BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Setelah bulan lalu menuntaskan pembangunan rumah untuk dai di kampus Hidayatullah Tanjung Uncang, Batam, kebaikan tanpa batas BMH Kepri kembali berderap di pulau Bintan berupa pembangunan fasilitas hunian rumah dai tangguh untuk ustadz Rahman Johan serta rumah tamu (guest house) di kampus Madya Hidayatullah Bintan.
Sosok perintis Hidayatullah Bintan yang mulai sepuh itu telah berkiprah di jalan dakwah dan tarbiyah sejak tahun 1988 di Hidayatullah, Toli-Toli, Sulteng, setelah itu bertugas ke Hidayatullah Manado, Sulut, lalu bergeser lagi ke Batam, Kepri dan pada 2006 bertugas ke Bintan. Termasuk petugas awal di Batam dan Hidayatullah Bintan.
Pengadaan rumah dai kali ini merupakan unit yang ke 10 yang difasilitasi oleh BMH Kepri, baik hunian berupa pembangunan rumah maupun kontrakan. Termasuk di antaranya rumah da’i tangguh di kampung muallaf pulau Caros untuk kelangsungan pembinaan muallaf.
BMH Kepri memiliki komitmen kuat memberikan perhatian kepada para da’i di kawasan Kepri, untuk memudahkan menjalankan misi dakwah dan tarbiyah, termasuk hari ini, Selasa, 7 Safar 1443 (14/9/2021) BMH Kepri kembali mengadakan peletakan batu pertama menandai dimulainya pembangunan kediaman ustadz Rahman Johan.
“Program dai tangguh merupakan salah satu bagian dari gerakan mainstrem BMH dan berkat dukungan bapak dan ibu semua, BMH Kepri dapat memberikan layanan rumah layak huni kepada para dai, karena para dai adalah sosok yang telah mewakafkan hidupnya untuk syiar Islam, BMH hadir untuk memberikan solusi tempat tinggal yang layak dan nyaman agar dapat terus mengembangkan gerakan dakwah,” tutur Abdul Aziz, ketua perwakilan BMH Kepri.
Selain membangun rumah layak huni untuk dai, BMH Kepri juga memberikan bantuan berupa pembangunan satu unit guest house (rumah tamu) di Hidayatullah Bintan.
Menurut Ust Humeydi, pimpinan Hidayatullah Bintan, rumah untuk tamu yang ada saat ini kondisinya tidak layak, sementara tamu bergantian datang baik dari DPP, DPW, maupun orang tua siswa.
“Alhamdulillah, BMH Kepri berkenan memberikan bantuan dua bangunan selain rumah untuk sesepuh Hidayatullah di Kepri juga rumah tamu, kami atas nama keluarga besar Hidayatullah Bintang mengucapkan jazaakumullah khairan jazaa kepada BMH Kepri dan para donatur,” kata ustadz muda yang dikenal luas di Bintan ini.
Sebelumnya BMH Kepri telah memberikan bantuan berupa sumur bor, depot air, bantuan logistik dan hewan qurban setiap tahun untuk Hidayatullah Bintan.
Pada peletakan batu pertama, hadir juga ketua DPW Hidayatullah Kepri, Darmansyah dan jajaran pengurus sebagai pembina amal usaha kampus Madya Hidayatullah Bintan, ketua DPD Hidayatullah Bintan dan Tanjung Pinang dan PD Mushida Bintan dirangkaian agenda peletakan batu pertama pembangunan rumah dai, peresmian penggunaan gazebo bantuan keluarga H Ambo Elleng, penggunaan paving block dan peresmian asrama santri serta pemasangan plang hibah tanah dari BMH Kepri seluas 3 hektar kepada Hidayatullah Bintan.
Dalam sambutannya, Darmansyah, memberikan apresiasi atas perjuangan dakwah para dai di Bintan, diharapakan dari tempat ini akan lahir kader-kader pewaris perjuangan kuncinya senantiasa serius dalam menuntut ilmu di pondok pesantren dan DPW Hidayatullah Kepri siap untuk terus mengawal pelaksanaan program dakwah dan tarbiyah. Darmansyah juga memberi apresiasi atas dukungan BMH Kepri selama ini.
“Alhamdulillah BMH Kepri senantias memberikan dukungan untuk kemajuan dakwah dan tarbiyah di kawasan Kepri, semoga sinergi antara organisasi dan BMH terus bisa berlanjut sehingga program-program baik sosial, pendidikan dan dakwah dapat berkesinambungan,” imbuh Darmansyah penuh semangat.*/Mujahid M. Salbu
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Bekerjasama dengan platform Kitabisa, Islamic Medical Service (IMS) berbagi 1500 makanan sehat gratis untuk para pemulung yang ada di Jabodetabek, Jum’at, 3 Safar 1443 (10/08/2021).
Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari di beberapa lokasi yang ada di Jabodetabek diantara lokasi tersebut adalah kompleks pemulung di daerah Bekasi, Jakarta Selatan dan Tangerang Selatan.
Imron Faizin selaku Direktur IMS mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam membantu program ini sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan sukses .
“Alhamdulillah kami ucapkan banyak terimakasih kepada para pihak yang terlibat dalam kegiatan ini,” ujar Imron Faizin.
