Beranda blog Halaman 396

Ketua DPD RI Apresiasi Kemandirian Pangan Ponpes Hidayatullah Sultra

KONAWE SELATAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) AA La Nyalla Mahmud Mattalitti mengapresiasi kemandirian pangan di Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah yang terletak di Konda, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Dalam menciptakan kemandirian pangan, Ponpes Hidayatullah berkolaborasi dengan Lembaga Zakat BMH Sulawesi Tenggara.

“Kemandirian yang dipraktikkan di Ponpes Hidayatullah tentu menjadi kekuatan pesantren di tingkat nasional. Saya mendukung dan mengapresiasi hal tersebut,” kata La Nyalla di sela-sela kunjungan kerjanya ke Sulawesi Tenggara, Sabtu, 15 Rabiul Akhir 1443 (20/11/2021).

Senator asal Jawa timur itu menilai, kemandirian pangan yang ditunjukkan Ponpes Hidayatullah ke depan dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi.

Dikatakannya, umumnya pesantren mengandalkan kemurahan hati para donatur. Namun, dengan pengelolaan yang baik, dana yang dititipkan donatur dapat dikembangkan menjadi kekuatan pangan dan kekuatan ekonomi pesantren.

“Model kemandirian ini perlu dikembangkan dan digaungkan agar menjadi kekuatan pesantren nasional. Lebih baik lagi jika gagasan seperti ini dikelola oleh Kementerian Agama di bawah Direktorat Pondok Pesantren agar kemandirian pangan menjadi kekuatan pesantren kita,” saran La Nyalla.

Ia berharap pemerintah memberikan stimulus untuk program kemandirian pesantren. Menurut dia, para santri yang tengah menjalani pendidikan di pesantren tentu memiliki potensi yang cukup besar untuk dapat digerakkan memajukan perekonomian di lingkungan mereka.

“Tak hanya di tingkat pesantren, kemandirian ekonomi yang nantinya terbangun di pesantren juga akan berdampak langsung bagi penguatan perekonomian di desa,” tegas La Nyalla.

Program ini juga secara tidak langsung melatih dan mengembangkan potensi yang dimiliki para santri.

Harapannya, ketika selesai menjalani pendidikan di pesantren, para santri tak hanya mahir dalam bidang agama, tetapi juga meresonansi pembangunan perekonomian di daerah asalnya.

“Sehingga, santri menjadi pribadi yang siap terjun ke lapangan mengaplikasikan disiplin ilmu yang dimilikinya selama menimba ilmu di pesantren. Santri tak hanya mahir di bidang agama, tetapi juga memiliki keahlian lainnya,” tutur La Nyalla. (*)

“Anak, Narkoba, dan Gawai” Ngeteh Bersama Ketua SAI Musliadi Raja

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pada program Ngobrol Edukatif tentang Hidayatullah (Ngeteh) kali ini membahas mengenai peran gadget membentuk prilaku dan mental seorang anak dalam kehidupanya yang dapat menjadi racun dan berbagai hal menarik lainnnya.

Perbincangan bersama Ketua Sahabat Anak Indonesia (SAI) yang juga Ketua Departemen Sosial Dewan Penngurus Pusat Hidayaullah, Musliadi Raja, ini juga menjelaskan kaitan antara kerja kerja sosial yang berdimensi spirtual. Apa itu? Simak selengkapnya. Klik di sini untuk menyaksikan.

Hanya karena Kebaikan Allah Semata

0

BILA dengan uang seribu rupiah Anda mendatangi showroom Mercedes Benz untuk membelinya, mungkinkah? Jika kemudian hanya dengan uang itu Anda bisa membawa pulang mobil mewah secara tunai, tanpa hutang atau kredit, apa sebenarnya yang terjadi?

Meski ada beberapa alternatif jawaban, tapi bila kita kesampingkan seluruh kemungkinan perbuatan kriminal, penipuan, dan ketidakwarasan, maka tersisa satu pilihan saja: “hanya karena kebaikan pemiliknya”.

Begitulah keadaan kita yang sebenarnya ketika berhadapan dengan Allah dan mengharap surga-Nya. Kita menghadap Allah dengan membawa amal yang cacat di sana-sini, namun memanggul segunung harapan akan pembalasan yang maha sempurna.

Mari meneliti shalat-shalat kita, kapankah yang khusyu’? Seberapa banyak kita sungguh-sungguh beristighfar memohon ampunan atas aneka kesalahan dan kelalaian? Setingkat apa kita bertahmid memuji keagungan Allah dan mensyukuri karunia-Nya? Seserius apa kita bertahlil mengesakan Allah dan membersihkan-Nya dari segala sekutu?

Sebenarnyalah, bahkan amal kita yang paling serius sekali pun, tidaklah sepadan dengan surga-Nya. Mengapa demikian? Sebab, untuk bisa beramal kita bergantung kepada sekian banyak karunia Allah yang lain.

Untuk mengucap hamdalah kita membutuhkan lisan, dan lisan adalah karunia-Nya. Untuk mengerjakan shalat kita harus bersuci dengan air, sedangkan air adalah karunia-Nya. Untuk menunaikan Zakat Maal kita tidak perlu menciptakan sendiri sapi, kambing atau unta; tapi sekedar menyalurkannya kepada hamba-hamba Allah yang lain.

Jika saja lisan kita dicabut, atau air dimusnahkan, atau hewan-hewan ternak dilenyapkan, atau semua karunia-Nya ditiadakan, dengan apa kita mematuhi-Nya?

Sungguh, bila ibadah-ibadah kita hanya bisa terlaksana berkat karunia-Nya juga, bukankah sangat mengagumkan jika Allah masih membalasnya dengan berlipat ganda?

Jika untuk mensyukuri salah satu kenikmatan dari Allah kita memerlukan kenikmatan lain yang juga Dia anugerahkan, bukankah sangat menakjubkan jika kita masih diberi ganjaran berlimpah? Bahkan, bukankah seluruh diri kita adalah pemberian-Nya?

Oleh karenanya, sangat tepat jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berusahalah untuk tepat dan mendekati (amal terbaik), dan bergembiralah! Sungguh, tidak seorang pun yang dibuat masuk surga oleh amalnya.” Para Sahabat bertanya, “Tidak juga Anda, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga saya, kecuali jika Allah melimpahi saya dengan rahmat-Nya. Beramallah kalian, karena sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinyu, meskipun hanya sedikit.” (Riwayat Muslim, dari ‘Aisyah).

