50 TAHUN perjalanan Hidayatullah, tentu bukan waktu yang singkat. Sudah cukup jauh kita berjalan, tak ada salahnya, sejenak kita menepi, menghela nafas untuk mengembalikan stamina, sembari memastikan, apakah kita masih on the track.
Ini penting, sebab sedikit saja kita keluar jalur, maka akselerasi sekalipun yang kita lakukan justru menjadi musibah, karena akan makin menjauhkan kita dari tujuan utama, begitu nasehat yang sering disampaikan para pembimbing.
Salah satu pertanyaan sederhana yang bisa jadi acuan adalah, benarkah saat ini kita masih berjuang, jika ya, di mana letak perjuangan kita.
Allahuyarham Ust Abdullah Said pernah mengatakan, jika jalan yang kita tempuh sama seperti jalan yang pernah dilalui oleh Rasulullah dan para sahabat, maka dipastikan kita pun akan menemui apa yang pernah dirasakan oleh Rasulullah dan sahabatnya.
Berjuang memang tidak identik dengan penderitaan, tapi secara objektif harus diakui, bahwa pengorbanan yang kita lakukan, untuk terbangunnya peradaban Islam sebagai visi besar Hidayatullah, masih sangat minim, masih sangat berjarak dengan Rasulullah dan para sahabat.
Fakta sederhana, yang diamanahi mengabdi di amal usaha, baik di pendidikan, ekonomi, yayasan atau amal usaha lainnya, kadang terjebak dalam rutinitas tugas, tanpa pernah menyadari atau mencicipi sensasi nikmatnya berjuang.
Terkadang pertanyaan nakal menggelitik perasaan, dimana letak perjuangan kita di Hidayatullah. Jika kita seorang guru, kita digaji, pengurus yayasan ada natura, yang mengelola usaha ada bagi hasil, menghadiri rapat atau musyawarah, biaya ditanggung lembaga.
Dinikahkan, dilengkapi kendaraan dinas, rumah dinas, dan fasilitas lainnya. Secara umum tak ada bedanya, bahkan tidak mustahil lebih sejahtera dari ASN.
Para petinggi lembaga telah melakukan rekayasa sosial, dengan membuat regulasi secara maksimal, agar seluruh kader menjadi muslim ideal, ada GNH, halaqah, mutasi, dan program lain yang bernuansa spiritual, nah, jika ini juga masih ditawar, masih beranikah kita mengaku berjuang?
Tulisan ini tak bermaksud mengecilkan perjuangan para kader yang telah menjual diri di lembaga ini, namun terselip harapan, tulisan ini menjadi bahan evaluasi, untuk mengantisipasi potensi penyimpangan, yang bisa saja terjadi setiap saat.
Sebab tak menutup kemungkinan, jabatan struktural yang sakral, bisa dimanfaatkan oleh oknum yang nakal, amanah fungsional bisa disalah gunakan oleh mereka yang bermental kriminal, katanya ingin profesional, padahal itu alasan abal-abal, orientasinya finansial, tapi terbungkus dengan bahasa yang sangat rasional.
Kelihatan ingin menambah amal, padahal untuk menambah modal, kalau sudah begini, yang haram jadi halal, kawan seiring akan dijegal, demi tujuan yang bersifat material, lupa kalau ada ajal, yang akan datang sesuai jadwal, dia jadi tumbal, oleh syetan yang pembual, pikirannya dangkal, kebijakannya janggal, keputusannya tak masuk akal, semoga aqidahnya tidak ikut terjual, yang membuat imannya jadi batal.
Terakhir, besar harapan semoga milad Hidayatullah ke 50, tidak membuat kita hanyut dalam euforia atas capaian spektakuler yang telah diraih Hidayatullah.
*)Dzulkifli M. Salbu, penulis adalah Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Selatan
SEKALIPUN secara historis Hidayatullah berangkat dari sebuah gerakan dakwah berbasis kader dan pesantren, tidak berarti kesadaran dan gerakan ekonomi tidak ada sama sekali. Terlebih sepanjang sepak terjang selama 50 tahun ini, kesadaran dan gerakan ekonomi itu ada walau belum menjadi satu kekuatan yang capaiannya sama dengan mainstream gerakan Hidayatullah itu sendiri, yakni dakwah dan tarbiyah.
Sejak masa Hidayatullah di bawah kepemimpinan Allahuyarham Ustadz Abdullah Said, wacana, kajian, implementasi bahkan gerakan nyata ekonomi secara langsung telah dimulai dan dijalankan.
Dari sisi wacana dan kesadaran berekonomi, Ustadz Abdullah Said sering mengatakan, “Suatu saat, kita akan memiliki toko, yang pada hari ini orang pesan, besok barang diantar.”
Kemudian dikatakan pula, “Kita akan membuat toko, dimana kita menjual terasi sampai helikopter.”
Kala ungkapan itu disampaikan, belum satu pun kader dan jamaah yang memandang ungkapan itu “realistis.”sebab di saat itu makan saja masih sangat sulit. Namun, kini sudah dapat dirasakan bagaimana orang belanja tidak perlu ke toko, hingga delivery order dan marketplace menjadi gaya hidup baru masyarakat di era digital.
Jelas ungkapan itu mengajak segenap kesadaran kader dan jama’ah Hidayatullah untuk melihat keadaan masa depan, dimana kaum Muslimin, setidaknya melalui Hidayatullah dapat memiliki kekuatan ekonomi secara riil.
Sudah barang tentu untuk sampai pada visi tersebut perlu gerakan perantara. Maka sejak awal, Hidayatullah telah aktif dalam gerakan ekonomi mikro, seperti membuat toko sembako disamping untuk media pembelajaran juga untuk memenuhi kebutuhan santri dan warga, jasa fotocopi, peternakan, perikanan, percetakan, penerbitan, hingga penyiaran dan lembaga keuangan.
Bidang Ritel
Kini gerakan ekonomi Hidayatullah terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan, seiring dengan hadirnya supermarket dan mini market, serta usaha dalam bentuk retail lainnya, di berbagai kota di Jawa, Kalimantan, Sumatera dan Jakarta.
Brand utama jaringan retail ini bernama Sakinah Mart yang tertidiri dari 17 cabang. Meskipun tetap ada yang berjalan dengan menggunakan brand lain, seperti Amanah Mart, Mulia Mart, U Mart dan lainnya.
Meskipun serangan digitalisasi di bidang percetakan dan penerbitan, majalah suara Hidayatullah (SAHID) masih tetap eksis hingga saat ini dengan berbagai inovasi baik konten maupun distribusinya.
Agro Bisnis
Optimalisasi lahan yang cukup luas dimiliki oleh pesantren Hidayatullah yang tersebar di seluruh Nusantara menghadirkan bisnis di bidang agro.
Bisnis di sektor agro ini menjadi salah satu program fokus untuk memperkuat gerakan ketahanan pangan terutama di masa pandemi covid-19 yang sangat mempengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat dan berdampak pada keberlangsungan pesantren.
Oleh karena itu bidang perekonomian Hidayatullah mengoptimalkan lahan untuk sawah, perkebunan dan peternakan.
Lembaga Keuangan Mikro
Satu lagi bidang usaha yang juga digarap dan sedang dikembangkan dengan begitu kuat dan massif ialah lembaga keuangan. Meski masih berskala mikro dan berbadan hukum koperasi, upaya ini terus dikembangkan dengan brand Baituttamwil Hidayatullah (BTH).
