Beranda blog Halaman 395

Tahun Politik dan Simpati Allah

0

DI TAHUN politik ini, berbicara tentang “menarik simpati Allah” sangatlah penting. Sebab, pada kenyataannya banyak orang sangat sibuk menarik simpati manusia alias “politik pencitraan”, sementara kredibilitas dirinya di hadapan Allah sangat patut dipertanyakan.

Kita memang tidak tahu isi hati mereka, namun bila amalan-amalan lahiriahnya jauh dari keridhaan Allah, kita pun sangat layak untuk meragukan kejujuran maupun ketulusannya.

Artikel ini tidak hendak mengupas Demokrasi atau Pemilu dalam pandangan Islam. Selain forumnya tidak memadai, jauh lebih baik bila Anda bertanya kepada ahlinya. Di sini, mari mencermati sisi lain yang mengemuka, yaitu kampanye. Semoga kita bisa memetik pelajaran darinya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “kampanye” berarti (1) gerakan (tindakan) serentak (untuk melawan, mengadakan aksi, dsb); (2) kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yang bersaing memperebutkan kedudukan dalam parlemen dsb untuk mendapat dukungan massa pemilih dalam suatu pemungutan suara.

Definisi ini mengungkapkan banyak hal, termasuk misi dan tujuan para partisipan di dalamnya. Sebab, di sana terkandung beberapa kata dan istilah khusus seperti organisasi politik, bersaing, memperebutkan kedudukan, dukungan massa, dll. Masing-masing pasti menyiratkan makna dan kesan tertentu di benak kita, entah negatif maupun positif.

Jelasnya, kampanye adalah persaingan dan perebutan kedudukan maupun dukungan massa. Banyak diantaranya yang mengabaikan etika dan syariat, sehingga kegiatan seperti ini mirip dengan “memperebutkan dunia” yang dicela dalam karya-karya ulama klasik. Sebab, bila saja tujuan itu bersih dan tulus, tatacaranya tentulah sama bersih dan tulusnya.

Lihatlah, semata-mata demi kedudukan dan dukungan massa itu telah banyak orang berani mengumbar janji dusta, memalsukan ijazah, berlaku curang, main suap, menyerempet kekufuran dan kemusyrikan, mencemooh, memfitnah, dsb. Sepertinya, mereka berusaha keras agar disanjung dan didukung manusia, namun di saat bersamaan telah mencemarkan dirinya di hadapan Allah.

Sungguh, kejayaan yang ditegakkan di atas kemurkaan Tuhan tidak pernah bertahan lama. Aduh, betapa malangnya kerja keras yang hanya diniatkan untuk memperebutkan dunia! Betapa ruginya orang-orang yang beramal hanya untuk menarik simpati manusia, melupakan simpati Allah!

Al-Hafizh Ibnul Jauzi berkata:

“Saya merasa heran dengan orang yang kezuhudannya dibuat-buat agar dilihat sesama manusia. Dengan tindakan itu ia berharap menjadi dekat di hati mereka, namun ia lupa bahwa hati mereka sebenarnya berada di tangan Dzat yang seharusnya menjadi tujuan amal (yakni, Allah). Jika Allah ridha kepada amalnya dan menilainya sebagai amal yang ikhlas, Dia pasti akan mengarahkan hati-hati manusia kepadanya.

Namun, jika Dia melihat amal itu tidak ikhlas, Dia akan membuat hati-hati manusia berpaling darinya. Dan, kapan pun seseorang beramal dengan tujuan ingin melihat (adanya) perhatian orang lain kepadanya, maka ia telah menyerempet kemusyrikan, sebab mestinya ia sudah puas dengan perhatian Allah saja kepadanya. Diantara yang harus ada dalam keikhlasan adalah tidak menginginkan perhatian orang lain.

Keikhlasan itu diraih bukan dengan mengharap perhatian mereka, namun justru dengan membencinya. Hendaknya seseorang mengetahui bahwa amal perbuatannya bisa dirasakan orang lain secara global, meskipun mereka tidak pernah melihatnya secara langsung. Sebab, hati bisa mengenali orang shalih melalui keshalihannya, meskipun ia tidak menyaksikannya sendiri.

Adapun orang yang dengan amalnya menghendaki perhatian sesama makhluk, maka amalnya telah berlalu dalam kesia-siaan. Sebab, amal itu tidak diterima oleh Sang Pencipta, tidak juga oleh sesama makhluk. Hati mereka telah berpaling darinya. Maka, sia-sialah ilmu, dan usia pun terbuang percuma.” (Shaidul Khathir, hal. 374).

Demikianlah kenyataannya. Ketika seseorang tidak beriman dan/atau enggan melaksanakan kewajibannya kepada Allah, maka janji-janji untuk mengabdi dan berkontribusi kepada masyarakat tidak mungkin diniatkan demi meraih pahala dan pasti bukan bagian dari amal shalih. Semua akan sarat interest duniawi seperti uang, kekuasaan, fanatisme golongan, dsb.

Apalagi, jika dia sudah dikenal luas kefasikannya, jelas lebih berbahaya lagi. Jangan sekali-kali mengira serigala tersenyum bila ia menampakkan gigi-giginya! Sebentar kemudian, bila ada kesempatan, ia pasti menerkam Anda!

