan dalam rangka tersebut, yakni berupaya membangun kualitas dan kapabilitas kader untuk menunjang kiprah pengabdiannya di tengah umat.
“Kader itu harus berkualitas dari ilmunya, ibadahnya, dan skil manajerialnya yang terus dilatih melalui pembinaan-pembinaan rutin atau daurah yang kita lakukan,” katanya.
UNH dalam kesempatan tersebut juga mengajak peserta menyerap esensi daripada Al Qur’an dalam melakukan kerja kerja dakwah yang membumi sehingga objek dakwahnya mendapatkan pencerahan dan petunjuk.
Ia menyebutkan, sebagaimana Al Qur’an surah Yusuf ayat 108 yang mewajibkan setiap dai harus mempunyai ilmu dan menginternalisasi betul apa yang ia dakwahkan, karena itulah bashirah yang dimaksud dalam ayat tersebut.
Ayat tersebut juga, lanjutnya, memuat pola gerakan dakwah sistematis sebagaimana telah diterapkan oleh Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat.
“Kandungan surat Yusuf ayat 108 ini bahwa kunci keberhasilan gerakan oleh dua hal, yang pertama, pola gerakan yang terstruktur, dinamis, dan sistematis. Dan, yang kedua, adalah adanya kepemimpinan,” imbuhnya.
Dalam acara pembukaan juga turut hadir dan memberikan sambutan Anggota DPD MPR RI Provinsi Bali H. Bambang Santoso. Pada kesempatan tersebut Bambang sempat menyampaikan materi kajian hati.
Ia menekankan keutamaan kebeningan hati dalam mengarungi kehidupan ini sehingga segala aktifitas semaa diniatkan untuk pengabdian hanya karena Allah. Ia mengandaikan itu antara bejana dengan hati.
“Perbedaan antara bejana dan hati adalah ketika bejana diisi, maka akan penuh dan tidak bisa menampung lagi. Tapi ketika hati atau rohani diisi dengan tazkiyatunnafs, zikir, dan mengingat Allah, maka tidak ada batasan mendapatkan kebaikan-kebaikan dan kemuliaan dari Allah SWT,” imbuhnya Bambang,
Rakor Dakwah 5 Wilayah yang berlangsung di Bali ini digelar pada hari Jum’at-Ahad, 12-13 November 2021 (7-9 Rabiul Akhir 1443 H) bertempat di Kampus Induk Hidayatullah Bali yang menghadiran narasumber Ust Nursyamsa Hadits, Ust Shohibul Anwar, dan Ust Iwan Abdullah.
Lalu kegiatan Daurah Marhalah Wustha untuk ikhwan digelar pada Kamis-Ahad, 11-14 Nov 2021 (6-9 Rabiul Akhir 1443 H) bertempat di Kampus Induk Hidayatullah Bali yang menghadirkan pemateri Ust Nashirul Haq, Ust Saleh Usman, Ust Hanifullah, dan Ust Hamim Thohari. Lalu ada juga Daurah Marhalah Wustha Muslimat Hidayatullah.*/Pungki Hurmadani
SIAPA yang tidak senang didoakan dalam kebaikan? Setiap orang pasti senang didoakan dalam kebaikan. Apalagi jika yang mendoakan adalah para malaikat. Siapakah orang yang mendapat doa dari para malaikat?
Orang yang senantiasa dalam keadaan suci dengan menjaga wudhu akan didoakan oleh para malaikat. Para malaikat yang langsung akan memonohonkan ampunan kepada Allah bagi orang-orang yang senantiasa menjaga wudhu.
Simaklah Hadis Rasulullah ﷺ berikut ini.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Buraidah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
دخلت الجنة فرأيت بلالاً فيها فقلت لبلال بم سبقتني إلى الجنة فقال لا أعرف شيئاً إلاّ أني لا أحدث وضوأً إلاّ أصلي عقيبه ركعتين
“Aku memasuki surga, tiba-tiba aku melihat Bilal sudah berada di sana. Akupun bertanya kepada Bilal : Amalan apa yang menjadikanmu mendahuluiku masuk surga?” Dia menjawab : “Aku tidak tahu apapun, hanya saja aku tidak pernah berhadats kecuali aku langsung berwudlu dan shalat dua rakaat setelahnya.” (HR: Ahmad no 22487)
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :
“Tidaklah seorang muslim berwudhū’ lalu dia membaguskan wudhū’ nya dan shalat 2 raka’at dalam keadaan hati dan wajahnya khusyū’ pada 2 raka’at (shalat) tersebut kecuali wajib baginya untuk mendapatkan surga.” (HR Muslim)
Kita mengetahui bahwa jumlah malaikat itu sangat banyak. Lebih banyak dari jumlah manusia di bumi ini. Bisa dibayangkan jika seluruh malaikat memohonkan ampunan kepada Allah untuk kita, betapa beruntungnya kita. Mudah-mudahan dosa-dosa kita diampuni oleh Allah Swt. Karena itu, berusahalah menjadi orang yang senantiasa menjaga wudhu.
Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.’” (HR. Ibn Hibban 3/329. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Perawi hadis ini termasuk perawi kitab shahih).
Menjaga wudhu adalah bagian dari karakter seorang mukmin sejati. Karena dengan menjaga wudhu, kita akan lebih mampu menjaga perilaku kita. Mulut kita akan terkontrol untuk tidak membicarakan hal-hal yang buruk.
Mata kita juga akan terjaga untuk tidak melihat hal-hal yang diharamkan Kita akan lebih mampu menjaga telinga kita dari mendengarkan pembicaraan yang negatif. Tangan kita juga lebih teraga untuk tidak melakukan perbuatan tercela.