Imron berharap, semoga program ini terus berkelanjutan sehingga dapat membantu saudara saudari kita yang masih berada di bawah garis kemiskinan.
Sementara itu salah satu pemulung, Budi (49), mengaku sangat senang dengan bantuan makan gratis ini.
“Alhamdulillah, terimakasih kepada IMS dan para donatur yang masih peduli kepada kami semoga Allah membalasnya dengan balasan yang yang lebih baik,” katanya.*/Alamsyah
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Kehadiran beragam aplikasi dan perangkat digital di era perkembangan teknologi seperti sekarang, memberikan banyak kemudahan dan kebermanfaatan. Salah satunya, absensi online yang telah diterapkan oleh pengurus SMP-SMA Luqman al-Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur.
Hendar Ardiansyah, salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya menjelaskan, selain mengikuti perkembangan teknologi, penerapan absensi online ini hasilnya lebih akurat serta mampu menyimpan data dengan baik. “Juga lebih efektif dan efisian dari sisi waktu dan biaya,” imbuhnya.
Untuk prosedur penerapannya, masih kata Hendar, adalah memastikan terlebih dahulu bahwa seluruh santri memiliki barcode. Berikut, pembuatan ID Card serta menyiapkan perangkat scan dengan sistem informasi manajemen asrama. Baru kemudian, menghubungkan ID Card yang berisi barcode ke hadware alat scanner.
“Absensi yang sudah berjalan di antaranya absensi sekolah, halaqah, tidur malam, shalat Tahajud, dan lain-lain,” kata Hendar, panggilan akrabnya.
Nah, berikut ini keterangan beberapa potret absensi online di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya:
Santri SMP Luqman al-Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur ini sedang melakukan absensi online sebelum masuk ke kelas masing-masing, pada Selasa (7/9/2021).
Santri SMP Luqman al-Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya sedang mendekatkan ID Card berbarcode khusus untuk absensi online sebelum masuk ke sekolah, pada Selasa (7/9/2021).
Seorang musrif (pengasuh,-red) sedang memeriksa kuku santrinya di halaman masjid lingkungan SMP-SMA Luqman al-Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jum’at (27/8/2021). Pemeriksaan kuku para santri khusus dilakukan pada hari Jum’at, termasuk juga disediakan kotak infaq bagi santri yang ingin beramal shalih.
Santri kelas IX SMA Luqman al-Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya mengetik secara manual untuk absensi online karena ID Card-nya hilang, pada Selasa (7/9/2021). Absensi online ini dilakukan tiap pagi sebelum santri masuk ke kelas masing-masing dan ketika pulang sekolah.
Setelah absensi online dengan ID Card Barcode, santri SMP Luqman al-Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya mengecek suhu badan menggunakan thermometer berdiri, pada Selasa (27/8/2021).*/Achmad Fazeri
KEPRI (Hidayatullah.or.id) — Air laut mulai pasang, beberapa ibu rumah tangga di pulau Seraya menyiapkan sampan lengkap dengan jerigen dan wadah lain, ibu-ibu turun tangan karena para suami mayoritas nelayan, setelah sekitar 10 menit mendayung sampan tibalah di pulau sebelah untuk mengambil air tawar yang tertampung di waduk alami.
Kondisi ini direspon oleh BMH Kepri. Sebulan lalu Abdul Aziz, kepala perwakilan BMH Kepri mencanangkan program pembangunan Sumur Bor di pulau Seraya dan kemarin, Rabu, 1 Safar 1443 (8/9/2021), pembangunan sumur bor dan instalasi tiga terminal air bersih telah tuntas.
Peresmiannya disiarkan langsung oleh kanal BMH TV. Sejumlah tokoh masyarakan dan warga pulau Seraya turut hadir menyaksikan dengan raut kebahagiaan.
Alhamdulillah, berkat bantuan para donatur yang mempercayakan kepada BMH Kepri, kini air telah mengucur dari terminal air bersih.
Abdul Aziz mengungkapkan kondisi keterbatasan air bersih ti pulau Seraya yang 100 persen penduduknya muslim adalah tanggungjawab kita sebagai sesama muslim termasuk BMH Kepri sebagai lembaga amil zakat.
Setelah sumur bor di RT 05, selanjutnya akan dibangun lagi 3 sumur bor di RT lain.
“Jangan sampai keterbatasan air ini mengganggu aktivitas ibadah karena tidak adanya kebutuhan air untuk bersuci seperti mandi dan berwudhu,” ujar Abdul Aziz.
Kehadiran sumur bor di pulau berpenduduk 140 KK atau sekira 800 jiwa bagi ketua RT 05, Sulung, merupakan jawaban atas kepanikan yang kerap menghampiri warga setiap kali kemarau karena waduk yang menampung air hujan akan kering.
“Terima kasih kepada para donatur dan BMH Kepri yang berkenan membantu kami di pulau Seraya,” tegas Sulung bersemangat.
Ketika para suami turun melaut, ibu-ibu rumah tangga tak perlu lagi mendayung sampan atau menjalankan speedboad untuk mencari air baik siang maupun malam.