Mestinya, kita harus mendahulukan usaha untuk menjadi sosok yang pantas mendapatkan simpati Allah, bukan simpati manusia. Seluruh bagian syariat Islam pada dasarnya telah didesain sedemikian rupa agar menjadi sarana untuk menarik simpati Allah tsb, dan menjadi tugas kita untuk memastikan pengamalannya. Adapun janji Allah, tidak perlu dipertanyakan lagi.

Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini:

“Sungguh bila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memanggil Jibril lalu berfirman: ‘Sungguh Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia!’ Maka, Jibril pun mencintainya. Ia kemudian berseru diantara para penghuni langit: ‘Sungguh Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia!’ Lalu, para penghuni langit pun mencintainya. Kemudian, ditimbulkanlah penerimaan dan kecintaan terhadapnya di muka bumi.

(Sebaliknya), bila Allah membenci seorang hamba, Dia akan memanggil Jibril lalu berfirman: ‘Sungguh Aku membenci si fulan, maka bencilah dia!’ Maka, Jibril pun membencinya. Ia kemudian berseru diantara para penghuni langit: ‘Sungguh Allah membenci si fulan, maka bencilah dia!’ Lalu, para penghuni langit pun membencinya. Kemudian, ditimbulkanlah kebencinan terhadapnya di muka bumi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah). Wallahu a’lam.

Ust Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Malang. Ikuti tulisan beliau lainnya di sini.

Ketum DPP Hidayatullah Beri Orasi Ilmiah di STID M Natsir

0

BEKASI (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr Nashirul Haq, memberikan orasi ilmiah pada wisuda ke 11 Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Muhammad Natsir pada Sabtu pagi, 22 Rabiul Akhir 1443 (27/11/2021).

Hadir dalam acara yang berlangsung di Kampus Putra STID M Natsir, Bekasi, Jawa Barat tersebut Ketua Pembina Dewan Da’wah Islamiyah Indoneaia (DDII) Prof Didin Hifidhuddin serta Ketua Umum DDII Dr Adhian Husaini.

Dalam orasinya, Nashirul mengemukakan bahwa dakwah tak bisa dilakukan secara asal-asalan. Dakwah harus dilakukan di atas ilmu, dengan metodologi yang tepat, dan sistematika yang benar, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

“Allah Ta’ala menurunkan al-Qur’an tidak secara serentak, namun bertahap. Begitulah cara dakwah yang benar,” jelas Nashirul.

Kaum kafir pernah mempertanyakan hal ini seraya mengolok-olok sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala dalam surat al-Furqon [25] ayat 32, “Mengapa al-Qur’an tidak diturunkan kepada Muhammad secara sekaligus?” Lalu Allah Ta’ala menjawab, “Agar Kami memperteguh hatimu, Muhammad.”

Itu berarti, kata Nashirul, tujuan diturunkannya al-Qur’an secara bertahap adalah agar al-Qur’an bisa dipahami dan diamalkan oleh seluruh umat manusia. Tahapan turunnya al-Qur’an pun berdasarkan apa yang paling penting didakwahkan dari segala hal yang penting lainnya.

Jika Islam didakwahkan dengan cara yang salah maka umat Islam akan mudah dipermainkan oleh lawan. “Kita akan merasa kelelahan dan kecewa,” kata Nashirul.

Namun, jika cara yang kita lakukan benar, maka kita tak akan kelelahan. Sebab, kita meyakini bahwa cara ini pula yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dahulu kala.

Pendiri Hidayatullah, Allahuyarham Ust Abdullah Said, pernah mengatakan bahwa umat Islam seharusnya tidak menari mengikuti irama gendang lawan. Umat Islam harus bisa membuat irama sendiri. Ini semua, kata Nashirul, hanya bisa terjadi jika kita memiliki manhaj yang benar sebagaimana manhaj Rasulullah SAW. *** (Mahladi)

Daurah Murabbiyah Ula Muslimat Hidayatullah Kepulauan Riau

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Bertempat di Aula Kampus Utama Hidayatullah Batam, Majelis Murabbiyah Wilayah (MMW) dan Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah Kepulauan Riau menyelenggarakan Daurah Murabbiyah Ula, Senin, 17 Rabiul Akhir 1443 H (22/9/2021).

Acara yang bertujuan untuk menghasilkan murabbiyah halaqah tersebut menghadirkan narasumber dari Majelis Murabbiyah Pusat (MMP) Muslimat Hidayatullah, di antaranya Ustadzah Ir. Emi Pitoyanti, Ustadzah Dede Agustina, S.E dan Ustadzah Nur Iryani, S.Pd.I. Kegiatan tersebut terselenggara atas dukungan Kampus Utama Hidayatullah Batam dan Laznas Baitul Maal Hidayatullah Kepri.

Hadir dalam acara yang digelar di Aula Serbaguna, Kampus I Hidayatullah Batu Aji, Kelurahan Kibing, Kota Batam ini, Ketua Badan Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Batam, KH Jamaluddin Nur, sekaligus didaulat untuk membuka acara.

Turut hadir dalam acara pembukaan, General Manager Baitul Maal Hidayatullah Kepri Ustadz Abdul Azis, SE, Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ustadz Darmansyah, pengurus yayasan dan tamu undangan.

