Beranda blog Halaman 395

Refleksi Pernikahan Mubarak

Oleh Azhari, M.Pd.I*

NIKAH adalah jalan kesempurnaan agama bagi seorang hamba. Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا تزوج العبد فقد استكمل نصف الدين فليتق الله في النصف الباقي

“Ketika seorang hamba menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka bertaqwalah kepada Allah pada setengah sisanya.” (HR. Baihaqi, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu).

Sebab itu, nikah merupakan kunci pintu terbukanya atas kebaikan dengan sangat lebar dan terjaganya diri dari penyimpangan dan kerusakan.

Imam Abu Hamid Al-Ghazali (w.1111) dalam Ihya Ulumuddin, menjelaskan hadits di atas bahwa tujuan menikah yaitu dalam rangka melindungi diri dari penyimpangan, agar terhindar dari kerusakan. Karena yang merusak agama manusia umumnya adalah kemaluannya dan perutnya. Dengan menikah, maka salah satu telah terpenuhi.

Sebelum menikah amalan kebajikan berbatas. Ada yang belum bisa diamalkan. Tapi setelah menikah, kebaikan itu menjadi sempurna. Semua dapat dilakukan. Semua terbuka lebar. Dan semua sisi kehidupan orang yang telah berkeluarga, potensial dan berpeluang besar menjadi ladang amal kebaikan dan lumbung pahala.

Aisyah Radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku.” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Orang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik pada keluarganya. Itulah jalan menuju maqam taqwa, sebagai perantara sempurnanya agama.

Pernikahan juga adalah kendaraan istimewa untuk meraih ketenangan. Naluri manusia itu berpasangan. Dan ini adalah fitrah insaniyyah yg dititipkan. Maka dengan berpasangan akan tenang jiwa dan pikirannya, dan itu alasan Allah menciptakan perempuan: Liyaskuna ilaiha.

Allah SWT berfirman:

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا (٧:١٨٩)

“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya” (QS.7:189).

Pernikahan juga adalah asbab kecintaan. Ada banyak jenis cinta. Tapi cinta yang tumbuh karena seorang perempuan (istri) disebut mawaddah.

Ibnu Abbas ra berkata:


المودة حب الرجل امرأته ، والرحمة رحمته إياها أن يصيبها بسوء

Mawaddah adalah cintanya seorang laki-laki kepada istrinya, sedangkan rahmah adalah kasih sayang suami kepada istrinya untuk tidak menimpakan sesuatu yang tak disukainya (lihat Tafsir al-Qurthubi QS. 30:21)

Itulah hakikat mawaddah, cinta yang timbul karena faktor zhahiriyah perempuan. Dan ini hanya bisa tumbuh lewat berpasangan, dimana cinta itu tumbuh setelah hati tenang.

Pernikahan juga adalah jembatan perantara, agar kita berkasih sayang. Jiwa dan pikiran yang tenang (sakinah), akan menumbuhkan cinta hakiki bersama seorang perempuan (mawaddah), hingga kemudian benih tersebut tumbuh subur, pelan tapi pasti menjadi tunas tunas kasih sayang (rahmah).

Kasih sayang inilah faktor esensi dalam melestarikan kehidupan manusia. Mujahid rahimahullah (mufassir dari tabiin, murid Ibnu Abbas ra) bahkan memaknai kata Rahmah itu dengan kelahiran anak (al walad) karena dengan adanya anak yang lahir, maka lestarilah kehidupan manusia ini.

Tersebab rahmah, ada motifasi mencari nafkah. Ada mujahadah menjaga keluarga dari ancaman api neraka. Ada perjuangan mendidik anak menjadi pewaris kebaikan. Ada harapan amal jariyah di masa mendatang.

Dan selanjutnya pewarisan kasih sayang kepada anak yang lahir tersebut. Begitu seterusnya hingga menjadi siklus kehidupan, dan itu semua karena kekuatan kasih sayang (rahmah).

Bahkan anak yang akan lahir, sebelumnya juga berada dalam rahim/ arham (nama yg bermakna kasih sayang), sebelum mereka lahir di dunia.

Kalau mawaddah adalah cinta yang bersifat lahiriyah (paras, wajah, body, umur yg muda, good looking), maka rahmah adalah cinta yang berdimensi non fisik; ruhiyah, akhlak dan sejenisnya.