“Alhamdulillah dan terima kasih para donatur atas bantuannya, sekarang kami tak perlu lagi mendayung sampan siang dan malam untuk mencari air di waduk di pulau sebelah,” tutur ibu Ema sembari tersenyum bahagia.*/Mujahid M. Salbu
SALAH satu penyakit kronis kita – manusia – adalah adalah tergesa-gesa (QS. Al-Anbiya’: 37; al-Isra’: 11). Ketergesaanlah yang mendorong manusia untuk berpikir pendek dan enggan menimbang masak-masak.
Kita selalu merasa sangat sibuk, kekurangan kesempatan, dan tidak punya cukup waktu. Pada akhirnya, segala sesuatu didorong untuk bergerak dalam ritme yang serba terburu-buru.
Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memperingatkan, “Ketenangan itu dari Allah, dan ketergesaan itu dari syetan.” (Riwayat Abu Ya’la, al-Baihaqi dalam al-Kabir, dan at-Tirmidzi, dari Anas. Hadits hasan).
Tentu saja setan sangat berkepentingan membuat manusia selalu terburu-buru agar mudah digelincirkan. Faktanya, sebagian besar manusia modern tidak sempat lagi merenungi kehidupannya.
Jangankan untuk memilih merek shampo mana yang akan dibeli, bahkan tokoh mana yang akan dipilih sebagai pemimpin pun tidak lagi ditimbang baik-baik. Semua dilakukan serba kilat.
Ketika keadaan ini terus-menerus berlanjut, mereka akan terbiasa untuk tidak peduli dan mudah lupa. Mereka menjadi tidak peka terhadap isyarat-isyarat dari Allah, dan pada saat bersamaan menjadi permisif serta gampang mengabaikan dosa-dosanya.
Mari bertanya sejenak kepada diri sendiri: kapan terakhir kalinya kita mengamati matahari terbit, memperhatikan bulan purnama, atau memandang bintang yang bertaburan di angkasa?
Sedemikian sibukkah kita, sehingga tidak sempat lagi menengok tanda-tanda kebesaran Allah di alam raya, lalu sejenak merenung dan menundukkan hati?
Jika ayat-ayat Allah yang tertuang dalam Kitab Suci-Nya pun sudah jarang kita resapi, betapa lalainya kita bila tidak mau pula mentadabburi ayat-ayat-Nya di alam semesta. Dari celah mana lagi cahaya hidayah akan masuk?
Bertafakkur adalah tradisi para Nabi yang telah banyak dilupakan pada zaman kita. Nabi Ibrahim digambarkan mengamati bintang, bulan, dan matahari hingga akhirnya hidayah datang. Beliau kemudian memperingatkan kaumnya, agar tidak mempersekutukan Allah dengan selain-Nya (Qs. Al-An’am: 75-83).
Nabi Muhammad pun diketahui ber-tahannuts di Gua Hira’ sekitar 3 tahun menjelang menerima wahyu. “Tahannuts” artinya beribadah dalam suatu cara tertentu selama beberapa malam.
Tafakkur adalah ibadah yang efisien tanpa anggaran dana, namun sangat efektif membangun jiwa. Bila kita belum memiliki cukup uang untuk pergi berhaji atau umrah, tidak usah berkecil hati. Haji memang ibadah yang tak tergantikan oleh selainnya, dan kita wajib melaksanakannya bila telah diberi kelapangan.
Akan tetapi, kita tidak harus menunggu saat-saat bersimpuh di depan Ka’bah untuk merasakan kedekatan dengan Allah. Sebab, kita tidak perlu memesan tiket untuk melihat matahari terbit. Tidak ada biro perjalanan yang harus dihubungi untuk memandang bulan purnama.
Di mana pun kita berada, matahari, bulan dan bintang dapat dilihat. Berhentilah sejenak meski hanya 5 menit, lalu buka hati dan pandanglah ayat-ayat Allah di sekeliling kita. Setelah itu, biarkan Allah sendiri yang menjatuhkan ketenangan dan terapi ruhiyah ke dalam jiwa kita.
Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, ketika mengulas surah al-Muzzamil dan bagaimana Rasulullah melakukan ‘uzlah (menyendiri) di Gua Hira’ sebelum menerima wahyu, Sayyid Quthb menulis:
“Pilihan beliau untuk ber-‘uzlah adalah salah satu rekayasa Allah untuk mempersiapkan diri beliau menerima suatu urusan yang sangat besar yang telah menantinya. Dalam ‘uzlah ini beliau mengasingkan diri, menengok ke dalam dirinya sendiri, membebaskan diri dari hiruk-pikuk kehidupan serta kesibukan-kesibukannya yang remeh-temeh.
Beliau mencurahkan diri untuk (mendengar) bisikan alam semesta, menangkap inspirasi darinya, sebagai penanda atas penciptaan. Ruh beliau bertasbih bersama dengan ruh semesta raya, berpelukan erat dengan seluruh keindahan serta kesempurnaannya, berinteraksi dengan hakikat maha besar, terlatih untuk berinteraksi dengannya dalam suasana penuh pengertian dan pemahaman ………
Semestinyalah ada sejenak waktu baginya untuk merenung, ber-tadabbur, berinteraksi intensif dengan alam raya berikut hakikat-hakikatnya yang cemerlang. Terbenam lama dalam realitas hidup seringkali menyeret jiwa kepada rasa nyaman, terlelap dalam pelukan hidup, dan tidak akan berusaha mengubahnya.