Acara yang diikuti oleh kader Murabbiyah Muslimat Hidayatullah se-Kepulauan Riau tersebut mengangkat tema, “Menjadi Murabbiyah yang Visioner dan Berintegritas Tinggi.” Berlangsung selama tiga hari, Jum’at-Ahad (19-21/9/2021), dan diharapkan dapat melahirkan murabbiyah- murabbiyah halaqah yang visioner dan berintegritas tinggi.

“Tujuannya adalah meningkatkan peran seorang Muslimat dalam upaya membentuk peradaban Islam dengan mencetak murabbiyah yang visioner dan brintegritas tinggi sehingga siap melahirkan kader-kader yang militan dan tangguh,” ujar Ustadz H. Jamaluddin Nur dalam menyampaikan tujuan diadakannya kegiatan ini.

Selanjutnya sambutan dari narasumber utama, Ustadzah Emi Pitoyanti, Ketua MMP Muslimat Hidayatullah yang menekankan peranan dan fungsi murabbiyah sebagai kunci utama dalam urgensi halaqah dan metode dalam proses transfer ilmu kepada para mutarabbiyahnya.

“Dalam ungkapan yang populer disebutkan, bahwa metode lebih utama daripada materi pelajaran. Tapi guru atau murabbi lebih utama dari metode, sedangkan spiritual (ruh) murabbi lebih utama atas semuanya,” papar instruktur nasional Muslimat Hidayatullah ini.

Sehingga Daurah Murobbiyah ini, lanjutnya adalah upaya untuk menerapkan pola di atas.

“Bagaimana agar kegiatan ini mampu menghasilkan murabbiyah yang mumpuni, agar proses tarbiyah di Muslimat Hidayatullah melalui wadah marhalah dan halaqah, dapat berjalan dengan sangat baik, terstandardisasi dan mencapai tujuan yang diharapkan,” ucapnya di hadapan 40 peserta yang mengikuti kegaiatn dauroh.

Senada Ustadzah Emi Pitoyanti, Ketua Majelis Murabbiyah Kepri, Ustadzah Ummu Kaltsum, juga menguatkan hal yang sama tentang pentingnya bagi seorang murabbiyah mengambil peranan penting dalam pembinaan muslimat dengan terus mengajar sambil belajar.

“Apa yang dilakukan ini adalah upaya standardisasi manajemen proses jenjang kekaderan. Sehingga, para muslimat yang tergabung dalam wadah organisasi Mushida betul-betul tersibghah pengetahuan dan pemahaman keislamannya dengan baik serta mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat,” terangnya.

Selain itu Muslimat Hidayatullah juga harus bisa menjadi ikon dakwah bil hal di tengah lingkungan mereka berada.

Master Trainer Daurah Murobbiyah Ula ini, Ustadzah Nur Iryani juga memberikan penguatan agar apapun kondisi yang terjadi di masyarakat, halaqah harus tetap berjalan. Tidak harus bertemu tatap muka, jika kondisi memang tidak memungkinkan halaqah tetap harus berjalan dengan memanfaatkan kemajuan di bidang teknologi, yaitu zoom meeting.

“Transformasi nilai-nilai perkaderan di lembaga ini harus terus berjalan kepada para muslimat yang sangat memiliki peran penting dalam mencetak peradaban Islam,” sambungnya.

Bagi Muslimat Hidayatullah, lanjut Ustadzah Emi, seorang murabbiyah itu harus terus belajar, ibarat sebuah teko jika digunakan menyiram terus menerus namun tak pernah terisi, maka lama-lama akan habis. Kondisi tersebut, kata dia, menyebabkan kegiatan halaqah menjadi sesuatu yang sangat membosankan.

Oleh karenanya, terang Emi, seorang murabbiyah harus terus belajar dan mengupgrade pengetahuannya agar kegiatan halaqah menjadi sesuatu yang sangat dirindu oleh para mutarabbiyahnya.

Dan hal yang paling penting bagi seorang murabbiyah, lanjut dia, adalah memiliki aura positif sehingga para mutarabbiyah nya merasakan ada kenyamanan yang luar biasa ketika dekat dengan murabbiyahnya.

“Aura positif itu tidak harus keluar biaya yang mahal seperti datang ke dokter kecantikan, tidak demikian. Namun semua bisa didapat dengan kekuatan ilahiyah, yaitu Gerakan Nawafil Hidayatullah,” pungkas ustadzah asal Bogor ini.

Ucapan terima kasih kepada semua pihak sehingga acara ini berlangsung sukses, khususnya kepada Ketua Badan Pembina Kampus Utama Hidayatullah Batam Ust. KH. Jamaluddin Nur, GM BMH Kepulauan Riau Ustadz Abdul Azis, Majelis Murabbiyah Wilayah dan Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Kepri serta para peserta Daurah Murabbiyah Ula se-Kepulauan Riau.*/Mushida

Peringati HGN, Ponpes Hidayatullah Timika Beri Penghargaan kepada Guru

0

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Memperingati Hari Guru Nasional (HGN) yang juga bertepatan dengan HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Timika gelar upacara sebagai bentuk penghargaan kepada guru-guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Peringatan tersebut dirangkaian dengan pemberian penghargaan kepada guru-guru yang telah lama mengabdi.

Hal ini dilakukan sebagai bentuk rasa terima kasih atas dedikasi dan tanggung jawabnya dalam mengemban amanah.