Rahmah inilah yang membuat pasangan suami istri tetap bersama meskipun sudah tua. Rahmah jugalah yang membuat suami istri tetap setia until jannah.

Semua dimensi yang disebutkan adalah hakikat pernikahan yang ada di dalam Al-Qur’an. Sebagai jalan penghubung kesempurnaan agama. Sebagai wasilah ketenangan hidup. Sebagai jembatan meraih cinta hakiki. Sebagai wadah berkasih sayang. Sebagai objek renungan bagi kaum yg berpikir. Sebagai penegasan akan eksistensi Tuhan, serta sebagai faktor esensi terpeliharanya kehidupan manusia. Dan Allah SWT menyandingkan pernikahan dengan penciptaan alam semesta dan segala fenomena di dalamnya. (Lihat QS. 30: 20-25).

Selamat kepada seluruh peserta pernikahan mubarokah 29 pasang kader dakwah, di kampus induk Ummul Quro, Hidayatullah Gn Tembak, Balikpapan (4/9/2021) dan 5 pasang di Kampus Hidayatullah Kendari, Sulawesi Tenggara.

Semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah. بارك لكم وبارك عليكم وجمع بينكم في خير. Aamiin.

*) Azhari, penulis adalah dosen STIT Hidayatullah Batam

Canangkan 500 Rumah Quran untuk Tekan Buta Aksara

KEPRI (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memberantas buta aksara khususnya aksara Arab agar masyarakat muslim lebih dekat dengan Al Quran, DPW Hidayatullah Kepulauan Riau bersama BMH mencanangkan bangun 500 rumah Quran di kawasan itu.

Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Ust Darmansyah menuturkan, al Quran yang dipelajari dan diajarkan akan membentuk karakter para guru dan santri sebagaiamana disebutkan dalam surah al Qalam Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam 68:4).

“Karakter yang terbentuk adalah kesantunan dan akhlak yang mulia,” kata Darmansyah saat menutup pelatihan Upgrading Guru Quran se Kepulauan Riau di aula Kampus Utama Hidayatullah Batam, Sabtu, 26 Muharam 1443 (4/9/2021).

Darmansyah mengajak mendoakan BMH semakin maju dan sukses untuk terus berkiprah dalam mendukung pembangunan masyarakat.

Di penghujung acara, panitia membagikan sertifikat kepada seluruh peserta. Beberapa peserta menyampaikan kesan atas penyelenggaraan pelatihan ini, misalnya Ustadz Sabri dari Kojong yang merasa sangat bahagia atas kegiatan ini, karena, menurutnya, betul-betul memberikan manfaat yang luar biasa dan menambah wawasan sebagai tenaga pengajar yang setiap hari membimbing warga dan anak-anak muallaf.

Demikian juga dengan Mak Ros dari rumah Quran Pulau Panjang Timur.

“Emak merasa kembali memiliki semangat seperti orang muda, emak udah puluhan tahun ngajar ngaji baru kali ini ada kesempatan sekolah walaupun cuma tiga hari tapi emak senang sekali. Metodenya juga sangat berbeda. Emak udah gak sabar segera mempraktekkan ke murid-murid di pulau,” tuturnya Mak Ros semringah.

Kepala Kantor Perwakilan BMH Kepri, Abdul Aziz, mengatakan keberadaan BMH baik secara nasional maupun regional adalah sebagai supporting finansial untuk berbagai program keummatan termasuk program tarbiyah dan dakwah.

Dalam sambutannya, Aziz menyampaikan BMH Kepri akan senantiasa hadir untuk memberikan solusi terhadap problematika yang dihadapi masyarakat dengan mengoptimalkan dana dari ummat.

“Dana ummat yg dihimpun baik berupa zakat, infaq, sedekah dan jenis dana lainnya harus maksimal kembali untuk ummat, tidak hanya bersifat konsumtif tetapi juga disalurkan untuk program yang dapat dirasakan manfaatnya secara luas seperti rumah Quran. Alhamdulillah saat ini di Kepri sudah eksis 35 Rumah Quran, targetnya insya Allah 500 Rumah Quran,” kata Abdul Aziz.

Upgrading guru Quran dengan metode Ummi yang berlangsung selama tiga hari dipandu oleh instruktur yang telah tersertifikasi yaitu Ustadzah Nurmeni Wilandari, S.Sos, Ustadzah Reni Susanti, SIQ, M.Pd.I, Ustadzah Enik Nurfaizah MM dan Ustadzah Nurhayati, M.Pd.