Adapun melepaskan serta mengasingkan diri darinya … maka kehidupan akan benar-benar bisa terlepas dari belenggu realitas-realitas kecil, kesibukan-kesibukan yang tidak berarti … yang akan membuat sebuah jiwa besar mampu melihat sesuatu yang lebih besar, melatihnya untuk (peka terhadap) perasaan-perasaan (tertentu) dengan segenap kesempurnaan (potensi) dirinya … tidak memerlukan kepada kebiasaan manusia (di sekitarnya) … menyerap sumbernya dari selain kebiasaan yang sudah umum.”
Demikianlah. Sedemikian hebatnya tafakkur itu sehingga Al-Qur’an berulangkali menganjurkan kita untuk melakukannya. Kita dapat menderetkan puluhan ayat dalam tema ini, misalnya Ali ‘Imran: 189-194, ar-Rum: 8-9, Yunus: 24, ar-Ra’d: 1-4, an-Nahl: 10-18, dll.
Saat bulan Ramadhan tiba, sejenak berilah jiwa kita kesempatan. Ibarat mesin yang terus-menerus dipakai, ada masanya untuk mendapat perawatan berkala dalam skala lebih besar dan intensif.
Sebenarnya, Allah sudah memberi kita peluang harian untuk merawat jiwa itu, melalui shalat lima waktu. Namun, mari mengingat-ingat kembali, berapa kali kita merasakan shalat yang khusyu’ tanpa terselipi bisikan-bisikan duniawi? Bukankah kita sering mengerjakan shalat dengan cepat karena baru sempat ditunaikan ketika sudah injury time?
Allah juga memberi kita kesempatan mingguan melalui shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah. Akan tetapi, bukankah kita lebih sering datang terlambat atau tertidur pada saat sang khatib menyampaikan nasehat-nasehatnya?
Jadi, beri jiwamu kesempatan untuk memperbaharui diri, sebelum rusak dan tidak tertolong lagi! Wallahu a’lam.
MAMUJU (Hidayatullah.or.id) – Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Sulawesi Barat (PW Mushida Sulbar) menggelar Daurah Marhalah Ula bertempat di Aula Kampus Madya Hidayatullah Mamuju selama 3 hari, 25-27 Muharam 1443 (3-5/9/2021).
Program tersebut terselenggara atas kerjasama seluruh Pengurus Daerah serta dukungan penuh dari organisasi induk. Kegiatan yang mengangkat tema “Mencetak dan Meningkatkan Kualitas Kader Muslimat Hidayatullah Menuju Kuatnya Keluargan Qur’ani” ini menghadirkan tiga orang pemateri.
Mereka adalah Ustadz Abdurrahman Hasan, S.Pd.I (DMW Sulbar), Ustadzah Miftah Assa’adah, S.Pd.I (PP Mushida) dan Ustadzah Emilyasari, S.H.I (MMW Sulbar).
Hadir dalam pembukaan Ketua Yayasan Pendidikan Cerdas Mandiri (YPCM) Hidayatullah Mamuju, Ustadz Najamuddin, M.Pd memberikan sambutan, sekaligus membuka secara resmi. Beliau mewakili Ketua DPW Hidayatullah Sulbar karena berhalangan.
Dalam sambutan Ketua Departemen Perkaderan DPW Hidayatullah Sulbar ini, menekankan perlunya loyalitas, integritas dan pengorbanan seorang kader kepada organisasi dan kepemimpinan.
“Selanjutnya, kepemimpinan dalam sebuah organisasi dalam istilah internal Hidayatullah yaitu imamah jamaah harus diaplikasikan dalam keseharian kita. Kemudian, bagaimana menjaga ukhuwah serta mujahadah dalam upaya mengupgrade kualitas diri. Yang ketiga, adalah bagaimana untuk kemudian bisa lebih aktif lagi dalam berhalaqah,” kata Ust Najam.
Ustadz Najam, begitu biasa dipanggil, menambahkan pula bahwa Muslimat Hidayatullah harus mampu memberi penguatan visi Mushida. Yaitu, bagaimana membangun keluarga Qur’ani yang dimulai dari rumah masing-masing.
Sebab, terangnya, dengan memulai dari rumah dengan sendirinya anak-anak dan anggota keluarga lainnya dapat tersentuh dan mentransformasikan nilai-nilai al-Qur’an dalam diri dan keluarga.
Turut memberikan sambutan dalam acara pembukaan tersebut Ketua Pengurus Wilayah (PW) Mushida Sulawesi Barat sebagai penyelenggara, Ustadzah Salbiana, S.Pd.
“Pengurus Wilayah Mushida Sulbar menggelar Daurah Marhalah Ula ini untuk yang pertama kalinya dalam kepemimpinan kami,” kata Salbiana.
“Alhamdulillah, kita berdoa daurah ini berjalan lancar dan sukses, tanpa ada kendala yang berarti.” pungkasnya
Ketua Pengurus Daerah Mushida Mamuju sebagai shahibulbait Ustadzah Siti Ramlah menyambut baik pelaksanaan Daurah Marhalah Ula ini.
“Terima kasih yang setinggi-tingginya karena Pengurus Wilayah sudah memberikan kepercayaan dan amanah kepada kami. Yang kedua, kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya sekiranya ada hal-hal yang kurang berkenan,” harap beliau dalam sambutannya.