Demikian juga kita akan jaga kaki kita untuk tidak melangkah ke tempat tempat maksiat itu semua kita lakukan karena kita merasa dalam keadaan suci berwudhu. Kita merasa tidak nyaman untuk mengotori kesucian diri dan jiwa kita dengan perkataan dan perbuatan tercela.
Dengan demikian, pantaslah para malaikat memohonkan ampunan bagi orang orang mukmin yang menjaga wudhu. Inilah doa para malaikat bagi orang-orang mukmin sejati.
“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.”
“Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”
“dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS: Al Mukmin: 7-9)
Setiap perbuatan yang kita lakukan mesti mengandung konsekuensi. Perbuatan baik menimbulkan kebaikan dan maslahat, sedangkan perbuatan buruk menimbulkan keburukan dan mudharat.
Sebagai orang yang berakal dan beriman, semestinya kita selalu berusaha melakukan perbuatan baik, sehingga menimbulkan konsekuensi kebaikan pula.
Salah satu perbuatan baik dan perlu untuk diamalkan adalah menjaga wudhu. Wudhu akan menimbulkan kebaikan yang banyak.
Setiap tetes air yang kita gunakan untuk berwudhu, insya Allah akan dicatat sebagai kebaikan bagi diri kita. Bahkan, jika setelah berwudhu kita pergi ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, maka setiap langkah kita juga dicatat sebagai kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda;
عن أبي هريرة -رضي الله عنه- مرفوعاً: «إذا توضَّأ العبدُ المسلم، أو المؤمن فغسل وَجهَهُ خرج مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نظر إليها بِعَينَيهِ مع الماء، أو مع آخر قَطْرِ الماء، فإذا غسل يديه خرج من يديه كل خطيئة كان بَطَشَتْهَا يداه مع الماء، أو مع آخِرِ قطر الماء، فإذا غسل رجليه خرجت كل خطيئة مَشَتْهَا رِجْلَاه مع الماء أو مع آخر قطر الماء حتى يخرج نَقِيًا من الذنوب».
[صحيح.] – [رواه مسلم.]
“Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- secara marfū’, “Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu, lalu ia membasuh wajahnya, akan keluarlah dari wajahnya setiap dosa akibat pandangan kedua matanya bersamaan dengan air, atau bersama dengan tetesan air terakhir. Lalu jika ia membasuh kedua tangannya, akan keluarlah setiap dosa akibat kekerasan yang dilakukan kedua tangannya bersamaan dengan air, atau bersama dengan tetesan air yang terakhir. Lalu jika ia membasuh kedua kaki, akan keluarlah setiap dosa akibat langkah kedua kakinya bersamaan dengan air, atau bersama tetesan air terakhir, hingga ia keluar (dari wudu) bersih dari dosa.” (HR: Muslim]
“Barangsiapa yang berwudhu dalam keadaan masih suci Allah akan menulis sepuluh kali pahala kebaikan baginya dengan wudhu itu.” (HR Abu Daud ).
Ulama menjaga wudhu
Apabila kita baca dan cermati biografi para ulama, maka kita dapati mereka amat bersung-sungguh menjaga wudhunya dalam setiap keadaan.
Sebagai contoh, Al-Imam asy-Syathibi, Beliau adalah seorang yang buta, akan tetapi tidaklah beliau duduk di suatu majelis ilmu, kecuali beliau selalu dalam keadaan suci.
Bahkan di antara ulama ada yang tidak mau membaca hadis-hadis Rasulullah ﷺ kecuali mereka berwudhu terlebih dahulu. Bukan karena mereka berpendapat wajibnya berwudhu ketika hendak membaca hadis, akan tetapi yang mendasari hal itu adalah kesungguhan mereka untuk memuliakan ilmu dan untuk mendapatkan keutamaan yang besar dalam wudhu.
Wudhu bukanlah amalan yang remeh dan sepele, melainkan merupakan amalan yang besar di sisi Allah Swt. Sehingga mendorong kita untuk selalu dalam kondisi suci dan berupaya bagaimana berwudhu dengan sempuna, yang sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ.
Kapan orang harus berwudhu?
Sangat dianjurkan bagi seseorang untuk selalu berada dalam keadaan bersih dan suci lahir batin. Karena hal ini akan berdampak kepada perilaku dan perbuatan orang tersebut.
Orang yang selalu punya wudhu, akan berusaha untuk menjaga perilaku maupun perbuatannva tetap bersih dan sangat berhati-hati. La akan selalu mengikat dan menjaga setiap kegiatannya, ucapan, kata-kata, maupun perilaku dan perbuatan-nya agar selalu di dalam koridor kesucian jiwa dan kebersihan hati.
Berikut beberapa waktu yang disunnahkan (dianjurkan) untuk berwudhu, kecuali bagi orang-orang yang selalu menjaga dirinya dalam keadaan wudhu.
Pertama, hendak ke Masjid
Langkah menuju masjid adalah langkah menuju kebaikan, maka sudah tentu langkah itu mempunyai nilai ibadah. Setiap perbuatan akan mempunyai nilai ibadah kalau diniatkan dengan benar dan dibarengi dengan kebersihan kesucian hati serta semata-mata dikeakan nanya untuk mengharap ridha Allah Swt
Berwudhu sebelum berangkat shalat berjamaah ke masjid merupakan salah satu sunnah Nabi Muhammad Saw. Allah Swt. Menjanjikan berkah pada setiap langkah kaki kanan maupun berkah pada setiap langkah kaki kanan maupun kiri berupa penghapusan dosa dan penambahan pahala.
