Beranda blog Halaman 402

Dorong Digitalisasi Haji, Hidayatullah Teken MoU dengan BPKH

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dalam rangka mendorong digitalisasi untuk meningkatkan pelayanan jamaah Haji.

Nota kesepahaman ditandatangani di Hotel Bidakara, Jakarta, 4 Rabiul Awal 1443 (11/10/2021) oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq bersama dengan Kepala Badan Pelaksana BPKH Anggito Abimanyu dan dihadiri Anggota Badan Pelaksana BPKH Bidang Penghimpunan, Penempatan Dana, Investasi Langsung dan Lainnya Dalam Negeri Iskandar Zulkarnain.

Turut pula menyaksikan penandatanganan MoU tersebut Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Candra Kurnianto, Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah Asih Subagyo, Ketua Bidang Perekonomian Wahyu Rahman, dan Bendahara Umum Marwan Mujahidin.

Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq menyambut baik kerja sama antar BPKH dan Hidayatullah ini. Ia berharap kerja sama ini dapat menjadi solusi untuk pelayanan calon jamaah haji Indonesia.

“Dengan adanya kesepakatan bersama ini, bisa menjadi satu motivasi untuk kita semua. Mudah-mudahan dengan adanya kesepakatan ini mendapatkan berkah dan maunah dari Allah SWT,” katanya.

Diharapkan dari kerjasama ini, Hidayatullah sebagai mitra BPKH bisa mengambil peran yang lebih baik lagi dalam mendorong digitalisasi haji untuk peningkatan pelayanan jamaah haji.

“Kami Hidayatullah telah memiliki jaringan 600 lebih ponpes di seluruh Indonesia insya Allah berkomitmen bersama sama memberikan sosialisasi serta edukasi untuk bisa menunaikan ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima ini,” katanya.

Nashirul menyampaikan, atas nama DPP Hidayatullah menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Badan Pengelola Keuangan Dana Haji atas gerakan dan penandatanganan MOU ini.

“Semoga kita diberikan kekuatan untuk bisa mewujudkan apa yang telah menjadi harapan bersama,” imbuhnya menandaskan.

Sementara itu, Anggito Abimanyu menyampaikan pentingnya melakukan sejumlah terobosan sistem informasi digital yang dapat mempermudah dalam pelayanan jemaah haji.

Kemajuan teknologi yang pesat membuka banyak kesempatan untuk melakukan inovasi dalam layanan jemaah haji, salah satunya dengan transformasi layanan digital baik dalam pengelolaan data jemaah, dan kemudahan layanan bagi jemaah haji.

“Kami sangat terhormat dapat menjadi bagian dan mendukung program-program yang dijalankan BPKH lakukan melalui peran mitra BPKH yang memiliki jaringan tersebar di seluruh Indonesia, selain itu dengan sistem informasi digital yang baik dapat memudahkan pemantauan data dalam rangka monitoring dan evaluasi serta peningkatan layanan yang lebih baik bagi jemaah haji.” ujar Anggito.

Terjalinnya kemitraan antara Hidayatullah dan sejumlah pihak lainnya dengan BPKH merupakan inovasi digital yang akan memberikan solusi layanan haji untuk calon jamaah yang berlokasi di pelosok Indonesia dan selaras dengan kampanye gerakan Haji Muda yang dicanangkan oleh BPKH.*/Amanji Kefron

SMA Ar-Rohmah Putri Peringkat 3 Terbaik Berdasar UTBK 2021

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Kemendikbud mengumumkan hasil Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), Jum’at, 24 Safar 1443 (1/10/2021).

Ketua LTMPT, Mohammad Nasih mengatakan, daftar sekolah/madrasah terbaik yang dirilis LTMPT diperoleh berdasarkan nilai UTBK 2020 dan 2021. SMA Ar-Rohmah Putri termasuk dalam list tersebut.

Dari 1000 sekolah/madrasah yang dirilis, SMA Ar-Rohmah Putri Pesantren Hidayatullah Malang menduduki peringkat ketiga terbaik di Kabupaten Malang.

Mohammad Nasih menambahkan, sebaran sekolah yang masuk ke dalam Top 1000 sekolah itu berasal dari jenjang SMA sebanyak 870 sekolah, MA 65 sekolah, SMK 64 sekolah, dan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) sebanyak satu sekolah.

Jumlah sekolah asal peserta UTBK 2021 sebanyak 23.110 sekolah. Sekolah yang diikutkan dalam pengukuran adalah sekolah dengan jumlah peserta yang mengikuti UTBK 2021 sebanyak lebih dari 40 orang. Jumlah sekolah yang memenuhi kriteria ini sebanyak 4.432 sekolah.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMA Ar-Rohmah Putri, Widi Rahayu, mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian tersebut.