PW Mushida Sulbar dalam daurah kali ini mampu menghadirkan tidak kurang dari 30-an peserta. Mereka berasal dari Mushida Kabupaten se-Sulawesi Barat.
Dalam waktu yang bersamaan pula Pengurus Pusat Mushida juga menyelenggarakan kegiatan serupa yaitu Daurah Murabbiyah Wustha yang bertempat di lantai 2 Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang, Jakarta.*/Massiara
BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Asuransi Syariah Keluarga Indonesia (ASYKI) melakukan kerjasama untuk meningkatkan literasi dan penghimpunan wakaf melalui program Asuransi Ikhtiar Wakaf. ASYKI menggandeng nazhir wakaf produktif dari Hidayatullah yaitu Baitul Wakaf. Kerjasama diteken di kantor Pusat ASYKI, Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/9/2021)
Nota kesepahaman (MoU) ini ditandatangani oleh Mudzakir, Direktur Utama PT Asuransi Syariah Keluarga Indonesia dan Rama Wijaya selaku Direktur Baitul Wakaf.
Dalam keterangannya, Mudzakir mengatakan dengan adanya kerjasama ini diharapkan literasi wakaf akan terus meningkat dan kemudahan menunaikan wakaf semakin banyak pilihan yang tersedia.
Dengan begitu, terang dia, pertumbuhan wakaf akan terus naik kemudian mendukung pertumbuhan ekonomi dan manfaat yang dirasakan masyarakat semakin luas.
“Sejak awal kami memiliki kepedulian dan perhatian untuk membangun kemandirian dan mengembangkan kesejahteraan ekonomi masyarakat melalui Asuransi Syariah. Kami juga memiliki konsep dan filosofi Ta’awun dimana konsep Ta’awun dalam Al-Qur’an telah dijelaskan,” kata dia dalam siaran pers Baitul Wakaf.
Mudzakir menambahkan, dengan menggandeng Baitul Wakaf selain sebagai dukungan kepada kiprahnya yang sudah sangat uas karena menjadi bagian dari Hidayatullah, juga akan memberikan pilihan kepada nasabah untuk menyalurkan dana wakaf dari nasabah dan dukungan untuk mengoptimalkan dana wakaf.
Hal yang sama juga disampaikan Rama pada saat MoU dilakukan. Rama mengatakan pihaknya bersyukur dengan terus bertambahnya mitra dalam memberikan sosialisasi, kemudahan dan layanan untuk menunaikan wakaf.
“Dengan sinergi ini semoga capaian wakaf bisa mengalami peningkatan yang signifikan karena untuk mengejar keutamaan bisa tunaikan wakaf saat ini bisa dengan mudah dilakukan tidak harus berupa asset dalam jumlah besar,” ujar Rama.
Rama menambahkan dana wakaf yang terhimpun melalui kerjasama ini akan dialokasikan untuk mendukung sejumlah program wakaf produktif yang telah berjalan, mulai sektor peternakan, pertanian, retail dan wakaf sawah produktif.
“Perlu kolaborasi dan sinergi agar manfaat pengelolaan wakaf produktif semakin besar dirasakan manfaatnya, berbeda dengan wakaflangsung seperti halnya masjid dan sumur setelah jadi bisa saat itu juga dirasakan,” tuturnya.
Mudzakir menuturkan, Asuransi Ikhtiar Wakaf adalah produk asuransi jiwa individu Syariah yang dirancang untuk memberikan manfaat wakaf selama peserta masih hidup dan peserta juga tetap bisa berwakaf walaupun peserta mengalami musibah meninggal dunia.
“Saatnya berwakaf untuk saling menolong dan berbagi keberkahan,” tukasnya.
DIANTARA putusan Musyawarah Majelis Syura (MMS) Hidayatullah pada pekan ketiga Muharram 1443 lalu adalah penetapan revisi Peraturan Organisasi (PO) tentang Amal Usaha Hidayatullah.
Perbincangan soal PO ini sejak di Badan Pekerja, Rapat Kerja Dewan Mudzakarah (DM) dengan Dewan Pengurus Pusat (DPP), rapat konsultasi terbatas DM, DPP, Dewan Murabbi Pusat (DMP) dengan Dewan Pertimbangan (DP) hingga pengambilan kata akhir dalam MMS terbilang cukup panjang dan menghadirkan perdebatan sangat bermutu yang sejatinya merupakan buah berkah dari musyawarah.
Perbincangan dinamis ini tentu saja dipicu oleh keinginan para pengambil kebijakan untuk mengakomodir masukan-masukan dari stakeholder diantaranya para pengurus wilayah dan daerah. Selain itu, agar regulasi ini selaras dengan maksud pendirian amal usaha untuk mewujudkan visi dan melaksanakan misi Hidayatullah.
Dalam revisi PO ini menghadirkan jaminan keamanan dan keberlanjutan kepemilikan asset yayasan dengan penegasan bahwa semua amal usaha harus berbadan hukun perkumpulan. Ke depan pendirian amal usaha bersifat tersentral berdasarkan keputusan DPP.
Untuk merawat semangat pendirian dan pengelolaan amal usaha di semua tingkatan tidak lagi dikenal istilah perubahan kepemilikan atau kepengawasan walaupun telah maju dan berkembang.