Selain materi mengajar al Quran, para peserta yang datang dari berbagai pulau termasuk dari kampung muallaf di Selat Kongki, pulau Kojong, Lingga dan Pulau Caros, Batam, dibekali juga kiat-kita menjadi guru yang dicintai oleh murid serta metode menangani murid sesuai tingkatan usianya, bekal berharga bagi para guru Quran sebagai panduan dalam mengajar para santri di rumah Quran masing-masing.

BMH Kepri juga telah merencanakan road show para instruktur insya Allah ke pulau-pulau untuk melakukan supervisi terhadap proses pembelajaran sebagai bagian dari evaluasi pelaksanaan upgrading yang diikuti oleh 35 rumah Quran yang tersebar di kawasan Kepri.*/Mujahid M. Salbu

Bupati dan Walikota ini Kunjungi Kampus Hidayatullah Masamba

0

MASAMBA (Hidayatullah.or.id) — Bupati Luwu Utara Hj. Indah Putri Indriani, S.IP., M.Si. dan Wali Kota Parepare Dr. H. M. Taufan Pawe, S.H., M.H menyambangi Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Masamba, Luwu Utara, Ahad, 27 Muharam 1443 (5/8/2021).

Kunjungan itu dilakukan keduanya setelah Musda DPD II Partai Golkar Lutra selesai.

Di Ponpes Hidayatullah, kedatangan kedua pemimpin daerah ini diterima langsung oleh pimpinan ponpes, Ust Abdul Wahab yang sudah lama mengenalnya.

Pada kunjungan tersebut Taufan mengatakan ada dua sebutan pimpinan ponpes untuk saya.

“Kalau dia baru mengenal saya setelah wali kota maka dia akan memanggil saya pak wali,” ujarnya via rilis Humas Pemkot Parepare.

“Tapi kalau dia mengenal saya sebelum wali kota, maka dia memanggil saya pak haji,” tutur Taufan.

“Ustad Wahab memanggil saya Pak Haji. Berarti dia sahabat lama saya,” ungkap Wali Kota Parepare dua periode ini.

Di hadapan Ustaz Wahab dan para santri, Taufan memperkenalkan diri sebagai Ketua Golkar Sulsel, dan hadir bersama Bupati Lutra Indah Putri yang baru saja terpilih Ketua Golkar Lutra.

Kemudian menyertainya Sekretaris Golkar Sulsel Andi Marzuki Wadeng, Wakil Ketua Bidang Kajian Strategis dan Kebijakan Publik Golkar Sulsel Herman Heizer, dan Ketua DPRD Lutra Basir.

“Ini Istimewa, karna baru kali ini saya didampingi langsung oleh Bupati. Ibu Bupati di semua lini dia ada, termasuk untuk keumatan,” papar Taufan.

“Karena ada Ibu Bupati, ada Ketua DPRD hadir di sini, secepatnya bikin proposal. Pasti akan dibantu demi keumatan,” tandas Taufan.

Taufan juga memotivasi para santri sebagai kader penerus bangsa.

Ia memberi pesan-pesan membangun dan religius. Serta mengungkapkan Ponpes Hidayatullah di Parepare sekarang sudah berkembang menjadi ponpes modern.

Bahkan Ustad Abd Aziz Qahhar Mudzakkar, tokoh Luwu Raya, saat berada di Parepare, lanjut Taufan, selalu menginap di Ponpes Hidayatullah.

Di akhir kunjungannya, Taufan menyerahkan bantuan uang tunai kepada Ponpes Hidayatullah Masamba.

“Jangan lihat dari nilainya, tapi lihat keikhlasan kami memberikan bantuan dan dukungan untuk memajukan keumatan khususnya di Kabupaten Luwu Utara,” pungkas Taufan.*/

Hidayatullah Institute Paparkan Islamic Worldview Mahasiswa

0

TANJUNG UNCANG (Hidayatullah.or.id) — Direktur Hidayatullah Institute Ust. Dr (cand.) Muzakkir Utsman, SS., M.Ed, memaparkan materi Islamic worldview di hadapan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hidayatullah Batam yang sedang menjalani masa Taaruf Kampus di Kampus 2 Hidayatullah Putri, Tanjung Uncang, Batu Aji, Batam Kepulauan Riau, Kamis, 24 Muharam 1443 (2/9/2021).