Pada permulaan kitab ar-Risalah, Imam Syafi’i (w. 204 H) berkata, “Segala puji bagi Allah, (Dzat) yang tidak bisa ditunaikan kesyukuran atas salah satu nikmat-Nya melainkan dengan menggunakan nikmat-Nya yang lain, yang kemudian mengharuskan orang yang berbuat demikian itu untuk bersyukur lagi.”

Sariy as-Saqathi (w. 251 H) juga berkata, “Bersyukur itu nikmat (dari Allah), dan mensyukuri nikmat itu juga merupakan nikmat, demikianlah seterusnya syukur itu tidak akan pernah sampai ke dasarnya.” (Mukhtashar Syu’abul Iman, hal. 66)

Seorang penyair hikmah, Mahmud al-Warraq (w. 225 H) pernah menyenandungkan syair: “Jika syukurku atas satu nikmat Allah juga merupakan satu nikmat, maka dalam hal seperti ini seharusnya aku bersyukur pula. Mana mungkin syukur bisa dilakukan, kecuali dengan (menggunakan) karunia-Nya pula, meskipun masa dipanjangkan dan usia sambung-menyambung? Jika (seseorang) ditimpa dengan kegembiraan maka kegembiraannya meliputi segalanya; namun jika dia ditimpa kemalangan maka hal itu diiringi dengan pahala. Pada kedua keadaan itu, selalu ada karunia dari-Nya, sehingga seluruh angkasa, daratan, maupun lautan tidak akan mampu menampungnya.” (Mukhtashar Syu’abul Iman, hal. 67)

Bila direnungkan, sepertinya seluruh ibadah di sepanjang usia kita tidak akan sepadan ditukar dengan salah satu karunia-Nya, terlebih-lebih lagi bila masih ditambah dengan kenikmatan surga. Betapa mahalnya karunia pendengaran, penglihatan, dan akal sehat! Betapa berharganya nikmat kehidupan yang Dia anugerahkan! Betapa agungnya nilai iman yang Dia berikan!

Sekarang, kita baru mengerti mengapa Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)

Terkait ayat ini, Ibnul Anbari mengatakan, “(Allah telah memberi kalian) segala sesuatu yang kalian minta maupun tidak. Sebab kalian tidak pernah meminta matahari, bulan, dan sebagian besar nikmat lainnya yang sudah Dia berikan kepada kalian sejak semula.” (Tafsir Zadul Masir, II/514)

Benar. Betapa untuk memastikan kita bisa hidup nyaman di dunia ini, Allah telah menyiapkan segala sesuatu tanpa kita memintanya, bahkan banyak diantaranya yang tidak kita sadari.

Perhatian Allah kepada manusia sungguh amat-sangat luar biasa, sehingga bila manusia beribadah tanpa dibalas surga pun sebetulnya Allah tidak zhalim. Bahkan, seluruh keseriusan ibadah mereka tidak akan setara dengan sebagian kecil dari karunia dan perhatian-Nya.

Hanya saja, semata-mata karena kebaikan-Nya pulalah Allah memerintahkan kita beribadah lalu Dia membalasnya dengan surga. Padahal, sebelum perintah-Nya datang segala karunia-Nya telah mengalir tak terhitung.

Kita berutang teramat banyak kepada Allah. Tapi, lagi-lagi karena kebaikan-Nya maka kita tidak ditagih dengan harga yang sepadan.

Allah tahu, kita tidak akan sanggup membayar-Nya. Jadi, jangan merasa surga itu diberikan karena amal kita, tapi semata-mata karena kebaikan-Nya. Wallahu a’lam.

Ust Alimin Mukhtar

Walikota Buka Diklat SAR Hidayatullah Kalimantan Utara

TARAKAN (Hidayatullah.or.id) — Walikota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes., membuka kegiatan pendidikan dan pelatihan (Diklat) Search and Rescue (SAR) Hidayatullah yang dilaksanakan di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Karungan, Mamburungan Timur, pada Rabu, 12 Rabiul Akhir 1443 (17/11/2021).

Kegiatan diklat SAR ini diselenggarakan oleh SAR Hidayatullah Kalimantan Utara dengan tujuan untuk membentuk personil SAR Hidayatullah Kalimantan Utara yang profesional, berdedikasi tinggi, dan berkomitmen untuk untuk memberikan yang terbaik dalam pelayanan pertolongan kebencanaan.

Terselenggaranya kegiatan ini disambut baik oleh Walikota mengingat kegiatan ini sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ia berharap agar pelatihan ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan dikembangkan dalam skala yang lebih luas lagi.

Tak lupa, ia berpesan kepada panitia dan semua pihak yang terlibat untuk terus menerapkan protokol kesehatan secara ketat baik selama kegiatan maupun di keseharian.

Bersinergi dengan Pemuda Hidayatullah, kegiatan diklat SAR yang rencananya berlangsung selama 10 hari ini digelar di beberapa titik diantaranya di Pantai Amal.

Salah satu Panitia Diklat SAR Hidayatullah Kaltara, Ahmad Munzhif, mengatakan tujuan diklat SAR ini diantaranya untuk memberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan dasar SAR kepada Pemuda Hidayatullah dan segenap pengurus Hidayatullah yang memiliki potensi rescuer.

Diharapkan dari diklat ini, dapat membentuk tenaga rescuer yang memiliki pengetahuan, ketrampilan, sikap dan mental dibidang teknik pencarian dan pertolongan terhadap korban pada tingkat dasar.

Adapun beberapa sasaran dari pelatihan dasar SAR ini adalah memahami tentang operasi SAR di Indonesia, mampu melakukan teknik pertolongan pertama pada korban, mampu melakukan teknik evakuasi korban di medan vertikal, mampu melakukan pencarian dan pertolongan di gunung / hutan.

