SORONG (Hidayatullah.or.id) — Anggota DPRD Provinsi Papua Barat Abdullah Gazam melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) pembangunan gedung BLK Komunitas di Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong, Jln. Supriadi SP3 Distrik Mayamuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat, Ahad, 24 Rabiul Awal 1443 (31/10/2021).
Turut hadir dalam acara ini jajaran PW PKB Papua Barat, DPW Hidayatullah Papua Barat, PC PKB Kabupaten Manokwari, Ketua DPD Hidayatullah Kota Sorong, Muslimat Hidayayullah Kabupaten Sorong, Fatayat NU Kota Sorong, Pemuda Hidayatullah Kabupaten Sorong, Forum Alumni Hidayatullah Kabupaten Sorong dan wali santri Ponpes Hidayatullah Kabupaten Sorong.
Dalam sambutannya Anggota DPRD Provinsi Papua Barat Abdullah Gazam menyampaikan, bahwa, Alhamdulillah di tahun ini Papua Barat mendapatkan gedung BLK Komunitas dari pemerintah pusat melalui Kementerian Ketenagakerjaan sebanyak 10 paket.
“Dan Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong ini adalah penerima BLK pertama yang melakukan acara pelatakan batu pertama gedung BLK di tahun 2021. Jadi Hidayatullah Kabupaten Sorong selangkah lebih maju,” kata Gazam.
Abdullah Gazam yang juga selaku ketua PW PKB Papua Barat menambahkan mengapa pondok pesantren ini penting untuk mendapat perhatian, karena, terang dia, di pondok pesantren merupakan tempat melakukan pendidikan dan peningkatan SDM tetapi belum atau jarang sekali tersentuh bantuan.
“Sehingga hari ini adalah “sentuhan Allah” yang kiranya akan terus berkelanjutan kedepan. Karena pondok pesantren juga membutuhkan perhatian yang lebih dari kita semua termasuk pemerintah pusat, pemerintah daerah, provinsi dan kabupeten kota,” katanya.
Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong Ust. Anang Ma’ruf, S.Pd.I dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur atas bantuan Gedung BLK Komunitas, jurusan Komputer yang diberikan oleh pemerintah ini.
“Kiranya bantuan ini bukan bantuan yang pertama dan terakhir, masih banyak yang kami perlulan untuk menunjang pendidikan di pondok pesantren ini terutama gedung asrama,” imbuh Anang.
Kata Anang, karena minimnya asrama yang ada sehingga ditahun ini pihaknya mengalihfungsikan dua ruang kelas menjadi asrama sementara.
“Semoga melaui anggota dewan provinsi bisa memberikan perhatian berkelanjutan untuk Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong ini,” pungkasnya seraya menyebut Abdullah Gazam.
Disela acara ini dilakukan pelantikan Ketua Forom Alumni Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong yang baru terbentuk sehari sebelumnya dan menunjuk Ust Raju Atid Sewu, SH sebagai ketua.
Diharapkan dengan terbentuknya Forum Alumni ini bisa mempererat Ukhuwah dan bisa menjadi wadah untuk merangkul seluruh alumni yang tersebar di seluruh Indonesia.
Acara dilanjutkan dengan simbolis peletakan batu pertama dan meninjau lokasi Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong yang masih terus melakukan pengembangan.*/Miftahuddin
JIKA ia seorang Mukmin, shalatnya hadir menemani di daerah kepalanya. Puasa di samping kanan dan zakatnya di samping kiri. Perbuatan lain seperti infak, silaturrahmi, amar makruf, dan akhlak baiknya ada di kakinya.
Kemudian dua malaikat datang dari sebelah kepala. Shalatnya berkata, “Tak ada yang bisa masuk dari arah sini.” Malaikat tadi pindah ke sisi kanannya, dan dicegat oleh puasanya, “Tak ada yang bisa masuk dari arah sini.” Mereka pindah ke samping kiri. Dijawab oleh zakat, “Tak ada yang bisa masuk dari arah sini.”
Lalu mereka mendatangi dari sebelah kaki. Sedekah, silaturrahmi, amar makruf, dan akhlak baiknya, mencegat, “Tak ada yang bisa masuk dari arah sini.” Akhirnya mereka berkata, “Duduklah.” Ia duduk mendekat seperti matahari yang hendak tenggelam. “Biarkan aku shalat,” pintanya.
“Kamu mau shalat? Beritahu kami tentang beberapa hal yang akan kami tanyakan. Apa yang engkau ketahui tentang lelaki yang dahulu pernah bersamamu? Apa yang kaukatakan tentang lelaki yang dahulu pernah bersamamu? Apa yang engkau katakan tentangnya, dan bagaimana persaksianmu terhadapnya?”
Ia menjawab, “Dia adalah Muhammad. Kami bersaksi bahwa dia Rasulullah. Datang membawa kebenaran dari Allah.“ Dikatakan kepadanya, “Atas keyakinan itu kamu hidup dan atas keyakinan itu pula kamu akan dibangkitkan, insya Allah.” Kemudian dikabulkanlah pintu surga. Dikatakan padanya, “Inilah tempat yang telah Allah janjikan padamu.”