“Prestasi ini adalah anugerah dari Allah untuk seluruh keluarga besar Ar-Rohmah Putri. Alhamdulillah, patut disyukuri,” ujarnya.

Menurut Ustadzah Ayu, sapaan akrabnya, capaian ini tidak lantas membuat pihak sekolah berpuas diri. Sebaliknya, menjadi penyemangat untuk terus berbenah meningkatkan kualitas.

Dengan sanantiasa menggali dan melahirkan berbagai program yang kreatif dan inovatif.*/Herry Purnama

Anjing ‘Terpelajar’ dan Keutamaan Orang Berilmu

0

ANJING! Ungkapan yang sangat tidak enak didengar, bahkan muncul amarah membara ketika seseorang mendengar kata anjing yang ditujukan padanya dengan nada tinggi. Mengapa? Karena persepsi jelek tentang anjing sangat dalam menghujam dirinya.

Berbeda dengan hewan-hewan lainnya, ketika jenis hewan ini disebut dengan nada tinggi, ia tidak banyak memengaruhi psikisnya, ia tanggapi sebagai guyonan belaka, Buaya!Macan! Kucing!

Masih tentang hewan yang lidahnya menjulur dan menggonggong, anjing. Ada salah satu anjing yang bernama Qitmir dimasukkan ke sorga, karena ia bersama orang-orang shaleh.

Ia menjaga majikannya, melindunginya, dan setia menemaninya. Demikian dalam cerita Ashab al-Kahfi.

Kata Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Surat Al-Kahfi;


كلبٌ أحب قوماً فذكره الله معهم ! فكيف بنا وعندنا عقد الإيمان وكلمة الإسلام وحب النبي صلى الله عليه وسلم .

Anjing yang mencintai Ashab AlKahf, Allah monumenkan namanya bersama mereka, bagaimana dengan kita yang mempunyai ikatan iman, Islam dan cinta pada Nabi? Ibnu Athiah juga menyatakan hal yang sama, “Sesungguhnya orang yang mencintai orang shaleh (ahl khair), ia akan mendapatkan keberkahannya, seperti anjing yang disebutkan dalam Al-Qur’an, karena anjing tersebut menemani Ashabul Kahfi.

Dan yang menarik dalam Fawaid Al-Qurthubi, ia menggambarkan sebuah Ayat yang berbicara tentang anjing yang terpelajar dalam Surat Al-Maidah, Ayat 4.

(یَسۡـَٔلُونَكَ مَاذَاۤ أُحِلَّ لَهُمۡۖ قُلۡ أُحِلَّ لَكُمُ ٱلطَّیِّبَـٰتُ وَمَا عَلَّمۡتُم مِّنَ ٱلۡجَوَارِحِ مُكَلِّبِینَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ ٱللَّهُۖ فَكُلُوا۟ مِمَّاۤ أَمۡسَكۡنَ عَلَیۡكُمۡ وَٱذۡكُرُوا۟ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَیۡهِۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَرِیعُ ٱلۡحِسَابِ)

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, “Yang dihalalkan bagimu (adalah makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu,dan sebutlah nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

Jawarih (جوارح/binatang) dalam Ayat di atas seperti anjing (kilab), burung elang (shuqur) dan macan kumbang (fuhud). Dan Mukallibin (مكلبين/pelatih) adalah yang melatih anjing atau hewan lainnya untuk berburu.

Maka, hukum memakan hasil buruan anjing yang tidak terlatih (tidak terpelajar) tidak diperbolehkan (tidak halal), yaitu anjing yang belum siap menjadi anjing pemburu, atau anjing yang masih belum mahir dalam berburu hewan. Berbeda dengan anjing yang sudah terlatih menjadi pemburu, maka hasil dari tangkapannya diperbolehkan untuk dimakan (halal).

Imam Al-Qurthubi menanggapi Ayat, “Ayat ini sebagai bukti, bahwa orang berilmu memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh orang bodoh (jahil), anjing yang terlatih memiliki keistimewaan (fadilah) dibandingkan dengan semua anjing yang ada. Demikian juga manusia yang berilmu, mereka lebih utama (awla), dari pada mereka yang tidak pernah belajar (bodoh), apalagi mereka yang alim (terpelajar) dapat mengamalkan ilmunya.

وفي هذه الآية دليل على أن العالم له من الفضيلة ما ليس للجاهل; لأن الكلب إذا علم يكون له فضيلة على سائر الكلاب ، فالإنسان إذا كان له علم أولى أن يكون له فضل على سائر الناس ، لا سيما إذا عمل بما علم

Sesuatu yang dipelajari oleh seseorang dengan sungguh-sungguh, kemudian ia menjadi ahli di bidangnya, maka ia akan mendapatkan keistimewaan dari kebanyakan orang yang tidak memiliki keahlian sepertinya.”/Halimi Zuhdy/Hidcom

Hidayatullah Terima Izin sebagai Lembaga Pemeriksa Halal dari BPJPH – DHN MUI

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Perkumpulan Hidayatullah menerima izin operasional sebagai Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama Republik Indonesia dan Dewan Halal Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DHN – MUI).