Kini BTH telah eksis di 10 kabupaten/ kota di Indonesia. Sejauh ini, BTH masih fokus pada layanan simpanan dan pembiayaan syariah.
Harapannya, BTH kelak dapat menjadi satu lembaga keuangan yang dapat melayani kebutuhan umat, sehingga kekuatan ekonomi umat benar-benar dapat mengangkat harkat dan martabat umat itu sendiri.
Membangun Ekosistem Bisnis
Semua jenis usaha ekonomi di atas dipayungi dalam bentuk CV, PT dan Koperasi, oleh karena jumlahnya yang terus bertambah maka didirikanlah payung besar berupa holding yang melakukan koordinasi, penguatan, pengembangan dan konsolidasi usaha.
Adapun para kader dan anggota sebagai pelaku ekonomi dihimpun dalam sebuah wadah asosiasi untuk dapat berbagi informasi, pengetahuan dan peluang bisnis melalu APHIDA (Asosiasi Pengusaha Hidayatullah). Di samping itu asosiasi ini dihadirkan untuk melakukan pembinaan dan rekruitmen anggota yang akan melakukan berbagai kegiatan ekonomi.
Begitu juga para anggota dan kader yang telah memiliki produk sendiri difasilitasi dengan HiMall sebuah marketplace yang sengaja dihadirkan sebagai pasar online yang tidak lagi disekat oleh batas-batas teritorial, kita bisa menjual dan membeli produk yang dibutuhkan kapan dan di mana saja, dari kita dan untuk kita.
Begitu juga dengan alat bayar untuk memudahkan transaksi maka kita meluncurkan sebuah paperless yang diberi nama HiCash. Kemudahan tekhnologi di era 4.0 harus direspon dan dimanfaatkan untuk memudahkan membangun ekosistem bisnis agar proses pengembangannya lebih cepat melesat.
Gerakan Ekonomi ke Depan
Pengembangan ekonomi ke depan meliputi tiga sektor, yakni ekonomi lembaga, ekonomi umat dan ekonomi sosial. Ekonomi lembaga mendorong pengembangan Badan Usaha Milik Organisasi (BUMO) baik di tingkat pusat hingga wilayah dan daerah. Harapannya untuk memberikan provitsharing dan kontribusi ke organisasi.
Kemudian ekonomi umat, yakni pola pengembangan ekonomi yang didesain sebagai kepemilikan para kader dan jamaah, baik pribadi maupun kelompok (halaqah).
Konsep ini mendorong para kader dan jama’ah untuk memiliki usaha yang dikembangkan dalam bentuk koperasi, syirkah, atau privat company. Goal-nya adalah berdayanya para kader, sehingga potensi kontribusi terhadap gerakan dakwah dan tarbiyah melalui organisasi bisa semakin baik.
Terakhir ialah ekonomi sosial, hal ini mengarah pada potensi ekonomi yang terdapat pada kegiatan amal usaha di bidag sosial seperti pengembangan yayasan pendidikan, yayasan pesantren dan yayasan sosial asuhan anak.
Dari tiga sektor inilah ekonomi Hidayatullah akan dikembangkan, sehingga ekonomi sebagai salah satu pilar peradaban dapat berkontribusi secara nyata dalam mewujudkan visi Hidayatullah.
Sebagaimana sejarah Nabi Muhammad SAW, dimana beliau adalah seorang pedagang kemudian berubah menjadi pelaku ekonomi besar dan menguasai sistem perekonomiaan di Jazirah Arab pada masa itu, sejatinya umat Islam menjadikan sirah nabi sebagai benchmark untuk bersinergi membangun kekuatan ekonomi.
Semoga pada 50 tahun kedua Hidayatullah, gerakan ekonomi bisa diwujudkan dengan baik, luas dan merata, sehingga kontribusi Hidayatullah untuk mewujudkan bangsa yang bermartabat benar-benar dapat dihadirkan dan dirasakan semua pihak. Allahu ‘alam.
*)DRS WAHYU RAHMAN, MM,penulis adalah Kabid Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah
SATU dasawarsa lalu, Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad sudah menyampaikan gagasan yang briliant, bahwa untuk mewujudkan visi dan misi Hidayatullah ke depan, maka organisasi perlu melakukan rejuvenasi. Sebuah diksi yang cukup asing ketika itu, atau setidaknya jarang didengar oleh sebagian kader, meski bisa jadi sudah mengimplementasikannya.
Dalam KBBI, rejuvenasi diartikan sebagai peremajaan. Akan tetapi, beliau menjelaskan secara implementatif bahwa rejuvenasi adalah proses peremajaan organisasi, berarti juga termasuk kepengurusannya. Artinya, dalam konteks ini, penggerak organisasi harus diisi oleh orang-orang muda dari sisi usia, atau setidaknya mereka yang selalu berjiwa muda.
Dinamika ini sudah dimulai sejak Munas IV, secara bertahap. Hal ini dapat disaksikan, saat beberapa hari menjelang MUNAS V, Allahuyarham Al-Ustadz Dr. Abdul Mannan, menyampaikan bahwa melihat data SDI (sumber daya insani) yang ada, setelah di olah dan dilakukan analisis yang mendalam, saat itu rejuvenasi masih belum sepenuhnya dapat terwujud. Sehingga perlu di combine antara kader senior dan yunior dalam kepengurusan Hidayatullah di semua level.
“Bukanlah dari golongan kami mereka yang tidak menyayangi yang lebih muda, dan mereka yang tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. Tirmidzi).
Dari kebijakan ini maka dalam struktur kepengurusan Hidayatullah kader-kader muda mulai mengisi amanah di strukturtural organisasi, termasuk juga di amal usaha dan badan usaha. Sehingga tercipta harmonisasi dan gerakan organisasi yang semakin dinamis.
Gelombang Milenial
Sebagaimana kita mafhum, bahwa dalam konteks Indonesia, saat ini memasuki bonus demografi. Dimana saat ini, dan puncaknya nanti diprediksi terjadi pada tahun 2030, populasi masyarakat akan didominasi oleh individu-individu dengan usia produktif. Usia produktif yang dimaksud adalah rentang usia 15 hingga 64 tahun.
Hal ini terkonfirmasi, hasil sensus penduduk tahun 2020, yang menegaskan bahwa 70,7% penduduk Indonesia adalah usia produktif. Dari 270,2 juta penduduk itu, maka ada satu generasi yang lahir tahun 1981 – 1996, atau lebih dikenal dengan generasi milenial yang jumlahnya 25,87% itu, saat ini banyak mempengaruhi kehidupan di Indonesia. Demikian halnya dengan generasi Z, generasi alfa dan sesudahnya.
Dengan demikian maka, mau tidak mau, suka tidak suka, gelombang milenial dan generasi sesudahnya, menjadi tantangan. Sebab, menua adalah sebuah kepastian. Sehingga merekalah yang akan melanjutkan kepemimpinan dimanapun dan disegala level.
Oleh karenanya sudah selayaknya generasi ini, perlu untuk mendapatkan perhatian yang serius, untuk kemudian di-manage secara terprogram, terencana dan terukur. Untuk melahirkan generasi pelanjut yang handal.
Tak terkecuali hal ini juga akan dialami oleh Hidayatullah itu sendiri, dimana sebagaimana dalam konteks Indonesia, maka distribusi normal itu, juga terjadi dalam populasi anggota dan kader organisasi.