Ia menjadi gembira dan bertambah riang. Kuburnya diluaskan hingga tujuh puluh hasta dan disinari cahaya terang. Jasadnya dikembalikan sebagaimana semula. Ruhnya diletakkan dalam hembusan burung yang bergantung di surga.
Inilah yang difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta’ala;
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS Ibrahim: 27).
Lalu disebutkan keadaan orang kafir yang bertolak belakang. Ia berkata, “Kuburnya disempitkan sehingga hancur tulang-tulangnya. Itulah “Kehidupan sempit” yang dimaksud dalam firman Allah:
“Baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 16).
Abu Dzar Al-Ghifari berkata, “Wahai manusia, aku adalah penasehat bagimu. Aku merasa kasihan kepadamu. Dirikanlah shalat di kegelapan malam untuk menghadapi dahsyatnya alam kubur. Berpuasalah di dunia untuk menghadapi hari kebangkitan dan bersedekahlah untuk menghadapi hari yang berat. Wahai manusia, aku adalah penasehat bagimu. Aku merasa kasihan kepadamu.” (Tarih Dimasyqa, 22/214).*/Hidcom
SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Pegiat pendidikan yang juga Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Nursyamsa Hadis, memaparkan konsepsi pendidikan profetik sebagaimana paradigma ini juga diajukan oleh budayawan, sastrawan, dan sejarawan dari Indonesia, Prof. Dr. Kuntowijoyo, M.A.
“Pemikiran pendidikan profetik dari almarhum Profesor Kuntowijoyo ini luar biasa, menarik, dan perlu terus disuarakan agar menjadi wacana publik untuk menuju satu format pendidikan yang ideal,” katanya dalam seminar pendidikan digelar di Kampus Utama Pesantren Hidayatullah Samarinda, Kaltim, Sabtu, 23 Rabiul Awal 1443 (30/10/2021).
Nursyamsa menjelaskan, secara normatif-konseptual, paradigma profetik versi Kuntowijoyo ini didasarkan pada Surat Ali-Imran ayat 110: “Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan/dilahirkan ditengah-tengah manusia untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran dan beriman kepada Allah”.
Menurut Nursyamsa, ayat ini menjadi dasar ketiga pilar nilai ilmu sosial profetik yang digunakan oleh Kuntowijoyo yaitu; pertama, amar ma’ruf (humanisasi) yang mengandung pengertian memanusiakan manusia. Kedua, nahi munkar (liberasi) yang mengandung pengertian pembebasan, dan tu’minuna bilah (transendensi) yang memuat dimensi keimanan manusia.
Lebih jauh, Nursyamsa yang mengutip salah satu tokoh penggagas pendidikan profetik, Khoiron Rosyadi, bahwa ayat 110 Surat Ali Imran tersebut juga terdapat empat konsep pendidikan profetik menurut Kuntowijoyo.
Pertama, jelasnya, konsep tentang umat terbaik (the chosen people), yang menjelaskan bahwa umat Islam sebagai umat terbaik dengan syarat mengerjakan tiga hal sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut.
Umat Islam tidak secara otomatis menjadi the chosen people, karena umat Islam dalam konsep the chosen people ada sebuah tantangan untuk bekerja lebih keras dan ber-fastabiqul khairat.
Kedua, aktivisme atau praksisme gerakan sejarah yang dapat diartikan sebagai sikap bekerja keras dan ber-fastabiqul khairat ditengah-tengah umat manusia (ukhrijat linnas) yang terwujud dalam sikap partisipatif umat Islam dalam percaturan sejarah.
Oleh karenanya, kutipnya lagi, pengasingan diri secara ekstrim dan kerahiban tidak dibenarkan dalam Islam. Para intelektual yang hanya bekerja untuk ilmu atau kecerdasan tanpa menyapa dan bergelut dengan realitas sosial juga tidak dibenarkan.
Ketiga, pentingnya kesadaran. Nilai-nilai profetik harus selalu menjadi landasan rasionalitas nilai bagi setiap praksisme gerakan dan membangun kesadaran umat, terutama umat Islam.
Keempat, etika profetik, ayat tersebut mengandung etika yang berlaku umum atau untuk siapa saja baik itu individu, organisasi, maupun kolektifitas jama’ah, umat, atau kelompok. Point yang terakhir ini merupakan konsekuensi logis dari tiga kesadaran yang telah dibangun sebelumnya.
Lebih jauh, Nursyamsa memaparkan, pendidikan profetik adalah suatu metode pendidikan yang selalu mengambil inspirasi dari ajaran nabi Muhammad SAW yang memiliki prinsip mengutamakan integrasi atau holistik. Artinya, terangnya, dalam memberikan suatu materi bidang tertentu juga dikaitkan dengan landasan yang ada di Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga tujuan baik duniawi maupun akhirat dapat tercapai.
Nursyamsa menyebutkan, setidaknya ada 5 tujuan pendidikan profetik yang asasi sebagaimana dikemukakan Prof. M. Athiyah Al-Abrasyi. Pertama, untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia. Kedua, persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan di akhirat. Ketiga, persiapan untuk mencari rizki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan.