Penyerahan sertifikat izin operasional ini diserahkan langsung oleh perwakilan tim asesor BPJPH – DHN MUI di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln Cipinang Cempedak I/14, Otista, Polonia, Jatinegara, Jakarta, Selasa, 28 Safar 1443 (5/10/2021).

Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Asih Subagyo usai menerima persetujuan beroperasinya Lembaga Pemeriksa Halal Hidayatullah tersebut, mengatakan Hidayatullah berkomitmen dalam menjadi pelopor halal food dengan mengedukasi masyarakat lebih memperhatikan soal kehalalan makanan yang dikonsumsi setiap hari.

Senafas dengan hal tersebut, Hidayatullah melalui Ketetapan Munas V Hidayatullah, Nomor: 12/TAP/Munasv/2020 tentang Kebijakan Kebijakan Strategis Hidayatullah Tahun 2020-2025 pada bidang ekonomi dan keuangan, mengamanatkan menjadi pelopor halal food dengan mengedukasi masyarakat lebih memperhatikan soal kehalalan makanan yang dikonsumsi setiap hari.

“Usaha menghadirkan LPH merupakan bentuk keseriusan kami untuk membangun komunitas masyarakat halal terlebih lagi Hidayatullah telah tersebar luas di seluruh Indonesia dengan 620 pesantrennya,” kata Asih.

Menurutnya, Undang Undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal pada Pasal 4 menegaskan bahwa produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal dimana lembaga keagamaan Islam juga mendapatkan amanat untuk terlibat dalam menjamin kehalalan produk.

“Menjamin kehalalan tentunya merupakan hal yang amat penting. Mulai dari proses pra produksi hingga siap dikonsumsi oleh jamaah,” katanya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pemeriksa Halal Hidayatullah (LPHH) Muhammad Faisal Thamrin menyampaikan terimakasih dan apresiais kepada BPJPH – DHN MUI atas kepercayaannya kepada Hidayatullah sebagai pemeriksa halal.

Faisal berharap dengan kehadiran LPHH, kian menguatkan peran Hidayatullah dalam membangun kekuatan umat dalam penjaminan halal dan baiknya produk untuk kebaikan semua.

“Menjamin dan memastikan kehalalan sebuah produk adalah bagian dari salah satu langkah Hidayatullah membangun peradaban Islam,” tandasnya.

Seperti diketahui, Undang Undang No. 33 Tahun 2014 Pasal 13 ayat (2) mengamanatkan bahwa dalam LPH sebagaimana dimaksud ayat (1) dididirkan oleh masyarakat dan diajukan oleh lembaga keagamaan Islam yang berbadan hukum.

Penyelenggara Jaminan Produk Halal juga didukung oleh tugas dan fungsi sebagaimana yang telah diamanatkan oleh Undang – Undang No. 33 Tahun 2014 yaitu tentang Registrasi Halal, Sertifikasi Halal, Verifikasi Halal, Melakukan pembinaan serta melakukan pengawasan kehalalan produk, Kerjasama dengan seluruh stakeholder terkait, serta menetapkan standard kehalalan sebuah produk.(ybh/hio)

Sinergi TNI Korem 061/Surya Kencana dan IMS Vaksinasi 10.000 Dosis

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Masih dalam suasana peringatan HUT Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke-76, Komando Resort Militer 061/Surya Kencana (Korem 061/SK) menggandeng lembaga kesehatan Islam nasional Hidayatullah, Islamic Medical Service (IMS), untuk melakukan vaksinasi yang direncanakan sebanyak 10.000 dosis vaksin di Bogor dimulai Kamis, 30 Safar 1443 (07/10/2021).

“Alhamdulillah dua hari ini berkerjasama dengan Korem 061/Surya Kencana sekaligus memperingati Dirgahayu TNI kita sukses melakukan vaksinasi sebanyak 2.000 dosis untuk santri dan masyarakat yang ada di lingkungan Rumah Qur’an Umar bin Khattab,” kata Direktur IMS, Imron Faizin.

Imron pun menyambut baik antusiasme masyarakat melakukan vaksinasi dengan harapan kekebalan populasi atau herd immunity dapat lebih cepat diwujudkan. Dia menjelaskan, herd immunity, yang juga dikenal sebagai ‘kekebalan populasi’, adalah konsep yang digunakan untuk imunisasi, di mana suatu populasi dapat terlindung dari virus tertentu jika suatu ambang cakupan imunisasi tertentu tercapai.