Amal usaha yang kepengawasannya oleh daerah misalnya jika mampu akan diberi ruang untuk membuka rumah sakit dan unit usaha strategis lainnya dengan persetujuan pusat, tanpa perubahan kepengawasan.
Semua amal usaha status kepengawasannya akan diatur dan ditetapkan oleh DPP dengan surat keputusan. Kebijakan ini akan mengakhiri perubahan status amal usaha yang mengikuti posisi tugas pengelolanya.
Aturan lainnya mempertegas batasan pengembangan amal usaha di luar negeri, wilayah dan daerah merupakan wewenang organisasi. Atau dengan kata lain amal usaha tidak diperkenankan membuat amal usaha baru di luar domisilinya apatah lagi amal usaha tersebut bukan termasuk bidang garapannya.
Pengelola amal usaha kedepan diwajibkan mengalokasikan dana di Anggaran Pendapatan Belanja Yayasan (APBY) untuk peningkatan kualitas Sumber Daya Insani (SDI) dan alokasi dana khusus yang bersifat sosial untuk kader yang dhuafa.
Organisasi juga diberi kewenangan untuk melakukan standarisasi dan upaya sentralisasi. Standarisasi dimaksudkan agar pengelolaan semua amal usaha benar-benar dikelola secara profesional sebagaimana amanat Pedoman Dasar Organisasi (PDO) pasal 6 ayat 3. Sentralisasi dimaksudkan sebagai konsolidasi potensi amal usaha untuk optimalisasi pelayanan kepada ummat dan bangsa sesuai bidang garapnya.
Bidang garap amal usaha juga diperluas dengan bidang ZISWAF dan ekonomi keummatan. Menjamin terlaksananya PO Amal Usaha secara baik disertai dengan sangsi sebagaimana diatur pada pasal 27; para pengurus dan pegawai amal usaha yang melanggar syariat dan ketentuan dalam peraturan organisasi diatur berdasar keputusan komite etik dan diberikan sangsi yang relevan sesuai keputusan.
Sangsi, sebagaimana ayat berikutnya, diberikan oleh organisasi mulai dari beberapa peringatan, pemberhentian sementara, pemberhentian tetap sampai tidak boleh menjadi pengurus struktural Hidayatullah.
Demikian beberapa poin revisi regulasi yang menjadi paradigma baru pengelolaan amal usaha. Perbaikan regulasi ini niatannya adalah agar kehadiran amal usaha seiring dengan tujuannya; pertama, mengembangkan kapasitas dan jejaring organisasi melalui pengembangan amal usaha secara profesional. Kedua, memberi wadah aktualisasi potensi anggota dan kader.
Lalu, Ketiga, mengembangkan sinergi dengan berbagai pihak dalam kerangka musabaqah filkhairat. Keempat, untuk perekrutan anggota dan kader Hidayatullah yang terbaik. Kelima, meningkatkan layanan keummatan yang integral dengan perjuangan Membangun Peradaban Islam. Keenam, memberdayakan dan mengangkat harkat kaum muslimin (PDO, pasal 3).
Semoga regulasi hasil revisi ini terus menggairahkan para pengawas dan pengelola amal usaha untuk memberi pelayanan terbaik kepada ummat dan bangsa.
*)Nursyamsa Hadis,Penulis adalah Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Ummat DPP Hidayatullah
BANGLI (Hidayatullah.or.id) — Setiap dai dimanapun dia berkiprah harus selalu meluruskan niatnya, karena dengan niat yang benar itulah yang akan mendatangkan pertolongan dari Allah SWT.
Demikian dikatakan dai senior Ust Ahmad Edy Purwanto. Dai yang pernah ditugaskan Hidayatullah berdakwah ke Timor Timur (Timtim) ini mengingatkan bahwa niat lurus harus selalu dijaga. Edy tugas ke Kupang sebelum referendum kemerdekaan Timor Timur yang kini menjadi Republik Demokratik Timor Leste ini,
“Jaaangan sampai salah niat. Jadi, hati hati dengan niat. (Hanya) Allah-lah tujuan kita. Insya Allah dengan niat itulah akan ada jaminan pertolongan dari Allah fiddunya wal akhir,” katanya dalam obrolan virtual dengan Hidayatullah.or.id yang ditulis, Selasa (7/9/2021).
Edy mengatakan, seorang dai harus meyakini betul firman Allah SWT dalam Al Quran surah Muhammad Ayat 7 bahwa siapa yang menolong agama Allah maka pasti akan ditolong (intansurullaaha yansurukum).
Sehingga, menurutnya, jangan ditanyakan pertolongan Allah jika sudah menolong agama Allah karena itu sudah jandi Allah, maka pasti.
“Pertanyaannya sekarang adalah, sudahkah kita menolong agama Allah. Bukan Allah butuh kita tetapi kita yang butuh Allah,” imbuh suami Uswatun Hasanah ini.
“Artinya, Islam yang rahmatan lil ‘alamiin ini tidak sekedar kita nikmati sendiri karena tujuan kita hidup di dunia ini ada dua, yaitu, satu, ibadah kepada Allah. Kedua, kita sebagai khalifah agar bagaimana rahmatan lil ‘alamiin ini bisa terbangun di lingkungan kita dan lebih luas lagi untuk masyarakat,” imbuhnya.