Upacara berlangsung khidmat di lapangan Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Kamis, 20 Rabiul Akhir 1443 (25/11/2021).

Kegiatan ini diikuti oleh badan pengawas yayasan, kepala sekolah setiap tingkatan, seluruh dewan guru dan siswa-siswi mulai dari TK, SD, SMP dan SMA.

Pembina Upacara Ust Kasim Rumaf mengatakan, selaku anggota pengawas Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Timika menyampaikan bahwa hendaknya semua menghargai para guru yang begitu berjasa, menjadi penerang, dan pembentuk karakter.

“Guru itu senantiasa mengajarkan kebaikan. Tidak ada yang menghantarkan pada keburukan. Ia (guru) menjadi teladan untuk terciptanya akhlakul karimah,” ungkap Kasim.

Sementara Ketua Lembaga Pendidikan Islam Hidayatullah (LPIH) Timika, Akbar Ridloy, mewakili Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Timika menyampaikan bahwa semuanya harus memberikan inspirasi dan motivasi bagi seluruh civitas akademik. Serta senatiasa meningkatkan prestasi dan mutu sekolah melalui kreativitas dan inovasi guru dan siswa.

“Untuk para guru, jangan pernah lelah untuk berkarya, berinovasi, dan profesional dalam mengemban amanah mulia ini. Kita bangga menjadi guru, karena guru memang bukan orang hebat, namun semua orang hebat berkat jasa guru,” ungkapnya.

Di akhir sambutannya ia mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada guru dan karyawan Sekolah Integral Hidayatullah atas komitmen dan dedikasinya dalam mendidik dan membimbing siswa-siswi, juga seluruh orang tua wali murid yang mempercayakan pendidikannya kepada yayasan. (spc/hio)

Inilah Pesan Indah Para Guru

SETIAP jiwa pasti pernah punya guru. Karena tidak mungkin orang hidup sampai dewasa sedangkan ia tak pernah menuntut ilmu. Saya sendiri adalah orang yang memiliki guru.

Dan, inilah pesan indah para guru dalam hidup ini. “Bagaimana pun hidup seseorang, perjalanan waktu akan mengantarkannya pada apa yang menjadi takdir Allah Ta’ala.”

Pesan itu disampaikan guru matematika saya kala belajar di SMA Negeri 1 Loa Kulu, Bapak Edy Siswoko. Sebagai guru matematika beliau bukan orang yang galak, gampang meledak apalagi mencak-mencak kalau ada murid tidak paham.

Beliau justru sangat humoris, peduli dan telaten di dalam mengajar. Seringkali setiap usai menjelaskan satu materi pelajaran, beliau jeda dengan humor yang membuat segenap murid di kelas bisa tertawa lepas.

Pesan itu beliau sampaikan kepada saya kala saya belajar langsung di kediaman beliau, kala itu tepat di samping timur Polsek Loa Kulu.

Pesan beliau bermakna bahwa sejatinya manusia dengan apa pun yang dialami dan dimiliki, pada akhirnya akan tunduk pada ketetapan Tuhan. Oleh karena itu jangan busungkan dada atau pun putus asa di dalam menjalani kehidupan ini.

Emas Tetaplah Emas

Nasihat guru saya berikutnya adalah “Emas tetaplah emas.” Ungkapan itu disampaikan oleh Ustadz Hamzah Akbar kala memberikan pelajaran hidup kepada saya.

Ustadz Hamzah Akbar adalah sosok pembelajar, koleksi bukunya kala masih menjadi pempimpin Hidayatullah di Kutai Kartangegara sangatlah banyak.

Setiap hari saya selalu mencoba membaca satu demi satu koleksi buku beliau. Dan, dalam tempo 3 tahun, belum seluruhnya saya tuntaskan untuk dibaca.

Arti dari ungkapan beliau adalah seorang anak muda hendaknya tidak terjebak pada pragmatisme dan egosentrisme. Hal yang utama dan pertama harus ada di dalam diri anak muda adalah idealisme, visi dan ketekunan. Insha Allah jika hal itu ada, maka siapa pun yang membenci, itu tidak akan pernah mengurangi kualitas diri anak muda itu sendiri.

Jangan Lemah dan Menyerah

Selanjutnya ungkapan seorang guru berdarah Jawa, yakni Ustadz Endi Haryono. Ia adalah sosok yang memberikan pelajaran komputer dan administrasi kepada saya. Orangnya kala bicara sangat tegas dan lugas, terlebih kala di mimbar. Namun, hatinya sangat lembut.

Setiap kali memorinya mengingat peristiwa yang emosional, seketika ia akan menitikkan air mata. Ungkapannya kepada saya, “Jangan lemah dan menyerah.” Artinya hidup adalah perjuangan, ambillah jalan yang melelahkan di dalam hidup ini karena ibadah, menuntut ilmu atau pun berdakwah.

Beliau menyampaikan itu dengan kekuatan keteladanan. Sebab beliau masuk kuliah S1 di Universitas Kutai Kartanegara kala dirinya telah memiliki dua anak. Satu masa yang umumnya orang lebih realistis dan rasional untuk lebih fokus membangun ekonomi keluarga. Namun, guru saya ini tidak memilih demikian.