Generasi milenial dan post milenial di Hidayatullah, rata-rata secara akademis lebih baik dari generasi sebelumnya. Banyak diantara yang sudah bergelar master dan doktor, dari dalam dan luar negeri. Dan yang lebih menggembirakan rerata mereka juga banyak yang sudah hafidzul Qur’an.
Dalam berbagai literatur, kita dijumpai bahwa generasi milenial dan sesudahnya diprediksi akan men-drive kehidupan umat manusia. Bahkan akan mendeterminasi peradaban. Apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan teknologi, termasuk hubungkan dengan industry 4.0 atau society 5.0.
Dan ini yang menyebabkan mereka menjadi digital native. Artinya dalam kesehariannya tidak dapat dilepas dari perangkat digital. Melihat kenyataan ini, maka gelombang milenial ini menjadi tantangan bagi Hidayatullah.
Rejuvenasi Sebuah Keniscayaan
Realitas di atas merupakan tantangan bagi organisasi ke depan dalam melakukan rejuvenasi disetiap level. Peremajaan pengurus dalam sisi usia, berarti menyiapkan kader-kader muda untuk : dilakukan pemetaan talenta dan potensinya sejak dini; kemudian dilakukan pendidikan dan pelatihan yang memadai untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya sesuai dengan talenta dan potensi masing-masing; ditugaskan pada tugas-tugas yang menantang untuk menguji kekaderannya; selanjutnya dilakukan pendampingan (coaching) dan monitoring terhadap kader yang ditugaskan, sehingga menjadi terarah dalam melaksanakan tugasnya; kemudian dilakukan monitoring dan evaluasi sehingga mendapatkan feedback, dari sini nanti bisa diarahkan apakah kader tersebut bisa lanjut pada tahapan beringkutnya, atau kemudian kembali ke fase pertama lagi.
Sedangkan dalam konteks melakukan rejuvenasi bagi kader yang secara usia sudah tidak “muda” lagi, akan tetapi masih memiliki jiwa, semangat dan energi selayaknya generasi muda, maka proses upgrading yang dilakukan juga dapat dilakukan sebagaimana tahapan di atas. Dalam hal ini, akan disesuaikan dan dikelompokkan dengan kompetensi masing-masing potensi kader. Oleh karenanya, kedepan organisasi akan memiliki standar dan kualifikasi kader yang akan ditugaskan dalam mengemban amanah di setiap level tersebut.
Dengan demikian maka, rejuvenasi organisasi dalam berbagai konteksnya tersebut di atas, merupakan sebuah keniscayaan. Karena percepatan perubahan lingkungan eksternal dan internal organisasi, harus mampu direspon dengan cepat dan tepat. Jika tidak, maka organisasi akan di gilas oleh jamannya. Inilah mengapa menjadi alasan sekaligus jawaban, bahwa rejuvenasi itu harus dilakukan.
Pesan Kiai Abdullah Said Rahimallah, saat ini menjadi menemukan monentumnya,”Inilah tantangan yang harus kami jawab sekarang dan esok. Mampukah kita mempertahankan apa yang telah dicapai kini ? dan mampukah kita meningkatkannya di hari mendatang ? Mari kita jawab dengan praktek dan kenyataan. Selamat berjuang di alam realita, bukan di alam cerita. Selamat bertemu di alam kenyataan, tidak di alam pernyataan.” Wallahu a’lam.*
Penulis adalah Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah. Artikel ini telah tayang sebelumnya di portal berita Hidayatullah dot com
DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) melakukan Asesmen Lapangan (AL) Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) secara daring terhadap Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah Depok (STIE Hidayatullah Depok) Prodi Akuntansi selama dua hari, Senin-Selasa, 02-03 Agustus 2021 untuk akreditasi terbaru.
Dalam kesempatan asesmen ini, tim asesor yang ditunjuk oleh BAN-PT adalah Prof. Dr. Wayan Suartana S.E, M.Si. Ak dari Universitas Udayana, dan Dr. Nur Fadjrih Asyik, S.E, M.Si., Ak dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya.
Diketahui, akreditasi BAN-PT adalah kegiatan penilaian untuk menentukan kelayakan Program Studi dan Perguruan Tinggi sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan Standar Nasional Pendidikan Tinggi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012.
Seyogyanya kegiatan akreditasi kampus maupun prodi dilakukan oleh para asesor yang telah ditugaskan untuk mengunjungi lokasi Perguruan Tinggi sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
Namun, terhitung sejak bulan Maret 2019 Dewan Eksekutif BAN-PT mengambil langkah agar kegiatan asesmen lapangan dilakukan secara daring, untuk membantu program pemerintah dalam menghadapi wabah pandemic Corona Virus 19.
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah Depok pada tahun 2020 juga telah melaksanakan kegiatan asesmen lapangan pada prodi manajemen dengan daring, dan ditahun ini 2021 kembali dilaksanakan asesmen lapangan untuk prodi Akuntansi.
Ketua STIE Hidayatullah Dr. Agus Suprayogi, ST, SE.Sy, MSi, dalam pembukaan kegiatan ini menyambut gembira adanya asesmen lapangan ini. Menurutnya, kegiatan akreditasi tentunya sangat diperlukan oleh semua perguruan tinggi tanpa terkecuali STIE Hidayatullah Depok agar mutu pendidikan terus terjaga bahkan meningkat.
“Dan ini juga sebagai acuan untuk memberikan informasi tentang sudah siapnya suatu perguruan tinggi tersebut dalam melakukan kegiatan proses belajar mengajar sesuai standarisasi yang diberikan oleh pemerintah,” katanya.
Untuk itu, dalam kegiatan ini disamping sivitas akademika, juga melibatkan beberapa alumni dan pengguna eksternal untuk berinteraksi secara daring dengan para asesor.
Pelaksanaan AL daring dilakukan dengan media aplikasi zoom yang disiapkan oleh BAN-PT dengan asesor sebagai host. Pelaksanaan AL daring dimulai dengan agenda pembukaan yang menghadirkan semua unsur pimpinan STIE Hidayatullah, ketua yayasan, dan segenap pengurus perguruan tinggi. Acara ini berlangsung lancar dengan waktu yang sangat padat. (ybh/hio)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Salah satu hal penting yang harus menjadi bekal bagi pemuda Islam dewasa ini adalah membangun wawasan global. Diantara yang perlu dilakukan dalam upaya tersebut adalah dengan membaca sejarah Nabi (sirah nabawiyah) yang tidak saja memuat wawasan Islam secara global melainkan juga menjadi rujukan aktual dalam memahami peta sejarah dan dinamika kontemporer dari zaman ke zaman.
Hal itu disampaikan Ketua Departemen Hubungan Antar Bangsa DPP Hidayatullah, Babeh Dzikrullah, dalam acara webinar internasional Hidayatullah 50 Tahun Global Forum yang digelar Yayasan Albayan Kampus Utama Hidayatullah Makassar, Sabtu, 28 Zulhijah 1442 (7/8/2021) malam.
“Sejarah Rasulullah jika dibaca serius maka pikiran dan wawasan kita akan terbuka dan terdorong sebagai muslim internasionalis. Sebagaimana jika kita ucapkan laillahaillaha maka dunia otomatis menjadi kecil sekali,” kata Babeh.
Babeh berpesan kepada peserta webinar yang juga diikuti oleh segena santri Hidayatullah Makassar, bahwa setiap muslim sepatutnya menggantungkan dan berusaha mewujudkan cita-citanya dengan bersandarkan pada contoh dan keteladanan Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa shallam.