Langkah kita bernilai ibadah. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ. Dari bnu Umar Rasululiah ﷺ bersabda
Hadis dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من توضأ للصلاة فأسبغ الوضوء ثم مشى إلى الصلاة المكتوبة فصلاها مع الناس، أو مع الجماعة، أو في المسجد غفر الله له ذنوبه
“Siapa yang berwudhu untuk shalat dan dia sempurnakan wudhunya, kemudian dia menuju masjid untuk shalat fardhu. Lalu dia ikut shalat berjamaah atau shalat di masjid maka Allah mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Muslim).
Kedua, Menyentuh Mushaf AI-Qur an
Al-Qur’an adalah kalanullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai kitab suci umat Islam. Dalam rangka memuliakan Al-Qur’an sebagai firman Allah, maka disunnahkan untuk berwudhu sebelum memegang kitab Suci ini.
Al Imam Ath Thabrani dan Al Imam Ad Daraquthni meriwayatkan hadis Rasulullah ﷺ
أن لا يمس القرآن إلا طاهر
“Tidak boleh menyentuh Al-Quran kecuali orang yang sudah bersuci.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’ no. 419 dan Ad-Darimi no. 1266).
Berwudhu sebelum membaca Al-Qur’an adalah wujud kita memuliakan Allah Swt, sebab membaca Al-Qur’an adalah semulia-mulia zikir kepada Allah Swt
Ketiga, hendak Tidur
Termasuk sunnah Rasulullah adalah berwudhu sebelum tidur. Hal ini bertujuan agar setiap muslim dalam kondisi suci pada setiap keadaannya, walaupun ia dalam keadaan tidur.
Hingga bila memang ajalnya datang menjemput, maka dia pun kembali ke hadapan Rabbnya dalam keadaan suci. Sunnah ini juga akan mengarahkan umat Muslim pada mimpi yang baik dan terjauhkan diri dari permainan setan yang selalu mengincarnya (lihat Fathul Bari 11/125 dan Syarah Shahih Muslim 17/27).
Tentang sunnah ini, Rasulullah telah menjelaskan dalam sabda beliau
Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.’” (HR: Ibn Hibban 3/329. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Perawi hadis ini termasuk perawi kitab shahih).
Lebih jelas lagi, dari riwayat sahabat Mu’adz bin Jabal, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang muslim tidur di malam hari dalam keadaan dengan berzikir dan bersuci, ke mudian ketika telah terbangun dari tidurnya lalu meminta kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat, melainkan pasti Allah akan mengabulkannya.” (dalam Fathul Bari juz 11/124)
Demikianlah sunnah yang selalu dijaga oleh Rasulullah ﷺ ketika hendak tidur, yang semestinya kita sebagai muslim meneladaninya. Bahkan ketika beliau terbangun dari tidurnya untuk buang hajat, maka setelah itu beliau berwudhu lagi sebelum kembali ke tempat tidurnya.
Sebagaimana yang diceritakan Abdullah bin Abbas ra: “Bahwasanya pada suatu malam Rasulullah pernah terbangun dari tidurnya untuk menunaikan hajat. Kemudian beliau membasul wajalı dan tangannya (berwudhu) lalu kembali tidur.” (HR Bukhari dan Abu Dawud).
Keempat, hendak berhubungan intim
Rasulullah ﷺ juga memberikan bimbingan bagi para pasutri (pasangan suami istri ketika hendak berhubungan badan. Hendaknya bagi pasutri berwudhu dahulu kemudian berdoa sebelum melakukannya, dengan doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
“Jika seseorang diantara kalian menggauli isterinya kemudian ingin mengulanginya lagi, maka hendaklah ia berwudhu’ terlebih dahulu.” (HR. Muslim)
Wudhu yang dilakukan sebelum berhubungan antara suami dengan istrinya bertujuan agar setan tidak ikut campur dalam acara yang sakral ini. Kelak ketika mereka kemudian dikaruniai anak, maka setan tidak mampu memudharatkannya.
Hal ini sesungguhnya merupakan ‘pembelajaran awal terhadap sang calon anak yang insya Allah akan dikaruniakan kepada pasangan suami-istri tersebut, apabila Allah Swt mengizinkan.*
TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Memperingati Hari Pahlawan Nasional yang jatuh pada 10 November, SD Integral Al Amiin Kampus Pesantren Hidayatullah Timika, Provinsi Papua, mengadakan lomba parade busana pahlawan yang diperuntukkan kepada siswa-siswi dan guru-guru.
Kegiatan tersebut bermaksud untuk mengenang jasa-jasa perjuangan pahlawan. Kegiatan ini berlangsung secara meriah dilapangan pondok pesantren Hidayatullah timika, Papua, 5 Rabiul Akhir 1443 (10/112021).
Antusiasme dan semangat anak-anak terlihat dalam peragaan kostum yang menyerupai tokoh-tokoh pahlawan serta yel-yel yang dinyanyikan dengan penuh kekompakan.
Setiap anak diharuskan menuliskan biografi singkat para pahlawan sebagai bentuk menambah pengetahuan dan sejarah singkat perjuangan agar termotivasi dalam menghargai jasa-jasa perjuangannya.
Dalam sambutannya, ketua Komite SD Integral Al Amiin Hidayatullah Timika, Dian Ardiana, menyampaikan rasa bangga sekaligus haru atas kerjasama yang solid dari guru-guru beserta wali murid untuk menyukseskan kegiatan tersebut.
“Bagi saya, pahlawan itu bukan hanya yang berperang pada masa penjajahan saja melainkan kita semua adalah pahlawan. Pahlawanku adalah guru-guruku, anak-anak dan kita para orangtua,” ungkap Dian Ardiana.
Ia juga berpesan semoga semangat yang berkobar tumbuh pada jiwa anak-anak kita menjadi jalan untuk tetap istiqamah di jalan Allah.