Selain itu, juga diharapkan membekali agar mampu melakukan teknik pertolongan di air tingkat dasar, memiliki pengetahuan dan keterampilan pendukung operasi SAR, mampu melakukan kegiatan rappeling dan water free jump, dan memiliki sikap mental yang layak sebagai tenaga rescue yang siap membantu siapapun dan dimanapun tanpa memandang suku, ras, dan agama. (ybh/hio)

Hidayatullah Bintan Bekali Anak Muda Skil Public Speaking

0

BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Kemampuan berbicara di depan umum (public speaking) sangat dibutuhkan oleh praktisi di berbagai bidang khususnya bagi seorang aktivis dakwah dan tarbiyah. Karena itu DPD Hidayatullah Bintan menggelar pelatihan public speaking bagi masyarakat umum.

Kegiatan bertahuk Seminar Public Speaking ini dihelat di kampus Madya Hidayatullah Bintan dengan menghadirkan sejumlah narasumber yang telah berpengalaman dengan mengusung tema “The Power Of Public Speaking”, Ahad, 9 Rabiul Akhir 1443 (14/11 2021).

Menurut inisiator acara, ketua DPD Hidayatullah Bintan, Ust Sholehuddin, kemampuan public speaking harus dimiliki anak-anak muda sebab nantinya mereka akan menjadi pemimpin dan akan berinteraksi dengan orang banyak, seorang pemimpin harus bisa mempengaruhi orang lain dengan kemampuan komunikasi yang baik.

Materi melatih kemampuan berbicara di depan umum pada sesi pertama disampaikan oleh dai kondang di kabupaten Bintan yang juga ketua MUI Kecamatan Toapaya, Ustadz Meydi, S.Sos.I dan Fermansya Fatria Pratama, dai dan dosen public speaking.

Dalam paparannya, Meydi menyampaikan bahwa public speaking kelihatannya mudah tetapi kalau tidak sering dilatih akan mengalami jika berbicara di depan umum.

“Seorang pemimpin harus dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada org lain,” terang Meydi.

Pada sesi berikutnya, Fermasyah Fatria Pratama, membagikan trik dan teknik bagaimana menjadi seorang pembicara yang handal, cara mengatasi grogi dan ketakutan lainnya, juga diajarkan tentang cara membaca karakter sesorang melalui mata, sikap tangan dan kakinya.

Acara seminar ini disambut antusia para peserta, sebagaimana dituturkan oleh salah seorang peserta, Rianto, yang mengaku sangat senang bisa mengikuti seminar ini.

Rianto berharap kegiatan seperti ini tidak hanya sekali diselenggarakan, ia berharap setiap bulan untuk mengasah kemampuannya berbicara di depan umum.

Demikian juga peserta dari Tanjung Pinang, Syamsul Alam, menuturkan bahwa banyak ilmu yang didapatkan dari pemateri dan berharap bisa juga diselenggarakan di Hidayatullah Tanjung Pinang.

Ketua panitia Arief Agustiawan dalam laporannya menyampaikan bahwa tujuan acara ini untuk meningkatkan skil public speaking pengurus dan anggota binaan DPD Hidayatullah Bintan dan sekitarnya dan mahasiswa serta masyarakata pada umumnya.*/Mujahid M. Salbu

Ketika Mahasiswa Jemput Prof Dr Hamid Fahmy Zarkasyi di Stasiun Pakai Motor

0

SAYA mengenal Gus Hamid alias Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi kala masih kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam (STAI) Lukman Al Hakim, Surabaya, Jawa Timur, di tahun 2005.

Pertama kali jumpa beliau di Aula Rahmat Rahman Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya dan berhasil diskusi dengan beliau bakda sholat Dhuhur. Saya memang kagum kepadanya.

Beberapa alasan bisa saya sampaikan di sini. Pertama beliau orangnya santun. Padahal cerdasnya luar biasa, apalagi kalau bicara filsafat. Tokoh-tokoh JIL ciut nyali kalau harus berhadapan dengan beliau.

Suatu waktu saya pernah di kantor Majalah Suara Hidayatullah menerima kunjungan seorang tokoh yang pernah liberal. Ketika diberi tahu bahwa di ruang rapat ada Gus Hamid, ia langsung menolak bertemu, “Beliau guru saya di Gontor,” katanya beralasan.

Saya sebut santun karena orang seperti saya pun beliau ladeni untuk diskusi dan bertanya-tanya tentang filsafat. Sudah jelas sebagai mahasiswa saya hanyalah anak kecil yang bisa dikatakan baru bisa megang “pistol-pistolan”.

Alasan berikutnya adalah beliau sangat menarik di dalam bertutur. Kalimat-kalimatnya tidak terlalu panjang dan langsung mengusik akal untuk bernalar.

Ketika itu saya ingat beliau mengatakan bahwa “Mahasiswa itu tidak seharusnya terus menekuni dunia aktivisme. Harus ada yang masuk ke ruang-ruang intelektual.”

Ungkapan itu mulai mengubah pandangan saya tentang mahasiswa yang doyan demonstrasi (bukan berarti saya anti demonstrasi) dan aksi-aksi keorganisasian yang dilakukan sebatas mau dicap sebagai mahasiswa dan aktivis sejati. Terlebih memang kala itu, semakin lama kuliah, sepertinya semakin sah dianggap mahasiswa yang aktivis.

Selanjutnya Gus Hamid bawaannya tenang. Walau sejatinya beliau keturunan bangsawan, tapi beliau tidak menolak saya jemput dengan motor matic di tahun 2007.

Bahkan kala pulang dari Kantor Majalah Suara Hidayatullah ke stasiun, beliau sempat mengajak saya lihat-lihat buku di Gramedia Surabaya di Jalan Kertajaya.

Buku HFZ Sore ini (12/11/2021) orderan buku saya tentang Gus Hamid, judulnya, “Hamid Fahmy Zarkasyi Biografi Intelektual, Pemikiran Pendidikan, dan Pengajaran Worldview Islam di Perguruan Tinggi” tiba di rumah.

Sembari leyehan, karena memang sepekan ini banyak mondar-mandir Jakarta-Bogor, saya perlahan membuka halaman demi halaman buku tersebut.

Sampai di halaman 80 saya putuskan jeda, nanti dilanjutkan lagi. Namun, yang sebenarnya terjadi dalam hati saya adalah hadirnya rasa cinta kepada Gus Hamid.