“Seorang muslim hendaknya melihat dunia dan segala dimensinya, dalam kacamata Islam. Itulah yang disebut dengan istilah Islamic worldview,” kata Muzakkir Utsman di hadapan seluruh mahasiswi baru ini.

Kandidat doktor Malaya University Malaysia ini menguraikan bahwa worldview Islam harus dimiliki seorang muslim, yaitu memandang dengan kacamata wahyu.

“Harus dengan petunjuk Al-Qur’an. Bimbingan wahyu dari Allah,” sebutnya.

Jangan sampai, sebutnya lagi, melihat dunia dan segala dimensinya ini dengan pandangan sekular, liberal, dan materialisme.

“Tentu berbeda. Ada yang melihat hidup ini sebagai proses menjalankan hukum-hukum Allah dan ada yg melihat sebagai kebebasan dirinya,” tegasnya.

Menurutnya, orang yang melandaskan pandangannya pada sekularisme, liberal dan materialisme, ia ingin bebas menurut dirinya sendiri tanpa aturan hidup seperti tak mau punya anak (childfree), bebas untuk berbusana sekehendaknya dan berbagai sikap permisif lainnya.

Kemudian ia menceritakan kisah Nabi Ibrahim ‘alahihissalam yang terdapat dalam Al Quran surah asy-Syuara’, tentang idealisme dan prinsip Tauhid, dan penentangannya terhadap masyarakat penyembah berhala.

Ibrahim ‘alahihissalam melihat bahwa penyembahan pada berhala itu keliru. Berhala berhala itu tidak mendengar dan tidak memberi apapun terhadap hidup ini. Hingga kemudian beliau mendapat petunjuk wahyu dari Allah.

Begitu juga nabi Yaqub, yang mewariskan nilai Tauhid kepada anak cucunya, agar tetap menyembah Tuhan, sebagaimana orang tuanya dahulu, Nabi Ibrahim, Ismail, dan Ishaq.

“Itulah idealisme dan prinsip Tauhid yang mesti menjiwai seluruh kehidupan seorang muslim. Dunia itu kecil, kalau kita punya visi yang besar,” lanjutnya memotivasi peserta.

Dan visi besar itu, lanjut Muzakkir, adalah termanifestasinya nilai nilai Tauhid sebagai inti keimanan dalam seluruh aspek kehidupan.
Prinsip inilah yang menurutnya mesti melekat pada diri setiap muslim dalam memandang segala sesuatu.*/

Sinergi Gelar Upgrading Guru Quran Se-Kepulauan Riau

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Sekira 35 guru dari kawasan Kepulauan Riau mengikuti upgrading guru al Quran yang digelar BMH Kepri sebagai bagian program integrasi dengan organiasi DPW Hidayatullah Kepri dan yayasan kampus Utama Hidayatullah Batam di Kampus Hidayatullah, Batu Aji, Kamis, 24 Muharam 1443 (2/9/2021).

Diantara peserta yang hadir terdapat guru yang membimbing anak-anak muallaf di Selat Kongki dan Pulau Kojong, Lingga dan kampung muallaf di Pulau Caros, Batam.

General Manager BMH Kepri, Abdul Aziz menuturkan bahwa BMH Kepri telah berkomitmen untuk berada di garda terdepan dalam rangka menghadirkan rumah quran di pulau-pulau.

“Dengan berjalannya program ini insya Allah ada timbal balik untuk para donatur berupa keberkahan pada harta yang disedekahkan di jalan Allah dan mengalirnya pahala dari rumah-rumah quran,” kata Abdul Aziz.

Sebelum memasuki materi pelatihan, dua orang guru Quran dari kampung muallaf selat Kongki dan Pulau Kojong, Lingga, menyampaikan sekelumit pengalaman membina para muallaf.

“Kami harus membimbing dari nol anak-anak muallaf karena bahkan Basmalah pun mereka belum bisa,” cerita Ustadz Sabrian.

Ustadz Sabrian bercerita, saban sore ia mengajar anak-anak dan setelah magrib mengajar para orang tua yang juga masih belum dapat membaca al Quran.

“Di antara bapak-bapak dan ibu-ibu Alhamdulillah saat ini sudah ada yang sudah Iqra 3, kami harus sabar membimbing mereka dengan pelan-pelan agar mereka bisa membaca dan memahami al Quran dengan baik,” lanjut Ustadz Sabrian.