“Kekebalan kelompok tercapai dengan cara melindungi orang dari virus, bukan dengan cara memaparkan orang terhadap virus tersebut,” imbuhnya menjelaskan tentang herd immunity.

Lebih jauh dia menerangkan, dalam konsep kekebalan kelompok, sebagian besar penduduk diimunisasi, sehingga menurunkan jumlah keseluruhan virus yang dapat menyebar ke seluruh populasi. Alhasil, sambung dia, tidak semua orang perlu diimunisasi agar terlindungi. Hal ini membantu memastikan bahwa kelompok-kelompok rentan yang tidak dapat diimunisasi tetap aman.

Kata dia, mencapai kekebalan kelompok dengan vaksin yang aman dan efektif membuat penyakit semakin jarang dan menyelamatkan nyawa.

“Melihat keinginan masyarakat yang begitu besar untuk ikut andil dalam program vaksinasi ini, kita dan Korem 061 Surya Kencana akan menambah 8.000 dosis lagi yang Insya Allah akan dilaksanakan di klinik Kopassus di daerah Bojong Hilir,” katanya.

Imron menambahkan bahwasanya program vaksinasi dengan menjalin simpul sinergi dengan berbagai pihak terkait ini akan dilanjutkan ke daerah-daerah yang ada di Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan daerah daerah lainya yang belum tersentuh program vaksinasi.

Menurut Imron, program vaksinasi adalah satu program pemerintah yang saat ini belum sepenuhnya merata dirasakan oleh masyarakat Indonesia khusunya masyarakat. Melihat kondisi tersebut IMS selaku lembaga sosial kesehatan yang dinaungi oleh ormas Hidayatullah turut andil dalam program mensukseskan kegiatan vaksinasi ini.*/Alamsyah Jilpi

Sabar Berdakwah Melunakkan Hati Memahamkan Kebenaran

Ketika sampai di pelataran Ka’bah pada tahun 8 H, Rasulullah mengacungkan tongkat kecilnya dan menunjuk 360 berhala yang bertebaran di sana. Beliau menudingnya satu persatu seraya membaca ayat 81 dari surah al-Isra’, “Kebenaran telah datang dan kebatilah telah binasa. Sungguh kebatilah itu pasti binasa”. Konon, setiap kali muka berhala yang ditunjuk maka kepalanya langsung patah dan jatuh ke belakang; bila tengkuknya yang ditunjuk maka kepalanya pun patah dan jatuh ke depan.

Kisah ini terjadi pada saat Penaklukan Makkah, yang diriwayatkan Imam Bukhari, Muslim, Nasa’i, Tirmidzi, dll dari Ibnu Mas’ud. Para mufassir pun merincinya dalam karya-karya mereka, seperti Imam al-Qurthubi, Ibnu Katsir, ath-Thabari, dsb.

Menurut para ulama’, kaum musyrikin setiap hari menyembah satu berhala tertentu sehingga jumlahnya sangat banyak sebanyak hari-hari dalam setahun.

Apa yang menarik dari kisah ini? Bila dicermati, ternyata selama 13 tahun mendakwahkan Islam di Makkah, Rasulullah samasekali tidak ‘menyentuh’ berhala-berhala itu. Keadaan ini terus berlanjut sampai beliau diusir dan berhijrah ke Madinah.

Baru delapan tahun kemudian, bersama 10.000 kaum muslimin, beliau kembali ke Makkah dan meruntuhkan seluruh simbol kemusyrikan itu tanpa tersisa.

Tidak cukup sampai di situ, sebab Rasulullah juga mengirim sejumlah Sahabat untuk menghancurkan berhala-berhala yang ada di luar Makkah. Khalid bin Walid dikirim ke Nakhlah untuk merobohkan berhala ‘Uzza. ‘Amr bin ‘Ash diperintahkan melenyapkan Suwa’, berhala suku Hudzail, di suatu tempat sejauh 3 mil dari Makkah. Sa’ad bin Zaid ditugasi menamatkan riwayat Manat, berhala sejumlah kabilah Arab di Musyallal, kawasan pegunungan di tepi Laut Merah.

Tentu kita patut bertanya, apa saja yang beliau dakwahkan selama di Makkah? Mengapa patung-patung itu dibiarkan tegak di sekitar Ka’bah, sementara beliau sendiri sangat sering thawaf, shalat, dan bermunajat kepada Allah di sana? Bukankah peristiwa Isra’-Mi’raj pun dimulai dari Ka’bah pada saat berhala-berhala itu masih utuh dan tidak diusik samasekali?

Kita meyakini beliau sebagai teladan puncak dalam mendakwahkan agama-Nya. Tidak ada contoh sebaik beliau, sebagaimana dinyatakan dalam QS al-Ahzab: 21.