Bagaimana tidak, ternyata perjuangan beliau di dalam menuntut ilmu sampai saat ini lika-likunya bukan sekedar panjang namun penuh spirit dan pelajaran. Usia 5 tahun beliau sudah kehilangan sang ibu, Siti Partiyah.

“Setelah meninggalnya Siti Partiyah, Hamid memulai proses pendidikan sekolah dasar tanpa kehadiran seorang ibu,” demikian dituliskan dalam buku itu (halaman 38).

Sebagai manusia saya paling mudah tersentuh oleh kisah seperti itu. Seketika saya membayangkan, bagaimana anak-anak yang kecil dan tidak lagi memiliki seorang ibu.

Gus Hamid tentu mengalami guncangan batin tidak ringan kala itu. Namun, Alhamdulillah, beliau dianugerahi seorang ayah yang luar biasa, Kiai Imam Zarkasyi.

Perjalanan bersama sang ayah yang juga gurunya, Kiai Imam Zarkasyi, Gus Hamid juga mengalami satu kondisi yang luar biasa.

Pada April 1985 melalui sang kakak yang berada di Mesir, Amal Fathullah Zarkasyi mendapatkan kabar bahwa Pak Zar (sapaan akrab Kiai Imam Zarkasyi) sakit.

Kala itu, Ahmad Hidayatullah Zarkasyi yang juga sama Gus Hamid di Pakistan yang berangkat pulang ke Indonesia. Tetapi takdir seakan begitu cepat. Kabar pun sampai kepada Gus Hamid, “…Pak Zar telah meninggal dan mereka (anak-anaknya yang sedang kuliah di Pakistan dan Mesir) tidak perlu pulang.”

Subhanallah, di sini saya dapati sosok Gus Hamid yang ramah dan tenang ternyata sangat tangguh di dalam menghadapi kenyataan hidup yang tak mudah. Namun, semua sangat indah karena di dalam medan jihad, menuntut ilmu.

Mengenal Gus Hamid

Saya menuliskan kisah ini bukan semata karena kagum dan cinta kepada beliau, tetapi lebih jauh adalah karena memang sangat penting generasi muda Islam mengenal sosok alim dan sholeh ini.

Beliau adalah sosok Kiai, Rektor dan juga Guru Besar yang selalu hadir di dalam problematika mendasar umat. Terbaru dan viral beliau mengatakan bahwa kalau generasi milenial ini berada dalam sebuah tragedi, karena kecintaannya terhadap kesadaran membaca buku amatlah rendah.

Sekelas beliau, bisa saja itu tidak menjadi pilihannya untuk disampaikan. Tetapi, demi bangkitnya anak-anak muda Islam yang bisa dikatakan mulai abai terhadap ilmu dan buku, beliau sendiri langsung mengingatkan kita semua.

Gus Hamid juga sosok akademisi yang aktivis di bidang intelektual. Beliau menghimpun teman dan murid-muridnya untuk menerbitkan sebuah Jurnal Pemikiran yang luar biasa, Islamia sejak 2005.

Artinya, kaum muda Islam jangan pernah merasa puas di dalam hidup ini dengan profesi-profesi masing-masing. Ayo turun bersama, lihat problematika umat dan mari sadarkan dengan gerakan keilmuan.

Jadi, anak muda Islam, penting sekali mengenal sosok beliau, yang begitu gigih di dalam menuntut ilmu kemudian kembali ke Indonesia dan tak kenal lelah mengedukasi umat Islam tentang pentingnya ber-Islam secara kaffah. Bukan hanya syariatnya tetapi juga ber-Islam secara intelektual.*

*) IMAM NAWAWI, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah

PLN Serahkan Bantuan Kebun Hidroponik, Langsung Panen Perdana

GUNUNG TEMBAK (Hidayatullah.or.id) – Pihak PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pengatur Distribusi Kalimantan Timur dan Utara (UP2D Kaltimra) melakukan silaturahim dan serah terima bantuan program tanggung jawab sosial budidaya pertanian hidroponik kepada Pondok Pesantren Hidayatullah Ummulqura Balikpapan.

Acara itu berlangsung di kantor YPPH Balikpapan, Gunung Tembak, Kalimantan Timur, Rabu, 11 Rabiul Akhir 1443H (17/11/2021).

Acara silaturahim itu dihadiri Himawan Sutanto selaku Senior Manager Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Kaltimra. Himawan hadir mewakili General Manager PLN UIW Kaltimra, Saleh Siswanto, yang sedianya hadir namun berhalangan karena sakit.

Hadir pula sejumlah Dewan Pengawas dan Pembina Hidayatullah Ummulqura, Ketua YPPH Balikpapan Ustadz Hamzah Akbar, jajaran pengurus YPPH, serta para guru MI-SMH Putra.

Ustadz Hamzah dalam sambutannya mengaku bersyukur atas apa yang diberikan kepada pesantren. “Alhamdulillah ya ada hidroponik ini, ini juga bisa menjadi pembelajaran,” tuturnya.

“Yang kita perkuat sekarang kepada adek-adek (santri dan mahasantri) adalah mengenai pengelolaan kebun hidroponik ini agar senantiasa terjaga kesehatannya,” tambahnya.

Ia menjelaskan, pengelola kebun hidroponik bantuan PLN itu adalah mahasiswa STIS Hidayatullah. “Kita harapkan ini juga nanti kita bisa meng-upgrade skill mahasiswa dan mampu mengembangkan (perkebunan) ini.”

Pihak yayasan juga menyampaikan terima kasih terutama kepada para dosen dan mahasiswa. “Nanti mereka yang akan mengelola langsung di lapangan. In syaa Allah dana yang diinfakkan nanti akan dimaksimalkan.”

Bantuan kebun hidroponik itu merupakan salah satu bentuk kerja sama antara Pesantren Hidayatullah Ummulqura dengan PT PLN. “Dalam hal ini merupakan bentuk kerja sama PLN dengan Ponpes Hidayatullah, Pak Ustadz,” tutur Himawan pada sambutannya.

Ia mengungkapkan, bantuan perkebunan hidroponik ini juga merupakan salah satu dari program kerja PLN. PLN menginginkan kehadirannya mampu memberikan kenikmatan dan kenyamanan terutama bagi para petani.