Sahabat, tentu kalian juga punya kenangan dari ungkapan guru-guru kalian. Yuk tuliskan dan jabarkan, kemudian siarkan ke seluruh dunia melalui media sosial kita masing-masing.*

Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah. Artikel ini dinukil dari situs pribadi beliau dengan seizin yang bersangkutan.

Tim Kontingen STIT Hidayatullah Batam masuk Final OASE PTKI se-Indonesia

BANDA ACEH (Hidayatullah.or.id) — Tim kontingen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hidayatullah Batam masuk ke babak final pada ajang Olimpiade Agama, Sains dan Riset (OASE) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) se-Indonesia di Kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Ketua Badan Pengurus Yayasan Kampus Utama Hidayatullah Batam, Ustadz Khoirul Amri, mengapresiasi dan mendukung penuh kepada Tim Kontingen STIT Hidayatullah Batam.

“Atas nama Yayasan, kami memberi apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Civitas Akademika STIT Hidayatullah Batam, yang telah bermujahadah secara mandiri untuk bisa membawa nama kampus dalam ajang lomba OASE PTKI ini,” ujarnya saat melepas tim kontingen STIT Hidayatullah Batam Kepulauan Riau, Rabu, 19 Rabiul Akhir 1443 (24/11/2021).

Di pelataran Graha Hidayatullah Batam, Khoirul Amri menyampaikan dukungan dan doa dari pihak yayasan semoga utusan peserta STIT dan dosen pendamping diberikan kesehatan kemudahan dan keselamatan oleh Allah SWT saat mengikuti perlombaan.

“Semoga mendapatkan hasil terbaik dengan ikhtiar yang maksimal, dan diridhoi Allah,” jelasnya.

Dukungan juga datang dari Ketua STIT Hidayatullah Batam, Mohammad Ramli. Ia berharap tim kontingen dapat membawa dan mengharumkan nama Kampus STIT Hidayatullah Batam di level nasional.

“Selamat berkancah di level nasional, membawa dan mengharumkan nama Kampus STIT Hidayatullah Batam Kepulauan Riau,” katanya.

Saat dikonfirmasi lewat seluler, Ketua Badan Pembina Yayasan, Ustadz Jamaluddin Nur, juga memberikan dukungan dan doa.

“Maju terus,” ucapnya singkat.

Pada tahap final, lomba diadakan di Kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh secara luring tatap muka pada 25-28 November, yang juga menjadi panitia dan tuan rumah OASE PTKI 2021.

Data resmi panitia dari akun Instagram oase_ptki, menyebutkan ada 2955 tim peserta, dari 184 Perguruan Tinggi se Indonesia, dan ada 957 tim untuk lomba pada bidang Karya Inovasi.

Selanjutnya yang dipilih untuk tiap kategori hanya 10 besar saja. Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hidayatullah Batam diantara salah satu yang masuk dari ratusan tim peserta tersebut.

Untuk diketahui bahwa OASE PTKI ini menggelar beberapa ajang lomba, yaitu: Karya Inovasi, Debat Ilmiah (Arab, Inggris, Konstitusi), Qiroatul Kutub, Fahmil Qur’an, Story Telling, Dai Mahasiswa, Sains dan Business Plan.

Tiap bidang lomba ada lagi turunan lombanya. Misalnya Bidang Karya Inovasi, yang diikuti oleh Kontingen STIT Hidayatullah Batam, yaitu: Literasi dan Inovasi Teknologi, Nano teknologi, Karya Tulis Al-Qur’an, Desain Arsitektur Islam, Media Pembelajaran, Iklim Limbah Lingkungan dan Sumberdaya, Produk Halal dan Ketahanan Pangan, Sosial Keagamaan, Astronomi dan Ilmu Falak, dan terakhir Robotic and Programming.

Adapun untuk kontingen STIT Hidayatullah Batam ikut dalam Karya Inovasi, kategori Literasi dan Inovasi Teknologi hingga berhasil masuk ke final.

Acara penutupan dan malam penganugerahan akan dihadiri langsung Menteri Agama RI. */Azhari

Gerak Cepat Kirim Bantuan Bantu Korban Longsor di Slahung Ponorogo

PONOROGO (Hidayatullah.or.id) — Gerak cepat membantu korban tanah longsor dilakukan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama SAR Hidayatullah dengan segera hadir ke lokasi longsor guna menyalurkan bantuan berupa beras, minyak goreng, telor, susu, mie, sosis, roti, teh, gula, dan kopi.

“Semua itu untuk membantu meringankan duka saudara kita, yakni warga yang menjadi korban tanah longsor di Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung Kabupaten Ponorogo,” terang Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, Imam Muslim, dikutip dari laman BMH, Rabu, 19 Rabiul Akhir 1443 (24/11/2021).

“Setelah ada informasi dari warga terkait bencana alam tanah longsor, di Desa Tugurejo, Slahung BMH langsung mengunjungi lokasi kejadian, dan menyalurkan bantuan kepada warga terdampak tanah longsor yang mengungsi,” imbuhnya.

Penyaluran bantuan diberikan kepada panitia desa yang membuka posko untuk warga yang mengungsi dan diserahkan oleh Relawan BMH.