Sementara Ustadz Sobri yang sudah 9 bulan membimbing para muallaf di Pulau Kojong, Lingga, menyampaikan kebahagiaan para muallaf dengan hadirnya guru Quran, sebab selama ini mereka tidak mendapatkan bimbingan terkait baca tulis al Qur’an.

“Meski saya harus menempuh perjalanan selama 2 jam dari rumah di Linau, Lingga, tetap semangat untuk memberikan pembinaan karena mendapatkan amanah dari BMH Kepri untuk mendampingi para muallaf,” ujar pria kelahiran pulau di Lingga ini.

BMH Kepri tidak hanya mensupport pembangunan tetapi juga membangun ekosistem yang menopang program pembinaan. Diantaranya tunjangan para guru quran dan peningkatan kualitas para guru.

Pembina Hidayatullah Batam, KH Jamaluddin Nur menyambut gembira program yang digelar BMH Kepri dan mendorong agar terus meningkatkan kualitas rumah Quran baik dari sisi pembelajaran maupun kualitas fisik rumah quran.

Senada dengan Jamaluddin Nur, Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Darmansyah, berharap BMH Kepri semakin maju dan berkembang agar dapat terus mendukung program rumah quran di Kepri sejalan dengan gerakan mainstream Hidayatullah yaitu Dakwah dan Tarbiyah.

Menurut ketua panitia, Rahmat Ilahi Hadis, target yang ingin dicapai dari pelatihan ini, yaitu agar para guru dapat menguasai teknik mengajar dengan metode Ummi. Selain itu, agar ada keseragaman dalam metode yang diajarkan di seluruh rumah Quran.

Pelatihan berlangsung selama tiga hari (2-4 September 2021) dengan menghadirkan instruktur yang telah terakreditasi.

“Diharapkan dengan meningkatnya kualitas para guru maka akan meningkat juga kualitas para siswa baik dari sisi bacaan maupun hafalan.” Pungkas Rahmat Ilahi Hadis.*/Mujahid M. Salbu

Dai sebagai Duta Wawasan Kebangsaan di Pedalaman

DAI adalah penyampai pesan wawasan kebangsaan, selain berdakwah sebagai amanah utamanya untuk mengajak umat kepada jalan kebaikan. Hal itulah yang dilakukan oleh dai dai Hidayatullah di berbagai daerah. Inilah salah satunya, klik di sini untuk menonton.

Vaksinasi Massal Santri di Ponpes Hidayatullah se-Balikpapan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak menjadi tuan rumah penyelengaraan vaksinasi untuk sedikitnya 2.500 santri se-Balikpapan yang digelar pada Selasa (31/08/2021).

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menghadiri kegiatan vaksinasi massal untuk santri (pelajar) yang digelar di sejumlah pondok pesantren se-Indonesia, termasuk Ponpes Hidayatullah di Balikpapan. Jokowi hadir menyapa para pengurus pondok pesantren yang mengikuti acara tersebut lewat teleconference.

Di antara lokasi acara vaksinasi massal untuk santri itu digelar di Kampus Induk Hidayatullah, Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Ponpes Hidayatullah sekaligus menjadi tuan rumah vaksinasi massal yang diikuti ribuan santri dari berbagai ponpes se-Kota Balikpapan.

“(Vaksinasi) ini dikhususkan para santri di pondok-pondok pesantren,” ujar Jokowi.

Ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Ummul Qura Balikpapan Hamzah Akbar menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak pemerintah, dalam hal ini Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Kalimantan Timur yang telah menunjuk Hidayatullah Balikpapan sebagai tuan rumah vaksinasi santri se-Balikpapan.

“Tentu saja kita menyampaikan tadi Pak Presiden menyapa kita semua termasuk kita di Hidayatullah menyampaikan ucapan terima kasih,” ujar sang ustadz kepada para wartawan di Gunung Tembak, Selasa siang, didampingi Kepala BIN Daerah Kaltim Brigjen Danni Koswara pada acara yang digelar dengan protokol kesehatan yang ketat itu.

Ustadz yang juga Anggota Dewan Pertimbangan MUI Kota Balikpapan ini berharap, dengan dilakukannya vaksinasi tersebut, bisa membentuk herd immunity, sehingga kegiatan belajar dan ibadah di pesantren bisa kembali normal.