“Kita punya program membangun pertanian, dan satunya adalah hidroponik ini. Kami dari PLN berupaya untuk membantu pertanian. Apakah bisa? Bisa! Karena sekarang ini banyak perkebunan yang melibatkan ketenagaan listrik, satu di antaranya adalah perkebunan hidroponik,” jelasnya.

Kebun hidroponik dikelola oleh mahasiswa STIS Hidayatullah itu diharapkan Himawan bisa menjadi wadah pembelajaran bagi mereka dan menambah keilmuan bidang pertanian.

“Semoga hidroponik ini bisa bermanfaat untuk keilmuan terutama untuk pertanian. Ini bisa dimanfaatkan oleh adek-adek mahasiswa STIS Hidayatullah, ini bisa dikembangkan untuk keilmuan-keilmuan,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ustadz Hamzah Akbar, bahwa mahasiswa mampu meningkatkan keilmuan mengenai bidang pertanian. Apalagi kelak mereka akan berada di tengah-tengah masyarakat.

Sebagai informasi tambahan, Himawan mengungkapkan saat ini PLN memiliki dua program yang dapat diminati oleh masyarakat.

Pertama, mulai dari November hingga Desember 2021, ada program yang dinamakan ‘Nyaman Kompor Listrik’. Program ini tujuannya, kata dia, memberikan kenyamanan kepada masyarakat yang ingin menggunakan kompor listrik. Nantinya, apabila masyarakat membeli kompor listrik di toko yang telah bekerja sama dengan PLN, maka konsumen itu akan mendapat diskon tambah daya.

Kedua, PLN Mobile. Program ini dinilai bermanfaat untuk pelayanan masyarakat, mulai dari pembelian token, bayar listrik, pengaduan, dan lainnya.

“Kami mohon dari ustadz-ustadz semua, semoga kami bisa melayani masyarakat dengan baik, supaya kami dimudahkan dan menjalankan tugas dan diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala,” ungkapnya penuh harap di akhir sambutannya di depan hadirin.

Sayur Tanpa Pestisida

Setelah secara simbolis penyerahan bantuan tersebut di kantor YPPH, berlanjut ke agenda berikutnya yaitu pemotongan pita sebagai simbolisasi peresmian perkebunan hidroponik tersebut. Himawan melakukan pemotongan pita didampingi Ustadz Hamzah dan para tetamu VIP di lokasi perkebunan itu.

Lokasi kebunnya berada di Kampus Dakwah, tepatnya di sebelah barat Kampus Tarbiyah Hidayatullah Ummulqura. Kebun ini berada di pinggir jalan masuk ke wilayah Villa Madani, salah satu kompleks permukiman warga Hidayatullah Gunung Tembak.

Himawan Sutanto melakukan pemotongan pita kebun hidroponik.* [Foto: SKR/MCU]
Sebagai informasi, Kampus Tarbiyah merupakan istilah bagi kampus pesantren yang dikelilingi pagar dan kanal. Disebut Kampus Tarbiyah karena di dalam kampus ini berdiri berbagai tempat pendidikan formal para santri dan mahasantri, putra dan putri. Sedangkan di luar Kampus Tarbiyah, disebut Kampus Dakwah, yaitu area yang ditempati warga Hidayatullah Gunung Tembak.

Di kebun hidroponik tersebut, para tamu dari rombongan PLN dan sejumlah ustadz Hidayatullah melakukan panen resmi perdana. Sayur-sayur yang dipanen saat itu antara lain sawi, selada air, bayam merah, dan lain-lain sebagainya. Para tamu pun diberikan oleh-oleh sayur mayur tersebut yang mereka pilih sendiri. Sayur yang dipetik langsung dari kebun itu tampak segar, baik sayur hijau maupun sayur merah.

Kepala Biro Humas YPPH Ustadz Hidayat Jaya Miharja mengatakan bahwa sayur-sayur hidroponik itu sehat karena dibudidayakan tanpa pestisida. “Ini enda pakai pestisida,” ujarnya di sela-sela acara panen yang berlangsung penuh kegembiraan dan keceriaan itu.

Dalam wawancara yang dilakukan di perkebunan hidroponik, kepada Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah dan pewarta lain, Himawan mengungkapkan alasan dipilihnya kebun hidroponik. Yaitu karena hidroponik merupakan perkebunan yang modern, praktis, dan sehat.

Ia juga berharap agar dengan adanya bantuan seperti ini dapat mengembangkan aspek-aspek ekonomi dan lingkungan masyarakat.

“Kita bertekad mengembangkan aspek-aspek, ekonomi-ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kalau masyarakat ekonominya tumbuh. Maka listrik akan tumbuh. Itu bisa kita rasakan sebagaimana ketika masa seperti ini,” tuturnya.

Ia menyebutkan saat ini hubungan antara listrik, perkebunan, dan masyarakat ibarat ayam dan telur. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan dan saling membutuhkan.* (Asrijal/SKR/MCU)

Sumber: ummulqurahidayatullah.id

Gubernur Sumut Hadiri Pernikahan Massal Santri Hidayatullah Deli Serdang

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) – Gubernur Sumatera Utara H. Edy Rahmayadi hadiri pernikahan massal Mubarak 11 pasang dai dan guru Qur’an gelaran BMH bersama Pesantren Hidayatullah Sumatera Utara komplek Pesantren Hidayatullah Bandar Labuhan Tanjung Morawa Deli Serdang, Sabtu, 8 Rabiul Akhir 1443 (13/11/2021).

Para peserta nikah mubarak ini adalah santri yang sekian lama telah dibina, bahkan beberapa diantaranya telah bertugas dakwah merintis pesantren diberbagai daerah di wilayah Sumatera Utara. Setelah pernikahan ini mereka akan ditugaskan ke daerah untuk kuatkan barisan dakwah.

Pernikahan yang dihadiri sekitar 3000-an keluarga mempelai dan tamu undangan, juga di hadiri Wakil Bupati Deli Serdang H. M. Ali Yusuf Siregar.

Di depan para pengantin, Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, cukup takjub dengan gelaran pernikahan tersebut. Betapa tidak, Baginya itulah pengalaman pertama menghadiri nikah Mubarak. Sesama mempelai tidak saling kenal. Khawatir tertukar, apalagi gunakan cadar dan masker yang sama sambil tertawa.