“Selain dari sunnah Rasulullah, kita di Hidayatullah juga ikhtiar perjuangannya merujuk pada perjuangan orang-orang terbaik terdahulu (shalafus saleh),” katanya.
Babeh menekankan bahwa kemenangan Islam itu semata atas pertolongan Allah, karena itu dituntut kesabaran dalam segala usaha yang dilakukan. Menurutnya, kesabaran adalah modal utama dari perjuangan.
Ia juga mengingatkan pentingnya kesungguhan. Babeh mencontohkan kesungguhan dalam perjuangan Dinasti Utsmaniah mempersiapkan selama 200 tahun penaklukan Konstantinopel.
Menurut Babeh, ada empat syarat untum meraih kemenangan. Pertama, ketaatan total pada Allah dengan kecintaan pada Quran dan sunnah. Kedua, membangun diri, keluarga dan masyarakat sebagaimana cara (sunnah) Rasulullah.
Ketiga, istiqomah di jalan fisabilillah dengan meninggikan kedekatan dengan Allah ta’ala melalui ibadah seperti qiyamul lail, sedekah, dan menjaga persaudaraan. Keempat, “istiqomahlah sampai akhir hayat,” katanya.
Babeh melanjutkan, Hidayatullah sebagai sebuah haraqah gerakan dakwah saat ini sedang membangun dirinya supaya sesuai peradaban Islam yang telah dijelaskan dan disediakan Allah dalam Quran dan hadits.
“Maka seluruh kader Hidayatullah dan ummat harus tanamkan perhatian pada pusat-pusat peradaban Islam; Makkah, Madinah, Baitul Maqdis, kota penting Islam seperti Baghdad, Damaskus dan lainnya,” tandasnya.*/Firman/ Hidayatullahmakassar.id
TAHUN 1998 adalah tahun duka cita bagi Hidayatullah. Pada tahun itu, tepatnya 4 Maret 1998, Ust Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, wafat. Semua berduka. Perjalanan panjang pun sejenak terjeda.
“Sorot mata yang tajam itu kini sudah tiada. Mata itu telah tertutup rapat. Tiada bedanya dengan orang yang tengah tertidur lelap,” tulis Ust Manshur Salbu, kader senior Hidayatullah, dalam bukunya Mencetak Kader.
“Semua warga Hidayatullah akan selalu mengingat pesan yang pernah beliau sampaikan sambil berurai air mata, bahwa Hidyatullah harus terus berjalan (sepeninggal beliau nanti),” tulis Ust Manshur Salbu pada halaman lain buku tersebut.
Jeda ini tak boleh lama. Maka, bebeberapa hari setelah wafatnya Ust Abdullah Said, berkumpullah para kader senior di Kampus Hidayatullah Karang Bugis, Kalimantan Timur. Ini adalah kampus pertama yang dibangungun Allahuyarham Ust Abdullah Said sebelum membangun kampus induk di Gunung Tembak, Kalimantan Timur.
Dalam pertemuan tersebut, semua kader sepakat untuk menunjuk Ust Abdurrahman Muhammad sebagai pengganti Allahuyarham Ust Abdullah Said. Setelah berkali-kali menolak karena merasa belum pantas, akhirnya tak ada pilihan lain bagi Ust Abdurrahman Muhammad selain menerima beban berat tersebut.
Tongkat estafet telah terpegang. Jeda telah usai. Langkah kembali dilanjutkan. Ust Abdurrahman Muhammad, sebagai nakhoda baru, menginginkan kepemimpinan kolektif dalam mengendalikan biduk Hidayatullah. Ia merasa perlu didampingi oleh banyak kader senior dan memutuskan segala sesuatu lewat syuro.
Sejalan dengan itu, pada tanggal 13 Juli 2000, atau 11 Jumadil Tsani 1421 H, Hidayatullah mengubah wujudnya dari yayasan (organisasi sosial) menjadi organisasi massa (ormas) Islam. Pada tahun itu juga digelar Musyawarah Nasional (Munas) pertama Hidayatullah di Balikpapan, Kalimantan Timur. Inilah proses metamorfosis yang harus dilalui Hidayatullah.
Sejak saat itu, Hidayatullah memiliki sejumlah lembaga tingkat pusat yang berkedudukan di Jakarta. Sedangkan Ust Abdurrahman Muhammad sendiri, sebagai pemimpin tertinggi di Hidayatullah, tetap berkedudukan di Kampus Gunung Tembak. Lembaga-lembaga tingkat pusat ini berfungsi membantu Ust Abdurrahman Muhammad menjalankan roda organisasi.
Lembaga-lembaga tingkat pusat ini, dari periode ke periode, selalu berubah-ubah, sesuai kebutuhan saat itu. Pada periode terakhir –setelah Munas ke-5 tahun 2020– lembaga-lembaga tersebut terdiri atas Dewan Pertimbangan, Majelis Penasehat, Dewan Mudzakarah, Dewan Murobbi Pusat, dan Dewan Pengurus Pusat.
Di tingkat wilayah juga dibentuk Dewan Pengurus Wilayah (DPW) bersama perangkat-perangkatnya. Saat ini, DPW Hidayatullah telah ada di 34 propinsi di Indonesia. Demikian pula Dewan Pengurus Daerah (DPD), telah ada di 374 kabupaten/kota di seluruh Indonesia (atau 73% dari total jumlah Kabupaten/Kota di Indonesia).
Visi dan misi organisasi telah ditetapkan. Pedoman Dasar Organisasi juga telah disusun. Hal-hal yang bersifat kultural, seperti jati diri dan gerakan nawafil, telah dirumuskan. Perekrutan kader telah dibuka lebar. Semua masyarakat bisa ikut terlibat dalam gerakan Hidayatullah dengan melewati sejumlah marhalah. Pembinaan kader dilakukan lewat wadah halaqoh.
Sekolah-sekolah Hidayatullah telah berdiri. Hingga tahun 2020, tak kurang dari 313 sekolah integral telah tersebar di seluruh Indonesia, plus 6 perguruan tinggi. Demikian juga amal-amal usaha, mulai dari Baitul Mal Hidayatullah, Baitul Waqaf Hidayatullah, Baitut Tanwil Hidayatullah, Islamic Medical Service, Search and Rescue, Lembaga Bantuan Hukum, Sahabat Anak Indonesia, Pos Dai, hingga Kelompok Media Hidayatullah.
Gedung-gedung dan perkantoran telah dibangun. Program demi program telah dijalankan. Hidayatullah —sebagaimana pesan Allahuyarhan Ust Abdullah Said— atas izin Allah Ta’ala, terus berjalan.
Lalu, saat semua pimpinan lembaga Hidayatullah berkumpul di Batam, Kepulauan Riau, pada Oktober 2015, Ust Abdurrahman Muhammad mengingatkan tentang kisah seorang wanita tua yang tinggal bersama binatang ternaknya di dekat sebuah kerajaan milik raja yang zalim.
Suatu hari, kata Ust Abdurrahman Muhammad, wanita tua tersebut hendak pergi ke luar kota untuk satu keperluan. Karena tak ada yang menjaga hewan ternaknya, ia pun berdoa kepada Tuhan agar berkenan menjaga rumah dan binatang ternaknya dari raja yang zalim itu.