Sementara itu, Danni Koswara menjelaskan, sebanyak 2.500 dosis vaksin disiapkan pihaknya untuk para santri. Dalam kegiatan vaksinasi santri pihak BIN Daerah Kaltim bekerja sama dengan Pondok Pesantren Hidayatullah.

“Selain santri Hidayatullah, vaksinasi juga diikuti santri dari pesantren lain dari Balikpapan,” ujarnya kepada wartawan.

Dalam acara tersebut secara virtual Presiden Jokowi antara lain menanyakan ke sejumlah ponpes tentang berapa jumlah santri yang divaksin. Presiden juga berpesan terkait pelaksanaan protokol kesehatan di ponpes.

Sementara perwakilan ponpes yang berdialog dengan presiden berharap agar jumlah dosis vaksin untuk para santri ditingkatkan. Tujuannya antara lain agar santri segera bisa melakukan kegiatan pendidikan tatap muka.*/Skr

Kampus Hidayatullah Aceh Tenggara Terima Kunjungan Tokoh Forkopimda

0

ACEH TENGGARA (Hidayatullah.or.id) — Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Aceh Tenggara yang beralamat di Jln Kutacane-Medan Km-25, Lawe Loning Aman, Kecamatan Lawe Sigala-Gala, Aceh Tenggara, Provinsi NAD, mendapat kunjungan tokoh beberapa waktu lalu.

Kunjungan Bupati Aceh Tenggara Drs. H. Raidin Pinim, M.AP bersama Wakil Bupati Bukhari Buspa diterima langsung oleh pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Aceh Tenggara KK Baharuddin Mustafa dan jajarannya di kantor yayasan.

Turut pula dalam rombongan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) tersebut yaitu Kapolres Aceh Tenggara AKBP Bramanti Agus Suyono, Komandan Kodim (Dandim) 0108 Agara Letkol Inf Robbi Firdaus SE MSi, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Aceh Tenggara Syaifullah SH MH, tampak pula Ketua DPRK Aceh Tenggara Deny Febrian Roza, S.STP., M.Si, ketua adat dan salah satu anggota DPR RI.

Dalam kunjungan tersebut Bupati beserta rombongan meluangkan waktu meninjau komplek pondok pesantren tersebut yang didampingi oleh Ust Baharudin.

Rombongan silaturrahim juga sempat meninjau lahan yang rencananya akan dibebaskan untuk pembangunan pondok. Bupati menyatakan dukungannya dan meminta pihak kampus Ponpes Hidayatullah Aceh Tenggara segera mengirimkan proposalnya.

Ust Baharuddin dalam keterangannya menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang tinggi kepada Forkopimda Aceh Tenggara yang melakukan kunjungan ke kampus Hidayatullah Aceh Tenggara.

Baharudin berharap silaturrahim ini senantiasa terjalin dengan baik sebagaimana telah terjalin secara sinergis selama ini bahkan terus ditingkatkan. “Semoga membawa berkah,” pungkasnya.*/

Hidayatullah dan Kebangkitan 2045

Oleh Nursyamsa Hadis*

ALHAMDULILLAH, Musyawarah Majelis Syura (MMS) dan rangkaiannya yang berlangsung selama tiga hari sejak Ahad hingga Selasa malam, 20-22 Muharram 1443 H, telah berakhir.

MMS merupakan forum yang dipimpin oleh Pemimpin Umum Hidayatullah yang diantara kewenangannya; membahas dan/ atau memutuskan hal-hal yang strategis dalam rangka mencapai visi Hidayatullah dan mengesahkan peraturan organisasi (PO).

Peserta MMS adalah Pemimpin Umum dan anggota; Majelis Penasihat, Dewan Pertimbangan, Dewan Mudzakarah, Dewan Murobbi Pusat serta pengurus harian Dewan Pengurus Pusat.

KH Abdurrahman Muhammad dalam sambutan pembukaan acara, sebagai Pemimpin Umum Hidayatullah, menyampaikan bahwa pada perjalanan setengah abad Hidayatullah ke depan hendaknya pada 2045 Hidayatullah telah tumbuh menjadi entitas yang berpengaruh dalam pergaulan keumatan dan kebangsaan di Indonesia.

Pertanyaannya, hal apa sajakah yang mesti mendapat perhatian pegiat Hidayatullah agar target 2045 Pemimpin Umum tersebut tercapai?

Merespon harapan tersebut, Ketua Umum pertama DPP Hidayatullah KH Abdul Rahman (Surabaya), menyampaikan empat hal yang perlu mendapat perhatian.