Lalu, keempat, menumbuhkan roh ilmiah (scientific spirit) pada pelajar dan memuaskan keingintahuan untuk mengetahui (co-riosity) dan memungkinkan untuk mengkaji ilmu tidak sekedar ilmu. Serta, kelima, menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknis, dan kemampuan berusaha supaya dapat menguasai profesi tertentu dan ketrampilan berusaha agar dapat mencari rezeki.
Dalam konteks Hidayatullah, Nursyamsa menilai, padangan dari para pakar tersebut sejalan dengan apa yang menjadi ide pendiri Hidayatullah, Ust Abdullah Said, yang mencita citakan adanya pusat swaka generasi untuk menyemai lahirnya kader Islam yang siap tandang ke gelanggang sebagai pelaku dakwah untuk tegaknya peradaban Islam.
“Itulah kemudian Hidayatullah mengusung visi membangun peradaban Islam yang diantara misinya adalah menjalankan kegiatan pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi dan lain-lain secara profetik dan profesional,” kata Nursyamsa.
Dalam rangka tujuan tersebut, Hidayatullah mendirikan pesantren dengan pengupayaan pengelolaan yang selaras dengan Pedoman Organisasi (PO) Hidayatullah Pasal 4 dimana setiap pesantren tersebut menjadi kampus peragaan syariat Islam, kampus dakwah dan rekrutmen anggota, kampus pendidikan dan perkaderan, kampus pemberdayaan ekonomi, dan kampus peduli dhuafa dan mustadhafin.
Pada kesempatan tersebut, Nursyamsa juga memaparkan hal mendasar tentang berbagai kiat dan syarat pengelolaan Sekolah Boarding School (kepesantrenan) yang baik serta konsepsi dan aktualiasi berkenaan dengan profetik dan profesionalisme.
Seminar bertajuk “Konsep Pendidikan KH Abdullah Said dan Pengelolaan Pendidikan Secara Profetik dan Profesional” ini juga menghadirkan narasumber dosen Fakultas Agama Islam Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) DR. H. Muhammad Tang, M.Pd.I, dan dipandu tokoh pemuda Samarinda, Muslim M. Salbu. (ybh/hio)
BANJARBARU (Hidayatullah.or.id) – Kapolres Banjarbaru AKBP Nur Khamid, S.H., S.I.K., M.M melakukan kunjungan dan silaturrahmi ke Pondok Pesantren Hidayatullah yang beralamat Jalan Palam Raya, RT. 01 RW. 01, Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, Selasa, 19 Rabiul Awal 1443 (26/10/2021).
Dalam kunjungan silaturrahminya tersebut Kapolres Banjarbaru didampingi oleh Kasat Intelkam Polres Banjarbaru, Kasat Reskrim Polres Banjarbaru, Kasi Propam Polres Banjarbaru dan Kapolsek Banjarbaru Timur.
Selaku pejabat yang baru beberapa bulan berdinas di Banjarbaru, kunjungan Kapolres Banjarbaru AKBP Nur Khamid tersebut adalah untuk memperkenalkan diri sekaligus meminta dukungan dalam mengemban tugas tanggung jawab dalam mengelola keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
“Peran dan partisipasi segenap komponen sangatlah dibutuhkan, yang tentunya hubungan baik serta harmonis adalah kuncinya,” kata Kapolres Banjarbaru AKBP Nur Khamid.
Kapolres Banjarbaru mengatakan bahwa tujuan dari kunjungan tersebut adalah untuk menjalin hubungan erat dan harmonis antara tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kota Banjarbaru.
AKBP Nur Khamid juga mengatakan bahwa secara berjenjang dirinya bersama PJU nantinya juga akan bersilaturrahmi ke sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, ulama lainnya dan juga pimpinan lembaga pemerintahan.
“Hal ini sebagai upaya berbagi informasi dan koordinasi yang akan tetap terus dijalin dengan semua elemen masyarakat, termasuk para ulama dan tokoh agama serta tokoh masyarakat. Secara bertahap, saya nantinya juga akan berkunjung ke sejumlah tokoh agama maupun tokoh masyarakat lainya di Kota Banjarbaru,” kata Kapolres.
Kapolres melanjutkan, kegiatan tersebut sebagai bentuk silaturrahmi sekaligus memperkenalkan diri sebagai pejabat baru dengan harapan akan terjalin komunikasi yang baik demi keamanan, ketertiban serta kondusifitas di Banjarbaru.
Kapolres Banjarbaru juga tidak lupa turut mengajak masyarakat dan kepada pihak pondok pesantren agar turut mendukung tugas-tugas kepolisian dalam mewujudkan harkamtibmas di wilayah Kecamatan Cempaka khususnya Kota Banjarbaru.
Pihaknya juga menggandeng agar pihak Pondok Pesantren Hidayatullah bersinergi dengan pihak Polsek Banjarbaru Timur dalam mensukseskan penangangan Covid -19 terutama dilingkup pondok pesantren.
Selain bersilaturrahmi, Kapolres Banjarbaru juga turut memberikan tali asih kepada Pondok Pesantren Hidayatullah sebagai bentuk kepedulian Polres Banjarbaru terhadap ponpes dan santri yang terdampak Covid-19.