Sufyan bin ‘Uyainah (atba’ tabi’in, w. 198 H) berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah timbangan terbesar (al-mizan al-akbar). Terhadap beliaulah segala sesuatu dihadapkan (untuk ditimbang) berdasarkan akhlak, gaya hidup, dan perilaku beliau. Apa saja yang selaras dengannya maka dialah kebenaran, dan apa saja yang bertentangan dengannya maka dialah kebatilan.” (Riwayat al-Khathib dalam al-Jami’, no. 8).

Sesungguhnya, berhala-berhala itu tidak bisa memberi manfaat maupun madharat sedikit pun. Mereka tidak memiliki kekuasaan dan kekuatan apa-apa. Mereka hanyalah simbol-simbol kosong yang direkayasa manusia untuk menutupi ‘sesuatu’ yang sangat bengis dan jauh lebih merusak dibanding pahatan-pahatan tangannya, yaitu hawa nafsu dan kesombongan.

Allah berfirman,

“Semua itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu adakan sendiri. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka dan apa yang diingini oleh hawa nafsu. Sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (QS. An Najm: 23).

Di tempat lain, Allah juga berfirman,

“Kamu tidak menyembah selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu buat-buat sendiri. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Hukum itu hanya milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40)

Allah menunjukkan dengan gamblang bahwa sumber kemusyrikan, kekufuran, dan penolakan kepada agama Allah sebenarnya hanyalah kesombongan:

“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, (sebetulnya) tidak ada di dalam dada mereka selain kesombongan (yakni, merasa lebih hebat) belaka, yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya. Maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mu’min/Ghafir: 56)

Dan, tahukah Anda siapa pengidap penyakit sombong yang paling kronis? Dialah Iblis, yang menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam karena merasa lebih hebat dan lebih baik. Dia telah bersumpah untuk menularkan penyakitnya itu kepada manusia. (Baca QS al-A’raf: 11-18).

Maka, selama bertahun-tahun Rasulullah berjuang keras meruntuhkan kesombongan orang orang yang memusuhi dirinya dan kebenaran yang dibawanya. Beliau tahu betul bahwa tiada daya secuil pun dalam diri patung-patung buatan manusia itu, selain mitos-mitos dan legenda-legenda kosong.

Pohon, patung, kuburan, gambar, logo, hanyalah simbol-simbol dari kekuatan fiktif yang dikhayalkan manusia. Tidak ada wujud dan esensi hakiki padanya. Bila mereka ditebang atau dibakar, sebenarnya tidak akan bereaksi apa-apa. Hanya saja, para ‘pemuka kaum’ dan barisan pemujanya pasti murka, dan kegemparan pun segera meledak. Merekalah thaghut yang sebenar-benarnya, bukan benda-benda mati itu.

Oleh karenanya, Rasulullah tidak tertarik untuk memulai dakwahnya dari meruntuhkan simbol-simbol, namun melunakkan hati dan memahamkannya terhadap hakikat kebenaran, tauhid, dan agama yang lurus. Diketuknya pintu demi pintu, meski tidak selalu mendapat sambutan yang ramah.

Beliau mengajari kita untuk lebih dulu meluruskan akidah yang menyimpang, bukan menghancurkan simbolnya. Tebang dulu keyakinannya, bukan pohonnya! Wallahu a’lam.

Ustadz Alimin Mukhtar

SAR Hidayatullah Dipercaya Menjadi Potensi Mitra Basarnas

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Badan kesiapsiagaan, mitigasi, tanggap darurat, rehabilitasi bencana SAR Hidayatullah kian meneguhkan kiprahnya dalam aksi kemanusiaan. Kali ini SAR Hidayatullah mendapat kepercayaan dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Nasional (BASARNAS) sebagai Potensi Mitra Basarnas.

Penyematan tanda dan penyerahan sertifikat SAR Hidayatullah sebagai Potensi Mitra Basarnas Pusat diberikan langsung oleh Kepala Deputi Bidang Bina Tenaga & Potensi Basarnas Abdul Haris Achadi kepada Ketua Umum SAR Hidayatullah Irwan Harun.

Penyerahan tersebut dirangkai dengan acara Seminar Kebangsaan & Pelatihan Manajemen Kebencanaan bertajuk “Nilai nilai Pancasila dalam Manajemen Operasi Pencarian dan Pertolongan” yang berlangsung di Kota Depok, Jawa Barat, Ahad, 26 Safar 1443 (3/10/2021).

Acara seminar yang digelar bekerjasama dengan Departemen Sosial DPP Hidayatulllah ini diikuti peserta secara daring dan sebagian luring di Aula STIE Hidayatullah Depok.