“Semoga bermanfaat yang besar dan membawa keberkahan bagi donatur dan juga relawan yang tergabung dalam Laznas BMH,” ungkap seorang warga, bahagia. Sedikitnya ada 6 KK dan 28 jiwa yang terdiri dari 9 lansia, 4 anak-anak dan 15 dewasa terpaksa diungsikan.*/Herim

Hidayatullah Gelar Rangkaian Pertemuan Nasional, Kader Tetap Jaga Kesehatan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Di akhir tahun 2021 ini, perkumpulan ormas Hidayatullah menggelar serangkaian pertemuan tingkat nasional yang terbilang cukup padat. Oleh karena itu, segenap kader terutama peserta untuk tetap selalu menjaga kondisi kesehatan (imun) dan terus meningkatkan kualitas spiritual (iman).

“Semoga yang semua kita mujahadahkan, yang kita musyawarahkan, bisa kita laksanakan dengan baik,” kata Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Hidayatullah Dr (Cd) Abdul Ghofar Hadi dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Rabu, 19 Rabiul Akhir 1443 (24/11/2021).

Dengan kesehatan diri yang optimal, segar bugar, dan selalu stabil, maka berbagai amanah yang diembankan bisa dijalankan dengan baik. “Mari kita jaga kondisi kesehatan untuk melaksanakan amanah organisasi dan amanah Islam ini dengan baik,” kata Abdul Ghofar.

Abdul Ghofar menyebutkan sejumlah rangkaian agenda nasional yang akan digelar oleh Hidayatullah. Pada tanggal 23 November ini, telah dilakukan acara Rapat Pleno yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jakarta.

Lalu selanjutnya, pada tanggal 24 hingga 25 November digelar Sidang Pleno yang dihadiri semua unsur pengurus harian Dewan Pengurus Pusat (DPP), semua unsur pengurus Dewan Mudzakarah (DM), Dewan Murabbi Pusat (DMP), dan Majelis Penasehat (MP).

Kata Ghofar, Sidang Pleno ini akan membahas 3 hal topik yaitu berkenaan dengan Peraturan Organisasi, Rancangan Program Kerja Tahun 2022, dan rancangan Rencana Aggaran Pendapatan Belanja Organisasi (RAPBO) tahun 2022.

Kemudian, secara intensif selama 2 hari yakni pada tanggal 7 hingga 8 Desember dilangsungkan Musyawarah Majelis Syura (MMS) yang akan dihadiri oleh Pemimpin Umum, seluruh anggota Majelis Penasehat, seluruh anggota Dewan Pertimbangan, seluruh anggota Dewan Mudzakarah, seluruh anggota Dewan Murabbi Pusat, dan seluruh pengurus harian DPP Hidayatullah.

“DI MMS akan memutuskan kebijakan terkait dengan Peraturan Organisasi, Rancangan Program Kerja Tahun 2022, dan rancangan Rencana Aggaran Pendapatan Belanja Organisasi (RAPBO) tahun 2022, serta beberapa kebijakan strategis organisasi lainnya,” kata Ghofar.

Selanjutnya, puncaknya adalah acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) selama 3 hari digelar pada tanggal 9-11 Desember yang akan dihadiri oleh seluruh pengurus harian DPP Hidayatullah, DPW Hidayatullah se Indonesia, seluruh pengurus harian Kampus Induk dan Kampus Utama, seluruh pengurus inti organisasi pendukung yaitu Muslimat Hidayatullah dan Pemuda Hidayatullah, serta dihadiri amal dan badan usaha Hidayatullah tingkat pusat.

Ghofar menyebutkan, tema Rakernas 2021 ini adalah Konsolidasi Idiil Organisasi dan Wawasan Menuju Standarisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemtik.

“Tema ini memang sama dengan tema Rakernas tahun lalu karena kita ingin menguatkan terkait dengan konsolidasi idil, konsolidasi organisasi, dan konsolidasi wawasan kita tentang Islam dan Hidayatullah ini untuk bagaimana program program yang diangkat ini terstandar, tersentral, dan juga terintegrasi secara sistemtik,” tandasnya. (ybh/hio)

Kecelakaan Terbesar

0

SETIAP manusia yang hidup di dunia ini pasti menginginkan kehidupan yang bahagia. Dia akan berusaha sedaya upayanya untuk mencapai kebahagiaan itu.

Dalam usaha dan pencariannya untuk menuju kebahagiaan yang diimpikan itu, dia akan mengarunginya dengan mengejar berbagai kesenangan dan menghindari kecelakaan.

Ia mendapatkan kesenangan dengan bertambahnya kenikmatan hidup yang ia jalani. Kesenangan itu baik berupa materi fisik yang dapat terlihat secara kasat mata seperti kesehatan jasmani, simpanan uang, asset, keuntungan binis, dan sebagainya.

Juga berusaha mendulang kebahagiaan batin yang mampu membawa kesenangan hatinya seperti berekreasi bersama keluarga. Dan, yang lebih tinggi lagi, adalah rekreasi spiritual melalui rangkaian ibadah yang melahirkan ketenteraman yang mendalam dalam jiwanya, ala bidzikrillahi tathmainnul qulub.

Kemudian, agar kesenangan yang didapatkan bisa bertahan maka manusia secara naluriah juga akan berusaha maksimal untuk menghindari kecelakaan. Kecelakaan berasal dari akar kata “celaka” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai (selalu) mendapat kesulitan, kemalangan, kesusahan, dan sebagainya; malang; sial.