“Semoga dengan bantuan tali asih yang diberikan dapat membantu dalam penyelesaian proyek perbaikan Masjid Al Aqsho dan bermanfaat bagi para Santri yang tinggal di Pondok Pesantren Hidayatullah sehingga dapat meringankan beban kesulitan akibat pandemi Covid-19 saat ini,” tutupnya. (ybh/hio)
SORONG (Hidayatullah.or.id) — Dalam kunjungan dinasnya ke Provinsi Papua Barat, Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahudin Uno mengunjungi Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong beralamat di Jalan Supriyadi, Satuan Permukiman(SP) III Makbusun, Distrik Mayamuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat, Rabu, 20 Rabiul Awal 1443 (27/10/2021).
Sandiaga diterima langsung oleh pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong Ustadz Anang Ma’ruf. Hadir pula dalam acara silaturrahim ini pengurus DPW Hidayatullah Papua Barat, ketua DPD Hidayatullah Kota Sorong Ust Suwadi, ketua Pemuda Hidayatullah Abdul Hanan, ketua SAR Hidayatullah Ihwan Arifin, ketua Mushida Ustz Lilis Marhamah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat Kabupaten Sorong.
Dalam sambutannya menteri Sandiaga mengawali dengan menyapa para hadirin yang terdiri dari santriwati, pengurus, guru ponpes, serta para tamu undangan. Ia melanjutkan dengan mengajak hadirin tuk selalu menjaga protokol kesehatan.
Di hadapan ratusan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Sorong, Sandiaga yang karib disapa Mas Menteri ini menyapa santri dan memberikan motivasi. Ia menyampaikan santri adalah generasi harapan agama dan bangsa.
Ia menambahkan motivasinya kepada para santriwati agar selalu meneladani sifat Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang memiliki karakter mulia dalam dirinya yakni cerdas dan bijaksana (Fathonah) terpercaya (Amanah), benar dan jujur (Shiddiq), dan penyampai wahyu Allah untuk kebaikan manusia (Tabligh). Sandiaga kemudian memberi singkatan dari keempat nilai utama tersebut dengan FAST yang bermakna cepat.
Sandiaga lantas menerangkan, cepat yang dimaksud dirinya tersebut diistilahkan dengan 3G. Jurus 3G ini, kata dia, adalah kunci sukses untuk menjadi enterpreneur. Adapun 3G tersebut yaitu “Gercep” (Gerak Cepat), “Gerber” (Gerak Bersama), dan “G” ketiga adalah “Gaspool”.
“Rumus 3G bila dipraktekkan oleh generasi muda bangsa ini, Insya Allah, generasi muda bangsa ini kedepan akan sukses karena inilah rumus Rasulullah SAW sukses dalam menyebarkan Islam ke penjuru dunia,” imbuhnya.
Sandiaga menutup sambutannya dengan berterima kasih kepada pihak Pondok Pesantren Hidayatullah Sorong telah menerimanya dan para santriwati yang secara tidak langsung telah memberikan semangat dan menghilangkan rasa capek di tengah jadwal yang padat.
Sementara itu, pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong Ustadz Anang Ma’ruf dalam Sambutannya, menyampaikan terima kasih atas kunjungan Menteri Sandiaga, sebab, menurut Anang, kunjungan Menteri Sandiaga merupakan kunjungan pertama dari menteri ke Ponpes Hidayatullah Sorong sejak awal berdiri tahun 1991.
“Ahlan wasahlan kepada Menteri Sandiaga Uno bisa menjumpai kami dan santriwati di Pondok ini, sebab ini adalah pertama kalinya kami dikunjungi oleh Menteri sejak pesantren ini berdiri tahun 1991,” imbuhnya.
Anang melanjutkan, Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Sorong merupakan pondok pesantren khusus santri putri dan ini merupakan ponpes khusus putri pertama di Papua Barat.
Acara kemudian ditutup dengan doa yang dibacakan oleh Ust Kamaruddin, Lc, Pengasuh Ponpes Hidayatullah Kabupaten Sorong.*/Miftahuddin
YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Istimewa Yogyakarta meluncurkan program 1000 Rumah Quran Hidayatullah (RQH) yang diresmikan di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Yogyakarta, Ahad, 17 Rabiul Awal 1443 (24/10/21).
Peluncuran program ini merupakan rangkaian acara Rapat Koordinasi Dakwah DPW Hidayatullah DIY & Jatengbagsel yang turut didukung Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH).
Mahmud Thorif selaku ketua panitia acara tersebut mengatakan setelah acara diharapkan para peserta bisa lebih optimal dalam mengelola RQH di wilayah masing-masing.
“Target dari acara ini diharapkan dapat menyamakan persepsi tentang program kerja yang sudah disepakati bersama, dan tidak kalah penting para peserta bisa mengaplikasikan apa yang sudah didapatkan,” kata Thorif.
RQH sendiri adalah sistem pendidikan keagamaan non formal yang dikembangkan bekerja sama dengan mitra-mitra program.
Kepada Divisi Program BMH Yogyakarta, Syai’in Kodir, mengemukakan, selain launching RQH pada acara tersebut juga dilakukan pembinaan dan pelatihan pengelolaan RQH.
“Rangkaian acara yang dilaksanakan fokus kepada pembinaan dan pelatihan manajeman pengelolaan RQH, sekalian secara simbolis dibuka peresmian keberadaan 1000 RQH yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah,” ungkapnya.