Hadir sebagai narasumber dalam acara ini Kepala Deputi Bidang Bina Tenaga & Potensi Basarnas Abdul Haris Achadi dan Ketua Bidang Pelayanan Umat (Yanmat) DPP Hidayatullah Nursyamsa Hadis.

Acara dibuka langsung oleh Musliadi selaku ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah. Dalam sambutannya Musliadi menekankan pentingnya meneguhkan kiprah aksi kemanusiaan dan menguatkan sinergi yang lebih baik dan profesional.

Pada kesempatan tersebut, Haris mengapresiasi SAR Hidayatullah yang sangat aktif melatih personilnya. Ia berharap, sumber daya ini turut mendukung operasi SAR di berbagai daerah bencana.

“Basarnas tidak bisa bekerja sendiri, maka diperlukan kolaborasi,” imbuhnya.

Dia menambahkan, berdasarkan hasil penelitiannya, bahwa untuk suksesnya operasi pencarian dan pertolongan pada musibah bencana ada beberapa hal yang amat penting diperhatikan. Pertama, SDM yang memiliki mental yang tangguh dan kuat. Kedua, kedua bagaimana memanfaatkan kecerdasan atau kemampuan SDM.

Turut hadir juga Ketua Pembina SAR Hidayatullah yang juga Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka/Ketua Komisi Binamuda, Kak Supriyadi dan Dr Agus Prayoga selaku Ketua STIE Hidayatullah Depok.(ybh/hio)

Webinar Nilai Pancasila dalam Manajemen Operasi SAR

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat SAR Hidayatullah menggelar acara Seminar Kebangsaan & Pelatihan Manajemen Kebencanaan bertajuk “Nilai nilai Pancasila dalam Manajemen Operasi Pencarian dan Pertolongan” yang berlangsung di Kota Depok, Jawa Barat, Ahad, 26 Safar 1443 (3/10/2021).

Acara yang digelar bekerjasama dengan Departemen Sosial DPP Hidayatulllah ini diikuti peserta secara daring dan sebagian luring di Aula STIE Hidayatullah Depok.

Hadir sebagai narasumber dalam acara ini Kepala Deputi Bidang Bina Tenaga & Potensi Basarnas Abdul Haris Achadi dan Ketua Bidang Pelayanan Umat (Yanmat) DPP Hidayatullah Nursyamsa Hadis.

Kepala Deputi Bidang Bina Tenaga & Potensi Basarnas Abdul Haris Achadi dalam pemaparannya mengatakan aksi sosial kemanusiaan untuk pencarian dan pertolongan merupakan pekerjaan tidak ringan.

Tidak ringan, sebab, jelasnya, operasi pencarian dan pertolongan korban musibah tidak saja membutuhkan kecakapan skil tetapi juga spirit kerelawananan dan keikhlasan. Disinilah nilai Pancasila terejawantahkan dalam jiwa setiap relawan.

“Semua pekerjaan berawal dari niat dan rasa ikhlas. Jika keduanya ada maka para relawan akan tau dengan siapa sesungguhnya mereka bekerja, bekerja untuk kemanusiaan karena Allah SWT,” katanya.

Pancasila tidak lepas dari nilai Islam. Oleh karenaya, jelas dia, relawan yang selalu dituntut hadir dalam setiap bencana mesti punya jiwa Laahauala walaaquwwata Illabillah.

Lebih jauh dia mengungkapkan bahwa setiap relawan bencana seringkali hanya punya sedikit waktu emas dalam pencarian dan pertolongan. Sebab, dalam menit menit pertama kejadian musibah, tim SAR sangat terbatas. Sementara saat terjadi musibah, seringkali jatuh korban luar biasa karena waktu kejadian yang tak terduga.

Pada kesempatan tersebut, Haris mengapresiasi SAR Hidayatullah yang sangat aktif melatih personilnya. Ia berharap, sumber daya ini turut mendukung operasi SAR di berbagai daerah bencana.

“Basarnas tidak bisa bekerja sendiri, maka diperlukan kolaborasi,” imbuhnya.

Dia menambahkan, berdasarkan hasil penelitiannya, bahwa untuk suksesnya operasi pencarian dan pertolongan pada musibah bencana ada beberapa hal yang amat penting diperhatikan. Pertama, SDM yang memiliki mental yang tangguh dan kuat. Kedua, kedua bagaimana memanfaatkan kecerdasan atau kemampuan SDM.

“Kecerdasan dan kemampuan ini bukan hanya soal search dan rescue saja sebab ada banyak yang dibutuhkan dalam pencarian dan pertolongan dimana harus ada SDM yang bisa mengelola posko atau logistik. Dan memperhatikan orkestrasi dan pentingnya kesadaran diri,” imbuhnya.