Sementara kepala sekolah SD integral Hidayatullah Timika, Abdul Sakir. S.Pd.I, menambahkan bahwa, kita harus memaknai perjuangan dan meneruskan hasil jerih payah para pahlawan yang telah diwariskan kepada pemuda-pemudi bangsa salah satunya dengan belajar yang giat.
“Kita adalah penerus masa depan. Kita adalah generasi emas Indonesia, maka, sudah menjadi tugas untuk mempertahankan negeri ini,” jelas Syakir saat memotivasi murid muridnya.
Di akhir penyampaiannya, Ust Syakir yang juga Sekretaris MUI Kabupaten Mimika, ini mengungkapkan rasa terima kasih kepada ketua dan pengurus komite serta seluruh wali murid yang telah ikut mensukseskan dan mensupport kegiatan ini.*/Ochen
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat (Yanmat) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah bersama Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) menggelar kegiatan daurah atau pelatihan muallim Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA) yang digelar selama 3 hari di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta,
Acara yang dibuka pada Rabu, 5 Rabiul Akhir 1443 (10/112021) oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Dr Nashirul Haq, ini dipesertai oleh perwakilan muallim al Qur’an dari berbagai daerah di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Provinsi Banten.
MENGAPA orang bijak sering digambarkan sebagai seorang yang lebih sedikit bicara dan kalaupun berbicara, dia tidak nampak terlalu mengumbar kata sehingga terkesan bertele-tele dan berputar-putar disitu. Ya mungkin karena sejak kecil kita sudah terbiasa dikesankan bahwa pembual atau pembohong itu identik dengan yang banyak omong, atau malah disamakan dengan penjual obat.
Memang demikianlah nyatanya, orang bijak atau yang terasah kecerdasan serta emosinya, lebih memilih untuk banyak mendengar daripada bicara. Bukan tidak suka atau tidak mau bicara, tetapi bicara jika memang harus dan perlu dan tidak bicara jika tidak benar-benar memahami masalahnya.
Seakan memang begitulah alasan mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan dua telinga dan satu mulut, agar lebih banyak kata yang kita serap daripada yang disuarakan.
Keselamatan seseorang terletak pada kemampuannya dalam menjaga lidahnya, akalnya diletakkan di depan lidahnya, bukan di belakang, maknanya dia selalu berpikir sebelum menyatakan sesuatu. Apalagi dijaman teknologi digital sekarang ini, semua semakin tidak berjarak lagi.
Apa yang kita sampaikan saat ini dalam hitungan menit sudah merebak dimana-mana. Fatalnya karena merasa ingin menjadi yang pertama, orang sering tak merasa harus mendengar tuntas dan memahami sepenuhnya isi lalu membagikan kesahalan pada khalayak luas.
Dahulu, kita sering terperangah ketika mendengar seseorang bicara. Dia yang selama ini banyak diam dan kita anggap biasa-biasa saja, tetiba kita baru menyadari ternyata dia seorang yang bijak dan dalam ilmunya.
Mengapa sekarang yang terjadi malah sebaliknya, seseorang justru karena ingin dianggap ada atau diakui sebagai berilmu atau faham tentang sesuatu, maka dia berani bicara di depan forum tentang sesuatu yang bukan saja diluar kompetensinya? Bahkan dia tidak faham sama sekali apa yang disampaikannya.
Ya.. Orang jadi gandrung ingin dianggap tahu dengan bicara, bukan bicara karena tahu. Ini tingkat kebodohan yang paling tinggi, karena justru dengan banyak bicara, orang justru makin tau kadar keilmuannya, atau dengan kata lain, dia tengah membuka auratnya sendiri.
Bahkan yang paling menjijikkan seorang ‘akademisi’ yang notabene terbiasa berpikir berdasar ilmu, berani menyatakan atau menafsirkan sesuatu tanpa dasar pengetahuan, bahkan menyangkut agama yang diyakininya.
Lebih baik dia membaca dan menelaah hadits Rasulullah ﷺ di bawah ini:
Diriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dalam sebuah hadits yang panjang, di akhir hadits disebutkan, beliau ﷺ bersabda, “Maukah Engkau aku kabarkan dengan sesuatu yang menjadi kunci itu semua?” Aku menjawab, “Ya, wahai Nabi Allah.” Lalu beliau memegang lisannya, dan bersabda, “Tahanlah (lidah)-mu ini.” Aku bertanya, “Wahai Nabi Allah, (apakah) sungguh kita akan diadzab disebabkan oleh perkataan yang kita ucapkan?” Beliau menjawab, “(Celakalah kamu), ibumu kehilanganmu wahai Mu’adz! [1] Tidaklah manusia itu disungkurkan ke dalam neraka di atas muka atau hidung mereka, melainkan karena hasil ucapan lisan mereka.” (HR: Tirmidzi no. 2616)
“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah.” (HR: Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).
Ulama pewaris Nabi?
Ulama adalah pewaris Nabi tidak semata karena ilmunya, yang terpenting adalah kehati-hatiannya, justru inilah yang membedakannya dengan orang jahil atau bodoh.
Dien adalah wilayah Allah dan Rasul-Nya, seseorang tidak bebas membuat tafsiran yang disandarkan pada akalnya, sedalam apapun ilmunya.
Bagaimana mungkin seseorang bisa mengatakan bahwa Dien ini belum sempurna? Lalu apakah ‘kesempurnaan’ itu menjadi kewenangan tiap orang?
Kesesatan di atas kesesatan!
Banyak bicara adalah satu di antara tiga sifat yang dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala, selain dari menyia-nyiakan harta dan banyak bertanya, demikian hadits Rasulullah ﷺ dari Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Malik.