Ia mengatakan dalam pelatihan pengelolaan tersebut menghadirkan tiga narasumber dari DPP Hidayatullah yang selama ini fokus membina dan mengawasi berjalannya RQH di seluruh nusantara yaitu Ust Nursyamsa Hadits, Ust Shohibul Anwar, dan Us Iwan Abdullah. Hadir pula Ketua Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah KH Muhammad Syakir Syafii.*/herim
MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Setelah sepekan mengikuti program intensif Sekolah Dai Muda Entrepreneurship yang digelar Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah (DPW) Hidayatullah Papua Barat bekerjasama dengan Posdai Papua Barat, dan Pusat Forum Komunikasi Dai Muda (FKDMI), sebanyak 21 dai muda yang mendapatkan pendidikan agama dan akselerasi khusus dai akan dikirim ke berbagai daerah tugas dakwah dalam seremoni penutupan acara ini, Ahad, 17 Rabiul Awal 1443 (24/10/2021).
Sekolah Da’i Muda Entrepreneurship tersebut telah berlangsung sejak tanggal 18-24 Oktober 2021 di aula kantor Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat.
Sekertaris DPW Hidayatullah Papua Barat, Mifthahudin, mengatakan usai menjalani upgrading kompetensi selama sepekan para dai tersebut selanjutnya mendaptkan tugas dakwah ke berbagai wilayah di pelosok daerah yang ada di Papua Barat.
“Para peserta dari sekolah dai muda entrepreneurship ini berasal dari berbagai kabupaten dan kota yang ada di Papua Barat. Memang mereka ini yang akan melanjutkan estafeta dakwah di daerahnya, maka sekolah dai muda entrepreneurship ini adalah wadah akselerasi bagi mereka,” kata Miftahuddin.
Sementara itu, Ustadz Ilyas Hugaje, salah satu peserta sekolah dai muda entrepreneurship menyampaikan ucapan terimakasihnya atas diselenggarakannya sekolah dai oleh Hidayatullah Papua Barat ini.
“Saya mengucapkan terimaksih kepada para pembimbing Sekolah Dai Muda Entreprenurship Hidayatullah Papua Barat atas kesempatan dan ilmu yang diberikan kepada kami selama satu minggu ini,” kata Hugaje.
Menurut Hugaje, kegiatan ini penting sekali sebagai bentuk perhatian pada dai terutama dalam peningkatan kualitas dan kapabilitasnya. “Semoga dengan apa yang kami pelajari di sini dapat kami amalkan dalam gelanggang dakwah di Papua Barat,” Hugaje, dai putra asli Papua Barat ini.
Sekolah Dai Muda Entrepreneurship ditutup dengan acara lomba dai yang dihadiri oleh Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Papua Barat Ust Sultan, Ketua Pemuda Hidayatullah Wilayah Papua Barat S. Refra Elthanimbary, Ketua FKDMI Papua Barat Ust Dudi Ramdhani, dan ketua Departemen Dakwah Hidayatullah Papua Barat Ust Burhanuddin Ibnu yang menutup acara dengan doa. (ybh/hio)
PARA ulama besar yang alim sekelas mujtahid saling memuji dan saling memuliakan. Adalah dua ulama ahlus sunnah, Imam As Syafi’I dan Iman Ahmad bin Hanbal, yang tawadhu, saling menunjukkan kearifan.
Adalah Imam Ahmad, seorang faqih, muhadits dan pengasas kepada Mazhab Hanbali. Nama penuhnya Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyain bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasit bin Syaiban. Menurut riwayat yang masyhur, beliau dilahirkan di Kota Baghdad pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 H. (Lihat Tabaqat al-Hanabilah, 1/4 dan Siyar A’lam al-Nubala, 11/179)
Beliau merupakan tokoh ulama hadis yang terkemuka baik semasa atau setelah zamannya. Musnad Ahmad Ibn Hanbal merupakan karya terbesarnya. Imam al-Zahabi menjelaskan tentang kitab al-Musnad sebagaimana dikatakan oleh Ibn al-Sammak: “Hanbal telah meriwayatkan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Hanbal mengumpulkan kami, yaitu saya, Sholeh dan Abdullah. Dia membacakan kitab al-Musnad kepada kami dan tidak ada yang mendengarkannya kecuali kami. Dia berkata, Kitab ini (al-Musnad), saya telah mengumpulkannya dan mengulasnya lebih dari 750.000 hadits Nabi ﷺ bahwa ada perbedaan di antara umat Islam dalam menilainya, maka kembalilah kamu kepadanya jika kamu temukan di dalamnya. Jika tidak kamu temukan (jawapan atas suatu persoalan), maka hadis tersebut tidak dapat dijadikan hujah.”(Lihat Siyar A’lam al-Nubala’, 11/329)
Imam Ahmad adalah murid Imam al-Safi’i ketika Imam al-Safi’i menetap di Iraq. Beliau merupakan salah seorang yang mendukung pandangan Imam al-Safi’i melalui kitab Imam al-Safi’i, al-Hujjah. Imam Ahmad Bin Hanbal pernah mengatakan, Imam Syafi’i bagaikan matahari yang menyinari dunia dan bagaikan kesehatan bagi setiap tubuh, maka apakah ada pengganti untuk kedua hal ini? Beliau berhujjah dengan hadits shahih dan pemahaman yang shahih (Siyar A’lamin An Nubala, jilid 8, 253)
Perginya Ulama Tawadhu
Meski terjadi perselisihan dalam beberapa masalah hukum, sebagai ulama Imam Ahmad tetap bersikap tawadhu’, bahkan banyak memuji gurunya, Imam Syafi’i. Berkata Ishaq bin Rahuyah: “Aku bersama Ahmad di Makkah, dia berkata: “Kemarilah! Aku tunjukkan kepadamu seorang lelaki yang kamu belum pernah melihat orang seperti dia!” Ternyata laki-laki tersebut adalah Imam Syafi’i. (dalam Shifatu As Shofwah, hal. 142, vol. 2).