Kecelakaan dalam bentuk materi membuat manusia merasa akan terkurangi kesenangannya. Seperti contoh, jika ia mengalami kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas, kebakaran rumah dan sebagainya, maka dia akan mendapatkan resiko luka, lumpuh bahkan kematian.

Kecelakaan yang dialaminya tersebut akan berpengaruh terhadap ketidakmampuan dirinya untuk merasakan kesenangan maksimal yang selama ini sudah dia rasakan.

Di samping itu, resiko kehilangan kesenangannya dari kecelakaan ini juga akan menghantuinya berupa kerusakan dan kehilangan harta yang sudah dikumpulkan dengan susah payah.

Terlihat sangat menyeramkan. Tetapi, ternyata masih ada kecelakaan di atas kecelakaan fisik yang sudah diuraikan di atas. Ia adalah kecelakaan batiniyah yang terkadang tidak dapat terlihat oleh mata.

Kecelakaan batin ini tidak terdengar oleh telinga, tidak terfikirkan oleh otak, tapi hanya akan disadari oleh mata hati yang jernih.

Kata “kecelakaan” di dalam Al Qur’an disebutkan dengan lafadz “وَيْلٌ” (wailun). kata wailun sendiri di dalam Al Qur’an disebutkan sebanyak 40 kali dengan berbagai macam bentuk turunan.

Di antaranya, terdapat beberapa golongan yang disebutkan orang-orang yang celaka seperti orang Yahudi (2:79), orang kafir (19:37), orang yang berhati keras (39:22), orang Musyrik (41:6-7), pembohong (45:7), pendusta agama (52:11), orang yang mendustai kebenaran (Al Mursalat-77:15, 19,24,28,34,37,40,45,47,49), orang yang mengurangi timbangan (Al Muthaffifin-83:1), pengumpat dan pencela (Al Humazah-104 : 1) yang kesemuanya berbicara tentang kecelakaan yang disebabkan oleh persoalan bersifat batiniyah.

Dan tentu, yang paling familiar adalah kata wailun yang berada di ayat keempat dalam surah Al Ma’un (107:4) :

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ

“Maka celakalah orang yang shalat”

Menarik dari ayat ini adalah, jika ayat-ayat sebelumnya kata wailun (celaka) selalu disandingkan dengan sifat, sikap dan perbuatan keburukan, maka pada ayat ini kata wailun disandingkan dengan satu perbuatan/ kegiatan yang sangat mulia yaitu orang-orang yang mengerjakan shalat.

Dalam memaknai ayat ini, tentu tidak bisa dikaji secara terpisah dan terlepas dari kelanjutan ayatnya yaitu ayat 5-7 maupun ayat-ayat sebelumnya (1-3).

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir diterangkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah orang-orang munafik yang mengerjakan shalatnya terang-terangan, sedangkan dalam kesendiriannya mereka tidak shalat. Yaitu orang yang sudah berkewajiban mengerjakan shalat dan menetapinya, kemudian mereka melalaikannya.

Masih dalam Tafsir Ibnu Katsir, Ata Ibnu Dinar mengatakan bahwa adakalanya pula karena tidak menunaikannya di awal waktunya secara terus-menerus atau sebagian besar kebiasaannya. Dan adakalnya karena saat mengerjakannya tidak khusyuk dan tidak merenungkan maknanya.

Maka, pengertian ayat mencakup itu semua. Tetapi orang yang menyandang sesuatu dari sifat-sifat tersebut berarti mendapat bagian dari apa yang diancamkan oleh ayat ini. Dan, barangsiapa yang menyandang semua sifat tersebut, berarti telah sempurnalah baginya bagiannya dan jadilah dia seorang munafik dalam amal perbuatannya.

Di dalam Kitab Shahihain telah disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “itu adalah shalatnya orang munafik, itu adalah shalatnya orang munafik, itu adalah shalatnya orang munafik. Dia duduk menunggu matahari: dan manakala matahari telah berada di antara kedua tanduk setan, maka bangkitlah ia (untuk shalat) dan mematuk (shalat dengan cepat) sebanyak empat kali, tanpa menyebut Allah di dalamnya melainkan hanya sedikit.

Kondisi shalat yang seperti ini tidak lain dikarenakan adanya pergeseran orientasi (niat) dari yang mengerjakannya. Jika bagi orang yang beriman dengan tulus melaksanakan perintah ini karena patuh dan cintanya kepada Allah SWT, tetapi bagi mereka yang melalaikan shalat ini tidak lain karena riya’ semata (107:6).

Dalam ayat yang lain diterangkan bahwa “Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, dan Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.

Sebagai mukmin sejati, maka kita berusaha dan berharap agar terhindar dari sifat-sifat tersebut yang membawa kita kepada kecelakaan yang hakiki, buruk akibatnya di akhirat bahkan di dunia juga.

Mereka yang shalat tapi melakukannya dalam keadaan lalali sebagaimana yang diuraikan sebelumnya tidak akan mendapatkan apa-apa karena pekerjaan itu hanya tampak pada fisiknya sedangkan makan shalat itu sendiri tidak mampu terinternalisasi dalam dirinya.