Namun, betapa terkejutnya wanita tua itu, ketika pulang dari perjalanan jauhnya, mendapati rumah dan hewan ternaknya sudah tak ada lagi. Rupanya, raja zalim itu telah menghancurkan semuanya.
Wanita tua itu merasa kecewa dengan Tuhan. Ia terus bertanya, mengapa Tuhan tak sudi menolongnya? Padahal, ia telah beribadah sepanjang siang dan malam. Bukankah seharusnya raja zalim itu yang dibinasakan Tuhan, bukan dirinya yang lemah? Bukankah Tuhan Maha Melihat dan Maha Perkasa?
“Boleh jadi suatu saat nanti kita seperti wanita tua itu,” kata Ust Abdurrahman Muhammad. Kita merasa telah banyak berbuat untuk agama ini. Kita ingin cepat mendapatkan hasil. Namun, ketika Allah Ta’ala tidak mengabulkan apa yang kita inginkan, kita kecewa. Kita memprotes takdir. Kita tak mau bersabar dalam berjuang.
Kalau pun ada di antara kita yang berhasil membangun organisasi secara fisik, kata Ust Abdurrahman Muhammad lagi, jangan buru-buru berbangga hati. Justru kita perlu waspada dengan semua itu. Sebab, banyak tawaran yang akhirnya menjadikan kita tawanan. Kita terperangkap oleh tujuan jangka pendek.
Lebih celaka lagi, ungkap Ust Abdurrahman Muhammad, jika kita terperangkap oleh kerumitan yang melalaikan. Perbedaan-perbedaan yang bersifat cabang (furu) seringkali menimbulkan perdebatan yang menyita banyak waktu. Akibatnya, perjalanan menuju visi akan terhenti. Padahal, perjalanan ini masih panjang.
Inilah sekelumit kisah perjalanan Hidayatullah. Hari ini, Selasa, 10 Agustus 2021, atau 1 Muharram 1443 H, “Kampung Pengkaderan” yang dulu dicita-citakan oleh Ust Abdullah Said, telah berusia 50 tahun. Ia telah beranjak muda, tak lagi berwujud “perkampungan”. Ia telah berubah menjadi pergerakan yang dengan izin Allah Ta’ala akan terus membesar.
Selamat milad setengah abad Hidayatullah. Teruslah bergerak, namun tidak dengan cara menabrak. Teruslah berjalan, namun tidak dengan mengundang murka Tuhan. * (Tamat)
PENDIRI Hidayatullah KH Abdullah Said adalah komunikator yang memiliki pengaruh sangat kuat dalam membentuk karakter para aktivis dakwah di nusantara ini. Menurut Prof. Dr. H. Hafied Cangara, M.Sc, komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku komunikan.
Sejak masa kecilnya di Sulsel berkecimpung di pemuda Muhammadiyah, Abdullah Said sudah nampak sebagai sosok yang berbakat dan multi talenta. Beliau selain kutu buku, ahli ibadah, juga sangat kuat dalam mengelola tugas-tugas tarbiyah dan dakwah di lapangan.
Ketika usianya masih belasan tahun ia sudah aktif dalam komunikasi publik melalui khutbah Jum’at dan majelis taklim di wilayah Ujung Pandang dan sekitarnya.
Kekuatan spirit yang dimiliki lewat ibadah, wawasan luas yang didapatkan lewat kekuatan membaca literasi, secara lengkap menyatu dalam etos kerja dan semangat juang yang tinggi dalam mewujudkan cita-cita besarnya membangun peradaban Islam.
Obsesi besar KH Abdullah Said dalam mewujudkan tatanan masyarakat Islam terus menggelora. Tak kenal lelah, malam hari bangun shalat tahajjud, membangun komunikasi vertikal transendental kepada Allah SWT untuk memohon petuntuk.
Di siang hari, dioptimalkan untuk melakukan komunikasi secara horizontal mengajak manusia untuk terlibat dalam mewujudkan cita-cita besar ini.
Membangun peradaban Islam tidak semudah membalik telapak tangan. Cita-cita agung ini ternyata membutuhkan pengorbanan yang tinggi baik secara lahir maupun batin.
KH Abdullah Said terus menjajaki peluang dan memilih tempat yang strategis untuk bisa menyatukan potensi dari berbagai kalangan dalam rangka mewujudkan tatanan hidup yang bernuansa islami itu.
Beliau sangat menyadari bahwa idealisme yang dimilikinya sangat sulit untuk diwujudkan dalam realitas kehidupan tanpa melibatkan khalayak, terutama dukungan para tokoh, dan yang lebih utama lagi adalah dukungan pemerintah.
Pada akhir tahun 1969, KH Abdullah Said menetapkan pilihan untuk mewujudkan harapannya itu di Balikpapan, Kaltim. Disinilah beliau melakukan pola komunikasi yang moderat, membuka ruang koneksi yang lebih besar dengan khalayak.
Sebagai sosok komunikator yang handal, KH Abdullah Said selalu menjadikan komunikasi vertikal transendental kepada Allah SWT sebagai basis kekuatan spiritual, yang pada gilirannya menjadi washilah untuk menemukan solusi terhadap kompleksitas persoalan yang dihadapi. Hal ini diantaranya didasari oleh hadits Rasulullah SAW berkenaan dengan wasiat beliau kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, bahwa:
“Apabila engkau meminta (hajat), maka mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan hanya kepada Allah” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).
Sang komunikator benar-benar menjadikan Allah Ta’ala sebagai tempat bergantung segala urusan, tempat bersandar dalam segala situasi.
Setiap saat beliau berkomunikasi dengan Tuhannya, lewat munajat dan doa, tanpa kenal waktu. Beliau diketahui sebagai ahli tahajjud yang waktunya cukup lama, sering mulai shalat malam pada jam 00.00 sampai jam 04.00.
Struktur bangunan komunikasi vertikal transendental dalam surah al ‘Alaq, al Qalam, al Muzzammil, adalah sumber kekuatan. Selanjutnya surah al Muddatsir dan al Fatihah sebagai landasan filosofis untuk membangun koneksi dengan khalayak.
Prinsip lima surah pertama turun tersebut merupakan konsep dasar beliau yang diyakini sebagai pola nubuwah, yang dalam ilmu komunikasi disebut sebagai pola komunikasi profetik.
Dalam beberapa momen KH Abdullah Said sangat tegas menyatakan bahwa jangan pernah melakukan dakwah, ceramah, kalau anda tidak shalat tahajjud. Dalam perspektif komunikasi, pernyataan itu berarti bahwa jangan anda melakukan komunikasi secara horizontal dengan khalayak, sebelum anda membagun komunikasi secara vertikal transendental kepada Allah Ta’ala.
Para santri dan warga tidak hanya dididik untuk menata komunikasi kepada Allah Ta’ala melalui ibadah mahdhah. Beliau juga sangat peduli terhadap lingkungan sekitar. Setiap saat para warga dan santri Hidayatullah selalu dihimbau untuk menata halaman masjid, halaman sekolah, dan halaman rumah para warga agar selalu nampak bersih dan tertata tapi dengan hiasan taman yang indah.
Dan yang lebih spesifik instruksi KH Abdullah adalah melestarikan hutan lindung yang ada dalam lingkungan pondok pesantren. Beliau melarang seluruh warga dan santri untuk masuk di area tersebut demi menjaga kelestarian tumbuhan dan habitat binatang yang ada di lingkungan itu.