Tidak sedikit perbedaan pendapat dalam hukum kedua ulama ini, namun keduanya selalu mengajarkan kita akhlak yang mulia. Di antaranya, Imam Ahmad selalu mendokan Imam Syafi’I hingga 40 tahun lamanya.
Berkata Ahmad bin Al Laits: “Aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata: “Aku akan benar-benar mendo’akan Syafi’i dalam shalatku selama 40 tahun, aku berdoa: ”Ya Allah, ampunilah diriku dan orang tuaku, dan Muhammad bin Idris Asyafi’i.” (dalam Manaqib As Syafi’i lil Baihaqi, hal. 254, vol. 2).
Di sisi lain, banyak pujian Imam al-Safi’i kepada Imam Ahmad. “Ahmad adalah Imam dalam delapan perkara: beliau imam dalam hadis, fikih, al-Quran, lughah (bahasa arab), al-Sunnah, al-Zuhd, al-Warak, serta kemiskinan.”
Kata Imam as-Syafi’i lagi, ”Aku keluar dari Baghdad, dan tidak aku tinggalkan padanya seorang pun yang lebih wara’, paling bertakwa, paling faqih, dan paling berilmu daripada Ahmad bin Hanbal.” (lihat Tarikh an Dimashq, Ibn Asakir (5/272), Tabaqat al-Hanabilah (1/40), Tarikh Baghdad (6/99) dan Manaqib al-Imam Ahmad oleh Ibn al-Jauzi (1/143).
Imam al-Safi’i juga pernah berkata kepada Ahmad, ”Kamu lebih ‘alim tentang hadis berbanding kami. Sekiranya hadis itu berada di Kufah atau Syam maka beritahulah kepada aku sehingga aku pergi menuju kepadanya.” (dalam al-‘Ilal wa Ma’rifah al-Rijal (no. 1055), Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya’ (99/170) dan al-Zahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala’ (11/213).)
Semoga Allah merahmati kedua-dua tokoh imam ini serta memberikan kepada kita petunjuk dan hidayah untuk mengikut Nabi Muhammad ﷺ, para sahabat, shalihin, sidhiqin dan tokoh-tokoh ulama yang menjadi bintang untuk umat.*/Hidcom
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Silaturrahim sekaligus Rapat Koordinasi (Rakor) yang ke III Majelis Ormas Islam (MOI) menghasilkan pembentukan Presidium MOI DKI Jakarta. Pembentukan Presidium ini kian mempertegas keberadaan ormas Islam di DKI Jakarta yang tergabung di MOI DKI Jakarta agar terwujud aspek legalitas untuk MOI di tingkat pusat.
Rakor MOI ke III yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln Cipinang Cempedak, Otista, Polonia, Jakarta, Sabtu, 16 Rabiul Awal 1443 (23/10/2021) ini dihadiri 9 perwakilan ormas dari 14 ormas Islam se-DKI Jakarta dengan total jumlah peserta 34 orang.
Muhammad Isnaini selaku Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta dalam kata sambutannya menjelaskan bahwa rakor yang sejatinya dilaksanakan pada bulan Agustus yang lalu ini terpaksa harus mundur disebabkan pemberlakuan PPKM darurat.
Isnaini berharap rakor kali ini menghasilkan keputusan yang kongkrit dengan semangat silaturahim antar ormas Islam dalam rangka memantapkan konsolidasi dan meneguhkan sinergi dalam bekerja nyata demi untuk kebaikan umat, bangsa dan negara.
Menurut Isnaini, patut disyukuri bersama sebab sejak rakor MOI pertama yang dilaksanakan di bulan Ramadan lalu dan kemudian terus terjalin interaksi hingga kini yang sudah berjalan selama enam bulan, semakin menunjukkan progresifitas. Dia berharap, koordinasi ini terus menghasilkan kebaikan demi kebaikan.
“Semoga Allah SWT terus kuatkan mujadah kita dengan keberkahan dan pertolongan-Nya dalam rangka upaya kita membangun umat dan bangsa ini bersama sama,” kata Isnaini kepada media ini.
Sementara Ketua Tim Ad-hock MOI DKI Jakarta Ustadz Gunadi lebih menekankan untuk segera ditetapkannya Presidium, dan tidak menggunakan Tim Adhock lagi. Sebab, menurutnya, jika masih menggunakan Tim Adhock maka MOI DKI hanya dapat melakukan koordinasi secara Internal dan sangat terbatas sekali.