Tidak mampu membawa perubahan dalam dirinya apalagi harapan untuk membawa kebaikan kepada orang lain. Karena sesuangguhnya, orang yang benar shalatnya akan mengkristal nilai dan makna shalat dalam pesona kepribadiannya dan membawa kebaikan bagi alam sekitarnya.

“…Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (Ketahuilah) mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain)…”. (Al-Ankabut-29:45). Wallahu’alam

*)Mazlis B. Mustafa, penulis adalah Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah

Gerakan Dakwah Hidayatullah di Pulau Terluar Indonesia

0

NATUNA (Hidayatullah.or.id) — Simpul sinergi lintas institusi amal dan badan usaha Hidayatullah Kepulauan Riau (Kepri) kembali bergerak melakukan pendampingan ke Dewan Pengurus Daerah (DPD) yang dilakukan pada Selasa, 18 Rabiul Akhir 1443 (23/11 2021).

Agenda tersebut diikuti ketua DPW Hidayatullah Kepri Ust Darmansyah dan kepala perwakilan BMH Kepri Abdul Aziz, yang mengunjungi DPD di pulau terluar Indonesia, Kabupaten Natuna.

Menurut ustadz Darmansyah, pendampingan sekaligus safari dakwah ke Kabupaten Natuna bagian dari penguatan jaringan organisasi dan juga pengembangan jaringan program kerja BMH Kepri.

“Dari segi jarak untuk menjangkau kabupaten Natuna memerlukan pengorbanan tersendiri, sebab secara geografis sudah berbatasan langsung dengan beberapa negara seperti Vietnam dan berhadapan dengan laut Cina Selatan,” kata ustadz muda yang selalu gembira ini.

Menurut Darmansyah, kehadiran Hidayatullah di Natuna untuk memperkuat jaringan dakwah dan membina umat dengan merangkul elemen umat lainnya dalam upaya fastabiqul khairat.

“Kita bukan mencari perbedaan tapi memperkuat persaudaraan, sebagaimana jati diri Hidayatullah yairu jamaatun minal muslimin,” katanya seraya menambahkan dukungan BMH akan menambah semangat akan eksisnya tarbiyah dan dakwah di pulau terluar Indonesia ini.

Para dai muda Hidayatullah yang mayoritas masih berstatus lajang menyambut kehadiran ketua DPW dan kepala perwakilan BMH dengan penuh haru bahagia.

Mereka seperti layaknya seorang santri yang sekian lama tak dikunjungi oleh orang tuanya. Kehadiran yang memicu semangat dan rasa percaya diri untuk terus bergerak mengeksiskan dakwah Hidayatullah di kabupaten yang terkenal sebagai penghasil minyak dan gas.

“Setelah lebih dari 6 tahun penantian kini harapan itu terwujud, sebetulnya kami tidak menuntut atau meminta yang macam-macam, satu saja permintaan kami tolong kami dikunjungi, berikan kami nasihat, kami masih labil dalam perjuangan ini. Kami butuh orangtua yang bisa menguatkan kami disaat kami futur,” ujar Rizal Dunan Simbolon, dai muda Hidayatullah di Natuna, dengan mata yang berkaca-kaca menahan haru.

Dai lainnya, Ust Tah Huwandilah, merupakan putra daerah asal desa Batubi Jaya, Natuna. Ketika ditugaskan oleh Hidayatullah untuk kembali ke kampung halamannya untuk membina umat, tekad dan semangatnya tidak pernah padam.

Di tengah kondisi yang sangat sulit Huwandilah pantang menyerah, layaknya batu karang pantai Natuna yang tetap kukuh meski diterjang ombak dari segala arah.

DPD Hidayatullah Natuna, telah menghadirkan sebuah rumah Quran yang menjadi tumpuan penduduk desa dalam mendidik anak-anak mereka belajar mengaji dan pendidikan agama lainnya.

Walaupun baru berjalan sekitar 4 bulan namun santrinya sudah mencapai puluhan. Sebuah indikator bahwa gerakan tarbiyah dan dakwah telah menyentuh hingga pulau terluar dan sangat dirindukan karena merupakan kebutuhan masyarakat yang paling esensil.

“Sejak saya lulus kuliah dan diberikan amanah oleh lembaga untuk kembali ke kampung halaman, satu yang membuat saya selalu khawatir yaitu jika sampai gagal dalam tugas ini,” tutur Ust Tan Huwandilah lirih.

Berbagai upaya untuk mendekatkan umat pada agamanya terus dilakukan sekuat tenaga bersama pengurus lain, walaupun dengan segala keterbatasan. Satu hal yang menjadi modal yaitu keyakinan bahwa dakwah ini suatu saat nanti akan berhasil.

“Mudah-mudahan agenda malam ini, merupakan tanda-tanda keberhasilan, sekian lama kami menantikan kehadiran DPW ke Natuna baru kali ini Allah SWT berkehendak,” tutur Tah Huwandilah dalam sambutannya yang penuh semangat.

DPW, BMH dan DPD kabupaten Natuna bertekad mewujudkan berdirinya sebuah kampus yang menjadi simbol gerakan tarbiyah dan dakwah di Kabupaten Natuna.

“Melalui sinergi program bersama insya Allah akan hadir program Sekolah Tapas Batas Hidayatullah kabupaten Natuna,” terang Abdul Aziz, optimis.*/Mujahid M. Salbu