Pernikahan ini disamping untuk menggenapkan agamanya juga sebagai kado terindah para da’i dan guru Qur’an, yang dengannya mereka akan semakin kokoh berdakwah dan membina ummat.

Pernikahan Mubarak ini juga sebagai solusi cerdas yang dihadirkan Hidayatullah dalam melaksanakan pernikahan.

Hingga saat ini, betapa seseorang bila ingin menikah dihadapkan berbagai persiapan dan persyaratan yang berat, bahkan dengan hal itu terkadang menjadi penghalang seseorang untuk menikah.

Melalui pernikahan Mubarak ini, semua di proses dan dijalankan dengan mudah dan sederhana dengan tetap menegakan syariatnya dan ketentuan negara.

“Sebagaimana pengantin baru, kami para peserta juga deg degan saat ijab kabul karena disaksikan ratusan orang, terlebih saat menyerahkan mahar dan bertemu keluarga istri. Semua kami belum pernah kenal. Jangankan jumpa, kenal nama saja tidak,” ujar Fatih Muammal (19) sebagai peserta termuda dalam acara pernikahan Mubarak yang kali kedua di adakan di Sumatera Utara ini.

“Kepada para donatur kami ucapkan terimakasih kepada karena telah banyak membantu terlaksananya hajatan besar ini. Semoga Allah mengganti dengan pahala yang besar penuh berkah” pungkas Lukman BAMS, ketua BMH Sumut.*/Herim

Ustadz Nashirul Haq Dorong Kader Dai Terus Tingkatkan Kualitas dan Kapasitas

0

DENPASAR (Hidayatullah.or.id) — Disela kepadatan agendanya, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq menghadiri rangkaian acara Rapat Koordinasi (Rakor) Dakwah 5 Wilayah (Bali, NTB, NTT, Maluku & Maluku Utara) dan Daurah Marhalah Wustha se-Bali, 11-14 November di Kota Denpasar, Bali.

Dalam pembukaan acara tersebut, Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI Pusat yang karib disapa UNH ini mendorong para dai khususnya kader Hidayatullah agar senantiasa membangun kualitas dir dalam berbagai aspeknya.

Dia mengatakan, setiap gelaran kegiatan daurah maupun upgrading yang diselenggarakan adalah diarahkan dalam rangka tersebut, yakni berupaya membangun kualitas dan kapabilitas kader untuk menunjang kiprah pengabdiannya di tengah umat.

“Kader itu harus berkualitas dari ilmunya, ibadahnya, dan skil manajerialnya yang terus dilatih melalui pembinaan-pembinaan rutin atau daurah yang kita lakukan,” katanya.

UNH dalam kesempatan tersebut juga mengajak peserta menyerap esensi daripada Al Qur’an dalam melakukan kerja kerja dakwah yang membumi sehingga objek dakwahnya mendapatkan pencerahan dan petunjuk.

Ia menyebutkan, sebagaimana Al Qur’an surah Yusuf ayat 108 yang mewajibkan setiap dai harus mempunyai ilmu dan menginternalisasi betul apa yang ia dakwahkan, karena itulah bashirah yang dimaksud dalam ayat tersebut.

Ayat tersebut juga, lanjutnya, memuat pola gerakan dakwah sistematis sebagaimana telah diterapkan oleh Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat.

“Kandungan surat Yusuf ayat 108 ini bahwa kunci keberhasilan gerakan oleh dua hal, yang pertama, pola gerakan yang terstruktur, dinamis, dan sistematis. Dan, yang kedua, adalah adanya kepemimpinan,” imbuhnya.

Dalam acara pembukaan juga turut hadir dan memberikan sambutan Anggota DPD MPR RI Provinsi Bali H. Bambang Santoso. Pada kesempatan tersebut Bambang sempat menyampaikan materi kajian hati.

Ia menekankan keutamaan kebeningan hati dalam mengarungi kehidupan ini sehingga segala aktifitas semaa diniatkan untuk pengabdian hanya karena Allah. Ia mengandaikan itu antara bejana dengan hati.

“Perbedaan antara bejana dan hati adalah ketika bejana diisi, maka akan penuh dan tidak bisa menampung lagi. Tapi ketika hati atau rohani diisi dengan tazkiyatunnafs, zikir, dan mengingat Allah, maka tidak ada batasan mendapatkan kebaikan-kebaikan dan kemuliaan dari Allah SWT,” imbuhnya Bambang,

Rakor Dakwah 5 Wilayah yang berlangsung di Bali ini digelar pada hari Jum’at-Ahad, 12-13 November 2021 (7-9 Rabiul Akhir 1443 H) bertempat di Kampus Induk Hidayatullah Bali yang menghadiran narasumber Ust Nursyamsa Hadits, Ust Shohibul Anwar, dan Ust Iwan Abdullah.

Lalu kegiatan Daurah Marhalah Wustha untuk ikhwan digelar pada Kamis-Ahad, 11-14 Nov 2021 (6-9 Rabiul Akhir 1443 H) bertempat di Kampus Induk Hidayatullah Bali yang menghadirkan pemateri Ust Nashirul Haq, Ust Saleh Usman, Ust Hanifullah, dan Ust Hamim Thohari. Lalu ada juga Daurah Marhalah Wustha Muslimat Hidayatullah.*/Pungki Hurmadani

Malaikat Mendoakan Orang yang Menjaga Wudhu

SIAPA yang tidak senang didoakan dalam kebaikan? Setiap orang pasti senang didoakan dalam kebaikan. Apalagi jika yang mendoakan adalah para malaikat. Siapakah orang yang mendapat doa dari para malaikat?

Orang yang senantiasa dalam keadaan suci dengan menjaga wudhu akan didoakan oleh para malaikat. Para malaikat yang langsung akan memonohonkan ampunan kepada Allah bagi orang-orang yang senantiasa menjaga wudhu.