“Segara kita bentuk Presidium MOI DKI Jakarta, kita berikan waktu selama 6 bulan, setelah enam bulan maka kita evaluasi. Yang terpenting bagi saya segera terwujudnya Presidium MOI DKI Jakarta,” ujar Gunadi.
Rakor menghasilkan kesepakatan bahwa yang selama ini menjabat di Tim Ad-hock akan tetap menjabat, namun berubah menjadi Presidium MOI DKI Jakarta dengan masa kerja sampai Desember tahun 2022.
Seluruh peserta Rakor juga berharap agar Presidium MOI DKI Jakarta yang ditetapkan agar dapat melakukan koordinasi kepada deklarator MOI yang di pusat. Bila perlu sedikit mendesak agar legalitas MOI sebagai berhimpunnya berbagai Ormas Islam yang ada di Indonesia dapat segera terwujud. (ybh/hio)
ANKARA (Hidayatullah.or.id) — Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh RI untuk Republik Turki, Dr. Lalu Muhamad Iqbal, mendorong pemuda dan santri Hidayatullah berkiprah untuk kebaikan umat, bangsa, dan negara di kancah internasional dengan menjadi diplomat.
“Saya juga mendorong teman teman untuk mengambil pilihan yang lain, seperti menjadi teknokrat, insinyur, ahli hubungan internasional yang suatu saat nanti menjadi diplomat,” katanya dalam acara Majelis Online Pemuda (MOP) Pemuda Hidayatullah yang digelar secara virtual, Jum’at, 15 Rabiul Awal 1443 (22/10/2021).
Webinar bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ini terselenggera atas dukungan luar biasa Departemen Hubungan Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah dan dihadiri santri dan pemuda dari berbagai daerah dalam dan luar negeri.
Dalam kesempatan tersebut, Iqbal mengapresiasi santri Hidayatullah yang menempuh studi Islam atau dikirim belajar ke berbagai negara seperti Kairo atau Madinah sebab mengingat kebutuhan terhadap sumber daya insani yang mumpuni dan memiliki keilmuan agama yang kuat. Namun, ia juga mendorong untuk mengambil pilihan yang lain, seperti ada yang diarahkan menjadi teknokrat, insinyur, dan terutama ahli hubungan internasional.
“Yang menjadi diplomat sekarang banyak santri. ini sebuah perkembangan yang baik. Sebelum saya, itu hampir punah santrinya di Kemlu. Terakhir itu Wamenlu kita, Pak Muhammad Fachir, beliau alumni Gontor. Jadi jarak angkatan saya dengan beliau itu 15 tahun, jadi 15 tahun itu kosong, nggak ada santri yang mau masuk ke Kemlu,” imbuhnya memotivasi.
Dia berpesan agar santri selalu percaya diri dengan gelar “santri” yang disandangnya tersebut. Kata dia, siapapun yang menjadi santri hanya masalah waktu saja, akan menjadi tokoh.
“Santri itu, ketika dia belajar, namanya santri. Ketika ia menjadi (orang) besar, namanya tokoh Islam. Jadi sebagai tokoh Islam kita harus menunjukkan adab yang baik. Dalam berpolitik adabnya baik, dalam berucap adabnya baik. Dalam memimpin adabnya baik,” kata diplomat yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam di Pabelan, Surakarta ini.
Disampaikan dia, di pundak santri ada amanah berat yang harus dipikul. Inilah bedanya, kata dia, kita yang santri dengan yang bukan santri. Dia menjelaskan, ketika kita (santri) berperilaku buruk, orang di luar sana bilang yang buruk Islam.
“Jadi beban di pundak ini berat sekali, karena kalau kita berbuat buruk, orang akan bilang yang buruk itu Islam. Padahal, harus dibedakan, antara Islam dan umatnya. Tapi, ya sudah, ini sudah menjadi takdir buat kita bahwa ketika kita sudah menjadi santri, (maka) simbol Islam tidak bisa lagi dilepas dari kita,” jelasnya.
Ditengah beratnya amanah sebagai santri, Iqbal menegaskan bahwa santri adalah kunci masa depan yang gemilang. Dia mengatakan, masa depan umat ini ada di pundak para santri sehingga perlu menyiapkan diri dengan sangat baik.
“Pemuda amat dibutuhkan perannya bukan saja untuk masa depan Indonesia tetapi juga untuk masa depan umat ini. Kalau kita melakukan sesuatu yang baik untuk umat, Insya Allah, itu juga baik untuk Indonesia,” pesannya.
Hampir 90 persen warga negara Indonesia adalah umat Islam, jadi, terangnya, kalau kita berbuat kebaikan untuk umat maka itu 90 persen masalahnya sudah selesai. Dan, dia mengingatkan, para pemuda hari inilah yang akan menentukan masa depan bangsa.
Iqbal menyampaikan itu seraya menukil pepatah Arab: “Inna fi yadi syubban amrol ummah, wa fi aqdamihim hayataha” (sesungguhnya di tangan dan langkah pemudalah urusan dan hidupnya suatu umat/masyarakat).