Apa yang dilakukan oleh bapak kyai tersebut adalah sesuatu yang sejalan dengan prinsip komunikasi lingkungan hidup. Pakar komunikasi menjelaskan bahwa defenisi komunikasi lingkungan hidup adalah penggunaan pendekatan, prinsip, strategi dan teknik-teknik komunikasi untuk pengelolaan dan perlindungan lingkungan (Alexander & Cangara, 2018).
Pada tahun 1984, KH Abdullah Said dipanggil ke Istana Negara untuk menerima anugerah Kalpataru yang merupakan penghargaan tertinggi dari Bapak Presiden Republik Indonesia. Pesantren Hidayatullah yang dirintis oleh beliau terpilih sebagai kelompok penyelamat lingkungan hidup.
Sebuah kenyataan yang sangat mengejutkan bagi sosok KH Abdullah Said. Tidak pernah terbayang sebelumnya, bahwa suatu saat akan dipertemukan oleh orang yang paling berpengaruh di negeri ini yaitu Presiden Republik Indonesia H.M. Soeharto (almarhum), sosok yang paling lama memimpin republik ini.
Pertemuan dengan bapak presiden waktu itu menjadi angin segar bagi sang kyai yang memang lagi membutuhkan dukungan publik dalam mewujudkan harapan besarnya. Karena, beliau sadar betul, bahwa cita-cita membangun peradaban Islam tidak mungkin terwujud tanpa dukungan banyak orang terutama para tokoh.
Alhamdulillah sejak pertemuan dengan Kepala Negara yang berkuasa selama 32 tahun itu, khalayak sebagai komunikan sang komunikator KH Abdullah Said memberi respon dan apresiasi yang sangat tinggi terhadap Pondok Pesaantren Hidayatullah.
Visualisasi salaman sang kyai dengan Bapak Presiden kedua itu menjadi pintu gerbang komunikasi horizontal yang terbuka lebar. Hampir semua tokoh dari pemerintahan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat umum memberikan perhatian serius terahadap derap langkah Pesantren Hidayatullah yang dibawah pimpinan KH Abdullah Said.
Hidayatullah saat ini sudah berumur 50 tahun. Apa yang telah dicapai dari berbagai prestasi saat ini adalah hal yang tak terpisahkan dengan warisan pola komunikasi yang telah ditata oleh KH Abdullah Said semasa hidupnya.
Para kader perlu selalu diarahkan untuk cerdas dalam menata komunikasi kepada semua pihak. Baik dengan pemerintah maupun masyarakat secara umum.
Kesemuanya itu dilakukan dengan penataan komunikasi vertikal transendental melaui munajat dan doa, yang kemudian akan melahirkan kecerdasan dalam komunikasi secara horizontal kepada semua khalayak. Wallahu ta’aala a’lam.
*)Penulis adalah Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah
Ada ungkapan menarik dari Ust Abdullah Said, sang pendiri Hidayatullah, yang dikutip oleh Ust Hasyim HS, juga pendiri Hidayatullah, saat memberi tausiyah subuh pada acara Sarasehan Pendiri dan Perintis Hidayatullah, 11 Juni 2015, di Batam, Kepulauan Riau.
“Kader Hidayatullah harus kerja ‘gila’!” kata Ust Hasyim.
Ungkapan seperti ini tak hanya sekali diucapkan oleh Ust Abdullah Said, namun berkali-kali dalam berbagai kesempatan. Kerja gila? Ya! “Itulah totalitas dalam berdakwah,” jelas Ust Hasyim.
Ust Abdurrahman Muhammad, sahabat dekat Ust Abdullah Said, punya cerita lain soal “kegilaan” para kader Hidayatullah. Kisah ini ia ceritakan dalam sebuah majelis yang dihadiri para tetua Hidayatullah pada Oktober 2012 di Gunung Tembak, Kalimantan Timur.
Suatu ketika di awal perintisan Kampus Hidayatullah Gunung Tembak, cerita Ust Abdurrahman yang kini menerima amanah sebagai Pemimpin Umum Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said mengumpulkan sejumlah santri muda. Sebenarnya, mereka bukanlah santri-santri pilihan. Mereka tak memiliki banyak keahlian, juga tak terlalu menguasai ilmu-ilmu agama. Mereka hanya santri-santri biasa.
Namun, yang membuat mereka luar biasa adalah keberanian memikul amanah yang rasanya tak akan sanggup bila dipikul anak muda kebanyakan. Yakni, membuka kampus Hidayatullah di Papua, wilayah paling timur Indonesia.
Sekelompok anak muda ini berangkat dengan bekal seadaanya. Uang yang dibawa hanya cukup untuk perjalanan hingga ke atas kapal penyeberangan. Selebihnya, mereka dipersilahkan berikhtiar sendiri seraya selalu berharap pertolongan dari Allah Ta’ala.
Setibanya di Papua, cerita Ust Abdurrahman lagi, para santri tersebut harus memanggul sendiri bahan-bahan bangunan yang kelak akan dipakai untuk membangun kampus, melewati belantara berjarak puluhan kilometer.
Jika ada persoalan berat yang sulit sekali dipikul, para santri ini diminta mengadukan seluruh persoalan mereka kepada Allah Ta’ala lewat shalat malam. “Mengadulah kepada Allah lewat rukuk dan sujud yang lama,” ucap Ust Abdurrahman menirukan nasehat sahabatnya Ust Abdullah Said kepada para santri tersebut.
Bertahun-tahun kemudian sekelompok anak muda ini telah berhasil mendirikan Kampus Hidayatullah di tanah Papua. Namun, tugas belumlah selesai. Sebagian dari mereka kembali ditugaskan membuka kampus-kampus baru di daerah lain. Bukan di timur, tapi di barat, tepatnya di sebelah utara Pulau Sumatera.
“Beginilah kader-kader Ustadz Abdullah Said digembleng. Mereka bukan dai biasa. Mereka dai pejuang. Kita semua adalah kader beliau. Kita adalah buah dari kiprah beliau,” jelas Ustadz Abdurrahman di hadapan para tetua Hidayatullah.
Apa yang dikisahkan oleh Ust Abdurrahman Muhammad ini diamini oleh Ust Anshor Amiruddin, kader senior Hidayatullah dalam acara Sarasehan Pendiri dan Perintis Hidayatullah 11 Juni 2015 di Batam, Kepulauan Riau.
“Saat itu, tidak ada rasa takut pada diri kader ketika ditugaskan ke mana saja. Sebab, Allahuyarham Ust Abdullah Said selalu berkata ‘Allah yang di Gunung Tembak sama dengan Allah yang ada di tempat tugas yang baru. Jadi, mintalah pertolongan kepada Allah sebagaimana kita di Gunung Tembak juga meminta pertolongan kepada Allah’,” kata Ust Anshor yang pada Agustus 2020 lalu telah dipanggil oleh Allah Ta’ala.
Hal senada juga diutarakan oleh Ust Sarbini Nasir, di acara Sarasehan Pendiri dan Perintis Hidayatullah. “Sejak awal perintisan kita telah didik untuk berani tampil. Saya yang dulu masih bodoh tak takut berceramah meskipun penguasaan ilmu agama saya terbatas. Sampai-sampai, ketika diminta berceramah di atas kapal (penyeberangan), saya salah menyebutkan lafaz intansurullah yansurkum. Saya sebut intansurkum,” cerita Ust Sarbini seraya tertawa mengenang masa lalunya.