Simaklah Hadis Rasulullah ﷺ berikut ini.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Buraidah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

دخلت الجنة فرأيت بلالاً فيها فقلت لبلال بم سبقتني إلى الجنة فقال لا أعرف شيئاً إلاّ أني لا أحدث وضوأً إلاّ أصلي عقيبه ركعتين

“Aku memasuki surga, tiba-tiba aku melihat Bilal sudah berada di sana. Akupun bertanya kepada Bilal : Amalan apa yang menjadikanmu mendahuluiku masuk surga?” Dia menjawab : “Aku tidak tahu apapun, hanya saja aku tidak pernah berhadats kecuali aku langsung berwudlu dan shalat dua rakaat setelahnya.” (HR: Ahmad no 22487)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَهُ ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ، فَيُقْبِلُ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ إِلا وَجَبَ لَهُ الْجَنَّةُ

“Tidaklah seorang muslim berwudhū’ lalu dia membaguskan wudhū’ nya dan shalat 2 raka’at dalam keadaan hati dan wajahnya khusyū’ pada 2 raka’at (shalat) tersebut kecuali wajib baginya untuk mendapatkan surga.” (HR Muslim)

Kita mengetahui bahwa jumlah malaikat itu sangat banyak. Lebih banyak dari jumlah manusia di bumi ini. Bisa dibayangkan jika seluruh malaikat memohonkan ampunan kepada Allah untuk kita, betapa beruntungnya kita. Mudah-mudahan dosa-dosa kita diampuni oleh Allah Swt. Karena itu, berusahalah menjadi orang yang senantiasa menjaga wudhu.

Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.’” (HR. Ibn Hibban 3/329. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Perawi hadis ini termasuk perawi kitab shahih).

Menjaga wudhu adalah bagian dari karakter seorang mukmin sejati. Karena dengan menjaga wudhu, kita akan lebih mampu menjaga perilaku kita. Mulut kita akan terkontrol untuk tidak membicarakan hal-hal yang buruk.

Mata kita juga akan terjaga untuk tidak melihat hal-hal yang diharamkan Kita akan lebih mampu menjaga telinga kita dari mendengarkan pembicaraan yang negatif. Tangan kita juga lebih teraga untuk tidak melakukan perbuatan tercela.

Demikian juga kita akan jaga kaki kita untuk tidak melangkah ke tempat tempat maksiat itu semua kita lakukan karena kita merasa dalam keadaan suci berwudhu. Kita merasa tidak nyaman untuk mengotori kesucian diri dan jiwa kita dengan perkataan dan perbuatan tercela.

Dengan demikian, pantaslah para malaikat memohonkan ampunan bagi orang orang mukmin yang menjaga wudhu. Inilah doa para malaikat bagi orang-orang mukmin sejati.

ٱلَّذِينَ يَحۡمِلُونَ ٱلۡعَرۡشَ وَمَنۡ حَوۡلَهُۥ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ وَيُؤۡمِنُونَ بِهِۦ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَىۡءٍ رَّحۡمَةً وَعِلۡمًا فَٱغۡفِرۡ لِلَّذِينَ تَابُواْ وَٱتَّبَعُواْ سَبِيلَكَ وَقِهِمۡ عَذَابَ ٱلۡجَحِيمِ

رَبَّنَا وَأَدۡخِلۡهُمۡ جَنَّٰتِ عَدۡنٍ ٱلَّتِى وَعَدتَّهُمۡ وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآئِهِمۡ وَأَزۡوَٰجِهِمۡ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

وَقِهِمُ ٱلسَّيِّـَٔاتِ وَمَن تَقِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ يَوۡمَئِذٍ فَقَدۡ رَحِمۡتَهُۥ وَذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.”

“Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

“dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS: Al Mukmin: 7-9)

Setiap perbuatan yang kita lakukan mesti mengandung konsekuensi. Perbuatan baik menimbulkan kebaikan dan maslahat, sedangkan perbuatan buruk menimbulkan keburukan dan mudharat.

Sebagai orang yang berakal dan beriman, semestinya kita selalu berusaha melakukan perbuatan baik, sehingga menimbulkan konsekuensi kebaikan pula.

Salah satu perbuatan baik dan perlu untuk diamalkan adalah menjaga wudhu. Wudhu akan menimbulkan kebaikan yang banyak.

Setiap tetes air yang kita gunakan untuk berwudhu, insya Allah akan dicatat sebagai kebaikan bagi diri kita. Bahkan, jika setelah berwudhu kita pergi ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, maka setiap langkah kita juga dicatat sebagai kebaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda;

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- مرفوعاً: «إذا توضَّأ العبدُ المسلم، أو المؤمن فغسل وَجهَهُ خرج مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نظر إليها بِعَينَيهِ مع الماء، أو مع آخر قَطْرِ الماء، فإذا غسل يديه خرج من يديه كل خطيئة كان بَطَشَتْهَا يداه مع الماء، أو مع آخِرِ قطر الماء، فإذا غسل رجليه خرجت كل خطيئة مَشَتْهَا رِجْلَاه مع الماء أو مع آخر قطر الماء حتى يخرج نَقِيًا من الذنوب».
[صحيح.] – [رواه مسلم.]

“Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- secara marfū’, “Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu, lalu ia membasuh wajahnya, akan keluarlah dari wajahnya setiap dosa akibat pandangan kedua matanya bersamaan dengan air, atau bersama dengan tetesan air terakhir. Lalu jika ia membasuh kedua tangannya, akan keluarlah setiap dosa akibat kekerasan yang dilakukan kedua tangannya bersamaan dengan air, atau bersama dengan tetesan air yang terakhir. Lalu jika ia membasuh kedua kaki, akan keluarlah setiap dosa akibat langkah kedua kakinya bersamaan dengan air, atau bersama tetesan air terakhir, hingga ia keluar (dari wudu) bersih dari dosa.” (HR: Muslim]

“Barangsiapa yang berwudhu dalam keadaan masih suci Allah akan menulis sepuluh kali pahala kebaikan baginya dengan wudhu itu.” (HR Abu Daud ).

Ulama menjaga wudhu

Apabila kita baca dan cermati biografi para ulama, maka kita dapati mereka amat bersung-sungguh menjaga wudhunya dalam setiap keadaan.

Sebagai contoh, Al-Imam asy-Syathibi, Beliau adalah seorang yang buta, akan tetapi tidaklah beliau duduk di suatu majelis ilmu, kecuali beliau selalu dalam keadaan suci.

Bahkan di antara ulama ada yang tidak mau membaca hadis-hadis Rasulullah ﷺ kecuali mereka berwudhu terlebih dahulu. Bukan karena mereka berpendapat wajibnya berwudhu ketika hendak membaca hadis, akan tetapi yang mendasari hal itu adalah kesungguhan mereka untuk memuliakan ilmu dan untuk mendapatkan keutamaan yang besar dalam wudhu.