Pertama, kemenangan yang diantara bentuknya kemampuan mempengaruhi sepenuhnya adalah otoritas Allah. Dengan demikian yang perlu mendapat perhatian serius adalah penuhi syarat-syarat yang dapat mengundang datangnya kemenangan itu.

Internalisasi dan memanifestasikan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah merupakan hal mutlak yang harus tergambar dalam kegiatan kader Hidayatullah. Ini syarat mutlak yang harus terpenuhi.

Tidak cukup dengan itu, kader juga berkewajiban mentrasformasikannya ke umat yang pada gilirannya seluruh gerak aktifitas umat menggambarkan jati dirinya sebagai orang-orang yang tunduk takut dan taat kepada-Nya saja.

Kader Hidayatullah hendaknya berusaha sekuat tenaga merakit potensi-potensi umat diantaranya dengan menjalin silaturrahim intensif dengan ormas-ormas Islam serta elemen lainnya dimana pada momentum itu kader menyampaikan gagasan-gagasan dasar yang Hidayatullah cita-citakan.

Kedua, pemimpin cerdas. Pemimpin Hidayatullah pada semua level hendaknya memiliki pisau analisis yang tajam dalam membedah persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat dan bangsa.

Dinamika kehidupan bergerak cepat. Pemimpin harus cerdas mengelolanya. Pemimpin Hidayatullah hendaknya terus belajar dan belajar untuk meningkatkan wawasan dan kompetensinya. Seharusnya Ketua DPD misalnya, menjadi mitra dialognya Bupati Walikota tanpa rasa canggung.

Ketiga, logistik yang kuat. Allahuyarham KH Abdullah Said pernah mengingatkan bahwa logistik atau ekonomi merupakan urat nadinya perjuangan. Oleh karena itu sektor ini hendaknya secara simultan mendapat perhatian yang sama dengan sektor-sektor lainnya.

Hidayatullah segera mengeksplorasi bidang-bidang ekonomi yang bisa dikembangakan. Keterbatasan tenaga internal dibidang ini diatasi melalui pendekatan profesional dengan rekrutmen.

Kecenderungan bisnis potensial era millenial dan industri kreatif perlu dicermati oleh bidang ekonomi yang kira-kira potensial untuk menambah penghadilan organisasi. Unit ekonomi yang sudah terkelola dengan baik terus dikembangkan sampai merata secara nasional.

Potensi ekonomi setiap daerah perlu ada database yang secara terpilih bisa ditindaklanjuti dengan menghadirkan showroom produk-produk daerah di Jakarta. Tidak kalah pentingnya dunia bisnis Hidayatullah mengakrabkan diri dengan kemajuan teknologi. E-commerce Hidayatullah walau masih bersinergi dengan entitas lain, merupakan sebuah terobosan elegan yang patut diapresiasi.

Keempat, membersamai umat. Sebagai ormas, Hidayatullah harus menerjunkan kader-kadernya ke tengah-tengah umat. Hidayatullah harus bersenyawa dengan umat baik dalam suka dan dukanya.

Kader yang bergelut dengan persoalan umat dengan sendirinya akan terujikan daya tahan kekaderannya. Kesabarannya teruji. Ibadahnya teruji. Kepemimpinannya teruji. Kedewasaannya akan terbentuk secara alamiah.

Selain itu dengan kehadiran mereka sebagai problem solver umat maka Hidayatullah akan bertahta di hati umat.

Dengan demikian, Insyaa Allah, Hidayatullah secara perlahan tapi pasti akan menjadi elemen berpengaruh pada semua dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara.*

*) Penulis adalah pegiat perubahan sosial

Hidayatullah Babel Terima Tim Pansus Raperda Ponpes

BANGKA BELITUNG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Bangka Belitung (Babel), Ust Irwan Sambasong, Lc, bersama jajaran menerima Tim Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pemberdayaan Pondok Pesantren inisiatif DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Kunjungan pansus tersebut sekaligus bersilaturrahim dalam rangka berkoordinasi dan bersinergi ke Pondok Pesantren Hidayatullah yang beralamat di Desa Teru, Kabupaten Bangka Tengah, Jumat sore, 18 Muharam 1443 (27/08/2021).

Diakuinya, setelah membaca dan membahas pasal per pasal isi yang terkandung dalam Raperda Pemberdayaan Pondok Pesantren Provinsi Kepualauan Bangka Belitung itu, pihaknya merasa sangat luar biasa.