Rasulullah bersabda diriwayatkan dari Abdullah bin Umar;
من كثر كلامه كثر سقطه ومن كثر سقطه كثرت ذنوبه ومن كثرت ذنوبه كانت النار أولى به
“Barangsiapa yang banyak bicaranya niscaya akan banyak salahnya, dan barangsiapa yang banyak salahnya maka akan banyak dosanya, dan barangsiapa yang banyak dosanya maka lebih pantas masuk Neraka.” (Diriwayatkan Al-Uqaili dalam Adh Dhu’afa (336), Ath Thabrani dalam Al Ausath (502))
Jika yang ingin dicapai adalah penguatan akidah umat, maka ada banyak hal yang bisa diungkapkan. Akidah ini yang lebih akan menyelamatkan umat, yaitu menjauhkan umat dari menyekutukan Allah dengan apapun, juga membentengi umat dari serbuan pemurtadan yang makin masif dilakukan non-muslim.
Tetapi memang ada orang-orang dari internal Muslimin sendiri yang ada penyakit di hatinya, mereka lebih suka membuat kebingungan, kebimbangan dikalangan umat Islam sendiri. Mereka tak berani tegas menyatakan membenci Islam, tetapi mengarahkan umat untuk membenci Arab.
Mereka menolak apapun yang berbau Arab dengan alasan itu budaya asing, tetapi keseharian mereka bergelut dengan budaya Barat. Setiap hari mereka terus bicara dan menulis, dan semakin jelas buat kita, betapa mereka penuh dengan kebencian dan tipu muslihat.
Mereka tidak mengutip ayat Al-Quran, kecuali untuk lalu diputarbalikkan arti dan tafsirnya. Mereka lebih suka pada ayat-ayat yang tersamar, bukan ayat yang jelas dan tegas.
“Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.” (QS: Ali Imran, ayat 7).
Kita semua berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas Negeri ini dari rencana jahat para pembuat kerusakan, yaitu merusak akhlak dan akidah umat. Jika mereka tidak segera sadar dan bertobat, semoga Allah mengadzab mereka di dunia dan akherat.. aamiin.*/
(Oleh Hamid Abud Attamimi, artikel ini disadur dari laman berita www.hidayatullah.com)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (Mushida) menyesalkan keluarnya Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Permendikbud Ristek RI) Nomor 30 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.
Mushida meminta, Permendikbud tersebut agar titinjau ulang bahkan dicabut, karena dinilai sama sekali tidak memasukkan landasan norma agama di dalam prinsip pencegahan kekerasan seksual di pasal 3.
“Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa adalah dasar negara yang setiap silanya dijabarkan oleh Badan Pembinaan Ideologi (BPIP) merupakan cara manusia Indonesia bersikap dan mengambil keputusan,” ungkap Ketua Umum Muslimat Hidayatullah, Hani Akbar, dalam keterangan persnya belum lama ini dikutip media ini dari laman Mushida, Rabu, 5 Rabiul Akhir 1443 (10/11/2021).
Muslimat Hidayatullah berpandangan Permendikbud Nomor 30 tahun 2021ini menafikan UUD 1945 pasal 31 (3) tentang tujuan Pendidikan Nasional.
Hani menjelaskan, tujuan pendidikan yang diatur dalam UU No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi untuk mengembangkan potensi mahasiswa yang beriman, dan bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa.
“Muslimat Hidayatullah menilai, Permendikbud ini merupakan duplikasi dari RUU PKS yang lama. Sedangkan, pasal dalam RUU PKS tersebut, bertentangan dengan ajaran agama Islam yang banyak dianut oleh masyarakat Indonesia,” kata Hani.
Lebih jauh Hani menerangkan, Permendikbud Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi sangat menekankan masalah “tanpa persetujuan korban” sebagai salah satu indikator kejahatan seksual, seperti beberapa contoh pada pasal 5.
Hal itu dinilai Hani menunjukkan bahwa semua bentuk kejahatan seksual, baik perzinahan atau yang menjurus pada perzinahan, jika dilakukan dengan persetujuan atau suka sama suka, tidak dimasukkan dalam kategori “kekerasan seksual”.
Karenanya, Muslimat Hidayatullah mengimbau Mendikbud dalam melaksanakan tugas agar berpegang teguh pada UUD NRI 1945 dan UU turunannya yang terkait dengan Pendidikan, sebagai panduan dalam melaksanakan tugas sebagai Menteri.
“Muslimat Hidayullah juga mengajak organisasi massa dan semua elemen masyarakat untuk bersama-sama menolak Permen 30/2021 ini, karena berpotensi pada legalisasi aktivitas perzinahan di lingkungan Perguruan Tinggi,” tandasnya.
BONE (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Ke 76 Korps Brimob Polri, Batalyon C Pelopor menggelar anjangsana ke Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bone, Senin, 3 Rabiul Akhir 1443 (08/11/2021).
Selain beranjangsana ke Pondok Pesantren Hidayatullah Bone yang beralamat Jalan Poros Pallatte, Kelurahan Waetuo, Kacamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan itu, rombongan Korps Brimob Polri, Batalyon C Pelopor juga mengunjungi purnawirawan dan warakawuri Brimob.
Komandan Batalyon (Danyon) C Pelopor Sat Brimob Polda Sulsel Kompol Nur Ichsan, menuturkan bahwa tujuan kegiatan anjangsana ini adalah untuk menunjukkan penghormatan sekaligus menjalin silaturahmi dengan keluarga besar Brimob serta berbagi kasih dengan anak yatim di moment ulang tahun Korps Brimob ini.