Dai yang pernah mensyahadatkan 66 orang suku Tengger Senduro ini pun memberikan kiat berdakwah, yakni berupaya menjadi manusia yang memberi manfaat kepada siapapun dan dimanapun berada.
“Hal ini sebagaimana pesan Nabi bahwa sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat pada manusia lainnya. Tapi, ingat, semua itu harus didasari pada niat,” katanya.
Kini Edy Purwanto mengabdi Provinsi Bali. Tepatnya di Desa Kutuh, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Di sini ia membina juga sejumlah muallaf.
Sebelumnya ia ditugaskan merintis dakwah di Kupang bersama Ust Abdullah Azzam pada tahun 1993. Hanya sekitar 1 tahun di Kupang, ia mendapat mendapat tugas baru untuk ke Timor Timur.
Bersama sahabatnya, Ust Hanafi Martin, seorang muhtadin asli Timtim, mereka berkiprah di Bumi Lorosae tepatnya di Fatuhada. Mereka lalu mendirikan Yayasan Al Ishlah untuk membina muallaf di desa Daisua, Kecamatan Same, distrik Manufahi, Timtim Selatan.
Dakwah di daerah minoritas muslim di Timtim memang tidak mudah. Edy dan Martin pun merasakan rintangan itu. Bahkan mereka sempat harus mendekam di penjara 4 bulan. (ybh/hio)
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Pondok Pesantren Hidayatullah UmmulQura Balikpapan menggelar Pernikahan Mubarak sebanyak 29 pasang santri. Acara Walimatul ‘Urs pernikahan tersebut digelar di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Induk Gunung Tembak, kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Ahad, 27 Muharam 1443 (05/09/2021).
Masih dalam suasana Muharram 1443H dan Milad 50 Tahun Hidayatullah, prosesi aqad nikah peserta pernikahan ini berlangsung sakral di ruang utama masjid. Pernikahan massal ini pun digelar dengan menerapkan protokol kesehatan dalam upaya turut menghentikan pandemi Covid-19.
Pantauan Media Center UmmulQura (MCU) Hidayatullah, tampak para peserta duduk di kursi yang diatur berjarak. Peserta juga menggunakan masker dan memakai sarung tangan, begitu pula untuk dua orang petugas KUA yang memandu setiap prosesi ijab qabul.
Acara ini dilangsungkan di dua tempat terpisah. Khusus putra berlangsung di Masjid Ar-Riyadh. Sedangkan khusus putri digelar di gedung dan area khusus putri.
Walimatul ‘Ursy ini disaksikan oleh para tamu undangan, santri, warga, serta jamaah Hidayatullah, baik secara offline maupun online via live streaming di kanal Youtube LPPH Gunung Tembak.
Khutbah nikah disampaikan oleh Ustadz Dzulkifli Manshur Salbu yang juga Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Selatan. Dalam khutbahnya, Ustadz Dzulkifli mengingatkan bahwa nikah merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Ia juga mengutip sabda Rasul yang menekankan kepada para pemuda untuk segera menikah bagi yang sudah mampu. “Jika kalian (para pemuda, red) telah sanggup untuk menikah, menikahlah!” ujar sang ustadz seraya memberi penekanan lewat gerakan turun naik kepalanya.
Dalam prosesi aqad nikah yang berlangsung sakral, terkadang tampak menegangkan bagi sang calon pengantin, terutama yang kurang lancar mengucapkan ijab qabul. Bahkan ada yang harus diulang sampai tiga kali baru dianggap sah oleh para saksi dan hadirin.
Sebagian peserta nikah lainnya tampak mengucapkan ijab qabul dengan lancar dan mantap dengan satu kali ucapan saja.
“Sah!”
“Barakallah!”
Seketika, suasana acara yang dipandu MC Ustadz Mursyid itu jadi cair tatkala seorang peserta selesai dinikahkan.
“Baarakallaahu fiikum.. Jogja turut berbahagia,” seorang netizen mengirimkan doanya lewat siaran Youtube yang ditonton lebih dari 7 ribu tayangan itu.
Acara ini turut dihadiri langsung oleh Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah Ustadz Naspir Arsyad, Ketua Dewan Pembina Hidayatullah UmmulQura Ustadz Hasyim H, Ketua YPPH Balikpapan Ustadz Hamzah Akbar beserta para jajaran pengurus Yayasan, dan para Dewan Pembina dan Dewan Pengawas.
Dalam sambutannya, Ustadz Hamzah menyampaikan rasa syukur kepada Allah atas digelarnya acara tersebut. Sejak awal, rangkaian proses pernikahan ini berlangsung memakan waktu, tenaga, dan pikiran berbagai pihak yang tidak sedikit. Baik di jajaran Steering Committee maupun panitia pelaksana teknis.
“Saya sebagai steering muda yang mendampingi orang-orang tua kita yang Alhamdulillah Bapak Pemimpin Umum menyempatkan diri untuk finalisasinya, dua kali hadir dalam pertemuan steering. Kemudian orang-orang tua kita Alhamdulillah mengawal sekitar 15 kali pertemuan.