“Kami sangat berbahagia, bersyukur kepada Allah SWT. Kami sangat mendukung dan Insya Allah kita berada di belakang pansus untuk senantiasa mendorong baik dengan doa karena ini semua untuk kebaikan pondok pesantren,” kata Ust Irwan yang juga pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Desa Teru, Kabupaten Bangka Tengah ini.

Ust Irwan mengatakan, Islam adalah agama sempurna sebagaimana Allah SWT memerintahkan untuk bergerak bersama dalam dakwah. Menurutnya, bila diilustrasikan, dakwah ibarat sebuah kendaraan, dia akan berjalan cantik dan manis apabila semua sparepart-nya itu terpasang dengan baik.

“Dan, Alhamdulillah, hari ini kedatangan Tim Pansus Rakerda Pemberdayaan Pondok Pesantren yang dapat menjadi mesinnya dakwah agar bergerak dengan baik. Mudah mudahan mesin yang akan menggerakkan body ini ke depan menjadi lebih baik lagi, Insya Allah,” ujar Irwan yang juga Sekretaris Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Bangka Belitung ini.

Pansus Rancangan Peraturan Daerah inisiatif DPRD Provinsi Kepualauan Bangka Belitung tentang Pemberdayaan Pondok Pesantren, terus mempertajam pembahasan dan memperkuat dukungan, dalam mewujudkan kesejahteraan pondok pesantren di Bangka Belitung.

Tim Panitia khusus (Pansus) yang dikomandani oleh Dede Purnama Al Zulami Lc, MA., AK, beserta anggota, H. Dody Kusdian, Evi Junita, Fitra Wijaya, dan Jawarno, berkunjung ke Pondok Pesantren Hidayatullah.

“Merasakan atmosfer perjuangan para kyai di pondok. Kami berharap semoga kami menjadi bagian dari wasilah itu pak kyai, maka kami mohon doa apa yang diperjuangkan ini dapat terealisasi,” kata Ketua Pansus, Dede Purnama Al Zulami saat diterima bersama rombongan di Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Bangka Tengah.

Pada Senin pekan ini pihaknya juga akan melakukan koordinasi dan konsultasi dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Zoom meeting.

“Setelah berkonsultasi dengan Kemendagri, maka, akan dilakukan pembahasan pasal per pasal karena segala bentuk permasalahan, masukan dan saran sudah diinventarisir,” terangnya.

Di kesempatan yang sama, Anggota Pansus, Dodi Kusdian, menjelaskan, bahwa salah satu yang menjadi benteng moral yakni pondok pesantren.

“Sekolah umum tidak ada jaminan, bagaimana akhlaknya, makanya gak ada jaminan. Salah satu niat baik kita, keinginan kita bagaimana pesantren itu diperkuat,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Senaidi selaku Kabid Pakis Kanwil Kemenag Babel, menyarankan, agar Tim Pansus Raperda Pemberdayaan Pondok Pesantren untuk segera berkoordinasi dan berkomunikasi dengan pemerintah pusat.

Tak hanya itu, pihaknya pun menyarankan agar seluruh pondok pesantren se Bangka Belitung untuk dapat mendukung dan mendoakan Raperda Pemberdayaan Pondok Pesantren inisiatif DPRD Babel ini agar dapat disetujui pemerintah pusat, sehingga dapat disahkan menjadi peraturan daerah demi untuk kemajuan pondok pesantren di Bangka Belitung.

“Sejak tahun 1989 saya masuk ke Bangka Belitung, belum ada atau terpikirkan oleh DPRD memikirkan Perda tentang pondok pesantren, belum terpikirkan. Nah, bersyukurnya, sekarang ini di DPRD ini banyak para kyai dari pondok seperti Ustadz Dede,” ungkapnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, dulunya, bahwa banyak program yang mengarah hanya ke sekolah umum seperti madrasah, sehingga menurutnya, keberadaan pondok pesantren dipandang sebelah mata.

“Padahal di dalamnya bagus tapi dipicingkan kalo melihat pondok pesantren, dulunya. Nah, sekarang ini pondok pesantren sudah mulai diperhatikan dari Kementerian Agama pusat sampai ke DPR. Makanya ada UU Nomor 18 Tahun 2019 itu, turunan itu supaya pemerintah lebih memperhatikan pondok pesantren,” ungkapnya.