Lain lagi cerita Ust Yusuf Suraji, kader senior Hidayatullah, di acara yang sama. “Saya pernah dipanggil Ust Abdullah Said, disuruh menikah. Alasannya, karena saya gagah. Jadi, kata beliau, berbahaya jika tidak segera menikah. Padahal banyak ustad yang lebih gagah dari saya,” kata Ust Yusuf.
Mendapati Ust Yusuf masih terlihat ragu, Ust Abdullah Said kembali berkata, “Sudah saya buatkan SK-nya.”
Ust Yusuf yang berperawakan tinggi besar dan murah senyum itu merasa heran dan bertanya, “Apa itu SK, ustad?”
“Surat Keputusan,” kata Ust Abdullah Said singkat.
“Bayangkan, menikah saja pakai SK. Saya tentu tak bisa menolak,” cerita Ust Yusuf sambil tersenyum.
Ust Yusuf melanjutkan ceritanya ketika ia ditugaskan oleh Ust Abdullah Said untuk berdakwah dan membuka kampus Hidayatullah di Papua. “Uang dikasih hanya Rp 25 ribu. Mana cukup? Tapi saya berangkat juga,” kata Ust Yusuf.
Di Papua, Ust Yusuf sempat diminta menjadi juri Musabaqoh tilawatil Qur’an (MTQ). Padahal, ketika itu, ia belum lancar mengaji. Ia juga diminta mengisi ceramah di depan anggota Muspida (Musyawarah Pimpinan daerah). Lagi-lagi, dengan segala keterbatasannya, Ust Yusuf menerima permintaan itu. “Bilal itu kulitnya hitam. Semua hitam, kecuali giginya saja yang putih,” cerita Yusuf menirukan materi ceramahnya dulu.
Ust Yusuf lupa kalau orang-orang Papua juga berkulit hitam. Rupanya, seorang Bupati yang ikut mendengar ceramah Ust Yusuf merasa tersinggung. Untunglah Ust Yusuf menyadari kekeliruannya dan segera meminta maaf.
Kisah yang lebih menegangkan dialami oleh Ust Sabaruddin, salah seorang kader Hidayatullah yang ditugaskan membuka kampus baru di Wemena, Papua, pada tahun 2000. “Nyawa saya hampir melayang,” cerita Ust Sabar, panggilan akrabnya, saat ditemui penulis pada akhir tahun 2002 .
Ketika itu, kata Ust Sabar, ia dan beberapa keluarga Muslim dikepung di sebuah masjid. Para pengepung banyak sekali. Mereka menari-nari sambil memegang parang, tombak, dan panah. Mereka hanya berpakain koteka.
Ust Sabar hanya bisa mengintip dari balik mimbar. Mau melawan, jelas tidak mungkin. Keluarga Muslim yang berada di masjid itu kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak.
Di saat genting seperti itu, Ust Sabar berdoa sangat khusuk kepada Allah Ta’ala. Muncullah perasaan berani dan yakin akan pertolongan Allah Ta’ala. Lalu, ia kumpulkan ibu-ibu dan anak-anak yang bersembunyi di masjid tersebut, dan ia ajak berjalan pelan mengikutinya dari belakang.
Sepanjang perjalanan, Ust Sabar tak henti-hentinya membaca surat Yasin ayat 8, mengharap pertolongan Allah Ta’ala. Ajaib! Para pengepungnya sama sekali tak melihat kalau Ust Sabar dan rombongan telah berjalan melewati mereka. “Kami berjalan tenang, padahal jarak kami hanya 3 meter saja. Allah telah membutakan mata mereka,” jelas Ust Sabar.
Setelah jauh, barulah para pengepung menyadari kalau buruannya telah kabur. Mereka marah dan membakar masjid tempat Ust Sabar tadi bersembunyi. Ust Sabar baru tahu kalau masjid itu dibakar setelah beberapa hari kemudian.
Cerita-cerita seperti ini banyak sekali tersimpan dalam memori para kader Hidayatullah yang ditugaskan berdakwah di wilayah-wilayah terpencil. Mereka berani menerima tantangan dengan segala keterbatasan. Mereka amat yakin dengan pertolongan Allah Ta’ala. Mereka rela memilih jalan yang tak banyak dipilih orang.
Ketika mereka dihadapkan masalah, mereka segera menengadahkan tangan, meminta tolong kepada Allah. “Ya Allah, bantulah kami … ya Allah, bantulah kami,” suara rintihan mereka.
Rupanya, keberanian dan keyakinan seperti ini telah mengundang pertolongan Allah Ta’ala kepada mereka. Buah dari segala pengorbanan tersebut telah mereka rasakan sekarang.
Kini, mereka bisa tersenyum senang melihat Hidayatullah telah ada di lebih dari 370 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Sesuatu yang dulu tak pernah terbayangkan oleh mereka, juga oleh Ust Abdullah Said.
Ust Hasyim, salah seorang pendiri Hidayatullah, mengutip kembali perkataan Ust Abdullah Said yang selalu terngiang-ngiang di telinga para kader. “Tampilah ke gelanggang, walau seorang.” * (Bersambung)
PAREPARE (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Dai Hidayatullah Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara (Sultan Batara) melakukan wisuda Sekolah Dai Sultanbatara Angkatan II sekaligus penugasan untuk selanjutnya mengabdi sebagai di berbagai titik di kawasan tersebut.
Selain Posdai, penyelenggaraan Sekolah Dai serta acara wisuda dan penugasan berlangsung di Gedung Peradaban Kampus Hidayatullah Parepare Sulawesi Selatan yang digelar pada 28 Dzulhijjah 1442 H (78/2021) ini turut didukung oleh 3 DPW Hidayatullah yaitu Sulawesi Selatan, Barat & Tenggara, DPD Hidayatullah Parepare dan BMH.
Dalam kegiatan ini dihadiri oleh Ketua DPW Hidayatullah Sulsel sekaligus Ketua Badan Pembina Yayasan Pendidikan dan Pelatihan Dai Sekolah Dai Sultanbatara Ustadz. Drs. Nasri Buhori, M.Pd, Kadep Dakwah DPW Sulsel Ustadz Reskyaman S.W, S.Pd, MM.
Hadir juga Ustadz Anwar Baits, S.Pd selaku Kadep Organisasi DPW Sulsel, Ustadz Nasrullah Alwi, Lc selaku Kadep Perkaderan DPW Sulsel, Ustadz Muharram, S.Pd.I sebagai Ketua DPD Hidayatullah Parepare dan Ustadz Habibi Nur Salam B, S.Pd.I selaku Mudir Sekolah Dai Sultanbatara.
Dalam sambutannya Ketua Departemen Dakwah DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ust. Reskyaman S.W, S.Pd, MM, melaporkan bahwa sejatinya wisudawan berjumlah 20 orang pada angkatan ke-II mahasantri SDH tahun 2021 ini, namun dalam perjalanannya terjadi seleksi alam hingga kemudian hanya tersisa 10 Orang.
Reskyaman mengatakan, selama dalam proses pendidikannya, para peserta Sekolah Dai mendapatkan berbagai materi termasuk ditugaskan mengabdi di berbagai titik di Sulsel dan Sulbar pada Ramadhan lalu yang bekerjasama dengan Yayasan Kalla dan BMH Sulawesi Selatan.