Wudhu bukanlah amalan yang remeh dan sepele, melainkan merupakan amalan yang besar di sisi Allah Swt. Sehingga mendorong kita untuk selalu dalam kondisi suci dan berupaya bagaimana berwudhu dengan sempuna, yang sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ.

Kapan orang harus berwudhu?

Sangat dianjurkan bagi seseorang untuk selalu berada dalam keadaan bersih dan suci lahir batin. Karena hal ini akan berdampak kepada perilaku dan perbuatan orang tersebut.

Orang yang selalu punya wudhu, akan berusaha untuk menjaga perilaku maupun perbuatannva tetap bersih dan sangat berhati-hati. La akan selalu mengikat dan menjaga setiap kegiatannya, ucapan, kata-kata, maupun perilaku dan perbuatan-nya agar selalu di dalam koridor kesucian jiwa dan kebersihan hati.

Berikut beberapa waktu yang disunnahkan (dianjurkan) untuk berwudhu, kecuali bagi orang-orang yang selalu menjaga dirinya dalam keadaan wudhu.

Pertama, hendak ke Masjid

Langkah menuju masjid adalah langkah menuju kebaikan, maka sudah tentu langkah itu mempunyai nilai ibadah. Setiap perbuatan akan mempunyai nilai ibadah kalau diniatkan dengan benar dan dibarengi dengan kebersihan kesucian hati serta semata-mata dikeakan nanya untuk mengharap ridha Allah Swt

Berwudhu sebelum berangkat shalat berjamaah ke masjid merupakan salah satu sunnah Nabi Muhammad Saw. Allah Swt. Menjanjikan berkah pada setiap langkah kaki kanan maupun berkah pada setiap langkah kaki kanan maupun kiri berupa penghapusan dosa dan penambahan pahala.

Langkah kita bernilai ibadah. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ. Dari bnu Umar Rasululiah ﷺ bersabda

Hadis dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من توضأ للصلاة فأسبغ الوضوء ثم مشى إلى الصلاة المكتوبة فصلاها مع الناس، أو مع الجماعة، أو في المسجد غفر الله له ذنوبه

“Siapa yang berwudhu untuk shalat dan dia sempurnakan wudhunya, kemudian dia menuju masjid untuk shalat fardhu. Lalu dia ikut shalat berjamaah atau shalat di masjid maka Allah mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Muslim).

Kedua, Menyentuh Mushaf AI-Qur an

Al-Qur’an adalah kalanullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai kitab suci umat Islam. Dalam rangka memuliakan Al-Qur’an sebagai firman Allah, maka disunnahkan untuk berwudhu sebelum memegang kitab Suci ini.

Al Imam Ath Thabrani dan Al Imam Ad Daraquthni meriwayatkan hadis Rasulullah ﷺ

أن لا يمس القرآن إلا طاهر

“Tidak boleh menyentuh Al-Quran kecuali orang yang sudah bersuci.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’ no. 419 dan Ad-Darimi no. 1266).

Berwudhu sebelum membaca Al-Qur’an adalah wujud kita memuliakan Allah Swt, sebab membaca Al-Qur’an adalah semulia-mulia zikir kepada Allah Swt

Ketiga, hendak Tidur

Termasuk sunnah Rasulullah adalah berwudhu sebelum tidur. Hal ini bertujuan agar setiap muslim dalam kondisi suci pada setiap keadaannya, walaupun ia dalam keadaan tidur.

Hingga bila memang ajalnya datang menjemput, maka dia pun kembali ke hadapan Rabbnya dalam keadaan suci. Sunnah ini juga akan mengarahkan umat Muslim pada mimpi yang baik dan terjauhkan diri dari permainan setan yang selalu mengincarnya (lihat Fathul Bari 11/125 dan Syarah Shahih Muslim 17/27).

Tentang sunnah ini, Rasulullah telah menjelaskan dalam sabda beliau

Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.’” (HR: Ibn Hibban 3/329. Syuaib Al-Arnauth mengatakan, Perawi hadis ini termasuk perawi kitab shahih).

Lebih jelas lagi, dari riwayat sahabat Mu’adz bin Jabal, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang muslim tidur di malam hari dalam keadaan dengan berzikir dan bersuci, ke mudian ketika telah terbangun dari tidurnya lalu meminta kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat, melainkan pasti Allah akan mengabulkannya.” (dalam Fathul Bari juz 11/124)

Demikianlah sunnah yang selalu dijaga oleh Rasulullah ﷺ ketika hendak tidur, yang semestinya kita sebagai muslim meneladaninya. Bahkan ketika beliau terbangun dari tidurnya untuk buang hajat, maka setelah itu beliau berwudhu lagi sebelum kembali ke tempat tidurnya.

Sebagaimana yang diceritakan Abdullah bin Abbas ra: “Bahwasanya pada suatu malam Rasulullah pernah terbangun dari tidurnya untuk menunaikan hajat. Kemudian beliau membasul wajalı dan tangannya (berwudhu) lalu kembali tidur.” (HR Bukhari dan Abu Dawud).

Keempat, hendak berhubungan intim

Rasulullah ﷺ juga memberikan bimbingan bagi para pasutri (pasangan suami istri ketika hendak berhubungan badan. Hendaknya bagi pasutri berwudhu dahulu kemudian berdoa sebelum melakukannya, dengan doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ sallam bersabda,

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُوْدَ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Jika seseorang diantara kalian menggauli isterinya kemudian ingin mengulanginya lagi, maka hendaklah ia berwudhu’ terlebih dahulu.” (HR. Muslim)

Wudhu yang dilakukan sebelum berhubungan antara suami dengan istrinya bertujuan agar setan tidak ikut campur dalam acara yang sakral ini. Kelak ketika mereka kemudian dikaruniai anak, maka setan tidak mampu memudharatkannya.

Hal ini sesungguhnya merupakan ‘pembelajaran awal terhadap sang calon anak yang insya Allah akan dikaruniakan kepada pasangan suami-istri tersebut, apabila Allah Swt mengizinkan.*

(Artikel ini dikutip utuh dari kanal Kajian portal berita Hidayatullah.com)