Jangan dikira kalau pertemuan itu satu jam. Kalau mulai habis isya biasa sampai jam 12. Kalau mulai habis shalat subuh, biasa sampai jam 12 siang. Terus itu dilakukan dalam rangkaian melakukan ikhtiar penuh,” jelas ustadz yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Balikpapan ini.
Ikhtiar itu antara lain agar para calon pengantin mendapatkan pasangan masing-masing yang terbaik, sesuai dengan berbagai pertimbangan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam proses pernikahan 29 santri-santriwati tersebut.
“Agar apa yang kita berikan benar-benar menjadi sesuatu yang terbaik untuk semua kader,” ujar Ustadz Hamzah menekankan.
Para peserta pernikahan tersebut merupakan kader-kader Hidayatullah dari berbagai daerah tak cuma Balikpapan. Mereka antara lain ditugaskan di Banjarmasin (Kalsel), Biak (Papua), Surabaya (Jawa Timur), DKI Jakarta, Palu (Sulawesi Tengah), Nunukan (Kalimantan Utara), Banten, dan sebagainya.
Sebagai simbolisasi penugasan, pada kesempatan itu juga dilakukan pengalungan surban dakwah kepada tiga peserta perwakilan. Pengalungan dilakukan oleh KH Abdurrahman Muhammad, Ustadz Hasyim HS, dan Ustadz Hamzah Akbar.
Walimatul ‘Ursy yang diselingi dengan penampilan Tim Nasyid Mahasiswa Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) STIS Hidayatullah ini bertambah semarak dengan penyampaian khutbah nikah spesial oleh Ustadz Yusuf Suradji, Dewan Pembina Hidayatullah UmmulQura.
Dari sekian menit penyampaiannya, Ustadz Yusuf antara lain mengingatkan para pengantin agar selalu siap untuk ditugaskan berdakwah dimana pun. Bukan omong kosong, Ustadz Yusuf selama ini memang dikenal sebagai salah satu dai Hidayatullah yang kerap diterjunkan berdakwah di berbagai tempat tugas.
“Waktu saya nikah umur 21, istri saya umur 15 tahun. Dia mengawal saya 43 tahun berjuang. (Di) Irian Jaya 11 tahun, Tarakan 6 tahun, di Ambon di Ternate 1 tahun, di Palu 1 tahun, di Samarinda di Lempake. Pokoknya seluruh Kaltim saya sudah menjajakinya dan sudah ditugaskan”.
“Istri saya mengawal saya selama 43 tahun dikaruniai anak 11 orang, atas kerjasama yang baik antara saya dan istri saya, lahirlah anak saya tiap tahun, hehehe…. Dan cucu saya sekarang sudah 18,” tutur dai yang dikenal humoris ini.
Sementara Ustadz Naspi yang juga didaulat menyampaikan ceramah nikah, antara lain menyampaikan tentang chemistry –perasaan yang cocok dan nyambung antara satu dengan yang lain– dalam rumah tangga.
Mengutip sebuah hadits Nabi, ia mengatakan bahwa seseorang dinikahi karena empat hal, yaitu hartanya, parasnya, nasabnya, dan agamanya. Yang terpenting dari keempat hal itu adalah agama. “Jatuh semua yang tiga itu (hartanya, parasnya, nasabnya, red), tidak ada nilainya, kalau tidak ada agamanya,” ujarnya.
Dan inilah, kata Ustadz Naspi, chemistry yang paling kuat dalam rumah tangga. “Seorang mujahid itu mencari chemistry dari agamanya, bukan karena tampannya, bukan karena fisiknya, bukan karena bodinya. Dan inilah yang ada pada 30 pasang (atau 29, red) peserta pernikahan ini,” ujarnya.
Para peserta pernikahan itu tampak berbahagia. wajah mereka berbinar-binar meskipun cukup lelah mengikuti rangkaian prosesi jelang pernikahan, termasuk saat dikarantina beberapa hari semasa menjalani pembekalan pra nikah.
Selepas acara di masjid pada Ahad (05/09/2021) pagi itu, para pengantin diarahkan ke gedung WKP. Di sini, mereka kembali diberikan pelatihan singkat oleh panitia terkait tata cara memberikan mahar kepada istri masing-masing. Adapun penyerahan mahar dilangsungkan di rumah orangtua/ mertua/ wali masing-masing, atau di rumah warga yang ditelah ditentukan sebelumnya.
Biasanya, rumah yang ditempati penyerahan mahar sekaligus merupakan tempat tinggal sementara para pengantin muda itu sebelum pergi ke tempat tugas masing-masing, atau sebelum ditempatkan di rumah tersendiri yang disediakan oleh pesantren.
Rabuno, salah seorang pengantin, tampak bahagia akhirnya bisa mempersunting salah seorang gadis yang meskipun tidak ia kenal sebelummya.
Hal senada dialami Asrijal, rekan Rabuno sesama alumnus STIS Hidayatullah. Ia juga sebelumnya tidak tahu menahu siapa calon istri dan calon mertuanya.
Namun, karena ketaatan, ia mengikuti saja arahan dan bimbingan dari para ustadz khususnya di kepanitiaan terkait jodoh yang dipilihkan untuknya. “Sami’na wa’atho’na,” ujarnya mantap yang kini telah berstatus sebagai seorang suami. Barakallahulakum.*/ Muh. Abdus Syakur/MCU