“Para Purnawirawan dan Warakawuri ini adalah bagian dari keluarga besar Brimob, olehnya itu silaturahmi dan ikatan batin dengan personel yang masih aktif harus tetap terpelihara dengan baik,” lanjutnya.
Kompol Nur Ichsan pun menambahkan bahwa hal yang tidak kalah pentingnya, kita tidak boleh melupakan dedikasi dan pengabdian para Purnawirawan Brimob selama berdinas sehingga Brimob dapat bertumbuh kembang seperti saat sekarang ini.
Pada kesempatan ini sebanyak 3 Purnawirawan dan 1 Warakawuri yang dikunjungi oleh personel Batalyon C Pelopor yakni Kompol (Purn) Muh. Yunus Umar, Kompol (Purn) Ramli Tahir, Ipda (Purn) Abd. Azis Nasir dan Ny. Manti Beddu Warakawuri AKP Beddu.
Ungkapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi tingginya di lontarkan oleh Kompol (Purn) Muh. Yunus Umar disaat menerima kunjungan dari personel Brimob ini.
“Saya sangat berterima kasih kepada Brimob khususnya Batalyon C Pelopor yang tidak melupakan kami yang sudah Purna Bhakti ini. Sudah 8 (delapan) tahun kami pensiun namun setiap ada kegiatan hari besar Brimob, kami pasti diundang termasuk kegiatan Anjangsana yang rutin dilaksanakan setiap tahun seperti pada saat ini,” kata Yunus Umar.
Dalam kegiatan anjangsana yang dipimpin Danki 3 Iptu Mustari, Batalyon C Pelopor juga menyerahkan tali asih sebagai wujud penghargaan dan berbagi kebahagiaan dengan Purnawirawan dan Warakawuri serta anak yatim di Pesantren Hidayatullah.
Turut hadir dalam kegiatan anjangsana ini Ketua Bhayangkari Ranting Batalyon C Pelopor Ny. St. Sufriyati Ichsan, Pasi Min Iptu Saharuddin serta perwakilan anggota dan Bhayangkari Ranting Batalyon C Pelopor. (Source: Chibernews)
KITA semua tahu bahwa kitab suci Al-Quran membagi watak dan karakteristik setan dalam kategori jin dan manusia. Jadi, ada setan jin dan setan manusia. Kalau setan jin tentu tak bisa disentuh dan diraba secara kasatmata.
Tapi kalau setan manusia, ya memang berwujud manusia, memiliki segala panca indera dan organ-organ tubuh layaknya manusia. Bisa disentuh dan diraba secara kasatmata, namun karakteristiknya tak beda jauh dengan setan dalam bentuk jin.
Karakteristik yang paling menonjol adalah sifat dusta pada dirinya. Bukan sekadar berbohong karena suatu keterpaksaan, tetapi kebohongan itu telah menjadi bagian dari kebutuhan hidupnya.
Orang yang sesekali berbohong tak bisa dikatakan pendusta, apalagi bohongnya itu adalah bohong putih demi kemaslahatan. Misalnya, mengatakan bahwa hasil masakan sang istri cukup nikmat dan lezat, padahal kurang manis atau terlalu asin dan seterusnya.
Tetapi, bohong yang sudah menjadi kebutuhan adalah pekerjaan orang lihai dan cerdik. Di mana-mana ia berdusta untuk memenuhi hasrat amarah maupun hawa nafsunya. Bohong ini bersifat politis untuk memenuhi nafsu-nafsu keduniaan yang dikejarnya, bisa dalam bentuk keserakahan pada harta, wanita, maupun pada kedudukan dan popularitas semata.
Tersebutlah dalam kitab Tanbihul Ghafilin, Abu Laits As-Samarkandi menceritakan kembali pengalaman Abu Hurairah, pernah mendapatkan seorang pencuri yang mengambil simpanan di Baitul Maal yang dikumpulkan dari zakat orang-orang mampu di bulan Ramadlan. Si pencuri terpergok oleh Abu Hurairah, lalu dinyatakan bahwa orang itu mau dilaporkan ke Rasulullahﷺ, tapi kemudian ia berkata:
“Abu Hurairah, maafkan saya, baru kali ini saya mencuri karena saya sangat membutuhkan bahan pangan untuk kebutuhan anak-anak saya. Maafkan saya, dan jangan hadapkan saya ke Rasulullah.”
Abu Hurairah memaafkan lelaki itu. Namun, keesokan harinya ia ditanya oleh Rasul mengenai adanya lelaki yang masuk ke gudang Baitul Mal, “Siapakah orang itu, wahai Abu Hurairah?”
Karena Rasul sudah tahu perihal lelaki itu, maka Abu Hurairah pun akhirnya menjelaskan, “Saya kasihan melihat dia, ya Rasul. Katanya, dia mengambil gandum itu untuk kebutuhan anak-anaknya, karena itu saya biarkan saja dia.”
“Kemungkinan orang itu akan datang lagi nanti,” kata Rasulullah ﷺ.
Benar saja, lelaki itu datang lagi dan mengambil sekarung gandum lagi di gudang Baitul Maal. “Anak-anak saya banyak, Hurairah. Jadi saya mengambil ini untuk kebutuhan mereka. Tolonglah, jangan laporkan saya ke Rasulullah…”
Beberapa hari kemudian, Rasulullah bertanya pada Abu Hurairah, “Bagaimana? Apakah lelaki yang pernah mencuri itu datang lagi?”
Tak mungkin bagi Abu Hurairah untuk membohongi Rasul. Maka, ia pun mengatakan sejujurnya bahwa orang itu telah datang dan mengambil sekarung gandum lagi. Kemudian, Rasul pun menyatakan bahwa orang itu, boleh jadi akan datang dan mengambil lagi.