“Pengaruh keberhasilan itu dapat diukur dengan respon dari masyrakat setempat apatahlagi jika ada masyarakat setempat yang sampai ingin masuk ke Sekolah Dai akibat dari pengaruh dakwah oleh mahasantri Sekolah Dai, sebagaimana ditunjukkan masyarakat di Gunung Latimojong, Kabupaten Luwu yang mempunyai kesan luar biasa sampai ada yang ingin mendaftar di Sekolah Dai Hidayatullah,” kata Reskyaman.
Para wisudawan juga sebelumnya bertugas ke kampung muallaf Kabupaten Pinrang yang mana di kampung tersebut sempat tidak melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah oleh karena tidak adanya imam.
“Bergeraknya salah satu mahasantri Sekolah Dai ke kampung tersebut memberikan efek, diantaranya sholat tarawih secara berjama’ah dapat terlaksana kembali sampai akhir ramadhan dan adanya tambahan muallaf 2 orang,” kata Reskyaman.
Reskyaman berharap mahasantri Sekolah Dai angkatan ke III Tahun 2021-2022 nanti bisa bertambah banyak sehingga diharapkan ada semakin banyak pula sumber daya dai yang akan menguatan dakwah islamiyah di kawasan tersebut.
Ia juga berharap terus adanya dukungan oleh DPW Sultanbatara untuk kemudian mempressur DPD-DPD agar dapat mengirimkan alumni SMA/sederajat ke Sekolah Dai Sultanbatara untuk digembleng selama 1 tahun.
Sementara itu, Ketua DPD Hidayatullah Parepare Ust. Muharram, mengatakan bahwa Parepare siap mengawal persoalan tempat untuk keberlangsungan Sekolah Dai ini, sebagai upaya mendukung perkaderan sumber daya insani yang spesifikasinya pada pembelajaran Al-Qur’an.
Adapun Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan Ust. Drs. Nasri Bukhori, M.Pd dalam sambutannya sekaligus memberikan pencerahan kepada wisudawan Mahasantri SDH angkatan ke II, mengatakan bahwa ilmu itu penting untuk kemudian diimplementasikan sehingga yang dibutuhkan adalah kepekaan dalam bersosialisasi dengan masyarakat.
“Semangat keilmuan ini jangan berhenti sampai di kalian saja. Ajaklah keluarga, kawan, kenalan untuk bersama bergerak dalam menghidupkan dakwah atau masuk ke Sekolah Dai,” kata Nasri.
Nasri mengingatkan bahwa mahasantri Sekolah Dai yang diwisuda ini tidak serta merta sudah jadi. Apa yang telah mereka dapatkan selama pendidikan belumlah seberapa sehingga tak boleh berpuas diri. Mereka dituntut untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas dirinya sebagai dai.
“Mereka butuh bimbingan dan arahan agar keilmuan dan pengalamannya dapat terupgrade. Dan yang lebih terpenting adalah jangan sampai tugas yang diberikan kepada mereka tidak sesuai dengan kompetensi yang mereka pelajari selama di Sekolah Dai,” kata Nasri.
Nasir juga berharap agar semakin banyak lagi kegiatan yang dilakukan di Gedung Peradaban Hidayatullah Sulawesi Selatan bertempat di Parepare ini meningat tempat tersebut merupakan tempat bersejarah yang merupakan pertemuan dua Pemimpin Hidayatullah sebelum Hidayatullah didirikan yakni Ust. Abdullah said dan Ust. Abdurrahman Muhammad.
Acara wisuda dan penugasan ini menerapkan protokol kesehatan covid-19 ketat dengan pembatasan peserta serta direlay secara streaming yang diikuti beberapa pengurus DPW Hidayatullah Sulawesi Barat dan Tenggara yang tidak sempat hadir secara sekemuka di Gedung Peradaban, Hidayatullah Parepare.*/Alamsyah Jilpi
LIMA PULUH tahun perjalanan Hidayatullah tentu bukan waktu yang singkat. Sudah cukup jauh kita berjalan. Tak ada salahnya, sejenak kita menepi. Menghela nafas untuk mengembalikan stamina, sembari memastikan, apakah kita masih on the track.
Hal ini penting, sebab sedikit saja kita keluar jalur, maka akselerasi sekalipun yang kita lakukan justru menjadi musibah, karena akan makin menjauhkan kita dari tujuan utama. Begitu nasehat yang sering disampaikan para pembimbing.
Salah satu pertanyaan sederhana yang bisa jadi acuan adalah, benarkah saat ini kita masih berjuang? Jika iya, di mana letak perjuangan kita?
Allahuyarham Abdullah Said pernah mengatakan, jika jalan yang kita tempuh sama seperti jalan yang pernah dilalui oleh Rasulullah dan para sahabat, maka dipastikan kita pun akan menemui apa yang pernah dirasakan oleh Rasulullah dan sahabatnya.
Berjuang memang tidak identik dengan penderitaan. Akan tetapi secara objektif harus diakui bahwa pengorbanan yang kita lakukan, untuk terbangunnya peradaban Islam sebagai visi besar Hidayatullah, masih sangat minim, masih sangat berjarak dengan Rasulullah dan para sahabat.
Fakta sederhana, yang diamanahi mengabdi di amal usaha, baik di pendidikan, ekonomi, yayasan atau amal usaha lainnya, kadang terjebak dalam rutinitas tugas, tanpa pernah menyadari atau mencicipi sensasi nikmatnya berjuang.
Terkadang pertanyaan nakal menggelitik perasaan, dimana letak perjuangan kita di Hidayatullah? Jika kita seorang guru, kita digaji. Pengurus yayasan ada natura, yang mengelola usaha ada bagi hasil, menghadiri rapat atau musyawarah, biaya ditanggung lembaga, dinikahkan. Dilengkapi kendaraan dinas, rumah dinas, dan fasilitas lainnya, secara umum tak ada bedanya, bahkan tidak mustahil bisa lebih sejahtera dari ASN.
Para petinggi lembaga telah melakukan rekayasa sosial, dengan membuat regulasi secara maksimal, agar seluruh kader menjadi muslim ideal, ada; GNH, halaqah, mutasi, dan program lain yang bernuansa spiritual. Nah, jika ini juga masih ditawar, masih beranikah kita mengaku berjuang?
Tulisan ini tak bermaksud mengecilkan perjuangan para kader yang telah menjual diri di lembaga ini. Namun terselip harapan, tulisan ini menjadi bahan evaluasi, untuk mengantisipasi potensi penyimpangan, yang bisa saja terjadi setiap saat.
Sebab tak menutup kemungkinan, jabatan struktural yang sakral, bisa dimanfaatkan oleh oknum yang nakal, amanah fungsional bisa disalah gunakan oleh mereka yang bermental kriminal, katanya ingin profesional, padahal itu alasan abal-abal, orientasinya finansial yang terbungkus dengan bahasa yang sangat rasional.
Kelihatan ingin menambah amal, padahal untuk menambah modal. Kalau sudah begini, yang haram jadi halal, kawan seiring akan dijegal, demi tujuan yang bersifat material.
Terkadang lupa kalau ada ajal, yang akan datang sesuai jadwal. Dia menjadi tumbal, oleh syetan yang pembual. Pikirannya dangkal, kebijakannya janggal, keputusannya tak masuk akal, semoga aqidahnya tidak ikut terjual, yang membuat imannya jadi batal.
Terakhir, besar harapan semoga milad Hidayatullah ke 50, tidak membuat kita hanyut dalam eforia atas capaian spektakuler yang telah diraih Hidayatullah.
Wassalam Dzulkifli M. Salbu Banjarbaru 9 Agustus 2021