Kegiatan ini juga dirangkai dengan penyematan SAR Hidayatullah sebagai Potensi Mitra Basarnas Pusat yang diberikan langsung oleh Abdul Haris Achadi, S.H DESS kepada Ketua Umum SAR Hidayatullah Irwan Harun.

Acara dibuka langsung oleh Musliadi selaku ketua Departemen Sosial DPP Hidayatullah. Dalam sambutannya Musliadi menekankan pentingnya meneguhkan kiprah aksi kemanusiaan dan menguatkan sinergi yang lebih baik dan profesional.

Turut hadir juga Ketua Pembina SAR Hidayatullah yang juga Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka/Ketua Komisi Binamuda, Kak Supriyadi dan Dr Agus Prayoga selaku Ketua STIE Hidayatullah Depok.(ybh/hio)

Biar Saja, Dia ‘kan Masih Kecil!

Mendidik anak bukanlah perkara simpel, terlebih di zaman yang penuh godaan ini. Di mana-mana terdapat lubang jebakan yang menganga, siap menjerumuskan anak-anak ke dalam kesia-siaan, bahkan kebinasaan. Orangtua dan guru yang sangat peduli dan telaten pun bisa kecolongan, apalagi yang sembrono dan asal-asalan. Ada saja sikap, perkataan, dan tindakan yang disangka benar, tapi belakangan terbukti menuai masalah yang sangat rumit. Kalau saja bukan karena rahmat dan kasih sayang Allah, rasanya mustahil ada yang selamat.

Diantara kekeliruan yang lazim ditemui di kalangan orangtua dan guru adalah pembiaran anak-anak melakukan pelanggaran tanpa sedikit pun ditegur, semata-mata dengan alasan mereka masih kecil.

Kita mungkin mendapati orangtua membiarkan anaknya bersikap tidak sopan di hadapan para tamu tanpa ditegur. “Biar saja, dia masih kecil,” dalihnya.

Mungkin juga ada orangtua yang membiarkan anaknya tidur sampai matahari terbit sehingga terlewat menunaikan shalat subuh, lalu beralasan: “Biar saja, dia masih kecil!” Masih banyak contoh lain yang bisa disebutkan.

Sebenarnya, bersikap toleran kepada anak kecil adalah kebaikan, karena mereka masih dalam tahap belajar. Orangtua dan guru memang harus menyiapkan dada selebar-lebarnya untuk menampung kesalahan-kesalahan mereka.

Namun, bersikap toleran tidak sama dengan membiarkan kesalahan tanpa koreksi. Orangtua yang toleran akan memaklumi kesalahan yang timbul dan segera melupakannya; namun di saat bersamaan bergegas membetulkannya agar tidak berlarut-larut atau terulang kembali di lain waktu.

Memang benar bahwa pada usia dini anak-anak belum dicatat amalnya oleh malaikat, tapi bukan berarti mereka tidak perlu dilarang jika melanggar syariat, supaya tidak terbiasa dengannya sehingga sulit meninggalkannya ketika semakin besar.

Dalam kitab Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, Ibnu Qayyim berkata, “Anak kecil itu, meskipun belum mukallaf (mendapat beban syariat), akan tetapi walinya sudah mukallaf. Wali tidak boleh membiarkan anaknya dari sesuatu yang diharamkan, sebab ia akan menjadi terbiasa dengannya dan (kelak) akan sulit untuk dipisahkan darinya ….. Sebab, anak kecil itu, meskipun belum mukallaf namun mereka sedang disiapkan untuk menerima taklif (tugas-tugas syariat). Oleh karenanya, ia tidak boleh dibiarkan mengerjakan shalat tanpa berwudhu, shalat dalam keadaan telanjang dan najis, tidak boleh pula minum khamer, berjudi, dan melakukan homoseks.”

Para ulama’ terdahulu menekankan bahwa misi pendidikan anak pada usia dini, terutama pada usia tamyiz sampai baligh (6-15 tahun), adalah mempersiapkan mereka menyongsong masa balig. Masa balig sendiri membentang sejak seorang anak mengalami mimpi basah atau haid pertama dan terus berlanjut sampai kematian menjemputnya.

Sementara, tamyiz adalah keadaan di mana anak mulai bisa memahami dan memilah hal-hal di sekitarnya. Biasanya, anak usia 6 tahun secara fisik ditandai dengan gigi susu yang mulai tanggal, secara mental mulai mampu mencerna perintah dan larangan, dan secara akhlak sudah mulai punya rasa malu.

Oleh karena itu, tepat kiranya jika pada usia ini mereka mulai disuruh mengerjakan shalat, menutup aurat, dan dipisahkan tempat tidurnya diantara anak lelaki dan perempuan; berdasar hadits riwayat Abu Dawud dan Ahmad dengan sanad hasan-shahih.

Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani berkata dalam muqaddimah kitabnya, Ar-Risalah, “Hal yang paling perlu diperhatikan oleh para penasihat dan diharapkan pahalanya oleh para pencari adalah: memastikan sampainya kebaikan ke dalam hati anak-anak kaum muslimin, agar tertanam kokoh di dalamnya; menyadarkan mereka terhadap rambu-rambu agama dan batasan-batasan syariat, agar mereka bisa dilatih dan dibiasakan di atasnya; juga apa yang wajib diyakini oleh hati mereka dalam masalah agamanya, serta diamalkan oleh anggota badannya ……

Demikianlah, seyogyanya mereka telah mengetahui apa-apa yang diwajibkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya – baik berupa perkataan maupun perbuatan – sebelum mereka mencapai usia balig; yakni agar (ketika) usia balig tiba maka perkara-perkara itu telah mantap di dalam hatinya, jiwa mereka tenang menerimanya, dan anggota badan mereka pun telah terbiasa mengamalkannya.”

Dengan demikian, sangat tidak tepat jika anak yang telah memasuki usia tamyiz dibiarkan tidak menutup auratnya (terutama wanita), atau dibiarkan bangun kesiangan dan melewatkan shalat subuhnya, hanya dengan alasan “mereka masih kecil”.

Mestinya, pelan-pelan mereka harus dilatih dan dibiasakan, bukan dilepas begitu saja dengan bersandar pada harapan: “nanti kalau sudah besar pasti sadar sendiri.”

Bagaimana pun, setiap anak akan tumbuh bersama kebiasaan yang ditanamkan oleh orangtua dan gurunya. Bila kita membesarkan mereka dalam suasana melalaikan kewajiban-kewajiban, maka tumbuhnya kesadaran di hati sangat sulit diharapkan pada masa selanjutnya.

Ingat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, sampai lidahnya fasih berbicara, lalu kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi atau Nasrani.” (Riwayat Abu Ya’la, dan para perawinya bisa dipercaya).

Maksudnya, setiap anak akan mengikuti akidah, akhlak, dan adat kedua orangtuanya berdasarkan pembiasaan yang telah diberikan kepada mereka. Maka, seharusnya anak-anak itu mendengar bahwa shalat, menutup aurat, berlaku sopan, dsb adalah wajib, agar tertanam kokoh di jiwanya; bukan sebaliknya.

Apa jadinya jika yang sering mereka dengar pada setiap pelanggaran syariat justru perkataan “tidak apa-apa”? Kelak, jangan kaget apabila mereka pun terbiasa meremehkan shalat, aurat, dan adabnya; toh tidak apa-apa!? Na’udzu billah. Wallahu a’lam.

KH Alimin Mukhtar

Buka Posko dan Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Padarni

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Simpul sinergi Baitul Maal Hidayatullah & SAR Hidayatullah Papua Barat telah membuka posko darurat dan menyalurkan bantuan untuk korban kebakaran di kawasan Borobudur, Kelurahan Padarni, Kecamatan Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Jum’at siang, 24 Safar 1443 (30/9/2021).

Seperti diwarta media, musibah kebakaran terjadi Kams siang (30/9/2021) jam 11.30 waktu setempat. Korban terdampak diperkiraan lebih dari 600KK. Sementara korban sekitar lebih 2000 orang data dari pengurus masjid setempat.

Saat ini pengungsi tersebar di beberapa titik ada sekitar 4 titik lokasi pengungsian. Simpul Hidayatullah seperti BMH dan SAR Hidayatullah sudah menyalurkan Bantuan berupa pakaian layak pakai dan sembako untuk para pengungsi di posko Masjid Jami’ Merdeka Manokwari yang berjumlah 164 orang.

Wasmanto Ketua BMH perwakilan Papua Barat menjelaskan, di posko paling banyak menampung ibu dan balita bahkan ada bayi baru berumur 3 hari.

“Alhamdulillah hari ini kami bersinergi bersama SAR Hidayatullah Papua Barat telah menyalurkan bantuan kepada korban kebakaran. Bantuan ini berhasil kami himpun sejak semalam. Bantuan kami berikan kepada 164 jiwa yang saat ini mengungsi di lokasi Masjid Jami Merdeka Manokwari,” kata Wasmanto.

Wasmanto menambahkan, bantuan yang sangat dibutuhkan berupa kebutuhan konsumsi, pakaian sholat perlengkapan bayi, dan alat alat dapur.

Ihwan Arifin selaku koordinator SAR Hidayatullah Papua Barat mengatakan bahwa banyak korban tidak sempat menyelamatkan barang barang berharga mereka, bahkan hanya tinggal baju di badan saja.

Diketahui, si jago merah mengamuk di kawasan pemukuman pesisir laut tersebut. Selain rumah api juga membakar sebuah masjid dan beberapa perahu nelayan.*/Miftahuddin Ambal