Tak berapa lama, Abu Hurairah pun mendapatkan lelaki itu masuk ke gudang Baitul Maal, dan mengambil sekarung lagi. Lalu, dengan tegas Abu Hurairah memegang tangannya, “Kali ini sudah tiga kali saya memergokimu mengambil barang milik para fakir miskin. Saya sudah tak mungkin memaafkan lagi, dan Anda harus dibawa menghadap Rasulullah.”
“Hurairah, ini yang terakhir kalinya, sumpah saya tak akan mengambil lagi karena kebutuhan anak-anak kami sudah cukup. Tapi tolonglah jangan hadapkan saya ke hadapan Rasulullah… tolonglah, Abu Hurairah….”
Lelaki itu menjelaskan mengenai keahlian dirinya, bahwa ia punya kemampuan untuk menyembuhkan orang dari gangguan jin, dan ia punya rahasia agar membuat orang bisa tidur dengan nyaman dan tenteram.
“Rahasia apa itu?” tanya Abu Hurairah.
“Bacalah ini sebelum Anda tidur, maka Anda akan dapat tidur dengan tenang dan damai. Percayalah pada saya, wahai Abu Hurairah….”
Lelaki itu menyodorkan suatu tulisan yang berisi ayat Kursi secara lengkap, dan bunyinya sebagai berikut: “Allahu la ilaha illa hual hayyul qayyum, la ta’khudzuhu sinnatun wala naum, dan seterusnya….
Keesokan harinya ia pun berkata pada Rasulullah perihal amalan yang diberikan lelaki pencuri itu untuk ketenteraman dan kedamaian hidupnya.
“Lalu, dengan memberi amalan itu, lantas kamu bebaskan dia?”
“Benar ya Rasulullah,” jawab Abu Hurairah, “bukankah amalan itu sesuatu yang baik?”
“Iya benar, amalan itu baik adanya, dan kali ini apa yang dia nyatakan ada kebenarannya, tapi selama ini tak ada lain yang dia katakan hanyalah bohong dan dusta belaka.”
“Kok bisa begitu, ya Rasulullah?”
“Perlu saya beritahu kepadamu, Wahai Abu Hurairah, bahwa lelaki yang selama ini berjumpa denganmu itu adalah Syetan.”
Jadi, dusta dan tipudaya setan itu tidak bersifat hitam-putih. Ada abu-abunya juga rupanya. Sesekali dia bicara benar, walaupun dusta dan kebohongan adalah sifat aslinya.
Sedangkan, orang-orang baik dan jujur, kalaupun ia terpaksa berbohong, namun kebohongan itu demi kemaslahatan, bukan untuk kepentingan diri dan anak-istrinya semata. Di sini ada karakteristik seetan yang memang lihai beradaptasi dengan manusia yang ditipu dan diperdaya olehnya.
Ketika dia menggoda orang sekelas Abu Hurairah, tentu ia berpenampilan cerdas, menarik dan meyakinkan, bukan setan sekelas ecek-ecek yang dungu dan bodoh belaka.
Kenapa orang itu tak mau dihadapkan kepada Rasulullah? Ia takut karakteristiknya terbuka dan terbongkar habis di hadapan Rasul. Ia paham Rasulullah itu seorang ahli jiwa yang pandai membaca watak dan karakteristik, bahkan melampaui kemampuan para psikolog manapun.
Padahal, kalau ia manusia normal, mestinya ia senang dihadapkan kepada Rasulullah yang merupakan sumber ilmu dan hikmah. Orang yang berbuat salah tetapi menyadari kesalahannya, dan ingin membenahi sifat buruknya, tentu dia akan senang hati dihadapkan kepada Rasulullah.
Adapun orang yang tak punya hati, dan tak punya itikad baik sama sekali, ia enggan untuk menyadari kekhilafannya. Dengan demikian, ia enggan pula untuk bertobat atas segala dosa dan kesalahan yang dilakukannya. Karena itu, para koruptor yang terbiasa mencuri dan merampok uang rakyat, tentu akan konek dengan orang pintar sekelas dukun atau kiai yang minim ilmu dan hikmahnya.
Tetapi, kiai yang berilmu, zuhud dan wara’, tentu figur-figur yang mendatangi dirinya adalah orang-orang yang butuh ilmu dan hikmah bagi perbaikan moral dan kemaslahatan dirinya dan orang banyak. Wassalam.
BATAM (Hidayatullah.or.id) — Pendidikan Tinggi Hidayatullah Batam terus berupaya agar civitas akademika (masyarakat akademik) di Pendidikan Tinggi Hidayatullah (PTH) mendapat wawasan keagamaan Islam dan kebangsaan Indonesia. Demikian dilakukan STIT Hidayatullah Batam, Salah satu PTH, mengundang Rektor UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru, Riau, Pror. Dr. Khairunnas Rajab, M.Ag, Sabtu, 1 Rabiul Akhir 1442 H (6/11/2021).
Koordinator Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (Kopertais) XII Wilayah Riau-Kepri tersebut menjadi pemateri tunggal dalam acara yang mengambil tema: “Peran Generasi Millenial dalam Membangun Peradaban Bangsa”.
Hadir dalam acara tersebut, Ketua Badan Pembina Yayasan, Ust Jamal Nur, Ketua Badan Pengurus Yayasan, Ust Khoirul Amri, Rektor IAI, Ust M. Sidik, Ketua STIT HiBa dan STIT Mumtaz Karimun, Ust Ramli, Ust Sumarno, dewan asatidzah, dan 250 mahasiswa yang hadir.
Pak Prof Nas, demikian beliau disapa, mengawali dengan fenomena budaya bangsa yang luhur, tentang perkawinan, khususnya Melayu. Ia menyebut hal itu saat melakukan riset di sebuah wilayah.