“Jadi urusan dari umat ini ada di tangan temen temen sekalian, terutama pemuda. Kalau saya, Ustadz Dzikrullah, kalau kita ini sudah generasi transisi. Saya sudah menyiapkan mental saya pada usia saya sekarang ini, ‘kamu tidak usah mengejar sesuatu yang besar besar lagi untuk dirimu, tapi persiapkan landasan yang terbaik untuk generasi setelahmu,'”, katanya.
Santri dan spirit ummatan
Lebih jauh, putra Lombok, Nusa Tenggara Barat, ini mengajak santri menapaktilas perjuangan para santri pemuda di masa lampau. Menurutnya, para pendiri bangsa adalah santri yang perannya luar biasa untuk Indonesia. Dia menyebut Soekarno yang santrinya Haji Oemar Said Tjokroaminoto, ada Pak Hatta yang sudah nyantri sejak kecil di kampung halamannya di Minang, ada Syafruddin Prawiranegara, Muhammad Natsir, dan lain sebagainya
“Siapa pendiri Indonesia yang bukan santri. Justru saya kesulitan menemukan pendiri Indonesia yang bukan santri,” imbuhnya.
Dia memaparkan, sebelum Indonesia mengenal pendidikan modern, pendidikan yang diterima pertama kali adalah pendidikan Islam. Dan, saat itu pendidikan di luar pendidikan yang disediakan oleh Belanda, pendidikan yang sudah maju dan go international saat itu hanya pendidikan Islam.
Oleh karena telah tercelup dengan pendidikan Islam, kata Iqbal menerangkan, maka santri santri pada saat itu menjadi pelopor persatuan karena cara berfikirnya telah terbentuk bahwa istilah ummatan itu lintas kultur.
Sehingga, lanjutnya, para santri pejuang kemerdekaan dari berbagai daerah di Indonesia ketika bertemu di Makkah yang sama sama belajar agama Islam, sudah tidak berfikir lagi bahwa mereka adalah orang Lombok, orang Padang, Banjar atau orang Sulawesi, dan lain sebagainya.
“Bagi mereka, karena kamu orang muslim maka itulah ikatan kita. Ikatan itulah yang kemudian dibawa pulang ke Indonesia dari belajar di Makkah berupa semangat keumatan, persaudaraan, dan itulah yang menjadi perekat diantara pulau pulau atau kerajaan kerajaan yang terpisah pisah ini,” katanya.
Menurut Iqbal, nilai semangat keumatan dan persaudaraan yang telah membentuk Indonesia itu merupakan sesuatu yang luar biasa, karena hampir tidak ada negara lain di dunia yang masih utuh yang pada awalnya terdiri dari suku bangsa yang berbeda. Ia kemudian mencontohkan fenomena Uni Eropa.
Seharusnya, kata Iqbal, jika namanya ‘Uni’ maka itu serba satu. Tapi yang terjadi di Uni Eropa, paling tidak ada 25 bahasa resmi yang diakui dimana setiap negara dijadikan bahasa resmi walaupun negaranya kecil kecil yang masing masing punya bahasa sendiri dan dengan kultur masing-masing.
“(Uni Eropa) tidak akan pernah menjadi satu negara karena konsep mereka tentang negara bahwa satu negara itu satu bangsa. Sementara, di Indonesia, negaranya itu kumpulan bangsa bangsa. Jadi bangsa bangsa yang lebih besar dari Eropa ini menjadi bangsa Indonesia,” tukasnya.
Demikian pula semangat keumatan dan persaudaraan yang ditunjukkan oleh pendiri bangsa seperti dilakukan Bung Hatta. Iqbal menceritakan, dulu sebelum Indonesia merdeka Pak Hatta pergi belajar ke negeri Belanda.
Pada saat itu, lebih dari setengah orang yang belajar di Belanda itu adalah orang dari Minang karena Minang saat itu memang pendidikannya lebih maju daripada daerah daerah lainnya di Indonesia. Hebatnya, meskipun dominan orang Minang, waktu itu Pak Hatta tidak mendirikan paguyuban Minang, ia malah mendirikan Perhimpunan Indonesia yang bahkan Indonesia sendiri saat itu belum ada.
“Waktu itu, negara yang namanya Indonesia belum ada tetapi Pak Hatta sudah membuat Perhimpunan Indonesia di Belanda. Jadi yang membawa ide persatuan dan membawa ide mengenai Indonesia itu adalah para santri,” kata peraih anugerah Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (PPT) Teladan ini.
Lebih lanjut, semangat keumatan dan persaudaraan itu juga lalu menjangkau pulau pulau yang terdiri agama agama yang berbeda. Lalu ditariklah pulau pulau itu masuk ke dalam konsepsi keindonesiaan tersebut yang kemudian berkembang menjadi bangsa Indonesia yang menerima semua unsur untuk masuk ke dalamnya.
“Disitulah kemudian kita memperlihatkan dalam sejarah kita bahwa Islam itu rahmatan lil ‘alamiin yang semua orang dirangkul, semua orang merasakan keindonesiaan, dan semua orang merasakan konsep kekitaan Indonesia, yang ketika ngomong Indonesia, semua orang ini ikut ke dalam konsepsi keindonesiaan,” pungkasnya.
Webinar ini juga turut dihadiri Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Asih Subagyo sekaligus sebagai narasumber kedua dan dipandu oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi serta acara turut dibersamai Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Babeh Dzikrullah. (ybh/hio)