Tapi kemudian berubah dengan tingginya nikah terpaksa (married by accident) disebabkan aturan uang jujuran/duit pengantar yang memberatkan. Akhirnya budaya bangsa yang luhur tersebut tergerus dan tidak sakral lagi.
Selanjutnya, Guru Besar Ilmu Psikologi ini juga mengulas tentang pentingnya legalitas keilmuan atau keterampilan seseorang agar terakui dengan baik.
“Karena hari ini, kualitas SDM itu mesti ada pengakuan legalitasnya. Bisa berupa sertifikat, ijazah, dan bukti otentik lainnya,” sebut Prof Khairunnas Rajab.
Tapi perlu ditegaskan, lanjut Prof Khairunnas, legalitas ijazah atau sertifikat itu tidak cukup. Ijazah pun harus sesuai dan seimbang. Jangan hanya butuh sertifikat.
“Sehingga SDM bangsa dan negara ini tidak menentu. Hendaknya kalian mengisi gelar sarjana dengan ilmu daripada hanya fokus dapat sertifikat ijazah itu,” tegasnya.
Selanjutnya Prof Khairunnas memberi gambaran dan kiat bagaimana meningkatkan kualitas SDM khususnya generasi milenial hari ini.
Yaitu, selain ada faktor kecerdasan intelektual (Intelegens Quotiens) yang beragam, juga mesti mengasah dan meningkatkan yang namanya Emotional Quotiens (kecerdasan emosional).
“EQ itu, apa yang disebut dengan kemampuan seseorang untuk mengenali, mengendalikan, dan menata emosi dan perasaan, baik diri sendiri maupun orang lain,” imbuhnya memberi penjelasan
“Banyak orang sukses yang dulunya bukan karena orang yang pintar,” lanjutnya lagi.
Selanjutnya meningkatkan kualitas spiritual quotiens (kecerdasan spiritual). Banyak ibadah, dzikir, puasa Senin-Kamis, puasa daud, berdoa.
“Ketika mampu mengelola emosional kita, tidak angkuh sombong dan menjaga spiritual kita, yaitu ibadah kepada Allah. Kita ibadah, doa, dll, maka dengan sendirinya anda akan semakin cerdas dan menjadi generasi milenial yang unggul,” imbuhnya.
“Paradigma ini yang harus dimiliki setiap mahasiswa, sebagai agen perubahan. Inilah generasi milenial, yaitu mampu berimprovisasi dan menjadi bagian masyarakat yang berperadaban,” pungkas Prof Khairunnas.
Kuliah umum dilaksanakan di Hallroom Aula Serbaguna Gedung Hidayatullah Asia Raya, Kampus 2 Putri Tanjung Uncang, Hidayatullah Batam. */Azhari
BATU AJI (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, Ust. Dr. Tasyrif Amin, M.Pd.I, mengatakan bahwa acara Dauroh Murabbi Wustha adalah mujahadah untuk mencetak kader-kader yang berkualitas.
Hal tersebut disampaikan oleh beliau saat menutup acara Dauroh Murabbi Wustha yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kepulauan Riau, Sabtu malam, 1 Rabiul Akhir 1442 H (6/11/2021).
“Acara ini adalah mujahadah untuk mencetak kader-kader berkualitas. Bahwa halaqah wustha adalah wadah pembinaan kader yang dinyatakan lulus daurah marhalah wustha,” Kata Ust Tasyrif pada acara yang diadakan di Hallroom, Kampus 1 Batu Aji, Hidayatullah Batam itu.
Oleh karena itu, lanjutnya, maka mesti ada murabbi di halaqah tingkatan ini yang bertujuan mengayomi, membimbing dan mengarahkan kader wustha pada peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan Jatidiri Hidayatullah.
“Juga untuk menguatkan spiritual kader dengan disiplin Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH), mendorong Gerakan Dakwah Hidayatullah melalui dakwah halaqah, menghidupkan kultur kelembagaan warisan para pendiri – perintis Hidayatullah,” imbuhnya.
Kegiatan yang digelar berjasama degan pogram Dai Tangguh BMH Kepri ini mengangkat tema, “Menjadi Murabbi yang Berkompeten dan Berintegritas dalam Membangun Peradaban Islam”.
Adapun murabbi ini, lanjut Tasyrif, kelak memimpin satu halaqah yang berfungsi sebagai sarana tarbiyah dan taklim. Melalui halaqah ini
diharapkan terjadi proses transformasi jatidiri dan kultur keislaman bagi segenap mutarabbi halaqah wustha.
“Dengan proses ini para kader dai secara bertahap terhantar memiliki sikap loyal pengabdian pada Islam. Juga ada ta’akhu (persaudaraan), serta sebagai gerakan dakwah dan tarbiyah,” imbuhnya lagi.
Ustadz Tasyrif menekankan bahwa murabbi di semua tingkatan halaqah berperan mengemban amanah ideologisasi, penguatan spirit dan kultur keislaman.
Ketika semua murabbi mengemban amanah dengan sungguh-sungguh, tegas Ustadz Tasyrif, mengayomi dan membimbing mutarabbi, berarti proses ideologisasi, spiritualisasi dan pewarisan kultur berjalan dengan baik.
“Dengan proses ini, kita optimis akan lahir kader dai yang berintegritas, kompeten dan loyal, dalam mewujudkan visi membangun peradaban Islam,” pungkas Ustadz Tasyrif dalam acara yang telah berlangsung dua hari tersebut dan dihadiri seluruh anggota DMP dana peserta dari seluruh kader di Kepulauan Riau.*/Azhari